HUKUM WARIS

A. Hukum waris menurut BW Hukum waris menurut konsepsi hukum perdata Barat yang bersumber pada BW, merupakan bagian dari hukum harta kekayaan. Oleh karena itu, hanyalah hak dan kewajiban yang berwujud harta kekayaan yang merupakan warisan dan yang akan diwariskan. Hak dan kewajiban dalam hukum publik, hak dan kewajiban yang timbul dari kesusilaan dan kesopanan tidak akan diwariskan, demikian pula halnya dengan hak dan kewajiban yang timbul dari hubungan hokum keluarga, ini juga tidak dapat diwariskan. Kiranya akan lebih jelas apabila kita memperhatikan rumusan hukum waris yang diberikan oleh Pitlo di bawah ini, rumusan tersebut menggambarkan bahwa hukum waris merupakan bagian dari kenyataan, yaitu : “Hukum waris adalah kumpulan peraturan yang mengatur hukum mengenai kekayaan karena wafatnya seseorang, yaitu mengenai pemindahan kekayaan yang ditinggalkan oleh si mati dan akibat dari pemindahan ini bagi orangorang yang memperolehnya, baik dalam hubungan antar mereka dengan mereka, maupun dalam hubungan antara mereka dengan pihak ketiga”. Adapun kekayaan yang dimaksud dalam rumusan di atas adalah sejumlah harta kekayaan yang ditinggalkan seseorang yang meninggal dunia berupa kumpulan aktiva dan pasiva. Pada dasarnya proses beralihnya harta kekayaan seseorang kepada ahli warisnya, yang dinamakan pewarisan, terjadi hanya karena kematian. Oleh karena itu, pewarisan baru akan terjadi jika terpenuhi tiga persyaratan, yaitu : 1. ada seseorang yang meninggal dunia; 2. ada seseorang yang masih hidup sebagai ahli waris yang akan memperoleh warisan pada saat pewaris meninggal dunia; 3. ada sejumlah harta kekayaan yang ditinggalkan pewaris.

Dalam hukum waris menurut BW berlaku suatu asas bahwa “apabila seseorang meninggal dunia, maka seketika itu juga segala hak dan kewajibannya beralih kepada sekalian ahli warisnya”. Hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang beralih pada ahli waris adalah sepanjang termasuk dalam lapangan hukum harta kekayaan atau hanya hak dan kewajiban yang dapat dinilai dengan uang. Yang merupakan ciri khas hukum waris menurut BW antara lain “adanya hak mutlak dari para ahli waris masing-masing untuk sewktu-waktu menuntut pembagian dari harta warisan”. Ini berarti, apabila seorang ahli waris menuntut pembagian harta warisan di depan pengadilan, tuntutan tersebut tidak dapt ditolak oleh ahli waris yang lainnya. Ketentuan ini tertera dalam pasal 1066 BW, yaitu: a. Seseorang yang mempunyai hak atas sebagian dari harta peninggalan tidak dapat dipaksa untuk memberikan harta benda peninggalan dalam keadaan tidak terbagi-bagi di antara para ahli waris yang ada; b. Pembagian harta benda peninggalan itu selalu dapat dituntut walaupun ada perjanjian yang melarang hal tersebut; c. Perjanjian penangguhan pembagian harta peninggalan dapat saja dilakukan hanya untuk beberapa waktu tertentu; d. Perjanjian penagguhan pembagian hanya berlaku mengikat selama lima tahun, namun dapat diperbaharui jika masih dikehendaki oleh para pihak. Dari ketentuan pasal 1066 BW tentang pemisahan harta peninggalan dan akibat-akibatnya itu, dapat dipahami bahwa system hukum waris menurut BW memiliki ciri khas yang berbeda dari hukum waris yang lainnya. Ciri khas tersebut di antaranya hokum waris menurut BW menghendaki agar harta peninggalan seorang pewaris secepat mungkin dibagi-bagi kepada mereka yang berhak atas harta tersebut. Kalau pun hendak dibiarkan tidak terbagi, harus terlebih dahulu melalui persetujuan seluruh ahli waris.

Hak seorang anak untuk menuntut supaya ia dinyatakan sebagai anak yang sah dari bapak atau ibunya. sebab perkongsian ini berakhir dengan meninggalnya salah seoranganggota/persero. Perjanjian perkongsian dagang. Warisan dalam sistem hukum waris BW Berbeda dengan sistem hukum adat tentang warisan. baik yang berbentuk maatschap menurut BW maupun firma menurut WvK. Akan tetapi terhadap ketentuan tersebut ada beberapa pengecualian. dengan pekerjaan yang harus dilakukan bersifat pribadi. harta yang diterima oleh ahli waris menurut sistem hukum Islam dan sistem hukum adat itu benarbenar hak mereka yang bebas dari tuntutan kreditur pewaris. b. Pengecualian lain terdapat pula. yaitu ada beberapa hak yang walaupun hak itu terletak dalam lapangan hukum keluarga. akan tetapi dapat diwariskan kepada ahli waris pemilik hak tersebut. Sedangkan warisan dalam sistem hukum perdata barat yang bersumber pada BW itu meliputi seluruh harta benda beserta hak-hak dan kewajiban-kewajiban pewaris dalam lapangan hukum harta kekayaan yang dapat dinilai dengan uang. b. Artinya.1. Hak memungut hasil (vruchtgebruik). setelah dikurangi dengan pembayaran hutang pewaris dan pembayaran-pembayaran lain yang diakibatkan oleh meninggalnya pewaris. Oleh karena itu. dimana hakhak dan kewajibankewajiban dalam lapangan hukum harta kekayaan ada juga yang tidak dapat beralih kepada ahli waris. menurut kedua sistem hukum di atas yang dimaksud dengan warisan atau harta peninggalan adalah sejumlah harta benda kekayaan pewaris dalam keadaan bersih. c. Hak seorang ayah untuk menyangkal sahnya seorang anak. . yaitu: a. antara lain: a. Perjanjian perburuhan.

segala hak. demikian pula bila ahli waris tersebut belum mengetahui tentang adanya warisan itu. tidak mengenal hal tersebut. Sistem hukum waris BW mengenal sebaliknya dari sistem hukum waris adat yang membedakan “macam” dan “asal” barang yang ditinggalkan pewaris. Peralihan hak dan kewajiban dari yang meninggal dunia kepada ahli warisnya disebut “saisine”. Adapun yang dimaksud dengan saisine yaitu: “Ahli waris memperoleh segala hak dan kewajiban dari yang meninggal dunia tanpa memerlukan suatu tindakan tertentu.” Sistem waris BW tidak mengenal istilah “harta asal maupun harta gono-gini” atau harta yang diperoleh bersama dalam perkawinan. yaitu “sekalian ahli waris dengan sendirinya karena hukum memperoleh hak milik atas segala barang. mana yang termasuk harta asal yang dibawa salah satu pihak ketika menikah dan mana yang termasuk harta gono-gini. merupakan “kesatuan” yang secara bulat dan utuh dalam keseluruhan akan beralih dari tangan peninggal warisan/pewaris ke ahli warisnya. melainkan sebaliknya yaitu harta asal yang dibawa masing-masing ketika menikah. Dalam hukum adat jika seseorang meninggal dengan meninggalkan sejumlah harta. . Seperti yang ditegaskan dalam pasal 849 BW yaitu “Undang-undang tidak memandang akan sifat atau asal dari pada barang-barang dalam suatu peninggalan untuk mengatur pewarisan terhadapnya”. sebab harta warisan dalam BW dari siapa pun juga. yaitu harta yang diperoleh bersama suami-istri selama dalam perkawinan. Hal ini secara tegas disebutkan dalam pasal 833 ayat (1) BW. harta peninggalan tersebut senantiasa ditentukan dahulu. dan segala piutang dari yang meninggal”. Artinya. maupun harta yang diperoleh selama dalam perkawinan digabungkan menjadi satu kesatuan bulat yang akan beralih dan diwarisi oleh seluruh ahli warisnya. Sedangkan sistem BW. dalam BW tidak dikenal perbedaan pengaturan atas dasar macam atau asal barang-barang yang ditinggalkan pewaris.Di atas telah dikemukakan bahwa kematian seseorang menurut BW mengakibatkan peralihan segala hak dan kewajiban pada seketika itu juga kepada ahli warisnya.

2. . Sifat utama surat wasiat adalah mempunyai kekuatan berlaku setelah pembuat surat wasiat meninggal dan tidak dapat ditarik kembali. dasar hukum seseorang mewarisi harta peninggalan pewaris juga melalui cara ditunjuk dalam surat wasiat. sedangkan setelah pembuat wasiat meninggal dunia surat wasiat tidak dapat lagi diubah. Dasar hukum seseorang ahli waris mewarisi sejumlah harta pewaris menurut sisten hukum waris BW ada dua cara. yaitu: a. surat wasiat masih dapat diubah atau dicabut. ditunjuk dalam surat wasiat (testamen). dicabut. b. Selama pembuat surat wasiat masih hidup. menurut ketentuan undang-undang. maupun ditarik kembali oleh siapa pun. Undang-undang berprinsip bahwa seseorang bebas untuk menentukan kehendaknya tentang harta kekayaannya setelah ia meninggal dunia. Surat wasiat atau testamen adalah “suatu pernyataan tentang apa yang dikehendaki setelah ia meninggal dunia”. baik dengan surat wasiat maupun tanpa surat wasiat. baik laki-laki maupun perempuan yang meninggalkan sejumlah harta kekayaan maupun hak-hak yang diperoleh beserta kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan selama hidupnya. Undang-undang telah menentukan bahwa untuk melanjutkan kedudukan hukum seseorang yang meninggal. Akan tetapi apabila ternyata seorang tidak menentukan sendiri ketika ia hidup tentang apa yang akan terjadi terhadap harta kekayaannya maka dalam hal demikian undang-undang kembali akan menentukan perihal pengaturan harta yang ditinggalkan seseorang tersebut. sedapat mungkin disesuaikan dengan kehendak dari orang yang meninggal itu. Pewaris dan dasar hukum mewaris Pewaris adalah seseorang yang meninggal dunia. Di samping undang-undang.

meliputi kakek. baik laki-laki maupun perempuan. Golongan pertama. pemberian seseorang pewaris berdasarkan surat wasiat tidak bermaksud untuk menghapuskan hak untuk mewaris secara ab intestato. sedangkan sebelumnya suami / isteri tidak saling mewarisi. keluarga dalam garis lurus ke bawah. serta keturunan mereka. Ahli waris menurut undang undang atau ahli waris ab intestato berdasarkan hubungan darah terdapat empat golongan.Seseorang dapat mewariskan sebagian atau seluruhnya hartanya dengan surat wasiat. d. meliputi anggota keluarga dalam garis ke samping dan sanak keluarga lainnya sampai derajat keenam. yaitu: Isteri atau suami yang ditinggalkan dan keluarga sah atau tidak sah dari pewaris. 3. Golongan keempat. Demikian pula golongan yang . meliputi orang tua dan saudara. Golongan ketiga. dan leluhur selanjutnya ke atas dari pewaris. nenek. Bagi orang tua ada peraturan khusus yang menjamin bahwa bagian mereka tidak akan kurang dari ¼ (seperempat) bagian dari harta peninggalan. Ahli waris menurut sistem BW Undang-undang telah menetapkan tertib keluarga yang menjadi ahli waris. b. Jadi. Undang-undang tidak membedakan ahli waris laki-laki dan perempuan. juga tidak membedakan urutan kelahiran. keluarga dalam garis lurus ke atas. maka sisanya merupakan bagian ahli waris berdasarkan undangundang (ahli waris ab intestato). Apabila seseorang hanya menetapkan sebagian dari hartanya melalui surat wasiat. Suami atau isteri yang ditinggalkan / hidup paling lama ini baru diakui sebagai ahli waris pada tahun 1935. hanya ada ketentuan bahwa ahli waris golongan pertama jika masih ada maka akan menutup hak anggota keluarga lainnya dalam dalam garis lurus ke atas maupun ke samping. Golongan kedua. meliputi anak-anak beserta keturunan mereka beserta suami atau isteri yang ditinggalkan / atau yang hidup paling lama. c. yaitu: a. walaupun mereka mewaris bersamasama saudara pewaris.

Sedangkan ahli Waris menurut surat wasiat atau testamen. yaitu: “Dengan sesuatu pengangkatan waris atau pemberian hibah. Akan tetapi seperti juga ahli waris menurut undang-undang atau ab intestato. dapat disimpulkan bahwa yang diutamakan adalah ahli waris menurut undang-undang. R. Hal ini terbukti beberapa peraturan yang membatasi kebebasan seseorang untuk membuat surat wasiat agar tidak sekehendak hatinya. mereka adalah para ahli waris dalam garis lurus ke atas maupun dalam garis lurus ke bawah yang memperoleh bagian tertentu dari harta peninggalan dan bagian itu tidak dapat dihapuskan oleh si pewaris. bahwa “peraturan mengenai legitime portie oleh undang-undang . Subekti.lebih tinggiderajatnya menutup yang lebih rendah derajatnya. Suatu surat wasiat seringkali berisi penunjukan seseorang atau beberapa orang ahli waris yang akan mendapat seluruh atau sebagian dari warisan. apakah ahli waris menurut undang-undang atau ahli waris menurut surat wasiat? Berdasarkan beberapa peraturan-peraturan yang termuat dalam BW tentang surat wasiat. Ketentuan yang terdapat dalam BW yang isinya membatasi seseorang pembuat surat wasiat agar tidak merugikan ahli waris menurut undang-undang antara lain dapat dilihat dari substansi pasal 881 ayat (2). Dari kedua macam ahli waris di atas. jumlahnya tidak tentu sebab ahli waris macam ini bergantung pada kehendak si pembuat wasiat. pihak yang mewariskan atau pewaris tidak boleh merugikan para ahli warisnya yang berhak atas sesuatu bagian mutlak”. mengemukakan dalam bukunya. Ahli waris yang memperoleh bagian mutlak atau “legitime portie” ini termasuk ahli waris menurut undang-undang. ahli waris menurut surat wasiat atau ahli waris testamenter akan memperoleh segala hak dan segala kewajiban dari pewaris. Berkaitan dengan hal tersebut di atas. timbullah persoalan ahliwaris yang manakah yang lebih diutamakan.

ia dianggap tidak pernah ada. Setelah . Ketentuan ini tidak berarti mengurangi makna ketentuan pasal 2 BW. bilamana kepentingan si anak menghendakinya”. yaitu: “anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan dianggap sebagai telah dilahirkan. yang merupakan suatu jalan tengah antara menerima dan menolak warisan. Setelah terpenuhi syarat-syarat tersebut di atas. dalam arti ia tidak dinyatakan oleh undang-undang sebagai seorang yang tidak patut mewaris karena kematian. b. seseorang yang akan menerima sejumlah harta peninggalan terlebih dahulu harus memenuhi syarat-syarat. para ahli waris diberi kelonggaran oleh undang-undang untuk selanjutnya menentukan sikap terhadap suatu harta warisan. Dengan demikian berarti bayi dalam kandungan juga sudah diatur haknya oleh hokum sebagai ahli waris dan telah dianggap cakap untuk mewaris.dipandang sebagai pembatasan kemerdekaan seseorang untuk membuat wasiat atau testamen menurut sekehendak hatinya sendiri”. Sebagaimana telah dikemukakan di atas. ia tidak dapat dipaksa untuk memenuhi kewajiban sebagai ahli waris sampai jangka waktu itu berakhir selama empat bulan (pasal 1024 BW). Ahli waris diberi hak untuk berfikir selama empat bulan setelah itu ia harus menyatakan sikapnya apakah menerima atau menolak warisan atau mungkin saja ia menerima warisan dengan syarat yang dinamakan “menerima warisan secara beneficiaire”. Seseorang ahli waris harus cakap serta berhak mewaris. Harus ada orang yang meninggal dunia (pasal 830 BW). sebagai berikut: a. c. Harus ahli waris atau para ahli waris harus ada pada saat pewaris meninggal dunia. Selama ahli waris mempergunakan haknya untuk berfikir guna menentukan sikap tersebut. Apabila ia meninggal saat dilahirkan. atau tidak dianggap sebagi tidak cakap untuk menjadi ahli waris.

mempunyai beberapa kewajiban yaitu: a) wajib melakukan pencatatan atas jumlah harta peninggalan dalam waktu empat bulan setelah ia menyatakan kehendaknya kepada panitera pengadilan negeri. dalam bukunya “Pokok-pokok Hukum Perdata” menerangkan pengertian legaat yaitu suatu pemberian kepada seseorang yang bukan ahli waris melalui surat wasiat. e) wajib memberikan pertanggung jawaban kepada seluruh kreditur pewaris. Pengertian LegaatR. seorang ahli waris dapat memilih antara tiga kemungkinan. Menerima warisan tetapi dengan ketentuan bahwa ia tidak akan diwajibkan membayar hutang-hutang pewaris yang melebihi bagiannya dalam warisan itu. Subekti. atau disebut dengan istilah ”menerima warisan secara beneficiaire”. b. b) wajib mengurus harta peninggalan dengan sebaik-baiknya. c. f) wajib memanggil para kreditur pewaris yang tidak dikenal melalui surat kabar resmi.jangka waktu yang ditetapkan undang-undang berakhir. c) wajib membereskan urusan waris dengan segera. yaitu: a. Menerima warisan dengan penuh. baik kreditur benda bergerak maupun kreditur pemegang hipotik. maupun kepada orang-orang yang menerima pemberian secara “legaat”. d) wajib memberikan jaminan kepada kreditur. Menolak warisan. Seorang ahli waris yang menyatakan menerima warisan secara beneficiaire atau menerima dengan mengadakan inventarisasi harta peninggalan. berupa : .

mereka masing-masing mendapat 1/5 bagian. ia hanya mempunyai hak untuk menuntut legaat yang diberikan kepadanya. sehingga masing-masing cucu memperoleh 1/20 bagian. baru . yaitu cucu pewaris. Artinya. maka golongan kedua dan seterusnya tidak berhak atas harta peninggalan. masing-masing memperoleh satu bagian yang sama. misalnya memberikan seluruh benda bergerak. Bagian golongan pertama yang meliputi anggota keluarga dalam garis lurus ke bawah. 4) sesuatu hak lain terhadap harta peninggalan. dan janda atau duda yang hidup paling lama.1) satu atau beberapa benda tertentu. karena ia bukan ahli waris maka ia tidak diwajibkan membayar hutang-hutang pewaris. maka cucu tidak memperoleh warisan selama anak pewaris masih ada. Jadi hakikat bagian dari golongan pertama ini. demikian pula jika golongan pertama tidak ada sama sekali. Apabila salah seorang anak telah meninggal dunia terlebih dahulu dari pewaris akan tetapi mempunyai empat orang anak. Orang yang menerima legaat dinamakan legataris. 4. Jadi bila terdapat empat orang anak dan janda. jika pewaris hanya meninggalkan seorang anak dan dua orang cucu. apabila golongan pertama masih ada. yang berhak hanya golongan kedua. yaitu anak-anak beserta keturunan mereka. sedangkan golongan ketiga dan keempat tidak berhak. Bagian masing-masing ahli waris menurut BW adalah sebagai berikut: a. 2) seluruh benda dari satu macam atau satu jenis. 3) hak memungut hasil dari seluruh atau sebagian harta warisan. Bagian masing-masing ahli waris menurut BW Di atas telah dikemukakan bahwa BW mengenal empat golongan ahli waris yang bergiliran berhak atas harta peninggalan. maka bagian anak yang 1/5 dibagi di antara anak-anak yang menggantikan kedudukan ayahnya yang telah meninggal itu (plaatsvervulling).

b. kedudukannya digantikan oleh anakanaknya atau cucu pewaris. sebagai ahli waris golongan dua yang masih ada. . Bagian golongan kedua yang meliputi anggota keluarga dalam garis lurus ke atas yaitu orang tua. maka harta warisan terlebih dahulu dibagi dua. ayah dan ibu. jika ia mewaris bersama-sama dengan tiga orang atau lebih saudara pewaris.1/3 bagian dari seluruh harta warisan. maka harta peninggalan seluruhnya jatuh pada saudara-saudara pewaris. maka ayah dan ibu masing-masing akan memperoleh ¼ bagian dari seluruh harta warisan. bagian yang satu bagian saudara seibu. Apabila ayah dan ibu semuanya sudah meninggal dunia. baik ayah.½ (setengah) bagian dari seluruh harta warisan. Sedangkan separoh dari harta warisan itu akan diwarisi oleh tiga orang saudara. sama saja. yang hidup paling lama akan memperoleh bagian sebagai berikut: . Apabila di antara saudara-saudara yang masih ada itu ternyata hanya ada yang seayah atau seibu saja dengan pewaris. masing-masing dari mereka akan memperoleh 1/6 bagian. jika ia mewaris bersama-sama dengan dua orang saudara pewaris. Menurut ketentuan BW. Jika pewaris mempunyai saudara seayah .¼ (seperempat) bagian dari seluruh harta warisan. . Jika ibu atau ayah salah seorang sudah meninggal dunia.apabila anak pewaris itu telah meninggal lebih dahulu dari pewaris. Jadi apabila terdapat tiga orang saudara yang mewaris bersamasama dengan ayah dan ibu. baik lakilaki maupun perempuan. jika ia mewaris bersama dengan seorang saudaranya. baik laki-laki maupun perempuan beserta keturunan mereka. ibu maupun sudara-saudara pewaris masing-masing mendapat bagian yang sama. serta saudara. Akan tetapi bagian ayah dan ibu senantiasa diistimewakan karena mereka tidak boleh kurang dari ¼ bagian dari seluruh harta warisan.

demikian pula sebaliknya. maka cara pembagiannya. Dalam pasal 832 ayat (2) BW disebutkan: ”Apabila ahli waris yang berhak atas harta peninggalan sama sekali tidak ada. c.1/3 dari bagian anak sah. Bagian golongan ketiga yang meliputi kakek. apabila pewaris sama sekali tidak meninggalkan ahli waris golongan pertama maupun kedua. Dalam keadaan seperti ini sebelum harta warisan dibuka. Apabila dalam bagian pancer ibu sama sekali tidak ada ahli waris sampai derajat keenam. bagian yang separoh dari pancer ayah atau dari pancer ibu jatuh kepada saudarasaudara sepupu si pewaris yakni saudara sekakek atau saudara senenek dengan pewaris. maka bagian saudara kandung itu diperoleh dari dua bagian yang dipisahkan tadi. Bagian golongan keempat yang meliputi anggota keluarga dalam garis ke samping sampai derajat keenam. Selanjutnya negara wajib melunasi hutang-hutang peninggal warisan. sedangkan untuk bagian dari pancer ibu harus diberikan kepada nenek. dan bagian yang separohnya lagi merupakan bagian sanak keluarga dari pancer ibu pewaris. . sepanjang harta warisan itu mencukupi”. dan leluhur selanjutnya ke atas dari pewaris. apabila pewaris tidak meninggalkan ahli waris golongan ketiga sekalipun. maka seluruh harta peninggalan jatuh menjadi milik negara. nenek. terlebih dahulu harus dibagi dua (kloving). Selanjutnya separoh yang satu merupakan bagian sanak keluarga dari pancer ayah pewaris. apabila anak yang lahir di luar perkawinan mewaris bersama-sama dengan anak yang sah serta janda atau duda yang hidup paling lama.dan seibu di samping saudara kandung. Bagian warisan untuk anak yang lahir di luar perkawinan antara lain diatur sebagai berikut : . maka bagian pancer ibu jatuh kepada para ahli waris dari pancer ayah. Bagian yang masing-masing separoh hasil dari kloving itu harus diberikan pada kakek pewaris untuk bagian dari pancer ayah.

yaitu sanak keluarga pewaris sampai derajat keenam. apabila anak yang lahir di luar perkawinan mewaris bersama-sama ahli waris golongan keempat. Dalam keadaaan seperti ini. tak seorang pun yang menolak warisan.. 5.¾ dari bagian anak sah. Peran Balai Harta Peninggalan dalam pembagian warisan Apabila harta warisan telah terbuka namun tidak seorang pun ahli waris yang tampil ke muka sebagai ahli waris. Apabila pewaris sama sekali tidak meninggalkan ahli waris sampai derajat keenam sedang yang ada hanya anak yang lahir di luar nikah. (lihat Pasal 867 BW). bagian anak yang lahir di luar nikah bukan ¾. .½ dari bagian anak sah. sehingga anak yang lahir di luar nikah akan memperoleh ¼ dari bagian anak sah dari separoh warisan pancer ayah dan ¼ dari bagian anak sah dari separoh warisan pacer ibu. setelah terjadi kloving. apabila ia mewaris hanya bersamasama dengan kakek atau nenek pewaris. Jadi dalam hal demikian. maka warisan tersebut dianggap sebagai harta warisan yang tidak terurus. apabila anak yang lahir di luar perkawinan mewaris bersama-sama dengan ahli waris golongan kedua dan golongan ketiga. sebagai ahli waris satu-satunya. sehingga menjadi ½ bagian. menurut sistem BW sama sekali tidak berhak atas harta warisan dari orang tuanya. maka harta peninggalan seluruhnya jatuh pada tangan anak yang lahir di luar pernikahan. anak-anak tersebut hanya berhak memperoleh bagian sekedar nafkah untuk hidup seperlunya. Pekerjaan pengurusan itu harus . .½ dari bagian anak sah. sebab untuk ahli waris golongan keempat ini sebelum warisan dibuka terlebih dahulu diadakan kloving/ dibagi dua. tanpa menunggu perintah hakim. Anak yang lahir dari zina dan anak yang lahir dari orang tua yang tidak boleh menikah karena keduanya sangat erat hubungan kekeluargaannya. Balai Harta Peninggalan wajib mengurus harta peninggalan tersebut.

Balai Harta Peninggalan akan memberikan pertanggung jawaban atas pengurusan itu kepada negara. b. Apabila dalam jangka waktu tiga tahun terhitung mulai saat terbukanya warisan. seorang ahli waris yang dengan putusan hakim telah dipidana karena dipersalahkan memfitnah dan mengadukan pewarisbahwa pewaris difitnah melakukan kejahatan yang diancam pidana penjara empat tahun atau lebih. dan memalsukan surat wasiat. Jika terjadi perselisihan tentang apakah suatu harta peninggalan tidak terurus atau tidak. c. belum juga ada ahli waris yang tampil ke muka. penentuan ini akan diputus oleh hakim. 6. seorang ahli warais yang dengan putusan hakim telah dipidana karena dipersalahkan membunuh atau setidaktidaknya mencoba membunuh pewaris. d. yaitu sebagai berikut: a. Selanjutnya harta peninggalan itu akan diwarisi dan menjadi hak milik negara. . memusnahkan. seorang ahli waris yang telah menggelapkan. Ahli waris yang tidak patut menerima harta warisan Undang-undang menyebut empat hal yang menyebabkan seseorang ahli waris menjadi tidak patut mewaris karena kematian.dilaporkan kepada kejaksaan negeri setempat. ahli waris yang dengan kekerasan telah nyata-nyata menghalangi atau mencegah pewaris untuk membuat atau menarik kembali surat wasiat.

Hal ini adalah akibat warisan hukum yang dibuat oleh pemerintah kolonial Belanda untuk Hindia Belanda dahulu. yakni hulum waris yang berdasarkan hukum Islam. sedangkan sebagian besar masalah-masalah itu tidak disinggung dalam Al-Qur’an atau sunnah secara eksplisit.B. Hukum Waris Islam Di negara kita RI ini. di samping ada pula hikmahnya atau motif hukumnya. sunat. hukum Adat dan hukum Perdata Eropa (BW). maka sudah selayaknya di dalam menyusun hukum waris nasional nanti dapatlah kiranya ketentuan-ketentuan pokok hukum waris Islam dimasukkan ke dalamnya. dengan memperhatikan pula pola budaya atau adat yang hidup di masyarakat yang bersangkutan. Pembahasan tentang Hukum Waris Islam Setiap masalah yang dihadapi oleh manusia ada hukumya (wajib. Karena itu menginggat bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam. haram. mubah). hanya sebagian kecil saja masalah-masalah yang telah ditunjukan oleh Al-Qur’an atau sunnah dengan keterangan yang jelas dan pasti (clear dan fix statement). Yang tentunya mengharapkan berlakunya hukum Islam di Indonesia. dan hingga kini ada 3 (tiga) macam hukum waris yang berlaku dan diterima oleh masyarakat Indonesia. termasuk hukum warisnya bagi mereka yang beragama Islam. Namun. . A. atau disinggung tetapi tidak dengan keterangan yang jelas dan pasti. Kita sebagai negara yang telah lama merdeka dan berdaulat sudah tentu mendambakan adanya hukum waris sendiri yang berlaku secara nasional (seperti halnya hukum perkawinan dengan UU Nomor 2 Tahun1974). yang sesuai dengan bangsa Indonesia yang berfalsafah Pancasila dan sessuai pula dengan aspirasi yang benar-benar hidup di masyarakat. hukum waris yang berlaku secara nasioal belum terbentuk.

ibu dan anak (lelaki atu perempuan) sebagai ahli waris yang tidak bisa tertutup oleh ahli waris lainnya dan juga hak bagiannya masingmasing. Sebab masalah-masalah yang belum atau tidak ditunjukkan oleh Al-Qur’an atau sunnah itu diserahkan kepada pemerintah.Hal yang demikian itu tidak berarti Allah dan Rasul-nya lupa atau lengah dalam mengatur syariat Islam tetapi justru itulah menunjukan kebijakan Allah dan Rasul-nya yang sanggat tinggi atau tepat dan merupakan blessing in disguise bagi umat manusia. Demikian pula kedudukan cucu dari anak perempuan sebagai ahli waris. ulama atau cendekiawan Muslim. bapak. kedua anak tersebut berhak hanya setengah dari harta pusaka. Misalnya ahli waris yang hanya terdiri dari dua anak perempuan. Masalah-masalah yang menyangkut warisan seperti halnya masalahmsalah lain yang dihadpi manusia ada yang sudah dijelaskan permasalahannya dalam Al-Qur’an atau sunnah dengan keterangan yang kongkret. sebagai ahli waris jika melalui garis perempuan. seorang ahli tafsir terkenal. Tetapi ada dua hal yang menjadi penyebab utamanya. Misalnya kedudukan suami istri. bahkan mencapai ijma’ (konsensus) di kalangan ulama dan umat Islam. sehingga tidak timbul macam-macam interpretasi. yakni : . Penyebab timbulnya bermacam-macam pendapat dan fatwa hukum dalam berbagai masalah waris adalah cukup banyak. sedangkan menurut syiah. Selain dari itu masih banyak masalah warisan yang dipersoalkan atau diperselisihkan. dan ahlul hilli wal „aqdi (orangorang yang punya keahlian menganalisa dan memecahkan masalah) untuk melakukan pengkajian atau ijtihad guna menetaplan hukumnya. sedangkan menurut Ibnu Abbas. kedua anak perempuan tersebut mendapat bagian dua pertiga. cucu baik melalui garis lelaki maupun garis perempuan sama-sama berhak dalam warisan. yang sesuai dengan kemaslahatan masyarakat dan perkemmbangan kemajuannya. Menurut kebanyakan ulama.

Maka dengan maksud mempersatukan dan memudahkan umat Islam dalam mencari kitab pegangan hukum Islam. termasuk hukum waris. nafkah. yang dianut oleh kebanyakan penduduk Turki. nasab. karena mereka menyadari bahwa hasil ijtihadnya belum tentu benar. Khalifah Al-Mansur mendukung gagasan tersebut.1. Namun gagasan tersebut tak mendapat respon yang positif dari ulama pada waktu itu. Turki adalah negara Islam yang dapat dipadang sebagai pelopor menyusun UU Hukum Keluarga (1326 H) yang berlaku secara nasional. Hal-hal tersebut itulah yang menyebabkan timbulnya berbagai mazhab atau aliran dalam hukum fiqh Islam. karena setiap bangsa atau umat mempunyai pemimpin-pemimpin yang lebih tahu tentang hukum-hukum yang cocok dengan bangsa atau umatnya.dan ra’yu yang sesuai dengan keadilan dan kemaslahatan umat. idah. Imam Malik juga pernah didesak oleh Khalifah Al-Mansur dan Harun al-Rasyid untuk menyusun sebuah kitab untuk menjadi pegangan umat Islam. 26 tahun 1920. mahar. Maka dapat dikeluarkan UU Nomor. pemrintah membentuk sebuah badan resmi terdiri dari para ulama dan ahli hukum yang bertugas menyusun rancangan berbagai undangundang yang diambil dari hukum fiqh Islam tanpa terikat suatu mazhab dengan memperhatikan kemaslahatan dan kemajuan zaman. Ibnu Muqqafa (wafat tahun 762 M) menyarankan Khalifah Abu Ja’far al-Mansur agar disusun sebuah Kitab Hukum Fiqh Islam yang lengkap berdasarkan Al-Qur’an. Metode dan pendekatan yang digunakan oleh ulama dalam melakukan ijtihad berbeda. dan materinya kebanyakan diambil dari maznab Hanafi. UU Nomor 56 tahun 1923. dan 2. Kondisi masyarakat dan waktu kapan ulama melakukan ijtihad juga berbeda. dan UU Nomor 25 Tahun 1929. karena ulama tak mau memaksakan pahamnya untuk diikuti umat. ketiga UU tersebut mengatur masalah-masalah yang berhubungan dengan perkawinan. Sunnah. Di Mesir. perceraian. .

baik penyusunannya itu dilakukan oleh lembaga pemerintah atau lembaga swasta ataupun olah perorangan (seorang ulama). Di Indonesia hingga kini belum pernah tersusun Kitab Hukum Fiqh Islam yang lengkap tentang Al-Akhwal al-Syakhsyiyah termasuk hukum waris. Pelaksanaan Hukum Waris Islam di Indonesia Sejak berdirinya kerajaan-krajaan Islam di Nusantara (Demak dan sebagainya) dan juga pada zaman VOC. pada waktu pemerintah kolonial Belanda mendirikan Pengadilan Agama. UU wakaf. Misal pasal tentang batas minimal usia kawin dan menjatuhkan talak tiga kali sekaligus hanya diputus jatuh sekali. wasiat dan sebagainya. 1882 Nomor 152) para pejabatnya telah dapat menentukan sendiri perkara-perkara apa yang menjadi wewenangnya. yakni semua perkara yang berhubungan dengan perkawinan. B. Hanya UU pertama yang masih diambil dari mazhab empat. sedangkan UU kedua dan ketiga sudah tidak terikat sama sekali dengan mazhab empat. Misalnya saudara si mati (lelaki atau permpuan) tidak terhalang oleh kakek. mahar. Di dalam UU waris ini terdapat beberapa ketentuan yang mengubah praktek selama ini.pemeliharaan anak dan sebagainya. Kemudian tahun 1926 sidang kabinet atau usul Menteri Kehakiman (Wazirul „Adl menurut istilah disana) membentuk sebuah badan yang bertugas menyusun rancangan UU tentang Al-Akhwal al-Syakhsiyyah. Maka keluarnya UU Nomor 77 Tahun 1942 tentang waris secara lengkap. tetapi mereka bisa mewarisi bersama dengan kakek. perceraian. perwalian. sah tidaknya anak. tetapi berorientasi dengan kemaslahatan dan kemajuan bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam. hukum Islam sudah dikenal dan dilaksanakan oleh umat Islam Indonesia sebagai konsekuensi iman dan penerimaan mereka terhadap agama Islam. yang tidak berorientasi dengan mazhab. waris. Karena itu. Demikian pula pembunuhan yang tak sengaja menggugurkan hak seseorang sebagai ahli waris. nafkah. . Di Jawa dan Madura pada tauhun1882 (Stb.

sedekah. 1937 Nomor 638 dan 639 untuk Kalimantan Selatan. Baitul Mal. Pada tahun 1937. . Baru pada tahun1957 diundangkan PP Nomor 45 Tahun1957 yang mengatur Pengadilan Agama di luar JawaMadura dan Kalimantan Selatan dengan wewenang yang lebih luas. Lov. hasil penelitiannya pada Pengadilan Agama di Indonesia. wewenang pengadilan agama mengadili perkara waris dicabut dengan keluarnya Stb. Bahkan di Jawa sudah sejak lama fatwa waris Pengadilan Agama diterima oleh notaris dan para hakim Pengadilan Negeri sebagai alat pembuktian yang sah atas hak milik dan tuntutan yang berkenaan dengan itu. Demikian pula halnya dengan pejabat pendaftaran tanah di Kantor Agraria.kewarisan. 1937 Nomor 116 dan 610 untuk jawa dan Madura dan Stb. dan Baitul Mal. Sekalipun wewenang Pengadilan Agama tersebut tidak ditentukan dengan jelas. Dan penetapan Pengadilan Agama itu sekalipun hanya berupa fatwa waris yang tidak mempunyai kekuatan hukum. tetapi kebanyakan fatwa-fatwa warisnya diterima oleh pihak-pihak yang bersangkutan. bahwa pengadilan agama di Jawa dan Madura sekalipun telah kehilangan kekuasaanya atas perkara waris tahun 1937. Menurut Daniel D. bahwa Islam lebih banyak yang mengajukan perkara waris ke Pengadilan Agama daripada ke Pengadilan Negeri. seorang sarjana Amerika yang menulis buku Islamic Courts in Indonesia. hadhanah. dan wakaf. Tetapi peraturan yang menyatakan bahwa putusan Pengadilan Agama harus dikuatkan oleh Pengadilan Umum tetap berlaku. Hal ini terbukti. namun dalam kenyataanya masih tetap menyelesaikan perkara-perkara waris dengan caracara yang sangat mengesankan. yaitu disamping kasus-kasus sengketa tentang perkawinan juga mempunyai wewenang atas waris. wakaf. hibah. sedekah. Pengadilan Agama di luar Jawa-Madura dan Kalimantan Selatan sampai Belanda dan Jepang meninggalkan Indonesia belum terbentuk secara resmi. Namun ia (pengadilan agama) tetap menjalankan tugasnya sebagai bagian dari Pengadilan Adat atau Pengadilan Sultan.

65% 2. yakni : Jakarta Barat. maka mereka yang memilih Pengadilan Agama 77.3%. sedangkan yang memilih Pengadilan Negeri 15. sedangkan yang menghendaki berlakunya hukum waris adat bagi mereka hanya 11. Kota Semarang. Kota Surabaya. Aceh. Kota Cirebon. Karena itu apabila sengketa warus yang terjadi antara orang Islam diajukan ke Pengadilan Negeri. sedang yang menghendaki berlakunya hukum waris adat sebanyak 6. maka seharusnya diputus menurut hukum waris Islam sesuai dengan agama yang bersangkutan berdasarkan isi pasal 131 dan juga Keputusan Mahkamah Agung Nomor 109K/Sip/1960 tanggal 20-91960..35%. maka mereka yang memilih Pengadilan Agama mengadili kasus warisnya sebanyak 68. Kota Malang. Masyarakat Islam di lima daerah tersebut yang menghendaki berlakunya hukum waris Islam untuk mereka sebanyak 91. sedangkan yang memilih Pengadilan Negeri sebanyak 27.Pada tahun 1977/1978 Badan Pembinaan Hukum Nasional bekerja sama dengan Fakultas Hukum Universita Indonesia mengadakan penelitian di lima daerah.9%. sedangkan hukum faraid (hukum waris Islam) diberlakuka sebagai hukum adat. yakni D.B. Kota Serang.I. Jambi.7% 2.7%. Dan hasilnya antara lain adalah sebagai berikut : 1.T. dan Jawa Barat. Kota Pekalongan. yang menyatakan bagi golongan pribumi berlaku hukum adat.16%. N. Kalau terjadi sengketa waris. Dan hasilnya antara lain adalah sebagai berikut : 1. dan Kota Banjarmasin. Kota Mataram dan sekitarnya. DKI Jaya. Palembang. . Masyakarat Islam di sembilan daerah tersebut yang menghendaki berlakunya hukum waris Islam untuk mereka sebanyak 82.5% Kemudian kedua lembaga tersebut di atas mengadakan penelitian pada tahun 1978/1979 di sembilan daerah. Kalau terjadi sengketa waris.

karena merupakan the living law dan menjadi cita-cita moral dan hukum bangsa Indonesia. Sebagai salah satu fakta yang menunjukkan teori resepsi telah ditinggalkan. C. Hukum Islam khususnya hukum keluarganya termasuk hukum warisnya telah lama dikenal dan dilaksanakan oleh umat Islam Indonesia atas dasar kemauan sendiri sebagai konsekuensi iman dan penerimaan mereka terhadap agama Islam. Karena itu. Jelaslah. bahwa hakim Pengadilan Negeri yang mengadili kasus H. Subhan Z. Kesimpulan Dari uraian yang telah dikemukakan di atas. dapatlah disampaikan beberapa kesimpulan dan saran/harapan sebagai berikut : 1.E. Sebab UUD 1945 sebagai konstitusi RI dengan sendirinya telah menghapus Indische Staatsregeling sebagai konstitusi yang dibuat pemerintah kolonial Belanda untuk Hindia Belanda dahulu. Subhan Z. Sebab di dalamnya terdapat beberapa pasal dan penjelasannya yang menunjukkan peranan agama untuk sahnya perkawinan dan perjanjian perkawinan dan sebagainya tanpa ada embel-embel “yang telah diterima oleh hukum ada”. diputus oleh Pengadilan Negeri menurut hukum adat pada tanggal 16 Maret 1973 (Pengadilan Negeri Jakarta Pusat) dengan pertimbangan antara lain. Mas Subhan adalah seorang tokoh Islam di Indonesia tidak berarti dapat diberlakukan hukum waris Islam oleh karena almarhum/pewaris berasal dan tempat tinggal di Jawa”. tersebut masih menganut teori resepsi yang telah “usang” itu. hukum Islam tersebut hendaknya dijadikan sumber yang utama untuk pembentukan hukum nasional (mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan kesadaran . ialah UU Perkawinan Nomor 1/1974. patut disesalkan apabila kasus-kasus warisan keluarga Muslim seperti kasus warisan H. Karena itu.E. “Walupun pewaris/almarhum H.

dan praktek-praktel Pengadilan Agama dalam hukum waris Islam yang sangat mengesankan. sesuai dengan semangat Orde Baru yang bertekad melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara konsekuen dan murni. dan kemajuan zaman.hukum agamanya). Karena itu. 4. Dan akibat politik hukum Belanda yang sadis itu masih dirasakan oleh umat Islam Indonesia sampai sekarang. dapat segera dicabut dan diganti dengan hukum nasional yang bisa memenuhi rasa keadilan dan kesadaran hukum rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. UU tentang Struktur dan Yurisdiksi Pengadilan Agama yang akan diundangkan nanti benar-benar menempatkan kedudukan Pengadilan . maka secara sistematis step by step Belanda mencabut hukum Islam dari lingkungan tatahukum Hindia Belanda. tetapi hukum Islam tersebut harus bisa memenuhi rasa keadilan. Karena itu. Akibat politik hukum pemerintah kolonial Belanda yang hendak mengikis habis pengaruh Islam dari negara jajahannya – Indonesia. di samping hukum-hukum lain yang hidup di negara Indonesia 2. hendaknya kedudukan dan wewenang Pengadilan Agama disejajarkan dengan Pengadilan Negeri. baik yang tradisional maupun yang modern. Di Indonesia hingga kini belum ada kitab/himpuna hukum Islam yang lengkap terutama mengenai hukum keluarga Islam termasuk hukum waris Islam Indonesia. 3. Karena itu. maka hendaknya produkproduk hukum warisan kolonial dan warisan Orde Lama. Khusus hukum waris Islam yang ternyata diterima dan dikehendaki berlakunya oleh umat Islam di semua daerah yang telah diteliti oleh BPHN dan Fakultas Hukum UI pada tahun 1977-1979. hendaknya para ulama dan cendekiawan Muslim segera menyusun Himpunan Hukum Islam tersebut tanpa terikat dengan suatu madzhab tertentu. maka sesuai dengan UU Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuanketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. sesuai dengan kemaslahatan umat.

matrilineal. Disini janda memang bukan merupakan ahli waris. maupun parental ini hampir sama. Janda bukan merupakan ahli waris dalam hukum adat. Sistem patrilineal merupakan sistem keturunan yang ditarik dari garis bapak. Kita tidak dapat mengatakan bahwa tidak adil untuk pembagian harta pencaharian hasil istri sendiri. Dimanakah letak keadilannya? Padahal tujuan hukum adalah untuk menciptakan keadilan. Sebaliknya teori reception in complexuvan de Berg itulah yang sesuai dengan ajaran Islam. C. Disini hukum tidak mempersulit masyarakatnya. Pada umumnya di Indonesia apabila pewaris wafat meninggalkan istri dan anak-anak. dimana kedudukan pria lebih menonjol pengaruhnya dari kedudukan wanita didalam pewarisan. sementara yang berhak atas harta itu adalah suami. yaitu janda bisa menjadi penguasa harta warisan suaminya yang telah wafat. Sebab teori resepsi ini bertentangan dengan ajaran Islam. maka harta warisan. apabila dengan hukum adat ada keluarga yang merasa tidak adil tentunya dapat dimusyawarahkan dengan anggota keluarga yang lain karna bisa digunakan juga hukum waris barat atau dengan hukum waris Islam untuk masyarakat yang beragama Islam. Pada intinya dimasyarakat patrilineal. karna pada dasarnya bagi masyarakat adat yang menganut sistem patrilineal ini hal tersebut sudah dikatakan adil. Hukum Waris Adat Pembagian dalam Hukum Waris Adat pada sistem Patrilineal yang mencari nafkah adalah istri sendiri. terutama harta bersama suami istri yang didapat sebagai harta pencaharian selama perkawinan dapat dikuasai oleh janda almarhum pewaris untuk kepentingan berkelanjutan hidup anak-anak dan janda yang ditinggalkan. .Agama sejajar dengan Pengadilan Negeri dan wewenang Pengadilan Agama sekurang-kurangnya dikembalikan seperti semula sebelum ada teori resepsi Snouck Hurgronje.

dan Jayapura). Pengkhususan Untuk daerah Gresik. maka yang menjadi ahli waris adalah anak laki-laki. Madura. Untuk daerah Jawa apabila yang menjadi pewaris suami. ahli warisnya anak laki-laki : anak perempuan= 1 : 1 c. Pembagiannya sebagai berikut: A. tetapi pada daerah tertentu yang ahli warisnya adalah anak tertua (Bali. maka harta tersebut akan dialihkan kepada anak-anaknya. apabila janda tersebut sudah tua dan anak-anaknya sudah dewasa dan sudah berumah tangga. Teluk Yosudarso. Sistem Matrilineal Istri sebagai pewaris: ahli warisnya anak perempuan Suami sebagai pewaris: ahli warisnya saudara perempuan suami C. Sistem Parental atau Bilateral Istri sebagai pewaris: ahli warisnya anak laki-laki dan anak perempuan Suami sebagai pewaris: ahli warisnya anak laki-laki dan anak perempuan a. Sedangkan untuk pembagian dalam hukum waris adat tidak mengenal azas Legitieme Portie. Akan tetapi. . Dalam hukum waris adat tidak mengenal asaz Legitieme Portie. dan apabila yang menjadi ahli waris istri. Untuk daerah Sidoarjo dan Malang. maka ahli warisnya anak laki-laki : anak perempuan= 2:1 b.karna sudah ada pembagian yang sudah diatur dalam sistem tersebut. Disini hukum waris barart mengenal adanya azas Legitieme Portie. Janda hanya memiliki hak untuk menguasai dan menikmati harta warisan selama hidupnya. yaitu bagian minimum dari warisan yang dijamin oleh undang-undang sebagai ahli waris tertentu. maka yang menjadi ahli waris adalah anak perempuan. Lampung yang beradat kepadaan. Tuban apabila yang menjadi pewaris istri atau suami. B. Sistem Patrilineal Istri sebagai pewaris: tidak ada ahli waris Suami sebagai pewaris: ahli warisnya anak laki-laki. Pembagian hukum waris adat dengan hukum waris barat berbeda.

beramanat. Bagaimana proses pewarisan atau pembagian harta waris menurut hukum waris adat. Bagaimana keturunan? pewarisan dari perkawinan yang berbeda sistem Apabila terjadi perkawinan antara sistem keturunan yang satu dan yang lain dapat berlaku campuran atau berganti-ganti diantara sistem patrilineal dan matrilineal alternerend. Ketika pewaris telah wafat berlaku penguasaan yang dilakukan oleh anak tertentu. Hak kebendaan merupakan harta warisan. Disini biasanya berupa hak-hak kebendaan.Contoh konkrit tentang hak kebendaan. sebenarnya hal tersebut dapat dilakukan secara musyawarah dalam keluarga karna pada dasarnya pembagian warisan tidak hanya dapat ditempuh dengan hukum waris adat. apabila pewaris tidak meninggalkan harta warisan bewujud benda. hukum waris barat? Proses pewarisan menurut hukum waris adat. hak-hak kebendaan yang terbagi-bagi pewarisnya dan ada yang tidak terbagi-bagi. penunjukan dan atau dengan cara berpesan. hak tagihan (hutang piutang) dan atau hak-hak lainnya. Hak pakai dimungkinkan terhadap harta warisan yang seharusnya dibagi-bagi kepada waris tetapi karna keadaannya tidak atau belum terbagi. seperti hak pakai. . hukum waris Islam. berwasiat. sedangkan cara pembagian dapat berlaku pembagian ditangguhkan. Sesuai dengan sistem yang ada. dikala pewaris masih hidup dapat berjalan dengan cara penerusan atau pengalihan. tetapi kemungkinan harta warisan tidak berwujud benda. tetapi didasarkan atas pertimbangan mengingat wujud benda dan kebutuhan waris bersangkutan. oleh anggota keluarga atau kepala kerabat. Akan tetapi. Hukum waris adat tidak mengenal cara pembagian dengan perhitungan matematika.

Jadi proses pewarisan dalam hukum islam dapat dilakuakn berdasarkan ketentuan Al-Quran dan kompilasi hukum Islam atau dengan wasiat secara tertulis ataupun lisan. yaitu mewaris karna haknya. tetangga yang yatim dan miskin. Proses pewarisan dalam hukum Islam sudah ditentukan dalam Al-Quran dan juga telah dicantumkan dalam kompilasi hukum Islam. kedudukannya sendiri dan karna penggantian tempat. cara mewaris dalam ab intestato bedasarkan undang-undang. Sedangkan pewaris yang berdasarkan testament. yaitu pewarisan berdasarkan suatu akta yang memuat pernyuataan seseorang tentang apa yang dikhendaki agar terjadi setelah ia meninggal dunia. Dalam hukum waris barat/BW cara pewarisan berdasarkan ab intetato dan testament. dan olehnya dapat dicabut kembali.Agama Islam menggariskan maksud dan tujuan pewarisan tidak saja untuk kepentingan kehidupan individual para ahli waris tetapi juga berfungsi sosial untuk memperhatikan kepentingan anggota kerabat. Jadi proses pewarisan dalam hukum waris barat atau BW dapat didasarkan pada ketentuan yang telah diatur dalam BW atau dengan wasiat yang dituangkan dalam surat wasiat. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful