Direktorat Jenderal Penataan Ruang Daerah Wilayah I Kementerian Pekerjaan Umum

22 September 2011

Direktorat Jenderal Penataan Ruang Daerah Wilayah I Kementerian Pekerjaan Umum
22 September 2011

Materi
1.
2. 3. 4. 5. 6.

PERPRES 32 Tahun 2011, tentang MP3EI/Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (2011-2025); Tabel Monitoring Percepatan Penyusunan PERDA RTRW di Indonesia dan Kab/Kota Provinsi KEPRI Per 26 Agustus 2011; Kerangka Kerja/Framework RTR di dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN), sesuai UU No 25 Tahun 2004; Uraian Singkat Materi Undang-Undang No. 26 Tahun 2007, tentang Penataan Ruang; Diagram Alur Penyusunan dan Penetapan PERDA RTRW KAB/Kota di Indonesia dan Kerangka Kerja KMR-DJPR; Tabel Jadwal Percepatan Penyusunan dan Penetapan PERDA RTRW Pemerintah Kabupaten Natuna. (Penyepakatan bersama stakeholder).

Materi 1
2 Pernyataan Presiden RI meraih keyakinan bangsa Indonesia, dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Mewujudkan Visi Indonesia : Ekonomi Indonesia 2011-2025;
Maju & Sejahtera
1.

2.

Pada 10 September 2009, di Jakarta; Presiden mengajak (i)dunia usaha di tanah air untuk semakin bersinergi dalam meningkatkan perekonomian Indonesia. (ii) Dimana Misi besar 5 tahun mendatang adalah (2010-2015) adalah melakukan ‘debottlenecking’, (iii) percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi nasional. Pada 14 Desember 2010, di ITS Surabaya; Presiden mengajak bangsa kita untuk membangun optimisme dan keyakinan diri bahwa indonesia bisa menjadi Emerging Economy 15 tahun mendatang. Terbukti menjadi salah satu negara G-20, dan akan ‘segera’ menjadi emerging economy.

Kedua hal diatas disampaikan oleh Pemimpin Bangsa kita, untuk MEMBANGUN KEYAKINAN dan KEPERCAYAAN DIRI kita sebagai bangsa, bahwa Indonesia sungguh BISA untuk membangun masa depannya yang lebih baik. Insya Allah, Indonesia akan dapat mendudukkan dirinya sebagai sepuluh (10) negara besar dunia di tahun 2025 dan Enam (6) negara besar dunia pada tahun 2050.

…Lanjutan materi 1

Ilustrasi Debottlenecking/penyelesaian hambatan;permasalahan

…Lanjutan materi 1

MP3EI 2011-2025; Perbaikan Regulasi & Perijinan

Hal 109

…Lanjutan materi 1

MP3EI 2011-2025; Perbaikan Regulasi & Perijinan

Hal 109

…Lanjutan materi 1

MP3EI 2011-2025; Perbaikan Regulasi & Perijinan

…Lanjutan materi 1

MP3EI 2011-2025; Perbaikan Regulasi & Perijinan

…Lanjutan materi 1

MP3EI 2011-2025; Perbaikan Regulasi & Perijinan

…Lanjutan materi 1

MP3EI 2011-2025; Perbaikan Regulasi & Perijinan

…Lanjutan materi 1

MP3EI 2011-2025; Perbaikan Regulasi & Perijinan

Hal 182

Kembali ke utama

Materi 2 Tabel Monitoring Percepatan Penyusunan dan Penetapan PERDA RTRW

…Lanjutan materi 2

Tabel Monitoring Percepatan Penyusunan dan Penetapan PERDA RTRW

…Lanjutan materi 2

Tabel Monitoring Percepatan Penyusunan dan Penetapan PERDA RTRW Provinsi Kepulauan Riau

Kembali ke utama

…Lanjutan materi 2

Checklist Kelengkapan 4 Data Utama Dan 7 Data Pendukung Tiap Kabupaten Di Provinsi Riau Dan Provinsi Riau Kepulauan
No Kabupaten DU.1 √ ? ? √ x ? ? √ ? ? x √ Data Utama DU.2 DU.3 √ √ √ √ x √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ x √ √ √ √ √ x √ DU.4 √ √ √ √ x √ √ √ √ √ x √ DP.1 x x x x x x x x x x x √ DP.2 ? ? ? ? x ? ? ? ? x x √ DP.3 √ √ √ √ √ √ √ √ √ x x √ Data Pendukung DP.4 DP.5 x x x x x x x x x x x √ x x x x x √ x x x √ x √ DP.6 x x x x x √ x x x x x √ DP.7 x x x x x x x x x √ x √ DP.8 ? ? ? ? ? Ada TP TP TP Ada ? ? TPD Fatimah Syaiful Suparman Baiturrahmah Faizan Kukuh Akhmad Anwar Nasir Riswanto Tiar Romi Koordinator Nurdin Syamsuwito Nurdin Syamsuwito Ardin Kirom Fitri Fitri Kirom Ardin Luthfi Luthfi Provinsi Riau 1 Bengkalis 2 Indragiri Hilir 3 Indragiri Hulu 4 Rokan Hilir 5 Rokan Hulu 6 Pelalawan 7 Siak 8 Meranti 9 Kuantan Singingi Provinsi Kepulauan Riau 1 Anambas 2 Natuna 3 Lingga

Keterangan: Data Utama DU.1 : Buku Fakta dan Data DU.2 : Album Peta DU.3 : Materi Teknis RTRW Kabupaten DU.4 : Raperda TP : Tidak Perlu Semua Data Utama diserahkan dalam bentuk: - CD sebanyak 65 Copy - Hard Copy sebanyak 2 exemplar - 65 Hard Copy Matrik Evaluasi

Data Pendukung DP.1 : Rekomendasi Gubernur DP.2 : Berita Acara Konsultasi Publik DP.3 : Berita Acara Kesepakatan Perbatasan DP.4 : Surat Bupati kepada Menteri PU DP.5 : KLHS DP.6 : RTH DP.7 : Persetujuan Peta Bakosurtanal DP.8 : Lahan Berkelanjutan

Kembali ke utama

Materi 3

DIAGRAM POSISI RTRW/RDTR KABUPATEN DALAM SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL (SPPN)

KEBIJAKAN NASIONAL DAN PROVINSI

Pedoman

Dijabarkan

Pedoman

Dijabarkan

RPJP Daerah

RPJM Daerah

RKP Daerah

RAPBD

APBD

Penjabaran Program Kewilayahan

Diacu

Bahan

Bahan

Dijabarkan

Pedoman
Bahan

RTRW/RDTR Dan turunannya.
Pedoman Pedoman

Rencana Induk Pengembangan Sektoral di Daerah

RENSTRA SKPD

RENJA SKPD

RKA SKPD

Rincian APBD

Keterangan:

Posisi RTRW/RDTR dan turunannya dalam Sistem Perencanaan dan Penganggaran di Indonesia RPJP : Rencana Pembangunan Jangka Pendek RPJM : Rencana Pembangunan Jangka Menengah RKP : Rencana Kerja Pemerintahan RENJA SKPD: Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah RKA SKPD : Rencana Kerja Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah

Materi 4
PERENCANAAN TATA RUANG
Menghasilkan rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang
RENCANA UMUM TATA RUANG
Ps. 14 ayat (2) Ps. 14 ayat (1)

RENCANA RINCI TATA RUANG
Ps. 14 ayat (3)

sebagai perangkat operasional rencana umum tata ruang

RTR PULAU / KEPULAUAN RTRW NASIONAL RTR KWS STRA. NASIONAL RTR KWS STRA. PROVINSI RTR KWS STRA KABUPATEN RTRW KABUPATEN RDTR WIL KABUPATEN RTR KWS METROPOLITAN
b. a.

disusun apabila:

Ps. 14 ayat (4)

WILAYAH

RTRW PROVINSI

rencana umum tata ruang belum dapat dijadikan dasar dalam pelaksanaan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang; dan/atau rencana umum tata ruang mencakup wilayah perencanaan yang luas dan skala peta dalam rencana umum tata ruang tersebut memerlukan perincian sebelum dioperasionalkan
Ps. 14 ayat (5)

PERKOTAAN

RTR KWS PERKOTAAN DLM WIL KABUPATEN RTR BAGIAN WIL KOTA RTRW KOTA RTR KWS STRA KOTA RDTR WIL KOTA

Sebagai dasar penyusunan peraturan zonasi
Ps. 14 ayat (6)

BHK-DJPR/Presentasi/DR

…Lanjutan materi 4

RENCANA TATA RUANG
Ps. 17 ayat (1)

Rencana Struktur Ruang
Ps. 17 ayat (2)

Rencana Pola Ruang
Ps. 17 ayat (3)

Rencana Sistem Pusat Permukiman
Sistem Wilayah
Sistem internal Perkotaan

Rencana Sistem Jaringan Prasarana
Sistem Jaringan Transportasi
Sistem Jaringan Energi & Kelistrikan Sistem Jaringan Telekomunikasi Sistem Persampahan & Sanitasi Sistem Jaringan SDA, dll.

Peruntukan Kawasan Lindung

Peruntukan Kawasan Budidaya
Ps. 17 ayat (4)

Kegiatan Pelestarian Lingkungan Hidup Kegiatan Sosial Kegiatan Budaya Kegiatan Ekonomi Kegiatan Pertahanan & Keamanan

dalam RTRW ditetapkan kawasan hutan paling sedikit 30 %dari luas DAS
Ps. 17 ayat (5)
BHK-DJPR/Presentasi/DR

…Lanjutan materi 4

PROSES PENETAPAN RAPERDA TENTANG RENCANA TATA RUANG DAERAH

3

Rancangan Perda Kabupaten/Kota

4

Persetujuan 2 Substansi
1

Menteri Pekerjaan Umum
Koordinasi

Bupati/ Walikota
5

Gubernur
Rekomendasi
2 3

1 Rancangan Perda Provinsi

BKTRN

Proses lebih lanjut dievaluasi

Koordinasi Menteri Dalam Negeri

BHK-DJPR/Presentasi/DR

…Lanjutan materi 4

RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL (RTRWN)
Peraturan Pemerintah
Ps. 20 ayat (6)

diatur dengan
Ps.19

RTRWN

 WANUS & HANAS  perkembangan permasalahan regional & global, serta hasil pengkajian implikasi penataan ruang nasional  upaya pemerataan pembangunan & pertumbuhan serta stabilitas ekonomi;  keselarasan aspirasi pembangunan nasional dan pembangunan daerah  daya dukung & daya tampung lingkungan hidup  RPJPN  RTR kawasan strategis nasional  RTRWP dan RTRWK
Ps. 20 ayat (1)

jangka waktu 20 tahun
Ps. 20 ayat (3) Ps. 20 ayat (2)

ditinjau kembali 1 kali dalam 5 tahun
Ps. 20 ayat (4)

ditinjau kembali lebih dari 1 kali dalam 5 tahun, dalam hal:  perubahan kondisi lingkungan strategis tertentu yang berkaitan dengan bencana alam skala besar; dan/atau  perubahan batas teritorial negara Ps. 20 ayat (5)
BHK-DJPR/Presentasi/DR

 penyusunan RPJPN  penyusunan RPJPMN  pemanfaatan ruang & pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah nasional  mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, & keseimbangan perkembangan antarwilayah provinsi, serta keserasian antarsektor  penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi  penataan ruang kawasan strategis nasional  penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota

 tujuan, kebijakan, & strategi penataan ruang wilayah nasional  rencana struktur ruang wilayah nasional yg meliputi sistem perkotaan nasional yang terkait dengan kawasan perdesaan dalam wilayah pelayanannya & sistem jaringan prasarana utama  rencana pola ruang wilayah nasional yang meliputi kawasan lindung nasional & kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis nasional  penetapan kawasan strategis nasional  arahan pemanfaatan ruang yang berisi indikasi program utama jangka menengah lima tahunan  arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional yang berisi indikasi arahan peraturan zonasi sistem nasional, arahan perizinan, arahan insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi.

…Lanjutan materi 4

RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI (RTRWP)
Peraturan Daerah Provinsi
Ps. 23 ayat (6)

ditetapkan dengan

 RTRWN  pedoman bidang penataan ruang  RPJPD
Ps. 22 ayat (1)

disusun dengan memperhatikan

Ps. 22 ayat (2)

RTRWP

 perkembangan permasalahan nasional & hasil pengkajian implikasi penataan ruang provinsi  upaya pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi provinsi  keselarasan aspirasi pembangunan provinsi & pembangunan kabupaten/kota  daya dukung & daya tampung lingkungan hidup  RPJPD  RTRWP yang berbatasan  RTR kawasan strategis provinsi  RTRWK  tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah provinsi  rencana struktur ruang wilayah provinsi yang meliputi sistem perkotaan dalam wilayahnya yang berkaitan dengan kawasan perdesaan dalam wilayah pelayanannya & sistem jaringan prasarana wilayah provinsi  rencana pola ruang wilayah provinsi yang meliputi kawasan lindung dan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis provinsi  penetapan kawasan strategis provinsi  arahan pemanfaatan ruang wilayah provinsi yang berisi indikasi program utama jangka menengah lima tahunan  arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi yang berisi indikasi arahan peraturan zonasi sistem provinsi, arahan perizinan, arahan insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi

jangka waktu 20 tahun
Ps. 23 ayat (3) Ps. 23 ayat (2)

Ps. 23 ayat (1)

ditinjau kembali 1 kali dalam 5 tahun
Ps. 23 ayat (4) Ps. 23 ayat (5)

ditinjau kembali lebih dari 1 kali dalam 5 tahun, dalam hal:  perubahan kondisi lingkungan strategis tertentu yang berkaitan dengan bencana alam skala besar; dan/atau  perubahan batas teritorial negara dan/atau provinsi
BHK-DJPR/Presentasi/DR

 penyusunan RPJPD  penyusunan RPJMD  pemanfaatan ruang & pengendalian pemanfaatan ruang dalam wilayah provinsi  mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, & keseimbangan perkembangan antarwilayah kabupaten/kota, serta keserasian antarsektor  penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi  penataan ruang kawasan strategis provinsi  penataan ruang wilayah kabupaten/kota

…Lanjutan materi 4

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN (RTRW Kab.)
Peraturan Daerah Kabupaten
Ps. 26 ayat (7)

Ditetapkan dengan Dasar penerbitan perizinan lokasi pembangunan & administrasi pertanahan
Ps. 26 ayat (3)

 RTRWN & RTRWP;  pedoman & petunjuk pelaksanaan bidang penataan ruang; dan  RPJPD
Ps. 25 ayat (1) Ps. 25 ayat (2)

RTRW Kab.

disusun dengan memperhatikan

 perkembangan permasalahan provinsi & hasil pengkajian implikasi penataan ruang kabupaten  upaya pemerataan pembangunan & pertumbuhan ekonomi kabupaten;  keselarasan aspirasi pembangunan kabupaten  daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup  RPJPD  RTRWK yang berbatasan  RTR kawasan strategis kabupaten  tujuan, kebijakan, & strategi penataan ruang wilayah kabupaten  rencana struktur ruang wilayah kabupaten yang meliputi sistem perkotaan di wilayahnya yang terkait dengan kawasan perdesaan & sistem jaringan prasarana wilayah kabupaten  rencana pola ruang wilayah kabupaten yang meliputi kawasan lindung kabupaten & kawasan budi daya kabupaten  penetapan kawasan strategis kabupaten  arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten yang berisi indikasi program utama jangka menengah lima tahunan  ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten yang berisi ketentuan umum peraturan zonasi, ketentuan perizinan, ketentuan insentif & disinsentif, serta arahan sanksi.

Ps. 26 ayat (1)

Ps. 26 ayat (2) Ps. 26 ayat (4)

20 tahun
Ps. 26 ayat (5)

ditinjau kembali 1 kali dalam 5 tahun

ditinjau kembali lebih dari 1 kali dalam 5 tahun, dalam hal:  perubahan kondisi lingkungan strategis tertentu yang berkaitan dengan bencana alam skala besar; dan/atau  perubahan batas teritorial negara, prov., dan/atau kab. Ps. 26 ayat (6)
BHK-DJPR/Presentasi/DR

 penyusunan RPJPD  penyusunan RPJMD  pemanfaatan ruang & pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah kabupaten  mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, & keseimbangan antarsektor  penetapan lokasi & fungsi ruang untuk investasi  penataan ruang kawasan strategis kabupaten

…Lanjutan materi 4

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA (RTRW Kota)
Peraturan Daerah Kota • RTRWN & RTRWP; • pedoman & petunjuk pelaksanaan bidang penataan ruang; dan • RPJPD

Ps.28

Ditetapkan dengan Dasar penerbitan perizinan lokasi pembangunan & administrasi pertanahan

RTRW Kota

• perkembangan permasalahan provinsi & hasil pengkajian implikasi penataan ruang kota • upaya pemerataan pembangunan & pertumbuhan ekonomi kota; • keselarasan aspirasi pembangunan kota • daya dukung & daya tampung lingkungan hidup • RPJPD • RTRWK yang berbatasan • RTR kawasan strategis kota • tujuan, kebijakan, & strategi penataan ruang wil. kota • rencana struktur ruang wil. kota yg meliputi sistem perkotaan di wilayahnya yg terkait dgn kws. perdesaan & sistem jaringan prasarana wilayah kota • rencana pola ruang wil. kota yg meliputi kawasan lindung kota & kawasan budi daya kota • penetapan kawasan strategis kota • arahan pemanfaatan ruang wil. kota yg berisi indikasi program utama jangka menengah 5 tahunan • ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wil. kota yg berisi ketentuan umum peraturan zonasi, ketentuan perizinan, ketentuan insentif & disinsentif, serta arahan sanksi • rencana penyediaan & pemanfaatan RTH • rencana penyediaan & pemanfaatan ruang terbuka nonhijau • rencana penyediaan & pemanfaatan prasarana & sarana jaringan pejalan kaki, angkutan umum, kegiatan sektor informal, & ruang evakuasi bencana, yg dibutuhkan utk menjalankan fungsi wil. kota sebagai pusat pelayanan sosial ekonomi dan pusat pertumbuhan wilayah

20 tahun ditinjau kembali 1 kali dalam 5 tahun ditinjau kembali lebih dari 1 kali dalam 5 tahun, dlm hal:  perubahan kondisi lingkungan strategis tertentu yang berkaitan dengan bencana alam skala besar; dan/atau  perubahan batas teritorial negara, prov., dan/atau kab.
BHK-DJPR/Presentasi/DR

• penyusunan RPJPD • penyusunan RPJMD • pemanfaatan ruang & pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah kabupaten • mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, & keseimbangan antarsektor • penetapan lokasi & fungsi ruang untuk investasi • penataan ruang kawasan strategis kabupaten

…Lanjutan materi 4

KOMPLEMENTARITAS RENCANA TATA RUANG

Dilengkapi peraturan zonasi (Zoning Regulation)

BHKBHK-DJPR/Presentasi/DR

…Lanjutan materi 4

PROSEDUR PERSETUJUAN SUBSTANSI RAPERDA TENTANG RTRW PROVINSI BESERTA RENCANA RINCINYA

PENYIAPAN RAPERDA

PENGAJUAN RAPERDA

EVALUASI MATERI MUATAN TEKNIS RAPERDA

PERSETUJUAN SUBSTANSI RAPERDA

PENETAPAN RAPERDA

Penyusunan Raperda

Surat permohonan

Evaluasi oleh Tim Evaluasi

Permohonan penandatanganan

Guber nur

DPRD

Penilaian sendiri

Pemeriksaan dokumen

Proses evaluasi (Pemda & BKTRN)

Evaluasi Mendagri

Raperda Siap

Dokumen lengkap

Berita acara pernyataan kesesuaian

Persetujuan substansi oleh Menteri

Penetapan

PEMBINAAN / FASILITASI

PEMANTAUAN

Proses EVALUASI TEKNIS

TIM TEKNIS BKPRN (A.L.DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG)

…Lanjutan materi 4

PROSEDUR PERSETUJUAN SUBSTANSI RAPERDA TENTANG RTRW KABUPATEN/KOTA, BESERTA RENCANA RINCINYA

PENYIAPAN RAPERDA

EVALUASI SUBSTANSI RAPERDA OLEH PROVINSI

PENGAJUAN RAPERDA

EVALUASI MATERI MUATAN TEKNIS RAPERDA

PERSETUJUAN SUBSTANSI RAPERDA

PENETAPAN RAPERDA

Penyusun an Raperda

Surat permohona n

Surat permoho nan

Evaluasi oleh Tim Evaluasi

Permohonan penandatanganan

Bupati/ Waliko ta

DPRD

Penilaian sendiri

Pemeriksaan dokumen

Pemeriksa an dokumen

Proses evaluasi (Pemda & BKTRN)

Evaluasi Gubernur

Evaluasi

Raperda Siap

Rekomen dasi

Dokumen lengkap

Berita acara pernyataan kesesuaian

Persetujuan substansi oleh Menteri

Penetapan

PEMBINAAN / FASILITASI

PEMANTAUAN

Proses EVALUASI TEKNIS

TIM TEKNIS BKPRN (A.L. DIREKTORAT JENDERAL PENATAAN RUANG)

…Lanjutan materi 4

KETENTUAN PERALIHAN

Terhadap Peraturan Per-UU-an lain

Pada saat UU ini mulai berlaku, semua peraturan pelaksanaan yg berkaitan dgn penataan ruang yg telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan & belum diganti berdasarkan UU ini.
Ps. 76

Terhadap kegiatan pemanfaatan ruang

Pada saat RTR ditetapkan, semua pemanfaatan ruang yg tidak sesuai dgn RTR harus disesuaikan dgn RTR melalui kegiatan penyesuaian pemanfaatan ruang.

Ps. 79 ayat (1)

Pemanfataan ruang yg sah menurut RTR sebelumnya diberi masa transisi selama 3 tahun untuk penyesuaian.

Ps. 79 ayat (2)

Untuk pemanfaatan ruang yg izinnya diterbitkan sebelum penetapan RTR & dapat dibuktikan bahwa izin tersebut diperoleh sesuai dengan prosedur yang benar, kepada pemegang izin diberikan penggantian yg layak.
BHK-DJPR/Presentasi/DR

Ps. 79 ayat (3)

…Lanjutan materi 4

KETENTUAN PENUTUP
Jangka Waktu Penyelesaian / Penyesuaian

Jenis Peraturan Pelaksanaan yang Diamanatkan

Peraturan Pemerintah Peraturan Presiden

Ps. 78 ayat (1)

Diselesaikan paling lambat 2 tahun terhitung sejak UU diberlakukan Diselesaikan paling lambat 5 tahun terhitung sejak UU diberlakukan

Ps. 78 ayat (2)

Peraturan Menteri

Ps. 78 ayat (3)

Diselesaikan paling lambat 3 tahun terhitung sejak UU diberlakukan
Disesuaikan paling lambat 1 tahun 6 bulan terhitung sejak UU diberlakukan Disusun atau disesuaikan paling lambat 2 tahun terhitung sejak UU diberlakukan Disusun atau disesuaikan paling lambat 3 tahun terhitung sejak UU diberlakukan

Peraturan Pemerintah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional Ps. 78 ayat (4) a Perda Provinsi tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi
Ps. 78 ayat (4) b

Perda Kabupaten/Kota tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota
Ps. 78 ayat (4) c

BHK-DJPR/Presentasi/DR

Materi 5

…Lanjutan materi 5

…Lanjutan materi 5

…Lanjutann materi 5

…Lanjutan materi 5

Materi 6 Jadwal Percepatan Penyusunan dan Penetapan PERDA RTRW Natuna, Penyepakatan Stakeholder
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 URAIAN KEGIATAN Pemantapan Penyusunan Materi Teknis Perbaikan / Revisi Materi RTRW Raperda dan Peta Penyusunan Raperda (Konsultasi Publik & Konsultasi dengan Wilayah Berbatasan) Koordinasi RTRW Kabupaten Tetangga Konsultasi / Pembahasan Raperda oleh DPRD bersama Pemda Permohonan Rekomendasi Gubernur Rapat Koordinasi dengan BKPRD Provinsi Perbaikan Muatan RTRW Penyampaian Rekomendasi Gubernur oleh BKPRD Provinsi Permohonan Persetujuan Substansi ke Menteri PU Pemerikasaan Materi Muatan RTRW oleh Tim DJPR Rapat Teknis BKPRN Perbaikan Oleh Pemda Pemeriksaan Hasil Perbaikan oleh Tim DJPR termasuk CH Persetujuan Substansi Oleh Menteri PU Pembahasan Raperda Oleh DPRD & Pemda BA Kesepakatan DPRD & Pemda Juni Juli Agustus Sept Okt Nov 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Keterangan : Libur Idul Fitri

Sumber-sumber acuan;
PERPRES 32 Tahun 2010, tentang MP3EI; UU No. 26 Tahun 2007, Tentang Penataan Ruang; UU No 25 tahun 2004, tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN); 4. Materi makalah sosialisasi UU No 26 Tahun 2007, oleh Firman H 5. Website DIRJEN PR, Jakarta; 6. TPD/KMR untuk Pemerintah Kabupaten Natuna, Tiar Pandapotan Purba. 7. Materi pemakalah RDTR BOSEL, Annisararas PT, Jakarta 8. www. Google.com 9. Pedoman-pedoman penyusunan RTR di Indonesia; 10. Materi pelatihan KMR/TPD, Juni 2011 di Bogor.
1. 2. 3.

Konsultan Manajemen Regional Pendampingan Teknis Perencanaan Tata Ruang Kabupaten di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau
September 2011,

Contoh Pekerjaan RTR di BOLSEL dan Kota Molibagu

PROBLEM SOLVING TERHADAP INDIKASI PERMASALAHAN MAKRO
 Terkait dengan indikasi permasalahan makro di Kab. BOLSEL dan Kota Molibagu, maka problem solving utama adalah melalui penyusunan Rencana Tata Ruang, karena:
 dapat dijadikan arahan/acuan dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka

Pendek dan Menengah Daerah serta Rencana Kerja SKPD (dapat dilihat pada Diagram 1)  dapat dijadikan petunjuk dalam memberikan perizinan pembangunan  dapat dijadikan arahan/acuan dalam pemberian insentif dan disinsentif  dapat dijadikan arahan investasi dan kerjasama dalam pembangunan daerah

 Rencana Tata Ruang yang dapat dan perlu disusun adalah (klasifikasi tata

ruang menurut UU No.26 tahun 2007 dapat dilihat pada matriks 1):
 Rencana Umum Tata Ruang Wilayah  RTRW Kab. Bolaangmongondow Selatan (BOLSEL)  Rencana Rinci Tata Ruang Wilayah  RDTR Kawasan Agropolitan Bagian Wilayah BOLSEL  Rencana Rinci Tata Ruang Perkotaan  RDTR Kawasan Perkotaan Molibagu  RTBL Sub Kawasan dan Koridor strategis di Kab. BOLSEL

 Kerangka Hukum Penataan Ruang (UU No.26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang)

DIAGRAM 1. POSISI RTRW/RDTR KABUPATEN DALAM SISTEM PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL (SPPN)

KEBIJAKAN NASIONAL DAN PROVINSI

Pedoman

Dijabarkan

Pedoman

Dijabarkan

RPJP Daerah

RPJM Daerah

RKP Daerah

RAPBD

APBD

Penjabaran Program Kewilayahan

Diacu

Bahan

Bahan

Dijabarkan

Pedoman
Bahan

RTRW/RDTR Dan turunannya.
Pedoman Pedoman

Rencana Induk Pengembangan Sektoral di Daerah

RENSTRA SKPD

RENJA SKPD

RKA SKPD

Rincian APBD

Keterangan:

Posisi RTRW/RDTR dan turunannya dalam Sistem Perencanaan dan Penganggaran di Indonesia RPJP : Rencana Pembangunan Jangka Pendek RPJM : Rencana Pembangunan Jangka Menengah RKP : Rencana Kerja Pemerintahan RENJA SKPD: Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah RKA SKPD : Rencana Kerja Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah

MATRIK 1 KLASIFIKASI PENATAAN RUANG MENURUT UU NO.26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG RENCANA UMUM TATA RUANG RENCANA RINCI TATA RUANG RTR PULAU / KEPULAUAN RTRW NASIONAL

WILAYAH

RTR KWS STRA. NASIONAL RTR KWS STRA. PROVINSI

RTRW PROVINSI

RTRW KABUPATEN

RTR KWS STRA KABUPATEN RDTR WIL KABUPATEN RTR KWS METROPOLITAN

PERKOTAAN

RTR KWS PERKOTAAN DLM WIL KABUPATEN RTRW KOTA RTR BAGIAN WIL KOTA RTR KWS STRA KOTA RDTR WIL KOTA

PENATAAN RUANG KAWASAN PERKOTAAN MENURUT UU NO.26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG
Pasal 1 KAWASAN PERKOTAAN: adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Pasal 41 Penataan ruang kawasan perkotaan diselenggarakan pada:  kawasan perkotaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten  kawasan yang secara fungsional berciri perkotaan yang mencakup 2 atau lebih wilayah kabupaten/kota pada satu atau lebih wilayah provinsi Menurut besarannya dapat berbentuk: kawasan perkotaan kecil kawasan perkotaan sedang kawasan perkotaan besar kawasan metropolitan kawasan megapolitam

Pasal 42 RTR kawasan perkotaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten adalah rencana rinci tata ruang wilayah kabupaten.

Pasal 43 RTR kawasan perkotaan yang mencakup 2 atau lebih wilayah kabupaten/kota pada 1 atau lebih wilayah provinsi merupakan alat koordinasi dalam pelaksanaan pembangunan yang bersifat lintas wilayah Pasal 47 Penataan ruang kawasan perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota dilaksanakan melalui kerja sama antardaerah.

PENATAAN RUANG KAWASAN PERDESAAN DAN AGROPOLITAN MENURUT UU NO.26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG
KAWASAN PERDESAAN:

Pasal 1

adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. Pasal 48 Penataan ruang kawasan perdesaan diselenggarakan pada:  kawasan perdesaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten  kawasan yang secara fungsional berciri perdesaan yang mencakup 2 atau lebih wilayah kabupaten pada satu atau lebih wilayah provinsi Dapat berbentuk kawasan Pasal 49 RTR kawasan perdesaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten adalah bagian rencana tata ruang wilayah kabupaten Pasal 50 RTR kawasan perdesaan yang mencakup 2 atau lebih wilayah kabupaten merupakan alat koordinasi dalam pelaksanaan pembangunan yang bersifat lintas wilayah Pasal 54  Penataan ruang kawasan perdesaan yang mencakup 2 atau lebih wilayah kabupaten dilaksanakan melalui kerja sama

agropolitan

antardaerah  Penataan ruang

kawasan perdesaan diselenggarakan secara terintegrasi dengan kawasan perkotaan sebagai satu kesatuan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota

Lanjutan
Pasal 1 KAWASAN AGROPOLITAN: adalah kawasan yang terdiri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai sistem produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan satuan sistem permukiman dan sistem agrobisnis.

Pasal 51 RTR kawasan agropolitan merupakan rencana rinci tata ruang 1 (satu) atau beberapa wilayah kabupaten Rencana tata ruang kawasan agropolitan memuat : a. Tujuan, kebijakan dan strategi b. Rencana struktur dan rencana pola ruang kawasan agropolitan c. Arahan pemanfaatan ruang kawasan agropolitan berisi indikasi program d. Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang kawasan agropolitan

MUATAN UMUM RTRW/RDTR
 Hasil kajian daya tampung (luasan wilayah/kawasan optimal yang dapat menampung jumlah penduduk hingga berakhirnya jangka waktu perencanaan) dan daya dukung kawasan (luasan optimal wilayah/kawasan yang dapat dijadikan kawasan lindung dan budidaya)
 RTRW : daya tampung dan daya dukung selama 20 tahun  RDTR : daya tampung dan daya dukung selama 5 tahun

 Analisis dan Rencana sektoral (didasarkan pada hasil analisis kondisi eksisting dan konsep-konsep pengembangan yang digunakan), dengan kedalaman:
 RTRW: sampai zona pemanfaatan ruang skala kabupaten  RDTR : sampai blok pemanfaatan ruang untuk beberapa zona pemanfaatan ruang

yang bersifat budidaya non pertanian skala kota/kawasan

 Indikasi Program Pembangunan:
 RTRW: periode 5 tahunan selama 20 tahun  RDTR: periode tahunan selama 5 tahun

 Pedoman Pelaksanaan Pembangunan, berisi mekanisme perizinan, insentif dan disinsentif, serta peran serta masyarakat dalam penataan ruang  Struktur dan Pola Pemanfaatan Ruang
 Struktur ruang: susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana

dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional  Pola ruang: distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya.

KAJIAN DAYA DUKUNG DAN DAYA TAMPUNG KAWASAN

Daya dukung diidentifikasi dengan superimpose 5 peta tematik (sempadan, kerawanan bencana, jenis tanah, kelas lereng dan peta curah hujan

Dari masing-masing peta tematik dilakukan proses superimpose untuk menentukan jumlah nilai skornya. Apabila jumlah nilai skornya 175 maka kawasan tersebut masuk ke dalam kriteria kawasan hutan lindung (belum melihat pemanfaatan eksistingnya). Kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan > 40%, secara mutlak dimasukkan ke dalam kritera kawasan yang berfungsi sebagai hutan lindung

 

 

Daya tampung diidentifikasi dengan membandingkan luas potensi kawasan budidaya dengan kebutuhan lahan untuk hidup bagi penduduk pada akhir tahun perencanaan (standar lahan untuk 1 orang = 9,6 m2 Selain kedua kriteria di atas, maka untuk perencanaan tata ruang di perkotaan, terdapat pertimbangan kebutuhan minimal RTH sesuai arahan UU No.26 Tahun 2007 tentang penataan ruang, yaitu 30%. Untuk wilayah ataupun kawasan yang belum didominasi wilayah terbangun, maka penentuan batas wilayah RTH sebagai bagian dari Kawasan Lindung adalah 50 % dengan asumsi 20% di antaranya merupakan cadangan untuk kawasan budididaya. Perhitungan RTH dalam wilayah kota dapat dilihat pada diagram 2 Pentingnya RTH dalam wilayah kota sebagai resapan air dapat dilihat pada simulasi 1 dan 2

Diagram 2. Perhitungan RTH dalam Kota

RUANG WILAYAH KOTA
RUANG TERBANGUN (60%)
JARINGAN JALAN RUANG HUNIAN NON HUNIAN

RUANG TERBUKA (40%)
LAINNYA (NON HIJAU)

(20%)
TAMAN-TAMAN KOTA (12,5%)

(7,5%)

(40%)

(20%)

RTH di Ruang Hunian: Asumsi KDB maks 80%. RTH = 20% x 40% = 8%

RTH di Ruang Non Hunian: Asumsi KDB maks 90%. RTH = 10% x 20% = 2%

RTH di Jarirngan Jalan: Asumsi jalur hijau 30% RTH = 30% x 20% = 6%

(Sungai, Jalan KA, SUTET) Asumsi 20% hijau RTH = 20% x 7,5% = 1,5%

RTH PRIVAT = 10%

RTH PUBLIK = 20%

KAWASAN RESAPAN AIR
Hujan Lereng Tidak Stabil

Simulasi 1

Peresapan 75%

Evapotranspirasi

Limpasan 25%
Airtanah
(Bebas)

Evaporasi Mata Air Infiltrasi Muka Airtanah
(Bebas)

Airtanah
(Bertekan)

Dataran Banjir

Lapisan Kedap Air

PENGEMBANGAN DAS

(TIDAK TERKENDALI)
Peresapan 25%
• Erosi tinggi • Longsor

Simulasi 2

Pada musim kemarau air sungai nyaris kering

Limpasan 75%

• Banjir bandang • Pendangkalan sungai dan muara • Daerah banjir meluas • • • • Peresapan air berkurang Muka air tanah turun, Mata Air kering Terjadi intrusi air laut

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful