A. PENDAHULUAN Begitu banyak pertanyaan yang terlintas dalam benak kita ketika berbicara tentang kepemimpinan.

Pertanyaan yang mendasar adalah apakah pemimpin itu lahir begitu saja (pemimpin suatu kelompok)? Kalau singa, sudah dilahirkan menjadi raja hutan, tetapi manusia ada yang memiliki bakat menjadi pemimpin, belum tentu dapat memimpin dengan baik kalau tidak disertai dengan ilmu. Untuk menjawab pertanyaan ini ada satu selogan yang dapat kita jadikan dasar pemikiran agar mempelajari teori kepemimpinan yaitu Semua manusia dilahirkan kedunia ini untuk memimpin, paling tidak pemimpin dirinya sendiri. Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana seorang pemimpin dapat membangun dan berpengaruh dalam lingkungan yang dipimpinnya ? Pertanyaan – pertanyaan ini hanya dapat dijawab dengan menggunakan teori kepemimpinan. B. LATAR BELAKANG Fungsi pemimpin dalam suatu organisasi, tidak dapat dibantah merupakan suatu fungsi yang sangat penting bagi keberadaan dan kemajuan organisasi yang bersangkutan. Oleh karena itu, memahami teori-teori kepemimpinan sangat besar artinya untuk mengkaji sejauh mana kepemimpinan dalam suatu organisasi telah dapat dilaksanakan secara efektif serta menunjang kepada produktivitas organisasi secara keseluruhan. Seorang pemimpin harus mengerti tentang teori kepemimpinan agar nanti mempunyai refrensi dalam menjalankan sebuah organisassi. Untuk mengkaji lebih dalam tentang konsep kepemimpinan maka dalam makalah ini kami akan dibahas tentang teori dan gaya kepemimpinan. C. RUMUSAN MASALAH Dengan melihat latar belakang diatas maka kami sebagai penulis merumuskan beberapa topic permasalahan yang akan dikaji lebih dalam pembahasan makalah dibawah ini. Topik permasalahan itu antara lain: 1. Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan 2. Teori-teori tentang kepemimpinan

Fungsi sebagai top manajemen. Menurut Sayidiman Suryohadiprojo. Menurut Sarros dan Butchatsky (1996). and loyal cooperation in order to accomplish the mission” ( kepemimipana adalah seni untuk mempengaruhi dan menggerakan orang-orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan. yaitu mengadakan planning. directing commanding. fungsi kepemimpinan memiliki dua aspek dasar yaitu : 1. Menurut definisi tersebut. Fungsi administrasi. confidence. staffing. Pada dasarnya. Pengertian kepemimpinan (kurang lebih sama dengan leiderschap) adalah satu kemampuan manusia yang diperoleh dari lahir. organizing. Tipe Seorang Pemimpin D. respek dan kerjasama secara loyal untuk menyelesaikan suatu tugasField Manual 22-100). yaitu mengadakan formulasi kebijasanaan administrasi dan menyediakan fasilitasnya 2. Sedangkan menurut Anderson (1988). PEMBAHASAN Pengertian Kepemimpinan Secara etimologi pemimpin berasal dari kata pimpin yang berari “The art of influencing and directing meaninsuch away to obatain their willing obedience. .3. bukan karena mendapat pendidikan tertentu. di lingkungan Belanda. kepercayaan. respect. “leadership means using power to influence the thoughts and actions of others in such a way that achieve high performance”. “leadership is defined as the purposeful behaviour of influencing others to contribute to a commonly agreed goal for the benefit of individual as well as the organization or common good”. controlling. Model Kepemimpinan 4. kepemimpinan dapat didefinisikan sebagai suatu perilaku dengan tujuan tertentu untuk mempengaruhi aktivitas para anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama yang dirancang untuk memberikan manfaat individu dan organisasi. dan sebagainya.

Teori Kepemimpinan Perilaku dan Situasi Berdasarkan penelitian. teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwaa sifat – sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan. memberi masukan kepada bawahan dan bersedia bekonsultasi dengan bawahan. sifat fisik. ilmu pengetahuan tanpa agama adalah membuat pincang . Teori Kepemimpinan Sifat ( Trait Theory ) Analisis ilmiah tentang kepemimpinan beerangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. Teori Kepemimpinan 1. bukannya diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan “the greatma theory” Dalam perkemabangannya. Contoh yang dapat dilihat. . dan hasil apa yang akan dicapai.Albert Enstein mengatakan Religion “without science is blind. Sifat – sifat itu antara lain . bagaimana pekerjaan dilakukan. bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas. Kedua disebut struksur inisiasi yaitu kecenderungan seorang pemimpin yang memberikan batasan kepada bawahan. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan . akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. science without religion is lame” yamg artinya Agama tanpa ilmu pengetahuan adalah buta. Contoh gejala yang ada dalam hal ini seperti: membela bawahan. mental dan kepribadian 2. perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki kecenderungan kea rah dua hal : Pertama yang disebut Konsiderasi yaitu kecenderungan pemimpin yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. kapan.

penyesuaian bersama 4. sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan. antara lain: . Teori kontingensi Mulai berkembang th 1962. seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan terhadap hasil yang tinggi juga. minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. pada sistem ini mempunyai beberapa ciri: Substansinya adalah manusia bukan tugas. fleksibel. 3. Kurang menekankan hirarki Struktur saling berhubungan. kepercayaan dan norma Pengendalian diri sendiri. Sistem ini disebut sistem organik (sebagai lawan sistem mekanistik).Jadi berdasarkan teori ini. teori ini menyatakan bahwa tidak ada satu sistem manajemen yang optimum. dalam bentuk kelompok Kebersamaan dalam nilai. Kemudian juga timbul teori kepemimpinan situasi dimana seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat fleksibel. bakat. Beberapa tokohnya. Teori Behavioristik Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah. Pendekatan ini menekankan bahwa manajemen yang efektif bila ada pemahaman tentang pekerja – lebih berorientasi pada manusia sebagai pelaku. Dengan kata lain. dan mengabaikan aspek – aspek mental. sistem tergantung pada tingkat perubahan lingkungannya. behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan.

self actualization needs. Douglas Mc Gregor (1906-1964) Teori X dan teori Y Teori X melihat karyawan dari segi pessimistik. dan Douglas McGregor. security needs. yaitu. menantang karyawan untuk berprestasi. social needs. Fungsi dari kepemimpinan adalah memodifikasi organisasi agar individu bebas untuk merealisasikan potensi motivasinya didalam memenuhi kebutuhannya dan pada waktu yang sama sejalan dengan arah tujuan kelompok. Teori Y melihat karyawan dari segi optimistik. Blake dan Mouton. Teori Humanistik dengan para pelopor Argryris. terdapat tiga variabel pokok. (2). esteem needs. mendorong pertumbuhan pribadi. kebutuhan.a. dan kemampuan-nya. kepemimpinan yang sesuai dan memperhatikan hati nurani anggota dengan segenap harapan. manajer hanya mengubah kondisi kerja dan mengektifkan penggunaan rewards & punishment untuk meningkatkan produktivitas karyawan. (1). dan (3). Kebutuhan tersebut akan menimbulkan suatu keinginan untuk memenuhinya. Organisasi memiliki struktur dan sistem kontrol tertentu. didalam Teori Humanistik. Teori ini secara umum berpendapat. Teori Humanistik Teori ini lebih menekankan pada prinsip kemanusiaan. mendorong kinerja. Organisasi perlu mengenali kebutuhan tersebut dan berusaha memenuhinya agar timbul kepuasan. 5. Rensis Likert. Apabila dicermati. secara alamiah manusia merupakan “motivated organism”. b. Maslow Individu mempunyai 5 kebutuhan dasar yaitu physical needs. organisasi yang disusun dengan baik agar tetap relevan dengan kepentingan anggota disamping kepentingan organisasi secara keseluruhan. Teori humanistic biasanya dicirikan dengan adanya suasana saling menghargai dan adanya kebebasan. interaksi yang akrab dan harmonis antara pimpinan dengan anggota untuk menggalang . manajer perlu melakukan pendekatan humanistik kepada karyawan.

maka pengaruh watak yang dimiliki oleh para pemimpin mempunyai pengaruh yang tidak . lebih dari 100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik. kecakapan berbicara. Model Watak Kepemimpinan (Traits Model of Leadership) Pada umumnya studi-studi kepemimpinan pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri para pemimpin. kesupelan dalam bergaul. dan dari studi-studi tersebut dinyatakan bahwa hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas kepemimpinan. dan Drea bahkan menyatakan. status dan situasi. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa faktorfaktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain. Model Kepemimpinan Telah banyak pemikiran ahli-ahli manajemen mengenai model-model kepemimpinan yang ada dalam literatur. tanggung jawab. Blanchard. partisipasi. 2001). Hingga tahun 1950-an. melainkan sesuatu yang Anda lakukan bersama dengan orang lain (Blanchard & Zigarmi. Zigarmi. ketegasan. and that persons who are leaders in one situation may not necessarily be leaders in other situation” (Stogdill 1970). Disamping itu. status sosial ekonomi mereka dan lain-lain (Bass 1960. seperti misalnya: kecerdasan. walaupun positif.persatuan dan kesatuan serta hidup damai bersama-sama. Stogdill 1974). Namun yang paling umum kita jumpai dalam keseharian kita diantaranya adalah: a. Stogdill (1974) menyatakan bahwa terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara pemimpin dan pengikut. kematangan. Bukti-bukti yang ada menyarankan bahwa “leadership is a relation that exists between persons in a social situation. Apabila kepemimpinan didasarkan pada faktor situasi. kejujuran. watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. prestasi. kepemimpinan bukanlah sesuatu yang Anda lakukan terhadap orang lain. yaitu kapasitas. tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah (Stogdill 1970).

seperti misalnya faktor situasi. bukan lagi hanya berdasarkan watak kepribadian pemimpin. Model Kepemimpinan Situasional (Model of Situasional Leadership) Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu kemampuan kepemimpinan. menyatakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kinerja pemimpin. Studistudi tentang kepemimpinan situasional mencoba mengidentifikasi karakteristik situasi atau keadaan sebagai faktor penentu utama yang membuat seorang pemimpin berhasil melaksanakan tugas-tugas organisasi secara efektif dan efisien. yang tidak berhasil meyakinkan adanya hubungan yang jelas antara watak pribadi pemimpin dan kepemimpinan. misalnya. Hencley (1973) menyatakan bahwa faktor situasi lebih menentukan keberhasilan seorang pemimpin dibandingkan dengan watak pribadinya. c. Menurut pendekatan kepemimpinan situasional ini. Kajian model kepemimpinan situasional lebih menjelaskan fenomena kepemimpinan dibandingkan dengan model terdahulu. Dan juga model ini membahas aspek kepemimpinan lebih berdasarkan fungsinya. yaitu sifat struktural organisasi (structural properties of the organisation). Model Pemimpin yang Efektif (Model of Effective Leaders) . Banyak studi yang mencoba untuk mengidentifikasi karakteristik situasi khusus yang bagaimana yang mempengaruhi kinerja para pemimpin. b. iklim atau lingkungan organisasi (organisational climate). seseorang bisa dianggap sebagai pemimpin atau pengikut tergantung pada situasi atau keadaan yang dihadapi. yang diharapkan dapat secara jelas menerangkan perbedaan karakteristik antara pemimpin dan pengikut.signifikan. Kegagalan studi-studi tentang kepimpinan pada periode awal ini. membuat para peneliti untuk mencari faktor-faktor lain (selain faktor watak). Namun demikian model ini masih dianggap belum memadai karena model ini tidak dapat memprediksikan kecakapan kepemimpinan (leadership skills) yang mana yang lebih efektif dalam situasi tertentu. Hoy dan Miskel (1987). karakteristik tugas atau peran (role characteristics) dan karakteristik bawahan (subordinate characteristics).

saling percaya. yakni pada aspek-aspek keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987). dan sampai sejauh mana pemimpin memperhatikan kebutuhan sosial dan emosi bagi bawahan seperti misalnya kebutuhan akan pengakuan.Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah laku (types of behaviours) para pemimpin yang efektif. Secara ringkas. maka model kepemimpinan kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas. saling menghargai dan senantiasa hangat dengan bawahannya. partisipasi dan hubungan manusiawi (human relations). Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang menata kelembagaan organisasinya secara sangat terstruktur. Dimensi struktur kelembagaan menggambarkan sampai sejauh mana para pemimpin mendefinisikan dan menyusun interaksi kelompok dalam rangka pencapaian tujuan organisasi serta sampai sejauh mana para pemimpin mengorganisasikan kegiatan-kegiatan kelompok mereka. kepuasan kerja dan penghargaan yang mempengaruhi kinerja mereka dalam organisasi. Tingkah laku para pemimpin dapat dikatagorikan menjadi dua dimensi. Blake and Mouton (1985) menyatakan bahwa tingkah laku pemimpin yang efektif cenderung menunjukkan kinerja yang tinggi terhadap dua aspek di atas. tingkah lakunya dan variabel-variabel situasional. Model Kepemimpinan Kontingensi (Contingency Model) Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara karakteristik watak pribadi pemimpin. Halpin (1966). Model kepemimpinan Fiedler (1967) . dan mempunyai hubungan yang persahabatan yang sangat baik. Dimensi ini dikaitkan dengan usaha para pemimpin mencapai tujuan organisasi. model kepemimpinan efektif ini mendukung anggapan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang dapat menangani kedua aspek organisasi dan manusia sekaligus dalam organisasinya. d. Dimensi konsiderasi ini juga dikaitkan dengan adanya pendekatan kepemimpinan yang mengutamakan komunikasi dua arah. Dimensi konsiderasi menggambarkan sampai sejauh mana tingkat hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya. Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang berbeda membutuhkan tipe kepemimpinan yang berbeda. yaitu struktur kelembagaan (initiating structure) dan konsiderasi (consideration).

dua variabel situasi yang sangat menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya . Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin (misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan. tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4 kelompok: supportive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat). Menurut Fiedler. prosedur dan petunjuk yang ada). struktur tugas (the task structure) dan kekuatan posisi (position power). berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House 1971). Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan (leader-member relations).Model kontingensi yang lain. directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan.disebut sebagai model kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of the situation) yang dihadapinya. ada tiga faktor utama yang mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi keefektifan pemimpin. Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugastugas dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang baku. Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin itu dipercaya dan disukai oleh bawahan. Menurut House. Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka masingmasing. Path-Goal Theory. dan kemauan bawahan untuk mengikuti petunjuk pemimpin. promosi dan penurunan pangkat (demotions). participative leadership (konsultasi dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan). Menurut Path-Goal Theory.

namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi. Pemimpin transaksional pada hakekatnya menekankan bahwa seorang pemimpin perlu menentukan apa yang perlu dilakukan para bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi. untuk memperoleh model kepemimpinan transformasional. baik tentang Menurutnya.Hater dan Bass (1988) menyatakan bahwa “the dynamic of transformational leadership involve strong personal identification with the leader. pemimpin transaksional cenderung memfokuskan diri pada penyelesaian tugas-tugas organisasi. mengkomunikasikan dan mengartikulasikan visi organisasi. dan bawahan harus menerima dan mengakui kredibilitas pemimpinnya. Pemimpin transformasional harus mampu mendefinisikan. Kepemimpinan transaksional didasarkan pada otoritas birokrasi dan legitimasi di dalam organisasi. Disamping itu. e. Burns (1978) merupakan salah satu penggagas yang secara eksplisit mendefinisikan pemahaman kepemimpinan yang lebih transformasional. tingkah laku pemimpin dan variabel situasional. Burns menyatakan bahwa model kepemimpinan transformasional pada hakekatnya menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para bawahannya untuk melakukan tanggungjawab mereka lebih dari yang mereka harapkan. or goingbeyond the self-interest exchange of rewards for compliance”. Untuk memotivasi agar bawahan melakukan tanggungjawab mereka.peraturan dan prosedur yang ada. model ini perlu dipertentangkan dengan model kepemimpinan transaksional. Pemimpin transformasional juga harusmempunyai kemampuan untuk menyamakan visi masa . Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan dalam organisasi. para pemimpin transaksional sangat mengandalkan pada sistem pemberian penghargaan dan hukuman kepada bawahannya. joining in a shared vision of the future. Sebaliknya. pemimpin transformasional merupakan pemimpin yang karismatik dan mempunyai peran sentral dan strategis dalam membawa organisasi mencapai tujuannya. Model Kepemimpinan Transformasional (Model of Transformational Leadership) Model kepemimpinan transformasional merupakan model yang relatif baru dalam studi-studi kepemimpinan. Dengan demikian.

Dimensi yang terakhir disebut sebagai individualized consideration (konsiderasi individu). dan memberikan motivasi kepada bawahan untuk mencari pendekatan-pendekatan yang baru dalam melaksanakan tugastugas organisasi. pemimpin transformasional digambarkan sebagai pemimpin yang mampu mengartikulasikan pengharapan yang jelas terhadap prestasi bawahan. Bass dan Avolio (1994) mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mempunyai empat dimensi yang disebutnya sebagai “the Four I’s”. Pemimpin transformasional harus mampu menumbuhkan ide-ide baru. mendemonstrasikan komitmennya terhadap seluruh tujuan organisasi. dan mampu menggugah spirit tim dalam organisasi melalui penumbuhan entusiasme dan optimisme.depan dengan bawahannya. dan menaruh parhatian pada perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh bawahannya. Walaupun penelitian mengenai model . Dalam dimensi ini. Dengan demikian. Dimensi yang pertama disebutnya sebagai idealized influence (pengaruh ideal). pemimpin transformasional harus mampu membujuk para bawahannya melakukan tugas-tugas mereka melebihi kepentingan mereka sendiri demi kepentingan organisasi yang lebih besar. menstimulasi bawahan dengan cara yang intelektual. keberadaan para pemimpin transformasional mempunyai efek transformasi baik pada tingkat organisasi maupun pada tingkat individu. Dimensi yang ketiga disebut sebagai intellectual stimulation (stimulasi intelektual). menghormati dan sekaligus mempercayainya. Dalam buku mereka yang berjudul “Improving Organizational Effectiveness through Transformational Leadership”. Dalam dimensi ini. Dimensi yang pertama ini digambarkan sebagai perilaku pemimpin yang membuat para pengikutnya mengagumi. memberikan solusi yang kreatif terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi bawahan. Menurut Yammarino dan Bass (1990). Dimensi yang kedua disebut sebagai inspirational motivation (motivasi inspirasi). Yammarino dan Bass (1990) juga menyatakan bahwa pemimpin transformasional mengartikulasikan visi masa depan organisasi yang realistik. serta mempertinggi kebutuhan bawahan pada tingkat yang lebih tinggi dari pada apa yang mereka butuhkan. seperti yang diungkapkan oleh Tichy and Devanna (1990). pemimpin transformasional digambarkan sebagai seorang pemimpin yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian masukanmasukan bawahan dan secara khusus mau memperhatikan kebutuhan-kebutuhan bawahan akan pengembangan karir.

proses dan nilai-nilai organisasi agar lebih baik dan lebih relevan. Konsep kepemimpinan transformasional ini mengintegrasikan ide-ide yang dikembangkan dalam pendekatanpendekatan watak (trait). dengan cara-cara yang menarik dan menantang bagi semua pihak yang terlibat.transformasional ini termasuk relatif baru. gaya (style) dan kontingensi. dan dengan bekal pemikiran ini sang pemimpin mampu menciptakan pergesaran paradigma untuk mengembangkan praktekpraktekorganisasi yang sekarang dengan yang lebih baru dan lebih relevan. Disebut sebagai penerobos karena pemimpim semacam ini mempunyai kemampuan untuk membawa perubahan-perubahan yang sangat besar terhadap individu-individu maupun organisasi dengan jalan: memperbaiki kembali (reinvent) karakter diri individu-individu dalam organisasi ataupun perbaikan organisasi. namun fenomenafenomana kepemimpinan yang digambarkan dalam konsep-konsep tersebut lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya. dan mencoba untuk merealisasikan tujuan-tujuan organisasi yang selama ini dianggap tidak mungkin dilaksanakan. Banyak peneliti dan praktisi manajemen yang sepakat bahwa model kepemimpinan transformasional merupakan konsep kepemimpinan yang terbaik dalam menguraikan karakteristik pemimpin (Sarros dan Butchatsky 1996). meninjau kembali struktur. Beberapa ahli manajemen menjelaskan konsepkonsep kepimimpinan yang mirip dengan kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan yang karismatik. memulai proses penciptaan inovasi. Bryman (1992) menyebut kepemimpinan transformasional sebagai kepemimpinan baru (the new leadership). sedangkan Sarros dan Butchatsky (1996) menyebutnya sebagai pemimpin penerobos (breakthrough leadership). dan juga konsep kepemimpinan transformasional menggabungkan dan menyempurnakan konsep-konsep terdahulu yang dikembangkan oleh ahli-ahli sosiologi (seperti misalnya Weber 1947) dan ahli-ahli politik (seperti misalnya Burns 1978). Meskipun terminologi yang digunakan berbeda. Metanoia berasaldari kata Yunani meta yang berarti perubahan. dan . Pemimpin penerobos memahami pentingnya perubahan-perubahan yang mendasar dan besar dalam kehidupan dan pekerjaan mereka dalam mencapai hasil-hasil yang diinginkannya. inspirasional dan yang mempunyai visi (visionary). beberapa hasil penelitian mendukung validitas keempat dimensi yang dipaparkan oleh Bass dan Avilio di atas. Pemimpin penerobos mempunyai pemikiran yang metanoiac.

Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan sematamata menjadi wewenang pemimpin. Pemimpin membatasi peran bawahan dan menunjukkan kepada bawahan apa. . Oleh karena itu. tipe ini ditandai dengan adanya komunikasi satu arah. Pemimpin memberikan pengarahan tinggi dan rendah dukungan. bagaimana sesuatu tugas harus dilaksanakan. Dengan perkembangan globalisasi ekonomi yang makin nyata.nous/noos yang berarti pikiran. yaitu: a. yang kemudian diumumkan kepada para bawahan. kondisi di berbagai pasar dunia makin ditandai dengan kompetisi yang sangat tinggi (hyper-competition). kapan. perusahaan sebagai pemain dalam permainan global harus terus menerus mentransformasi seluruh aspek manajemen internal perusahaan agar selalu relevan dengan kondisi persaingan baru. Selain Model-model diatas masih ada beberapa tipe kepemimpinan yang ada saat ini. dimana. Tipe instruktif. Pelaksanaan pekerjaan diawasi secara ketat oleh pemimpin. dan inovasi usaha guna meningkatkan daya saing dalam dunia yang lebih bersaing. Pemimpin memberitahukan bawahan tentang apa. Pemimpin memberikan batasan peranan bawahan. Pemimpin transformasional dianggap sebagai model pemimpin yang tepat dan yang mampu untuk terus-menerus meningkatkan efisiensi. Ciri-cirinya . di mana. bilamana. produktifitas. Inisiatif pemecahan masalah dan pengambilan keputusan semata-mata dilakuakn oleh pemimpin. dan bagaimana bawahan melaksanakan tugasnya. Tiap keunggulan daya saing perusahaan yang terlibat dalam permainan global (global game) menjadi bersifat sementara (transitory).

pengawasan atas pelaksanaan keputusan tetap pada pemimpin. sebab kontrol atas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan seimbang antara pemimpin dan bawahan. sebab pemimpin berpendapat bahwa bawahan telah memiliki kecakapan dan pengetahuan yang cukup luas untuk menyelesaikan tugas. Pemimpin mengadakan komunikasi dua arah dan berusaha mendengarkan perasaan. tipe konsultatif. Pengawasan dan pengambilan keputusan tetap pada pemimpin. Ciri-cirinya : Pemimpin memberikan baik pengarahan maupun dukungan tinggi. Komunikasi dua arah makin bertambah frekuensinya. Keikutsertaan bawahan untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan makin banyak. Sementara bantuan ditingkatkan. gagasan. Ciri-cirinya : Pemimpin memberikan dukungan tinggi dan sedikit/rendah pengarahan. Bedanya adalah bahwa tipe konsultatif ini menggunakan komunikasi dua arah dan memberikan suportif terhadap bawahan mendengar keluhan dan perasaan bawahan tentang keputusan yang diambil.Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan diumumkan oleh pemimpin. Kepemimpinan tipe ini masih memberikan instruksi yang cukup besar serta penetapan keputusan-keputusan dilakukan oleh pemimpin. tipe partisipatif. pemimpin dan bawahan sama-sama terlibat dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. pemimpin makin mendengarkan secara intensif terhadap bawahannya. dan saran bawahan. dan pelaksanaannya diawasi secara ketat oleh pemimpin b. c. .

Komunikasi dua arah ditingkatkan. tipe delegatif. sebab pemimpin mendiskusikan masalah-masalah yrng dihadapi dengan para bawahan dan selanjutnya mendelegasikan pengambilan keputusan seluruhnya kepada bawahan. Selanjutnya menjadi hak bawahan untuk menentuykan bagaimana pekerjaan harus diselesaikan.Posisi kontrol atas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dipegang secara berganti antara pemimpin dan bawahan. Baik itu kekuasaan terhadap anggotanya maupun terhadap lembaga yang dia pimpin. Kekuasaan yang dimiliki oleh para pemimpin dapat bersumber dari: . Tanggung jawab pemecahan masalah dan pengambilan keputusan sebagian besar pada bawahan. Ciri-cirinya : Pemimpin memberikan maupun pengarahan sedikit/rendah. Peminpin mendiskusikan masalah bersama-sama dengan bawahan sehingga tercapai kesepakatan tentang definisi masalah yang dihadapi. Dengan demikian bawahan diperkenankan untuk menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan keputusannya sendiri sebab mereka telah dianggap memiliki kecakapan dan dapat dipercaya untuk memikul tanggung jawab untuk mengarahkan dan mengelola dirinya sendiri. Setiap pemimpin pasti memiliki kekuasaan. Bawahan memiliki kontrol untuk memutuskan tentang cara melaksanaan tugas. Pengambilan keputusan didelegasikan sepenuhnya kepada bawahan. d. Pemimpin mendengarkan bawahan secara aktif.

yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan memberikan hukuman bagi bawahan yang tidak mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. French dan Raven (1968). Referent power. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpinadalah seeorang yang memiliki kompetensi dan mempunyai keahlian dalam bidangnya. yakni kemampuan untuk menilai tingkat pengalaman dan motivasi bawahan dalam melaksanakan tugas.yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahan pemimpinnya. yang didasarkan atas identifikasi (pengenalan) bawahan terhadap sosokpemimpin. Kemampuan analitis (analytical skills). . Para pemimpin dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan atau kekuatan yang berbeda untuk mempengaruhi perilaku bawahan dalam berbagai situasi. Expert power. Ditengah-tengah dinamika organisasi (yang antara lain diindikasikan oleh adanya perilaku staf / individu yang berbeda-beda). Legitimate power. Coercive power. yang didasarkan atas persepsi bawahan bahwa pemimpin mempunyaihak untuk menggunakan pengaruh dan otoritas yang dimilikinya. maka untuk mencapai efektivitas organisasi penerapan gaya-gaya kepemimpinan perlu disesuaikan dengan tuntutan keadaan. reputasinya atau karismanya. Untuk mencapai hal ini maka seseorang poemimpin perlu memiliki tiga kemampuan khusus yakni : 1.Reward power. Para pemimpin dapat menggunakan pengaruhnya karena karakteristik pribadinya.

Kemampuan untuk fleksibel (flexibility atau adaptability skills). KESIMPULAN Setelah melihat beberapa kejian tentang teori kepemimpinan diatas. 2. yaitu kemampuan untuk menerapkan gaya kepemimpinan yang paling tepat berdasarkan analisa terhadap siatuasi. E. Fungsi sebagai top manajemen. 1996 : 314-315). Kemampuan berkomunikasi (communication skills). sebab seorang pemimpin harus dapat melaksanakan tiga peran utamanya yakni peran interpersonal. Diantaranya adalah: 1. yakni kemampuan untuk menjelaskan kepada bawahan tentang perubahan gaya kepemimpinan yang Anda terapkan. peran pengolah informasi (information processing). serta peran pengambilan keputusan (decision making) (Gordon. Beberapa teori kepemimpinan yang biasa dijumpai adalah: Teori kepemimpinan sifat Teori Perilaku dan Situasi Teori Kontingensi Teori Behavioristik Teori Humanistik . 3.2. Penulis dapat menyimpulkan beberapa hal. fungsi kepemimpinan memiliki dua aspek dasar yaitu : Fungsi administrasi.. Ketiga kemampuan diatas sangat dibutuhkan bagi seorang pemimpin.

go. dll F.A.B.blogspot. Paradigma Kepemimpinan. Yogyakarta State University Press.com Dr. DAFTAR PUSTAKA Manajemen Pendidikan Sugiartono. T. http//www. Kemapuan analitis b.forums_siotao. Yogyakarta. Kemapuan Berkomunikasi. Mustopadidjaja AR.com Dosuanda.wordpress. Kemampuan fleksibelitas c.3. dkk. 2007. 2007.Dr. http//Dosuanda. M. Teknik Kepemimpinan. Perkembangan Konsep Manajemen. Agar dalam menjalankan tugas kepemimpinan dapat berjalan dengan baik maka seseorang poemimpin perlu memiliki beberapa kemampuan khusus antara lain: a. Kurnia.com Locianpwe. 2006. bappenas. Psikologi Pendidikan .id/data/paper_makalah/Pelayanan Publik daftar pustaka . 2007. dkk. Hani Handoko. http// teknikkepemimpinan. Maret 2003. Dosen Fakultas Ekonomi UGM (MANAJEMEN Edisi 2) Prof .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful