Rasyid Ridha

PENDAHULUAN Dewasa ini, muncul begitu banyak tantangan yang mesti dihadapi oleh umat Islam. Adanya keterbelakangan dan kegelapan dalam ilmu pengetahuan modern, serta ada dan melekatnya paham fatalisme serta pemahaman yang keliru terhadap Islam, yang secara tidak langsung turut andil dalam usaha penghambatan kemajuan tersebut. Islam senantiasa memberikan respon terhadap berbagai problematika yang muncul. Respon Islam tersebut, tidaklah lepas dari peran yang diberikan oleh tokoh yang mengerahkan segenap kemampuan intelektualnya untuk terus melakukan pembaruan terhadap berbagai paham yang ada dalam Islam. Rasyid Ridha, adalah satu dari sekian banyak pembaru, yang telah banyak menelurkan serta menyumbangkan banyak ide dan pemikirannya bagi kemajuan umat. Dan pada kesempatan kali ini, kami akan sedikit mengulas mengenai Rasyid Ridha serta beberapa hal yang berkaitan dengannya. Makalah ini terbagi dalam beberapa bagian, yang tersusun dengan sistematika sebagai berikut: bagian pertama, sedikit mengetengahkan tentang jati diri Ridha, serta beberapa hal yang sekiranya mempengaruhi pembentukan ide dan pemikirannya. Bagian kedua, mengetengahkan mengenai pemikiran-pemikiran yang dihasilkannya, baik dalam bidang agama, pendidikan, maupun politik. SEULAS MENGENAI KEHIDUPAN RASYID RIDHA Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Muhammad Syama Al bin al-Kalamuny, dilahirkan ditengah-tengah sebuah keluarga yang memiliki sedikit kedudukan dengan tradisi pendidikan dan kesalehan, pada tahun 1865 di al-Qalamun, suatu desa di Libanon yang letaknya tidak jauh dari kota Tripoli (Suria). Semasa kecil ia dimasukkan ke madrasah tradisional di al-Qalamun untuk belajar menulis, berhitung dan membaca al-Qur’an. Di tahun 1882, ia meneruskan pelajaran di alMadrasah al-Wathaniyah al-Islamiyah (sekolah Nasional Islam) milik Syaikh Husain al-Jisr, yang terletak di Tripoli. Di madrasah ini, selain bahasa Arab, diajarkan pula bahasa Turki dan Perancis, dan juga, selain pengetahuan-pengetahuan agama, juga diajarkan pengetahuanpengetahuan modern. Setelah itu, Rasyid Ridha meneruskan pelajarannya di salah satu sekolah agama yang berada di Tripoli, walaupun demikian, hubunganya dengan Syaikh Husain al-Jisr tetap berjalan, dan guru inilah yang menjadi pembimbing baginya di masa muda. Selanjutnya, ia banyak dipengaruhi oleh ide-ide Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh, yaitu melalui majalah al-Urwah al-Wutsqo. Ia berniat untuk menggabungkan diri dengan al-Afghani, tetapi niat itu tak terwujud, dan semenjak pertemuannya dengan Muhammad Abduh, pengaruh Afghani pun mulai meredup dan

pemikiran-pemikiran pembaru yang diperolehnya dari syaikh al-Jisr dan yang kemudian diperluas dengan ide-ide yang ia peroleh dari Afghani dan Abduh. ia mulai menerbitkan majalah yang cukup ternama. ia telah mulai menjalankan ide-ide pembaruannya semenjak ia masih berada di Suria. yaitu alManar. memberantas takhayul dan bid’ah-bid’ah yang masuk ke dalam tubuh Islam. Oleh karena itu. Dengan demikian. Setelah menebarkan kiprah dirinya dalam banyak bidang. Di dalam nomor pertama dijelaskan bahwa tujuan al-Manar adalah sama dengan tujuan al-Urwah al-Wutsqa. adalah seperti yang disebarluaskan oleh Afghani dan Muhammad Abduh. adalah karena kecurigaannya terhadap tasawuf. yaitu antara lain adalah mengadakan pembaruan dalam bidang agama. Perbuatan-perbuatan mereka telah menyeleweng dari ajaran-ajaran islam yang sebenarnya. sehingga jika dipahami dengan benar dan dipatuhi sepenuhnya. Muhammad Abduh. Secara umum. pemikiran-pemikiran pembaruan yang diajukan Rasyid Ridha. ia akan membawa pada kesuksesan dunia dan akhirat kelak. Sebenarnya. pada bulan Agustus tahun 1935. BUAH-BUAH PEMIKIRANNYA Pada dasarnya. Tidak seperti gurunya. serta meningkatkan mutu pendidikan dan membela umat Islam dari permainan-permainan politik negara-negara Barat. ia memutuskan untuk hijrah ke Mesir. jawaban mendasar mengenai hal tersebut adalah ajaran-ajaran dan perintah-perintah Islam yang pada dasarnya serba mencakup. Ia juga berpendapat bahwasanya umat Islam mundur karena tidak lagi menganut ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. tetapi usaha-usahanya tersebut mendapat tantangan dari pihak kerajaan Usmani. ajarannya berpaham salaf yang bertujuan mengembalikan ajaran Islam kepada al-Qur’an dan hadits. salah satu faktor yang menuntunya pada ajaran tersebut. Pandangan ini dimulai dari pertanyaan tentang mengapa dunia Islam mengalami ketertinggalan dalam semua aspek peradaban. menghilangkan faham fatalisme yang terdapat dalam kalangan umat Islam serta faham-faham salah yang dibawa tarekat-tarekat tasawuf. Dan. yang cukup memberikan pengaruh terhadap generasi selanjutnya. yang lebih bisa disebut sebagai seorang yang liberal. sekembalinya dari Suez setelah mengantarkan Pangeran Su’ud. sosial dan ekonomi. ia meninggal dunia dan meninggalkan banyak ide-ide pembaruan. tidaklah banyak berbeda dengan ide-ide yang disampaikan oleh Afghani dan Muhammad Abduh. Beberapa bulan kemudian. pandangan Islam yang dipegang oleh Rasyid ridha. dekat dengan gurunya. . Muhammad Abduh. menjadi sebuah pondasi yang kuat dan tertanam dalam jiwanya. Rasyid Ridha mendekatkan dirinya pada ajaran Ibnu Taimiyah dan praktik-praktik Wahabiyyah.tergantikan oleh pengaruh Muhammad Abduh. Sebagai tokoh pembaruan yang masih condong pada ajaran-ajaran ibnu Taimiyah dan sekaligus sebagai penyokong aliran Wahabi.

dan lain sebagainya. bidang pendidikan. mereka akan dengan mudah dapat meraih keterampilan teknis. dan kebiasaan-kebiasaan serta prinsip-prinsip semacam itu sesungguhnya telah terkandung di dalam Islam. Bagi Abduh. Kursi. Muhammad Abduh. Muhammad Abduh. melainkan terikat pada ikatan-ikatan baru. harus diberi interpretasi. diantaranya adalah bidang agama. misalnya ketika Rasyid Ridha memberikan komentar terhadap uraian Abduh dalam menyoal permasalahan mengenai balasan di akhirat yang disebutkan dalam ayat ke-25 surat alBaqarah. juga terlihat dalam karya mereka. dalam arti harus dimengerti makna yang tersirat di dalammnya. yaitu tafsir alManar. apabila orangorang muslim bersedia kembali pada al-Qur’an dan perintah-perintah moral yang terkandung di dalamnya. bersifat lebih liberal dibandingkan Rasyid Ridha. Selain itu. kejayaan Islam masa lalu dapat tercipta kembali. yang dimaksud dengan Kursi Tuhan adalah Pengetahuan Tuhan. kelihatanya. Penyebab ketertinggalan ini adalah dikarenakan muslim telah kehilangan kebenaran sejati agamanya. yang secara sedikit lebih terperincinya. namun. ia masih memegang mazhab dan masih terikat pada pendapat-pendapat Ibn Hambal dan Ibn Taimiyah. Meskipun pada dasrnya ide-ide dan pemikiran yang dihasilkan oleh Rasyid Ridha memiliki banyak kesamaan dengan ide-ide dan pemikiran sang Guru. Perbedaan-perbedaan tersebut. karena ia semazhab dengannya. diantara keduanya juga terdapat perbedaan. Ia juga sangat mendukung gerakan yang dipelopori oleh Muhammad ibn Abdul Wahab. Muhammad Abduh menekankan terhadap makna filosofis. Sedangkan keterampilan teknis secara potensial adalah universal. BIDANG AGAMA . dan bukan dalam bentuk rohani. Tangan. Kondisi ini diperparah lagi dengan adanya penguasa-penguasa politik yang buruk. dan bidang politik. dan penguasaan atasnya tergantung pada kebiasaan-kebiasaan moral dan prinsip-prinsip intelektual tertentu. Berbeda dengan Rasyid ridha. akan dibahas pada kalimat demi kalimat berikutnya. Bagi Rasyid Ridha. ia melepaskan diri dari aliran dan mazhab yang pernah dianutnya. Pindah dari satu aliran ke aliran lain bukanlah kebebasan. Jika orang-orang muslim memilikinya. meskipun Tahta Tuhan tidaklah sama dengan tahta pada manusia.Umat Islam adalah jantung dari peradaban dunia selama ia benar-benar Islami. Ide-ide pembaruan Rasyid Ridha meliputi berbagai bidang. alasannya adalah karena ia ingin bebas dalam menelurkan ide-ide dan pemikirannya. dan yang dimaksud dengan Tahta Tuhan adalah Kekuasaan-Nya. Dengan demikian. Menurut Rasyid Ridha. Tafsiran iu mengandung arti bahwa balasan yang akan diterima bersifat rohani. Rasyid Ridha dalam komentarnya lebih menekankan balasan dalam bentuk jasmani. perbedaan antara keduanya juga terlihat dari cara mereka menafsirkan ayatayat al-Qur’an. ayat yang menyatakan bahwa Tuhan mempunyai Wajah. Abduh tidak mau terikat pada salah satu aliran atau mazhab yang ada dalam Islam. Salah satunya adalah. Tahta Tuhan masih mengandung arti sebagai tahta.

ialah ajaran syekh-syekh tarekat tentang tidak pentingnya kehidupan duniawi. bid’ah lain yang juga mendapat tantangan keras dari Rasyid Ridha. sebab. Ijtihad tidaklah diperelukan dalam persoalan ibadah. Dinamika dan sifat aktif itu terkandung dalam kata jihad. menghargai akal manusia. namun hanya terhadap ayat dan hadits yang tidak mengandung arti tegas. Rasyid Ridha melihat perlunya diadakan penafsiran modern terhadap al-Qur’an. Menurutnya. Dalam pandangannya. Umat islam harus menggali kembali teks al-Qur’an tanpa harus terikat pada pendapat para ulama terdahulu. adalah karena tidak lagi mengamalkan ajaran islam yang sebenarnya. ia menuliskan keterangan-keterangan . salah satu penyebab kemajuan Eropa adalah paham dinamika. serta terhadap persoalan-persoalan yang tidak disebutkan dalam al-Qur’an dan hadits. karena itu Islam harus bersikap aktif dan memberikan penghargaan terhadap akal. dan bersedia berkorban untuk mencapai tujuan perjuangan. Meskipun. Ijtihad hanya diperlukan dalam menghadapi persoalan-persoalan bermasyarakat. akal dapat memberikan interpretasi atau pemahaman ulang terhadap teks-teks al-qur’an dan hadist yang tidak mengandung arti tegas. tawakkal yang berlebihan. diberikan kemerdekaan bagi tiap orang untuk menjalankan mana yang disetujuinya. menurutnya hanyalah mengenai hal-hal mendasar saja (misalnya mengenai masalah ke-Tuhan-an). Untuk mengatasi sikap fanatik terhadap pendapat para ulama terdahulu. Menurutnya. yaitu penafsiran yang sesuai dengan ide-ide yang dicetuskan oleh gurunya. sedangkan dalam hal perincian dan bukan dalam hal yang mendasar. dan tidak terhadap hal-hal yang berkenaan dengan ibadah. dan sekaligus juga memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Yang perlu dipertahankan dalam kesamaan faham umat. Rasyid Ridha menganjurkan terhadap adanya toleransi bermazhab. akal dapat dipakai dalam hal yang berkenaan dengan hidup bermasyarakat. serta kepatuhan yang berlebihan terhadap syekh dan wali. sebagaimana Muhammad Abduh. Ijtihad juga tidak diperlukan terhadap ayat dan hadits yang mengandung arti tegas. jihad dalan arti berusaha keras. Ia berpendapat bahwa salah satu penyebab mundurnya umat Islam lainnya adalah paham fatalisme. Disinilah letak dinamika Islam dalam pandangan Rasyid Ridha. Rasyid Ridha. karena paham tersebut menyebabkan manusia tidak memiliki etos kerja dan cenderung tidak mau berpacu atau pasrah dengan keadaan. apalagi persoalan-persoalan yang tidak terkandung dalam al-qur’an dan hadits. penghargaannya terhadap akal tidak setinggi penghargaan yang diberikan oleh Muhammad Abduh.Rasyid ridha berpendapat bahwa faktor utama yang menyebabkan umat islam lemah. Islam telah banyak diselimuti oleh faktor bid’ah yang menghambat perkembangan dan kemajuan umat. Faham jihad serupa inilah yan menyebabkan umat islam di zaman klasik dapat menguasai dunia. atau bersifat dhanny. diantara bid’ah-bid’ah yang dimaksudkan itu ialah pendapat bahwa dalam Islam terdapat ajaran kekuatan batin yang membuat pemiliknya dapat memperoleh segala yang dikehendakinya. Selain itu. Baginya. Ketika Muhammad Abduh memberikan kuliah mengenai tafsir al-Qur’an di al-azhar. sifat dinamis tersebut pada dasarnya telah dimiliki oleh Islam.

Ia juga mengadakan berubahan kurikulum dengan melakukan penambahan materi-materi seperti Teologi. kuncinya terletak pada upaya memperbarui pendidikan dengan segenap komponen yang ada di dalamya. Akan tetapi dengan membangun sarana dan prasarana pendidikan. membangun sarana pendidikan adalah lebih baik dibandingkan membangun masjid. Tafsir. umat harus dibawa kembali kepada ajaran islam yang sebenarnya. ia berhasil mendirikan sekolah yang dimaksud. dan selanjutnya. serta pemerintahan. Ekonomi. Sedangkan. masjid tidak besar nilainya apabila mereka yang shalat di dalamnya hanyalah orang-orang bodoh. Dan dalam pemahamannya. Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Islam yang murni itu sangatlah sederhana. yaitu ketika pecahnya perang dunia I. Ilmu Bumi. akan dapat menghapuskan kebodohan. Akhirnya. Yang dikemudian hari. Namun. karangan itu ia siarkan dalam al-Manar. dan kemudian disusun dalam bentuk karangan teratur dan diperiksa kembali oleh Abduh. Pendidikan Moral. selanjutnya. pekerjaan duniawi dan ukhrawi akan menjadi baik dan teratasi. umatlah yang menentukan. Ibadah terlihat berat dan ruwet karena ke dalam hal-hal yang wajib dalam ibadah tersebut. ia menerima banyak keluhan mengenai aktivitas missi Kristen di negara-negara Islam. dasar-dasar seperti keadilan. dengan nama al-Da’wah wa al-Irsyad. Pada tahun 1909. telah ditambahkan hal-hal yang bukan wajib. Menurut Rasyid Ridha. terdapat perbedaan faham. dan lain-lainnya yang biasa diberikan di madrasah-madrasah tradisional. Menurutnya. didasarkan kepada al-Qur’an dan Hadits. mengenai hal-hal yang sunnah ini. Dalam soal muamalah. pada tahun 1912. Hukum-hukum itu timbul sesuai dengan suasan tempat dan zaman ia timbul. Serta. Dengan begitu. Ilmu Hitung. sederhana dalam ibadah. persamaan. ia melihat perlunya diadakan dan dibangun sebuah sekolah missi Islam. Namun sayangnya. Ilmu Kesehatan. sekolah missi tersebut tidaklah berumur panjang. diteruskan oleh Rasyid Ridha sesuai dengan jiwa dan ide yang dicetuskan oleh sang guru. juga dalam muamalahnya. Bahasa-Bahasa Asing dan Ilmu Mengatur Rumah Tangga (kesejahteraan keluarga) yaitu di samping ilmu-ilmu seperti Fiqh. Hadits. namun demikian ayat-ayat al-Qur’an dan hadits tidak boleh dianggap absolut dan seakan tidak dapat dirubah. . perincian dan pelaksanaannya. dan timbullah kekacauan. Sedangkan. karena terpaksa harus ditutup pada tahun 1914. hukumhukum fiqh mengenai hidup kemasyarakatan. Sejarah. berpandangan bahwasanya untuk mengarahkan dan membawa umat Islam pada kemajuan. Muhammad Abduh hanya sempat menyelesaikan penafsiran hingga ayat ke-125 dari surat an-Nisa (jilid III dari tafsir al-Manar).yang diberikan oleh gurunya tersebut. Sosiologi. murni dari segala bid’ah yang ada. BIDANG PENDIDIKAN Menurut Rasyid Ridha. menjadi titik awal tersusunnya tafsir al-Manar. tetapi sebenarnya hanya sunnah. dan untuk menandingi aktivitas tersebut. diarahkan kepada upaya melahirkan manusia yang memiliki keunggulan dalam bidang ilmu agama dan umum.

Ahmad dkk. Kepala negara ialah khalifah. ia tidak setuju dengan gerakan nasionalisme. Setelah gurunya meninggal. Oleh karena itu. dalam persaudaraan Islam. sebagai anggota delegasi Suriah-Palestina di Jenewa pada 1921. DAFTAR PUSTAKA Nasution. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Khalifah adalah mujtahid besar dan di bawah kekhalifahan lah. ia menjauhi lapangan politik. tanah air maupun bangsa. karena mempunya kekuasaan legislatif. Menurut Rasyid Ridha. Akan tetapi. Tetapi. Oleh karena itu. Ulama merupakan pembantu-pembantunya yang utama dalam soal memerintah umat. barulah ia memulai bermain kembali dalam lapangan politik.BIDANG POLITIK Ia memainkan peran yang cukup besar dalam politik Suriah. atas nasehat Muhammad Abduh. Khalifah. Di dalam majalah al-Manar ia mulai menulis dan memuat karangan-karanga yang menentang pemerintahan absolut kerajaan Usmani. kesatuan umat memerlukan suatu bentuk negara. karena menurutnya. Ia beranggapan bahwasanya faham nasionalisme bertentangan dengan ajaran persaudaraan seluruh umat dalam Islam. 1975 Taufik. Jakarta: PT Bulan Bintang. Negara yang dianjurkan olehnya adalah negara dalam bentuk kekhalifahan. dan setelah pindah ke Mesir ia juga ingin meneruskan kegiatan politiknya. Rasyid Ridha juga melihat perlunya dihidupkan kembali kesatuan umat Islam. Sebagaimana halnya Afghani. tidaklah dikenal adanya perbedaan bahasa. Pembaharuan dalam Islam (Sejarah Pemikiran dan Gerakan). 2005 . kedaulatan umat tetap berada di tangan umat dan berdasarkan prinsip musyawarah. bahwasanya Rasyid Ridha telah memulai kiprahnya di dunia politik semenjak masih berada di tanah airnya. Sedangkan. harus mempunyai sifat mujtahid. Seperti telah tertera di atas. Harun. Selanjutnya. sebagai presiden kongres Suriah tahun 1920. Kesatuan yang dimaksudkan bukanlah kesatuan yang didasarkan atas kesatuan bahasa ataupun bangsa. khalifah tidak boleh bersifat absolut. ia juga memuat tentang tulisantulisan yang menentang politik Inggris dan Prancis untuk membagi-bagi dunia Arab di bawah kekuasaan mereka masing-masing. Karena. mengadakan negosiasi-negosiasi dengan inggris pada masa perang. salah satu sebab lain bagi kemunduran umat islam ialah adanya perpecahan yang terjadi di kalangan umat. dan komite politik di Kairo selama Revolusi Suriah 1925-1926. Idenya mengenai kekhalifahan tersebut. Sejarah Pemikiran dan Tokoh modernisme Islam. kemajuan dapat dicapai dan kesatuan umat dapat diwujudkan. tetapi kesatuan atas dasar keyakinan yang sama. hukum dan undang-undang tidak dapat dijalankan tanpa kekuasaan dari pemerintah. ia tuangkan dalam karyanya yang berjudul alKhilafah.

Abdullah Ali. Albert. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. Pemikiran Politik Islam (Dari Masa Nabi Hingga Masa Kini).com/2008/04/24/rasyid-ridha/ . Bandung: PT Mizan Pustaka. 2006.. Antony..wordpress. Mariana Ariestyawati. terj. Pemikiran Liberal di Dunia Arab. Suparno dkk. http://poetraboemi. 2004 Black.Hourani. terj.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful