You are on page 1of 2

A H9N2 strain caused mild, influenza-like symptoms in two children in Hongkong SAR in 1999, and in one child in mid-December

2003 (Saito 2001, Butt 2005). The H9N2 strain circulating in poultry at these times provoked significant symptoms and lethality rates in highly vulnerable species such as turkey and chickens.

strain H9N2 menyebabkan gejala yang lebih ringan, seperti gejala influenza pada dua anak di Hongkong SAR pada tahun 1999, dan pada seorang anak di pertengahan Desember 2003 (Saito 2001, Butt 2005). Strain H9N2 yang menyebar pada unggas saat ini menyebabkan gejala yang signifikan dan tingkat kematian pada spesies yang sangat rentan seperti kalkun dan ayam.
To date, there is no evidence that properly cooked poultry meat or poultry products are a source of human infection by the Asian lineage H5N1. As a general rule, the WHO recommends that meat be thoroughly cooked, so taht all parts of the meat reach an internal temperature of 70C. At this temperature, influenza viruses are inactivated, thus rendering safe any raw poultry meat contaminated with the H5N1 virus (WHO 2005).

Untuk saat ini, tidak ada bukti bahwa daging unggas yang dimasak dengan benar atau produk unggas merupakan sumber infeksi pada manusia oleh H5N1 di Asia. Sebagai aturan umum, WHO merekomendasikan agar daging dimasak secara menyeluruh, sehingga semua bagian daging mencapai suhu internal 70oC. Pada suhu ini, virus influenza akan menjadi tidak aktif, sehingga mengembalikan keamanan setiap daging unggas mentah yang terkontaminasi dengan virus H5N1 (WHO 2005).
Transmission to other Mammals

Avian influenza viruses have been transmitted to different mammal species on several occasions. Here, following cycles of replication and adaptation, new epidemic lineages can be founded. Pigs, in particular, have been frequently involved in such 'interclass transversions'. In European pig populations, avian-like H1N1 viruses are highly prevalent (Heinen 2002) and an H1N2 virus, a human-avian reassortant virus, first isolated in the U.K. in1992, is constantly gaining ground (Brown 1998). In the U.S., a triple reassortant (H3N2) between the classical H1N1, the human H3N2 and avian subtypes in circulating (Olsen 2002). Other subtypes of presumably avian origin (e.g. H1N7, H4N6) have been found mainly anecdotally in swine (Brown 1997, Karasin 2000). A H9N2 virus of avian provenance is moderately prevalent in swine populations in the East of China (Xu 2004). In addition to swine, marine mammals and horses have been shown to acquire influenza A viruses from avian sources (Guo 1992, Ito 1999). Penyebaran ke Mamalia lainnya Virus flu burung telah menular ke spesies mamalia lainnya dalam beberapa saat. Dimana, mengikuti siklus replikasi dan adaptasi, garis epidemi baru yang didapatkan. Babi, khususnya, telah sering terlibat dalam 'transversi interclass'. Dalam

populasi babi di Eropa, virus flu burung-seperti virus H1N1 sangat bervalensi tinggi (Heinen 2002) dan virus H1N2, adalah virus flu burung manusiayang reassortant, pertama kali diisolasi di Inggris 1992, yang terusmenerus berkembang (Brown 1998). Di AS, triple reassortant (H3N2) terdiri dari H1N1 klasik, H3N2 manusia dan subtipe burung dalam sirkulasi (Olsen 2002). Subtipe lain mungkin berasal dari unggas (misalnya H1N7, H4N6) telah ditemukan terutama anekdot pada babi (Brown 1997, Karasin 2000). Sebuah virus H9N2 yang berasal dari burung ini cukup lazim di populasi babi di Timur Cina (Xu 2004). Selain babi, mamalia laut dan kuda telah menunjukkan memperoleh virus influenza A dari sumber unggas (Guo 1992, Ito1999).