LAPORAN PRAKTIKUM SINTESIS BAHAN OBAT SINTESIS ASAM SALISILAT

OLEH :

KELOMPOK A6 FEBRY PUJI A. FERANI CENDRIANTI NOERMALA E. AMINAH PUTRI WULANDARI (092210101042) (092210101043) (092210101044) (092210101046) (092210101050)

LABORATORIUM KIMIA FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS JEMBER DESEMBER, 2011

Reaksi ini dikatalisis dengan asam. Ester sering memiliki rasa atau bau buah. TUJUAN PERCOBAAN Mahasiswa dapat mengenal reaksi esterifikasi. Asam salisilat tersedia di alam dalam bentuk ester pada glikosida dan minyak atsiri. Pada percobaan kali ini akan disintesis metil salisilat yang dapat dibuat melalui reaksi esterifikasi. Reaksi esterifikasi adalah suatu reaksi antara asam karboksilat dan alkohol membentuk ester. Reaksi dari asam karboksilat dan alkohol menghasilkan ester dan air. Ester asam karboksilat ialah suatu senyawa yang mengandung –COOR dengan R dapat berupa alkil maupun aril. Metil ester terkandung dalam minyak gandapura dan minyak aromatik lainnya. Ester dihasilkan apabila asam karboksilat dipanaskan bersama alcohol dengan bantuan katalis asam. Terkadang juga digunakan gas hydrogen klorida aromatic (ester yang mengandung cincin benzene). Laju esterifikasi asam karboksilat tergantung pada halangan sterik dalam alcohol dan asam karboksilat. Mekanisme obat ini belum jelas. Katalis ini biasanya adalah asam sulfat pekat. . II.. walaupun diperkirakan dengan hubungan produksi atau penghantaran hormon.SINTESIS METIL SALISILAT I. Kekuatan asam dari asam karboksilat hanya mempunyai pengaruh yang kecil dalam laju pembentuakn ester. Turunan asam karboksilat membentuk ester asam karbosilat. TEORI DASAR Golongan analgesik non narkotik seperti asetil salisilat ternyata memiliki khasiat anti inflamasi sehingga dapat digunakan untuk mengobati arthritis. Esterifikasi dikatalisis asam dan bersifat reversible.

mungkin diperlukan untuk memanaskan campuran reaksi dibawah refluks selama beberapa waktu untuk menghasilkan sebuah campuran kesetimbangan. sehingga memiliki gaya antar molekul yang paling lemah. Ester merupakan satusatunya zat dalam campuran yang tidak membentuk ikatan hydrogen. Dalam hal ini. dapat dipanaskan secara perlahan sebuah campuran antara asam metanoat dan etanol dengan bantuan katalis asam sulfat pekat. katalis mengubah lingkungan dalam system dan sebagian dihilangkan melalui hidrasi air terbentuk dari reaksi ini. Untuk membuat sebuah ester hasil seperti etil etanoat. alcohol. air. ini dapat mencegah terjadinya reaksi balik. Adisi alcohol & pemindahan suatu proton ke salah satu gugus hidroksil 3.Tahapan reaksi esterifikasi: 1. Mekanisme reaksinya: Tahap 1 Tahap 2 . Eliminasi air & deprotonisasi Reaksi pada percobaan ini bersifat reversible maka kesetimbangan harus dibuat condong ke kanan untuk diperoleh ester dalam jumlah banyak. Metal salisilat dapat dibuat melalui esterifikasi asam karboksilat menghasilkan cairan kuning kemerahan dengan bau wintergreen. Jika ditambahkan sejumlah besar katalis asam. Ester bisa dipisahkan dari asam karboksilat. Pemisahan dengan destilasi ini dapat dilakukan dengan baik karena ester memiliki titik didih yang paling rendah diantara semua zat yang ada. dan memisahkan ester melalui destilasi sesaat setelah terbentuk. dan asam sulfat dalam campuran dengan metode destilasi fraksional. Protonasi gugus karbonil 2. Ester-ester yang lebih besar cenderung terbentuk lebih lambat.

pelarut akan berjalan kembali ke labu. di atasnya kondensor aka terlihat kering. dan cincin refluks ata cincin cairan akan muncul di sana. Refluks adalah proses perebusan reaktan secara terus menerus bersamaan dengan pendinginan sehingga uap kembali ke labu sebagai cairan. Pada suhu reaksi dalam campuran refluks akan menjadi sekitar titik didih dari pelarut digunakan untuk reaksi. Batas antara dua zona akan jelas batasbatasnya. cairan dipanaskan di bawah refluks akan berjalan hanya sebagian sampai tabung kondensor sebelum kondensasi. Pada alatsebuah kondenso melekat pada labu dengan penangas. Di bawah titik kondensasi. dan air pendinginuntuk menyingkat uap yang keluar. Hal ini bertujuan untuk memanaskan campuran dan meningkatkan suhu dari campuran.Tahap 3 Tahap 4 Prosedur: 1. Selalu digunakan batu didih atau pengaduk magnetik menghindari terjadinya letupan karena perbedaan titik didih masing-masing bahan. laju pemanasan harus disesuaikan sehingga cincin refluks tidak lebih tinggi dari sepertiga kesetengah jarak ke atas kondensor. . Mengatur alat refluks seperti yang digambarkan baik menggunakan labu alas bulat 125 atau 250. Dalam pemanasan dengan refluks. Jika laju pemanasan telah disesuaikan dengan benar.

10. 7. Pasang kondensor refluks. Dalam laboratorium kimia modern organik. Set up alat distilasi. Tuangkan lapisan organik pada sebuah labu Erlenmeyer dan keringkan dengan kalsium klorida anhidrat: CaCl2 dapat menyerap air.050 mol asam salisilat dalam labu alas bulat dan tambahkan 30 mL metil alkohol. Tempatkan campuran reaksi dalam corong pemisah. 9. Cuci campuran dengan pemutaran. 5. menangkap dan pendinginan resultan uap panas. dan mengumpulkan uap terkondensasi. refluks campuran selama 2 jam. 6. Cuci ester sekali lagi dengan 30 ml air menggunakan prosedur yang dijelaskan di atas. 4. 3. Tuangkan isi ke dalam 100 mL air suling dingin dalam sebuah gelas kimia 400 mL. Distilasi digunakan untuk memurnikan . Masukkan 0. Decantasi ester dan catat massa produk. tambahkan 50 mL larutan natrium bikarbonat 5% (ingat untuk bilas labu reaksi dengan 10 mL air dingin dan tambahkan ke corong pemisah). destilasi adalah alat yang ampuh.2. sambil dilihat dua lapisan untuk menentukan yang merupakan lapisan fase air. PERHATIAN: pembentukan karbon dioksida yang akan memberikan tekanan di dalam saluran vent.0 mL H2SO4 dengan hati-hati (PERHATIAN: sangat korosif). 8. Jangan lupa untuk menambahkan batu didih. Tambahkan 8. Titik didih senyawa ditentukan oleh distilasi didefinisikan dengan baik dan dengan demikian merupakan salah satu sifat fisik dari senyawa yang diidentifikasi. jangan lupa untuk memulai air yang mengalir melalui kondensor. Distilasi adalah proses pemanasan cairan sampai mendidih. Dinginkan labu reaksi dengan merendam dalam air dingin. Goyang-goyangkan labu untuk benar-benar tercampuran. Buang lapisan fase air. dan pemanas. baik untuk identifikasi dan pemurnian organik senyawa.

Metil salisilat sering digunakan sebagai bahan farmasi. Kombinasikan ester dengan kelompok lain untuk distilasi ke dalam labu penyulingan dengan menyaring melalui corong dengan kertas saring. ALAT DAN BAHAN Alat :  Labu alas bulat  Batu didih  Kondensor allihn  po  Labu alas bulat leher 2:250 ml  Gelas ukur 10 ml  Gelas ukur 50 ml  Gelas beker 50 ml  Gelas beker 100 ml  Botol 60 ml  Termometer  Corong pisah  Pemanas mantel  Kertas saring . pasta gigi. Metil salisilat telah digunakan untuk pengobatan sakit saraf. mereka terpisah menjadi komponen tunggal ketika campuran dengan hati-hati disuling. III. gula-gula. karena hal ini dilakukan distilasi dengan tekanan rendah. minuman. Untuk menurunkan tekanan di dalam distilasi set-up 10-20 mmHg dan harus memungkinkan produk terkumpul pada suhu sekitar 110-115 ° C. radang selaput dad dan rematik juga sering digunakan sebagai obat gosok dan balsam. Jangan lupa memasukkna batu didih. sakit pinggang. Ini adalah suhu yang sangat tinggi untuk melakukan distilasi. antiseptic dan kosmetik serta farfum. 12. penyedap rasa makanan. 13.senyawa yang memiliki titik didih yang berbeda. Kumpulkan semua hasil sulingan. mengumpulkan fraksi antara 110-115 °C dalam labu terpisah. Menilai kemurnian wintergreen Kegunaan produk Asam salisilat merupakan salah satu bahan kimia yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari serta memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi karena dapat digunakan sebagai bahan intermediet dari pembuatan obat-obatan seperti antiseptic dan analgesic salah satu turunan dari asam salisilat adalah metal salisilat. Metil salisilat mendidih pada 222°C. 11.

CARA KERJA Menimbang 6. Airnya dibuang Fase minyak dituang ke dalam beaker glass 50 ml Menambahkan Kalsium Klorida secukupnya Didekantasi.Bahan:       Asam salisilat Metanol absolut Asam sulfat pekat Aquadest Natrium karbonat Kalsium klorida IV. dinginkan Memasukkan hasil refluks ke dalam corong pisah Menambah 100 ml aquadest dan 5% Natrium Karbonat 5 ml Mengocok hingga terpisah fase air dan fase minyak Airnya dibuang Memasukkan kembali fase minyak ke dalam corong pisah dan menambahkan 30 ml aquadest Mengocok hingga terpisah fase cair dan minyaknya.9 gram asam salisilat Menyiapkan 30 ml etanol dan 8 ml asam sulfat pekat Merefluks campuran selama 2 jam Menempatkan ketiganya dalam labu alas bulat 250 ml Setelah selesai. hingga fase bebas air .

lalu dipisahkan lapisan esternya Mengeringkan ester dengan Magnesium Sulfat Anhidrat dalam labu Erlenmeyer.Isolasi dan pemurnian Mendestilasi kelebihan metil alkoholnya diatas pemanas mantel Labu dibiarkan dingin Menuang residu ke dalam corong pisah yang berisi air hingga lapisan ester dibawah Memisahkan lapisan ester dari lapisan air Mengulangi pencucian ester dengan larutan Na bikarbonat jenuh hingga netral Mencuci dengan air. dibiarkan ± 30 menit Menyaring ester dengan kertas saring ke labu ukur Melakukan destilisasi dengan pemanas mantel Melakukan destilisasi dengan pemanas mantel Mengumpulkan metil salisilat murni pada 221-224oC Mengukur volume dan menentukan indeks bias .

7397 mol Metil salisilat 152.6075 g .7397 mol Perhitungan Berat Produk Teoritis Mol x Mr = 0.F.6075 g 0.12 g/mol Metanol 32.050 mol Berat : 6.7 g 0.9084 g Mol : 0.050 mol b) Methanol : 23.7 g 32.050 mol M R S : 0.4 g/mol 23.050mol x 152. HASIL PERCOBAAN Asam salisilat BM : 138.9084 g 138.15 g/mol 7.7397 0.6897 0.050 : 0.050 Perhitungan Jumlah Mol Pereaksi a) Asam Salisilat : 6.050 : - 0.050 0.050 0.12 g/mol = 0.15 g/mol = 7.4 g/mol = 0.

PERHITUNGAN RANDEMEN % Rendemen = Berat Percobaan Berat Teoritis = 5.93 % x 100% x 100 % Kesimpulan Percobaan Metil Salisilat Berat Rendemen : 5.6075 g = 75.7761 7.G.93%) .7761 g (75.

PEMBAHASAN Praktikum sintesis metil salisilat bertujuan untuk mengenal reaksi esterifikasi. sedangkan dari methanol yang dibutuhkan adalah metilnya sehingga bila digabungkan akan menjadi metil salisilat. Sampel selalu berkontak dengan pelarut yang segar. Asam sulfat pekat digunakan sebagai katalis untuk menurunkan energi aktivasi sehingga kesetimbangan reaksi bisa lebih cepat tercapai. Berdasarkan hal tersebut. maka suasana lingkungan harus dibuat panas. dan asam sulfat pekat di dalam labu alas bulat. Ekstrak dibawa oleh pelarut masuk ke dalam labu bundar. Kerugian metode ini ialah pelarut yang digunakan harus . Dengan pemanasan. Dilakukan refluks selama 2 jam karena dalam waktu tersebut karena merupakan waktu yang optimal untuk berlangsungnya proses esterifikasi secara sempurna. uap-uap cairan penyari terkondensasi pada kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari yang akan turun kembali menuju labu alas bulat. Metode ini dipilih karena pelarut yang digunakan lebih sedikit (efesiensi bahan) dan larutan sari yang dialirkan melalui sifon tetap tinggal dalam labu. penggantian pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam. Dari kedua bahan awal tersebut yang dibutuhkan dari asam salisilatnya adalah salisilatya. Sintesis metil salisilat diawali dengan mencampurkan asam salisilat. Karena itu. Reaksi esterifikasi ini bersifat reversible dan sangat lambat. demikian seterusnya berlangsung secara berkesinambungan sampai penyarian sempurna. kita merefluks ketiga bahan tersebut selama 2 jam.H. Mudah untuk mengganti pelarut dari non polar menjadi semi polar atau polar dengan cara mengganti isi labu bundar. sehingga reaksi esterifikasi dapat terus berlangsung hingga tercapai kesetimbangan. Alasan perlakuan refluks terhadap campuran adalah untuk memberikan suhu yang tinggi selama pencampuran. agar reaksi esterifikasi dapat terus berlanjut hingga tercapai kesetimbangan. sehingga pelarut yang digunakan untuk mengekstrak sampel selalu baru dan meningkatkan laju ekstraksi. metanol. Reaksi ini termasuk reaksi endoterm karena dalam pencampuran ketiga bahan tersebut dapat menyerap panas dari lingkungan. Waktu yang digunakan lebih cepat. proses ekstraksi lebih cepat. pelarut akan terdestilasi kembali untuk ekstraksi berikutnya. Reaksi esterifikasi adalah reaksi yang mereaksikan sebuah derivat asam karboksilat (asam salisilat) dan alkohol primer (metanol) pada suasana asam dengan katalis H2SO4 dengan suhu yang tinggi untuk menghasilkan senyawa utama berupa ester dan produk samping berupa air. akan menyari kembali sampel yang berada pada labu alas bulat. Refluks memiliki prinsip yaitu dilakukan dengan merendam sampel datam pelarut di dalam labu bundar. Berbeda dengan soxhlet yang memiliki prinsip suatu ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik. Filtrat yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan.

Ditakutkan nantinya apabila menggunakan soxhlet waktu yang dibutuhkan lebih dari 2 jam. Selama proses reluks. Sedangkan pada soxhlet membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan produk yang diinginkan karena pelarut tidak kontak langsung dengan sampel jadi proses pendonoran gugus metil pada asam salisilat akan butuh waktu lama. pada refluks karena metanol berkontak langsung dengan sampel maka akan lebih cepat terbentuk metil salisilat meskipun metanol nantinya akan menguap tapi akan terdestilasi menjadi uap yang akan mereaksikan sampel kembali.mudah menguap dan hanya digunakan untuk ekstraksi senyawa yang tahan panas. Pelarut terlebih dahulu diuapkan sebelum kontak dengan sampel hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil ekstraksi yang pekat. Prinsipnya yaitu memisahkan dua komponen yang tidak dapat bercampur yaitu metil salisilat yang merupakan fase minyak (non polar) dan air yang bersifat polar. Pada refluks sampel langsung berkontak dengan pelarut yaitu metanol di sini metanol tidak hanya sebagai pelarut melainkan sebagai pendonor gugus metil pada asam salisilat untuk membentuk metil salisilat. Selanjutnya. hasil refluks tadi dipartisi dalam corong pisah. Pada praktikum kali ini menggunakan metode refluks untuk pengekstraksian sampel apabila metode tersebut diganti dengan metode soxhlet hal itu dapat dilakukan karena keduanya hampir memiliki prinsip yang sama namun perbedaannya hanya pada efisiensi waktu dalam mendapatkan produk yang diinginkan. Digunakan corong pisah karena pemisahannya berdasarkan kepolaran dan berat jenis. Soxhlet Gambar. dalam labu bulat diberi batu didih.Refluks Pada dasarnya dari kedua sistem pengekstraksian tersebut memiliki prinsip yang sama yaitu selalu menggunakan pelarut yang baru. Fase minyak yang memiliki berat jenis lebih besar akan . Tujuan dari pemberian batu didih tersebut adalah untuk mencegah terjadinya letupan atau bumping yang disebabkan oleh perbedaan titik didih dari kedua bahan awal tersebut. Gambar. Pada praktikum kali ini proses refluks dilakukan selama 2 jam dimana waktu tersebut adalah waktu optimum dari reaksi pembentukan metil salisilat.

CaCl2 anhidrat ini merupakan garam yang tidak mengandung air. ditambahkan 30 ml air yang bertujuan untuk memisahkan droplet air yang masih tersisa pada fase minyak. Setelah di refluks selama 2 jam hasil refluks dimasukan dalam corong pisah dan ditambahkan air ke dalamnya tujuannya adalah untuk melarutkan air hasil dari reaksi pembentukan metil salisilat. Pada saat menambahkan Na2CO3 terjadi rekasi sebagai berikut : Natrium bikarbonat + Metil salisilat Natrium salisilat + CO2 + H2O Na2CO3 merupakan garam non polar. Dalam proses ini. dapat digunakan untuk mengeringkan udara dan gas lainnya juga. Volume air yang ditambahkan berbeda dengan penambahan air yang pertama kali hal ini disebabkan karena fungsi penambahan air yang kedua bertujuan untuk memisahkan sisa-sisa air yang masih ada di dalam fase minyak bukan untuk melarutkan. Pemberian CaCl2 secukupnya sampai minyak benar-benar bening. lalu dilakukan dekantasi kedalam vial dan dihitung . Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa CaCl2 bersifat polar yang mana akan menarik air yang bersifat polar sehingg p mengik i sesu i eng n p insip “like isolve like”. Setelah metil salisilat didapat. Hal itu diaplikasikan saat sudah didapat produk akhir tapi masih mengandung sedikit air yang membuat produk tersebut masih kurang bening. Setelah didapat produk yang bening. Tujuan dari menghilangkan H+ karena katalis boleh bereaksi dengan bahan awalnya untuk mempercepat reaksi. Dibanding dengan menggunakan kertas saring yang akan mempengaruhi jumlah produk yang didapat. dilakukan pengocokan dalam corong pisah dengan membuka tutup corong agar gas CO2 yang dihasilkan dari reaksi tersebut dapat keluar. katalis harus melepaskan reaksinya dengan bahan awal tersebut. kalsium klorida bersifat higroskopis (bahan yang mudah menyerap air dari sekitarnya). Dengan adanya produk samping berupa CO2 inilah setiap pengocokan corong pisah. Dengan kemampuan tersebut CaCl2 dapat dengan mudah berikatan dengan air yang masih tersisa.berada di bawah dari pada air yang memiliki berat jenis lebih kecil. Karena rekasi pembentukan metil salisilat meghasilkan produk samping air jadi perlu ditambahkan air agar bisa dipisahkan. tutup corong di buka agar CO2 dapat keluar karena dengan adanya CO2 ini akan menyebabkan tekanan uap di dalam corong pisah menjadi meningkat. Tujuan pengocokan ini agar fase minyak dan fase air terpisah. pemisahan menggunakan corong pisah akan lebih memudahkan dalm proses pemisahannya selain itu juga hasil yang didapat tidak berkurang atau tetap. Selanjutnya. Fungsi penambahan aquadest dan Na bikarbonat adalah untuk menghilangkan H+ yang berperan sebagai katalis. ditambahkan aquadest dan Na bikarbonat. namun setelah reaksi selesai bereaksi. Proses ini melibatkan konversi kalsium klorida menjadi air garam baik karena menyerap uap air atau air dari gas yang perlu dikeringkan. dilakukan penambahan CaCl2 anhidrat. yang dapat terurai di dalam air menjadi ion Na+ yang mengikat salisilat. Dan menghasilkan produk samping CO2 dan H2O. Lalu.

Dekantasi dapat dilakukan untuk memisahkan campuran zat cair dan zat padat atau zat cair dengan zat cair yang tidak saling campur (suspensi). kami mendapatkan rendemen sebesar 75. Reaksi kimia dari sintesis metil salisilat ditunjukkan pada gambar di bawah ini: Gambar 1. Tahap 2 A B . dimana nilai >70% dianggap mewakili jumlah rendemen yang baik. Presentase demikian masih tergolong baik. Menurut Vogel.rendemennya. yaitu tahap protonasi dan deprotonasi. dimana terjadi interaksi antara asam karboksilat dan alkohol sehingga menciptakan suatu ester. Dalam sintesis ini. karena presentase yang baik ialah mendekati presentase rendemen 70%. Reaksi esterifikasi sintesis metil salisilat terjadi beberapa tahap.93%. Dekantasi dapat dilakukan apabila pengotor yang akan dipisah dapat terlihat oleh mata. Persamaan reaksi sintesis metil salisilat. mekanisme reaksi esterifikasi sintesis metil salisilat adalah sebagai berikut: Tahap 1 H2SO4 dalam larutan metanol akan terurai menjadi ion 2H+ dan SO42-. Dekantasi merupakan suatu proses pemisahan komponen-komponen dalam campuran dengan cara dituang secara langsung.

Adapun beberapa cara yang digunakan untuk mengetahui kemurnian dari metil salisilat yaitu dari cara yang paling sederhana dan lazim digunakan dari dulu ialah uji indeks bias menggunakan alat Refraktometer dengan membandingkan data dari literatur. Oleh karena itu. atom C berikatan rangkap dengan OH. Dalam mekanisme diatas. Lalu. rekasi mula-mula diawali dengan serangan nukleofilik oleh molekul alkohol pada gugus karboksilat yang terprotonasi. Tahap 3 C D E F Karena atom O tidak stabil. Dengan terpisahnya molekul air. Lalu. Setelah itu.atom H akan dilepas untuk menuju kestabilan sehingga membentuk metil salisilat. maka dari itu. terjadi deprotonasi yaitu penghilangan atom H+ sehingga menjadi senyawa E. Kemudian terjadi pemutusan ikatan rangkap C karbonil dari gugus karboksilat oleh atom O dari gugus hidroksil membentuk kompleks intermediet (2). senyawa C akan bereaksi dengan metanol sehingga menjadi senyawa D. sehingga atom O menjadi tidak stabil karena satu tangannya telah berikatan dengan H. yang ditunjukkan oleh nomor (1). Lalu senyawa (4) akan terprotonasi membentuk metil salisilat. Senyawa intermediet bersifat tidak stabil sehinggaakan terus bereaksi hingga stabil. molekul air akan memisah. Atom O pada senyawa D juga tidak stabil karena memiliki 3 tangan. Senyawa intermediet juga akan mengalami protonasi sehingga terjadi pelepasan H2O sebagai upaya menyetabilkan senyawa (3). maka tangan C hanya ada 3. Tahap 4 G H Pada senyawa G. maka ikatan rangkap antara C dan O akan menjadi ikatan tunggal. Refractometer .H+ yang telah didapatkan dari tahap 1 akan menyerang atom O pada gugus karbonil. atom O masih belum stabil karena memiliki 3 tangan.

Terlihat sedotan terbengkok lebih tajam. 5. sedangkan bila menggunakan NMR bisa dilihat jumlah protonnya yang biasanya digunakan untuk menentukan struktur senyawa. tetapi karena ada pengotor menyebabkan kadar senyawa lebih sedikit.adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar / konsentrasi bahan terlarut misalnya : Gula. maka sedotan akan semakin terlihat bengkok secara proporsional. 3. 4. spektranya dibandingkan dengan spektra standar yang sudah tercantum di literatur. namun tidak boleh mempengaruhi hasil reaksi (produk). Protein dsb. Besarnya sudut pembengkokan ini disebut Refractive Index (nD). I. Bila menggunanakan MS. KESIMPULAN 1. Semakin tinggi konsentrasi bahan terlarut (Rapat Jenis Larutan). 2.93% . Reaksi esterifikasi adalah reaksi yang mereaksikan sebuah derivat asam karboksilat (asam salisilat) dan alkohol primer (metanol) pada suasana asam dengan katalis H2SO4 dengan suhu yang tinggi untuk menghasilkan senyawa utama berupa ester dan produk samping berupa air. Tujuan pemberian CaCl2 anhidrat yaitu untuk menyerap sisa air yang terkandung dalam minyak (produk) yang dihasilkan. Seperti terlihat pada Gambar di bawah ini sebuah sedotan yang dicelupkan ke dalam gelas yang berisi air akan terlihat terbengkok. Pada Gambar kedua sebuah sedotan dicelupkan ke dalam sebuah gelas yang berisi lauran gula. Prinsip kerja dari refractometer sesuai dengan namanya adalah dengan memanfaatkan refraksi cahaya. Hal itu disebut juga elusidasi struktur. Fungsi penambahan Na bikarbonat adalah untuk menghilangkan H+ yang berperan sebagai katalis. Walaupun konsentrasi sama. Garam. Bila spektra lebih rendah berarti dalam senyawa tersebut masih terdapat pengotor. Bisa juga dengan menggunakan Spektrofotometer. maka dilakukan pencocokan pada BM senyawa dan bila menggunakan IR dilakukan pencocokan spektra yang menunjukkan adanya suatu gugus fungsi pada panjang gelombang tersebut. didapatkan berat rendemen sebesar 75. Dalam sintesis ini. karena katalis boleh bereaksi dengan bahan awalnya untuk mempercepat reaksi. Fenomena ini terjadi karena adanya refraksi cahaya. Reaksi esterifikasi ini bersifat reversible dan sangat lambat dan merupakan reaksi endoterm.

u5/mhs/teachersites/science/markin/site/AP%20labsfiles/SYNTHESIS%20METHYL%20SALICYLATE.1979.A Text Book of Practical Organic Chemistry Including Qualitative Organic Analysis 3rd edition. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia     Fassenden dan Fassenden.pdf Irmawati. New York.. A.Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia  Anonim.1995.Laporan Praktikum Sintesis Metil Salisilat.Makassar : Universitas Hasanuddin Vogel. dkk.k12.1979.London .Farmakope Indonesia Edisi III.Jakarta : Erlangga http :/www.Co.I. 2010.w1.1968.DAFTAR PUSTAKA  Anonim.Kimia Organik Edisi III Jilid 2. Toronto : Longman Greenland.mcpasd.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful