SUMBER AJARAN ISLAM

MAKALAH

Tim Penyusun :

FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

1

Pengertian Nash. Ijma’. Al-Qur’an. Teori Istinbath Hukum dalam Islam. Qiyas. sehingga makalah ini bisa mencapai kesempurnaan. Akhirnya tim penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Studi Islam.KATA PENGANTAR Alhamdulillah hirobbil’alamin. serta Ijtihad dan Perbedaan Mazdhab. Untuk itu tim penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Seperti. yang membimbing umatnya dari zaman jahiliyah menuju zaman Islamiyah yakni ajaran agama Islam. 7 November 2006 Tim Penyusun iii 2 . Syari’ah. Tim penyusun tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pembimbing serta semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Penyusun berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang konsep didalamnya. Tim penyusun berharap semoga semua yang telah berjasa dalam penyusunan makalah ini mendapat balasan yang sebaik-baiknya dari Allah SWT. sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan pada waktu yang telah ditentukan. puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW. Kedudukan Hadist. taufiq dan hidayah-Nya kepada penyusun. Surabaya.

............................................................................................................................................7 E............................................................... Rumusan Masalah .................................................................................................................................................Pengertian Nash dan Syari’ah ..................................3 C......................... Latar Belakang ...............................................................................................................................................................................................................................................................Kedudukan Hadist................................ Tujuan Penelitian .....................................................................................ii KATA PENGANTAR ........................................................................1 B....Teori Konsep Istinbath Hukum dalam Islam .................................................2 B................1 C.......................................Al-Qur’an dan Ruang Lingkupnya .............................................................Ijtihad dan Perbedaan Mazdhab ................................................2 A....................................1 BAB II : PEMBAHASAN ............................................................................... Ijmak dan Qiyas ....................................................DAFTAR ISI SAMPUL LUAR ....................................................................................................................................i SAMPUL DALAM ........................................................................................................................................................1 A..................iii DAFTAR ISI ..8 BAB III : KESIMPULAN .....13 DAFTAR PUSTAKA 3 .............................................iv BAB I : PENDAHULUAN ......................................4 D............

Untuk itu. Ijma’. Kedudukan Hadist.BAB I PENDAHULUAN A. Hadist. Untuk mengetahui Al-Qur’an dan ruang lingkupnya. Latar Belakang Dalam menentukan atau menetapkan hukum-hukum ajaran Islam para mujtahid telah berpegang teguh kepada sumber-sumber ajaran Islam. Disamping itu terdapat as-Sunnah sebagai penjelas Al-Qur’an terhadap hal-hal yang masih bersifat umum. Selain itu para mujtahidpun menggunakan Ijma’. Ijma. 3. Sebagai salah satu acuan dalam menentukan atau menetapkan suatu hukum. 5. Tujuan Penulisan 1. Al-Qur’an dan ruang lingkupnya. dan Ijtihad. Pengertian Nash dan Syari’ah. Sumber pokok ajaran Islam adalah Al-Qur’an yang memberi sinar pembentukan hukum Islam sampai akhir zaman. C. 2. 4 . Qiyas. perlu adanya penjabaran tentang sumber-sumber ajaran Islam tersebut seperti Al-Qur’an. 4. dan Qiyas. Rumusan Masalah 1. Teori dan konsep istimbath hukum Islam. B. Pengertian ijtihad dan perbedaan mazdhab. Qiyas. Agar mengerti serta memahami pengertian serta kedudukannya dalam menentukan suatu hukum ajaran Islam.

Tidak memberatkan “Allah tidak membenari seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Al-Qur’an 5 . Janji dan Ancaman 4. Ijma’ dan Qiyas dalam Untuk mengetahui pengertian Nash dan Syari’ah Untuk mengetahui teori dan konsep istimbath hukum Islam. menetapkan hukum Islam. Ruang Lingkupnya Al-Qur’an Pokok-pokok isi Al-Qur’an ada 5: 1. 5. Hidup yang dihajati pergaulan hidup bermasyarakat untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. malaikat-malaikat Nya. Rosul-rosul Nya. Untuk memahami ijtihad dan perbedaan mazdhab. Tuntutan ibadat sebagai perbuatan yang jiwa tauhid. Kitabkitab Nya. 4. Inti sejarah orang-orang yang taat dan orang-orang yang dholim pada Allah SWT. kepercayaan terhadap Allah. Dasar-dasar Al-Qur’an Dalam Membuat Hukum 1. PENGERTIAN AL-QUR’AN DAN RUANG LINGKUPNYA Al-Qur’an adalah wahyu Allah SWT yang merupakan mu’jizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sumber hukum dan pedoman hidup bagi pemeluk Islam dan bernilai ibadat yang membacanya. b.2. c. Tauhid. Qadar yang baik dan buruk. 3. Hari Akhir dan Qodho.” Misalnya: a. 2. 3. Untuk memahami kedudukan Hadist. 5.

Boleh makan-makanan yang diharamkan jika dalam keadaan Boleh bertayamum sebagai ganti wudhu’ terpaksa/memaksa. Menyedikitkan beban Dari prinsip tidak memberatkan itu. 3. Seperti: mengqashar sholat. Karena itulah lahir hukum-hukum yang sifatnya rukhsah. Dalam arti bahwa Sunnah itu sebenarnya adalah risalah dari Allah yang manifestasikan dalam ucapan. Selain diindikasikan dalam Al-Qur’an. umpamanya. Banyak sekali masalah yang sulit ditemukan hukumnya secara eksplisit dalam Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama. maka banyak orang mencarinya dalam as-Sunnah. IJMA’ DAN QIYAS Kedudukan Al-Hadist/Al-Sunnah Nabi Muhammad sebagai seorang rosul menjadi panutan bagi umatnya disamping sebagai ajaran hukum. Maka sudah 6 . 2.a) b) c) Boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. KEDUDUKAN HADIST. ketika mengharamkan khomr. Mengharamkan pada waktu terbatas. Baik yang diterima dari Allah yang berupa Al-Qur’an maupun yang ditetapkan sendiri yang berupa alSunnah. para ulama pun telah bersepakat untuk menetapkan al-Sunnah sebagai sumber ajaran Islam. Larangan secara tegas untuk selama-lamanya. yaitu. Sunnah yang dijalankan Nabi pada dasarnya adalah kehendak Allah juga. maka terciptalah prinsip menyedikitkan beban agar menjadi tidak berat. Menginformasikan manfaat dan mahdhorotnya. 1) 2) 3) B. Berangsur-angsur dalam menetapkan hukum Hal ini dapat diketahui. perbuatan dan penetapan Nabi. sebelum sholat. 1.

sepantasnya. bahwa ijma’ dapat dijadikan hujjah dan sumber ajaran Islam dalam menetapkan suatu hukum. PENGERTIAN TENTANG NASH DAN SYARI’AH Pengertian Nash Menurut bahasa. Oleh sebab itu. apabila mujtahid telah sepakat terhadap ketetapan hukum suatu masalah/peristiwa. Firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman. sebab dalam suatu peristiwa bila tidak terdapat hukumnya yang berdasarkan nash. Kedudukan Qiyas Qiyas menduduki tingkat keempat. sedangkan menurut istilah antara lain dapat dikemukakan di sini menurut: a. maka peristiwa itu disamakan dengan peristiwa lain yang mempunyai kesamaan dan telah ada ketetapan hukumnya dalam Al-Qur’an. 2. Ad-Dabusi: 7 . taatilah Allah dan Rosulnya dan Ulil Amri diantara kamu. 1. 3. dalam mimbar nash ini sering disebut munashahat. maka mereka wajib ditaati oleh umat. Mereka mendasarkan hal tersebut pada firman Allah dalam surat Al-Hasyr ayat 2 yang artinya. Ijma’ dapat dijadikan alternatif dalam menetapkan hokum suatu peristiwa yang didalam Al-Qur’an atau as-Sunnah tidak ada atau kurang jelas hukumnya. Nash adalah raf’u asy-syai’ atau munculnya segala sesuatu yang tampak.” Maka dapat disimpulkan bahwa. bahkan seharusnya bilamana Sunnah Nabi dijadikan sumber dan landasan ajaran Islam. Kedudukan Ijma’ Kebanyakan ulama menetapkan. “Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” C.

” Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa nash mempunyai tambahan kejelasan. ّ َ .‫وَا َحل الله ال ْب َي ْعَ وَحرم الربى‬ َ ّ َ ّ َ ُ Dilalah nash dari ayat tersebut adalah tidak adanya persamaan hukum antara jual beli dan riba.Artinya: “Suatu lafazh yang maknanya lebih jelas daripada zhahar bila ia dibandingkan dengan lafzh shahir.” b. namun ia mempunyai kemungkinan ditakshish dan takwil yang kemungkinannya lebih lemah daripada kemungkinan yang terdapat dari lafazh zhahir. Atas dasar uraian tersebut. Pengertiannya diambil dari susunan kalimat yang menjelaskan hukum. seperti yang dijadikan contoh dari lafazh zhahir. yang diambil menurut alur pembicaraan. 8 . melainkan timbul dari pembicara sendiri yang bisa diketahui dengan qarinah. Selain itu. Di sini nash lebih memberi kejelasan daripada zhahir (halalnya jual beli dan haramnya riba) karena maknanya diambil dari pembicaraan bukan dari rumusan bahasa. Muhammad Adib Salih berkesimpulan bahwa yang dimaksud nash itu adalah: “Nash adalah suatu lafazh yang menunjukkan hukum dengan jelas. ia dapat dinasikh pada zaman risalah (zaman Rasul). Al-Bazdawi “Lafazh yang lebih jelas maknanya daripada makna lafazh zhahir yang diambil dari si pembicaranya bukan dari rumusan bahasa itu sendiri. Tambahan kejelasan tersebut tidak diambil dari rumusan bahasanya.” Sebagai contoh adalah ayat Al-Qur’an.

Pengertian syari’ah menurut Syaikh Mahmud Shaltut yakni. juga dimasukkan kedalamnya hokum-hukum yang ditetapkan melalui qiyas. diikuti dan dilaksanakan oleh manusia didalam kehidupannya. syari’ah bermakna “Jalan yang lapang atau jalan yang dilalui air terjun. Syari’ah itu adalah hukum-hukum yang disyari’atkan Allah bagi hamba-hamba Nya (manusia) yang dibawa oleh para Nabi. Dan untuk itulah fiqih dibuat. baik menyangkut cara mengerjakannya yang disebut far’iyah amaliyah (cabang-cabang amaliyah).” Syari’ah adalah semua yang disyari’atkan Allah untuk kaum muslimin baik melalui Al-Qur’an ataupun melalui Sunnah Rasul. Pengertian syari’ah menurut Muhammad Salam Maskur dalam kitabnya al-Fiqh al-Islamy. Pengertian Syari’ah Dilihat dari sudut kebahasaan kata. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Jaatsiyah: 18 9 . Menurut istilah ialah hukum-hukum dan tata aturan yang disyari’atkan Allah buat hamba-Nya agar mereka mengikuti dan berhubungan antar sesamanya. Salah satu makna syari’ah adalah jalan yang lurus. Kemudian dimasukkan kedalamnya hukum-hukum yang telah disepakati (di ijma’) oleh para sahabat Nabi. Perkataan syari’ah tertuju pada hukum-hukum yang diajarkan AlQur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. atau yang menyangkut petunjuk beri’tiqad yang disebut ashliyah i’tiqadiyah (pokok keyakinan). tentang masalah-masalah yang belum ada nashnya dan yang belum jelasa dalam Al-Qur’an ataupun as-Sunnah (masalah yang di ijtihad).2. Dengan perkataan lain syari’at itu adalah hukum-hukum yang telah dinyatakan dan ditetapkan oleh Allah sebagai peraturan hidup manusia untuk diimani. dan untuk itu para ulama menciptakan ilmu kalam (ilmu tauhid). syari’at menurut bahasa ialah tempat yang didatangi atau dituju manusia dan binatang untuk minum air.

syari’ah yang paling umum.” Demikianlah makna syari’at. baik yang bersifat keduniaan maupun keakhiratan.1 D. supaya para hamba-Nya itu melaksanakannya dengan dasar iman. Jakarta. timbul perkataan: Islam itu adalah aqidah dan syari’ah sebagaimana dikemukakan Syekh Mahmud Shaltut. maka mereka mengambil hadist sebagai sumber hukum. “Bahwa syari’ah itu adalah ketentuan hukum yang membatasi perbuatan. akan tetapi jumhur mutaakhirin telah memakai kata syari’ah untuk nama hukum fiqh atau hukum Islam. )الجاثية‬ َ َ َ ُ َ “Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu. dari hadist yang diriwayatkan oleh para perawi hadist yang lebih utama dan memenuhi persyaratan. 2003). (Raja Grafindo Persada. maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. TEORI DAN KONSEP ISTIMBATH HUKUM DALAM ISLAM Bila para ulama hadist dihadapkan kepada suatu masalah. Menurut asy-Syatibi di dalam kitabnya al-Muwafaqat. kepercayaan dan bersifat batiniah. Al-Jaatsiyah: 18) para fuqaha memakai kata syari’ah sebagai nama bagi hukum yang ditetapkan Allah untuk para hamba-Nya dengan perantara Rasul-Nya. Syari’ah Islam adalah syari’ah penutup. 5-7 10 . selanjutnya 1 M. Ali Hasan. Apabila para ulama hadist mendapat hadist yang berbedabeda.” (QS. yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf. dan mencakup segala hukum. Atas dasar pemakaian ini. baik hukum itu mengenai lahiriah maupun yang mengenai akhlak dan aqaid. pertama kali para ulama ahlul haidst mencari penyelesaian masalah itu kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi/Rasul. hal.َ َ َ ْ َ ‫ث ُم جعَل ْن َك عَلى شرِي ْعَةٍ من ا ْل َمرِ فات ّب ِعْهاوَل َ ت َت ّب ِع‬ ْ َ ّ َ َ ّ (18 :‫ا َهْوآء ال ّذ ِي ْن ل َي َعْل َموْن. orang-orang mukallaf. paling lengkap. Kalau para ulama tersebut tidak menemukan hadistnya. perkataan dan i’tiqad. Perbandingan Mazhab.

baik yang telah terjadi. Masa mereka enggan berfatwa ini tidak lama.‫ب ِط َرِي ْق ا ْل ِست ِن ْباط من ال ْك ِتاب والسن ّة‬ ِ ّ َ ِ َ َ ِ ِ َ ْ ِ Menggunakan seluruh kesanggupan untuk menetapkan hukum syara’ dengan jalan memetik/mengeluarkan dari kitab dan sunnah. maka hal tersebut merupakan pemikiran dengan kemauan sendiri semata-mata dan hal tersebut tidak dinamakan ijtihad. Andaikata tidak juga diperoleh pendapat para sahabat mengenai masalah yang sedang dihadapi para ulama hadist tersebut. Ali Hasan. berarti mereka selalu melaksanakan ijtihad terhadap sesuatu masalah yang baru. Wicaksana. 124 M. Perbandingan Mazhab. Tanpa dalil syara’ dan tanpa cara tertentu. 2003). IJTIHAD DAN PERBEDAAN MAZDHAB Pengertian Ijtihad Dari segi bahasa. Sedang menurut pengertian syara’ ijtihad adalah: 1. atau mereka belum/tidak menyampaikan fatwa kepada masyarakat. 33 11 . hanya sampai kepada masa wafatnya Imam Daud ibnu Ali. sehingga segala masalah dapat mereka tentukan hukumnya berdasarkan hasil ijtihad para ulama hadist (aliran Madrasah Hadist). Para ulama Fuqaha sesudah itu selalu memperhatikan/melaksanakan fatwa. H.mereka meninjau dan mempedomani pendapat para sahabat Nabi. melalui salah satu dalil syara’ dan dengan cara tertentu. hal. Fiqh.2 Adapun pengertia ijtihad ialah: Mencurahkan segala tenaga (pikiran) untuk menemukan hukum agama (syara’). (Semarang: CV. ijtihad berarti. hal. Ijtihad ‫ا َ ل ِجت ِهاد: ا ِست َفراغ ُ ال ْوُسع فِي ن َي ْل جك ْم ٍ َرعي‬ ُ ِ ُ َ ْ ّ ِ ْ ْ َ ْ ْ ِ ْ . E. walaupun yang belum atau mungkin terjadi. dan belum teratur dasar hukumnya. maka selanjutnya barulah mereka melaksanakan ijtihad untuk menyelesaikan suatu masalah hukum Islam.3 2 3 Dr. mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan. Moh. 2003). (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Rifai.

sehingga ajaran Islam selalu menganjurkan agar manusia menggunakan akalnya.bahwa pengertian bermazdhab adalah: “Mengikuti hasil ijtihad seorang imam tentang ukum suatu masalah atau tentang kaidahkaidah istinbath. Sehingga secara pasti cocok dan tepat untuk diterapkan dalam setiap waktu dan tempat. bahkan ada yang cenderung hanya ingin mendalami mazdhab tertentu saja.Ijtihad mempunyai peranan yang penting dalam kaitannya pengembangan hukum Islam. 2. Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan. Maliki. Para Imam Mujtahid seperti Imam Hanafi. Pendapat salah seorang Imam Mujtahid tentang hukum suatu masalah. 2. Syahi’i dan Imam Ahmad bin Hambali. 86 12 . bahwa pegertian mazdhab adalah: “Hasil ijtihad seorang imam (Mujtahid Mutlaq Mustaqil) tentang hukum suatu masalah atau tentang kaidah-kaidah istinbath. Maka peranan ijtihad semakin penting untuk membuktikan keluasan dan keluwesan hukum Islam. Perbedaan Mazdhab Menurut bahasa mazdhab berarti “Jalan atau tempat yang dilalui. dalam kenyataannya di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat Muhkamat (jelas kandungannya) dan ada yang Mutasyabihat (memerlukan penafsiran (belum terang). Apalagi agama Islam sebagai Rahmatan lil Alamin (Rahmat bagi seluru alam) membuat kesediaannya dalam menerima perkembangan yang dialami umat manusia. Dari sinilah.”4 Orang yang melakukan ijtihad disebut Mujtahid. Hal ini disebabkan. Sebab. karena pengaruh lingkungan atau karena 4 Ibid. Untuk mengetahui pola pemikiran masing-masing Imam Mazdhab bagi seseorang itu sangat terbatas. Kaidah-kaidah istinbath yang dirumuskan oleh seorang imam.” Menurut istilah para Faqih Mazdhab mempunyai dua pengertian yaitu: 1. sudah cukup dikenal di Indonesia oleh sebagian besar umat Islam.” Dengan demikian.

Andaikata sukar menghindari kefanatikan kepada suatu mazdhab. merinci yang masih bersifat umum (global). 1. A. IMAM HANAFI Dasar-dasar mazdhab Imam Hanafi dalam menetapkan suatu hukum. Hal ini dimaksudkan.ilmu yang diterima hanya dari ulama/guru yang menganut suatu mazdhab saja. Dibawah ini akan dikemukakan beberapa tokoh Imam Mazdhab. Sunnah atau perkataan sahabat tidak beliau temukan. sekurang-kurangnya mampu menghargai pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapatnya. Al-Qiyas Abu Hanifah berpegang kepada Qiyas. Al-Istihsan 13 . Karena menurutnya. Segala permasalahan hukum agama merujuk kepada al-Kitab tersebut atau kepada jiwa kandungannya. 4. sebenarnya tidak ada larangan. As-Sunnah As-Sunnah adalah berfungsi sebagai penjelasan al-Kitab. mereka adalah orang-orang yang membawa ajaran Rasul sesudah generasinya. 2. sehingga tidak dapat melihat pemikiran-pemikiran yang ada pada mazdhab yang lain yang juga bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. agar seseorang tidak fanatik kepada suatu mazdhab. Al Kitab Al Kitab adalah sumber pokok ajaran Islam. tetapi jangan hendaknya menutup pintu rapat-rapat. 5. Menganut suatu aliran mazdhab saja. Apabila ternyata dalam AlQur’an. Aqwalush Shahabah (perkataan sahabat) Perkataan sahabat memperoleh posisi yang kuat dalam pandangan Abu Hanifah. 3.

IMAM MALIKI BIN ANAS Dasar-dasar mazdhab Imam Maliki. 2. 3. Ijmak atau Qiyas. tetapi kadang-kadang beliau menolak hadist apabila ternyata berlawanan/tidak diamalkan oleh para ulama Madinah. Urf Pendirian beliau adalah mengambil yang sudah diyakini dan dipercayai dan lari dari keburukan serta mempertahankan muamalahmuamalah manusia dan apa yang mendatangkan maslahat bagi mereka. 5. B. Mengenai dasar-dasar hukum yang dipakai oleh Imam Syafi’i sebagai acuan pendapatnya termaktub dalam kitabnya ar-Risalah sebagai berikut: 2. Al-Qur’an Sunnah Rasul yang beliau pandang sah. 4. Apabila tidak dapat dilakukan istihsan.6. tetapi yang ahad pun diambil dan dipergunakan pula untuk menjadi 14 . 1. Ijmak para ulama Madinah. Beliau melakukan segala urusan (bila tidak ditemukan dalam Al-Qur’an. 3. Sunnah. beliau kembali kepada Urf manusia. Qiyas Istishlah (Mashalihul Mursalah) C. IMAM SYAFI’I Dasar-dasar hukum yang dipakai Imam Syafi’i. dan apabila tidak baik dilakukan dengan cara Qiyas) beliau melakukannya atas dasar istihsan selama dapat dilakukannya. Al-Qur’an As-Sunnah Beliau mengambil sunnah tidaklah mewajibkan yang mutawatir saja.

15 . juga dalam keadaan memaksa. Hadist Mursal atau Hadist Daif. 2. Nash Al-Qur’an dan Hadist. Hadist Mursal atau Hadist Daif akan tetap dipakai. Istidlal (Istishhab) D. 4. yakni selama perawi hadist itu orang kepercayaan. IMAM AHMAD BIN HAMBALI Imam Hambali dalam menetapkan suatu hukum adalah dengan berlandaskan kepada dasar-dasar sebagai berikut: 1. jika tidak berlawanan dengan sesuatu atsar atau dengan pendapat seorang sahabat. maka beliau mengambil mana yang lebih dekat kepada Al-Qur’an dan Sunnah. kuat ingatan dan bersambung langsung sampai kepada Nabi SAW. 6. maka beliau berpegang kepada pendapat ini. dengan tidak memandang bahwa pendapat itu merupakan Ijmak. 3. yakni apabila beliau mendapatkan nash.dalil. 4. asal telah mencukupi syarat-syaratnya. Fatwa Sahaby. Ijmak Qiyas Dalam arti bahwa para sahabat semuanya telah menyepakatinya Imam Syafi’i memakai Qiyas apabila dalam ketiga dasar hukum diatas tidak tercantum. Qiyas. 5. baru beliau pakai apabila beliau memang tidak memperoleh ketentuan hukumnya pada sumber-sumber yang disebutkan pada poin 1-4 diatas. yaitu ketika beliau tidak memperoleh nash dan beliau mendapati suatu pendapat yang tidak diketahuinya. maka beliau tidak lagi memperhatikan dalil-dalil yang lain dan tidak memperhatikan pendapat-pendapat sahabat yang menyalahinya. Pendapat sebagian sahabat yaitu apabila terdapat beberapa pendapat dalam suatu masalah. 5. bahwa hal itu ada yang menentangnya.

Ilmu Ushul Fiqih. CV. Apabila penegasan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an masih bersifat global. 2003 • Bakry. Perbandingan Mazdhab. 1999. Rachmat. Ali. Moh. Fiqih. • Syafi’i. yang mana berfungsi menjelaskan apa yang dikehendaki Al-Qur’an. segala permasalahan hukum agama merujuk kepada Al-Qur’an tersebut atau kepada jiwa kandungannya. DAFTAR PUSTAKA • Rifai. Nazar. Raja Grafindo Persada. Fiqih dan Ushul Fiqih. Pustaka Setia. 1994.BAB III KESIMPULAN Al-Qur’an merupakan sumber utama yang dijadikan oleh para mujtahid dalam menentukan hukum ajaran Islam. Semarang. 2003 • Hasan. Wicaksana. Ijmak dan Qiyas merupakan sumber pelengkap. M. maka hadist dijadikan sumber hukum kedua. 16 . Jakarta. yang mana wajib diikuti selama tidak bertentangan dengan nash syari’at yang jelas. Bandung. Karena. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Sumber hukum yang lain adalah Ijmak dan Qiyas.

17 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful