ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN PREEKLAMPSIA

Disusun Oleh: 1. Suhendra Agung W.

Kelas VII B S1 Ilmu Keperawatan

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INSAN CENDIKIA MEDIKA JOMBANG 2011

1

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan berkat, rahmat, serta karunia-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Pada Ibu Hamil Dengan Preeklampsia” ini dengan tidak ada halangan yang berarti. Makalah ini saya susun dengan tujuan agar dapat dijadikan sebagai referensi bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai Asuhan Keperawatan Pada Ibu Hamil Dengan Preeklampsia. Selain itu makalah ini saya susun juga untuk memenuhi tugas dari dosen Sistem Reproduksi II. Saya menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharap tegur sapa dan kritik yang membangun dari para pembaca guna perbaikan dan peningkatan untuk karya selanjutnya. Demikian kiranya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan pembaca pada khususnya.

Jombang, 06 Desember 2011

Penyusun

2

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL........................................................................................... i

KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................

1 2 3 4 5 6 8

B. Rumusan Masalah ................................................................................... C. Tujuan ..................................................................................................... BAB II KONSEP TEORI A. Pengertian................................................................................................ B. Insiden...................................................................................................... C. Etiologi..................................................................................................... D. Klasifikasi................................................................................................

E. Patofisiologi............................................................................................. 10 F. Manifestasi Klinis.................................................................................... 12 G. Pemeriksaan Penunjang........................................................................... 13 H. Pencegahan.............................................................................................. 14 I. Penatalaksanaan....................................................................................... 15 J. Komplikasi............................................................................................... 18 BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN PREEKLAMPSIA A. Pengkajian................................................................................................ 19 B. Diagnosa Keperawatan............................................................................ 20 C. Intervensi.................................................................................................. 20 BAB IV PENUTUP A. Simpulan.................................................................................................. 26 B. Saran ....................................................................................................... 26 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 27

3

Insiden preeklampsia sangat dipengaruhi oleh paritas.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan. tekanan darah tinggi dan persalinan lama (Anonim. terutama di Afrika dan Asia Selatan. Sehingga diagnosis dini preeklampsia yang merupakan pendahuluan eklampsia serta penatalaksanaannya harus diperhatikan dengan seksama. aborsi tidak aman. Sebagai contoh. termasuk perdarahan.400 perempuan meninggal setiap hari atau lebih dari 500. 1. LATAR BELAKANG Di dunia ini setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan persalinan. pemeriksaan antenatal yang teratur dan secara rutin untuk mencari tanda preeklampsia yaitu hipertensi dan proteinuria sangat penting dalam usaha pencegahan.000 anak balita meninggal setiap hari dan 10.BAB I PENDAHULUAN A. Di Indonesia. di Indonesia setiap 20 menit anak usia di bawah 5 tahun meninggal. disamping pengendalian faktor-faktor predisposisi lain (Sudinaya. Sebagian besar kematian perempuan disebabkan komplikasi karena kehamilan dan persalinan. persalinan dan nifas. dilaporkan bahwa tempat yang 4 .400 perempuan meninggal setiap hari atau lebih dari 500. Disamping itu juga dipengaruhi oleh predisposisi genetik dan juga faktor lingkungan. Begitu juga dengan kematian anak.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan. Sekitar 99 % dari kematian ibu dan balita terjadi di negara miskin. 2005). Preeklampsia merupakan kesatuan penyakit yang masih merupakan penyebab utama kematian ibu dan penyebab kematian perinatal tertinggi di Indonesia. angka kematian bayi di negara maju seperti di Inggris saat ini sekitar 5 per 1. Sebagai perbandingan. Di dunia ini setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kehamilan dan persalinan. 1.6 juta anak balita meninggal setiap tahun. berkaitan dengan ras dan etnis. Dengan kata lain 30. infeksi.000 kelahiran hidup . 2 orang ibu meninggal setiap jam karena kehamilan. Disamping itu. 2003). Dengan kata lain.

Berdasarkan pada beberapa hal tersebut. Bagaimana klasifikasi dari preeklampsia ? 5. Bagaimana penatalaksanaan dari preeklampsia ? 10. kelainan faktor pembekuan. Bagaimana asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan preeklampsia ? 5 . Dalam memberikan asuhan keperawatan perawat berperan sebagai pendidik. yaitu : 1. Apa manifestasi klinis dari preeklampsia ? 7. Faktor risiko lain yang menjadi predisposisi terjadinya preeklampsia meliputi hipertensi kronik. usia ibu yang terlalu muda atau yang terlalu tua dan riwayat preeklampsia dalam keluarga (Cunningham. RUMUSAN MASALAH Makalah ini kami susun berdasarkan pada pengembangan dari beberapa pokok persoalan berikut. Oleh karena itu pentingnya peran ibu untuk mengurangi / mencegah resiko terjadinya pre eklampsia menjadi eklampsia. Bagaimana pencegahan dari preeklampsia ? 9. Apa pengertian dari preeklampsia ? 2. diabetes. Apa etiologi dari preeklampsia ? 4. penyusun tertarik untuk mengambil judul “Asuhan Keperawatan Pada Preeklampsia” dalam makalah ini.tinggi di Colorado meningkatkan insiden preeklampsia. Preeklampsia lebih sering terjadi pada primigravida dibandingkan multigravida. Bagaimana pemeriksaan penunjang dari preeklampsia ? 8. konselor dan bekerjasama dengan tim kesehatan lainnya. B. 2003). Bagaimana patofisiologi dari preeklampsia ? 6. Bagaimana insidensi dari preeklampsia ? 3. penyakit ginjal. penyakit autoimun seperti Lupus. Apa komplikasi dari preeklampsia ? 11. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa wanita dengan sosio ekonominya lebih maju jarang terkena preeklampsia.

2. Pemeriksaan penunjang dari preeklampsia h. Penatalaksanaan dari preeklampsia j. Patofisiologi dari preeklampsia f. Asuhan keperawatan pada ibu hamil dengan preeklampsia 6 .C. Tujuan khusus Tujuan khusus dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui : a. Pencegahan dari preeklampsia i. Insidensi dari preeklampsia c. Etiologi dari preeklampsia d. Pengertian dari preeklampsia b. Manifestasi klinis dari preeklampsia g. Klasifikasi dari preeklampsia e. Tujuan umum Tujuan dari pembuatan makalah asuhan keperawatan dengan preeklampsia adalah supaya perawat dan mahasisiwa mampu memberikan asuhan keperawatan dengan pasien preeklampsia. TUJUAN 1. Komplikasi dari preeklampsia k.

tetapi dapat terjadi sebelumnya. sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih ( Rustam Muctar. MD. (Mansjoer.BAB II KONSEP TEORI A. 7 . Matthew warden. edema. PENGERTIAN Preeklampsia terjadi pada umur kehamilan diatas 20 minggu. Eklampsia adalah preeklampsia yang disertai kejang dan atau koma yang timbul akibat kelainan neurologi (Kapita Selekta Kedokteran edisi ke-3). Preeklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Preeklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. 2007). Preeklampsia dapat berkembang dari preeklampsia yang ringan sampai preeklampsia yang berat (George. Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi. Misalnya terdapat Molahydatidosa (Sarwono : 2006) Preeklampsia merupakan sindrom spesifik-kehamilan berupa berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivasi endotel. yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan proteinuria (Cunningham et al. 2005). odem dan protein uria yang timbul karena kehamilan. dan proteinuria yang timbul karena kehamilan (Ilmu Kebidanan : 2005). Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke 3 kehamilan. tetapi dapat juga timbul kapan saja pada pertengahan kehamilan. 1998 ). 2000). paling banyak terlihat pada umur kehamilan 37 minggu. edema dan proteinuria tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi sebelumnya. 2003. Pre Eklamsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi. Preeklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita hamil. bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi.

Preeklampsia dibagi dalam 2 golongan ringan dan berat. Edema paru dan sianosis. keadaan sosial ekonomi. INSIDEN Frekuensi preeklampsia untuk tiap negara berbeda-beda karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Sedangkan di Amerika Serikat dilaporkan bahwa kejadian preeklampsia sebanyak 5% dari semua kehamilan (23. kehamilan ganda.000 kelahiran) (Dawn C Jung. Proteinuria 5 g atau lebih dalam 24 jam. Keluhan serebral. Penyakit digolongkan berat bila satu atau lebih tanda gejala dibawah ini : 1. 2007). edema.5%). 2003). jumlah primigravida. perbedaan kriteria dalam penentuan diagnosis dan lain-lain. air kencing 400 ml atau kurang dalam 24 jam 4. Di Indonesia frekuensi kejadian preeklampsia sekitar 3. (Ilmu Kebidanan : 2005) B. Pada primigravida frekuensi preeklampsia lebih tinggi bila dibandingkan dengan multigravida. molahidatidosa.Preeklampsia adalah toksemia pada kehamilan lanjut yang ditandai oleh hipertensi.1%) dari 1431 persalinan selama periode 1 Januari 2000 sampai 31 Desember 2000.6 kasus per 1. 3 atau 4 + pada pemeriksaan kualitatif.2%) dan eklamsia 13 kasus (0. atau tekanan diastolik 110 mmHg atau lebih. umur lebih dari 35 tahun dan obesitas merupakan faktor predisposisi untuk terjadinya preeklampsia (Trijatmo. gangguan penglihatan atau nyeri di daerah epigastrium 5. Sudinaya (2000) mendapatkan angka kejadian preeklampsia dan eklamsia di RSU Tarakan Kalimantan Timur sebesar 74 kasus (5. dan proteinuria (kamus saku kedokteran Dorland ). 2005).10% (Triatmojo. terutama primigravida muda. 3. hidrops fetalis. Dari kasus ini terutama dijumpai pada usia 20-24 tahun dengan primigravida (17. Oliguria. 2.9%). Tekanan sistolik 160 mmHg atau lebih. dengan preeklampsia sebesar 61 kasus (4. Peningkatan kejadian preeklampsia pada usia > 35 tahun mungkin disebabkan karena adanya hipertensi kronik 8 . Diabetes melitus.

melainkan banyak faktor yang menyebabkan preeklampsia dan eklampsia. maka memperlihatkan insiden hipertensi gestasional (13 % : 6 %) dan preeklampsia (13 % : 5 %) yang secara bermakna lebih tinggi. Banyak teori – teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya. Spasmus arteriola 2. wanita dengan kehamilan kembar memperlihatkan prognosis neonatus yang lebih buruk daripada wanita dengan kehamilan tunggal (Cunningham. Oleh karena itu disebut “penyakit teori” namun belum ada memberikan jawaban yang memuaskan. Rupanya tidak hanya satu faktor. Wanita dengan kehamilan kembar bila dibandingkan dengan kehamilan tunggal. Akan tetapi. Tetapi terdapat suatu kelainan yang menyertai penyakit ini yaitu : 1. Surjadi. Koagulasi intravaskuler Walaupun vasospasme mungkin bukan merupakan sebab primer penyakit ini. 9 . Diantara faktor-faktor yang ditemukan sering kali sukar ditemukan mana yang sebab mana yang akibat (Ilmu Kebidanan : 2005). Selain itu. Di samping itu. dengan teori ini tidak dapat diterangkan semua hal yang bertalian dengan penyakit itu.yang tidak terdiagnosa dengan superimposed PIH (Deborah E Campbell. akan tetapi vasospasme ini yang menimbulkan berbagai gejala yang menyertai eklampsia (Obstetri Patologi : 1984) Teori yang dewasa ini banyak dikemukakan sebagai sebab preeklampsia ialah iskemia plasenta. dkk (1999) mendapatkan angka kejadian dari 30 sampel pasien preeklampsia di RSU Dr. Retensi Na dan air 3. Hasan Sadikin Bandung paling banyak terjadi pada ibu dengan paritas 1-3 yaitu sebanyak 19 kasus dan juga paling banyak terjadi pada usia kehamilan diatas 37 minggu yaitu sebanyak 18 kasus. 2003). 2006). preklamsia juga dipengaruhi oleh paritas. C. ETIOLOGI Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti.

namun belum ada yang memberikan jawaban yang memuaskan. 1. Terjadi karena penurunan aliran darah di uterus Defisiensi kalsium. 3. Adapun teori-teori tersebut adalah . 6. 10 . Pada preeklampsia terjadi komplek imun humoral dan aktivasi komplemen. Iskemik dari uterus. sedangkan pada kehamilan normal prostasiklin meningkat. Peran Prostasiklin dan Tromboksan Pada preeklampsia dan eklampsia didapatkan kerusakan pada endotel vaskuler.Banyak teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya. oleh karena itu disebut “penyakit teori”. mempertahankan vasodilatasi dari pembuluh darah (Joanne. Teori sekarang yang dipakai sebagai penyebab preeklampsia adalah teori “iskemia plasenta”. 2002). Diketahui bahwa kalsium berfungsi membantu Disfungsi dan aktivasi dari endotelial. 5. sehingga sekresi vasodilatator prostasiklin oleh sel-sel endotelial plasenta berkurang. 1998). Peran Faktor Imunologis Preeklampsia sering terjadi pada kehamilan I karena pada kehamilan I terjadi pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna. Hal ini dapat diikuti dengan terjadinya pembentukan proteinuria. hipertensi dan penurunan volume plasma (Y. Namun teori ini belum dapat menerangkan semua hal yang berkaitan dengan penyakit ini (Rustam. 2006). Fibronektin diketahui dilepaskan oleh sel endotel yang mengalami kerusakan dan meningkat secara signifikan dalam darah wanita hamil dengan preeklampsia. Joko. Preeklampsia meningkat pada anak dari ibu yang menderita preeklampsia. Kerusakan sel endotel vaskuler maternal memiliki peranan penting dalam patogenesis terjadinya preeklampsia. Akibat perubahan ini menyebabkan pengurangn perfusi plasenta sebanyak 50%. 2. Sekresi tromboksan oleh trombosit bertambah sehingga timbul vasokonstrikso generalisata dan sekresi aldosteron menurun. Peran Faktor Genetik Preeklampsia hanya terjadi pada manusia. 4.

Protein urin lebih dari 3 gr / liter. Sama seperti preeklampsia ringan. perdarahan pada retina. tromosit kurang dari 100. d. kepala.3 gr atau lebih dengan tingkat kualitatif positif 1 pemeriksaan 6 jam. b. c.Kenaikan kadar fibronektin sudah dimulai pada trimester pertama kehamilan dan kadar fibronektin akan meningkat sesuai dengan kemajuan kehamilan (Koerniawan. gangguan penglihatan. 2. interval pemeriksaan 6 jam. sampai positif 2 pada urin katerer atau urin aliran pertengahan. c. Drajat). KLASIFIKASI PRE EKLAMSIA 1. Peningkatan tanda gan gejala pre eklamsia berat memberikan petunjuk akan terjadinya pre eklamsia. e. Perbedaan preeklampsia ringan dengan preeklampsia berat. kenaikan TD diastolik pada angka ≥ 15 mmHg atau hasil pemeriksaan sebesar 140/90 mmHg dua kali dengan jarak 6 jam. Pre Eklamsi Berat (PEB) a. b. Tekanan darah 160 / 110 mmHg. yaitu : Efek Efek Maternal Tekanan Darah Preeklampsia ringan Kenaikan TD sistolik pada angka ≥ 30 mmHg atau lebih. d.5 Kg/minggu selama trimester kedua dan ketiga atau peningkatan BB yang tibatiba sebesar 2 Kg/minggu 11 Preeklampsia berat Peningkatan menjadi ≥ 160/110 mmHg pada dua kali pemeriksaan dengan jarak 6 jam pada ibu hamil yang beristirahat di tempat tidur. Keluhan subjektif : nyeri epigastrium. odema paru. Protein uria 0. dan sianosis gangguan kesadaran. Oligouria.000 /mm. D. urin kurang dari 3 cc / 24 jam. Peningkatan BB > 0. Tekanan darah sistole 140 atau kenaikan 30 mmHg dengan interval Tekanan darah diastolik 90 atau kenaikan 15 mmHg dengan Kenaikan berat badan 1 kg atau lebih dalam 1 minggu. Pre Eklamsi Ringan (PER) a. nyeri Pemeriksaan : kadar enzim hati meningkat disertai ikterus. Peningkatan BB .

Hiperfleksi + 3. ≥ 30 ml/jam. 300 mg/L dalam 24 jam atau > 1 g/L secara random dengan memakai contoh urine siang hari yang dikumpulkan pada dua waktu dengan jarak 6 jam secara terpisah karena pengurangan protein dapat bervariasi.Proteinuria Edema kapan saja. E. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui 12 . bunyi pulmoner tidak terdengar. PATOFISIOLOGI Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. 120 ml/4jam. jari. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Refleks Haluaran urin Nyeri Kepala Gangguan penglihatan Iritabilitas Nyeri ulu hati Creatinin serum Trombositopeni a Peningkatan AST Hematokrit Efek pada janin Perfusi plasenta Premature placental aging Edema umum. lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilakui oleh satu sel darah merah. Pada beberapa kasus. Keluaran sama dengan Oliguria. 5-10 g/L dalam jangka waktu 24 jam atau ≥ + 2 protein dipstick. Beberapa pembengkakan di mata. < 30 ml/jam atau masukan. tidak ada Hiperfleksi ≥ + 3. jari. klonus klomus di pergelangan kaki. pembengkakan yang dapat dilihat pada mata. DJJ deselerasi lambat. Sementara Berat Tidak ada Kabur Sementara Tidak ada Normal Tidak ada Minimal Meningkat Menurun Tidak jelas Berat Ada Meningkat Ada Jelas Meningkat Perfusi menurun. wajah. bunyi paru bisa terdengar. Pada waktu lahir plasenta terlihat lebih kecil daripada plasenta normal. wajah. dipergelangan kaki. maka tenanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi.

Perubahan kardiovaskuler Gangguan fungsi kardiovaskuler yang parah sering terjadi pada preeklamsia dan eklampsia.2003). mungkin karena retensi air dan garam. Kerusakan hepar dari nekrosis hepatoseluler menyebabkan nyeri epigastrium dan peningkatan tes fungsi hati.2003).tromboxan) yang dapat menyebabkan vasospasme dan agregasi platelet. Infark plasenta dan obstruksi plasenta menyebabkan pertumbuhan janin terhambat bahkan kematian janin dalam rahim (Michael.sebabnya. Wanita peningkatan dengan respon hipertensi terhadap pada kehamilan substansi dapat mengalami (seperti berbagai endogen prostaglandin. Peningkatan hemolisis microangiopati menyebabkan anemia dan trobositopeni. jumlah air dan natrium dalam tubuh lebih banyak pada penderita preeklamsia dan eklampsia dari pada wanita hamil 13 . Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus (Sinopsis Obstetri. Penumpukan trombus dan perdarahan dapat mempengaruhi sistem saraf pusat yang ditandai dengan sakit kepala dan defisit syaraf lokal dan kejang. Nekrosis ginjal dapat menyebabkan penurunan laju filtrasi glomelurus dan proteinuria. Berbagai gangguan tersebut pada dasarnya berkaitan dengan peningkatan afterload jantung akibat hipertensi. 2. Pada preeklampsia yang berat dan eklampsia dapat terjadi perburukan patologis pada sejumlah organ dan sistem yang kemungkinan diakibatkan oleh vasospasme dan iskemia (Cunniangham. Perubahan pada organ : 1. preload jantung yang secara nyata dipengaruhi oleh berkurangnya secara patologis hipervolemia kehamilan atau yang secara iatrogenik ditingkatkan oleh larutan onkotik / kristaloid intravena. Halaman 199). meningkatnya kardiakoutput dan peningkatan tahanan pembuluh perifer. Jilid I. Manifestasi terhadap kardiovaskuler meliputi penurunan volume intavaskuler. Metablisme air dan elektrolit Hemokonsentrasi yang menyerupai preeklampsia dan eklampsia tidak diketahui penyebabnya . dan aktifasi endotel disertai ekstravasasi kedalam ekstravaskuler terutama paru (Cunningham.2005).

Konsentrasi kalium. Uterus Aliran darah ke plasenta menurun dan menyebabkan gangguan pada plasenta. Otak Pada penyakit yang belum berlanjut hanya ditemukan edema dan anemia pada korteks serebri.biasa atau penderita dengan hipertensi kronik. Gejala lain yang menunjukkan pada preeklampsia berat yang mengarah pada eklampsia adalah adanya skotoma.2005).2005). dan klorida dalam serum biasanya dalam batas normal (Trijatmo. dan protein tidak mununjukkan perubahan yang nyata pada preeklampsia.1998). diplopia dan ambliopia. Pada preeklampsia dan eklampsia sering terjadi peningkatan tonus rahim dan kepekaan terhadap rangsangan. 4. 6. Penderita preeklamsia tidak dapat mengeluarkan dengan sempurna air dan garam yang diberikan. sehingga terjad partus prematur. kristaloid. Elektrolit. sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen terjadi gawat janin. MANIFESTASI KLINIS 14 . Selain itu dapat terjadi ablasio retina yang disebabkan oleh edema intraokuler dan merupakan salah satu indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan. sedangkan penyerapan kembali tubulus tidak berubah. 1998). Hal ini disebabkan oleh adaanya perubahan peredaran darah dalam pusat penglihatan dikorteks serebri atau didalam retina (Rustam. Hal ini disebabkan oleh filtrasi glomerulus menurun. F. natrium. 3. Bisa juga karena aspirasi pnemonia atau abses paru (Rustam. Mata Dapat dijumpai adanya edema retina dan spasme pembuluh darah. Paru-Paru Kematian ibu pada preeklampsia dan eklampsia biasanya disebabkan oleh edema paru yang menimbulkan dekompensasi kordis. 5. pada keadaan yang berlanjut dapat ditemukan perdarahan (Trijatmo.

yaitu : 1. penglihatan kabur. diplopia. hiperefleksia. b. peningkatan tekanan sistolik 30 mmHg dan diastolik 15 mmHg atau tekanan darah meningkat lebih dari 140/90 mmHg. perubahan kesadaran. skotoma. pendarahan otak (Michael. atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih.2005). Sedangkan berdasarkan klasifikasinya manifestasi klinis dari preeklampsia adalah sebagai berikut. Proteinuria kuantitatif ≥ 0. 2. Preeklampsia berat. Selain itu kita juga akan menemukan takikarda. b. Proteinuria 5 gr atau lebih perliter dalam 24 jam atau kualitatif 3+ atau 4+ c. Tekanan darah 140/90 mmHg. 2005). 2. yaitu : 1. atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih setelah 20 minggu kehamilan dengan riwayat tekanan darah normal. bila disertai keadaan sebagai berikut : a. 15 . Preeklampsia ringan. Oligouri.3 gr perliter atau kualitatif 1+ atau 2+ pada urine kateter atau midstearm.Tanda dan gejala pada ibu hamil dengan preeklampsia secara umum adalah sebagai berikut. edema dan proteinuria bertambah meningkat (Trijatmo. Gejala subjektif Pada preeklampsia didapatkan sakit kepala di daerah frontal. takipnu. hipertensi ensefalopati. yaitu jumlah urine kurang dari 500 cc per 24 jam. nyeri di daerah epigastrium. Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih. Gejala-gejala ini sering ditemukan pada preeklampsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklamsia akan timbul. Tanda Objektif Pada pemeriksaan fisik yang dapat ditemukan meliputi. Tekanan darahpun akan meningkat lebih tinggi. bila disertai keadaan sebagai berikut : a. edema paru. Tekanan darah pada preklamsia berat meningkat lebih dari 160/110 mmHg dan disertai kerusakan beberapa organ. mual atau muntah-muntah.

Ultrasonografi Ditemukan retardasi pertumbuhan janin intra uterus. Pernafasan intrauterus lambat. aktivitas janin lambat. 16 . Adanya gangguan serebral. Serum Glutamat pirufat transaminase ( SGPT ) meningkat Serum glutamat oxaloacetic trasaminase ( SGOT ) Total protein serum menurun ( N= 6. 2004). Pertumbuhan janin terhambat (Lanak. c. Tes kimia darah Asam urat meningkat ( N= 2. Pemeriksaan Fungsi hati 1) 2) 3) 4) 5) 6) Bilirubin meningkat ( N= < 1 mg/dl ) LDH ( laktat dehidrogenase ) meningkat Aspartat aminomtransferase ( AST ) > 60 ul.7 g/dl ) ( N= 15-45 u/ml ) meningkat ( N= <31 u/l ) d. Urinalisis Ditemukan protein dalam urine. Pemeriksaan Laboratorium a. dan volume cairan ketuban sedikit. gangguan penglihatan. G.7 mg/dl ) 2. Terdapat edema paru dan sianosis f. PEMERIKSAAN PENUNJANG PREEKLAMPSIA 1. Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan darah 1) 2) 3) Penurunan hemoglobin ( nilai rujukan atau kadar normal Hematokrit meningkat ( nilai rujukan 37 – 43 vol% ) Trombosit menurun ( nilai rujukan 150 – 450 ribu/mm3 ) hemoglobin untuk wanita hamil adalah 12-14 gr% ) b. e.4-2. dan rasa nyeri di epigastrium.7-8.d. Radiologi a. Trombositopeni g. Gangguan fungsi hati h.

memang merupakan kemajuan yang penting dari pemeriksaan antenatal yang baik. Kardiotografi Diketahui denyut jantung janin lemah. I. Walaupun timbulnya preeklamsia tidak dapat dicegah sepenuhnya. H. Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan. Diet tinggi protein dan rendah lemak. namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi.b. namun frekuensinya dapat dikurangi dengan pemberian penerangan secukupnya dan pelaksanaan pengawasannya yang baik pada wanita hamil. vit c / vit e dan zat besi 3) Kunjungan ulang dilakukan 1 minggu kemudian untuk menilai perkembangan kehamilan dan kesejahteraan janin. 4) Diet biasa (tidak perlu diet rendah garam) b. PENCEGAHAN Pemeriksaan antenatal yang teratur dan teliti dapat menemukan tandatanda dini preeklampsia. garam dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan. Istirahat tidak selalu berarti berbaring di tempat tidur. Mengenal secara dini preeklampsia dan segera merawat penderita tanpa memberikan diuretika dan obat antihipertensif. karbohidrat. dan dalam hal itu harus dilakukan penanganan semestinya. dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Kita perlu lebih waspada akan timbulnya preeklampsia dengan adanya faktor-faktor predisposisi seperti yang telah diuraikan di atas. Preeklamsia ringan (PER) a. PENATALAKSANAAN 1. Preeklamsia berat (PEB) 17 . Rawat jalan 1) Anjurkan istirahat baring 2 jam siang hari dan tidur > 8 jam malam hari jika susah tidur beri fenobarbital 3 x 30 mg / hari 2) Diberikan obat penunjang antara lain : vit b komplex. Rawat tinggal Kriteria untuk rawat tinggal bagi px yang telah diterapi dalam 2x kunjungan selang 1 minggu tidak ada perbaikan klinis / laboratorium 2.

Pre-eklamsi berat pada kehamilan diatas 37 minggu 1) Penderita dirawat inap a) Istirahat mutlak dan ditempatkan dalam kamar isolasi b) Berikan diit rendah garam dan tinggi protein c) Berikan suntikan sulfas magnesikus 8 gr intramuskuler. pemberian sulfas magnesikus dapat diteruskan lagi selama 24 jam sampai dicapai criteria pre-eklamsi ringan (kecuali ada kontraindikasi) c) Selanjutnya ibu dirawat. serta berat badan ditimbang seperti pada pre-eklamsi ringan. maka penatalaksanaan kasus sama seperti pada kehamilan diatas 37 minggu b. dan harus tersedia antidotumnya yaitu kalsium glukonas 10% dalam ampul 10 cc f) Infus dekstrosa 5 % dan Ringer laktat 18 . dieresis 100 cc dalam 4 jam terakhir. dan keadaan janin dimonitor. Preeklamsia berat pada kehamilan kurang dari 37 minggu 1) Jika janin belum menunjukan tanda-tanda maturitas paruparu dengan uji kocok dan rasio L/S. respirasi 16 kali per menit. maka penanganannya adalah sebagai berikut : a) Berikan suntikan sulfas magnesikus dengan dosis 8 gr intramusuler kemudian disusul dengan injeksi tambahan 4 gr intramuskuler setiap (selama tidak ada kontraindikasi) b) Jika ada perbaikan jalannya penyakit. diperiksa. sambil mengawasi timbulnya lagi gejala d) Jika dengan terapi di atas tidak ada perbaikan. 4 gr di bokong kanan dan 4 gr di bokong kiri d) Suntikan dapat diulang dengan dosis 4 gr setiap 4 jam e) Syarat pemberian MgSO4 adalah: reflex patella positif. dilakukan terminasi kehamilan dengan induksi partus atau tindakan lain tergantung keadaan 2) Jika pada pemeriksaan telah dijumpai tanda-tanda kematangan paru janin.a.

jadi ibu dilarang mengedan perdarahan yang disebabkan atonia uteri kontraindikasi.Untuk itu dapat disuntikan 1 ampul intravena Lasix.2) Berikan obat anti hipertensi : injeksi katapres 1 ampul i. kecuali bila terdapat edema umum.Untuk induksi dipakai oksitosin (pitosin atau sintosinon) 10 satuan dalam infuse tetes 5) 6) 7) Kala II harus dipersingkat dengan ekstrasi vakum atau Jangan diberikan methergin postpartum. kalau tidak ada forceps. kecuali bila terjadi Pemberian sulfas magnesikus. dilakukan induksi partus dengan atau tanpa amniotomi.m. edema paru dan kegagalan jantung kongerstif. kemudian diteruskan dengan dosis 4 gr setiap 4 jam dalam 24 jam postpartum 8) Bila ada indikasi obstetric dilakukan seksio sesarea. 19 . dan selanjutnya dapat diberikan tablet katapres 3 kali ½ tablet atau 2 kali ½ tablet sehari 3) Diuretika tidak diberikan. 4) Segera setelah pemberian sulfas magnesikus kedua.

Tujuan Diet 1) Mencapai dan mempertahankan status gizi optimal 2) Mencapai dan mempertahankan tekanan darah normal 3) Mencegah dan mengurangi retensi garam atau air 4) Mencapai keseimbangan nitrogen 5) Menjaga agar penambahan BB tdk melebih normal 6) Mengurangi atau mencegah timbulnya faktor resiko lain atau penyakit baru pada saat kehamilan atau setelah melahirkan b. Penambahan BB diusahakan dibawah 3 kg/bulan atau dibawah 1 Kg/minggu. Pada keadaan oliguria. Penambahan energi tidak lebih dari 300 Kkal dari makanan atau diet sebelum hamil 2) Garam diberikan rendah sesuai dengan berat ringannya retensi garam atau air. 3) 4) 5) 6) 7) 8) Protein tinggi (1½ – 2 g/kg berat badan) Lemak sedang. vit C & B6 diberikan sedikit lbh tinggi Mineral cukup terutama kalsium dan kalium Bentuk makanan disesuaikan dg kemampuan pasien. Syarat Diet 1) Energi dan semua zat gizi cukup. Cairan diberikan 2500 ml sehari. Diet a.3. muntah. yg terdiri dari susu dan sari buah 20 . Macam Diet Preeklampsia 1) Diet Preeklampsia I a) Diberikan kepada pasien dengan preeklampsia berat b) Makanan diberikan dalam bentuk cair. Dalam keadaan berat makanan diberikan secara berangsur. tunggal dan lemak tdk jenuh ganda. cairan dibatasi dan disesuaikan dengan cairan yg keluar melalui urine. keringat dan pernafasan c. sesuai dengan kemampuan pasien menerima makanan . sebagian lemak berupa lemak tdk jenuh Vitamin cukup.

Pada Janin a. Pada Ibu a. liver. Gagal jantung hingga syok dan kematian. Prematur c. J. elevated.c) Jumlah cairan diberikan paling sedikit 1500 ml sehari per oral dan kekurangannya diberikan secara parental d) Makanan ini kurang energi dan zat gizi karena itu hanya diberikan 1 – 2 hari 2) Diet Preeklampsia II kepada pasien preeklampsia yg penyakitnya tdk begitu besar b) Makanan berbentuk saring atau lunak. c) Diberikan sebagai diet rendah garam I d) Makanan ini cukup energi dan zat gizi lainnya 3) Diet Preeklampsia III kepada pasien dengan preeklampsia ringan. Terhambatnya pertumbuhan dalam uterus b. KOMPLIKASI 1. Ablasio retina g. Kelainan pembekuan darah ( DIC ) e. Pendarahan subkapsula hepar d. Asfiksia neonatorum d. Solusio plasenta c. Eklapmsia b. Sindrom HELPP ( hemolisis. b) Makanan ini mengandung protein tinggi dan rendah garam . 2.enzymes dan low platelet count ) f. d) Jumlah energi hrs disesuaikan dengan kenaikan berat badan yg boleh lebih dari 1 kg per bulan . Kematian dalam uterus a) Sebagai makanan perpidahan dari diet preeklampsia II atau a) Sebagai makanan perpindahan dari diet preeklampsia I atau 21 . c) Diberikan dalam bentuk lunak atau biasa .

Peningkatan angka kematian dan kesakitan perinatal 22 .e.

Data Obyektif : a. Riwayat kesehatan ibu sekarang : terjadi peningkatan tensi. penglihatan kabur c. Pemeriksaan penunjang : 1) Tanda vital yang diukur dalam posisi terbaring atau tidur. Riwayat kehamilan: riwayat kehamilan ganda. Data subyektif : a. nyeri epigastrium. PENGKAJIAN Data yang dikaji pada ibu bersalin dengan pre eklampsia adalah : 1. lokasi edema c. mola hidatidosa. hipertensi kronik. Psikososial spiritual : Emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan kecemasan. Inspeksi : edema yang tidak hilang dalam kurun waktu 24 jam b. Riwayat kesehatan ibu sebelumnya : penyakit ginjal. Perkusi : untuk mengetahui refleks patella sebagai syarat pemberian SM ( jika refleks + ) e. anemia. DM d. Pola nutrisi : jenis makanan yang dikonsumsi baik makanan pokok maupun selingan f. letak janin. mual muntah. Umur biasanya sering terjadi pada primi gravida . oedema. vaskuler esensial.BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN PREEKLAMPSIA A. < 20 tahun atau > 35 tahun b. diukur 2 kali dengan interval 6 jam 23 . hidramnion serta riwayat kehamilan dengan pre eklamsia atau eklamsia sebelumnya e. 2. Auskultasi : mendengarkan DJJ untuk mengetahui adanya fetal distress d. pusing. oleh karenanya perlu kesiapan moril untuk menghadapi resikonya. Palpasi : untuk mengetahui TFU.

serum kreatini meningkat. untuk mengetahui keadaan janin 6) NST : untuk mengetahui kesejahteraan janin B. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan tidak terjadi kejang pada ibu Kriteria Hasil : 24 . 2. Resiko tinggi terjadinya kejang pada ibu berhubungan dengan Resiko tinggi terjadinya foetal distress pada janin berhubungan Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan kontraksi Resiko tinggi terjadinya trauma ibu berhubungan dengan Gangguan perfusi pada jaringaan ginjal berhubungan dengan Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan Gangguan psikologis ( cemas ) berhubungan dengan koping yang penurunan fungsi organ ( vasospasme dan peningkatan tekanan darah ) dengan perubahan pada plasenta uterus dan pembukaan jalan lahir penurunan fungsi organ ( vasospasme dan peningkatan tekanan darah ) vasokontriksi. INTERVENSI 1.3 gr/lt atau +1 hingga +2 pada skala kualitatif ). Resiko tinggi terjadinya kejang pada ibu berhubungan dengan penurunan fungsi organ (vasospasme dan peningkatan tekanan darah). 6. 7. uric acid biasanya > 7 mg/100 ml 3) Berat badan : peningkatannya lebih dari 1 kg/minggu 4) Tingkat kesadaran . DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. spasme dan edema glomerulus retensi air dan garam tidak efektif terhadap proses persalinan C.2) Laboratorium : protein uri dengan kateter atau midstream ( biasanya meningkat hingga 0. 3. BJ urine meningkat. kadar hematokrit menurun. 5. penurunan GCS sebagai tanda adanya kelainan pada otak 5) USG . 4.

ginjal.1) Kesadaran : compos mentis. Kejang akan meningkatkan kepekaan uterus yang akan memungkinkan terjadinya persalinan 5) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian anti hipertensi dan SM R/. GCS : 15 ( 4-5-6 ) 2) Tanda-tanda vital : 3) Tekanan Darah : 100-120/70-80 mmHg Suhu : 36-37 C 4) Nadi : 60-80 x/mnt RR : 16-20 x/mnt Intervensi : 1) Monitor tekanan darah tiap 4 jam R/. Tekanan diastole > 110 mmHg dan sistole 160 atau lebih merupkan indikasi dari PIH 2) Catat tingkat kesadaran pasien R/. reflek patella dalam. jantung dan paru yang mendahului status kejang 4) Monitor adanya tanda-tanda dan gejala persalinan atau adanya kontraksi uterus R/.dan respirasi. Gejala tersebut merupakan manifestasi dari perubahan pada otak. penurunan nadi. 25 . Resiko tinggi terjadinya foetal distress pada janin berhubungan dengan perubahan pada plasenta Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan tidak terjadi foetal distress pada janin Kriteria Hasil : 1) DJJ ( + ) : 12-12-12 2) Hasil NST : 3) Hasil USG . Penurunan kesadaran sebagai indikasi penurunan aliran darah otak 3) Kaji adanya tanda-tanda eklampsia ( hiperaktif. Anti hipertensi untuk menurunkan tekanan darah dan SM untuk mencegah terjadinya kejang 2. nyeri epigastrium dan oliguria ) R/.

Kortikosteroid merangsang kematangan surfactant paru janin sehingga bila lahir premature bayi lebih siap. Reaksi terapi dapat menurunkan pernafasan janin dan fungsi jantung serta aktifitas janin 5) Kolaborasi dengan medis dalam pemeriksaan USG dan NST R/. USG dan NST untuk mengetahui keadaan/kesejahteraan janin 6) Kolaborasi untuk pemberian kortikosteroid R/. Penurunan fungsi plasenta mungkin diakibatkan karena hipertensi sehingga timbul IUGR 3) Jelaskan adanya tanda-tanda solutio plasenta ( nyeri perut. perdarahan. prematur dan solusio plasenta 2) Kaji tentang pertumbuhan janin R/. Peningkatan DJJ sebagai indikasi terjadinya hipoxia. Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan kontraksi uterus dan pembukaan jalan lahir Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan ibu mengerti penyebab nyeri dan dapat mengantisipasi rasa nyerinya Kriteria Hasil : 1) Ibu mengerti penyebab nyerinya 2) Ibu mampu beradaptasi terhadap nyerinya Intervensi : 1) Kaji tingkat intensitas nyeri pasien 26 . rahim tegang.Intervensi : 1) Monitor DJJ sesuai indikasi R/. 3. aktifitas janin turun ) R/. Ibu dapat mengetahui tanda dan gejala solutio plasenta dan tahu akibat hipoxia bagi janin 4) Kaji respon janin pada ibu yang diberi SM R/.

dengan demikian akan dapat menentukan tindakan perawatan yang sesuai dengan respon pasien terhadap nyerinya 2) Jelaskan penyebab nyerinya R/. terjadi vasodilatasi pembuluh darah. Pengetahuan terhadap proses persalinan diharapkan dapat mengurangi emosional ibu yang maladaptif 3) Gali dan tingkatkan mekanisme koping ibu yang efektif 27 . untuk mengalihkan perhatian pasien 4.R/. Tingkat kecemasan ringan dan sedang bisa ditoleransi dengan pemberian pengertian sedangkan yang berat diperlukan tindakan medikamentosa 2) Jelaskan mekanisme proses persalinan R/. Gangguan psikologis ( cemas ) berhubungan dengan koping yang tidak efektif terhadap proses persalinan Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan kecemasan ibu berkurang atau hilang Kriteria Hasil : 1) Ibu tampak tenang 2) Ibu kooperatif terhadap tindakan perawatan 3) Ibu dapat menerima kondisi yang dialami sekarang Intervensi : 1) Kaji tingkat kecemasan ibu R/. expansi paru optimal sehingga kebutuhan 02 pada jaringan terpenuhi 4) Bantu ibu dengan mengusap/massage pada bagian yang nyeri R/. Ibu dapat memahami penyebab nyerinya sehingga bisa kooperatif 3) Ajarkan ibu mengantisipasi nyeri dengan nafas dalam bila HIS timbul R/. Ambang nyeri setiap orang berbeda . Dengan nafas dalam otot-otot dapat berelaksasi .

Oedema serebral dan vasokontriksi dapat dievaluasi dari tanda subjektif. penurunan nadi dan respirasi. nyeri epigastrium dan oliguri) R/. batasi pengunjung. ibu dapat mempunyai motivasi untuk menghadapi keadaan yang sekarang secara lapang dada asehingga dapat membawa ketenangan hati 5. Penurunan kesadaran sebagai indikasi penurunan sirkulasi otak 3) Kaji tanda eklamsi (hiperaktif. R/. tingkah laku dan gangguan retina 2) Kaji tingkat kesadaran klien R/. spasme dan edema glomerulus 28 . Oedema keseluruhan dan vasokontriksi merupakan manifestasi dan perubahan pada SSP. Jantung dan Paru-Paru 4) Tutup kamar atau ruangan. Mengurangi rangsangan lingkungan yang dapat menstimulasi otak dan dapat menimbulkan kejang. Kecemasan akan dapat teratasi jika mekanisme koping yang dimiliki ibu efektif 4) Beri support system pada ibu R/. Gangguan Tujuan : Perfusi jaringan ginjal lancar Intervensi : 1) Anjurkan pasien bedrest dengan posisi miring. perfusi pada jaringaan ginjal berhubungan dengan vasokontriksi.R/. reflek patella dalam. tingkatkan waktu istirahat. Ginjal. Tujuan : Tidak terjadi trauma pada ibu Intervensi : 1) Kaji tanda-tanda perubahan fungsi otak R/. Resiko tinggi terjadinya trauma ibu berhubungan dengan penurunan fungsi organ (vasospasme dan peningkatan tekanan darah). 6.

4) Monitor output urine. Peningkatan kadar tersebut sebagai indikasi penurunan kondisi klien 7. HCT 3X Hb merupakan indikasi adanya Hemokonsentrasi. Identifikasi adanya Hemokonsentrasi. indicator kerja ginjal. adanya peningkatan tensi abnormal. asam urat dan BUN R/. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan retensi air dan garam Tujuan : Keseimbangan cairan terjaga Intervensi : 1) Timbang BB secara rutin R/. R/. 29 . 2) Monitor adanya edema R/. edema sebagai tanda gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit 3) Catat kadar Hb dan Hematokrit R/. Peningkatan BB > 1 kg/minggu sebagai indikasi adanya retensi abnormal pada klien. Bedrest dapat meningkatkan cardius output dan urine output total dan menurunkan aktivitas kelenjar adrenal 2) Observasi intake dan output serta BJ urine R/. Oliguri sebagai indikasi hipovelemik sedang dan ginjal terganggu 3) Cek kadar kreatinin. suara parau dan tanda vital.R/. indicator adanya udema paru.

mual atau muntahmuntah. Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke 3 kehamilan. Ibu yang hamil hendaknya memeiksakan kehamilannya secara teratur untuk mengetahui jika ada tanda-tanda dini preeklampsia. penglihatan kabur. oleh karena itu hendaknya upaya preventif dilakukan agar tidak terjadi masalah tersebut. skotoma. 30 . tetapi dapat terjadi sebelumnya. Banyak teori – teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya. dan dalam hal itu harus dilakukan penanganan semestinya. diplopia. 2. SIMPULAN Pre Eklamsia adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi. nyeri di daerah epigastrium. SARAN 1. Preeklampsia adalah salah satu penyakit yang berbahaya pada ibu hamil.BAB IV PENUTUP A. Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. B. Oleh karena itu disebut “penyakit teori” namun belum ada memberikan jawaban yang memuaskan. Pada preeklampsia didapatkan sakit kepala di daerah frontal. odem dan protein uria yang timbul karena kehamilan. Pada preeklampsia yang berat dan eklampsia dapat terjadi perburukan patologis pada sejumlah organ dan sistem yang kemungkinan diakibatkan oleh vasospasme dan iskemia. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan teliti dapat menemukan tandatanda dini preeklampsia.

et all.org/afp/20041215/2317. L. (2007).aafp.M. Preeclampsia.G. Williams Obstetrics.. 21st ed. (2004).babycenter.DAFTAR PUSTAKA Brooks. Availablefrom:http://www. A. B..com/emerg/topic480. Preeclampsia. Pregnancy.ivillage.health. (2005.html#5. Available: http://www. F. Desember 03) Cunningham. Musalli. D. Preeclamsia. McGraw-Hill Companies. (2006. 2003. January 05 – Last update).G.com/refcap/pregnancy/pregcomplications/257.com/pregnancybacics/preeclamsi a. March 15 – Review date). Available from: http://www. Desember 03) Wagner. (Accesed: 2011. & Linden.obgyn. (Accesed: 2011. Diagnosis And Management Of Preeclampsia.cmf.emedicine..J.html. Desember 03) Tomasulo.htm (Accesed: 2011. Desember 03) 31 . (Accesed: 2011. Available from: http://www. P. & Lubetkin.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful