Askep Dispepsia

Ditulis oleh hidayat2 di/pada April 17, 2009 5 Votes

Asuhan Keperawatan Klien dengan dispepsia
A. Konsep Dasar Medik 1. Pengertian Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada (heartburn) dan regurgitasi asam lambung kini tidak lagi termasuk dispepsia (Mansjoer A edisi III, 2000 hal : 488). Batasan dispepsia terbagi atas dua yaitu: a. Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya b. Dispepsia non organik, atau dispepsia fungsional, atau dispepsia non ulkus (DNU), bila tidak jelas penyebabnya. 2. Anatomi dan Fisiologi a. Anatomi Lambung terletak oblik dari kiri ke kanan menyilang di abdomen atas tepat dibawah diafragma. Dalam keadaan kosong lambung berbentuk tabung J, dan bila penuh

mengalirkan makanan yang masuk kedalam lambung dan mencegah refluks isi lambung memasuki esofagus kembali. Secara anatomis lambung terbagi atas fundus. Kapasitas normal lambung 1 sampai 2 liter. dan ketika berkontraksi sfingter ini akan mencegah terjadinya aliran balik isis usus halus kedalam lambung. Daerah lambung tempat pembukaan sfingter kardia dikenal dengan nama daerah kardia. Lapisan berotot yang terdiri atas 3 lapisan : a. dan bagian kiri bawah lambung terdapat kurvatura mayor. yang berada dibawah lapisan pertama.) Serabut sirkuler yang palig tebal dan terletak di pylorus serta membentuk otot sfingter. yang tidak dalam dan bersambung dengan otot esophagus. Sebelah atas lambung terdapat cekungan kurvatura minor.) Serabut longitudinal. Lambung terdiri dari empat lapisan yaitu : 1. . korpus dan antrum pilorus.) Serabut oblik yang terutama dijumpai pada fundus lambunh dan berjalan dari orivisium kardiak. kemudian membelok kebawah melalui kurva tura minor (lengkung kelenjar). Sfingter kedua ujung lambung mengatur pengeluaran dan pemasukan. lapisan peritoneal luar yang merupakan lapisan serosa. 2. b.berbentuk seperti buah alpukat raksasa. Disaat sfingter pilorikum berelaksasi makanan masuk kedalam duodenum. c. Sfingter kardia atau sfingter esofagus bawah.

Kelenjar ini mensekresikan mukus. Trunkus vagus mempercabangkan ramus gastrik. Pepsinogen diubah menjadi pepsin dalam suasana asam. pilorik. Sel-sel mukus (leher) ditemukan dileher fundus atau kelenjar-kelenjar gastrik.3. . Kekurangan faktor intrinsik akan mengakibatkan anemia pernisiosa. 4. Hormon gastrin diproduksi oleh sel G yang terletak pada pylorus lambung. tebal. Lapisan submukosa yang terdiri atas jaringan areolar berisi pembuluh darah dan saluran limfe. Ada beberapa tipe kelenjar pada lapisan ini dan dikategorikan menurut bagian anatomi lambung yang ditempatinya. kalium. Kelenjar kardia berada dekat orifisium kardia. Lapisan mukosa yang terletak disebelah dalam. terutama ion-ion natrium. dan klorida. Sel-sel parietal mensekresikan asam hidroklorida dan faktor intrinsik. Faktor intrinsik diperlukan untuk absorpsi vitamin B 12 di dalam usus halus. Suplai saraf parasimpatis untuk lambung dan duodenum dihantarkan ke dan dari abdomen melalui saraf vagus. Sel-sel ini mensekresikan mukus. Kelenjar fundus atau gastric terletak di fundus dan pada hampir selurus korpus lambung. Kelenjar gastrik memiliki tipe-tipe utama sel. yang menghilang bila organ itu mengembang karena berisi makanan. Sel-sel zimognik atau chief cells mensekresikan pepsinogen. Substansi lain yang disekresikan oleh lambung adalah enzim dan berbagai elektrolit. hepatik dan seliaka. dan terdiri atas banyak kerutan/ rugae. Gastrin merangsang kelenjar gastrik untuk menghasilkan asam hidroklorida dan pepsinogen. Persarafan lambung sepenuhnya otonom.

serta berasal dari pankreas. berjalan kehati melalui vena porta. Fisiologi Fisiologi Lambung : . limpa. dan limpa) terutama berasal dari daerah arteri seliaka atau trunkus seliaka. dan dirasakan di daerah epigastrium. Serabut-serabut aferen simpatis menghambat gerakan dan sekresi lambung. Pleksus saraf mesentrikus (auerbach) dan submukosa (meissner) membentuk persarafan intrinsik dinding lambung dan mengkordinasi aktivitas motoring dan sekresi mukosa lambung. Persarafan simpatis adalah melalui saraf splenikus major dan ganlia seliakum. karena vagotomi selektif merupakan tindakan pembedahan primer yang penting dalam mengobati tukak duodenum.Pengetahuan tentang anatomi ini sangat penting. empedu. Seluruh suplai darah di lambung dan pankreas (serat hati. Serabut-serabut aferen menghantarkan impuls nyeri yang dirangsang oleh peregangan. Dua cabang arteri yang penting dalam klinis adalah arteri gastroduodenalis dan arteri pankreas tikoduodenalis (retroduodenalis) yang berjalan sepanjang bulbus posterior duodenum. b. dan bagian lain saluran cerna. Berikut ini adalah gambar anatomi lambung. Darah vena dari lambung dan duodenum. Tukak dinding postrior duodenum dapat mengerosi arteria ini dan menyebabkan perdarahan. yang mempecabangkan cabang-cabang yang mensuplai kurvatura minor dan mayor.

Pengaruh obat-obatan yang dimakan secara berlebihan dan dalam waktu yang lama c. 3. pensinogen. banyak mikroorganisme dapat dihancurkan dalam lambung oleh HCL. 3. Etiologi a. Komponene utamanya yaitu mukus. Pencegahan. Absorpsi. alkohol. Mencerna makanan secara kimiawi yaitu dimana pertama kali protein dirobah menjadi polipeptida 4. secara minimal terjadi dalam lambung yaitu absorpsi air. 5. Sekresi. dan air. akan terjadi peristaltik yang lambat yang berjalan dari fundus ke pylorus. yaitu kelenjar dalam mukosa lambung mensekresi 1500 – 3000 mL gastric juice (cairan lambung) per hari. 2.1. dan beberapa obat. Hormon gastrik yang disekresi langsung masuk kedalam aliran darah. Pada saat chyme siap masuk kedalam duodenum. HCL (hydrochloric acid). glukosa. 6. Mengontrol aliran chyme (makanan yang sudah dicerna dalam lambung) kedalam duodenum. Perubahan pola makan b. Alkohol dan nikotin rokok . Mencerna makanan secara mekanikal.

Dan dispepsia cukup banyak dijumpai. Menurut Sigi. Insiden dispepsia pertahun diperkirakan antara 1 – 8 % (Suryono S. Rasa perih di ulu hati c. Stres e. Rasa lekas kenyang . prevalensinya sekitar 10 – 20 % (Kusmobroto H. kadang-kadang sampai muntah d. dispepsia juga merupakan keluhan yang banyak dijumpai. Mual. Sekitar 4 % penderita berkunjung ke dokter umumnya mempunyai keluhan dispepsia. et all. 2001 hal 154). nyeri perut (abdominal discomfort) b. Didaerah asia pasifik.d. Nafsu makan berkurang e. Di inggris dan skandinavia dilaporkan angka prevalensinya berkisar 7 – 41 % tetapi hanya 10 – 20 % yang mencari pertolongan medis. Tumor atau kanker saluran pencernaan 4. 2003) 5. Manifestasi Klinik a. di negara barat prevalensi yang dilaporkan antara 23 dan 41 %. Insiden Berdasarkan penelitian pada populasi umum didapatkan bahwa 15 – 30 % orang dewasa pernah mengalami hal ini dalam beberapa hari.

Regurgitasi (keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba) 6. kekosongan lambung dapat mengakibatkan erosi pada lambung akibat gesekan antara dinding-dinding lambung. pemasukan makanan menjadi kurang sehingga lambung akan kosong. gunakan obat secara wajar dan tidak mengganggu fungsi lambung. Rasa panas di dada dan perut h. Perut kembung g. cabai. Patofisiologi Perubahan pola makan yang tidak teratur. Pencegahan Pola makan yang normal dan teratur. dan pantang rokok. sehingga rangsangan di medulla oblongata membawa impuls muntah sehingga intake tidak adekuat baik makanan maupun cairan. sebaiknya tidak mengkomsumsi makanan yang berkadar asam tinggi.f. bila harus makan obat karena sesuatu penyakit. alkohol. pilih makanan yang seimbang dengan kebutuhan dan jadwal makan yang teratur. Penatalaksanaan Medik . obat-obatan yang tidak jelas. misalnya sakit kepala. 7. kondisi demikian dapat mengakibatkan peningkatan produksi HCL yang akan merangsang terjadinya kondisi asam pada lambung. 8. zat-zat seperti nikotin dan alkohol serta adanya kondisi kejiwaan stres.

Penatalaksanaan farmakologis yaitu: Sampai saat ini belum ada regimen pengobatan yang memuaskan terutama dalam mengantisipasi kekambuhan. juga perlu diperiksa : laboratorium. Obat-obatan yang diberikan meliputi antacid (menetralkan asam lambung) golongan antikolinergik (menghambat pengeluaran asam lambung) dan prokinetik (mencegah terjadinya muntah) 9. endoskopi. USG. Penatalaksanaan non farmakologis 1) Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung 2) Menghindari faktor resiko seperti alkohol. maka perlu dipastikan penyakitnya. .a. selain pengamatan jasmani. nikotin rokok. Hal ini dapat dimengerti karena pross patofisiologinya pun masih belum jelas. dan stres 3) Atur pola makan b. Test Diagnostik Berbagai macam penyakit dapat menimbulkan keluhan yang sama. obat-obatan yang berlebihan. dan lain-lain. makanan yang peda. maka perlu dilakukan beberapa pemeriksaan. oleh karena dispepsia hanya merupakan kumpulan gejala dan penyakit disaluran pencernaan. radiologis. seperti halnya pada sindrom dispepsia. Untuk memastikan penyakitnya. Dilaporkan bahwa sampai 70 % kasus DF reponsif terhadap placebo.

akhir-akhir ini makin banyak dimanfaatkan untuk membantu menentukan diagnostik dari suatu penyakit. dan lainnya. Pada dispepsia fungsional biasanya hasil laboratorium dalam batas normal. diabets mellitus. Setidak-tidaknya perlu dilakukan pemeriksaan radiologis terhadap saluran makan bagian atas.a. Laboratorium Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan lebih banyak ditekankan untuk menyingkirkan penyebab organik lainnya seperti: pankreatitis kronik. apalagi alat ini tidak menimbulkan efek samping. dan sebaiknya menggunakan kontras ganda. b. d. Waktu Pengosongan Lambung . c. dapat digunakan setiap saat dan pada kondisi klien yang beratpun dapat dimanfaatkan e. Radiologis Pemeriksaan radiologis banyak menunjang dignosis suatu penyakit di saluran makan. gambaran endoskopinya normal atau sangat tidak spesifik. USG (ultrasonografi) Merupakan diagnostik yang tidak invasif. Endoskopi (Esofago-Gastro-Duodenoskopi) Sesuai dengan definisi bahwa pada dispepsia fungsional.

anoreksia. Konsep Asuhan Keperawatan 1. regurgitasi (keluar cairan dari lambung secar tiba-tiba). (Mansjoer A. perasaan panas di dada daerah jantung (heartburn). kembung. cepat kenyang. rasa lekas kenyang. Dampak Dispepsia Terhadap Kebutuhan Dasar Manusia 3. mengelompokkan data dan menganalisa data. Data fokus yang berhubungan dengan dispepsia meliputi adanya nyeri perut. Hal. rasa pedih di ulu hati. et all. 2000.Dapat dilakukan dengan scintigafi atau dengan pellet radioopak. mual. muntah. regurgitasi. dan beberapa keluhan lainnya (Warpadji Sarwono. perut kembung. Pada dispepsia fungsional terdapat pengosongan lambung pada 30 – 40 % kasus. Diagnosa Keperawatan Menurut Inayah (2004) bahwa diagnosa keperawatan yang lazim timbul pada klien dengan dispepsia. nafsu makan berkurang. hal. 26) 2. B. . Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dari proses dimana kegiatan yang dilakukan yaitu : Mengumpulkan data. perut terasa penuh. rasa panas di dada dan perut. Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis (sindrom) yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit diperut bagian atas yang dapat pula disertai dengan keluhan lain. a. sendawa. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung. 1996. 488). mual kadang-kadang muntah.

beratnya 1. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung. dengan kriteria klien melaporkan terjadinya penurunan atau hilangnya ras nyeri INTERVENSI RASIONAL 1. kemajuan penyembuhan . Dengan posisi semi-fowler dapat menghilangkan tegangan kefektifan obat.b. Kaji tingkat nyeri. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah makan. Berguna dalam pengawasan (skala 0 – 10) 2. muntah d. c. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual. Anjurkan menghindari klien makanan untuk abdomen yang dengan posisi telentang dapat meningkatkan kerja asam yang bertambah 2. a. Berikan istirahat dengan posisi semifowler 3. Rencana Keperawatan Rencana keperawatan adalah tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menngulangi masalah keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatannya 4. Tujuan : Terjadinya penurunan atau hilangnya rasa nyeri. anoreksia.

relaksasi melanjutkan 7. Tujuan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang diharapkan individu. anoreksia. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah makan. mencegah terjadinya perih pada 5. Untuk haluaran tiap jam secara mengidentifikasi dari indikasi/perkembangan .lambung 4. Pantau dan dokumentasikan dan 1. Kolaborasi dengan pemberian obat analgesik 6. Anjurkan klien untuk tetap 3. Observasi TTV tiap 24 jam ulu hati/epigastrium 6. dapat menghilangkan dan nyeri akut/hebat mengatur waktu makannya menurunkan aktivitas peristaltik 4. Diskusikan dan ajarkan teknik 5. Mengurangi rasa nyeri atau dapat terkontrol 7. Menghilangkan rasa nyeri dan mempermudah kerjasama berikutnya intervensi sebagai indikator untuk dengan intervensi terapi lain b. dengan kriteria menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi INTERVENSI RASIONAL 1.

Mengukur keefektifan nutrisi 7. kemajuan penyembuhan 5. hasil yang diharapkan Membantu keseimbangan tepat menentukan cairan yang sering 3. Buang masalah untuk meningkatkan intake nutrisi. dan cairan muntah. mual. 5. Monitor intake dan output secara pengawasan kefektifan obat. meminimalkan anoreksia. dan 4. Timbang BB klien 3. 7. Air Besar mengidentifikasi pemecahan frekuensi. 6. Catat status nutrisi paasien: mengurangi iritasi gaster turgor badan. dan tetapkan jika ada hubungannya Awasi konsistensi (BAB). timbang berat integritas mukosa 4.adekuat 2. Kaji pola diet klien yang disukai/tidak disukai. Catat adanya anoreksia. kulit. Dapat menentukan jenis diet dan volume. meningkatkan intake diet klien. adanya bising usus. periodik. Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik. 6. . dengan medikasi. Berikan makanan sedikit tapi 2. kemampuan menelan. Berguna dalam mendefinisikan derajat masalah dan intervensi yang tepat Berguna dalam mulut. riwayat mual/rnuntah atau diare.

Identifikasi rencana untuk 3. Awasi tekanan darah dan nadi. muntah Tujuan : Menyatakan pemahaman faktor penyebab dan prilaku yang perlu untuk memperbaiki defisit cairan. perubaan dengan keseimbangan kriteria cairan. INTERVENSI RASIONAL 1. turgor kulit 2. turgor kulit baik. Awasi jumlah dan tipe masukan 2. mempertahankan/menunjukkan dibuktikan stabil. Klien tidak cairan.c. status sirkulasi perifer dan hidrasi seluler mengkomsumsi sekali membran mukosa. meningkatkan/mempertahanka n keseimbangan cairan optimal dan misalnya : jadwal masukan laksatif/diuretik cairan atau Membantu cairan sama mengakibatkan dehidrasi atau mengganti cairan kalori untuk yang berdampak pada keseimbangan klien menerima perasaan bahwa akibat muntah penggunaan mencegah . 1. Indikator keadekuatan volume pengisian kapiler. Diskusikan menghentikan strategi muntah untuk masukan dan penggunaan laksatif/diuretik elektrolit 4. ukur haluaran urine dengan akurat 3. membran mukosa lembab. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual.

Berikan/awasi hiperalimentasi IV kehilangan cairan lanjut 4. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatannya Tujuan : Mendemonstrasikan koping yang positif dan mengungkapkan penurunan kecemasan. Berikan dorongan dan berikan waktu untuk mengungkapkan pikiran dan dengarkan semua keluhannya 3. Jelaskan semua prosedur dan pengobatan 4. penyakitnya. INTERVENSI 1. Tindakan memperbaiki daruat untuk ketidak seimbangan cairan elektroli d.5. Klien memahami dan mengerti . Kaji tingkat kecemasan 2. Berikan dorongan spiritual 2. Melibatkan klien dalam rencana untuk memperbaiki keseimbangan untuk berhasil 5. Klien merasa ada yang RASIONAL 1. Mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan yang dirasakan oleh klien sehingga memudahkan dlam tindakan selanjutnya dengan kriteria menyatakan pemahaman tentang memperhatikan sehingga klien merasa aman dalam segala hal tundakan yang diberikan 3.

Asuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan sistem pencernaan. et al. 1994. et al. Patofisiologi. 2004. EGC Price & Wilson. 2002. dan apabila tidak berhasil perlu dikaji. EGC Warpadji Sarwono. FKUI Doengoes. edisi pertama. jilid 2. Keperawatan Medikal Bedah. Rencana asuhan keperawatan. Evaluasi Tahap evaluasi dalam proses keperawatan mencakup pencapaian terhadap tujuan apakah masalah teratasi atau tidak. et al. Jakarta. edisi 4. Medika aeusculapeus Suryono Slamet. et al. EGC Inayah Iin. Bahwa segala tindakan yang diberikan penyembuhan masih ada untuk proses dalam penyakitnya. yang berkuasa yaitu menyembuhkannya Tuhan Yang Maha Esa. 2000. 2001. buku ajar ilmu penyakit dalam. 5. Salemba Medika. edisi 3. Jakarta. A. 1996. edisi 3 Jakarta. FKUI . 2000. Jakarta. E. Kapita selekta kedokteran. Ilmu penyakit dalam. Jakarta. Jakarta. M.tentang prosedur sehingga mau bekejasama perawatannya. edisi . Manjoer. 2 Jakarta. 4. direncanakan dan dilaksanakan dalam jangka waktu panjang dan pendek tergantung respon dalam keefektifan intervensi DATAR PUSTAKA Brunner & Suddart. Edisi 8 Vol.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful