You are on page 1of 5

MITIGASI BENCANA TSUNAMI BERBASIS KEMAMPUAN LOKAL

Oleh Mahatma Lanuru


(Dosen Oseanografi dan Dinamika Pantai, Jurusan Ilmu Kelautan UNHAS)

Peristiwa bencana gempa yang menimbulkan tsunami di Jepang mengingatkan kita kembali pada bencana tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004. Bencana tsunami di Aceh merupakan salah satu bencana pesisir terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah yang menewaskan lebih dari 200.000 orang. Sejak terjadinya tsunami Aceh tahun 2004, istilah tsunami mulai dikenal luas masyarakat indonesia dan sejak saat itu pula Pemerintah dan masyarakat Indonesia semakin waspada akan ancaman tsunami dan menyadari perluanya upaya mitigasi untuk meminimalkan korban dan kerugian yang ditimbulkan oleh bencana tsunami. Tsunami terjadi karena adanya gangguan impulsif pada volume air laut akibat terjadinya deformasi (perubahan) pada dasar laut secara tiba-tiba. Penyebab deformasi pada dasar laut dapat berupa gempa tektonik, letusan gunung api atau longsoran di dasar laut. Dari ketiga jenis tersebut, gempa tektonik bawah lautlah merupakan penyebab paling sering menimbulkan tsunami (sekitar 85%). Namun perlu dingat bahwa tidak semua gempa bawah laut menimbulkan tsunami. Tsunami biasanya terjadi bila terjadi gempa didasar laut yang berkekuatan lebih dari 6,5 Skala Ricter, pusat gempanya termasuk dangkal (antara 0-30 km dari dasar laut), dan bila sesar (fault) yang terjadi merupakan sesar naik dengan deformasi vertikal dasar laut relatif besar. Di lokasi pembentukan tsunami (daerah episentrum gempa) tinggi gelombang tsunami diperkirakan antara 1,0 m dan 2,0 m. Namun selama perambatannya dari tengah laut (pusat terbentuknya tsunami) menuju ke pantai, tinggi gelombang menjadi semakin besar hingga puluhan meter karena pengaruh perubahan kedalaman dan efek gesekan dasar/tahanan yang semakin besar dari dasar laut

setelah di pantai, dan karena terjadi penumpukan masa air saat mencapai pantai. Dampak negatif yang diakibatkan tsunami setelah tiba di pantai adalah merusak rumah/bangunan, prasarana, tumbuhtumbuhan dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, kontaminasi air asin lahan pertanian, tanah dan air bersih. Upaya Mitigasi Indonesia dikelilingi pantai rawan tsunami karena posisi geografisnya yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yaitu lempeng Eurasia di Utara, lempeng Indo-Australia di selatan, lempeng Pasifik di timur. Pertemuan lempeng ini adalah Catatan riwayat tsunami yang artinya lokasi gempa-gempa yang besar dan berada di lautan yang berpotensi membangkitkan gelombang tsunami. menunjukkan bahwa ada 22 kejadian tsunami yang melanda kawasan pesisir dan laut Indonesia sejak 1961 hingga 2006, (Diposaptono dan Soesilo, 2007), Fakta dilapangan menunjukkan bahwa masyarakat pesisir kita belum terlalu siap menghadapi tsunami yang bertubi-tubi itu. Setiap kali tsunami datang kita selalu dilanda kepanikan dan kebingungan. Karena upaya mitigasi yang minim, banyak kerugian dan korban jiwa yang senantiasa jatuh akibat tsunami tersebut. Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk melindungi pantai kita dari terjangan tsunami. Idealnya, menggunakan mitigasi yang komprehensif, yaitu dengan mengombinasikan secara fisik dan non fisik. Pembuatan bangunan peredam tsunami seperti dike (tanggul) atau breakwater (pemecah ombak), shelter, dan bukit buatan (artificial hill) bisa menjadi salah satu alternatif namun butuh teknologi dan biaya yang tinggi. Kondisi masyarakat pesisir kita yang masih tradisional dan keterbatasan dana yang tersedia, maka langkah-langkah mitigasi yang berbasis pada kemampuan masyarakat lokal mungkin lebih efektif bahwa tsunami menghampiri pantai kita setiap sekitar 2 tahun

untuk diterapkan. Keterampilan masyarakat mengantisipasi bencana menentukan dalam upaya penurunan risiko timbulnya korban dalam bencana tsunami. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membuat peta rawan bencana yang dibuat oleh masyarakat sendiri dengan teknologi sesederhana mungkin sehingga mereka sadar dan mengerti bahwa tempat tinggalnya berada di daerah rawan tsunami. Langkah berikutnya melatih dan memberi penyuluhan tentang berbagai hal yang terkait dengan tsunami mulai dari gejala atau ciriciri tsunami, dampaknya, hingga upaya evakuasi dan penyelamatan diri. Metode penyampaiannya perlu dilakukan dengan cara yang menarik dan melalui media yang merakyat. Melibatkan tokoh-tokoh agama dalam penyuluhan merupakan metode yang cukup efektif karena pengaruh tokoh-tokoh agama di tengah masyarakat yang demikian mengakar dan relatif dipercaya. Upaya lainnya adalah menanam berbagai pohon seperti mangrove, kelapa, ketapang, cemara laut, waru laut, dan vegetasi pantai lainnya di pantai yang gundul. Upaya ini tergolong murah dan terbukti efektif dalam meredam kekuatan tsunami yang merambat hingga ke daratan. Selain itu, benda-benda yang berada di pantai seperti kapal dan perahu bisa tertahan oleh vegetasi ini sehingga jumlah korban dan kerusakan bagunan lainnya bisa diperkecil. Banyak warga juga tertolong jiwanya dari bencana tsunami dengan cara berpegangan di pohon lalu naik ke atas. Upaya mitigasi lain dengan pola adaptif, rumah-rumah penduduk di tepian pantai harus memiliki struktur kuat sehingga tahan terhadap goncangan gempa. roboh oleh terjangan tsunami. Yang tidak kalah pentingnya adalah membangun sistem deteksi dini (early warning system) tsunami. Sistem peringatan dini ini biasanya dikaitkan dengan alat/instrumen deteksi tsunami yang Rumah panggung baik terbuat dari kayu maupun beton bisa menjadi alternatif karena tidak mudah

mampu secara cepat membaca kenaikan gelombang laut tiba-tiba yang disebabkan oleh gempa bumi. Sistem peringatan dini tsunami berbasis teknologi di Indonesia saat ini masih lemah, terutama dalam proses penyebarluasan peringatan dini kepada masyarakat. Hal ini disebabkan oleh minimal tiga faktor, yaitu (1) penyebarluasan peringatan dini melalui televisi tidak menjangkau pulau-pulau kecil dan terpencil, (2) fasilitas listrik dan jaringan telekomunikasi yang mendukung sistem peringatan dini sangat terbatas di pulau-pulau kecil dan terpencil, dan (3) sistem peringatan dini tidak banyak membantu jika interval waktu antara gempa dan tsunami sangat singkat. Sebagai contoh, kasus tsunami Kabupaten Kepulauan Mentawai, bulan Oktober 2010 lalu, peringatan dini potensi tsunami dikeluarkan BMKG empat menit setelah gempa namun sayang peringatan dini tersebut belum tentu sampai kepada masyarakat di bawah. tidak banyak membantu. Keterbatasan itu bisa diatasi jika masyarakat di daerah rawan bencana memiliki keterampilan mengantisipasi tsunami. Keterampilan itu sebenarnya ada dalam kearifan lokal di setiap wilayah. Salah satu contohnya adalah cerita smong dari Pulau Simeulue, Aceh. Nga linon fesang smong, demikian kepercayaan masyarakat setempat, yang artinya setelah gempa besar akan datang tsunami. Pengetahuan ini nyatanya menjadi penyelamat warga Simeulue saat terjadi tsunami pada 26 Desember 2004. Hanya tujuh orang yang meninggal di pulau itu akibat bencana tersebut. Dahulu masyarakat pesisir tahu, jika pantai surut mendadak orang harus lari ke bukit. Kini pengetahuan lokal itu telah terkikis. Sementara sistem peringatan dini modern berbasis teknologi masih sulit mencegah timbulnya korban. Idealnya, ilmu pengetahuan dan pengetahuan lokal harus dipadukan menjadi keterampilan antisipasi Selain itu, di Mentawi, tsunami biasanya sampai ke pantai lima menit setelah gempa sehingga peringatan dini

tsunami. Kearifan lokal itu harus digali lagi dan menjadi tugas kita semua untuk menemukan kembali kearifan lokal itu.