Metode SMS - Sistem Menjadi Sholeh/ah

QUANTUM Mentoring
Panduan Keislaman untuk Remaja
oleh Ilman Naafi'an

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring
Panduan Keislaman Untuk Remaja
oleh Ilman Naafi'an

Buku yang disusun oleh tim modul bagian R & D ILNA Learning Center merupakan salah satu karya terbaiknya. Berisi materi mentoring dan beberapa tips khusus untuk mentor. Mengambil judul quantum yang berarti lompatan. Ya, tentu suatu lompatan yang lebih baik dalam kehidupan pribadi di dunia dan di akhirat. Mari kita doakan, semoga penulis tetap berkarya, dimudahkan segala urusannya, dihindarkannya dari neraka dan dimasukkannya ke surga-Nya. Amien!!!

Quantum Mentoring
© 2011 Ilham Publishing
All rights reserved. No parts of this work may be reproduced in any form or by any means - graphic, electronic, or mechanical, including photocopying, recording, taping, or information storage and retrieval systems - without the written permission of the publisher. We always give permission for Allah ways & dawah. Don't worry! Products that are referred to in this document may be either trademarks and/or registered trademarks of the respective owners. The publisher and the author make no claim to these trademarks. While every precaution has been taken in the preparation of this document, the publisher and the author assume no responsibility for errors or omissions, or for damages resulting from the use of information contained in this document or from the use of programs and source code that may accompany it. In no event shall the publisher and the author be liable for any loss of profit or any other commercial damage caused or alleged to have been caused directly or indirectly by this document. Printed: February 2011 in (Karawang -INDONESIA)

Publisher Marwa Managing Editor 'Irfan Technical Editors Fahmi Mufidah Cover Designer Hazim Team Coordinator Mufid Production Ilham Publishing

Special thanks to: Allah SWT, Rasulullah SAW, all the people who contributed to this document, to the graphic artist who created this great product logo on the cover page (you did a great work), to Indonesian people and all moslems in the world.

I

Quantum Mentoring

Daftar Isi
Foreword 1

Bab I Kata Pengantar Bab II Konsep Quantum Mentoring

3 5

1 Kegiatan Mentoring Utama ................................................................................................................................... 5 2 Kegiatan Pendukung ................................................................................................................................... 7 3 Mentor/Murabbi ................................................................................................................................... 7
Suplemen to Mentor .......................................................................................................................................................... 9

Bab III Ma'rifatul Islam Bab IV Cinta Kepada Allah Bab V Tauhidullah Bab VI Makna Kata "ILAH" Bab VII Ma'rifatullah Bab VIII Ma'rifatulrasul Bab IX Al Quran Bab X Tuntutan Iman Terhadap Al Quran Bab XI Urgensi Shahadatain Bab XII Makna Dua Kalimat Syahadat Bab XIII Konsep Diri Seorang Manusia Bab XIV Sifat-sifat Manusia Bab XV Citra Diri Wanita Muslimah Bab XVI Pentingnya Akhlak Islami Bab XVII Problematika Umat

12 19 22 27 29 33 37 40 53 56 59 61 64 68 72

1 Mampukah Aku Menjadi Wanita Sholihah? ................................................................................................................................... 65

© 2011 Ilham Publishing

II

Bab XVIII Urgensi Pendidikan Dan Pembinaan Islam Dalam Pengembangan Kepribadian Muslim Bab XIX Ghozwul Fikri Bab XX Ukhuwah Islamiyah Bab XXI Pilar-pilar Kesempurnaan Ibadah Bab XXII Islam dan Sunnatullah Bab XXIII Islam dan Teknologi Bab XXIV Syukur Nikmat Index

77 84 88 92 95 101 107 0

© 2011 Ilham Publishing

1

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Al-Baqarah: 286)

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

I
Kata Pengantar

3

Quantum Mentoring

Bab 1. Kata Pengantar
Segala puji bagi Allah, Rabb yang telah menciptakan dan memelihara alam semesta, menciptakan manusia, mengajarkannya hingga pandai berbicara. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah bagi junjungan, tauladan dan pemimpin umat manusia, Rasulullah Muhammad SAW. Mentoring Module ini diterbitkan sebagai sumbangsih kami bagi pembinaan generasi muda muslim. Perhatian kami terhadap pembinaan generasi muda merupakan hal yang sangat penting. Hal ini merupakan misi kami, yang menjadi ciri khas organisasi kami. Pembinaan aqidah dan akhlaq generasi muda merupakan kunci untuk mengembalikan posisi penting generasi muda sebagai tulang-punggung negara. Pemuda yang memiliki aqidah yang kokoh dan akhlaq yang mulia merupakan tumpuan harapan umat, sosok yang akan menjadi penolong bagi masyarakat, mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya Islam. Karena itu, disusunlah modul ini untuk membantu pihak-pihak yang memiliki kepedulian dalam membina aqidah dan akhlaq generasi muda. Kami ucapkan terima kasih yang tak terkira terutama kepada tim modul yang kerja keras dan pengorbanan yang telah diberikan, semoga Allah SWT membalas amal baik Anda dengan pahala yang berlipat ganda. Juga kepada semua pihak yang telah masukan yang berharga bagi penyusunan buku ini. Kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan untuk meningkatkan kualitas modul ini pada penerbitan-penerbitan berikutnya.

R&D ILNA Learning Center

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

II
Konsep Quantum Mentoring

5

Quantum Mentoring

Bab 2. Konsep Quantum Mentoring
2.1 Kegiatan Mentoring Utama
* Kegiatan utama meliputi dua kegiatan yaitu : 1. kegiatan penyampaian materi mentoring 2. kegiatan studi baca tulis Al Qur'an ( SUBATA ) Kegiatan Penyampaian Materi Mentoring merupakan kegiatan utama ujung tombak dari serangkaian bentuk kegiatan mentoring lainnya. Dikemas dalam bentuk Diskusi Interaktif antara Mentor (pendamping atau pemandu) dengan beberapa peserta mentoring mengkaji materi-materi yang telah disusun. Kegiatan ini dilakukan dalam satu pekan satu kali pertemuan. Topik Materi Mentoring itu terbagi dalam 9 materi wajib yang harus disampaikan oleh mentor terhadap peserta mentor.

Sembilan Materi Wajib :
1. Ma'rifatul Islam 2. Ma'rifatullah 3. Ma'rifatul Rasul 4. Ma'na Syahadat'ain 5. Ma'rifatul Insan 6. Ma'rifatul Qur'an 7. Pergaulan Remaja yang Islami 8. NAPZA 9. Fiqh Ibadah

Proses selama mentoring saat diskusi interaktif meliputi :
1. Diskusi studi kasus menuju topik utama 2. Pemberian wawasan (materi pokok) 3. Pemantauan dan penugasan dari mentor 4. Kegiatan-kegiatan sebagai evaluasi secara umum

Rincian Proses
Pada proses ini, maka forum mentoring menggunakan alokasi waktu sebesar 120 menit, dengan rincian : 1. Membaca Al Qur'an :15 menit 2. Materi utama (wawasan) : 60 menit 3. Dialog tentang materi : 30 menit 4. Evaluasi forum dan materi : 15 menit

Metode Penyampaian
Banyak metode yang dapat diterapkan dalam mentoring kelompok. Tentunya hal ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan kreativitas mentor. Oleh karenanya berbagai metode ini akan dikupas dan dipelajari dalam Pembekalan Mentor. Beberapa metode yang bisa
© 2011 Ilham Publishing

Konsep Quantum Mentoring

6

digunakan dalam mentoring sebagai berikut : 1. Ceramah/kuliah Merupakan usaha penyampaian materi kepada peserta yang sifatnya searah (komunikasi satu arah). Keuntungannya a. Materi yang telah dipersiapkan dapat dipastikan tersampaikan b. Metode ini lebih tepat jika waktu yang tersedia sedikit c. Tidak banyak memerlukan fasilitas/alat bantu Kelemahannya a) Materi akan sulit dipahami sepenuhnya, kecuali bila digunakan alat bantu visual b) Tidak adanya partisipasi peserta tentang topik yang dibahas c) Akan timbul rasa bosan pada peserta (terlebih lagi jika mentornya monoton dalam menyampaikan) 2. Diskusi Diskusi merupakan proses pertukaran pendapat, perasaan dan pengalaman antara dua orang atau lebih tentang topik tertentu. Metode diskusi akan sangat efektif pada kelompok kecil karena memungkinkan setiap anggota menyumbangkan pikirannya. Dalam metode diskusi terjadi komunikasi dua arah antara peserta dengan mentor dan antar peserta itu sendiri. 3. Permainan peran (Role Play) Merupakan metode latihan yang dimaksudkan untuk menempatkan seseorang pada situasi tertentu seolah-olah menggambarkan situasi yang sebenarnya. Metode ini bagus karena fungsi kejiwaan peserta juga diuji. 4. Studi kasus Pada metode ini peserta dihadapkan pada suatu kasus tertentu dan diberikan informasiinformasi yang diperlukan peserta untuk menilai, mempelajari dan berusaha memecahkan kasus tersebut. 5. Mengajukan pertanyaan Metode ini untuk menunjang metode ceramah dan diskusi yang dilakukan. Pertanyaan bisa juga dilakukan oleh mentor untuk mengetahui sejauh mana materi yang telah disampaikan dapat diserap/dipahami oleh peserta. 6. Penugasan Metode ini digunakan untuk mengetahui pemahaman peserta dan mengembangkan kreativitas dan kemandirian peserta. Dapat dilakukan dengan memberi tugas ke peserta untuk diselesaikan soal/masalah tersebut. 7. Permainan Kelompok (Game) Pada metode ini peserta diminta mengerjakan suatu bentuk permainan tertentu yang didalamnya terdapat konsep materi yang akan disampaikan. Adapun untuk kegiatan SUBATA (Study Baca Tulis Al-qur'an) deskripsi pelaksanaannya sebagai berikut : Studi Baca Tulis Al-Qur'an akan dibagi dalam dua yaitu kelas A dan B. Kelas A untuk peserta
© 2011 Ilham Publishing

7

Quantum Mentoring

mentoring yang belum bisa ataupun belum lancar baca Al-Qur'an sedangkan kelas B untuk peserta mentoring yang belum menguasai hukum tajwid dalam membaca Al-Qur'an. Kegiatan ini dilakukan 4 kali pertemuan, 2 minggu sekali pada saat kegiatan mentoring utama berjalan. Kelompok pada SuBaTa sama dengan kelompok pada penyampaian materi mentoring.

2.2

Kegiatan Pendukung
Meliputi : 1. Pembukaan Mentoring 2. Grand Opening Mentoring Lanjutan 3. Liga Mentoring Suatu kompetisi sepakbola antar kelompok mentoring sebagai variasi proses pembinaan jasadiyah yang dilakukan per pekan. Dilakukan secara bertahap diawali di tingkat jurusan, tingkat fakultas, dan tingkat institut. 4. Mabit Mentoring Suatu momen acara bisa digunakan sebagai bagian proses pembinaan bagi mente dan juga sebagai proses syiar dengan menggunakan potensi jumlah peserta mentoring yang besar 5. SMS Mentoring Seminar Midst Semester Mentoring (SMS Mentoring) merupakan kegiatan yang dilakukan untuk saling mempererat ukhuwah antar mentoring satu dengan lainnya. Dilaksanakan pada pertengahan Kegiatan Mentoring. Bentuk SMS Mentoring a. Seminar b. Talk show c. Temu tokoh d. Bedah buku e. dll

2.3

Mentor/Murabbi
Adalah pelaksana proses tarbiyah dengan focus kerjanya pada : pembentukan pribadi muslim yang shalih mushlih, yang memperhatikan aspek : § Pemeliharaan § Pengembangan § Pengarahan § Pemberdayaan PERAN MENTOR/MURABBI § Walid dalam hubungan emosional § Syaikh dalam tarbiyah ruhiyah § Ustadz dalam ifadah ilmiyah § Qaid dalam kebijakan umum
© 2011 Ilham Publishing

Konsep Quantum Mentoring

8

PERSIAPAN · Usahakan terlebih dahulu mentor mempraktekkan materi yang akan disampaikan. · Buat alokasi waktu (disesuaikan kebutuhan/kondisi). · Persiapan ruhiyah mutlak dilakukan (Muroja'ah dan Do'a). · Diharapkan mentor dapat mengembangkan materi secara kreatif (tidak hanya berpatokan pada silabus/materi). PELAKSANAAN · Memberitahukan tentang tujuan bahan mentoring. · Memberitahukan tentang pentingnya bahan mentoring yang akan disampaikan · Tidak menuliskan semua hal pada papan tulis, artinya hanya kata-kata inti atau katakata emas saja · Penjelasan yang diberikan harus benar-benar relevan, artinya berhubungan dengan masalah saja. · Menghubungkan hal yang akan diterangkan dengan hal-hal yang telah diketahui oleh peserta · Menyajikan bahan diusahakan semenarik mungkin · Aktif dalam memperkenalkan diri (agar tidak menjadi asing) ditengah mereka · Buat kesan bahwa "Mentoring itu Fun, Fresh, and Focus" EVALUASI (Setelah Menyampaikan Materi) · Menilai peserta · Menilai proses · Membuat perencanaan untuk pertemuan berikutnya · Kritik dan saran peserta · Penilaian umum oleh mentor · Kegiatan cepat-tepat untuk menilai penyerapan peserta terhadap materi mentoring PENYAJIAN BAHAN · Variasi nada suara, alat dan media, gerak, posisi, berdiri dan duduk · Menyelingi uraian yang serius dengan beberapa kisah (intermezzo) · Memberi kesempatan kepada peserta untuk mengalami sesuatu yang lain atau sedikit menarik nafas · Variasi sikap yang wajar meliputi : variasi pandangan, tangan, langkah, senyum dan pakaian · Variasi kegiatan bila sekiranya peserta nampak lelah/bosan dengan mengadakan ice breaking atau games untuk menyegarkan suasana mentoring YANG · · · · · · PERLU DIPERHATIKAN DALAM MENTORING Penguatan materi Cinta kepada apa yang diajarkan Mengetahui latar belakang peserta, menyajikan pengetahuan factual dan aktif mengikuti perkembangan trend remaja Berani memberikan pujian kepada peserta mentoring Memberikan semangat pada peserta mentoring Sikap yang harus dikembangkan dalam mentoring : tidak menggurui

© 2011 Ilham Publishing

9

Quantum Mentoring

-

tidak menjadi ahli (serba tahu) tidak berdebat tidak diskriminatif jangan membaca silabus pada saat yang dekat ketika anda akan memberikan materi tersebut gunakan kata yang jelas, sederhana, dan jangan sering mengulang kata-kata yang sama hindari kata-kata yang tidak baik/tidak bermanfaat

PERHATIAN BAGI MENTOR § Hindari kebiasaan-kebiasaan refleks yang anda tidak sadari saat berbicara (seperti garuk-garuk, memainkan ballpoint, memainkan jari, memainkan ujung jilbab) karena hal ini dapat mengganggu karena sering tidak disadari. § Usahakan ketika berbicara anda dapat melihat semua peserta, sehingga dapat melihat respon/perhatian mereka (diharapkan jangan sering menunduk), hal ini dilakukan agar peserta merasa diperhatikan dan mereka memperhatikan anda.

2.3.1

Suplemen to Mentor HOW TO MAKE OUR DAKWAH SUCCESS
Bingung memulai mentoring? Atau lupa sama materi yang akan disampaikan? Mungkin bisa dicoba beberapa tips berikut. Walaupun cuma tausiyah ringan tapi bisa dicoba di lapangan. Before Action Apa yang harus disiapkan sebelum mentoring? Sebenarnya sudah sangat jelas bahwa mentoring bertujuan untuk mengenalkan dan membina pelajar agar menjadi individu muslim yang berakhlak Islami, menjadi pendukung dakwah Islam dan menjadi penyebar dakwah di sekolah dan masyarakat. Trus gimana caranya ? Kalau tujuan mentoring seperti itu, maka perubahan yang harus kita lakukan terhadap peserta adalah perubahan perilaku, akhlak, dan fikrah keIslamannya. Artinya, kita harus mempersiapkan kekuatan maknawiyah (keimanan) sebelum terjun ke medan perang tarbawi ini. Biasakan untuk mengawali persiapan dengan tilawah agar perkataan kita diberi 'bobot' oleh Allah SWT, karena allah yang Maha membolak-balik hati hamba-hamba-Nya. Juga jangan lupa shalat malam sehari sebelumnya. Mudah-mudahan dengan persiapan ruhiyah yang cukup, lidah kita tidak kelu saat memberi materi mentoring. Trus apalagi persiapannya? Persiapan materi. Brothers, ingatlah bahwa seluruh ucapan kita harus bertandaskan dengan ilmu. Bobot perkataaan kita juga akan bernilai jika didasari dengan referensi-referensi Ilahiyah dan pemikiran para pakar-pakar dakwah. Mungkin buku Mentoring Module yang diterbitkan ILNA
© 2011 Ilham Publishing

Konsep Quantum Mentoring

10

dapat menjadi entri point Antum dalam memberikan materi. Tapi lebih bagus lagi kalau referensi yang disarankan juga Antum baca. Tapi jangan lupa, jadilah mentor yang menyenangkan, jangan terkesan mengurui. Tips lainnya? Supaya persaudaraan kita dengan adik mentor tambah erat, sudah selayaknya sebelum mentoring kita mengingatkan adik-adik mentor untuk datang pada saat mentoring. Jika ternyata adik mentor beralasan tidak bisa hadir, maka pastikan alasannya syari. Dan tetap berikan simpati yang baik sambil tetap memberikan tausiyah yang memperkokoh ikatan persaudaraan dengannya. At The Battle Berikut ada beberapa tips singkat saat 'pertempuran' itu berlangsung : 1. Sambut saudaramu dengan senyuman yang tulus. Senyuman yang penuh dengan rasa cinta fillah, kemudian ulurkan tanganmu, jabat tangannya dengan penuh kehangatan. Jangan malu utnuk menunjukkan kehangatan ukhuwah. Kesan pertama bagi adik sangat menentukan proses mentoring selanjutnya. Ingat saudaraku : "Tak ada kesempatan kedua untuk memberikan kesan pertama" 2. Lakukan pembukaan (tahmid, shalawat, basmalah, tilawah). 3. Lakukan warming up (kalau memungkinkan) yaitu dengan menulis cepat harapan selama mentoring setelah diberitahukan topik mentoring, setelah itu lakukan review hasil menulis cepat. 4. Lakukan review materi sebelumnya, jawab pertanyaan jika ada yang bertanya. 5. Selalu ingatkan adik agar bersyukur bahwa kita dilahirkan dalam keadaan Islam, karena orang Islam akan dijamin masuk surga, bersyukur bahwa kita dilahirkan dalam keadaan sehat dan ingatkan bahwa beberapa implementasi dari bersyukur adalah ibadah yang benar, menuntut ilmu dengan benar. 6. Manfaat ukhuwah Islamiyah. 7. Tanyakan bagaimana kondisi adik-adik. 8. Sampaikan materi inti. 9. Menanyakan hajat satu persatu dan didoakan bersama-sama satu persatu. Misalkan masalah diniyah, kuliah, keluarga atau keseharian di kampus, bahkan permasalahan remaja sekalipun (curhat). 10. Pernyataan cinta fillah. Bersalaman-berpelukan kalau perlu pernyataan cinta fillah.

Before The End of Battle Sebelum berpisah, Ingatkan pertemuan selanjutnya, Tegaskan kembali janji atau kesediaan Antum untuk membantu adik mentor dalam urusan tertentu (misalnya meminjamkan buku) dan, Catat keadaan terakhir dirinya (ruhiyah, akademis, keluarha, dll) di catatan pribadi Antum, supaya bisa di follow-up atau dibantu mentor lainnya.

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

III
Ma'rifatul Islam

Ma'rifatul Islam

12

Bab 3. Ma'rifatul Islam
TUJUAN · Peserta memahami pengertian diin menurut Al-Qur'an · Peserta mengetahui perbedaan dienullah dan dien ghairu dienullah · Peserta mengetahui kesempurnaan ajaran Islam sehingga berusaha mengamalkan dan mempelajarinya

Semua agama sama saja. Itulah pernyataan yang sering kita dengar, yang dilontarkan oleh tokohtokoh tertentu dan kemudian diikuti –secara latah- oleh masyarakat awam. Biasanya pernyataan itu dilontarkan dalam rangka menurunkan tingkat 'ekstrimitas' pada kalangan penganut agama, terutama umat islam, terhadap agamanya atau dalam rangka meneguhkan sikap toleransi pemeluk agama lain.
RINCIAN BAHASAN Ad-Dien Menurut Al-Qur'an · Dienullah, Dienul Islam (QS.48:28, 61:90). Yaitu diin yang dibawa oleh semua rasul dan nabi untuk keselamatan manusia. Disebut juga dengan dienul-haq dan dienul samawi. · Dienu ghoiru dienullah, bukan dari Allah. Jumlahnya lebih dari satu (QS.48:28). Yaitu diin hasil rekayasa pikiran manusia, biasa disebut juga agama budaya (dienul ardh) Ciri-ciri Dienullah / Dienul Samawi · Bukan tumbuh dari masyarakat, tapi diturunkan untuk masyarakat · Disampaikan oleh manusia pilihan Allah, utusan itu hanya menyampaikan bukan menciptakan · Memiliki kitab suci yang bersih dari campur tangan manusia · Konsep tentang Tuhannya adalah tauhid · Pokok-pokok ajarannya tidak pernah berubah dengan perubahan masyarakat penganutnya · Kebenarannya universal dan sesuai dengan fitrah manusia Ciri-ciri Dienul Ardh · Tumbuh dalam masyarakat · Tidak disampaikan oleh rasul Allah · Umumnya tidak memiliki kitab suci, walaupun ada sudah mengalami perubahanperubahan dalam perjalanan sejarah · Konsep Tuhannya dinamisme, animisme, politheisme, dll. · Ajarannya dapat berubah-ubah sesuai dengan perubahan masyarakat penganutnya · Kebenaran ajarannya tidak universal, yaitu tidak berlaku bagi segenap manusia, masa dan keadaan I. Makna Islam 1. Arti Bahasa (Lughawie) Ditinjau dari akarnya, Al Islam berasal dari kata sa-la-ma berarti selamat atau damai. Di dalam Al Qur'an kata tersebut kemudian digunakan dengan beberapa tambahan atau perubahan misalnya :

© 2011 Ilham Publishing

13

Quantum Mentoring

a. b. c. d. e.

Aslama : menyerah (QS. 3:83, 4:125) Istaslama-taslim-mustaslimun : Penyerahan total kepada Allah (QS. 4:65, 37:26) Saliim : bersih, suci (QS. 26:89, 37:83-84) Salam : Kesejahteraan (QS. 39:73) Salm : damai (QS. 47:35, 8:61)

Secara Terminologis / Istilah · Aturan Ilahi yang diberikan kepada manusia yang berakal sehat untuk kebahagiaan hidup mereka di dunia dan akhirat · Ajaran Islam : ¨ Sesuai fitrah manusia (QS.30:10). ¨ Kepentingan seluruh manusia (QS.34:28) ¨ Rahmat seluruh alam (QS.21:107) ¨ Untuk meningkatkan kualitas hidup manusia (QS.2:179) ¨ Sangat sempurna (QS.5:3) Dari beberapa uraian serta hadist-hadist dapat disimpulkan bahwa Islam adalah : a. Aqidah, yang tercermin dengan syahadatain dan rukun iman. b. Ibadah, yang tercermin dengan shalat, zakat, puasa, haji yang disebut dengan rukun Islam c. Bangunan (sistem) yang tegak di atas rukun-rukun tersebut yang tercermin dengan seluruh system hidup Islam yang mencakup sistem politik, ekonomi, social, budaya, pendidikan, kemiliteran, akhlaq, dll. d. Tiang-tiang penegak sebagai cara menegakkan Islam yang tercermin dengan jihad, amar ma'ruf nahi munkar, dan hokum serta sanksi-sanksinya. Itulah gambaran ringkas tentang Islam. Sedangkan segala hal yang bertentangan dengan Islam disebut jahiliah, dan jahiliah inilah lawan dari Islam. II. Karakteristik Islam 1. Rabbaniyah Rabbaniyah berasal dari kata rabb, Islam disebut memiliki sifat rabbaniyyah karena ia bersumber dari Rabb yakni Allah SWT. Jadi islam bukanlah hasil ciptaan Rasulullah SAW dan bukan karya manusia manapun. Ini ditegaskan dalam Al Qur'an : "Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci." (Ash-Shaff 9) Ayat ini menegaskan bahwa nabi Muhammad SAW hanyalah pesuruh Allah SWT dan apa yang disampaikan oleh beliau tidak lebih dari apa yang dipesankan oleh-Nya.Rasulullah SAW tidaklah mengatakan selain dari apa yang diwahyukan oleh Allah SWT : "Dan tidaklah ia (Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tidah lain hanyalah wahyu yang disampaikan kepadanya". (An-Najm:3-4) Ayat-ayat ini dengan qoth'i (tegas) membatalkan dugaan bahwa Rasulullah adalah sumber segala informasi dan ajaran yang termuat dalam Al Qur'an. Dan tuduhan itu pernah dilontarkan oleh orang-orang musyrik Quraisy seperti juga pernah dipopulerkan oleh beberapa orientalis. Semakin memperkuat ketidakterlibatan Rasulullah SAW dalam "pembuatan Al Qur'an adalah peringatan keras dari Allah SWT kepada beliau dengan firmanNya : "Ia (Al Qur'an) adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya Muhammad mengadakan (membuat-buat) sebagian perkataan (ayat) atas nama Kami,
© 2011 Ilham Publishing

Ma'rifatul Islam

14

niacaya akan kami siksa dia dengan kekuasaan (Kami). Kemudian Kami potong tali jantungnya. Maka tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) dari pemotongan itu". (Al Haqqah : 43-47). Di samping ayat-ayat di atas, ada banyak bukti lain yang menjadi dalil kemustahilan Al Qur'an bersumber dari Rasulullah Saw. Diantara bukti-bukti itu adalah banyaknya ayat Al Qur'an yang memuat isyarat-isyarat sains dan teknologi. Misalnya ayat : "Maka barangsiapa Allah kehendaki untuk Dia beri petunjuk, Allah lapangkan dadanya (menerima) Islam. Dan barangsiapa Allah kehendaki untuk Dia sesatkan, Allah jadikan dadanya sesak sempit, seolah-olah ia naik ke langit." (Al An'am 125). Ayat diatas menggambarkan bahwa orang yang naik ke langit dadanya akan sesak sempit. Al Qur'an memang tidak menjelaskan kenapa hal itu (sesaknya dada seseorang saat naik ke langit) bisa terjadi Masalah "mengapanya" adalah kawasan yang bisa dijangkau oleh kemampuan manusia. Dan ternyata perkembangan ilmu pengetahuan bisa menjawabnya. Pertanyaan kita adalah, dari manakah Rasulullah SAW mengetahui teori kehampaan udara itu jika bukan dari pencipta angkasa. Refleksi Robbaniyah Sebagai ajaran yang rabbani, tentu saja Islam memancarkan sifat-sifat robbaniyah dalam seluruh ajarannya. Berbeda dengan segala ajaran manusia atau ajaran (yang asalnya) dari Allah tapi menjadi korban campur tangan manusia, Islam dalam setiap rinci ajarannya menggambarkan ke-Maha Sempurnaan Allah SWT. Beberapa contoh mungkin bisa memperkuat pernyataan di atas. Agama Kasih Sayang Allah SWT bersifat Ar-Rahman Ar-Rahim (Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Dalam setiap bagian ajaran Islam kita akan menemukan gambaran kasih sayang Allah itu. Kasih sayang Islam itu berlaku untuk semua manusia. Muslim maupun kafir. Bahkan berlaku pula untuk seluruh anggota alam semesta ini, baik makhluk hidup maupun benda mati. Hal ini juga ditegaskan dengan firman Allah SWT, "Dan tidaklah Kami untus engkau (Muhammad) melainkan menjadi rahmat bagi sekalian alam." (Al Anbiya 107). Kasih sayang Islam ini ditunjukkan oleh antara lain ajaran-ajaran Islam berikut : tercela orang yang menyakiti binatang meskipun ia rajin shalat, tidak sempurna keimanan seseorang jika ada tetangganya yang tidak bisa tidur karena kelaparan, dalam sepengatahuannya; taubat seseorang tidak diterima kecuali bila orang yang menjadi korban kedzalimannya memaafkan dan merelakan, dan lain-lain. Dan itu semua diperteguh dengan sikap para khalifah terhadap orang-orang non muslim yang tercatat dalam sejarah. Umar bin Al Khattab melindungi kaum Nasrani minoritas yang hidup dalam wilayah pemerintahannya. Sehingga mereka lebih tentram hidup di bawah pengayoman negara Islam daripada bergabung dengan kaum seagama mereka, bangsa Romawi. Untuk kepentingan manusia. Allah SWT memiliki sifat Al Ghaniy (Maha Kaya). Karena Maha Kaya, Dia tidak membutuhkan (bantuan) makhluk-Nya. Bahkan makhluk-Nyalah yang membutuhkanNya. "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak membutuhkan) sekalian alam." Dengan demikian, segala aturan yang digariskan-Nya dalam Islam pasti bukan dalam rangka kepentinganNya tapi dalam rangka kepentingan, keuntungan, dan kebutuhan manusia. (AdzDzariyat : 56-58).
© 2011 Ilham Publishing

15

Quantum Mentoring

Hanya memang tidak sedikit manusia yang belum memahami hakikat ini sehingga menuduh beberapa ajaran Islam sebagai ajaran yang kejam tidak manusiawi. Di antara bagian ajaran Islam yang sering menjadi korban tuduhan itu adalah hukum potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, dan qishash. Atau mungkin juga bukan karena mereka tidak memahami nilai tinggi hukum-hukum Allah itu, melainkan bila hukum itu diterapkan mereka akan menjadi orang-orang pertama yang menerima hukuman itu. Sesuai dengan hajat hidup Allah SWT memiliki sifat Al-'Alim (Maha Mengetahui). Sudah barang tentu segala aturan dan undang-undang yang diberlakukanNya berdasarkan ilmuNya tentang seluk beluk manusia, apa kebutuhan manusia dan apa yang paling tepat untuk mengatasi penyimpangan manusia; hukuman atau ganjaran seperti apa yang paling cocok untuk menghentikan segala kejahatan dan membangkitkan segala kebaikan. 2. Wasathiyyah dan Tawazun Islam agama yang wasath (moderat) dan tawazun (seimbang). "Dan demikianlah Kami telah menjadikan kalian umat yang adil (ditengah-tengah)." (Al Baqarah 143). Jadi umat Islam dalam keadaan memegang agama Islam yang 'asli' adalah umat yang paling baik dan seimbang. Artinya umat Islam bukan umat yang ekstrim atas (ifrath, berlebihan) bukan pula 'ekstrim bawah' (tafrith, kurang dari standart). Ini tidaklah karena agama yang mereka pegang teguh adalah agama yang wasath. Jadi, justru ekstrimitas akan terjadi manakala umat Islam itu keluar dari ajaran Islam, baik dengan menambah atau mempreteli agama Islam. Wasathiyyah dan Tawazun Islam tampak dalam hal-hal berikut : a. Bidang aqidah. Islam berdiri diantara dua kutub ekstrem yang berlawanan. Kutub pertama menolak keyakinan adanya tuhan. Sementara yang kedua, percaya pada banyak tuhan. Nah, islam membantah semuanya dan menetapkan hanya satu tuhan, Allah SWT. b. Bidang ibadah. Dalam bidnag ibadah, wasathiyyah dan tawazun Islam juga bisa dilihat dengan jelas. Ada pemikiran yang mengarahkan umatnya pada materi dan memandang ibada sebagai hal yang merugikan produktivitas. Berlawanan dengan itu, ajaran yang menjurus pada konsentrasi ritual dengan mengabaikan hak-hak duniawi. Keduanya tidak disetujui Islam, Islam memerintahkan ibadah dengan tetap tidak mengabaikan hak-hak duniawi. Firman Allah SWT : "dan carilah pada apa yang telah Allah berikan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah engkau melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi." (Al Qashash 77) Wajar kalau Al Qur'an mencela orang kafir karena kecintaan mereka yeng berlebihan terhadap harta. Sebagaimana Rasulullah SAW pun pernah mengoreksi cara ibadah Zainab. Saat itu ia memaksakan diri untuk terus Shalat Sunnah dalam keadaan letih hingga harus menggelantung pada seutas tali yang direntangkan antara dua tiang mesjid. c. Bidang akhlak. Islam membenci sifat kikir. Dan sebaliknya Islam juga tidak menyukai orang-orang yang bersikap boros dalam hidup. Oleh karena itu ketetapan Islam adalah : "Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan janganlah kamu kamu mengulurkannya (berlebihan) karena itu kamu menjadi tercela
© 2011 Ilham Publishing

Ma'rifatul Islam

16

dan menyesal."(Al Israa 29) d. Bidang hukum. Keseimbangan Islam juga begitu jelas dalam masalah hukum. Orangorang Yahudi begitu mudahnya mengharamkan sesuatu, sesuai dengan kehendak mereka. Berlawanan dengan itu, kaum Nasrani, mereka sungguh sangat longgar dalam masalah ini. Tidak sedikit hal-hal yang jelas dilarang oleh Allah, namun mereka menghalalkannya. Maka Islam hadir untuk meluruskan kedua pandangan itu. "Menghalala segala yang baik dan mengharamkan segala yang buruk." (Al Baqarah 178). 3. Waqi'iyah Tathbiqiyyah Karakteristik Islam berikutnya adalah Waqi'iyah tathbiqiyyah (realistisdan aplikatif). Namun sebelum menjelaskan lebih lanjut tentang karakteristik ini, hal yang perlu diingatkan kembali bahwa sikap dasar seorang Muslim adalah taslim (berserah diri) kepada Allah SWT. Tiada Islam tanpa ketundukan kepada Allah SWT. (Qs. 4 : 65). Ini perlu dijelaskan agar mengkaji tentang Waqi'iyyah dan tathbiqiyyah Islam berangkat dari sikap taat, dan bukan sebaliknya; sikap menentang. Dan pada akhirnya, pembahasan keistimewaan Islam dari sisi manapun, tanpa kesiapan mental untuk sami'na wa atho'na niscaya akan menjadi hal yang kurang bermanfaat. Bahwa Islam itu realistis dan aplikatif dirangkum penjelasannya oleh ayat berikut : "Maka hadapkanlah wajah (diri)-mu dengan lurus kepada agama (Islam); (pegang teguhlah) fitrah Allah itu, yang Dia telah menciptakan manusia atas dasar fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah itu tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Ar rum 30). Jadi Allah menurunkan Aslam dan menciptakan manusia. Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ayat di atas bukan sekedar menyebutkan bahwa Islam itu sesuai dengan fitrah melainkan lebih dari itu. Islam itu adalah fitrah. Jika Islam itu adalah fitrah dan manusia diciptakan dalam keadaan fitrah, sebagaimana yang disebutkan Rasulullah SAW, maka memang hanya Islamlah yang secara realistis membimbing manusia kepada kebahagiaan dengan ajaran-ajarannya yang aplikatif karena memang sesuai dengan fitrah itu. Dengan demikian, mengisi jiwa manusia dengan selain Islam berarti di satu sisi, mencerabut kemanusiaan manusia dan di sisi lain, ajaran itu akan mengajarkan hal-hal yang tidak realistis dan aplikatif. Dan jika ajaran yang tidak sesuai dengan fitrah itu dipaksakan yang akan muncul adalah penderitaan dan kehampaan hidup. 4. Syumuliyyah Islam memiliki sifat Syumuliyyah (universal, menyeluruh). Secara ringkas Ust. Hasan Al Banna menggambarkan keuniversalan Islam dengan, "Islam adalah risalah yang panjang terbentang meliputi (mencakup) semua abad sepanjang zaman; terbentang luas hingga meliputi semua cakrawala umat, dan begitu mendalam (mendetail) sehingga memuat urusan-urusan dunia dan akhirat." Dari berbagai dimensinya, Islam telah membuktikan diri sebagai agama yang universal. Hal ini terlihat antara lain dalam hal-hal berikut : Pertama, dari segi waktu. Islam adalah agama semua zaman bukan risalah yang terbatas dengan masa tertentu. Islam berlaku hingga akhir zaman. Oleh karena itu wajar jika Al Qur'an memberlakukan ancaman, "Dan barang siapa mencari agama selain Islam, maka tidaklah akan diteima dirinya dan pada hari akhirat ia termausk orang-orang yang merugi." (QS. 3 : 85). Kedua, Islam adalah risalah bagi seluruh alam semesta. Ini berarti Islam tidak terbatas pada
© 2011 Ilham Publishing

17

Quantum Mentoring

umat atau bangsa tertentu, melainkan seluruh manusia bahkan seluruh makhluk yang ada di Bumi ini terjangkau oleh Islam. "Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan rahmat bagi sekalian alam." (QS. 21 : 107) Dan Ketiga, Islam adalah ajaran yang mengatur manusia dalam segala sektor kehidupan dan semua fase kehidupan. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa kebahagiaan manusia terletak pada kepatuhan kepada Islam secara utuh. Islam tidak hanya mengajarkan shalat, puasa, zakat dan haji. Dengan demikian kepatuhan kepada Islam tidak bisa hanya dilihat dalam pelaksanaan ibadah-ibadah tadi. Seseorang baru disebut Muslim paripurna manakala ia mengislamkan diri dalam praktik-praktik politik, ekonomi, sosial, seni, budaya dan lain-lain.

DISKUSI Bagaimana pendapatmu tentang kedua agama ini : Agama Kristen dan Agama Yahudi. Apakah kedua agama ini termasuk dienul samawi atau bukan? Berikan alasannya ! REFERENSI Diktat Agama IPB, Ust. Didin Hafidhuddin

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

IV
Cinta Kepada Allah

19

Quantum Mentoring

Bab 4. Cinta Kepada Allah
TUJUAN 1. Peserta memahami makna cinta kepada Allah 2. Peserta memahami konsekuensi mencintai Allah 3. Peserta memahami jalan cinta kepada Allah METODE : Ceramah WAKTU : 60 menit efektif PROSES : 1. Berikan pengantar. © Cinta adalah yang sangat dikenal tidak ada yang tidak mengetahuinya tetapi pemahaman dan pendapat orang tentangnya berbeda. Pemahaman cinta disini akan dikembalikan kepada Islam mengartikan kata cinta itu. © Cinta berarti suka atau senang terhadap sesuatu dan akan berganti dengan kesedihan (pada orang yang mencintai) bila sesuatu itu tidak ada padanya. © Mencintai Allah (mahabbatullah) berarti menjadikan Allah SWT sesuatu yang akan dicintai yang akan mendatangkan ketentraman bila kita mengingat-Nya dan mendatangkan kebahagiaan bila ia senantiasa hadir dalam kehidupan. © Buah dari mencintai-Nya adalah ibadah yang semakin dirasakan kenikmatan serta nilainya. Mahabbatullah adalah salah satu ukuran keimanan kita kepada-Nya. Semakin tinggi keimanan seseorang. 2. Jelaskan perbedaan cinta karena iman dan cinta karena syahwat. © Cinta imani adalah cinta yang motivasinya iman kepada Allah. Landasannya adalah fitrah manusia sebagai hamba yang wajib beribadah kepada-Nya. Cinta imani meliputi Hubungan seseorang dengan Allah, Rasul-Nya serta Islam sebagai satu-satunya bimbingan yang benar. Dalam cinta imani mencintai manusia dilandasi kecintaan kepada Allah serta membenci sesuatu karena Allah juga [QS. Al-Hujurat, 49: 7]. © Lawan dari cinta imani adalah cinta syahwati. Motif cinta syahwati adalah mencintai berdasarkan selera pribadi dimana selera setiap orang berbeda. Cinta ini diidentikkan dengan hubungan laki-laki dan perempuan. Dalam Islam setiap keinginan untuk memiliki sesuatu dan sesuatu itu dicintainya dikatakan sebagai cinta syahwati seperti keinginan untuk terkenal, berkuasa dan banyak harta [baca QS 3: 14, 2:165]. Cinta imani yang dominan akan dapat mengendalikan cinta syahwati. 3. Jelaskan bagaimana mencapai mahabbatullah © Untuk menjadi hamba Allah yang dicintai-Nya (al-mahbub) maka kita harus berusaha menjadi hamba Allah yang mencintai-Nya (Al-Muhibb) dan meletakkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi dari yang lain. Empat hal berikut yang dapat ditempuh oleh kita dalam rangka meraih deraja t mencintai Allah dari uraian Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. © Membaca Al-Qur'an dengan khusyu penuh penghayatan [QS. An-Nisa, 4: 82]. © Ahli Al-Qur'an mendapatkan kemuliaan, "Allah akan mengangkat (kedudukan) beberapa kaum dari Al-Qur'an ini. Dan akan meletakkan sebagian yang lain (di tempat yang lain) [HR Muslim]. © Memperbanyak ibadah sunnah © Dzikir dalam segala tingkah laku [QS. Al-Ahzab, 33: 35, 41:-42, Al-Jumu'ah, 62: 10, Ali
© 2011 Ilham Publishing

Cinta Kepada Allah

20

Imran, 3:110]. © Mahabbatullah harus menjauhi semua sebab yang menghalangi antara kalbu dari Allah [QS. Asy-Syu'ara, 26: 88-89]. Tiga pintu yang harus dijauhi agar ikatan hati dengan Allah tetap terjaga antara lain: © Pintu syubhat yang selalu mewariskan keragu-raguan tentang agama Allah (Al -Islam) © Pintu syahwat yang selalu mewariskan tradisi mendahulukan hawa nafsu daripada taat dan ridha-Nya © Pintu amarah yang selahu mewariskan permusuhan di antara makhluk Allah REFERENSI 1. Anonim. tt. Mencintai Allah, Paket BP Nurul Fikri Jakarta. 2. Musthafa, Abdul Aziz. 1999. Mahabbatullah Tangga Menuju Cinta Allah Wacana Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Risalah Gusti: Surabaya. 3. Saifuddin, ASM. H. U. 1997. Manifestasi Iman. Mudzakkarah: Bandung

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

V
Tauhidullah

Tauhidullah

22

Bab 5. Tauhidullah
I. PENDAHULUAN Sesungguhnya mengenal Allah adalah suatu azas yang berdiri di atas seluruh kehidupan ruhiyah. Dari sini akan mengenal para Nabi, para Rosul, mengenal tugas dan sifatnya serta hajad manusia kepada risalahnya, kitab-kitab samawi, mengenal malaikat, jin, ruh dan hari akhir. Seorang yang mengenal Allah pasti ia tahu akan tujuan hidupnya, untuk tujuan apa ia diciptakan di atas dunia ini, dan lantas kemana akhir hidupnya. Oleh karena itu ia tidak akan tertipu oleh kemilauan dunia, tidak akan terpedaya oleh harta benda dunia. Begitu sebaliknya seorang yang tak mengenal Allah, tentu akan terpedaya dan terpukau oleh keindahan dunia, yang pada gilirannya akan dihabiskan umurnya untuk mencari dunia, menikmatinya, layaknya seperti binatang (6:130). Seorang dikatakan mengenal Allah, ia akan memahami bahwa sekedar percaya akan wujud Allah (Tuhan) tidak cukup mengantarkan seseorang disebut muslim. Karena kepercayaan akan wujud Allah ini sudah ada dengan sendirinya tertanam dalam hati senubari setiap manusia sejak lahir. Walaupun kadang-kadang kepercayaan itu tertutupi dan tidak dinyatakan/diucapkan, namum pada kondisi tertentu ia akan muncul tiba-tiba. Misal dalam kondisi/keadaan gembira orang sering melupakan Allah, bahkan dengan sombongnya mengatakan "tidak ada Tuhan", namun dalam kondisi kritis, ketika sedang diancam bahaya maut, atau sedang berlayar di tengah lautan yang dilanda badai topan. Orang ini dengan khusyuknya berdo'a memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa (10:22-23 / 31:31-32 / 29:61). Kepercayaan akan wujud Allah tidaklah membuat seseorang menjadi seorang Islam (muslim), karena orang dikatakan kafirpun percaya akan wujud Allah Yang Maha Pencipta, Pemberi Rejeki, Menghidupkan, dan Maha Mematikan semua makhluknya. Al-Qur'an sendiri menceriterakan kenyataan ini dalam peristiwa kejadian manusia dan Syaitan (Kafir laknattulloh) (2:30-34 /7:12-18). Dari peristiwa yang diceriterakan dalam Al-Qur'an ini dapatlah dipahami bahwa iblis pun yang percaya akan wujud Allah Yang Maha Pencipta, Pemberi Rejeki, Menghidupkan, dan Maha Mematikan, bahkan telah mengadakan tawar menawar dengan Allah, minta agar hukumannya ditangguhkan. Selain nabi Muhammmad SAW, bukankah hanya iblis yang mendapat kesempatan berdialog langsung berhadapan dengan Allah. Kesalahan Iblis bukanlah "tidak percaya akan wujud Allah", kesalahan iblis yang fatal adalah ia telah menyombongkan diri membanggakan asal-usul (keturunan)-nya. Yang menyebabkan ia menolak untuk taat pada perintah Allah. Juga digolongkan kesombongan bila diantara manusia yang merasa lebih hebat/mulia dari orang lain hanya karena keturunan, misal mengaku keturunan bangsawan (dengan panggilan raden, tengku dll) atau mengaku keturunan dari Rosul Alloh (dengan panggilan Sayid). Termasuk manusia yang mewarisi/terjangkit sifat Iblis, bila menganggap dirinya super. Yang dengan sikap seperti itu ia dalam mengatur tatanan masyarakat, pola, sistem, asas, falsafah, dan idiologi hidup menurut tatanan aturan selain buatan Allah. Sikap sombong telah menyebabkan iblis kufur kepada Allah, iblis enggan mematuhi perintah Allah. Hal ini akan menimpah manusia jika ia mewarisi sikap iblis. Hal yang paling utama didalam hubungan mahkluk dengan Allah ialah kepatuhan yang bulat hanya kepada-Nya. Inilah intisari sesungguhnya dari ajaran Islam, yaitu mentauhidkan atau mengesakan Allah, yang berarti meletakkan Allah dan semua perintahperintah-Nya diatas segala-galanya, terutama di atas kepentingan-kepentingan pribadi. Oleh karena itu mentauhidkan Allah jauh lebih sukar dari sekedar mempercayai akan wujud Allah.
© 2011 Ilham Publishing

23

Quantum Mentoring

Mentauhidkan Allah membutuhkan suatu perjuangan dan pengorbanan yang berat. III. PENGERTIAN TAUHIDULLAH Ulama' membagi tauhidulloh menjadi tiga pembahasan yaitu, tauhid Rububiyah, tauhid Uluhiyah, dan tauhid Asma' dan sifat. 1. Tauhid Rububiyah Dalam Al-qur'an banyak dijelaskan Af'al Allah berkaitan dengan Rububiyah yang meliputi: - Maha Pencipta (21:33 / 7:54 / 25:2) - Maha Pemberi Rejeki (51:58 / 30:40 / 11:6) - Maha Menghidupkan (36:12) - Maha Mematikan (39:42 / 3:105 / 27:85) Keyakinan bahwa Alloh itu Esa dalam penciptaan, pemberi rejeki dan penguasa makhluk-Nya (menghidupkan dan mematikan) disebut tauhid rububiyah. Namun kenyakinan seperti ini tidak cukup sampai disini, sebab keyakinan seperti ini belum bisa membedakan antara muslim dan kafir. Pada hakekatnya orang-orang musyrik jahiliyah juga menyakini tauhid rububiyah ini (10:31 / 31:25). Ternyata orang musyrik itupun meyakini rububiyatulloh, bahkan mereka bersumpah menggunakan kata-kata Wallahi, Billahi, dan Tallahi. Mereka juga berdo'a dengan menyebut Alloh. Sebelum berangkat menuju Badar, Abu Jahal dan kaum musyrik Mekkah mencium dinding Ka'bah sembari berdo'a " Ya, Allah tolonglah yang tertinggi diantara dua pasukan ini dan yang termulia diantara dua golongan ini " (8:32). Demikianlah orang musyrik memiliki keyakinan rububiyatulloh. Maka jika diantara manusia yang mengaku muslim hanya mempunyai keyakinan seperti ini, maka ia tak ada bedanya dengan iblis atau paling ringan sama dengan kaum musyrik Mekkah. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang muslim yang benar disamping meyakini Rububiyatulloh harus pula meyakini Uluhiyatullah. 2. Tauhid Uluhiyah Dengan sifat Rububiyah-Nya Allah berhak menentukan apa saja untuk makhluk-Nya. Sedangkan Uluhiyatullah adalah kenyakinan bahwa Allah SWT satu-satunya Illah yang berhak : - Diibadahi/disembah (20:14 / 16:36) - Ditaati aturan-Nya (4:80 / 3:32 / 33:36) - Memutuskan perkara/hakim (6:62 / 4:65 / 2:85 / 6:57) - Diminta pertolongan/Wali (2:257 / 5:55) - Ditakuti - Diletakkan harapan Yang dengan tauhid inilah para Rasul diutus, karena tauhid inilah darah para syuhada' ditumpahkan dan nyawa orang-orang sholeh dibunuh dalam menegakkan kalimat Allah. Demikianlah keyakinan uluhiyah Allah akan membawa manusia pada kedudukan sebagai orang mu'min, yang akan tunduk dan sujud kepada Allah Ta'ala dalam seluruh dimensi kehidupannya. Allah-lah satu-satunya yang ia sembah, ia cintai, ia takuti, ia taati, ia ikuti semua peraturan hukum-Nya dan ia tinggalkan larangan-Nya. Selanjutnya bagi orang yang sudah tertana keyakinan Rububiyatullah dan Uluhiyatullah dalam hati, akan memandang dan benar-benar memahami bahwa orang yang menolak "Hukum Allah" adalah kafir, fasik dan dholim (5:44, 45, 47). Dan termasuk dalam perbuatan kekufuran bertahkim
© 2011 Ilham Publishing

Tauhidullah

24

kepada selain Allah dengan rela dan patuh (6:65,60) pada aturan selain Allah. Seorang raja/pemimpin bisa menjadi toghut, ketika ia bertindak sewenang-wenang dan membuat aturan hukum sendiri. Baik itu dari hasil putusan pribadi atau hasil kesepakatan kumpulan manusia, untuk ditaati oleh rakyatnya. Fir'aun adalah tipologi raja/pemimpin seperti tersebut diatas baik dijaman nabi Musa atau pada jaman kita ini. 3. Tauhid Asma' dan Sifat Pengertiannya adalah menetapkan bahwa Allah 'Azza wa Jalla mempunyai namanama yang bagus dan sifat-sifat yang tinggi dan luhur, seperti yang disebut dalam Kitabullah dan sunnah yang shahih. Nama-nama ini, ditetapkan sebagaimana adanya tanpa memalingkannya, tanpa menta'wilkannya, tanpa menyerupakannya, tanpa meniadakannya, dan tanpa menggambarkannya. "Allah, Yang Maha Pemurah, Yang Bersemayam di atas Arsy ". (20:5) " Tangan Allah diatas tangan mereka " (48:10). Maka kita menetapkan bahwa Allah mempunyai sifat yang namanya "Bersemayam, Tangan". Tidak boleh menanyakan bagaimana semayam Allah, bentuk tangan Allah itu seperti apa? Karena akal manusia terbatas jangkauannya, ilmu kita tidak meliputi dzat Allah, maka harus menerima nash-nash itu apa adanya, sebagaimana orang-orang salaf menjalankannya. Mereka mengetahui makna "Istiwaa(bersemayam), Nuzuluul(turun)", akan tetapi bila mereka ditanya dengan kata " Bagaimana?", maka mereka menjawab seperti apa yang menjadi jawaban Imam Malik kepada orang yang menanyakan "Bagaimana Allah Yang Maha Pemurah itu bersemanyam di atas Arsy?" Beliau berkata : "Bersemayam itu ma'lum (dimengerti), bagaimana cara bersemayam-Nya itu majhul (tidak diketahui) mengimaninya wajib dan menanyakannya itu bid'ah." Kita juga tidak mengatakan bahwa "tangan-Nya" adalah "kekuasaan-Nya", atau Turunnya-Nya Allah adalah Rahmat-Nya menapak dilangit dunia. Ini namanya ta'wil, sedangkan ta'wil itu merupakan kategori ta'til/peniadaan, baik itu jauh maupun dekat. Kita tidak mampu mengagungkan Allah SWT, lebih dari pengagungan Allah kepada diri-Nya sendiri. Kita tidak mampu mengagungkan Allah SWT, lebih dari pengagungan Rasulullah SAW kepada-Nya. Kita tidak mampu menggelari Allah dengan nama-nama yang lebih baik dari nama-nama yang datang dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Jika kita hendak lari dari Tasybih dan Tamsil (penyamaan dan penyerupaan) lalu mengatakan : "Tangan Allah adalah inayah-Nya atau kekuasaan-Nya", maka seakan-akan kita menyangkah bahwa kita dapat mensucikan /menjauhkan Allah 'Azza wa Jalla, dari hal-hal yang tidak baik, lebih dari penyucian Nabi SAW atas diri-Nya dan lebih dari penyucian Allah atas diri-Nya sendiri. Dan ini, demi kebenaran, adalah kedustaan yang nyata dan kesesatan yang jauh. Oleh karenanya, dasar-dasar tentang asma dan sifat Allah ini harus menancap betul dalam sanubari, harus kuat dan kokoh, karena ia merupakan bagian dari iman yang tidak terpisahkan. Dan ini adalah kunci dari agama ini. IV. KESIMPULAN Dengan pemahaman diatas maka pasti dalam hidup seorang mu'min, akan mengkufuri, tidak akan taat, tidak mengakui kepemimpinan, dan tak akan bertahkim pada thogut. Lantas akan menetapkan dalam hidupnya untuk beriman kepada Alloh, akan menyelaraskan apa yang dilakukannya/diperbuatnya dengan kehendak dan aturan-Nya. Ia akan menjahui thogut (16:36 /39:17) dan menetapkan untuk beribadah hanya kepada Alloh (98:5), sementara itu tidak ada lagi ke-syirikan dalam hidupnya (satu sisi memakai aturan Alloh disisi lain memakai aturan toghut) dan menjadikan tujuan hidupnya hanya untuk Alloh.
© 2011 Ilham Publishing

25

Quantum Mentoring

Serta akan menetapkan dan memahami sifat dan asma' Allah sebagaimana kaum salaf memahaminya. Jika dirinci maka kalimat tauhid itu mengandung makna : Tiada pencipta selain Alloh, tiada pemimpin kecuali Allah, tiada hakim kecuali Allah, tiada tujuan kecuali Allah, dan tiada sesembahan kecuali Allah. Amat penting kita merenungkan kembali tulisan Abu Hasan Ali Hasani An Nadwi dalam bukunya Maa Dzaa Khasiral Al Alam bi Inhithath al Muslimin, bahwa " dunia akan rusak dilanda kebobrokan moral dan kebiadaban ketika ummat mengalami kemunduran. Dan tidak ada sebab yang lebih utama dari kemunduran ummat Islam itu selain dari tidak tertanamnya jiwa tauhid dalam diri muslim. Tidak dipahaminya makna Laa Ilaaha Illalllah dengan benar itulah yang membuat kaum muslimim hilang kewibawaannya". Wallahu A'lam. Reference: 1. Tarbiyah Jihadiyah, Asy-Syahid Asy-Syaikh Abdullah Azzam 2. Meniti Jalan Islam, Fs PAI-Js UGM 3. Tauhid, Dr. Imaduddin

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

VI
Makna Kata "ILAH"

27

Quantum Mentoring

Bab 6. Makna Kata "ILAH"
TUJUAN : 1. Peserta dapat mengetahui makna kata "ilah" 2. Peserta meyakini Allah sebagai satu-satunya ilah METODE : Ceramah WAKTU : 45 menit efektif PROSES 1. Berikan pengantar. Ilah, sebagaimana tercantum dalam kalimat tauhid "La ilaha illa Allah", adalah sesuatu yang harus dihilangkan secara total untuk kemudian dimunculkan Allah saja sebagai satu-satunya ilah. Karena itu, penting sekali untuk memahami apa yang dimaksud sebagai ilah agar kita dapat menghilangkan semua ilah selain Allah. 2. Berikan penjelasan materi. Al-Ilah mengandung arti : - (sakana ilaihi) merasa tenang dengannya (10 : 7) - (istijaara bihi) tempat meminta pertolongan (12 : 6) - (ittaja ilaihi bisyauqin) kecenderungan kepada sesuatu dengan amat sangat - (wuli'a bihi) sesuatu yang diidolakan sekali - yang dicintai (3 : 125, 9 : 24) - yang diharapkan (33 : 21)

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al Maidah 5:3)

REFERENSI 1. Abdulrahim, Muhammad 'Imaduddin. 1990. Kuliah Tawhid. Hal. 52 – 60. YAASIN: Bandung 2. Sabiq, Sayyid. 1995. Aqidah Islam 3. Deedat, Ahmad. 1994. Allah Dalam Yahudi, Masehi, Islam. Hal. 21 – 24. Gema Insani Press: Jakarta

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

VII
Ma'rifatullah

29

Quantum Mentoring

Bab 7. Ma'rifatullah
TUJUAN · Peserta memahami makna dan maksud dari ma'rifatullah · Peserta mengetahui manfaat dan pentingnya ma'rifatullah · Peserta mengetahui jalan-jalan untuk mengenal Allah · Peserta mengetahui hal-hal yang menghalangi ma'rifatullah

RINCIAN BAHASAN Makna Ma'rifatullah · Ma'rifatullah berasal dari kata ma'rifah dan Allah. Ma'rifah artinya mengetahui, mengenal. Mengenal Allah bukan melalui zat Allah tetapi mengenal-Nya lewat tanda-tanda kebesaran-Nya (ayat-ayat-Nya). Pentingnya Mengenal Allah · Seseorang yang mengenal Allah pasti akan tahu tujuan hidupnya, tujuan mengapa ia diciptakan (QS.52:56) dan tidak tertipu oleh dunia. Sebaliknya orang yang tidak mengenal Allah akan menjalani hidupnya untuk dunia saja (QS.47:12). · Ma'rifatullah merupakan ilmu yang tertinggi yang harus dipahami manusia (QS.6:122). Hakikat ilmu adalah memberikan keyakinan kepada yang mendalaminya. Ma'rifatullah adalah ilmu yang tertinggi, sebab jika dipahami akan memberikan keyakinan mendalam. Memahami ma'rifatullah juga akan mengeluarkan manusia dari kegelapan kebodohan kepada cahaya hidayah yang terang (QS.6:122). · Berilmu dengan ma'rifatullah sangat penting, karena : a. Berhubungan dengan subjeknya, yaitu Allah b. Berhubungan dengan manfaat yang diperoleh, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan, yang dengannya akan diperoleh keberuntungan dan kemenangan. Islam Untuk Mengenal Allah 1. Lewat Akal · Ayat Kauniyah / ayat Allah di alam ini : 1. Fenomena terjadinya alam. Setiap sesuatu yang ada pasti ada yang mengadakan, begitu pula alam semesta ini, tentu ada yang menciptakan (QS.52:35). 2. Fenomena kehendak yang tinggi. Bila kita perhatikan alam ini, kita akan menemukan bahwa alam ini tersusun dengan rapinya. Hal ini menunjukan bahwa di sana pasti ada kehendak yang agung yang bersumber dari Sang Pencipta Yang Maha Pintar dan Bijaksana (QS.67:3). Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam terdapat ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang berakal (QS.3:190). 3. Fenomena kehidupan (QS.24:45). Kehidupan berbagai makhluk di atas bumi ini menunjukkan bahwa ada zat yang menciptakan, membentuk, menentukan rizkinya dan meniup ruh kehidupan pada dirinya (QS.29:20, 21:30). Bagaimanapun pintarnya manusia, tak akan sanggup menciptakan seekor lalat pun (QS.22:73-74, 46:4). 4. Fenomena petunjuk dan ilham (QS.20:50). Ketika mempelajari alam semesta ini kita akan melihat suatu petunjuk yang sempurna, dari yang sekecil-kecilnya sampai yang
© 2011 Ilham Publishing

Ma'rifatullah

30

·

sebesar-besarnya. Dari sebuah akar tumbuhan yang mencari air ke dasar bumi, hingga perjalanan tata surya ini menunjukkan bahwa ada zat yang memberi hidayah (petunjuk) dan Al-Qur'an menerangkan bahwa ia adalah Allah Yang Menciptakan lalu memberi hidayah. 5. Fenomena pengabulan do'a (QS.6:63). Hal yang logis bila seseorang ketika menghadapi bahaya pasti menghadap Allah dan berdo'a, walaupun ia orang yang kafir / musyrik (QS.17:67, 10:22-23, 6:63-64). Ayat Qur'aniyah / ayat Allah di dalam Al-Qur'an : 1. Keindahan Al-Qur'an (QS.2:23) 2. Pemberitahuan tentang umat yang lampau (QS.9:70) 3. Pemberitahuan tentang kejadian yang akan datang (QS.30:1-3, 8:7, 24:55)

2. Lewat memahami Asma'ul Husna 1. Allah sebagai Al-Khaliq (QS.40:62) 2. Allah sebagai Pemberi Rizqi (QS.35:3, 11:6) 3. Allah sebagai Pemilik (QS.2:284) 4. Dan lain-lain (QS.59:22-24) Hal-hal yang menghalangi Ma'rifatullah · Kesombongan (QS.7:146, 25:21). Sebagaimana lazimnya orang yang sombong yang tidak mau mengenal sesamanya, begitu pula manusia yang sombong terhadap Rabbnya, yang enggan berhubungan dengan-Nya. · Zalim (QS.4:153). Perbuatan zalim yang besar, menyebabkan Allah mengunci hati manusia. Padahal lewat hati inilah Allah memberikan hidayah-Nya. Sedangkan awal hidayah seseorang ialah mengenal hakikat-Nya lagi. · Bersandar pada panca indera (QS.2:55). Mereka tidak beriman kepada Allah dengan dalih tidak bisa melihat Allah, padahal banyak sesuatu yang tidak bisa mereka lihat, tapi mereka yakin keberadaannya, seperti gaya gravitasi bumi, arus listrik, akal pikiran, dsb. · Dusta (QS.7:176). Lazimnya seorang yang dusta, yang tidak sama antara hati dan ucapannya,perbuatannya. Begitu pula manusia yang berdusta terhadap Allah. Sebenarnya hati mengakui keberadaan Allah, namun hawa nafsunya menolak dan mengajaknya berdusta. · Membatalkan janji dengan Allah (QS.2:26-27) · Lalai (QS.21:1-3) · Banyak berbuat maksiat. Satu perbuatan maksiat bagaikan satu titik noda hitam yang mengotori hati manusia. Bila manusia banyak berbuat maksiat sedangkan ia tidak bertaubat, niscaya hati tersebut akan tertutup noda-noda hitam hingga menghalangi masuknya hidayah Allah. · Ragu-ragu (QS.6:109-10) Semua sifat di atas merupakan bibit-bibit kekafiran kepada Allah yang harus dibersihkan dari hati. Sebab, kekafiranlah yang menyebabkan Allah mengunci mati, menutup mata dan telinga manusia serta menyiksa mereka di neraka (QS.2:6-7). DISKUSI Perhatikanlah susunan tubuhmu. Jelaskanlah kekuasaan Allah yang kamu temui pada tubuhmu! REFERENSI
© 2011 Ilham Publishing

31

Quantum Mentoring

· Said Hawa, Allah Jalla Jalaluhu · Al-Ummah, Aqidah Seorang Muslim 1

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

VIII
Ma'rifatulrasul

33

Quantum Mentoring

Bab 8. Ma'rifatulrasul
TUJUAN · Peserta memahami makna risalah dan Rasul · Peserta memahami kewajiban beriman kepada Rasul · Peserta mengetahui tugas para Rasul · Peserta mengetahui sifat-sifat Rasul

GAMES A. Judul : Games Ilmu

B. Skema/gambar :

C. Media dan Bahan : 1. Sebuah naskah pembahasan 2. Serangkaian petunjuk 3. Tiga lembar kertas bujursangkar per orang atau kelompok 4. Sebuah gunting atau cutter D. Langkah-langkah : Instruksi Peserta diminta membuat sejumlah lubang (minimal 6) yang berjarak sama antara satu lubang dengan lubang lainnya, juga jarak setiap lubang dari titik pusatnya. Tahap 1 Mentor memberikan instruksi di atas tanpa memberikan keterangan tambahan Tahap 2 Mentor memberikan instruksi dan keterangan tambahan secara lisan sbb: 1. Lipat kertas 2x sehingga membentuk bujursangkar 2. Lipat bagian kertas yang ujungnya bersatu sehingga menutupi 2/3 bagiannya 3. Lipat juga 1/3 bagiannya 4. Lipat lagi kertas dengan bagian yang sama sampai saling menutupi 5. Lubangi bagian yang ujungnya bersatu menggunakan gunting atau cutter 6. Lihat, apakah didapatkan lubang-lubang sesuai instruksi E. Hikmah 1. Pentingnya Rasul sebagai penyampai dan penjelas risalah Islam sekaligus mencontohkan bagaimana Islam diterapkan dalam keseharian 2. Rasul sebagai utusan Allah harus kita kenal dan kita taati agar segala aspek kehidupan
© 2011 Ilham Publishing

Ma'rifatulrasul

34

kita menjadi ibadah

RINCIAN BAHASAN Makna Risalah dan Rasul · Risalah : sesuatu yang diwahyukan Allah SWT berupa prinsip hidup, moral, ibadah, aqidah untuk mengatur kehidupan manusia agar terwujud kebahagiaan di dunia dan akhirat · Rasul : Seorang laki-laki (QS.21:7) yang diberi wahyu oleh Allah SWT yang berkewajiban untuk melaksanakannya dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada manusia Pentingnya Iman Kepada Rasul Iman kepada Rasul adalah salah satu rukun iman. Seseorang tidak dianggap muslim dan mukmin kecuali ia beriman bahwa Allah mengutus para rasul yang menyampaikan hakikat yang sebenarnya dari agama Islam, yaitu Tauhidullah. Juga tidak dianggap beriman atau muslim kecuali ia beriman kepada seluruh rasul, dan tidak membedakan antara satu dengan yang lainnya (QS.2:285). Tugas Para Rasul 1. Menyampaikan (tabligh) (QS.5:67, 33:39). Yang disampaikan mereka berupa : · Ma'rifatullah (QS.6:102) (Mengenal hakikat Allah) · Tauhidullah (QS.21:25) (Mengesakan Allah) · Basyir wa Nadzir (QS.6:48) (Memberi kabar gembira dan peringatan) 2. Mendidik dan membimbing (QS.62:2) · Memperbaiki jiwa dan membersihkan serta meluruskan dari hawa nafsu dan sifatsifat tercela (QS.62:2) · Meluruskan aqidah serta fiqrah yang menyimpang dari Islam (QS.2:213) · Memimpin umat dengan menjalankan metode Robbani (QS.38:26) Sifat-Sifat Para Rasul 1. Mereka adalah manusia (QS.17:93-94, 18:110). Mereka memerlukan makan, minum (QS.25:20), beristri (QS.13:38), ditimpa sakit (QS.2:83-84) 2. Ma'shum (terjaga dari kesalahan) (QS.3:161, 53:1-4). Semua Rasul adalah ma'shum, tidak pernah salah dalam menyampaikan risalah dari Allah. Yang dimaksud ma'shum di sini adalah mereka tidak pernah meninggalkan kewajiban, tidak mengerjakan hal-hal yang haram, dan tidak berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam (QS.3:161, 53:1-4) 3. Sebagai suri tauladan (QS.33:21, 6:89-90) · Teladan dalam kesabaran dan menanggung penderitaan dalam memperjuangkan Islam (QS.6:34) · Teladan dalam ketabahan memegang prinsip · Teladan dalam saling mencintai dan persaudaraan muslim (QS.59:9) · Teladan dalam setiap akhlak mulia (QS.33;21, 68:4) Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS Al Ahzab 33:21)

© 2011 Ilham Publishing

35

Quantum Mentoring

REFERENSI · Kelompok Studi Al-Ummah, Aqidah Seorang Muslim, hal. 60-71 · Al-Asyqor, Dr. Umar Sulaiman, Para Rasul dan Risalahnya, Pustaka Mantiq

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

IX
Al Quran

37

Quantum Mentoring

Bab 9. Al Quran
TUJUAN · Peserta mengetahui definisi Al-Qur'an secara bahasa dan istilah · Peseta mengetahui nama-nama dan karakteristik Al-Qur'an · Peserta memahami fungsi Al-Qur'an dan akhlak terhadapnya · Peserta termotivasi untuk membaca, mempelajari dan mengamalkan Al-Qur'an

RINCIAN BAHASAN Definisi Al-Qur'an · Secara bahasa berarti "Bacaan" · Secara istilah ialah : "Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dan membacanya merupakan ibadah" Nama-nama Al-Qur'an · Al-Qur'an / Bacaan (QS.7 : 9) · Al-Kitab / Buku (QS.21 : 10) · Al-Furqon / Pembeda (QS.25 : 1) · Adz-Dzikir / Pengingat (QS.15 : 9) · An-Nur / Cahaya (QS.4 : 174) Karakteristik Al-Qur'an · Diturunkan bukan untuk menyusahkan manusia (QS.20 : 2) · Bacaan yang teramat mulia dan terpelihara (QS.56 : 77-78) · Tidak seorang pun yang dapat menandingi keindahan dan keagungan Al-Qur'an (QS.2 : 23, 17 : 88) · Tersusun secara terperinci dan rapi (QS.11 : 1) · Mudah difahami dan diambil pelajaran (QS. 54 : 17, 34) Fungsi Al-Qur'an · Pengganti kedudukkan kitab suci sebelumnya yang pernah diturunkan Allah SWT · Tuntunan serta hukum untuk menjalani kehidupan · Menjelaskan masalah-masalah yang pernah diperselisihkan oleh umat terdahulu · Sebagai mukjizat Rasulullah SAW Akhlak Terpuji terhadap Al-Qur'an · Membaca ta'awudz sebelum membaca Al-Qur'an (QS. 16 : 98) · Membaca Al-Qur'an secara tartil / perlahan-lahan (QS. 73 : 4) · Lapang dada menerima Al-Qur'an (QS.7 :2) · Mendengarkan baik-baik pembacaan Al-Qur'an (QS.7 : 204) · Bergetar hatinya dan bertambah imannya (QS.8 : 2-4) Akhlak tercela terhadap Al-Qur'an · Menyombongkan diri dan berpaling (QS.31 : 7) · Menertawakan peringatan ini (QS.53 : 59-62)
© 2011 Ilham Publishing

Al Quran

38

· Tidak memperhatikan Al-Qur'an (QS.47 : 24) Keunggulan Al-Qur'an * Al-Qur'an adalah mukjizat yang abadi (QS.4 : 174) Allah menghendaki agar Al-Qur'an berlaku secara umum (mencangkup permasalahan) dan bersifat universal. Maka disusun dan dikumpulkan Al-Qur'an itu dengan sistematis yang memperlihatkan universalitas dan kekekalannya dan dijauhkan dari susunan yang bersifat temporer, yang hanya memperlihatkan urgensi suatu masa saja, yaitu ketika diturunkannya Al-Qur'an. * Keunggulan Al-Qur'an secara ilmiah Pemikiran modern dalam berbagai bidang disiplin ilmu dewasa ini telah menetapkan bahwa Al-Qur'an merupakkan kitab ilmiah yang menghimpun segala disiplin ilmu dan filsafah. Ilmu itu datang dari Allah SWT sebagai tanda kemuliaan dan ketinggian ilmu-Nya (QS.96 : 1-5) * Jaminan Kemurnian Al-Qur'an Allah sendiri yang menjamin kemurnian Al-Qur'an (QS.6 : 115,15 : 9) * Al-Qur'an bersifat umum dan universal Umum : mencakup seluruh bidang / permasalahan manusia (QS.6 : 38) Universal : berlaku selamanya dan untuk seluruh kaum (QS.25 : 1) REFERENSI · Paket BP NF, Keunggulan Al-Qur'an · Ibnu Qoyyim, Mahabbatullah · Manna Khalil al-Qaththan, Studi ilmu-ilmu Al-Qur'an, hal 18

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

X
Tuntutan Iman Terhadap Al Quran

Tuntutan Iman Terhadap Al Quran

40

Bab 10.Tuntutan Iman Terhadap Al Quran
I. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM - Peserta memahami cara berinteraksi dengan Al Qur'an - Peserta mengetahui hubungan Al Qur'an dengan sains modern - Peserta memahami fungsi Al Qur'an - Peserta memahami kewajiban seorang muslim terhadap Al-Qur'an - Peserta mengetahui pengaruh Al-Qur'an terhadap kehidupan seorang muslim II. PENDAHULUAN Dan sekiranya Kami menurunkan Al Qur-an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaanperumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir. (59:21) Setiap orang merindukan cinta dan kasih sayang. Bila cinta datang menyapa, maka akan terbetik rasa memiliki yang sangat mendalam. Pautan dua hati melahirkan rasa rindu dan suka. Bila ia berjumpa maka hatinya akan bahagia, bila keduanya berpisah maka sedih dan duka lara yang akan dirasakannya. Perpisahan adalah pertemuan yang tertunda. Maka hubungan surat biasanya merupakan jalan bertemunya hati. Seorang gadis mengunci dirinya di kamar. Ia asyik membaca sesuatu. Diatas pembaringan ia mengamati untaian kata dalam secarik kertas dengan penuh ceria. Sebentar-bentar dari bibirnya tersungging senyuman. Itulah pertama kali dia mendapatkan surat cinta dari kekasihnya yang ada di luar negeri. Betapa senang hatinya, betapa gembira jiwanya. Kerinduan yang lama terpendam kini agak terobati dengan kedatangan surat itu. Berbahagiakah gadis itu? Atau hanya sekedar senang? Bila cinta pada seseorang manusia dapat menyenangkan manusia sedemikian rupa seperti gambaran diatas, maka bagaimanakah cinta dan kasih sayang Allah? Dapatkah cinta dari lawan jenis memenuhi kebutuhan kita terhadap kasih sayang? Tidak, cinta manusia hanyalah cinta yang sifatnya sementara. Tidak kekal abadi dan akan lenyap ditelan masa. Kebahagiaan gadis itupun bersifat semu... Bayangkan, bila nanti sudah bertemu, ternyata pemuda itu hanya pandai merangkaikan kata-kata diatas kertas. Sifat dan perbuatannya kasar, kelakuannya memuakkan. Manusia merindukan cinta abadi dan sejati ...Cinta tulus ikhlas. Apakah cinta yang dirindukan seorang muslim atau muslimah? Cinta yang paling utama adalah cinta Allah Yang Maha Pencipta. Dialah yang memberikan kasih sayangnya kepada orang-orang yang beriman dengan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan balasan apa-apa. Mungkin timbul pertanyaan : Bagaimanakah Allah menyayangi manusia? Jawabnya : Pada dasarnya, Allah Yang Pengasih Lagi Maha Penyayang mencintai seluruh manusia tanpa pandang bulu. Kasih Allah kepada manusia terrealisir dengan diberikan-Nya berbagai nikmat yang tiada terkira banyaknya. Fisik kita adalah nikmat Allah, makanan dan minuman kita adalah nikmat Allah, kesehatan kita adalah nikmat. Allah bahkan setiap tarikan nafas dan detak jantung kita adalah nikmat Allah pula. Ditempatkannya kita di bumi dengan berbagai fasilitas juga nikmat. Segala potensi alam dan kekayaannya diperuntukkan Allah bagi manusia. Kemudian Allah menjadikan akal dan kecerdasan sebagai nikmat. Dengan akal manusia diberi ilham oleh Allah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka produksi dari pengembangan teknologi membuat manusia hidup semakin nikmat. Pendeknya, nikmat atau tanda kasih sayang Allah sangat banyak, tidak terhingga! (14:34)
© 2011 Ilham Publishing

41

Quantum Mentoring

Itulah nikmat Allah yang disebarkan-Nya secara merata kepada manusia, tanpa apakah dia muslim atau kafir. Sayangnya, banyak manusia lalai berterima kasih dan menggunakan nikmat itu untuk hal-hal yang dikehendaki Allah. Padahal semua pemberian Allah ini bersifat sementara karena akan berakhir bila mereka mengalami kematian. Dalam nikmat yang banyak itu, ada satu nikmat yang utama. Nikmat inilah yang akan mengantarkan kita pada nikmat yang abadi dan kekal. Itulah hidayah atau bimbingan Allah. Berbeda dengan nikmat lain yang diberikan kepada semua orang, nikmat hidayah ini hanya diberikan kepada orang-orang yang dipilih-Nya. Lantas siapakah orang-orang yang dipilih Allah untuk memperoleh nikmat hidayah? Selain dari para nabi dan rasul, diantara umat manusia pun ada yang memperoleh nikmat hidayah sebagai karunia Allah. Mereka adalah pengikut para rasul, utusan Allah. Saat sekarang, Al Quranul Kariim merupakan nilmat hidayah yang tiada taranya. Inilah mukjizat abadi yang diberikan kepada Rasulullah Muhammad SAW agar beliau senantiasa dapat memimpin umatnya. Umat Islam yang memperoleh hidayah ini adalah mereka yang dalam hidupnya selalu menghiasi dirinya dengan sifat-sifat: 1. Ikhlas, yaitu hidup bertauhid, tidak mensyarikatkan Allah baik dalam hati, lidah maupun perbuatan. Orang yang ikhlas adalah mereka yang senantiasa mencari ridha Allah saja dalam setiap langkah hidupnya. Al Quran merupakan "rumus-rumus menuju kerhidaan Allah" atau "rambu-rambu jalan menuju syurga ". (5:16) 2. Mengimani dan mencintai Allah dengan sebenar-benarnya. Iman yang didasari cinta kapada Allah tidak akan bertepuk sebelah tangan. Allah akan membuat dia dekat dengan diri-Nya. Jalannya tentu saja dengan memberikan hidayah dalam hatinya. (2:165 / 64:11). 3. Berjihad, yaitu mengamalkan semua kehendak Allah. Atau bersungguh-sungguh dalam mencari keridhaan Allah itu. (29:69). 4. Sabar, yaitu tidak pernah putus asa, mengeluh atau berhenti karena ada suatu halangan. Terus dengan mewujudkan upaya mencari ridha Allah setiap langkah kehidupan. Duka cita yang menimpa tidak akan melemahkan, kesenangan yang diperoleh tidak membuat lupa daratan, itulah sabar menghadapi berbagai situasi. (2:157) Dari itu, mana mungkin orang yang tujuan hidupnya bersenang-senang, bergelimang dalam dosa atau enggan mentaati Allah akan mendapat hidayah Al Quran. Bimbingan Allah tidak datang begitu saja tanpa usaha kita. Mereka yang tidak mendapat hidayah itu disebabkan kerena kelalaiannya sendiri! Cobalah renungkan, berapa banyaknya manusia yang enggan meraih kasih sayang Allah ini. Kedua matanya tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah, kedua telinganya tidak dipakai untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, mereka mempunyai hati dan akal, tetapi malas berpikir! Mereka tidak berupaya menghidupkan iman dalam jiwanya. Mereka asyik bergumul dengan cinta antara sesama manusia yang rendah dan melalaikan. Maka petunjuk Allah pun enggan mampir dihatinya. Padahal, tanpa bimbingan dan hidayah Allah, manusia menjadi sesat. Ia tidak menemukan jalan menuju ridha-Nya. Hidupnya akan ngelantur, bertentangan dengan fitrah kemanusiaan dan fitrah dirinya sendiri. Ia pun akan menjadi orang yang dibenci oleh alam semesta dan Pencipta dirinya. Alangkah hina hidup tanpa petunjuk! Sekali lagi Allah hanya akan memberikan hidayah-Nya kepada yang bermotivasi ikhlas, mencari keridhaan Allah, bersabar dan berusaha sungguhsungguh kearah itu! Dengan Al Quran, Allah senantiasa memimpin dan membimbing hamba-hamba-Nya yang beriman dengan penuh kasih sayang. Kitabullah mengelus-ngelus jiwa mereka,
© 2011 Ilham Publishing

Tuntutan Iman Terhadap Al Quran

42

membuka mata hati mereka untuk melihat kebenaran, membisiki mereka tentang makna kahidupan dengan penuh mesra, menghibur sekaligus memberikan jalan keluar bagi setiap persoalan hidupnya. Maka berbahagialah orang yang mencintai Al Quran. Ia akan hidup dalam petunjuk dan naungan kasih sayang Allah. Kitabullah bagaikan surat cinta Allah yang ditujukan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Siapa yang membacanya, ia akan merasakan kelezatan iman yang tiada tara, kenikmatan perbincangan dengan Allah. Kelezatan audiensi dengan Rabb - Pencipta, Pemilik, Pemelihaara semesta alam. (8:2) III. BACAAN YANG MULIA DAN ILMU YANG BERGUNA Apakah Al Quran itu? Secara bahasa Al Quran berasal dari kata qa-ra-a artinya "Bacaan". Kata Al Quran berbentuk masdhar dengan arti isiim maf'ul yaitu "maqru" (yang dibaca). Didalam Al Quran itu sendiri Allah menggunakan kata qa-ra-a dalam membaca ketika Dia menjelaskan kepada Rasul-Nya. (75:17-18). Secara syariat, Kitabullah ini didefinisikan para ulama sebagai "Kalam Allah yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad SAW diriwayatkan secara mutawatir dan membacanya merupakan ibadah". Tidak semua kalam Allah merupakan Al Quran. Hanya yang diwahyukan kepada Rasulullah dan diriwayatkan secara mutawatir saja yang Al Quran. Juga tidak semua wahyu Allah kepada Rasulullah Al Quran, sebab ada hadits qudsi yang redaksinya dari Rasulullah sendiri. Adapun Kitabullah, sebagaimana definisi diatas, sama sekali tidak kemasukan perkataan manusia. Kitab suci Al Quran adalah mukjizat Rasulullah SAW dan membacanya merupakan ibadah. Sabda Rasulullah," Barangsiapa yang membasa satu huruf dari Kitabullah ini maka baginya satu pahala dan kebaikan yang sepuluh kali lipatnya. Aku tidak katakan aliif-lam-mim satu huruf tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan mim satu huruf." (HR. Tirmidzi) Ayat Al Quran yang pertama turun merupakan perintah membaca," Iqra' bismirabbikal ladzii khlaq" (bacalah dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan). Memang Al Quran diberikan kepada kita untuk senantiasa dibaca dan dibaca. (96:1-5). Iqra' (bacalah)!! Renungkanlah, betapa canggihnya perintah ini ! Siapa pun di dunia ini mengetahui bahwa membaca adalah kunci ilmu pengetahuan dan pembuka jalan bagi peningkatan ilmu. Membaca dilakukan dengan menyatukan simbol-simbol (ayat-ayat) bacaan, huruf, kata dan kalimat sehingga membentuk pengertian. Buku-buku yang kita baca adalah kumpulan simbol- simbol bacaan ini. Al Quran juga dipenuhi simbol-simbol Allah. Tetapi simbol disini bukan sekedar huruf yang dirangkai menjadi kata atau kalimat. Dibalik setiap ungkapan Al Quran terkandung untaian hikmah Ilahiyah yang tinggi. Siapakah yang ingin memperolehnya? Apakah yang dibaca? Yang dibaca adalah semua ciptaan Allah (seluruh makhlukNya). Maka perintah membaca Al Quran mengandung dua pengertian sekaligus. Pertama, membaca alam semesta sebagai ayat-ayat Allah al-kauniyah yang tersebar di alam semesta. Kedua, membaca Kitabullah yaitu ayat-ayat Allah al-qauliyah, sebagai bimbingan dalam membaca alam semesta tersebut. Ketika membaca Al Quran kita menemukan kesatupaduan antara ayat-ayat Allah dalam firman-firman-Nya dengan ayat-ayat Allah yang bertebaran di alam semesta. Bukankah seluruh isi alam ini merupakan ciptaan dan milik Allah. Bukankah Kitabullah itu juga merupakan wahyu Allah yang tiada diragukan lagi kebenarannya! Membaca fenomena alam semesta adalah jalan mencapai ilmu pengatahuan. Bila
© 2011 Ilham Publishing

43

Quantum Mentoring

membaca ini ditafsirkan lebih dalam maka ia berarti menyelidiki, menganalisa, bahkan sampai melakukan eksperimen terhadap atau ayat-ayat kauniyah itu. Allah Yang Maha Pencipta memberi ilmu melalui cara ini," Dia mengajar manusia dengan peranaraan pena (tulis baca). Tetapi hakikat ilmu hanya bisa ditemukan bila alam semesta dibaca dengan Nama Allah Yang Maha Menciptakan. Melalui Kitabullah akan terungkap karunia dan kasih sayang Allah yang Maha Pemurah, Yang maha memberi dengan tanpa perhitungan. Bacalah! Dan Rabbmu Yang Maha Pemurah. Pemberian Allah semakin sempurna dengan dibukakan-Nya ilmu pengetahuan dan teknologi... Rahmat dan kasih sayang Allah menjadi berkembang dan semakin banyak." Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya". Maka nikmat Allah yang manakah yang dapat kita dustakan? Kesatupaduan Al Quran dengan fenomena alam (ilmu pengetahuan) ini membuat para pembaca Kitabullah semakin yakin akan kebenaran firman-firman Allah. Ia merasa Allah semakin dekat, memberi kenikmatan berupa hidayah yang sempurna, membukakan hakikat ilmu yang dipelajarinya dari alam semesta dan mencurahkan kasih sayangnya ke dalam jiwa. IV. AL QURAN DAN SAINS MODERN Sains merupakan salah satu bidang manusia yang menjadi nikmat Allah yang besar bagi kita. Dengan izin Allah sains itu manusia dapat membuat berbagai fasilitas yang memberikan kemudahan dalam hidupnya. Karena Kitabullah berasal dari Allah yang menjadikan sains ini sebagai nikmat-Nya, maka ia pun banyak menyinggung masalah sains. Hebatnya, apa yang diungkapkan Al Quran tentang ilmu pengatahuan modern baru dapat terungkap pada masa kita sekarang ini setelah orang-orang menggunakan alat-alat canggih dalam berbagai keperluan ilmiah semisal: mikroskop, pesawat ruang angkasa, satelit komunikasi, kapal selam dll. (41: 53) Dalam bagian ini, kita lihat bagaimana Kitabullah menjelaskan beberapa hal yang baru dapat dicernakan pengertiannya setelah berkembangnya sains modern. 1. Tak seorang pun ahli ilmu pengetahuan mengira bahwa langit, bintang dan planet itu dasarnya adalah kabut (dukkhaan) setelah alat-alat ilmiah modern berkembang pesat. Para peneliti menyaksikan sisa-sisa kabut yang hingga kini selalu membentuk bintang gemintang. (41: 11) Para pakar sains modern kini menemukan bahwa bintang gemintang di langit senantiasa diciptakan dan gugusan bintang-bintang ini satu sama lain saling berjauhan. Dengan demikian dapat diketahui selalu dalam perluasan. (51: 47) 2. Para pakar ilmu astronomi pada saat ini telah menemukan bahwa rembulan (dulunya) menyala kemudian padam dan sinarnya sirna. Cahaya yang keluar dari rembulan di malam hari hanyalah pantulan dari lampu (Siraj) lain, yaitu matahari. (17: 12). Para ahli tafsir mengatakan," Tanda bagi malam hari adalah rembulan sedangkan tanda bagi siang hari adalah matahari". ibnu Abbas berkata," Rembulan bersinar seperti halnya matahari". Para ahli tafsir mengatakan bahwa," Lalu Kami hapuskan tanda malam" berarti Kami sirnakan sinarnya. Kemudian Allah menyebutkan bulan dan pelitanya. (25: 61) Dari sini Allah menyatakan bahwa matahari bersinar, sehingga dikatakan "pelita/lampu". Jika bulan bersinar tentu pula Allah akan berkata "dua lampu" (as sirojain) dan bukannya "satu lampu"( assiroj). 3. Dahulu orang-orang beranggapan orang yang naik keatas merasa sesak nafas karena udara buruk yang tidak sehat. Tetapi manakala manusia berhasil membuat pesawat ruang angkasa super canggih dan ia mampu naik kelangit. Maka diketahuilah bahwa orang naik
© 2011 Ilham Publishing

Tuntutan Iman Terhadap Al Quran

44

ke langit dadanya terasa sesak, bahkan amat sesak, dikarenakan udara (oksigen) berkurang tatkala manusia tubuhnya naik. (6:125) 4. Para pakar botani menemukan bahwa dalam semua jenis tumbuhan, terdapat jenis jantan dan betina atau berpasangan. Tak seorang pun sebelumnya mengetahui kenyataan ini, kecuali dari apa yang diungkapkan Kitabullah. (36:36) 5. Para dokter kini menemukan bahwa pusat rasa adanya di kulit. Urat syaraf yang terluka bakar dan merasakan sakitnya luka tersebut hanya di lapisan kulit saja. Karena itu orang disuntik merasa sakit di bagian kulit. Setelah jarum suntik masuk menembus daging tidak terasa lagi sakitnya. Ini secara tidak langsung juga dijelaskan Al Quran. (4:56) Setelah mengkaji beberapa contoh hubungan Kitabullah dengan sains modern, pahamlah kita bahwa Al Quran benar-benar suatu mukjizat yang tiada bandingnya. Mereka yang mempunyai hati nurani akan merasa takjub dengan keagungannya. (7:52) Dari itu, tidak mengherankan bila Al Quran merupakan Kitab yang dibela dengan tumpahan darah para syuhada Islam sepanjang kurun. Orisinalitas dan keutuhannya senantiasa dipelihara dengan garansi Allah. Setiap huruf katanya merupakan nilai mutiara hikmah yang tak habis-habisnya dikaji dan dibahas. Setiap kalimat dan ayat-ayatnya merupakan petunjuk operasional kehidupan mereka yang memilih syurga. Cobalah cari sebuah buku yang lebih tua usianya dari Al Quran, yang sering dibaca dan tidak ada perubahan dalam isi maupun susunan katanya. Al Quran adalah Kitab yang menggetarkan hati orang-orang yang beriman dan beramal soleh. Setiap membacanya bertambahlah iman dalam hati mereka. Al Quran membuat para pencintanya menjadi manusia bernilai dan berkualitas tinggi, menjadikan suatu bangsa yang tadinya lemah tertindas mampu memimpin dan menguasai dunia. (21:10) V. TUJUH FUNGSI AL QURAN Bila Al Quran selaras dengan ilmu pengetahuan, apakah berarti Kitab ini merupakan buku ilmiah? Tidak, fungsi Al Quran yang utama bukan menjadi Kitab Ilmu Pengetahuan, tetapi sebagai petunjuk (Hudan). Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, manusia dipersilahkan menalar dan mengembangkan sendiri. Sedangkan Al Quran hanya memberikan rangsangan agar manusia senantiasa menggunakan akalnya serta fenomena melihat alam yang menjadi sumber inspirasi bagi mereka. Bagi muslim atau muslimah, Kitabullah adalah bimbingan hidup yang paripurna. Ia tidak hanya menunjuki jalan yang mesti ditempuh dalam mengarungi lautan kehidupan, memberikan obor dalam kepekatan zaman, tetapi juga menjadi hiburan di sepanjang jalan. Dalam suatu doa, Rasulullah menjelaskan kapada kita bahwa Kitabullah adalah petunjuk hidup setiap muslim. Renungkanlah doa Rasulullah berukit ini, Ya Allah rahmatilah aku dengan Al Quran Jadikanlah dia itu pemimpin, cahaya, petunjuk dan tanda kasih sayang(Mu) bagiku Ya Allah ingatkanlah aku sesuatu yang aku lupa darinya Dan ajarkanlah aku segala yang aku belum ketahui daripadanya. Rizkikanlah kepadaku untuk selalu membacanya baik diwaktu malam maupun siang Jadikanlah dia argumen bagiku, wahai Rabb semesta alam Inilah doa yang unik dan istimewa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada umatnya. Doa ini dapat kita baca seusai membaca Al Quran dengan harapan Allah mengabulkan permohonan kita yang terkandung di dalamnya. Dari doa ini kita memahami bahwa
© 2011 Ilham Publishing

45

Quantum Mentoring

Kitabullah Al Quran mengandung fungsi, 1. Pemimpin (Imam). Kitabullah bagaikan perintah harian yang datang dari Raja Alam Semesta, Allah Azza wa Jalla. Kepemimpinan Allah sangat dominan pada orang-orang yang beriman karena ia selalu berinteraksi dengan Al Quran. Ia mengetahui bagaimana Allah mengatur hidupnya: menyuruh, melarang, menganjurkan, menghibur dirinya melalui Kitabullah. Dari Kitab ini mereka menemukan kepastian apa yang harus diperbuatnya dalam kegiatan sehari-hari baik bagi kehidupan individu maupun dalam masyarakat. (17:71-72) 2. Cahaya (Nuur) Yaitu cahaya yang menerangi kegelapan hidup. Hidup tanpa cahaya pastilah berada dalam gelap gulita, tidak mengenal kebenaran, tidak mengenal Allah dan kekuasannya sehingga seperti orang buta yang tidak tahu jalan. Meraba-raba tak tahu arah dan tujuan. Dengan Kitab ini Allah menjadikan hidup ditaburi cahaya iman. Al Quran menerangi jalan yang harus ditempuh sehingga kita tidak akan sesat atau keliru jalan. (42:52) 3. Petunjuk (Al Huda) Yaitu bumbingan Allah yang terus menerus menunjuki jalan kebenaran dan lurus. Ia memberikan rambu-rambu yang harus dilalui sepanjang jalan dan memberikan pedomannya agar tidak sesat. Dengan petunjuk ini orang beriman akan mampu membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, yang benar dengan yang salah, yang baik dengan yang buruk. Ia tidak akan terperosok pada kebhatilan dengan meninggalkan kebenaran. Jalan yang dilalui dalam hidupnya akan pasti, tiada keraguan atau syubhat, seluruhnya serba jelas. (2:185) 4. Kasih Sayang Allah (Rahmah) Kitabullah adalah tanda (simbol) dari cinta Ilaahi kepada hamba-Nya yang beriman. Karena cinta-Nya dibimbinglah orang-orang yang mukmin itu mengenal kebesaran dan kemuliaan-Nya, mengenal hakikat hidup dunia dan akherat. Tatkala dibaca, terasalah resapan kasih sayang Allah yang sangat besar. Kasih sayang dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang dirasakan di dunia ini dan yang dijanjikan-Nya di akherat. (16:89) 5. Pengingat (Adz Dzikru) Kitabullah ini bernama juga "Adz Dzikru". Al Quran adalah metoda Ilahi untuk mengingatkan manusia pada hukum dan undang-undang-Nya, menyadarkan manusia akan adanya hari berbangkit dan pembalasan. Tilawah (membaca) Al Quran adalah dzikir yang lebih utama daripada menyebut-nyebut nama Allah. Melaksanakan Kitabullah ini adalah melakukan dzikir dalam bentuk amal. Disamping itu, membaca Al Quran dengan berulangulang menggairahkan manusia untuk balajar dan bekerja guna mencapai kebahagiaan hari akherat.(54:17, 22, 40) 6. Penerangan (Hidayat) Yaitu penerangan kepada manusia tentang berbagai rahasia kehidupan serta misteri ghaib yang menjadi pertanyaan di benaknya. Kitabullah menerangkan hakikat hidup, hakikat ketuhanan (Rububiyah), hakikat penghambaan, hakikat manusia dll yang sangat bermanfaat bagi manusia. Semua yang diterangkan Kitabullah merupakan ilmu sejati yang membuat manusia hidup tentram dan bahagia. (3:138)

© 2011 Ilham Publishing

Tuntutan Iman Terhadap Al Quran

46

7. Argumentasi (Hujjah) atau Bukti (Burhan) Al Quran penuh berisi argumentasi yang akurat untuk mematahkan segala bentuk logika kekufuran yang dimiliki orang-orang kafir. Setalah memahami Kitabullah, tidak ada satu jalanpun untuk mengingkari kebenaran atau menyimpang daripadanya. Kitabullah ini juga akan menjadi bukti di hari kiamat nanti terhadap perjalanan hidup mu'min. (11:17) Sebenarnya, fungsi Al Quran lebih banyak lagi. Kitabullah tidak hanya menjadi hidayah dan bimbingan bagi orang-orang yang beriman. Ia pun bisa menjadi obat (syifa) bagi penyakit- penyakit hati, penghibur dikala duka dan penghapus segala kesedihan. Siapa yang membacanya akan merasakan sentuhan dan belaian kasih sayang Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Karena itu, Rasulullah mengajarkan doa memohon agar Kitab ini menjadi hiburan bagi orang yang beriman. Doa itu begitu mesra, khusyu' dan tawadlu. Inilah doa beliau yang wajib kita hafalkan dan amalkan. Ya Allah, aku ini hamba-Mu anak dari hamba-Mu, anak hamba-Mu Ubun-ubunku berada di dalam genggaman-Mu Berlaku atasku hukum-hukum-Mu dan adil bagiku keputusan-Mu Aku memohon kepadamu dengan setiap Nama-Mu yang Engkau namakan diri-Mu dengannya atau nama yang Engkau turunkan di dalam Kitab Suci-Mu atau nama yang Engkau ajarkan kepada salah seorang di antara hamba-Mu atau nama yang Engkau sembunyikan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu... Agar Engkau menjadikan Al Quran yang agung itu bunga hatiku cahaya mataku penghapus duka laraku penghilang kekawatiran dan kedukacitaan VI. KENIKMATAN INTERAKSI DENGAN AL QURAN Untuk memperoleh kemuliaan melalui Al Quran, seorang muslim hendaknya menjadi pencinta Kitabullah. Dengan mencintainya, hati akan senantiasa lekat dan selalu ingin berhubungan dengannya. Para pencinta Al Quran adalah mereka yang selalu membaca Kitabullah dalam hidupnya baik di berbagai kesempatan. Hatinya telah tertambat untuk mentadabburkan dan memahami kendungan maknanya. (2:121) Membaca Kitabullah dengan bacaan yang sebenarnya maksudnya membaca sesuai hukum-hukum tajwid, metadabburkan (mengkaji) isinya, serta mengamalkan kandungannya. Inilah bentuk interaksi yang sebenarnya dengan Kitabullah. Al Quran sendiri menyatakan bahwa umat terdahulu, khususnya Rasulullah dan para sahabat, begitu mendalam cintanya pada Al Quran Mereka senantiasa menerima bimbingan Kitabullah dan menangis tatkala menerima peringatan Allah. (17:107-109) An Nawawy dalam Al Quran meriwayatkan sabda Rasulullah," Bacalah Al Quran dan menangislah, jika kamu tidak dapat menangis paksakanlah untuk menangis." Dalam hadits lain disebutkan," Sesungguhnya Al Quran diturunkan dalam keheningan, maka menangislah dikala membacanya, bila tidak dapat, maka berpura-puralah (berusaha) menangis." Para pencinta Al Quran membaca Kitabullah ini dengan penghayatan yang sangat tinggi. Diantara mereka bahkan banyak yang menghafalkan seluruh isinya. Rasulullah SAW sering menangis ketika menerima wahyu Allah. Ayat yang beliau peroleh dihafalkan dan diulang-ulang dalam sholat bagaikan memperoleh harta yang sangat mahal herganya.
© 2011 Ilham Publishing

47

Quantum Mentoring

Setalah itu beliau menyampaikannya kepada masyarakat. Suatu ketika Rasulullah bangun untuk sholat malam, Aisyah, istri beliau melihat hal ini. Beliau berkata kepada Aisyah," Biarlah, aku akan melakukan ibadat dan audensi dengan Rabbku." Lebih sepertiga malam Rasulullah melakukan sholat dengan membaca Al Quran. Suara beliau syahdu dan merdu, diselingi isak tangis. Dekat waktu shubuh datanglah Bilal untuk melakukan adzan. Ia melihat Rasulullah tengah bersujud dan menangis, janggut beliau basah, bumi tempatnya bersujud pun basah. Setelah Rasulullah usai shalat itu, Bilal bertanya," Apakah yang menyedihkan engkau ya Rasulullah? Bukankan Allah telah menghapus dosa-dosamu baik yang terdahulu maupun yang kemudian!" Rasulullah menjawab," Bagaimana engkau ini Bilal. Bagaimana aku tidak menangis, pada malam ini Allah telah menurunkan ayat ini kepadaku". (3:190,191,…) Kemudian Rasulullah berkata," Celakalah yang membaca ayat ini kemudian ia tidak mentadabburkan isinya". Karena cintanya pada Kitabullah, Rasulullah SAW sendiri senang mendengar bacaan Al Quran dari para sahabatnya. Beliau meminta Abdullah bin Mas'ud yang suaranya merdu untuk membaca dihadapannya. Tentu saja Abdullah merasa risih. "Bukankah Kitabullah turun kepadamu ya Rasulullah?", tanya Abdullah. Rasulullah menjawab," Aku senang mendengar bacaan Al Quran dari selainku". lantas Abdullah pun membaca Kitab itu secara tartil. Suara merdunya masuk ke sanubari, dari surat Al Baqarah berpindah berpindah ke surat Ali Imran kemudian memasuki surat An Nisa'. Sampai ayat ke-41 Abdullah mendengar isak tangis Rasulullah menggemuruh. Rasulullah berkata," Cukup...cukup". Rupanya beliau sangat terharu dengan tanggung jawab yang telah Allah bebankan diatas pundak beliau. (4: 41) Para sahabat Nabi sangat terkenal dengan kecintaan mereka terhadap Kitabullah. Siang malam tiada waktu yang terlewatkan tanpa membaca Al Quran. Mereka hapalkan di luar kepala, sedangkan yang lemah hapalannya menggantungkan mushaf dalam lembaranlembaran kulit hewan atau pelepah pohon kurma di lehernya. Mereka membaca berulangulang ayat-ayat tertentu sambil menangis karena takut ancaman siksaan Allah. Pribadipribadi sahabat memang sangat lekat dengan Kitabullah. Suatu malam, ketika sedang melakukan ronda, khalifah Umar bin Khattab ra mendengar seseorang membacakan ayatayat Al Quran. (52:1-7). Ketika terdengar ayat ini, beliau bergumam," Sungguh inilah sumpah yang benar, demi Rabb (Pemilik, Pemelihara, Penguasa) ka'bah...", setelah itu beliau terjatuh pingsan. Salah seorang sahabat yang sempat menyaksikan, lalu mengangkat dan membawa beliau ke rumahnya. Setelah kejadian itu khalifah sakit beberapa hari. Umar bin Khattab r.a. memang terkenal dengan penghayatannya yang sangat dalam terhadap Kitabullah. Beliau masuk Islam setelah mendengar lima ayat permulaan Surat Thaha. Sahabat Utsman bin Affan r.a. dikenal sebagai pengumpul mushaf Al Quran. Beliau sangat mencintai Kitabullah, sehingga membaca dan mentadabburkannya merupakan kegiatan paling pokok dalam hidupnya. Utsman bin Affan mencapai syahid terbunuh ketika beliau menjadi Khalifah III. Saat itu beliau dalam keadaan membaca Kitabullah sehingga mushfah ditangan beliau terpecik darah. Mushaf itu sampai kini masih ada tersimpan di Musium Turki, sebagai salah satu bukti kekuasaan Allah. Penghayatan ini bukan hanya dilakukan Nabi dan para sahabatnya, tetapi oleh para penguasa Islam. Khalifah Umar bin Abdul Aziz tergolong cucu Umar bin Khattab. Dalam menjalankan pemerintahannya, khalifah ini selalu mengutip Kitabullah ketika berbicara. Beliau tidak mau meninggalkan Kitabullah dalam setiap urusan yang dihadapinya. Salah satu
© 2011 Ilham Publishing

Tuntutan Iman Terhadap Al Quran

48

kebiasaannya, seusai isya' kemudian qiyamul lail sampai shubuh. Bila sampai membaca ayat (37:22-24). Beliau selalu mengulang ayat," waqifuuhum innahum mas'uuluun" (Dan tahanlah mereka karena sesungguhnya mereka akan ditanya) dengan menangis dan menunjukkan penyesalan. Sholat ini dilakukan sampai menjelang adzan shubuh. Imam Hasan Al Basri, salah satu ulama tabiin suatu ketika membaca Surat Al A'raaf dengan tartil dan syahdu. Ketika sampai sepertiga ayat, tiba-tiba beliau pingsan. Setelah siuman, sahabat-sahabatnya menanyakan mengapa beliau pingsan. Imam Hasan Al Basri berkata dengan penuh kerendahan hati," Saya tadi membaca Surat Al A'Raaf sampai ayat 50. Dari itu, para ulama Islam sepanjang kurun telah mereguk kenikmatan berinteraksi dengan Kitabullah dalam hidup mereka. Imam Akhdory penyusun kitab Jauhar Al Maknun berkata tentang hal ini," Maka oleh karena itu, mata hati para ulama dapat melihat mukjizat Al Quran degan terang, dan dalil yang jelas. Dengan pandangan bathinnya itu para ulama dapat menyaksikan sumber cahaya (ilmu Allah) dan segala sesuatu yang tercakup didalamnya. Terdiri dari bermacam-macam rahasia ilmu. Hati mereka merasa gembira, terpesona dan asyik dalam menyelami makna Al Quran, bagaikan melihat taman yang indah dan permai. Maka mereka mencurahkan pemikirannya dan perhatiannya pada Al Quran yang ilmunya bagaikan danau yang luas." Didalam muqaddimah Tafsir Fi Zhilalil Quran (Dibawah naungan Al Quran), yang disusun Sayyid Qutb menulis," Hidup di bawah naungan Al Quran merupakan suatu nikmat. Yaitu nikmat yang tidak dapat dirasakan kecuali oleh mereka yang merasakannya dan menjadikan sebagai pedoman hidup" VII. PENGARUH AL QURAN Kitabullah Al Quran telah memberi pengaruh yang sangat hebat pada dunia ini. Sejarah mengakui keunggulan dan keutamaan Al Quran dibanding dengan kitab-kitab lain atau pun buku-buku karangan manusia. Saat ini, inilah kitab yang dibaca lebih dari satu seperempat milyar manusia setiap hari, tanpa bosan-bosan. Mereka membacanya dengan penuh khusyu dan tawadlu, dengan harapan mendapat pahala dan keridhaan Penguasa alam semesta. Sungguh ajaib, karena Kitab ini telah berusia lebih dari 14 abad, tanpa perubahan dan penyimpangan. Inilah perkataan yang difirmankan Allah kepada Jibril, wahyu Allah yang dibawa Jibril kepada Rasulullah, yang dibacakan beliau kepada para sahabatnya, yang dibaca berulangulang dan dihafalkan oleh milyaran manusia yang pernah hidup didunia dan mengaku muslim! Tidak ada perubahan redaksi meskipun hanya satu huruf... Kitab ini telah menjadikan manusia yang berpribadi lemah menjadi kuat, manusia yang akhlaknya bobrok menjadi mulia. Bahkan suatu bangsa yang tadinya rendah menjadi tinggi dan berwibawa. Keberadaan umat Islam di seluruh dunia beserta sejarah panjang mereka merupakan bukti nyata tentang keagungan Kitabullah ini. Benarlah sabda Rasulullah," Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al Quran ini suatu Bangsa dan merendahkan bangsa yang lain). (HR Muslim) Untuk menunjukkan kedahsyatan pengaruh Al Quran ini, Allah menyatakan (13:31,59:21). Getaran yang ditimbulkan Kitabullah bukan hanya pada Kitabullah bukan hanya pada manusia tetapi pada seluruh makhluk Allah, yang hidup maupun yang mati. Bila gunung saja sudah tunduk terpecah belah ketika menerima Kitabullah ini, maka bagaimanakah jika manusia yang menerimanya! Tidakkah mereka merenungkan!
© 2011 Ilham Publishing

49

Quantum Mentoring

Muhammad bin Abdullah SAW dengan membawa Al Quran diutus untuk merubah kondisi umat manusia. Perubahan ini bukan hanya berlangsung di Jazirah Arab saja, tetapi berlangsung di seluruh dunia. Bukan hanya di abad ke tujuh dimana beliau hidup, tetapi berlangsung terus hingga akhir masa. Rasulullah sendiri berhasil membentuk suatu generasi yang menjadi pangkal dari perubahan umat manusia, itulah generasi sahabat beliau ra. Nabi membentuk suatu generasi perubah (jailut taghyir) yang belum pernah dimunculkan sejarah, baik sebelum maupun sesudahnya. Generasi ini dibangun oleh bimbingan wahyu Allah yang terhimpun dalam Kitabullah, Al Quran. Itulah generasi Qurani, generasi yang mentalitasnya merupakan mentalitas Robbaniyah yang terjadi pada generasi pertama pengikut dakwah Nabi ini dilukiskan oleh Al Quran dengan perumpamaan, (6:122) Para sahabat yang menerima bimbingan Al Quran dan Sunnah, tadinya merupakan orang-orang yang terbelakang baik dalam ilmu, teknologi maupun kebudayaan. Keberhalaan membuat mereka bagaikan hidup dalam gelap gulita. Tetapi dalam jangka waktu 23 tahun, Rasulullah berhasil mencabut jahiliyyah dari akar-akarnya, membentuk suatu peradaban manusia di muka bumi. Untuk menggambarkan pengaruh Kitabullah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, baiklah kita dengarkan Ja'far bin Abdul Mutholib, salah seorang sahabat Nabi, melukiskannya dihadapan Najasy raja Habasyah, "Paduka dahulu kami memang bangsa yang bodoh. Kami menyembah berhala, memakan bangkai, berzina, mengerjakan segala perbuatan keji, saling bermusuhan, memutuskan hubungan persaudaraan, berlaku buruk terhadap tetangga dan yang kuat menindas yang lemah...Begitulah keadaan kami dahulu, sebelum Allah mengutus Rasul-Nya kepada kami. Kemudian Allah mengutus seorang Rasul kepada kami, orang yang kami kenal asal keturunannya, kesungguhan tutur katanya, kejujuran dan kesucian hidupnya yang tidak sedikitpun ternoda...Dia mengajak kami supaya memeluk agama Allah, mengesakan Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun juga...dan supaya meninggalkan aturan hidup kami yang lama, yaitu tradisi nenek moyang kami yang menyembah batu dan berhala. Bahkan dia memerintahkan kami supaya selalu berbicara benar, senantiasa menunaikan amanat, memelihara persaudaraan, berlaku baik terhadap tetangga, menjauhkan diri dari segala perbuatan haram dan pertumpahan darah, melarang kami berbuat jahat, berdusta dan makan harta milik anak yatim...Ia memerintahkan kami supaya menyembah Allah semata tanpa menyekutukan-Nya, melakukan shalat, zakat dan puasa. Lebih jauh Ja'far menerangkan,"...Kami kemudian beriman kepadanya, membenarkan semua tutur katanya, menjauhi apa yang diharamkan olehnya dan menghalalkan apa yang dihalalkan bagi kami..." Itulah pengaruh Al Quran terhadap para sahabat Nabi sehingga memunculkan perubahan total yang belum pernah dikenal oleh sejarah. Setelah perubahan ini para sahabat Nabi melesat bagaikan anak panah yang keluar daru busurnya. Mereka menjadi guru dunia di bidang peradaban, moralitas, ilmu pengetahuan, teknologi dsb. Setelah para sahabat berkiprah dan meninggalkan warisan sejarah yang teramat luhur untuk diteladani, maka perjuangan mereka dilanjutkan oleh tabiin. Selanjutnya oleh tabiit tabiin dan seterusnya... Kaum muslimin menghancurkan kepongahan imperium Romawi dan Persia. Memancangkan panji Islam sehingga hampir mencapai empat perlima bagian bumi. Al Quran menghancurkan kajahiliaan di berbagai pelosok dunia. Dimana Al Quran hadir dan membentuk suatu umat dakwah disitu berhala-berhala tumbang, konsepsi nenek moyang dirobek-robek dan kejahatan dibumihanguskan.
© 2011 Ilham Publishing

Tuntutan Iman Terhadap Al Quran

50

Kaum muslimin muncul sebagai umat pertengahan (ummatan washotan) dan memimpin dunia di bidang keruhanian dan peradaban. Lembaran sejarah Islam menunjukkan bahwa umat ini tetap bertahan 14 abad lamanya di tengah-tengah jatuh bangunnya sistem-sistem jahiliyah. Umat ini akan tetap ada dengan menyimpan kekayaan khasanah budayanya sepanjang Kitabullah tetap mereka tegakkan. Al Quran akan terus menerus menghasilkan umat yang terbaik sepanjang ia dijadikan pedoman hidup dan manhaj (konsep) asasi dalam perjuangan kaum muslimin. VIII. KEWAJIBAN KITA TERHADAP AL QURAN Setiap muslim yang bertaqwa menyadari sepenuhnya apa yang menjadi kewajibannya terhadap hidayah Allah ini. Kewajiban itu dilaksanakan dengan penuh cinta dan ridha tanpa sara keberatan maupun keraguan. Ia senantiasa bersedia meluangkan waktu, mencurahkan pemikiran dan tenaganya. 1. Membaca Al Quran Kitabullah ini, membacanya merupakan ibadah. Allah memberikan pahala untk setiap huruf yang dibaca dengan kabaikan (hasanat). Membaca kitabullah merupakan ibadah yang paling utama dari seluruh rangkaian ibadah yang ada. Membaca Al Quran menjadi inti dan kewajiban di dalam melaksanakan sholat, menjadi kebiasaan yang disunnahkan di siang maupun malam. (35:29 / 10:61) Rasulullah tidak bosan-bosannya mengingatkan kaum muslimin agar senantiasa membaca Al Quran. Banyak hadits Rasulullah memerintahkan umat ini selalu membaca Kitabullah atau belajar membacanya dengan makhroj yang baik dan ilmu tajwid yang benar. Misalnya rangsangan Rasulullah berikut ini, "Orang yang membaca Al Quran dan ia mahir membacanya bersama dengan safarotil kiro,il baroroh (malaikat yang mulia) dan orang membaca Al Quran tetapi ia terbata-bata dalam lafalnya dan tertahan-tahan maka dia mendapat dua pahala". (HR. Mutafaq alaihi) Dikatakan kepada para pencinta Al Quran di hari akhirat,"Bacalah dan naiklah (derajatmu di syurga) dan tartilkanlah sebagaimana engkau mentartilkan Quran di dunia. Karena sesungguhnya kedudukanmu berada pada akhir ayat yang engkau baca".(HR. Abu Daud dan At Tirmidzi) Tidak boleh hasad (iri dengki) kecuali kepada dua unsur, seseorang yang diberi Allah Al Quran kemudian dibacanya baik pagi maupun malam hari dan seseorang yang diberi Allah rezeki kemudian diinfakkannya siang maupun malam. (HR. Mutafaq alaihi) 2. Mentadabburkan Isi Al Quran Metadabburkan artinya mengkaji dan mempelajari kendungan hikmah yang Allah ajarkan didalamnya. Membaca saja belum cukup, karena mungkin orang membaca tetapi tidak memahami kandungan isinya. Karena itu harus dilakukan pengkajian dan pendalaman isinya melalui tadabur. Hikmah Al Quran tidak akan pernah habis digali dan sangat bermanfaat bagi orang-orang yang mengimaninya. Inilah perintah Allah. (47:24 / 38:29) 3. Mengamalkan Isi Kitabullah Yaitu melaksanakan apa yang diperintahkan Allah didalamnya serta menjauhi apa saja yang dilarang Allah. Karena amal itu merupakan asas diberikannya pahala (jaza-u) oleh Allah. (9:105) Tak ada satu pun dari ketiga kewajiban ini yang boleh ditinggalkan, semua wajib dilakukan. Setiap saat Al Quran mesti membimbing kita. Sikap lalai dan cuek terhadap
© 2011 Ilham Publishing

51

Quantum Mentoring

Al Quran merupakan dosa dan perbuatan yang dibenci oleh Allah. Kita sangat prihatin, karena dalam kenyataan banyak juga kaum muslimin yang lalai dari Al Quran. Mereka hanya mengagungkan fisiknya tetapi isi dan kandungannya ditinggalkan. Al Quran hanya dibaca bila ada kematian atau selamatan. Tidak ada upaya untuk mengkaji isinya secara mendalam. Ada lagi orang yang merubah fungsi Kitabullah ini. Ia dijadikan alat untuk mencari kesenangan kehidupan dan bukan pedoman hidup. Al Quran dinyanyikan dan diperlombakan, demi meraih gelar juara dan kemasyhuran, tetapi hukum dan undang-undangnya ditinggalkan. Karena itu, tidak ada jalan lain yang lebih utama selain senantiasa membaca, mentadabburkan, mengajarkan dan mengamalkan. Bukankah Rasulullah bersabda, "Sebaik-baik kamu adalah orang-orang yang mempelajari dan mengajarkan Al Quran). (HR. Bukhari & Muslim) Bila ketiga kewajiban ini dilaksanakan, maka mukmin atau mukminah akan merasakan kenikmatan hidup bersama Al Quran. Kemiknmatan yang tidak mungkin dirasakan oleh orang yang tidak mengimani Kitabullah ini. Hanya dengan menjadikan Kitabullah sebagai petunjuk jalan, manusia akan selamat di dunia maupun akhirat. Al Quran akan menjadi suatu hujjah (argumen) dihadapan pengadilan Allah. Ia akan memberi syafaat kepadanya, sebagaimana sabda Rasulullah, "Bacalah Al Quran karena sesungguhnya ia akan menjadi syafaat bagi para pembacanya di hari Kiamat. (HR Bukhari & Muslim) Reference: · Materi BP LBKB Manarul Ilmi Surabaya · Materi Mentoring ITS

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

XI
Urgensi Shahadatain

53

Quantum Mentoring

Bab 11.Urgensi Shahadatain
TUJUAN 1. Peserta memahami urgensi syahadatain dalam kehidupannya. 2. Peserta termotivasi untuk memelihara dan melaksanakan kandungan syahadatain dalam kehidupannya. METODE : Ceramah dan diskusi WAKTU : 60 menit efektif PROSES 1. Berikan penjelasan tentang urgensi syahadatain dalam kehidupan seseorang. þ Merupakan gerbang awal pertanda keislaman seseorang (25:23) Seseorang non Muslim yang ingin masuk Islam, maka langkah pertama yang harus ia lakukan adalah mengucapkan"Dua kalimat syahadat"karena syahadatain merupakan suatu pernyataan dirinya terbebas dari segala penghambaan selain penghambaan kepada Allah SWT. Dan sekaligus pernyataan penyerahan dirinya kepada Allah SWT. Inilah kalimat yang akan membawa seseorang kepada keselamatan (Islam) dan juga kepada kenikmatan abadi. þ Merupakan inti / pokok ajaran Islam Segala macam ibadah, akhlaq, dan syari`at Islam mengacu kepada kalimat ini. Ketika seorang muslim melaksanakan ibadah kepada Allah, pada hakikatnya ia sedang merealisasikan janji dan sumpahnya kepada Allah yang tertuang dalam kalimat ini. þ Minhaj perubahan Kalimat syahadat memberikan pemahaman kepada kita tentang bagaimana melakukan sebuah perubahan yang menyeluruh dalam hidup kita. Yaitu, bahwa kita harus meniadakan segala bentuk ilah dalam diri kita, baru kemudian kita munculkan Allah sebagai satu-satunya ilah yang patut disembah. Minhaj ini berlaku untuk mengadakan perubahan pada hati, pikiran, dan amal perbuatan. þ Hakikat da'wah para rasul (21:25) Para nabi dan rasul sejak Nabi Adam AS sampai Nabi Muhammad SAW pada hakikatnya menyampaikan satu aqidah La ilaha illa Allah, walaupun dengan syari'at yang berbedabeda. þ Merupakan pembeda seorang muslim dan kafir Kalimat syahadat membedakan seorang muslim dengan seorang non muslim dalam status maupun balasan yang akan diterimanya dari sisi Allah SWT. Allah akan membalas setiap amal seorang muslim dengan kenikmatan di dunia dan di akhirat, sedangkan orang-orang kafir mendapat kesempitan hidup di dunia dan akhirat. 2. Berikan motivasi kepada peserta untuk menghayati kembali syahadahnya. Sesungguhnya syahadah adalah pilihan, bukan paksaan (2:256), bukan karena orang tua kita beragama Islam. Syahadah menuntut konsekuensi; realisasi syahadah adalah ujian keimanan (33:23) dan syahadah dapat gugur, bukan inisialisasi untuk selamanya. Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (Al Quran) kepada
© 2011 Ilham Publishing

Urgensi Shahadatain

54

mereka agar mereka mendapat pelajaran (QS. Al Qashash 28:51)

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

XII
Makna Dua Kalimat Syahadat

Makna Dua Kalimat Syahadat

56

Bab 12.Makna Dua Kalimat Syahadat
TUJUAN : 1) Peserta memahami makna kalimat dua kalimat syahadat 2) Peserta terdorong untuk merealisasikan kandungan kalimat syahadat dalam kehidupan. METODE : Ceramah dan diskusi WAKTU : 60 menit efektif. PROSES : Berikan penjelasan materi. 1. Makna Asyhadu Secara bahasa Asyhadu berarti saya bersyahadah. Dalam bahasa Arab kata ini berbentuk fi'il mudhari' atau setara dengan Present Continous Tense dalam bahasa Inggris. Hal ini menunjukkan suatu aktivitas yang sedang berlangsung dan belum selesai. Kata asyhadu memiliki tiga makna : 1. Al-I'lanu (pernyataan) QS 3 : 64 2. Al-Wa'du (janji) QS 7:172 3. Al-Qosam (sumpah) 2. Makna Syahadatain Syahadatain berarti dua kalimah syahadah. Dua kalimah syahadah yang dimaksud adalah syahadah uluhiyah dan syahadah risalah. þ Syahadah Uluhiyah Pengakuan loyalitas terhadap Allah sebagai satu-satunya supremasi yang boleh disembah dan ditaati (QS 76:30) þ Syahadah Risalah Pengakuan terhadap Muhammad SAW sebagai hamba dan utusannya serta menjadikan beliau sebagai uswah dalam setiap aspek kehidupan (QS 21:107, 33:21, 68:4) 3. Perwujudan Syahadatain 1. Mahabbah (Cinta). Memberikan cinta yang pertama dan utama kepada Allah kemudian kepada Rasulullah (QS 2:165, 9:24) 2. Ridla. Memiliki sikap ridla di dalam dirinya. ridla terhadap Allah dan Rasul-Nya, ridla dengan segala keputusan Allah dan rasul -Nya. Ridla lahir batin, tanpa ada sedikit pun rasa tidak puas dihatinya (QS 4;65). Cinta dan ridla diwujudkan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya (QS 3:31, 4:80)

REFERENSI : 1. Bagaimana Menyentuh Hati, Abbas As-Siisiy 2. Anatomi Masyarakat Islam, Dr. Yusuf Al-Qaradlawi 3. Pokok-Pokok Ajaran Islam, Drs. Miftah Faridl
© 2011 Ilham Publishing

57

Quantum Mentoring

4. Bercinta dan Bersaudara Karena Allah, Ustadz Husni Adham Jarror

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

XIII
Konsep Diri Seorang Manusia

59

Quantum Mentoring

Bab 13.Konsep Diri Seorang Manusia
TUJUAN 1. Peserta memahami hakikat penciptaan manusia 2. Peserta memahami kedudukan manusia di dunia 3. Peserta memahami tujuan penciptaan manusia METODE : Ceramah dan tanya jawab WAKTU : 60 menit efektif PROSES 1. Berikan penjelasan tentang hakikat penciptaan manusia. Asal kejadian manusia : (1) Dari tanah (turob, 3:59), tanah liat (lazib, 37:11), tanah kering dan lumpur hitam (shalshaal,15:28), saripati tanah (23:12). (2) Dari air yang hina (32:7-8), dari air yang dipancarkan (86:6-7), dari nuthfah (36:77). Jelaskan bahwa dari ayat-ayat Al-Qur'an tersebut Allah mengingatkan manusia tentang asal kejadiannya (Adam) yaitu dari tanah dengan berbagai unsurnya, dan keturunannya diciptakan dari saripati tanah berupa air mani yang hina, sehingga sepantasnya manusia menyembah Allah yang telah menciptakannya dengan penuh ketawadhuan. 2. Berikan penjelasan tentang kedudukan (tugas) manusia di dunia. (1) Sebagai hamba Allah. Tugas utama diciptakannya manusia adalah sebagai hamba Allah yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya Rabb yang disembah dan sebagai prioritas utama cinta kita. (2) Sebagai khalifah di bumi. Kedudukan manusia sebagai wakil Allah di bumi untuk mewujudkan eksistensi Allah di bumi dengan memberi kontribusi mengatur bumi berdasarkan syari'at yang ditetapkan Allah (2:30, 6:65, 33:72), memanfaatkan kekayaan bumi dengan ketentuan Allah (11:61) dan berlaku adil demi kemaslahatan dan kebaikan (57:25, 38:26). 3. Berikan penjelasan tentang tujuan penciptaan manusia. Dalam QS 51:56 disebutkan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Segala aspek kehidupan seorang hamba Allah seharusnya dilakukan dalam rangka persembahannya kepada Allah SWT dengan niat hanya untuk mencapai keridhaan-Nya. REFERENSI : KSI Al-Ummah, Aqidah Seorang Muslim

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

XIV
Sifat-sifat Manusia

61

Quantum Mentoring

Bab 14.Sifat-sifat Manusia
TUJUAN 1. Peserta memahami sifat-sifat dasar manusia 2. Peserta memahami bagaimana mengelola sifat-sifat dirinya METODE : Game, ceramah dan diskusi WAKTU : 75 menit efektif. PROSES 1. Berikan penjelasan tentang keadaan manusia ketika diciptakan oleh Allah SWT. Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang sempurna. Dari sisi jasmani manusia dikatakan sebagai makhluk yang paling baik bentuknya (95:4), namun kebaikan secara fisik tersebut bisa jatuh ke tingkat yang paling rendah ketika rohaninya tidak ditata dengan baik (95:5). 2. Berikan penjelasan bahwa pada dasarnya manusia memenuhi karakter berikut : (1) Sanggup memegang amanah kepemimpinan di muka bumi (33:72). (2) Memiliki fitrah yang telah ditetapkan Allah (30:30). (3) Memiliki kecenderungan bertauhid (7:172). (4) Bertanggung jawab atas segala aktivitasnya (17:36). Jelaskan juga bahwa manusia juga memiliki beberapa sifat jasmani maupun rohani berikut : (1) Lemah (4:28) (2) Pembantah (36:77) (3) Keluh-kesah, kikir (70:19-21) (4) Tergesa-gesa (17:11) (5) Zhalim, bodoh, keras hati (33:72) (6) Melampaui batas (10:12) (7) Fitrah, hanif, cenderung pada kebaikan (30:30) (8) Merdeka (91:8, 2:256) (9) Bebas memilih (18:29) 3. Lakukan game"Bagaimana orang lain melihat saya". Langkah-langkah : (1) Minta peserta menyiapkan satu lembar kertas, beri nama di bagian atas. (2) Setiap peserta menyerahkan kertasnya kepada teman di sebelah kanannya. (3) Pada kertas yang dipegangnya sekarang, setiap peserta menuliskan apa yang dinilainya terhadap orang yang memiliki kertas tersebut. (4) Setiap peserta menyerahkan kertas yang dipegangnya kepada teman di sebelah kanannya. Demikian terus hingga setiap peserta memegang kembali kertas miliknya. (5) Minta peserta untuk membaca dan merenungi apa yang telah ditulis temantemannya mengenai dirinya. Jelaskan bahwa sifat-sifat yang ada dalam diri manusia tersebut baik yang buruk maupun yang baik merupakan modal awal kita untuk melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh Allah sebagai pemimpin di muka bumi. Berikan pemahaman kepada peserta bahwa sifat-sifat
© 2011 Ilham Publishing

Sifat-sifat Manusia

62

yang negatif harus diminimalkan, sedangkan sifat-sifat positif harus dimaksimalkan. Diskusikan dengan peserta masalah-masalah yang sering dihadapi dan bagaimana pemecahannya. Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. (QS Al Kahfi 18:54) REFERENSI : KSI Al-Ummah, Aqidah Seorang Muslim

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

XV
Citra Diri Wanita Muslimah

Citra Diri Wanita Muslimah

64

Bab 15.Citra Diri Wanita Muslimah
TUJUAN 1. Peserta menyadari fitrah kewanitaannya 2. Peserta menjadikan para Sahabiyah sebagai qudwah. METODE WAKTU : Ceramah : 60 menit efektif

PROSES 1. Jelaskan bahwa wanita diciptakan Allah sebagai mahluk yang unik, sebagaimana Allah menciptakan pria. Adapun secara detail karakteristik wanita adalah sebagai berikut : a) Hakikat penciptaan yang berbeda dengan pria menjadkan dzahirnya maupun karakternya antara pria dan wanita jelas berbeda. b) Wanita diciptakan sebagai mahluk yang indah Beberapa pandangan lain tentang wanita : ? Abad XVII dalam UUD Prancis pasal 217 : Seorang wanita apabila telah menikah tidak memiliki hak untuk bertindak terhadap hak miliknya sendiri. ? Abad XIX para filosof menyerang pedas pada Fenelon (1651-1715) yang berkeinginan memberikan sedikit hak pada kaum wanita, dikatakan bahwa Fenelon hendak memberi hak pada para wanita melebihi porsinya". ? Socrates (399-479) mengatakan bahwa kaum wanita tidak pernah memiliki persiapan intelektual, karenanya mereka hanya pantas sebagai pengurus rumah tangga dan asuhmengasuh. ? Abad Industrialisasi, saat ini wanita dijadikan objek bisnis. ? Kaum feminin yang kemudian salah mengartikan atau mendefinisikan tentang emansipasi yang akhirnya merngeluarkan wanita sendiri dari kodratnya, dengan ide perlindungan aborsi, free sex, dll. 2. Jelaskan pandangan Islam tentang kaum wanita. a. Wanita mempunyai kedudukan yang sama dengan pria di hadapan Allah, karena di mata Allah yang dinilai dari setiap hamba hanya ketakwaannya semata. b. Melindungi keindahan wanita dengan adanya perangkat aturan yang melindungi kehormatan wanita, misalnya aturan menutup aurat, tidak berikhtilat, dll c. Penghormatan terhadap wanita : J Wanita adalah tiang negara J Surga dibawah telapak kaki ibu, dll Perang pemikiran yang melanda ummat Islam di berbagai belahan dunia, telah menghancurkan berbagai sendi akhlaq ummat Islam, juga akhlaq para wanitanya. Padahal jelas sekali apabila tiang negara tidak kokoh lagi itulah awal dari kehancuran negara itu. Propaganda itu antara lain: - Menyebarkan propaganda kemajuan wanita dalam bentuk emansipasi, feminisme, meniti karier yang tidak proporsional, dll - Menyebarkan pameran aurat yang mengikis perlahan rasa malu kaum wanita, serta ikhtilat yang akan merendahkan wanita itu sendiri
© 2011 Ilham Publishing

65

Quantum Mentoring

- Menyebarkan propaganda bahwa Islam mengekang kaum wanitanya. 3. Jelaskan beberapa karakteristik wanita Qur'ani. a. Teguh pendirian dalam menjaga aqidahnya. Dalam Qur'an surat At Tahrim ayat 6 Allah memberi gambaran tentang wanita yang baik serta wanita yang buruk. Wanita yang baik hendaknya tetap berpegang teguh terhadap keyakinannya. b. Terjaga akhlaqnya serta sifat-sifat kewanitaannya. c. Sehat akan dan jasadnya. REFERENSI 1. Muhammad Muttawali Sya'rawi, Wanita dalam Al Qur'an 2. Banan Thantowi, Peran Wanita Muslimah dalam Gerakan Islam 3. Sayyid Qutb, Umar Tilmisani, Surat Terbuka Untuk Para Wanita.

15.1

Mampukah Aku Menjadi Wanita Sholihah?
The beauty of a woman is not in the clothes she wears, the figure that she carries,or the way she combs her hair. The beauty of a woman must be seen in her eyes, because that is the doorway to her heart, the place where love resides. The beauty of a woman is not in a facial mole, But true beauty in a woman is reflected in her soul. It is the caring that she lovingly gives, the passion that she shows and the beauty of a woman. With passing years only grows! Mampukah aku menjadi seperti Siti Khatijah? Agung cintanya pada Allah dan Rasulullah Hartanya diperjuangkan ke jalan fisabilillah

Penawar hati kekasih Allah Susah dan senang rela bersama... Dapatkah ku didik jiwa seperti Siti Aishah? Isteri Rasulullah yang bijak Pendorong kesusahan dan penderitaan Tiada sukar untuk dilaksanakan... Mengalir air mataku Melihat pegorbanan puteri solehah Siti Fatimah Akur dalam setiap perintah Taat dengan ayahnya, yang sentiasa berjuang Tiada memiliki harta dunia Layaklah dia sebagai wanita penghulu syurga...
© 2011 Ilham Publishing

Citra Diri Wanita Muslimah

66

Ketika aku marah Inginku intip serpihan sabar Dari catatan hidup Siti Sarah.... Tabah jiwaku Setabah umi Nabi Ismail Mengendong bayinya yang masih merah Mencari air penghilang dahaga Diterik padang pasir merak Ditinggalkan suami akur tanpa bantah Pengharapannya hanya pada Allah Itulah wanita Siti Hajar.... Mampukah aku menjadi wanita solehah? Mati dalam keunggulan iman Bersinar indah, harum tersebar Bagai wanginya pusara Masyitah....

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

XVI
Pentingnya Akhlak Islami

Pentingnya Akhlak Islami

68

Bab 16.Pentingnya Akhlak Islami
TUJUAN · Peserta memahami makna akhlak · Peserta mengetahui sumber akhlak Islam · Peserta mengetahui faktor-faktor pembentuk akhlak · Peserta memahami pentingnya akhlak Islami · Peserta mengetahui cara membentuk akhlak mulia RINCIAN BAHASAN Definisi Akhlak Allah adalah Khalik yang menciptakan segala sesuatu di luar diri-Nya. Sedangkan segala sesuatu yang diciptakan-Nya disebut makhluk. Manusia dan segala sesuatu yang menyertainya adalah juga makhluk. Sekarang akhlak. Apakah akhlak itu? Jawabannya mudah : Akhlak ialah semua tingkah laku dan gerak-gerik makhluk dan yang dimaksud makhluk di sini (telah dipersempit) ialah manusia (hanya menyangkut tingkah laku manusia saja). Sumber Akhlak Islam Akhlak yang benar akan terbentuk bila sumbernya benar. Sumber akhlak bagi seorang muslim adalah al-Qur'an dan as-Sunnah. Sehingga ukuran baik atau buruk, patut atau tidak secara utuh diukur dengan al-Qur'an dan as-Sunnah. Sedangkan tradisi merupakan pelengkap selama hal itu tidak bertentangan dengan apa yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Menjadikan al-Qur'an dan as-Sunnah sebagai sumber akhlak merupakan suatu kewajaran bahkan keharusan. Sebab keduanya berasal dari Allah dan olehNya manusia diciptakan. Pasti ada kesesuaian antara manusia sebagai makhluk dengan sistem norma yang datang dari Allah SWT. Faktor-faktor Pembentuk Akhlak 1. Al-Wiratsiyyah (Genetik) · Misalnya: seseorang yang berasal dari daerah Sumatera Utara cenderung berbicara "keras", tetapi hal ini bukan melegitimasi seorang muslim untuk berbicara keras atau kasar karena Islam dapat memperhalus dan memperbaikinya. 2. An-Nafsiyyah (Psikologis) · Faktor ini berasal dari nilai-nilai yang ditanamkan oleh keluarga (misalnya ibu dan ayah) tempat seseorang tumbuh dan berkembang sejak lahir. Semua anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (Hadits). · Seseorang yang lahir dalam keluarga yang orangtuanya bercerai akan berbeda dengan keluarga yang orangtuanya lengkap. 3. Syari'ah Ijtima'iyyah (Sosial) · Faktor lingkungan tempat seseorang mengaktualisasikan nilai-nilai yang ada pada dirinya berpengaruh pula dalam pembentukan akhlak seseorang. 4. Al-Qiyam (Nilai Islami) · Nilai Islami akan membentuk akhlak Islami.Akhlak Islami ialah seperangkat tindakan/gaya hidup yang terpuji yang merupakan refleksi nilai-nilai Islam yang diyakini dengan motivasi semata-mata mencari keridhaan Allah.
© 2011 Ilham Publishing

69

Quantum Mentoring

Pentingnya Akhlak Islami · Akhlak ialah salah satu faktor yang menentukan derajat keislaman dan keimanan seseorang. Akhlak yang baik adalah cerminan baiknya aqidah dan syariah yang diyakini seseorang. Buruknya akhlak merupakan indikasi buruknya pemahaman seseorang terhadap aqidah dan syariah. "Paling sempurna orang mukmin imannya adalah yang paling luhur aqidahnya."(HR.Tirmidi). "Sesungguhnya kekejian dan perbuatan keji itu sedikitpun bukan dari Islam dan sesungguhnya sebaik-baik manusia keislamannya adalah yang paling baik akhlaknya."(HR.Thabrani, Ahmad dan Abu Ya'la) · Akhlak adalah buah ibadah · "Sesungguhnya shalat itu mencegah orang melakukan perbuatan keji dan munkar" (QS. 29:45) · Keluhuran akhlak merupakan amal terberat hamba di akhirat · "Tidak ada yang lebih berat timbangan seorang hamba pada hari kiamat melebihi keluhuran akhlaknya" (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi) · Akhlak merupakan lambang kualitas seorang manusia, masyarakat, umat karena itulah akhlak pulalah yang menentukan eksistensi seorang muslim sebagai makhluk Allah SWT. · "Sesungguhnya termasuk insan pilihan di antara kalian adalah yang terbaik akhlaknya"(Muttafaq 'alaih). Cara Mencapai Akhlak Mulia 1. Menjadikan iman sebagai pondasi dan sumber · Iman artinya percaya yaitu percaya bahwa Allah selalu melihat segala perbuatan manusia. Bila melakukan perbuatan baik, balasannya akan menyenangkan. Bila perbuatan jahat maka balasan pedih siap menanti. Hal ini akan melibatkan iman kepada Hari Akhir. Akhlak yang baik akan dibalas dengan syurga dan kenikmatannya (QS. 55:1237). Begitu pula dengan akhlak yang buruk akan disiksa di neraka (QS. 22:19-22). 2. Pendekatan secara langsung · Artinya melaui al-Qur'an.Sebagai seorang muslim harus menerima al-Qur'an secara mutlak dan menyeluruh. Jadi, apapun yang tertera di dalamnya wajib diikuti. Misalnya, al-Qur'an melarang untuk saling berburuk sangka (QS. 49:12), menyuruh memenuhi janji (QS. 23:8), dsb. 3. Pendekatan tidak secara langsung · Yaitu dengan upaya mempelajari pengalaman masa lalu, yakni agar kejadian-kejadian malapetaka yang telah terjadi tak akan terulangi lagi di masa kini dan yang akan datang. Dari hal di atas, intinya adalah latihan dan kesungguhan. Latihan artinya berusaha mengulang-ulang perbuatan yang akan dijadikan kebiasaan. Kemudian bersungguh-sungguh berkaitan dengan motivasi. Motivasi yang terbaik dan paling potensial adalah karena ingin memenuhi perintah Allah dan takut siksa-Nya. DISKUSI 1. Bagaimana menurutmu bila ada orang yang mengatakan bahwa ada pacaran Islami. Apakah pacaran Islami sesuai dengan akhlak Islam? 2. Diskusikan dengan peserta mengapa banyak muslim yang akhlaqnya sangat tidak islami, padahal mereka mengerjakan shalat, shaum, dan ibadah-ibadah lain.. REFERENSI · Ziyad Abbas (ed.), Pilihan Hadits Politik, Ekonomi dan sosial, Pustaka Panjimas · Dr. Muhammad Ali Hasyimi, Apakah Anda Berkepribadian Muslim?,hal 24-28, GIP
© 2011 Ilham Publishing

Pentingnya Akhlak Islami

70

· Muna Hadad Yakan, Hati-hati terhadap Media yang Merusak Anak, hal. 38-40, GIP · Isnet "Urgensi Akhlak 1" · Materi Diskusi Mentoring KARISMA, Akhlak

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

XVII
Problematika Umat

Problematika Umat

72

Bab 17.Problematika Umat
TUJUAN · Peserta mengetahui potensi-potensi yang dimiliki umat Islam · Peserta mengetahui sebab-sebab kemunduran Islam · Peserta mengetahui solusi dari problematika umat Islam RINCIAN BAHASAN Sesungguhnya umat Islam memiliki potensi besar yang pada umumnya tidak dimiliki oleh sistem lain yang ada. Potensi-potensi tersebut diantaranya adalah potensi syari'ah/peraturan yang lengkap, mencakup seluruh aspek kehidupan. Syari'ah ini tertuang dalam Al Qur'an dan As Sunnah. Sabda Rasulullah SAW: "Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara. Kalian tak akan pernah tersesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, (yaitu) Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya." (Al Hadits) Allah telah menjelaskan dalam firman-Nya bahwa al Qur'an adalah hudan (petunjuk) bagi hamba-hambanya yang bertaqwa (QS. 2:2), bahkan untuk seluruh umat manusia (QS. 2:185). Maka Allah pula yang menjaga kemurnian dan keaslian Al Qur'an dari waktu ke waktu. Berbeda dengan kitab-kitab suci lain yang telah mengalami kontaminasi oleh sentuhan tangan manusia sehingga sebagian isinya tidak asli lagi, Al Qur'an yang kita lihat saat ini adalah sama persis dengan ketika wahyu itu diterima oleh Rasulullah SAW. Firman Allah: "Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benarbenar memeliharanya." (QS. 15:9) Potensi kedua yang dimiliki umat Islam adalah karunia Allah berupa kekayaan alam yang hampir sebagian besar (65%) berada di negeri-negeri muslim. Tugas umat Islam pulalah untuk mengoptimalkan pemanfaatannya bagi kemaslahatan umat manusia dan alam semesta. Tentu saja hal ini membutuhkan perangkat teknologi dan keunggulan sumber daya manusia. Cadangan minyak bumi pun sebanyak 65% berada di negeri-negeri muslim. Selain itu umat Islam memiliki potensi dalam jumlah jiwanya. Sebagian besar penduduk dunia adalah muslim. Tantangan bagi kita tentu saja umat Islam tidak hanya unggul dari segi kuantitas, namun terlebih penting lagi adalah kualitasnya. Umat Islam juga telah mendapatkan jaminan kemenangan dari Allah SWT sebagaimana firman-Nya: "Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik benci." (QS. 61:9) Pertolongan Allah pun amat dekat bagi orang-orang yang beriman (QS. 2:214), namun tentu saja semua itu kembali kepada kita. Allah pasti akan memberikan kemenangan itu bila memang kita telah layak/pantas untuk memperolehnya. Termasuk salah satu potensi yang dimiliki umat islam adalah sejarah islam yang penuh dengan kejayaan, yaitu sejak masa Rasulullah bersama para sahabat, sampai berabad-abad setelahnya. Hal ini seharusnya membangkitkan optimisme pada diri kita. Apa yang dahulu mereka miliki, yaitu Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah, masih kita miliki sampai sekarang. Namun sudahkah kita memiliki kedalaman pemahaman yang sama dengan mereka? Kemunduran yang saat ini terjadi pada umat Islam tentu ada penyebabnya. Faktor-faktor penyebab ini pada dasarnya dapat dibedakan atas faktor internal (dari dalam tubuh umat Islam sendiri) dan faktor eksternal (dari luar umat Islam).
© 2011 Ilham Publishing

73

Quantum Mentoring

Faktor internal diantaranya adalah: Jauhnya umat Islam dari Al Qur'an dan As Sunnah. Dalam QS. 25:30 Allah berfirman: "Berkatalah Rasul: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan." Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimakumullah menyatakan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang mengacuhkan Al Qur'an ini ada 3 kemungkinan: · Ia tidak membaca Al Qur'an. Seorang muslim yang tidak membaca Al Qur'an padahal ia bisa membacanya dan jika ia tidak bisa membaca Al Qur'an lantas ia tidak berusaha untuk menjadi bisa, maka ia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang acuh terhadap Al Qur'an. · Ia membaca Al Qur'an namun tidak mentadabburinya. Seorang muslim yang membaca Al Qur'an seharusnya mengalami peningkatan keimanan, yaitu bila ia tidak asal membaca saja. Firman Allah: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal." (QS. 8:2) · Ia membaca dan mentadabburi Al Qur'an namun tidak mengamalkannya. Seorang muslim baru dikatakan benar keimanannya terhadap Al Qur'an bila ia membacanya secara kontinyu, mentadabburinya sehingga bertambah pemahaman dan keyakinannya akan kebenaran Al Qur'an dan mengamalkan dengan sekuat tenaga apaapa yang telah dibacanya. Salah satu penyebab kemunduran umat Islam adalah akibat mereka mempelajari Islam hanya karena mereka mengikuti. Sehingga pemahaman yang adapun sekedar pemahaman ikut-ikutan (taqlid buta), bukan pemahaman yang berlandaskan ilmu pengetahuan. Padahal firman Allah: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya." (QS.17:36) Terpecah belah karena ada perbedaan masalah furu' seperti masalah fiqh madzhab, masalah jama'ah dan sebagainya, sampai merusak hubungan ukhuwah islamiyah. Tentu saja umat yang terpecah belah akan lebih mudah dikalahkan oleh musuh-musuh Islam. Sudah saatnya bagi umat Islam untuk memperkuat kesatuan hati dan tali ukhuwah. Firman Allah: "dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua(kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. 8:63) Adanya perasaan rendah diri dan tidak tsiqoh pada Islam. Di antara umat Islam saat ini banyak yang tidak memiliki izzah Islam, merasa enggan untuk menunjukkan identitas keislamannya. Perasaan ini timbul karena melihat kondisi faktual umat yang saat ini cenderung berada "di bawah". Padahal perasaan semacam ini tidak boleh menghinggapi seorang muslim, karena kondisi umat saat ini justru disebabkan karena umat Islam jauh dari pemahaman Islam yamg benar. Bila kita belajar dari sejarah, maka akan tampak bahwa masa-masa kegemilangan umat
© 2011 Ilham Publishing

Problematika Umat

74

Islam terjadi pada masa dimana mereka benar-benar menegakkan bangunan Islam pada dirinya dan masyarakat. Ketika itu Islam tampil sebagai peradaban, tidak ada yang menutupi cahayanya, sesuai dengan sabda Rasulullah: "Al-Islamu ya'lu wa laa yu'la 'alaihi." (Islam itu tinggi dan tidak ada yang menandingi ketinggiannya). Izzah Islam harus bangkit pada diri tiap-tiap umat Islam, karena orang yang paling derajatnya di muka bumi ini sesungguhnya adalah orang-orang yang beriman. Firman Allah: "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (QS.3:139) Adanya gejala taqlid dengan semua yang datang dari barat. Ketika seorang muslim tak lagi memiliki izzah dengan keislamannya, maka mudah saja baginya untuk berkiblat pada sesuatu yang lain, yang datang dari luar Islam atau orang kafir sekalipun. Tertinggal dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Padahal Islam merupakan agama yang menjungjung tinggi ilmu pengetahuan. Bahkan Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dalam firman-Nya QS.58:11. Rasulullah SAW bersabda: "Keutamaan seorang 'alim (ahli ilmu) atas seorang 'abid (ahli ibadah) seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah derajatnya." (HR. At Tirmidzi) "Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga...." (HR. Muslim, Ibnu Hibban dan Al Hakim) Islam telah pula melahirkan para ilmuwan besar dalam sejarah, seperti Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Rusyd (Averroes), Al Khawarizmi dan lain-lain. Disamping faktor internal, terdapat pula faktor eksternal yang menjadi sebab mundurnya umat Islam, yaitu adanya ghazwul fikri (perang pemikiran) dan harakatul irtidad (gerakan pemurtadan) dari musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Maha Benar Allah dengan firman-Nya: "Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka..." (QS.2:120) Solusi apakah yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan problematika umat Islam saat ini? Diantaranya adalah: · Umat Islam harus menerapkan syari'at Islam dalam seluruh aspek kehidupan · Mendidik generasi Islam dengan manhaj pendidikan yang syamil (sempurna) dan mutakamil (menyeluruh) · Menyiapkan kekuatan semaksimal mungkin untuk menghadapi musuh (QS.8:60) · Dengan perjuangan dan pengorbanan total. DISKUSI 1. Cobalah kamu diskusikan dengan teman-teman, sampai sejauh manakah peranan kamu sebagai siswa dalam menyelesaikan problematika umat Islam saat ini? 2. Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS Al An'aam 6:32)

© 2011 Ilham Publishing

75

Quantum Mentoring

REFERENSI · Panduan aktifis Harokah, Pustaka Al Ummah · Nabil bin Abdurrahman, Rencana penghapusan Islam dan pembantaian Kaum Muslimin di abad modern.

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

XVIII

si Pendidikan Dan Pembinaan Islam Dalam Pengembangan Kep

77

Quantum Mentoring

Bab 18.Urgensi Pendidikan Dan Pembinaan Islam Dalam Pengembangan Kepribadian Muslim
I. TUJUAN ISTRUKSIONAL UMUM - Peserta memahami dan meyakini perlunya pendidikan dan pembinaan untuk mengembangkan kepribadiannya - Peserta memahami bahwa pendidikan modern yang berkembang sekarang ini telah mengalami pergeseran nilai sehingga tidak mampu lagi mengemban perannya bahkan mungkin akan meruntuhkannya. - Peserta memahami bahwa pendidikan yang mampu membawa ummat pada maslahat adalah pendidikan dan pembinaan Islam dengan segala karakteristiknya yang sesuai dengan pendidikan dan pembinaan Rasulullah SAW. II. PENDAHULUAN Salah satu keutamaan Al-Islam bagi umat manusia adalah adanya sistem yang paripurna dan konsisten di dalam membina mental, melahirkan generasi, membina umat dan budaya, serta memberlakukan prinsip-prinsip kemuliaaan dan peradaban. Semua itu dimaksudkan untuk merubah manusia dari kegelapan syirik, kebodohan, kesesatan dan kekacauan menuju cahaya tauhid, ilmu, hidayah dan kemantapan. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalanjalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seidzin-Nya menunjuki mereka ke jalan yang lurus . (5:1516) Kesempurnaan sistem Islam tersebut terlihat pula dalam sistem pendidikan Rasulullah dalam mendidik para shahabat yang telah menghasilkan generasi yang tak ada duanya. Generasi yang disebut-sebut sebagai generasi terbaik yang pernah muncul di muka bumi ini. Tak ada yang mampu menandinginya baik sebelum dan sesudah generasi shahabat tersebut. Namun bukan berarti sepeninggal Rasulullah, kita tak akan merasakan dan tak mampu melaksanakan pendidikan Islam. Sebab beliau telah meninggalkan dua kurikulum yang dapat kita pakai acuan dalam mendidik manusia yakni Al-Qur'an dan As-Sunnah. Pendidkan Islam bertujuan menumbuhkan keseimbangan pada kepribadian manusia, sedangkan tujuan akhir pendidikan Islam adalah perwujudan penyerahan mutlak kepada Allah, pada tingkat individual, masyarakat dan kemanusiaan pada umumnya. Oleh karena itu Islam memandang, kegiatan pendidikan merupakan satu-kesatuan integral yang melibatkan seluruh aspek kehidupan manusia. Ia harus berjalan harmoni dan seimbang serta menjadi tanggung jawab manusia secara keseluruhan dalam melahirkan kehidupan yang sehat, bersih dan benar (Islam). III. KONSEP-KONSEP ISLAM DAN PENDIDIKAN MASYARAKAT MODERN Islam bermula dari pendidikan dan puncak keberhasilannya juga berupa berkembangnya pendidikan. Di dalam wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah, bertebaran istilah yang merupakan unsur esensi bagi pendidikan: iqro',Rabb, insaan, 'allama, dan qalam. Istilah Rabb menjadi sumber dalam aspek pendidikan Islam, sehingga pendidikan yang dilahirkan oleh ajaran Islam adalah pendidikan yang mengacu kepada kebenaran Allah, Rabb semesta alam (Tarbiyah Rabbaniyah).
© 2011 Ilham Publishing

Urgensi Pendidikan Dan Pembinaan Islam Dalam Pengembangan Kepribadian Muslim

78

Inilah konsep dasar pendidikan Islam yang terus-menerus disosialisasikan Rasulullah SAW dengan berbagai aspek yang menunjangnya. Dan konsep ini pulalah yang seharusnya melandasi setiap proses pendidikan di dunia kaum muslimin hingga detik ini. Bagaimanakah sistem pendidikan masyarakat modern kini? Tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan masyarakat modern kini jauh dari hakekat pendidikan Islam. Pendidikan modern memang melibatkan sarana-sarana yang hebat dan canggih namun bukan berarti tanpa kelemahan. Tidak dipungkiri kemajuan manusia di bidang iptek melonjak jauh. Hampir disemua lini tersentuh teknologi mutakhir. Namun dari pendidikan modern ini kita tidak menemukan kesempurnaan akhlak dan ruhani. Fenomena-fenomena yang kita temukan adalah penindasan antar manusia dan merosotnya moral Tampaknya, tujuan pendidikan modern adalah tercapainya tujuan material yang berkembang menjadi rasa cinta terhadap pekerjaan dan produksi dengan mengesampingkan nilai-nilai dan norma-norma kemasyarakatan. Sehingga sekolah-sekolah modern telah mengalami kemerosotan mutu pada setiap skala dalam dua dimensi, yaitu dimensi syar'iyyah dan dimensi ilmiyah paedagogis. Artinya, sekolah-sekolah itu bukan sekedar tidak islami tapi juga tidak mampu berfungsi sebagai salah satu sarana pendidikan. Karena problem serius inilah umat Islam perlu segera mengembalikan orientasi sistem pendidikannya, yaitu pendidikan dan pembinaan Islam yang dilaksanakan dalam konteks kehidupan modern. Untuk mengatur kembali iptek dan menggunakannya bagi manfaat manusia dan kehidupan secara luas, dan yang lebih penting lagi, untuk mengembalikan penghambaan manusia hanya kepada Allah semata. IV. PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMBINAAN MUSLIM 1. Pengertian Secara bahasa, pendidikan yang dalam bahasa arabnya tarbiyah berasal dari tiga pengertian kata ( ) yang artinya ` memperbaiki sesuatu dan meluruskannya `. Dari fi'il ( ) kata ( ) ditujukan kepada Allah SWT yang artinya `Tuhan segala sesuatu, raja dan pemiliknya`, Tuhan yang ditaati, Tuhan yang memperbaiki. Pengarang tafsir Al Baidhawi dalam menafsirkan firman Allah yang terdapat dalam surat Al Fatihah ( ) mengatakan, " Asalnya, Ar Rabb merupakan masdar yang bermakna tarbiyah, yaitu menyampaikan sesuatu sampai menuju titik kesempurnaan sedikit demi sedikit." Dari uraian di atas, kita dapat menyebutkan beberapa pengertian dari pendidikan dan pembinaan Islam. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang melatih sensibilitas individu sedemikian rupa, sehingga dalam perilaku mereka terhadap kehidupan, langkah-langkah dan keputusan begitu pula pendekatan mereka terhadap semua ilmu pengetahuan diatur oleh nilai-nilai etika Islam yang sangat dalam dirasakan. Dengan pendidikan Islam itu mereka akan terlatih dan secara mental sangat berdisiplin sehingga mereka ingin memiliki pengetahuan bukan saja untuk memuaskan rasa ingin tahu intelektual atau hanya manfaat kebendaan yang bersifat duniawi, tetapi juga untuk tumbuh sebagi makhluk yang rasional, berbudi dan menghasilkan kesejahteraan spiritual, moral dan fisik keluarga mereka, masyarakat dan umat manusia. Pendidikan Islam yang memiliki tujuan besar dan universal ini, bukan berlangsung temporal, tapi dilakukan secara berkesinambungan. Artinya tahapan-tahapannya sejalan dengan kehidupan, tidak berhenti pada batas-batas tertentu, terhitung sampai dunia ini
© 2011 Ilham Publishing

79

Quantum Mentoring

berakhir. Pendidikan yang memiliki makna demikian ini adalah menjadi tujuan terpenting dalam kehidupan, baik secara individu maupun keseluruhan. Kita telah memahami, sasaran pendidikan dan pembinaan ini adalah kemaslahatan umat. Dengan demikian asas yang paling hakiki dari sebuah pendidikan adalah mencapai keridhaan Allah SWT, seperti termaktub dalam firman Allah : " Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah, dan kenabian, lalu ia berkata kepada manusia, `hendaklah kamu menjadi penyembahpenyembahku, bukan penyembah Allah.` Akan tetapi (dia berkata), `Hendaklah kamu menjadi orang-orang Robbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya".(3: 79). 2. Karakteristik Sistem Pendidikan Islam Pendidikan Islam sebagai satu mata rantai dari Syariat Islam, memiliki ciri khusus yang sama dengan kekhususan Al Islam sendiri, yaitu syamil-kamil-mutakamil (sistem yang integral-sempurna-dan menyempurnakan). Integralitas sistem pendidikan Islam ini secara garis besar mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, yang secara garis besar adalah : a. Pendidikan Keimanan (aqidah) Yang dimaksud dengan pendidikan iman adalah mengikat individu dengan dasardasar iman, rukun Islam dan dasar-dasar syari'ah Islamiyah. Metode pendidikan ini adalah menumbuhkan pemahaman terhadap dasar-dasar keimanan dan ajaran Islam yang bersandarkan pada wasiat-wasiat Rasulullah saw. dan petunjuknya. b. Pendidikan Moral (Akhlaq) Maksud pendidikan moral adalah pendidikan mengenai dasar-dasar moral dan keutamaan perangai, tabiat yang harus dimiliki dan dijadikan kebiasaan oleh individu sejak masa analisa hingga ia menjadi seorang mukallaf, pemuda yang mengarungi lautan kehidupan. Tidak diragukan lagi bahwa keutamaan-keutamaan moral, perangai dan tabiat merupakan salah satu buah iman yang mendalam, dan perkembangan religius yang benar. c. Pendidikan Fisik Pendidikan Islam sangat memperhatikan fisik tiap-tiap muslim. Apabila kita bicara tentang fisik dalam pendidikan, yang dimaksud bukan hanya otot-ototnya, panca inderanya dan kelenjar-kelenjarnya, tetapi juga potensi energik yang muncul dari fisik dan terungkap melalui perasaan. Islam mendidik umatnya dengan memberikan rangsangan yang baik sebagaimana dalam sabda Rasulullah saw. : " Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai daripada mukmin yang lemah." Islam juga mengajarkan aturan -aturan yang sehat dalam makan, minum, dan tidur. Mendidik untuk menjaga kesehatannya, dengan selalu menganjurkan olah raga dan menjauhkan diri dari penyebab-penyebab kelemahan. d. Pendidikan intelektual Maksud pendidikan intelektual adalah pembentukan dan pembinaan berpikir individu dengan segala sesuatu yang bermanfaat, ilmu pengetahuan, hukum, peradaban ilmiah dan modernisme serta kesadaran berpikir dan berbudaya. dengan demikian ilmu, rasio dan peradaban individu tersebut benar-benar dapat dibina. Akal adalah kekuatan manusia yang paling besar dan merupakan pemberian Allah yang paling berharga. Dan al-Qur'an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap perkembangan akal ini. Al-Qur'an mendidik akal dengan begitu banyak ayat-ayat alam semesta untuk jadi bahan perenungan. Tapi bukan perenungan itu yang menjadi tujuannya,
© 2011 Ilham Publishing

Urgensi Pendidikan Dan Pembinaan Islam Dalam Pengembangan Kepribadian Muslim

80

melainkan mendidik akal agar cermat, cerdas dan akurat dalam berpikir dan bersikap serta menempuh jalan hidup. (67:4 / 35:40 / 53:28 / 17:36) e. Pendidikan Psikhis Maksud pendidikan psikhis adalah mendidik individu supaya bersikap berani, berterus terang, merasa sempurna, suka berbuat baik terhadap orang lain, menahan diri ketika marah dan senang kepada seluruh bentuk keutamaan psikhis dan moral secara keseluruhan. Tujuan pendidikan ini adalah membentuk, menyempurnakan dan menyeimbangkan kepribadian individu, sehingga mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya dengan baik dan sempurna. f. Pendidikan Sosial Maksud pendidikan sosial adalah mendidik individu agar terbiasa menjalankan adabadab sosial yang baik dan dasar-dasar psikhis yang mulia dan bersumber pada aqidah Islamiyah yang abadi dan perasaan keimanan yang mendalam, agar di dalam masyarakat nanti ia bisa tampil dengan pergaulan dan adab yang baik, keseimbangan akal yang matang dan tindakan yang bijaksana. g. Pendidikan seksual Yang dimaksud pendidikan seksual adalah upaya pengajaran, penyadaran dan penerangan tentang masalah-masalah seksual yang diberikan kepada individu, sejak ia mengerti masalah-masalah yang berkenaan dengan seks, naluri dan perkawinan. Sehingga, jika anak tumbuh menjadi seorang pemuda, dia dapat memahami masalah yang dihalalkan dan yang diharamkan. Bahkan mampu menerapkan tingkah laku Islami sebagai akhlak, kebiasaan, dan tidak akan mengikuti syahwat dan cara-cara hedonisme. Diantara pendidikan ini adalah mendidik adab-adab meminta idzin, adab memandang, keharusan menghindarkan diri dari rangsangan-rangsangan seksual, mengajarkan tentang hukum-hukum pada masa pubertas dan masa baligh, perkawinan dan hubungan seksual, isti'far (mensucikan diri) bagi orang yang belum mampu menikah, dll. Selain syamil, pendidikan Islam juga memiliki keistimewaan lain yaitu: Berdimensi manusiawi dengan paket pembinaan yang bertahap dan tawazun (penuh keseimbangan dalam segala sisi kehidupannya) selain juga terus mengikuti perkembangan zaman serta tetap menjaga orisinalitasnya. Itulah garis besar karakteristik pendidikan Islam yang keberlangsungannya sangat bergantung pada manusia pelaksananya, perangkat serta keistiqomahan seluruh masyarakat dalam merealisir konsep pendidikan itu pada tujuan yang benar. Yakni upaya sungguhsungguh (jihad) menciptakan masyarakat yang seluruh aktifitas ritual, sosial, intelektual, dan fisikalnya tunduk kepada tata aturan Maha pencipta alam semesta. 3. Pendidikan Islam dimasa Rasulullah Segera setelah hijrah Rasulullah memberikan prioritas utama pada pendidikan umat Islam. Pusat pendidikan Islam pertama `As-Sufah`, didirikan sebagai pusat pendidikan di salah satu ruangan dalam rumah yang bergandengan dengan rumah nabi. Pendidikan tersebut secara keseluruhan berada di bawah pengawasan beliau. Tujuan utamanya adalah mensucikan hati dan menerangi jiwa, sehingga mereka dapat meningkatkan diri dari tingkat iman ke tingkat ihsan (penyerahan diri secara total). Kadang-kadang Nabi menyuruh para sahabatnya menemui utusan-utusan yang datang dari berbagai suku. Pengiriman guru ke wilayah-wilayah yang berdekatan merupakan ciri khas kebijaksanaan pendidikan Nabi. Pada zaman Nabi terdapat 9 buah masjid di Madinah. Setiap Masjid juga berfungsi sebagai sekolah, yang kadang-kadang diadakan kuliah malam. Kuliah ini diikuti oleh banyak
© 2011 Ilham Publishing

81

Quantum Mentoring

siswa, lebih dari 70 orang. Selain itu Nabi juga mengajarkan spesialisasi. Mereka yang ingin belajar Al-Quran harus pergi kepada orang-orang tertentu, dan mereka yang ingin mendalami tajwid atau syariah harus belajar kepada orang-orang lain yang mendalam benar pengetahuannya tentang bidang studi tersebut. Pendidikan bagi kaum wanita juga tak kalah pentingnya. Nabi menyediakan satu hari khusus untuk memberikan kuliah-kuliah kepada kaum wanita. Nabi juga mengajarkan bagaimana cara memanah, berenang, dan meramu obat-obatan, mengajarkan astronomi, geneologi dan fonetika praktis yang diperlukan untuk membaca Alquran. Satu hal yang perlu dicatat, meskipun perhatian dipusatkan kepada Al Quran dan Ilmu-ilmu keislaman, namun pengajaran semua bidang studi yang dinilai membantu pengembangan kepribadian setiap individu atau masyarakat secara sehat dimasukkan sebagai bagian atau paket dalam sistem pendidikan Islam kala itu. Pendidikan untuk anak laki-laki dan perempuan juga sama-sama diutamakan. Orang-orang dewasa diberi tanggung jawab untuk mengajar yang muda, baik mengenai agama maupun pengalamannya. Hal ini mendorong berdirinya beberapa buah sekolah dan lembaga pendidikan. Jadi dengan kepemimpinan Nabi yang dinamik itu, tujuan akhir dalam hidup manusia bukan saja ditunjukkan, tetapi juga diterjemahkan dalam kegiatan praktis, suatu sistem dan organisasi untuk mencapai tujuan itupun dibentuk. Begitulah cara Nabi mendidik ummatnya, sederhana namun mengena. Dibalik kesederhanaan itu kita melihat suatu kompleksitas yakni suatu kebersamaan dalam mendidik manusia. Tak hanya aspek ruhiyah atau fikriyah saja, tapi ilmu praktis kehidupan serta jasadiyah turut diperhatikan . Tidak mengherankan jika anak-anak dan wanita pada zaman Rasulullah tumbuh menjadi manusia yang berani. Mereka mengerti kapan bersuara dan kapan berdiam diri. Pribadi-pribadi yang tertarbiyah oleh tangan Rasulullah tumbuh menjadi pribadi yang sehat, tahu persoalan ummat sekaligus ahli dalam bidang yang diminati. Mereka juga terkenal sebagai manusia-manusia kuat, sanggup menempuh perjalanan panjang serta mampu berjihad dalam waktu yang relatif lama. Pendek kata hampir semua sisi kebutuhan manusia dipenuhi oleh pendidikan Rasulullah, sehingga mereka tumbuh menjadi insan kamil ( manusia sempurna). Sebagai bukti keberhasilan pembinaan Rasulullah adalah ungkapan Sayyid Quthb sebagai berikut, "Muhammad saw. telah menang pada hari beliau menjadikan para shahabatnya sebagai gambaran-gambaran hidup dari keimanannya yang memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar, pada hari beliau membuat tiap kepala di antara mereka sebagai Al-Qur'an yang hidup merayap di permukaan bumi, pada hari beliau menciptakan tiap individu diantara mereka sebagai contoh yang menjelma bagi Islam, yang dapat dilihat oleh manusia, sehingga mereka benar-benar dapat melihat Islam. Muhammad saw. telah berhasil merubah gagasan-gagasan yang termuat dalam Al-Qur'an menjadi manusia-manusia yang dapat disentuh oleh tangan dan dapat dilihat oleh mata". "Muhammad bin Abdillah saw. dalam posisi menang ketika berhasil menginternalisasikan Al-Islam, merubah keimanan manusia kepada Islam sampai pada tingkah laku dan mencetak puluhan, ratusan dan ribuan naskah mushhaf. Bukan sekedar mencetak dengan tinta diatas lembaran-lembaran kertas, tetapi mencetak dengan cahaya di atas kepingan-kepingan hati untuk bergaul dengan manusia, mengambil dari mereka, memberi dan berkata kepada mereka dengan ihwal sesuai dengan maksud Al-Islam yang dibawa oleh Rasulullah dari sisi Allah SWT." Apakah dunia mengetahui ada orang yang lebih mulia, terhormat, pengasih, penyayang, agung, luhur atau lebih pandai dari mereka ?!
© 2011 Ilham Publishing

Urgensi Pendidikan Dan Pembinaan Islam Dalam Pengembangan Kepribadian Muslim

82

Cukuplah bagi mereka untuk dikatakan sebagai orang-orang mulia dan agung, apabila Al-Qur'anul Karim telah mengatakan tentang hak mereka. (48:29 / 59:9 / 33:23) Sekarang tinggal kita, mampukah menyerap hakikat pembinaan Rasulullah dan mengejawantahkan dalam kondisi kekinian? Alhamdulillah, Hayya 'alal jihad. Reference: 1. Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, DR.Abdullah Nasih Ulwan. 2. Materi Mentoring ITS

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

XIX
Ghozwul Fikri

Ghozwul Fikri

84

Bab 19.Ghozwul Fikri
TUJUAN · Peserta memahami makna dan hakikat Ghozwul Fikri · Peserta memahami sarana, metode dan hasil-hasil dari Ghozwul Fikri PETUNJUK/ATURAN PERMAINAN Games 1 Membedakan dua benda yang amat berlainan (misalnya kapur dan tissue) · Langkah 1 Para mad'u harus menyebutkan dengan cepat setiap benda yang diangkat oleh mentor (dilakukan beberapa kali) · Langkah 2 Sekarang benda ditukar namanya. Jika kapur diangkat, peserta harus menyebtnya sebagai tissue, begitu pula sebaliknya. Pada awalnya peserta akan mengalami kesulitan karena belum terbiasa. Tapi lama kelamaan akan terbiasa. · Hikmah Itulah Ghozwul Fikri. Pada awalnya nilai-nilai keislaman itu sudah jelas dan pasti. Tetapi musuh Islam berusaha menghilangkan nilai keislaman dari umat Islam secara perlahanlahan. Maka disodorkanlah pada muslimin nilai yang tidak islami. Mula-mula umat Islam tidak menerimanya (tidak terasa) tapi lama kelamaan karena usaha mereka yang terus menerus ditambah umat Islam yang malas mengkaji Al Qur'an dan Sunnah, maka umat Islam akan larut dan tenggelam dengan nilai-nilai non Islam tersebut. Bahkan nilai-nilai yang menyimpang dengan Islam sudah dianggap biasa. Dan sebaliknya ketika disodorkan nilai-nilai Islam mereka tidak mau menerima Islam dan menjauh, seperti yang terjadi sekarang ini. Games 2 Al Qur'an ditengah karpet · Langkah 1 Al Qur'an diletakkan di tengah-tengah karpet yang lebar. Peserta diperintahkan untuk mengambil Al Qur'an tadi tanpa menyentuh karpet (sulit/tidak bisa) · Langkah 2 Peserta diberitahu cara untuk mencapai Al Qur'an tanpa harus menginjak karpet, yaitu dengan cara menggulung karpet sampai tengah dan dapat mengambil Al Qur'an. · Hikmah Usaha musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam tidak lagi dengan menginjakinjak kaum muslimin melainkan dengan mengambil jiwa Al qur'an dalam jiwa mereka dengan cara perlahan-lahan dan mebuai serta tahap demi tahap tanpa disadari umat Islam. RINCIAN BAHASAN Sebuah ilustrasi Suatu ketika di Perang Salib, seorang petinggi kaum Palangis (pasukan kristen)
© 2011 Ilham Publishing

85

Quantum Mentoring

tertangkap oleh pejuang-pejuangpenegak agama Allah dan ditawan. Sang petinggi ini diperlakukan sangat baik selama ditawan. Ada satu hal yang membuatnya berfikir. Setiap malam ia memperhatikan sang penjaga berlinangan air mata saat membaca kitab sucinya. Ia tak habis fikir bagaimana seorang yang begitu perkasa di siang hari di medan tempur dapat menangis sedemikian rupa di malam hari ketika membaca Al Qur'an. Akhirnya ia sampai kepada suatu kesimpulan bahwa disitulah letak kekuatan kaum Muslimin. Selama beberapa pertempuran fisik mereka tidak berhasil mengalahkan kaum muslimin, ternyata ada suatu sumber kekuatan yang sangat dahsyat yang memberikan motivasi yang begitu kuat bagi kaum Muslimin. Ia lalu mengirim surat kepada pasukannya yang mengabarkan bahwa jika ingin mengalahkan kaum Muslimin tidak dapat secara fisik tetapi mereka harus dijauhkan terlebih dahulu dari kitab sucinya. Dan memang kemenangan mereka setelah umat Islam mulai jauh dari Al Qur'an. Sementara itu tujuh abad kemudian, Samuel Zuaimir ketua Asosiasi Agen Yahudi pada sebuah konferensi di Yerussalem dalam pidatonya mengatakan........ tujuan misi yang telah diperjuangkan bangsa Yahudi dengan mengirim saudara ke negara-negara Islam, bukanlah mengharapkan kaum Muslimin beralih ke agama Yahudi......... Tetapi tugasmu adalah mengeluarkan mereka dari Islam dan tidak berpikir mempertahankan agama Allah atau berdialog dengan-Nya.

Pengertian Ghozwul Fikri · Secara bahasa Ghozwul fikri terdiri dari dua kata : ghozwah dan fikr. Ghozwah berarti serangan, serbuan atau invasi. Fikr berarti pemikiran. Serangan atau serbuan di sini berbeda dengan serangan dan serbuan dalam qital (perang). · Secara istilah Penyerangan dengan berbagai cara terhadap pemikiran ummat Islam guna merubah apa yang ada di dalamnya sehingga tidak lagi bisa mengeluarkan darinya hal-hal yang benar karena telah tercampur aduk dengan hal-hal tak islami. Sasaran GF · Berusaha memasukkan yang sudah kosong islamnya ke dalam agama kafir. QS.2:217, Menjauhkan umat Islam dari Dien (agama)-nya. (QS.17:73, 5:49) · Agar umat Islam mengikuti agama kafir (QS.2:120) · Memadamkan cahaya (agama) Allah. (QS.61:8, 9:32) Metode GF Membatasi supaya Islam tidak tersebar luas · Tasykik (pendangkalan/peragu-raguan) Gerakan yang berupaya menciptakan keragu-raguan dan pendangkalan kaum muslimin terhadap agamanya. · Tasywih (pencemaran/pelecehan) Upaya orang kafir untuk menghilangkan kebanggaan kaum muslimin terhadap Islam dengan menggambarkan Islam secara buruk. · Tadhlil (penyesatan) Upaya orang kafir menyesatkan umat mulai ari cara yang halus sampai cara yang kasar. · Taghrib (pembaratan/westernisasi) Gerakan yang sasarannya untuk mengeliminasi Islam, mendorong kaum muslimin agar
© 2011 Ilham Publishing

Ghozwul Fikri

86

mau menerima seluruh pemikiran dan perilaku barat. Menyerang Islam dari dalam Penyebaran faham sekulerisme Berusaha memisahkan antara agama dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Penyebaran faham nasionalisme. Nasionalisme membunuh ruh ukhuwah islamiyah yang merupakan azas kekuatan umat Islam. "Bukan dari golonganku orang yang mengajak pada ashobiyah dan bukan golonganku orang yang berperang atas dasar ashobiyah dan bukan dari golonganku orang yang mati karena ashobiyah". Pengrusakan akhlak umat Islam terutama para pemudanya.

· · · ·

·

Sarana GF · Mass Media: cetak dan elektronika Hasil GF · Umat Islam menyimpang dari Al Qur'an dan As Sunnah QS.25:30 · Minder dan rendah diri QS.3:139 · Ikut-ikutan QS.17:36 · Terpecah-belah QS.30:32 DISKUSI Memasuki era globalisasi ini, dunia semakin terasa kecil dengan perkembangan teknologi informasi. Semua informasi terasa tak terbendung. Orang dapat mengetahui apa saja yang diinginkannya di negara manapun. Teknologi internet memungkinkan hal tersebut. Tetapi apakah semua informasi ini benar atau baik. 1. Bagaimana pengaruh internet terhadap generasi muda? 2. Bagaimana menanggulangi pengaruh negatifnya? 3. Bagaimana pengaruh media massa (cetak dan elektronik) terhadap gaya hidup dan perilaku generasi muda? REFERENSI · Materi mentoring tahun 94/95 · Daud Rasyid, M.A, Al-Ghazwu Al-Fikri dalam sorotan Islam. · Prof. Abdul Rahman H. Habanakah, Metode merusak akhlak dari Barat. · Abu Ridho, Pengantar memahami Al-Ghazwu Al- Fikri · Prof. DR. Abdulkarim Yunus Al-Khatib,dkk. Membendung Sikap Anti Islam. · DR.Darouza, Mengungkap tentang Yahudi

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

XX
Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah Islamiyah

88

Bab 20.Ukhuwah Islamiyah
Sasaran : - Menanamkan konsep ukhuwah dalam Islam - Menyadari pentingnya arti ukhuwah bagi seorang Muslim "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (QS. Al Hujurat : 10). Pengertian Ukhuwah Islamiyyah A. Pengertian Ukhuwah Islamiyyah Menurut Imam Hasan Al Banna, ukhuwah Islamiyyah adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah. Aqidah merupakan pengikat yang paling kokoh dan paling tinggi nilainya. Islam memandang semua bentuk ikatan persaudaraan selainnya adalah persaudaraan jahiliyyah yang rendah nilainya. (QS. At Taubah : 24). Adapun bentuk ikatan persaudaraan selain ikatan aqidah antara lain : a. Ikatan keturunan (orang tua – anak) b. Ikatan kekeluargaan, perkawinan (suami-istri) c. Ikatan kesukuan, kebangsaan, nasionalisme. d. Ikatan kepentingan (material) e. Dsb. Sifat ukhuwah islamiyyah adalah abadi dan universal (menyeluruh), sedangkan bentuk persaudaraan selainnya bersifat sangat temporer (terbatas pada tempat dan waktu tertentu saja). B. Urgensi Ukhuwah Islamiyyah Ukhuwah Islamiyyah merupakan faktor utama penegak persatuan, sedangkan persatuan merupakan salah satu basis kekuatan Islam dalam membangun umatnya, setelah kekuatan aqidah. Menurut Hasan Al Banna, dalam upaya membangun umat Islam untuk meraih kembali kejayaannya, diperlukan basis-basis kekuatan yang meliputi kekuatan aqidah, kekuatan persatuan, dan kekuatan saran. Kekuatan persatuan hanya dapat diwujudkan melalui pembinaan ukhuwah Islamiyyah yang berlandaskan pada iman yang kokoh, yang dengannya umat Islam akan dapat menggunakan seluruh potensi kekuatan sarana yang ada untuk berjuang meraih kejayaannya kembali. (QS. Ali Imran : 110, 139), (QS. Al Anfal : 60) Hakekat Ukhuwah Islamiyyah dan Aspek-Aspeknya A. Hakekat Ukhuwah Islamiyyah adalah : a) Merupakan arahan Rabbani (QS. Al. Anfal : 63) b) Merupakan cermin kekuatan iman (QS. Al Hujuraat : 10) c) Merupakan rahmat Allah (QS. Ali Imran : 103) B. Aspek-aspek Ukhuwah Islamiyyah 1. Ukhuwah membantu pelaksanaan ketaatan kepada Allah. Sabda Rasulullah Saw : "Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan pada dirinya, ia berikan kepadanya teman yang shaleh. Kalau yang satu lupa, yang lain mengingatkannya dan kalau ingat, ia membantunya. Umar bin Khattab pernah mengatakan "Carilah kawan-kawan yang jujur, hiduplah dalam pelukannya karena mereka itu merupakan penghias di kala senang dan
© 2011 Ilham Publishing

89

Quantum Mentoring

bekal di kala susah. 2. Ukhuwah adalah solidaritas kejiwaan, kepekaan dalam memenuhi kebutuhan saudaranya, serta berusaha untuk menutupinya. Sabda Rasulullah SAW : "Bahwa seseorang di antara kalian berjalan bersama saudaranya untuk menutupi kebutuhannya, lebih utama dari I'tikafnya selama dua bulan di masjidku ini." (HR. Bukhari). 3. Ukhuwah adalah solidaritas material. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang menghilangkan kesulitan dunia dari saudaranya, niscaya Allah akan menghilangkan daripadanya kesulitan hari kiamat. Barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, niscaya Allah menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hambaNya selama ia menolong saudaranya." (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, dan An Nasa') 1. Ukhuwah adalah tanggung jawab sosial yang mencakup kewajiban yang paling sederhana sampai kewajiban yang paling besar. Sabda Rasulullah SAW : "Hak seorang muslim pada muslim lainnya ada enam : jika kamu bertemu dengannya ucapkan salam. Jika dia mengundangmu penuhilah undangan itu. Jika ia meminta nasehat, nasehatilah ia. Jika ia bersin lalu memuji Allah, do'akanlah. Jika ia sakit, tengoklah ia. Dan jika ia meninggal dunia, maka antarkanlah (ke kuburan)." (HR. Muslim). 2. Ukhuwah adalah keakraban, kecintaan, dan bahu membahu. Sabda Rasulullah SAW : "Janganlah kalian saling memutuskan tali persaudaraan, janganlah kalian saling membelakangi, janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling mendengki. Tidak halal bagi seorang Muslim memusuhi saudaranya lebih dari tiga hari." (HR. Malik, Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi). 3. Ukhuwah adalah ghiroh (kecemburuan) dan kesetiaan Sabda Rasulullah SAW : "Barangsiapa yang memelihara kehormatan saudaranya, niscaya Allah memelihara wajahnya dari api neraka pada hari kiamat." (HR. Tirmidzi) Untuk mewujudkan ukhuwah islamiyyah yang kokoh, diperlukan isyarat-isyarat sebagai berikut : 1. Ikhlas karena Allah semata 2. Terdiri dari mukmin dan muttaqin 3. Iltizam (komitmen, terikat penuh) dengan manhaj (sistem ajaran) Islam 4. Ditegakkan atas saling nasehat karena Allah 5. Adanya rasa kesetiaan (loyalitas) baik dalam keadaan susah maupun senang. Cara mempercepat ukhuwah islamiyyah 1. Memberitahukan kecintaan kita kepada yang kita cintai 2. Memohon dido'akan ketika berpisah 3. Menunjukkan kegembiraan dan senyuman bila berjumpa 4. Berjabat tangan bila berjumpa. Dalam hal ini tidak berlaku antara laki-laki dan wanita non muhrim 5. Sering bersilaturrahmi (mengunjungi saudara). 6. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan : seperti : saat kelahiran anak, datang dari bepergian, datang dari menunaikan ibadah, setelah shalat id, saat walimatul urusy, dsb. 7. Memberikan hadian pada waktu-waktu tertentu. 8. Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya 9. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya.
© 2011 Ilham Publishing

Ukhuwah Islamiyah

90

Adapun hak ukhuwah yang harus dipenuhi dalam pandangan Islam , meliputi hak umum dan hak khusus sbb : A. Hak Umum : 1. Mengucapkan salam dan menjawab salam 2. Menengok yang sakit 3. Mengiringi jenazah 4. Memenuhi undangan 5. Mendo'akan yang bersin 6. Benar dalam bersumpah 7. Menolong yang didzalimi 8. Membantu yang sedang dalam kesulitan dan berusaha melepaskan kesulitannya 9. Menutupi aib saudaranya 10. Menjauhkan diri dari sikap yang menyakiti saudaranya, seperti : dengki, benci, dzalim dan sombong B. Hak Khusus Hak khusus merupakan hak saudara muslim yang dipilih atas dasar kemurnian pilihan, dari saudara muslim yang terbaik. Pilihan ini diambil untuk dirinya, agar menjadi penolongnya tatkala menghadapi kesulitan, menjadi tempat bertanya di kala dia mengalami ujian hidup, menjadi penyimpan rahasia, menjadi rujukan dalam bermusyawarah, menjadi cermin dalam nasihat, menjadi penghibur dalam keadaan duka, dan menjadi teman baik dalam saat bergembira. Adapun hak-hak khusus yang harus dipenuhi adalah : 1. Mencakup seluruh hak-hak umum 2. Boleh memakan makanan di rumah sahabat terdekat tanpa izinnya 3. Haram tidak bertegur sapa karena persoalan pribadi lebih dari tiga hari 4. Meningkatkan interaksi ukhuwah dalam segala hal sampai pada tingkatan mementingkan saudaranya daripada dirinya sendiri. 5. Saling menutupi aib dan menghindari ghibah (mengumpat). DISKUSI 1. Gali dan diskusikan dengan peserta masalah-masalah, kasus-kasus, atau hal lain yang berhubungan dengan penerapan ukhuwah Islamiyah (misalnya : kerja sama waktu ulangan, apakah itu termasuk ukhuwah?)

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

XXI
Pilar-pilar Kesempurnaan Ibadah

Pilar-pilar Kesempurnaan Ibadah

92

Bab 21.Pilar-pilar Kesempurnaan Ibadah
Sasaran : Memahami unsur-unsur penting dalam kesempurnaan ibadah

Sebagai seorang muslim kita tidak hanya dituntut untuk melaksanakan ibadah secara lahir saja, akan tetapi yang penting adalah bagaimana agar kita dapat menghadirkan hati dan senantiasa merasakan pengawasan Allah dalam menjalani hidup ini.
Makna Ibadah Di dalam Islam, ibadah merupakan puncak ketundukan dan pengakuan atas keagungan dzat yang diibadahi. Ibadah merupakan tangga penghubung antara Al Khaliq dengan makhluk-Nya. Ibadah juga memiliki dampak yang amat besar pada diri manusia dalam berinteraksi dengan sesama makhlukNya. Dalam hal ini sama saja Rukun Islam (yaitu shalat, shaum, zakat, dan haji) dengan seluruh ibadah lainnya yang dilakukan manusia yang ditujukan untuk mencapai ridhoNya dan melaksanakan syariatNya. Logika Islam menghendaki agar seluruh kehidupan merupakan pengabdian (ibadah) dan ketaatan. Dan itulah yang dimaksud dengan firman Allah : "Dan tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu. Aku tidak menginginkan rezeki dari mereka. Dan Aku tidak menginginkan mereka memberi makan kepadaKu. Sesunguhnya Allah dialah pemberi rezki yang memiliki kekuatan yang kokoh." (Adz-dzariyat : 56) Dan firmannya : "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam." (Al An'am :162) Syarat Diterimanya Ibadah 1. Benar keyakinannya (beriman/mukmin); dengan kemauan yang kuat dan tidak raguragu. Orang kafir dan orang yang imannya diliputi keraguan, amalnya tidak diperhitungkan sebagai ibadah kepada Allah. 2. Ikhlas Lillahi Ta'ala (QS. 98 : 5) 3. Mengikuti syariat Allah dan RasulNya. "Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami (Allah dan Rasulullah), maka amalan tersebut tertolak." (HR. Muslim) Pilar-Pilar Kesempurnaan Ibadah 1. Menjadikan ibadah kita hidup dan bersambung dengan Al Ma'bud (Allah). Dan ini merupakan taraf ihsan dalam ibadah. Rasulullah pernah ditanya tentang ihsan, beliau menjawab : "Engkau beribadah kepada Allah (dengan sikap) seolah-olah engkau melihatNya. Maka jika engkau tidak dapat melihatNya sesungguhnya Allah melihatmu.: (Bukhari dan Muslim) 2. Menjadikan ibadah kita khusyu' sehingga kita dapat merasakan hangatnya hubungan dan mesranya kekhusyu'an. Siti Aisyah mengatakan : "Adalah Rasulullah SAW (biasa) berbicara dengan kami dan kami berbicara dengan beliau. Tapi apabila datang waktu shalat, seolah-olah beliau tidak mengenal kami dan kami tidak mengenal beliau." (Diriwayatkan oleh Al azdy) 3. Beribadah dengan hati yang hadhir (penuh kesadaran) dan menjauhkan pemikiran tentang kesibukan dunia dan problematikan yang terjadi di sekitar kita. Ada orang yang mengatakan : "Shalat itu akhirat. Jika engkau memasuki (shalat) maka engkau keluar
© 2011 Ilham Publishing

93

Quantum Mentoring

4.

5.

6.

7.

dari dunia." Tidak pernah putus asa dan kenyang dalam beribadah. Kita harus terus mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah nafilah, sesuai dengan firman Allah SWT dalam hadist qudsy : Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih-Ku), maka Aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Dan tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu dengan suatu perbuatan yang lebih Aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Dan seorang hambaKu terus-menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah nafilah sehingga Aku mencintainya. Maka jika Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dengannya ia mendengar, akulah penglihatannya yang dengannya ia melihat, Akulah tangannya yang dengannya ia memukul; dan akulah kakinya yang dengannya ia berjalan. Kalau ia meminta kepadaKu, niscaya Aku beri dan jika ia meminta perlindungan kepadaKu niscaya akan aku lindungi." (Muslim) Memelihara qiyaamullail dan melatih diri agar terbiasa melakukannya, karena qiyaamullail merupakan salah satu pembangkit iman yang paling kuat. Maha benar Allah ketika berfirman : "Sesungguhnya bangun di waktu malam itu lebih besar pengaruhnya dan bacaan di waktu itu lebih berkesan." (Al Muzzammil : 6). Qs. Adz-Dzariyat : 17-18; QS. As Sajadah : 16 Mempunyai waktu khusus untuk mengkaji dan merenungkan Al Qur'an terutama di waktu subuh, karena Allah berfirman dalam QS Al Israa' : 78 yang berbunyi "sesungguhnya bacaan Al Qur'an di waktu subuh itu disaksikan (oleh para Malaikat)". Menjadikan do'a sebagai mi'roj kepada Allah dalam setiap urusan kehidupan, karena do'a itu sumsum ibadah. Dan harus memelihara do'a yang matsur. Allah SWT berfirman : "Berdo'alah kepadaKu, niscaya Aku mengabulkan untuk kalian." (Ghofir : 60)

"Niat untuk selalu tampak indah dan menarik adalah suatu kewajaran, namun Allah Maha Mengetahui apa-apa yang melintas di hati kita, apabila niat kita tergelincir ke dalam kemaksiatan dan kesia-siaan bisa jadi Allah akan memberikan jalan terbukanya bencana bagi kita, oleh karenanya bersungguhsungguhlah berniat hanya untuk menggapai ridha Allah."

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

XXII
Islam dan Sunnatullah

95

Quantum Mentoring

Bab 22.Islam dan Sunnatullah
(MATERI SEMINAR KECIL/ KLASIKAL) I. TUJUAN INTRUKSIONAL UMUM - Memahami pengertian sunatullah - Mampu menyebutkan ciri dan sifat dari sunatullah - Memehami hubungan antara manusia dengan sunatullah - Memahami bahwa manusia mempunyai kemampuan memilih sehingga manusia yang selamat/bahagia adalah yang patuh dan tunduk pada hukum Allah ( al-Islam) II. PENGERTIAN SUNATULLAH Alam ialah apa saja yang bukan Allah. Yang ada itu hanya dua, yaitu alam dan Allah. Alam ialah yang diciptakan (makhluk), sedangkan Allah ialah Pencipta (Khalik). Maka dalam Al-Qur'an Allah bergelar "Rabbul 'alamien" artinya Tuhan Alam Semesta. Dalam menerangkan alam semesta, selain kata "alamien". Qur'an sering juga menggunakan kalimat "assamaawaat wal ardh", artinya semua langit dan bumi. Alam semesta itu telah diciptakan Allah menurut hukum-hukum pasti,obyektif dan tetap. Yang dalam bahasa ilmu disebut hukum alam, dan dalam Islam disebut sunatullah. Sebagaimana alam semesta demikian pula seluruh isinya termasuk manusia telah terikat dan berada dalam suatu hukum serba tetap.Umpamanya, di antara alam semesta ialah sistem tata surya kita, yang mempunyai 9 buah planet penting, 1500 buah planet kecilkecil dan 28 buah satelit (bulan-bulan); seluruhnya terikat dan berada dalam suatu hukum serba tetap, dalam hukum rotasi atau hukum revolusi dari setiap benda-benda langit itu. Demikian pula pada isi alam ini dari berbagai jenis benda; padat,gas dan cair. Air umpamanya, terikat dalam hukum H2O berarti air terikat dari 2 atom H (Hidrogen) dan 1 atom O(Oksigen). Tiap-tiap benda yang mempunyai massa tunduk pada hukum gravitasi (gaya berat) yang disebut juga hukum Newton. Manusia sendiri seutuhnya takluk pada hukum pertumbuhan dan perubahan. Semenjak ia satu sel dan embrio dalam rahim, kemudian lahir menjadi bayi, menjadi kanakkanak,tumbuh menjadi remaja, selanjutnya menjadi tua dan akhirnya mati menjadi tanah di perut bumi. Hukum-hukum serta tetap yang mengatur alam itu sesungguhnya adalah hukum Allah, istilahnya sunatullah. Firman Allah SWT : "Dan Allah telah menciptakan tiap-tiap sesuatu, lalu diterapkannya pada hukum-hukumnya." (25:2) III. SUNATULLAH CIRI DAN SIFAT-SIFATNYA Hukum Allah pada makhluknya ada dua macam, yang tertulis dan tidak tertulis. Hukum Allah yang tertulis ialah yang diwahyukan-Nya kepada Nabi dan Rasul yang terhimpun menjadi kitab suci, yang terakhir ialah Al-Qur'an. Ciri khas hukum Allah ini ialah reaksi waktunya (time response) lebih panjang mungkin lebih panjang dari usia manusia, dan tidak dapat diketahui dengan jalan eksperimen menurut persyaratan ilmu. Umpamanya orang yang beriman, yang beribadah dan yang bertakwa, dijanjikan kehidupan yang baik,kesejahteraan dan kebahagiaan. Sebaliknya orang yang aniaya, yang munafik, yang kafir dan semisalnya, diancam
© 2011 Ilham Publishing

Islam dan Sunnatullah

96

hukuman kehinaan dan kebinasaan. Hukum Allah pasti berlaku, yaitu kebaikan atas mereka yang taat kepada Allah dan kehinaan atas mereka yang durhaka pada Allah. Hukum Allah ini diwahyukan (ditulis) karena mungkin reaksi waktunya lebih panjang dari umur manusia, sehingga tidak dapat dibuktikan dengan jalan eksperimen. ciri khas lainnya dari hukum Allah ialah melibatkan manusia. Hukum Allah yang tidak tertulis, ciri khasnya ialah reaksi waktu (time response)-nya lebih pendek, lebih pendek dari usia manusia, dapat dilakukan peneitian dan eksperimen, selain itu ia dapat melibatkan manusia. Umpamanya titik didih air ialah 100 C. Kalau ada air 1 liter dimasak di atas kompor 10 sumbu, kira-kira membutuhkan waktu untuk mendidih 10 menit. Yang 10 menit itulah yang disebut reaksi waktu, jauh lebih pendek dari usia manusia, sehingga titik didih air dapat diketahui dengan mengukur suhu air itu ketika mendidih. Maka semua hukum Allah yang reaksi waktunya pendek dan tidak melibatkan manusia seperti hukumnya titik didih air, titik cair baja, hukum gravitasi, dan sebagainya tidak diwahyukan Allah dalam Al-Qur'an. Hikmahnya agar manusia menggunakan anugrah Allah yang bernama akal, mengadakan pengembangan ilmu dan teknologi. Dan sekiranya Allah mewahyukan hukum-hukum-Nya itu, tentulah manusia menjadi bodoh, dan seberapa tebalnya kitab yang menghimpun hukum-hukum tersebut ? Sunatullah itu sifatnya ada tiga. Pertama pasti (exact) , kedua obyektif, ketiga tetap dan tidak berubah. Yang dimaksud pasti, ialah hukum itu mesti berlaku, tidak boleh tidak. Orang yang berbuat kebajikan beramar ma'ruf dan bernahi munkar pasti mendapat pahala dan buah dari amalnya itu.Demikian pula orang yang berbuat kejahatan dan dosa, pasti akan mendapat hukuman bila tidak bertobat. Yang demikian lebih mudah dibuktikan pada benda-benda lainnya, bahwa jika angkat sebuah batu kemudian kita lepas maka pasti batu itu akan jatuh ia tidak mungkin melayang-layang, hukum Allah (gravitasi) pasti berlaku padanya : "Sesungguhnya Kami (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dengan ketentuan yang pasti" (QS Al-Qamar : 49) Yang dimaksud obyektif, ialah hukum itu berlaku kepada apa dan siapa saja . Semua batu yang diangkat kemudian dilepas, sekalipun ia adalah batu Ka'bah, jatuh juga. Tidak ada batu yang berada di luar hukum gravitasi itu. Berhasil atau gagalnya suatu pembangunan gedung tergantung pada hukum-hukum dan teknik-teknik bangunan. Sekalipun ia adalah bangunan mesjid, kalau tidak menuruti hukum-hukum dan teknik-teknik bangunan, pasti runtuh atau rusak. Sebaliknya walaupun bangunan itu markas komunis tapi menuruti hukum-hukum bangunan akan bertahan dan kuat. Hukum Allah sifatnya obyektif. "Dan tidak satupun benda melainkan perbendaharaannya ada pada sisi Kami, dan Kami tidak turunkan dia (benda) melainkan dengan hukum obyektif tertentu." (QS Al-Hijr :21) Yang dimaksud tetap, ialah hukum Allah itu tidak pernah berubah sejak penciptaan alam semesta ini, dan tidak akan berubah sampai hancurnya alam ini (kiamat besar). Sejak diciptakan air itu, ia mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah tidak pernah sebaliknya. Dalam keadaan biasa titik didih air tidak pernah dalam suhu 10 C, tapi selalu dalam suhu 100 C. Sebelum Newton lahir, setiap batu yang diangkat lalu dilepaskan tidak pernah melayang-layang, tapi jatuh. Hukum gaya berat itu adalah hukum Allah yang pertama kali dipopulerkan oleh Newton. "Yang demikian adalah sunatullah yang telah berlaku sejak dahulu, dan kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan bagi sunatullah itu." (QS Al-Fath : 23) Tentang ayat-ayat Qur'an yang menerangkan sunatullah ini dapat diperiksa
© 2011 Ilham Publishing

97

Quantum Mentoring

selanjutnya pada : Al-Isra :77, Al-Ahzab : 62, dan Al-Ahzab : 38. Allah selalu mendorong bahkan memerintahkan manusia untuk mengadakan penelitian terhadap alam semesta dengan sisinya, memikirkan betapa Allah SWT telah menciptakannya. "Katakanlah perhatikanlah seluruh apa yang ada di langit dan di bumi." (QS Yunus :101) "Apakah mereka tidak menyelidiki kerajaan langit dan bumi, serta segala sesuatu yang diciptakan Allah ?" (QS Al-A'raf : 185) Allah menegaskan . bahwa segala yang telah diciptakan-Nya itu berjalan secara teratur, tidak terdapat suatu kekacauan dan cacat. "Anda tidak akan menjumpai dalam ciptaan Allah itu sebuah kekacauan, maka lihatlah sekali lagi, kau temukan padanya suatu yang cacat ?" (QS Al-Mulk :3) Hukum Allah yang serba tetap dan teratur, pasti dan obyektif itu, perlu diberi suatu catatan. Bahwa adakalanya Allah memberikan suatu hal yang menyimpang dari hukumhukum Allah sendiri menurut penilaian manusia, yang tujuannya untuk memperlihatkan kekuasaan dan kebesaran-Nya kepada manusia agar manusia beriman sepenuhnya. Hal itupun terjadi pada saat-saat yang perlu dan tertentu, hanya terhadap Nabi-nabi saja untuk menjadi mukjizat bagi mereka. Misalnya hukum Allah pada api, bahwa api itu membakar, tapi Nabi Ibrahim AS yang dibakar oleh raja Namrud, api tidak membakar. Demikian pula Nabi Isa AS, waktu masih bayi telah dapat berbicara, tapi untuk membuktikan bahwa ibunya ,Maryam, tidak berbuat serong seperti tuduhan orang-orang Yahudi. Ketika itu NabI Isa AS dapat berbicara sebentar saja, kemudian normal kembali dan proses selanjutnya berjalan sebagaimana biasa menurut hukum perubahan bayi. Begitu pula Ibrahim AS sesudah memperlihatkan mukjizatnya dan selamat, tidaklah jasmaniahnya tetap kebal terhadap api, ia kembali lagi sebagaimana tubuh manusia biasa. Haruslah diketahui bahwa mukjizat yang ada pada para Nabi dan Rasul adalah sunatullah juga. IV. MANUSIA DAN SUNATULLAH Oleh karena alam semesta dengan seluruh isinya taat , patuh dan tunduk kepada Allah, maka menurut tata bahasa dan secara literal Al-Qur'an, seluruh alam ini adalah islam atau "muslim". "Apakah mereka mencari agama lain selain agama Allah (Islam), padahal apa yang ada di langit dan di bumi menyerahkan diri (muslim) kepada-Nya, baik dengan suka maupun dengan terpaksa dan kepada Allah mereka dikembalikan." (QS Ali Imran : 83) Kata "aslama" dalam ayat ini berarti menyerahkan diri, patuh, tunduk dan sujud, sehingga alam semesta disebut muslim, adalah sesuai dengan firman Allah : "Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi baik dengan kemauan sendiri mapun terpaksa, (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari." (QS Ar-Ra'd : 13) Manusia sebagai bagian dari alam semesta terdiri dari dua unsur; jasmaniah dan rohaniah. Unsur jasmaniah saja, manusia mendapati dirinya, raga dan batang tubuhnya sepenuhnya tinduk dan taat kepada hukum-hukum seba tetap, pasti dan obyektif; jasmaniahnya tunduk kepada sunatullah. Sebab semua orang, apakah ia beragama Hindu, Kristen dan sebagainya takluk kepada gaya berat (gravitasi) dan hukum pertumbuhan manusia. Maka betapapun atheisnya seseorang umpamanya sebagai manusia seluruhnya, ia adalah muslim, walaupun hanya raga atau batang tubuhnya saja. Akan tetapi karena manusia itu adalah resultante dari dua komponen, jasmaniah dan
© 2011 Ilham Publishing

Islam dan Sunnatullah

98

rohaniah, dimana manusia sebagi makhluk yang utuh itu dikaruniakan Allah suatu daya pilih (ikhtiar) padanya. Maka ada hukum Allah secara khusus untuk manusia itu, suatu hukum yang berbeda dengan alam lainnya yang tidak mempunyai unsur rohani, yang tidak memiliki daya pilih atau free will. Hukum Allah yang khusus untuk manusia itu ialah hukum Syari'ah. Barang siapa yang patuh dan tunduk pada syari'ah, ia adalah seorang muslim, pemeluk agama Allah ummat Nabi Muhammad SAW. Kepadanya dijanjikan keselamatan, kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia dan di akherat kelak. Manusia yang utuh itu dalam menghadapi hukum syari'ah, Allah memberinya daya pilih ikhtiar atau free-will. Tidak seperti unsur jasmaniah itu dan seluruh benda di alam semesta ini, patuh dan taat secara sukarela atau terpaksa kepada sunatullah, dalam bahasa ilmu disebut hukum alam. Maka dalam penciptaan manusia ada yang menguraikannya dalam dua macam, hukum yang berlaku pada manusia itu; unsur jasmaniahnya patuh pada hukum alam dan pada kehidupan rohaniahnya diatur oleh syari'ah. Kepatuhan alam semesta kepada sunatullah, termasuk manusia adalah untuk kesejahteraannya. Umpamanya alam dan manusia ini tidak lagi diatur oleh hukum gaya berat (gravitasi), tentu alam ini menjadi kacau, mungkin sudah kiamati untuk kesejahteraan jasmani dan tubuh manusia haruslah sesuai dengan aturan-aturan atau hukum-hukum kesehatan. Maka untuk kesejahteraan atau kebahagiaan manusia seutuhnya, ia harus melaksanakan hukum syari'ah itu. Demikianlah gambaran manusia mengenai posisinya dalam alam semesta (universe) ini. Apabila kepatuhan alam semesta dan manusia terhada sunatullah untuk tujuan kesejahteraannya, maka sebaliknya pelanggaran terhadap sunatullah membawa kerugian dan kebinasaan. Bagi alam fisik saja akibat itu akan diterima secara langsung atau dalam waktu singkat. Sebuah gelas yang kadar kempuannya maksimum 100 C, bila ia menerima cairan yang panasnya 150 C, pasti pecah. Demikian pula jasmani kita , bila tidak memenuhi aturan-aturan dan hukum-hukum kesehatan, menjadi sakit; dan bila bagian-bagian dalam jasmani tiak bekerja lagi menurut ketentuannya, umpamanya darah berhenti mengalir, jantung mogok dan sebagainya maka jasmani ini binasa, mati! Oleh karena itu, pelanggaran manusia atau penolakannya terdadap hukum-hukum syari'ah mengandung resiko dosa dan kafir. Artinya ia menolak Islam ini sebagai jalan Ilahi adalah suatu kekafiran besar. Atau melakukan penyelewengan-penyelewengan dalam jalan Ilahi adalah perbuatan dosa. Orang-orang kafir dan orang yang berdosa, baik orang perorang maupun secara bersama, diancam dengan sangat suatu siksaan yang pedih , di dunia dan akhirat. Manusia sebagai makhluk yang mempunyai unsur rohani dan daya pilih (ikhtiar - free will), berbeda dengan alam jasmaniah saja, ia tidak langsung menerima hukumannya, reaksi waktunya cukup panjang. Pelanggaran manusia terhadap hukum Allah pasti mendapat azab dari Allah di dunia ini atau nanti di akhirat kelak, atau di kedua-duanya. Kecuali apabila dalam waktu yang terentang antara kekafiran/dosa sampai sebelum mati, sempat menerima Islam dan bertobat dengan segala persyaratannya, maka seseorang akan ditempatkan Allah dalam barisan manusia yang memperoleh ampunan-Nya, kesejahteraan dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat kelak. "Dan sesungguhnya Aku Pengampun (dosa) orang yang bertobat dan beriman serta beramal baik, kemudian terpimpin." (QS Thaaha : 82) "Kecuali mereka yang bertobat dan berbuat kebaikan serta kebenaran, maka orang-orang itu Aku akan ampunkan mereka, karena Allah-lah Pengampun, Penyayang. Sesungguhnya mereka yang tidak beriman, lantas mati, padahal mereka tetap sebagai orang-orang kafir, maka adalah atas mereka laknat Alllah, para malaikat dan manusia semuanya. Mereka akan
© 2011 Ilham Publishing

99

Quantum Mentoring

kekal dalam neraka itu, dan tidak akan diringankan azab dari mereka, dan tidak akan diperdulikan mereka." (QS Al-Baqarah : 160 - 162) Referensi: 1. Panduan Studi Dhuha, Masjid Al Falah Surabaya 2. Materi Mentoring ITS

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

XXIII
Islam dan Teknologi

101

Quantum Mentoring

Bab 23.Islam dan Teknologi
(MATERI SEMINAR KECIL/ KLASIKAL)

I. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM - Mahasiswa dapat membedakan pengertian ilmu dalam Al-Qur'an dan dalam pengertian sains kontemporer; - Mahasiswa dapat menjelaskan perkembangan IPTEK dan lahirnya sekularisme dan akibatnya; - Mahasiswa dapat menjelaskan landasan apa untuk mengembangkan IPTEK; - Mahasiswa dapat menyatakan bagaimana bersikap dalam mempelajari IPTEK. II. PERGESERAN PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN Kata pengetahuan adalah kosa kata bahasa Indonesia dari kata dasar tahu, atau kata dasar jadian mengetahui. Kata teknologi diambil dari kata Inggris technology yang diambil dari kosa kata bahasa latin teknos dan logos. Teknologi kurang lebih berarti ilmu tentang teknik, sementara teknik berarti seni membuat atau meningkatkan nilai tambah atas proses atau barang. Adapun IPTEK merupakan akronim (singkatan) gado-gado dari kata ilmu pengetahuan dan teknologi. Kata ilmu berasal dari kosa kata al-Qur'an 'ilm, jamaknya 'ulum. Dari kata ini dapat diturunkan kata 'aliim yang berarti orang yang berilmu dan kata 'ulama, yaitu kumpulan para 'aliim. Kata alam juga berasal dari akar kata yang sama. Sesuai dengan pernyataan Al-Qur'an, ilmu merupakan rangkaian informasi dari Allah -'allama al qur'an, 'allamahu al bayan-yang juga mencakup informasi astronomi dan biologi -wa syamsu wa al qamaru bihusban, wa an najmu wa as syajaru yasjudan, dst.-. Manusia dilahirkan tanpa mengetahui apapun -la ta'lamuuna syai-an. Ia datang ke dunia sebagai makhluk asing, atau lebih tepatnya buta pengetahuan. Panca inderanya menangkap gejala-gejala alam, namun tanpa pengetahuan, gejala tadi tidak dapat dipahaminya. Seakan-akan, gejala alam yang hadir didepannya hanyalah sebuah mosaik tanpa makna, bagaikan batu bata berserakan tanpa guna. Ibunya-lah yang pertama memberi pelajaran. Adapun Adam, sebagai makhluk manusia sosiologis (berbudaya) yang pertama, diajar langsung oleh Allah swt. Perhatikan Wa 'allama aadama al asmaa'a kullaha- yang memperkenalkan nama-nama benda di sekitarnya. Nama-nama itu merupakan konsep primitif yang mengabstraksikanbenda-benda dan terekam (melalui bunyi ataupun tulisan) dalam ingatan. Dengan nama-nama itu, manusia mampu mengasosiasikan benda dengan gagasan yang ada dalam ingatannya. Inilah potensi utama manusia -wa ja'ala lakum as sam'a wa al abshar wa al af-idah- supaya kita syukuri - la'allakum tasykuruun. Konsep berikutnya adalah susunan nama, tepatnya susunan kata, yang biasa disebut frasa. Konsep berikutnya yang lebih kompleks disebut, beturut-turut, kalimat, paragraph, bab, buku, dan akhirnya seluruh khasanah pengetahuan. Khasanah pengetahuan itu berarti juga bahasanya. Khasanah pengetahuan yang tersusun secara sistematik disebut ilmu. Demikianlah ilmu sebagai kumpulan kalimat-kalimat yang mengandung pengertianpengertian tertentu (-ini berarti pula bahwa penguasaan bahasa merupakan prasyarat bagi pengembangan ilmu-). Susunan pengetahuan ini kemudian membentuk kesadaran manusia. Susunan
© 2011 Ilham Publishing

Islam dan Teknologi

102

pengetahuan yang keliru akan menyesatkan kesadaran manusia, sehingga manusia tidak tahu diri, menyalahgunakan diri dan lingkungannya, dan gilirannya mengembangkan potensi perusakan di atas permukaan bumi ini. Sebaliknya, dengan ilmu itu manusia tidak lagi merasa terlalu asing dengan alam di sekitarnya, ia mulai -sedikit demi sedikit- mengenalinya dan mengembangkan budaya-nya. Susunan pengetahuan manusia sebagaimana tersirat dalam khasanah ilmupengetahuan ummat manusia, sesungguhnya dapat dikelompokkan berdasarkan pijakan epistemologi ilmu pengetahuan (cara memperoleh pengetahuan). Hal ini disebabkan karena pijakan epistemologi menentukan kesahihan pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Sepanjang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, telah terjadi pergeseran epistimologi yang ditandai oleh, diantaranya, pergeseran pengertian ilmu. Saat ini, pengertian ilmu didefinisikan secara berbeda oleh sains kontemporer dari apa yang telah dinyatakan oleh al-Qur'an. Sains kontemporer mendefinisikan ilmu sebagai organized body of knowledge supported by facts, organisasi pengetahuan yang disusun atas dasar fakta: rasional & empiris. Ini berarti bahwa ilmu difahami sebagai hasil karya manusia sematamata. Pergeseran ini terjadi karena perubahan paradigma (atau grand theory) yang menjadi landasan pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. III. PERKEMBANGAN IPTEK & KELAHIRAN SEKULARISME Pengembangan iptek dapat dipahami dengan memperhatikan apa yang selama ini oleh masyarakat ilmiah disebut sebagai metode ilmiah. Metode ilmiah hanya berlaku untuk masa normal -menurut Thomas Kuhn-. Masa normal ditandai oleh kemapanan paradigma, atau grandtheory tertentu. Hingga pada saat itu (selama masa normal), semua gejala alam dapat dijelaskan -atau akan terpecahkan kemudian oleh sebuah teori- dengan merujuk pada grand theory tersebut. Artinya, grand theory tersebut menjadi asumsi dasar bagi teori-teori tadi. Kemapanan paradigma ini berakhir pada saat grand theory ini tidak dapat lagi menjelaskan gejala-gejala baru secara memuaskan. Selanjutnya timbul masa krisis. Masa krisis ini berakhir saat ditemukannya grand theory atau paradigma baru yang dapat menjelaskan gejala tadi secara lebih memuaskan. Ini disebut sebagai pergeseran paradigma. Contoh klasik pergeseran paradigma ini terjadi pada mekanika newtonian yang digantikan oleh mekanika kuantum (einsteinian). Pergeseran paradigma ini oleh Kuhn dianggap sebagai sebuah revolusi. Melalui cara inilah iptek modern berkembang. Kelemahan mendasar pada iptek modern adalah ketidaktuntasan khasanah ilmu yang dipakainya dan metode atau cara pemerolehan pengetahuannya. Khasanah ilmu sebagai karya umat manusia dikembangkan oleh berbagai bangsa dengan bahasa yang berbeda-beda dalam kurun waktu yang berbeda pula. Perkembangan iptek memiliki sejarah tersendiri. Perkembangan iptek terpenting terjadi saat ummat Islam menjadi ujung tombak peradaban manusia, merentang sejak sekitar abad VII sampai kurang lebihabad ke XIV (selama 700 tahun). Pada saat itu Qur'an menjadi bagian penting khasanah ilmu umat manusia. Pada saat keruntuhan peradaban Islam yang kemudian diikuti oleh zaman renaissance, qur'an tidak lagi diakui sebagai bagian khasanah ilmu ummat manusia. Kemudian, iptek berkembang di Eropa dengan semangat anti gereja, dikembangkan secara naturalistik aristotelian. Ilmu didefinsikan sebagai pengetahuan hasil karya manusia semata-mata. Hal ini memuncak dengan berkembangnya aliran pemikiran eksistesialisme yang memproklamirkan kematian Tuhan dan kelahiran manusia superman yang tahu segalagalanya. Ini merupakan sebagian penjelasan atas terjadinya kehancuran ekosistem kita dewasa ini, yaitu eksploitasi alam oleh manusia-manusia yang menganggap dirinya super.
© 2011 Ilham Publishing

103

Quantum Mentoring

Akibat proklamasi kematian Tuhan ini, manusia merasa menjadi satu-satunya subyek yang dapat memperlakukan alam sepenuhnya sebagai obyek. Pengetahuan manusia modern -baca Barat- tentang alam berkembang sangat pesat, sementara pengetahuannya tentang Tuhan menjadi sangat sedikit. Sayang sekali, kemunduran dunia Islam diikuti oleh timbulnya cara berpikir idealisme platonian. Berbeda dengan Barat, pengetahuan ummat Islam tentang Tuhan menjadi berlebihan, sementara pengetahuannya tentang alam menjadi sedikit sekali. Pada gilirannya memicu suburnya khurofat, tahayul dst. Dengan dua cara berpikir itulah, ummat manusia mengalami sekulerisasi, yaitu pemisahan antara dunia dan akhirat, ilmu umum dan ilmu agama, dsb. Cara pandang naturalistik telah menjerumuskan manusia kepada penghambaan terhadap benda (materialisme), sementara cara pandang idealisme telah menjerumuskan manusia pada penghambaan terhadap sesama manusia -paus, kyai, pendeta dan penguasa-. IV. LANDASAN PENGEMBANGAN IPTEK Landasan pengembangan iptek dapat dibangun dengan memperhatikan tiga pertanyaan berikut : 1. Obyek apa sajakah yang dapat dikaji sebagai iptek ? 2. Untuk apakah iptek itu, atau apa motif pengembangan iptek ? 3. Bagaimanakah cara pemerolehan pengetahuan yang obyektif ? Jelas, bahwa tiga pertanyaan ini tidak mungkin dijawab oleh iptek itu sendiri. Pertanyaan pertama menyangkut pijakan ontologi iptek, sementara pertanyaan kedua menyangkut pijakan aksiologinya, dan pertanyaan ketiga menyangkut pijakan epistemologinya. Pertanyaan terpenting yang harus dijawabmanusia tentu saja tentang siapa dirinya sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat. Pertanyaan ini oleh sains modern telah lama diremehkan. Dan sebagai obyek/disiplin ilmu pengetahuan, ilmu tentang manusia (atau sebutlah ilmu sosial) termasuk yang tertinggal dari segi percepatannya. Ini semata-mata disebabkan karena eksistensi manusia sendiri merupakan pemberian, bukan hasil keputusannya sendiri. Bilapun pertanyaan pertama dapat dijawab, maka tujuan pengembangan iptek pada dasarnya adalah untuk meningkatkan kualitas eksistensinya sendiri. -Uskun anta wa zaujuka al jannah !-. Namun demikian, tolok ukur apakah yang paling relevan untuk mengukur kualitas eksistensi manusia ? Al-Qur'an mengatakan bahwa tolok ukur ini adalah taqwa -inna akramakum 'inda Allahi atqaakum-, sementara taqwa ditentukan oleh iman - al muttaqiin : alladziina yu'minuuna bi al ghaib, wa yuqiimuuna as sholaah wa min maa razaqnaahum yunfiquun-. Motif-motif pengembangan iptek di luar konteks peningkatan iman telah terbukti mengakibatkan kerusakan lingkungan alam, sosial dan psikologis ummat manusia sebagaimana terlihat dalam krisis global yang menjadi persoalan manusia modern di ujung abad 20 ini. Problem kerusakan alam yang telah di-list pada Konferensi Bumi di Brasil 1994; problem kriminalitas, pelacuran dan distabilitas sosial dunia modern; serta penyakit psikomat dan alienasi (keterasingan jiwa)masyarakat urba adalah contoh-contoh aktual atas proses kerusakan atau kerusakan itu sendiri. Al-Qur'an telah mengajukan pijakan epistemologis-nya sendiri. Cara pandang alQur'an menempatkan manusia sebagai wakil subyek -mutawakkil-, sementara Allah sebagai sumber ilmu adalah subyek -wakil- dan alam semesta sebagai wahana ibadah yang selalu dimulai dengan bismillah dan diakhiri dengan alhamdulillah.
© 2011 Ilham Publishing

Islam dan Teknologi

104

Pengembangan teknologi -sebagai sebuah sistem kemampuan membuat barang, proses atau melakukan sesuatu secara profesional-mensyaratkan penguasaan ilmu pengetahuan yang kokoh. Bila syarat ini tidak dipenuhi, maka yang terjadi adalah konsumerisme teknologi. Ini mengantar kita pada ketergantungan teknologi. Akankah ummat Islam mengidap penyakit konsumerisme terus-menerus? Inilah yang harus dijawab oleh generasi muslim sekarang. V. PENGEMBANGAN IPTEK DALAM KONTEKS AMAL ISLAMI Sebagai seorang mahasiswa muslim yang akan memasuki situasi dengan proble yang demikian sulit, mensyaratkan kesiapan kita secara sungguh-sunguh. Persiapan inilah yang pada gilirannya melahirkan kekuatan untuk bergerak, beramal dalam hidup ini sesuai dengan tugas masing-masing dalam mengabdi kepada Allah dan membangun peradabanummat manusia sesuai dengan petunjuk dari-Nya. Aspek teknologi tidak otomatis lebih baik dari aspek lain dalam perdaban ini, atau sebaliknya. Kesadaran kita untuk beramal secara Islami harus diletakkan di atas kesadaran akan kesatupaduan berbagai aspek hidup dan kesadaran akan pentingnya menghadirkan seluruh aspek hidup tersebut menjadi bentuk nyata ajaran Islam. Ini berarti, kesibukan kita belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi haruslah berada dalam konteks tugas hidup sesuai dengan ajarana Islam. Hanya dengan demikianlah keterjebakan kita pada sekularisme dapat dihindari, dan kekuatan (izzah) kaum muslimin bangkit kembali. Petiklah hikmah peristiwa sejarah ini di abad kedua Hijriah ini. Adalah Pangeran Retfeil dari Sajistan membangkang untuk membayar al-kharaj (sejenis pajak kepala) kepada para petugas yang dikirim oleh dinasti Ummayyah. Akibat pembangkangan itu, Dinasti Umayyahpun menyerbu wilayah itu, namun sang pangeran belum berhasil ditundukkan. Kemudian pada masa pemerintahan Yazid bin Abdul Malik, sekali lagi dinasti Umayyah ini mengirimkan delegasinya untuk meminta agar pangeran tersebut bersedia membayar alkharaj. Dan ketika delegasi itu telah menghadap, pangeran itu bertanya kepadanya : + "Di mana orang-orang yang dulu pernah menaklukan kami ? Mereka adalah orangorang yang kempes perutnya karena lapar, memakai terombah usang dengan tanda di dahi bekas sujud?" - "Mereka telah tiada", jawab delegasi itu +"Anda sekalian memang jauh lebih gagah dibandingkan mereka, tetapi mereka jauh lebih memenuhi janji ketimbang anda, dan jauh lebih hebat". Sejarah mencatat bahwa pangeran ini tetap membangkang membayar al-kharaj dan dia tak pernah tunduk barang sekejap-pun kepada pemerintahan Islam sepanjang masa pemerintahannya. Dalam kisah yang lain, setelah balatara Islam tiba di lembah Yordan dan pasukan Abu 'Ubaidah tiba di Fahl, penduduk Nasrani di negeri itu menulis surat kepada tentara muslim, mengatakan : " Hai kaum muslimin, kalian lebih kami sukai dari pada orang-orang Romawi kendatipun mereka itu seagama dengan kami. Kalian lebih jujur terhadap kami dan kalian lebih ramah, tidak zalim kepada kami dan lebih baik memberi perlindungan kepada kami. Mereka (orang-orang Romawi) merusak urusan kami dan merampas rumah-rumah kami". Penduduk Aleppo menutup pintu gerbang kota mereka untuk menahan masukknya pasukan Heraclius dan memberitahu kaum muslimin bahwa perlindungan dan keadilannya lebih mereka sukai dari pada kezaliman dan kesewenang-wenangan orang-orang Romawi. Demikianlah perasaan penduduk negeri-negeri Syam dalam menghadapi peperangan yang berkobar dari tahun 633 hingga tahun 639 M, yaitu peperangan dimana pasukan muslim
© 2011 Ilham Publishing

105

Quantum Mentoring

berhasil mengusir balatentara Romawi dari negeri-negeri itu secara berangsur-angsur. Dua kisah di atas adalah cuplikan kecil dari serangkaian peristiwa besar dalam sejarah Islam. Retfiel adalah seorang yang memusuhi Islam dan musuh kaum Muslimin, berdasarkan pengamatannya dan yang ia alami telah mengemukakan kalimat yang sangat tepat dalam menggambarkan hjakekat kekuatan Islam. Pangeran ini menjelaskan bahwa hakekat kekuatan utama bukan semata-mata terletak pada besarnya angkatan bersenjata dan canggih teknologi perang atau pengerahan personil secara besar-besaran, tetapi utamanya terletak pada kekuatan ruhiah dan ketinggian akhlak dan konsistensi mereka kepada ajaran al-Islam. Kekuatan inilah tidak hanya telah mampu mendobrak pintu dunia tanpa sarana material yang hebat tetapi juga telah dapat merebut hati dari orang-orang yang mendiami wilayah yang sangat luas. Kekuatan ini telah sirna pada masa dinasti Umayyah, sebaliknya pada masa sebelumnya balatentara muslin dibawah pimpinan Abu 'Ubaidah penuh vitalitas dengan kekuatan ruhiah dan akhlak yang mulia. Sementara apa penghujung abad 20 ini kita menyaksikan negara adi daya Uni Soviet yang memiliki teknologi canggih luar angkasa terkemuka di dunia ambruk berkeping-keping, justru dari kekuatan internal-nya sendiri. Ini berarti tugas kita untuk belajar dan pengembangan IPTEK sebagai wasail al hayah haruslah tetap berada dalam ajaran al-Qur'an sebagai minhaj a-hayah. Dengan semangat demikian, seorang muslim akan semakin giat dalam belajar, bekerja dan berjuang, sebab sekecil apapun pekerjaan itu ada nilainya tersendiri. Wallahu a'lam.

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

Bab

XXIV
Syukur Nikmat

107

Quantum Mentoring

Bab 24.Syukur Nikmat
TUJUAN 1. Peserta mengetahui syukur dan urgensinya 2. Peserta mengetahui landasan dan cara bersyukur METODE : Ceramah WAKTU : 45 menit efektif PROSES 1. Berikan pengantar. Penahkah Anda berjalan-jalan di perbukitan melihat kesamping kiri lembah dan pesawahan yang menguning siap panen, di sebelah kanan tebing terjal dengan pepohonan bebas. Atau berdiri di tepi pantai sepi menatap laut seolah tanpa batas. Alangkah indahnya ciptaan-Nya. Siapa yang telah memberi anugerah yang begitu beragam dan melimpah: Udara, air, tanah, hasil pertanian, ternak, bahan tambang, dan lainnya. Semua kenikmatan itu tidak dapat dihitung yang menunjukkan bahwa Allah Maha kaya dan memiliki keagungan. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah niscaya kamu tidak dapat menghitungnya [QS. An-Nahl, 16: 18]. Nikmat yang diberikan Allah tidak hanya harta kekayaan materi tetapi juga kepuasan, ketentraman hati, kebahagiaan, kesehatan, waktu luang termasuk kenikmatan [QS. AsySyura, 42 : 36]. Semua kenikmatan diperuntukkan bagi manusia [QS. Ibrahim, 14: 32-34]. 2. Jelaskan materi secara lengkap. J Makna syukur. Secara bahasa 'syukur' berarti sesuatu yang menunjukkan kebaikan dan penyebarannya (Kamus Al-Muhidh, hal. 537). Menurut istilah 'syukur' adalah memberikan pujian kepada yang memberi kenikmatan dengan sesuatu yang telah diberikan kepada kita berupa perbuatan ma'ruf dalam pengertian tunduk dan berserah diri kepada-Nya. [Mukhtashor Minhajul Qashidin, 277]

J Kedudukan dan urgensi syukur o Syukur merupakan wasiat Allah yang pertama bagi manusia setelah mampu berfikir, Allah memerintahkan untuk bersyukur kepada-Nya dan kepada kedua orangtua [QS. Luqman, 31: 14]. o Allah SWT meridhai orang-orang yang bersyukur [QS. Az-Zumar, 39: 7]. o Para nabi Allah alaihimussalam adalah hamba-hamba Allah yang pandai mensyukuri nikmat [QS. An-Nahl, 16: 120-121, Al-Isyra, 17:3, An-Naml, 27: 19, Saba, 34: 13]. o Syukur akan menambah datangnya kenikmatan [QS. Ibrahim,14:7]. o Dan Allah mencela orang-orang yang mengkufuri nikmat-Nya [QS. Al-Baqarah, 2:152, An-Nahl,16:83].

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar Rahman)
© 2011 Ilham Publishing

108

“Sesungguhnya yang paling saya takuti atasmu ialah : syirik kecil, yaitu Riya’ (beribadah bukan karena Allah semata, tapi untuk dilihat orang)” (HR. Ahmad)

© 2011 Ilham Publishing

Quantum Mentoring

© 2011 Ilham Publishing

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful