KomMTi – Volume : 2, No.

: 6 / Desember 2008

REPRESENTASI KEKERASAN TERHADAP LAKI-LAKI DALAM BUKU “LELAKI YANG MENANGIS” Oleh : Kusnarto1 Abstract Based on the phenomenon these days, society need to know that male could be the victin of domestic violence the perpetrator is effen female, the wive the most common domestic violense that has been dene by the wife are physic and economical abuse. And it can be gvaranfecd that it will cost everyone in the house, including the children Keyword : the violence. 1. Latar Belakang Masalah Ketika kita membayangkan seorang laki-laki yang muncul adalah sifat-sifat maskulinitas seorang laki-laki seperti: jantan, kuat, tampan, berbadan kekar, tinggi. Secara tidak sadar kita akan mengasosiasikan bahwa laki-laki yang ideal adalah laki-laki yang memiliki sifat maskulin. Bila ada laki-laki yang mempunyai sifat feminin seperti : sensitif, emosional, lemah-lembut, tidak akan dianggap sebagai laki-laki maskulin, karena sifat tersebut sewajarnya dimiliki oleh wanita. Perbedaan peran, fungsi, dan tanggung jawab antara laki-laki dan wanita seperti ini telah melekat dalam benak masyarakat yang juga dikonstruksi berdasarkan pada kepercayaan, tradisi, bahkan budaya yang ada pada masyarakat. Peran maskulin dan feminin menurut Wijaya (1991 : 156 ) disebut juga stereotype gender. Selama ini memang banyak kekerasan yang dialami oleh wanita karena wanita dianggap sebagai kaum yang lemah. Tapi banyak juga kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh laki-laki yang tidak terungkapkan karena ada rasa malu dan tidak etis apalagi dibicarakan dan diketahui oleh orang banyak, ini merupakan aib bagi laki-laki. Berdasarkan fenomena diatas membuktikan bahwa laki-laki juga bisa menjadi korban wanita. Karena sejak kecil ia sudah dididik
1

Penulis, Dosen Komunikasi FISIP Universitas Pembangunan Nasional – Surabaya.

__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

185

KomMTi – Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

untuk menjadi penakluk, tegar, jantan, kuat, tidak cengeng, dsb. Maka ketika mengalami kekerasan dalam rumah tangga ia tidak punya keberanian untuk melapor. Karena khawatir ditertawakan oleh orang banyak, sebenarnya ini merupakan haknya sebagai korban. Adanya perubahan fenomena yang terjadi pada saat ini sangat perlu untuk disampaikan pada masyarakat bahwa laki-laki juga bisa saja menjadi koban dari kekerasan dalam rumah tangga yang pelakunya tidak lain adalah wanita. Hal ini yang disebut dengan budaya matriarkhi. Budaya matriarkhi adalah budaya wanita sebagai pemimpin yang mendominasi. Sementara itu matriarkhat berasal dari dua kata yang lain, yaitu mater yang berarti "ibu" dan archein (bahasa Yunani) yang berarti "memerintah". Jadi, "matriarkhi" bererti "kekuasaan berada di tangan ibu atau pihak perempuan" (http://www.wikipedia. org/wiki/matrilineal diakses 09 Agustus 2007 19:38). Berdasarkan fenomena tersebut maka peneliti tertarik untuk melihat bagaimana penggambaran atau representasi kekerasan terhadap laki-laki dalam buku “Lelaki yang Menangis”. Unit analisis dalam penelitian ini adalah dari teks buku “Lelaki yang Menangis” yang menunjukkan adanya unsur kekerasan terhadap laki-laki, karena buku “Lelaki yang Menangis” merupakan buku kumpulan kisah nyata yang terdiri dari kurang lebih 10 kisah, maka peneliti akan memfokuskan penelitian pada Wanita Bukan Makhluk Yang Lemah Kisah tersebut dipilih oleh peneliti karena jalan cerita dari kisah tersebut menunjukkan lemahnya posisi laki-laki sebagai suami dihadapan istrinya. 2. Perumusan Masalah Berdasarkan permasalahan tersebut diatas maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut : Bagaimanakah representasi kekerasan terhadap lak-laki pada karakter tokoh “Genting” (Wanita Bukan Makhluk yang Lemah) dalam buku “Lelaki yang Menangis”? 3. Kajian Pustaka 3.1. Pengertian Semiotika Komunikasi

__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

186

KomMTi – Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Istilah semiotik sendiri berasal dari kata Yunani semeion yang berarti tanda. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai sesuatu atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya, dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain (Sobur, 2001 : 53). Dalam Sobur, semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Memaknai berarti bahwa obyek-obyek tidak hanya membawa informasi, dalam hal tersebut obyek-obyek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (Kurniawan, 2001 : 53). Kajian semiotika dibedakan menjadi dua jenis yaitu semiotika komunikasi dan semiotika signifikasi. Yang dimaksud dengan semiotika komunikasi dalam hal ini adalah menekankan pada teori produksi tanda yang salah satu diantaranya ada enam faktor dalam komunikasi yaitu pengirim, penerima kode (sistem tanda), pesan, saluran komunikasi dan acuan (hal yang dibicarakan) (Sobur, 2004 : 15). Sedangkan yang dimaksuud dengan semiotika signifikasi adalah semiotika yang mempelajari relasi elemen-elemen tanda di dalam suatu sistem, berdasarkan aturan main dan konvensi tertentu (Sobur, 2004 : viii). Batasan semiotika komunikasi menurut Ferdinand de Saussures adalah linguistik hendaknya menjadi bagian suatu ilmu pengetahan umum tentang tanda, yang disebutnya sebagai semiologi (Sobur, 2001 : 96). 3.2. Teori Semiotika Komunikasi Roland Barthes Roland Barthes adalah salah satu tokoh semotika komunikasi yang menganut aliran semiotika komunikasi strukturalisme Ferdinand de Saussures. Semiotika strukturalis Saussures lebih menekankan pada linguistik. Menurut Shklovsky “Karya seni adalah karyakarya yang diciptakan melalui teknik-teknik khas yang dirancang sedemikian rupa sehingga menjadi karya yang seartistik mungkin” (Budiman, 2003 : 11).
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

187

KomMTi – Volume : 2, No. : 6 / Desember 2008

Sedangkan pendekatan karya strukturalis memberikan perhatian terhadap kode-kode yang digunakan untuk menyusun makna. Strukturalisme merupakan suatu pendekatan yang secara khusus memperhatikan struktur karya sastra atau seni. Fenomena kesastraan dan estetika didekati sebagai sistem tanda-tanda (Budiman, 2003 : 11). Linguistik merupakan ilmu tentang bahasa yang sangat berkembang menyediakan metode dan peristilahan dasar yang dipakai oleh seorang semiotikus dalam mempelajari semua sistem – tanda sosial lainnya. Semiologi adalah ilmu tentang bentuk, sebab ia mempelajari pemaknaan secara terpisah dari kandungannya (Kurniawan, 2001 : 156). Di dalam semiologi seseorang diberikan “kebebasan” di dalam memaknai sebuah tanda. Barthes dengan berdiri langsung di garis pemikiran Saussures menerima prinsip artikulasi ganda yang diperkenalkan Saussures. Prinsip itu membagi tanda ke dalam dua bagian yang saling berhimpit, seperti muka atas dan bawah (sisi recto dan verso) dari sehelai kertas. Bila salah satu sisi atau permukaan dipotong, berarti memotong pula sisi atau permukaan lainnya. Tanda linguistik Saussures memuat penanda (sisi ekspresi) dan petanda (sisi isi). Baik petanda maupun penanda memuat bentuk dan substansi (Kurniawan, 2001 : 55). Dalam pengkajian tekstual, Barthes menggunakan analisis naratif struktural (structural analisis of narrative) yang dikembangkannya (Kurniawan, 2001 : 88). Dengan menggunakan metode ini, Barthes menganalisis berbagai bentuk naskah, seperti novel Sarrasine karya Balzac, naskah karya Edgar Alan Poe, maupun ayat-ayat dari kitab injil. Menurut Barthes (Kurniawan, 2001 : 89), analisis naratif struktural secara metodologis berasal dari perkembangan awal atas apa yang disebut linguistik struktural sebagaimana pada perkembangan akhirnya dikenal sebagai semiologi teks atau semiotika. Jadi, secara sederhana analisis naratif struktural dapat disebut juga sebagai semiologi teks karena memfokuskan diri pada naskah. Intinya sama, yakni
__________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya

188

Untuk memberi ruang atensi yang lebih lapang bagi diseminasi makna dan pluralitas teks. Signifiant (penanda) adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna (aspek material). di luar alam deskriptif. sedang sistem tanda tingkat kedua disebutnya sebagai konotasi atau sistem retoris atau mitologi. Roland Barthes mencoba memilah-milah penanda-penanda pada wacana naratif ke dalam serangkaian fragmen __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 189 . Konotasi dan metabahasa adalah cermin yang berlawanan satu sama lain. Signified (petanda) adalah gambaran mental. : 6 / Desember 2008 mencoba memahami makna suatu karya dengan menyusun kembali makna-makna yang tersebar dengan suatu cara tertentu. Umumnya Barthes membuatnya dalam dua tingkatan bahasa. 2001 : 115). Metabahasa adalah operasioperasi yang membentuk mayoritas bahasa-bahasa ilmiah yang berperan untuk menerapkan sistem riil. 2001 : 68). No. Sedangkan konotasi meliputi bahasa-bahasa yang utamanya bersifat sosial dalam hal pesan literal memberi dukungan bagi makna kedua dari sebuah tatanan artificial atau ideologis secara umum (Kurniawan. di luar kesatuan penandapenanda asli. 2001 : 30). Bahasa ini merupakan suatu sistem tanda yang memuat penanda dan petanda. Sistem tanda pertama kadang disebutnya dengan istilah denotosi atau sistem terminologis. yakni apa yang dikatakan dan apa yang ditulis atau dibaca. bahasa pada tingkat pertama adalah bahasa sebagai obyak dan bahasa tingkat kedua yang disebutnya metabahasa. yakni pikiran atau konsep (aspek mental) dari bahasa (Kurniawan. Semiologi Barthes tersusun atas tingkatantingkatan sistem bahasa. Sistem tanda kedua terbangun dengan menjadikan penanda dan petanda tingkat pertama sebagai petanda baru yang kemudian memiliki penanda baru sendiri dalam suatu sistem tanda baru pada taraf yang lebih tinggi. dan dipahami sebagai petanda.KomMTi – Volume : 2. Fokus kajian Barthes terletak pada sistem tanda tingkat kedua atau metabahasa (Kurniawan.

Bagi Roland Barthes di dalam teks setidaktidaknya beroperasi lima kode pokok (five major code) __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 190 . Dalam proses pembacaan teks. Barthes mengembangkan apa yang disebutnya sebagai analisa struktural atau analisa tekstual yang diterapkan untuk mengkaji naskah-naskah atau teks-teks. No.KomMTi – Volume : 2. 2003 : 54). Dengan metode ini peran pembaca begitu besar dalam menentukan sistem makna baru yang terbentuk. Ketika kita sampai pada pilihan terentu semestinya ‘setia’ dengan satu pilihan. : 6 / Desember 2008 ringkas dan beruntun yang disebutnya sebagai leksialeksia (lexias). Akan tetapi sebuah leksia sesungguhnya bisa berupa apa saja. kadang hanya berupa satu-dua patah kata. Dalam memaknai sebuah ‘teks’ kita akan dihadapkan pada pilihan-pilihan pisau analisis mana yang bisa kita pakai dari sekian jumlah pendekatan yang begitu melimpah. oleh Barthes dipotong-potong dan disusun kembali dalam suatu sistem baru dalam jumlah tak terbatas. tergantung kepentingan dari tujuan sang ‘pembaca’ dalam membedah pembacaannya. namun bisa juga mencampuradukkan beberapa pilihan tersebut. bisa pula benarbenar hanya memfokuskan pada teks dan ‘melupakan’ sang pengarang. 2003 : 53). Dimensinya tergantung kepada kepekatan (density) dari konotasi-konotasinya yang bervariasi sesuai dengan momen-momen teks. Suatu naskah. Pada ruang yang lebih sempit. Sepotong bagian teks yang apabila diisolasikan akan berdampak atau memiliki fungsi yang khas bila dibandingkan dengan teks lain disekitarnya. tergantung kepada ke-“gampang”-annya (convenience) saja (Budiman. yaitu satuan-satuan pembacaan (unit of reading) dengan panjang pendek bervariasi. bahkan sebuah paragraph. ‘pembaca’ kemudian dapat melakukan interpretasi terhadap suatu karya. kadang kelompok kata. adalah sebuah leksia. kadang beberapa kalimat. leksia-leksia tersebut dapat ditemukan baik pada tataran kontak pertama diantara pembaca dan teks maupun pada saat satuan-satuan itu dipilah-pilah sedemikian rupa sehingga diperoleh aneka fungsi pada tataran-tataran pengorganisasian yang lebih tinggi (Budiman.

Kode simbolik merupakan aspek pengkodean fiksi yang paling khas bersifat struktural. 2003 : 55). kode proaretik (logika tindakan). : 6 / Desember 2008 yang didalamnya terdapat penanda tekstual (baca:leksia) dapat dikelompokkan. kode simbolik. sebelum memberikan pemecahan atau jawaban. petunjuk. yang dengannya sebuah narasi dapat mempertajam permasalahan. Lima kode yang ditinjau oleh Barthes adalah kode hermeneutik (kode teka-teki). Kode semik menawarkan banyak sisi. 2004 : 65-66). Setiap atau masingmasing leksia dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari lima kode ini (Budiman. menciptakan ketegangan dan misteri. Perlu dicatat bahwa Barthes menganggap denotasi sebagai konotasi yang paling kuat dan paling “akhir” (Sobur. atau “kilasan makna” yang ditimbulkan oleh penandapenanda tertentu (Budiman. Ia melihat bahwa konotasi kata atau frase tertentu dalam teks dapat dikelompokkan dengan konotasi kata atau frase yang mirip. kode gnomik (kode kultural) (Sobur. Dalam proses pembacaan.KomMTi – Volume : 2. kita menemukan suatu tema di dalam cerita. Kode teka-teki merupakan unsur terstruktur yang utama dalam narasi tradisional. Jika kita melihat kumpulan satuan konotasi melekat. pembaca menyusun tema suatu teks. No. atau tepatnya menurut konsep Barthes. 2004 : 65). Di dalam narasi ada suatu kesinambungan antara pemunculan suatu peristiwa teka-teki dan penyelesaian di dalam cerita (Sobur. 2003 : 56). Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa makna berasal dari __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 191 . Budiman dalam bukunya semiotika visual mengatakan bahwa pada dasarnya kode ini adalah sebuah kode “penceritaan”. Kode semik (code of semes) atau kode konotatif adalah kode yang memanfaatkan isyarat. Jika sejumlah konotasi melekat suatu nama tertentu. 2004 : 65). kode semik (makna konotatif). Kode hermeneutik atau kode teka-teki berkisar pada harapan pembaca untuk mendapatkan “kebenaran” bagi pertanyaan yang muncul dalam teks. pascastruktural.

Kode ini merupakan acuan teks ke bendabenda yang sudah diketahui dan dikodifikasi oleh budaya. No. 2004 : 66). yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. atau yang menyediakan semacam dasar autoritas moral dan ilmiah bagi suatu wacana. Sistem kedua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif. misalnya berupa serangkaian anitesis: hidup dan mati. : 6 / Desember 2008 beberapa oposisi biner atau pembedaan baik dalam taraf bunyi menjadi fonem dalam proses produksi wicara. dingin atau panas (Budiman. kode ini bisa berupa kode-kode pengetahuan atau kearifan (wisdom) yang terus-menerus dirujuk oleh teks. yang di dalam mytologies-nya secara tegas ia bedakan dari denotatif atau sistem pemaknaan tataran pertama. di luar dan di dalam. Kode simbolik merupakan kode “pengelompokan” atau konfigurasi yang gampang dikenali karena kemunculannya yang berulang-ulang secara teratur melalui berbagai macam cara dan saran tekstual. 1999) : __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 192 . Menurut Barthes. Melanjutkan studi Hjeimslev. Mengimplikasi suatu logika perilaku manusia : tindakan-tindakan yang membuahkan dampak-dampak. Sastra merupakan contoh paling jelas sistem pemaknaan tataran kedua yang dibangun diatas bahasa sebagai sistem pertama. Rumusan suatu budaya atau subbadaya adalah hal-hal kecil yang telah dikodifikasi yang diatasnya para penulis bertumpu (Sobur. 2004 : 66). realisme tradisional didefinisi oleh acuan ke apa yang telah diketahui. Kode proaretik atau kode tindakan/ lakuan dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang (Sobur. Barthes menciptakan peta tantang bagaimana tanda bekerja (Cobley dan Jansz. 2003 : 56). dan masing-masing dampak memiliki nama generik tersendiri. 2003 : 56).KomMTi – Volume : 2. maupun taraf oposisi psikoseksual yang melalui proses (Sobur. semacam “judul” bagi sekuans yang bersangkutan (Budiman. Kode gnomik atau kode cultural banyak jumlahnya. Dalam teori Barthes akrab dengan apa yang disebut dengan sistem pemaknaan tataran kedua. Selanjutnya dalam Budiman. 2004 : 66).

2005 : 38). Connotative sign (tanda konotatif) Peta Tanda Roland Barthes Sumber: Drs. : 6 / Desember 2008 1. Berdasarkan uraian diatas kita dapat memberi arti tentang “simbol” yaitu sebagai sesuatu yang __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 193 . dalam Introduction to Linguistics memberikan definisi sebagai berikut : “Bahasa ialah suatu sistem simbol-simbol bunyi yang arbiter yang digunakan untuk komunikasi manusia (a system of arbitery vocal symbols used for human communicaton) (Hidayat. Signifer 2. hlmn 69. Signified (penanda) (petanda) 3. 3. Bahasa adalah sebuah institusi sosial yang otonom. No. 2004. Jadi. Alex Sobur Msi.3. 2006 : 22). dalam konsep Barthes. barulah konotasi seperti harga diri. hal tersebut merupakan unsur material : hanya jika anda mengenal tanda “singa”. dan keberanian menjadi mungkin (Sobur. 2004 : 69). Komunikasi. yang keberadaannya terlepas dari individu-individu pemakainya (Budiman. pada saat bersamaan. 2004 : 69). tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Remaja Rosda Karya. Menurut Roland Wardhaugh. Dengan kata lain. tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya (Sobur. Bahasa Dalam Karya Sastra Bahasa dalam perspektif semiotika. hanyalah salah satu sistem tanda-tanda (system of sign).KomMTi – Volume : 2. Akan tetapi. seorang linguis barat. Semiotika Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda (1) dan petanda (2). Connotative signifer 5. Denotative sign (tanda denotatif) 4. Connotative signifed (penanda konotatif) (petanda konotatif) 6. kegarangan.

Terbatas dan relatif tetap. 3. yaitu pemakaian keberadaannya memiliki tataran yang berada dalam tingkat tertentu. berkaitan dengan bunyi-bunyi segmental. Bersifat hierarkis. seorang linguistik Indonesia adalah sebagai fungsi kebudayaan. Menggunakan kriteria pragmatik. Bahasa itu dapat dipelajari. mana suka. 2006 : 25-26) Salah satu fungsi bahasa menurut P. Bersifat sistematis dan stimultan. 8. 13. 18. Memiliki ciri prevarikasi. : 6 / Desember 2008 menyatakan sesuatu yang lain (things that stand for other things). yaitu : 1. W. 17. 2006 : 23). Nababan. Memiliki krieria sintaksis. Informasi kebahasaan dapat disegmentasi. Organisme yang digunakan memiliki hubungan timbal balik. 4. 6. Pengertian ini berarti bahwa di sekeliling kita terdapat banyak simbol dan kita akan senantiasa dihadapkan pada berbagai simbol (Hidayat. Mengandung kontinuitas dan mengandung diskontinuitas. 2. 5. 14. 11. Mengandung kriteria semantik atau fungsi semantik tertentu. Transmisi budaya. Bahasa itu dalam pemakaian bersifat bidimensional (Hidayat. 10. 16. J. Menurut Amindin ada delapan belas ciri bahasa manusia. 12. baik secara paradigmatic maupun sintagmatis. 9.KomMTi – Volume : 2. Bersifat arbiter. kata-kata yang digunakan untuk menjadi suatu kalimat harus disusun sesuai dengan pola kalimat yang telah disepakati. Memiliki kriteria kombinasi dan bersifat produktif. yaitu sebagai sarana perkembangan __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 194 . 15. Saling melengkapi dan mengisi. Melibatkan unsur bunyi ataupun unsur audiovisual. disatukan dan diabaikan. 7. Alat fisis yang digunakan bersifat tetap dan memiliki kriteris tertentu. No. dihubungkan.

: 6 / Desember 2008 kebudayaan. sebab karya seni menyajikan pengalaman dalam kualitas antar hubungan (Ratna. 2003 : 142). Garis pemisah ini telah dihapuskan dimasa mendatang. tidak mungkin secara sekaligus atau simultan. linearitas penanda (the linier natre of the signifier). Menurut Duncan.4. setidaknya memiliki dua buah karakteristik. dan ilmu pengetahuan. 3.KomMTi – Volume : 2. bersangkutan dengan relasi di antara penanda dan petanda yang “semena-mena” atau “tanpa alasan”. Sastrawan menggunakan bahasa dalam hal ini berupa teks sebagai senjata untuk membangun ideologi tandingan dengan penguasa. Tanda-tanda kebahasaan. teknologi. satu demi satu. berkaitan dengan dimensi kewaktuannya. Teks secara potensial mengemban informasi tentang kehidupan sosial masyarakat. 2005 : 38). seni. jalur penerus kebudayaan dan inventaris ciri-ciri kebudayaan. yaitu bersifat linier dan arbiter. Tidak pernah ada garis pemisah antara teks sastra dan non sastra. 2004 : 14). dalam karya seni terkandung bentuk-bentuk ideal komunikasi. No. Karakteristik pertama. Karakteristik kedua. Ada fungsi teks yang berbeda yang merupakan faktor-faktor pembentuk komunikasi verbal yaitu __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 195 . 2000 : 21). Karya sastra sebagai proses komunikasi menyediakan pemahaman yang sangat luas. Relasi diantara penanda dan petanda adalah semata-mata berdasarkan konvensi (Budiman. Penanda-penanda kebahasaan harus diproduksi secara beruntun. tak termotivasi (unmotivated). kearbiteran tanda (the arbitary nature of the sign). Teks sebagai Proses Komunikasi Massa Sastra menjadi bahasa untuk berkomunikasi dengan bidang-bidang lainnya yang berkembang sesuai dengan perubahan masyarakat dimana ia hidup (Sunardi. Alasan penghapusan ini disebabkan oleh rumitnya struktur objek peneliti dan evaluasi yang selalu berubah terhadapnya (Segars.

yang dengan sendirinya berfungsi untuk menopang kehidupan sastra secara keseluruhan. Komunikasi sastra merupakan komunikasi tertinggi. b) Teks itu sendiri dengan berbagai problematikanya. Dalam suatu karya sastra. menjelaskan bahwa komunikasi sastra melibatkan proses total yang meliputi : a) Produksi teks. Sebagai pola-pola hubungan yang terbuka dan produktif dengan implikasi sosial. yaitu melalui aktivitas pembaca (Ratna. Pengarang menulusuri secara terus menerus signifikasi fungsifungsi sosial anteraksi simbolis dalam aktivitas kehidupan manusia. Pengarang menciptakan bentuk-bentuk yang memungkinkan untuk mengadakan komunikasi timbal balik. Schmidt misalnya. Sastra menjadi bahasa untuk berkomunikasi dengan bidang-bidang lainnya yang berkembang sesuai dengan perubahan masyarakat dimana ia hidup (Sunardi. c) Transmisi teks. pesan tersebut memerlukan CONTEXT. memungkinkan keduanya memasuki dan berada dalam komunikasi (Segars. yaitu melalui editor. sebagai representasi superstruktur ideologis. 2000 : 21). Karya sastra. sesuai dengan hakikat rekaan. umum bagi pengirim dan yang dikirimi : dan akhirnya suatu CONTACT yaitu suatu saluran fisik dan hubungan psikologis antara pengirim dan yang dikirimi. hubungan antara pengarang dan pembaca harus dipahami sebagai hubungan yang bermakna. sehingga dipahami oleh yang dikirimi dan dapat diverbalisasikan : suatu CODE secara penuh atau paling tidak sebagian. penerbit. No. yaitu aktivitas pengarang dalam menghasilkan teks tertentu. bukan sebagai kausalitas yang tunggal. 2003 : 136). dan pembaca. pengarang menghubungkannya dengan kualitas imajinatif dan kreatif. sebab mekanisme unsur-unsur yang paling luas.KomMTi – Volume : 2. : 6 / Desember 2008 ADDRESSER (pengirim) mengirimkan suatu pesan atau MESSAGE kepada seseorang ADDRESEE (yang dikirimi) agar operatif. Dipihak lain. 2004 : 14). dipandang sebagai gejala-gejala sosial yang __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 196 . dan d) Penerima teks. toko-toko buku. sebagai salah satu bentuk kreativitas kultural.

KomMTi – Volume : 2. radio. No.6. karya sastra menyediakan dunia rekaan yang pembacanya. Media cetak seperti buku mampu memberi pemahaman yang lebih kepada pembacanya. dan televisi. terdokumentasi permanen sehingga mudah diperoleh bila diperlukan. yaitu gejala sosial sebagai akibat antara hubungan dengan masyarakat. memiliki cover/ sampul. Dipihak lain. Adapun syarat-syarat yang telah mampu dipenuhi oleh buku dalam kajian sebagai media massa cetak adalah melalui proses percetakan.5. pengalaman. bisa dibawa kemanamana. Buku dapat dikatakan sebagai media massa tertua sebelum ditemukannya film. Kompleksitas hubungan ini mengandaikan aktivitas komponen komunikasi yang terjadi terus-menerus. dalam pengertian yang terakhir inilah terletak gagasan-gagasan mengenai komunikasi sastra. sehingga buku banyak digunakan untuk keperluan studi. mengangkat suatu isu (gender. yaitu dalam kerangka proses komunikasi. 2003 : 137). penulis atau penyusunnya bisa berbagi banyak hal. Dengan kelebihannya yang mampu menyampaikan pesan secara lebih lengkap dan mendalam. Buku sebagai media massa juga merupakan transmisi warisan sosial dari satu generasi ke generasi berikutnya. 3. hobi atau media hiburan dengan penyajian mendalam. Buku Sebagai Media Massa Cetak Buku merupakan salah satu bentuk dari media massa cetak. Melalui sebuah buku. Representasi __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 197 . 2005 : 128). melainkan hubungan kelompok yang didalamnya indvidu terlibat secara aktif. agama. namun hanya bisa dinikmati oleh mereka yang melek huruf (Cangara. bahkan imajinasi kepada pembacanya. seperti ilmu pengetahuan. pengetahuan. adanya awalan dan akhiran pada cerita yang diangkat dan dipublikasikan. 3. Disatu pihak karya sastra merupakan respon-respon interaksi sosial. budaya dan lainnya). Hubungan karya sastra dengan masyarakat tidak bermaksud untuk menjelaskan hubungan-hubungan individu. politik. : 6 / Desember 2008 terdiri dari sistem informasi yang sangat rumit (Ratna.

yang berperan penting dalam proses konstruksi makna. representasi mental. membagi kode-kode kebudayaan yang sama. Kebudayaan merupakan konsep yang sangat luas. Representasi juga bisa berarti proses perubahan konsep-konsep ideologi yang abstrak dalam bentukbentuk yang kongkret. Representasi adalah konsep yang digunakan dalam proses sosial pemaknaan melalui sistem penandaan yang tersedia: dialog. kebudayaan menyangkut ‘pengalaman berbagi’. Proses yang menghubungkan ketiga elemen ini secara bersamasama itulah yang kita namakan representasi. dsb. Pertama. film.KomMTi – Volume : 2. ‘peta konseptual’.id/esai/nws/04/representasi. supaya kita dapat menghubungkan konsep dan ide-ide kita tentang sesuatu dengan tanda dan simbol-simbol tertentu. Yaitu konsep tentang ‘sesuatu’ yang ada di kepala kita masing-masing (peta konseptual). __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 198 . Relasi antara ‘sesuatu’. dengan bahasa atau simbol yang berfungsi mempresentasikan konsep-konsep kita tentang sesuatu. : 6 / Desember 2008 Representasi menunjuk baik pada proses maupun produk dari pemaknaan suatu tanda. Menurut Stuart Hall (1997). Representasi mental ini masih berbentuk sesuatu yang abstrak. tulisan.or. Secara ringkas. dan ‘bahasa/ simbol’ adalah jantng dari produsi makna lewat bahasa. representasi adalah salah satu praktek penting yang memprduksi kebudayaan.htm). video. representasi adalah produksi makna melalui bahasa (http://kunci. dan saling berbagi konsep-konsep yang sama (http://kunci.id/esai/nws/04/representasi. Seseorang dikatakan berasal dari kebudayaan yang sama jika manusia-manusia yang ada disitu membagi pengalaman yang sama. No. ada dua proses representasi. Kedua.htm). Proses pertama memungkinkan kita untuk memaknai dunia dengan mengkonstruksi seperangkat rantai korespondensi antara sesuatu dengan sistem ‘peta konseptual’ kita. Konsep abstrak yang ada dalam kepala kita harus diterjemahkan dalam ‘bahasa’ yang lazim. berbicara dalam ‘bahasa’ yang sama. fotografi. Dalam proses kedua. ‘bahasa’. Menurut Stuart Hall.or.

satu kelompok. Dengan kata. Selalu ada pemaknaan baru dan pandangan baru dalam konsep representasi yang sudah pernah ada. Praktek yang membuat sesuatu hal bermakna sesuatu (http://kunci. saat menampilkan objek. Penggambaran yang tampil bisa jadi adalah penggambaran yang buruk. peristiwa yang ditandakan (encode) sebagai realitas. ataukah diburukkan. atau gagasan atau pendapat tertentuditampilkan sebagaimana mestinya. satu kelompok. bahkan cenderung memarjinalkan satu kelompok tertentu. atau seseorang paling tidak ada tiga proses. kalimat. Ia adalah hasil dari prakek penandaan. Representasi sendiri merujuk pada bagaimana seseorang. ketika kita menganggap dan mengkonstruksi peristiwa tersebut sebagai sebuah realitas. apakah seseorang.htm). Teks merupakan sarana sekaligus media dimana satu kelompok mengunggulkan diri sendiri dan memarjinalkan kelompok lain. Disini realitas selalu siap ditandakan. No. Intinya adalah: makna tidak inheren dalam sesatu di dunia ini.KomMTi – Volume : 2. __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 199 . ia selalu dikostruksikan. gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan. : 6 / Desember 2008 Konsep representasi bisa berubah-ubah.or. bagaimana representasi tersebut ditampilkan. dan bantuan foto macam apa seseorang. 2001 : 113). ata gagasan tersebut ditampilkan dalam pemberitaan kepada khalayak (Eriyanto. aksentuasi. Persoalan utama dalam representasi adalah bagaimana realitas atau objek tersebut ditampilkan? Menurut Joh Fiske. peristiwa. Pada titik inilah representasi penting untuk dibicarakan. diprodksi. Pertama. Kata semestinya ini mengacu pada apakah seseorang atau kelompok itu diberitakan apa adanya. kelompok.id/esai/nws/04/representasi. Kedua. Level pertama. yaitu bagaimana peristiwa itu dikonstruksikan sebagai realitas. gagasan. lewat proses representasi. kelompok.

Pemakaian kata. Analisisnya terhadap mitos-mitos dan simbol-simbol bangsa Romawi. kehidupan sepenuhnya bersandar pada produktivitas alamiah perempuan. kepala pemerintahan dalam masyarakat. tanpa adanya pernikahan. hukum. Menurut Fiske ketika kita melakukan representasi tidak bisa dihindari kemungkinan menggunakan ideologi tersebut (Eriyanto. Dalam bahasa tulis yang disebut alat teknis adalah kata. adalah bentuk masyarakat yang masih kasar. misalnya membawa makna tertentu ketika diterima oleh khalayak. adalah relatif baru sekarang ini. dia juga berasumsi bahwa sebelum dikenal adanya struktur matriarkhi (terutama dalam sejarah awal manusia). Level ketiga. atau proposisi tertentu. Ideologi Matriarkhi Ideologi matriarkhi pertama kali ditemukan oleh Johann Jacob Bachofen dengan karya terbesarnya yaitu penemuannya atas Hak Ibu (Mother Right). Secara ideologis matriakhi mengasumsikan bahwa kekuatan energi maternal dan __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 200 . kepala pemerintahan dalam keluarga. kurang beradab (‘hetaerisme”). 2001 : 14). membuatnya berkesimpulan bahwa struktur patriarkal dalam masyarakat yang kita kenal melalui sejarah peradaban dunia. pertanyaan berikutnya adalah bagaimana realitas itu digambarkan.KomMTi – Volume : 2. prinsip-prinsip ataupun aturan-aturan yang kita kenal sekarang (Fromm. : 6 / Desember 2008 Level kedua. atau proposisi. atau kepercayaan dominan yang ada dalam masyarakat. 3. dan sebagainya. dan Dewi Agung. ketika memandang sesuatu sebagai realitas. seperti kepala keluarga. Yunani. Disini menggunakan perangkat secara teknis. kalimat. 2007 : 4). dan Mesir. Lebih jauh. kalimat. Matriarkhi adalah suatu bentuk masyarakat dimana ibu adalah pemimpin dan bertindak sebagai garis keturunan perempuan. grafik. dan itu didahului sebelumnya oleh status kultural yang menempatkan sosok ibu dalam peran yang sangat penting.7. No. bagaimana kode-kode representasi dihubungkan dan diorganisasikan kedalam koherensi sosial seperti kelas sosial.

Matrilineal berasal dari dua kata. : 6 / Desember 2008 cinta ibu merupakan kekuatan yang kohesif secara sosial.org/ wiki/matrilineal diakses 09 Agustus 2007 19:38). No. meskipun pada dasarnya artinya berbeda. yaitu (1) pemerintahan oleh golongan wanita.com/glossary. Reed mengadopsi secara mendasar perspektif evolusionis yang mengasumsikan bahwa patriarkhi tidak hanya terjadi dalam perkembangan pertanian. Dengan menggunakan karya Engel Origin of the Family (1884). Dr. yaitu mater (bahasa latin) yang berarti "ibu". dan linea (bahasa Latin) yang berarti "garis". Soerjono Soekanto dalam kamus sosiologi (1993 : 295) ada dua pengertian matriarkhi. Matriarkhi adalah masyarakat di mana perempuan menentukan kondisi-kondisi keibuan dan lingkungan dari generasi berikutnya.wikipedia. Para feminis telah menafsirkan ulang bukti-bukti arkeologis dan bukti lisan dalam mitos-mitos Yunani Kuno untuk membuktikan eksistensi dari matriarkhi (http://www.wikipedia. Matrilineal adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu kata ini seringkali disamakan dengan matriarkhat atau matriarkhi. Sementara itu matriarkhat berasal dari dua kata yang lain. semua hubungan didasarkan pada hubungan pengasuhan antara ibu dan anak. Menurut Prof. Jadi.org/ wiki/matrilineal diakses 09 Agustus 2007 19:38).KomMTi – Volume : 2. __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 201 . "matriarkhi" berarti "kekuasaan berada di tangan ibu atau pihak perempuan" (http://www. pengasuhan anak menciptakan kepercayaan. yaitu mater yang berarti "ibu" dan archein (bahasa Yunani) yang berarti "memerintah". Merlyn Stone dan Elizabeth Fisher tidak menempatkan matriarkhi sebagai lawan dari patriarkhi namun sebagai sistem yang didasarkan pada prinsip-prinsip yang sangat berbeda dari sistem yang didominasi oleh laki-laki. Helen Diner.php diakses 31 Juli 16:36). Evelyn Reed menyatakan bahwa matriakhi lebih dulu ada daripada patriarkhi. Reed mendeskripsikan superioritas perempuan. Jadi.sekitarkita. "matrilineal" berarti mengikuti "garis keturunan yang diambil dari pihak ibu" (http://www.

China. Sistem nilai dari budaya matriarkhal selaras dengan penyerahan pasif terhadap ibu. keseimbangan rasional dari kesalahan dan penebusan dosa. suku Nakhi di wilayah Sichuan dan Yunnan. Bachofen mengembangkan jalur pemikiran ini dengan sangat jelas dan lengkap dalam konsep keadilannya. Menurut Bachofen. kultural. dan bukan kecemasan atau kepatuhan. alamiah. Di Indonesia satu-satunya penganut adat matrilineal adalah suku Minangkabau. dan beberapa suku kecil di kepulauan Asia Pasifik.wikipedia. Dalam masyarakat matriarkhi menurut Bachofen dapat ditemukan sifat-sifat kebebasan. kesetaraan. alam. Dalam hukum matriarkal. hukum alam matriarkal dikarakterisasikan oleh dominasi insting. Penganut adat matrilineal adalah suku Indian. dan bumi serta juga terhadap peran sentral mereka. suku Navajo. tidak ada kelogisan. Apache Barat. Hanya sesuatu yang alami dan biologis yang bermanfaat. Penganut adat patrilineal di Indonesia sebagai contoh adalah suku Batak (http://www. di mana “alam” merupakan masyarakat patriarkal yang berubah menjadi suatu yang absolut. mengacu pada prinsip “yang serupa dibalas dengan yang serupa”. No. sebagian besar suku Pueblo. dan rasional tidak berharga. 2007 : 29-30). dan persaudaraan sebagai prinsip-prinsip pengaturannya. Sumatera Barat. suku Crow yang kesemuanya adalah penduduk asli Amerika Serikat. Sementara yang bersifat spiritual.KomMTi – Volume : 2. Lawan dari matrilineal adalah patrilineal yaitu suatu adat masyarakat yang menyatakan alur keturunan berasal dari pihak ayah. melainkan cinta dan belas kasih. India Timur Laut. suku Khasi di Meghalaya. masyarakat mariarkal merupakan demokrasi paling awal di mana __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 202 . : 6 / Desember 2008 dan (2) kombinasi garis keturunan matrilineal pola kediaman matrilokal dan matripotestalitas. Bertolak belakang dengan hukum alam borjuis. ia didominasi oleh prinsip “alami” dari hukum qishosh (pembalasan). Bagi hukum matriarkal.org/wiki/matrilineal diakses 09 Agustus 2007 19:38). dan berdasarkan darah. hanya ada satu kejahatan yaitu kekerasan pada ikatan darah (Fromm.

istri. desakan yang keras. No. di mana perbuatan tidak adil terhadap rekan sesama manusia adalah dosa yang paling berat. 2004 : 2) : Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan. meliputi : a. Konsep Kekerasan Menurut Johan Galtung. paksaan dan tekanan (Poerwadarminta. 1999 : 102). 2004 : 3-4). 23 Tahun 2004 tetang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga (Fokusmedia. 2006 : 13). Lingkup rumah tangga diperjelas dalam pasal 2 Undang-Undang No. Sedangkan paksaan berarti tekanan. Jadi kekerasan berarti membawa kekuatan. seksual. Pengertian kekerasan menurut pasal 1 UndangUndang Nomor 23 Tahun 2004 tetang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga menyebutkan bahwa (Fokusmedia.KomMTi – Volume : 2. psikologis dan/ atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. pemaksaan. Suami. dibiarkan serta dibatasi tanpa disingkirkan.8. kekuatan dan paksaan. kekerasan (violence) berarti sebagai suatu serangan atau invasi fisik ataupun integritas mental psikologis seseorang (Englander dalam saraswati. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. dan anak. kekerasan terjadi apabila manusia dipengaruhi sedemikian rupa sehingga jasmani dan mental aktualnya berada di bawah realisasi potensialnya. kekerasan diartikan sebagai sifat atau hal yang keras. dan di mana kepemilikan pribadi belum ada (Fromm. : 6 / Desember 2008 seksualitas bebas dari penyimpangan. Sedangkan dalam bahasa Inggris. 3. __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 203 . di mana cinta dan belas kasih maternal merupakan prinsip-prinsip moral yang dominan. Kata-kata kunci yang perlu diterangkan yaitu aktual (nyata) dan potensial (mungkin). 2007 : 35&43). Dalam kamus umum bahasa Indonesia. yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik.

Kekerasan Dalam Rumah Tangga __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 204 . Kekerasan Fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit.R. dan segala perkataan yang menyebabkan lawan bicara tersinggung. intonasi. No. Menurut pasal 5 Undang-Undang No. Sedangkan. (1996 : 37) yaitu kekerasan verbal dan non verbal. hinaan. Kekerasan verbal adalah kekerasan yang berbentuk kata-kata.KomMTi – Volume : 2. tersinggung. Kekerasan Ekonomi adalah setiap perbuatan yang mengakibatkan kerugian dan penghinaan secara ekonomi. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga karena hubungan darah. kekerasan non verbal adalah kekerasan melalui bahasa tubuh. dan kecepatan suara. dan marah. 3. tindakan. melakukan penyiksaan atau bertindak sadis. 4. kategori kekerasan verbal meliputi: umpatan. perkawinan. 2. 2004 : 5-6): 1. dan/ atau c. persusuan. olok-olok. Kekerasan Psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan hilangnya rasa percaya diri. Kekerasan Seksual adalah segala tindakan yang muncul dalam bentuk paksaan atau mengancam untuk melakukan hubungan seksual. 3. 23 Tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. rasa tidak berdaya. kekerasan dibagi menjadi beberapa jenis yaitu (Fokusmedia. Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut. atau luka berat. terlantarnya anggota keluarga dan atau menciptakan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/ atau melarang mereka untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut. dan/ atau penderitaan psikis berat pada seseorang.9. Ada dua jenis kekerasan menurut Kompas (1993) dalam penelitian Paul Joseph I. jatuh sakit. : 6 / Desember 2008 b. hilangnya kemampuan untuk bertindak. pengasuhan. yang menetap dalam rumah tangga. malu. dan perwalian. emosi.

terlebih dahulu harus dipahami pengertian gender dengan kata sex (jenis kelamin). kekerasan yang disebabkan oleh bias gender disebut juga dengan gender-related violence (Saraswati. berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran. Alat-alat tersebut secara biologis melekat pada manusia jenis laki-laki dan perempuan secara permanen tanpa bisa dipertukarkan atau bisa dikatakan sebagai kodrat (ketentuan Tuhan) (Fakih. keyakinan agama. lemah-lembut dan keibuan. Jadi. Salah satu penyebab timbulnya kekerasan adalah karena adanya ideologi gender. kata gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin. dan ideologi gender. dijelaskan bahwa gender adalah satu konsep cultural. 1999 : 8 ). __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 205 . Misalnya : bahwa wanita dikenal lemah-lembut. Dalam Women’s Studies Encyclopedia. cantik. Pengertian lain tentang gender menurut Mansour Fakih (1999 : 9) adalah suatu ciri-ciri dan sifat yang dilekatkan pada laki-laki dan wanita yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural. Lips. Hilary M. rasional. No. mengartikan gender sebagai harapanharapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. sementara itu ada juga wanita yang kuat. Sedangkan sex (jenis kelamin) merupakan pembagian dua jenis kelamin manusia yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu. dan keibuan. 200 : 16) Untuk memahami ideologi atau keyakinan gender. Ciri-ciri dan sifat tersebut merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan dan mengalami perubahan dari waktu ke waktu. rasisme. jantan dan perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat tersebut dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain. rasional dan perkasa.KomMTi – Volume : 2. emosional. ada laki-laki yang emosional. seperti politik. perilaku. Sementara laki-laki dianggap kuat. mentalitas dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. dikutip oleh Mufidah Ch (2004 : 4). Secara bahasa. : 6 / Desember 2008 Kekerasan terhadap sesama manusia memiliki sumber ataupun alasan yang bermacam-macam.

disosialisasi. Perempuan dengan organ tubuh yang dimiliki dikonstruksikan oleh budaya untuk memiliki sifat yang halus. yang menjadi persoalan ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan. subordinasi atau anggapan tidak penting dalam keputusan politik. 2006 : 1719). Ketidakadilan gender terwujud dalam berbagai bentuk ketidakadilan. sosialisasi gender tersebut akhirnya dianggap ketentuan Tuhan seolah-olah bersifat biologis yang tidak bisa diubah lagi sehingga perbedaan gender dianggap dan dipahami sebagai kodrat laki-laki dan kodrat perempuan (Fakih. pembentukan stereotipe atau pelabelan negatif. kekerasan (violence). Sejarah perbedaan gender (gender difference) antara manusia jenis kelamin laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses yang sangat panjang. jantan bahkan kasar. seperti marginalisasi atau proses pemiskinan ekonomi. penyayang. di antaranya dibentuk. Sifat inilah yang sering disebut dengan feminim. penyabar.KomMTi – Volume : 2. No. Namun. beban __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 206 . 1999 : 9 ). Perbedaan gender prinsip dasarnya adalah sesuatu yang wajar dan merupakan sunnatullah sebagai sebuah fenomena kebudayaan. perkasa. Perbedaan gender tidak menjadi masalah selama tidak menimbulkan ketidakadilan gender (gender inequalities). lemah lembut dan sejenisnya. : 6 / Desember 2008 Organ biologis antara laki-laki dan perempuan berbeda. Melalui proses panjang. diperkuat. terbentuknya perbedaan-perbedaan gender disebabkan banyak hal. Sementara laki-laki dengan perangkat fisiknya diberi atribut sifat yang maskulin yaitu sifat kuat. baik bagi kaum lakilaki maupun terutama terhadap kaum perempuan. Oleh karena itu. bahkan dikonstruksi secara sosial dan kultural. Dengan demikian gender merupakan konsep sosial yang harus diperankan oleh kaum laki-laki atau perempuan sesuai dengan ekspektasi-ekspektasi sosio-kultural yang hidup dan berkembang ditengah-tengah masyarakat yang kemudian melahirkan peran-peran sosial laki-laki dan perempuan sebagai peran gender (Ridwan. baik melalui ajaran keagamaan maupun negara.

Kekerasan apapun yang terjadi dalam masyarakat. 2006 : 49). memar. seksual. 2006 : 49). 2006 : 50) : 1. Karena dengan membuka kasus __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 207 . ancaman psikologis termasuk perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang (Ridwan. 1999 : 12). orang lain tidak boleh ikut campur (intervensi). ekonomi. Pihak yang tertidas disudutkan pada posisi yang membuat mereka berada dalam ketakutan melalui cara penampakkan kekuatan secara periodik (College dalam Ridwan. dan perasaan rendah diri). Kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan dalam rumah tangga terjadi dalam lingkup kehidupan rumah tangga yang dipahami sebagai urusan yang bersifat privasi. sesungguhnya berangkat dari satu ideologi tertentu yang mengesahkan penindasan disatu pihak baik perseorangan maupun kelompok terhadap pihak lain yang disebabkan oleh anggapan ketidaksetaraan yang ada dalam masyarakat. Kekerasan dalam rumah tangga (domestic violence) adalah bentuk penganiayaan (abuse) oleh suami terhadap istri atau sebaliknya baik secara fisik (patah tulang. kulit tersayat) maupun emosional/ psikologis (rasa cemas. : 6 / Desember 2008 kerja lebih panjang dan lebih banyak (burden) (Fakih. korban pada umumnya selalu mengambil sikap diam atau bahkan menutup-nutupi tindak kekerasan tersebut. 2. Pada umumnya korban adalah pihak yang secara struktural lemah dan mempunyai ketergantungan khususnya secara ekonomi dengan pelaku. Dalam posisi ini.KomMTi – Volume : 2. No. Dalam rumusan yang lain. dalam prakteknya sulit diungkap karena beberapa sebab (Ridwan. kekerasan dalam rumah tangga didefinisikan setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang secara sendiri atau bersama-sama terhadap seorang perempuan atau terhadap pihak yang tersubordinasi lainnya dalam lingkup rumah tangga yang mengakibatkan kesengsaraan secara fisik. depresi.

4. 2006 : 51). 3. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dapat diposisikan sebagai akibat dari sebuah sistem sosial yang bias gender. : 6 / Desember 2008 kekerasan dalam rumah tangga ke publik berarti membuka aib keluarga. KDRT bisa terjadi pada semua lapisan masyarakat laki-laki atau perempuan. namun bisa saja pelaku menganggap perilaku kekerasannya merupakan bagian dari hak yang ia miliki yang dijustifikasi dengan otoritas yuridis ataupun dalil agama (Ridwan. 3. dari kelompok masyarkat kaya sampai miskin atau dari kelompok tidak terdidik sampai yang terdidik.10. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran hukum masyarakat terhadap hak-hak hukum yang dimiliki. Hal ini sesuai dengan Pasal 1 UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan disebutkan bahwa : “Dasar perkawinan adalah adanya ikatan lahir batin aantara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Hak dan Kewajiban Suami-Istri Rumah tangga merupakan tempat berlindung bagi seluruh anggota keluarga. korban sering enggan melaporkan kepada aparat penegak hukum karena khawatir justeru akan dipersalahkan. karena suami istri memikul kewajiban yang luhur untuk menegakkan rumah tangga yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat. No. Adanya stigma sosial bahwa kekerasan yang dilakukan oleh suami dipahami oleh masyarakat sebagai hal yang mungkin dianggap wajar dalam kerangka pendidikan yang dilakukan oleh pihak yang memang mempunyai otoritas untuk melakukannya.KomMTi – Volume : 2. Untuk menciptakan dan menjaga keharmonisan hubungan dalam keluarga maka setiap anggota keluarga harus bisa menghormati hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga terutama dalam hubungan suami dan istri. KDRT bisa saja dilakukan oleh seseorang dengan penuh kesadaran bahwa apa yang ia lakukan adalah kekerasan.” __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 208 . Pada posisi ini.

suami-istri mempunyai hak dan kedudukan yang seimbang dalam kehidupan berumahtangga dan pergaulan hidup di dalam masyarakat serta berhak untuk melakukan perbuatan hukum. yaitu (Subekti dan Tjitrosudibio. d. karena terdapat niat dalam dirinya untuk menyulut pertengkaran dalam rumah tangga. Motif Istri Melakukan Kekerasan Terdapat persepsi dari istilah causa kejahatan. dan hanya karena itu pun. terikatlah mereka dalam suatu perjanjian bertimbalbalik. Dengan kata lain terdapat alasan-alasan tersembunyi (Wardodo. 2007 : 25). mereka harus setia-mensetiai. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menjelaskan hak dan kewajiban suamiistri. 2007 : 26) diantaranya : Suami yang berpenghasilan rendah. maka dapat dipersoalkan apakah yang menyebabkan orang tersebut menjadi jahat. tolong menolong dan bahu-membahu. c. Karena bila dipakai dalam pendekatan secara yuridis. dengan kata lain keadaan ekonomi dibawah garis kemiskinan. 3. b. Secara psikologis istri sadar berbuat salah.11. akan memelihara dan mendidik sekalian anak mereka. maka dapat ditafsirkan bahwa seseorang yang telah melakukan perbuatan pidana adalah merupakan kejahatan (Wardodo. Bila seseorang yang melakukan suatu kejahatan. 1996 : 26-27) : a. __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 209 . No. Suami dan istri.Setiap suami adalah kepala dalam persatuan suami-istri. Istri yang melakukan kejahatan (kekerasan) diikuti dengan berbagai faktor atau motif untuk melakukan kekerasan terhadap suaminya. Suami dan istri. Setiap istri harus tunduk patuh kepada suaminya. Faktor-faktor itu hanya sebagai alasan untuk menutupi kesalahankesalahan yang dilakukan terhadap suaminya. yaitu orang yang melakukan kejahatan adalah penjahat. dengan mengikat diri dalam suatu perkawinan.KomMTi – Volume : 2. : 6 / Desember 2008 Dalam pasal 31 Undang-Undang Perkawinan.

Namun suami yang tidak mengabulkan keinginannya tersebut. Terganggunya psikis juga sebagai akibat dari kekerasan yang dialami oleh suami. sehingga terjadi pertengkaran dan mengakibatkan suami mengalami kekerasan. Atau bahkan suami yang seperti tersebut melakukan perselingkuhan dalam rumah tangganya dengan berbagai alasan (Wardodo. 2007 : 27). Semua pihak keluarga akan turut merasakan dampak buruk dari suatu perbuatan yang dilarang. Keutuhan dan kerukunan rumah tangga dapat terganggu jika kualitas dan pengendalian diri tidak dapat dikontrol. : 6 / Desember 2008 Pria lain yang berada ditengah-tengah keluarga dapat dijadikan motif seorang isttri melakukan kekerasan. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh istri secara terus-menerus dan berkelanjutan secara tidak langsung dapat mengakibatkan suami menjadi cepat emosional. diantaranya mementingkan egonya masing-masing sehingga istri meminta cerai. membuat suami memilih jalan perceraian. Perceraian sebagai akibat dari kekerasan yang dilakukan oleh istri. istri mengambil tindakan yaitu melakukan kekerasan terhadap suami (menghina suami atas penghasilan yang rendah). Kekerasan yang dilakukan oleh istri terhadap suami dapat mengakibatkan dampak buruk bagi rumah tangga yang dibinanya. sehingga pada akhirnya dapat terjadi kekerasan dalam rumah tangga sehingga timbul ketidakamanan atau ketidakadilan terhadap orang yang berada dalam lingkup rumah __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 210 . padahal perceraian bukan jalan penyelesaian yang terbaik. Suami yang tidak tahan terhadap istri yang sering melakukan kekerasan. No. Karena didalam rumah tangga tidak terdapat keharmonisan dan kevakuman antara kedua belah pihak yang disebabkan oleh beberapa hal. Pertengkaran demi pertengkaran ditimbulkan oleh istri untuk membuat suami merasa jenuh (bosan).KomMTi – Volume : 2. Kekerasan yang terjadi terhadap suami oleh istri dalam lingkup rumah tangga akan berdampak negatif bagi semua pihak dalam rumah tangga.

4. : 6 / Desember 2008 tangga. metode tekstual yang dipilih adalah semiotika.1. Analisis semiotika digunakan untuk melihat bagaimana representasi kekerasan terhadap laki-laki pada karakter Genting dalam buku “Lelaki yang Menangis” karya Rini Nurul Badariah pada kisah 1 (pertama). atau beberapa paragraph dari teks buku “Lelaki yang Menangis” karya Rini Nurul Badariah yang menunjukkan adanya unsur-unsur kekerasan terhadap laki-laki. Terganggunya psikologis anak juga turut diakibatkan oleh kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan istri. 2007 : 29). satu paragraph.drirene. Suami yang tidak tahan akan perilaku atau perbuatan istri. beberapa kata. No. Unit Analisis Penelitian ini menggunakan leksia dari Barthes sebagai unit analisis. Kerangka Konseptual Pada dasarnya penelitian ini dilakukan untuk memahami berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat.htm). membuat dia akan melarikan diri dari semua masalah-masalahnya. satu kalimat. Metodologi 4. Perlakuan kejam dan kekerasan adalah sikap yang dilakukan seorang wanita untuk menyebabkan luka fisik. peneliti ini menggunakan __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 211 . beberapa kalimat. yang termasuk didalamnya adalah (http://www. Hanya orang yang mengalami dan merasakannya saja yang mengetahui apakah dia mengalami kekerasan secara psikis. seksual. atau emosional serta rasa cemas dan ketakutan. suami Kekerasan psikis secara kasat mata nyata-nyata tidak terlihat. Keharmonisan dalam rumah tangga oleh suami dan istri mempengaruhi tumbuh kembangnya psikologi anak (Wardodo.com/abused husband. Leksia merupakan satuan bacaan tertentu.KomMTi – Volume : 2. 4. Untuk lebih mudah menganalisis teks. Leksia ini dapat berupa satu kata. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan metode analisis tekstual.2.

ditawarkan Roland a. kadangkadang terbawa dalam mimpi. No. 5. biarpun harus saya seretseret…” “…Memendam kekecewaan dan kekesalan dalam batin.” “…Kalau sedang marah. atau apakah saya mempunyai acara lain pada hari tersebut…” “…. : 6 / Desember 2008 analisis naratif struktural yang Barthes. Leksia 2 2. sekaligus menahan bibir agar tetap terkunci sesuai kehendak istri saya…. Berikut ini adalah kolom yang menjelaskan penggolongan leksia dalam kode pembacaan menurut Roland Barthes. atau anggota keluarga yang lain…” “…Senyum masam dan lirikan saya kurang ampuh untuk membuat istri saya merendahkan volume suaranya…” “…pemikiran yang susah payah saya suntikan dalam otak dan hati itu luntur dalam sekejap…” 1.agar istri saya tidak membongkar ‘isi dapur’ rumah tangga kami kepada kerabat. Leksia 6 7.Leksia 10 4. Hasil dan Pembahasan 5.Padahal datang ke undangan seperti ini kan perlu juga. Hasil Analisis Data.KomMTi – Volume : 2. Leksia 1 KODE SEMIK 6. berikut juga kalimat mana dalam leksia yang menenunjukkan salah satu kode pembacaan. teman. apakah saya letih. yaitu : Wanita Bukan Makhluk yang Lemah yang diceritakan oleh Genting KODE PEMBACAAN LEKSIA KALIMAT YANG MENUNJUKKAN KODE PEMBACAAN PADA LEKSIA “…Ia tidak bertanya apakah saya bersedia hadir. Leksia 5 KODE HERMENEUTIK 3. Leksia 7 __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 212 . Ibu membanting gelas dan piring seraya berteriak-teriak tanpa dapat Ayah hentikan…” “….Leksia 11 5.1.

” “…Suami saya ini senangnya di rumah terus. ia tidak segan melotot atau mencubit lengan saya keraskeras…” “…Yang terpenting bagi seorang laki-laki. ya.. Leksia 9 9. Leksia 5 6. Leksia 4 Psikis Psikis dan Fisik Psikis dan Fisik Psikis 5. yang telah berstatus suami. ialah tanggung jawab dan komitmen. Leksia 3 4. teman.KomMTi – Volume : 2. Leksia 8 KODE PROARETIK 11.Leksia 12 “…. Istri saya adalah pilihan saya sendiri.. Kan malu kalau nggak datang…” demikian salah satu instruksi istri. maka saya akan terima semua konsekuensi atas keputusan itu…” b. saat saya baru pulang kerja di akhir pekan. Leksia 1 Psikis 2. yaitu : Wanita Bukan Makhluk yang Lemah yang diceritakan oleh Genting KALIMAT YANG MENUNJUKKAN ADANYA PERILAKU KEKERASAN TERHADAP LAKI-LAKI “…Bahkan lidah saya kelu setiap kali bermaksud mencetuskan keinginan agar istri saya tidak membongkar ‘isi dapur’ rumah tangga kami kepada kerabat. Leksia 6 Psikis __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 213 .” “…“Lusa kita pergi ke pernikahan saudaraku.” LEKSIA JENIS-JENIS PERILAKU KEKERASAN 1.…. : 6 / Desember 2008 KODE SEMIK 8. Leksia 4 KODE GNOMIK 12. Leksia 3 KODE SIMBOLIK 10. No..Bila saya membuka diskusi seputar perkuliahan dengan istri.. Berikut ini adalah kolom yang menjelaskan kalimat dalam leksia yang menenunjukkan adanya perilaku kekerasan terhadap laki-laki. Leksia 2 3. kayak anak perempuan lagi dipingit…” “…Senyum masam dan lirikan saya kurang ampuh untuk membuat istri saya merendahkan volume suaranya. ia menganggapnya angin lalu…” “…Istri saya menarik tangan saya kesana-kemari…” “…Istri saya seperti tak mau tahu jungkir balik suaminya…” “…Kalau sampai istri tahu bahwa saya bosan dan datang ke acara itu dengan setengah hati. …” “…Istri saya menarik tangan saya kesana-kemari……” “…ia tidak segan melotot atau mencubit lengan saya keraskeras…. atau anggota keluarga yang lain.

atau apakah saya mempunyai acara lain pada hari tersebut…” dan penyelesaian dalam suatu cerita yaitu kalimat “Kan malu kalau nggak datang…” dan kalimat “Segala ketentuan berada ditangannya…” __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 214 . Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan hermeneutik. argumen saya ditolak mentah-mentah oleh istri…. Sayalah lemah. saat saya baru pulang kerja di akhir pekan.” dan kalimat “ia tidak bertanya apakah saya bersedia hadir.” yang tidak lelah yang Psikis Psikis Psikis Psikis Leksia “…saya menyaksikan Ibu melempari Ayah dengan perabot rumah tangga….. Segala ketentuan berada ditangannya. Malu. No. tak pernah membalas rumah tangganya langgeng hingga kini…. Kode Hermeneutik Leksia 2 (halaman 3) “Lusa kita pergi ke pernikahan saudaraku..” “…Ayah tak pernah melawan. ya. Leksia 8 9. 10 11.KomMTi – Volume : 2. apakah saya letih. diberikannya …” “…Mau tidak mau batin ini juga…” “…Saya tak berkutik. lebih saya harapkan. apakah saya letih. 11 12. Kan malu kalau nggak datang…” demikian salah satu instruksi istri. katanya senantiasa.2. atau apakah saya mempunyai acara lain pada hari tersebut. Leksia 9 10. Ia tidak bertanya apakah saya bersedia hadir. yaitu: a..” Psikis dan Fisik Psikis Leksia 5. hal ini dikarenakan melalui kalimat tersebut terdapat suatu kesinambungan antara pemunculan suatu teka-teki yaitu kalimat “Lusa kita pergi ke pernikahan saudaraku.Seperti biasa.. 12 Leksia “. Leksia 7 8. ya. : 6 / Desember 2008 7.Dukungan di segi moril.” “…. bukan istri…. Analisis Data Berikut ini adalah analisis data terhadap leksia-leksia yang telah dipaparkan diatas.

sehingga ia menuruti kata-kata istrinya. : 6 / Desember 2008 Dari leksia tersebut dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan psikis. biarpun harus saya seret-seret. tapi ia malah tidak peduli dengan pendapat dan perasaan suami sendiri. kayak anak perempuan lagi dipingit. istrinya sudah menginstruksikan Genting untuk wajib datang. tindakan istrinya yang membuat Genting tidak berdaya atau tidak mampu bertindak. No.” ceracaunya kepada orang-orang itu. Ia tidak mau terlihat tidak peduli dengan kepentingan keluarga. Pada saat membicarakan acara pernikahan saudaranya beberapa hari lagi. “Padahal datang ke undangan seperti ini kan perlu juga.KomMTi – Volume : 2. apa yang dia inginkan dan kehendaki harus dituruti oleh Genting. Pokoknya supaya nggak kuper!” Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan hermeneutik. Leksia 5 (halaman 4) “Suami saya ini senangnya di rumah terus. yang kontan memandang saya dengan sorot mata keheranan. yang ia pedulikan hanya dirinya sendiri dan pendapat orang lain. karena melalui kalimat tersebut dapat mempertajam masalah yaitu. Dari leksia diatas peneliti melihat bahwa istri Genting lebih mendominasi atau lebih berkuasa. Dari kalimat “Suami saya ini senangnya di rumah terus. Semua keputusan berada ditangannya. seharusnya istrinya membicarakan masalah itu nanti saja setelah Genting melepas lelah. Meskipun saat itu Genting baru saja pulang kerja. karena ia sama sekali tidak peduli dengan pendapat Genting. kecapekan atau punya acara lain. kayak anak perempuan lagi dipingit…” dapat __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 215 . ucapan istrinya yang menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak menghormati dan menghargai Genting bahkan ia tidak segan-segan untuk mempermalukan suaminya didepan umum. Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan hilangnya rasa percaya diri dan hilangnya kemampuan untuk bertindak atau tidak berdaya yaitu. Ia tidak peduli apakah Genting bersedia hadir.

Pada kalimat tersebut peneliti melihat bahwa istri Genting mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak pantas diucapkan oleh seorang istri pada suami.. Istri Genting tidak segan-segan untuk mempermalukan Genting meskipun didepan orang banyak. Sebenarnya maksud istrinya untuk memperkenalkan dan membiasakan Genting bergaul agar Genting mudah berinteraksi dengan orang lain sangat baik. Peneliti melihat bahwa istri Genting sama sekali tidak menghormati dan menghargai suaminya. Sebenarnya sebagai seorang istri ia wajib untuk menghormati dan menghargai suaminya sebagai kepala rumah tangga. biarpun harus saya seret-seret. apalagi dilakukan didepan umum. tidak berdaya atau tidak mampu bertindak. Karena leksia tersebut menunjukkan perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan hilangnya rasa percaya diri dan hilangnya kemampuan untuk bertindak/ tidak berdaya yaitu. Yang mampu saya lakukan tak lain dari berdiam diri. bahkan ia tidak perduli betapa malunya Genting saat orang-orang diruangan tersebut memandang Genting dengan sorot mata keheranan. __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 216 . Pokoknya supaya nggak kuper!. dan istrinya sampai harus memaksa Genting untuk datang. : 6 / Desember 2008 diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan psikis. Tapi yang salah adalah istrinya membicarakan hal tersebut dihadapan orang banyak sehingga malah meremehkan dan mempermalukan Genting.” dapat diartikan bahwa Genting sangat sulit untuk diajak ke acara-acara seperti itu. Hal ini dilakukan agar Genting tidak kuper (kurang pergaulan) dan bisa berinteraksi atau bergaul. yang kontan memandang saya dengan sorot mata keheranan…” terlihat bahwa perilaku kekerasan tersebut dilakukan oleh istri Genting didepan umum atau orang banyak.. No. Leksia 10 (halaman 7) Saya tak berkutik. Dari kalimat yang diucapkan oleh istri Genting “Padahal datang ke undangan seperti ini kan perlu juga. Sayalah yang lemah. bukan istri.KomMTi – Volume : 2. perkataan yang diucapkan oleh istrinya didepan orang banyak membuat Genting malu. Dari kalimat “ceracaunya kepada orang-orang itu.

Dari kalimat “Saya tak berkutik.KomMTi – Volume : 2. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan hermeneutik. kadang-kadang kemarahannya tersebut sampai terbawa dalam mimpi. No. Meskipun demikian Genting tidak begitu saja melupakan tindakan-tindakan istrinya yang sudah dilakukan padanya. ia tidak bisa melakukan apa-apa. sampai-sampai kekecewaan dan kekesalan tersebut terbawa dalam mimpi. sekaligus menahan bibir agar tetap terkunci sesuai kehendak istri saya. Karena seringnya memendam kemarahan. karena dalam kalimat yang disampaikan oleh Genting tersebut kita bisa melihat bahwa ini adalah klimaks dari kisah yang diceritakan oleh Genting. : 6 / Desember 2008 Memendam kekecewaan dan kekesalan dalam batin. Genting merasa benar-benar lemah dihadapan istrinya. Dari leksia diatas peneliti melihat bahwa meskipun Genting mendapatkan perilaku yang tidak sepantasnya dari istrinya. Sayalah yang lemah. bukan istri…” dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan psikis. Peneliti melihat bahwa Genting adalah seseorang yang mempunyai karakteristik yang sabar. kadang-kadang terbawa dalam mimpi. tindakan yang telah dilakukan oleh istri Genting selama ini membuat Genting tidak berkutik. Dari kalimat tersebut terlihat bahwa istri Genting mempunyai kekuatan yang lebih dari suaminya dalam rumah tangga dan Genting hanya bisa memendam kekecewaan dan kekesalan pada perilaku istrinya dalam hati. yang bisa ia lakukan hanya diam sesuai dengan keinginan istrinya. tetapi alam bawah sadarnya tidak bisa membohongi __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 217 . Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang menyebabkan hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu. Ia hanya bisa memendam kekecewaan dan kekesalan dalam hati. Walaupun ia berusaha untuk memendam kekecewaan dan kemarahan pada istrinya. yang hanya bisa ia lakukan adalah memendam kekecewaan dan kekesalan dalam hati.

Suara barang pecah sudah sangat akrab di telinga saya. sampai terkadang hal-hal tersebut terbawa dalam mimpi. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan hermeneutik. karena dalam leksia tersebut terdapat kalimat yang menunjukkan ketegangan situasi pada saat itu. Dari leksia tersebut dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan fisik dan psikis. Sehingga timbul ketidakamanan atau ketidakadilan terhadap orang yang berada dalam lingkup rumah tangga. No. tindakan yang telah dilakukan oleh ibu Genting pada ayahnya saat ia masih kecil menyebabkan rasa sakit dan menyebabkan ketakutan. Terganggunya psikologis anak juga turut diakibatkan oleh kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan istri. Dari kalimat inilah bisa dilihat bahwa pada saat masih kecil ia sering sekali melihat ibunya melakukan tindakan kekerasan pada ayahnya. Semua pihak keluarga akan turut merasakan dampak buruk dari suatu perbuatan yang dilarang. hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu. Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan luka. rasa sakit. Bahkan hal ini juga bisa terbawa sampai __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 218 . Leksia 11 (halaman 8) Usia saya belum genap lima tahun saat itu. Kalau sedang marah. tidak berdaya atau tidak mampu bertindak. : 6 / Desember 2008 perasaannya.KomMTi – Volume : 2. yang termasuk didalamnya adalah suami. Dari leksia tersebut peneliti melihat bahwa kekerasan yang terjadi terhadap suami oleh istri dalam lingkup rumah tangga akan berdampak negatif bagi semua pihak dalam rumah tangga. Namun hampir setiap hari saya menyaksikan Ibu melempari Ayah dengan perabot rumah tangga. Keharmonisan dalam rumah tangga oleh suami dan istri mempengaruhi tumbuh kembangnya psikologi anak. Ibu membanting gelas dan piring seraya berteriak-teriak tanpa dapat Ayah hentikan.

Tapi. atau anggota keluarga yang lain. tidak mudah bergaul dengan orang lain. dalam leksia ini yang dimaksud dengan “isi dapur” adalah rahasia atau masalah rumah tangga yang dimiliki oleh suami-istri. dan setiap rumah memiliki isi dapur yang berbeda-beda.KomMTi – Volume : 2. Bahkan lidah saya kelu setiap kali bermaksud mencetuskan keinginan agar istri saya tidak membongkar ‘isi dapur’ rumah tangga kami kepada kerabat. Tidak punya kekuatan apa-apa. Anak akan menjad pribadi yang tertutup. : 6 / Desember 2008 ia dewasa nanti. hal ini dikarenakan terdapat kata-kata konotasi yang melekat pada satu nama tertentu. No. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan semik. tetapi dalam buku ini kata-kata tersebut digunakan untuk menyatakan rahasia atau masalah rumah tangga. Dari kalimat “Sebagai laki-laki. Kata-kata tersebut biasanya digunakan pada suatu benda. Dari leksia tersebut diatas peneliti bisa melihat bahwa tokoh utama yaitu Genting sering kali terlihat __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 219 . Pada umumnya kata “isi dapur” biasa kita gunakan untuk menyebutkan benda-benda yang ada dalam rumah tepatnya di dapur yang bisa digunakan untuk memasak. saya kerap merasa tidak berdaya. teman. saya kerap merasa tidak berdaya. Tidak punya kekuatan apa-apa…” dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan psikis. tindakan istrinya yang membongkar rahasia rumah tangganya pada orang lain tidak dapat dicegah oleh Genting. yaitu “isi dapur”. b. Kode Semik Leksia 1 (halaman 3) Sebagai laki-laki. Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu. pendiam dan tidak berani mengungkapkan pendapatnya.

Ia tak sedikitpun menghargai ‘pengorbanan’ saya. Ia tidak mempunyai kekuatan dan tidak bisa melakukan apa-apa ketika istrinya menceritakan rahasia rumah tangganya dihadapan orang banyak.KomMTi – Volume : 2. Dari kalimat “Bahkan lidah saya kelu setiap kali bermaksud mencetuskan keinginan agar istri saya tidak membongkar ‘isi dapur’ rumah tangga kami…” dapat diartikan bahwa Genting benarbenar tidak bisa mencegah atau berbuat apa-apa agar istrinya tidak menceritakan rahasia rumah tangganya. yaitu “senyum masam”. Leksia 6 (halaman 4) Masya Allah. Seharusnya suami-istri bisa menjaga apa yang menjadi rahasia dalam rumah tangganya. Sehingga yang dimaksud dengan kata masam disini berarti senyum terpaksa yang tidak enak dilihat. Padahal suatu rahasia rumah tangga tidak baik untuk diceritakan pada orang lain. Dalam leksa ini kata “masam” diikuti dengan kata “senyum”. Kata-kata tersebut biasanya digunakan pada suatu benda. No. hal ini dikarenakan terdapat kata-kata konotasi yang melekat pada satu nama tertentu. tetapi dalam buku ini katakata tersebut digunakan untuk menyatakan kekecewaan atau kesedihan terhadap tindakan seseorang. Pada umumnya kata “masam” gunakan untuk menggambarkan suatu rasa tertentu ketika kita menikmati makanan. : 6 / Desember 2008 lemah dan tidak berdaya dihadapan istrinya. Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu tindakan yang sudah dilakukan oleh istrinya didepan __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 220 . yang menunjukkan kekecewaan atau kesedihan terhadap tindakan seseorang. Dari kalimat “Senyum masam dan lirikan saya kurang ampuh untuk membuat istri saya merendahkan volume suaranya…” dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan psikis. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan semik. Senyum masam dan lirikan saya kurang ampuh untuk membuat istri saya merendahkan volume suaranya.

Kata-kata tersebut biasanya digunakan pada suatu benda. Leksia 7 (halaman 5) Akan tetapi pemikiran yang susah payah saya suntikan dalam otak dan hati itu luntur dalam sekejap tatkala melihat kartu nama yang khusus dipesankan istri untuk kami berdua. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan semik. yaitu “susah payah saya suntikan dalam otak dan hati itu luntur…. Meskipun Genting sudah menunjukkan “senyum masam” atau senyum dengan terpaksa tapi tidak mampu membuat istrinya merendahkan volume suaranya. pemikiran positif yang sudah dimasukkan dan tertanam dalam hati dan otak Genting terhadap sikap istrinya yang __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 221 . Walaupun ia sudah menuruti keinginan istrinya untuk datang ke acara tersebut. Seperti biasa. tidak berdaya atau tidak mampu bertindak. Istrinya tetap menghina dan meremehkan Genting didepan umum dengan suara yang tinggi.KomMTi – Volume : 2. tetap saja istrinya tidak menghargai dan menghormati pengorbanan yang sudah Genting lakukan. argumen saya ditolak mentah-mentah oleh istri. sehingga kata-kata istrinya bisa didengar oleh orang banyak. Disana tercetak jelas gelar kebangsawanan istri (kebetulan memang ia berdarah biru) dan titel kesarjanaan kami masing-masing. Dari leksia tersebut kita bisa melihat bahwa apa yang sudah dilakukan oleh Genting sedikitpun tidak dihargai oleh istrinya. selain tersinggung dan menilai kami angkuh. : 6 / Desember 2008 banyak orang membuat Genting malu. tetapi dalam buku ini kata-kata tersebut digunakan untuk menyatakan kekecewaan. Tidakkah perbuatan istri saya akan membuat orangorang yang membacanya mencibir atau malah tertawa. No.”. yang dimaksud dengan leksia tersebut dalam buku ini yaitu. hal ini dikarenakan terdapat sejumlah konotasi yang melekat pada satu nama tertentu. Sedangkan kata “luntur” adalah hilang atau pudarnya warna tertentu pada suatu benda. Tapi. Pada umumnya yang dimaksud dengan kata “suntikan” adalah memasukkan cairan kedalam tubuh atau benda.

pendapat yang disampaikan oleh Genting ditolak mentah-mentah oleh istrinya. argumen saya ditolak mentah-mentah oleh istri…” dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan psikis. No. Dari leksia tersebut peneliti melihat bahwa pemikiran positif yang sudah tertanam dalam benak Genting tentang istrinya yang berusaha memberi hadiah uang dalam jumlah yang memadai.KomMTi – Volume : 2. Tetapi. tindakan istrinya yang terlalu menunjukkan gelar dan titel pada orang membuat Genting malu. hilang setelah ia melihat gelar dan titel mereka berdua pada kartu nama yang sudah dipesankan oleh istrinya. Dalam leksia tersebut terlihat bahwa Genting sudah berusaha untuk memberi nasehat pada istrinya agar tidak pamer. Dari kalimat “Seperti biasa. Leksia 9 (halaman 7) Mau tak mau batin ini lelah juga. ia __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 222 . Karena ternyata istrinya memberi hadiah tersebut adalah untuk menunjukkan atau memamerkan pada orang-orang tentang gelar kebangsawanan istrinya dan titel kesarjanaan mereka berdua. Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu. tidak berdaya atau tidak mampu bertindak. Meskipun pendapat tersebut tidak sesuai dengan pendapat istri. Dan ini juga yang menjadi alasan kenapa istrinya memberi hadiah dalam jumlah yang besar. : 6 / Desember 2008 berusaha memberi hadiah uang dalam jumlah yang memadai hilang setelah ia melihat gelar dan titel pada kartu nama yang sudah dipesankan oleh istrinya. Seharusnya sebagai seorang istri ia harus menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya. karena jika ia memberi hadiah dalam jumlah kecil ia akan merasa malu. Bila saya membuka diskusi seputar perkuliahan dengan istri. tetapi seorang istri seharusnya dapat menolak pendapat tersebut dengan halus. karena Genting takut kalau tindakan istrinya tersebut malah ditertawakan orang atau menilai mereka angkuh.

yaitu “angin lalu”. Kata-kata tersebut biasanya digunakan untuk menunjukkan situasi alam. Kalau saya menguap. Mulut tak diperlukan. Saya harus siap membuka mata dan telinga. istrinya akan sangat marah. Lain halnya jika istrinya yang ingin berkeluh kesah. Pendapat Genting tidak diperlukan. Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu. anggota keluarga (baik keluarga saya maupun keluarganya sendiri). : 6 / Desember 2008 menganggapnya angin lalu. padahal saat itu Genting ingin berbagi atau berdiskusi tentang masalah kuliahnya pada istrinya. Bila saya membuka diskusi seputar perkuliahan dengan istri.” dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yatu kekerasan psikis. ia akan sangat marah. Genting harus siap membuka mata dan telinga. Lain halnya jka ia sedang ingin berkeluh kesah tentang rekan kerja. Dari kalimat “Mau tak mau batin ini lelah juga. sikap istrinya yang tidak pernah mau menghiraukan apa yang sedang dirasakan oleh Genting. Padahal yang diceritakan oleh istrinya tersebut adalah tentang rekan kerja. ia menganggapnya angin lalu…. tetapi dalam buku ini yang dimaksud dengan kata-kata tersebut adalah apa yang dibicarakan atau diceritakan oleh genting tidak pernah dianggap oleh istrinya. hal ini dikarenakan terdapat kata-kata konotasi yang melekat pada satu nama tertentu.KomMTi – Volume : 2. malah ungkapan hati dan cerita-cerita __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 223 . atau tetangga. anggota keluarga (baik keluarga saya maupun keluarganya sendiri). Apa yang ingin disampaikan oleh Genting tidak pernah dihiraukan atau dianggap oleh istrinya. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan semik. No. Dan jika Genting terlihat capek. sebagai manusia biasa lama-lama Genting juga bisa merasa capek dan lelah dengan sikap istrinya tersebut. atau tetangga. Dari leksia tersebut peneliti melihat bahwa meskipun Genting berusaha terus sabar dan menuruti keinginan istrinya. Sebenarnya ceritacerita tersebut tidak terlalu penting untuk hubungan mereka berdua.

Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan simbolik. Leksia 8 (halaman 6) __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 224 . No. : 6 / Desember 2008 Genting tidak dihiraukan.KomMTi – Volume : 2. tindakan yang dilakukan oleh istrinya yang memaksa dan mengajak Genting kesana-kemari untuk berkenalan dan berbasa-basi dengan tamu membuat Genting tidak berdaya dan hanya bisa tersenyum atau mengangguk-angguk. Dari kalimat “Istri saya menarik tangan saya kesana-kemari…” dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan fisik dan psikis. Leksia diatas bisa diartikan bahwa Genting dipaksa oleh istrinya untuk memperkenalkan diri pada para tamu. Disini peneliti melihat bahwa walaupun dengan sedikit memaksakan diri untuk mengenal para tamu di acara tersebut. Padahal yang mendorong Genting agar melanjutkan pendidikan S2 adalah istrinya. hal ini dikarenakan terdapat katakata yang diulang-ulang yang mempunyai pembedaan dalam taraf bunyi. karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang berbentuk fisik atau melibatkan fisik selain itu tindakan istrinya tersebut dapat menyebabkan rasa malu. c. yaitu kesana-kemari. Bahkan. istrinya memperkenalkan Genting pada seluruh tamu yang ada diruangan tersebut dan mengajak mereka basa-basi. memperkenalkan dengan para tamu undangan dan mengajak basabasi namun yang saya lakukan hanya tersenyum atau mengangguk-angguk. tetapi Genting berusaha untuk selalu tersenyum dan menganggukangguk. Kode Simbolik Leksia 3 (halaman 4) Kadang-kadang saya memaksakan diri kendati tidak mengenal tamu-tamu lainnya. Ini dilakukan untuk menghormati keinginan istrinya dan agar istrinya tidak marah dan membuatnya malu didepan umum. tidak mampu bertindak atau tidak berdaya yaitu. Istri saya menarik tangan saya kesana-kemari.

Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu. Dari kalimat “Dukungan di segi moril.KomMTi – Volume : 2. hal ini dikarenakan terdapat katakata yang diulang-ulang yang mempunyai pembedaan dalam taraf bunyi. yang lebih saya harapkan. Selama ini yang diberikan oleh istrinya adalah dukungan dari segi materi saja. Dari leksia tersebut bisa dilihat bahwa sebenarnya Genting kecewa pada istrinya. Leksia diatas bisa diartikan bahwa istri Genting hanya mendukung dari segi materi. yaitu jungkir balik. dukungan yang lebih diharapkan oleh Genting tidak diberikan oleh istrinya. sedangkan dukungan dari segi moril yang lebih diharapkan oleh Genting tidak diberikan. No. yang lebih saya harapkan. : 6 / Desember 2008 Dukungan di segi moril. sehingga membuat Genting kecewa. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan simbolik. tidak diberikannya…” dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan psikis. Peneliti melihat bahwa karena karier istri Genting yang lebih bagus dan penghasilannya lebih __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 225 . Karena istrinya tidak mau tahu kerja keras dan pengorbanan yang sudah dilakukan oleh Genting selama ini yaitu merampungkan tugas-tugas di kantor sekaligus menyelesaikan studi dengan nilai yang memuaskan. padahal yang lebih diharapkan Genting dari istrinya adalah dukungan moril tetapi ini tidak diberikan oleh istrinya. tidak diberikannya. Yang dipikirkan oleh istrinya adalah bagaimana Genting bisa melanjutkan kuliah S2 meski istrinya harus merelakan sebagian besar tabungannya dengan maksud tertentu yaitu unsur gengsi. Bahkan istrinya seperti tidak mau tahu kerja keras Genting untuk merampungkan tugas-tugas di kantor sekaligus menyelesaikan studi dengan nilai memuaskan. Istri saya seperti tak mau tahu jungkir balik suaminya merampungkan tugas-tugas di kantor sekaligus menyelesaikan studi dengan nilai memuaskan.

Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan luka. No.…” dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan fisik dan psikis. atau yang lebih dominan dan memiliki otoritas tertentu. Dari leksia tersebut kita bisa melihat bahwa jika sampai istrinya tahu kalau ia bosan dan datang ke acara tersebut dengan setengah hati. Kekerasan sering dilakukan oleh orang-orang yang dianggap lebih kuat.KomMTi – Volume : 2. Hal ini terjadi karena istri Genting merasa mempunyai kuasa atas Genting. Mereka yang memiliki wewenang lebih itu cenderung akan melakukan kekerasan bila merasa wewenang mereka ada yang melanggar. Dari kalimat “ia tidak segan melotot atau mencubit lengan saya keras-keras. : 6 / Desember 2008 besar untuk membiayai Genting. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan proaretik. hal ini dikarenakan terdapat tindakan-tindakan yang membuahkan dampak-dampak. Sakitnya mampu saya tahan. Tapi malunya tak terkira. tindakan istrinya melotot dan mencubit lengan Genting keraskeras dapat menyebabkan rasa sakit dan mengakibatkan rasa malu karena hal itu dilakukan didepan orang banyak. d. maka istrinya merasa berkuasa dan seenaknya pada suami sehingga tidak perlu lagi memberikan dukungan moril. tidak dipatuhi. __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 226 . Istrinya tidak akan segan-segan untuk melotot atau mencubit lengannya keras-keras. ia tidak segan melotot atau mencubit lengan saya keraskeras. rasa sakit dan juga hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu. Kode Proaretik Leksia 4 (halaman 4) Kalau sampai istri tahu bahwa saya bosan dan datang ke acara itu dengan setengah hati. karena ia lakukan itu di depan orang banyak.

yaitu suatu ajaran bahwa yang terpenting bagi seorang suami adalah tanggung jawab dan komitmen. Misalnya seperti tindakan istrinya yang tidak malu-malu untuk mencubit lengan Genting keras-keras. Sakit yang dirasakan akibat cubitan itu bisa ditahan. __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 227 . Hal ini dapat dilihat dari sifat tokoh Genting yang ia peroleh sejak masih kanak-kanak dari orang tuanya. e. Kode Gnomik Leksia 12 (halaman 8) Ayah tak pernah melawan. : 6 / Desember 2008 Dari leksia tersebut diatas peneliti melihat bahwa Genting berusaha untuk menutupi apa yang dirasakan di depan istrinya dan tamu undangan. Yang terpenting bagi seorang laki-laki. tak pernah membalas rumah tangganya langgeng hingga kini. Istri saya adalah pilihan saya sendiri. tapi rasa malunya tidak bisa ditahan karena istrinya melakukannya didepan orang banyak. istrinya tidak akan segan untuk melotot atau bahkan mencubit lengan Genting keras-keras. yang telah berstatus suami. maka saya akan terima semua konsekuensi atas keputusan itu. Yang dimaksud dengan setengah hati disini adalah sebenarnya Genting senang jika diundang dan bisa datang ke acara-acara seperti itu. Dia berusaha agar tidak terlihat bosan meskipun datang ke acara tersebut dengan setengah hati. jika sampai istrinya tahu kalau ia bosan datang ke acara tersebut. tapi tindakantindakan istrinyalah yang kadang membuat dia malu dan tidak berdaya dihadapan orang banyak. Suatu sifat yang sudah tertanam dalam benaknya yang tanpa disadari ia contoh dari ayahnya.KomMTi – Volume : 2. Leksia diatas digolongkan dalam kode pembacaan gnomik. Hal ini dilakukan karena jangan sampai istrinya tahu apa yang Genting rasakan. dimana kode pembacaan ini berisi tentang pengetahuan maupun kearifan (wisdom). Genting tidak mampu untuk mengungkapkan kemarahannya meskipun apa yang dilakukan istrinya tersebut membuat Genting kesakitan. ialah tanggung jawab dan komitmen. No.

Kesimpulan __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 228 . baik untuk korban dari kekerasan tersebut yang mengakibatkan kesengsaraan secara fisik. Ia lebih baik diam dan mengalah apabila terjadi perdebatan atau pertengkaran dengan istri.KomMTi – Volume : 2. Karena dalam leksia tersebut menunjukkan adanya perilaku kekerasan yang dapat menyebabkan hilangnya rasa percaya diri atau hilangnya kemampuan untuk bertindak yaitu. : 6 / Desember 2008 Dari kalimat “Ayah tak pernah melawan. 6. Kesimpulan dan Saran a. Dulu ia sering sekali melihat kekerasan yang dilakukan oleh ibunya pada ayahnya. Yang ia tahu dari pertengkaran tersebut ayahnya selalu tidak pernah melawan atau membalas apa yang sudah ibunya lakukan pada ayahnya. tak pernah membalas rumah tangganya langgeng hingga kini. ekonomi. Dan sifat seperti inilah yang sampai sekarang dicontoh oleh Genting. Dari leksia tersebut peneliti melihat bahwa secara tidak langsung Genting mencontoh tindakan yang dilakukan oleh orang tuanya dulu saat ia masih kecil. saat itu ia masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi. seksual. Menurut Genting yang paling penting adalah ia bisa memenuhi tanggung jawab dan komitmen sebagai suami yaitu setia pada pasangan dan bekerja untuk menafkahi istrinya meskipun penghasilannya tidak lebih besar dari istrinya. Keharmonisan dalam rumah tangga oleh suami dan istri mempengaruhi tumbuh kembangnya psikologi anak. ancaman psikologis termasuk perampasan kemerdekaan secara sewenangwenang. tindakan kekerasan yang dilakukan oleh ibunya kepada ayahnya dulu membuat ayahnya tidak berdaya dan tidak mampu bertindak. Dari leksia tersebut kita bisa melihat bahwa ketidak harmonisan atau kekerasan dalam rumah tangga mempunyai efek yang negatif.…” dapat diartikan bahwa terdapat perilaku kekerasan yaitu kekerasan psikis. No. Dan juga terganggunya psikologis anak juga turut diakibatkan oleh kekerasan dalam rumah tangga. sifat ini yang membuat ia lemah dihadapan istrinya.

2005. 2007. dan Matriarkhi: Kajian Komprehensif tentang Gender. Filsafat Bahasa. 2007. __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 229 . Pengantar Ilmu Komunikasi. Cinta. Fiske. Seksualitas. No. 1996. b. Jakarta : Yayasan Indonesiatera. 2004. Raja Grafindo Persada. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Jakarta : Akar Media. 2005. Asep Ahmad. Teori Komunikasi Massa : Suatu Pengantar. Yogyakarta & Bandung : Jalasutra. Fokusmedia. Maleong. Denis. Erich. 2001. Yogyakarta : Buku Baik. McQuail. Kris. Hidayat. Bandung : Fokusmedia. Semiotika Visual. Fakih. Budiman. Cangara. Jakarta : PT. Remaja Rosdakarya. Hafid. 2004. Jakarta : Erlangga. Yogyakarta : LKiS. Lelaki yang Menangis. Bandung : PT. Bandung : Jala Sutra. Himpunan Peraturan PerUndang-Undangan tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. : 6 / Desember 2008 Kekerasan yang dilakukan wanita terhadap lakilaki dalam buku ”Lelaki yang Menangis” karya Rini Nurul Badariah dalam kisah ”Wanita Bukan Makhluk yang Lemah” adalah kekerasan fisik dan psikis. Eriyanto. terutama berpengaruh terhadap psikologis anak. Rini Nurul. Mansour. Ikonisitas Semiotika Sastra dan Seni Visiual. Metodologi Penelitian Kualitatif. . 2001. Yogyakarta : Buku Baik. 2006.KomMTi – Volume : 2. Saran Kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan yang terjadi dalam lingkup rumah tangga akan berdampak negatif bagi semua pihak dalam rumah tangga. Fromm. Pengantar Analisis Teks Media. Remaja Rosdakarya. Bandung : PT. Cultural and Communication Studies Sebuah Pengantar Paling Komprehensif. 2003. 1987. 2002. Lexy J. Semiologi Roland Barthes. Kurniawan. John. Analisis Gender Dan Transformasi Sosial. Daftar Pustaka Badariah.

2004. Pradnya Paramita.id/esai/nws/04/representasi. 2004. Mufidah Ch.. Analisis Teks Media. dan Tjitrosudibio. Prof. Batam Centre : Lucky Publishers. . Sunardi. Malang : Banyu Media Publishing. Lyndon. Rika. Alex. Pateda.sekitarkita. Mudji. Kamus Sosiologi. Bandung : Remaja Rosda Karya.html http://www. dan Sutrisno. 2003.. 1999. Bandung : PT.. M. St. Mansoer.php http://www. Komunikasi Multikultural.mtoomey. 2003. Purwanto. Citra Sditya Bakti Sobur.. MA. Paradigma sosiologi Sastra. Subekti. Andrik. Prof.. Dr. R. Nyoman. Saraswati. 2003. Segars.htm __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 230 .wikipedia.kunci. Jakarta : Departemen Pendidikan.or.org/wiki/matrilineal. 2006. Ratna.com/verbalabusers. Hendar. 2005.. Soekanto. 2006. Soerjono. SH. Yogyakarta : Kanisius.drirene.com/glossary. Perempuan dan Penyelesaian Kekerasan dalam Rumah Tangga. Rien T.com/abused husband. Bandung : Remaja Rosda Karya. 2001. Masa Depan Media. Semantik Leksikal. Semiotika Komunikasi Suatu Pengantar.htm http://www. Jakarta : PT.. 2002. Jakarta : Rineka Cipta. Yogyakarta : Adicita Karya Nusa. WJS. Kekerasan Berbasis Gender. Teori-Teori Kebudayaan. Surakarta : Muhammadiyah University Press..KomMTi – Volume : 2. Evaluasi Teks Sastra. Yogyakarta : Buku Baik. 1993. Jakarta : PT. K. 2000. Ridwan. INTERNET : http://www. R. Julia Cleves. Paradigma Gender. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. : 6 / Desember 2008 Mosse. 1996. Ag. 1996. M. Saputra. 2001. Raja Grafindo Persada. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Poerwadarminta.htm http://www. Gender & Pembangunan. Putranto. No. Semiotika Negativa.. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.. Ag. Purwokerto : Pusat Studi Gender (PSG).

: 6 / Desember 2008 __________________________________________________________________________ Balai Pengkajian dan Pengembangan Informasi Wilayah V Surabaya 231 .KomMTi – Volume : 2. No.

Related Interests