Halaman | 1

4. PERSAMAAN DIFERENSIAL

Klasifikasi Persamaan Diferensial 
Menyusun Persamaan Diferensial 
Persamaan Diferensial Peubah Terpisah 
Persamaan Diferensial Koefisien Fungsi Homogen 
Persamaan Diferensial Eksak 
Persamaan Diferensial Tidak Eksak 
Persamaan Diferensial Koefisien Fungsi Linear 
oleh : Marwan Persamaan Diferensial Linear Tingkat 2 


Persamaan yang memuat derivatif-derivatif satu atau lebih peubah
bebas terhadap satu atau lebih peubah tak bebas disebut Persamaan
Diferensial (PD).
Definisi

4.1. Klasifikasi Persamaan Diferensial
Secara umum, PD dapat dibedakan menjadi 2, yaitu
1. PD Biasa (Ordinary Differential Equations), yaitu PD yang memuat 1
peubah bebas dan 1 peubah tak bebas. PD jenis ini dapat dirumuskan
0
dx
y d
.....,
dx
y d
,
dx
dy
, y , x f
n
n
2
2
=
|
|
.
|

\
|

2. PD Parsial (Partial Differential Equations), yaitu PD yang memuat 1
peubah tak bebas dan lebih dari satu peubah bebas. PD jenis ini
dengan dua peubah bebas dapat dirumuskan
0 ,
y
z
, ,
y
z
,
y x
z
,
x
z
,
y
z
,
x
z
, z , y , x f
n
n
2
2 2
2
2
=
|
|
.
|

\
|




∂ ∂









Selain klasifikasi PD di atas, suatu PD juga dapat dikelompokkan
berdasarkan Tingkat (order) dan Derajat (degree). Tingkat suatu PD adalah
tingkat tertinggi dari derivatif-derivatif di dalamnya, sedangkan derajat
suatu PD adalah derajat tertinggi dari derivatif tingkat tertinggi PD tersebut.

Halaman | 2

Contoh:
1.

x sin y 3
dx
y d
5
dx
y d
2
2
4
4
= + + , PD tingkat 4, derajat 1
2. 0
dx
dy
xy
dx
y d
2
2
2
=
|
.
|

\
|
+ , PD tingkat 2, derajat 1
3. 0
dt
y d
3
dt
y d
5
2
2
3
3
=
|
|
.
|

\
|
+ , PD tingkat 3, derajat 1
Klasifikasi lainnya adalah berdasarkan Linear dan Nonlinear. Suatu PD
biasa tingkat n disebut linear jika PD tersebut dapat ditulis ke dalam bentuk
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) x g y x a
dx
dy
x a
dx
y d
x a
dx
y d
x a
1 1 1 n
1 n
1 n n
n
n
= + + + +




Selain PD bentuk tersebut adalah PD nonlinear.
Ada banyak permasalahan-permasalahan yang memerlukan PD
misalnya :
- Menentukan gerak proyektil, roket atau planet
- Studi tentang reaksi-reaksi kimia
- Studi tentang gelombang-gelombang pada permukaan membran
- Analisis lendutan balok atau pelat
Pada dasarnya ada dua permasalahan utama di dalam studi Persamaan
diferensial, yaitu : bagaimana menyusun suatu PD dan bagaimana
menyelesaikan PD

menyusun PD
F(x,y,c) = 0 f(x,y,
dx
dy
) = 0
menyelesaiakan PD


4.2. Menyusun Persamaan Diferensial
Suatu PD dapat muncul dari gejala-gejala fisis yang di-rumuskan secara
matematis. Dari hubungan matematis inilah diturunkan suatu PD.
Halaman | 3


Misalkan akan ditentukan PD dari persamaan-persamaan berikut :
1. y = mx , m∈R
2. x
2
+y
2
– 2kx = 0 , k ≥ 0
1. y = mx ⇒
Penyelesaian :
dx
dy
=m , diperoleh :
y=
|
.
|

\
|
dx
dy
x y=mx
⇔ y–x
dx
dy
=0 suatu PD tingkat 1 derajat 1

2. x
2
+ y
2
– 2kx = 0 ........................(i)
⇔ x
2
+ y
2
– 2kx + k
2
= k
2

⇔ x
2
– 2kx + k
2
+ y
2
= k
2
⇔ (x – k)
2
+ (y – 0)
2
= k
2
adalah persamaan lingkaran, pusat
(k,0), jejari k.
Jika (i) diderivatifkan ke x diperoleh
2x + 2y
dx
dy
- 2k = 0 x
2
+ y
2
– 2kx = 0
⇔ x + y
dx
dy
= k ………............ (ii)
Dari (i) dan (ii) diperoleh :
x
2
+ y
2
– 2 (x + y
dx
dy
) x = 0
⇔ y
2
– x
2
– 2xy
dx
dy
= 0, suatu PD tingkat 1 derajat 1


Menyusun Model PD Lendutan Balok



lendutan y(x)
beban w(x)
Halaman | 4

- dari teori elastisitas diketahui

M(x)=bending momen
w(x)=beban pada balok
Di lain pihak, Bending momen adalah ‘lengkungan’ (curvature) dari
lendutan itu sendiri, yaitu

EI = kakakuan lentur (flexural rigidity) balok

untuk y(x) kecil, y’≈0, jadi
sehingga diperoleh :

suatu PD tingkat 4.

Macam-macam penyelesaian PD
1. Penyelesaian Umum / PU (General Solution) yaitu penyelesaian yang
memuat konstanta-konstanta sebarang.
2. Penyelesaian Khusus/PK (Particular Solution) yaitu penyelesaian yang
tidak memuat konstanta, yang diperoleh dari PU dengan memberi nilai
konstanta-konstanta.
3. Penyelesaian Singular /PS (Singular Solotion) yaitu penyelesaian yang
tidak memuat konstanta tetapi bukan PK.

Selanjutnya akan ditinjau penyelesaian beberapa persamaan diferensial
tingkat 1 derajat 1, dengan bentuk umum:
M(x,y) dx + N(x,y) dy = 0 .................... (∗)

Halaman | 5

4.3. Persamaan Diferensial Peubah Terpisah
PD (∗) disebut persamaan diferensial peubah terpisah jika dapat ditulis
ke bentuk
g(x) dx + h(y) = 0 .................................. (1)
PU-nya diperoleh dengan mengintegralkan (1), yaitu


( g x) dx +

( h y) dy = C
Contoh
1. Selesaikan PD : x + y

dx
dy
= 0
Jawab :
x + y
dx
dy
= 0
⇔ x dx + y dy = 0
⇔ ∫ x dx + ∫ y dy = C
⇔ ½ x
2
+ ½ y
2
= C
⇔ x
2
+ y
2
= k
2
, k = C 2 : PU PD
2. Selesaikan PD :
2
y 1− dx +
2
x 1− dy = 0
Jawab
∫ ∫
=

+

C
y 1
dy
x 1
dx
2 2
: ⇔
⇔ sin
-1
x + sin
-1
y = C
Misal sin
-1
x = α 1 x
sin
-1
y = β
α

maka :
2
x 1 −
⇔ α + β = C
⇔ sin (α + β) = sin C
⇔ sin α cos β + sin β cos α = sin C
⇔ x
2
y 1− + y
2
x 1− = k , k = sin C : PU-PD
Jika k diberi salah satu nilai , misalnya k = 1
Halaman | 6

Maka diperoleh PK :
x
2
y 1− + y
2
x 1− = 1

4.4. Persamaan Diferensial Koefisien Fungsi Homogen

- Fungsi f(x,y) disebut homogen berderajat n dalam x dan y jika
f(λx,λy) = λ
n
f(x,y) , ∀λ∈ Rasional.
- PD (∗) disebut PD koefisien fungsi homogen jika M(x,y) dan N(x,y)
masing-masing fungsi homogen berderajat sama dalam x & y.
- Penyelesaian PD homogen diperoleh melalui substitusi
y = ux atau x = wy , u dan w peubah-peubah baru.
Dengan substitusi tersebut diperoleh PD peubah terpisah.

Contoh :
PD : (x
2
+ y
2
) dx – 2xy dy = 0
Jadi M(x,y) = x
2
+ y
2
, fungsi homogen derajat 2
N(x,y) = -2xy , fungsi homogen derajat 2
Ambil y = ux ⇒ dy = udx + xdu , maka PD menjadi
(x
2
+ u
2
x
2
) dx – 2x (ux)(udx + xdu) = 0
⇔ (x
2
+ u
2
x
2
– 2x
2
u
2
) dx – 2ux
2
du = 0
⇔ (1 – u
2
) x
2
dx - 2ux
3
du = 0
⇔ du
u - 1
2u
-
x
dx
2
= 0 , PD peubah terpisah
⇔ C du
u - 1
2u
-
x
dx
2 ∫ ∫
=
⇔ ln x + ln (1 – u
2
) = ln K.
⇔ x (1 –u
2
) = K , u =
x
y

⇔ x (1 -
2 2
x y ) = K
⇔ x
2
– y
2
= Kx : PU PD

Halaman | 7

4.5. Persamaan Diferensial Eksak
- PD (∗) disebut PD eksak jika
y
M


=
x
N



- Diferensial total :
Jika F suatu fungsi dua peubah yang mempunyai derivatif parsial
tingkat satu kontinu di dalam suatu domain D, maka diferensial
total fungsi F, dF didefinisikan oleh :
dF(x,y) = dy
y
y) F(x,
dx
x
) y , x ( F


+


, ∀(x,y)∈D
Menyelesaikan PD eksak :
Misalkan PU PD (∗) adalah F(x,y) = C , maka :
dF(x,y) = 0
⇔ dy
y
y) F(x,
dx
x
) y , x ( F


+


= 0 ............................... (2)
Dari persamaan (∗) dan (2) diperoleh :
x
F


= M(x, y) ............................... (3)
y
F


= N(x, y) ................................(4)
persamaan (3) diintegralkan terhadap x :
F(x,y)

M(x, y) ( y) x φ + ∂

y
F


=
y ∂


φ
+
dy
d
dx ) y , x ( M .............................. (5)
Dari (4) dan (5) diperoleh :
N(x, y) =
y ∂



φ
+
dy
d
dx ) y , x ( M
⇔ φ(y) =
∫ ∫ |
|
.
|

\
|


dy dx ) y , x ( M
y
- ) y , x ( N ...................... (6)
Sehingga :
F(x,y) =

φ + (y) dx ) y , x ( M
Halaman | 8

=
∫ ∫ ∫
)
`
¹
¹
´
¦


+ dx ) y , x ( M
y
- y) N(x, dx ) y , x ( M dy ....(7)
Contoh
1. PD : (x + y) dx + (x + 3y) dy = 0
:
M(x,y) = x + y dan N(x,y) = x + 3y
y
M


= 1 =
x
N


PD eksak
dx ) y , x ( M

=

(x + y) dx = ½ x
2
+ xy + C1
φ(y) =
∫ ∫
)
`
¹
¹
´
¦


dx y) M(x,
y
- ) y , x ( N dy
=

3y dy
=
2
3
y
2
+ C2
F(x,y) = ½ x
2
+ xy +
2
3
y
2
+ C1 + C2
diperoleh PU PD :
F(x,y)=C ⇔ ½ x
2
+ xy +
2
3
y
2
= k , k = C–(C1+C2)
2. (2xy – 3x
2
) dx + (x
2
+ 2y) dy = 0
Dengan cara serupa contoh 1 di atas akan diperoleh
PU PD : x
2
y – x
3
+ y
2
= C

Penyelesaian PD eksak dapat juga diperoleh dengan mengelompokkan
suku-suku PD sehingga masing-masing kelompok menjadi diferensial
total eksak suatu fungsi, kemudian diintegralkan.
Cara lain
Diperhatikan kembali dua contoh di atas :
1. (x + y) dx + (x + 3y) dy = 0
⇔ x dx + y dx + x dy + 3y dy = 0
⇔ d(½ x
2
) + d(xy) + d(
2
3
y
2
) = 0
Halaman | 9

⇔ ½ x
2
+ xy +
2
3
y
2
= C
2. (2xy – 3x
2
) dx + (x
2
+ 2y) dy = 0
⇔ 2xy dx – 3x
2
dx + x
2
dy + 2y dy = 0
⇔ -3x
2
dx + 2y dy + 2xy dx + x
2
dy = 0
⇔ d(-x
3
) + d(y
2
) + d(x
2
y) = 0
⇔ - x
3
+ y
2
+ x
2
y = C

4.6. Persamaan Diferensial Tidak Eksak
- PD (∗) dikatakan PD tidak eksak jika
x
N

y
M






- Penyelesaikan PD tidak eksak dapat diperoleh dengan mengalikan
(∗) dengan suatu fungsi u yang disebut faktor Integral (Integrating
factor), sehingga diperoleh PD eksak yaitu :
u M(x,y)dy + u N(x,y)dy = 0 ........................... (8)
dengan syarat eksak :
x
(uN)

y
(uM)


=


.................... (9)
Diasumsikan u = u(x) fungsi x saja, maka :
Mencari faktor integral u
0
y
u
dan
dx
du

x
u
=


=


..................................... (10)
Dari (9) diperoleh :
dx
du
N
x
N
u
y
u
M
y
M
u +


=


+


..................................... (11)
Dari (10) dan (11) diperoleh :
N
|
|
.
|

\
|




=
x
N
-
y
M

dx
du
u

|
|
.
|

\
|




=
x
N
-
y
M

N
1

u
du
dx , lalu diintegralkan
⇔ ln u =
∫ |
|
.
|

\
|




x
N
-
y
M
N
1
dx
Halaman | 10

⇔ u =

dx ) x ( f
e , dengan f(x) =
|
|
.
|

\
|




x
N
-
y
M

N
1
............ (12)
Secara serupa, jika u dipandang sebagai fungsi y saja, yaitu : u=u(y),
maka diperoleh
u =

dy ) y ( g
e , dengan g(y)=
|
|
.
|

\
|





x
N
-
y
M
M
1
................. (13)

Contoh : Selesaikan PD berikut
1. (4xy + 3y
2
– x) dx + x (x + 2y) dy = 0
2. y (x + y + 1) dx + x (x + 3y + 2) dy = 0

Penyelesaian
1. M (x,y) = 4xy + 3y
2
– x ⇒
y
M


= 4x + 6y
N (x,y) = x (x + 2y) ⇒
x
N


= 2x + 2y
Karena
x
N

y
M





maka PD tidak eksak

|
|
.
|

\
|




x
N
-
y
M
N
1
=
x
2
, suatu fungsi x saja.
Sehingga diperoleh faktor integral :
u =
2 x ln x ln 2
dx
x
2
x e e e
2
= = =


Diperoleh PD eksak :
x
2
(4xy + 3y
2
– x) dx + x
2
. x (x + 2y) dy = 0
⇔ (4x
3
y + 3x
2
y
2
– x
3
) dx + (x
4
+ 2x
3
y) dy = 0
⇔ x
4
y + x
3
y
2
- ¼ x
4
= C : PU PD.

2. M(x,y) = y(x+y+1)
N(x,y) = x(x+2y) diperoleh
Halaman | 11


|
|
.
|

\
|




x
N
-
y
M
M
1
= -
y
1
dan y e e u
y ln
dy
y
1
= =

=
PD menjadi PD eksak :
(y
2
x + y
3
+ y
2
) dx + (x
2
y + 3y
2
x + 2xy) dy = 0
⇔ ½ x
2
y
2
+ xy
3
+ xy
2
= C : PU PD

4.7. Persamaan Diferensial dengan Koefisien Fungsi Linear

PD (∗) disebut PD dengan koefisien fungsi linear jika :
M(x,y) = a1x + b1y + c1 , fungsi linear dalam x & y
N(x,y) = a2x + b2 y + c2 , fungsi linear dalam x & y
Ada 2 kemungkinan yang terjadi :
1.
2
1
2
1
b
b

a
a
≠ , maka ∃ titik (h,k) sedemikian hingga :
a1h+b1k+c1 = a2h+b2k+c2 = 0
Ambil substitusi
x = u+h dan y = v+k ........................ (14)
u & v peubah-peubah baru
diperoleh :
dx=dv dan dy=dv ........................ (15)
Selanjutnya persamaan (14) dan (15) disubstitusi ke persamaan (∗),
diperoleh :
{a1(u+h)+b1(v+k)+c1}dv+{a2(u+h)+b2(v+k)+c2}dv = 0
⇔ {a1u+b1v+(a1h+b1k+c1)}du +
{a2u+b2v+(a2h+b2k+c2)}dv = 0
⇔ {a1u+b1v+0}du+{a2u+b2v+0}dv = 0
⇔ (a1u+b1v) du + (a2u+b2v) dv = 0 ..................... (16)
(16) adalah PD koefisien fungsi homogen dalam u dan v, selanjutnya
dapat diselesaikan.

Halaman | 12

2.
2
1
2
1
b
b

a
a
= = λ ⇔ a1=λa2 dan b1=λb2
Pada kasus ini dapat diambil substitusi :
w=a2x+b2y ........................ (17)
maka diperoleh
λw = (λa2)x+(λb2)y = a1x+b1y dan
dw = a2dx+b2dy ⇔ dy=
2
b
1
(dw–a2dx) ....................... (18)
substitusi (17) dan (18) ke persamaan (∗) menghasilkan
(λw + c1) dx + (w + c2) dy = 0
⇔ (λw + c1) dx + (w + c2)
2
b
1
(dw – a2 dx) = 0
⇔ b2 (λw + c1) dx + (w + c2) dw – a2 (w + c2) dx = 0
⇔ {b2(λw+c1)–a2(w+c2)}dx+(w+c2)dw = 0 .............. (19)
(19) adalah PD peubah terpisah, selanjutnya diselesaikan.

Contoh :
1. (x+2y–4)dx–(2x+y–5)dy=0
Karena
2
1
2
1
b
b

1 -
2
2 -
1
a
a
= ≠ = , maka diambil x=v+h dan y=v+k
h dan k dicari
h + 2k – 4 = 0 × 2
2h + k – 5 = 0 –
3k – 3 = 0 ⇔ k=1 dan h = 2
Sehingga :
x = u+2 ⇒ dx = du
y = v+1 ⇒ dy = dv
diperoleh PD koefisien fungsi homogen :
(u + 2v) du - (2u + v) dv = 0
diselesaikan dengan substitusi
u = zv
Halaman | 13

du = z dv + v dz
diperoleh :
(zv+2v)(zdv+vdz) - (2zv+v)dv = 0
⇔ v(z+2)(zdv+vdz) - v(2z+1)dv = 0
⇔ (z
2
+2z–2z–1)dv + v(z+2)dz = 0
⇔ dz
1 - z
2 z

v
dv
2
+
+ = 0

∫ ∫

+
+ dz
1 z
2 z

v
dv
2
= 0
⇔ ln v +

|
.
|

\
|
+
+

1 - z

1 z
2
3
2
1
dz = C
⇔ 2 ln v - ln(z+1) + 3 ln(z–1) = ln k

1 z
1) - (z v
3 2
+
= k
⇔ v
2
(z–1)
3
= k (z+1) , dengan z=
v
u

⇔ (u – v)
3
= k (u + v) , dengan u=x–2
v=y–1
⇔ (x–y–1)
3
= k(x+y–3) : PU PD.

2. (2x + 3y – 1) dx + (2x + 3y + 2) dy = 0
Penyelesaian :
Karena
b
b

3
3
1
2
2
a
a
2
1
2
1
= = = = maka
diambil w = 2x+3y ⇔ dy =
3
1
(dw – 2dx)
diperoleh :
(w – 1) dx + (w + 2) ⋅
3
1
(dw – 2dx) = 0
⇔ 3(w – 1) dx + (w + 2) (dw – 2dx) = 0
⇔ (3w – 3) dx + (w + 2) dw – (2w + 4) dx = 0
⇔ (w – 7) dx + (w + 2) dw = 0
Halaman | 14

⇔ dx +
7 - w
2 w +
dw = 0
⇔ ∫ dx +

+
7 - w
2 w
dw = C
⇔ x +

+ −
7 - w
9 7 w
dw = C
⇔ x +
∫ ∫
+
7 - w
9
dw dw = C
⇔ x + w + ln (w – 7)
9
= ln k
⇔ (x + w) ln e + ln (w – 7)
9
= ln k
⇔ ln { }
9 w x
) 7 w ( e −
+
= ln k
⇔ 7) - ( w e
9 w x +
= k , dengan w = 2x + 3y

9 3y 2x x
7) - 3y ( 2x e +
+ +
= k

9 3y 3x
7) - 3y ( 2x e +
+
= k , PU PD

Masih banyak jenis persamaan diferensial tingkat 1 yang sudah disusun
teknik penyelesaiannya. Beberapa jenis PD tingkat 1 yang diuraikan di atas
dianggap cukup sebagai dasar bagi mereka yang baru memulai mempelajari
PD. Selanjutnya akan ditinjau beberapa penyelesaian PD tingkat 2 yang
sederhana.

4.8. Persamaan Diferensial Linear Tingkat 2
Bentuk umum Persamaan Diferensial Linear Tingkat 2 yang akan
ditinjau adalah
a0(x) y (x) a
dx
dy
) x ( a
dx
y d
2 1 2
2
+ + = R(x) ......................(20)
Jika R(x) = 0 , maka (20) disebut PD tereduksi/homogen
R(x) ≠ 0 , maka (20) disebut PD lengkap/non homogen
a0, a1 dan a2 masing-masing fungsi konstan, maka (20) disebut PD
linear tingkat 2 dengan koefisien konstan
Halaman | 15

Secara umum PD tingkat 2 dengan koefisien bukan fungsi konstan
tidak dapat diselesaikan ke dalam bentuk fungsi-fungsi yang diketahui
(eksplisit). Penyelesaian kasus non homogen dilakukan dengan
menyelesaikan bentuk homogen terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan
(dengan metode koefisien tak tentu atau metode variasi parameter) mencari
penyelesaian yang bersesuaian untuk bentuk non homogennya.
Ada beberapa teorema penting menyangkut peyelesaian PD tingkat 2
homogen.

Teorema 1
Jika a0, a1 dan a2 masing-masing fungsi kontinu pada interval J, maka
terdapat tepat dua peyelesaian yang bebas linear pada interval J
tersebut.

Teorema 2
Jika y1(x) dan y2(x) penyelesaian PD (20), maka y1 dan y2 bebas linear
bila hanya bila Wronskian mereka tidak nol pada J, yaitu :


Teorema 3
Jika y1(x) dan y2(x) penyelesaian PD (20), c1 dan c2 konstan sebarang,
maka c1y1(x)+c2y2(x) juga penyelesaian PD (20)


PD Linear Tingkat 2 Homogen dengan Koefisien Konstan
Bentuk umum :
ao
dx
dy
a
dx
y d
1 2
2
+ + a2 y = 0 ......................... (21)

Halaman | 16

Penyelesaian PD (21) dapat diperoleh dengan substitusi y=e
mx

diperoleh :

(aom
2
+ a1m + a2) e
mx
= 0
⇔ aom
2
+ a1m + a2 = 0 , disebut persamaan karakteristik PD
(21)
⇔ m1,2 =
0
2 1
2
1 1
a 2
a a 4 a a − ± −

Jadi y1=
x m
1
e dan y2=
x m
2
e , masing-masing merupakan suatu
penyelesaian PD (21)

Ada beberapa kemungkinan nilai m1 & m2 :
1. Jika m1 = m2 = m , maka PU PD (21) adalah
y = (k1+k2 x) e
mx
............................. (22)
2. Jika m1 ≠ m2 , maka PU PD (21)
y = k1
x m
1
e + k2
x m
2
e ............................. (23)
3. Jika m1 & m2 bilangan-bilangan kompleks
m1=α+βi dan m2=α−βi
maka PU PD (21) pada prinsipnya sama dengan kasus m1 ≠ m2 di atas.
Hanya saja untuk mendapatkan bentuk yang lebih sederhana dapat
digunakan rumus euler :
i
e
β
= cos β + i sin β , i = 1 −
(rumus euler tersebut dapat dibuktikan dengan substitusi x=βi pada
deret Maclaurin e
x
).
Dari rumus euler di atas, diperoleh :
i
e
β + α
=e
α
(cos β + i sin β), sehingga
PU PD (21) yang diperoleh adalah :
y = e
α
x
(k1

cos βx + k2

sin βx) ......................... (24)
Contoh :

Halaman | 17

1. y’’ + y’– 2y = 0
Persamaan karakteristik : m
2
+ m – 2 = 0
⇔ m1 = 1 atau m2 = -2
maka PU PD : y = k1e
x
+ k2 e
-2x

2. y” – 2y’ + y = 0
Persamaan karakteristik : m
2
– 2m + 1 = 0 ⇔ m1 = m2 = 1
maka PU PD : y = e
x
(k1 + k2x)
3. y” + 2y’ + 2y = 0
Persamaan karakteristik : m
2
+ 2m + 2 = 0
⇔ m1 = -1 + i atau m2 = -1 – i
maka PU PD :
y = k1 e
(-1+i) x
+ k2 e
(-1–i) x

= k1 e
-x
(cos x + i sin x) + k2 e
-x
(cos x - i sin x)
= [(k1 + k2) cos x + (k1 – k2) i sin x ] e
-x

= (k1
*
cos x + k2
*
sin x) e
-x

dengan k1
*
= k1 + k2 dan k2
*
= (k1 – k2) i
Kejadian khusus PD (21) adalah :
(a). PD bentuk +
dx
y d
2
2
a
2
y = 0 ................................. (25)
Dalam hal ini, diperoleh m1=ai dan m2=-ai, sehingga PU PD (25)
adalah dari persamaan (24) dengan α=0, yaitu :
y = k1

cos x + k2

sin x
(b). PD bentuk −
dx
y d
2
2
a
2
y = 0 ................................. (26)
Dalam hal ini, diperoleh m1=a dan m2=-a, sehingga PU PD (26)
adalah dari persamaan (23), yaitu :
y = k1 e
ax
+ k2 e
-ax

atau (bentuk alternatif)
y=k1

cosh ax + k2

sinh ax
Halaman | 18

PD Linear tingkat 2 Non Homogen dengan Koefisien Konstan
Bentuk umum :
ao y a
dx
dy
a
dx
y d
2 1 2
2
+ + = R(x), dengan R(x) ≠ 0 ............ (27)
Penyelesaian umum PD (27) diperoleh sebagai berikut
PU PD (27) = PU PD(21) + PK PD (27) ⇔ y = yc + yp
∗ yc ialah PU PD (21) dan disebut fungsi komplementer
(complementary function)
∗ yp ialah PU PD (21) dan disebut integral khusus (Particular Integral)

Ada beberapa metode mencari Integral khusus, salah satunya adalah Metode
Koefisien Tak Tentu.
Metode koefisien tak tentu pada dasarnya adalah mengambil yp sebagai
bentuk umum dari R(x). Tabel berikut memuat beberapa bentuk yp yang
bersesuaian dengan R(x).

Tabel
R(x) yp
3 (konstan) A
5x+7 Ax+B
3x
2
-2 Ax
2
+Bx+C
sin 4x A sin 4x + B cos 4x
cos 4x A sin 4x + B cos 4x
e
5x
A e
5x

(9x-2) e
5x
(Ax+B) e
5x

x
2
e
5x
(Ax
2
+Bx+C) e
5x

e
5x
sin 3x A e
5x
sin 3x + B e
5x
cos 3x
5x
2
sin 4x (Ax
2
+Bx+C)sin4x+(Dx
2
+Ex+F)cos4x
xe
3x
cos4x (Ax+B)e
3x
sin4x+(Cx+D)e
3x
cos4x
Halaman | 19


Contoh :
Selesaikan PD : y” – 5y’ + 6y = 5 sin x
Penyelesaian :
- Mencari yc
Persamaan karakteristik m
2
–5m+6=0 ⇔ m1=2 , m2=3
Diperoleh yc = k1 e
2x
+ k2 e
3x

- Mencari yp
Karena R(x)= 5 sin x, maka dapat diambil
yp = A sin x + B cos x
p
y′ = A cos x – B sin x
p
y ′ ′ = - A sin x – B cos x
disubstitusi ke PD , diperoleh
p
y ′ ′ –5
p
y′ +6 yp = 5 sin 4x
⇔ (5A + 5B) sin x + (-5A + 5B) cos x = 5 sin 4x
⇔ 5A + 5B = 5 dan -5A + 5B = 0
⇔ A = ½ dan B = ½
Diperoleh yp = ½ sin x + ½ cos x
Jadi PU PD :
y = yc + yp = k1 e
2x
+ k2 e
3x
+ ½ sin x + ½ cos x

Kadang-kadang dijumpai ada suku yp yang sama dengan suku yc. Pada
keadaan ini maka yp harus dikalikan dengan x
n
, dengan n bulat positif
terkecil sedemikian hingga tidak terdapat suku yp yang sama dengan suku
yc.

Contoh
Selesaikan PD : y” – 2y’ + y = e
x

Penyelesaian :
Halaman | 20

- Mencari yc
Persamaan karakteristik m
2
–2m+1=0 ⇔ m1=m2=1
Diperoleh yc = k1e
x
+ k2xe
x

- Mencari yp
Karena R(x)=e
x
, maka menurut tabel di atas dapat diambil yp=Ae
x
.
Tetapi pengambilan tersebut mengakibat-kan adanya suku yang
sama dengan suku yc . Demikian juga halnya jika diambil
yp=Axe
x
. Jadi bentuk yang dapat diambil adalah
yp=Ax
2
e
x

p
y′ =2Axe
x
+Ax
2
e
x

p
y ′ ′ =2Ae
x
+4Axe
x
+Ax
2
e
x

Substitusi ke PD diperoleh A=½ ⇒ yp=½ x
2
e
x

PU PD : y = k1e
x
+ k2xe
x
+ ½ x
2
e
x

Contoh: 1.
d2 y d4y + 5 2 + 3 y = sin x , PD tingkat 4, derajat 1 dx dx 4
2

d2 y  dy  2. + xy  = 0 , PD tingkat 2, derajat 1 2 dx  dx 
 d2 y  d3 y 3. + 3 2  = 0 , PD tingkat 3, derajat 1  dt  dt 3  
5

Klasifikasi lainnya adalah berdasarkan Linear dan Nonlinear. Suatu PD biasa tingkat n disebut linear jika PD tersebut dapat ditulis ke dalam bentuk
a n (x ) d n −1 y dy dn y + a n −1 (x ) n −1 +  + a 1 (x ) + a 1 (x ) y = g (x ) n dx dx dx

Selain PD bentuk tersebut adalah PD nonlinear. Ada banyak permasalahan-permasalahan yang memerlukan PD misalnya : - Menentukan gerak proyektil, roket atau planet - Studi tentang reaksi-reaksi kimia - Studi tentang gelombang-gelombang pada permukaan membran - Analisis lendutan balok atau pelat Pada dasarnya ada dua permasalahan utama di dalam studi Persamaan diferensial, yaitu : bagaimana menyusun suatu PD dan bagaimana menyelesaikan PD
menyusun PD

F(x,y,c) = 0
menyelesaiakan PD

f(x,y,

dy )=0 dx

4.2. Menyusun Persamaan Diferensial Suatu PD dapat muncul dari gejala-gejala fisis yang di-rumuskan secara matematis. Dari hubungan matematis inilah diturunkan suatu PD. Halaman | 2

...2k = 0 dx dy = k ……….. pusat (k...... (ii) dx dy )x =0 dx x2 + y2 – 2kx = 0 ⇔ x+y Dari (i) dan (ii) diperoleh : x2 + y2 – 2 (x + y ⇔ y2 – x2 – 2xy dy = 0... k ≥ 0 Penyelesaian : 1.. y = mx ⇒  dy  y=  x  dx  dy =m .(i) ⇔ x2 + y2 – 2kx + k2 = k2 ⇔ x2 – 2kx + k2 + y2 = k2 ⇔ (x – k)2 + (y – 0)2 = k2 adalah persamaan lingkaran. suatu PD tingkat 1 derajat 1 dx Menyusun Model PD Lendutan Balok beban w(x) lendutan y(x) Halaman | 3 .0)... m∈R 2.... jejari k. y = mx ... x2 + y2 – 2kx = 0 .Misalkan akan ditentukan PD dari persamaan-persamaan berikut : 1.......... diperoleh : dx y=mx ⇔ y–x dy =0 suatu PD tingkat 1 derajat 1 dx 2. x2+y2 – 2kx = 0 . Jika (i) diderivatifkan ke x diperoleh 2x + 2y dy .......

.- dari teori elastisitas diketahui M(x)=bending momen w(x)=beban pada balok Di lain pihak... Penyelesaian Khusus/PK (Particular Solution) yaitu penyelesaian yang tidak memuat konstanta. 3.. yang diperoleh dari PU dengan memberi nilai konstanta-konstanta..... jadi sehingga diperoleh : suatu PD tingkat 4.. Macam-macam penyelesaian PD 1.. Bending momen adalah ‘lengkungan’ (curvature) dari lendutan itu sendiri. yaitu EI = kakakuan lentur (flexural rigidity) balok untuk y(x) kecil. Penyelesaian Singular /PS (Singular Solotion) yaitu penyelesaian yang tidak memuat konstanta tetapi bukan PK.. (∗) Halaman | 4 . Penyelesaian Umum / PU (General Solution) yaitu penyelesaian yang memuat konstanta-konstanta sebarang. Selanjutnya akan ditinjau penyelesaian beberapa persamaan diferensial tingkat 1 derajat 1....y) dy = 0 .y) dx + N(x... 2.. y’≈0. dengan bentuk umum: M(x...

.....4.. yaitu .. Persamaan Diferensial Peubah Terpisah PD (∗) disebut persamaan diferensial peubah terpisah jika dapat ditulis ke bentuk g(x) dx + h(y) = 0 PU-nya diperoleh dengan mengintegralkan (1). misalnya k = 1 Halaman | 5 ....... Selesaikan PD : x + y Jawab : x+y dy =0 dx dy dx =0 ⇔ x dx + y dy = 0 ⇔ ∫ x dx + ∫ y dy = C ⇔ ½ x2 + ½ y2 =C 2C : PU PD ⇔ x2 + y2 = k2 ... Selesaikan PD : Jawab : ⇔ 1 − y 2 dx + 1 − x 2 dy = 0 dy 1− y2 =C ∫ dx 1− x2 +∫ ⇔ sin-1x + sin-1y = C Misal sin-1x = α sin-1y = β maka : ⇔ α+β = C 1 α x 1 − x2 ⇔ sin (α + β) = sin C ⇔ sin α cos β + sin β cos α = sin C ⇔ x 1− y2 + y 1 − x 2 = k .. (1) ∫ g( x) Contoh dx + ∫ h( y) dy = C 1......... k = sin C : PU-PD Jika k diberi salah satu nilai ... k = 2........3.

y 2 x 2 ) = K x2 – y2 = Kx : PU PD Halaman | 6 .2ux3 du = 0 dx 2u du = 0 .y) = x2 + y2 .λy) = λn f(x. x (1 –u2) = K .y) masing-masing fungsi homogen berderajat sama dalam x & y. Contoh : PD : (x2 + y2) dx – 2xy dy = 0 Jadi M(x. fungsi homogen derajat 2 Ambil y = ux ⇒ dy = udx + xdu .Maka diperoleh PK : x 1− y2 + y 1− x2 = 1 4. maka PD menjadi (x2 + u2 x2) dx – 2x (ux)(udx + xdu) = 0 ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ (x2 + u2x2 – 2x2u2) dx – 2ux2 du = 0 (1 – u2) x2 dx .y) = -2xy . Dengan substitusi tersebut diperoleh PD peubah terpisah. u = x (1 . PD peubah terpisah x 1 . u dan w peubah-peubah baru.u2 ∫ 2u dx du = C -∫ 1 .y) disebut homogen berderajat n dalam x dan y jika f(λx. Persamaan Diferensial Koefisien Fungsi Homogen Fungsi f(x.4. fungsi homogen derajat 2 N(x.u2 x y x ln x + ln (1 – u2) = ln K. ∀λ∈ Rasional.y) . Penyelesaian PD homogen diperoleh melalui substitusi y = ux atau x = wy . PD (∗) disebut PD koefisien fungsi homogen jika M(x.y) dan N(x.

y) = ⇔ φ(y) = ∫ M(x ....y) = Menyelesaikan PD eksak : Misalkan PU PD (∗) adalah F(x........ y) ∂y ... Persamaan Diferensial Eksak PD (∗) disebut PD eksak jika Diferensial total : Jika F suatu fungsi dua peubah yang mempunyai derivatif parsial tingkat satu kontinu di dalam suatu domain D...y)∈D ∂x ∂y ∂M ∂N = ∂y ∂x ......... (2) Dari persamaan (∗) dan (2) diperoleh : ∂F = M(x......... y ) dx + φ(y) Halaman | 7 ..5................ y) dx + dy = 0 ∂x ∂y ∂F(x .4.y) ⇔ ∫ M (x. y ) dx  dy ∫  ∂y ∫   ....... (5) Dari (4) dan (5) diperoleh : N(x.....y) = C . y)dx + dφ dy   ∂  N(x .... y ) ∂F(x...... y) ∂x ∂F = N(x.......... y ) ∂F(x. ∀(x. (3) . dF didefinisikan oleh : dF(x.......................y) = ∫ M(x ..................... (6) Sehingga : F(x.....(4) persamaan (3) diintegralkan terhadap x : F(x. maka : dF(x... y)dx ∂ ∂y ........ y) dx + dy .. maka diferensial total fungsi F....y) = 0 ⇔ ∂F(x ... y ) M(x ....... y) ∂x + φ(y) + dφ dy ∂ ∂F = ∂y ∂y ∫ M(x ..

y) = x + y dan N(x. y ) dx + Contoh : 1..y)=C ⇔ ½ x2 + xy + 2. (x + y) dx + (x + 3y) dy = 0 ⇔ ⇔ x dx + y dx + x dy + 3y dy = 0 3 d(½ x2) + d(xy) + d( y2) = 0 2 Halaman | 8 . y) dx = ∫ (x + y) dx = ½ x2 + xy + C1   ∂ φ(y) = ∫ N(x .. y ) ∫ M(x. y) .(7) PD : (x + y) dx + (x + 3y) dy = 0 M(x.y) = ½ x2 + xy + diperoleh PU PD : 3 2 y + C1 + C2 2 F(x. y)dx dy    ∂  . 3 2 y = k . kemudian diintegralkan. k = C–(C1+C2) 2 (2xy – 3x2) dx + (x2 + 2y) dy = 0 Dengan cara serupa contoh 1 di atas akan diperoleh PU PD : x2y – x3 + y2 = C Cara lain Penyelesaian PD eksak dapat juga diperoleh dengan mengelompokkan suku-suku PD sehingga masing-masing kelompok menjadi diferensial total eksak suatu fungsi.= ∫ M(x . Diperhatikan kembali dua contoh di atas : 1. ∫ N(x. y) dx dy ∂y   = = ∫ 3y dy 3 2 y + C2 2 F(x..∂y ∫ M(x .y) = x + 3y ∂N ∂M =1= PD eksak ∂x ∂y ∫ M(x .

... (11) Dari (10) dan (11) diperoleh : N du  ∂M ∂N   =   ∂y .............y)dy = 0 dengan syarat eksak : Mencari faktor integral u Diasumsikan u = u(x) fungsi x saja. Persamaan Diferensial Tidak Eksak ∂M ∂N ≠ ∂y ∂x Penyelesaikan PD tidak eksak dapat diperoleh dengan mengalikan PD (∗) dikatakan PD tidak eksak jika (∗) dengan suatu fungsi u yang disebut faktor Integral (Integrating factor). (9) ∂ (uN) ∂ (uM) = ∂x ∂y .......y)dy + u N(x.............. ½ x2 + xy + 3 2 y =C 2 (2xy – 3x2) dx + (x2 + 2y) dy = 0 ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ 2xy dx – 3x2 dx + x2 dy + 2y dy = 0 -3x2 dx + 2y dy + 2xy dx + x2 dy = 0 d(-x3) + d(y2) + d(x2y) = 0 .....⇔ 2. maka : du ∂u ∂u dan =0 = dx ∂y ∂x .∂x  dx     Halaman | 9 ⇔ ln u = ............... sehingga diperoleh PD eksak yaitu : u M(x......... (10) Dari (9) diperoleh : u ∂M ∂u ∂N du = u + N + M dx ∂y ∂y ∂x ....................x3 + y2 + x2y = C 4.............. (8) ......6....∂x  u dx   ⇔ du 1  ∂M ∂N    dx . lalu diintegralkan = u N  ∂y ∂x    1  ∂M ∂N  ∫ N  ∂y ..................

. (4xy + 3y2 – x) dx + x (x + 2y) dy = 0 2. x (x + 2y) dy = 0 ⇔ ⇔ (4x3y + 3x2 y2 – x3) dx + (x4 + 2x3 y) dy = 0 x4y + x3y2 . (12) Secara serupa. M(x..... maka diperoleh 1  ∂M ∂N  g ( y ) dy  u = e∫ .. jika u dipandang sebagai fungsi y saja. (13) Contoh : Selesaikan PD berikut 1. N  Sehingga diperoleh faktor integral : dx 2 u = e ∫ x = e 2 ln x = e ln x = x 2 2 Diperoleh PD eksak : x2 (4xy + 3y2 – x) dx + x2 ......∂x  = x ...y) = x (x + 2y) Karena ⇒ ∂M = 4x + 6y ∂y ∂M ∂N maka PD tidak eksak ≠ ∂y ∂x ∂N = 2x + 2y ∂x 1  ∂M ∂N  2    ∂y .. M (x.. dengan g(y)= −  M  ∂y ∂x    ....∂x    .y) = y(x+y+1) N(x. suatu fungsi x saja. yaitu : u=u(y).y) = 4xy + 3y2 – x ⇒ N (x.. 2.. dengan f(x) = 1 N  ∂M ∂N     ∂y ....¼ x4 = C : PU PD. y (x + y + 1) dx + x (x + 3y + 2) dy = 0 Penyelesaian 1..⇔ u = e∫ f ( x ) dx .y) = x(x+2y) diperoleh Halaman | 10 ....

.k) sedemikian hingga : a2 b2 a1h+b1k+c1 = a2h+b2k+c2 = 0 Ambil substitusi x = u+h dan y = v+k u & v peubah-peubah baru diperoleh : dx=dv dan dy=dv .. diperoleh : {a1(u+h)+b1(v+k)+c1}dv+{a2(u+h)+b2(v+k)+c2}dv = 0 ⇔ {a1u+b1v+(a1h+b1k+c1)}du + {a2u+b2v+(a2h+b2k+c2)}dv = 0 ⇔ ⇔ {a1u+b1v+0}du+{a2u+b2v+0}dv = 0 (a1u+b1v) du + (a2u+b2v) dv = 0 ... Halaman | 11 ..... (14) Selanjutnya persamaan (14) dan (15) disubstitusi ke persamaan (∗)... (16) (16) adalah PD koefisien fungsi homogen dalam u dan v.. selanjutnya dapat diselesaikan........y M  dan u = e ∫ y dy 1 = e ln y = y PD menjadi PD eksak : (y2x + y3 + y2) dx + (x2y + 3y2x + 2xy) dy = 0 ⇔ ½ x2y2 + xy3 + xy2 = C : PU PD 4..7....... Persamaan Diferensial dengan Koefisien Fungsi Linear PD (∗) disebut PD dengan koefisien fungsi linear jika : M(x.......... b a1 ≠ 1 ........... (15) ...........∂x  = ..... fungsi linear dalam x & y N(x.. maka ∃ titik (h....y) = a1x + b1y + c1 .y) = a2x + b2 y + c2 .1  ∂M ∂N  1    ∂y ... fungsi linear dalam x & y Ada 2 kemungkinan yang terjadi : 1...

....2. selanjutnya diselesaikan. (17) ... (x+2y–4)dx–(2x+y–5)dy=0 Karena a1 1 2 b1 . a1 b = 1 =λ a2 b2 ⇔ a1=λa2 dan b1=λb2 Pada kasus ini dapat diambil substitusi : w=a2x+b2y maka diperoleh λw = (λa2)x+(λb2)y = a1x+b1y dan 1 dw = a2dx+b2dy ⇔ dy= (dw–a2dx) b2 .......1 b2 h dan k dicari h + 2k – 4 = 0 2h + k – 5 = 0 ×2 – 3k – 3 = 0 ⇔ k=1 dan h = 2 Sehingga : x = u+2 ⇒ dx = du y = v+1 ⇒ dy = dv diperoleh PD koefisien fungsi homogen : (u + 2v) du ..... (18) substitusi (17) dan (18) ke persamaan (∗) menghasilkan ⇔ ⇔ ⇔ (λw + c1) dx + (w + c2) dy = 0 1 (λw + c1) dx + (w + c2) (dw – a2 dx) = 0 b2 b2 (λw + c1) dx + (w + c2) dw – a2 (w + c2) dx = 0 {b2(λw+c1)–a2(w+c2)}dx+(w+c2)dw = 0 ......... Contoh : 1.......(2u + v) dv = 0 diselesaikan dengan substitusi u = zv Halaman | 12 .........2 ........... (19) (19) adalah PD peubah terpisah.. maka diambil x=v+h dan y=v+k = ≠ = a 2 ..........

dengan z= u v v=y–1 (u – v)3 = k (u + v) .du = z dv + v dz diperoleh : (zv+2v)(zdv+vdz) . 2. dengan u=x–2 ⇔ (x–y–1)3 = k(x+y–3) : PU PD.v(2z+1)dv = 0 (z2+2z–2z–1)dv + v(z+2)dz = 0 dv z+2 + 2 dz = 0 v z -1 ∫ dv + v ∫z z+2 dz = 0 2 −1 3   −1 ln v + ∫  2 + 2  dz = C z .(2zv+v)dv = 0 ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ v(z+2)(zdv+vdz) .1) 3 =k z+1 v2(z–1)3 = k (z+1) . (2x + 3y – 1) dx + (2x + 3y + 2) dy = 0 Penyelesaian : Karena a1 2 3 b = =1= = 1 a2 2 3 b2 maka diambil w = 2x+3y ⇔ dy = diperoleh : (w – 1) dx + (w + 2) ⋅ ⇔ ⇔ ⇔ 1 (dw – 2dx) 3 1 (dw – 2dx) = 0 3 3(w – 1) dx + (w + 2) (dw – 2dx) = 0 (3w – 3) dx + (w + 2) dw – (2w + 4) dx = 0 (w – 7) dx + (w + 2) dw = 0 Halaman | 13 .ln(z+1) + 3 ln(z–1) = ln k v 2 (z .1 z+1 2 ln v .

4. a1 dan a2 masing-masing fungsi konstan.. Persamaan Diferensial Linear Tingkat 2 Bentuk umum Persamaan Diferensial Linear Tingkat 2 yang akan ditinjau adalah a0(x) dy d2 y + a 1 (x) + a 2 (x) y = R(x) 2 dx dx .. Beberapa jenis PD tingkat 1 yang diuraikan di atas dianggap cukup sebagai dasar bagi mereka yang baru memulai mempelajari PD.⇔ ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ ⇔ dx + ∫ dx + x + x + w+2 dw = 0 w-7 ∫ w-7 w+2 dw = C ∫ w −7 + 9 dw = C w-7 9 dw = C ∫ dw + ∫ w .... maka (20) disebut PD lengkap/non homogen a0..7 x + w + ln (w – 7)9 = ln k (x + w) ln e + ln (w – 7)9 = ln k ln e x + w (w − 7)9 { }= ln k e x + w (w . dengan w = 2x + 3y e x + 2x + 3y (2x + 3y ..... maka (20) disebut PD tereduksi/homogen R(x) ≠ 0 .7)9 = k ..8..... Selanjutnya akan ditinjau beberapa penyelesaian PD tingkat 2 yang sederhana..(20) Jika R(x) = 0 ..7)9 = k ...7)9 = k e3x + 3y (2x + 3y .. maka (20) disebut PD linear tingkat 2 dengan koefisien konstan Halaman | 14 . PU PD Masih banyak jenis persamaan diferensial tingkat 1 yang sudah disusun teknik penyelesaiannya..

maka terdapat tepat dua peyelesaian yang bebas linear pada interval J tersebut..... Penyelesaian kasus non homogen dilakukan dengan menyelesaikan bentuk homogen terlebih dahulu. c1 dan c2 konstan sebarang.. Teorema 1 Jika a0.. (21) Halaman | 15 ... a1 dan a2 masing-masing fungsi kontinu pada interval J....... Teorema 2 Jika y1(x) dan y2(x) penyelesaian PD (20).. Ada beberapa teorema penting menyangkut peyelesaian PD tingkat 2 homogen... yaitu : Teorema 3 Jika y1(x) dan y2(x) penyelesaian PD (20)...... maka c1y1(x)+c2y2(x) juga penyelesaian PD (20) PD Linear Tingkat 2 Homogen dengan Koefisien Konstan Bentuk umum : ao dy d2 y + a2 y = 0 + a1 2 dx dx ... kemudian dilanjutkan (dengan metode koefisien tak tentu atau metode variasi parameter) mencari penyelesaian yang bersesuaian untuk bentuk non homogennya.Secara umum PD tingkat 2 dengan koefisien bukan fungsi konstan tidak dapat diselesaikan ke dalam bentuk fungsi-fungsi yang diketahui (eksplisit). maka y1 dan y2 bebas linear bila hanya bila Wronskian mereka tidak nol pada J.

maka PU PD (21) y = k1 e m1 x + k2 e m2 x 3......... (23) −1 (rumus euler tersebut dapat dibuktikan dengan substitusi x=βi pada deret Maclaurin ex).. Jika m1 & m2 bilangan-bilangan kompleks m1=α+βi dan m2=α−βi maka PU PD (21) pada prinsipnya sama dengan kasus m1 ≠ m2 di atas... Jika m1 ≠ m2 .............2 2 − a 1 ± a 1 − 4a 1 a 2 = 2a 0 y1= e m1 x dan y2= e m2 x ............ disebut persamaan karakteristik PD (21) ⇔ Jadi m1.. (24) Halaman | 16 . i = .. diperoleh : e α +βi =eα(cos β + i sin β).. sehingga PU PD (21) yang diperoleh adalah : y = eαx (k1 cos βx + k2 sin βx) Contoh : ....Penyelesaian PD (21) dapat diperoleh dengan substitusi y=emx diperoleh : (aom2 + a1m + a2) emx = 0 ⇔ aom2 + a1m + a2 = 0 . masing-masing merupakan suatu penyelesaian PD (21) Ada beberapa kemungkinan nilai m1 & m2 : 1. maka PU PD (21) adalah y = (k1+k2 x) emx 2......... Hanya saja untuk mendapatkan bentuk yang lebih sederhana dapat digunakan rumus euler : e βi = cos β + i sin β ........ Jika m1 = m2 = m ........ Dari rumus euler di atas....... (22) .............

.. (25) Dalam hal ini..... diperoleh m1=ai dan m2=-ai....... sehingga PU PD (26) adalah dari persamaan (23).i sin x) = [(k1 + k2) cos x + (k1 – k2) i sin x ] e-x = (k1* cos x + k2* sin x) e-x dengan k1* = k1 + k2 dan k2* = (k1 – k2) i Kejadian khusus PD (21) adalah : (a). y” – 2y’ + y = 0 Persamaan karakteristik : m2 – 2m + 1 = 0 ⇔ m1 = m2 = 1 maka PU PD : y = ex (k1 + k2x) 3..1..... y” + 2y’ + 2y = 0 Persamaan karakteristik : m2 + 2m + 2 = 0 ⇔ m1 = -1 + i atau m2 = -1 – i maka PU PD : y = k1 e(-1+i) x + k2 e(-1–i) x = k1 e-x (cos x + i sin x) + k2 e-x (cos x .... sehingga PU PD (25) adalah dari persamaan (24) dengan α=0.. y’’ + y’– 2y = 0 Persamaan karakteristik : m2 + m – 2 = 0 ⇔ m1 = 1 atau m2 = -2 maka PU PD : y = k1ex + k2 e-2x 2..... (26) Dalam hal ini............ yaitu : y = k1 eax+ k2 e-ax atau (bentuk alternatif) y=k1∗ cosh ax + k2∗ sinh ax Halaman | 17 .. yaitu : y = k1 cos x + k2 sin x (b)........... PD bentuk d2 y + a2 y = 0 dx 2 ............ PD bentuk d2 y − a2 y = 0 dx 2 . diperoleh m1=a dan m2=-a.......

Tabel R(x) 3 (konstan) 5x+7 3x2-2 sin 4x cos 4x e5x (9x-2) e5x x2 e5x e5x sin 3x 5x2 sin 4x xe3xcos4x A Ax+B Ax2+Bx+C A sin 4x + B cos 4x A sin 4x + B cos 4x A e5x (Ax+B) e5x (Ax2+Bx+C) e5x A e5x sin 3x + B e5x cos 3x (Ax2+Bx+C)sin4x+(Dx2+Ex+F)cos4x (Ax+B)e3xsin4x+(Cx+D)e3xcos4x yp Halaman | 18 . Metode koefisien tak tentu pada dasarnya adalah mengambil yp sebagai bentuk umum dari R(x)....PD Linear tingkat 2 Non Homogen dengan Koefisien Konstan Bentuk umum : ao dy d2 y + a1 + a 2 y = R(x).. (27) Penyelesaian umum PD (27) diperoleh sebagai berikut PU PD (27) = PU PD(21) + PK PD (27) ⇔ ∗ yc ialah PU PD (21) dan y = yc + yp disebut fungsi komplementer (complementary function) ∗ yp ialah PU PD (21) dan disebut integral khusus (Particular Integral) Ada beberapa metode mencari Integral khusus. Tabel berikut memuat beberapa bentuk yp yang bersesuaian dengan R(x).. salah satunya adalah Metode Koefisien Tak Tentu..... dengan R(x) ≠ 0 2 dx dx ...

Contoh : Selesaikan PD : y” – 5y’ + 6y = 5 sin x Penyelesaian : Mencari yc Persamaan karakteristik m2–5m+6=0 ⇔ m1=2 . Contoh Selesaikan PD : y” – 2y’ + y = ex Penyelesaian : Halaman | 19 . Pada keadaan ini maka yp harus dikalikan dengan xn. diperoleh y ′′ –5 y ′ +6 yp = 5 sin 4x p p ⇔ ⇔ ⇔ (5A + 5B) sin x + (-5A + 5B) cos x = 5 sin 4x 5A + 5B = 5 dan -5A + 5B = 0 A = ½ dan B = ½ Diperoleh yp = ½ sin x + ½ cos x Jadi PU PD : y = yc + yp = k1 e2x + k2 e3x + ½ sin x + ½ cos x Kadang-kadang dijumpai ada suku yp yang sama dengan suku yc. m2=3 Diperoleh yc = k1 e2x + k2 e3x Mencari yp Karena R(x)= 5 sin x.A sin x – B cos x p disubstitusi ke PD . dengan n bulat positif terkecil sedemikian hingga tidak terdapat suku yp yang sama dengan suku y c. maka dapat diambil yp = A sin x + B cos x y ′ = A cos x – B sin x p y ′′ = .

Tetapi pengambilan tersebut mengakibat-kan adanya suku yang sama dengan suku yc . maka menurut tabel di atas dapat diambil yp=Aex. Jadi bentuk yang dapat diambil adalah yp=Ax2ex y ′ =2Axex+Ax2ex p y ′′ =2Aex+4Axex+Ax2ex p Substitusi ke PD diperoleh A=½ ⇒ yp=½ x2ex PU PD : y = k1ex + k2xex + ½ x2ex Halaman | 20 . Demikian juga halnya jika diambil yp=Axex.- Mencari yc Persamaan karakteristik m2–2m+1=0 ⇔ m1=m2=1 Diperoleh yc = k1ex + k2xex - Mencari yp Karena R(x)=ex.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful