PAJAK TANGGUHAN (DEFERRED TAXES

)
A. Pendahuluan Pada dasarnya antara akuntansi pajak dan akuntansi keuangan memiliki kesamaan tujuan, yaitu untuk menetapkan hasil operasi bisnis dengan pengukuran dan rekognisi penghasilan dan biaya. Namun ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian, bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tidak sekadar instrument pentransfer sumber daya (fungsi budgeter), akan tetapi seringkali pula digunakan untuk tujuan memengaruhi perilaku wajib pajak untuk investasi, kesejahteraan dan lain-lain (fungsi mengatur) yang kadang-kadang merupakan alasan untuk membenarkan penyimpangan dari standar akuntansi keuangan. Di lain pihak, atas penghasilan yang diterima atau diperoleh subjek pajak dalam tahun pajak yang bersangkutan, baik subjek pajak orang pribadi maupun subjek pajak badan, dikenakan pajak penghasilan dan untuk menghitung pajak penghasilan tersebut, subjek pajak yang bersangkutan berkewajiban mengisi Surat Pemberitahuan (SPT) yang disediakan oleh Instansi Pajak. Pada umumnya bentuk dan isi yang terdapat dalam Surat pemberitahuan untuk kepentingan perpajakan hampir tidak berbeda jauh dengan bentuk dan isi yang terdapat dalam Laporan Keuangan untuk kepentingan komersial. Penghasilan Kena Pajak (PKPTaxable Income) dihitung berdasarkan Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Perpajakan (KPPP) sedangkan Penghasilan Sebelum Pajak (PSP- Accounting Income atau Pretax Accounting Income atau Pretax Book Income) dihitung berdasarkan standar yang disusun oleh profesi yang dikenal sebagai Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Oleh karena basis pengenaan penghasilan untuk keperluan perhitungan pajak penghasilan berbeda dengan basis perhitungan penghasilan untuk keperluan komersial, atau dengan perkataan lain akibat dari perbedaan rekognisi penghasilan dan biaya maka akan terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara kedua basis tersebut. Pajak penghasilan yang dihitung berbasis pada Penghasilan Kena Pajak yang sesungguhnya dibayar kepada pemerintah disebut sebagai “PPh terutang- Income Tax Payable atau Income Tax Liability,” sedangkan Pajak Penghasilan yang dihitung berbasis Penghasilan Sebelum Pajak disebut sebagai “Beban Pajak Penghasilan- Income Tax Expense atau Provision for Income Taxes.” Sebagian perbedaan yang terjadi akibat perbedaan antara PPh Terutang dengan Beban Pajak yang dimaksud sepanjang menyangkut perbedaan temporer hendaknya dilakukan pencatatan dan tercermin dalam laporan keuangan komersial dalam akun pajak tangguhan (deferred tax) baik aktiva pajak tangguhan maupun kewajiban pajak tangguhannya.

BP dialokasikan untuk periode yang bersangkutan yang dihitung berdasarkan tarif prisinal x Penghasilan Sebelum Pajak. Weygandt Jerry J. Selanjutnya disebutkan pula bahwa fundamen yang berkenaan dengan Akuntansi Pajak Penghasilan adalah: 1. perbedaan spesifik (specific differences). . jumlah pajak masa yang akan datang dan pajak tangguhan (Future taxable namounts and deferred taxes). mengungkapkan bahwa perbedaan temporer tidak berpengaruh terhadap perhitungan beban pajak (tax expense) tarif pajak efektif atau rekonsiliasi antara tarif pajak efektif dengan tarif pajak berdasarkan undangundang. jumlah pengurangan masa yang akan datang dan pajak tangguhan (Future deductible amounts and deferred taxes). 4. bahwa akibat perbedaan antara Standar Akuntansi Keuangan dengan Ketentuan Peraturan Perundang-undangan Perpajakan pada umumnya terdapat pula perbedaan antara Penghasilan Sebelum Pajak menurut Pembukuan (Pretax Accounting Income) dengan Penghasilan Kena Pajak (Taxable Income).Jones Sally M dan Rhoades Catanach Shelley C. seperti yang diungkapkan oleh Kieso Donald E. dan Warfield Terry D. penyajian Laporan Laba/Rugi (income statement presentation). PSAK 46-Akuntansi Pajak Penghasilan Standar Akuntansi Keuangan mengatur masalah pajak tangguhan tersebut di PSAK 46Akuntansi Pajak Penghasilan. Malahan. 2. 5. Hal ini sesuai dengan catatan bahwa menurut Statement of Financial Accounting Standards (SFAS) 109 yang juga didukung oleh Financial Accounting Standards (FASB) bahwa untuk menghitung pajak tangguhan hendaknya didasarkan kepada tarif efektif rata-rata (the average effective tax rate) daripada menggunakan tarif marginal (marginal rates) atau menggunakan tarif orisinil seperti yang diminta oleh SFAS 96 (GAAP. yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan perhitungan Pajak Penghasilan terutang. 3. Pajak Penghasilan Terutang (Income Tax Jumlah Pajak Penghasilan yang dihitung Liability). 616).PT berdasarkan Tarif Orisinal x Penghasilan Kena Pajak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Beberapa terminologi dan pengertian yang digunakan dalam pembahasan yang berkenaan dengan akuntansi keuangan dan akuntansi pajak terlihat sebagai berikut: Beban Pajak Penghasilan (Income Tax Jumlah Pajak Penghasilan yang Expense). pertimbangan tarif (rate considerations). Dengan demikian akan terdapat pula perbedaan antara beban pajak (tax expense) dengan pajak terutang (income tax payable). B. perbedaan temporer tersebut akan menghasilkan baik aktiva pajak tangguhan maupun kewajiban pajak tangguhan. 2003: hal.

EP Penghasilan Akuntansi sebelum dikurangi dengan Beban Pajak Penghasilan. 46 diperkenalkan. Sebelum PSAK No. Selisih antara PPh Terutang dengan Beban PPh akibat dari: 1. Proses membagi Beban Pajak Penghasilan pada periode yang bersangkutan berkenaan dengan beberapa komponen yang terdapat pada Penghasilan sebelum Pajak yang terkait dengan Efek Pajak Penghasilan akibat pennyesuaian yang dilakukan sebelumnya dengan komponen tersebut.Penghasilan Sebelum Pajak (Pretax Accounting Income. Akibatnya. Tentunya. perubahan pendekatan tersebut tentunya menuntut perubahan pola berpikir para akuntan dalam memahami esensi utama dari pengimplementasian PSAK No. karena literatur lama dalam Akuntansi Pajak Penghasilan masih banyak yang menggunakan “income statement liability approach”. PPh Tangguhan (Deferrred Income Taxes) Kewajiban Pajak Tangguhan – DTP Aktiva Pajak Tangguhan. 46. 46 bersifat “balance sheet liability approach”. sementara pendekatan yang dipergunakan dalam PSAK No. Penghasilan yang menjadi objek Pajak Penghasilan dikurangi dengan Biaya Fiskal yang boleh dikurangkan. Penyesuaian yang dilakukan sebelumnya. perbedaan waktu yang disebabkan oleh perhitungan PPh Terutang dan Beban PPh. . Kompensasi kerugian. 2. Alokasi Beban Pajak Penghasilan ke berbagai periode akuntansi. orientasi yang dipergunakan oleh standar akuntansi dalam Akuntansi Pajak Penghasilan lebih bersifat “income statement liability approach”. 3. perbedaan orientasi tersebut menjadi kompleksitas baru bagi para akuntan.DTA Alokasi PPh Interperiode (Interperiod Income Tax Allocation) Alokasi PPh Intraperiode (Intraperiod Income Tax Allocation) Efek pajak yang diakui pada saaat diadakan penyesuaian dengan Beban Pajak Penghasilan periode yang akan datang.Pretax Book Income)PSP Penghasilan Kena Pajak (Taxable Income)PKP Efek Pajak (Tax Effects).

tetapi sebenarnya memiliki potensi hutang pajak yang lebih kecil di masa datang. Dampak PPh di masa yang akan datang yang perlu diakui. Metode Penangguhan Pajak penghasilan Metode alokasi pajak digunakan untuk mempertanggungjawabkan pengaruh-pengaruh pajak dan bagaimana pengaruh-pengaruh tersebut harus disajikan dalam laporan keuangan. Bila dampak pajak di masa datang tersebut tidak tersaji dalam neraca dan laba rugi.a. (Kieso dan Weygant. maka laporan keuangan bisa saja menyesatkan pembacanya. perkembangan dunia bisnis dan akuntansi telah sedemikian pesatnya sehingga muncul transaksi-transaksi yang tidak diakui dalam laporan laba rugi tetapi langsung diakui sebagai bagian dari ekuitas misalnya keuntungan atau kerugian dari surat berharga yang siap untuk dijual kapan saja. 2001 : 1067-1068) antara lain : C.C. Atau sebaliknya. Ada tiga metode untuk mengalokasikan pajak. Metode ini lebih menekankan matching principle pada periode terjadinya perbedaan tersebut. disajikan dan diungkapkan dalam laporan keuangan. Namun.1.1. Deferred method (Metode Penangguhan) Metode ini menggunakan pendekatan laba rugi (income statement approach) yang memandang perbedaan perlakuan antara akuntansi dan perpajakan dari sudut pandang laporan laba rugi. Pajak Tangguhan Pajak tangguhan pada prinsipnya merupakan dampak PPh di masa yang akan datang yang disebabkan oleh perbedaan temporer (waktu) antara perlakuan akuntansi dan perpajakan serta kerugian fiskal yang masih dapat dikompensasikan di masa datang (tax loss carry forward) yang perlu disajikan dalam laporan keuangan dalam suatu periode tertentu. Apabila menggunakan pendekatan laba rugi transaksi seperti itu tidak dapat terdeteksi. sehingga pendekatan ini dipandang kurang relevan. Suatu perusahaan bisa saja membayar pajak lebih kecil saat ini. Hasil hitungan dari pendekatan ini adalah pergerakan yang akan diakui sebagai pajak tangguhan pada laporan laba rugi. Pendekatan ini mengenal istilah perbedaan waktu dan perbedaan permanen. yaitu kapan suatu transaksi diakui dalam laporan laba rugi baik dari segi komersial maupun fiskal. dihitung. . baik neraca maupun laba rugi. C. bisa saja perusahaan membayar pajak lebih besar saat ini. tapi sebenarnya memiliki potensi hutang pajak yang lebih besar di masa datang.

b. Bila kompensasi rugi tersebut tidak terpakai dan menjadi hangus. biasanya pajak tangguhan dihitung dengan tarif PPh yang tertinggi yaitu . Pada metode ini terjadi pengakuan pajak tangguhan (deferred tax) atas konsekuensi pajak di masa mendatang berupa aktiva (kewajiban) pajak tangguhan yang harus dilaporkan di neraca.1. Konsekuensi pajak atas perbedaan temporer tidak dilaporkan secara terpisah. C. Kedua. Dalam praktek. Pengakuan ini menyiratkan bahwa perusahaan pelapor akan memulihkan nilai tercatat aktiva pajak tangguhan atau deferred tax asset (DTA) dan akan melunasi nilai tercatat dalam kewajiban pajak tangguhan atau deferred tax liability (DTL) tersebut. hanya berbeda alokasi waktunya saja. Net-of-tax method (Metode Bersih dari Pajak) Pada metode ini tidak ada pajak tangguhan yang diakui. yaitu perbedaan antara saldo buku menurut komersial dan dasar pengenaan pajaknya. Dalam metode ini. Beban pajak tangguhan dilaporkan di laba rugi bagian taksiran PPh sebagai komponen pajak tangguhan. beban pajak yang disajikan dalam laporan laba rugi sama dengan jumlah pajak penghasilan yang terhutang menurut SPT tahunan. Akuntansi Pajak Tangguhan tidak terlepas dari empat kegiatan berikut ini : Pertama.c. sebaliknya diperlakukan sebagai penyesuaian atas nilai aktiva atau kewajiban tertentu dan penghasilan atau beban yang terkait. pengukuran (measurement) yaitu cara menghitung jumlah yang harus dibukukan dalam buku besar perusahaan. Asset-liability method (Metode Aktiva-Kewajiban) Metode ini menggunakan pendekatan neraca (balance sheet approach) yang menekankan pada kegunaan laporan keuangan dalam mengevaluasi posisi keuangan dan memprediksikan aliran kas pada masa yang akan datang. maka Aktiva pajak tangguhan yang timbul harus disesuaikan. Dalam hal ini pajak tangguhan akan dihitung dengan menggunakan tarif yang berlaku atau efektif akan berlaku di masa yang akan datang.C. C. sedangkan penghasilan pajak tangguhan harus dilaporkan di laba rugi sebagai komponen negatif dari beban pajak tangguhan. Pendekatan neraca memandang perbedaan perlakuan akuntansi dan perpajakan dari sudut pandang neraca. Aktiva pajak tangguhan dan Kewajiban pajak tangguhan yang disebabkan oleh perbedaan temporer akan terpulihkan di masa datang karena jumlah yang akan diakui sebagai biaya atau pendapatan akan sama antara akuntansi dan pajak. Sedangkan Aktiva pajak tangguhan yang timbul dari kompensasi rugi akan terpulihkan bila perusahaan menggunakan kompensasi rugi tersebut pada tahun di mana perusahaan memperoleh laba fiskal. Pendekatan ini mengenal istilah perbedaan temporer dan perbedaan non temporer. pengakuan (recognition) yaitu standar yang mengatur bahwa dampak PPh atas perbedaan temporer dan tax loss carry forward (TLCF) atau kompensasi rugi harus diakui dalam laporan keuangan.1.2. Kegiatan yang Dilakukan dalam Menentukan Pajak Tangguhan Sama halnya dengan proses akuntansi lainnya.

Oleh karena perbedaan permanen tidak menghasilkan pajak tangguhan. Lapisan tarif PPh sebesar 10% dan 15% dianggap tidak terlalu material untuk diperhitungkan. Ketiga. pengungkapan (disclosure) yaitu berkaitan dengan standar informasi yang perlu diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. aktiva pajak tangguhan dan kewajiban pajak tangguhan terjadi akibat perbedaan temporer antara pembukuan dan pajak sedangkan perbedaan permanen antara pembukuan dan pajak tidak mempunyai efek. Aktiva pajak tangguhan (DTA) atau kewajiban pajak tangguhan (DTL) harus disajikan secara terpisah dari aktiva atau kewajiban pajak kini dan disajikan dalam unsur non current dalam neraca. Beban pajak menurut pembukuan dapat dihitung sebagai berikut: Pajak Penghasilan Terutang Tambah: Kenaikan neto kewajiban pajak tangguhan Kurang: Kenaikan neto aktiva pajak tangguhan Beban pajak menurut pembukuan Seperti telah diuraikan sebelumnya. kedua lapisan tarif PPh tersebut biasanya dipergunakan untuk menghitung pajak kini. namun dalam pengukurannya tidak boleh didiskonto (discounted). unsur-unsur yang dibebankan langsung ke laba ditahan. Di samping itu. Sementara itu Kewajiban Pajak Tangguhan dapat disamakan seperti kurang bayar pajak yang akan dibayar di masa yang akan datang pada saat pemulihan perbedaan temporer. Aktiva Pajak Tangguhan dapat disamakan seperti lebih bayar pajak yang akan digantikan di masa yang akan datang pada saat pemulihan perbedaan temporer. Misalnya unsur-unsur utama perbedaan temporer yang menimbulkan pajak tangguhan. perubahan tarif pajak dan sebagainya. Sedangkan beban atau penghasilan pajak tangguhan harus disajikan terpisah dengan beban pajak kini dalam laporan keuangan. maka perhitungan beban pajak menurut pembukuan dapat juga dilakukan sebagai berikut: . Kenaikan neto aktiva pajak tangguhan menyebabkan pengurangan beban pajak perusahaan sedangkan sebaliknya kenaikan neto kewajiban pajak tangguhan menyebabkan kenaikan beban pajak perusahaan. baik dalam neraca ataupun laba rugi. Meskipun pajak tangguhan berkaitan dengan dampak pajak di masa datang. Keempat.sebesar 30%. penyajian (presentation) yaitu standar yang menentukan cara penyajian di dalam laporan keuangan. meskipun tarif yang sebenarnya berlaku bersifat progresif. baik terhadap perhitungan beban pajak menurut pembukuan maupun terhadap perhitungan pajak terutang.

timbul kewajiban bagi perusahaan untuk menghitung dan mengakui pajak tangguhan (deferred taxes) atas future tax effects dengan menggunakan pendekatan the asset and liability method yang berbeda dengan pendekatan income . Atau dengan kata lain. dan lainnya. perbedaan perlakuan penyertaan saham equity method menurut akuntansi dengan cost method menurut pajak. Demikian sebaliknya. perbedaan temporer merupakan perbedaan perlakuan akuntansi dan perpajakan yang sifatnya temporer. Perbedaan temporer bisa bersifat koreksi positif atau koreksi negatif.Tambah/Kurang: Penghasilan Sebelum Pajak menurut Pembukuan Perbedaan permanen menurut pembukuan/pajak Penghasilan menurut pembukuan setelah penyesuaian dengan perbedaan permanen Kali : Tarif Pajak Beban Pajak menurut Pembukuan C. Perbedaan Temporer Sesuai namanya. tetapi berbeda alokasi setiap tahunnya. Sedangkan untuk rugi fiskal yang masih dapat dikompensasi di masa datang (tax loss carry forward) menurut PSAK No. maka koreksi positif saat ini akan mengakibatkan perusahaan membayar pajak besar saat ini. Sedangkan koreksi negatif merupakan koreksi yang menyebabkan pengurangan laba fiskal sehingga PPh terutang menjadi lebih kecil. Koreksi positif adalah koreksi yang menyebabkan penambahan laba fiskal yang akhirnya akan menambah PPh terutang.4. bahwa akumulasi rugi fiskal yang terjadi baru boleh diakui sebagai aktiva pajak tangguhan jika besar kemungkinan bisa dikompensasi seluruhnya dengan laba fiskal dalam 5 tahun ke depan. perbedaan pencadangan piutang ragu-ragu menurut akuntansi dengan perpajakan yang hanya mengakui pembebanan piutang tak tertagih pada saat benar-benar tidak tertagih.3. Mengingat sifatnya yang temporer. Kewajiban Pajak Tangguhan dan Aktiva Pajak Tangguhan Dengan berlakunya PSAK 46. perbedaan pencadangan pesangon menurut PSAK No. Transaksi akuntansi yang mengakibatkan perbedaan temporer antara perlakuan akuntansi dan perpajakan yang merupakan unsur Pajak Tangguhan diantaranya adalah perbedaan metode penyusutan antara akuntansi dengan pajak. sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku C. tetapi akan dikompensasi (dipulihkan) dengan penghematan PPh terutang karena koreksi negatif di masa datang. 24 dengan perpajakan yang hanya mengakui pembebanan pesangon pada saat realisasinya. 46 diakui sebagai Aktiva Pajak Tangguhan (DTA) apabila besar kemungkinan bahwa laba fiskal pada masa yang akan datang memadai untuk dikompensasi. Artinya secara keseluruhan beban atau pendapatan akuntansi maupun perpajakan sebenarnya sama.

biaya/pengeluaran. GAAP Handbook of Policies and Procedures (2001. yaitu: Beban pajak (tax expense) atau penghasilan pajak (tax income) adalah jumlah agregat pajak kini (current tax) dan pajak tangguhan (deferred tax) yang diperhitungkan dalam penghitungan laba atau rugi pada satu periode. dan lain-lain yang menimbulkan perbedaaan antara laporan keuangan komersial dengan laporan keuangan fiskal sehingga dengan demikian yang dimaksud dengan beban pajak (tax expense) mencakup jumlah pajak yang terutang (taxes payable) ditambah dengan dampak pajak akibat perbedaan temporer (temporary differences) atau dengan perkataan lain: Jumlah seluruh taksiran pajak penghasilan (provision for income taxes) adalah jumlah pajak kini (tax currently payable-current tax expense) dan perubahan neto antara aktiva pajak tangguhan (deferred tax assets) dan kewajiban pajak tangguhan (deferred tax liabilities)-deferred tax expense or benefit.Tax Payable) sehingga akan menghasilkan Kewajiban Pajak Tangguhan (KPT.statement liability method yang sebelumnya lazim digunakan oleh perusahaan dalam menghitung pajak tangguhan. Untuk keperluan ini. hendaknya diterapkan akuntansi pajak tangguhan yang komprehensif (comprehensive deferred tax accounting) yang berarti bahwa harus dipertimbangkan semua efek pajak terhadap semua penghasilan. Baik Kewajiban pajak tangguhan maupun Aktiva pajak tangguhan dapat terjadi dalam hal-hal sebagai berikut (Zein. keuntungan/kerugian. PSAK 46 mendefinisikan beban pajak (tax expense) yang dimaksud sama dengan taksiran pajak penghasilan tersebut.Pretax Accounting Income) lebih besar dari Penghasilan Kena Pajak (PKP.Taxable Income) maka Beban Pajak (BP. . 783) menyebutkan bahwa penggunaan the asset and liability method selanjutnya disebut the liability method mengharuskan pendekatannya berorientasi pada neraca karena pada dasarnya sasaran yang ingin diperlihatkan di sini adalah berapa sesungguhnya taksiran pajak yang akan dibayar pada periode yang akan datang.2007): (1) apabila Penghasilan Sebelum Pajak (PSP.Tax Expense) pun akan lebih besar dari Pajak Terutang (PT. (2) Sebaliknya apabila Penghasilan Sebelum Pajak (PSP) lebih kecil dari Penghasilan Kena Pajak (PKP) maka Beban Pajaknya (BP) akan juga lebih kecil dari Pajak Terutang (PT) sehingga akan menghasilkan Aktiva Pajak Tangguhan (APT. Kewajiban Pajak Tangguhan dapat dihitung dengan mengalikan perbedaan temporer dengan tarif pajak yang sesuai. hal.deferred tax liability).deferred tax assets). Aktiva Pajak Tangguhan adalah sama dengan perbedaan temporer dengan tarif pajak pada saat perbedaan tersebut terpulihkan.

000.000. Perhitungan koreksi negatif yang dapat memperkecil laba fiskal tersebut adalah sebagai berikut : Laba akuntansi Koreksi fiskal .625.983.000.983.000 5. dapat diketahui bahwa telah terjadi perbedaan temporer antara perlakuan pajak dengan akuntansi.833. Kewajiban Pajak Tangguhan (Deferred Tax Liability) Contoh perhitungan Kewajiban Pajak Tangguhan Tabel penyusutan menurut akuntansi dan fiskal tahun 2008 sebagai berikut : Aktiva Tetap Bangunan Mesin Kendaraan Peralatan Jumlah Beban Penyusutan menurut Akuntansi 562.5.000 5.895.125.333.282.333.000.000 500.000.000.000) 6.000 .000 5.000.000. sehingga beban PPh tahun berjalan menjadi lebih kecil.500. Akibatnya.penyusutan fiskal Laba Fiskal Pembulatan Rp (+) (-) Rp 9. Mengingat bahwa beban penyusutan secara fiskal lebih besar daripada beban penyusutan secara akuntansi.333 Beban Penyusutan menurut Fiskal 1. koreksi tersebut dapat menyebabkan terjadinya pengurangan laba fiskal.875.895.833.000 3.625.000 625.552.penyusutan akuntansi .500.333 1. PT XYZ akan melakukan koreksi negatif.333 6.Dengan rumus dapat dituliskan sebagai berikut: Perbedaan Temporer PSP > PKP PSP <> Perbedaan Temporer x Tarif Hasilnya BP > PT Kewajiban Pajak Tangguhan (DTL) BP <> Aktiva Pajak Tangguhan (DTA) C.333 (8.552.000.000 Berdasarkan tabel perhitungan penyusutan dengan metode garis lurus di atas.000 8.150.000 1.

100 Atau jurnal dapat dibuat sebagai berikut : a.000 2.750.500.000 5.552.394.000 15 % x 50.100 Kewajiban Pajak Tangguhan 818.452.150.000.767.182.750.948. Menjurnal Pajak Tangguhan Beban Pajak Tangguhan 818.333 5.000 2.767.000 30 % x 9.145.900 Kewajiban Pajak Tangguhan 818.900 Taksiran Pajak Penghasilan Beban Pajak Kini Rp Beban Pajak Tangguhan Rp Jumlah Beban Pajak Rp 1.948.948.145.935.394. Menjurnal Pajak Terutang Beban pajak kini 1.900 1.100 Hutang PPh 25/29 1.000 Jurnal akuntansinya sebagai berikut : Beban Pajak Kini 1.948.750.000 30 % x 6.282.Perhitungan Pajak Penghasilan Keterangan Laba PPh Terutang 10 % x 50.983.900 Hutang PPh 25/29 1.900 .150.000.394.948.000.900 Beban Pajak Tangguhan 818.394.100 b.000 7.000 1.000.100 2.500.750.948.983.645.000 Fiskal 6.754.000 Jumlah PPh Akuntansi 9.000 7.894.394.394.900 818.750.

00 adapun jurnal dapat dibuat sebagai berikut a.6.000.000.000.000. Uraian Penghasilan Sebelum Pajak Biaya Garasi Penghasilan Kena Pajak Taksiran Pajak Penghasilan Beban Pajak Kini Rp Keuntungan Pajak Tangguhan Rp Jumlah Beban Pajak Rp 299.000) 280.000.00 100.000.70.00.000.00).100.00 30.000 Keuntungan Pajak Tangguhan 21.000.00 1.000.A pada tahun 2009 berjumlah Rp 1.000.000. Menjurnal Pajak Tangguhan Aktiva Pajak Tangguhan 21. yang berarti beban pajaknya akan lebih kecil dari pajak terutang.000.100.000.00 1.000.000.000.000. Satusatunya perbedaan temporer yang terdapat dalam perusahaan adalah pengeluaran biaya garansi (warranty expense) yang tercatat dalam pembukuan sebesar Rp 100.000.000 Pembukuan 1.000.000.000.00 Hutang PPh 25/29 321.000 (19.000 b.00 ( Rp 100.C.000.600. Aktiva Pajak Pangguhan (Differed Tax Assets) Munculnya aktiva pajak tangguhan apabila penghasilan sebelum pajak lebih kecil dari penghasilan kena pajak.000.000.00 atau dengan perkataan lain perbedaan temporer yang muncul sebesar Rp.000.000.070.00 . Aktiva pajak tangguhan tersebut dapat dihitung dengan cara mengalikan perbedaan temporer dengan tarif pajak yang berlaku pada saat perbedaan tersebut dipulihkan.100.000.00 – Rp 30.000.600. Contoh perhitungan pajak tangguhan : Penghasilan sebelum pajak PT. sedangkan untuk kepentingan perpajakan yang dihitung berdasarkan jumlah yang dibayar sebesar Rp 30.000.000. Menjurnal Pajak Terutang Beban pajak kini 321.00 UU Perpajakan 1.000.00 yang dihitung dari angka penjualannya.000.

Kerugian ini dapat direalisasikan apabila terdapat penghasilan kena pajak (laba) di periode mendatang (kewajiban pajak tangguhan) untuk kompensasinya. Terdapat pendapat umum yang menyatakan bahwa keuntungan pajak akibat kompensasi kerugian tersbut hendaknya tidak diakui sampai bena-benar terealisai. Terdapat persoalan menyangkut efek pajak akibat kompensasi kerugian tersbut diakui dalam tahun pajak pada saat kerugian tersbut muncil. atau pda tahun-tahun yang akan dating pada saat terealisasi. pada saat munculnya kompensasi kerugian tersebut dengan penuh keyakinan tanpa ragu-ragu bahwa kompensasi kerugian tersebut akan terealisasi. kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 (lima) tahun. Dalam hal ini. dan efek pajaknya akibat dari kompensasi kerugian adalah menghematan pada di masa yang akan datang (future tax saving). sehingga menghasilkan operasional yang menguntungkan kembali.” Kompensasi kerugian berpengaruh pada Penghasilan Kena Pajak di masa yang akan datang.D. keciali dalam keadaan yang tidak lazim. Pada tahun-tahun berikutnya. Hal ini dengan alas an bahwa keuntungan pajak akibat kompensai kerugian baru diperhitungkan setelah terealisasi. terkahir dengan Undang –undang nomor 36 tahun 2008 menyebutkan : “Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didapat kerugian. Kompensasi hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu 5 tahun berturut-turut. Keuntungan pajak dihitung dengan mengalikan jumlah yang dapat dikompensasi tersebut dengan tarif pajak yang akan berlaku pada periode kompensasi terjadi. 2007) Keuntungan pajak akibat kompensasi rugi diakui sebagai aktiva pajak tangguhan dalam hal kompensasi pajak tangguhan tersebut dapat dikompensasi dengan jumlah Penghasilan Kena Pajak pada masa mendatang. pada saat penghasilan . Pada saat aktiva pajak tangguhan tersebut dicatat. yang dihitung berdasarkan aktiva pajak tangguhan bruto setelah dikurangi dengan penyisihan penilaian nihil yang otomatis menjadi aktiva pajak tangguhan neto (Zain. Di Amerika Serikat. dikarenakan perusahaan yang menderita kerugian membutuhkan waktu yang cukup untuk menutupi kerugian tersebut. Kompensasi kerugian Pasal 6 ayat (2) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebahaimana telah beberapa kali diubah. beban pajaknya pun akan berkurang. aktiva pajak tangguhan nettoakan dicatat sebagai keuntungan pajak. keuntungan pajak akibat kompensasi akan diakui apabila terdapat kemungkinan akan direalisasikan sebesar 50% di masa yang akan dating. Realisasi keuntungan pajak dimasa yang akan datang tergantung pada Penghasilan Kena pajak di masa yang akan dating tersebut yang sulit diramalkan dan tidak pasti.

Dari rekonsiliasi laba (rugi) komersial dengan laba (rugi) menurut fiskal PT A selama 5 tahun berturut-turut diperoleh gambaran sebagai berikut : . 26 menjelaskan bahwa saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi diakui sebagai aktiva pajak tangguhan apabila besar kemungkinan bahwa laba fiskal pada masa depan memadai untuk dikompensasi. Keuntungan pajak karena kompensasi kerugian tidak akan terealisasi apabila tidak terdapat Penghasilan Kena pajak yang memadai untuk menutupi kerugian tersebut. perusahaan menilai kembali aktiva pajak tangguhan yang tidak diakui. 46 tentang Akuntansi Pajak Penghasilan par. Apabila laba fiskal tidak mungkin tersedia dalam jumlah yang memadai untuk dapat dikompensasi dengan saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi. 3. yang memungkinkan sisa kompensasi dapat digunakan sebelum masa berlakunya kadaluarsa. Berhubung topik pembahasan kali ini terbatas pada kompensasi saldo rugi fiskal maka untuk memudahkan pemahaman diasumsikan bahwa tidak terdapat unsur beda temporer dalam rekonsiliasi perpajakan. Selanjutnya dalam Menurut PSAK 46 par. Apakah perusahaan mungkin memperoleh laba fiskal agar saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi kerugian dapat digunakan sebelum masa berlakunya daluarsa. Paragraf 28 mengatur mengenai penilaian kembali aktiva pajak tangguhan. Apakah perusahaan mempunyai perbedaan temporer kena pajak dalam jumlah yang memadai. Apakah saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi timbul dari kasus-kasus tertentu yang hampir tidak mungkin berulang. 2. Berikut ini ilustrasi sederhana penerapan penghitungan aktiva pajak tangguhan atas saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi. maka aktiva pajak tangguhan tidak diakui. aktiva pajak tangguhan pun akan berkurang. Perusahaan mengakui aktiva pajak tangguhan yang sebelumnya tidak diakui apabila besar kemungkinan bahwa laba fiskal pada masa depan akan tersedia untuk pemulihannya. Pada setiap tanggal neraca. 27 diatur bahwa terdapat hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan apakah penghasilan kena pajak akan tersedia dalam jumlah memadai untuk dikompensasikan : 1. Dalam PSAK No.terealisasi.

390 (30% x 3.150 2005 10.800) Dari ayat-ayat jurnal di atas.125 3.250) (30% x 3.300 (14.125 1.Laba (Rugi) Komersial Beda Tetap : Sumbangan Entertainment Laba (Rugi) Fiskal Kompensasi Laba (Akumulasi Rugi) Fiskal 2006 11.500 500 300 11.250) (30% x 14.000) 400 800 (10.390 3.400 (3.750) (10.250) 8.000 300 100 11. dapat diketahui bahwa saldo Aktiva Pajak Tangguhan di Neraca PT A per 31/12/2006 sudah menjadi nol seiring dengan habisnya kompensasi saldo rugi fiskal pada tahun 2006.laba fiskal 2005) Pajak Penghasilan Tangguhan Aktiva Pajak Tangguhan (DTA) (reverse DTA – laba fiskal 2006) 975 975 Dr 3.800) Ayat jurnal pajak tangguhan atas saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi mulai tahun 2003 sampai dengan tahun 2006 sebagai berikut : Jurnal Aktiva Pajak Tangguhan (DTA) Pajak Penghasilan Tangguhan (mencatat DTA tahun 2003) Aktiva Pajak Tangguhan (DTA) Pajak Penghasilan Tangguhan (mencatat tambahan DTA 2004) Pajak Penghasilan Tangguhan Aktiva Pajak Tangguhan (DTA) (reverse DTA .550)-(30% x 3.240 3.000) 100 150 (3.750) Cr Perhitungan (30% x 10.550) (3.550) 2003 (12.800) (14. .240 1.250) 2004 (4.800) (10.

metode penghapusan tidak langsung mengharuskan pembentukan cadangan estimasi piutang tak tertagih pada setiap periode pelaporan keuangan. selisih lebih atau kurang jumlah uang yang dibayar dari nilai buku aset bersih yang didapat dalam transaksi dialokasikan kepada atau dikurangkan dari aktiva atau kewajiban sehingga aktiva atau kewajiban dapat mencerminkan nilai wajarnya (harnanto. maka dalam laporan laba rugi konsolidasi harus juga diakui beban dan manfaat pajak penghasilan tangguhan. goodwill itu sendiri tidak boleh diakui sebagai kewajiban pajak tangguhan. Adapun persyaratan yuridis yang harus dipenuhi adalah sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 6 ayat (1) huruf h UU PPh. juga goodwill negative tidak boleh diakui sebagai aktiva pajak tangguhan. E. Akibatnya nilai aktiva dan kewajiban yang tercatat berbeda dari dasar pengenaan pajak (DPP).E. pembebanan piutang tak tertagih baru dilakukan apabila piutang benar-benar tidak dapat ditagih lagi. Pajak Tangguhan dari Penggabungan Usaha Perbedaan temporer dapat timbul dari transaksi penggabungan usaha. sebagai berikut : 1. Dalam PSAK 46. Penggunaan metode tidak langsung tidak diperkenankan dalam peraturan perpajakan. Transaksi penggabungan usaha yang dicatat berdasarkan metode pembelian. Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada Direktorat Jenderal Pajak. dan harus diakui sebagai aktiva atau kewajiban pajak tangguhan. perpajakan dalam UU PPh mensyaratkan bahwa suatu piutang baru dapat diakui sebagai piutang tak tertagih dan dapat dikurangkan dari penghasilan bruto jika secara yuridis piutang benar-benar tidak dapat ditagih lagi. Sisa lebih atau kurang jumlah pembayaran dari nilai buku aktiva bersih yang sudah dialukasi atau dikurangkan dari aktiva atau kewajiban tertentu diakui sebagi goodwill atau goodwill negative. 2. Selain itu. namun kemudian diakui didalam neraca konsolidasinya. Contoh Pajak Tangguhan Pada Bad Debt Expense Secara umum akuntansi mengenal dua metode pencatatan penghapusan piutang ragu-ragu yaitu metode penghapusan langsung (direct write-off method) serta metode penghapusan tidak langsung (indirect write-off method). Apabila perusahaan pengakuisisi tidak mengakui adanya aktiva pajak tangguhan pada tanggal terjadinya transaksi penggabungan usaha. Sedangkan. Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial. 2003). dan . Dengan metode penghapusan langsung. Sedangkan dari segi perpajakan hanya mengenal metode penghapusan langsung.

Jika sekiranya wajib pajak tidak dapat memenuhi syarat yang ditentukan dalam Pasal 6 ayat (1) huruf h UU PPh tersebut di atas maka bad debt expense secara perpajakan dengan sendirinya tidak dapat dibiayakan sehingga berubah menjadi beda tetap. Syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk penghapusan piutang tak tertagih debitur kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf k Jika secara akuntansi perusahaan menerapkan metode penghapusan tidak langsung (melalui pembentukan cadangan piutang tak tertagih). tarif pajak penghasilan yang dikenakan atas penghasilan kena pajak baik untuk WP Perseorangan (WP Orang Pribadi) maupun WP Badan telah terjadi perubahan.000.000. dalam kondisi tertentu bad debt expense bisa berpotensi menjadi beda tetap.000. atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus. Kemudian. Namun.000 40. maka dengan sendirinya akan timbul beda waktu antara pencatatan akuntansi dan perpajakan yang merupakan unsur pajak tangguhan menurut PSAK 46.3.000. atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu 4. Pajak Tangguhan Berkaitan Dengan Perubahan Tarif Pajak berdasarkan UU No. dalam ayat 2a . 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.000 Sedangkan jurnal pajak tangguhannya sebagai berikut : Aktiva Pajak Tangguhan Penghasilan Pjk Tangguhan 12. Khusus untuk WP Badan sebelumnya berlaku tarif progresif yaitu 10%. 15% dan 30% [UU No. 36 tahun 2008 dikenakan tarif tunggal sebesar 28%. 36 tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-undang No. Berikut ini ilustrasi sederhana perhitungan pajak tangguhan atas beda waktu bad debt expense: PT A membukukan cadangan estimasi piutang tak tertagih per 31/12/2007 sebesar Rp 40.000.000 dengan jurnal sebagai berikut : Bad Debt Expense Cadangan Bad Deb Exp 40. 36 tahun 2008 Berdasarkan UU No.000 F. Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi pemerintah yang menangani piutang negara. atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan. 17 tahun 2000 pasal 17 ayat (1b)].000 12. sedangkan berdasarkan Pasal 17 ayat (1b) UU No.

yang dihitung dengan menggunakan tarif pajak (peraturan pajak) yang berlaku atau yang telah secara substantif berlaku pada tanggal neraca. maka atas penyajian Pajak Tangguhan tahun 2008 harus dilakukan penyesuaian sesuai dengan pengaturan dalam PSAK No. Apabila pemulihannya diperkirakan dalam jangka waktu setahun atau kurang.diatur lebih lanjut bahwa mulai tahun pajak 2010 tarif yang berlaku diturunkan lagi menjadi 25%. PSAK 46 Akuntansi Pajak Penghasilan (Reformat 2007) dalam paragraf 29 mengatur bahwa kewajiban (aktiva) pajak kini untuk periode berjalan dan periode sebelumnya diakui sebesar jumlah pajak terutang (restitusi pajak). Apabila tarif pajak (dan peraturan pajak) baru telah diumumkan oleh pemerintah. Paragraf 32 menjelaskan bahwa apabila tarif pajak yang berlaku berbeda untuk tingkat laba fiskal yang berbeda. 36 tahun 2008 ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2009. UU No. Hal ini didasarkan pada keterkaitan dengan klasifikasi aktiva atau kewajiban yang dilaporkan dalam laporan keuangan. maka aktiva dan kewajiban pajak tangguhan diukur dengan tarif pajak rata-rata yang akan dikenakan terhadap laba fiskal (rugi pajak) pada saat perbedaan temporer membalik (reverse). jelas bahwa atas perubahan tarif pajak untuk WP Badan dari sebelumnya dikenakan tarif progresif menjadi tarif tunggal yang mulai berlaku sejak 1 Januari 2009. Selanjutnya. dalam paragaraf 31 dijelaskan juga bahwa aktiva dan kewajiban pajak. dihitung dengan tarif pajak (dan peraturan pajak) yang telah berlaku. Kemudian. Penyajian Pajak Tangguhan Di NeracaAkun pajak tangguhan dilaporkan dalam neraca sebagai aktiva pajak tangguhan dan kewajiban pajak tangguhan yang diklasifikasikan sebagai jumlah lancar neto dan jumlah tidak lancar neto. Sedangkan paragraf selanjutnya yaitu par. Dari uraian di atas. maka dapat dianggap bahwa tarif (dan peraturan) tersebut telah secara substantif berlaku [walaupun berlakunya tarif (dan peraturan) tersebut secara efektif mungkin saja masih beberapa bulan sesudah pengumumannya]. 33 mengatur bahwa aktiva dan kewajiban pajak tangguhan harus mencerminkan konsekuensi pajak untuk pemulihan nilai tercatat aset atau penyelesaian kewajiban yang diharapkan perusahaan pada tanggal neraca. dalam paragraf 30 dijelaskan bahwa aktiva dan kewajiban pajak tangguhan harus diukur dengan menggunakan tarif pajak yang akan berlaku pada saat aktiva dipulihkan atau kewajiban dilunasi. 46 G. Dalam hal tersebut aktiva dan kewajiban pajak harus dihitung dengan tarif pajak (dan peraturan pajak) baru yang telah dinyatakan berlaku. Klasifikasi apakah masuk dalam akun lancer atau tidak lancar tergantung psda antisipasi jangka waktu pemulihan atas perbedaan temporer tersebut 1. baik yang bersifat kini maupun tangguhan. maka diklasifikan sebagai akun lancar . yaitu dengan tarif pajak (peraturan pajak) yang telah berlaku atau yang telah secara substantif berlaku pada tanggal neraca.

Apabila pemulihannya diperkirakan dalam jangka waktu lebih dari setahun. 2. Bagian Pajak Tangguhan (bagian yang diperhitungkan sebagai beban pajak. Pajak kini (Pajak Penghasilan terutang). atau perubahan saldo pajak tangguhan dalam tahun yang bersangkutan. Sebelum disajikan di naraca antara aktiva pajak tangguhan dengan kewajiban pajak tangguhan dilakukan offset (saling menghapus) terlebih. Pajak tangguhan ditambah dengan Pajak tahun ini akan diperoleh jumlah beban pajak kesuluruhan. yang dihitung berdasarkan perbesaan temporer dikalikan dengan tariff) Pajak kini atau PPh terutang dihitung berdasarkan Penghasilan Kena Pajak dikalikan dengan tariff orisinil. harus dipecah atas dua komponen. yaitu 1. sedangkan Bagian Tangguhan berdasarkan perbedaan temporer dikalikan dengan tariff orisinal.2. maka diklasifikasikan sebagai akun tidak lancar. Sedangkan antara akun lancar dan akun tidak lancar tidak dapat saling mengoffset H. Penyajian Pajak Tangguhan di Laporan Laba Rugi Beban / keuntungan Pajak Penghasilan yang disajikan dalam Laporan laba rugi. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful