HUKUM AGRARIA (ANALISA PENERAPAN ASAS PERLEKATAN HORIZONTAL (HORIZONTALE ACCESSIE BEGINSET) DAN ASAS PEMISAHAN HORIZONTAL (HORIZONTALE

SCHEIDING))
Asas perlekatan horizontal (horizontale accessie beginsel) Dalam asas ini, bangunan dan tanaman yang ada di atas tanah merupakan satu kesatuan, bangunan dan tanaman tersebut bagian dari tanah yang bersangkutan. Hak atas tanah dengan sendirinya, karena hukum meliputi juga pemilikan bangunan dan tanaman yang ada di atas tanah yang dihaki, kecuali kalau ada kesepakatan lain dengan pihak yang membangun dan menanamannya. Kleyn mengatakan bahwa dalam pertumbuhan milik ada dua pokok, yaitu 1) Pemilik suatu benda adalah pemilik semua bagian- bagiannya; 2) Superficies solo cedit, artinya tanaman-tanaman dan bangunan di bawah dan di atas tanah yang secar kekal dan menyatu dengan tanah, kecuali hal-hal yang diuraikan kemudian adalah milik pemilik tanah. (1) _________ (1)Kleyn M.M, Ichtisar Hukum Benda Belanda, Compedium Hukum Belanda, dalam Djuhaendah Hasan, op. Cit., hlm. 74. Asas pemisahan horizontal (horizontale scheiding) Dalam asas ini, bangunan dan tanaman yang ada di atas tanah bukan merupakan bagian dari tanah. Hak atas tanah tidak dengan sendirinya meliputi pemilikan bangunan dan tanaman yang ada di atasnya. Perbuatan hukum mengenai tanah tidak dengan sendirinya meliputi bangunan dan tanaman milik yang punya tanah yang ada di atasnya. Jika perbuatan hukumnya dimaksudkan meliputi juga bangunan dan tanamannya, maka hal ini secara tegas harus dinyatakan dalam akta yang membuktikan dilakukannya perbuatan hukum yang bersangkutan. Pendapat Sudargo Gautama:(1) yang mengatakan bahwa menurut hukum adat yang berlaku, untuk tanah milik dibedakan antara tanah dan rumah atau bangunan yang didirikan di atasnya. Tanah dan rumah batu yang didirikan di atasnya di pandang terpisah, bukan sebagai kesatuan hukum sebagai yang di tentukan dalam hukum barat. Dan bisa juga menurut pendapat Van Dijk :(2) mengatakan bahwa hak atas tanah dan segala benda yang berada di atas tanah adalah dua soal yang berlainan yaitu rumah dan perkarangan, tanah dan tanaman masing-masing mungkin menjadi milik orang. __________ (1) Sudargo Gautama, Masalah Agraria, Alumni, Bandung 1973, hlm. 57

SK Menhut 134 2004. Keputusan yang berkaitan dengan hal tersebut. Dampak dari beberapa contoh produk kebijakan di atas. 36 tahun 2005.KepMen No. Di bidang perundang-undangan. Arah kebijakannya menjadi lebih berat ke politik pemerintahan. hlm. sosial. 41 Tahun 2004. UUPA lebih ditafsir untuk menjustifikasi suatu kebijakan yang justru bertentangan dengan UUPA. sehingga muncul berbagai macam konflik agraria yang menempatkan petani di pihak yang selalu dikalahkan demi kepentinagn suatu pembangunan. bentuk kebijakan pemerintah indonesia pun telah melahirkan sekian banyak persoalan yang menyangkut hak – hak ekonomi.Pencabutan Subsidi Pendidikan. dan budaya maupun hak sipil dan hak politik. bukan pembangunan pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani.Perpres No. Pengantar Hukum Adat Indonesia. . . di tengah ketimpangan demokrasi yang masih diatasnamakan oleh pemerintah . op. .Privatisasi BUMN yang menyangkut hajat hidup orang banyak. . .(2) Van Dijk. . Politik agraria. misalnya: . dan kemampuan terhadap sumber daya tanah.UU ketenagakerjaan. maka pemerintah telah merubah politik agraria dari populis ke kapitalis.. sangat jelas akan merugikan rakyat. . Agrarian reform yang semula untuk menata penguasaan tanah. Inilah yang seharusnya direnungkan oleh para elite penguasa kita ini di negara yang disebut sebagai suatu negara agraris. kekuatan. UUPA ADALAH POLITIK AGRARIA NASIONAL Kelahiran UUPA merupakan suatu tonggak sejarah hukum agraria yang secara normatif menempatkan petani pada suatu proses pemberdayaan untuk memperoleh suatu kekuasaan. dilahirkan suatu produk yang bertentangan dengan UUPA.UU Perkebunan.UU Ketenagalistrikan. .Amandemen UU Tata Ruang. Dengan dianutnya suatu model pembangunan ekonomi yang bergaya kapitalis. Dengan adanya intervensi kekuatan imperialisme dalam berbagai bentuk paket kebijakan Neo – liberalisme. telah menempatkan tanah sebagai suatu masalah yang rutin di dalam birokrasi pembangunan. dalam Djuhaedah Hasan.UU SDA Nomor 7 Tahun 2004. yang tugasnya untuk lebih mengedepankan makna kemerdekaan bagi rakyat tani. yakni kuatnya suatu hak atas tanah yang dimilikinya. dapat kita lihat lihat dengan keluarnya beberapa produk peraturan perundang-undangan yang tidak menguntungkan masyarakat bawah. UUPA disini sebagai sebuah rekonstruksi suatu bangunan politik agraria yang bertujuan untuk menjamin hakhak petani atas suatu tanah. 84. Cit. khususnya hak milik maka menjadi berhenti dan seolah-olah UUPA disini di peti emaskan demi sebuah pembangunan. .dan aset publik lainnya. .

36 Tahun 2005. tanaman. . Konsentrasi penguasaan tanah oleh perkebunan besar dan pengusaha swasta. Akibatnya. efek kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh proses eksploitasi sumber daya alam yang berefek pada kerusakan ekosistem dan lingkungan. menyebabkan tanah pertanian semakin menyempit. 2. Petani dihadapkan pada masalah. sehingga terjadi ketidakberdayaan petani. akan banyak memakan korban dipihak rakyat. Produk-produk kebijakan tersebut. realitas dominasi pemerintah dan pemilik modal maupun intervensi asing masih saja menjajah negara Indonesia. Belum lagi tindakan represif dan intimidasi aparat keamanan dan kekuatan milisi sipil senantiasa memunculkan berbagai bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia yang sampai sekarang tidak pernah terselesaikan dalam perjuangan kaum tani dalam mempertahankan haknya atas tanah. serta menuntut: 1. Semua ini telah bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar pembentukan negara RI yang anti-penjajahan.untuk menindas rakyatnya. sehingga memicu pelanggaran hak-hak atas tanah petani. salah satunya adalah tanah. Berikan Hak Rakyat Atas Tanah Sekarang Juga. Aset petani dalam wujud tanah. sepanjang berlakunya UUPA selalu ditemui adanya sengketa tanah beserta problem sosial yang mengikutinya. yang merupakan instrumen bagi negara. Hal ini menjadi pemikiran bagi kita semua apabila nantinya persoalan-persoalan pemaksaan kehendak penguasa ingin mengambil tanah rakyat untuk kepentingan pembangunan yang legal dalam perpres No. Pasal 33 dan UUPA No. Reforma Agraria.05 Tahun 1960. posisi petani semakin tidak terjamin hak hukumnya atas tanah apalagi dengan HGU (Hak Guna Usaha) yang mayoritas dimiliki pihak swasta yang masa waktunya sekitar 25-30 tahun. Belum lagi. Represivitas/praktek kekerasan terhadap petani dan permasalahan kebijakan yang tidak berpihak terhadap petani sampai sekarang tetap dilakukan oleh Penguasa dengan menggunakan aparatus-aparatusnya.. mengarah pada pengekangan hak-hak rakyat ketimbang menyejahterakan rakyat. memunculkan berbagai permasalahan dan konflik yang tidak seimbang antara kekuatan petani dengan kekuasaan dan pemodal. tempat tinggal tidak pernah diganti sesuai dengan kelayakan kehidupan petani. dengan berbagai bentuk kekerasan dan pelanggaran HAM di berbagai pelosok penjuru Indonesia. Tentunya. Selesaikan Sengketa dan Kembalikan Tanah Rakyat Sesuai dengan Amanat UUD 1945. Maka para serikat tani nasional menyerukan Konsolidasi Masyarakat Sipil Demokratik sebagai pilihan. Sebaliknya. Namun. khususnya petani yang menggantungkan hidup pada tanah sebagai lahan garapannya. terbukanya peluang pemodal sebagai alat penghisap telah dilegalisasikan negara untuk melakukan eksploitasi kekayaan sumber-sumber agraria yang ada. bersama-sama bergerak mewujudkan demokrasi dan pembebasan sejati. yakni sebagai petani tidak berlahan atau berlahan sempit. Adanya ketimpangan penguasaan aset tanah serta hilangnya potensi pemanfaatan dan pengelolaan dengan tidak diakuinya berbagai bukti-bukti kepemilikan dan penguasaan petani maupun komunitas lokal oleh penguasa. sampai saat ini.

7. 9. UUPA sejak awal berlakunya sudah memuat visi dan membawa misi yang memberikan arahan awal dan mendasar. Perumahan Layak. Fenomena yang sudah terjadi sejak tahun 1960 tersebut harus dilihat secara utuh dari bagian politik agraria nasional yang dijalankan rejim-rejim yang berkuasa. Nasionalisasi Industri Asing (Perkebunan) untuk Kesejahteraa Rakyat. 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan. 10. dan Kesehatan Gratis Bagi Rakyat. Ketentuan ini memberikan perintah kepada negara sebagai badan penguasa atas tanah yang dimiliki bangsa Indonesia untuk mewujudkan sebesarbesar kemakmuran rakyat. 4. Cabut Undang-undang Penanaman Modal Asing (UUPMA) yang Merupakan Biang Kemiskinan di Indonesia. 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air. Perintah itu yang hingga tulisan ini dibuat. Fokus kajian yang dianggap sebagai alternatif jawaban terhadap permasalahan ini adalah adanya pelanggaran moral dan hukum dalam pelaksanaan politik pertanahan nasional. Ukur Ulang dan Cabut HGU Perusahaan Perkebunan yang Bersengketa (merugikan) kesejahteraan Rakyat. Cabut Pepres No. Hal itu dapat dilihat adanya deviasi kebijakan pertanahan yang kemudian ditempuh rejim orde baru sejak tahun 1967 ditandai berlakunya UU No. Namun. . yaitu mewujudkan hubungan ideal tanah sejalan dengan prinsip "Land for the Thriller". Landasan moral dan hukum pelaksanaan politik pertanahan dapat dilihat dari ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. 8. 6. 5. Tolak Liberalisasi Sektor Agraria (Privatisasi/Penjualan Aset Negara yaitu Perkebunan BUMN) yang Merupakan Agenda Neo-Liberalisme. Cabut UU No. Hentikan Praktek-Praktek Kekerasan yang Dilakukan Negara Terhadap Petani 11.1/1967 tentang Penanaman Modal Asing hingga akhir 1998. Cabut UU No. 12. kiranya masih jauh dari harapan petani maupun sebagian besar bangsa Indonesia. hal itu tidak berumur lama karena kerumitan masalah ketimpangan struktur pemilikan tanah yang telah terjadi berabad-abad lalu belum sempat terselesaikan. 36 Tahun 2005 tentang “PENGADAAN TANAH BAGI PELAKSANAAN PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM.3. Kembalikan Hak dan Kedaulatan Rakyat Atas Sumber-Sumber Agraria. Pendidikan.

Corak atau struktur kekuasaan yang melaksanakan UUPA pada semua rejim sebenarnya berbeda. in other words. ternyata menjelang milenium ketiga. Penyelewengan implementasi penegakan hukum terlihat pada tren yang menganut asas kepastian hukum yang mendominasi persepsi penegakan hukum dalam masalah agraria dan dijauhkan dari moralitas hukum yang tidak lain adalah moral itu sendiri. Prof. Gambaran suram. Pada tahap awal dan akhir dari pelaksanaan pembaharuan agraria. sama saja implementasi atas ketentuan UUPA yang bermuatan kerakyatan. Di antara doktrin klasik yang paling mendasar adalah "Land is power" atau tanah adalah kekuasaan. eksekutif.In their (lawyers) views law is morality so far as morality can be enforced by definite social action. Visi UUPA sebenarnya telah diilhami berbagai doktrin berkaitan dengan dampak absolutisme akibat penguasaan dan pemilikkan tanah yang berlebihan. anti monopoli dan anti eksploitasi terhadap manusia. masih berjalan terus hingga pada saat munculnya arahan pembaharuan agraria melalui Ketetapan MPR-RI No. tentunya siginifikan ditujukan pada moralitas penyelenggara negara level nasional sebagai pembuat dan pengendali kebijakan tertinggi di republik ini.. sehingga dampaknya demikian kontras? Untuk mengukur tingkat kebijakan yang diterapkan dalam bad governance itu. Hazairin pun pernah menyatakan bahwa kaitan moral dan hukum dalam pidato pengukuhan guru besar di Fakultas Hukum UI bahwa hukum di Indonesia harus mencerminkan kemanusiaan yang adil (sasaran hukum) dan beradab (kondisi ideal dalam kaedah moral). UUPA secara sadar telah membuat batasan dan pedoman yang melarang konsentrasi penguasaan dan pemilikan tanah yang berdampingan erat dengan ideologi kemutlakan kekuasaan dan anti demokrasi. Tetapi apa daya. tumbuhnya kaum tuna kisma akibat mis-management karena penerapan bad-governance yang mengabaikan aspek moral dan hukum Dua fakta yang kontradiktif itu seyogyanya dapat menjadi bahan pemikiran.. Apakah dampak penerapan kebijakan yang keliru terhadap pertanahan dan sektor pertanian yang hebat. Selain itu. yudikatif) ikut andil dalam pelaksanaan bad governance dan mengabaikan moral dan hukum dalam mengatur dan melaksanakan politik pertanahan yang diperintahkan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Hal itu terjadi akibat kondisi rawan pangan. khususnya penegakan hukum. it is the minimum of morality formulated and adopted by a given society". banjir.Pada tahun 1984. tidak lain adalah terkait dengan pembuatan instrumen hukum dan penegakan hukum di bidang agraria yang harus mampu menuju pada kedamaian yang di dalam substansi Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dapat dipahami tujuan penguasaan tanah oleh negara adalah "& bagi sebesar- . demokrat. Padahal Paul Vinogradoff dalam "Common Sense in Law" (1959) pernah mengatakan ". kebakaran hutan. Namun. Indonesia pernah memperoleh penghargaan dari FAO atas kemampuan swasembada pangan sebagai sektor primer agraris.XI/MPR/2000. Semua unsur pelaksana kekuasaan negara (legislatif. negara kita tiba-tiba menjadi negara pengimpor beras nomor satu di dunia.

normatif pengaturan pertanahan. Menempatkan moral dan hukum sebagai satu bagian integral dalam pelaksanaan politik agraria dan tidak terpisah-pisah. Suriyaman Mustari Pide dalam pidato Penerimaan Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin di Ruang Senat Unhas. kapitalis adalah kunci menuju kedamaian. sebagaimana dilakukan kaum sekuler. DAFTAR PUSTAKA Suparjo Sujadi. Hukum agraria itu telah menyumbangkan ketimpangan struktur agraria mulai dari persoalan fundamental agraria. Makassar. sampai kepada teknis administrasi pertanahan. Kamis (1/10). khususnya yang berhubungan dengan pengelolaan tanah adat terlihat pada hukum agraria nasional. 02 Oktober 2009 | 08:05 | Ekonomi Hukum agraria nasional ciptakan ketimpangan struktur Ukuran Huruf Ilustrasi Makassar .Implikasi pengakuan setengah hati negara terhadap hukum adat. Hal mana masih dapat dilakukan dengan berpedoman pada moralitas dan acuan hukum penguasaan dan pemilikkan tanah di dalam UUPA. Kajian Hukum Pertanahan pada Centre for Law and Good Governance Studies. Hal itu dikemukakan Prof Dr A. Landasan moral yang seyogyanya harus menjadi pedoman pelaksanaan UUPA yang pembentukannya bersumber dari hukum adat adalah ciri masyarakat adat yang komunalistik religius. Kedamaian yang tercipta dari tercapainya keadilan tidak kunjung menghampiri negara kita tidak lain berawal dari prakondisi yang terjadi dalam hal ketimpangan pemilikan dan penguasaan tanah yang sebenarnya merupakan sasaran law enforcement atas berlakunya UUPA. .besar kemakmuran rakyat". sambil terus melakukan pembangunan hukum tanah yang lebih baik untuk masa depan yang lebih baik (the peaceful future).

tidak berarti sebagai pengakuan bahwa ketentuan Hukum Adat berlaku sama dengan ketentuan dalam Undang-Undang Agaria. ujarnya. yaitu antara ketentuan-ketentuan dalam hukum adat. Ungkapan tersebut semestinya diartikan bahwa Hukum Agraria baru seperti UU Nomor 5 Tahun 1960 disusun berdasarkan asas-asas hukum adat yang dipertentangkan dengan asas yang bersumber dari hukum yang dibuat pemerintah kolonial. administrasi dan kelembagaan pertanahan yang belum optimal dan belum tertata dengan baik yang menyebabkan kepastian hukum di bidang pertanahan semakin tidak pasti sehingga tujuan hak menguasai dari negara yaitu sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat tidak terwujud." paparnya. Bukan berarti ada ketentuan Hukum Adat di samping yang diatur dalam Undang-Undang Agraria. "Dalam penerapan hukum seperti pada proses peradilan." ujarnya. Pemahaman semacam itu. Ambigu tafsir yang demikian kembali diperkuat dengan lahirnya Pasal 18 B ayat (2) .Selain itu. Selain itu. sebagai ganti dualisme antara ketentuan pertanahan menurut Hukum Adat dengan ketentuan dalam hukum produk pemerintah kolonial. menurutnya. namun banyak orang yang hanya memiliki sedikit tanah. "Selama ini telah terjadi salah tafsir mengenai makna Hukum Agraria adalah Hukum Adat. termasuk ketentuan Hukum Adat. ketentuan Hukum Adat yang tidak sejalan dengan arah dan ketentuan dalam Undang-Undang Agraria harus dikesampingkan. kecuali penerapan itu akan bertentangan dengan kepatutan dan atau keadilan." katanya. bahkan tanah menjadi komoditas politik." katanya. yakni hanya segelintir orang yang memiliki banyak tanah. termasuk di pengadilan ungkapan ini selalu diartikan bahwa hukum adat adalah hukum positif di samping ketentuan-ketentuan yang ada dalam UndangUndang Agaria atau ketentuan-ketentuan baru lainnya di bidang keagrariaan. terutama menjelang pesta demokrasi. katanya. Bahwa berbagai kenyataan sosial (sosiologis) belum dimungkinkan secara serentak mengahapus ketentuan-ketentuan Hukum Adat. Dalam praktik. telah menimbulkan dualisme hukum yang baru. bahkan banyak rakyat yang tidak memiliki tanah. ketimpangan penguasaan dan kepemilikan tanah. "Sumbangan lainnya berupa hukum dan konflik agraria yang menyebabkan sengketa dan konflik pertanahan semakin hari semakin banyak. "Ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Pokok Agraria harus diartikan sebagai menghapus atau meniadakan semua ketentuan-ketentuan lain di luarnya. "Penyebutan Hukum Agraria adalah Hukum Adat tidak semestinya diartikan bahwa Hukum Adat ditetapkan sebagai hukum positif di samping ketentuan dalam UndangUndang Agraria." katanya.

kepentingan bersama dari rakyat. "Penegasan ini memberikan semangat baru bagi masyarakat adat. khususnya yang berada di Papua. dan pertambangan (KP dan KK) serta dijadikan areal transmigrasi. bahkan di seluruh wilayah pedalaman Indonesia mengklaim bahwa masyarakat adat dan hak-haknya harus dikembalikan kepada mereka (masyarakat adat).com. (aka/ant) Dibaca: 442 kali Artikel ini dapat dibaca di http://htwww." paparnya. opini.com Informasi pemasangan iklan hubungi Septaningsih di septa@primaironline. yang secara tegas menyebutkan Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-Undang. . Kalimantan.com/berita/ekonomi/hukumagraria-nasional-ciptakan-ketimpangan-struktur Pantau berita-berita terbaru primaironline. dan Sumatera Barat. "Dari sisi Ilmu Hukum Pasal 18 B telah menciptakan ketidakpastian hukum karena sebagai norma konstitusi seharusnya menjadi sumber hukum bagi peraturan pertanahan nasional. kehutanan dalam bentuk HPH. Maluku.com langsung dari ponsel/BlackBerry anda! Artikel.primaironline. Bekas hak-hak adat yang dimaksud sudah dikuasai oleh perusahaan perkebunan (HGU). Telepon/Fax (+62 21) 52960435 Hak atas tanah dan benda – benda di atasnya merupakan hubungan hukum yang penting bagi setiap rakyat dan masyarakat Indonesia.primaironline. Implikasi amandemen terhadap Pasal 18 B UUD NRI 1945 sangat luas dan menyumbang banyak persoalan terutama menciptakan konflik pertanahan.com di alamat m.UUD 1945 hasil amendemen." katanya. serta kepentingan pembangunan. karena tidak diikuti penjelasan yang komprehensif dalam bentuk Undang-Undang dan peraturan lainnya. dan konsultasi hukum kirim ke redaksi@primaironline. Pencabutan hak atas tanah dan benda – benda yang ada di atasnya dilakukan dengan cara – cara adil dan bijaksana sehubungan dengan kepentingan Bangsa dan Negara. suara pembaca.

dan kepentingan pembangunan. Pelaksanaan pencabutan hak atas tanah dan benda – benda di atasnya sebagaimana dimaksud dalam Instruksi Presiden ini. maka dapat dilakukan penguasaan atas tanah dan/atau benda dengan tidak perlu menunggu selesainya acara pencabutan hak seluruhnya. Menggunakan pedoman – pedoman sebagaimana diatur dalam Instruksi Presiden ini. dan juga dalam hal kegiatan pembangunan oleh Pemerintah maupun masyarakat luas yang pelaksanaannya dianggap tidak dapat ditunda – tunda lagi. dan memperhatikan harga – harga dalam tahun yang sedang berjalan.Instruksi Presiden ini bertujuan untuk menghindarkan timbulnya penyalahtafsiran dan penyalahgunaan pengertian dari “Kepentingan umum” dalam pelaksanaan pencabutan hak – hak atas tanah dan benda – benda di atasnya. 3. Sesuai ketentuan – ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. dapat dilakukan: 1. kepentingan rakyat banyak atau bersama. kepentingan masyarakat luas. Hanya untuk kepentingan umum. Penentuan besarnya ganti rugi atas tanah/bangunan/tanaman sebagaimana dilakukannya pencabutan hak – hak atas tanah. Pembayaran ganti rugi tersebut harus dilakukan dengan tunai dan langsung dibayarkan kepada orang yang tanahnya dicabut tersebut. tidak merugikan kedua belah pihak. sesuai dengan norma – norma. 4. . Panitia penaksir dalam melaksanakan tugasnya harus menaksir dengan objektif. Suatu kegiatan dalam rangka pelaksanaan pembangunan mempunyai sifat kepentingan umum apabila kegiatan tersebut menyangkut kepentingan Bangsa dan Negara. Penguasaan dalam hal mendesak hanya dapat dilakukan apabila penyediaan tanah tersebut memang dalam keadaan mendesak dan apabila ditunda dapat menimbulkan bencana alam yang mengancam kepentingan umum. dilakukan oleh panitia penaksir. 2. Suatu proyek pembangunan mempunyai bentuk kepentingan umum hanya apabila sudah termasuk dalam rencana pembangunan yang terlebih dahulu sudah diberitahukan kepada masyarakat. Dengan hati – hati secara adil dan bijaksana. Apabila dalam keadaan yang sangat mendesak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful