DASAR TEORI TITIK ISOSBESTIK

Spektrofotometri suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube. Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombang dan dialirkan oleh suatu perekam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen yang berbeda. Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan spektrofotometri (Saputra, 2009). Spektrofotometri UV-Vis adalah anggota teknik analisis spektroskopik yang memakai sumber radiasi elektromagnetik UV dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380-780 nm) dengan memakai instrumen spektrofotometer. Radiasi UV jauh (100-190 nm) tidak dipakai, sebab pada daerah radiasi tersebut diabsorpsi oleh udara. Adakalanya spektrofotometer UV-Vis yang beredar memberikan rentang pengukuran panjang gelombang 190-1100 nm. Spektrofotometri UV-Vis melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif ( Widjaja dkk, 2008). Spektrofotometri UV Vis termasuk salah satu metode analisis instrumental yang frekuensi penggunaanya paling banyak dalam laboratorium analisis. Demikian juga spektrofotometer UV Vis merupakan instrument yang paling banyak ditemukan dalam laboratorium kimia analisis ( Widjaja dkk, 2008 ). Absorbsi sinar oleh larutan mengikuti hukum Lambert-Beer, yaitu :

A= log ( Io / It ) = a b c

non polar). phi. 4. 5. azo. Kromofor merupakan suatu gugus kovalen tidak jenuh yang bertanggung jawab untuk serapan elektronik dan auksokrom adalah suatu gugus jenuh dengan elektron tidak terikat dimana . 3. Lebar celah. dan non bonding elektron.Io = Intensitas sinar datang It = Intensitas sinar yang diteruskan a = Absorptivitas b = Panjang sel/kuvet i (g/L) Faktor-faktor yang mempengaruhi spektrum serapan : 1. metoksi. pH larutan. 2008). cahaya makin polikromatis. alken. nitrat. Auksokrom adalah gugus fungsional yang mempunyai elektron bebas. Jenis pelarut (polar. seperti hidroksil. 2. Panjang gelombang maksimalnya dapat berubah sesuai dengan pelarut yang digunakan. Kromofor-kromofor organik seperti karbonil. Jika digunakan kuvet dengan tebal berbeda akan memberikan spektrum serapan yang berbeda. resolusi dan puncak-puncak kurva tidak sempurna. dan karboksil mampu menyerap sinar ultraviolet dan sinar tampak. Makin lebar celah (slit width) maka makin lebar pula serapan (band width). Penyerapan sinar UV-Vis dibatasi pada sejumlah gugus fungsional/gugus kromofor (gugus dengan ikatan tak jenuh) yang mengandung elektron valensi dengan tingkat eksitasi yang rendah. dan amina (Aisyah. Tebal larutan. Dengan melibatkan tiga jenis elektron yaitu : sigma. Jika konsentrasi tinggi akan terjadi polimerisasi yang menyebabkan λ maksimum berubah sama sekali atau harga Io < Ia. Kadar larutan.

Sebaliknya bila interaksinya terjadi pada panjang gelombang lebih kecil maka dikatakan pergeseran biru (hipsokromik). (Gandjar dkk. 2007) Pada transisi π → π∗ . Anillina menyerap pada 230 nm (ε 8600) tatapi dalam larutan asam puncak utamanya hampir sama dengan benzena yaitu 203nm (ε 7500). 2007).bila menempel pada suatu kromofor merubah baik panjang gelombang dan intensitas dari serapan.. 2007). Akibat dari peristiwa ini maka transisi digeser ke panjang gelombang yang lebih besar (pergeseran bhatokromik) dibanding panjang gelombang semula (Gandjar dkk. Pergeseran tersebut dipengaruhi oleh pelarut. Bila interaksinya terjadi pada tingkat energi lebih kecil atau panjang gelombang yang lebih besar maka dikatakan terjadi pergeseran merah (bathokromik). yaitu berkaitan dengan kemampuan pelarut untuk mensolvasi antara keadaan dasar dengan keadaan π∗ . Pergeseran hipsokromik adalah pergeseran dari serapan ke kepanjang gelombang yang lebih pendek karena sisipan atau pengaruh pelarut (geseran biru). 2007). terjadi pergeseran biru (Gandjar dkk. Bila suatu kromofor susunan elektronnya berubah maka tingkat energi elektroniknya berubah dengan demikian interaksinya dengan radiasi elektromagnetik terjadi pada frekuensi yang lain (perubahan panjang gelombang). dan keadaan tereksitasinya lebih polar dibandingkan keadaan dasar. maka akan menyebabkan pelarut polar berinteraksi (stabilisasi) lebih kuat dengan keadaan tereksitasi dibandingkan dengan keadaan dasar. dan transisi π → tereksitasi. (Gandjar dkk. Jika pelarut polar digunakan pada molekul yang mengalami transisi ini. Hal ini dapat disebabkan oleh perubaha pelarut atau adanya konjugasi yang dihilangkan sebagai contoh. Pergeseran bathokromik dan hipsokromik berhubungan dengan transisi elektron n → π ∗ . konjugasi dari elektron pasangan bebas pada atom nitrogen anillina dengan sitem ikatan phi cincin benzana dihilangkan dengan adanya protonasi. Geseran batokromik disertai sisipan alkil dihasilkan dari konyugasi berlebihan dengan gugus alkil yang cukup mudah bergerak untuk berinteraksi dengan gugus kromoforik. molekul dalam keadaan dasar relatif nonpolar. 2007) Pergeseran batokromik merupakan pergeseran dari serapan ke panjang gelombang yang lebih panjang karena sisipan atau pengaruh pelarut (geseran merah). Menempelnya suatu heteroatom yang mengandung suatu pasangan elektron yang tidak terikat kepada untaian etilinik menyebabkan geseran batokromik (Gandjar dkk. . sehingga perbedaan energi transisi ini pada pelarut polar ini lebih kecil.

pelarut-pelarut yang berikatan hidrogen akan berinteraksi secara lebih kuat dengan pasangan elektron yang tidak berpasangan pada molekul dalam keadaan dasar dibanding molekul dalam keadaan tereksitasi. Serapan maksimum bergeser ke panjang gelombang yang lebih tinggi dengan meningkatnya delokalisasi. Secara khusus. Konjugasi dan delokalisasi Adanya konjugasi akan memperluas delokalisasi suatu senyawa.Pada transisi elektron n → π ∗ . 2007). Faktor-faktor yang mempengaruhi energi dari transisi adalah : 1. dan senyawa akan terlihat berwarna. Sebagai akibatnya transisi ini akan memiliki energi yang lebih besar sehingga panjang gelombang transisi ini akan digeser ke panjang gelombang yang lebih pendek dibanding panjang gelombang semula yang disebabkan oleh kemampuan untuk membentuk ikatan hidrogen (Polaritas) pelarut meningkat (Gandjar dkk.. beta-karoten – yang ada pada wortel (Clarck. serapan memerlukan energi yang lebih kecil dengan meningkatnya delokalisasi. 2007). 2. untuk senyawa-senyawa dengan delokalisasi yang sangat besar. 2007). Bertambahnya atau berkurangnya jumlah ikatan phi akan mempengaruhi kemampuan delokalisasi (Clarck. Panjang gelombang berbanding terbalik dengan frekuensi sehingga serapan maksimum bergeser ke frekuensi yang lebih pendek dengan meningkatnya delokalisasi. 2007). keadaan dasar lebih polar dibandingkan dengan keadaan tereksitasi. 3. panjang gelombang yang terserap akan cukup tinggi dalam daerah spektrum sinar tampak. Polaritas Penambah suatu pelarut yang memiliki polaritas yang sama dengan polaritas jenis ikatan akan menstabilkan ikatan sehingga terjadi pergeseran panjang gelombang ke arah yang lebih besar (batokromik) atau menuju panjang gelombang yang lebih pendek (hipokromik) (Clarck. Dengan kata lain. pH Proses ionisasi untuk menghasilkan asam dan basa dalam air akan merubah struktur molekul dari senyawa sehingga terdapat perubahan-perubahan ikatan kimia. . Contoh yang baik adalah pigmen tanaman yang berwarna orange. Karena itu perbedaan energi antara orbital ikatan dan orbital anti-ikatan makin berkurang dengan meningkatnya delokalisasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful