Þage | 1

PENDAHULUAN

Negara Indonesia dahulunya merupakan negara yang menganut sistem pemerintahan secara
sentralisasi yang disahkan dan diberlakukan berdasarkan UU nomor 5 Tahun 1974. Dari
sistem pemerintahan ini ingin dicapai beberapa hal yakni berkaitan dengan strategi
pembangunan yang menginginkan adanya eIisiensi yang memacu terhadap pertumbuhan
ekonomi yang sesuai dengan paradigma pareto-optimal. Beberapa hal telah tercapai lewat
sistem pemerintahan ini namun masih terdapat beberapa kendala untuk mencapai tujuan
terhadap pertumbuhan ekonomi dikarenakan Kelemahan dari sistem sentralisasi adalah di
mana seluruh keputusan dan kebijakan di daerah dihasilkan oleh orang-orang yang berada di
pemerintah pusat, sehingga waktu yang diperlukan untuk memutuskan sesuatu menjadi lama.
Kelebihan sistem ini adalah di mana pemerintah pusat tidak harus pusing-pusing pada
permasalahan yang timbul akibat perbedaan pengambilan keputusan, karena seluluh
keputusan dan kebijakan dikoordinir seluruhnya oleh pemerintah pusat.

Untuk mengatasi permasalahan diatas maka dibentuklah sebuah sistem pemerintahan yang
baru yang dituangkan dalam UU nomor 22 tahun 1999 dimana sistem pemerintahan berubah
dari sistem sentralisasi menjadi desentralisasi atau lebih berpusat kepada pemerintahan
daerah atau yang sering kita kenal sebagai otonomi daerah. Dengan perubahan sistem
pemerintahan ini, orientasi pembangunan dirubah menjadi Iokus terhadap kemandirian dan
keadilan terhadap suatu daerah yang dulunya Iokus terhadap eIisiensi dan pertumbuhan saja.

Desentralisasi adalah pendelegasian wewenang dalam membuat keputusan dan kebijakan
kepada manajer atau orang-orang yang berada pada level bawah dalam suatu struktur
organisasi. Pada saat sekarang ini banyak perusahaan atau organisasi yang memilih serta
menerapkan sistem desentralisasi karena dapat memperbaiki serta meningkatkan eIektiIitas
dan produktiIitas suatu organisasi. Pada sistem pemerintahan juga tidak lagi menerapkan
sistem sentralisasi, melainkan sistem otonomi daerah atau otoda yang memberikan sebagian
wewenang yang tadinya harus diputuskan pada pemerintah pusat kini dapat di putuskan di
tingkat pemerintah daerah atau pemda.

Sepuluh tahun penyelenggaraan sistem pemerintahan otonomi daerah telah menghasilkan
banyak kisah sukses (seperti inovasi dalam pelayanan administrasi, perbaikan pelayanan
kesehatan dan pendidikan, serta insentiI untuk investasi yang menguntungkan masyarakat).
Þage | 2

Namun diluar itu, terdapat pula cukup banyak kisah buruk penyelenggaraan otonomi daerah
dibeberapa daerah. Pertama, pelayanan administrasi (misalnya izin mendirikan bangunan,
izin usaha dan lain-lain) yang tetap lamban. Kedua adalah pemungutan retribusi atau
sumbangan wajib untuk pengangkutan barang lintas daerah yang membebani pengusaha dan
masyarakat. Ketiga adalah kebijakan pemerintah daerah (seperti kebijakan tata ruang, aturan
proses pelayanan administrasi dan lain-lain) yang tidak transparan dan sulit diketahui
masyarakat.

Kelebihan sistem ini adalah sebagian besar keputusan dan kebijakan yang berada di daerah
dapat diputuskan di daerah tanpa adanya campur tangan dari pemerintahan di pusat. Namun
kekurangan dari sistem desentralisasi pada otonomi khusus untuk daerah adalah euIoria yang
berlebihan di mana wewenang tersebut hanya mementingkat kepentingan golongan dan
kelompok serta digunakan untuk mengeruk keuntungan pribadi atau oknum. Hal tersebut
terjadi karena sulit untuk dikontrol oleh pemerintah di tingkat pusat. Selain itu pengaruh
pemerintahan yang terdesentraliasi juga sampai kepada perekonomian Indonesia khususnya
terhadap dunia bisnis yang menjadi salah satu penggerak roda perekonomian bangsa. Hal ini
akan menjadi Iokus pembahasan dalam makalah minor ini.

PERUMUSAN MASALAH

Otonomi daerah telah melahirkan sejumlah kisah sukses dan juga sebaliknya setelah sistem
pemerintahan ini diberlakukan. Sorotan utama ditujukan terhadap permasalahan yang terjadi
selama sistem ini diberlakukan sampai sekarang. Implikasi terjadi dalam banyak hal misalnya
saja seperti implikasi terhadap kebijakan pendapatan daerah, di sektor kehutanan khususnya
terjadi kebijakan yang tidak sinkron, tumpang tindih kewenangan, lemahnya koordinasi dan
sampai pada ketidakadilan dalam pembagian sumber daya hutan. Selain itu, dalam dunia
bisnis juga terdapat implikasi permasalahan dari sistem pemerintahan ini.

Dari beberapa hasil penelitian, implikasi-implikasi ini dinilai terjadi karena kebijakan
otonomi daerah yang diberlakukan tanpa persiapan dan sosialisasi yang cukup dibawah
undang-undang no 22/1999 tentang pemerintahan daerah. Kondisi ini menimbulkan sebuah
kecenderungan dimana persaingan yang tidak sehat akan terjadi serta ketidakadilan yang lain
terkait dengan satu daerah dengan daerah yang lain. Dari hal ini perlunya peninjauan kembali
mengenai otonomi daerah perlu dilakukan agar tidak muncul-muncul permasalahan-
Þage | 3

permasalahan yang lain dari sistem desentraliasi yang salah pemanIaatannya oleh satu
pemerintah daerah terkait juga dengan pemerintah pusat.

PEMBAHASAN:

a. MPLAS DESENTRALSAS ATAU OTONOM DAERAH TERHADAP
DUNA BSNS

Dalam bidang ekonomi khususnya dunia bisnis, terkait dengan pelaksanaan otonomi
daerah dapat kita lihat dari aspek izin usaha yang berlaku. Pada umumnya, untuk
memperoleh perijinan usaha, seorang pengusaha harus mengeluarkan biaya sekitar 3
atau 4 kali dari biaya perijinan yang ditentukan. Hal ini dinilai sangat memberatkan
para pelaku usaha karena surat ijin harus diperbaharui setiap tahun dan memerlukan
beberapa klariIikasi dari beberapa pejabat yang berwenang, yang biasanya
menyebabkan perlunya biaya tambahan. Birokrasi yang terkesan sangat rumit
menunjukkan bahwa kondisi sistem pemerintahan desentralisasi yang tidak eIektiI
dan memakan banyak waktu akan mempengaruhi animo dari pengusaha itu sendiri
dalam menjalankan usahanya. Hal ini terjadi karena perijinan tidak transparan, mahal,
berbelit-belit, diskriminatiI, lama dan tidak pasti, serta tumpang tindih vertical (antara
pusat-daerah) dan horizontal (antara instansi di daerah). Akibatnya, minat pengusaha
terhambat untuk mengembangkan usahanya.

Regulasi daerah, terutama yang berkenaan dengan perizinan usaha dan pungutan, baik
pajak, retribusi, maupun bentuk-bentuk pungutan lainnya seperti sumbangan pihak
ketiga (SPK), mempunyai keterkaitan langsung dengan penciptaan iklim usaha di
daerah yang bersangkutan. Permasalahan yang lain implikasi dari otonomi daerah
karena dijalankan dengan tidak sesuai terhadap dunia usaha dan perkembangan
perekonomian disuatu daerah adalah pemungutan retribusi atau sumbangan wajib
untuk pengangkutan barang lintas daerah yang membebani pengusaha dan
masyarakat. Dilihat bahwa sumbangan wajib ini dapat menjadi bumerang tersendiri
bagi PEMDA setempat karena dinilai pajak pungutan yang diberlakukan terlalu
banyak. Hal ini dikeluhkan oleh beberapa pelaku usaha karena biaya-biaya tersebut
menambah biaya produksi tanpa meningkatkan nilai tambah dari suatu usaha yang
sedang dijalankan. Pernah dikemukakan oleh Mantan Menteri keuangan Ibu Sri
Mulyani bahwa banyaknya pungutan daerah yang bermasalah khususnya dalam dunia
usaha sebagai konsekuensi dari pemberian kewenangan untuk menetapkan pajak dan
Þage | 4

retribusi, serta banyaknya daerah yang tidak menyampaikan perda kepada pemerintah
pusat karena tidak adanya sanksi dan sistem pengawasan yang bersiIat represiI. Perda
mengenai pajak sumbangan wajib barang lintas daerah ini mengakibatkan biaya
ekonomi yang tinggi karena hal ini dianggap bahwa perda tersebut mendistorsi
aktivitas perekonomian. Retribusi yang biasanya terkesan sangat tinggi semata-mata
sangat membebani para pelaku usaha karena hal ini hanya mebebankan pungutan dan
mengabaikan kontraprestasi berupa manIaat langsung bagi pembayar retribusi.
Adanya kondisi seperti ini akan menghambat lalu lintas perekonomian suatu daerah
dengan daerah yang lain apabila tidak dilaksanakan secara wajar dan tertib. Pungutan
yang berlebihan terhadap berbagai kegiatan ekonomi masyarakat sangat berpotensial
menimbulkan ineIisiensi dan ekonomi dengan biaya yang cukup tinggi dan dengan
adanya pungutan-pungutan ini, pemda menjadi tidak konsisten dalam upaya
mendorong peningkatan investasi di wilayahnya.

Hal lain terkait dengan otonomi daerah yang mempengaruhi dunia usaha adalah
kebijakan pemerintah daerah (seperti kebijakan tata ruang, aturan proses pelayanan
administrasi dan lain-lain) yang tidak transparan dan sulit diketahui masyarakat.
Implikasi yang diberikan terhadap dunia usaha dari masalah ini adalah banyak pelaku
usaha yang akhirnya tidak berminat mengembangkan usaha karena tidak adanya
kejelasan akan kebijakan-kebijakan ini. Misalnya saja kebijakan mengenai tata ruang
wilayah yang dianggap menjadi cost usaha karena berimplikasi terhadap kebijakan
investasi. Ketidakpastian tata ruang berimplikasi pada ketidakpastian hukum dan
adanya tumpang tindih izin pemanIaatan lahan yang rumit dan high cost investment.
Koordinasi kebijakan diperlukan untuk kepastian jangka panjang dan menjamin
waktu pengembalian modal bagi para investor. Selain itu juga tidak ada jaminan bagi
investor atas kepastian harga apakah market price atau regulated price. Ia menyetujui
jika perlu ada penguatan kelembagaan bidang pertanian, termasuk adanya dukungan
kebijakan yang menjamin kegiatan investasi jangka panjang yang berkesinambungan.
Selama ini masih ada persepsi lembaga keuangan bahwa investasi usaha tanaman
pangan memiliki risiko yang tinggi, terutama karena ketidakpastian kebijakan.
Apalagi sampai saat ini investor kesulitan untuk memperhitungkan Ieasibility
investasinya. Misalnya juga proses pelayanan administrasi terhadap izin buka usaha
yang terkadang tidak jelas membuat animo setiap pengusaha untuk membuka
usahanya menurun karena aturan administrasi yang berbelit-belit.
Þage | 3

-. REOMENDAS TERHADAP PEMERNTAH DAERAH DAN PUSAT


Melihat kembali sumber perasalahan dimana pada waktu itu koordinasi pemerintah
pusat tidak terjadi berjalan dengan baik karena hambatan datang atau bersumber pada
salah satu ayat dalam UU No. 22, 1999 yang menyatakan bahwa setiap daerah
otonom berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarki satu sama lain.
Pembuatan peraturan oleh satu kabupaten atau kota cenderung tidak mempedulikan
akibatnya terhadap kabupaten atau kota lain. Objek yang sama dapat dikenakan
pungutan baik oleh perda propinsi maupun perda kabupaten/kota. Dari permasalahan
ini, dapat diambil kesimpulan bahwa pemerintah dan pusat sebaiknya mengkaji
kembali permasalahan mengenai otonomi daerah yang juga ada hubungannya dengan
dunia usaha dan bisnis.

Sistem otonomi daerah berkaitan dengan regulasi terhadap suatu daerah yang
berkaitan dengan kelangsungan kehidupan dari daerah tersebut termasuk dari segi
perekonomian suatu daerah. Regulasi yang tepat guna dan penerapan akan
menghasilkan sistem usaha dan pergerakan dunia bisnis didaerah tersebut akan
semakin bergairah dan terus bertumbuh. Oleh karena itu regulasi ini perlu ditegakkan
dan dilaksanakan secara tegas. Di samping itu, perumusannya perlu melibatkan
pengusaha kecil dan asosiasi-asosiasi seperti UKM. Dengan demikian, pengurusan
ijin usaha akan menjadi sederhana menjadi memberi lingkungan yang kondusiI untuk
pengembangan dunia usaha. Otonomi daerah harus mampu menghasilkan
penyederhanaan perijinan usaha yang mendorong para pelaku usaha kecil maupun
menegah untuk memilikinya. Dengan demikian penerimaan pemerintah dari sektor
usaha dapat meningkat. Di samping itu, hal ini juga bermanIaat meminimalkan
transaksi illegal yang sering terjadi dalam upaya menekan biaya pajak. Implikasi yang
lebih luas, untuk meningkatkan daya kompetisi usaha masuk dalam lingkungan pasar
global, perlu diusahakan semacam pelayanan terpadu (UPT).

Perlu adanya penguatan kelembagaan bidang usaha dari sisi pertanian, usaha kecil
kerajinan dan lain-lain termasuk adanya dukungan kebijakan yang menjamin kegiatan
investasi jangka panjang yang berkesinambungan. Selama ini masih ada persepsi
lembaga keuangan bahwa investasi usaha apapun itu yang terdapat disuatu daerah
Þage | 6

memiliki risiko yang tinggi, terutama karena ketidakpastian kebijakan. Apalagi
sampai saat ini investor kesulitan untuk memperhitungkan Ieasibility investasinyaŦ

Terkait dengan masalah retribusi atau pajak terhadap distribusi barang terhadap suatu
daerah harus semakin diperjelas. Oleh karena itu kontribusi suatu industri atau usaha
di suatu daerah seharusnya tidak dilihat hanya dari sumbangannya kepada kas pemda,
tetapi harus dilihat dari perspektiI yang lebih luas. Dengan kata lain, tidaklah
seluruhnya benar apabila pemda mengatakan bahwa pengusaha 'harus¨ memberikan
kontribusi dana kepada pemda. Sebab, dengan menciptakan lapangan kerja pada
hakekatnya pengusaha telah memberikan kontribusinya kepada pemda dalam bentuk
mengatasi pengangguran.

.. REOMENDAS TERHADAP PARA PELAU BSNS TERAT DENGAN
OTONOM DAERAH DAN DUNA USAHA

Hal-hal yang dapat direkomendasikan terhadap pelaku bisnis terkait dengan
permasalahan otonomi daerah adalah para pengusaha mungkin tidak perlu langsung
mengalihkan investasi mereka ke tempat lain namun juga turut ambil bagian dalam
meluruskan kebijakan-kebijakan terkait otonomi daerah dan dunia usaha misalnya
dengan mulai secara kritis melihat setiap kecenderungan-kecenderungan yang
terkesan lambat laun akan membebani dunia usaha, dan pada akhirnya menghambat
upaya mengeIisienkan perekonomian. Gabungan Pengusaha Perkebunan (GPP) Jabar,
misalnya, mengirim surat keberatan kepada gubernur atas pungutan yang
diberlakukan oleh beberapa kabupaten di Jabar yang meningkatkan biaya produksi
tanpa memberi nilai tambah atas produk perkebunan. Tidak hanya pengusaha yang
merisaukan kondisi tersebut, tetapi juga bisa dari lembaga internasional.

Pengusaha sektor apapun itu dapat mencoba mempengaruhi pemda untuk membuat
pengaturan tata niaga yang jelas tentang bisnis dan usaha di daerah tersebut. Misalnya
Para pengusaha dapat meminta agar pengusaha daerah tertentu hanya menjual
produknya kepada pabrik di daerahnya saja ataukah para pengusaha ini mendirikan
satu asosiasi bisnis dan usaha yang didalamnya dapat berperan serta untuk
mengembangkan peraturan daerah tersebut terkait dengan dunia usaha dan bisnis
tersebut. Masyarakat harus sadar bahwa mereka seharusnya merupakan bagian dari
kepemerintahan. Meski UU No.22/1999 tidak membahas rinci partisipasi masyarakat
Þage | 7

dalam kepemerintahan dengan mengambil inisiatiI untuk mencoba berpartisipasi
dalam lingkup kegiatan seperti perencanaan pembangunan dan rencana-rencana
strategis lainnya bagi daerah. Masyarakat pengusaha dapat menjadi lebih aktiI dalam
menuntut kinerja yang lebih baik dari pemerintah daerah, begitu pula akuntabilitas
dan transparansi di tingkat lokal. Kerangka desentralisasi ini dipandang sebagai
peluang yang lebih luas bagi masyarakat madani untuk berpartisipasi dalam proses
penentuan kebijakan.

ESMPULAN

Desentralisasi merupakan ide pemerintah untuk memajukan bangsa Indonesia dari berbagai
aspek termasuk dari segi perekonomian. Salah satu tujuan kebijakan desentralisasi dan
otonomi daerah adalah memperbaiki pelayanan pemerintah kepada masyarakat agar lebih
eIektiI dan eIisien. Di dalamnya termasuk pula kebijakan dan pelayanan agar dunia usaha
dapat berkembang ke arah yang lebih kondusiI. Dengan terciptanya kondisi yang kondusiI,
maka dapat diharapkan adanya peningkatan aktivitas perekonomian yang pada gilirannya
dapat meningkatkan taraI hidup masyarakat. Jika kondisi ini tercapai maka salah satu esensi
sasaran pelaksanaan otonomi daerah telah tercapai. Kebijakan-kebijakan serta peraturan
daerah yang jelas perlu diterapkan agar transparansi terhadap semua kebijakan ini dapat
dicermati dan memberikan kepercayaan terhadap pelaku usaha untuk menjamin bisnis dan
usaha mereka sehingga gairah bisnis dan usaha semakin meningkat secara lebih eIektiI dan
eIisien.













Þage | 8

REFERENS

http://organisasi.org/deIinisi¸pengertian¸sentralisasi¸dan¸desentralisasi¸ilmu¸ekonomi¸man
ajemen

http://www.ciIor.cgiar.org/publications/pdI¸Iiles/Books/BNgakan0701.pdI

http://www.smecda.com/deputi7/Iile¸InIokop/otonomi°20ukm.htm

http://www.slideshare.net/PKP2AIIILANSamarinda/kajian-tentang-evaluasi-kemampuan-
penyelenggaraan-otonomi-daerah-di-kabupaten-kota-pemekaran-di-kalimantan-timur

http://www.smeru.or.id/report/Iield/otdaiklusahajabar/iklimusahajabar.pdI

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id÷145102

http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/4063253.pdI

http://bataviase.co.id/node/99716




-838.3 ../ ..3  $0.8 /.3.3/5:8.7.3 :8:83.3 8:9 /09.55072.3  25.::5-. -838:.3 -08.3.3  ...9/5:9:8..7.25.33   .8 25...7.-:39:503..3 0-.::5 /-..3 3/4308.8907.28...9.3 .3/..75020739.35.8..9:50307.39/.3./.3 /.3494342/. 05.3 .2.35020739.9:7.3..8 :.83743 9:25..3203.85072.2-.3 909.3 :3/.7:.3 88902 3 .07. 5078. 3 203/7.3.3 34 .5 0-.703./ 80.3 848./.3/.07.3 9:  /.8:808 /./.393/ 003.3/.339.9 050393.85.39./.3.. 8..7. 90. / /. 003.3.925.8.3/. 447/3.80.703.3 /. :9.07.3. 2020393.7.7: 5020739.07.3  02./.3 /.. . :8:83.3.: 8:2-. 5.//././. 80-./ .  50.0-.5 .8907.8/../.0:147.9 . /:3.22. /-0-07..3  0/:.8 50309.5..2-.8./14:8502-.3:3.3 503/. 502:3:9.385.7.2.494342:8:8:39:/..33/-07.3 -.25.3 /-07.3 202-0-..7889025020739.8.3 9: 503.3 . 907.8.8.907/.3 ..5.3 -07.8../..3-././.3 9.-:7:503003... :3/.8 3 /3.3. 8.3..35. 8.8090..3 494342 /.50704342.3 -070-.3 :.9.2 502-. 8:9 :39: /43974 40 5020739.3.3 80:2.3...3 443.3 9/./.07.3 57-.788902/080397.8 .8.9 09.. 09/..3 04254 8079.3907.. .5.:..3 25../../ 0-. 907.9   00-.07.3 /.3 574808 50.9  $0.3 2.38.2:3 0:7.:..07.5.5.07.23473   !#&&$$  94342 /./ .8/...8..3 8.3 907/080397..7 05:9:8. /.5/:3..9.80507925.9.95:..3 7097-:8 .3503:8.9.3 .3 /.3:9.79: 907/.  !079.8 28.3 $4749.3 .2 /:3./. 97.07. /.88902 5020739.3.: 43:2  .3  3 :8.3 .25.5.5. 0-.80-./23897. 907.38.3.3 8:2-07 /.889023/-07. 90780-:9 907.. /.3203.:.9 5:8.3907.3 .3 .3:9.3 90780-:9 .7 -0-07.2.3 / 2. ..3 :39: 20307: 0:39:3...  / 80947 0:9. 50704342.3 ./9::.25:79.2:3/:.3//./.3-..07..3.7.3. 20.3  . .3. 8050790-.3 .: 2.3 /.74/./23897. / 93../8.

39/. 507: /.. 2:3. 9039.3.:. 0.3/2.:.3507:3.3.9/03.3 907..07.07.38.80./03.3./8079.5033.3 5020739. 494342 /./.3 9f– $  . 20303.09/.  43/8 3 2032-:.3 /.: 5072.07..302-.7.3 80-:.3 ..3 .9:/.9.3907.3.8.7 9/.3..3.3/..: 2:3..07.03/07:3.5078.

3. -. 5:3:9.3 -.3 -. 2030-. .  23.2 -/. ..3.35020739.8.5.3.3 907.3 5.3  !072.80-.8.3:39: 20309.. .3:8..2-. /:3.07.: 8:2-. -.3 50.5.07... /02:..89 8079.3 -.5:3:9.07./.:5:3 -039: -039: 5:3:9. /.. :2:23. 5:8. 01091 /.3907.3:8...9: ..3.7 503:8.7:809.5.8.8 .703. /3. .3.93 .3 40 -0-07.3 /03.   #0:. -.38:3 /03.7 .9 .3 .39.07.5..8 . 5.3 494342 /..3 ..8.7.2203.59.3 /. 907:9.59.. 40 8.  :39: 20250740 5073.3.5 /:3.39.3 2.9..3 .  !$ $%#$$ %& %   # %#! &$$  .3 . 0907.3-072.3.2-.3003.3 7097-:8 ..3 507:3.3 -.079.703.3 20207:. .:.3 ..3 .9. 574/:8 9..:  !.. 8:7. /..7.3..385...2-.3:9.9 . 502:3:9..9 7:29 203:3:.93.3 503:8. -.7..3.07. 8..-.: :8.9 203.3 /9039:.324 /. ..850 3 :8.9:25.3 -078.8 /.3 :8.2.: -.9.35:3:9.3 907803/7 -.7502-07.8.3 202503.8.33. 9.3:9. . .9 -. $!  2025:3./.2...7.. .2/:3.8 /. 9: 803/7 /. /.5.9 /.91 . -838  907. /.9. 09.3 9f– $  ./.3 /080397. .7: ./.703.7:8 2030:.:8:83.. 809./.389.3.- :39: 503.3 9/. /.3 03907 0:.7 8:.8/.3. 907.3.35073.9   !$  .393/.5:8. /.3  747.3 2.7 -0-07.3 503. ..3-0703.8 /. 9.5.33.5072... 8047.3.3.... 50.9 /.9 /03. .3 /. ! 809025.38//..3 -.3 3. 907.7 -.3 .:  .3 .8.3 04342 :8:83.39/..7 494342 /. . 50.3/.  -07-09 -09 /8723./.35.9: /.3. 5073.703./ -:207.  .31.3.3 -0703.5.3 8.07.3 90708..2-.07./..3 /8:.3 202-0-..: :8.3-.3 39.3 50702-.7.3 80/.3 -07..9: :8.7:8 /507-.3 40 . 3 /3. 502.4380:038/.9: 5020739. 90780-:9 203.3 8..9503:8.39.7.7. ./.907. /.. 805079 8:2-. 808:.07.7 88902 /080397.3 25. 2033. / /.35.  7097-:8  2.3 .97.3  .3 /-07. -.-./03.3:8. 5..3 9/..9. 50. 3 /0:.71.3.3 5.:3 /.9.3..3 .3 -.9:.07.9 202-07.3  !073..9  ...703. :8.3  ..3 2 :8.3..347439. :8.3 -: $7 :.9:39:20302-.3 -0-07.. 43/8 88902 5020739.3 50704342.3.9 9..3 202. .8 . 8:2-..3 503:8.-.39/.5073.3/03.- 3 /..7 ./.07.

089.3 .3.8.-.7.7: /:3.8-9 3. 7:. .3..72.30-.3 93  907:9.07. /03. /::3. 503:.5 -.9: /.3.8 /.3..9/.3 ...3-07-09 -09  9f– $  .20-0-.3.3 ..7/.::5 93 /..50.8  09/.8./. ...9. .9.3.3 /.89.90/57../.3907.5020739.7. 90780-:9 203/89478 .  8.703..3 5020739.83./ 9/. /. 203/47435033. 9/.9 /03./23897..203:7:3.9.3. 0:.38:3 -. -0725.8 . 2.7:. 43/8 805079 3 .-.3./. 2032-:.3507/. 9. 574808 50...8.8.9 20302-.. . :8. 3.5.3/-07.3 .3 20303.3 3  502/..3.9 .089.3./.9202-0-.703.8 50704342.57089. 8. 5..3 574808 50.38/./...3.3.9..3 -.2-.5 203.3 907.3.3 /03. 20303.07./.0-.2 :5. . 8..9.3.9.3 4397.3.9/.3..9.9  25. . 0.3 -./.50.3 0-.8: .5./.3 /507:..3.33.. 5078058 02-.0.35.8.3 203.8.3 10.89.703. 00.507:.3 8:.0 .5 0-.3 /.8 :8.3 :8.8. 9/./23897.9:50302-...3-07083./.9./.3 -0725.9. 3 2.- -.3 .3 . .8 202-:./.8/.8 /. 8.9.3 .89.3.8 -07:5.3 93 .3 -./. 3 203.9. 97..9.3907.3 9/.089. 0-./ . 5:3:9. 3.3 9/.4893. . 8:2-.8.385..3.3 ....25.230.2..3 04342 2.31. 4388903 /.7097-:8 8079. 507/.3.3./.39::..5.0892039  447/3.5 3 -:. 5.39/.3 907.2..3 8.7.489 :8. .2.-./..9.9 3 3.3 /. 7:.2. 0.3..3.703.380./.07. 502-.3 -070-. 3 /.3  #097-:8 .3 494342 /.9.3 202503.::8.3 203.9.3 9.8.3 9.5.9/.9. 203.9 .9 93 802.: :8.89.: 2..7. 09/./.3.3 ..3/.3.3.33.05.89.8 907.3.3 5..3  ./23897.08947 $0.3.3  5.3 :39: 2025079:3..8 50704342.8 0-.98. 5:8. :8.5..3.3.3./.7.8.25.5..3  .9-07549038.3 0-.7 7097-:8  /.3.7..3  $0.3 002-...3.703.3.3..3203.08947..3 3.3.39079- !:3:9.3 0-.. 805079 0-.70957..3.5/:3.23 .5 503:8.3...3 ::2 /.: 39.3.393/3502.203.5-07-.20309:: .07.3 5:3:9.089./..3/..9:7..3.805.3 . -0723. :8.08947 08:9. :39: 202-:.73..97057081 !07/.3-0781. 09/.:8.324 809. 90708.3 04342 /03.2-:3.9:7.. ..-.3.3 .8 907.3 .3 203.3 39.8.3 3018038 /..3.9.703.388902503.703..37:29/.3 8:9 /09.3.   . 04342 .3-.3.3 -/.23.9:25.3.3 5079.3 .35:3:9..7..33 8. . ..31.8 5.5./.3 9072.3.07...089.8..07.7..3 :39: 05.:70:.3 202 784 . 2. :.324/.-.9 .3 -./..-.3.

3-..5 /.:-078:2-075. .40507/. 494342 -07/7 803/7 /.-:5.3 203.2.9: 9: 447/3. 20250/:..5 .93.3 07.703. 2025:3. .903 .9: ./.3 /2.2-..3  !02-:.2 && 4     ..-.8.574538 2.-:5.07..9. 5:8. 8:2-07 507.9.99/. 5.3/03.9 02-.903 .3 .3.9..3/.9.907..3 8.9 /03.3 9/.903. 8.9: 8.03/07:3 9/.. :-:3. .3 5:3:9.3 507./-07.-:5../.9 /.9: .3  -0 . 907.9:7.3.2. /.-  # $%#!!#%#!&$%   0.: 49.:5:3507/.. 8.9. 809.9.8 5020739.9.: 49.. .7 8.3 40 8./.5.3-..3 -.

.3 /:3. 507:/:8.: :8.07..3.8...3 203.3 802.8: /./.8 ..3/.3 5:8...2-:3. 2.3.39072.. 90.3/...9: /.089.30-.3 -07.3. 5020739.. .3 -.38:3.3 /03. /.35.:-:3.8 :39:2033.7 80947 :8.3  $0..//. 3 :.203.703.8.3.. 3 2.3.230... 0:./.3.9 2033.3 /02..8:/.9 20232. .3 3  /./::3..2:5.8.07.2.5.80..3203.3.9 /8:. /.3  503:7:8. 50.3 0./80/07..3 8:.8.9: /.8 :8.83507:/90.3907:8-079:2-:  0.3 /.3 /.3 905.38073907.2- 0825:./.2030.5./. .3 .9 :3..3-838   $8902 494342 /.7.38.250..07./.3 -/. 5078058 02-.9:70:.8. /.8.9.33.3 :8.5.3 002-.9./.3. .07. /.5.33. -838 //.75072.. . /../202-073:3.3 3.3 5020739.8   8.8:...3.3-07. /./03.7 80 50704342.8 .425098:8.3 0/:5.3203.5 8:.343/:81:39: 50302-.9.5..253 9:  . 90780-:9 9072. 503:. 5.7..848..49.2..3 503:8.3.3:.9 80-.7.3 503072.3 50307.:8.07.5:3 9: .494342/.7:8 2. :8.089.5072.8 907.3..8 805079 &  03.3 /:3..3..9. 02-. -072. 0..9..3.3 97.07.3 /:3..3.3 50707.3.3 80.3 -..3 .3 907/.253 9:  507:2:8.9. /.9 /.25: 203.3-.39075../.3 :8.. 07.3 0-:.  #0:.  03. 507: 20-...3.... 0.3802.3  :8.:5:3 2030.7 4-.5..7 88 5079.3 ..23:3. 0.3 /.3 /02.07.07.9: /.3 5073./: &!%   !07: .. 203. 3.3 88902 :8.8 .3 3:8.8.3 70:.3 .3 /03. 9f– $  . 25.. 90780-:9 ..7 /.  94342 /.320303.3 203/4743 5. :39: 2023.848.3 -07083.8 .3 5030/07.31.9   8. -07.

9:/.3 ..3.. 80..3:7. 05.343/890780-:9 909./.8 5:3:9..8  0.::8.3 07.7.7:8  202-07.9:4397-:88:./.8 2070...7.3 . /.702-.9..93.2-./..3-838/.  /. 5./..3 2:.9.3 8079.3 494342 /.3907.73..3 0-.9 . 05.5.3.  # $ %#! !# !& $$ %#%  %  #&&$  .8. .7097-:8. 5..089./.05.903 / .7:8802.35.8 574/: 5070-:3. .3  9/.3 93  907:9..3 5072.7:8 8.3.7. . 503:8..: -838 907.9.7:8 /..703.3../.8. 502/.5:.9:7. :39: 202-:.3 05.7 50785091 .58:.9 :5.9 .83.907.933. 798 20..07. /.089. 80947 . 28. 0 9025.9 /704203/.502/.-:5.9 503.80.9.9. /.:.3 /./.848.20301803.3 /. :8.-7 / /.3 0- :..7:83.9 0-07.:.7 503:8.3:8. .3 08&&4 .8. 09/. 503:8.3 202-0-. 207:5.. 574/:3.3 5...9 /.07..5:3 9: /..2 -039: 203. -03.3 0-.5 0. 5.9./.5.3 /. 8..703.:5.9/03.3 -838 90780-:9  .78:2-. 9:7:9 .3 3.07.3.2 20:7:8..202 784 .3/5070. 202503.:.03/07:3. .. 9079039: .89.59.  909..2.3 !! ..3 .3  %/.4-.23. /03...90780-:9 8.3 507.7:83.5 50. 203.3.7  28.  $0-. .8 -838 /...   !03:8. 503:8. /03. 203:.39073./.7.2-.!070-:3..3 //. .3 :8.9 203..9 /03. 9.3 /:3.90..9 .3.3 90708.3 /:3.3 .3 2033.07. 80.//.8-93.7: 502/./. 507: .3 /-07. 574/:8 9.9/.3   .9 20239. 202-07 3.38:3 203.8. 503:8.2-..9 809.07.:3 . 202-07.3 8.7 .2- -. 5.5.3 203. 05.3!03:8.07.3. .3 4397-:83.3 -.350704342.3 4397-:8 /...-.3 907.9.3 2078.2:3 :.3 0-.3:39:2025079:3. /8:.33./.3 ..7.03/07:3.-:3./.9: /.9:3/:897.3 -.. 90780-:9 907.843. 203. :8.5.7.310. ..32.3. 2:33 9/. .9.   %07. 3 203/7. :39: 20302-.9...5.9 /03. !.3 /:3..../../. 80:7:3.3 40 -0-07.3 3.7 05020739.3 /.3.-8. /.0894708:9. .-. 503:8.  20372 8:7.9 494342 /. 8.39.07.3. 503:8.7.8503.3  5.3 0. /.5. .9 -07507.30.9..0.9.5.8.9. . /.8502/. ..5.89039.5 ./.8  03. .9:7.7 -.5.07.. 2070. :-073:7 .3 907. 502/.25.3. :8.3 ..9: .3 -.-.5/897-:8-..

7985.9/.8 2.873.9 9f– $  .5..8. 202-.7..

.: :8. 507.. .3 :8.3 0-.7985.7. ..  -09: 5:. .5 802:.3 97.8 /..7 -07-.3 .8 /. 907.5.7 5020739.3 494342 /.07.2- 38. 2.7.980.92033.9: 9::. .  07..3 8079. :8. 50.5.3:3../.3 :8.9.3 5020739.3 .3 /03. .3/.8: /..7 0- 01091 /.7.4-. 7.30- 43/:81  03. :39: 203.3 01803   /.2 05020739.3 80-.38 / 93.9:7.9 4.. /.8. 3/4308. 2.3   $!&  080397.9 .3. 2.30-.. -838/.8.38 907.8.07.07.39.3 202-07.8.8 3 /5.-..3 50.. /.8 50704342..3 805079 50703.33.3.3.3 43/:81  2. 50:..07..3 0- -.3. 05.07.3 /0 5020739.91/.3..5.5.3 ./.3 2033.7.9.3 . /. 9072../.9..850 9072. 43/8 .3 0-..5 50./..23..7.3 .3.23 -838 /.3 /..8.7. :39: 202.3 3 /.8 207:5.9:08038 8.7 /:3. /080397.3 5.9 -0702-./..9.5.385.2 203:39:9 307... /.9503:8.802.3 907..7. /.5../.385.9..3.8 /.33.8. ...38.8 /... ...5./.9 .7.3.3 /. 2070.3 0- :.3 0507.5.2 3:5 0.2 574808 503039:.. 90.3 -.7985. .9 /.. 0-.3 /080397. /.3 703.3...803.3 907. 5033..91 :39: 203./.9 /.7. 897.:39.:.-9./. 0-.908.8.9 203.8.3 /.8..8 507: /907.8.3 .9 2.3 203..5.8.59..1/:5 2.7 80 50704342.7./0-./.072. -075.7 97.43/83907..3 0.3 01803               9f– $  .7. 8.  0-. 202507-.0- 01091 /.9 /.8: 5:.3 50.8 -.3 0 . 703.3 :39: -075..3 494342 /.3 502-.3  $.7...

##$  995.

.

47.8 47.38.

8.0203  995.3*/080397.8*/.3*80397.8*2:*04342*2.8./0138*503079.3 .

.

147 .7 47. ..

9438.5:-..

5/1*108.

448.

.3   5/1  995..

.

/. 820.42. .

/05:9.

10*31445.

494342 :2 92  995.

.

70 309. 8/08.

!!$.2.73/.

2.903 49..-:5. 5020.39.3 503003. / .7...8 02.7.3 / ..:.07.3 9039.3 494342 /.3 92:7  995.3 0.25:.

.

 8207: 47 /.

705479.

10/.

-.49/..7.:8..

7 5/1  995..2:8..-.

.

.42. 4330 .7. 8:.7.

308 92/   995.

.

:73. 5/ 5 4 /.

./23.

:73..

  5/1  995.

.

80 ..-..9.4 /.

34/0.

      9f– $  .