DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEPERAWATAN DIREKTORAT JENDERAL BINA PELAYANAN MEDIK DEPARTEMEN KESEHATAN RI TAHUN 2006

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya atas perkenan-Nya, buku Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa ini dapat diterbitkan. Buku Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa ini merupakan hasil revisi Standar Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Penerapan Standar Asuhan Keperawatan pada Kasus di Rumah Sakit Jiwa dan Rumah Sakit Ketergantungan Obat tahun 1998. Pelayanan Keperawatan Jiwa sebagai salah satu bentuk pelayanan professional, merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari upaya pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Di sisi lain yakni sebagai salah satu factor penetu baik buruknya mutu dan citra rumah sakit, oleh karena itu kualitas pelayanan keperawatan jiwa perlu dipertahankan serta ditingkatkan seoptimal mungkin. Bertolak dari kerangka pikir inilah, maka keberadaan Standar Pelayanan Jiwa sangat diperlukan dan Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa ini berfungsi sebagai pedoman kerja bagi tenaga keperawatan serta sebagai tolok ukur mutu pelayanan dan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien. Oleh karena itu, Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa harus dilaksanakan oleh seluruh tenaga keperawatan sehingga pelayanan keperawatan jiwa dapat dipertanggung jawabkan secara professional. Terutama dalam upaya peningkatan mutu pelayanan dan persiapan program akreditasi RS, maka dalam pemberian asuhan keperawatan, seluruh tenaga keperawatan mutlak menerapkan Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa. Kepada semua pihak yang telah berperan serta dan memberikan bantuan pemikiran serta sumbang saran demi terwujudnya buku ini, kami sampaikan terima kasih. Disamping itu, buku ini masih jauh dari sempurna, oleh karenanya masukan dan kritik yang sifatnya membangun sangat kami harapkan.

Jakarta, Desember 2006 Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Sekretaris,

Dr. Mulya A. Hasjmy, Sp.B, M.Kes. NIP. 140 099 269

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Pengertian C. Lingkup Pelayanan Keperawatan Jiwa D. Sistematika Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa STANDAR PRAKTIK KEPERAWATAN JIWA A. Standar I : Pengkajian Keperawatan B. Standar II : Diagnosa Keperawatan C. Standar III : Perencanaan D. Standar IV : Pelaksanaan Tindakan Keperawatan E. Standar V : Evaluasi STANDAR KINERJA PROFESIONAL A. Standar I : Kualitas Asuhan B. Standar II : Penilaian Kinerja C. Standar III : Pendidikan D. Standar IV : Kolegialitas E. Standar V : Etika F. Standar VI : Kolaborasi G. Standar VII : Penelitian H. Standar VIII : Penggunaan Sumber Daya PENUTUP i ii 1 1 2 2 2

BAB II

3 4 4 5 6

BAB III

7 8 8 9 9 10 11 11 13

BAB V

LAMPIRAN PEDOMAN ASUHAN KEPERAWATAN A. Asuhan Keperawatan Pasien Harga Diri Rendah B. Asuhan Keperawatan Pasien Isolasi Sosial C. Asuhan Keperawatan Pasien Halusinasi D. Asuhan Keperawatan Pasien Kurang Perawatan Diri E. Asuhan Keperawatan Pasien Waham F. Asuhan Keperawatan Pasien Risiko Perilaku Kekerasan G. Asuhan Keperawatan Pasien Risiko Bunuh Diri H. Asuhan Keperawatan Pasien Ketergantungan Napza PEDOMAN TINDAKAN KEPERAWATAN A. Konseling B. Aktivitas Perawatan Diri C. Terapi Lingkungan D. Pendidikan Kesehatan Jiwa E. Manajemen Kasus

ii

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Perkembangan dalam bidang informasi dan komunikasi serta teknologi memberi dampak adanya pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat hingga menimbulkan berbagai konflik dalam kehidupan. Kecenderungan meningkatnya masalah psikososial dan gangguan kesehatan jiwa dalam masyarakat akhir-akhir ini terlihat dengan jelas. Proyeksi WHO (tahun 2005) tentang pengaruh bencana tsunami terhadap korban adalah 12 bulan setelah peristiwa bencana sebanyak 30-50% korban akan mengalami distress psikososial sedang ke berat, 20-40% mengalami distress psikososial sedang, 15-20% mengalami gangguan jiwa sedang ke berat dan 3-4% gangguan jiwa berat. (angka gangguan akibat bom bali, gempa Yogya disertakan) Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI tahun 2004, menunjukkan bahwa dari 4576 sampel yang mengalami gangguan jiwa, sebanyak 0,7% terjadi pada kelompok usia 20-24 tahun, 35-39 tahun dan 40-44 tahun. Masalah kesehatan jiwa saat ini merupakan ancaman, meskipun tidak menyebabkan kematian, secara langsung namun dapat menyebabkan kerugian karena pasien/klien tidak menjadi produktif bahkan seringkali tergantung pada keluarga atau masyarakat sekitar. Untuk menanggulangi kasus tersebut perlu pelayanan yang komprehensif dan optimal. Pelayanan keperawatan jiwa merupakan bagian pelayanan yang penting untuk mengurangi angka kejadian dan angka kesakitan kesehatan jiwa. Menyikapi hal tersebut, Direktorat Keperawatan Depkes RI pada tahun 1997 telah menyusun Standar Keperawatan Kesehatan Jiwa yang dipergunakan sebagai pedoman bagi perawat dalam melaksanakan praktik keperawatan jiwa agar masyarakat dapat menerima pelayanan keperawatan jiwa yang aman. Standar pelayanan keperawatan jiwa merupakan salah satu komponen mutu pelayanan kesehatan yang merupakan indikator dari kondisi, perilaku dan elemen kunci sebagai tolok ukur pengukuran mutu pelayanan keperawatan. Perubahan akibat berkembangnya IPTEK kedokteran dan keperawatan serta perubahan kondisi rumah sakit jiwa, menuntut dilakukannya revisi terhadap Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa yang telah disusun tersebut.

B. PENGERTIAN Standar pelayanan keperawatan jiwa merupakan salah satu perangkat yang diperlukan oleh setiap tenaga perawat khususnya perawat di rumah sakit jiwa dan rumah sakit ketergantungan obat dalam memberikan pelayanan keperawatan jiwa. Standar praktik keperawatan adalah ekspektasi atau harapan-harapan minimal dalam memberikan asuhan keperawatan yang aman, efektif dan etis.

C. LINGKUP PELAYANAN KEPERAWATAN JIWA Lingkup pelayanan keperawatan jiwa meliputi rentang antara sehat dan sakit, anak hingga lanjut usia, puskesmas dan rumah sakit, serta rumah dan tempat perawatan lain. Pelayanan keperawatan jiwa diberikan pada individu, keluarga maupun kelompok. Standar ini difokuskan pada rentang sakit yaitu pasien yang dirawat inap maupun rawat jalan di RS Jiwa dan RSKO yang mengalami gangguan jiwa dan masalah psikososial pada pasien usia anak hingga lanjut usia dalam konteks individu dan keluarga.

D. SISTEMATIKA STANDAR PELAYANAN KEPERAWATAN JIWA Berdasarkan batasan lingkup pelayanan keperawatan jiwa diatas, maka sistematika standar pelayanan keperawatan jiwa ini disusun sebagai berikut : I. Standar Praktik Keperawatan Jiwa A. Standar I : Pengkajian B. Standar II : Diagnosa Keperawatan C. Standar III : Perencanaan D. Standar IV : Pelaksanaan Tindakan Keperawatan E. Standar V : Evaluasi II. Standar Penampilan Profesional Perawat A. Standar I : Kualitas Asuhan B. Standar II : Penilaian Kinerja C. Standar III : Pendidikan D. Standar IV : Kolegialitas E. Standar V : Etika F. Standar VI : Kolaborasi G. Standar VII : Penelitian H. Standar VIII : Penggunaan Sumber Daya

III. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa A. Asuhan Keperawatan Pasien Harga Diri Rendah B. Asuhan Keperawatan Pasien Isolasi Sosial C. Asuhan Keperawatan Pasien Halusinasi D. Asuhan Keperawatan Pasien Kurang Perawatan Diri E. Asuhan Keperawatan Pasien Waham F. Asuhan Keperawatan Pasien Risiko Perilaku Kekerasan G. Asuhan Keperawatan Pasien Risiko Bunuh Diri H. Asuhan Keperawatan Pasien Ketergantungan Napza

BAB II STANDAR PRAKTEK KEPERAWATAN JIWA

A. STANDAR I : PENGKAJIAN Pernyataan Perawat mengumpulkan data spesifik tentang kesehatan jiwa pasien yang diperoleh dari berbagai sumber data dengan menggunakan berbagai metode pengkajian. Rasional Pengkajian yang terfokus memudahkan perawat membuat keputusan klinik (diagnosa keperawatan) dan membuat perencanaan intervensi keperawatan yang sesuai dengan kebutuhan pasien. Kriteria struktur 1. Ada kebijakan pemberlakuan/ SAK dan SOP 2. Adanya petunjuk teknis 3. Tersedianya format pengkajian Kriteria proses 1. Melakukan kontrak dengan pasien/keluarga/masyarakat 2. Mengkaji keluhan utama pasien dan data penunjang lain dengan berbagai metode pengkajian dan dari berbagai sumber 3. Mengelompokkan data yang diperoleh secara sistimatis 4. Memvalidasi data yang diperoleh dengan menggunakan berbagai metode validasi 5. Mendokumentasi seluruh data yang diperoleh dalam format pengkajian Kriteria hasil 1. Diperolehnya keluhan utama dan data dasar pasien; yang dikelompokkan dan didokumentasikan pada format pengkajian yang telah ditetapkan 2. Pasien dan keluarga berpartisipasi dalam proses pengumpulan data

B. STANDAR II : DIAGNOSA KEPERAWATAN Pernyataan Perawat menganalisa data hasil pengkajian untuk menegakkan diagnosa keperawatan jiwa. Diagnosis keperawatan yang ditegakkan merupakan keputusan klinis perawat tentang respons individu, keluarga dan masyarakat terhadap masalah kesehatan jiwa yang aktual maupun resiko. Rasional Melalui diagnosis keperawatan yang ditegakkan, perawat memperlihatkan kemampuan melakukan justifikasi ilmiah dalam membuat keputusan klinik Kriteria struktur 1. Adanya daftar diagnosa keperawatan 2. Kebijakan SAK Kriteria proses 1. Menganalisa data pasien 2. Mengidentifikasi masalah keperawatan pasien 3. Mendokumentasikan masalah keperawatan pasien Kriteria hasil Diperoleh serangkaian masalah keperawatan yang aktual maupun resiko sesuai dengan kondisi pasien.

C. STANDAR III: PERENCANAAN Pernyataan Perawat mengembangkan serangkaian langkah-langkah penyelesaian masalah kesehatan pasien dan keluarga yang terencana dan terorganisir dengan melibatkan pasien, keluarga dan tenaga kesehatan lain. Perencanaan menggambarkan intervensi yang mengarah pada kriteria hasil yang diharapkan. Rasional Rencana tindakan keperawatan digunakan sebagai pedoman dalam melakukan tindakan keperawatan yang terapeutik, sistematis dan efektif untuk mencapai hasil yang diharapkan Kriteria struktur 1. Adanya kebijakan SAK 2. Adanya format rencana keperawatan

Kriteria proses 1. Memprioritaskan masalah keperawatan 2. Merumuskan tujuan keperawatan 3. Menetapkan tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah pasien 4. Memvalidasi kesesuaian rencana keperawatan dengan kondisi pasien terkini 5. Mendokumentasikan rencana keperawatan Kriteria hasil Adanya dokumentasi rencana keperawatan yang berfokus pada kemampuan kognitif, afektif, psikomotor pasien dan keluarga

D. STANDAR IV : PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN Pernyataan Perawat melaksanakan tindakan keperawatan berdasarkan rencana keperawatan sesuai dengan kewenangan. Rasional Pelaksanaan tindakan keperawatan merupakan upaya mencegah munculnya masalah kesehatan jiwa, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan pasien. Kriteria struktur 1. Adanya kebijakan SAK dan SOP 2. Tersedia pedoman pelaksanaan tindakan Kriteria proses 1. Melakukan tindakan keperawatan mengacu pada strategi pelaksanaan dengan pendekatan hubungan terpeutik 2. Melibatkan pasien (keluarga) dan profesi lain dalam melaksanakan tindakan 3. Melakukan modifikasi tindakan berdasarkan perkembangan kesehatan pasien 4. Mendokumentasikan tindakan keperawatan Kriteria hasil Tindakan keperawatan dan respon pasien terdokumentasikan

E. STANDAR V : EVALUASI Pernyataan : Perawat melakukan evaluasi perkembangan kondisi kesehatan pasien untuk menilai pencapaian tujuan Rasional Evaluasi menggambarkan tingkat keberhasilan tindakan keperawatan. Kriteria struktur Adanya SOP dan instrumen Kriteria proses 1. Menilai kesesuaian respons pasien dan kriteria hasil 2. Memodifikasi rencana keperawatan sesuai kebutuhan 3. Melibatkan pasien dan keluarga Kriteria hasil 1. Hasil evaluasi tindakan terdokumentasikan 2. Perubahan data pasien terdokumentasikan 3. Perubahan pada masalah keperawatan pasien terdokumentasikan 4. Modifikasi pada rencana keperawatan terdokumentasikan

BAB III STANDAR PENAMPILAN PROFESIONAL PERAWAT
A. STANDAR I : KUALITAS ASUHAN Pernyataan Perawat mengevaluasi kualitas asuhan dan efektifitas praktek keperawatan kesehatan jiwa secara sistematis. Rasional Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tingkat kesejahteraan masyarakat menimbulkan dampak terhadap pelayanan kesehatan jiwa termasuk pelayanan keperawatan jiwa semakin meningkat. Perawat senantiasa meningkatkan kompetensi diri mengembangkan profesionalisme dan memperbaiki kualitas asuhan keperawatan. Kriteria Struktur 1. Adanya kebijakan penerapan standar asuhan keperawatan jiwa. 2. Adanya SOP sebagai pedoman kerja pelayanan dan asuhan keperawatan 3. Pendidikan minimum DIII Keperawatan 4. Adanya program pengembangan pendidikan keperawatan sesuai standar pengembangan tenaga keperawatan (formal dan non formal) 5. Adanya standar tenaga yang telah ditetapkan 6. Adanya sarana dan prasarana pelayanan keperawatan sesuai standar 7. Adanya tim pengendali mutu pelayanan. Kriteria Proses 1. Mengidentifikasi peluang untuk perubahan perbaikan 2. Mengumpulkan dan menganalisa data yang relevan 3. Membuat perencanaan 4. melaksanakan perubahan untuk meningkatkan kualitas asuhan Kriteria Hasil 1. Tersedia hasil pengendalian mutu pelayanan kesehatan umum : BOR meningkat ALOS menurun TOI meningkat 2. Tersedia data tentang : Pasien lari, pengikatan atau pengekangan fisik, scabies, kategori tingkat ketergantungan pasien : mandiri, bantuan, tergantung 3. Tersedia hasil penilaian kepuasan : (Pasien, Keluarga, Perawat, Tenaga kesehatan lain). 4. Tersedia hasil kinerja (Kepala ruangan, Ketua tim, Perawat pelaksana)

B. STANDAR II : PENILAIAN KINERJA Pernyataan Perawat mengevaluasi kinerjanya sesuai dengan standar praktik profesional dan peraturan yang berlaku. Rasional Penilaian kinerja perawat merupakan suatu cara untuk menjamin tercapainya standar praktek keperawatan. Kriteria Struktur 1. Adanya kebijakan penerapan standar penilaian kinerja 2. Adanya program supervisi 3. Adanya program peer review 4. Adanya instrumen self evaluasi Kriteria Proses 1. Melaksanakan supervisi 2. Melaksanakan peer review 3. Melaksanakan self evaluasi 4. Melaksanakan uji kompetensi Kriteria Hasil 1. Adanya laporan hasil supervisi 2. Adanya dokumen kegiatan peer review 3. Adanya dokumen self evaluasi 4. Adanya hasil uji kompetensi

C. STANDAR III: PENDIDIKAN Pernyataan Perawat meningkatkan kompetensi secara terus menerus sesuai perkembangan IPTEK Rasional Komitmen untuk terus belajar melalui pendidikan formal dan non formal dalam meningkatkan profesionalisme Kriteria Struktur 1. Adanya kebijakan pengembangan SDM. 2. Adanya pengelolaan program pendidikan formal dan non formal 3. Adanya fasilitas pembelajaran (perpustakaan dan internet) Kriteria Proses 1. Melaksanakan in service training atau in house training 2. Mengirim perawat mengikuti program pelatihan, magang dan seminar 3. Mengirim perawat untuk mengikuti pendidikan formal.

Kriteria Hasil 1. Adanya dokumentasi program pengembangan staf formal dan non formal termasuk system seleksi 2. Adanya perawat yang telah mengikuti pendidikan formal dan non formal

D. STANDAR IV: KOLEGALITAS Pernyataan Perawat berkontribusi dalam mengembangkan profesionalisme teman sejawat Rasional Perawat bertanggung jawab membagi pengetahuan, penelitian, dan informasi klinis dengan teman sejawat, untuk meningkatkan pertumbuhan profesi. Kriteria Struktur 1. Adanya program pertemuan rutin untuk berbagi ide dan keilmuan (siang klinik) secara formal 2. Adanya program pertemuan rutin perawat jiwa secara informal 3. Adanya program team building: saling menghargai, kohesiveness 4. Adanya program perilaku positif 5. Adanya program bimbingan berjenjang perawat 6. Adanya program bimbingan pada calon perawat atau mahasiswa Kriteria Proses 1. Melaksanakan kegiatan siang klinik 2. Melaksanakan pertemuan informal 3. Melaksanakan kegiatan team building 4. Melaksanakan bimbingan berjenjang sesuai tingkat pengetahuan, pengalaman dan latar belakang tertentu 5. Melaksanakan bimbingan pada calon perawat dan perawat pelaksana serta mahasiswa Kriteria Hasil 1. Adanya dokumen pelaksanaan pertemuan siang klinik 2. Adanya dokumen pelaksanaan pertemuan informal 3. Adanya dokumen pelaksanaan team building 4. Adanya dokumen penilaian perilaku positif 5. Adanya dokumen berbagi ilmu dan pengalaman 6. Adanya dokumen bimbingan pada calon perawat atau mahasiswa

E. STANDAR V : ETIKA Pernyataan Keputusan dan tindakan perawat atas nama pasen ditentukan berdasarkan kode etik yang berlaku

Rasional Kepercayaan dan hak publik harus dilindungi melalui praktek keperawatan profesional yang didasari oleh pengembangan hubungan yang terapeutik dengan pasen. Kriteria Struktur 1. Adanya kebijakan pemberlakuan pedoman etik profesi perawat yang menyatu dengan dokumen kode etik Rumah Sakit 2. Adanya dokumentasi kode etik keperawatan 3. Adanya SOP penyelesaian masalah etik Kriteria Proses 1. Adanya penyelesaian masalah etik 2. Adanya pelaksanaan peer review untuk membicarakan masalah etik 3. Adanya penyelesaian masalah etik keperawatan Kriteria Hasil 1. Adanya dokumentasi penyelesaian masalah etik. 2. Adanya dokumentasi pelanggaran etik

F. STANDAR VI: KOLABORASI Pernyataan Perawat berkolaborasi dengan pasien, teman dekat, dan petugas kesehatan dalam memberikan asuhan. Rasional Praktek keperawatan membutuhkan koordinasi, hubungan terus-menerus di antara konsumen dan pemberi pelayanan untuk menghasilkan pelayanan yang komprehensif terhadap pasien dan masyarakat. Melalui proses kolaborasi, perbedaan kemampuan dari petugas kesehatan digunakan untuk memecahkan masalah, berkomunikasi dan perencanaan, implementasi intervensi, dan evaluasi pelayanan kesehatan jiwa. Kriteria Struktur 1. Adanya program terkait dengan kolaborasi. 2. Adanya program case conference yang dilaksanakan secara rutin 3. Adanya SOP yang berkaitan dengan kolaborasi 4. Adanya perawat dengan kualifikasi PK II 5. Adanya ruangan dan fasilitas untuk conference Kriteria Proses 1. melakukan perencanaan dan pengambilan keputusan secara bersama dengan ahli professional 2. Melaksanakan pembahasan kasus secara bersama-sama 3. Melaksanakan visite dan rapat tim 4. Melakukan rujukan secara tepat

Kriteria Hasil 1. Adanya dokumen hasil konferensi 2. Adanya dokumen program terapi dokter melalui telepon dan visite 3. Tidak adannya “overlap” pemberian obat.

G. STANDAR VII: PENELITIAN Pernyataan Perawat berkontribusi terhadap pengembangan keperawatan dan kesehatan jiwa melalui penelitian. Rasional Perawat bertanggung jawab berkontribusi terhadap masa depan perkembangan keilmuan kesehatan jiwa dengan berpartisipasi dalam penelitian. Melalui penelitian perawat dapat mengembangkan profesinya dengan memberikan pelayanan berdasarkan . Dengan menggunakan hasil penelitian/melakukan penelitian perawat mampu mengembangkan profesinya berdasarkan penemuan ilmiah ( evidence base practice) Perawat bertanggung jawab untuk berkontribusi untuk perkembangan lebih lanjut ilmu kesehatan jiwa melalui penelitian. Kriteria Struktur 1. Adanya program penelitian 2. Adanya pedoman penelitian 3. Adanya perawat dengan level PK IV dan PR I untuk melakukan penelitian 4. Adanya fasilitas untuk melaksanakan penelitian: internet, jurnal, literature, hasilhasil penelitian Kriteria Proses 1. Melakukan pertemuan membahas masalah klinis yang memerlukan penelitian 2. Melakukan pertemuan membahas proposal penelitian 3. Melakukan kegiatan penelitian keperawatan 4. Melakukan kegiatan diseminasi hasil penelitian (temu ilmiah, publikasi) 5. Melakukan kegitaan review hasil penelitian terkait kondisi klinik 6. Melakukan kegiatan pembahasan implementasi hasil penelitian di klinik Kriteria Hasil Adanya hasil penelitian yang dapat membantu, mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan

H. STANDAR VIII: PENGGUNAAN SUMBER DAYA Pernyataan Perawat mempertimbangkan faktor-faktor yang berhubungan dengan keamanan, efektifitas, efisiensi pembiayaan dalam perencabnaan dan pemberian asuhan kepada pasen

Rasional Pasien dijamin mendapat pelayanan kesehatan jiwa yang aman, berkualitas, efektif, dan terjangkau. Kriteria Struktur 1. Adanya dokumen anggaran keperawatan 2. Adanya dokumen standar manajemen sumber daya keperawatan 3. Adanya dokumen standar tenaga keperawatan 4. Adanya dokumen profil tenaga perawat 5. Adanya dokumen standar alat-alat kebutuhan pasien 6. Adanya dokumen SOP penggunaan dan pemeliharaan peralatan 7. Adanya dokumen program K3 Kriteria Proses 1. Melakukan pertemuan, perencanaan, penggunaan anggaran keperawatan perencanaan sumber daya keperawatan 2. Melakukan monitoring dan evaluasi penggunaan sumber daya dan alat alat kebutuhan pasien 3. Melakukan pertemuan membahas hasil monitoring evaluasi sumber daya keperawatan, serta rencana tindak lanjut 4. Melaksanaan program K3,monitoring evaluasi dan rencana tindak lanjut Kriteria Hasil 1. Adanya dokumen hasil pertemuan, perencanaan penggunaan anggaran dan sumber daya keperawatan 2. Adanya dokumen hasi monitoring evaluasi penggunaan sumber daya keperawatan, alat kebutuhan pasien, pelaksanaan program K3 dan rencana tindak lanjut.

BAB IV PENUTUP
Masalah kesehatan jiwa saat ini cenderung meningkat dimana Indonesia mengalami krisis dibidang ekonomi serta krisis sosial yang sangat dominan dalam kehidupan di masyarakat sehingga bertambah beratnya tekanan hidup, meskipun tidak secara langsung menyebabkan kematian, tetapi angka gangguan jiwa cenderung meningkat terus. Survei kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukan dari sample 4576, sebanyak 0,7% mengalami gangguan mental dan terjadi pada kelompok usia 20-24 tahun sampai dengan 40- 44 tahun. Pelayanan keperawatan jiwa merupakan bagian dari pelayanan yang penting dalam rangka mengurangi masalah kesehatan jiwa. Oleh karena itu, Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan Departemen Kesehatan RI telah menyusun Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa. Standar ini diharapkan dapat dipergunakan di tatanan pelayanan keperawatan khususnya rumah sakit jiwa baik pemerintah maupun swasta. Tujuan akhir dari standar ini adalah agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang professional serta menerima pelayanan keperawatan jiwa yang aman. Buku Standar Pelayanan Keperawatan Jiwa ini merupakan penyempurnaan dari buku Keperawatan Jiwa yang disusun pada tahun 1998, sehingga standar ini dapat dijadikan panduan dalam memberikan asuhan keperawatan di tatanan pelayanan.

LAMPIRAN PEDOMAN ASUHAN KEPERAWATAN
A. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN HARGA DIRI RENDAH I. Deskripsi Harga diri rendah adalah keadaan dimana individu memberi penilaian negatif terhadap diri dan kemampuannya dalam waktu lama secara terus menerus. II. Tanda dan gejala 1. Menyangkal penilaian positif dan membesarkan penilaian negatif dari orang lain tentang dirinya 2. Secara verbal sering mengatakan hal yang negatif tentang diri sendiri (merasa minder/malu) 3. Selalu menilai diri sendiri tidak mampu menghadapi suatu peristiwa 4. Mengekpresikan rasa bersalah secara terus menerus 5. Sering mengatakan tidak mampu melakukan sesuatu 6. Selalu ragu – ragu untuk mencoba sesuatu yang baru 7. Sering mengalami kegagalan dalam pekerjaan atau kegiatan lainnya 8. Sangat bergantung pada pendapat orang lain 9. Kontak mata kurang/tidak ada 10. Pandangan hidup yang pesimis, pasif dan hipoaktif, penurunan produktifitas 11. Selalu merasa ketidakpastian dalam hidupnya Apabila ditemukan minimal satu tanda dan gejala pada nomor 1 – 5, maka diagnosa keperawatan aktual dapat ditegakkan, sedangkan tanda dan gejala pada no 6 – 11 menunjukkan pasien berisiko mengalami penurunan harga diri III. Masalah keperawatan Masalah utama yang dapat ditegakkan adalah : gangguan konsep diri : harga diri rendah IV. Tindakan keperawatan pada pasien : a. Tujuan Tujuan intrvensi keperawatan yang dilakukan adalah pasien dapat a. Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki b. Menilai kemampuan yang dapat digunakan c. Menetapkan / memilih kegiatan yang sesuai kemampuan d. Melatih kegiatan yang sudah dipilih, sesuai kemampuan e. Menyusun jadwal untuk melakukan kegiatan yang sudah dilatih

b. Tindakan Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan; sesuai perencanaan adalah: 1). Mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang masih dimiliki pasien. a). Mendiskusikan adanya sejumlah kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien; baik fisik maupun psikososial b). Memberi pujian secara nyata dan hindarkan penilaian yang negatif. 2). Membantu pasien menilai kemampuan yang dapat digunakan. a). Mendiskusikan dengan pasien kemampuan yang masih dapat digunakan saat ini. b). Membantu pasien menyebutkannya dan memberi penguatan terhadap kemampuan diri yang diungkapkan pasien. c). Memperlihatkan respon yang kondusif dan menjadi pendengar yang aktif 3). Membantu pasien memilih/menetapkan kemampuan yang akan dilatih 4). Melatih kemampuan yang dipilih pasien a). Mendiskusikan dengan pasien langkah-langkah untuk melakukan kegiatan b). Memperagakan kegiatan yang dipilih c). Membantu dan mendukung pasien untuk melakukan kegiatan d). Memberikan pujian pada setiap kegiatan yang dapat dilakukan pasien. 5). Membantu menyusun jadwal pelaksanaan kemampuan yang dilatih a). Menganjurkan pasien melakukan kegiatan yang telah dilatih b). Bersama pasien memasukkan kegiatan yang telah dilatih dalam jadwal kegiatan harian c). Memberi pujian atas kegiatan yang dilakukan setiap hari sesuai jadwal d). Meningkatkan kegiatan sesuai dengan kegiatan yang telah dipilih 6). Memberikan kesempatan mengungkapkan perasaannya setelah pelaksanaan kegiatan

V.

Tindakan keperawatan pada keluarga a. Tujuan, keluarga mampu: 1). Membantu pasien mengidentifikasi kemampuan yang dimilikinya 2). Memfasilitasi pelaksanaan kemampuan yang masih dimiliki pasien 3). Memotivasi pasien untuk melakukan kegiatan yang sudah dilatih dan memberikan pujian atas keberhasilan pasien 4). Menilai perkembangan perubahan kemampuan pasien b. Tindakan 1) Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien 2) Menjelaskan kepada keluarga tentang harga diri rendah yang ada pada pasien 3) Mendiskusikan kemampuan yang dimiliki pasien 4) Menjelaskan cara-cara merawat pasien dengan harga diri rendah 5) Mendemontrasikan cara merawat pasien dengan harga diri rendah

6) Menganjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan kegiatan sesuai jadwal 7) Menganjurkan keluarga untuk memberikan pujian pasien atas kemampuannya 8) Membantu keluarga menyusun rencana kegiatan pasien di rumah

VI. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Terapi aktivitas kelompok untuk pasien harga diri rendah adalah TAK Stimulasi Persepsi yang terdiri dari: a. Sesi I : Mengidentifikasi hal positif diri b. Sesi II : Melatih pasien menggunakan aspek positif diri VII. Pertemuan Kelompok/Keluarga Asuhan keperawatan untuk kelompok keluarga ini dapat diberikan dengan melaksanakan pertemuan keluarga baik dalam bentuk kelompok kecil dan kelompok besar. VIII. Evaluasi a. Kemampuan yang diharapkan dari pasien : 1). Pasien dapat mengungkapkan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki pasien 2). Pasien dapat membuat rencana kegiatan harian 3). Pasien dapat melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki kenyataan b. Kemampuan yang diharapkan dari keluarga : 1). Keluarga membantu pasien dalam melakukan aktivitas 2). Keluarga memberikan pujian pada pasien terhadap kemampuannya 3). melakukan aktivitas IX. Dokumentasi proses keperawatan
a. Keluhan utama :…………………………………….. b. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan………………….. c. Konsep diri : • Gambaran diri : • Ideal diri : • Harga diri : • Identitas : • Peran :

d. Alam perasaan [ ] Sedih [ ] Putus asa [ ] Ketakutan [ ] Gembira berlebihan Jelaskan :…………………………………. Masalah keperawatan :……………………. d. Interaksi selama wawancara [ ] Bermusuhan [ ] Tidak kooperatif [ ] Mudah tersinggung [ ] Kontak mata kurang [ ] Defensif [ ] Curiga Jelaskan :……………………………………. Masalah keperawatan :……………………… e. Tingkat konsentrasi dan berhitung [ ] Mudah beralih [ ] Tidak mampu berkonsentrasi [ ] Tidak mampu berhitung sederhana Jelaskan :………………………………….. Masalah keperawatan :…………………… f. Istirahat dan tidur [ ] Tidur siang : lama …….s/d…… [ ] Tidur malam : lama……s/d……. [ ] Kegiatan sebelum/sesudah tidur……… Jelaskan :…………………………………… Masalah keperawatan :……………………..

B. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN ISOLASI SOSIAL I. Deskripsi Isolasi sosial adalah kesendirian yang dialami seseorang secara individual akibat persepsi individu terhadap lingkungan yang dirasakan mengancam keamanan dirinya secara fisik dan psikologis. Terjadi penurunan atau bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Pasien mungkin merasa ditolak, tidak diterima, kesepian, dan tidak mampu membina hubungan yang berarti dengan orang lain. II. Tanda dan gejala a. Tidak memiliki orang – orang yang dekat dan mendukung (keluarga, teman, ) b. Menarik diri/menyendiri/menghindari kontak dengan orang lain c. Menarik diri dan asyik dengan dirinya sendiri d. Merasa hubungan dengan orang lain tidak berarti e. Merasa ditolak/kesepian f. Nada suara dan perilaku yang diperlihatkan menunjukkan permusuhan g. Kesulitan melakukan interaksi di lingkungan/tidakmampu terlibat dalam hubungan interpersonal h. Tidak ada kontak mata

i. j. k. l. m. n. o.

Tidak berkomunikasi Memperlihatkan perilaku yang tidak diterima orang kebanyakan Melakukan tindakan yang tidak berguna berulang kali Melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya Sedih, afek tumpul Merasa bosan dan waktu berjalan lambat Merasa tidak dimengerti oleh orang lain/tidak aman di lingkungan

Apabila ditemukan minimal satu dari tanda dan gejala nomor 1 – 8, maka dapat ditegakkan diagnosa keperawatan aktual, sedangkan tanda dan gejala berikutnya berisiko terjadinya masalah keperawatan III. Masalah keperawatan Masalah utama yang dapat ditegakkan adalah isolasi sosial IV. Tindakan keperawatan pada pasien a. Tujuan Tujuan tindakan keperawatan adalah pasien mampu 1). Membina hubungan saling percaya 2). Menyadari penyebab isolasi social 3). Berinteraksi dengan orang lain b. Tindakan 1). Membina Hubungan Saling Percaya a) Mengucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan pasien b) Berkenalan dengan pasien: perkenalkan nama dan nama panggilan, serta tanyakan nama dan nama panggilan pasien c) Menanyakan perasaan dan keluhan pasien saat ini d) Membuat kontrak : apa yang akan lakukan, berapa lama dan tempatnya di mana e) Menjelaskan bahwa informasi yang diperoleh akan dirahasiakan untuk kepentingan terapi f) Setiap saat menunjukkan sikap empati/peduli terhadap pasien g) Memenuhi kebutuhan dasar pasien bila memungkinkan 2) Mengenal penyebab isolasi sosial b). Menanyakan pendapat pasien tentang kebiasaan berinteraksi dengan orang lain c). Menanyakan apa yang menyebabkan pasien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain 3). Mengenal keuntungan berhubungan dengan orang lain a) Mendiskusikan keuntungan memiliki banyak teman dan bergaul akrab dengan mereka 4). Mengenal kerugian tidak berhubungan a) Mendiskusikan kerugian mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain b) Menjelaskan pengaruh isolasi sosial terhadap kesehatan fisik 5). Membantu pasien berinteraksi dengan orang lain secara bertahap a). Memberi kesempatan pasien mempraktekkan cara berinteraksi dengan orang lain

b). Membantu pasien berinteraksi secara bertahap (P – K, P – K – Klien lain, P – K – klien lain – perawat/orang lain) c). Memberi pujian untuk setiap kemajuan interaksi yang telah dilakukan oleh pasien. d). Siap mendengarkan ekspresi perasaan pasien setelah berinteraksi dengan orang lain. Mungkin pasien akan mengungkapkan keberhasilan atau kegagalannya. Beri dorongan terus menerus agar pasien tetap semangat meningkatkan interaksinya. V. Tindakan keperawatan pada keluarga a b Tujuan Keluarga mampu merawat pasien isolasi sosial Tindakan 1. Melatih keluarga merawat pasien isolasi sosial Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien. 2) Menjelaskan tentang: a) Masalah isolasi sosial dan dampaknya pada pasien. b) Penyebab isolasi sosial. c) Cara-cara merawat pasien dengan isolasi sosial, antara lain: o Membina hubungan saling percaya dengan pasien dengan cara bersikap peduli dan tidak ingkar janji. o Memberikan semangat dan dorongan kepada pasien untuk bisa melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain yaitu dengan tidak mencela kondisi pasien dan memberikan pujian yang wajar. o Tidak membiarkan pasien sendiri di rumah. o Membuat rencana atau jadwal bercakap-cakap dengan pasien. 3) Memperagakan cara merawat pasien dengan isolasi sosial 2. Membantu keluarga mempraktekkan cara merawat yang telah dipelajari, mendiskusikan yang dihadapi. 3. Menyusun perencanaan pulang bersama keluarga 1)

VI. Terapi Aktivitas Kelompok Terapi aktivitas kelompok yang dapat dilakukan untuk pasien dengan isolasi sosial adalah TAK sosialisasi yang terdiri dari tujuh sesi yaitu: a. Sesi 1 : Kemampuan memperkenalkan diri b. Sesi 2 : Kemampuan berkenalan c. Sesi 3 : Kemampuan bercakap-cakap d. Sesi 4 : Kemampuan bercakap-cakap topik tertentu e. Sesi 5 : Kemampuan bercakap-cakap masalah pribadi f. Sesi 6 : Kemampuan bekerjasama g. Sesi 7 : Evaluasi kemampuan sosialisasi Panduan secara lengkap untuk melaksanakan TAK tersebut diatas dan format evaluasinya dapat dilihat pada Buku Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas Kelompok

VII. Pertemuan Kelompok Keluarga Asuhan keperawatan untuk kelompok keluarga ini dapat diberikan dengan melaksanakan pertemuan keluarga baik dalam bentuk kelompok kecil dan kelompok besar. Lebih rinci panduan pertemuan keluarga ini dapat dilihat di modul lain. Demikian juga dengan format evaluasi untuk pasien dan perawat akan ditampilkan di modul khusus yang membahas pertemuan keluarga.

VIII. Evaluasi 1. Pasien a. Menunjukkan rasa percaya b. Mengungkapkan penyebab tidak bergaul, kerugian tidak bergaul dan keuntungan bergaul c. Memperlihatkan kemauan berinteraksi dengan orang lain 2. Keluarga a. Memotivasi pasien unruk bergaul b. Memuji keberhasilan pasien c. Melibatkan pasien dalam pergaulan/kegiatan dilingkungan

IX. Dokumentasi
a. Keluhan utama

............................................................................................................ ............................................................................................................ ............................................................................................................ ............................................................................................................

b. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan ...................................................................................................... ...................................................................................................... ...................................................................................................... ........................................................................ c. Orang yang berarti ...................................................................................................... ...................................................................................................... ...................................................................................................... ........................................................................ d. Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat ...................................................................................................... ...................................................................................................... ...................................................................................................... ........................................................................ e. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain ...................................................................................................... ...................................................................................................... ...................................................................................................... ........................................................................

C. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN HALUSINASI I. Deskripsi Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa di mana pasien mengalami perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu / stimulus yang sebetulnya tidak ada, berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaan dan penghidu. Pada pasien halusinasi merasa ada suara padahal tidak ada stimulus suara, melihat bayangan orang atau sesuatu yang menakutkan padahal tidak ada bayangan tersebut, membaui bau-bauan tertentu padahal orang lain tidak merasakan sensasi serupa, merasakan mengecap sesuatu padahal sedang tidak makan apapun, merasakan sensasi rabaan padahal tidak ada apapun dalam permukaan kulit.

II. Tanda dan gejala a Halusinasi pendengaran : merasa mendengar suara / bisikan / percakapan 1. Bicara atau tertawa sendiri 2. Menyedengkan telinga ke arah tertentu 3. Menutup telinga 4. Marah-marah tanpa sebab 5. Mendengar suara-suara atau kegaduhan

6. Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap 7. Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya b Halusinasi penglihatan : merasa melihat bayangan 1. Menunjuk-nunjuk ke arah tertentu 2. Ketakutan pada sesuatu yang tidak jelas 3. Melihat bayangan sinar, bentuk geometris, bentuk kartoon 4. Melihat hantu atau monster Halusinasi penghidu : membaui bau-bauan tertentu yang tidak menyenangkan 1. Menghisap-isap seperti sedang membaui bau-bauan tertentu 2. Menutup hidung 3. Membaui bau-bauan seperti bau darah, urin, feses, kadang-kadang bau itu menyenangkan Halusinasi pengecapan : merasa mengecap rasa seperti rasa darah / urin / feses 1. Sering meludah 2. Muntah 3. Merasakan rasa seperti darah, urin atau feses Halusinasi perabaan : merasa mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas 1. Menggaruk-garuk permukaan kulit 2. Mengatakan ada serangga di permukaan kulit 3. Merasa seperti tersengat listrik

c

d

e

Data spesifik yang perlu diidentifikasi dai setiap jenis adalah waktu dan frekuensi halusinasi serta situasi yang mendukung munculnya halusinasi. Apabila ditemukan tanda dan gejala dari salah satu jenis halusinasi diatas, maka dapat ditegakkan masalah keperawatan aktual

III. Masalah keperawatan : (sesuai jenisnya) Masalah keperawatan yang dapat ditegakkan adalah : a. b. c. d. e. gangguan sensori persepsi halusinasi : pendengaran gangguan sensori persepsi halusinasi : penglihatan gangguan sensori persepsi halusinasi : penghidu gangguan sensori persepsi halusinasi : pengecapan gangguan sensori persepsi halusinasi : perabaan

IV. Tindakan keperawatan untuk pasien a Tujuan, pasien dapat: 1. Mengenali halusinasi yang dialaminya 2. Mengontrol halusinasinya 3. Mengikuti program pengobatan secara optimal

b Tindakan 1. Membantu pasien mengenali halusinasi : mendiskusikan dengan pasien tentang isi halusinasi (apa yang didengar/dilihat/diraba/dihidu/dirasa), waktu terjadi halusinasi, frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul dan respon pasien saat halusinasi muncul 2. Melatih pasien mengontrol halusinasi. a). Menghardik halusinasi 1). Menjelaskan cara menghardik halusinasi 2). Memperagakan cara menghardik 3). Meminta pasien memperagakan ulang 4). Memantau penerapan cara ini, menguatkan perilaku pasien b). Bercakap-cakap dengan orang lain c). Melakukan aktivitas yang terjadwal 1). Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi halusinasi. 2). Mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh pasien 3). Melatih pasien melakukan aktivitas 4). Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan aktivitas yang telah dilatih. Upayakan pasien mempunyai aktivitas dari bangun pagi sampai tidur malam, 7 hari dalam seminggu. 5). Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan; memberikan penguatan terhadap perilaku pasien yang positif. d). Menggunakan obat secara teratur 1). Menjelaskan pentingnya penggunaan obat pada gangguan jiwa 2). Menjelaskan akibat bila obat tidak digunakan sesuai program 3). Menjelaskan akibat bila putus obat 4). Menjelaskan cara mendapatkan obat/berobat 5). Menjelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar obat, benar pasien, benar cara, benar waktu, benar dosis) V. Tindakan Keperawatan Keluarga a. Tujuan, keluarga dapat: 1. Memahami masalah yang dihadapi oleh pasien halusinasi 2. Memahami tindakan yang dapat dilakukan keluarga dalam merawat pasien halusinasi 3. Melakukan tindakan yang dapat dilakukan keluarga dalam merawat pasien halusinasi 4. Memantau perkembangan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi 5. Memfasilitasi kebutuhan pasien akan psikofarmaka.

b. Tindakan 1. Mendiskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien 2. Memberikan pendidikan kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis halusinasi yang dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi, proses terjadinya halusinasi, dan cara merawat pasien halusinasi. 3. Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan cara merawat pasien dengan halusinasi langsung di hadapan pasien 4. Melibatkan keluarga dalam membuat perencanaan pasien pulang

VI. Terapi Aktivitas Kelompok Terapi aktivitas kelompok yang dapat dilakukan untuk pasien dengan halusinasi: a. TAK orientasi realitas TAK orientasi realitas terdiri dari tiga sesi yaitu: 1. Sesi 1: Pengenalan orang 2. Sesi 2: Pengenalan tempat 3. Sesi 3: Pengenalan waktu b. TAK stimulasi persepsi TAK stimulasi persepsi untuk pasien halusinasi terdiri dari lima sesi yaitu: 1. Sesi 1: Mengenal halusinasi 2. Sesi 2: Mengontrol halusinasi dengan menghardik 3. Sesi 3: Mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan 4. Sesi 4: Mencegah halusinasi dengan bercakap-cakap 5. Sesi 5: Mengontrol halusinasi dengan patuh minum obat Panduan secara lengkap pelaksanaan TAK tersebut diatas dan format evaluasinya dapat dilihat pada Buku Keperawatan Jiwa : Terapi Aktivitas Kelompok VII. Pertemuan Kelompok Keluarga Asuhan keperawatan untuk kelompok keluarga ini dapat diberikan dengan melaksanakan pertemuan keluarga baik dalam bentuk kelompok kecil dan kelompok besar. VIII. Evaluasi a. Pasien 1. Menunjukkan rasa percaya 2. Mengungkapkan penyebab halusinasi 3. Memperlihatkan kemampuan mengendalikan halusinasi b. Keluarga 1. Memotivasi pasien untuk melakukan kegiatan harian 2. Membantu pasien mengendalikan halusinasinya 3. Memuji keberhasilan pasien 4. Melibatkan pasien dalam pergaulan/kegiatan dilingkungan

IX. Dokumentasi Asuhan Keperawatan Pedoman format pengkajian gangguan persepsi sensori: halusinasi Persepsi : Halusinasi [ ] Pendengaran [ ] Penglihatan [ ] Perabaan [ ] Pengecapan [ ] Penghidu Jelaskan: Isi halusinasi Waktu terjadinya Frekuensi halusinasi Respons pasien

: ………………………………………… : ………………………………………… : ………………………………………… : …………………………………………

Masalah keperawatan: ……………………………………………….

D. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN KURANG PERAWATAN DIRI I. Deskripsi Kurang perawatan diri adalah ketidakmampuan atau penurunan kemampuan individu untuk melakukan atau menyelesaikan aktifitas kehidupan sehari-hari dalam hal merawat diri; yang meliputi kebersihan diri/mandi, makan, berpakaian/berhias dan toileting {Buang Air Besar (BAB)/Buang Air Kecil (BAK)} akibat kerusakan pada fungsi motorik atau kognitif. II. Tanda dan gejala a Kurang perawatan diri : Makan 1. Tidak mampu menyiapkan/mengambil makan sendiri 2. Tidak mampu menggunakan/memegang alat makan 3. Tidak mampu membawa makanan masuk ke dalam mulut, makan berceceran atau tidak pada tempatnya 4. Tidak mampu mengunyah/menelan makanan 5. Makan hanya beberapa suap dari piring / porsi tidak habis b Kurang perawatan diri : Kebersihan diri/mandi 1. Rambut kotor 2. Gigi kotor 3. Kulit berdaki dan bau keringat 4. Kuku panjang dan kotor 5. Tidak mampu/tidak ada keinginan untuk membersihkan/ mengeringkan badan 6. Tidak ada keinginan/kebutuhan untuk mandi secara teratur c Kurang perawatan diri : Berhias

Rambut acak-acakan, Penampilan tidak rapi (pakaian kotor) Tidak mau/tidak mampu menyisir rambut Tidak mampu/tidak mau berpakaian secara benar (pakaian tidak sesuai), tidak mampu memilih/mengambil/mengenakan/melepas pakaian, termasuk mengancingkan dan menutup/membuka resleting 5. Tidak mampu/tidak mau memakai alas kaki 6. Tidak ada minat mempertahankan penampilan pada tingkat yang memuaskan atau harus dimotivasi untuk melakukan perawatan diri 7. Laki-laki tidak bercukur atau perempuan tidak berdandan d Kurang perawatan diri : Toileting (BAB/BAK) 1. BAB/BAK tidak pada tempatnya/sembarang tempat 2. Tidak membersihkan diri dengan baik setelah BAB/BAK 3. Tidak mampu menggunakan kloset/pispot 4. Tidak mampu menyiram/menjaga kebersihan toilet 5. Tidak mampu/tidak mau mengenakan pakaian setelah BAK/BAB Diagnosa keperawatan kurang perawatan diri dapat ditegakkan apabila ditemukan minimal 1 tanda/gejala masing-masing kurang perawatan diri diatas. III. Masalah keperawatan Masalah utama yang dapat ditegakkan adalah Kurang perawatan diri mandi/berhias/makan/ BAB/BAK IV. Tindakan keperawatan untuk pasien a Tujuan 1. Pasien mampu menjaga dan melakukan tindakan kebersihan diri secara mandiri 2. Pasien mampu berhias sesuai dengan kondisi 3. Pasien mampu makan secara mandiri 4. Pasien mampu melakukan toileting (BAB/BAK) secara mandiri b Tindakan 1. Melatih pasien cara menjaga kebersihan diri a). Menjelaskan pentingnya kebersihan diri. b). Menjelaskan alat-alat yang digunakan untuk kebersihan diri c). Menjelaskan cara melakukan kebersihan diri: mandi, cuci rambut, memotong kuku d). Melatih pasien mempraktekkan cara menjaga kebersihan diri 2. Melatih pasien berhias Untuk laki-laki a). Berpakaian b). Menyisir rambut c). Bercukur Untuk perempuan a). Berpakaian b). Menyisir rambut c). Berdandan

1. 2. 3. 4.

3. Melatih pasien makan secara mandiri a). Menjelaskan cara mempersiapkan makan b). Menjelaskan cara makan yang tertib c). Menjelaskan cara merapihkan peralatan makan setelah makan d). Praktek makan sesuai dengan tahapan makan yang baik 4. Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara mandiri a). Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai b). Menjelaskan cara membersihkan diri setelah BAB dan BAK c). Menjelaskan cara membersihkan tempat BAB dan BAK V. Tindakan keperawatan untuk keluarga a. Tujuan Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kurang perawatan diri. b. Tindakan 1. Mendiskusikan dengan keluarga tentang masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien 2. Menjelaskan pentingnya perawatan diri untuk mengurangi stigma 3. Mendiskusikan dengan keluarga tentang fasilitas kebersihan diri yang dibutuhkan oleh pasien untuk menjaga perawatan diri pasien. 4. Menjelaskan cara merawat pasien kurang perawatan diri 5. Melatih keluarga cara merawat pasien 6. Menganjurkan keluarga untuk terlibat dalam merawat diri pasien dan membantu mengingatkan pasien dalam merawat diri (sesuai jadual yang telah disepakati). 7. Menganjurkan keluarga untuk memberikan pujian atas keberhasilan pasien dalam merawat diri. VI. Evaluasi tindakan keperawatan a. Pasien 1. Pasien dapat menyebutkan : a). Penyebab tidak merawat diri b). Manfaat menjaga diri c). Tanda - tanda penampilan diri yang bersih dan rapi d). Gangguan yang dialami jika perawatan diri tidak diperhatikan 2. Pasien dapat melaksanakan perawatan diri dalam hal : a). Kebersihan diri b). Berdandan c). Makan dan minum d). BAB/BAK b. Keluarga 1. Keluarga dapat menyediakan peralatan untuk perawatan diri pasien 2. Keluarga mendapingi pasien saat melakukan perawatan diri

VII. Dokumentasi asuhan keperawatan

1. Status mental Penampilan : [ ] Tidak rapi [ ] Penggunaan pakaian tidak sesuai [ ] Cara berpakaian tidak seperti biasanya Jelaskan : .......................................................................................... .......................................................................................................... Masalah keperawatan : ..................................................................... 2. Kebutuhan sehari – hari a. Makan [ ] bantuan minimal [ ] bantuan total b. BAB/BAK [ ] bantuan minimal [ ] bantuan total c. Membersihkan diri (mandi, keramas) [ ] bantuan minimal [ ] bantuan total d. Berpakaian/berhias [ ] bantuan minimal [ ] bantuan total Jelaskan : ......................................................................................... ......................................................................................................... Masalah keperawatan : ...................................................................

E. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN WAHAM I. Deskripsi Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat/terus menerus, tidak dapat diubah dengan cara apapun dan tidak sesuai dengan kenyataan. II. Tanda dan gejala a Keyakinan yang salah (salah satunya yang menonjol) 1. Waham kebesaran : meyakini bahwa dirinya memiliki kelebihan/ kekuasaan, diucapkan berulangkali dan tidak sesuai dengan kenyataan. 2. Waham curiga : meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha mencederai dirinya, diucapkan berulangkali dan tidak sesuai dengan kenyataan. 3. Waham agama : memiliki keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan berulang kali dan tidak sesuai dengan kenyataan. 4. Waham somatik : meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu/ terserang penyakit, diucapkan berulangkali dan tidak sesuai dengan kenyataan. 5. Waham nihilistik : meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/ meninggal, diucapkan berulangkali dan tidak sesuai dengan kenyataan.

b c d e

Frekuensi, waktu dan pencetus terjadinya waham Disorientasi (waktu/tempat/orang) Pembicaraan tidak nyambung Tidak mampu membuat keputusan

Apabila ditemukan data no 1 (minimal 1 data tentang keyakinan yang salah) dan no 2 maka dapat ditegakkan diagnosa keperawatan, sedangkan tanda dan gejala lainnya menunjukkan risiko terjadinya masalah keperawatan. III. Masalah Keperawatan Masalah utama yang dapat ditegakkan adalah gangguan proses pikir : waham IV. Tindakan keperawatan untuk pasien a. Tujuan 1. Pasien dapat berorientasi terhadap realitas secara bertahap 2. Pasien dapat memenuhi kebutuhan dasar 3. Pasien mampu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan 4. Pasien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar b. Tindakan 1. Bina hubungan saling percaya Tindakan yang harus dilakukan adalah: a). Mengucapkan salam terapeutik b). Berjabat tangan c). Menjelaskan tujuan setiap berinteraksi d). Penuhi kebutuhan dasar e). Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu pasien. f). Tidak mendukung atau membantah waham pasien g). Jika pasien terus menerus membicarakan wahamnya dengarkan tanpa memberikan dukungan atau menyangkal sampai pasien berhenti membicarakannya h). Yakinkan pasien berada dalam keadaan aman 2. Observasi pengaruh waham terhadap aktivitas sehari-hari 3. Orientasi terhadap realita a). Berbicara dalam konteks realita (waktu, tempat, orang, warna, dll) b). Bicarakan hal – hal yang terjadi disekitar sesuai dengan realita c). Berikan pujian bila penampilan dan orientasi pasien sesuai dengan realitas 4. Diskusikan kebutuhan yang tidak terpenuhi yang dapat menimbulkan kecemasan, rasa takut dan marah. 5. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan emosional pasien 6. Diskusikan tentang : a). Kemampuan positif yang dimiliki b). Kecemasan/rasa terancam yang dirasakan 7. Bantu melakukan kemampuan yang dimiliki

8. Berdiskusi tentang obat yang diminum 9. Melatih minum obat yang benar V. Tindakan keperawatan untuk keluarga a Tujuan 1. Keluarga mampu mengidentifikasi jenis dan penyebab waham yang dialami pasien 2. Keluarga mampu menjelaskan cara merawat pasien waham 3. Keluarga mampu mendemonstrasikan cara merawat pasien 1). Memfasilitasi/memenuhi kebutuhan pasien yang tidak terpenuhi 2). Melaksanakan program pengobatan pasien secara optimal 3). Mengatur lingkungan yang terapeutik untuk pasien 4. Keluarga mampu melakukan perawatan pada pasien 5. Keluarga mampu membawa ke RS jika kondisi pasien memburuk Tindakan : 1. Diskusikan dengan keluarga tentang waham yang dialami pasien 2. Diskusikan dengan keluarga tentang a). Cara merawat pasien waham dirumah b). Follow up dan keteraturan pengobatan c). Lingkungan yang tepat untuk pasien. 3. Diskusikan dengan keluarga tentang obat pasien (nama obat, dosis, frekuensi, efek samping, akibat penghentian obat) 4. Diskusikan dengan keluarga kondisi pasien yang memerlukan konsultasi segera 5. Latih cara merawat pasien waham 6. Menyusun rencana pulang pasien bersama keluarga

b

VI. Terapi Aktivitas Kelompok Terapi aktivitas kelompok yang dapat dilakukan untuk pasien waham adalah: a. TAK orientasi realitas TAK orientasi realitas terdiri dari tiga sesi yaitu: 1. Sesi 1 : Pengenalan orang 2. Sesi 2 : Pengenalan tempat 3. Sesi 3 : Pengenalan waktu b. TAK sosialisasi TAK sosialisasi terdiri dari tujuh sesi yaitu: 1. Sesi 1 : Kemampuan memperkenalkan diri 2. Sesi 2 : Kemampuan berkenalan 3. Sesi 3 : Kemampuan bercakap-cakap 4. Sesi 4 : Kemampuan bercakap-cakap topik tertentu 5. Sesi 5 : Kemampuan bercakap-cakap masalah pribadi 6. Sesi 6 : Kemampuan bekerjasama 7. Sesi 7 : Evaluasi kemampuan sosialisasi Panduan secara lengkap untuk melaksanakan TAK tersebut diatas dan format evaluasinya dapat dilihat pada Buku Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas Kelompok

VII. Pertemuan Kelompok Keluarga Asuhan keperawatan untuk kelompok keluarga ini dapat diberikan dengan melaksanakan pertemuan keluarga; dalam bentuk kelompok kecil dan kelompok besar. VIII. Evaluasi a Pasien 1. Dapat mengungkapkan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki 2. Dapat membuat rencana kegiatan harian 3. Dapat melakukan kegiatan yang direncanakan b Keluarga 1. Dapat membantu pasien melakukan aktivitas harian 2. Memberikan pujian terhadap kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas IX. Dokumentasi asuhan keperawatan A. Proses pikir [ ] Sirkumstansial [ ] Tangensial [ ] Flight of ideas [ ] Blocking [ ] Kehilangan assosiasi [ ] Pengulangan bicara B. Isi pikir [ ] Obsesi [ ] Depersonalisasi [ ] Hipokondria

[ ] Fobia [ ] Ide terkait [ ] Pikiran magis

C. Jenis Waham [ ] Agama [ ] Somatic [ ] Nihilistik [ ] Sisip piker

[ ] Kebesaran [ ] Siar pikir

[ ] Curiga [ ] Kontrol pikir

F. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN RISIKO PERILAKU KEKERASAN I. Deskripsi Perilaku kekerasan adalah nyata melakukan kekerasan, ditujukan pada diri sendiri/ orang lain secara verbal maupun non verbal dan pada lingkungan. II. Tanda dan gejala a b c d Amuk (Menyerang orang lain/melempar barang/merusak lingkungan) Bicara kasar/ketus, suara keras/menjerit/berteriak Mengumpat/mengucapkan kata-kata kotor Mengancam secara verbal atau fisik

e

Agresif Sikap bermusuhan/marah Mengepalkan tangan / postur tubuh kaku Muka merah/tegang, mata melotot/pandangan tajam Mengatupkan rahang dengan kuat

Apabila ditemukan tanda dan gejala no 1 maka dapat ditegakkan diagnosa keperawatan aktual, sedangkan tanda dan gejala lainnya mendukung risiko terjadinya masalah keperawatan. III. Masalah keperawatan Masalah keperawatan utama yang dapat ditegakkan adalah : Resiko perilaku kekerasan IV. Tindakan keperawatan untuk pasien a. Tujuan, pasien dapat 1. Mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan 2. Mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan 3. Menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah dilakukannya 4. Menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukannya 5. Menyebutkan cara mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya 6. Mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya secara fisik, spiritual, sosial, dan dengan terapi psikofarmaka. b. Tindakan 1. Membina hubungan saling percaya a). Mengucapkan salam terapeutik b). Berjabat tangan c). Menjelaskan tujuan interaksi d). Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu pasien 2. Mendiskusikan bersama pasien penyebab perilaku kekerasan saat ini dan yang lalu 3. Mendiskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan yang dirasakan oleh pasien (lihat tanda dan gejala diatas) 4. Diskusikan bersama pasien perilaku kekerasan yang biasa dilakukan pada saat marah : a). Verbal dan non verbal b). terhadap diri sendiri, orang lain/lingkungan 5. Diskusikan bersama pasien akibat perilakunya 6. Diskusikan bersama pasien cara mengontrol perilaku kekerasan: a). Secara fisik: pukul kasur dan batal, tarik nafas dalam b). Menggunakan Obat c). Secara sosial/verbal: menyatakan secara asertif rasa marahnya d). Secara spiritual: sholat/berdoa sesuai keyakinan pasien 7. Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara fisik: a). Latihan nafas dalam dan pukul kasur – bantal b). Susun jadwal latihan dalam dan pukul kasur – bantal

8. Latih pasien mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal a). Latih mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak dengan baik, meminta dengan baik, mengungkapkan perasaan dengan baik b). Susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal. 9. Latih mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual: 1) Latih mengontrol marah secara spiritual: sholat, berdoa 2) Buat jadwal latihan sholat, berdoa 10. Latih mengontrol perilaku kekerasan dengan patuh minum obat: 1) Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima benar (benar nama pasien, benar nama obat, benar cara minum obat, benar waktu minum obat, dan benar dosis obat) disertai penjelasan guna obat dan akibat berhenti minum obat 2) Susun jadwal minum obat secara teratur 11. Ikut sertakan pasien dalam Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi mengontrol Perilaku Kekerasan V. Tindakan keperawatan untuk keluarga a. Tujuan Keluarga dapat merawat pasien di rumah b. Tindakan 1. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien 2. Diskusikan bersama keluarga tentang perilaku kekerasan (penyebab, tanda dan gejala, perilaku yang muncul dan akibat dari perilaku tersebut) 3. Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi pasien yang perlu segera dilaporkan kepada perawat, seperti melempar atau memukul benda/orang lain 4. Latih keluarga merawat pasien dengan perilaku kekerasan a). Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan tindakan yang telah diajarkan oleh perawat b). Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada pasien bila pasien dapt melakukan kegiatan tersebut secara tepat c). Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan bila pasien menunjukkan gejala-gejala perilaku kekerasan 5. Buat perencanaan pulang bersama keluarga
VI. Terapi Aktivitas Kelompok

Terapi kelompok yang dapat diberikan untuk pasien dengan PK adalah: TAK stimulasi persepsi a Sesi I: mengenal perilaku kekerasan yang biasa dilakukan b Sesi II: mencegah perilaku kekerasan fisik c Sesi III: mencegah perilaku kekerasan sosial d Sesi IV: mencegah perilaku kekerasan spiritual e Sesi V: mencegah perilaku kekerasan dengan patuh mengkonsumsi obat

VII. Pertemuan Kelompok Keluarga Asuhan keperawatan untuk kelompok keluarga ini dapat diberikan dengan melaksanakan pertemuan keluarga baik dalam bentuk kelompok kecil dan kelompok besar.

VIII. Evaluasi a. Pasien Mampu menggunakan cara mengontrol perilaku kekerasan secara fisik, social/verbal, spiritual, terapi psikofarmaka secara teratur sesuai jadual b. Keluarga : 1. Mampu memotivasi klien dalam melakukan cara mengontrol perilaku kekerasan 2. Mampu mengidentifikasi perilaku klien yang harus dilaporkan pada perawat IX. Dokumentasi proses keperawatan Riwayat Trauma 1. Aniaya fisik 2. Aniaya seksual 3. Penolakan 4. Kekerasan dalam keluarga 5. Tindakan criminal Pelaku/Usia [ [ [ [ [ ][ ][ ][ ][ ][ ] ] ] ] ] Korban/Usia [ [ [ [ [ ][ ][ ][ ][ ][ ] ] ] ] ] Saksi/Usia [ [ [ [ [ ][ ][ ][ ][ ][ ] ] ] ] ]

6. Aktivitas motorik [ ] Lesu [ ] Tegang [ ] Tik [ ] Grimasen

[ ] Gelisah [ ] Tremor

[ ] Agitasi [ ] Kompulsif

7. Interaksi selama wawancara [ ] Bermusuhan [ ] Tidak kooperatif [ ] Kontak mata [ ] Defensif Kurang

[ ] Mudah tersinggung [ ] Curiga

G. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN RISIKO BUNUH DIRI I. Deskripsi Bunuh diri adalah keadaan berisiko untuk menyakiti diri sendiri atau melakukan tindakan yang dapat mengancam kehidupan. II. Tanda dan gejala a. Jenis bunuh diri 1. Isyarat bunuh diri a). Ada ide bunuh diri / berperilaku secara tidak langsung ingin bunuh diri. b). Mengungkapkan hal-hal negatif tentang diri sendiri yang menggambarkan harga diri rendah 2. Ancaman bunuh diri a). Mengancam “ingin mati/melakukan tindakan yang membahayakan diri” b). Mempersiapkan alat bunuh diri secara sembunyi-sembunyi c). Aktif memikirkan rencana bunuh diri, namun tidak disertai dengan percobaan bunuh diri. 3. Percobaan bunuh diri : mengakhiri kehidupan dengan cara gantung diri, minum racun, memotong urat nadi, atau menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi. b. Mengungkapkan keputusasaan/rasa bersalah c. Perasaan kehilangan/kesepian d. Impulsif e. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh) f. Tidak mempunyai sistem pendukung g. Gangguan psikiatri h. Penyalahgunaan NAPZA Apabila ditemukan tanda dan gejala nomor 1, maka dapat ditegakkan diagnosa keperawatan, sedangkan tanda dan gejala berikutnya berisiko terjadinya masalah keperawatan III. Diagnosa keperawatan Masalah keperawatan yang dapat ditegakkan adalah risiko bunuh diri IV. Tindakan keperawatan untuk pasien a. Isyarat bunuh diri 1. Tujuan a). Pasien mendapat perlindungan dari lingkungannya b). Pasien dapat mengungkapkan perasaanya c). Pasien dapat meningkatkan harga dirinya d). Pasien dapat menggunakan cara penyelesaian masalah yang baik 2. Tindakan

a). Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri, yaitu dengan meminta bantuan dari keluarga atau teman. b). Meningkatkan harga diri pasien, dengan cara: 1). Memberi kesempatan pasien mengungkapkan perasaannya. 2). Berikan pujian bila pasien dapat mengatakan perasaan yang positif. 3). Meyakinkan pasien bahwa dirinya penting 4). Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien 5). Merencanakan aktifitas yang dapat pasien lakukan c). Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah, dengan cara: 1). Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalahnya 2). Mendiskusikan dengan pasien efektifitas masing-masing cara penyelesaian masalah 3). Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalah yang lebih baik b. Ancaman bunuh diri 1. Tujuan Pasien tidak melakukan usaha – usaha bunuh diri 2. Tindakan Melindungi keamanan pasien dengan cara : a). Menempatkan pasien di tempat yang terawasi b). Memotivasi pasien untuk mengekpresikan perasaannya c). Penuhi kebutuhan dasar fisik dan psikologis c. Percobaan bunuh diri 1. Tujuan Pasien tetap aman dan selamat 2. Tindakan Melindungi keamanan pasien dengan cara : a). Menemani pasien terus-menerus sampai dia dapat dipindahkan ketempat yang aman b). Menjauhkan semua benda yang berbahaya (misalnya pisau, silet, gelas, tali pinggang) dari lingkungan sekitar pasien c). Memeriksa apakah pasien telah meminum obatnya, jika pasien mendapatkan obat d). Dengan lembut menjelaskan pada pasien bahwa pasien akan dilindungi sampai tidak ada keinginan bunuh diri.

V. Tindakan keperawatan untuk keluarga a. Isyarat bunuh diri 1. Tujuan keluarga mampu merawat pasien dengan risiko bunuh diri. 2. Tindakan a). Mengajarkan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri 1). Menanyakan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri yang penah muncul pada pasien.

2). Mendiskusikan tentang tanda dan gejala yang umumnya muncul pada pasien berisiko bunuh diri. b). Mengajarkan keluarga cara melindungi pasien dari perilaku bunuh diri 1). Mendiskusikan tentang cara yang dapat dilakukan keluarga bila pasien memperlihatkan tanda dan gejala bunuh diri. 2). Menjelaskan tentang cara-cara melindungi pasien, antara lain: (a) Memberikan tempat yang aman. Menempatkan pasien di tempat yang mudah diawasi, jangan biarkan pasien mengunci diri di kamarnya atau jangan meninggalkan pasien sendirian di rumah (b) Menjauhkan barang-barang yang bisa digunakan untuk bunuh diri. Jauhkan pasien dari barang-barang yang bisa digunakan untuk bunuh diri, seperti: tali, bahan bakar minyak / bensin, api, pisau atau benda tajam lainnya, zat yang berbahaya seperti obat nyamuk atau racun serangga. (c) Selalu mengadakan pengawasan dan meningkatkan pengawasan apabila tanda dan gejala bunuh diri meningkat. Jangan pernah melonggarkan pengawasan, walaupun pasien tidak menunjukan tanda dan gejala untuk bunuh diri. 3). Menganjurkan keluarga untuk melaksanakan cara tersebut di atas. 4). Mengajarkan keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan apabila pasien melakukan percobaan bunuh diri, antara lain: (a) Mencari bantuan pada tetangga sekitar atau pemuka masyarakat untuk menghentikan upaya bunuh diri tersebut (b) Segera membawa pasien ke rumah sakit atau puskesmas mendapatkan bantuan medis 5) Membantu keluarga mencari rujukan fasilitas kesehatan yang tersedia bagi pasien (a) Memberikan informasi tentang nomor telepon darurat tenaga kesehatan (b) Menganjurkan keluarga untuk mengantarkan pasien berobat/kontrol secara teratur untuk mengatasi masalah bunuh dirinya. 6) Menganjurkan keluarga untuk membantu pasien minum obat sesuai prinsip lima benar yaitu benar orangnya, benar obatnya, benar dosisnya, benar cara penggunakannya, benar waktu penggunaannya b. Ancaman atau Percobaan bunuh diri 1). Tujuan Keluarga berperan serta melindungi anggota keluarga yang mengancam bunuh diri 2). Tindakan keperawatan a). Menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi pasien serta tidak meninggalkan pasien sendirian b). Menganjurkan keluarga untuk menjauhkan barang-barang berbahaya disekitar pasien c). Mendiskusikan dengan keluarga untuk mengajak pasien berbicara atau melakukan aktivitas tertentu

d). Menganjurkan keluarga untuk tidak membiarkan pasien melamun sendiri e). Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien dan mendengarkan curahan perasaan pasien f). Mengingatkan keluarga untuk memenuhi kebutuhan dasar fisik dan psikologis pasien

VI. Terapi Aktivitas Kelompok Terapi kelompok yang dapat dilakukan untuk pasien dengan bunuh diri adalah: a. TAK stimulasi persepsi untuk mengatasi harga diri rendah 1. Sesi 1: Identifikasi hal positif pada diri 2. Sesi 2: Melatih positif pada diri b. TAK sosialisasi 1. Sesi 1: Kemampuan memperkenalkan diri 2. Sesi 2: Kemampuan berkenalan 3. Sesi 3: Kemampuan bercakap-cakap 4. Sesi 4: Kemampuan bercakap-cakap topik tertentu 5. Sesi 5: Kemampuan bercakap-cakap masalah pribadi 6. Sesi 6: Kemampuan bekerjasama 7. Sesi 7: Evaluasi kemampuan sosialisasi

VII. Pertemuan Kelompok Keluarga Asuhan keperawatan untuk kelompok keluarga ini dapat diberikan dengan melaksanakan pertemuan keluarga baik dalam bentuk kelompok kecil dan kelompok besar dengan topik utama mencegah tindakan bunuh diri pasien, koping efektif dan merawat pasien pasca bunuh diri

VIII. Evaluasi a. Pasien 1. Menunjukkan rasa percaya 2. Mengungkapkan perasaan yang membebani 3. Memperlihatkan koping yang efektif b. Keluarga d. Melindungi keamanan pasien e. Memotivasi pasien untuk melakukan kegiatan harian f. Membantu pasien mengekspresikan perasaannya g. Memuji keberhasilan pasien h. Melibatkan pasien dalam pergaulan/kegiatan dilingkungan

IX. Dokumentasi proses keperawatan

a. Keluhan utama :…………………………………….. b. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan………………….. c. Harga diri : d. Alam perasaan [ ] Sedih [ ] Putus asa [ ] Ketakutan [ ] Gembira berlebihan Jelaskan :…………………………………. Masalah keperawatan :……………………. d. Interaksi selama wawancara [ ] Bermusuhan [ ] Tidak kooperatif [ ] Mudah tersinggung [ ] Kontak mata kurang [ ] Defensif [ ] Curiga Jelaskan :……………………………………. Masalah keperawatan :……………………… e. Afek [ ] Datar [ ] Tumpul [ ] Labil [ ] Tidak sesuai Jelaskan :………………………………….. Masalah keperawatan :…………………… f. Mekanisme koping [ ] Minum alkohol [ ] Reaksi lambat [ ] Bekerja berlebihan [ ] Menghindar [ ] Mencederai diri [ ] Lainnya ............... Jelaskan :……………………………………. Masalah keperawatan :……………………....

g. Masalah psikososial dan lingkungan [ ] Masalah dengan dukungan keluarga ................................................... [ ] Masalah dengan perumahan ............................................................... [ ] Masalah dengan pekerjaan ................................................................. [ ] Masalah dengan pendidikan ............................................................... [ ] Masalah dengan kesehatan ................................................................. [ ] Masalah ekonomi ............................................................................... [ ] Masalah dengan kelompok ................................................................. [ ] Masalah lainnya .................................................................................. Masalah keperawatan ...................................................................................

H. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN PENGGUNAAN NAPZA I. Deskripsi Penggunaan NAPZA adalah perilaku individu yang berulang-ulang menggunakan NAPZA, dan apabila dikurangi/dihentikan akan timbul gejala putus zat dan keinginan yang sangat kuat untuk menggunakan NAPZA kembali. NAPZA singkatan dari Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya. II. Tanda dan Gejala 1. Jenis NAPZA yang digunakan 1 atau >1 2. Gejala intoksikasi misalnya: eforia (semua zat), perubahan persepsi/perubahan kemampuan menilai/kurang pengendalian diri (penggunaan alkohol, benzodiazepin), penurunan kesadaran (penggunaan heroin), paranoid (penggunaan sabu-sabu/amfetamin). Gejala putus zat misalnya: cemas, susah tidur, mual muntah, mata dan hidung berair, nyeri. Gejala-gejala tersebut tergantung pada jenis zat yang digunakan 3. Ingin berhenti menggunakan NAPZA 4. Berusaha berhenti menggunakan NAPZA berulang kali 5. Tidak mampu mengatasi keinginan untuk menggunakan NAPZA Diagnosa keperawatan dapat ditegakkan apabila ditemukan minimal 2 tanda/gejala ketergantungan NAPZA diatas.

III. Masalah keperawatan Koping individu tidak efektif: belum mampu mengatasi keinginan menggunakan NAPZA IV. Tindakan keperawatan untuk pasien a. Tujuan b. Pasien mengatasi gejala putus zat (NAPZA) c. Pasien mengenali dampak penggunaan NAPZA d. Pasien meningkatkan motivasi berhenti menggunakan NAPZA e. Pasien mengontrol keinginan menggunakan NAPZA f. Pasien meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah g. Pasien mengubah gaya hidup b. Tindakan 1. Diskusikan dampak NAPZA bagi kehidupan pasien a). Kehidupan sebelum menggunakan NAPZA b). Dampak bagi kesehatan, kehidupan sosial/pendidikan/pekerjaan, secara ekonomi dan hukum c). Harapan pasien untuk kehidupan sekarang dan masa yang akan datang setelah tahu dampaknya

2. Diskusikan cara meningkatkan motivasi berhenti a). Hal-hal positif yang masih dipunyai pasien b). Latih pasien untuk mensyukuri keadaannya tersebut (1). Sebutkan lebih sering hal-hal yang membuat Anda merasa lebih baik (latihan afirmasi) (2). Sebutkan berulang-ulang keinginan untuk berhenti (latihan afirmasi) 3. Diskusikan cara mengontrol keinginan menggunakan NAPZA a). Menghindar, mengalihkan dan menolak b). Latih pasien mengontrol keinginan menggunakan NAPZA (1). Menghindar : tidak ke tempat pengguna NAPZA (2). Mengalihkan : aktivitas positif dan menyenangkan (3). Menolak : katakan ”tidak” pada NAPZA 4. Diskusikan cara menyelesaikan masalah yang sehat a). Mengenali situasi berisiko tinggi untuk menggunakan NAPZA : emosi negatif, konflik pribadi, tekanan sosial/kelompok b). Mengenali cara pasien menyelesaikan masalah : menggunakan NAPZA c). Untung rugi cara tersebut digunakan d). Tawarkan cara sehat untuk menyelesaikan masalah (1). Secara verbal : katakan secara jujur perasaan sendiri dan harapan agar sikap orang lain lebih baik menanggapi masalah pasien (2). Secara fisik : jalan-jalan, rileksasi, aktifitas positif (3). Secara sosial : cari bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalah (4). Secara spiritual : mengadukan masalah kepada Tuhan dan menyakini bahwa akan ada bantuan dari YANG MAHA KUASA d). Latih pasien menggunakan cara menyelesaikan masalah yang sehat e). Anjurkan pasien minum obat dengan prinsip 5 benar yaitu, benar nama pasien, nama obat, dosis, cara penggunaan, dan waktu minum obat. 5. Diskusikan gaya hidup yang sehat a). Makan dan BAK/BAB secara teratur b). Bekerja dan tidur secara teratur c). Menjaga kebersihan diri d). Latih pasien mengubah gaya hidup (1). Tentukan aktivitas sehari-hari dan hobi (2). Buat jadual aktivitas (3). Tentukan pelaksanaan jadual aktivitas V. Tindakan keperawatan untuk keluarga a. Tujuan 1.Keluarga mengenal masalah 2.Keluarga meningkatkan motivasi pasien untuk berhenti

3.Keluarga menjelaskan cara merawat pasien NAPZA 4.Keluarga mengidentifikasi kondisi pasien yang perlu di rujuk b. Tindakan 1. Diskusikan masalah keluarga dalam merawat pasien 2. Diskusikan tentang NAPZA a). Penyebab, tanda/gejala, dampak ketergantungan NAPZA b). Tahapan penyembuhan pasien (pencegahan, pengobatan dan pemulihan) 3. Diskusikan cara merawat a). Perilaku pengguna NAPZA (berbohong, mencuri, manipulatif) b). Cara meningkatkan motivasi pasien c). Bantu pasien mengurangi keinginan menggunakan NAPZA : menghindar dan mengalihkan d). Anjurkan memberi pujian kepada pasien yang berhenti menggunakan NAPZA e). Mengawasi minum obat f). Latih cara merawat pasien 4. Diskusikan kondisi pasien yang perlu dirujuk a) Intoksikasi berat, misalnya penurunan kesadaran, jalan sempoyongan, persepsi terganggu, kehilangan pengendalian diri, curiga yang berlebihan, melakukan kekerasan sampai menyerang orang lain b) Gejala putus zat (NAPZA), misalnya nyeri, mual muntah, susah tidur, gelisah, tangan gemetar, cemas berat, depresi (murung berkepanjangan) VI. Evaluasi tindakan keperawatan a. Pasien 1). Berhenti menggunakan NAPZA 2). Menyelesaikan masalah secara sehat 3). Hidup sehat : makan, beraktivitas, istirahat secara teratur b. Keluarga 1). Mampu merawat pasien 2). Mampu merujuk pasien

VII. Dokumentasi

1.

Riwayat menggunakan NAPZA terkini ............................................................................................................. .............................................................................................................

2. Jenis NAPZA yang digunakan [ ] ekstasi/shabu [ ] Ganja [ ] Heroin/putaw [ ] alkohol [ ] Benzodiazepin/penenang [ ] lain-lain ……………………. 3. Gejala intoksikasi / putus zat a. Heroin/putaw/morfin eforia mengantuk bicara cadel b. Ganja eforia mata merah mulut kering c. Benzodiazepin pengendalian diri berkurang jalan sempoyongan d. Alkohol mata merah bicara cadel perubahan persepsi e. Ekstasi/shabu selalu terdorong untuk bergerak berkeringat gemetar cemas depresi paranoid jalan sempoyongan penurunan kemampuan menilai mengantuk memperpanjang tidur hilang kesadaran banyak bicara dan tertawa nafsu makan meningkat gangguan persepsi konstipasi penurunan kesadaran

4. Alasan/penyebab menggunakan NAPZA …………………………………………………………….. …………………………………………………………….. 5. Motivasi berhenti [ ] ada, jelaskan, …………………………………………. [ ] tidak ada, …………………………………………….. 6. Usaha berhenti berulang kali [ ] ada, jelaskan, …………………………………………. [ ] tidak ada, ……………………………………………..

7. Waktu paling lama tidak menggunakan NAPZA [ ] kurang dari satu hari [ ] lebih dai satu minggu [ ] 1 hari – 1 minggu [ ] lainnya ……………..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful