Refleksi Teologis

ALLAH TRITUNGGAL ( TRINITY ) "Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu."( I Yohanes 5:7)

Salah satu keunikan Kekristenan adalah kepercayaan terhadap Allah Tritunggal, yang tidak ada pada agama-agama lain. Doktrin yang begitu jelas diajarkan dalam Alkitab ini selalu menjadi kesulitan yang besar bagi orang Kristen maupun bukan Kristen. Memang secara terminologi istilah ini tidak muncul dalam Alkitab. Namun seluruh Alkitab mengandung ajaran yang penting ini.Melalui penganiayaan dan tantangan dari ajaran, baik filsafat maupun bidat-bidat, mengakibatkan selama beratus-ratus tahun gereja abad permulaan menginstropeksi ke dalam iman yang sudah dimiliki sehingga menemukan pengertian Allah Tritunggal yang sedalam-dalamnya. Doktrin ini sudah diteguhkan pada jaman Agustinus untuk menjadi dasar pengajaran gereja segala abad.

Agama Kristen mempunyai konsep Tritunggal yang tidak dimiliki oleh agama lain. Agama Hindu mempunyai 3 (tiga) ilah yang paling tinggi, yaitu : Brahma, Wisnu dan Syiwa. Tetapi konsep ini sama sekali berbeda dari konsep Tritunggal Kristen.Kekristenan bukan percaya kepada 3 Allah, melainkan kepada satu Allah (esa) yang mempunyai 3 pribadi. Ketiga oknum Allah dalam Allah Tritunggal tidak dicipta. Ketiganya berada dari kekal sampai kekal.Kristus selaku Oknum Kedua Allah Tritunggal, tidak lebih rendah dari Allah Bapa yang adalah Oknum Pertama Allah Tritunggal. Roh Kudus, bukanlah suatu Kuasa atau Hukum Alam yang dipakai oleh Allah di dalam segala karya-Nya, melainkan Diri Allah itu sendiri, yaitu Allah Oknum Ketiga. Kristus bukanlah sebutan bagi Allah Oknum Pertama pada saat datang kedunia, sehingga Ia menjadi Oknum Kedua. Juga salah jika kita mengerti bahwa setelah Kristus kembali ke surga, Ia turun lagi ke dunia sebagai Oknum Ketiga, yaitu Roh Kudus. Roh Kudus bukanlah Kristus, dan Kristus bukanlah Allah Bapa.Allah Tritunggal merupakan doktrin, ajaran yang sedemikian unik di dalam Kekristenan. Doktrin ini merupakan suatu konsep yang tidak ada pada agama-agama lain, bukan suatu konsep yang ditarik sebagai kesimpulan dari hasil pikiran manusia melalui kemampuann rasio yang diciptakan oleh Allah, tetapi hal ini adalah suatu konsep yang tidak dapat dihindari oleh manusia karena Allah telah demikian menyatakan Diri, memperkenalkan Diri-Nya kepada manusia. Allah yang benar adalah Allah yang tidak terbatas, Allah yang melampaui segala sesuatu, Allah Yang Esa, Allah yang tidak ada bandingnya, dan Allah yang menyatakan diri sebagai Allah Tritunggal. Istilah Tritunggal memang tidak ada di dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Prjanjian Baru. Yang tidak muncul di dalam Alkitab secara istilah bukan berarti bukan konsep Alkitab. Sebaliknya, istilah yang muncul di dalam Alkitab jika ditafsir secara keliru menjadi bukan kebenaran Firman Tuhan. Faktanya, konsep atau doktrin Tritunggal ini terus-menerus muncul di dalam Alkitab. Tritunggal berarti Tiga Pribadi di dalam Satu Allah, atau di dalam satu esensi diri Allah, ada 3 Pribadi. Sebelum abad pertengahan, gereja di Timur (Yunani Orthodox) dan Barat (Roma Khatolik) mempunyai pengertian yang sangat berbeda dalam hal ini. Di Timur Gereja Orthodox banyak dipengaruhi oleh filsafat-filasafat Yunani, di Barat Gereja Katolik banyak dipengaruhi oleh pikiran-pikiran Latin. Ini mengakibatkan adanya dua cara pendekatan yang berbeda, yang akhirnya menimbulkan dua pandangan ekstrim terhadap doktrin Allah Tritunggal yaitu : 1. Pandangan yang menganggap adanya tiga Allah 2. Pandangan yang mengangap adanya satu Allah yang menyatakan diri di dalam tiga pribadi yang berbeda. Doktrin Allah Tritunggal adalah doktrin Monotheisme (percaya hanya kepada 1 Allah), dan bukan politheisme (percaya kepada banyak allah). Doktrin Allah Tritunggal termasuk monotheisme, yang percaya kepada Allah Yang Maha Esa. Dan Allah Yang Maha

Esa itu mempunyai 3 pribadi, bukan 1 pribadi yaitu : Pribadi pertama adalah Allah Bapa, Pribadi Kedua adalah Allah Anak (Yesus Kristus), dan Pribadi Ketiga adalah Allah Roh Kudus. Tiga Pribadi bukan berarti tiga Allah, dan satu Allah tidak berarti satu Pribadi. Tiga pribadi itu mempunyai sifat dasar atau esensi ( Yunnani = Ousia, Inggris= Substance) yang sama yaitu “Allah”. Allah Bapa adalah Allah, Allah Anak adalah Allah, dan Allah Roh Kudus adalah Allah, namun ketiganya memiliki Satu Ousia, yaitu esensi Allah. Maka Ketiga Pribadi itu adalah satu Allah. A. Konsep Allah Yang Esa Tiga hal penting mengenai konsep allah Yang Esa ini perlu kita perhatikan.

1. Pertama, konsep Allah Yang Esa ini merupakan sumbangsih terbesar dari orangorang Israel (Ibrani) kepada dunia. Inilah konsep yang terbesar yang diberikan bangsa Israel kepada dunia. Jikalau kita mempelajari sejarah bangsa Israel di jaman Perjanjian Lama, kita akan menemukan bahwa setiap suku bangsa yang tinggal di sekitar daerah Israel mempunyai dewa-dewa mereka sendiri, dan mereka menyembah lebih dari satu dewa. Mereka saling membandingkan dewa-dewa mereka, dan mereka dapat berpindah ke dewa yang mereka anggap lebih besar atau lebih hebat. Dewadewa yang terkenal pada waktu itu adalah Baal, Dagon, Asyera, Asytoret, dan banyak lagi lainnya. Dewa-dewa yang sangat banyak ini dianggap sebagai dewa-dewa pemelihara, baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, militer (dalam peperangan), maupun dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, mereka bisa berpaling memuja dan menyembah dewa-dewa yang dianggap sesuai dengan kesejahteraan yang mereka butuhkan. Tetapi bangsa Israel tidak demikian. Mereka berbeda dari bangsabangsa di sekitarnya. Orang Israel tidak mempunyai : “Kita mempunyai Allah kita, mereka (bangsa-bangsa lain) mempunyai allah mereka. Allah kita adalah Allah Israel, allah mereka bukan Allah kita”. Sebaliknya mereka mepunyai konsep : “ Allah orang Israel adalah Allah seluruh alam semesta”. Ini konsep yang sangat besar dan sangat penting. Konsep ini menerobos semua konsep agama yang ada pada saat itu. Sejak permulaan Perjanjian Lama sudah tertulis ayat seperti demikian : “Allah Yahweh yang mengadili seluruh bumi, bukankah Dia adil adanya ? “ ( Kej 18:25). Konsep ini tidak terdapat pada suku-suku bangsa yang lain. Mereka hanya bersembah sujud kepada suatu dewa atau ilah yang berhubungan dengan lingkup kesejahteraan mereka yang kecil dan terbatas. Tetapi, di dalam bangsa Israel, konsep Allah Yang Esa merupakan konsep yang bersifat universal dan supranatural. Konsep Allah Yang satu-satunya ini bukan satu untuk satu suku, melainkan satu untuk seluruh alam semesta. Konsep Allah Yang satu-satunya ini diulangi terus-menerus, sampai sebelum Musa mati, dia mengulanginya lagi sekali di dalam satu ayat yang disebut sebagai

Syamma yaitu Ayat Mas, ayat kunci untuk mengerti seluruh Taurat, yaitu Ulangan 6:4-5 : “ Dengarlah, hai Israel : TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa ! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu”. Ayat ini “ TUHAN itu Allah Yang Esa ! “ merupakan prinsip dasar untuk mengerti seluruh Taurat dan Wahyu Tuhan di dalam Perjanjian Lama. Orang Israel mengetahui bahwa segala kebajikan di dalam iman kepercayaan dimulai dengan meletakkan iman mereka di atas dasar ini : Allah itu Esa.

2. Kedua, konsep Allah Yang Esa merupakan pernyataan Allah yang serius, sehingga Dia menuntut sesuatu dari orang-orang yang menerima Wahyu Khusus ini. Allah itu Esa berarti kita tidak bisa sembarangan berserah atau menyerahkan diri kita kepada yang lain. Kita harus menyerahkan diri kita kepada Allah Yang Esa dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan segenap kekuatan serta akal budi kita untuk mengasihi Dia. Disinilah kita melihat perbedaannya dengan agama. Mengenal Allah Yang Esa mengakibatkan hidup yang bersifat totalitas. Maksudnya, seluruh hidup kita harus merupakan kesatuan di hadapan Allah. 3. Ketiga, konsep Allah Yang Esa (tidak ada yang seperti Dia) ini menjadi dasar Teologi Tritunggal di dalam mengerti sifat Allah yang :  Transenden, artinya Dia lain dari yang lain, dan Dia melampaui segala sesuatu.  Kudus atau suci, artinya kesucian-Nya tidak ada bandingnya sekaligus menjadi sumber segala kesucian  Mutlak, artinya hanya Dia satu-satunya yang melampaui segala sesuatu yang relatif.  Sempurna, artinya Dia adalah satu-satunya yang tidak berkekurangan, yang mencukupi diri-sendiri, serta menjadi sumber dari segala yang lain, dan mencukupi yang lain.  Kekal, artinya hanya Dia yang tidak mempunyai permulaan dan tidak mempunyai akhir, serta menjadi sumber dari kekekalan. Pada waktu Yesus di dunia Dia mengajarkan Doa Bapa kami dengan kata-kata, “ Bapa kami yang di Sorga, dikuduskanlah nama-Mu…” Allah Yang Esa adalah Allah yang harus dikuduskan, karena berbeda dengan yang lain. Pada waktu dewa-dewa dibandingkan dengan Allah menjadi begitu nampak kepalsuan dan kenajisannya. Pada waktu Allah Yang Esa menyatakan diri-Nya, Dia selalu menggabungkan keesaan-Nya ini dengan kekekalan-Nya, sehingga Dia berkata, “ Siapakah yang dapat kau bandingkan dengan Aku ?

Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian. Siapakah yang mengatakan dari dahulu kala hal-hal yang akan datang ? Bukankah Aku, Tuhan ? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku” ( Bdk. Yesaya 44:6-8, Yes 45:20-22, Yes 46:9-10). Pada waktu tuanya Musa juga pernah menulis Mazmur dengan kalimat-kalimat : “ Dari selamalamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah ( Mazmur 90). Engkaulah Allah yang melampaui segala ciptaan”. Allah itu Esa. Kalau Allah itu Esa, bagaimana kita bisa percaya bahwa di dalam keesaan Allah itu mempunyai tiga pribadi ? apakah ketiga Pribadi itu tidak bertentangan dengan Keesaan Allah ? sebaliknya, kalau Allah itu Tritunggal, mempunyai tiga Pribadi, bagaimana kita bisa percaya bahwa ketiga di dalam Ketritunggalan Allah itu tetap adalah Allah Yang Esa? Di dalam satu ada tiga dan di dalam tiga tetap mempunyai Keesaan. Apakah ini konsep yang terikat oleh hukum matematika dan hukum logika manusia? Tidak ! Sebab Allah adalah Allah yang transenden. Dia melampaui rasio dan logika manusia, melampaui segala sesuatu. Karena Allah adalah Allah yang bukan merupakan refleksi dari pikiran manusia tentang yang supra-natural, maka Allah tidak diikat oleh logika, tidak diikat oleh matematika dan mempunyai sifat supranatural yaitu : “transenden”. Kita telah melihat, pengertian yang salah terhadap doktrin Tritunggal. Ini bisa mengakibatkan manusia jatuh ke dalam 2 kutub ekstrim yang salah yaitu : 1. Monoteisme, yang percaya kepada satu Allah dengan Pribadi Allah dan tidak bisa menerima konsep Oknum Allah yang lebih dari satu. 2. Politheisme yang percaya kepada tiga Allah yang tidak mungkin Esa, tidak mungkin mempunyai substansi yang sama. Kedua pandangan itu sesat dan merusak pengenalan kita terhadap Allah yang benar. Untuk mencegah konsep yang salah itulah Allah terlebih dahulu menegakkan konsep dasar : “Allah itu Esa, Allah yang tunggal, Allah yang satu-satunya. Apakah ini berarti bahwa konsep Tritunggal tidak diwahyukan oleh Tuhan sejak permulaan ? Apakah konsep Tritunggal baru muncul belakangan ? Tidak ! Konsep Tritunggal sudah diwahyukan sejak mula sekali, sejak di permulaan kitab Kejadian.

B. Istilah Yang Mengindikasikan Keesaan Allah

1. Pemakaian kata “ Kita” dalam kitab Kejadian. Pada waktu Tuhan Allah memberikan wahyu tentang diri-Nya di dalam Kejadian 1:26, Kej 3:22, Kej 11:7, Yes 6:8, Allah memakai kata ganti Kita untuk menyebut diri-Nya sendiri, bukan Saya. Berfirmanlah Allah, “ Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita….,” ( Kejadian 1:26). Siapakah yang

dimaksud Kita di dalam ayat ini ? Kita bukan menunjukkan satu pribadi tunggal, melainkan jamak, lebih dari satu. Ada yang menafsirkan Kita di sini menunjukkan perundingan antara Allah dan malaikat. Benarkah Allah bersama-sama malaikat dalam menciptakan manusia ? Ini sama sekali salah ! Jikalau Kita di sini menunjukkan perundingan Allah dengan malaikat, maka berarti manusia tidak diciptakan langsung oleh Allah Pencipta, melainkan oleh Pencipta yang bekerjasama dengan yang dicipta, sebab di dalam Yehezkiel dikatakan malaikat-malaikatpun adalah mahluk (creatures) yang diciptakan Allah ( Bdk Yeh 1:5-14, Yeh 9:3, Yeh 10:1-22) dan bandingkan juga dengan ( Kejadian 3:24 yang disebut Kerub atau Kerubim). Di dalam seluruh Alkitab tidak pernah dikatakan bahwa malaikat adalah pencipta, belum pernah dikatakan bahwa malaikat adalah pencipta, belum pernah dikatakan bahwa malaikat mencipta atau mengambil bagian di dalam karya Allah yang pertama, yaitu mencipta. Karya atau pekerjaan Allah sangat banyak, dan yang pertama adalah mencipta. Dan Allah disebut Allah, karena yang pertama Dia adalah Pencipta. Dia menciptakan segala sesuatu dari tidak ada ( creatio ex nihilo). Menciptakan dari kekosongan atau dari ketidakadaan. Ini adalah tindakan atau pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh Allah sendiri. Betapapun besarnya kuasa dan kemuliaan malaikat atau penghulu malaikat, tidak dapat membuat mereka loncat dari derajat “yang dicipta” menjadi “ Yang Mencipta”. Mencipta adalah pekerjaan Allah sendiri. Lagi pula manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, bukan menurut gambar dan rupa malaikat. Pada waktu Allah Pencipta mengatakan, “ Marilah Kita menciptakan manusia…” di sini Dia mewahyukan suatu pikiran yang penting, meskipun tidak terlalu jelas, bahwa Allah itu lebih dari satu Pribadi. Kita di dalam Kejadian 1:26 ingin menunjukkan bahwa itu adalah perundingan di antara Pribadi-Pribadi yang berada di dalam Diri Allah Yang Esa. Disini doktrin Tritunggal sudah dinyatakan walaupun dalam bentuk yang tidak jelas.

2. Sebutan “Elohim” bagi Allah Istilah atau sebutan Allah yang dipakai selalu dalam bentuk jamak, yaitu Elohim, bukan dalam bentuk tunggal, El. Di dalam tata bahasa Indonesia konsep ini tidak ada. Dalam bahasa Inggris kita masih melihat hal yang seperti demikian, misalnya bentuk tunggal ditambah “s” untuk menunjukkan jamak. (one boy, two boys, atau many boys). Tetapi di dalam bahasa Ibrani selain bentuk tunggal (singular) dan jamak (plural) juga ada bentuk dua atau ganda (dual). Hal ini sangat unik dan tidak terdapat dalam bahasa Yunani, bahasa Inggris dan bahasa-bahasa di Eropa atau di dunia Barat lainnya, maupun bahasa-bahasa di Timur. Allah begitu teliti di dalam memilih bahasa

yang akan dijadikan-Nya sebagai media untuk memperkenalkan diri melalui WahyuNya. Di dalam Alkitab, di dalam bahasa Ibrani, sebutan yang dipakai untuk Allah tidak memakai bentuk tunggal (singular) ataupun dua atau ganda (dual), melainkan bentuk jamak (plural). Bukan saja sebutan TUHAN selalu muncul dalam bentuk jamak, namun juga sering kali sebutan TUHAN atau ucapan terhadap TUHAN muncul diulangi tiga kali. Misalnya : setiap kali Musa dan Harun memberkati bangsa Israel mereka mengucapkan doa berkat, sebagaimana yang diperintahkan Tuhan Allah sendiri, sebagai berikut :

TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. ( Bilangan 6:24-26)

Demikian juga dalam penglihatan Yesaya para serafim memuji kepada Tuhan Allah : Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, Seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya ( Yesaya 6:3) Rupanya ada kebiasaan diantara orang-orang Israel menyebut bait TUHAN juga tiga kali ( Yeremia 7:4). Hal ini bukan sesuatu yang secara kebetulan muncul berkali-kali di dalam Alkitab, namun mengindikasikan bahwa konsep Allah Yang Tritunggal sudah mulai diwahyukan dan ditanamkan, khususnya kepada bangsa Israel, sejak mula-mula sekali. Ada bantahan yang mengatakan bahwa hal itu merupakan sesuatu yang umum dalam pembentukan bahasa-bahasa di Timur Tengah. Pada waktu mereka menyebut dewa atau ilah mereka, mereka juga tidak pernah memakai bentuk tunggal, melainkan bentuk jamak, sebagai indikasi yang menunjukkan penghormatan mereka terhadap yang harus lebih dihormati dari manusia, yaitu dewa atau ilah mereka. (Di daerah-daerah tertentu di Indonesia penggunaan kata kita atau kami juga sering dipakai sebagai kata ganti orang dalam pengertian tunggal). Hal ini bukan berarti kita bisa menyangkal bahwa Allah telah menyatakan diri dengan cara berbeda dari cara bangsa-bangsa lain menyebut dewadewa mereka. Lagi pula, kebiasaan menyebutkan dewa atau ilah mereka dengan bentuk jamak ini baru muncul jauh sesudah Kitab Kejadian dituliskan melalui Musa. Di dalam Alkitab pada waktu Allah menyebut diri-Nya sendiri dengan sebutan Kita, dia menyatakan diri-Nya sebagai Pencipta (Creator), Penebus ( Redeemer), dan Pewahyu (Revealer). Inilah tiga karya yang hanya dapat dikerjakan oleh Allah sendiri yaitu :  Penciptaan (Creation)

Penebusan ( Redemption)  Penyataan/Wahyu (Revelation) Hanya Allah sendiri yang dapat melakukan ketiga pekerjaan itu, dan di dalam ketiga karya itu tidak ada campur tangan dari pribadi atau oknum yang lain. Sebagai Pencipta, Allah bukan saja telah menciptakan segala sesuatu yang diciptakan-Nya sampai pada waktu yang ditetapkan menurut kehendak-Nya. Maksudnya, kalau segala sesuatu bisa ada, itu adalah karena kuasa penciptaan Allah. Dan kalau yang ada itu bisa berada terus di dalam jangka waktu yang ditetapkan oleh Tuhan, itu adalah karena kuasa penopangan-Nya. Dan sebagai Pencipta, dia juga akan menyempurnakan atau menggenapi segalanya. Segala yang ada akan disempurnakan menurut waktu dan rencana-Nya. Allah Pencipta, Penebus, dan Pewahyu, yang menyebut diri dengan sebutan “Kita” inilah yang telah mewahyukan atau menyatakan diri kepada manusia bahwa Dia adalah Allah yang lebih dari satu Pribadi, bukan satu Pribadi, juga bukan dua pribadi, melainkan 3 Pribadi. Mengapa bukan empat, lima dan seterusnya? Karena selain Ketiga Pribadi yang tersembunyi dan dinyatakan di dalam Wahyu yang bersifat progressif ini, tidak ada pribadi lainnya lagi. Tiga menjadi angka eksklusif dan sempurna dari diri Allah. Tiga merupakan angka mutlak bagi Allah Tritunggal dan tidak dapat ditambahkan lagi.

Penutup

Masih ada banyak hal yang tersembunyi, dan masih banyak rahasia yang belum terpahami. Kalau manusia terikat dengan ruang dan waktu, tidak demikian dengan Allah. Bagi Allah, tak ada kemarin, sekarang dan yang akan datang. Ia kekal, Maha Hadir dan Maha Tahu (Eternal,Omnipresence dan Omniscience) dan sekaligus Dia juga adalah Allah Sang Pencipta Waktu. Ia berada diluar ikatan ruang dan waktu. Tidak heran jikalau Allah Abraham, Allah Israel pada jaman primitif itu adalah juga Allah yang sama dari orang percaya di jaman PostModernisme ini. Bahkan seribu tahun, bagi-Nya tak berbeda dari satu hari ( Bdk. 3 Pet 3:8). Dia yang hadir dalam keutuhan satu pribadi “Malakh Yahweh” dalam Perjanjian Lama adalah Dia yang berbicara dengan Paulus di dekat Damaskus. Sebagai satu pribadi Allah, Allah Anak bukanlah Pribadi Allah Roh Kudus yang turun keatas para rasul dan orang-orang percaya di hari Pentakosta. Roh Kudus adalah “ allon Parakleton ( Penolong yang lain tetapi yang sehakekat)”.Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah pribadi-pribadi yang berbeda dari satu Allah Yang Esa. Solideo Gloria

Diposkan oleh Sahabat Gembala di 8:56 PM 14 komentar Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook
FRIDAY, APRIL 17, 2009

Iman Dan Pertobatan

“IMAN DAN PERTOBATAN”

“Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?" Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita." ( Kisah Para Rasul 2:37-39) Apakah syarat utama yang Tuhan tuntut apabila kita ingin memiliki relasi yang baik denganNya? Bermoral terpuji ? Penuh perbuatan kebajikan kepada sesama ? Aktif dalam berbagai bentuk pelayanan ? Jawaban Alkitab mengejutkan sekali ! Meski semua itu penting, tetapi bukan itu yang Tuhan tuntut sebagai syarat ! Ia hanya menuntut kita memiliki iman (Bdk Ibr 11:6) dan berpaling kepada-Nya melalui Yesus Kristus yang mana baptisan adalah materai (tanda,lambang)-nya, meninggalkan kepercayaan dan perbuatan yang sia-sia. Maka iman dan pertobatan adalah syarat mutlak untuk beroleh hubungan yang baik dengan Allah ! Kita melihat bahwa Alkitab menyaksikan Allah di dalam Kristus melakukan tindakan objektif sebagai landasan keselamatan kita. Ia mengalahkan kuasa-kuasa yang membelenggu kita dalam perhambaan dosa. Lalu melalui Roh-Nya, Ia melakukan pembaruan dalam hati kita, supaya dari keadaan lumpuh dan mati rohani, kita dimungkinkan untuk bangkit merespons Tuhan dengan benar. Nah, respons yang benar yang Allah inginkan itu adalah iman dan pertobatan. Allah melalui karya objektif Kristus dan karya pembaruan hati yang dialami secara subjektif itu, kini mengundang kita untuk beriman kepada Kristus dan bertobat meninggalkan jalan hidup kita yang tanpa Allah ! Semua hal yang perlu untuk

keselamatan kita sudah Allah lakukan. Itulah anugerah-Nya yang ajaib bagi kita manusia berdosa. Dan janji anugerah-Nya itu kita terima di dalam baptisan sebagai materai dari kebenaran berdasarkan iman ( Bdk. Roma 6:1-14, Roma 4:11 ). Namun kita harus menyambut Yesus Kristus dengan iman, dan sebagai akibat datang kepada Kristus kita akan meninggalkan kehidupan lama kita yang kita jalani tanpa Tuhan dan diluar firman-Nya. Maka iman yang sejati pasti mengakibatkan pertobatan. Dan pertobatan yang sejati pasti disebabkan atau digerakkan oleh adanya iman yang sejati.Tanpa keduanya, tidak mungkin kita menikmati keselamatan, tidak mungkin kita mengenyam relasi indah dengan Tuhan dalam keseharian kita !. Jika kita serius akan hidup kini dan kelak, kita harus periksa kesejatian iman dan pertobatan kita kepada Tuhan Yesus. Hanya dengan syarat inilah kita dapat mengenyam indahnya relasi hidup dengan Tuhan, kini dan kelak. Soli Deo Gloria Diposkan oleh Sahabat Gembala di 9:02 PM 0 komentar Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to Facebook

Kemana Tempat Dan Keadaan Orang Setelah Mati ?

Refleksi Teologis KEMANA TEMPAT DAN KEADAAN ORANG SETELAH MATI? "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab

aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati." ( Lukas 16:19-31) Judul diatas adalah sebuah pertanyaan yang seringkali muncul dalam benak kita. Pertanyaan ini muncul begitu saja karena sebagai manusia, kita memiliki rasa ingin tahu yang besar. Kematian buat sebagian besar orang, adalah peristiwa yang menakutkan, namun tidak bisa dihindari bahwa semua orang pasti akan mengalaminya. Ketakutan orang terhadap kematian kebanyakan disebabkan oleh tidak ingin berpisah dengan orang yang kita kasihi; tidak tahu apa yang akan terjadi setelah kita meninggal. Salah satu pertanyaan teologis yang menjadi polemik ketika kita bicara tentang keadaan setelah orang meninggal adalah masalah apakah ada tempat perhentian. Sebab di satu sisi ketika kita melihat jenazah, kita akan berkata, “dia telah kembali ke rumah Bapa di sorga.” Sementara itu kita ingat akan pemahaman iman Kristen bahwa akan ada hari penghakiman pada saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Hal ini membuat kita bertanya kritis, “apakah orang yang telah di rumah Bapa itu akan turun lagi untuk dihakimi? Atau benarkah orang yang meninggal langsung menuju sorga?” Dalam pemahaman orang Yahudi dan ini nyata dalam Alkitab PL, mereka mengenal satu tempat bagi orang-orang yang sudah meninggal, yang disebut dunia orang mati (Ibrani: sye’ol – har: dunia bawah). Dunia orang mati digambarkan sebagai tempat yang mengerikan; selain tidak ada kehidupan dan keterpisahan dengan orang yang hidup, dunia ini diperuntukkan bagi orang-orang fasik dan berdosa (Bdk. Bil. 16:33; Maz. 9: 18). Namun dunia orang mati ini tidak bisa dihindari oleh setiap orang yang meninggal (Bdk. 2 Sam. 22: 6; Maz. 139: 8). Dunia orang mati adalah tempat yang suram dan ingin dihindari. Gambaran dunia orang mati dalam Alkitab PB tidak jauh berbeda dengan PL. Orang-orang yang telah meninggal akan masuk dalam kerajaan maut (Yunani: hadesy); (Bdk. Kisah 2: 27; Wah. 20: 13-14). Bahkan ada satu istilah Yunani yang ingin menggambarkan gelapnya dunia orang mati itu yaitu abysos (tempat yang tidak terduga dalamnya). Pertanyaannya

sekarang adalah mengapa dunia orang mati/kerajaan maut digambarkan begitu mengerikan dan suram; dan kalau bisa dihindarkan? Karena tradisi Yahudi memahami dunia ini terdiri dari tiga bagian: dunia atas di mana Allah yang berkuasa; dunia tengah dimana manusia yang menguasainya; dan dunia bawah yang dikuasai oleh iblis. Pemahaman inilah yang kemudian mempengaruhi pandangan tentang dunia orang mati sebagai tempat iblis dan maut berkuasa (Bdk. Wah. 20: 13 kata maut dan kerajaan maut digandengkan). Satu hal yang dapat kita simpulkan dalam pandangan PL dan PB ini adalah setelah manusia meninggal, siapapun juga orangnya, akan masuk dunia orang mati/kerajaan maut. Firman Allah membukakan keadaan orang-orang yang sudah mati. Alkitab adalah buku yang paling dibenci oleh Iblis, karena kedoknya ditelanjangi habis-habisan dalam Kitab Suci yaitu di dalam Alkitab. Iblis dan semua roh jahat tidak akan senang kepada anda, apabila anda membaca, merenungkan,memberitakan, mempercayai Alkitab Firman Allah. Anda akan dilawan habis-habisan melalui hal mengantuk, melalui kritik teologi Liberal, melalui antekantek iblis di dunia ini. Semua orang yang tidak percaya Alkitab adalah Firman Allah adalah mangsa Iblis yang sangat empuk, dan juga semua orang yang membenarkan praktek berhubungan dengan orang mati, juga menjadi mangsa kuasa-kuasa kegelapan. Banyak orang menyangka bahwa orang mati masih dapat berhubungan dengan orang hidup di bumi ini atau sebaliknya. Dalam Perjanjian Lama ada 2 jenis kematian, yaitu kematian orang saleh seperti Abraham, Ishak dan Yakub ( Bdk Maz 116:15) dan ada juga kematian orang fasik ( Bdk Kej 7:23, Yeh 18:23, Yeh 33:11). Keadaanya berbeda sama sekali.Kondisi keduanya tidak sama. Keadaan orang beriman yang mati di dalam Tuhan ada dalam keadaan yang menyenangkan, sementara keadaan orang fasik (orang berdosa) yang mati di luar Tuhan, dalam keadaan yang sangat menyedihkan, tersiksa, menderita berat dalam alam maut. Perjanjian baru menyaksikan keadaan orang yang sudah mati sebelum Kristus disalib, dengan sangat jelas dan gamblang. Coba kita baca, renungkan dan uraikan firman Tuhan dalam Luk 16:19-31. Menurut tradisi orang Yahudi, orang yang sudah mati masuk dalam hades yang berarti kerajaan maut. Dan kerajaan maut ini juga terbagi dalam dua bagian yaitu tempat siksa orang fasik ( gehena) dan tempat bahagia orang saleh ( firdaus). Luk 16:19-31 bukanlah perumpamaan, tapi peristiwa nyata, karena tokoh Abraham dan Musa serta para nabi bukan merupakan legende atau mitos , tetapi merupakan fakta historis yang sangat nyata. Nama Abraham dan Musa tidak hanya dipakai dalam Luk 16:19-31. Nama Abram dipakai dalam 57 ayat, nama Abraham dipakai dalam 233 ayat dan nama Musa dipakai dalam 803 ayat. Jadi ini bukan perumpamaan. A. Keadaan orang yang mati sebelum Tuhan Yesus disalibkan 1. Orang yang mati dalam Tuhan (seperti Lazarus) pada waktu mati tubuhnya kembali jadi tanah, sedangkan jiwanya dibawa oleh para malaikat ke pangkuan Abraham yaitu tempat bahagia orang saleh ( Bdk. Luk 16 : 20-22). Inilah kepastian keselamatan kekal.

2. Orang yang mati dalam dosa (seperti orang kaya itu), waktu mati tubuhnya kembali jadi tanah juga dan jiwanya dibuang kedalam alam maut, yaitu tempat penderitaan dan siksaan bagi orang fasik ( Luk 16:23-25), tempat tahanan sementara, belum neraka. Neraka adalah bagian akhir dari dunia kegelapan, yaitu tempat untuk menghukum orang fasik/orang berdosa sesudah pengadilan arasy putih yaitu Tahta Putih ( Bdk Why 20:11-14). Pada waktu Tuhan Yesus datang kembali (hari kiamat) barulah orang-orang fasik ini dibawa kedepan pengadilan Allah diadili lalu dibuang ke neraka ( Why 20:14). Inilah kematian kedua, kematian kekal selama-lamanya. 3. Orang yang sudah mati saling mengenal satu sama yang lain dengan baik dan jelas sekali ( Bdk Luk 16:23-31). Orang kaya yang menderita di alam maut itu mengenal Abraham denga jelas sekali. Juga Abraham yang ada di tempat bahagia mengenal orang kaya itu dengan sangat jelas. Kalau orang dari alam maut mengenal mereka yang ditempat bahagia, pastilah mereka yang berada di tempat bahagia, pastilah mereka yang berada di tempat bahagia sangat mengenal satu dengan yang lainnya. 4. Antara orang yang ditempat bahagia (pangkuan Abraham) dan alam maut ada jurang yang tidak bisa diseberangi, sehingga orang dari tempat bahagia tidak bisa ke alam maut dan orang dari alam maut, tempat sengsara tidak bisa lagi pergi ke tempat bahagia ( Luk 16:26). Itu berarti dalam dunia orang mati tidak ada perpindahan tempat. Semua usaha untuk mendoakan dan memindahkan orang dari alam maut ke tempat bahagia adalah usaha yang kosong dan sia-sia dan tidak sesuai dengan apa yang disaksikan oleh Alkitab. Ini adalah kesesatan besar. Orang yang sudah mati, hanya tubuhnya yang hancur dan tidak berfungsi lagi, tapi jiwanya ada dalam keadaan sadar sepenuhnya sehingga bisa merasakan siksaan ( Luk 16:23), bisa melihat ( Luk 16:23), bisa berseru ( Luk 16:24), bisa memohon ( Luk 16:27), dan bisa berargumentasi (Luk 16:29-31). Orang mati dalam keadaan sadar sepenuh-penuhnya. Orang yang sudah mati yang masuk alam maut menyadari pentingnya peringatan untuk bertobat, tapi sayang sekali sudah terlambat ( Luk 16:27-28) Ternyata orang yang sudah mati dalam dosa tidak bisa ketempat orang hidup di bumi. Orang kaya itu tidak bisa ke rumah keluarganya, itu sebabnya dia minta tolong Abraham untuk mengirim Lazarus ke sana ( Luk 16 : 27-28). Kalau orang kaya itu bisa kerumahnya, dia tidak perlu berseru minta tolong kepada Abraham. Ternyata dia tidak bisa ke dunia orang hidup. Orang yang mati dalam Tuhan, juga tidak bisa ketempat orang hidup di bumi. Abraham tidak mengabulkan permintaan orang kaya itu mengirim Lazarus ke rumah keluarga orang kaya itu ( Luk 16:27-31) B. Tempat Dan Keadaan orang Mati Sebelum Kedatangan Tuhan Yesus Yang Kedua Kalinya

5.

6. 7.

8.

Dalam periode ini yaitu dalam jaman anugerah, kalau seorang mati, maka tubuhnya hancur jadi tanah kembali. Jiwa orang benar (orang beriman) yang mati di dalam Tuhan langsung masuk sorga rumah Bapa ( Bdk Flp 1:21-23, 2 Kor 5:6-8 ) sedangkan jiwa orang fasik (berdosa) masuk dalam alam maut tempat siksaan dan penderitaan menunggu hari pengadilan besar ( Bdk Why 20:11-15). C. Tempat Dan Keadaan Orang mati Pada Waktu Tuhan Yesus datang Kedua Kalinya ( Hari Kiamat) Orang-orang benar yang sudah meninggal dunia di dalam Tuhan , jiwanya berada bersama Tuhan di sorga dan diberikan tubuh kebangkitan, tubuh kemuliaan, tubuh sorgawi. Tetapi jiwa orang-orang fasik yang ada di alam maut akan dibangkitkan yaitu pada hari kiamat untuk menghadap pengadilan Allah, dan setelah diadili lalu dibuang ke Neraka yang kekal yaitu lautan api dan belerang tempat iblis dan malaikatmalaikatnya, nabi palsu, anti-Kristus dan pengikut-pengikutnya. Dan disanalah kematian yang kedua yaitu kematian kekal selama-lamanya di Neraka. ( Bdk. Mat 25:41, Why 21:8, Why 20 : 11-15) ) Kesimpulan :  Alkitab menyaksikan bahwa roh dan jiwa orang benar yang mati di dalam Tuhan yang namanya tertulis di dalam buku kitab kehidupan Anak Domba Allah (Tuhan Yesus Kristus) ada bersama Tuhan di tempat yang bahagia, sorga mulia, rumah Bapa yang penuh damai sejahtera.  Tetapi sebaliknya Alkitab juga menyaksikan bahwa roh dan jiwa orang fasik (orang berdosa) yang namanya tidak tertulis dalam kitab kehidupan Anak Domba Allah (Tuhan Yesus Kristus) akan berada di tempat penderitaan dan siksaan kekal di Neraka dan terpisah dari kekuatan dan kemuliaan Allah selama-lamanya. Soli Deo Gloria Doa : Bapa…., kami tahu bahwa hidup kami singkat di bumi ini. Ajar dan bimbinglah kami senantiasa supaya kami tetap setia mengikut Tuhan dan hidup dalam pertobatan tiap-tiap hari. Peliharalah iman percaya kami supaya kami dapat memenangkan pertandingan iman sampai garis finish. Oleh karena Tuhan Yesus Kristus , Tuhan Allah dan Juruselamat kami, kami datang memohon kepada-Mu. Amin.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.