INVAGINASI

I.

PENDAHULUAN Invaginasi atau intususepsi adalah keadaan dimana suatu segmen usus masuk ke dalam lumen usus lainnya yang merupakan penyebab tersering terjadinya obstruksi usus. Invaginasi pada anak biasanya bersifat idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya. Sekitar 65% terjadi pada bayi yang berusia kurang dari setahun, dengan insiden puncak terjadi antara bulan ke-5 dan ke-9 kehidupan1. Sedangkan pada dewasa, invaginasi cukup jarang terjadi, kurang dari 5 % dari kasus obstruksi usus.2 Invaginasi pertama kali ditemukan oleh Barbette pada tahun 1692. Hingga pertengahan abad ke-19, invaginasi hampir berakibat fatal karena tidak adanya penanganan yang memadai. Sejak zaman Hippocrates sudah dikenal pengobatan penyakit ini dengan enema atau memompakan udara dalam anus. Pada tahun 1905 Hirschsprung membuat laporan tentang penggunaan tekanan hidrostatik sebagai pengobatan invaginasi. Pengobatan dengan pembedahan yang dilaporkan pertama kali berhasil adalah Thomson 1835 di Tennessee. 1 Invaginasi ini merupakan keadaan gawat darurat, dimana bila tidak ditangani segera dan tepat akan menimbulkan komplikasi lebih lanjut. Hampir 70% kasus invaginasi terjadi pada anak-anak umur kurang dari 1 tahun, paling sering dijumpai pada ileosekal. Invaginasi sangat jarang dijumpai pada orang tua.3 Ada perbedaan etiologi yang mencolok antara anak-anak dan dewasa, pada anak-anak etiologi terbanyak adalah idiopatik yang mana lesinya tidak ditemukan sedangkan pada dewasa penyebab terbanyak adalah keadaan patologik intralumen oleh suatu neoplasma baik jinak maupun ganas sehingga pada saat operasi lesinya dapat ditemukan. 3

1

II. ANATOMI a. Usus halus Usus halus merupakan suatu tabung yang kompleks, berlipat-lipat dan membentang dari pilorus hingga katub ileosekal. Panjang usus halus halus pada orang hidup sekitar 12 kaki (3,6 m) dan hampir 22 kaki (6,6 m) pada kadaver (akibat relaksasi). Usus ini mengisi bagian tengah dan bawah rongga abdomen. Ujung proksimalnya berdiameter sekitar 3,8 cm, tetapi makin ke bawah garis tengahnya semakin berkurang sampai menjadi sekitar 2,5 cm. 4 Usus halus terdiri dari duodenum, jejenum dan ileum yang merupakan tempat digesti dan penyerapan sari-sari makanan. Duodenum berbentuk tabung menyerupai huruf C dengan panjang sekitar 25 cm (10 inci) dari spinkter pilorus sampai fleksura duodenojejunal.
5

Pemisahan

duodenum dan jejunum ditandai oleh adanya Ligamentum Treitz, yaitu suatu pita muskulofibrosa yang berorigo pada krus dekstra diafragma dekat hiatus esofagus dan berinsersio pada perbatasan antara duodenum dan jejunum4 . Panjang jejunum sekitar 1 m (3 kaki), memiliki lumen yang besar dan lipatan yang lebih banyak dari ileum tetapi struktur histologinya hampir sama dengan ileum. Ileum memiliki panjang sekitar 2 m (6-7 kaki).5 Pada usus halus juga terdapat sebuah saluran buntu yang menyerupai tabung berukuran sebesar jari kelingking terletak pada daerah ileosekal yaitu pada apeks sekum yang disebut appendiks vermiformis.4 Dinding usus halus terdiri dari 4 lapisan yaitu mukosa, submukosa, tunika muskularis dan serosa, sedangkan otot yang menyusunnya terdiri dari 2 lapisan yaitu lapisan luar terdiri atas serabut-serabut longitudinal yang lebih tipis dan lapisan dalam terdiri dari serabut sirkular. Struktur ini membantu dalam gerakan peristaltik usus halus. Lapisan mukosa bagian dalam cukup tebal dan banyak mengandung pembuluh darah dan kelenjar.4

2

sedangkan serabut parasimpatis mengatur refleks usus. Darah dikembalikan lewat vena mesenterika superior yang menyatu dengan vena lienalis membentuk vena porta. Suplai saraf intrinsik yang menimbulkan fungsi motorik. arteri pankreatikoduodenalis superior. dan rangsangan simpatis menghantarkan nyeri.Gambar 1 Struktur usus halus 5 Innervasi dan nervii Arteri mesenterika superior dicabangkan dari aorta tepat dibawah arteri seliaka. Rangsangan parasimpatis merangsang aktivitas sekresi dan motilitas. 4 3 .4 Usus halus dipersarafi oleh cabang-cabang sistem saraf otonom. berjalan melalui pleksus Auerbach yang terletak dalam lapisan muskularis dan pleksus Meissner di lapisan submukosa. Arteri ini memperdarahi seluruh usus halus kecuali duodenum yang diperdarahi oleh arteri gastroduodenalis dan cabangnya.

6 b.4 Gambar 3 Anatomi Usus besar 5 4 .5 inci) tetapi makin dekat anus diameternya semakin kecil.5 m (5 kaki) yang terbentang dari sekum hingga kanalis ani. Diameter usus besar sekitar 6.5 cm (2. Usus Besar Usus besar atau kolon berbentuk tabung muskular berongga dengan panjang sekitar 1.Gambar 2 Vaskularisasi darah yang menyuplai jejunoileum dan bagian distal duodenum yang berasal dari arteri mesenterika superior.

Tempat kolon membentuk kelokan tajam pada abdomen kanan dan kiri atas berturut-turut disebut sebagai fleksura hepatika dan fleksura lienalis. Lekukan bagian bawah membelok ke kiri sewaktu kolon sigmoid bersatu dengan rektum. 4 Innervasi dan persarafan Usus besar secara klinis terbagi atas belahan kiri dan kanan berdasarkan pada suplai darah yang diterima. desenden dan sigmoid. yaitu sekum. Pada sekum terdapat katup ileosaekal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum. 4 5 . Suplai darah tambahan ke rektum berasal dari arteri hemoroidalis media dan inferior yang dicabangkan dari arteri iliaka interna dan aorta abdominalis. kolon asenden dan 2/3 proksimal kolon tranversum) dan arteri mesenterika inferior memperdarahi belahan kiri (1/3 distal kolon tranversum. Satu inchi terakhir dari dari rektum disebut sebagai kanalis ani dan dilindungi oleh otot sfingter ani eksternus dan internus.Usus besar dibagi menjadi 3 bagian. Sekum menempati sekitar dua atau tiga inci pertama dari usus besar. transversum. Kolon dibagi menjadi kolon asenden. Arteri mesenterika superior memperdarahi belahan kanan (sekum. Katup ileosaekal mengendalikan aliran kimus dari ileum ke dalam sekum dan mencegah terjadinya aliran balik bahan fekal dari usus besar ke dalam usus halus. Bagian terakhir usus besar adalah rektum dan membentang dari kolon sigmoid hingga anus. kolon desenden. kolon dan rektum. kolon sigmoid dan bagian proksimal rektum). Kolon sigmoid mulai setinggi krista iliaka dan membentuk lekukan berbentuk „S‟.

vena mesenterika inferior dan vena hemoroidalis superior (bagian sistem portal yang mengalirkan darah ke hati). Serabut parasimpatis berjalan melalui saraf vagus ke bagian tengah kolon tranversum dan saraf pelvikus yang berasal dari daerah sakral menyuplai bagian distal. Serabut simpatis meninggalkan medulla spinalis melalui saraf splangnikus.Gambar 4 Arteri dan Vena yang menyuplai colon7 Aliran balik vena dari kolon dan rektum superior adalah melalui vena mesenterika superior. 4 Persarafan usus besar dilakukan oleh sistem saraf otonom dengan perkecualian sfingter eksterna yang berada dalam pengendalian voluntar.4 6 .

serupa dengan penyerapan glukosa dan galaktosa. Yang paling banyak adalah lecitin dan predominan asam lemak adalah linoleat dan arachidonat. Yang dicerna dan diserap bukan hanya protein dari makanan. tetapi protein dari endogen yang masuk ke lumen saluran pencernaan.III. Penyerapan sebagian vitamin juga dapat dilakukan oleh 7 . Setiap hari. FISIOLOGI Terdapat 4 fungsi dari usus halus yaitu : 1. 2-8 phospolipid dicerna. sedangkan vitamin larut-lemak diangkut dalam sel dan diserap secara pasif bersama dengan produk akhir pencernaan lemak.8  Penyerapan Protein. Diet trigliserida terdiri dari sejumlah besar oleate dan palmitat sebagai asam lemak. Karena lemak tidak larut dalam air.8  Penyerapan lemak. Vitamin larut dalam air diserap secara pasif bersama. Sebagian besar lemak diabsorbsi pada setengah awal dari jejunum. 9 Penyerapan garam dan air9 Penyerapan vitamin. Asam amino diserap menembus sel usus melalui transpor   aktif sekunder (transport Na+). tetapi penyerapan yang sempurna terjadi ketika monosacarida telah terbentuk di usus halus dengan bantuan pakreatik amilase dan enzim lainnya. Asam amino yang diserap dari makanan dan protein endogen digunakan untuk mensintesis protein baru di tubuh. Protein yang disajikan ke usus halus untuk diserap terutama dalam bentuk asam amino dan beberapa fragmen peptida kecil. Penyerapan  Penyerapan karbohidrat dimulai dengan aktivitas salivary amilase. langkah awal yang paling penting dari pencernaan ini adalah emulsifikasi.

Motilitas Motilitas usus halus beregulasi dengan mekanisme neuroluminal. difusi pasif. mencampur dan mendorong kimus secara perlahan. Beberapa mekanisme sekretori aktif ketika mekanisme lainnya pasif.8 3. Vitamin B12 bersifat unik. pembawa dan pompa berlokasi di membran epitel yang berpartisipasi dalam proses absorbsi. Sedangkan nutrien meliputi 4 trasport yaitu transpor aktif. 9 2.8 4. selain yang masuk melalui pilorus atau spinkter Oddi.9 Gerakan ini terjadi rata-rata 1216 kali per menit di daerah yang berisi kimus. Elektrolit meliputi absorbsi potasium. Absorbsi Meliputi absorbsi cairan. Gerakan ini akan 8 . Gerakan ini merupakan metode motilitas utama usus halus. Pada usus halus juga terdapat kontraksi segmental yang merupakan kontraksi lokal dari lapisan otot sirkuler. Channel. yang dimana sekitar 9 liter cairan diabsobsi setiap harinya. Peristaltik merupakan gerakan koordinasi yang menggerakkan usus. klorida dan kalsium.pembawa. Sekresi Usus mensekresi air dan elektrolit melalui mekanisme kontrol neural dan humoral bersama dengan mekanisme absorbsi. bila diperlukan. dan endositosis. Sedangkan sejumlah kalsium yang diserap juga diatur yang sebagian besar dilaksanakan melalui proses transportasi aktif dan sebagian lagi melalui difusi aktif. facilitated diffusion. Refleks peristaltik diawali dengan relaksasi descenden pada bagian atas usus dan kontraksi proksimal yang dipicu oleh substansi asetilkolin dan P. Penyerapan besi ke dalam darah melalui 2 tahap yaitu penyerapan besi dari lumen ke dalam sel epitel usus dan dari sel epitel ke dalam darah. vitamin ini harus berikatan dengan faktor intrinsik lambung agar dapat diserap di ileum terminal oleh mekanisme transportasi khusus. elektrolit dan nutrien. 9  Penyerapan besi dan kalsium.

Gerakan massa merupakanm aktivitas konraktil yang kuat yang menyapu sepanjang kolon tranversum dan descenden tiap beberapa jam sehari. 8 3. Setiap 90 menit gelombang kontraksi ini bermulai di duodenum dan berjalan ke usus halus sampai kolon. yang dibentuk dari fermentasi bakteri oleh karbohidrat dan selulosa dan diabsorbsi melalui transpor pasif. CCK. gerakan massa dan peristaltik retrograd. Kolon juga mengabsorbsi asam lemak rantai pendek.8 2. dimana 600 ml diabsorbsi oleh kolon.mencampur kimus bersama jus percernaan dan akan bersentuhan dengan mukosa. Sekresi. gastrin dan gastrin-releasing peptide. 8 Sedangkan pada usus besar juga terdapat 4 fungsi yaitu : 1. Sekitar 200 -400 mEq sodium yang diabsorbsi setiap hari. 8 4.absobsi sodium dilakukan oleh transpor elektrogenik. Kontraksi usus halus distimulasi oleh sejumlah peptida termasuk substansi P. Fungsi endokrin8 9 . Motilitas Tiga tipe aktivitas motor pada usus besar terdiri dari gerakan segmentasi. Segmentasi merupakan gerakan yang paling sering muncul pada aktivitas motor dan terdiri dari kontraksi annular segmental yang menggerakkan usus dalam 2 arah. Absorbsi Sekital 800 ml air masuk ke dalam kolon setiap harinya. Refleks ini disebut housekeeper potential. Sedangkan peristaltik retrograd dimulai pada kolon tranversum dan bergerak secara proksimal ke kolon kanan. motilin. Kolon menyekresi bikarbonat dan potasium.

pada orang tua sangat jarang dijumpai. DEFINISI Invaginasi ialah suatu keadaan masuknya suatu segmen usus ke segmen bagian distalnya yang umumnya akan berakhir dengan obstruksi usus strangulasi. colo-colica dan appendical-colica. Kombinasi lain dapat terjadi seperti ileo-ileo colica. EPIDEMIOLOGI Invaginasi paling sering menyebabkan obstruksi usus pada anakanak antara 3-6 tahun. 10 Invaginasi terjadi karena adanya sesuatu di usus yang menyebabkan peristaltik berlebihan. Invaginasi dapat menyebabkan obstruksi usus baik partial maupun total. polip. misalnya ileo-ileal menunjukkan invaginasi hanya melibatkan ileum saja. 3 Pemberian nama invaginasi bergantung hubungan antara intussusceptum dan intussuscipiens. Bagian usus yang masuk disebut intussusceptum dan bagian yang menerima dinamakan intussuscipiens. Biasanya bagian proksimal masuk ke distal dan jarang terjadi sebaliknya. hanya 5% yang mempunyai kelainan pada ususnya sebagai penyebabnya.IV. misalnya diiverticulum Meckeli.10Daerah yang secara anatomis paling mudah mengalami invaginasi adalah ileo coecal. dimana ileum yang lebih kecil dapat masuk dengan mudah ke dalam coecum yang longgar. 3 V. Oleh karena itu. Ileo-colica berarti ileum sebagai intussusceptum dan colon sebagai intussuscipiens. akan terbentuk obstruksi pada usus besar dimana dinding usus akan menekan bagian lainnya. Pada kebanyakan kasus pada orang tua dapat diketemukan penyebab yang jelas. Lebih dari 90 % adalah idiopatik2 . Sedangkan invaginasi pada dewasa terutama disebabkan oleh tumor. invaginasi disebut juga intussusception. Ileo-colica yang 10 . biasanya terjadi pada anak-anak tetapi dapat juga terjadi pada dewasa. umumnya tumor yang membentuk ujung dari intususeptum. hemangioma. Pada anak-anak 95% penyebabnya tidak diketahui. Saat invaginasi terjadi. Perbandingan kejadian antara pria dan wanita adalah 3 : 2 .

invaginasi cukup jarang terjadi. ETIOLOGI Invaginasi adalah keadaan yang umumnya terjadi pada anak-anak. polip.paling banyak ditemukan (75%). Dalam populasi anak-anak. inflamasi pada apendiks juga pernah dilaporkan invaginasi terjadi pada penderita AIDS. Sebab terbanyak invaginasi pada usus halus adalah neoplasma yang bersifat jinak (diverticle meckel‟s. gizi baik dan dalam pertumbuhan optimal. Ada yang menghubungkan terjadinya invaginasi karena gangguan peristaltik. Anak lelaki lebih banyak daripada perempuan. Pada umur 5-9 bulan sebagian besar belum diketahui penyebabnya. Etiologi lainnya yang frekuensinya lebih rendah seperti tumor extra lumen seperti limfoma. Dan sebagian besar invaginasi pada colon bersifat malignant (60%). lain-lain 10%. polip) 12/25 kasus sedangkan pada kolon adalah bersifat ganas (adenocarsinoma)14/16 kasus. 3 Menurut kepustakaan 90-95% invaginasi terjadi pada anak dibawah 1 tahun akibat idiopatik. Penderita biasanya bayi sehat. menyusui. paling banyak 5. trauma tumpul abdomen yang tidak dapat diterangkan sebab terjadinya dan idiopatik. 2 VI. Pada anak dengan umur > 2 tahun disebabkan oleh tumor seperti limfoma. Invaginasi sering dijumpai pada umur 3 bulan – 2 tahun. hemangioma dan divertikel Meckeli. yaitu suatu neoplasma baik yang bersifat jinak dan atau ganas. dan merupakan kejadian yang jarang terjadi pada dewasa. ileo-ileo colica 15%.9 bulan. sekitar 90 % invaginasi pada orang dewasa disertai dengan lesi patologis pada dinding usus. Invaginasi pada dewasa kausa terbanyak adalah keadaan patologi pada lumen usus. kurang dari 5 % dari obstruksi usus. Prevalensi penyakit diperkirakan 1-2 penderita di antara 1000 kelahiran hidup. paling jarang tipe appendical-colica. riwayat pembedahan abdomen sebelumnya. 11 . diare. 10% didahului oleh pemberian makanan padat dan diare. Penelitian terbaru menunjukkan 30 % dari invaginasi pada usus halus disebabkan oleh keganasan. 10 Pada dewasa. 3 : 1.

sehingga digolongkan sebagai infantile idiophatic intususeption. Ileocolica.11 VII. 3 Gambar 6 Etiologi umum sebagai penyebab terjadinya invaginasi dan prevalensinya. perubahan pola makan dicurigai sebagai penyebab invaginasi. PATOFISIOLOGI Invaginasi diklasifikasikan berdasarkan lokasi dan penyebabnya yaitu : 12   Lokasi : ileoileal. Ileocecal dan Colocolica Penyebab : neoplasma. non-neoplasma dan idiopatik 12 .Penyebab lain akibat pemberian anti spasmolitik pada diare non spesifik. Sedangkan pada anak-anak umur kurang dari 1 tahun. Pada umur 4-9 bulan terjadi perubahan diet makanan dari cair ke padat. tidak dijumpai kelainan yang jelas sebagai penyebabnya.

13 Secara umum. Kebanyakan invaginasi tidak menimbulkan 13 . sering disertai suatu lekukan pada permukaan serosa yang menggambarkan asal dari kerusakan tersebut. kadang–kadang mengandung mukus (lendir). selanjutnya terjadi pembengkakan invaginasi terjadi akibat edema dan perdarahan mukosa yang menghasilkan tinja mengandung darah. intususipien s intususeptum Gambar 7 Proses skematik invaginasi. intususipiens sambil menarik mesenteriumnya bersama-sama memasuki lumen yang pembungkusnya. Setelah suatu invaginasi idiopatik dilepaskan. diperkirakan terdapat lesi pada dinding usus atau iritasi dalam lumen yang mempengaruhi aktivitas peristaltik normal usus yang dapat memicu terjadinya invaginasi. Pada mulanya terdapat suatu konstriksi mesenterium sehingga menghalangi aliran balik vena. invaginasi terjadi karena bagian atas usus yang disebut intususeptum mengalami invaginasi ke bawah. Tempat yang paling sering terjadi invaginasi adalah pada peralihan antara segmen yang bebas bergerak dan retroperitoneal atau segmen adhesi. Puncak dari invaginasi dapat terbentang hingga kolon tranversum desendens dan sigmoid bahkan ke anus pada kasus yang terlantar.Mekanisme invaginasi sebenarnya belum diketahui. maka bagian usus yang membentuk puncaknya tampak edema dan menebal.

yang seringkali disertai muntah. 14 VIII. gejala yang timbul seringkali tidak jelas dan membingungkan sampai terjadi invaginasi yang menetap. dan kemudian menghilang sama sekali. Pada banyak kasus ditemukan pengeluaran darah dan lendir melalui rektum. dan kadang-kadang juga diare. terutama pada saat serangan. harus dipikirkan kemungkinan intususepsi. Ini terutama terdiri dari serangan kolik yang berulang. 3 14 . diagnosis hampir dapat ditegakkan.strangulasi usus dalam 24 jam pertama. Gejala-gejala lain yang juga mungkin didapatkan adalah tenesmus dan anoreksia. dan kegagalan yang berulang-ulang dalam usaha menegakkan diagnosis dengan pemeriksaan radiologis dan pemeriksaan-pemeriksaan lain. yang dapat mulai timbul setelah 24 jam setelah terjadinya invaginasi berupa nyeri perut dan terjadinya distensi setelah lebih 24 jam ke dua disertai keadaan klinis lainnya yang hampir sama gambarannya seperti invaginasi pada anak-anak.3 Pada kasus intususepsi yang berlangsung khronis. Rasa sakit berhubungan dengan passase dari invagiasi. Adanya gejala obstruksi usus yang berulang. Massa abdomen dapat diraba pada kebanyakan kasus. Dengan adanya serangan kolik yang makin bertambah dan mencapai puncaknya. bayi atau orang dewasa dapat sama sekali bebas dari gejala. Diantara satu serangan dnegan serangan berikutnya. namun kadang-kadang ini juga tidak ditemukan. GAMBARAN KLINIS Rasa sakit adalah gejala yang paling khas dan hampir selalu ada.3 Gambaran klinis intususepsi dewasa umumnya sama seperti keadaan obstruksi usus pada umumnya. tetapi selanjutnya mengakibatkan gangren usus dan syok. Pada orang dewaasa sering ditemukan perjalanan penyakit yang jauh lebih panjang.

15 IX. Anamnesis Anamnese dengan keluarga dapat diketahui gejala-gejala yang timbul dari riwayat pasien sebelum timbulnya gejala. anak mengangkat kedua tungkainya sampai ke abdomen. DIAGNOSIS Diagnosis invaginasi didasarkan pada anamnesis dan pemeriksaan fisis dan dipastikan dengan pemeriksaan rontgen dengan enema barium. disertai hiperextensi Feses yang bercampur darah dan mukus (kadang-kadang berbentuk sebagai feses “currant jelly”) Perut kembung. biasanya berlangsung tiap 15-20 menit. diberi makanan padat padahal umur anak dibawah 4 bulan. vomit (80%) Penurunan BB (10%) Akut (24 jam). Sedangkan pada dewasa tergantung dari penyebabnya atau penyakit yang mendasarinya.Tanda dan gejala invaginasi  Anak Nyeri abdomen berat yang hilang timbul (intermiten). Pada saat serangan. intermiten/kronik (5 tahun)           Tabel 1 Perbedaan manifestasi klinis invaginasi pada anak dan dewasa.10 15 . Distended abdomen Muntah Diare Demam Dehidrasi Letargi Dewasa        Tidak spesifik tetapi biasanya terdapat gejala : Nyeri abdomen intermiten/kronik (70-90%) Perubahan pola defekasi Urgency Perdarahan rektum (30%) tegang pada abdomen (1040%) Pembengkakan abdomen. misalnya pada anak perlu ditanyakan riwayat sebelum sakit. anak ada riwayat dipijat. 1. tau teraba massa „shiffting mass’ atau sausage shape (24-42%) Nausea.

16 16 . dan menjadi normal kembali di luar serangan. Pemeriksaan ini dikontraindikasikan jika terdapat perforasi usus atau iskemik. terdapat feses pada handscoen. Pada seri pemeriksaan pencernaan bagian atas dapat ditemukan gambaran “stacked coin” atau “coiled spring‟‟.  Perkusi pada tempat invaginasi terkesan suatu rongga kosong yang disebut Dance‟s Sign.  Colok dubur memperlihatkan darah lendir. dan kadang-kadang teraba pseudo-portio bila invaginasi sudah mencapai recto-sigmoid. Penggunaan kontras dapat membantu mendeteksi lokasi dan penyebab invaginasi. Pemeriksaan Fisis 10. Pemeriksaan X-ray abdomen merupakan pemeriksaan awal yang dapat dilakukan dan menunjukkan tanda obstruksi usus. PEMERIKSAAN PENUNJANG Terdapat banyak pemeriksaan radiologik yang dapat membantu dalam mendiagnosis lesi preoperatif pada kasus ini. 16  Pada palpasi dapat teraba sausage shape atau massa yang berpindah „shiffting mass’ pada 24%-42% penderita. Massa tumor sukar diraba bila berada di belakang hati atau pada dinding yang tegang. Suatu massa dengan lekukan dan posisinya mengikuti garis usus colon ascendens sampai ke sigmoid dan rektum.2. Pemeriksaan radiologik dengan menggunakan barium enema berguna pada pasien invaginasi ileocolica dengan karakteristik ditemukan gambaran filling defect berupa “cup shaped”. X.  Pada auskultasi didapatkan bising usus terdengar meninggi selama serangan kolik.

intussusceptum (panah putih) and intussuscipiens (panah hitam). Gambar 9Penampilan ultrasonographic pada invaginasi.6 Pemeriksaan ultrasonografi dan CT sebaiknya dilakukan sebagai test diagnostik. invaginasi dilihat dari arah transversum menampilkan gambaran hiperechoic pada bagian tengah dengan pinggiran hipoechoic yang dikenal sebagai lesi target atau doughnut sign. Sedangkan jika foto diambil dari 16. 19 17 .(A) (B) Gambar 8 (A)Foto X-Ray menggunakan barium enema menunjukkan filling defect pada caecum sebagai invaginasi ileocolica17 (B) pemeriksaan barium pada invaginasi jejunojejunal. Pada ultrasonografi. 18 arah longitudinal menampilkan gambaran „pseudokidney sign‟.

Atau dilakukan tindakan reposisi dengan barium enema bila tidak terdapat kontraindikasi misalnya perforasi atau iskemik. 18 . khususnya pada pasien anak-anak 3. yaitu : 1. Rehidrasi. Pemasangan Nasogastric tube untuk dekompresi dan mencegah aspirasi 2. dilakukan tindakan pembedahan. Obat-obat penenang untuk penahan sakit 4.Gambar 10 CT image pada invaginasi (panah)19 DIAGNOSIS BANDING 20       Prolaps rektum Meckel‟s diverticulum Polip pada ileum dan colon Benign hamartoma Submucosal hematoma Inverted appendiceal stump XI. Setelah keadaan umum baik. bila jelas terdapat tanda-tanda obstruksi usus. XII. PENATALAKSANAAN Tindakan perbaikan keadaan umum mutlak perlu dilakukan sebelum melakukan tindakan apapun.

Hanya sedikit kemungkinan terjadi perforasi walaupun usus telah mengalami gangren. Bayangan kontras dalam bentuk cupping tidak mencapai ileum terminalis sehingga memerlukan operasi. misalnya pada umur kurang 3 bulan dan invaginasi ileo-ileal. terpaksa diadakan reposisi operatif. barium enema sudah dipergunakan untuk pengobatan invaginasi dan hasilnya memuaskan. dengan kelebihan yang disebut tadi. 21 Jika reposisi konservatif ini tidak berhasil. 22 Tindakan operasi merupakan penatalaksanaan standar pada invaginasi yang terjadi pada dewasa tanpa didahului oleh tindakan reduksi. Invaginasi bila mungkin direduksi intraabdominal dengan melakukan milking mulai dari usus distal sampai ke usus bagian proksimal. masing-masing 81% pada umur kurang 1 tahun dan 15% pada usia kurang 3 bulan Kadang-kadang reposisi barium tidak berhasil. Batas reseksi pada umumnya adalah 10cm dari tepi – tepi segmen usus yang terlibat. Milking merupakan suatu tindakan pembedahan dengan cara melakukan massage manual dengan mendorong inavaginatum secara perlahan dan terus menerus tanpa tarikan dari distal usus yang mengalami invaginasi ke arah proksimal sampai terjadinya reduksi ke posisi normalnya. pendapat lainnya pada sisi proksimal minimum 30 cm dari lesi. Reseksi usus dilakukan apabila pada kasus yang tidak berhasil direduksi dengan cara manual. Survival rate 55%.Sejak 1876. asal tekanan hidrostatik tidak melebihi 1 meter. sehingga lebih mudah terjadi ruptur usus. Demikian pula lamanya perawatan pada reposisi barium lebih pendek daripada operasi. bila viabilitas usus diragukan atau ditemukan kelainan patologis sebagai penyebab invaginasi. Milking dilakukan secara perlahan terutama pada bagian proksimal usus yang invaginasi. bila tidak mungkin maka dilakukan enterostomi. Setelah usus direseksi dilakukan anastomose end to end apabila hal ini memungkinkan. Sewaktu operasi akan dicoba reposisi manual yaitu reduksi intraabdominal ). Sebaliknya dengan reduksi manual pada operasi ternyata lebih bersifat traumatik. 20 19 . di Skandinavia reposisi barium lebih banyak digunakan. 3.

baik dari ulserasi ileum atau dari trauma mekanik yang menyebabkan invaginasi    Obstruksi yang bisa menyebabkan perforasi Septikemia Syok 20 . dianjurkan reseksi awal tanpa reduksi. Pada pasien dengan invaginasi usus halus. 22 XIII. 30 tahun dengan invaginasi jejunojenunal yang dilakukan tindakan laparoskopi explorasi 2 Pada beberapa kasus invaginasi jenis ileocolica. khususnya pada pasien umur diatas 60 tahun karena pada umur ini insiden keganasan cukup tinggi.Gambar 11 Gambaran laparoscopik pada pasien wanita. Pada lesi usus yang jinak tanpa disertai adhesi dianjurkan reseksi untuk mencegah terjadinya invaginasi yang berulang. ileocecolic dan colocolic. KOMPLIKASI 23  Perdarahan Gastrointestinal. tindakan reduksi cukup dianjurkan jika hanya sedikit terdapat tanda iskemik atau inflamasi atau keganasan.

bisa timbul beberapa komplikasi berat.20 21 . PROGNOSIS Jika invaginasi terlambat atau tidak diterapi. Angka kematian pada invaginasi adalah sekitar 1% walaupun dengan kemajuan pengobatan dan meningkatnya kewaspadaan terhadap penyakit ini dapat menurunkan angka kematian.XIV.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful