Kota Layak Anak

Terakhir Diperbaharui (Kamis, 17 September 2009 08:23) Ditulis oleh Administrator Senin, 12 Januari 2009 18:15
Hamid Patilima Abstrak Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak sejak 5 September 1990. Hal ini merupakan komitmen Indonesia dalam menghormati dan memenuhi hak anak. Komitmen ini tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 B (2), dan operasionalnya pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Untuk mentransformasikan hak anak ke dalam proses pembangunan, pemerintah mengembangkan kebijakan Kota Layak Anak.
Abstract Indonesia had ratification Convention on the Rights of the Child since 5th September 1990. It constitutes Indonesia commitment in respect and pock right for child. This commitment most decants in Constitution 1945 Sections 28 b (2 ), and its operational on Number law 23 Years 2002 about protection Child. To transform right for child into process development, government develops policy `City Fit for Children‟. Kunci: Anak, Kota, Perlindungan Anak, Kota Ramah Anak. Pendahuluan Kota Layak Anak[1] merupakan istilah yang diperkenalkan pertama kali oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan tahun 2005 melalui Kebijakan Kota Layak Anak. Karena alasan untuk mengakomodasi pemerintahan kabupaten, belakangan istilah Kota Layak Anak menjadi Kabupaten/Kota Layak Anak dan kemudian disingkat menjadi KLA. Dalam Kebijakan tersebut digambarkan bahwa KLA merupakan upaya pemerintahan kabupaten/kota untuk mempercepat implementasi Konvensi Hak Anak (KHA) dari kerangka hukum ke dalam definisi, strategi, dan intervensi pembangunan seperti kebijakan, institusi, dan program yang layak anak. Kota Layak Anak[2] dan atau Kota Ramah Anak[3] kadang-kadang kedua istilah ini dipakai dalam arti yang sama oleh beberapa ahli dan pejabat dalam menjelaskan pentingnya percepatan implementasi Konvensi Hak Anak ke dalam pembangunan sebagai langkah awal untuk memberikan yang terbaik bagi kepentingan anak. Pemekaran Daerah Pemekaran kabupaten dan kota merupakan buah dari otonomi daerah. Gejala ini sudah terasa sejak berlakunya Undang-Undang Otonomi Daerah tahun 2001. Tercatat sampai Agustus 2008 terdapat 471 kabupaten dan kota + 12 dalam proses pemekaran. Tujuan akhir dari pemekaran ini adalah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Makna dari tujuan akhir ini tersirat bahwa „perlindungan anak‟ menjadi salah satu urusan wajib[4] yang diserahkan oleh pemerintah ke pemerintah kabupaten dan kota akan semakin terwujud. Namun yang menjadi pertanyaan apakah „anak‟ menjadi pusat pembangunan di kabupaten dan kota? Karena selama ini pemerintahan kabupaten dan kota lebih memusatkan pada bidang ekonomi, politik dan infrastruktur, tanpa mempertimbangkan unsur kepentingan terbaik anak dalam pengambilan

upaya untuk mengatasi persoalan ini di berbagai kabupaten dan kota belum terencana dengan baik dari penciptaan lapangan kerja. Irwanto. Akan tetapi. ada pemahaman yang berbeda-beda di kalangan orangtu mengenai arti anak. dan berbagai kendala pun masih tetap ada. belum mendapat perhatian dan perlindungan secara khusus. penuh kasih dan pengertian. Tantangan Pembentukan Kota Layak Anak Delapan belas tahun yang lalu. kepentingan anak . Anak-anak adalah warga yang paling terpukul oleh kemiskinan. Tanggung jawab utama untuk melindungi. akan tetapi forum tersebut masih banyak intervensi orang dewasa. Persoalan lain yang cukup dasar adalah kemiskinan yang menjadi satu-satunya kendala terbesar yang merintangi upaya memenuhi kebutuhan. Hal yang sama juga dialami oleh lembaga sosial yang memberikan pelayanan kepada anak-anak tersebut kurang mendapat pembinaan dan apresiasi dari pemerintah dan masyarakat. Pemahaman yang terakhir ini kadang-kadang anak menjadi korban perdagangan anak. eksploitasi ekonomi dan seksual. melindungi dan menghormati hak anak. anak pengungsi. sebagaimana tercantum dalam laporan Pemerintah Indonesia mengenai Pelaksanaan Konvensi Hak Anak ke Komite Hak Anak. dan anak yang tergusur dari tempat tinggalnya. ketersediaan mikro-kredit sampai investasi di bidang infrastruktur. Ketika ekonomi membaik dan pembangunan di segala bidang bergairah. tetapi sekaligus sebagai kelompok penduduk yang paling rentan karena sering diabaikan dan dikorbankan dalam proses pembangunan itu sendiri. serta tumbuh dan berkembangnya terabaikan. wali. terutama di beberapa kabupaten dan kota yang tertinggal. Indonesia menyatakan komitmen untuk menjamin setiap anak diberikan masa depan yang lebih baik dengan ratifikasi Konvensi Hak Anak.[6] lebih banyak anak bersekolah dibandingkan di masa sebelumnya.keputusan. lebih banyak anak mulai terlibat aktif dalam keputusan menyangkut kehidupan mereka. Sejumlah besar anak-anak hidup tanpa bantuan orangtua. keluarga. Hal ini ditandai oleh belum berkembangnya wadah-wadah partisipasi anak yang dibangun di kabupaten dan kota guna mendengarkan dan menyuarakan pendapat dan harapan anak sebagai bentuk partisipasi anak dalam proses pembangunan. Seharusnya hal ini mendapat perhatian dan sokongan dari pemerintah dan masyarakat. Akan tetapi segenap lembaga pemerintah dan masyarakat belum banyak membantu. Padahal pembentukan wadah tersebut sudah menjadi perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Nasional Jangka Menengah 2004-2009. karena kemiskinan itu sangat mendera mereka untuk tumbuh dan berkembang.[7] Kondisi ini menjadi point penting dalam mempercepat pembentukan KLA.[5] Sejak itu tercapailah kemajuan besar. misalnya anak yatim piatu. anak jalanan. Selain itu. PhD bahwa “Salah satu paradoks pembangunan manusia modern adalah diakuinya anak-anak sebagai masa depan kemanusiaan. Menurut Prof. Pada sebagian orangtua memahami anak sebagai „amanah‟ dan „titipan‟ yang harus dilindungi dan dihargai. Sedangkan pada sebagian orangtua „anak‟ sebagai „aset keluarga‟ dan „anak harus mengerti orangtua[8]‟. Seharusnya lembaga tersebut menghormati hak anak dan menjamin kesejahteraan anak serta memberikan bantuan dan bimbingan yang layak bagi orangtua. dan pencapaian itu pada umumnya kurang memenuhi kewajiban pemerintah dan komitmen negara. dan sudah tersusun pula peraturan perundang-undangan penting yang melindungi anak. dan pihak-pihak yang mengasuh anak supaya dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman dan stabil serta suasana yang bahagia. Meskipun di beberapa kabupaten dan kota sudah ada Forum Anak. dan terjadwal. Namun hasil yang dicapai ini tidak merata. anak korban eksploitasi ekonomi dan seksual. mendidik dan mengembangkan anak terletak pada keluarga. serta mereka yang berada di lembaga pemasyarakatan. Masa depan cerah bagi anak barulah merupakan „khayalan‟ semata. terorganisasi. Keluarga sebagai unit dasar dari masyarakat yang menjadi penentu keberhasilan dalam mempercepat terwujudnya komitmen negara belum mendapat bantuan dan bimbingan secara teratur. Jenewa. anak korban perdagangan.

sosiolog. provinsi. pendidikan. konflik berkecamuk. keluarga. Artinya. Bila ditelusuri. Padahal masalah bukan hanya anak. karena semua kesepakatan internasional tersebut belum menjadi rujukan dalam perencanaan dan kebijakan program pembangunan. Media masa belum mengambil peran secara proporsional. dan kriminolog yang berkaitan dengan anak dan kota. The Dakar Framework: Education For All dari World Education Forum. cetak maupun elektronik. kekacauan sosial berkembang di mana-mana. keluarga. dan yang terakhir Deklarasi dan Rencana Pembangunan Berkelanjutan dari World Summit on Sustainable Development. dan kepentingan organsiasi atau lembaga dalam rangka proyek dan atau pembangunan kota. tergambar bahwa ada tantangan besar untuk mempercepat implementasi hak anak di tingkat orangtua. orangtua. dan nasional pada masa kini dan masa datang. Dokumen-dokumen tersebut belum tersosialisasi kepada pemerintah. Hal ini wajar saja. Deklarasi dan Rencana Aksi World Fit for Children. dan anak. Deklarasi Millennium Development Goals. Semua kesepakatan itu tersimpan rapi di lemari dan laci para Delegasi Indonesia yang sesungguhnya mereka itu juga mempunyai keterbatasan dari segi keilmuan. perencana kota. kabupaten/kota. Kota dan Anak Berbagai penelitian yang dilakukan oleh para arsitek. Dari uraian di atas. Dari sekian persoalan di atas yang unik adalah otonomi daerah. penelitian tentang anak dan kota telah berlangsung sejak tahun 1970-an sampai sekarang. Isu-isu anak selalu kalah dalam berebut „kapling‟ atau ruang di media masa. Bila ditemui media yang mengangkat isu anak dalam segmen acara ataupun porsi pemberitaannya kesan yang timbul justru potensi pelecehan terhadap hak anak. pemerintah daerah. perancang. . Sehingga hal ini melahirkan kesenjangan informasi di antara pihak yang terkait dengan komitmen internasional dengan perencana dan penyusun program di lapangan. Akan tetapi. hak tumbuh dan berkembang mereka kurang optimal. sangat berdampak pada pemenuhan hak anak. masyarakat. psikolog. jika kita tidak segera berinisatif. Sebut saja Deklarasi Dunia dan Rencana Aksi dari World Summit for Children. manakala ekonomi memburuk. Namun dari sederetan persoalan yang mendera anak. Sejak urusan wajib di bidang kesehatan. masyarakat. dikhawatirkan kepentingan terbaik bagi anak terabaikan. dan pemerintah kabupaten atau kota untuk “memenuhi hak anak” sesuai dengan Konvensi dan komitmen Negara. namun. baik sebagai warga kota maupun pengguna ruang kota. secara nyata yang perlu dipahami oleh kita adalah penerimaan terhadap berbagai komitmen internasional yang disepakati oleh Negara untuk kemajuan anak Indonesia. Karena menempatkan anak sebagai obyek program sehingga sangat banyak ditemui pemberitaan dan program dalam media masa yang justru menjauhkan anak-anak dari originalitas budayanya dan bahkanmembuat anak-anak Indonesia terkontaminasi oleh budaya asing. termasuk „perlindungan anak‟ dan lainnya diserahkan oleh pemerintah pusat ke pemerintah kabupaten dan kota. Karena mereka pada dasarnya belum mengetahui dan memahami apa yang sesungguhnya telah menjadi komitmen Negara di tingkat dunia. penguasaan isu anak sampai komunikasi. antara lain kepentingan pemenuhan tugas akhir sebagai mahasiswa.tidak menjadi prioritas. Muncul berbagai persoalan. dan seslau kalah bersaing dengan isu-isu politik yang mendominasi pemeberitaan di media. turunnya angka kelulusan baik di SD dan SMP maupun SMA/sederajat di beberapa kabupaten dan kota. masyarakat. yang akan berujung pada hilangnya satu generasi bangsa. seperti meningkatnya kasus gizi buruk. anak menjadi korban atau dijadikan tumbal untuk memenuhi kebutuhan orang dewasa”. Konsekuensi logisnya adalah bahwa opini dan pemahaman publik terhadap isu-isu anak tertinggal sangat jauh dari yang semestinya. jika kita menemukan pemahaman yang berbeda-beda di kalangan orangtua.[9] Penelitian tersebut dilakukan dengan beberapa alasan.

dan memperbaiki konstruksi pagar. Penelitian dengan judul ”Persepsi anak terhadap ruang”[11] dilaksanakan di 4 kota – Melbourne. . mengumpulkan sampah agar tidak menumpuk sehingga bibit-bibit penyakit tidak berkembang biak. ahli perkotaan dari City University Of New York dan The International Institute For Environment And Development. perlu didukung oleh suatu program kampanye penyadaran[12] tentang pentingnya perlindungan keselamatan anak kepada orang-tua dan orang dewasa. Syarat rumah layak huni adalah status kepemilikan jelas (milik sendiri. perlu adanya intervensi pencegahan terjadinya bahaya terhadap anak di tempat tinggal mereka. Dari mereka. pemerintah dan para pemangku kepentingan di bidang anak dapat menemukan kebutuhan atau aspirasi mereka untuk mempercepat implementasi Konvensi Hak Anak dan komitmen Negara lainnya di bidang anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan kota yang terbaik untuk anak adalah yang mempunyai: komuniti yang kuat secara fisik dan sosial. Anak akan memperoleh pengalaman yang tak ternilai dari pelibatan mereka. Ibid). tempat bermain. 1998:51). Warsawa. lingkungan masyarakat. dengan menggunakan metode pengamatan. komuniti yang mempunyai aturan yang jelas dan tegas. Dari sejumlah penelitian tersebut. Modifikasi atau perbaikan tersebut antara lain: menggunakan penerangan listrik daripada lilin atau minyak tanah yang mempunyai resiko besar terhadap terjadinya kebakaran. pandangan dan pengalaman mengenai lingkungan kota tempat mereka tinggal. Pemerintah dapat berkonsultasi dengan mereka. dan fasilitas pendidikan yang memberi kesempatan anak untuk mempelajari dan menyelidiki lingkungan dan dunia mereka. Anak dan Lingkungan Tempat Tinggal Untuk menjadi akrab dengan lingkungan tempat tinggal anak perlu dipertimbangkan bahwa: a. sewa. keluarga perlu mempertimbangkan penerapan kombinasi pola asuh antara otoriter. lingkungan sekolah. dan dapat mengidentifikasi persoalan yang ada untuk didiskusikan dan dipecahkan bersama. bebas dan demokratis secara seimbang dan konsisten. agar terhindar dari asap dan kebakaran. Anak dapat membantu pemerintah dalam mendapatkan data mengenai lingkungan tempat tinggal. adanya pengelolaan sampah dan perawatan saluran pembuangan air kotor. polisi dan petugas lapangan tentang perlindungan dan hak anak. Upaya perbaikan lain menurut Bartlett. pelayanan transportasi dan pelayanan kesehatan. yaitu dengan melakukan modifikasi dan perbaikan di lingkungan tempat tinggal. mendesain kompor dan dapur yang aman. ketenangan dan kenyaman penghuni. Selain itu dapat dilakukan pula pelatihan terhadap orang-tua. Salta. menurut Sheridan Bartlett. yang sangat menarik bahwa anak. Melalui kegiatan pelibatan ini anak menjadi berfikir mengenai persoalan lingkungannya. Berikut ini beberapa harapan dan kebutuhan anak yang mereka sampaikan terekam secara apik dalam laporan penelitian Hamid Patilima dengan judul “Persepsi Anak mengenai Lingkungan Kota: Studi Kasus Kelurahan Kwitang. karena mereka mempunyai persepsi. adanya pemberian kesempatan pada anak.Penelitian yang sangat berpengaruh pada implementasi Konvensi Hak Anak dan kemudian diadopsi oleh UNICEF dan UNHABITAT melalui “Child Friendly City Inniciative”[10] adalah penelitian yang dilakukan oleh Kevin Lynch. supaya kepercayaan diri anak tinggi. menumpang). rumah yang layak huni adalah rumah yang menjamin keamanan. b. London (Bartlett. kemudahan akses ke air. dan Mexico City. Mereka juga dapat memberikan kontribusi dalam proses perencanaan dan pengembangan kota yang mereka harapkan (Adams & Ingham. Untuk mewujudkan kebutuhan anak tersebut. listrik. Jakarta Pusat”. arsitek dari Massachusetts Institute of Technology. rumah itu berada di lingkungan yang bebas polusi. 2002). wawancara dan menggambar. seperti halnya orang dewasa. tembok dan lain-lain. Selanjutnya. dapat diajak kerjasama dan mengatasi persoalan-persoalan yang berhubungan dengan lingkungan kota (Adams & Ingham.

Dengan demikian akan melindungi anak-anak perempuan dari pelecehan seksual. bersama anak menentukan lokasi yang sesuai untuk tempat bermain yang dekat dengan rumah dan sekolah. menurut Prof. dan perlu melakukan pengamanan yang ekstra di lingkungan yang berpendapatan rendah. c. contoh. waktu sekolah pagi dan petang dipertimbangkan untuk diterapkan secara bergantian. Anak-anak keberatan jika ruang WC anak perempuan dan anak laki-laki disatukan. melalui bermain mereka menyusun peraturan yang disepakati dan dijalankan bersama. Untuk memperbaiki masyarakat mereka. karena sangat berpengaruh pada proses belajar mengajar dan kualitas murid. b. seperti kerja bakti (membersihkan sampah dan saluran pembuangan air kotor). mempunyai ruang WC yang menjadi salah satu fasilitas yang penting di sekolah. metode belajar mengajar tidak hanya metode klasikal. dan menghargai pendapat orang lain. Parsudi Suparlan (Suparlan. karena energi yang berkurang dan udara panas mempengaruhi daya serap anak terhadap pelajaran. Untuk menjadikan lingkungan masyarakat sebagai tempat yang baik untuk anak tumbuh dan kembang. e. sehingga perlu dipertimbangkan keberadaan dan kebutuhannya. diharapkan anak dapat lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat. assosiasi masyarakat dan pemerintah kota. Anakanak merekomendasikan dan memprioritaskan hal-hal penting yang perlu mendapat perhatian dari orang dewasa. terutama terhadap anak-anak yang rentan terhadap berbagai resiko yang ditimbulkan oleh lingkungan.Anak dan Lingkungan Masyarakat Pada lingkungan masyarakat. pimpinan sekolah dan guru perlu mengikutsertakan murid-murid. jelas ada sanksinya. 1996:3-44) menjadi bercirikan individualisme tinggi. dijalankan secara bersama-sama. Anak memiliki potensi dalam menyusun peraturan dan tata tertib yang menyangkut kehidupan sendiri. warga kota. dan memasang pengumuman tentang pemberian perlindungan terhadap anak dari kekerasan dan penelantaran terhadap anak. menjaga sanitasi lingkungan. untuk itu perlu dipertimbangkan bahwa: a. Metode CBSA atau metode lain yang memberi kesempatan anak untuk berdiskusi. Contoh lain adalah pembagian tugas piket kebersihan yang mereka susun bersama ketua kelas. Anak dan Lingkungan Sekolah Lingkungan sekolah yang diharapkan anak adalah sebagai berikut: a. bebas bau sampah. Kegiatan ini melatih anak-anak mengenai kehidupan berdemokrasi yang saling mendengar. pada penyusunan peraturan dan tata tertib sekolah. dan siskamling. toilet yang tidak bau. Perlu ada perbaikan. khususnya anak-anak. dan jika ada yang melanggar. pemerintah kota perlu melakukan perbaikan-perbaikan. tempat bermain dan rekreasi yang aman dan lengkap dengan menerangan. sehingga memiliki legitimasi yang kuat saat diterapkan dan ditegakkan. perlu diterapkan agar anak-anak terlatih mengemukakan pendapat atau gagasan-gagasannya. karena berdampak langsung pada kesehatan lingkungan. desain bangunan sekolah bertingkat perlu dilengkapi ruang bermain yang memungkinkan anak-anak dari setiap lantai saling bertemu dan bersosiliasai. d. Warga kota dengan ciri ini sangat sukar untuk diajak bekerjasama. Tanpa inisiatif dan kemauan tersebut. Sebagian besar murid-murid sekolah petang kurang optimal mengikuti pelajaran. . sehingga anak-anak terlatih untuk mendiskusikan suatu persoalan. b. perawatan dan pembaharuan terhadap saluran air. anak-anak memahami apa yang menjadi kebutuhan mereka di lingkungannya. perlu ada inisiatif dan kemauan keras ketua RT dan RW untuk menjalankan organisasi dengan membentuk kegiatan-kegiatan yang berdampak langsung pada warga. Menurut Bartlett.

[13] karena banyak keuntungan yang dapat diperoleh dari kegiatan ini. Selain itu. Menurut Sheridan Bartlett. Anak dan Pelayanan Transportasi Pemerintah kota agar menyediakan layanan transportasi yang mempertimbangkan kebutuhan anak. Topik penting yang perlu diperhatikan oleh perencana dan perancang ketika melakukan diskusi dengan anak mengenai pembangunan taman bermain adalah masalah keselamatan anak. Di beberapa negara seperti Inggris. khususnya orang-tua anak dan pengawas tempat bermain diduga juga berpotensi untuk membahayakan keselamatan anak dan membuat anak takut. Persoalan ini menyangkut kasus kekerasan terhadap anak. dengan keputusan yang tepat. Menurut Robert Cervero (Cervero. Ada dua persoalan yang terkait dengan keselamatan anak: a. dengan mempertimbangkan pengamanan dan pengawasan terhadap tempat bermain anak. dan termasuk melakukan kampanye terhadap larangan penggunaan bahan berbahaya pada alat-alat permainan. dan bersedia bekerjasama dengan mereka untuk menata ruang yang ada. pusat perdagangan. Anak dan Lingkungan Bermain Pemerintah perlu mempelajari cara anak memenuhi hasratnya mendapatkan tempat bermain dengan mengikuti cara anak. selain mengembalikan energi anak yang terpakai selama belajar. sehingga dalam proses pengembangannya tidak perlu melakukan pengekangan terhadap anak. dengan semangat kepemimpinan. tempat bersejarah dan ruang publik. seperti bagaimana mereka menggunakan ruang dan apa yang mereka ingin lakukan. meningkatkan keselamatan anak di tempat bermain.makan di sekolah perlu dipertimbangkan menjadi suatu program sekolah. Dengan mengkaji dan mengadopsi dua contoh sistem transportasi serta berkonsultasi dengan warga kota termasuk anak mengenai kebutuhan transportasi. jaringan jalan. yang mungkin di rumah kurang memperoleh asupan makan yang bergizi. . orang dewasa. Proses konsultasi dengan anak harus dilakukan dengan baik seperti yang dilakukan terhadap orang dewasa. perkantoran. dibutuhkan tindakan pencegahan dan tenaga profesional yang berpengalaman untuk menjamin bahwa ruangan terbebas dari hal-hal berbahaya yang bisa menyebabkan anak-anak mendapatkan luka serius. sehingga memungkinkan mereka merasa tenang dan nyaman. pemerintah dapat mengkaji dan mempelajari sistem transportasi di Singapura yang memberikan pelayanan kepada beragam keadaan penduduknya. Brazil. Pemerintah kota perlu mempertimbangkan pengamanan dan pengawasan di tempat bermain. perencana dan perancang perlu mempertimbangkan pengamanan dan pengawasan terhadap anak. juga dapat meningkatkan gizi anak. Untuk mewujudkan transportasi seperti itu. tetapi mereka sanggup mewujudkannya dengan perencanaan yang hati-hati. 1998:292) meskipun Pemerintah Kota Curitiba menghadapi kesulitan ketika membangun sistem pelayanan transportasi berkelas dunia. Menurut Hendricks (Hendricks: 2002:14) perencanaan taman bermain yang ramah terhadap anak harus mempertimbangkan hasil konsultasi dengan anak. Belgia dan Belanda. dibangun jaringan yang menghubungkan jaringan busway dengan jaringan transit di tempat yang kurang padat penduduk. Selain itu. Selain itu menjadi ajang anak-anak saling bersosialisasi baik dengan teman sekelas atau lain kelas. telah banyak contoh konsultasi yang dilakukan dengan anak mengenai tempat bermain (Hendricks: 2002:14). atau mengkaji sistem transportasi di Curitiba. secara efisien. b. dapat dibayangkan kabupaten/kota di Indonesia akan memiliki sistem transportasi yang layak bagi anak. Sistem transportasi Curitiba dibangun dengan menggabungkan semua jaringan mulai dari jaringan rumah.

” adalah pencegahan penyakit yang disebabkan oleh resiko lingkungan. perumahan. Asia. mengatur pembuangan sampah dan air buangan. dkk. namun sangat disayangkan program ini tidak dikonsultasikan dengan anak. Pemakaian zat kimia yang tidak aman untuk produk rumah tangga dan alat permainan anak seperti boneka. dan higiene makanan yang buruk. sekolah. tetapi sifatnya lebih ditingkatkan pada pengawasan dan penyediaan fasilitas yang tidak tersedia di tingkat rumah tangga seperti sumur umum dan MCK. Upaya kesehatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko lingkungan terhadap kesehatan anak dan warga kota lainnya menurut Jorge E. memberikan pengawasan. menyediakan fasilitas WC yang bersih. perlindungan terhadap anak dan melakukan tindakan pada sektor air. dari International Institute for Environment and Development. 1990:25). tak jarang tempat-tempat itu tidak aman bahkan menjadi penyebab timbulnya penyakit bagi anak. mempertimbangkan pembuatan tiket tunggal untuk semua jenis transportasi umum. sanitasi. c. Resiko lainnya ditimbulkan oleh serangga yang menjadi perantara bibit penyakit. sebagian besar penyakit anakanak berhubungan erat dengan lingkungan tempat mereka tinggal (rumah). Menurut WHO. permukiman yang padat. polusi udara. Hardoy. b. transportasi umum. Resiko utama ditimbulkan oleh lingkungan seperti air yang kurang bersih. menyediakan air bersih. mempercepat penyebaran berbagai penyakit (UNICEF & UNEP. wilayah tersebut harus menjadi tempat yang aman dan sehat bagi anak. Kenyataan. Bahaya lain adalah kecelakaan dan kekerasan. mempertimbangkan penggunaan bus khusus pada hari minggu dan libur untuk anak dan keluarganya ke tempat rekreasi. sanitasi buruk. b. Tingkat rumah tangga yang dapat dilakukan dengan: a. supaya mereka mengetahui sumber penyakit. Bagi masyarakat perkotaan. pembuangan sampah toxic dan degradasi lingkungan. Anak dan Pelayanan Kesehatan Informasi mengenai kesehatan anak merupakan hal-hal yang perlu diketahui oleh seorang anak. taman. Selain itu. 2002:7). sedangkan tanah dan air merupakan perantara infeksi cacing. menurut Dr. tempat penampungan/tanki air selalu dibersihkan untuk menjaga higiene. saluran air. David Satterthwaite. memperkenalkan jarak. London (Satterthwaite. Selain itu. penulis buku “Environmental Problems in an Urbanizing World: Finding Solution for Cities in Africa. 2002:1-2) adalah. belajar (sekolah) dan bermain (masyarakat) (WHO. resiko juga ditimbulkan dari kekurang hati-hatian dalam menggunakan bahan kimia yang berbahaya. jenis dan ukuran transportasi umum. serta mempertimbangkan tanggung jawab terhadap anak: . Gagasan ini sebetulnya sudah mulai berkembang di beberapa kabupaten dan kota di Indonesia melalui Program Zona Aman Sekolah oleh Departemen Perhubungan. Upaya lain yang dapat dilakukan pemerintah. Tindakannya dapat dilakukan di dua tingkatan yakni rumah tangga dan masyarakat. perlu dipetimbangkan untuk mengalang komuniti sekolah untuk membangun „Rute Aman ke Sekolah‟. dan kurang air bersih untuk mencuci. menurut Jill Swart Kruger dan Louise Chawla (Kruger. melakukan kampanye dengan menyebarkan poster atau leaflet tentang desain kompor dan dapur. d. 2002:85) perlu: a. Karena itu.Selain itu pemerintah kota dalam membuat kebijakan mengenai transportasi umum. sehingga program ini belum mendapat tanggapan yang serius dari orangtua dan masyarakat. sekolah dan lingkungan sekitarnya. ventilasi yang buruk. Kehidupan anak berpusat pada rumah. jenis penyakit dan upaya pencegahannya. Sedangkan tindakan di masyarakat hampir sama dengan tindakan di rumah tangga. bisa pula menjadi sebuah ancaman. dan Latin America. c. manajemen sampah. e. dan terkesan program tersebut dipaksakan.

tbc. mempunyai hak untuk bermain – ini artinya tersedia areal hijau dan ruang terbuka untuk bermain. spritual. f. begitu juga dengan anak yang ada di wilayah kumuh biasanya kualitas sekolahnya sangat buruk. bahwa anak (Save the Children. mempunyai hak untuk memperoleh pelayanan transportasi umum – mengakses tranportasi umum yang baik untuk semua merupakan hal yang esensial. Untuk itu orang tua bertanggung jawab mengupayakan kondisi kehidupan yang diperlukan untuk mengembangkan anak sesuai dengan kemampuan. polisi mengatur taman dan tempat umum lain yang banyak dikunjungi anak. mental. bagaimana pun transportasi yang aman adalah berjalan kaki.a. mempunyai hak untuk mendapatkan lingkungan yang sehat – sanitasi buruk. g. pemerintah bertanggungjawab terhadap keadaan jalan yang bisa menimbulkan kecelakaan dan luka. Prasyarat Mewujudkan KLA Bertitik dari uraian penelitian di atas. naik sepeda atau mengakses transportasi yang tidak menghasilkan polusi dan ramah anak. Pra-syarat yang dimaksud adalah: a. d. karena tempat mereka tidak dilengkapi sekolah. c. institusi bertanggung jawab terhadap peraturan tentang polusi yang bisa merusak perkembangan otak dan tubuh anak. Untuk memenuhi hak anak. mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan – setiap anak mempunyai hak dan kesempatan yang sama memperoleh pendidikan. b. b. kurangnya fasilitas toilet. Adanya Kemauan dan komitmen pimpinan daerah: membangun dan memaksimalkan kepemimpinan daerah dalam mempercepat pemenuhan hak dan perlindungan anak yang dicerminkan dalam dokumen peraturan daerah. karena mereka muda terjangkit penyakit cacar. diare. bukanlah hal yang mudah dan bukanlah hal yang sulit. . dan moral. Kondisi seperti ini banyak dialami oleh anak-anak yang berasal dari keluarga miskin di kota. dan banyaknya sampah memberi dampak yang serius terhadap kesehatan anak. Akan tetapi. meluasnya kekejaman dan kejahatan mempunyai dampak yang kuat terhadap anak dan remaja. Lemahnya penegakan hukum. mempunyai hak untuk tempat tinggal – pasal 27 menegaskan hak setiap anak atas kehidupan untuk pengembangan fisik. e. dan penyakit lain yang sering dialami oleh warga yang tinggal di wilayah kumuh. mempunyai hak untuk mendapatkan rasa aman – keamanan fisik dan psikososial merupakan hal penting bagi anak yang ada di kota. ispa. peraturan mengenai air dan sanitasi yang dapat menjadi sumber penyakit diare dan infeksi cacing. Catatan lain yang perlu juga direnungkan apabila merujuk pada Konvensi Hak Anak. sehingga dampaknya adalah perasaan tertekan dan ketegangan pada diri anak. kurangnya air bersih. Perumahan padat dapat menjadi salah satu faktor dalam perlakuan buruk terhadap anak atau kekejaman dan perlakuan salah secara seksual. 1996:13-15): a. Keadaan ini dapat kurangi bila orang tua peduli terhadap keluarganya. sehingga perlu mendapat perhatian pemerintah kota kepada anak-anak yang tinggal di tempat illegal. mempunyai hak untuk mendapatkan keleluasaan pribadi – tempat tinggal padat dan tumpang tindih di kota menjadikan anak merasa terganggu keleluasaan pribadinya. Kondisi seperti ini sangat berbeda yang dialami oleh anak jalanan yang tidak mempunyai tempat tinggal dan terputus dengan orang tua. Kondisi kota seperti ini menghadapi masalah serius terhadap tumbuh kembang anak. ada semacam suatu pra-syarat untuk mencapainya. d. c. untuk mewujudkan KLA. Lokasi tempat bermain dengan rumah khususnya untuk anak kecil dan anak dengan kecacatan.

Sehingga. Sosialisasi hak anak: menjamin penyadaran hak-hak anak pada anak dan orang dewasa. . harus adanya pengarustamaan hak anak dalam pembangunan. dapat mengakses pelayanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. merasa aman berjalan di jalan. Institusi Perlindungan Anak: Adanya kelembagaan yang mengkoordinasikan semua upaya pemenuhan hak anak. Ada dua arus yang berkembang pada saat kita menyusun dan merancang kota layak bagi anak. Fakta di lapangan menunjukkan. h. Pemberdayaan keluarga: adanya program untuk memperkuat kemampuan keluarga dalam pengasuhan dan perawatan anak. namun upaya untuk mewujudkannya. Sebagai warga kota. perlu mengajukan pertanyaan “Apakah sudah ada kepentingan terbaik bagi anak di dalamnya?” Jika belum ada. maka proses tersebut perlu ditinjau ulang. Pembangunan bidang infrastruktur belum menyentuh pada pemenuhan kebutuhan anak dan atau kelompok yang rentan. Hal ini tidak sederhana. b. Partisipasi anak: tersedia wadah untuk mempromosikan kegiatan yang melibatkan anak dalam program-program yang akan mempengaruhi mereka. f. pemantauan. i. Arus ini menghendaki seluruh orang dewasa yang ada di setiap pemangku kepentingan (stakeholders) dalam proses penyusunan dan perencanaan pembangunan. dan sosial. d. dapat mengekspresikan pendapatnya mengenai kota yang mereka inginkan. c. secara seimbang dapat mengakses setiap pelayanan. Kemitraan dan jaringan: adanya kemitraan dan jaringan dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. dapat bertemu dan bermain dengan temannya. harus menjadi pertimbangan utama. g. komuniti. dan evaluasi. e. Kunci sukses untuk mewujudkan kota layak bagi anak adalah adanya keikhlasan dan ketulusan orang dewasa mengutamakan kepentingan terbaik anak. dampak pembangunan kurang optimal untuk mempersiapkan suatu generasi yang tangguh. keputusannya mempengaruhi kotanya. kekerasan dan penelantaran. berperan serta dalam kegiatan budaya dan sosial. Penyediaan infrastruktur perkotaan masih mengabaikan kepentingan terbaik anak. sebelum mengambil dan memutuskan kebijakan. dapat mengakses air minum segar dan tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang baik. dan kecacatan. d. sehingga diketemukan adanya „kepentingan terbaik bagi anak‟. agama. mendengar pendapat mereka dan mempertimbangkannya dalam proses pembuatan keputusan. tanpa memperhatikan suku bangsa. c. Produk hukum yang ramah anak: tersusunnya sedia peraturan perundangan mempromosikan dan melindungi hak-hak anak. gender. f. bahwa anak belum menjadi pertimbagan utama dalam proses penyusunan dan perencanaan pembangunan. penyusunan program. j. kekayaan. Pembangunan bidang pendidikan belum sinkron dengan pembangunan bidang kebutuhan pasar ketenagakerjaan. berarti anak: a. dapat berperan serta dalam kehidupan keluarga. Mewujudkan KLA KLA adalah kota yang menjamin hak setiap anak sebagai warga kota. h. Baseline data: tersedia sistem data dan data dasar yang digunakan untuk perencanaan. hidup di lingkungan yang bebas polusi. Pertama. e. terlindungi dari eksploitasi. dan k. g.b.

e. Sektor Swasta dan Dunia Usaha .Sektor swasta dan dunia usaha merupakan kelompok potensial dalam masyarakat yang memfasilitasi dukungan pendanaan yang . Selain itu pemerintah juga melakukan koordinasi dalam pelaksanaan kebijakan KLA. b. Fase yang dimaksud seperti terlihat pada gambar berikut: Selanjutnya adalah pembagian peran apa yang dapat dilakukan oleh setiap individu dan institusi yang ada di perkotaan untuk mewujudkan KLA. Pemerintah . Hal ini didasarkan pada pemikiran.APKSI/APEKSI sebagai jaringan komunikasi antar kabupaten/kota mempunyai posisi strategis untuk wadah bertukar pengalaman dan informasi antar anggota untuk memperkuat pelaksanaan KLA di masing-masing kabupaten/kota.Organisasi Non Pemerintah dan Organisasi Kemasyarakatan mempunyai peran penting dalam menggerakkan masyarakat untuk mendukung pelaksanaan KLA. Kemitraan yang terbangun dapat saling berintegrasi dan bersinergi menjadi suatu kesatuan yang saling mengisi dan membutuhkan satu dengan lainnya. Upaya yang perlu ditempuh untuk menggali kebutuhan adalah melalui partisipasi anak. bahwa yang paling tahu dan paham kepentingan anak adalah anak itu sendiri. Pemerintah Kabupaten/Kota . Untuk itu. para pemangku kepentingan di bidang anak. d.Pemerintah kabupaten/kota bertanggung jawab dalam membuat kebijakan dan menyusun perencanaan. Kemitraan dan Partisipasi Untuk mewujudkan „KLA‟ perlu diperkokoh kemitraan pemerintah dengan para pelaku lain yang akan memberikan kontribusi yang unik. seperti uraian berikut: a. Organisasi Non Pemerintah dan Organisasi Kemasyarakatan . c. Sehingga pada saat pengambilan keputusan sesuai dengan kepentingan anak. pelaporan. pelaksanaan. Selain itu melalui kemitraan dan partisipasi ini akan mendorong pemanfaatan segala jalur partisipasi untuk mensejahterahkan dan meningkatkan perlindungan hak anak. Peran yang dimaksud harus sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki oleh setiap individu dan atau institusi.Kedua. Kemitraan ini menurut the International Union of Local Authorites membentuk suatu lingkaran projek dengan proses perencanaan dan pelaksanaan melalui fase. evaluasi. pemantauan.Pemerintah bertanggung jawab dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan nasional dan memfasilitasi kebijakan KLA. pihak yang mengetahui „kepentingan terbaik anak‟ adalah anak. dan memobilisasi potensi sumber daya untuk pengembangan KLA. Asosiasi Pemerintahan Kabupaten/Kota Seluruh Indonesia . berkomunikasi secara efektif dengan anak untuk menggali kebutuhan anak. Peran dari para pihak ini perlu dipertegas.

monitoring. menghargai. Keluarga . Kota Surakarta (Solo) di Provinsi Jawa Tengah. “About Growing Up”. dan evaluasi program KLA dengan memberikan masukan berupa informasi yang obyektif dalam proses monitoring dan evaluasi. yaitu Aceh Besar (Nanggroe Aceh Darussalam). Al-Zoabi. . Kabupaten Karawang (Jawa Barat). yaitu Kota Jambi di Provinsi Jambi. KLA juga diinisiasi di Kota Semarang dan Kabupaten Boyolali di Provinsi Jawa Tengah atas dukungan NGO Internasional (CCF). Eillen & Sue Ingham. bimbingan. Catatan Akhir Kata kunci dalam proses mewujudkan KLA adalah ketulusan dan keikhlasan orang dewasa menerima kehadiran anak di tiap proses pembangunan kota dan pemberian kesempatan oleh orang dewasa kepada mereka. Y. “The problem of children‟s injuries in low-income countries: a review”. Health Policy and Planning.Masyarakat bertanggung jawab mengefektifkan pelaksanaan.bersumber dari alokasi Corporate Social Responsibility untuk mendukung terwujudnya KLA. (1998). (1998). Industry Children and the Nation: an Analysis of National Identity in School Textbooks. Mansour Fakih. Komuniti (Masyarakat) . Kota Pontianak (Kalimantan Barat). Kota Yogyakarta dan Kota Banjar. Kabupaten OKI (Sumatera Selatan). Ahmad. bahwa “Pembangunan dan perubahan sosial belum meletakkan anak sebagai subyek. Philadelphia: The Falmer Press. Jordan”. Sedangkan pada tahun 2007 ditunjuk 10 kabupaten/kota. Saudi Arabia: King Saud University. dan pendidikan dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. dan Kota Kupang (Nusa Tenggara Timur). “Children‟s Mental Maps and Neighborhood Design of Abu-Nusier. perawatan. dan menghormati hak anak. Inisiatif KLA Inisiatif KLA ini telah diadaptasi oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia. Kabupaten Kutai Kartanegara di Provinsi Kalimantan Timur. Menurut Almarhum Dr. Lampung Selatan (Lampung).” Daftar Kepustakaan Adams. London. Kota Malang (Jawa Timur). (2002). (2002). Selain itu atas inisiatif Pemda sendiri KLA telah diperkenalkan di Kota Bandung. (1988). Kabupaten Sidoarjo di Provinsi Jawa Timur. Australian Institute of Family Studies Family Matters. Tahun 2006 konsep KLA diujicobakan di 5 kabupaten/kota. DR. Kabupaten Kuningan. Kota Padang (Sumatera Barat). No. atau paling tidak memperhitungkan anak dalam arah pembangunan. h. Anak – anak merupakan unsur utama dalam pengembangan KLA perlu diberi peran dan tanggung jawab sebagai agen perubah. Yang nyaring terdengar dan banyak tersosialisasi adalah bagaimana membantu orang dewasa untuk memfasilitasi. London: The Children‟s Society. i.49 Autumn 1998.Keluarga merupakan wahana pertama dan utama memberikan pengasuhan. Bartlett. dan terakhir Kabupaten Gorontalo di Provinsi Gorontalo.Lembaga internasional sebagai lembaga memfasilitasi dukungan sumber daya internasional dalam rangka mempercepat terwujudnya KLA. Kabupaten Sragen (Jawa Tengah). John. f. g. Kota Manado (Sulawesi Utara). Lembaga Internasional . Kota Bogor. Sheridan. Ahier. New York. Changing Places: Children‟s Participation in Environmental Planning.

Kruger. Environmental Problems in an Urbanizing World: Finding Solution for Cities in Africa. David. The Life Cycle Completed.42. Mengarusutamakan Hak-Hak Anak Dalam Pembangunan Nasional: Perspektif Ekologi Perilaku Manusia. (diktat). Burhan. Hamid Patilima Alumni Kajian Pengembangan Perkotaan – Program Pascasarjana Universitas Indonesia Bekerja di Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia Menjadi Konsultan di Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan untuk Pengembangan Kota Layak Anak Dipercaya oleh UNICEF untuk menjadi Konsultan dalam penyusunan Laporan Indonesia Pelaksanaan Konvensi Hak-Hak Anak Periode Ketiga dan Keempat (2007) dan Laporan Pelaksanaan A World Fit for Children Periode 2002-2006 (2006) Dipercaya oleh ILO sebagai Konsultan Nasional untuk Adaptasi Modul Supporting Child Right Through Education.Bartlett. Italy: UNICEF Innocenti Research Centre. & Latin America. Penulis buku Metode Penelitian Kualitatif yang diterbitkan oleh Alfabeta Bandung (2005 dan 2007) . “Urban Children and the Physical Environment”. Oktober No. (2001). Suparlan. Depok: Jur. Children on Their Housing. Eric H. New York & London: Routledge Falmer. Pia & Margaret O‟Brien (edit. (2001).. Sheridan. Tokyo: Tokyo Institute of Technology. Hardoy. Universitas Atmajaya. W. Prof. Universitas Negeri Jakarta (2008). Neighbourhood and Community.2002). (2003). Antropologi Perkotaan. (2002). London: Earth-scan Publication Hendricks. PLA Notes. Erikson. (No. (1996). Jakarta. Dr. Asia. Christencen. Poverty and Exclusion Among Urban Children.. Swedia: Radda Barnen. Menjadi Pengasuh Mata Kuliah Pendalaman Metode Penelitian Kualitatif di Program Pendidikan Usia Dini Fakultas Ilmu Pendidikan. Pascasarjana Universitas Indonesia Save the Children. (2002) “Child Friendly Environments in the City”. Irwanto.). Hamid. Diana & David Satterthwaite (2001). (2004). Antropologi FISIP UI. Satterthwaite. Patilima. Children in the City Home. Prof.M. Children on Their Housing. Swedia: Radda Barnen.2-Nov. ”Kondisi Lingkungan Bermain Anak di Kota-kota Besar Sebagai Dampak Proses Urbanisasi”. (Tesis). Merina.. Jakarta Pusat. “City Governance for and with Children”. Art. (1987). Environment & Urbanization Vol. Jakarta: Kajian Pengembangan Perkotaan. Amman. Parsudi. Jordan: International Conference on Children and The City. IULA&UNICEF. Chawla. Florence – Italy: UNICEF Innocenti Research Centre. Jordan: International Conference on Children and The City. di Brescia: Ordine degli Achitetti. and Media (2007) sekaligus menjadi Pelatih untuk Master Trainner SCREAM. Partnership to Create Child Friendly City: Programming for Child Rights with Local Authorities. Erikson.W. Innocenti Digest. (2008). Persepsi Anak Mengenai Lingkungan Kota – Studi Kasus Di Kelurahan Kwitang. Jorge E. (2002). (1996). “We Know Something Someone doesn‟t Know: Children Speak Out on Local Conditions in Johannesburg”. (1999). Amman. (1996). ”Evaluating Children‟s Participation: Seeking Areas of Concensus”. 2 October. Louise. & J.14 No. (2002). Save the Childern. PhD. Barbara. Norton & Co. Jill Swart & Louise Chawla.

[3] Bersumber dari Child Friendly City Inniciative yang diperkenalkan oleh UNICEF dan UNHABITAT pada City Summit Istanbul Turki 1996. Margaret O‟Brien. II (1992-1997). program. 2003:144-145) memaparkan hasil penelitiannya tentang “The Childhood. Louise Chawla dari the Children and Environment Program of the Norwegian Centre for Child Research . untuk melaksanakan kebijakan kabupaten/kota yang layak anak. masyarakat dan dunia usaha dalam rangka menciptakan kabupaten/kota yang dapat memenuhi hak-hak anak. kegiatan. . [2] Terinspirasi dari dokumen World Fit for Children. untuk memobilisasi dan mengintegrasikan sumberdaya manusia.). Pemerintahan Daerah Provinsi. [7] Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 Pasal 28 B Ayat (2). sarana. 2002 yang juga merupakan lanjutan dari pertemuan City Summit Istanbul Turki 1996. dalam menyatukan tujuan pembangunan daerah di bidang perlindungan anak. mesti ngerti karo wong tuo [9] Dr. untuk mempercepat kemampuan keluarga. [4] Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah.[1] Tujuan dari inisitif KLA adalah untuk mengintegrasikan hak-hak anak ke dalam pembangunan kabupaten/kota. ahli psikologi sosial dari University of East Anglia dalam tulisannya “Regenerating children‟s neighborhoods: What do children want?” (Christensen (ed. III dan IV (19972007).Trondheim. untuk menyusun perencanaan dan melaksanakan strategi. prasarana dan metode yang ada pada pemerintah. dan anggaran yang responsive terhadap kebutuhan dan kepentingan terbaik bagi anak. dunia usaha di pemerintahan kabupaten/kota dalam mewujudkan kesejahteraan dan perlindungan anak. untuk memperkuat peran pemerintah kabupaten/kota. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota [5] Ratifikasi Konvensi Hak Anak melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 1990. dan Undang-Undang lainnya terkait dengan anak. Norwegia tahun 1994. dan untuk menyusun dan memantau kerangka kebijakan pemerintah kabupaten/kota yang layak anak dengan mekanisme berkelanjutan. keuangan. [8] Dhadhi anak. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. masyarakat. Urban Space and Citizenship: Child-sensitive Urban Regeneration”. [6] Laporan Indonesia Pelaksanaan Konvensi Hak Anak Periode I (1990-1992).

Al-Zoabi. Program makan siang di sekolah semacam itu juga dilaksanakan oleh sekolahsekolah seperti di Jepang dan Malaysia. Hamid Patilima.net/index. http://www. program pascasarjana Kajian Pengembangan Perkotaan Universitas Indonesia. pamflet. Jakarta Pusat). Jakarta Pusat mengenai lingkungan kota. [10] City Summit. brosur dan lain-lain.” yang bertujuan untuk menguji bagaimana anak berinteraksi dengan lingkungan tetangga mereka dan bagaimana perencana dan perancang dapat memperoleh informasi pertama dari anak-anak tentang kegunaan dan kebutuhan mereka seperti ruang komuniti.Virginia Morrow. tetapi dihentikan sejalan dengan berakhirnya program JPS-P.php?view=article&id=97%3Akota-layak-anak&option=com_content .ykai. Istanbul Turki. [13] Di Indonesia. program ini pernah dilaksanakan melalui program PMTAS. MA: MIT Press tahun 1977 dengan judul “Growing Up in Cities”. [12] Program kampanye dapat memanfaatkan berbagai media. psikolog lingkungan dari Kentucky State University melakukan penelitian tentang “Four-site study of children‟s needs and priorities”. yang bertujuan terperoleh gambaran kognitif anak-anak di Indonesia. pada umumnya anak-anak menggambarkan kota dan lingkungan mereka secara negatif. melakukan penelitian tentang ”Persepsi Anak Mengenai Lingkungan Kota: Studi Kasus Kelurahan Kwitang. Ahmad Y. Jordan.). antropolog dan arkeolog dari University of South Africa dan Louise Chawla. 1996. Jill Swart Kruger. melakukan penelitian tentang “Children‟s Mental Maps and Neighborhood Design of Abu-Nusier. arsitek dan perencana dari King Saud University. seperti media massa – koran dan televisi. Penelitian ini menggunakan suatu desain studi kasus yang menghasilkan gambaran persepsi anak mengenai lingkungan kota. 2003:169) melalui tulisannya “Improving the neighborhood for children” dalam penelitiannya dengan pendekatan kualitatif diungkapkan bahwa. khususnya anak-anak di Kelurahan Kwitang. sosiolog dari London School of Economical and Political Science (Christensen (ed. [11] Laporan penelitian tersebut telah diterbitkan oleh Cambrigde.

Sementara untuk tingkat kabupaten. dan Kupang sebagai tempat uji coba Kota Layak Anak. Untuk mendukung kecerdasan mereka. kurikulum pendidikan di daerah masing-masing harus ramah anak dan tidak ada diskriminasi pada anak. kata Seto. kita harus menghargainya dengan menerapkan sistem pendidikan yang akan mendukung tumbuh kembang anak dan bebaskan anak dari tindak kekerasan. Menurutnya. dan Gorontalo. Kota juga harus mampu memberikan mereka ruang terbuka untuk dapat tumbuh kembang serta melindungi dan menghindari mereka dari berbagai tindak kekerasan. yakni Aceh Besar. Malang.” katanya di Hotel Bumi Wiyata. 22 Juni 2011 16:09 wib 3 50Email0 Image: corbis. Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sudah menunjuk Kota Padang. Surakarta. Manado. Menurut Pemerhati Anak Seto Mulyadi.” Seto mengimbuhkan. Jambi.Inilah Syarat Kota Layak Anak Marieska Harya Virdhani Rabu. seluruh kota harus mampu mewujudkan kota yang ramah terhadap kehidupan anak. setiap kota harus mampu memberikan anak suasana yang nyaman dan gembira dalam menimba ilmu. Untuk memenuhi kriteria tersebut. Depok. Rabu (22/6/2011). Ketua DPRD . “Salah satu contohnya kota Padang Panjang yang sudah menjadi kota layak anak dengan membebaskan anak dari rokok dan segala bentuk iklan rokok.com DEPOK – Sejak 2006. Salah satu kota yang bertekad menjadi Kota Layak Anak di Jawa Barat yakni Kota Depok. “Semua anak pada dasarnya cerdas karena senang belajar. Sidoarjo.

(rfa) http://kampus.” Rintis menandaskan. “Semua impian memang tidak dapat kita wujudkan secara seratus persen.okezone. salah satunya menyediakan anak Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan bebas polusi. kita bisa sempurnakan jika warga turut aktif.com/read/2011/06/22/373/471431/inilah-syarat-kota-layak-anak .Kota Depok Rintis Yanto mengatakan bahwa anak harus diberikan perlindungan dan perluasan tumbuh kembang sehinga kota layak anak bisa terwujud sesuai dengan impian.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful