KEBIJAKAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL1

Oleh : Achmad Suryana2

I. Pendahuluan Pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia untuk dapat mempertahankan hidup dan karenanya kecukupan pangan bagi setiap orang setiap waktu merupakan hak azasi yang layak dipenuhi. Berdasar kenyataan tersebut masalah pemenuhan kebutuhan pangan bagi seluruh penduduk setiap saat di suatu wilayah menjadi sasaran utama kebijakan pangan bagi pemerintahan suatu negara. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. Oleh karena itu kebijakan (pemantapan) ketahanan pangan menjadi isu sentral dalam pembangunan serta merupakan fokus utama dalam pembangunan pertanian. Peningkatan kebutuhan pangan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan kesempatan kerja bagi penduduk guna memperoleh pendapatan yang layak agar akses terhadap pangan merupakan dua komponen utama dalam perwujudan ketahanan pangan. Kebijakan pemantapan ketahanan pangan dalam hal ini termasuk di dalamnya adalah terwujudnya stabilitas pangan nasional Sesuai Undang-Undang No 7 Tahun 1996, pangan dalam arti luas mencakup makanan dan minuman hasil-hasil tanaman dan ternak serta ikan baik produk primer maupun olahan. Dengan definisi pangan seperti itu tingkat ketersediaan pangan nasional untuk konsumsi diukur dalam satuan energi dan protein pada tahun 2003 sebesar 3076 Kkal/kapita/hari dan 76.54 gr protein/kapita/hari. Angka tersebut telah melebihi standar kecukupan energi dan protein yang direkomendasikan dalam Widyakarya

1 2

Makalah disampaikan pada Simposium Nasional Ketahanan dan Keamanan Pangan pada Era Otonomi dan Globalisasi, Faperta, IPB, Bogor, 22 November 2005 Kepala Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian

IV-259

IV-260 . Setelah mengungkap secara umum latar belakang pentingnya kebijakan ketahanan pangan. Ketergantungan terhadap pangan impor ini terkait dengan upaya mewujudkan stabilitas penyediaan pangan nasional. pertumbuhan ekonomi.Nasional Pangan dan Gizi VII Tahun 2000 masing-masing sebesar 2500 Kkal/kapita/hari dan 55 gr protein/kapita/hari. Sementara itu kapasitas produksi pangan nasional pertumbuhannya lambat bahkan stagnan disebabkan oleh adanya kompetisi dalam pemanfaatan sumberdaya lahan dan air serta stagnannya pertumbuhan produktivitas lahan dan tenaga kerja pertanian. namun kecukupan di tingkat nasional tersebut tidak menjamin kecukupan konsumsi di tingkat rumahtangga atau individu. Walaupun secara makro ketersediaan pangan telah melebihi standar kecukupan energi dan protein. Pada bagian penutup disampaikan perspektif ke depan upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional. Permintaan yang meningkat cepat tersebut merupakan resultante dari peningkatan jumlah penduduk. Permasalahan utama dalam mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia saat ini terkait dengan adanya fakta bahwa pertumbuhan permintaan pangan yang lebih cepat dari pertumbuhan penyediaannya. Ketidakseimbangan pertumbuhan permintaan dan pertumbuhan kapasitas produksi nasional tersebut mengakibatkan adanya kecenderungan meningkatnya penyediaan pangan nasional yang berasal dari impor. Tingkat konsumsi per kapita per hari rata-rata penduduk Indonesia pada tahun 2003 sebesar 1989 Kkal atau 90. bagian kedua dan ketiga mengungkapkan kebijakan yang ada serta kendala dan tantangan yang dihadapi dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.04 persen dari standar kecukupan. Tulisan berikut akan membahas kebijakan ketahanan pangan nasional dikaitkan dengan isu otonomi (daerah) dan globalisasi. peningkatan daya beli masyarakat dan perubahan selera.

five years later : WFS .II. (3) kemiskinan identik dengan pemilikan lahan sempit. dan konsumsi serta mutu. Tugas DKP sesuai Keppres adalah (1) merumuskan kebijakan di bidang ketahanan pangan nasional yang meliputi aspek ketersediaan. sehingga diperlukan Peraturan Pemerintah yang mengatur penataan struktur penguasaan dan pemilikan tanah/lahan serta pembangunan irigasi. gizi. Seminar/Lokakarya. Adapun kesepahaman dan kesepakatan tersebut adalah (1) arah pembangunan perlu direformasi. distribusi. WFS:fyl telah menetapkan sasaran penurunan kemiskinan 20 persen selama 5 tahun sebanyak 20 juta jiwa atau 10 persen (6 juta jiwa) per tahun. dengan memfokuskan pembangunan pada sektor pertanian dan pedesaan. dan (4) hasil kesepakatan tersebut perlu dievaluasi dan dibahas secara IV-261 . (2) Indonesia harus mempunyai target/sasaran (dalam menurunkan kemiskinan). diterbitkan Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 132 Tahun 2001 tanggal 31 Desember tentang Dewan Ketahanan Pangan (DKP). Sidang para Bupati/Walikota. dan keamanan pangan. Strategi yang ditempuh dan tindakan bersama dalam upaya penurunan jumlah penduduk miskin. dan Konferensi. Kebijakan yang dirumuskan diselaraskan dengan isu global yang disepakati dalam Pertemuan Puncak Pangan Dunia tahun 2002 (World Food Summit. Kebijakan Ketahanan Pangan Nasional Secara umum kebijakan (pemantapan) ketahanan pangan nasional yang dirumuskan adalah terkait dengan upaya mewujudkan ketahanan pangan sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Pangan tahun 1996 yang ditindak lanjuti dengan Peraturan Pemerintah No 68 tahun 2001.fyl) yaitu mencapai ketahanan pangan bagi setiap orang dan mengikis kelaparan di seluruh dunia. Langkah penting yang telah dilakukan dalam rangka merumuskan kebijakan ketahanan pangan nasional adalah melalui DKP telah terbangun kesepahaman dan kesepakatan melalui Rapat-rapat Pokja. Sidang para Gubernur. Untuk melaksanakan tugas tersebut. dan (2) melaksanakan evaluasi dan pengendalian pemantapan ketahanan pangan nasional.

Beberapa kebijakan yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan upaya mewujudkan stabilitas (ketersediaan) pangan nasional adalah (1) kebijakan dan strategi diversifikasi pangan di Indonesia serta program aksi diversifikasi pangan.berkala/reguler. Pelaksanaan Inpres No 9 Tahun 2001 dinilai cukup efektif dalam meningkatkan ekonomi beras nasional tahun 2002. (c) peningkatan kemampuan dan kapasitas sumberdaya manusia dalam pengembangan diversifikasi produktivitas. Beberapa upaya percepatan diversifikasi pangan dalam jangka pendek adalah (a) internalisasi. dan (g) pemantauan kegiatan diversifikasi pangan dalam pemantapan ketahanan pangan. Kebijakan dan strategi serta rencana program aksi diversifikasi pangan dilaksanakan dengan tujuan (1) menyadarkan masyarakat agar dengan sukarela dan atas dasar kemampuannya sendiri melaksanakan diversifikasi pangan dan meningkatkan pengetahuannya. dan penyaluran beras untuk masyarakat miskin. komitmen pemerintah Provinsi. (b) peningkatan ketersediaan pangan berbasis pada potensi sumberdaya wilayah yang berwawasan lingkungan. (d) pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan diversifikasi pangan: (e) peningkatan akses pangan dalam pemantapan ketahanan pangan keluarga. dan (4) kebijakan (pangan) transgenik. Penetapan Inpres No 2 Tahun 2005 tentang IV-262 Penetapan Kebijakan Perberasan sebagai pengganti Inpres No 9 Tahun . (f) pengembangan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi. Kabupaten/Kota sangat diperlukan di dalam operasional pelaksanaannya. pembelian gabah dalam negeri oleh pemerintah. dan (2) mengurangi ketergantungan terhadap beras dan pangan impor dengan meningkatkan konsumsi pangan. (3) kemandirian pangan. karena diikuti dengan penetapan tariff dalam melindungi harga beras dalam negeri. promosi dan publikasi rencana aksi diversifikasi pangan. baik nabati maupun hewani dengan meningkatkan produksi pangan lokal dan produk olahannya. (2) di bidang perberasan: kebijakan harga dasar pembelian pemerintah (HDPP) dan tarif impor. sosialisasi.

(d) penetapan kebijakan impor beras yang melindungi produsen dan konsumen. Beberapa kebijakan yang terkait dengan upaya untuk mewujudkan kemandirian pangan antara lain adalah. yakni subsidi input dan peningkatan harga output dan perdagangan pangan termasuk intervensi distribusi. (a) kebijakan yang mempunyai dampak sangat positif dalam jangka pendek. serta kebijaksanaan makro. pemberian insentif produksi melalui penerapan kebijakan harga input dan harga output.ekstensifikasi. penyediaan sarana produksi yang terjangkau oleh petani.2001 dan Inpres No 9 Tahun 2002 menunjukkan arah kebijakan perberasan nasional yang komprehensif yaitu tentang upaya-upaya (a) peningkatan produktivitas dan produksi padi/beras. pendidikan. (c) kebijakan yang mendorong pertumbuhan penyediaan produksi di dalam negeri yakni (1) perbaikan mutu intensifikasi. dan (3) pengembangan varietas tipe baru dengan produktivitas tinggi untuk komoditas yang memiliki prospek pasar baik. baik tanaman transgenik untuk meningkatkan produksi pertanian maupun produk pangan dan produk pakan dari tanaman transgenik yang lebih berkualitas. yakni perubahan teknologi. (b) kebijakan yang sangat positif untuk jangka panjang. (b) pengembangan diversifikasi usaha pertanian. Dalam hal ini posisi pemerintah terhadap PBHRG adalah Pemerintah bersikap pro (menerima) pengembangan dan pemanfaatan produk transgenik disertai penerapan prinsip sikap kehati-hatian. perluasan areal. dan kesehatan. jaring pengaman ketahanan pangan. investasi infrastruktur. serta (e) pemberian jaminan penyediaan beras/pangan lain bagi kelompok masyarakat miskin dan rawan pangan. (c) penetapan kebijakan harga gabah/beras. perbaikan jaringan irigasi. Perkembangan pemanfaatan teknologi modern rekayasa genetika melalui rekombinasi DNA telah menghasilkan Produk Biologi Hasil Rekayasa Genetika (PBHRG). (2) pengembangan teknologi panen dan pasca panen untuk menekan kehilangan hasil. IV-263 .

peningkatan daya beli masyarakat. Sementara itu. pertumbuhan ekonomi. Ketidak seimbangan pertumbuhan permintaan dan pertumbuhan kapasitas produksi nasional mengakibatkan kecenderungan pangan nasional dari impor meningkat.III. dan perubahan selera. sektor pertanian (sebagai sumber penghasil dan penyedia utama pangan) diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pangan yang cukup besar dan terus berkembang dalam jumlah. pertumbuhan kapasitas produksi pangan nasional cukup lambat dan stagnan. Telah menjadi kebijakan nasional untuk memenuhi sejauh mungkin kebutuhan konsumsi bangsanya dari produksi dalam negeri. Permintaan yang meningkat merupakan resultante dari peningkatan jumlah penduduk. IV-264 . Untuk itu. serta (b) stagnansi pertumbuhan produktivitas lahan dan tenaga kerja pertanian. karena secara politis Indonesia tidak ingin tergantung kepada negara lain. dan kondisi ini diterjemahkan sebagai ketidak mandirian penyediaan pangan nasional. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang cukup besar dan terus berkembang. sektor pertanian menghadapi tantangan yang cukup kompleks. keragaman dan mutunya. budaya. ekonomi dan politik. Dengan kata lain hal ini dapat diartikan pula penyediaan pangan nasional (dari produksi domestik) yang tidak stabil. karena: (a) adanya kompetisi dalam pemanfaatan sumberdaya lahan dan air. Kendala dan Tantangan dalam Ketahanan Pangan Permasalahan utama yang dihadapi dalam mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia saat ini adalah bahwa pertumbuhan permintaan pangan yang lebih cepat dari pertumbuhan penyediaan. Dalam sektor ini terkait masalah sumber daya lahan (dan perairan) sebagai basis kegiatan sektor pertanian semakin terdesak oleh kegiatan perekonomian lainnya termasuk prasarana pemukiman dan transportasi. Perkembangan sektor pertanian juga tidak terisolasi dari isu globalisasi dan suasana reformasi dan segala dinamika aspirasi masyarakatnya dan perubahan tatanan pemerintahan ke arah desentralisasi (otonomi). Tantangan ini juga terus berkembang secara dinamis seiring dengan perkembangan sosial.

Mengingat demikian besarnya peranan dan demikian kompleksnya aspek yang terkait dalam upaya mewujudkan stabilitas penyediaan pangan nasional dari waktu ke waktu. serta terdesaknya varietas unggul lokal dan kearifan teknologi lokal yang menjadi ciri dan kebanggaan masyarakat setempat. Demikian pula. Dalam kaitan ini sektor pertanian menghadapi tantangan untuk meningkatkan efisiensi dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya lahan dan air secara lestari dan mengantisipasi persaingan dengan aktifitas perekonomian dan pemukiman yang terkonsentrasi di Pulau Jawa. sistem pasar domestik hingga global. kegiatan hulu dan hilir. kesejahteraan masyarakat produsen maupun konsumen. lahan pasang surut relatif belum mampu meningkatkan produktivitas tanaman secara signifikan. terkonsentrasinya pengembangan teknologi pangan pada lahan sawah menyebabkan kurang berkembangnya teknologi pada ekosistem lainnya. ketersediaan sumber daya air untuk pertanian juga telah semakin langka. SDM. (2) Teknologi produksi menggunakan benih unggul dan pupuk kimia yang secara intensif diterapkan sejak awal 70-an pada ekologi sawah berhasil memacu produksi cukup tinggi. khususnya pada lahan pertanian kelas satu di Jawa menyebabkan semakin sempitnya basis produksi pertanian. yang masing-masing dapat saling mempengaruhi. lahan rawa/lebak. dan penyelenggaraan pelayanan publik. pembangunan sektor pertanian memerlukan perhatian dan pemikiran yang dalam serta upaya yang bersifat menyeluruh. namun juga menyebabkan merosotnya kualitas dan kesuburan lahan (soil fatigue). Pada saat teknologi lahan sawah relatif stagnan. Kendala dan tantangan yang dihadapi dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional antara lain adalah: (1) Berlanjutnya konversi lahan pertanian untuk kegiatan non pertanian. sementara itu teknologi lahan kering. Sementara itu. sedangkan lahan bukaan baru di luar Jawa mempunyai kesuburan yang relatif rendah.teknologi. IV-265 .

Hal ini antara lain disebabkan karena lemahnya disiplin dan penegakan peraturan untuk menjamin sistem pemasaran yang adil dan bertanggung jawab. Kondisi demikian berpengaruh pada rendahnya keanekaragaman bahan pangan yang tersedia bagi konsumen. termasuk teknologinya yang terfokus pada beras telah mengabaikan potensi sumbersumber pangan karbohidrat lainnya. tetapi ketidaklancaran distribusi juga berpotensi memicu kenaikan harga sehingga menurunkan daya beli konsumen. susu serta sumber zat gizi mikro yaitu sayuran dan buah-buahan. dan lambatnya pengembangan produksi komoditas pangan sumber protein seperti serealia. karena disamping biaya distribusi yang mahal potensi kerugian akibat karena rusak atau susut selama proses pengangkutan cukup tinggi. (5) Belum memadainya prasarana dan sarana transportasi. Selanjutnya apabila teknologi pengembangan aneka pangan lokal tidak cepat dilakukan. (4) Teknologi pasca panen belum diterapkan dengan baik sehingga tingkat kehilangan hasil dan degradasi mutu hasil panen masih cukup tinggi. yang menghubungkan lokasi produsen dengan konsumen menyebabkan kurang terjaminnya kelancaran arus distribusi bahan pangan ke seluruh wilayah. Ketidak lancaran proses distribusi juga merugikan produsen.(3) Kebijakan pengembangan komoditas pangan. Hal ini tidak saja menghambat akses konsumen secara fisik. baik darat dan terlebih lagi antar pulau. Demikian pula agroindustri sebagai wahana untuk meningkatkan nilai tambah dan penghasilan bagi keluarga petani belum bekembang seperti yang diharapkan. (6) Ketidakstabilan harga dan rendahnya efisiensi sistem pemasaran hasil-hasil pangan pada saat ini merupakan kondisi yang kurang kondusif bagi produsen maupun konsumen. telur. daging. maka bahan pangan lokal akan tertekan oleh membanjirnya anekaragam pangan olahan impor. terbatasnya fasilitas perangkat keras maupun lunak untuk membangun transparansi informasi IV-266 . Peningkatan pelayanan teknologi tepat guna serta penyediaan prasarana usaha harus diupayakan untuk menunjang pengembangan usaha pasca panen dan agroindustri di pedesaan.

serta kemampuan pemasarannya. fungsi dan kewenangan lembaga-lembaga negara seperti Departemen Keuangan. Bank Indonesia. telah mengalami deregulasi mengikuti asas mekanisme pasar bebas. untuk meningkatkan kinerjanya memfasilitasi pengembangan usaha dan pendapatan petani secara lebih berhasil guna. BRI.pasar. (7) Khusus untuk beras. akan lebih memberikan kepastian penghasilan dan insentif berproduksi kepada petani dan sekaligus menjaga kelangsungan daya beli konsumen. memperoleh sarana produksi secara enam tepat. Adalah tantangan bagi institusi pelayanan yang bertugas memberikan kemudahan bagi petani dalam menerapkan iptek. Kebijakan harga dasar menjadi sulit dipertahankan karena pemerintah tidak dapat lagi membiayai pembelian gabah dan operasi pasar dalam jumlah besar. (9) Terbatasnya kelembagaan yang menyediakan permodalan bagi usahatani di pedesaan. (8) Terbatasnya kemampuan kelembagaan produksi petani karena terbatasnya dukungan teknologi tepat guna. Dalam era perdagangan bebas (globalisasi) dan reformasi pemerintahan saat ini. dan prosedur IV-267 penyaluran yang kurang . akses kepada sarana produksi. Penurunan harga pada saat panen raya cenderung merugikan petani. tetapi kenaikan harga tersebut sering tidak dinikmati oleh petani produsen. serta terbatasnya kemampuan teknis institusi dan pelaku pemasaran. termasuk kebijakan subsidi yang dahulu sangat berperan dalam menunjang stabilisasi sistem perberasan. dan Bulog tidak lagi memegang hak monopoli. Dalam kondisi demikian pemerintah harus mengupayakan cara-cara lain untuk menjaga kestabilan harga dan memberikan insentif berproduksi kepada petani. sebaliknya pada saat tertentu pada musim paceklik dan hari-hari besar. pemerintah sangat memperhatikan kestabilan produksi maupun harganya. dan membina kemampuan manajemen agribisnis serta pemasaran. Bulog. yang pada saat ini peranannya cukup sentral karena aktivitas produksi hingga konsumsinya melibatkan hampir seluruh masyarakat. harga pangan meningkat tinggi menekan konsumen. Harga yang relatif stabil dan dijaga kewajarannya bagi produsen dan konsumen.

demikian upaya dari mewujudkan produksi ketahanan pangan pula Dalam kerangka dan stabilitasnya upaya (penyediaan domestik) identik dengan meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional dalam pembangunan pertanian beserta kebijakan pendukung lain yang terkait.mengapresiasikan sifat usahatani dan resiko yang dihadapi. input produksi lainnya dan alat mesin pertanian. yaitu membangun secara sinergis dan harmonis aspek-aspek: (1) industri hulu pertanian yang meliputi perbenihan. Ketahanan Pangan Seiring dengan proses otonomi daerah yang diatur dalam UndangUndang Nomor 22 Tahun 2000 Tentang Otonomi Daerah yang ditindak lanjuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2000. (2) pertanian primer (on-farm). dan tanpa adanya insentif pendapatan mereka akan enggan menekuni agribisnis. merupakan kendala bagi berkembangnya usahatani. Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota dapat IV-268 . Searah dengan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah. kurang memadainya prasarana fisik menjadi kendala berkembangnya industri hulu dan hilir sebagai wahana bagi peningkatan pendapatan petani di pedesaan. Demikian pula. peranan daerah dalam meningkatkan ketahanan pangan di wilayahnya menjadi semakin meningkat. IV. (3) industri hilir pertanian (pengolahan hasil). Mengingat bahwa pelaku utama agribisnis adalah petani dan pengusaha. dan (4) jasa-jasa penunjang yang terkait. Pespektif Mewujudkan Ketahanan Pangan Nasional Kebijakan Umum Upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional tidak terlepas dengan kebijakan umum pembangunan pertanian dalam mendukung penyediaan pangan terutama dari produksi domestik. maka kata kunci dalam meningkatkan kinerja sektor ini adalah menciptakan insentif ekonomi yang menunjang daya tarik agribisnis. Strategi umum pembangunan pertanian adalah memajukan agribisnis.

beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah tersebut diantaranya meliputi: 1. Dengan memperhatikan beberapa azas kebijakan ketahanan pangan di daerah tersebut. Perlunya apresiasi tentang biaya. Pengembangan teknologi Pengembangan teknologi guna meningkatkan efisiensi akan mencakup spektrum teknologi yang sangat luas dari teknologi yang terkait dengan teknologi pengembangan sarana produksi (benih. yaitu: 1. teknologi pengolahan lahan (traktor). Mengembangkan keunggulan komparatif yang dimiliki oleh masingmasing daerah sesuai dengan potensi sumberdaya spesifik yang dimilikinya. 3. 4. serta disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya setempat. 3. 2. manfaat. 4. Pemerintah daerah perlu menyadari akan pentingnya memperhatikan masalah ketahanan pangan di wilayahnya.berperan aktif dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan di wilayah kerjanya. teknologi pengelolaan air IV-269 . Mendorong terciptanya mekanisme pasar yang berkeadilan. Partisipasi tersebut diharapkan memperhatikan beberapa azas. 2. dan dampak terhadap pembangunan wilayah dan nasional program peningkatan ketahanan pangan di daerah kepada para penentu kebijakan di daerah. pupuk dan insektisida). Pemerintah daerah perlu menyusun perencanaan dan strategi untuk menangani masalah ketahanan pangan di daerah. Mendorong terjadinya perdagangan antar daerah. Menerapkan kebijakan yang terbuka dalam arti menselaraskan kebijakan ketahanan pangan daerah dengan kebijakan ketahanan pangan nasional. Perlu dikembangkan suatu wahana untuk saling tukar menukar informasi dan pengalaman dalam menangani masalah ketahanan pangan antar pemerintah daerah.

menurut kondisi agro ekosistemnya dapat dibedakan menjadi: (1) lahan sawah cetakan baru. dengan demikian akan mendorong pengembangan sentra-sentra produksi pertanian di berbagai wilayah serta mendorong pengembangan perdagangan antar wilayah. pemupukan berimbang. Ada dua bentuk diversifikasi produksi yang dapat dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan.(irigasi gravitasi. dan (3) lahan rawa (pasang surut dan lebak). IV-270 . yaitu mengembangkan komoditas pertanian unggulan spesifik lokasi dalam kawasan yang luas menurut kesesuaian kondisi agro ekosistemnya. teknologi budidaya (cara tanam. Sudah barang tentu teknologi yang dibutuhkan untuk pengembangan di areal ekstensifikasi ini akan bersifat lokal spesifik. 2. Diversifikasi produksi secara langsung ataupun tidak juga akan mendukung upaya penganekaragaman pangan (diversifikasi konsumsi pangan) yang merupakan salah satu aspek penting dalam ketahanan pangan. jarak tanam. Diversifikasi Produksi Pangan Diversifikasi produksi pangan merupakan aspek yang sangat penting dalam ketahanan pangan. irigasi pompa. Diversifikasi produksi pangan bermanfaat bagi upaya peningkatan pendapatan petani dan memperkecil resiko berusaha. yaitu mengembangkan usahatani komoditas unggulan sebagai “core of business” serta mengembangkan usahatani komoditas lainnya sebagai usaha pelengkap untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam. dan tenaga kerja keluarga serta memperkecil terjadinya resiko kegagalan usaha. (2) lahan kering (ladang atau di bawah naungan). pergiliran varietas). Teknologi pengembangan pertanian pertanian berperan pangan di penting areal dalam mendukung baru pengembangan (ekstensifikasi). Diversifikasi regional. efisiensi dan konservasi air). modal. pola tanam. Diversifikasi horizontal. yaitu: 1. teknologi pengendalian hama terpadu (PHT). Pengembangan lahan pertanian baru.

aspek transportasi dan distribusi pangan menjadi sangat vital dalam rangka penyediaan pangan yang merata bagi seluruh penduduk Indonesia. Efisiensi yang dimaksud dalam hal ini mencakup aspek efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis. penyimpanan. dan memperlancar arus perpindahan barang. dan penyimpanan. bahan pangan yang mempunyai nilai tambah rendah dapat diolah menjadi berbagai produk olahan yang bernilai tambah tinggi. Dengan demikian selisih harga (disparitas harga) antar wilayah dan antar waktu diharapkan menjadi lebih kecil. transportasi. Sebagai contoh ubikayu dapat diolah menjadi berbagai macam produk seperti tapioka. chips.Pola Produksi dan Konsumsi Produk pangan pada umumnya mengikuti pola produksi musiman. pengangkutan. pengolahan hasil. Sedangkan efisiensi ekonomis berupa penghematan biaya untuk pengolahan. dan pendistribusian. pengemasan. Dengan demikian. teknologi pasca panen dapat berperan dalam meningkatkan efisiensi baik pada saat panen (mengurangi kehilangan hasil). produksi pangan tersebar menurut kondisi agroekosistem dan geografinya. produk pertanian pada umumnya cepat rusak (perishable). baik yang tinggal di daerah perkotaan maupun pedesaan. Efisiensi teknis mencakup upaya mengurangi kehilangan hasil. Pada saat yang sama kegiatan pengolahan tersebut dapat menciptakan pendapatan dan kesempatan kerja di pedesaan. Pengembangan teknologi pasca panen juga mempunyai peran untuk pengembangan produk pangan (product development) dan penciptaan nilai tambah (value added) bagi bahan pangan. Dalam mengatasi permasalahan penyediaan pangan antar waktu dan antar tempat tersebut. Dengan pengembangan produk. tepung. Di Indonesia. mempertahankan kualitas. Dalam kondisi demikian maka aspek pengolahan dan penyimpanan menjadi hal penting dalam upaya penyediaan pangan secara kontinyu. IV-271 . sedangkan lokasi konsumen tersebar di seluruh pelosok tanah air. Selain itu. gaplek. sedangkan kebutuhan pangan harus dipenuhi sepanjang tahun.

harus dilaksanakan dalam koridor pemerintahan yang baik dan bersih. mie dan alkohol. meningkatkan nilai tambah. maka peranan lembaga penelitian nasional dan daerah seperti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) beserta lembaga mitra kerjanya yang lain sangat vital dalam meningkatkan kinerja sektor ini. perbaikan mutu dan peningkatan nilai tambah di sektor pertanian. kue. peningkatan efisiensi. mie. mengikuti prinsip-prinsip: (i) bersifat memberdayakan dalam arti meningkatkan kemampuan menganalisis. dengan tujuan utama meningkatkan pendapatan keluarga tani di pedesaan. mengambil keputusan. Teknologi pertanian dapat berperan dalam meningkatkan produktivitas pangan. tapioka atau tepung singkong dapat diolah antara lain menjadi roti. dalam mengembangkan agribisnis yang modern dalam arti mengandalkan iptek untuk membangun efisiensi usaha. yang mendorong berkembangnya kelembagaan agribisnis yang berdaya saing dan berkelanjutan di pedesaan. dan bahan farmasi. dalam era reformasi ini. dan menjaga kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup. meningkatkan diversifikasi dalam jenis dan kualitas pangan. kesempatan kerja. Pelayanan kepada petani. Pengembangan teknologi juga mencakup aspek rekayasa kelembagaan. nilai tambah dan daya saing produknya. lem.seriping. membangun akses IV-272 . Teknololgi pertanian berperan sangat strategis di dalam upaya peningkatan ketahanan pangan nasional. bahan kosmetika. Peranan Badan Litbang Pertanian Mengingat bahwa pelayanan teknologi tepat guna sangat vital bagi peningkatan produktivitas. Melalui pengolahan sekunder. Kinerja pelayanan teknologi dituntut untuk mampu merespon dengan baik kebutuhan para petani dan pengusaha. Dengan teknologi tepat guna efisiensi produksi dapat ditingkatkan sehingga meningkatkan daya saing produk pangan di dalam negeri dan di pasar internasional.

Melalui upaya tersebut disertai tekad yang kuat untuk membangun bangsa. (ii) bersifat partisipatif dalam menghasilkan teknologi tepat guna. (iii) memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memberikan masukan. kemampuan intelektual dan komitmen untuk berubah dan harus dimulai dari lingkungan kita masing-masing. mengisi dalam mewujudkan tujuan D:\data\data\Anjak-2005\KEBIJAKAN KETAHANAN PANGAN NASIONAL IV-273 . pemantauan evaluasi dan perbaikan. Penyesuaian ini memerlukan kemauan. serta mengatasi masalah yang dihadapi. untuk dapat saling bersama. yaitu mengikut-sertakan petani sejak perencanaan. Untuk itu sistem yang selama ini didisain untuk pola yang sentralistis dan instruktif. pada era otonomi dan globalisasi ini perlu disesuikan kepada pola yang partisipatif.terhadap sumberdaya dan sarana produksi. dan (iv) membangun komunikasi dan kerja sama yang baik antar pemerintah dengan berbagai komponen masyarakat. untuk selanjutnya ditularkan kepada mitra kerja dalam kalangan yang lebih luas. pelaksanaan. maka ketahanan pangan nasional dapat kita wujudkan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful