LATAR BELAKANG

Indonesia merupakan negara yang memiliki ribuan jenis tumbuhan yang harus dilestarikan dan dimanfaatkan dengan baik. Sebagian besar tumbuhan tersebut dapat digunakan sebagai obat tradisional. Hal ini menandakan adanya kesadaran masyarakat untuk kembali ke alam dalam rangka mencapai kesehatan yang optimal dan untuk mengatasi berbagai penyakit secara alami ( Wiayakusuma, 1997). Obat tradisional yang berasal dari tumbuhan dan bahan – bahan alami murni, memiliki efek samping, tingkat bahaya dan resiko yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan obat kimia (Muhlisah, 2005). Salah satu tanaman obat yang dapat digunakan sebagai obat tradisional adalah bunga rosella. Bunga rosela mempunyai nama ilmiah Hibiscus Sabdariffa Linn dari famili malvaceae pada awalnya merupakan tumbuhan liar yang tidak diketahui manfaatnya, sekarang merupakan tumbuhan budidaya yang populer dan hampir seluruh bagian tanaman ini dapat digunakan untuk kebutuhan pengobatan, terutama untuk pengobatan alternatif. Hal ini dikarenakan bunga rosella mengandung senyawa metabolit sekunder yang diduga mempunyai efek antibakteri. Adapun kandungan kimia dari tumbuhan rosella adalah alkaloid, flavonoid, triterpen, steroid, dan fenolik. Kandungan kimia bunga rosella yang diduga mempunyai efek sebagai antibakteri adalah flavonoid. Dimana kandungan flavonoid mampu menghambat dan membunuh kuman – kuman, mikroorganisme yang bisa menyebabkan penyakit pada manusia.

Salah satu jenis bakteri Gram negatif yang dapat menimbulkan penyakit pada manusia adalah Escherichia coli. Bakteri Escherichia coli biasanya hidup di usus besar, dan membantu membentuk vitamin K di dalam tubuh. Pada kebanyakan kasus bakteri ini merupakan bakteri penyebab infeksi terutama pada penyakit pada usus besar yang menyebabkan diare.

Berdasarkan hal tersebut diatas dan data empiris dari masyarakat, maka perlu diadakan penelitian lebih lanjut untuk menguji apakah benar, bunga rosella (Hibiscus Sabdariffa Linn) efektif sebagai antibakteri terhadap bakteri penyebab diare, yaitu Escherichia coli. pada penelitian ini mengunakan metode dist diffuse (cakram).

. 1.2 Tujuan Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Tujuan umum : Mengetahui efektivitas antibakteri ekstrak bunga rosella (Hibiscus Sabdariffa Linn) terhadap aktivitas bakteri Escherichia coli. 2. Tujuan khusus : a. Mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak bunga rosella hasil budidaya terhadap Escherichia coli dengan metode cakram. b. Mengetahui kegunaan rosela sebagai tanaman obat tradisional yang bisa dijadikan sebagai obat alternatif pengganti bahan sintetik yang tersedia di apotik.

sehingga mendorong masyarakat untuk membudidayakan tanaman rosella dan pada akhirnya dapat menekan pengeluaran yang lebih banyak untuk pembelian obat.3 Manfaat 1. Menumbuh kembangkan kesadaran masyarakat tentang penggunaan bahan alam sebagai sumber obat alternatif.3.3. serta sebagai referensi untuk masukan bagi peneliti selanjutnya. sehingga masyarakat memiliki alternatif dan tidak selalu tergantung pada obat yang tersedia di apotik.1.1 Bagi Peneliti Merupakan tambahan pengetahuan dari dunia praktisi yang sangat berharga untuk disesuaikan dengan pengetahuan teoristis yang diperoleh dari bangku perkuliahan dan sebagai syarat dalam menyelesaikan studi mikrobiologi. 1. 1. TINJAUAN PUSTAKA 2.3.1 ROSELLA .2 Bagi Pelajar Dapat menjadikan pembendaharaan pustaka sebagai informasi yang dapat digunakan untuk menambah ilmu pengetahuan di bidang farmasi.3 Bagi masyarakat Penelitian ini diharapkan memberikan informasi kepada masyarakat tentang teknik budidaya dan manfaat bunga rosella sebagai obat tradisional yang dapat digunakan sebagai bahan pengganti obat sintetik.

Dalam taksonomi tumbuhan. Cara penanamannya dengan menggunakan biji yang kering kemudian disemai.5-5 m dan mengeluarkan bunga hampir sepanjang tahun. Saat muda batang dan . tidak seperti rosella yang tumbuh di Indonesia ujung kelopaknya kuncup. namun serat batangnya digunakan untuk bahan pembuat tali dan karung goni. Warna. Rosella ini berwarna merah. panjang sekitar 5 cm dan ujung kuncupnya agak merekah. Rosella Cranberry. Yogyakarta. Namun tidak sedikit yang memanfaatkan bunga dan daunnya uuntuk dijadikan lalapan dan sayur. jenis ini berwarna kehitaman. kelopaknya menyerupai kotak dan ujung kelopaknya berbentuk oval. Rosella Taiwan. Tanaman rosella berdiri tegak dengan tinggi ±0. 2. Bahkan tidak hanya warna. rosella diklasifikasikan sebagai berikut : Divisio Sub Divisid Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledoneae : Malvaceales : Malvaceae : Hibiscus : Hibiscus Sabdariffa Linn Ada beberapa jenis rosella yang beredar di pasaran. Jawa Tengah. Namun tanaman rosella saat ini dibudidayakan di Indonesia antara lain di Jawa Barat. dan Jawa Timur. Rosella Afrika.Tumbuhan rosella tumbuh liar di pinggir – pinggir jalan. 3. Karena belum tahu khasiatnya. Rosella jenis ini banyak terdapat di Belanda. karena rasa asam-nya mirip buah gandaria dan ada juga yang menyebutnya kembang frambosen karena warnanya mirip dengan buah frambosen. Misalnya ada yang menyebut rosella kembang gandaria. dulu tanaman ini tidak dibudidayakan. bentuk dan ukuran sedikit berbeda disetiap daerah. bentuk dan ukurannya namun sebutannya pun satu daerah dan daerah lain berbeda. perkebunan dan sawah di Indonesia. berwarna merah. Pohon rosella adalah sejenis perdu yang mudah ditanam. Beberapa jenis itu adalah : 1.

Kelopak bunganya sangat menarik dan indah.daunnya berwarna hijau. terdapat putik dan benang sari. Batang berbentuk silindris dan kerkayu. bunga juga dilengkapi 8 – 12 kelopak tambahan. Oleh karena itu. kelopak akan semakin besar. Akar yang menopang batang adalah akar tunggang. ini terbukti dengan kandungan rosella merah yang banyak mengandung vitamin. Selain mahkota dan kelopak. begitu juga dengan warna ada yang berwarna merah muda. semakin banyak orang yang membudidayakan rosella dan mengkonsumsinya. panjang daun dapat mencapai 6. Dua minggu kemudian bunga rosella muda berwarna hijau dengan jari – jari tipis berwarna merah dan berbentuk bulat kecil. merah tua. Pada batang melekat daun yang bersusun berseling. dan warna berubah menjadi merah cerah. menebal. Misalnya rosella dari Surabaya dipastikan lebih kecil dibandingkan rosella di Bogor. Bunga muncul pada ketiak daun. Selama pertumbuhan ini. dan menyerupai bentuk ginjal. batangnya akan berubah menjadi coklat kemerahan. berwarna hijau. namun ketika beranjak dewasa dan berbunga. berbentuk bulaat telur dan berbentuk menjari. tepi bergerigi. Khasiat rosella merah juga dapat dirasakan setalah mengkonsumsinya. Bunga yang berhasil dibuahi akan menjadi buah. Biji yang masih muda berwarna putih sedang jika sudah tua berwarna coklat. Buah terbagi menjadi lima bagian. Disetiap daerah ukuran rosella selalu berbeda. merah kehitaman dan merah kecoklatan. Mahkota bunga berbentuk corong tersusun dari lima helai daun mahkota. Tulang daun berwarna merah. Bunga akan muncul saat rosella berumur 2.15 cm dan lebar 5 – 8 cm. kaku. Bahkan ada juga rosella yang kelopaknya berwarna kuning dan berukuran kecil. Awalnya bunga berwarna merah muda dan belum menyerupai bunga yang sudah matang. Manfaat rosella merah memang sangat menakjubkan. Disetiap ruang terdapat 3 – 4 biji yang juga berbulu. Buah rosella berbentuk kerucut dengan bulu – bulu halus menempel di permukaan kulit buah. . memiliki banyak cabang.5 – 3 bulan setelah ditanam.

dan memperlambat pertumbuhan jamur/bakteri/parasit penyebab demam tinggi. 10 kali dari buah belimbing. 9 kali jeruk sitrus. begitu pula biji rosella yang mengandung protein tinggi. Menurut penelitian Ballitas Malang. dan 2. rosella mempunyai manfaat untuk mencegah penyakit. poly-sakarida dan flavonoid yang terkandung dalam ektrak kelopak bunga rosella sebagaai Farmakologi. Bahkan. Daun dan buah rosella juga mengandung senyawa yang bermanfaat. meningkatkan kinerja usus serta berfungsi sebagai tonik ( obat kuat). kram otot dan anti infeksi-bakteri. Selain itu. melencarkan peredaran darah dan melancarkan buang air besar. Kandungan omega 3 yang terdapat dalam kelopak bunga rosella bermanfaat untuk pertumbuhan dan kecerdasan otak anak. B1. Ini terjadi karena asam organik. Gossy peptin anthocyanin dan glucoside hibiscin yang mempunyai efek diuretik dan choleretik. kandungan vitamin dalam rosella cukup lengkap. bunga rosella. Asam sitrat dan asam malat memberi sensasi yang menyegarkan ketika kelopak diseduh. Dalam eksperimen ditemukan juga bahwa ekstrak kelopak bunga rosella mengurangi efek alkohol pada tubuh kita. mencegah pembentukan batu ginjal. terutama dari tanaman yang berkelopak bunga tebal ( juicy). Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah eklopak bungga rosella mengandung vitamin C dalam kadar tinggi yang berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh manusia terhadap serangan penyakit. Dari segi kesehatan. termasuk arginin dan lignin yang berperan dalam proses peremajaan sel tubuh. yatu vitamin C. kelopak bunga rosella juga membantu melancarkan peredaran darah dengan mengurangi derajat kekentalan darah.Karena memiliki berbagai kandungan rosella menjadi ‘primadona’ sebagai tanaman obat tradisional. D. mengendalikan tekanan darah. Dari segi penelitian terbukti bahwa kelopak bunga rosella mempunyai efek antihipertensi. Asam amino yang diperlukan tubuh. B2 dan asam amino. rosella juga mengandung protein dan kalsium. A. kandungan vitamin C-nya 3 kali lebih banyak dari anggur hitam. memperlancar peredaran darah.5 kali dari jambu biji. . 18 diantaranya terdapat dalam kelopak bunga rosella. misalnya rosella merah berguna untuk mencegah penyakit Kanker dan Radang. mencegah tekanan darah tinggi.

pencucian. atau gabungan antara ketiga.2. Eksudat tanaman dapat berupa zat – zat atau bahan – bahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan atau diisolasi dari tanamannya. pengubahan bentuk.2 SIMPLISIA 2. sortasi kering. Contohnya serbuk seng dan serbuk tembaga. Contohnya adalah minyak ikan ( Oleum iecoris asselli ) dan madu ( Mel depuratum ). 2. berarti satu atau sederhana. • Simplisia hewani : simplisia yang berupa hewan utuh. 1) Pengumpulan bahan baku .2 Cara Pembuatan Simplisia Dasar pembuatan simplisia meliputi beberapa tahapan. dan kecuali dinyatakan lain umumnya dalam bentuk yang telah dikeringkan. • Simplisia nabati : simplisia yang berupa tanaman utuh. hewani. bagian tanaman atau eksudat tanaman. Adapun tahapan tersebut dimulai dari pengumpulan bahan baku. Misalnya Datura Folium dan Piperis nigri Fructus. • Simplisia pelican atau mineral : simplisia yang berupa mineral ( pelican ) yang belum diolah atau diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni. dan penyimpanan.2. pengepakan. Departemen Kesehatan RI membuat batasan tentang simplisisa sebagai berikut: Simplisia adalah bahan alami yang digunakan untuk obat dan belum mengalami proses perubahan apapun. Eksudat tanaman adalah inti sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya. dan pelikan atau mineral. bagian hewan atau zat – zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan berupa zat kimia murni. sortasi basah.2. Istilah simplisia dipakai untuk menyebutkan bahan – bahan obat alam yang masih berada dalam wujud aslinya atau belum mengalami perubahan bentuk. Berdasarkan hal itu maka simplisisa dibagi menjadi tiga golongan yaitu simplisia nabati. pengeringan.1 Pengertian Simplisia Simplisia adalah bentuk jamak dari kata simpleks yang berasal dari kata simple.

b. Untuk pengambilan pucuk daun. Biji Pengambilan biji dapat dilakukan pada saat mulai mengeringnya buah atau sebelum semuanya pecah. dan pepaya ). rumput dan kotoran lainnya yang harus di buang. d. oleh karena itu pembersihan simplisia dari tanah dalah mengurangi jumlah mikroba awal. Bahan-bahan asing itu seperti tanah.melati ). mawar ). Berdasarkan garis besar pedoman panen. 2) Sortasi basah Sortasi basah adalah pemilahan hasil panen ketika tanaman masih segar. dianjurkan dipungut pada saat warna pucuk daun berubah menjadi daun tua. asam. pengambilan bahan baku tanaman dilakukan sebagai berikut : a. Bunga Pemanenan bunga tergantung dari tujuan pemanfaatan kandungan aktifnya.Tahapan pengumpulan bahan baku sangat menentukan kualitas bahan baku. Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan asing atau bahan-bahan asing lainnya dari bahan simplisia. setelah benar – benar masak ( misalnya adas ). Buah Pengambilan bunga tergantung tujuan dan pemanfaatan kandungan aktifnya. Faktor yang paling berperan dalam tahapan ini adalah masa panen. atau dengan cara melihat perubahan warna atau bentuk dari buah yang bersangkutan ( misalnya jeruk. Daun atau herba Panen daun atau herba dilakukan pada saat proses fotosintesis berlangsung maksimal. Panen dapat dilakukan pada saat menjelang penyerbukan. saat bunga masih kuncup ( seperti pada Jasminum sambac. 3) Pencucian . Tanah mengandung bermacam-macam mikroba dalam jumlah tinggi. atau saat bunga sudah mulai mekar ( misalnya Rosa sinensis. yaitu ditandai dengan saat – saat tanaman mulai berbunga atau buah mulai masak. kerikil. c. Panen buah bisa dilakukan saat menjelang masak ( misalnya Piper nigrum ).

misalnya air dari mata air. Ketebalan bahan yang di keringkan. tetapi suhu yang terbaik adalah tidak lebih dari 60°C. Kelembapan udara di sekitarnya dan kelembapan bahan kandungan air dari bahan. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau. f. Pencucian dilakukan dengan air bersih.semakin lama dikeringkan akan semakin kering bahan tersebut. d. Tanaman yang baru diambil jangan langsung dirajang tetapi dijemur dalam keadaan utuh selama 1 hari. Suhu pengeringan. Perajangan bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan. Bahan simplisia dapat dikeringkan pada suhu 30°C-90°C. sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. dengan alat mesin perajang khusus sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki. Berikut ini faktor yang memepengaruhi pengeringan yaitu : a. air sumur atau air PAM. Sirkulasi udara. Waktu pengeringan. 4) Perajarangan Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan. Bahan simplisia yang mengandung zat yang mudah larut dalam air yang mengalir. pengempakan dan penggilingan. c. e. Suhu pengeringan tergantung pada bahan simplisia dengan cara pengeringannya.Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotoran lainnya yang melekat pada bagian simplisia. tetapi harus di pertimbangkan daya tahan kandungan zat aktif di lam sel yang kebanyakan tidak tahan panas. Bahan simplisia yang mengandung senyawa aktif yang tidak tahan panas atau mudah menguap harus dikeringkan pada suhu serendah mungkin. Luas peermukaan bahan. semakin mudah kering.semakin luas permukan bahan. b. 5) Pengeringan Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak. misalnya 30°C-45°C. . pencucian dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin dengan cara dialirkan air ke bahan simplisia. Semakin tinggi suhunya semakin cepat kering.

Untuk bahan berupa rimpang harus dirajang dulu untuk memperluas permukaan. Penjemuran tidak langsung bertujuan untuk menghindari kontak langsung dengan pancaran gelombang UV. dan rerumputan laut dikeringkan dengan cara dijemur dibawah sinar matahari. Dapat pula buah diperam ( misalnya asam ). Oleh karena akar termasuk bahan keras maka sebaiknya dijemur tanpa pelindung dibawah sinar matahari. diserut. Untuk bahan berupa kulit batang umumnya dibekah terlebih dahulu. dan biji jarak ( Ricinus communis ) yang akan diambil minyak lemaknya tidak perlu melalui proses pengeringan.Cara pengeringan bahan – bahan tertentu dijelaskan sebagai berikut : 1. Untuk bahan berupa akara. Untuk tanaman rendah misalnya lumut. 5. daging daun lidah buaya. jamur. pengeringan dilakukan dengan cara dirajang atau dipotong – potong pendek. kemudian dijemur langsung dibawah sinar matahari. kemudian dijemur dibawah sinar matahari tidak langsung ( ditutup kain hitam ). dipecah. 7. 6. Tujuan sortasi kering adalah untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian-bagian . baru dijemur. Untuk bahan berupa daun atau bunga yang akan diambil minyak atsirinya maka cara pengeringan yang dianjurkan adalah menghindari penguapan terlalu cepat dan proses oksidasi udara. kemudian langsung dijemur dibawah sinar matahari. Untuk bahan berupa buah seperti jeruk bisa dibelah terlebih dahulu lalu dijemur. 3. 2. agar – agar. Setelah kering. Bahan – bahan eksudat seperti getah ( opium dan sebagainya ). disimpan dalam kantung kedap udara. 8. Tujuannya untuk menghindari penguapan yang terlalu cepat yang dapat menurunkan mutu minyak atsiri di dalam bahan. 4. thallus. Syarat pengeringan menggunakan oven adalah panasnya tidak boleh lebih dari 600 C. Sementara untuk buah pala ( Myristica fragrans ) atau cabe merah ( Capsicum annuum ) bisa langsung dijemur atau dioven. 6) Sortasi kering Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia. Untuk bahan berupa bunga hanya diangin – anginkan ditempat yang teduh atau jika menggunakan oven maka suhu diatur rendah sekitar 250 – 350 C.

dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang sesuai. melindungi simplisia dari cemaran serta mencegah adanya kerusakan. tidak beracun. Ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu bahan dari campurannya. dan terlindung dari gangguan serangga maupun tikus. Metode dasar ekstraksi adalah maserasi. 2.2 EKSTRAKSI 2. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. terlindung dari sinar matahari. Materia Media Indonesia.tanaman yang tidak di inginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang masih ada dan tertinggal pada simplisia kering 7) Pengepakan dan Penyimpanan Pengepakan simplisia dapat menggunakan wadah yang inert. Sedangkan penyimpanan simplisia sebaiknya di tempat yang kelembabannya rendah.1 Pengertian Ekstraksi Ekstrasi adalah sediaan yang berupa kering. Pemilihan metode tersebut disesuaikan dengan kepentingan memperoleh sari yang diinginkan. 8) Pemeriksaan mutu Merupakan usaha untuk menjaga keajegan mutu simplisia. Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehinga terpisah dari bahan yang tidak larut dengan pelarut cair.2. Ekstraksi menggunakan . ekstraksi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Simplisia yang bermutu adalah simplisia yang memenuhi persyratan Farmakope Indonesia. Simplisia diterima harus berupa simplisia murni dan memenuhi persyaratan umum untuk simplisia. perkolasi dan sokhletasi. perkolasi. kental. Anief. 1971) Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut. yaitu maserasi. atau penyeduhan dengan air mendidih (Moh. (Voigt. Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan atau pembelian dari pengepul tau pedagang simplisia. dan cair.1987:168).

1995: 557) 2. Ekstrak kering adalah sediaan berbentuk serbuk yang dibuat dari ekstrak tumbuhan melalui penguapan melalui penguapan bahn pelarutnya. Ekstrak kental liat dalam keadaan dingin dan tidak dapat dituang. (Voight. (Ansel. Tingginya kandungan air menyebabkan ketidakstabilan sediaan obat dan bahan aktifnya. antara lain : 1. Maserasi Meserasi berasal dari istilah mecaration dari bahasa latin macerace. merupakan proses paling tepat dimana obat yang sudah halus memungkinkan untuk direndam dalam mentrum sampai meresap dan melunak susunan sel. 1989).pelarut didasarkan pada kelarutan komponen terhadap komponen lain dalam campuran (Suyitno. 1995:578) 2. Kandungan airnya berjumlah 30%. Ekstrak kering biasanya diperoleh melalui car perkolasi. Melalui penguapan cairan pengekstraksi dan pengeringan sisanya akan berbentuk suatu produk. 1995:557) 3. Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. percolator yang digunakan dari batu. (Voight.2. Ekstrak cair adalah sediaan yang berbentuk cair yang dibuat sedemikian rupa sehingga satu bagian simplisia sesuai dengan dua bagian ekstrak cair. tetapi dalam skala besar industry.3 Metode pembuatan ekstrak Dalam pembuatan ekstrak ada dua metode. (Voight. sehingga zat – zat yang mudah larut akan melarut. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. maka larutan yang terpekat didesak . Selain itu ekstrak kental juga sulit untuk ditimbang. 1989 : 607). 2. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. yang sebaiknya memiliki kandungan lembab tidak libih dari 5%. yang artinya merendam.2 Macam – macam Ekstraksi Ada tiga macam ekstraksi.2. porselen atau dari bahan logam atau dari bahan sintesis. Dalam skala kecil digunakan percolator gelas. zat aktif akan larut dank arena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang diluar sel. antara lain : 1.

Perkolasi Perkolasi berasal dari bahasa latin per artinya melalui dan colore yang artinya merembes. Obat dimampatkan dalam alat ekstraksi yang khusus disebut perkolator. akan terjadi proses maserasi tertahap banyak. dicuci ampasnya dengan penyari secukupnya hingga diperoleh seluruh sari sebanyak 100 bagian. (Ansel. (Indonesia. 1986:10) 2. perbedaan konsentrasi tadi selalu dipertahankan. Jika pada maserasi sederhana.keluar. zat yang larutannya diekstraksi dalam pelarut yang cocok dengan cara melewatkan perlahan-lahan melalui obat dalam suatu kolom. peras. maka pada perkolasi melalui suplai bahan pelarut segar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antar larutan di luar sel dan di dalam sel. ditutup dan dibiarkan selama lima hari terlindung dari cahaya sambil berulang – ulang diaduk-aduk. 1989 : 608). tidak terjadi ekstraksi yang sempurna dari simplisia. terlindung dari cahaya selama 2 hari. Perkolasi (percolare = penetesan) dilakukan dengan cara serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder atau kerucut. Kemudian endapan dipisahkan. Kecuali dinyatakan lain. Oleh karena akan terjadi keseimbangan konsentrasi larutan dalam sel dengan cairan disekelilingnya. secara umum dapat dinyatakan sebagai proses dimana obat yang sudah halus. Melalui penyegaran bahan secara kontinyu. meserasi pada umumnya dilakukan dengan cara 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok dimasukkan ke dalam bejana kemudia dituangi dengan 75 bagian cairan penyari. Kebanyakan ekstraksi obat dikerjakan dengan cara perkolasi. yang bagian bawahnya diberi sekat berpori sehingga memiliki jalan masuk dan keluar yang sesuai. dengan ekstraksi yang telah dikumpulkan disebut perkolat. tidak mengandung bonzoin. Setelah lima hari campuran tersebut diserkai. (Voight. 1995 : 568) . maserat diendapkan atau disaring. Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari. Cairan penyari dialirkan secara kontinyu dari atas. stirak dan lain – lain. akan mengalir turun secara lambat ke bawah melalui serbuk kasar simplisia tersebut. Lalu maserat dipisahkan dalam bejana tertutup dan dibiarkan di tempat sejuk. sehingga cairan penyari akan melarutkan zat aktif sel –sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh.

artinya dapat membunuh bakteri yang menyebabkan penyakit tetapi tidak beracun bagi penderitanya. menghambat kerja enzim. tidak dapat terbakar. menghambat keutuhan permeabilitas dinding sel bakteri. pada umumnya pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia pada komponen – komponen bahan ekstraksi. 2. palarut sedapat mungkin harus murah. et al. adanya selektivitas yaitu pelarut hanya melarutkan ekstrak yang diinginkan dan bukan komponen lain dari bahan yang diekstraksi. stabil secar kimia dan termis.2. (Bernasconi.2.3 ANTIBAKTERI Antibakteri adalah zat yang dapat mengganggu pertumbuhan atau bahkan mematikan bakteri dengan cara mengganggu metabolisme mikroba yang merugikan. Mekanisme diakhiri dengan pembuangan atau penghentian aktivitas penghambat enzim autolisis pada dinding sel. tidak korosif. 1995 :179). pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan ekstrak yang besar. . Kedua. Ketiga. Pada lingkungan yang isotonis lisis terjadi pada lingkungan yang jelas hipertonik. Pertama. dan menghambat sintesis asam nukleat dan protein. Antibakteri hanya dapat digunakan jika mempunyai sifat tosik selektif. Langkah pertama kerja obat berupa pengikatan obat pada reseptor sel (beberapa) diantaranya adalah enzim transpeptida. Mekanisme kerja dari senyawa antibakteri diantaranya yaitu menghambat sintesis dinding sel.4 Macam – macam penyari Cairan yang dapat digunakan untuk menyari diantaranya air. Mikroorganisme dapat menyebabkan bahaya karena kemampuan menginfeksi dan menimbulkan penyakit serta merusak bahan pangan. Antibakteri termasuk kedalam antimikroba yang digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri. 1995 : 561). Keempat. (Voight. ester. Pemilihan pelarut ekstraksi dipengaruhi beberapa faktor. mikroba berubah menjadi protoplas atau sferoflas yang hanya tertutup oleh selaput sel yang rapuh. tidak beracun. Kemudian dilanjutkan dengan reaksi transpeptidase dan sintesis peptidoglikan terhambat. Selain itu. dan campuran etanol dengan air. pelarut memiliki kemampuantidak saling bercampur dalam bahan ekstraksi.

lamanya inkubasi. Piringan agen yang berisi antimikroba diletakkan pada media agar yang telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar tersebut. Area jernih mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh agen antimikroba pada permukaan media agar. dan aktivitas metabolisme bakteri. asam nukleat.Sitoplasma semua sel hidup dibatasi oleh selaput sitoplasma yang bekerja sebagai penghalang dengan permeabilitas selektif. maka komponen penting. suhu stabilitas senyawa tersebut. nukleotida. Bakteriostatik adalah zat antibakteri yang memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan bakteri (menghambat perbanyakan populasi bakteri). Bakterisida adalah zat antibakteri yang memiliki aktifitas membunuh bakteri. jumlah bakteri yang ada. untuk mendiagnosa penyakit tertentu serta untuk menguji bahan kimia untuk menentukan potensi mutagenik atau karsinogenik suatu bahan. yaitu bakteriostatik dan bakteriosida. dan lainlain keluar dari sel dan sel berangsur-angsur mati. melakukan fungsi pengangkutan aktif sehingga dapat mengendalikan susunan sel. seperti protein. Aktivitas senyawa antibakteri dipengaruhi oleh pH. Bila integritas fungsi selaput sitoplasma terganggu misalnya oleh zat bersifat surfaktan sehinga permeabilitas dinding sel berubah atau bahkan menjadi rusak. Metode disc diffusion. Berdasarkan aktivitasnya zat antibakteri dibedakan menjadi dua jenis. . Terdapat bermacam-macam metode uji antimikroba seperti dijelaskan berikut ini: 1.4 PENGUJIAN ANTIBAKTERI Pengujian mikrobiologi memanfaatkan mikroorganisme sebagai indikator pengujian. namun tidak mematikan. Dalam hal ini mikroorganisme digunakan sebagai penentu konsentrasi komponen tertentu pada campuran kompleks kimia. untuk menentukan aktivitas agen antimikroba. Metode difusi a. 2. Kegunaan uji antimikroba adalah diperolehnya suatu sistem pengobatan yang efektif dan efisien. Namun ada beberapa zat antibakteri yang bersifat bakteriostatik pada konsentrasi rendah dan bersifat bakterisida pada konsentrasi tinggi.

c. Gradient plate technique. Metode dilusi Metode dilusi dibedakan menjadi dua. 2. Hasil diperhitungkan sebagai panjang total pertumbuhan mikroorganisme maksimum yang mungkin dibandingkan dengan panjang pertumbuhan hasil goresan. Pada metode ini digunakan strip plastik yang mengandung agen antimikroba dari kadar terendah hingga kadar tertinggi dan diletakkan pada permukaan media agar yang ditanami mikroorganisme. e. digunakan untuk mengestimasi MIC (minimum inhibitor cocentration). Yang perlu diperhatikan adalah dari hasil perbandingan yang didapat dari lingkungan padat dan cair. pada metode ini sampel uji berupa agen antimikroba yang diletakkan pada parit yang digunakan dengan cara memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah secara membujur dan mikroba uji (maksimum enam macam) digoreskan kearah parit yang berisi agen antimikroba. Mikroba uji (maksimal enam macam) digoreskan pada arah mulai dari konsentrasi tinggi kerendah. . Nutrisi kedua kemudian dituangkan diatasnya. pada metode ini konsentrasi agen antimikroba pada media agar secara teoritis bervariasi dari nol hingga maksimal. Campuran kemudian tituangkan kedalam cawan petri dan diletakkan dalam posisi miring.b. Pengamatan dilakukan pada area jernih yang ditimbulkan yang menunjukkna kadar agen antimikroba yang menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada media agar. faktor difusi agen antimikroba dapat mempengaruhi keseluruhan hasil pada media padat. d. Media agar dicairkan dan larutan uji ditambahkan. yaitu dilusi cair (broth dilution) dan dilusi padat (solid dilution). dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengam mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba yang akan diuji. Plate inkubasi selama 24 jam untuk memungkinkan agen antimikroba berdifusi dan permukaan media mengering. metode ini serupa dengan disc diffusion. yaitu konsentrasi minimal suatu agen antimikroba untuk dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Cup-plate technique.Metode E-test. Ditch-plate technique.

metode ini serupa dengan metode dilusi cair namun menggunakan media padat (soil). Larutan yang ditetapkan sebagi KHM tersebut selanjutnya dikultur ulang pada media cair tanpa penambahan mikroba uji ataupun agen antimikroba dan diikubasi selama 18-24 jam. digunakan unutk mengukur MIC atau kadar hambat minimum dan MBC atau kadar bunuh minimum. Keuntungan metode ini adalah suatu konsentrasi agen antimikroba yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa mikroba uji. . b.a. Media cair yang tetap terlihat jernih setelah diinkubasi ditetapkan sebagai KMB. Metode dilusi cair. Larutan uji agen antimikroba pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM. Metode dilusi padat. Cara yabg dilakukan adalah dengan memberi seri pengenseran agen antimikroba pada medium cair yang ditambahkan dengan mikroba uji.

Selang 7. Klem dan statif 8.BAB III METODE PENELITIAN 3.1.1 Waktu dan Tempat Percobaan Penelitiana ini bersifat eksperimental dan pengamatan dilakukan pada hari Jumat sampai dengan Rabu. 3. Botol coklat 5. Tanggal 26 Mei 2011 sampai dengan 1 Juni 2011 di laboratorium Mikrobiologi Putra Indonesia Malang.2 Instrumen Penelitian 3.2. Cawan . Ayakan 4. Water bath 9.1 Alat Pembuatan Ekstrak 1. Pisau 2.1 Alat : 3.2. Blender 3. Botol infus 6.

Batang pengaduk 7. Beker glass 50 ml 4. Blue tip 3.2 Alat Pembuatan Media 1. Kapas 11. Nutrient broth 2. Ditimbang agar 1 gram. .10. Erlenmeyer 11.3 Prosedur Kerja 3.2. Kertas coklat 3. Etanol 70% 3. Pipet volum 1 ml 2.2.1. Autoklaf 8. Ekstrak bunga rosella 4. Laminar air flow 5. Timbangan 2. Suspense bakteri 3. Sendok tanduk 3. Kapas 12.2. Incubator 3. Cawan petri 9. Perkamen 4. Batang pengaduk 3.1.3 Alat Pengujian Daya Hambat 1. Benang 10. Erlenmeyer 5.3.1 Pembuatan media untuk menumbuhkan sampel dan uji aktifitas 1.2 Bahan 1. Kompor 6.

5. Semua alat dan bahan yang telah dibungkus dengan kertas coklat tersebut. Direbus agar yang telah dilarutkan dengan kompor listrik. 7. . 2. Dibungkus cawan petri sebanyak 3 dengan menggunakan kertas coklat. Diletakkan blue tipe secukupnya pada beaker glass. Pada saat direbus larutan agar tersebut harus selalu diaduk hingga menunjukkan hasil bahwa media tersebut telah medidih. 5. setelah itu diikat dengan menggunakan tali. 3. kemudian diikat dengan tali. Dimasukkan kedalam botol coklat yang tidak tembus cahaya. 3.2 Cara Sterilisasi 1. kemudian mulut beaker glass ditutup dengan kapas. 6. 3. Dilakukan perkolasi. direndam bunga rosella dengan etanol 70% sebanyak 100 ml. selama 15 menit dengan tekanan 2 atm pada suhu 121°C. 3. 4. Dipilih bunga rosella yang masih segar dan muda. kemudian dibungkus dengan kertas coklat. kemudian diikat dengan tali.2. setelah itu dibungkus dengan kertas coklat. Diletakkan kertas cakram secukupnya pada beaker glass.3 Pembuatan ekstrak bunga rosella 1. dimasukkan dalam autoklaf untuk disterilkan secara panas basah. Dilarutkan dengan aquades hingga volumenya 45 ml pada elenmeyer diaduk hingga homogen. 4. Dipilih bunga rosella yang baik. kemudian mulut beaker glass ditutup dengan kapas. 2.3. Didiamkan selama kurang lebih tiga hari. Dicuci bunga rosella dengan menggunakan air yang mengalir sambil digosok-gosok bunganya agar benar-benar bersih. Ditutup mulut elenmeyer yang berisikan larutan agar dengan kapas. 4.3. setelah itu dibungkus dengan kertas coklat. 8. dengan cara yang benar. Dibender bunga rosella hingga membentuk serbuk sebanyak 10 gram. kemudian disisihkan. Dikeringkan dengan bantuan matahari selama 5 – 6 hari. 3.

Dimasukkan agar encer kedalam cawan petri yang telah berisi sampel. 4. Disiapkan tiga cawan petri steril. maka agar yang telah padat pada cawan petri diberi kertas cakram yang mengandung ekstrak bunga rosella. 6. Dimasukkan ekstrak bunga rosella kedalam botol kemudian di simpan. 5. kemudian dimasukkan sampel bakteri kedalam cawan petri steril @ 1 ml. kemudian diinkubasi pada suhu 37°C selama 1 x 24 jam. Pada pengujian aktivitas dengan menggunakan metode cakram. Dibungkus ketiga cawan petri tersebut dengan menggunakan kertas coklat.4 Uji Aktivitas antibakteri ekstrak bunga rosella dengan metode disc diffusion 1. Diputar cawan petri yang telah berisi agar dan sampel membentuk angka 8. hingga diperoleh ekstrraknya saja tanpa adanya etanol. kemudian didokumentasikan. 3. saatnya untuk pemekata dengan cara water bath. sesuai dengan teknik aseptis. sesuai dengan teknik aseptis. 3. Diukur zona bening yang terbentuk. 2. .9.3. Ditunggu beberapa menit hingga media menjadi padat. Setelah ekstraknya didapat dari hasil perkolasi. 10. agar antara sampel dan media dapat tercampur merata. 7.

.BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Data Hasil Pengamatan Uji Aktivitas Ekstrak bunga rosella ( mengunakan metode disc difussi terhadap bakteri Escherichia coli di Inkubasi Selama 1 X 24 Jam No. perlu dilakukan uji secara kimia. tahap pencucian. Ekstrak bunga rosella diperoleh dengan cara penyarian yang meliputi tahap pengecilan ukuran. pengeringan dan pemilihan. penggunaan bunga rosella di masyarakat hanya berdasarkan pengalaman turun-temurun dan dari generasi ke generasi. Dan pemilihan dilakukan untuk memperoleh simplisia yang terlihat bagus dan utuh. Pembuatan simplisia ini melalui tahap yaitu. penyarian dengan cara perkolasi dan pemekatan.78 mm 4. Pada pengeringan dilakukan pada panas matahari secara langsung selama tiga hari. Namun.mikroba yang menempel pada rosella. 1 2 3 Ekstrak Bunga Rosella Cawan I Cawan II Cawan II Luas Zona Bening Gambar 3. Tahap pencucian bertujuan untuk menghilangkan kotoran dan mengurahi mikroba. Maka untuk membuktikan khasiat bunga rosella sebagai antibakteri. salah satunya sebagai antibakteri. Kandungan kimia dari bunga rosella yang diduga sebagai antibakteri adalah flavonoid.2 Analisa Prosedur Pada penelitian ini digunakan bunga rosella karena tanaman ini mempunyai berbagai khasiat.48 mm 3. pembasahan.65 mm 3. Ektraksi bunga rosella yang digunakan sebagai sample penelitian terlebih dahulu dibuat dalam bentuk simplisia.

Tahap pengecilan ukuran dilakukan untuk mempermudah proses penyarian.pori sehingga mempermudah penyarian selanjutnya. Setelah didapatkan hasil ekstraksi disimpan dalam botol kecil. harus dilakukan sterilisasi alat dan bahan yang akan digunakan. Untuk melakukan langkah selanjutnya. Tahap berikutnya adalah tahap penyarian dengan cara perkolasi. Keuntungan menggunakan cara penyarian ini adalah tidak memerlukan langkah tambahan karena sampel padat telah terpisah dari ekstrak. Nutrien Broth adalah media cair yang digunakan untuk pertumbuhan bakteri. pengujian aktivitas terhadap bakteri Eschericia coli ini mengunakan media cair. Hasil perkolasi selanjutnya dipekatkan dengan menggunakan penguapan diatas waterbath untuk menguapkan etanol 70 % pada suhu 70% karena pada suhu tersebut merupakan suhu minimal untuk menguapkan etanol 70%. aliran cairan penyari meyebabkan pergantian larutan yang terjadi dengan larutan yang konsentrasinya lebih rendah. salah satunya Eschericia coli dan dapat digunakan untuk isolasi bakteri tersebut karena mengandung semua unsur senyawa esensial untuk pertumbuhan. Perkolasi merupakan cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui bunga rosella yang telah dibasahi selama 1 x 24 jam dan dipindahkan ke dalam wadah yang disebut perkolator. Selanjutnya dilakukan pembasahan dengn cara merendam bunga rosella yang telah melalui tahap pengecilan ukuran dalam pelarut etanol 70 % Selama 1 X 24 jam. menimbulkan infeksi pada penderita apabila bakteri tersebut hidup pada usus besar. Pembasahan bunga rosella dimaksudkan untuk memberi kesempatan sebesar – besarnya pada cairan penyari agar masuk ke dalam seluruh pori. Bakteri yang digunakan yaitu Eschericia coli karena bersifat invesif dan toksigenik. sterilisasi dilakukan secara panas basah dengan menggunaka autoklaf pada . ruang diantara pori–pori akanmembentuk saluran tempat cairan penyari mengalir. Bunga rosella yang sudah menjadi simplisia di bender dan diayak untuk mendapatkan simplisia dalam bentuk serbuk. Mekanisme kerja perkolasi yaitu cairan penyari akan melarutkan zat aktif melalui sel – sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh. Dengan cara perkolasi. Selain itu.

diantaranya: banyaknya ekstrak bunga rosella yang ada pada ketiga cawan tersebut mungkin berbeda. 3. karena metode ini lebih efisien jika dibandingkan dengan metode hole plate. karena pada pemanasan pada waktu. Pada konsentrasi tertentu cawan petri satu. Bakteri tersebut kemudian ditumbuhkan dalam media Nutrient Broth. Dalam proses inkubasi cawan petri dibalik hal ini dikarenakan agar air uapan pada cawan tidak menetes pada media. hal ini bertujuan agar alat dan bahan yang akan digunakan terbebas dari mikroba (steril). sehingga zona bening yang akan terbentuk nantinya juga akan lebih sempurna. Sebelum melakukan praktikum tangan dan meja harus disemprot terlebih dahulu dengan menggunakan alkohol 70%. Cawan petri dibungkus dengan kertas coklat. karena hanya menunjukkan sedikit media yang terdapat zona bening.65mm. kecuali jenis mikroba tertentu yang dapat hidup pada suhu yang tinggi. dua dan tiga mampu menghambat 3. Pada tabel menunjukkan efektifitas hambatan yang terjadi bakteri gram negatif.tekanan 2 atm selama 15 menit pada suhu 121°C. ditali dengan benang dan di inkubasi. 3. sehingga luas permukaannya pun menjadi berbeda dalam arti semakin tebal media dalam .78 pada inkubasi 1 x 24 jam. Setelah proses praktikum selesai. perlakuan tersebut berlaku untuk setiap kali melakukan praktikum setelah dilakukan sterilisasi. dua dan tiga mungkin disebabkan oleh beberapa faktor. Sehingga dapat dianalisa bahwa aktivitas ekstrak bunga rosella mampu menghambat bakteri gram negatif. Pada literatur yang ada dikatakan membunuh bakteri apabila zona bening pada cawan petri lebih dari separuh. suhu dan tekanan tersebut semua jenis mikroba dapat dipastikan telah mati.48 mm. Pada uji aktivitas ekstrak bunga rosella menggunakan metode disc diffusion. dalam arti pada metode tersebut ekstrak rosella tidak akan mengalami tumpah saat diinkubasi. hal ini bertujuan untuk meminimalisir adanya cemaran mikroba. Perbedaan kemampuan menghambat ekstrak bunga rosela terhadap bakteri gram negatif antara cawan petri satu. tebal media yang terdapat pada ketiga cawan petri tersebut berbeda. 4.3 Analisa Hasil Berdasarkan Hasil pengamatan uji antimikroba ekstrak bunga rosela (Hibiscus Sabdariffa Linn) mampu menghambat pertumbuhan bakteri gram negatif Escherichia coli.

padat memicu kerusakan organ tubuh. Hal ini disebabkan hasil ekstrak tidak hnya menarik senyawa flavonoid. Dengan adanya hasil penelitian tersebut seharusnya masyarakat berfikir ulang untuk menggunakan obat sintetik antibakteri. Sehingga dengan adanya hasil tersebut dapat dikatakan aktivitas ekstrak bunga rosella dalam menghambat bakteri masih tidak kalah jika dibandingkan dengan obat antibakteri yang ada saat ini. Selain itu permasalahan yang dihadapi dalam pengujian ini adalah hasil ekstrak yang diperoleh dengn cara perkolasi kurang maksimal. karena penggunaan obat sintetik antibakteri yang berlebihan dapat memicu bakteri resisten terhadap tubuh. Oleh karena itu lebih baik menggunakan obat tradisional yaitu ekstrak bunga rosella dalam mengatasi masalah infeksi bakteri. namun juga msih trcampur oleh senyawa lain yang diduga dapat berfungsi sebagai antibakteri karena peneliti tidak melakukan isolasi pada senyawa flavonoid yang diduga sebagai antibakteri.cawan petri semakin membuat bakteri berkembang dengan baik. BAB V PENUTUP . Selain harganya rekatif murah juga tidak menimbulkan efek samping yang berlebih.

Maria. Arifah Rahayu. Dasyatnya Khasiat Rosella. Jakarta . 2009. Ekstrak bunga rosella dapat dianggap mampu mengantikan obat sintetik sebagai antibakteri dengan harga yang relatif murah dan efek samping yang tidak berlebih. Dr. Sarwani Hasibuan. Ir Reki Wicakono Aswadi.Msi.1 Berdasarkan uji antimikroba menunjukkan bahwa Ekstrak bunga rosela (Hibiscus Sabdariffa Linn) memberi hambatan pertumbuhan mikroba uji bakteri gram negatif. Yogyakarta Ir. M. 5. Ir. M. 5.2 Saran 5. Cemerlang Publishing.1. 2009.1. 5.2 Dari pengukuran hambatan pertumbuhan bakteri.Si.T.1 Perlu kiranya dalam dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan hewan coba sebagai uji antimikroba dengan konsentrasi yang lebih besar agar pengaruh Ekstrak methanol bunga rosela (Hibiscus Sabdariffa Linn) dapat terlihat lebih nyata. Budi Daya dan Pengolahan Rosella. Ir. Mardiah..5.2. PT AgroMedia Pustaka.2 Perlu kiranya dilakukan uji terhadap aktivitas bunga rosela (Hibiscus Sabdariffa Linn) dengan menggunakan senyawa murni hasil isolasi atau menggunakan ekstrak hasil fraksinasi.2. sehingga efek manfaat dari ekstrak dapat terlihat lebih nyata Daftar pustaka Devi.1 Kesimpulan 5.

R. Herti Maryani. Jakarta: 189-195 Jayanti. Erlangga. Jakarta Pratiwi. ITB. 2008. Mikrobiologi Farmasi. S. PT AgroMedia Pustaka. Jurnal Ilmiah Voigt. Bandung . Jakarta Cara Pembuatan Simplisia.Dra. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Aktivitas antibakteri ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (Tennore) Steen) trhadap pseudomonas aeruginosa. 2010. 198. Apt. 2005. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Dwi. Lusi Kristiana. 1984. Khasiat dan Manfaat Rosella.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful