REALITA NIKAH MUT’AH (KAWIN KONTRAK

)

Oleh: MUTOHAROH 3215080174 PENDIDIKAN FISIKA REGULER

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2010/2011

1

Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis dengan judul “Realita Nikah Mut’ah (Kawin Kontrak)” yang di susun berdasarkan data-data yang di peroleh dari berbagai sumber informasi. Karya Tulis ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah Pendidikan Agama Islam II. Penulis sangat berterima kasih kepada Ibu Zakiya selaku dosen pembimbing mata kuliah Pendidikan Agama Islam II yang telah membiimbing penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Selain itu, penulis juga mengucapkan terima kasih banyak terhadap teman-teman sekalian yang telah membantu banyak dalam penusunan tugas ini. Walaupun makalah ini telah selesai, namun penulis menyadari bahwa penulis bukanlah manusia sempurna sehingga penulis sangat menyadari bahwa makalah ini masih sangat banyak memiliki kesalahan dan kekurangan-kekurangan sehingga makalah ini sangatlah jauh dari kata sempurna. Maka dari itu, penulis sangatlah berharap mendapat masukan-masukan mengenai makalah ini agar kedepannya penulis dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan dan kekurangan-kekurangan yang ada pada makalah ini di makalah selanjutnya. Penulis berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi diri sendiri dan para pembaca pada umumnya. Dan penulis berharap bahwa makalah ini juga bisa menjadi salah satu sumber informasi bagi para pembaca yang sedang mengkaji masalah yang sama dengan makalah ini Jakarta, Oktober 2010 Penulis.

2

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ................................................................................................. i DAFTAR ISI ............................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................................... 1 B. Perumusan Masalah........................................................................................... 2 C. Kegunaan Penulisan Karya Tulis ..................................................................... 2 D. D.Tujuan Penulisan Karya Tulis....................................................................... 2 E. Metodologi........................................................................................................ 3

BAB II PEMBAHASAN A. TINJAUAN TENTANG PERKAWINAN
1. Makna Perkawinan Bagi Manusia..................................................................... 4 2. Tujuan Perkawinan............................................................................................ 8 3. Syarat-syarat Sahnya Perkawinan..................................................................... 8

B. TINJAUAN TENTANG NIKAH MUT’AH
1. 2. 3. 4.

Definisi nikah mut’ah........................................................................................ 9 Tarikh nikah mut’ah........................................................................................ 10 Menurut UU No.1 Tahun 1974....................................................................... 11 Menurut Hukum Agama Islam........................................................................ 14 Menurut Pandangan Kaum Sunni dan Syiah................................................... 17 Tinjauan Historis dan Sosiologogis ................................................................ 21 Menurut Sosial & Budaya .............................................................................. 23 Menurut Ekonomi ........................................................................................... Fakta Nikah Mut’ah di Indonesia ................................................................... 25

5.
6. 7. 8.

24 9.

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ..................................................................................................... 27 B. Saran ............................................................................................................... 27 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 29

3

Namun kenyataannya dalam perkembangan masyarakat sekarang ini ada yang menyalahgunakan perkawinan dengan melakukan nikah mut’ah seperti yang terjadi kota tertentu seperti bogor . yang berlainan jenis kelaminnya. Oleh karena itu dibutuhkan suatu peraturan yang mengatur tentang hidup bersama tersebut. baik yang bersifat jasmani maupun rohani. walaupun dalam sistem yang beraneka ragam. Allah menetapkan adanya aturan tentang perkawinan bagi manusia dengan aturan-aturan yang tidak boleh dilanggar. Istilah nikah mut’ah menggambarkan suatu perkawinan yang dilakukan berdasarkan kontrak yang berisi 4 . manusia tidak boleh berbuat semaunya seperti binatang. baik dengan keinginan mendapat anak keturunannya sendiri. tetapi pada umumnya dapat dikatakan. Hidup bersama antara seorang pria dan wanita tersebut mempunyai akibat yang sangat penting dalam masyarakat. menyalurkan kebutuhan biologis merupakan faktor pendorong yang penting untuk hidup bersama tadi. Pada umumnya. Hidup bersama antara seorang pria dan wanita tersebut tidak selalu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan biologis kedua manusia tersebut saja. sejak dilahirkan manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya di dalam suatu pergaulan hidup. Allah telah memberikan batas dengan peraturan-peraturannya. Hidup bersama manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.BAB I PENDAHULUAN A. Manusia adalah mahluk yang lebih dimuliakan dan diutamakan oleh Allah dibandingkan dengan mahluk-mahluk lainnya. baik yang pengaturannya melalui lembaga-lembaga masyarakat adat maupun denganperaturan perundangan yang dibentuk melalui lembaga kenegaraan serta ketentuanketentuan yang digariskan agama. pada suatu masa tertentu bagi seorang pria maupun seorang wanita timbul kebutuhan untuk hidup bersama dengan manusia lain.yaitu dengan syare’at yang terdapat dalam Kitab-Nya dan Hadist Rasul-Nya dengan hukum-hukum perkawinan. mulai dari yang bersifat sederhana sampai kepada masyarakat yang berbudaya tinggi. LATAR BELAKANG Sudah menjadi kodrat alam. baik terhadap kedua belah pihak maupun terhadap keturunannya serta anggota masyarakat lainnya. maupun hanya untuk memenuhi hawa nafsu belaka. kawin dengan lawan jenis semaunya atau seperti tumbuh-tumbuhan yang kawin dengan perantara angin.Dengan demikian sejak dulu kala hubungan pria dan wanita dalam perkawinan telah dikenal.

perjanjian untuk hidup bersama sebagai suami istri dalam jangka waktu tertentu dengan adanya imbalan. Dengan pembahasan ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan hukum perdata pada umumnya dan hukum perkawinan pada khususnya. Pelaksanaan nikah mut’ah sangat bertentangan dengan UU No. walaupun nikah mut’ah tidak diatur secara khusus karena nikah mut’ah merupakan fenomena baru dalam masyarakat.1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Bagi penulis pembahasan ini merupakan wahana latihan pengembangan ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Tujuan dari nikah mut’ah adalah untuk menyalurkan nafsu birahi tanpa adanya keinginan untuk hidup bersama dan membentuk rumah tangga yang kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa bahkan terkadang juga tidak mengharapkan adanya keturunan. hal ini tentu saja bertentangan dengan tujuan perkawinan. Apa yang melatar belakangi dan menjadi tujuan wanita bersedia melakukan nikah mut’ah? 2. KEGUNAAN a. b. 2. Untuk mengetahui latar belakang dan tujuan wanita melakukan kawin kontrak atau nikah mut’ah. D. RUMUSAN MASALAH 1. Untuk mengetahui proses pelaksanaan kawin kontrak (nikah mut’ah) 5 . TUJUAN Tujuan dari diadakannya penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Dimanakah biasanya nikah mut’ah banyak/sering dilakukan? 3. Bagaimana nikah mut’ah dilihat dari perspektif islam dan dari perspektif budaya norma Indonesia? 4. Wanita yang seperti apakah yang biasanya melakukan nikah mut’ah? 5. B. Mengapa nikah mut’ah diharamkan? C.

jurnal. dan tulisan-tulisan di website. Penulisan ini dilakukan dengan mengumpulkan data-data atau informasi-informasi terkait melalui buku. METODOLOGI Kegiatan penulisan karya tulis ini dilakukan dengan menggunakan metode tinjauan pustaka. 6 .E.

1 Tahun 1974. Perkawinan diharapkan juga akan memberikan kebahagiaan baik lahir maupun batin bagi manusia. manusia dapat memlihara kelestarian jenisnya sehingga manusia keberadaannya tidak akan punah dari dunia ini. 7 . yaitu selalu mencari manusia lainnya untuk hidup bersama dan kemudian berorganisasi. Ikatan batin adalah hubungan tidak formal yang dibentuk dengan kemaunan bersama yang sungguhsungguh yang mengikat kedua pihak saja. Selanjutnya diharapkan adanya keturunan yang merupakan susunan masyarakat kecil dan nantinya akan menjadi anggota masyarakat yang luas. Kebahagiaan yang ingin dicapai bukanlah kebahagiaan yang sifatnya sementara saja. Makna Perkawinan Bagi Manusia Aristoteles.1 Tahun 1974 Menurut ketentuan pasal 1 UU Perkawinan No. dan hanya manusia-manusia yang memiliki kelainan-kelainan sajalah yang mampu hidup mengasingkan diri dari orang-orang lainnya dalam bentuknya yang terkecil. seorang filsuf Yunani. tetapi kebahagiaan yang kekal. Keluarga-keluarga tersebut akan terbentuk dengan adanya perkawinan. Tidak ada ikatan lahir batin berarti tidak ada fungsi sebagai suami istri. antara menusia yang berlainan jenis. karenanya perkawinan yang diharapkan juga adalah perkawinan yang kekal yang dapat berakhir dengan kematian. mengandung harapan bahwa dengan melangsungkan perkawinan akan diperoleh kebahagiaan. Perkawinan merupakan suatu kegiatan yang pokok dan utama untuk mengatur kehidupan rumah tangga. baik materiil maupun spirituil. 1 Tahun 1974. Makna Perkawinan Menurut UU No. Hidup bersama merupakan suatu gejala yang biasa bagi seorang manusia. Suami istri ialah fungsi masing-masing pihak sebagai akibat dari adanya ikatan lahir batin.BAB II PEMBAHASAN A. a. Dalam rumusan UU No. TINJAUAN TENTANG PERKAWINAN 1. Perkawinan memiliki peranan yang sangat penting dalam masyarakat. Ikatan lahir adalah hubungan formal yang dapat dilihat karena dibentuk menurut undang-undang. pernah berkata bahwa manusia adalah zoon politicon. Dengan adanya keturunan yang diperoleh melalui perkawinan. Hubungan mana mengikat kedua pihak dan pihak lain dalam masyarakat. hidup bersama itu dimulai dengan adanya keluarga. yang terkemuka. perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri.

serta harus dilangsungkan memenuhi rukun dan syarat-syaratnya menurut Islam dan negara. Membentuk keluarga bahagia dan sejahtera (makruf. untuk bersama serumah tangga dan untuk berketurunan. Menurut hukum islam. b. Makna Perkawinan Menurut Hukum Agama Islam Pengertian perkawinan menurut hukum islam ialah. nikah adalah akad yang mengandung kebolehan untuk bersetubuh dengan lafadz atau terjemahan dari katakata tersebut. Menurut Syara’. sakinah. membentuk keluarga bahagia dan kekal. Kebahagiaan yang kekal dan abadi penuh kesempurnaan baik moral maupun spiritual. Perkawinan adalah sunatullah.1 Tahun 1974. Yang dinamakan menikah menurut syara’ ialah akad (ijab qabul) antara wali calon istri dan mempelai laki-laki dengan ucapan-ucapan tertentu dan memenuhi rukun dan syaratsyaratnya. Kata kawin menurut istilah hukum islam sama dengan kata nikah atau zawaj. Jadi maksud pengertian tersebut adalah apabila seorang laki-laki dan seorang perempuan sepakat untuk membentuk suatu rumah tangga. nikah adalah perjanjian dan ikatan lahir batin antara laki-laki dengan seorang perempuan yang dimaksudkan. yang sesuai dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa. yang diliputi rasa ketentraman serta kasih sayang dengan jalan yang diridhoi Allah SWT. 2). yang unsur-unsurnya sebagai berikut: 1). adalah perkawinan dapat memenuhi kebutuhan lahiriah sebagai manusia.Makna perkawinan dalam UU No. Dari perkawinan tersebut. sehingga manusia dapat melestarikan jenisnya. maka hendaknya keduanya melakukan akad nikah lebih dahulu. Ikatan yang suci antara seorang pria dan seorang wanita. 3). Dari pengertian perkawinan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa perkawinan menurut hukum islam adalah suatu akad (perjanjian) yang suci untuk hidup sebagai suami istri yang sah. karena perkawinan memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. diharapkan akan lahir keturunan. hakikat nikah itu ialah aqad antara calon istri dan calon suami untuk membolehkan keduanya bergaul sebagai suami istri. mawaddah dan rahmah). Allah SWT sangat menganjurkan perkawinan. Perkawinan dalam bahasa arab ialah nikah. sekaligus terdapat adanya suatu pertautan batin antara suami dan istri yang ditujukan untuk membina suatu keluarga atau rumah tangga yang kekal dan bahagia bagi keduanya. Dengan melaksanakan perkawinan manusia diharapkan dapat memenuhi kebutuhan baik lahiriah 8 . suatu akad atau perikatan guna mengesahkan (menghalalkan) hubungan seksual (kelamin) antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan hidup keluarga.

sehingga jenis manusia tidak akan punah dan dapat terus mengelola bumi dan seluruh isinya yang telah diwariskan Allah SWT. manusia harus bereproduksi untuk melestarikan jenisnya. penggunaan miras dan NAPZA (Narkotika. Manusia bereproduksi melalui lembaga yang disebut perkawinan.maupun batiniah. kemuliaan kemanusiaan. seperti AIDS. Menyelamatkan masyarakat dari dekadensi moral Dengan melaksanakan perkawinan seseorang telah menyelamatkan masyarakat dari dekadensi (kerusakan) moral serta mengamankan pribadi dari kerusakan masyarakat. Namun cara-cara bereproduksi manusia sangat berbeda dengan mahluk-mahluk lainnya. Jika tidak ada perkawinan maka masyarakat akan dipenuhi oleh manusia-manusia tanpa kemuliaan dan garis keturunan yang jelas. Pernikahan dianggap sah apabila dilakukan menurut hukum perkawinan masing-masing agama dan kepercayaan serta tercatat oleh lembaga yang berwenang menurut perundangundangan yang berlaku. 3). Karena Allah SWT telah mewariskan bumi dan segala isinya kepada manusia Sebagai salah satu mahluk hidup di dunia ini. Perkawinan akan menyelamatkan masyarakat dari penyakit menular dan membahayakan yang tersebar akibat perilaku seks bebas. Perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia sejahtera dan kekal selamanya. Manusia adalah mahluk yang paling dimuliakan Allah SWT. Perkawinan adalah salah satu bentuk ibadah yang kesuciannya perlu dijaga oleh kedua belah pihak baik suami maupun istri. dan memperoleh kebahagiaan dari perkawinan tersebut. dan menyebarkan kerusakan. zina dan perbuatan-perbuatan keji lainnya. Makna penting perkawinan bagi manusia diantaranya adalah: 1). Memelihara kelestarian jenis manusia Termasuk kebenaran yang tidak dapat dibantah adalah bahwasanya perkawinan merupakan jalan untuk memperbanyak keturunan manusia dan perbuatan yang pokok dalam usaha pelestarian dan kekelannya. Karena nasab adalah kehormatan mereka yang sejati. sehingga membedakannya dengan mahluk lain. Dari perkawinan ini diharapkan akan lahir keturunan-keturunan. Hasrat untuk menyukai lawan jenis pada manusia haruslah disalurkan dengan jalan yang halal yaitu melalui perkawinan. dekadensi dan kehidupan serba boleh. seorang anak akan jelas garis keturunannya/nasab. karena memiliki akal. 2). Keadaan ini merupakan penyebab kerusakan akhlak. Karena hasrat untuk menyukai lawan jenis telah terpuaskan dengan perkawinan yang sesuai syari’at dan jalan yang halal. Perkawinan memerlukan kematangan dan 9 . Menjaga jalur keluarga (nasab) Dengan perkawinan yang disyari’atkan oleh Allah SWT. Psikotropika dan Zat Adiftif).

S. 24-An Nuur : 32) َ ْ ‫ُ َق‬ ‫ُ ق‬ ‫َ ِ ْ ِ ق ِ ْ َ ِ ق‬ َ‫و أ َن ْك ِحوا اليامى من ْك ُم و الصالحين من عب قادك ُم و إم قائ ِك ُم إ ِن ي َكون ُقوا فق قراء‬ ِ ّ ْ ِ ُ ْ َ ْ َ ‫ي ُغن ِه قققققققم الل قققققققه م قققققققن فض قققققققل ِه و الل قققققققه واس قققققققع علي قققققققم‬ ‫ٌ َ ق‬ ‫ِق‬ ‫ق‬ ‫ْ َ ْق‬ ‫ُ ِق‬ ‫ق‬ ‫ْ ِق‬ ٌ ُ ُ َ ِ (32) Dan kawinlah laki-laki dan perempuan yang janda di antara kamu. Walaupun mereka miskin. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat . baik dari apa yang ditumbuhkan di bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. namun Allah akan memampukan dengan kurniaNya karena Tuhan Allah itu adalah Maha Luas pemberianNya.S. tetapi hewan bahkan juga tumbuhan. dan budakbudak laki-laki dan perempuan yang patut buat berkawin.” Surat Adz Dzariyat ayat 49 ْ ِ َ ّ ُ ٍ ْ َ َ ْ ََ ِ ْ َ ْ َ ْ ُ َّ َ َ ُ ّ َ َ ‫تذكرون لعلكم زوجين خلقنا شيء كل ومن‬ 10 .[tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21 Perkawinan adalah sunatullah. hukum alam di dunia.persiapan fisik dan mental karena menikah / kawin adalah sesuatu yang sakral dan dapat menentukan jalan hidup seseorang Dasar dan Tujuan Pernikahan Menurut Agama Islam : Dasar Hukum Agama Pernikahan / Perkawinan (Q. Tujuan Pernikahan / Perkawinan (Q. Perkawinan tidak hanya dilakukan oleh manusia. Seperti firman Allah dalam Al Qur’an yaitu: Surat Yasin ayat 36 ‫ي َعْل َمون ل وَمما أ َن ْفسهِم وَمن الرض ت ُن ْب ِت مما هاك ُللزواج خل َقَ ال ّذي سب ْحان‬ َ َ َ ْ ّ َ ّ ِ ُ ِ َ َ ُ َ ُ ّ ِ ُ ْ ْ ِ ْ ِ ُ “Maha suci Allah yang telah menjadikan pasangan-pasangan semuanya. 30-An Ruum : 21) َ َ ‫وَمن آيات ِهِ أ َن خل َق ل َك ُم من أ َن ْفسك ُم أ َزواجا ل ِت َسك ُنوا إ ِل َي ْها وَجعَل ب َي ْن َك ُم موَد ّة ً وَرحمة إ ِن في‬ ِ ّ ً َ ْ َ ُ ْ ً َ ْ ْ ِ ُ ْ ِ ْ َ ْ ِ َ ْ َ َ ْ َ ‫ذ َل ِك ليات ل ِقوْم ٍ ي َت َفك ّرون‬ َ ٍ َ َ َ ُ َ Artinya : “Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri. supaya kamu merasa nyaman kepadanya. lagi Maha Mengetahui (akan nasib dan kehendak hambaNya).

memelihara nafsu seksual. Harus ada persetujuan bebas antara kedua calon mempelai 4. akil baligh (dewasa dan berakal). menenangkan pikiran. Harus ada wali nikah 5. Maksud dan tujuan perkawinan dalam Islam adalah sebagai berikut: 1. karena hidup beristri. menentramkan jiwa. Memelihara dan membina kualitas dan kuantitas keturunan untuk mewujudkan kelestarian kehidupan keluarga disepanjang masa dalam rangka pembinaan mental spiritual dan fisik matriil dan yang diridhoi Allah SWT. Kedua calon mempelai ini haruslah Islam. 4. berumah tangga dan berkeluarga adalah termasuk sunah beliau. 3.“Dan dari segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. 3. Harus ada dua (2) orang saksi 6. 2. terutama meneladani sunah Rasulullah Muhammad SAW. Syarat umum yaitu tidak ada larangan perkawinan 2. 3. Mentaati perintah Allah SWT. 5. membina kasih sayang serta menjaga kehormatan dan memelihara kepribadian. Syarat khusus yaitu adanya calon pengantin laki-laki dan calon pengantin wanita. sehat baik rohani maupun jasmani. Tujuan Perkawinan Tujuan perkawinan ialah : perintah Allah untuk memperoleh keturunan yang sah dalam masyarakat. Memelihara pandangan mata. Syarat-syarat Sah nya Perkawinan Perkawinan yang sah menurut hukum Islam adalah perkawinan yang memenuhi rukunrukun dan syarat-syarat sebagai berikut: 1.” 2. Bayarlah mahar (mas kawin) 11 . Melaksanakan pembangunan materiil dan spiritual dalam kehidupan keluargadan rumah tangga sebagai sarana terwujudnya keluarga sejahtera dalam rangka membangun masyarakat dan bangsa. Mempererat dan memperkokoh tali keluarga dan antara keluarga suami dan keluarga istri sebagai sarana terwujudnya kehidupan masyarakat yang aman dan sejahtera lahir dan batin dibawah naungan rahmat Allah SWT. dengan mendirikan rumah tangga yang damai dan teratur. dan mengikuti jejak para nabi dan rasul.

Menurut imam-imam madzhab di dalam kitab mereka. B. dan hukum nikah tersebut bahwasanya tidak ditetapkan mahar tanpa syarat baginya.7. Nikah muth'ah adalah ikatan seeorang laki-laki dengan seseorang perempuan dalam batas waktu tertentu dengan upah tertentu pula. nikah muth'ah adalah pernikahan dengan batasan waktu baik waktunya sudah diketahui atau tidak. Definisi Nikah Muth'ah Nikah secara bahasa artinya berkumpul atau bercampur. Seperti Firman Allah : ( : ‫والله جعل لكم من انفسكم ازواجا وجعل لكم من ازواجكم بنين وحفدة )النحل‬ Artinya : Allah telah menjadikan jodoh bagimu dari jenismu sendiri (laki-laki dan perempuan). karena tidak diketahui sesuatupun tentang penyebutan kata nikah dalam kitab Allah -Subhanahu wa ta’ala.Kata mut’ah dan derivasinya disebutkan sebanyak 71 kali dalam Al-Qur’an. dan kasih sayang. TINJAUAN TENTANG NIKAH MUT’AH 1. kemudian nikah itu naik dengan mengganti batas waktu tersebut dengan batasan satu kali haidh atau dua kali haidh pada wanita yang haidh. dan dari perjodohanmu itu anak-anakmu. walaupun maknanya bermacam-macam tetapi kembali kepada satu pokok seputar pengambilan manfaat atau keuntungan. (An-nahl : 76) ‫يايهاالناس اتقوا ربكم الذى خلقكم من نفس واحدة وخلكق منهكا زوجهكا وبكث منهارجكال ككثيرا‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫ك ك‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ( 1: ‫ونساء )ألنساء‬ 12 . dan tidak ada waris-mewaris. kurang lebih lamanya waktu adalah sampai empat puluh lima hari. sedangkan menurut syari’at secara hakekat adalah akad (nikah) dan secara majaz adalah al-wath’u (hubungan seksual) menurut pendapat yang shahih. Dan selama 4 bulan 10 hari pada wanita yang ditinggal mati suaminya. tidak ada I'ddah kecuali meminta lepas menurut yang ia ingat. Dari definisi tersebut bahwasanya perkawinan yang seperti ini terjadi kontradiksi terhadap arti nikah sesungguhnya.kecuali untuk makna at-tazwiij (perkawinan). dan tidak ditetapkan nafkah baginya. dalam surat yang berbeda-beda. dan tidak ditetapkan nasab. kecintaan. Sebagai proses terakhir dan lanjutan dari akad nikah ialah pernyataanpernyataan ijab dan qabul. Sedangkan tujuan yang bersifat duniawi adalah demi berkembangnya keturunan dan kelangsungan hidup manusia. Bahwa nikah itu adalah suatu ikatan yang kuat dan perjanjian yang teguh yang ditegakkan di atas landasan niat untuk bergaul antara suami istri dengan abadi supaya memetik buah kejiwaan yang telah digariskan Allah dalam al-qur'an yaitu ketentraman.

Karena jauhnya mereka dari istri mereka adalah suatu penderitaan yang berat. Akan tetapi kemudian diharamkan. Maka Raulullah SAW melarang kami melakukan itu. Tharikh nikah Muth'ah Nikah muth'ah pernah diperbolehkan oleh Rasulullah sebelum stabilitasnya syari'at islam. ثم نهى عنها )رواه مسلم‬ Artinya : Dari Salamah bin Akwa' berkata : Rasulullah SAW memberikan keringanan nikah muth'ah pada tahun authas (penaklukan kota Makah) selama 3 hari kemudian beliau melarangnya (HR Muslim) Dari hadis Salamah ini memberikan keterangan bahwasanya Rasulullah pernah memperbolehkan nikah muth'ah kemudian melarangnya dan menasah rukhshah tersebut. Tetapi rukhshah yang diberikan nabi kepada para shabat hanya selama tiga hari setelah itu Beliau melarangnya. Rahasia diperbolehkan nikah muth'ah waktu itu adalah karena masyarakat islam pada waktu itu masih dalam transisi (masa peralihan dari jahiliyah kepada islam).Artinya : Wahai sekalian manusia. Dan bagi yang kuat imannya berkeinginan untuk mengkebiri dan mengipoternkan kemaluannya. maka kami berkata : bolehkah kami mengkebiri (kemaluan kami). bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Allah menciptakan istrinya dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.‫فنهانا رسول الله صام عن ذالك. Bagi yang lemah imannya akan mudah untuk berbuat zina yang merupakan sebagai berbuatan yang keji dan terlarang. ورخص لنا ان ننكح المرأة الثوب إلى أجل‬ Artinya : Dari mas'ud berkata : waktu itu kami sedang perang bersama Rasulullah SAW dan tidak bersama kami wanita. seperti sabdanya : ‫وعن سلمة بن الككوع قكال : رخكص رسكول اللكه صكلى اللكه عليكه وسكلم عكام أوطكاس فكى‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ( ‫المطعة. Maka setelah islam datang dan menyeru pada pengikutnya untuk pergi berperang. (An-nisa' : 1) 2. ثلثة أيام. Sedang perzinaan pada masa jahiliyah suatu hal yang biasa. 13 . Sebagian mereka ada yang kuat imannya dan adapula yang sebagian tidak kuat imannya. yaitu diperbolehkannya pada waktu berpergian dan peperangan. Seperti apa yang dikatakatan oleh Ibn Mas'ud : ‫عن بن مسعود قال : كنا نغزوا مع رسول الله صام وليس معن كا نس كاء فقلن كا : أل نستخص كى؟‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫ك‬ . Dan Rasulullah memberikan keringanan kepada kami untuk menikahi perempuan dengan mahar baju sampai satu waktu.

عن أبيه رضي الله عنه. setelah itu nikah muth'ah diharamkan selama-lamanya. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : sesungguhnya aku telah memberikan izin kepadamu untuk memintak muth'ah dari wanita. dari ayahnya ra. yang mengatur mengenai jangka waktu perkawinan. وإن الله قد حرم ذلك إلى يوم القيامة )أخرجه مسلم وأبو داود والنسكاء‬ ‫ك‬ (‫وأحمد وابن حبان‬ Artinya : Dari Rabi' bin Saburah. Nikah Mut’ah Di Tinjau dari UU No. sehingga perkawinan merupakan salah satu tujuan hidup manusia untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin. dan Ibn Majah) 3. berkata : Rasulullah melarang nikah muth'ah pada tahun Khaibar. dan lain-lain. serta terkadang juga tidak mengharapkan adanya 14 . ‫وعن ربيع بن سبورة. Tujuan dari nikah mut’ah adalah untuk menyalurkan nafsu birahi. Nasai'. munculah istilah nikah mut’ah atau dalam bahasa indonesianya kawin kontrak. Ahmad.1 tahun 1974 adalah ikatan lahir batin diantara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.1 tahun 1974. imbalan bagi salah satu pihak. sehingga terhapuslah rukhshah itu selamalamnya. kebolehannya itu sebelum perang khaibar kemudian diharamkannya dalam perang khaibar kemudian dibolehkan lagi pada tahun penaklukan Makah (tahun Authas). dan sesungguhnya Allah SAW telah mengharamkan itu sampai hari kiamat (HR Muslim. Nikah mut’ah atau kawin kontrak tidak diatur dalam UU No. Nikah mut’ah menggambarkan sebuah perkawinan yang didasarkan pada kontrak atau kesepakatan-kesepakatan tertentu. Abu Daud.1 TAHUN 1974 Perkawinan menurut UU No. أن رسول الله صام قال : إنى كنت أذن كت لك كم‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫الستمناع من النساء. karena nikah mut’ah merupakan sebuah fenomena baru dalam masyarakat. Seperti dalam hadis Rasulullah SAW : ‫وعن علي رضي الله تعالى عنه قال : نهى رس كول الل كه صام ع كن المتع كة ع كام خي كبر )متف كق‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫ك‬ ‫ك‬ (‫عليه‬ Artinya : Dari Ali ra. hak dan kewajiban masing-masing pihak. khususnya dalam rangka melanjutkan atau meneruskan keturunan dan diharapkan pula dengan adanya perkawinan mampu mewujudkan masyarakat yang sejahtera baik lahir maupun batin. Dalam perkembangan masyarakat sekarang ini.Menurut Nawawi dalam perkataannya bahwasanya pelarangannya dan kebolehannya terjadi dua kali. tanpa disertai adanya keinginan untuk membentuk rumah tangga yang kekal.

Kawin kontrak merupakan perkawinan yang bersifat sementara. Kawin kontrak sangat bertentangan dengan asas ini. dan lebih menonjolkan nilai ekonomi. menyebabkan perkawinan ini berbeda dengan perkawinan. c. Beberapa asas tersebut diantaranya adalah: a. Tujuan perkawinan Menurut UU No. sehingga nikah mut’ah dianggap menyimpang dari tujuan perkawinan yang mulia.” 15 .1 tahun 1974. Perkawinan yang tidak mempunyai tujuan ini. Kawin kontrak hanya bertujuan untuk menyalurkan kebutuhan biologis tanpa disertai keinginan untuk membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal.1 tahun 1974 yang bunyinya: Pasal 1. bukan perkawinan dalam arti yang dimaksud dalam UU No.1 tahun 1974.1 tahun 1974. maka berlangsunglah perkawinan tersebut seumur hidup. Perkawinan yang bersifat sementara sangat bertentangan dengan asas tersebut. dan sangat menonjolkan nilai ekonomi. Perkawinan kekal Menurut UU No. b.1 tahun 1974. apabila jangka waktunya telah habis maka perkawinan dapat diputuskan. karena jangka waktunya dibatasi.1 tahun 1974. Perkawinan kekal tidak mengenal batas waktu. Hal ini diatur dalam pasal 29 UU No. Jika dilakukan juga maka perkawinan tersebut batal. setiap perkawinan harus mempunyai tujuan membentuk keluarga/rumah tangga bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Setelah mana isinya berlaku juga terhadap pihak ketiga sepanjang pihak ketiga tersangkut. Kawin kontrak(Nikah mut’ah) merupakan perkawinan berdasarkan kontrak yang dalam pelaksanaannya bersifat sementara. Kawin kontrak tidak bersifat kekal. “Pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan. serta sangat mengharapkan keuntungan secara ekonomi dari dilaksanakannya perkawinan. Pelaksanaan kawin kontrak sangat bertentangan dengan asas-asas perkawinan dalam UU No. Pada umumnya.1 tahun 1974 Pelaksanaan kawin kontrak sangat bertentangan dengan tujuan perkawinan dalam UU No. sehingga sangat bertentangan dengan perkawinan yang dikonsepkan dalam UU No. tidak boleh diputuskan begitu saja. kedua pihak atas perjanjian tertulis yang disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan. selain itu memiliki keturunan bukan merupakan tujuan utama dalam kawin kontrak. Perjanjian Perkawinan Mempelai laki-laki dan mempelai perempuan yang akan melangsungkan perkawinan dapat membuat perjanjian perkawinan.keturunan. Nikah mut’ah merupakan perkawinan yang bersifat sementara. sekali perkawinan dilaksanakan.

Namun perjanjian perkawinan dalam kawin kontrak sangat bertentangan dengan perjanjian perkawinan dalam UU No.1 tahun 1974.Pasal 2. hak dan kewajiban masing-masing pihak. kecuali bila dari kedua belah pihak ada perjanjian untuk mengubah dan perubahan tidak merugikan pihak ketiga. perjanjian perkawinan diperbolehkan selama tidak melanggar batas-batas hukum. dan kesusilaan. agama. Selama perkawinan berlangsung perjanjian tidak dapat diubah. Dibuat pada waktu atau sebelum perkawinan dilangsungkan. imbalan yang akan diperoleh salah satu pihak. Dari isi perjanjian perkawinan tersebut 16 . Dalam perjanjian perkawinan tidak termasuk taklik talak. 3). agama. dan kesusilaan. dan kesusilaan. “Selama perkawinan berlangsung perjanjian tersebut tidak dapat diubah. Perjanjian mengikat pihak suami dan istri. agama. “Perjanjian tersebut tidak dapat disahkan bilamana melanggar batas-batas hukum. perjanjian perkawinan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1). Mulai berlaku sejak perkawinan dilangsungkan.” Pasal 4. Perjanjian hanya dapat diubah dengan persetujuan kedua pihak suami dan istri. asal saja tidak melanggar batasbatas hukum. Perjanjian mengikat pihak ketiga yang berkepentingan. Dalam bentuk tertulis disahkan oleh pegawai pencatat. Perjanjian perkawinan dalam kawin kontrak sangat bertentangan dengan batasbatas hukum. Karena isi perjanjian perkawinan dalam kawin kontrak mengatur tentang jangka waktu/lamanya perkawinan. Menurut UU No. 2). Isi perjanjian perkawinan dapat mengenai segala hal.1 tahun 1974. Perjanjian dimuat dalam akta perkawinan. “Perjanjian tersebut berlaku sejak perkawinan dilangsungkan. agama dan kesusilaan. 3).” Pasal 3. 6). agama dan kesusilaan. Dalam kawin kontrak juga terdapat perjanjian perkawinan.” Menurut isi ketentuan pasal 29 tersebut. 2). Taklik talak adalah perjanjian yang diucapkan calon mempelai pria setelah akad nikah berupa janji talak yang digantungkan kepada suatu keadaan tertentu yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang. 4). dan lain-lain. Akibat hukum adanya perjanjian perkawinan antara suami dan istri adalah sebagai berikut: 1). Isi perjanjian tidak melanggar batas-batas hukum. serta disahkan oleh pegawai pencatat perkawinan. 5).

dan sangat menonjolkan nilai ekonomi. Perkawinan yang sesuai dengan hukum. tanpa kewajiban memberi nafkah maupun tempat tinggal dan tanpa adanya saling mewarisi antara keduanya. hukum dan kesusilaan tidak diperbolehkan. sehingga sangat bertentangan dengan hukum.1 tahun 1974 tentang perkawinan.1 tahun 1974. tidak hanya untuk kebahagiaan dunia tetapi juga untuk akhirat. sehingga untuk menghentikan mereka dari perbuatan keji dilakukan dengan cara bertahap. dan norma-norma kesusilaan yang berlaku dalam masyarakat. Menurut istilah fikih. pernikahan ini akan berakhir sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan. dan kesusilaan yang berlaku dalam masyarakat adalah perkawinan yang bersifat kekal. Pada saat itu masih banyak orang-orang yang meninggalkan masa jahiliyah dan kekafiran. Isi perjanjian perkawinan yang bertentangan dengan batas-batas agama. dalam waktu tertentu. dan perjanjian dilakukan atas kausa yang halal. nikah mut’ah atau kawin kontrak adalah seorang laki-laki menikahi seorang perempuan. jelas menyalahi UU No. juga tidak bisa. Syarat sahnya perjanjian ada 4. 4. Kawin ini di katakan mut’ah atau bersenang-senang. karena akadnya semata-mata 17 . Diawal era islam nikah mut’ah telah ada. selama-lamanya. tanpa talak. adanya nikah mut’ah karena banyak orang-orang tidak berada dinegerinya atau ditempat tinggalnya karena sedang dalam peperangan ditempat yang jauh dan dalam perjalanan yang panjang. jika salah satu dari keduanya mati sebelum berakhirnya nikah mut’ah itu. dengan memberikan sejumlah harta tertentu. jadi dianggap tidak pernah ada perjanjian perkawinan. Perkawinan sendiri bukanlah perjanjian biasa. agama. Menurut Hukum Agama Islam Dikalangan umat islam. Artinya. sudah sejak lama dikenal kawin kontrak yaitu dengan istilah nikah mut’ah. Apabila kawin kontrak didasarkan pada hukum perjanjian. apalagi melihat tujuannya untuk membangun sebuah keluarga. secara hukum bila pernikahan berdasarkan kontrak dengan maksud mengadakan perjanjian untuk waktu tertentu dan juga ada imbalan. kehidupan baru yang dibangun bukanlah untuk kenikmatan sesaat atau dibangun berdasarkan kesepakatan untuk waktu tertentu.1 tahun 1974.menyebabkan kawin kontrak menjadi perkawinan yang bersifat sementara karena waktunya dibatasi. agama. Apabila perjanjian perkawinan tetap ada maka perkawinan tersebut batal karena melanggar ketentuan UU No. Jadi tidak ada perkawinan secara hukum. Jadi kawin kontrak sendiri bukan bentuk yang disyaratkan UU No. Kata nikah mut’ah berasal dari kata At-tamatu yang menurut bahasa arab mempunyai arti bersenang-senang. yang diperjanjikan adalah suatu hal tertentu. yaitu sepakat kedua belah pihak. Menurut Efa Laela Fakhriah. cakap dalam perikatan.

Nikah mut’ah dilarang dalam islam. dan tidak ada hak waris-mewarisi suami istri tersebut. berdasarkan firman Allah dalam Al Quran surat Al Mukminun ayat 7 yang artinya “Barang siapa yang mencari di balik itu. Dalam kawin mut’ah tidak aturan tentang talak karena perkawinan itu akan berakhir dengan habisnya waktu yang telah ditentukan. Menurut pendapat seorang ahli tafsir Ibnu’Athiyah Al Andalusi. bahkan nikah mut’ah bisa 18 . saling mewarisi. Apabila tidak hamil maka ia dihalalkan menikah lagi dengan lelaki lainnya. sungguh saya pernah mengizinkan kalian untuk kawin mut’ah. hukumnya mustahab/tidak mewajibkannya. Di dalam nikah mut’ah tidak terdapat persyaratan sebagaimana yang ada pada nikah biasa kecuali akad dalam bentuk perjanjian biasa. Nikah mut’ah atau kawin mut’ah juga dinamakan kawin muaqqat artinya kawin untuk waktu tertentu atau kawin munqathi artinya kawin terputus yaitu seorang laki-laki mengikat perkawinan dengan perempuan untuk beberapa hari. Seseorang yang melakukan nikah mut’ah tidak bertujuan mempunyai anak. Silelaki memberinya uang menurut kesepakatan keduanya. dan siwanita harus membersihkan rahimnya. bahwa nikah mut’ah atau kawin kontrak adalah seorang lelaki menikahi seorang wanita dengan dua orang saksi dan izin wali dalam waktu tertentu. maka silelaki tak mempunyai hak lagi atas siwanita. Setelah masa nikah berakhir. Jika tidak datang bulan. ingatlah bahwa sekarang Allah telah mengharamkannya sampai hari kaimat”. masa iddah bagi istri adalah 2 kali haid. Demikian pula izin wali tidaklah merupakan suatu keharusan hanya saja hal itu merupakan suatu kehati-hatian jika siwanita masih gadis. Pada pelaksanaan nikah mut’ah adanya saksi dalam akad nikah. Nikah mut’ah termasuk menyimpang dari ketentuan yang digariskan Allah.untuk senang-senang saja antara laki-laki perempuan dan untuk memuaskan nafsu. seminggu atau sebulan. karena wanita yang di akad/ diikat kontrak tersebut tidak termasuk budak wanita yang dimilikinya dan tidak pula termasuk istrinya. bukan untuk bergaul untuk sebagai suami istri. iddah dan kewajiban memberi nafkah. yang mana semua itu tidak ada praktisi hukumnya dalam nikah mut’ah. Sedang Hadist Rasulullah yang mengharamkan nikah mut’ah seperti diriwayatkan oleh Ahmad. maka mereka itulah orang-orang yang melampai batas”. maka masa iddahnya 45 hari. Selain itu tujuan luhur yang terkandung dalam perkawinan tidak ada dalam nikah mut’ah. tanpa adanya saling mewarisi antara keduanya. Apabila masanya telah berakhir. Adapun akad perkawinan selalu diikuti oleh sahnya talak. Muslim dan Ibnu Hibban adalah “Wahai sekalian manusia. tapi jika suami meninggal dunia masa iddahnya 4 bulan 10 hari. bukan untuk mendapatkan keturunan atau hidup sebagai suami istrui dengan membina rumah tangga sejahtera.

maka hal ini akan dijadikan kesempatan bagi orang-orang yang suka berbuat iseng untuk menghindari ikatan perkawinan yang sah. sesudah menentukan mahar. Rasa saling menyayangi dan kebersamaan tidak akan timbul dari ikatan atau akad yang hanya bertujuan untuk melampiaskan nafsu syahwat dalam jangka waktu terbatas. Yang menjadi ikhtilaf dikalangan mereka adalah waktu pengharaman nikah muth'ah. 2. Majelis Ulama Indonesia sebenarnya telah mengeluarkan fatwa No. Ibn Abbas Yang telah terkenal bahwasanya Beliau menghalalkan nikah muth'ah.berakibat tidak menentunya garis keturunan. Ibn Abbas ini mengikuti pendapat dari ahli Makah dan Ahli Yaman. (An-nisa' : 24) 19 . Pendapat Para Ulama' Tentang hukum Nikah Muth'ah 1. ada yang sebagian pada waktu perang Tabuk. Dan bukankah zina itu bukan terjadi atas dasar suka sama suka antara keduanya sekedar untuk mengumbar nafsu dan itulah yang menjadi dasar terjadinya nikah mut’ah. cinta dan rasa kebersamaan dalam hidup. mereka meriwayatkan bahwasanya Ibn Abbas dalam Firman Allah : ( : ‫فَمااست َمت َعْت ُم ب ِهِ من ْهُن فَأ ُت ُوْهُن أ ُجوْرهُن فَرِي ْضة وَل َ جناح ع َل َي ْك ُم )النساء‬ ً َ َ َ ُ ْ ْ ْ ْ َ ّ َ ُ ّ ّ ِ Artinya : Maka istri-istri yang telah kamu ni'mati (campuri) diantara mereka. sebagaian sebagai kewajiban dan tiada dosa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya. Kep-B-679/MUI/XI/1997. berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna). ada yang sebagian pada umrah qadha' dan ada sebagian pada waktu tahun Authas. ada yang sebagian pada penaklukan Makah. Maka apabilanikah mut’ah dibolehkan. Untuk mencegah terjadinya nikah mut’ah. Dan sya’riat menganjurkan supaya akad nikah didasarkan atas dasar kasih sayang. Fatwa itu memutuskan bahwa nikah mut’ah haram hukumnya dan pelaku nikah mut’ah harus dihadapkan ke pengadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jumhur Ulama' Kebanyakan dari para shahabat dan semua Ulama'-Ulama' fiqih mengharamkan nikah muth'ah berdasarkan hadist Rasulullah yang mutawatir tentang pengharaman nikah tersebut. Dari sebagian riwayat yang mengharamkannya pada perang khaibar. bukankah pernikahan seperti itu sama dengan praktik zina. ada yang sebagian pada haji wada'.

dan setengah dari kepemimpinan Umar kemudian setelah itu Umar melarang muth'ah kepada semua manusia (umat muslim). ّ ِ ‫وال ْمحصنات من الن ّساء إ ِل ما مل َك َت أ َي ْمان ُك ُم ك ِتاب الل ّهِ ع َل َي ْك ُم وَأ ُحل ل َك ُم ما وَراء ذ َل ِكككم أ َن‬ َ َ ْ ْ ُ َ َ ْ َ ْ ْ َ ْ َ َ ّ ِ َ َ ِ ُ َ َ ْ ُ َ ‫ت َب ْت َغوا ب ِأ َموال ِك ُم محصنين غ َي ْر مسافِحين فَما است َمت َعْت ُم ب ِهِ من ْهُ كن فَ كآتوهُن أ ُج كورهُن فَريض كة‬ ُ ً َ ِ ّ َ ‫ّ ُك‬ ُ ‫ّ ك‬ ِ ْ ْ ْ َ َ ِ َ ُ َ َ ِ ِ ْ ُ ْ َ ْ ‫وَل جناح ع َل َي ْك ُم فيما ت َراضي ْت ُم ب ِهِ من ب َعْد ِ ال ْفريضةِ إ ِن الل ّه كان ع َليما حكيما‬ ّ َ ِ َ َ َ ُ َ ً ِ َ ً ِ َ َ َ ْ َ َ َ ِ ْ ْ ِ 20 . Muslim no. Umar. (HR. Muslim hadits no. jelas sekali gambaran nikah mut’ah yang dulu pernah dilakukan para sahabat radhiyallahu ‘anhum. 4: 24. diriwayatkan darinya sesungguhnya dia berkata : "muth'ah (bersenang-senang terhadap istri) tidak lain adalah rahmat dari Allah Azza Wa Jalla. (HR. dan Umar tidak melarangnya karena dalam keadaan terpaksa takut untuk zina kecuali bagi yang impoten. 1404) Tidak ada istri atau budak wanita yang ikut dalam perjalanan tersebut. Menurut Pandangan Kaum Sunni dan Syiah a) Pandangan Kaum Syi’ah (Itsna ‘Asyariyah) Dasar legitimasi kaum Syi’ah terhadap nikah mut’ah adalah QS an-Nisa’. 5119 dan Muslim no. Gambaran Nikah Mut’ah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Di dalam beberapa riwayat yang sah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia telah memberikan rahmat kepada umat Muhammad SAW berupa muth'ah. Gambaran tersebut dapat dirinci sebagai berikut: • • • • Dilakukan pada saat mengadakan safar (perjalanan) yang berat seperti perang. 5116 dan Muslim no. dan Ibn Dinar. 1404) Jangka waktu nikah mut’ah hanya 3 hari saja. Dan ini diriwayatkan dari Ibn Abbas rawi darinya Jarih. 1406) 5. Bukhari no. 1405) Keadaan para pasukan sangat darurat untuk melakukan nikah tersebut sebagaimana mendesaknya seorang muslim memakan bangkai.Dan pada suatu huruf darinya (ibn Abbas) sampai batas waktu yang ditentukan. (HR. darah dan daging babi untuk mempertahankan hidupnya. Dari Atha' ia berkata : saya mendengar jabir bin Abdillah berkata : kami melakukan nikah muth'ah sejak masa Rasulullah kemudian kepemimpinan Abu Bakar. bukan ketika seseorang menetap pada suatu tempat. (HR. Bukhari no.

Kaum Syi’ah berpendirian bahwa praktik nikah mut’ah terdapat pada masa Nabi dan Khalifah Pertama. nikah mut’ah dilarang. Baru pada periode Khalifah Kedua. Ubay Ibn Ka’ab. 4: 24 seperti telah ditulis di atas. yakni Khalifah Umar Ibn Khattab. an-Nisa’: 24) adalah Ibn Mas’ud. walaupun banyak para shahabat yang melakukannya di era Nabi dan Khalifah Kedua. lengkapnya ayat itu adalah (terdapat kalimat tambahan ‫الى‬ ‫:) اجل مسم‬ ‫فَما است َمت َعْت ُم ب ِهِ من ْهُن )الى اجل مسم( فآتوهُن أ ُجورهُن فَريضة‬ ً َ ِ ّ َ ُ ّ ُ َ ْ ْ ْ َ ّ ِ Sahabat lain yang sependapat dengan Ibn Abbas (termasuk membenarkan bacaan Ibn Abbas terhadap Q. al-Mu’minun.S. Dalam Sunnah Baihaqy 7: 206. 23: 5-7 21 . Kedua mut’ah itu adalah mut’ah mengenahi haji dan mut’ah mengenai wanita. Akan tetapi menurut Ibn Abbas. Thabathaba’I dalam masalah ini mengutip beberapa ayat tentang suami-isteri: Q. dan Said Ibn Zubair. terdapat pula keterangan yang menunjukkan larangan Umar terhadap nikah mut’ah.Dalam Tarikh al-Fiqh al-Ja’fari dijelaskan. nikah itu diperbolehkan dengan bersarkan َQS an-Nisa’. Ibn Abbas menerangkan. Ucapan Umar saat itu adalah: “Saya telah melarang dua jenis mut’ah yang ada di masa Nabi dan Abu Bakar. dan saya akan berikan hukuman kepada mereka yang tidak mematuhi perintah-perintah saya. bahwa ketika Abu Nashrah bertanya kepada Ibn Abbas tentang nikah mut’ah. maka dapat dipahami bahwa nikah mut’ah dipraktikkan oleh para sahabat pada baik pada masa Nabi maupun Khalifah Abu Bakar.” Kalau melihat ucapan Khalifah umar di atas. Sehingga unggapan yang sering dilontarkan kalangan Syi’ah dalam masalah ini adalah: ”Manakah yang harus kita pegang: taqrir Nabi yang membiarkan shahabatnya melakukan mut’ah atau hadis larangan Umar?” Kaum Syi’ah yang mengikuti ajaran-ajaran para Imam dari Ahlu al-Bait masih menganggap nikah mut’ah tetap berlaku menurut syari’att sebagaimana halnya masa hidup Nabi itu sendiri.S.

Sebaliknya. Disamping itu. Apabila nikah mut’ah itu bukan merupakan pernikahan yang sebenarnya (halal/sah). yakni haram. Sampai hari ini. 70: 29-31 ‫وال ّذين هُكم ل ِفروجهِكم حكافِظون)92(إ ِل ع َل َكى أ َزواجهِكم أ َوْ مكا مل َك َكت أ َي ْمكان ُهُم فَكإ ِن ّهُم غ َي ْكر‬ ‫َك‬ ‫ّ ك‬ ‫ْ ُ ُ ِ ْ َك‬ َ ُ ْ ْ ْ َ ‫َك‬ ْ ِ َ ْ ُ َ ِ َ ُ َ َ 31)‫)ملومين)03(فَمن اب ْت َغى وَراء ذ َل ِك فَأول َئ ِك هُم ال ْعادون‬ َ َ َ َ ُ َ ُ َ ِ ُ َ ِ َ Menurut ath-Thabathaba’i. Sehingga Thabathaba’i menegaskan kembali bahwa nikah mut’ah merupakan pernikahan yang sah menurut syari’ah dan bukan bentuk perzinaan. lanjut Thabathaba’i. walaupun bukan ilegal. iddah dan warisan. dan semenjak diturunkan hingga hijrah. Diantara ayat-ayat al-Quran yang menjadi dasar tujuan pernikahan diantaranya adalah: 22 . Akan tetapi selama rezim Pahlevi (1925-1979). nikah mut’ah dipraktikkan oleh kaum Muslimin. sehingga mereka tidak tertarik untuk melakukannya. kaum Syi’ah. dan populer terutama di sekitar pusat-pusat ziarah. pernikahan mut’ah di Iran banyak dilakukan oleh kaum perkotaan pinggiran. maka. pandangan kaum Sunni terhadap nikah mut’ah sangat jelas. khususnya di Iran. ayat-ayat ini diturunkan di Mekah. pernikahan mut’ah juga bertentangan dengan ketentuan dalam pernikahan yang telah dinyatakan dalanm al-Quran dan al-Hadis. ayat-ayat al-Quran tersebut tentulah akan menganggap para perempuan itu sebagai pelanggar hukum dan sudah pasti mereka dilarang untuk mempraktikkan mut’ah.َ ّ )‫وال ّذين هُم ل ِفروجهِم حافِظون) 5(إ ِل ع َلى أ َزواجهِم أوْ ما مل َك َت أ َي ْمان ُهُم فَإ ِن ّهُم غ َي ْر ملومين‬ َ ُ َ ْ ِ ُ ُ ْ ْ ْ َ ْ َ َ ْ ِ َ ْ َ ِ ُ َ ُ َ ِ َ ُ َ‫)6(فَمن ابتغى وراء ذ َلك ف‬ َ 7)‫َ َ َ ِ َ أول َئ ِك هُم ال ْعادون‬ َ َْ ِ َ َ ُ َ ُ Q. pernikahan mut’ah dipandang secara negatif. yaitu dalam masalah thalaq. al-Ma’arij. dan para perempuan yang telah menikah berdasarkan itu bukan isteri-isteri yang sah menurut syari’ah. Alasan keharamannya adalah karena pernikahan model seperti ini tidak sesuai dengan tujuan pernikahan yang dinyatakan dalam al-Quran. masih tetap memelihara legitimasi pernikahan mut’ah.S. b) Pandangan Kaum Sunni Seperti telah dinyatakan di muka. Kebanyakan kaum terpelajar Iran dan kelas menengah lainnya menganggap pernikahan seperti ini sebagai bentuk pelecehan terhadap perempuan dan nilai moral universal.

An-Nisa‬‬ ‫َك ً‬ ‫ياأ َي ّها الناس ات ّقوا رب ّك ُم ال ّذي خل َقك ُم من ن َفس واحد َةٍ وَخل َقَ من ْها زوْجها وَب َث من ْهُم كا رِج كال‬ ‫ّ ِ َك‬ ‫ّ ُ ُ‬ ‫َ‬ ‫َ َ ْ ِ ْ ْ ٍ َ ِ‬ ‫ِ‬ ‫ُ‬ ‫ِ َ َ َ َ‬ ‫َ َ‬ ‫َ‬ ‫َ ً‬ ‫ك َثيرا وَن ِساء‬ ‫ِ ً‬ ‫12 :03 .’‪Q.‫94 :15 .‪Q.S. Adz-Dzariyat‬‬ ‫وَمن ك ُل شيء خل َقنا زوْجي ْن ل َعَل ّك ُم ت َذ َك ّرون‬ ‫ُ َ‬ ‫ْ‬ ‫ِ ْ‬ ‫ّ َ ْ ٍ َ َْ َ َ ِ‬ ‫1 :4 .S. Ar-Rum‬‬ ‫َ‬ ‫وَمن ءايات ِهِ أ َن خل َقَ ل َك ُم من أ َن ْفسك ُم أ َزواجا ل ِت َسك ُنوا إ ِل َي ْها وَجعَكل ب َي ْن َك ُكم مكوَد ّة ً وَرحمكة إ ِن‬ ‫ْ َ‬ ‫ْ ُ‬ ‫َ ْ َ ً ّ‬ ‫َ‬ ‫ْ ِ ْ ُ ِ ْ ْ َ ً‬ ‫ِ ْ َ َ‬ ‫ْ َ‬ ‫َ‬ ‫في ذ َل ِك ليات ل ِقوْم ٍ ي َت َفك ّرون‬ ‫َ َ َ ٍ َ‬ ‫ِ‬ ‫َ ُ َ‬ ‫‪Hadis-hadis yang diperguakan oleh kaum Sunni untuk mengharamkan nikah mut’ah‬‬ ‫:‪diantaranya adalah sebagai berikut‬‬ ‫حد ّث َنا محمد ُ ب ْن ع َب ْد ِ الل ّهِ ب ْن ن ُمي ْرٍ حد ّث َنا أ َبي حد ّث َنا ع َب ْد ُ ال ْعَزيزِ ب ْن ع ُمر حد ّث َني الربيعُ ب ْن -1‬ ‫َ َ َ ِ‬ ‫َ َ‬ ‫ّ ِ‬ ‫َ َ ِ‬ ‫ِ َ‬ ‫َ َ ُ َ ّ‬ ‫ُ‬ ‫ُ‬ ‫ُ‬ ‫ِ‬ ‫ّ‬ ‫َ ّ‬ ‫سب ْرة َ ال ْجهَن ِي أ َن أ َباه ُ حد ّث َه أ َن ّه كان معَ رسول الل ّهِ صلى اللهم ع َل َي ْهِ وَسل ّم فَقككال يا أ َي ّ َ قا‬ ‫َ َ َ َ َ هق‬ ‫ّ ّ َ‬ ‫ُ‬ ‫َ ُ ُ َ َ َ َ ُ ِ‬ ‫َ َ‬ ‫الناس إني قد ك ُن ْت أ َ‬ ‫َ َ‬ ‫ُ ذن ْت ل َك ُم في الست ِمتاع من الن ّس قاء وإ ِن الل ّ قه ق قدْ ح قرم‬ ‫ْ ِ‬ ‫ُ ِّ‬ ‫ّ‬ ‫َق ِ َ ّ‬ ‫َ ْ‬ ‫َ ّ َ‬ ‫ِ ُ‬ ‫ِ ْ ْ َ ِ ِ َ‬ ‫ذَلك إلى يوم ال ْقيامقة فَم كن ككَكان عن كده منه كن ش كيء فَل ْيخ كل س كبيل َه ول تأ ْ‬ ‫ِ َ َِ‬ ‫ُ ُ‬ ‫ُ َ ّ َ ِ ُ َ َ َ خ كذوا مم كا‬ ‫ِ ّك‬ ‫َ ِ ْ َ ُ ِ ُْ ّ َ ْ ٌ‬ ‫ِ َ َ ِ َ ْ‬ ‫َ ْ ِ‬ ‫ّ َ ً‬ ‫آت َي ْت ُموهُن شي ْئا و حد ّث َناه أ َبو ب َك ْرِ ب ْن أ َبي شي ْب َة حد ّث َنا ع َب ْد َة ُ ب ْن سل َي ْمان عكن ع َبكد ِ ال ْعَزيكزِ ب ْكن‬ ‫َ َ َ َ‬ ‫َ َ‬ ‫ُ ُ َ َ َ ْ ْ‬ ‫ُ‬ ‫ُ ِ‬ ‫ُ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ّ‬ ‫َ ّ‬ ‫َ ْ ْ َ َ َ َ ُ َ ُ َ‬ ‫ع ُمر ب ِهَذا ال ِسناد ِ قال رأ َي ْت رسول الل ّهِ صلى اللهم ع َل َي ْهِ وَسل ّم قائ ِم كا ب َي ْكن الرك ْكن وال ْبكَكاب‬ ‫َ َ َ ًك‬ ‫ِ‬ ‫ِ َ‬ ‫َ ّ‬ ‫َ َ‬ ‫]6‬ ‫]وَهُوَ ي َقول ب ِمث ْل حديث اب ْن ن ُمي ْر‬ ‫ُ ُ ِ ِ َ ِ ِ‬ ‫ِ َ ٍ‬ ‫حد ّث َنا أ َبو ب َك ْرِ ب ْن أ َبي شي ْب َة حد ّث َنا ع َب ْد َة ُ ب ْن سل َي ْمان ع َن ع َب ْد ِ ال ْعَزيزِ ب ْن ع ُمر ع َكن الربي كع -2‬ ‫َ َ َ َ‬ ‫ُ ُ َ َ‬ ‫َ َ ُ‬ ‫ُ ِ‬ ‫َ َ‬ ‫ْ‬ ‫ِ‬ ‫ِ ّ ِ ِ‬ ‫ِ‬ ‫َ ّ‬ ‫ب ْن سب ْرة َ ع َن أ َبيهِ قال خرجنا معَ رسول الل ّكهِ صكلى اللهكم ع َل َي ْكهِ وَسكل ّم فِكي حجكةِ ال ْكوَداع‬ ‫َ َ ك‬ ‫ّك‬ ‫َ ّ‬ ‫ْ ِ‬ ‫َ َ َ َ ْ َ َ َ ُ ِ‬ ‫ِ َ َ‬ ‫َ ِ‬ ‫فَقالوا يا رسول الل ّه إن ال ْعزبة قَد اشتدت عل َينا قال فاستمتعوا من هكذه النسكاء فَأتَ‬ ‫َ ُ َ َ ُ َ‬ ‫ِ ْ َ ِ ِ ّ َ ك ِ َي ْنكَكاهُن‬ ‫ِ ِ ّ ُ ْ َ َ ِ ْ َ ّ ْ َ َْ َ َ َ ْ َ ْ ِ ُ‬ ‫ّ‬ ‫ّ َ ّ‬ ‫ّ َ ً‬ ‫ْ َ ّ ْ ْ َ‬ ‫فَأ َب َي ْن أ َن ي َن ْك ِحن َنا إ ِل أ َن ن َجعَل ب َي ْن َنا وَب َي ْن َهُن أ َجل فَذ َك َروا ذ َل ِك للن ّب ِي صلى الله كم ع َل َي ْكهِ وَس كل ّم‬ ‫ّك‬ ‫َ ِ‬ ‫َ‬ ‫َ ْ‬ ‫َ َ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ّ َ َ ً‬ ‫َ َ ْ ُ‬ ‫َ ك‬ ‫ّ ِ‬ ‫فَقال اجعَلوا ب َي ْن َك ُم وَب َي ْن َهُن أجل فَخرجت أنا واب ْن ع َم لي معَه ب ُرد ٌ وَمعِ كي ب ُكرد ٌ وَب ُكرد ُه ُ أج كوَد ُ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬ ‫َ ُ ْ‬ ‫َ َ ْ ُ َ َ ُ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫من ب ُردي وَأ َنا أ َشب من ْه فَأ َت َي ْنا ع َلى امرأ َةٍ فَقال َت ب ُرد ٌ ك َب ُكرد ٍ فَت َزوّجت ُهَكا فَمك َث ْكت عن ْكد َها ت ِل ْكك‬ ‫َ ْ ك‬ ‫َ‬ ‫ُ ِ‬ ‫َ‬ ‫ِ ْ ْ ِ‬ ‫َ‬ ‫َ َ ّ ِ ُ‬ ‫ْ‬ ‫َ ْ ْ‬ ‫ْ َ‬ ‫ّ‬ ‫َ ّ‬ ‫ُق ُ‬ ‫ُ َ ُ ُ‬ ‫الل ّي ْل َة ث ُم غ َد َوْت وَرسول الل ّهِ صلى اللهم ع َل َي ْهِ وَسل ّم قائ ِم ب َي ْن الرك ْن وال ْبكَكاب وَهُ كوَ ي َققول‬ ‫َ َ َ ٌ‬ ‫َ ّ‬ ‫ِ‬ ‫َ ّ ِ َ‬ ‫َ َ‬ ‫َ‬ ‫أ َي ّها الناس إ ِني قدْ ك ُن ْت أ َذن ْت ل َك ُم في الست ِمتاع أ َل وإ ِن الل ّه قدْ حرمها إ ِل َقى‬ ‫ق‬ ‫ْ ِ‬ ‫ُ ّ‬ ‫ّ‬ ‫ِ ْ ْ َ ِ َ َ ّ‬ ‫ُ ِ ُ‬ ‫َ ّ َ َ‬ ‫َ‬ ‫]7‬ ‫ْ ِ َ ِ َ َ‬ ‫ّ َ ً‬ ‫ُ ُ‬ ‫]ي َوم ِ ال ْقيامة فَمن كان عن ْد َه ُ من ْهُن شيء فَل ْي ُخل سبيل َها وَل ت َأ ْخذوا مما آت َي ْت ُموهُن شي ْئا‬ ‫ِ ّ َ ْ ٌ‬ ‫ِ َ َ ِ َ ْ َ َ ِ‬ ‫ُ‬ ‫ِ ّ‬ ‫ْ‬ ‫حد ّث َنا وَكيعٌ حد ّث َنا ع َب ْد ُ ال ْعَزيزِ قال أ َخب َرني الربيعُ ب ْن سب ْرة َ ال ْجهَن ِي ع َن أ َبيكهِ قَكال خرجنكَكا -3‬ ‫َ َ ْ َ ِ‬ ‫َ َ‬ ‫ِ‬ ‫َ َ‬ ‫ك َ َ َ ْ‬ ‫ُ‬ ‫ْ ِ‬ ‫ّ ِ‬ ‫ّ‬ ‫ُ َ َ‬ ‫ِ‬ ‫ّ‬ ‫َ ّ‬ ‫ّ‬ ‫َ ّ‬ ‫ْ َ َ َ َ َ َ ُ ُ‬ ‫معَ رسول الل ّهِ صلى اللهم ع َل َي ْهِ وَسل ّم فَل َما قَضي ْنا ع ُمرت َنا قال ل َنا رسول الل ّهِ ص كلى اللهككم‬ ‫َ َ‬ ‫ّ‬ ‫َ َ‬ ‫َ َ ُ ِ‬ ‫32‬ .‪Q.S.

Sebab‬‬‫‪sebab pengharamannya telah banyak diulas oleh ulama-ulama Sunni. Walaupun sebenarnya tinjauan‬‬ ‫‪sanad saja tidak cukup untuk menjadikan hadis bisa dinilai otentik sebagai sumber ajaran‬‬ ‫‪Islam.)‪sehingga tidak jauh berbeda dengan zina (komunisme seksual‬‬ ‫‪Disamping itu.‪maknanya sesuai dengan semangat larangan nikah mut’ah dalam hadis-hadis tersebut‬‬ ‫. karena ibarat sebuah benda yang bisa pindah dari satu tangan ke‬‬ ‫42‬ .‪maka kedudukannya menjadi sangat kokoh dan otentik sebagai sumber ajaran Islam‬‬ ‫‪Dilihat dari perspektif hadis (sebagaimana yang telah dikemukakan di atas). nikah mut’ah menurut kalangan Sunni. diantaranya adalah‬‬ ‫. dengan dukungan nilai-nilai al-Quran tentang pernikahan yang‬‬ ‫. dapat‬‬ ‫‪disimpulkan bahwa nikah mut’ah memang telah diharamkan oleh Rasulullah. telah menempatkan perempuan‬‬ ‫‪pada titik bahaya.‫َ ْ َ ِ َ‬ ‫ْ ِ ِ َ َ‬ ‫ع َل َي ْهِ وَسل ّم است َمت ِعوا من هَذ ِهِ الن ّساء قال والست ِمتاع ُ عن ْد َنا ي َوْم الت ّزويج قال فَعَرضنا ذ َلككك‬ ‫ِ َ‬ ‫َ ِ َ َ َ ِ ْ ْ َ‬ ‫َ َ ْ ْ ُ‬ ‫ُ‬ ‫ِ ْ‬ ‫ع َلى النساء فَأ َبين إل أ َن يضرب بيننا وبينهن أ َ‬ ‫ّ َ ّ‬ ‫َ‬ ‫َ ً َ َ‬ ‫ّ َ ِ َ ْ َ ِ ّ ْ ُ ْ َ َ َ ْ َ َ َ َ ْ َ ُ ّ جل قال فَذ َك َرنا ذ َل ِك للن ّب ِي صكلى اللهكم ع َل َي ْكه‬ ‫ّك‬ ‫َ ِ‬ ‫ِ‬ ‫ْ َ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬ ‫َ َ َ َ‬ ‫وَسل ّم فَقال افْعَلوا فان ْط َل َقت أ َنا واب ْن ع َم لي وَمعَكه ب ُكرد َة ٌ وَمعِكي ب ُكرد َة ٌ وَب ُرد َت ُكه أ َجكوَد ُ مكن‬ ‫َ ك‬ ‫ّ ِ‬ ‫ُ ْ‬ ‫ِ ْ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬ ‫َ ُ ْ‬ ‫ْ ُ َ َ ُ‬ ‫َ‬ ‫ب ُرد َتي وَأ َنا أ َشب من ْه فَأ َت َي ْنا امرأ َة ً فَعَرضنا ذ َل ِك ع َل َي ْها فَأ َع ْجب َها شبابي وَأ َع ْجب َها ب ُرد ُ اب ْن ع َمي‬ ‫ْ ِ‬ ‫َ ْ َ‬ ‫ّ‬ ‫َ َ َ َ ِ‬ ‫َ َ ّ ِ ُ‬ ‫َ‬ ‫َ َ ْ‬ ‫َ ْ َ‬ ‫ِ‬ ‫َ‬ ‫ْ ً َ َ‬ ‫ْ َ َ‬ ‫فَقال َت ب ُرد ٌ ك َب ُرد ٍ قال فَت َزوّجت ُها فَكان ال َجل ب َي ْني وَب َي ْن َها ع َشرا قال فَب ِكت عن ْكد َها ت ِل ْكك الل ّي ْل َكة‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ّ ِ‬ ‫َ َ ْ َ ُ ِ‬ ‫َ‬ ‫َ ْ َ‬ ‫َ ْ ْ‬ ‫ّ‬ ‫َ ّ‬ ‫ّ َ ْ ْ ُ َ ً َ‬ ‫َ َ ُ ُ‬ ‫َ َ ِ َ َ َ‬ ‫َ َ‬ ‫َ ْ ِ‬ ‫ث ُم أصب َحت غاد ِيا إ ِلى ال ْمسجد ِ فَإ ِذا رسول الل ّهِ صلى اللهم ع َل َي ْهِ وَسل ّم ب َي ْن ال ْبككاب وال ْحجككرِ‬ ‫ّ َ ُ ُ َ‬ ‫ُ َ‬ ‫ي َخط ُب الناس ي َقول أ َل أ َي ّها الناس قدْ ك ُن ْت أ َذن ْت ل َك ُم ف قي الس قت ِمتاع م قن ه قذه‬ ‫ْ ِق‬ ‫ْ‬ ‫ّ‬ ‫ْ َ ِ ِ ْ َ ِ ِ‬ ‫ُ‬ ‫ُ ِ ُ‬ ‫ِ ْ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ َ‬ ‫َ َ َ َ َ َ َ‬ ‫َ‬ ‫ِ َ َ ِ َ ْ َ َ ِ‬ ‫َ ِ َ َ ّ‬ ‫َ ّ َ‬ ‫الن ّساء أل وإ ِن الل ّه ت َبارك وت َعالى قدْ حرم ذَل ِك إ ِلى ي َوم ِ ال ْقيامة فَمن كان عن ْد َهُ‬ ‫ْ‬ ‫]8‬ ‫َ ّ َ ِ َ َ‬ ‫ّ َ ً‬ ‫ُ ُ‬ ‫* ]من ْهُن شيء فَل ْي ُخل سبيل َها وَل ت َأ ْخذوا مما آت َي ْت ُموهُن شي ْئا‬ ‫ِ ّ َ ْ ٌ‬ ‫ُ‬ ‫ِ ّ‬ ‫و حد ّث َنا أ َبو ب َك ْرِ ب ْن أ َبي شي ْب َة حد ّث َنا اب ْن ع ُل َي ّة ع َن معْمرٍ ع َن الزهْرِيّ ع َن الربيع ب ْن سب ْرةَ -4‬ ‫َ‬ ‫َ َ َ َ‬ ‫ِ ّ‬ ‫َ َ ُ‬ ‫ْ َ َ‬ ‫ُ ِ‬ ‫ِ ّ ِ ِ ِ َ َ‬ ‫ُ‬ ‫ّ‬ ‫ِ َ ّ‬ ‫ّ َ ُ َ‬ ‫ع َن أ َبيهِ أ َن رسول الل ّه صلى اللهم عل َي ْقه وس قل ّم ن َه قى ي َقوم ال ْفت ْقح ع قن مت ْع قة‬ ‫َ َق‬ ‫َ‬ ‫َ ِ َ ْ ُ َ ِ‬ ‫ْ َ‬ ‫ِ َ َ‬ ‫ْ ِ‬ ‫]9‬ ‫* ]الن ّساء‬ ‫َ ِ‬ ‫ع َب ْد ِ الل ّهِ وال ْحسن اب ْنككي -5‬ ‫َ َ َ ِ َ ْ‬ ‫ِ َ ّ‬ ‫الل ّه صلى ال ّ قم عل َ ْ قه‬ ‫لهق‬ ‫َ يق ِ‬ ‫َ‬ ‫حد ّث َنا ي َحيى ب ْن ي َحيى قال قَرأ ْت ع َلى مال ِك ع َن اب ْن شهاب ع َن‬ ‫َ ٍ‬ ‫ُ ْ َ‬ ‫َ َ ْ َ‬ ‫َ َ َ ُ‬ ‫ِ ِ َ ٍ‬ ‫ْ‬ ‫ِ‬ ‫محمد بن ع َل ِي ع َن أ َبيهما ع َن ع َل ِي بن أ َبي طال ِب أ َ‬ ‫َ‬ ‫ّ َ ُ َ‬ ‫ٍ ن رسول‬ ‫ّ ْ ِ ِ‬ ‫ْ ِ ِ َ‬ ‫ْ‬ ‫ّ‬ ‫ُ َ ّ ِ ْ ِ‬ ‫َ‬ ‫َ َ‬ ‫ْ ِ‬ ‫َ ْ ُ َ ِ‬ ‫وسل ّم ن َهى عن مت ْعة الن ّساء ي َوم خي ْب َر وَع َن أك ْل ل ُحوم ِ ال ْحمرِ ال ِن ْسي ّةِ و حد ّث َناه ع َبككد ُ‬ ‫ْ‬ ‫ِ ُ‬ ‫َ َ َ َ‬ ‫ُ ُ‬ ‫ْ‬ ‫َ ِ ْ َ َ َ‬ ‫الل ّهِ ب ْن محمد ِ ب ْن أ َسماء الضب َعِي حد ّث َنا جوَي ْرِي َة ع َن مال ِك ب ِهَذا ال ِسناد ِ وَقال سمعَ ع َل ِي بككن‬ ‫ِ ْ َ َ‬ ‫ُ‬ ‫َ َ َ ِ‬ ‫َ ْ ْ َ‬ ‫ْ َ ٍ‬ ‫ّ َ َ ُ‬ ‫ّ‬ ‫ُ ُ َ ّ‬ ‫ّ ْ َ‬ ‫ّ‬ ‫َ ّ‬ ‫َ َ ُ ٌ َ ٌ َ َ َ ُ ُ‬ ‫أ َبي طال ِب ي َقول ل ِفلن إ ِن ّك رجل تائ ِه ن َهانا رسول الل ّهِ صلى اللهم ع َل َي ْهِ وَسل ّم ب ِمث ْل ح كديث‬ ‫َ َ ِ ِ َ ِ ِ‬ ‫ِ‬ ‫َ ٍ ُ ُ ُ َ ٍ‬ ‫]ي َحيى ب ْن ي َحيى ع َن مال ِك‬ ‫ْ َ ٍ‬ ‫ِ ْ َ‬ ‫ْ َ‬ ‫‪Hadis-hadis di atas tidak diragukan lagi nilai keshahihannya. Apalagi yang‬‬ ‫]01‬ ‫‪meriwayatkan diantanya adalah Bukhari dan Muslim. Akan tetapi.‪karena nikah mut’ah semata-mata sebagai tempat untuk melampiaskan nafsu syahwat‬‬ ‫.

ketika mula-mula dipersatukan oleh sebuah ikatan pernikahan. Pernikahan jenis ini juga dinilai merugikan anak-anak. Seperti dalam peristiwa Zubair Ash-Shahabi yang menikahi Asma’. Masih menurut sumber Syi’ah. pernikahan mut’ah tidak dapat menjadi tumpuan kebersamaan hidup suami isteri yang damai dan sejahtera. nikah mut’ah juga dipraktikkan semenjak hijrah hingga wafatnya Nabi. Pernikahan. selama pemerintahan Khalifah Pertama dan sebagian dari masa pemerintahan Khalifah Kedua.tangan yang lain. nikah mut’ah merupakan suatu fakta sejarah yang tidak dapat dipungkiri. yaitu sejak wahyu pertama dan hijrah Nabi ke Madinah. dan jika terdapat hadis yang bertentangan dengan riwayat Ahlu al-Bait. Kaum Syi’ah hanya bisa menerima jalur sanad yang melalui Ahlu al-Bait. haruslah bertumpu pada pondasi yang stabil. menarik untuk dicermati bahwa larangan ini juga diakui ada dalam beberapa kitab fiqih kaum Sunni. dan gagasan perceraian tidak boleh memasuki pikiran mereka. apakah laranga itu terkait dengan kewenangan Umar sebagai pemimpin agama atau ini hanya sekedar strategi dakwah Islam (kebijakan politik). Bahkan setelah peristiwa itu. Mengapa kaum Syi’ah mengabaikan hadis-hadis seperti ini? Jawabannya adalah. Oleh karena itu. seperti yang telah menjadi cita-cita Islam. Tinjauan Historis-Sosiologis Sebagaimana terdapat dalam sumber-sumber Syi’ah. Tentu saja historisitas seperti ini ditolak oleh kalangan Sunni yang menganggap Nabi sudah melarang nikah mut’ah sejak Perang Khaibar dan peristiwa Fathul Makkah. putri Abu Bakar dalam suatu pernikahan sementara (mut’ah). 25 . harus memandang diri meraka terpaut satu sama lain untuk selamanya. Mengenai larangan Umar terhadap praktik nikah mut’ah. seperti tertuang dalam hadis yang telah dikemukakan di muka. karena kaum Syi’ah mempunyi argumen tersendiri mengenai jalur-jalur sanad dalam sebuah periwayatan Hadis. suatu pasangan. 6. Analisis yang bisa dikemukakan di sini adalah. karena mereka tidak mendapatkan kasih sayang sempurna sebuah keluarga dan jaminan kesejahteraan serta pendidikan yang baik. maka hadis tersebut ditolak. kaum muslimin meneruskan praktik itu sampai saat dilarang oleh Umar Ibn Khattab sebagai Khalifah Kedua. bahwa pernikahan jenis ini dipraktikkan oleh para shahabat sejak era permulaan Islam. sebagaimana pendapat kalangan Sunni.

larangan ini bukan larangan mermanen.Jika dipahami ini sebagai kebijakan politik yang terkait dengan dakwah Islam. nikah mut’ah justeru meningkatkan derajat kaum perempuan. Menurut Ustadz Ahmad Baraghah. maka akan ditemukan relevansinya dengan persoalan umat saat itu. nikah mut’ah menjadi bukan persoalan serius ketika dipraktikkan dalam kondisi masyarakat Muslim yang sudah mempunyai tingkat kesejahteraan yang memadai dan pendidikan yang maju. nikah mut’ah bukanlah sumber penyakit sosial seperti yang disumsikan oleh kalangan Sunni. dalam mut’ah perempuan dimungkinkan membuat persyaratan tertentu yang harus disetujui oleh pihak laki-laki. 7. Secara sosiologis. hanya menjadi komoditas pemuas nafsu laki-laki berkuasa yang pada akhirnya akan mengakibatkan kesengsaraan berlipat bagi perempuan dan anak-anak. Sehingga dapat dipahami. tetapi hanya sementara waktu karena terkait dengan persoalan keummatan saat itu. sehingga dalam praktiknya mereka jarang yang melakukan pernikahan model ini. seperti di Indonesia misalnya. Dengan alasan inilah. Alasannya. Nikah mut’ah dalam komunitas masyarakat Muslim yang rata-rata miskin dan bodoh. Jika para shahabat itu diberi kebebasan untuk melakukan nikah mut’ah. masih menurut Baraghah. mempunyai nilai tawar yang tinggi sebelum melakukan nikah mut’ah. Berbeda dengan nikah permanen yang diasumsikan telah menempatkan perempuan sejajar dengan laki-laki. Para perempuan Iran khususnya. Dalam tradisi Persia atau Iran sekarang. Pada era Umar. Anggota masyarakat Muslim ini mempunyi otonomi pribadi atau kewenangan individual yang penuh dalam menentukan nasibnya. Sepintas. Ditinjau dari Sudut Pandang Sosial dan Budaya 26 . Dan tentu saja nikah seperti itu akan jauh dari tujuan pernikahan itu sendiri. maka Umar melarang nikah mut’ah. Dengan kewenangan ini. maka yang dikhawatirkan adalah akan muncul generasigenerasi baru Islam hasil pernikahan mut’ah yang tidak jelas warna keislamannya. Tetapi. umat Islam (para shahabat) banyak yang bertebaran di wilayah-wilayah taklukan dan mereka bercampur baur dengan masyarakat yang baru saja memeluk Islam. kondisinya adalah jauh berbeda jika nikah mut’ah dilegalisasi di dalam komunitas masyarakat Muslim yang tingkat kesejahteraan dan pendikannya masih rendah. perempuan dapat meningkatkan bergainning position-nya bila akan melaksanakan nikah mut’ah. nikah mut’ah adalah implementasi paling kasat mata bagaimana kedudukan perempuan tidak begitu dihargai.

maka segala kewajiban terhadap anak yang dikandungnya harus dipikulnya sendiri. Sekali lagi. tentu mencoreng citra agama secara umum yang seharusnya menjaga nilai-nilai moral. secara fisik akan terdapat sesuatu yang hilang berupa hilangnya keperjakaan ataupun kegadisan melalui cara yang tidak sah. Jika berkenaan dengan masalah keturunan. apapun alasannya itu akan sangat merugikan. Jelaslah. digadaikan. martabat perempuan sebagai manusia. bahkan korban yang paling dikorbankan. dan anak-anak dilecehkan dan dijadikan kelinci percobaan. Dan bagi si anak jika lahir dalam keadaan hidup dia tidak akan mmperoleh hak-hak dan status hukum yang layak karena berdasarkan pasal 42 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 27 . Lebih parah lagi. Selain itu juga akan timbul akibat mental bagi pihak yang setelah berakhirnya kontrak. bahkan seluruh perempuan. dan dieksploitasi oleh kepentingan "bisnis syahwat" dalam bentuk kawin kontrak atau nikah mut’ah. Justru "saham" yang ditanam "bapak biologis"-nya itu yang kemudian tumbuh menjadi "anak". Kerugian yang dimaksud di sini adalah kerugian secara fisik dari kedua belah pihak (apabila satu atau keduanya masih dalam status “asli” (perawan/jejaka)).Dari sudut sosial-budaya. kawin kontrak atau nikah mut’ah layak juga disebut perbudakan model baru 8. perempuan sebagai manusia yang juga memiliki kehormatan diri dikorbankan. Dalam hal kerugian yang diterima adalah bahwa setelah berakhirnya kontrak. berbagai kerugian. Hal demikian. juga tidak mendapatkan "bagi hasil" apapun darinya. pihak yang lain pergi tanpa memberikan hak-hak yang seharusnya didapatkan oleh seorang suami/istri dalam perkawinan yang sah. Apalagi jika hal itu dilakukan dengan embel-embel pemahaman keagamaan. praktik kawin kontrak merusak sistem sosial-budaya luhur yang dianut oleh Bangsa Indonesia. Belum lagi nasib anak-anak hasil kawin kontrak ini akan dikemanakan? Siapa yang akan mengurus mereka dalam meraih masa depannya? Bagaimana biaya pendidikan dan kesehatan anak-anak ini? Padahal sebagai anak. Nilai kemanusiaan telah direndahkan. mereka tidak punya saham sedikitpun dalam praktik kawin kontrak. Sedangkan dikaitkan dengan person. meskipun seorang perempuan dikawini dalam ikatan kontrak namun jika Tuhan menghendaki terjadinya kehamilan pada perempuan tersebut. baik moril dan materiil yang diderita sangatlah besar dan menimpa banyak pihak. Karenanya. martabat kemanusiaan seolah tergadaikan demi nafsu syahwat dan uang berlimpah. Ditinjau dari Sudut Pandang Ekonomi Perkawinan secara kontrak.

cemoohan. maka ia akan dijerat dengan peraturan keimigrasian yang kemungkinn besar sanksinya adalah pendeportasian. 28 . maka si pelaku dengan sendirinya akan mendapatkan sanksi social berupa pengucilan. Selain itu sanksi sosial juga mengancam para pelaku. Sedangkan akibat yang lainnya yaitu apabila yang melakukan kawin kontrak salah satunya adalah warga Negara asing.“ Kawin kontrak adalah perkawinan yang secara agama dan hukum tidak sah. secara perdata berdasarkan pasal 43 ayat (1) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dia hanya memiliki hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya. dan lain-lain yang tentunya hal tersebut akan dapat menghambat proses interaksi antara pelaku (tidak menutup kemungkinan juga terhadap anak yang lahir) dengan masyarakat sekitarnya.tentang Perkawinan bahwa “anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dari perkawinan yang sah. sehingga secara otomatis status kelahirannya juga tidak sah.Adapun menyangkut masalah pewarisan. Pada umumnya apabila masyarakat mengetahui terjadinya perkawinan kontrak.

Bogor. Jawa Tengah ini pertama kali menikah dengan A (45 tahun) pada 2004. L. Beginilah nasib saya. Perempuan 30 tahun asal Cilacap. saya menikmatinya kok. Walau demikian. Di sana ia menikah dengan orang Arab Saudi bernama F (40 tahun). sesuai kontrak sebelum pernikahan. Fakta kawin kontrak di Indonesia Majalah Gatra. Berikut beberapa petikannya. Jawa Barat yang menikah dengan I (55 tahun) asal negeri kaya minyak dengan mahar Rp 2 juta dalam waktu 2 hari. M menolak. hanya menjadi "istri" I selama dua hari saja. "Ya. Namun. sete-lah berpisah dari suami pertamanya asal Sukabumi. Dari U (38 tahun). Bogor. asal Sukabumi. H (40 tahun). Kini. Cisarua. hingga I (55 tahun) yang sudah disebut. karena A memintanya pindah ke negeri asal. entah mengapa. M menerima mahar sebesar Rp 3 juta dan nafkah bulanan juga Rp 3 juta. itu dianggap sudah cukup untuk meng-"halal"-kan hubungan L dan I sebagai suami-istri. L memutuskan menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Riyadh. ritual pernikahan yang terjadi setahun lalu itu hanya berlangsung tak lebih dari 15 menit. I langsung memboyong L ke penginapannya di sebuah villa di Jalan Puncak Raya. L menekuni profesi sebagai "pekerja nikah mut'ah" sejak empat tahun lalu.9. Arab Saudi. Selesai ijab kabul. Namun. Ia bisa kembali mencari "suami" baru yang ingin menikahinya dalam waktu dan maskawin tertentu. Merasa kurang cocok dengan F. ia berkali-kali menikah mut'ah dengan orang-orang asal Timur Tengah di Indonesia. 10 Agustus 2006 mengangkat laporan tentang petualangan para pelaku kawin kontrak di kawasan Bogor dan sekitarnya. Setelah itu. "Rasa cemburu antara saya dan istri F jelas ada. Sebut saja L (23 tahun). Perjalanan rumah tangga A dan M pun berakhir setelah tujuh bulan. L kembali lagi ke pangkuan F sebagai pembantu rumah tangga sekaligus istrinya secara kontrak. Sebenarnya M ingin hidup selamanya dengan A. No. Penggalan cerita di bawah ini diharapkan dapat menggambarkan realitas kawin kontrak di beberapa lokasi di Indonesia. L akhirnya pulang ke Indonesia pada 2004. pasrah. Pengalaman hampir sama dirasakan M. A (35 tahun)." ucapnya. bukan nama sebenarnya." tutur L. Bertempat di sebuah villa di kawasan Puncak. 39. namanya juga cari duit. Setelah itu. Pada 2003. Dari A. 29 . status L "bebas" lagi.

Proses menuju pernikahan kontrak di Cisarua tidaklah rumit. Caranya. Karena. Yang aneh dari M. M terjun ke dunia kawin kontrak lagi. ia juga menikah mut'ah dengan pria lainnya. ia mencari sampingan dengan menikah mut'ah lagi dengan orang lain yang negerinya sama. Persisnya. meski sudah nikah mut'ah dengan A. ketika A pulang ke negerinya. Oleh karena itu. mucikari. Kesepakatan biasanya terjadi setelah kedua calon pengantin bertemu membicarakan soal nominal maskawin dan batasan waktu hidup bersama. M sudah menikah mut'ah lebih dari tujuh kali. Bisa menempuh tiga jalur: langsung berhubungan dengan mempelai perempuan. apalagi dengan tiga anak dari dua suami pribumi sebelum A.Karena susah mencari pekerjaan. sebagian besar alasan dari melakukan nikah mut’ah ini adalah permasalahan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup jadi peningkatan taraf hiduplah satu-satunya solusi untuk mengurangi terjadinya nikah mut’ah di negeri ini. ia bahkan mengaku lupa. Dua tahun terakhir. atau melalui calo yang diteruskan ke mucikari. 30 . selama permasalahan ekonomi di negeri tercinta ini belum terselesaikan dan masalah orang miskin belum mempunyai jalan keluar yang layak maka permasalahan mengenai nikah mut’ah atau kawin kontrak ini un tidak akan pernah terselesaikan.

31 . serta menyarankan agar calon pengantin melaksanakan perkawinan sesuai dengan ketentuan UU No. 1 tahun 1974 dan hukum Islam yaitu membentuk rumah tangga yang kekal. B. Ekonomi b. Sosial d. Agar diadakan penyuluhan tentang masalah perkawinan dengan meminta bantuan para tokoh agama atau tokoh masyarakat melalui kelompok pengajian atau perkumpulan.BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A. Secara formal proses perkawinan dilakukan sesuai dengan hukum Islam namun dalam membangun rumah tangga tidak menjiwai perkawinan sebagaimana diatur dalam Islam tetapi lebih disesuaikan dengan perjanjian yang sudah dibuat. 2. Dampak dari pelaksanaan kawin kontrak adalah munculnya potensi konflik yang sangat besar antara suami istri kaitannya dengan keturunan. Biologis Proses pelaksanaan kawin kontrak diproses dengan hukum agama Islam karena lebih mudah dan cepat. namun apabila terpaksa melakukan kawin sirri hendaknya menanyakan apakah ada perjanjian perkawinan yang bertentangan dengan hukum Islam.1 tahun 1974. dan sejahtera lahir maupun batin tidak akan tercapai. Agama c. KESIMPULAN Berdasarkan penjelasan di atas yang telah saya uraikan di atas. bahagia. maupun harta kekayaan masing-masing pihak. Ekonomi b. sehingga tujuan perkawinan menurut UU No. Budaya Sedangkan tujuan wanita melakukan kawin kontrak adalah: a. SARAN Menilai dari hasil kesimpulan diatas penulis memberikan saran: 1. maka saya menarik kesimpulan sebagai berikut: Latar belakang yang mendorong wanita melakukan kawin kontrak adalah: a. Bagi para Kyai agar membuat kesepakatan bersama dan berani menolak melangsungkan perkawinan sirri karena perkawinan yang demikian tidak tercatat dan dapat dijadikan ajang kawin kontrak.

Peran orang tua sangat penting bagi kehidupan anak-anaknya dalam pendidikan dan menanamkan pendidikan agama dengan baik sejak kecil. Untuk para wanita yang belum menikah perlu lebih memahami tentang perkawinan. dan kelak bila melangsungkan perkawinan agar dilaksanakan sesuai dengan UU No. serta melakukan pengawasan terhadap perilaku anak sehari-hari. 4.3.1 tahun 1974 tentang Perkawinan. 32 .

Jakarta: PT Ichtiar Van Hoeve. 33 . Efa Laela. Status Perkawinan Antar Agama Ditinjau dari UU Perkawinan No. Ensiklopedi Hukum Islam. Dian Rakyat. Abdul Aziz Dahlan.COM. Fakhriah. Mohd.1 Tahun 1974. 1986. Ramulyo. Jakarta:Bumi Aksara.DAFTAR PUSTAKA Asmin. Kawin Kontrak Tidak Sesuai Aturan Agama Maupun Negara. (13 Oktober 2010). Http://WWW. 2002. Jakarta: PT. 2003.GOOGLE. Idris. Hukum Perkawinan Islam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful