BAGIAN 1: PRAKTIKUMA PERENCANAAN CAMPURAN BETON (MIX DESIGN) K-225

BAB 1 PENDAHULUAN
Dalam suatu perencanaan konstruksi bangunan, beton merupakan bagian yang terpenting. Berdasarkan hal ini maka analisa dan penelitian terhadap materi dan proses terbentuknya beton sangat diperlukan. Sebagai program wajib dalam Ilmu Bahan Bangunan jurusan Teknik Sipil, maka

penerapan dasar dan aplikasinya wajib dikuasai oleh setiap mahasiswa Teknik Sipil. Hal ini diacukan agar kedepan seorang sarjana Teknik Sipil dapat menguasai konsep dan analisa kerja saat terjun kedunia konstruksi bangunan. Praktikum ini bertujuan untuk memperoleh pengetahuan mengenai

perencanaan campuran beton serta keterampilan dalam pelaksanaannya. Kegiatan utama dari praktikum bahan bangunan ini adalah perencanaan beton (mix design) yang merupakan syarat dari mata kuliah Ilmu Bahan Bangunan yang berjumlah 3 sks di Fakultas Teknik Unsyiah. Tujuan praktikum Bahan Bangunan ini selain untuk menyelesaikan 1 sks juga untuk memberikan

wawasan atau gambaran kepada mahasiswa tentang beton dan bagaimana cara menghitung campuran beton struktural yang diinginkan. Dan juga untuk mempermudah mahasiswa pada semester selanjutnya tentang kuliah Bahan Bangunan ini khusunya masalah beton. Praktikum yang dilakukan dalam jangka waktu lebih dari satu bulan ini adalah merencanakan campuran beton struktural dengan mutu beton K-225 Beton adalah sejenis batu-batuan (artificial stone) yang terbentuk dari hasil pengerasan suatu campuran yang terdiri atas : semen (sebagai bahan pengikat), pasir (agregat halus), kerikil (agregat kasar), air (sebagai bahan pereaksi), serta bahan-bahan tambahan lainnya (admixture/additive) yang bisa digunakan bila ada maksud tertentu misalnya untuk memperlambat pengerasan

1

atau menambah kekuatan, bahan aditif ini bisa terdiri dari : fly ash, gips, bubuk bata merah, dan lain-lain. Beton merupakan campuran yang mula-mula bersifat plastis kemudian mengeras yang mempunyai massa. Beton merupakan material yang paling banyak digunakan pada konstruksi teknik sipil. Dalam teknik sipil, struktur beton digunakan untuk bangunan pondasi, kolom, balok, pelat atau pelat cangkang. Dalam teknik sipil hidro, beton digunakan untuk bangunan air seperti bendung, bendungan, saluran, dan drainase perkotaan. Beton juga digunakan dalam teknik sipil transportasi untuk pekerjaan rigid pavement (lapis keras permukaan yang kaku), saluran samping, gorong-gorong, dan lainnya. Jadi, beton hampir digunakan dalam semua aspek teknik sipil. Artinya, semua struktur dalam teknik sipil akan menggunakan beton, minimal dalam pekerjaan pondasi. Struktur beton didefinisikan sebagai bangunan beton yang terletak diatas tanah yang menggunakan tulangan atau tidak menggunakan tulangan (ACI 318-89,1990:1-1). Struktur beton sangat dipengaruhi oleh komposisi dan kualitas bahan-bahan pencampur beton, yang dibatasi oleh kemampuan daya tekan beton seperti yang tercantum dalam perencanaannya. Hal tersebut bergantung juga pada kemampuan daya dukung tanah (supported by soil), kemampuan struktur yang lain atau kemampuan struktur atasnya (vertical support). Bila kita melihat riwayat perkembangan beton, penggunaan beton dan bahan-bahan vulkanik seperti abu pozzolan sebagai pembentuknya telah dimulai sejak zaman Yunani dan Romawi, bahkan mungkin sebelum itu (Nawy, 1985:2-3). Penggunaan bahan beton bertulang secara intensif diawali pada awal abad ke sembilan belas. Pada tahun 1801, F. Coignet menerbitkan tulisannya mengenai prinsip-prinsip konstruksi dengan meninjau kelembaban bahan beton terhadap taruknya. Pada tahun 1850, J.L. Lambot untuk pertama kalinya membuat kapal kecil dari bahan semen untuk dipamerkan pada Pameran Dunia tahun 1855 di Paris. J. Monier, seorang ahli taman dari Prancis, mematenkan rangka metal sebagai tulangan beton untuk mengatasi taruknya yang digunakan untuk tempat tanamannya. Pada tahun 1886, Koenen

2

menerbitkan tulisan mengenai teori dan perancangan struktur beton. C.A.P Turner mengembangkan plat slab tanpa balok pada tahun 1906. Perkembangan yang cepat dalam bidang seni serta analisis perancangan dan konstruksi beton telah menyebabkan dibangunnya struktur-struktur beton yang sangat khas (Nawy, 1985) seperti Auditorium Kresge di Boston, Keong Mas di Taman Mini Indonesia, Lake Point Tower di Chicago, dan Marina Tower.

3

BAB 2 PEMERIKSAAN SIFAT FISIS MATERIAL

2.1

MATERIAL Bahan-bahan konstruksi yang digunakan adalah:

2.1.1 Semen Semen yang digunakan adalah semen berstandar pabrik dari PT. Andalas tipe I yang berfungsi sebagai bahan pengikat. Semen ini mempunyai spesific gravity 3,1 - 3,15. 2.1.2 Air Air untuk proses hidrolis haruslah air bersih, bebas dari minyak, asam alkali, garam-garam, dan bahan organis yang dapat merusak beton. Namun air yang tepat menurut persyaratan tersebut jarang diperoleh, maka dalam peraturan beton, air yang mengandung sedikit zat tersebut masih boleh digunakan. Dalam percobaan ini, air yang digunakan adalah air yang terdapat di sekitar Laboratorium Konstruksi dan Bahan Bangunan Fakultas Teknik Unsyiah. 2.1.3 Agregate Menurut proses terjadinya, agregate dapat dibagi menjadi agregate alami dan agregate buatan. Agregate alami adalah desintegrasi alami batu-batuan. Sedangkan agregate buatan adalah agregate yang dihasilkan dari pembuatan agregate lain. Agregate menurut bentuk terbagi dua yaitu coarse aggregate atau agregate kasar dan fine aggregate atau agregate halus. Coarse aggregate mempunyai ukuran antara 4,76 mm s.d 150 mm. Sedangkan fine aggregate mempunyai ukuran 0,074 mm s.d 4,76 mm. Fine aggregate terbagi dua yaitu coarse sand atau pasir kasar dan fine sand atau pasir halus.

4

2.1.3.1 Sifat-Sifat Fisis Agregate 2.1.3.1.1 Bulk Density (berat volume) A. Tujuan : mengetahui berat volume agregate. B. Peralatan : 1. Pengering (oven) 2. Talam/baki untuk mengeringkan benda uji agregat 3. Tongkat pemadatan standar dari besi dengan panjang 60 cm dan salah satu ujungnya dibulatkan 4. Mistar perata 5. Skop/sendok pengisi agregat 6. Container baja yang kaku berbentuk silinder dengan tutup dari plat kaca C. Bahan : 1. Kerikil (coarse aggregate) 2. Pasir (fine aggregate)

D. Langkah :  Berat container beserta tutup plat kaca ditimbang.  Container diisi air penuh, hingga tidak ada lagi udara didalam container. Lalu ditimbang beratnya.  Berat air dalam container dihitung.  Berat plat kaca juga dihitung.  Lalu benda uji di masukkan ke dalam baskom sebanyak 3 buah baskom.  Benda uji kemudian dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam.  Benda uji yang telah dimasukkan ke dalam oven, kemudian dimasukkan ke dalam container sebanyak tiga lapis. Setiap lapisan dipadatkan dengan menggunakan tongkat standar sebanyak 25 kali tusukan secara merata.  Kemudian permukaan benda uji diratakan dengan menggunakan tongkat standar pada tepi atas container.  Berat container dan benda uji ditimbang.

5

46 2.1 Bulk Density Coarse Aggregate N o 1 SAMPLING No.552 1.552 1.54 1.91 10.45 2.450 10.572 1.450 8.585 1.1.636 Tabel 2.450 10.56 2.90 10.44 2.91 2.47 1.450 8.450 8.552 1.450 8.49 2.597 1.552 1.2 Bulk Density Coarse Sand N o 1 SAMPLING No.94 11.552 1.93 10.559 1.450 8.552 1. 2 CONTAINER (Kg) 3 WEIGHT CONTAINER AGGREGATE (Kg) 4 AGGREGATE (Kg) 5 VOLUME OF CONTAINER (l) 6 BULK DENSITY (Kg/l) 7 1 2 3 A B C AVERAGE 8.604 1.3 Bulk Density Fine Sand N o 1 SAMPLING No. 2 CONTAINER (Kg) 3 WEIGHT CONTAINER AGGREGATE (Kg) 4 AGGREGATE (Kg) 5 VOLUME OF CONTAINER (l) 6 BULK DENSITY (Kg/l) 7 1 2 3 A B C AVERAGE 8.552 1.49 2.2 Spesific Gravity (berat jenis)  Berat Jenis Kerikil (Coarse Aggregate) A.552 1.88 2.99 2. 2 CONTAINER (Kg) 3 WEIGHT CONTAINER AGGREGATE (Kg) 4 AGGREGATE (Kg) 5 VOLUME OF CONTAINER (l) 6 BULK DENSITY (Kg/l) 7 1 2 3 A B C AVERAGE 8.02 10.569 Tabel 2.87 10. Tujuan : menentukan berat jenis kerikil yang berguna untuk menetukan volume kerikil dalam beton 6 .450 8.90 10.42 2.01 11.578 1.48 2.552 1.3.89 10.595 2.57 2.655 1.604 1.Tabel 2.43 1.450 10.1.649 1.

dalam air dan kering oven (OD) ditimbang. 5. Langkah : 1. Kertas/kanvas tempat menganginkan 5. Bila keadaan jenuh permukaan tercapai. Alat penggantung keranjang 4.  Berat Jenis Pasir (Fine Aggregate) A. Timbangan kapasititas 5 kg dengan ketelitian 0. Kerikil (coarse aggregate) D.1 gr 2. 7. Benda uji dioven selama 24 jam dengan temperature berkisar anatara 100 sampai 105 oC. Benda uji dalam keranjang ditimbang beratnya dalam air pada temperature kamar. 4. Benda uji dilap dengan kain lap. 6. Oven 6. Kain lap 7. Baki/baskom 8. Peralatan : 1. masukkan benda uji ke dalam keranjang lalu ditimbang beratnya di udara. Benda uji dalam keadaan kering oven ditimbang beratnya.B. Keranjang besi 3. 3. lalu ditebarkan di atas kertas/kanvas hingga tercapai kondisi jenuh permukaan (SSD). Sendok/skop aggregate 9. Bahan : 1. Benda uji direndam dalam air selama 24 jam. Ember C. Berat keranjang di udara. Tujuan : menentukan berat jenis pasir yang berguna untuk menetukan volume pasir dalam beton 7 . 2.

Benda uji direndam selama 24 jam. menunjukkan bahwa pasir belum mencapai keadaan jenuh permukaan.B. Oven 5. Bahan : 1. menunjukkan bahwa pasir dalam keadaan jenuh permukaan. Baki/baskom 6. 4.1 gr 2. 3. Benda uji ditebarkan pada lantai/kanvas ditempat yang teduh untuk dianginkan. Pasir halus (fine sand) 2. Timbangan kapasititas 5 kg dengan ketelitian 0. 8 . Gelas/Stoples beserta tutup plat kaca ditimbang beratnya. Setelah permukaan diratakan lalu cetakan diangkat vertikal keatas.  Benda uji dalam keadaan runtuh seluruhnya. Cetakan kerucut pasir (metal sand cone mold) dengan penumbuk besi. menunjukkan bahwa pasir telah melewati keadaan jenuh permukaan.  Benda uji sebagian runtuh/longsor. 2. Peralatan : 1. 5. kemungkinan terjadi :  Benda uji dalam keadaan utuh. Cetakan kerucut pasir diisi sampai tiga lapisan yang setiap lapisannya dipadatkan dengan alat pemadat sebanyak 25 kali secara merata. Keadaan jenuh permukaan (SSD) didapat dengan cara memasukkan benda uji yang telah dianginkan (free-flowing condition) kedalam cetakan kerucut pasir. Pasir kasar (coarse sand) D. Dari langkah diatas. Sendok/skop aggregate 7. Langkah : 1. 3. Ember C. Gelas (stopples) dengan tutup plat kaca 4.

Benda uji pada langkah 6 diisi ke dalam baskom (container) yang beratnya. Benda uji dalam keadaan jenuh permukaan diisi kedalam gelas/stoples dan ditimbang beratnya.671 1.617 458 2223 1765 2.676 C (gr) 6 458 408 2250.5 2. 10. OD Water Absorbtion (%) Average Absorbtion (%) NOTATION 3 Wc Wcw Wcs Wcsw Ws = Wcs – Wc Ww = Wcsw – Wcw Wv = Ws – Ww SG. Gelas berisi air penuh ditimbang beratnya.5 554. 9.723 2.558 2.5 1537 1792.5 2. SSD Average Specific Gravity.715 458 2567 2109 2.676 1. SSD Basket Basket + Aggregate. OD Average Specific Gravity.OD Aggregate oven dry Specific gravity.6. 12. 8. Benda uji dioven selama 24 jam dengan temperatur 100-105º C.643 9 .5 1129 663. Hilangkan udara yang dikandung benda uji dengan cara mengisi air penuh kedalam gelas.660 1. OD=Wd/Wv 100 (Ws – Wd)/Wd B (gr) 5 458 408 2604 1766 2146 1358 788 2.720 No 1 1 2 3 4 5 6 7 8 WEIGHT 2 Basket Basket under water Basket + Aggregate. SSD = Ws/Wv Wc’ Wcd Wd=Wcd – Wc’ SG. Gelas yang berisi benda uji dan air penuh ditimbang beratnya.754 1. 7.5 1508 953.702 9 10 11 12 13 458 1942 1484 2.SSD Basket + Aggregate under water Aggregate Saturated surface dry Aggregate under water Volume of Aggregate.4 Specific Gravity Coarse Aggregate SAMPLE A (gr) 4 458 408 1966 1361. Benda uji dalam baskom pada keadaan kering oven (OD) ditimbang beratnya. 11. Tabel 2.SSD Specific gravity.

OD Average Specific Gravity. SSD 7 Average Specific Gravity. OD 12 Water Absorption (%) Average Water Absorption (%) W’csw Wd=W’csw – W’c SG.447 2. OD= Wd/Wv 100(Ws – Wd)/Wd 303 946 643 2. SSD Aggregate Saturated Surface Dry Container + Aggregate + Water Container + Water Volume of Aggregate SSD Specific gravity.463 160 628 468 2.479 B (gr) 5 1004 1337 333 1858 1659 134 2.568 Specific gravity.87 Tabel 2.463 6. SSD + Ws/Wv SAMPLE A (gr) 4 1454 2124 670 3339 2930 261 2.570 10 .552 2.19 C (gr) 6 964 1454 488 2159 1861 190 2.562 306 979 673 2. SSD 8 Container 9 Container + Aggregate OD 10 Aggregate Oven Dry 11 Specific gravity. SSD = Ws/Wv A (gr) 4 1135 1435 300 1970 1791 121 2.485 C (gr) 6 1027 1338 311 1863 1673 121 2.01 6.567 B (gr) 5 1437 2139 702 3341 2914 275 2.69 4.457 7.6 Specific Gravity Coarse Sand SAMPLE No 1 1 2 3 4 5 6 7 WEIGHT 2 Container Container + Aggregate. SSD NOTATION 3 Wc Wcs Ws = Wcs – Wc Wcsw’ Wcw” Wv=Ws – Wcsw’ + Wcw” SG.Tabel 2.5 Specific Gravity Fine Sand No 1 1 2 3 4 5 6 WEIGHT 2 Container Container + Aggregate SSD Aggregate Saturated Surface Dry Container + Aggregate + Water Container + Water Volume of Aggregate SSD NOTATION 3 Wc Wcs Ws = Wcs – Wc Wcsw’ Wcw” Wv=Ws – Wcsw’ + Wcw” SG.

Cetakan kerucut pasir (metal sand cone mold) dengan penumbuk besi 3. Tujuan : menentukan berat jenis pasir yang berguna untuk menetukan volume pasir dalam beton 11 .389 4.1 gr 2.3. 2. Bahan : 1. OD Water Absorbtion Average Water Absorption 2.381 2.3.1.5. OD= Wd/Wv 100(Ws – Wd)/Wd 201 490 289 331 650 319 319 616 297 2.455 3. SSD Container Container + Aggregate OD Aggregate Oven Dry Specific gravity.388 2. Pasir kasar (coarse sand) Data absorbsi dapat dilihat pada tabel 2. serta hubungannya dengan perencanaan campuran air dan kualitas agregate dalam beton. Peralatan : 1. OD Average Specific Gravity.1.8 9 10 11 12 Average Specific Gravity. Baki/baskom 6.512 W’csw Wd=W’csw – W’c SG.408 2.303 4. dan 2.3 Absorbsi A.6.4 Sieve Analysis (Analisa Saringan) A.4. 2.806 4. Gelas (stopples) dengan tutup plat kaca 4.1. Tujuan : menentukan persentase berat air yang terserap oleh agregat pada kondisi jenuh permukaan. Ember C. B. Timbangan kapasititas 5 kg dengan ketelitian 0. Pasir halus (fine sand) 2.1. Sendok/skop aggregate 7.714 2. Oven 5.

1 .149mm.52 . Lalu masing-masing benda uji dimasukkan ke dalam set saringan tersebut.52 . Pengering (oven) 2. 19. 0.5 . Baki 5. 2. Masing-masing benda uji dioven selama 24 jam dengan temperatur 105º C.1 . Satu set saringan standar ASTM 79 yang telah disesuaikan dengan PBI 1971 yaitu dengan ukuran 31. 1. 12 . Pasir halus D. 0. 4.5 . Langkah Kerja : 1.29 .16 .38 . 9. 4. 4. Timbangan dengan kapasitas 5 kg dengan ketelitian 0.38 . 2.149 mm dan alas. Sendok dan kuas C. 9. 2. 4.19 . Saringan disusun dengan urutan 31. Setelah disaring. 0.297 . kemudian saringan digoyang-goyangkan dengan tangan selama lebih kurang 15 menit agar benda uji cepat turunnya. 0. masing-masing fraksi benda uji yang tertahan diatas saringan dan sisanya pada alas ditimbang beratnya.159 .1% dari berat benda uji 3.76 . 3. 0. Peralatan : 1. 1.B. Kerikil 2. Bahan : 1.18 .59 . 0. 19. Pasir kasar 3.

2.533 9.1.700 100 12.500 14.534 5.4 Fineness Modulus (modulus kehalusan) A.Hasil pada pengujian sieve analysis dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2.133 100 2.15 Sisa Total 34.200 0.250 51.1 9.233 33.966 19.3 0.76 2.52 4.6 0.5 19.18 0.067 25.834 1.234 100 12.800 2.38 1.233 12. B.550 1. Langkah: diperoleh dari jumlah kumulatif persentase fraksi yang tertahan suatu susunan saringan yang dibagi 100.766 12. 13 . Tujuan : mengelompokkan agregate berdasarkan tingkat kehalusannya.200 36.7 Sieve Analysis Persen tinggal dalam saringan Ukuran saringan Coarse Aggregate Coarse Sand Fine Sand 31.267 14.

53 30.12 77.18 0.1 9.05 2.88 22.02 2.51 6.00 100.00 0.52 4.76 2.68 100.5 19.85 2.00 0.73 3.00 Commulative Passing of Retained on (%) (%) 100.73 12.1 9.87 100.3 0.149 Sisa Total FMFS Individual/ Retained on (%) 0.73 66.00 85.37 0.6 0.00 1.12 51.00 26.32 0.13 1.00 73.33 11.76 2.27 10.60 0.15 Sisa Total FMCA Individual/ Retained on (%) (2) 0.60 8.67 88.27 14.297 0.00 98.Tabel 2.48 94.00 0.05 0.00 1.00 Commulative Passing of (%) (3) 100.00 0.47 3.08 3.8 Fineness Modulus Coarse Aggregate Sieve size (mm) (1) 31.9 Fineness Modulus Fine Sand Sieve size (mm) 31.00 673.00 0.47 1.27 63.26 36.74 33.98 14 .00 88.38 1.63 99.15 297.26 Retained on (%) (4) 0.47 24.55 10.40 91.00 0.00 100.74 Tabel 2.53 97.52 4.63 1.73 18.52 5.00 126.00 202.00 26.00 100.18 0.00 14.00 100.00 0.38 1.32 100.49 1.5 19.13 0.87 98.

00 206.98 2.16 2.671 1.90 22.64 0. coarse sand dan fine sand.73 39.60 0.10 Fineness Modulus Coarse Sand Sieve size (mm) 31.76 2.00 0.52 4.00 100.07 13.10 60.74 15 .70 0.06 94.5 19.00 100.261 3.512 2.36 100.00 0.84 393.149 Sisa Total FMCS Individual/ Retained on (%) 0.408 2.00 0.Tabel 2.14 5.27 43.1 9.93 56.93 2.80 25.07 3.563 2.00 Commulative Passing of Retained on (%) (%) 100.38 1. diperoleh hasil pengujian seperti yang terdapat dalam tabel dibawah ini: Tabel 2.18 0.00 0.80 4.94 0.86 81.93 Dari hasil pengujian sifat-sifat material yang telah dilakukan terhadap coarse aggregate.715 Bulk Density (kg/l) Water Absorbtion (%) Fineness Modulus OD (gr/l) 2.643 6.00 22.303 4.00 0.00 77.11 Sifat-sifat Fisis Spesific No Jenis agregate gravity SSD (gr/l) 1 Coarse Aggregate 2 3 Coarse Sand Fine Sand 2.297 0.36 99.17 16.00 100.10 17.458 4.07 18.

Penghitungan fineness modulus dimaksudkan untuk memisahkan agregate berdasarkan ukuran dan tingkat kehalusannya.Fineness modulus dihitung dari pemeriksaan sieve analysis atau disebut juga gradasi. Gradasi adalah sebaran agregate berdasarkan ukurannya. 16 .

1. mengurangi air (water Reducing). pozzoland alam. peningkatan kekuatan dan lain-lain.1-91 Beton pada dasarnya tersusun dari agregat. dan salikafume dapat digunakan bersama-sama semen portland agar lebih murah/ekonomis atau agar mendapat sifat-sifat tertentu seperti panas hidrasi awal yang rendah.BAB 3 PERENCANAAN CAMPURAN BETON (MIX DESIGN) MENURUT ACI 211.menurunkan permeabilitas dan ketahanan untuk dimasuki oleh cairan yang agresif. memperlambat perkembangan kekuatan. Terkadang untuktujuan tertantu beton juga mengandung material khusus lainnya (additive) dan dahan tambahan kimia (admixture) beton akanmengandung sejumlah udara yang terperangkap dan untuk keperluan tertenyu juga mengandung udara yang dimasukkan dengan menggunakan bahan pemasuk udara ( air entraining agent). meningkatkan kelecakan (workability). PERENCANAAN CAMPURAN BETON (MIX DESIGN) MENURUT ACI 211. ketahanan. dan air. dan tampilan beton. kekuatan. Kemampuan untuk menyesuaikan sifat-sifat beton terhadap kebutuhan perjaan mencerminkan perkembangan teknologi yang mendapat tempat sejak awal 1900. Tergantung dari tipe jumlahnya.atau meningkatkan ketahanan terhadap reaksi alkali agregat dan serangan sulfat . kepdatan. semen portland. memperlambat ( retarding). slag.1-91 Pemelihan komposisi beton perlu memperhatikan keseimbangan antara biaya yang ekonomis dan kebutuhan-kebutuhan seperti kemudahan beton untuk ditempatkan. penggunaan faktor airsemen sebagai alat untuk 17 . beberapa bahan tambahan mineral sepertia abu terbang (fly ash). Bahan tambahan kimia sering digunakan untuk mempercepat (accelarating).

Semakin besar nilai slump maka semakin mudah beton untuk mengalir selama ditempatkan. Dalam hal ini yang dimaksud dengan workability adalah sifat beton yang berhubungan dengan  Kemudahan dicetak  Daya ikat  Kemudahan memadat tanpa harus terjadi pemisahan butiran Workability sangat dipengaruhi oleh :  Gradasi  Bentuk butiran  Komposisi agregat  Jumlah dan mutu semen atau bahan-bahan yang halus lainnya  Adanya udara yang terperangkap dan dahan tambahan kimia  Kensistensi dari adukan. Penggunaan bahanpemasuk udara mulai dikenal pada awal 1940-an. b.memprediksikekuatan beton mulai dikenal sejak awal 1918-an. Kemudahan untuk ditempatkan Kemudahan beton untuk ditempatkan melibatkan sifet kemudahan pekerjaan dan konsistensi. Jumlah air akan meningkat bila agregat makin tidak bulat dan bertekstur kasar (tapi kekurangan ini dapat di imbangi dengan peningkatan sifat yang lain seperti lekatan dengan pesta semen). Konsistensi Yang dimaksud dengan konsistensi disini adalah pergerakan relatif dari canpuran beton yang diukur sebagai nilai slump. Kebutuhan air campuran menurun bila ukuran maksimum agregat bergaradasi baik meningkat. Pada perencanan campuran beton banyak air yang dibutuhkan untuk menghasilkan slump yangdi inginkan akan sangat dipengaruhi oleh beberapa hal. Kebutuhan air campuran biasanya menurun secara nyata pada penggunaan bahan tambahan kimia tertentu yang mereduksi jumlah air. Konsistensi adalah berhubungan dengan workability namun tidak sama dengan workability. 18 . a.

slag. basah dan kering. seperti mencair dan membeku pada daerah 4 musim. panas dan dingin.jumlah air yang dimaksud disini tidak termasuk dengan air yang terserap oleh agregat. Penggunaan agregat yang tersusun dari butiran mineral yang keras dan 19 . dan ketahanan terhadap pemakaian selama masa layannya juga perlu diperhatikan. slag. bahan kimia dan lain-lain. kekeuatan beton ditentukan berdasarkan perbandinga jumlah air yang digunakan terhadap berat semen. Keawetan Beton harus dapat menahan serangan dari luar selama layannya. silika fume atau pemilihan agregat untuk melindungi serangan berbahaya pada reaksi alkali agregat yang terjadi pada tempat-tempat yang terkena lingkungan lembab. Faktor air semen Untuk suatu kondisi material yang sudah diketahui sifatnya. sifat lain seperti keawetan (durability). Feriasi kuat tekan pada suatu nilai FAS tertentu mungkin saja terjadi akibatadanya perubahan :  Ukuran maksimum dari agregat  Gradasi  Tekstur permukaan  Bentuk  Kekuatan dan kekakuan agregat kasar  Perbedaan tipesemen  Kandunganudara  Penggunaan bahan tambahan kimia yang mempengaruhi proses hidrasi semen. d.c. Ketahan terhadap hal-hal telah disebutkan diatas dapat diperoleh dengan menggunkan bahan kusus seperti semenr endah alkali. silika flme atau bahan pozzolan lain untuk beton yang terkena air laut atu tanah bersulfat. Kekuatan Walaupun kekuatan adalah suatu sifat penting dari beton. pozzolan. Penggunaan bahan bahan kusus seperti semen tahan sulfat. penyerapan (permeability). e.

Informasi atau data yang barguna adalah :  Analisa saringan dari agregat halus dan kasar  Berat volume dari agregat kasar  Berat jenis dan absorpsi agregat  Berat air campuran berdasarkan kondisi agregat  Hubugankuat tekan dengan faktor air semen  Berat jenis sement portland  Kombinasi optimum dari agregat kasar untuk mendapat gradasi terbaik. pipa minyak dibawah air . Perencaan pencampuran terkadang dibatasi oleh hal-hal berikut :  Faktor air semen maksimum  Kandungan semen minimum  Kandungan udara  Slump  Diameter maksimum agregat  Kuat tekan  dan persyaratan lainnya 20 . f. penahan radiasi dan peredam suara.bebas dari bagian yang lemah untuk beton yang membutuhkan permukaan yang tahan abrasi. Beton untuk kondisi diatas dapat diperoleh dengan menggunakan agregat yang memiliki berat volume kurang lebih 5600 kg/m3. Pemeliharaan komposisi beton harus berdasarkan pada hasil pengujian atau pengalaman terhadap material sesungguhnya yang akan digunakan. Kepadatan Untuk keperluan tertentu kuat beton yang besar juga dimanfaatkan sebagai pemberat pada jembatan angkat.

Secara umum ukuran maksimum 21 . Karenaukuran beton yang besar membutuhkan mortar lebih sedikit persatuanvolume beton. ACI 211.3.1 Nilai slump direkomendasikan untuk berbagai tipe kontruksi Slump (mm) Jenis kontruksi Maksimum Dinding penahan dan pondasi beton bertulang Pondasi sederhana.5.3.Penentuan komposisi campuran beton dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : 1.1-9 75 75 100 100 75 75 Minimum 25 25 25 25 25 25 2. Pemilihan nilai slump Nilai slump yang ditampilkan pada tabel A1. Campuran yang sebaiknya digunakan adalah campuran dengan konsistensi yang paling kaku dapat di cor/ditempatkan.1 digunakan bila pemadatan beton dilakukan dengan menggunakan vibrator.5. Pemilihan ukuran maksimum agregat Agregat dengan ukuran maksimum agregar yang besar dengan gradasi baik memiliki pori lebih sedikitdari pada ukuran agregat yang lebih kecil. Tabel a 1. sumuran. dinding sub struktur Balok dan dinding beton bertulang Kolom struktural Perkerasan dan slub Beton massal Sumber .

tendon. Penentuan faktor air semen (FAS) Kebutuhan FAS ditentukan tidak hanya oleh kuat tekan yang diiginkan tapi juga oleh faktor-faktor seperti keawetan.5. Bila data keawetan tidak ada maka penentuan FAS ditentukan oleh berdasarkan Tabel A1. tulanganyang digabungkan atau ducting.niminal agregat sebaiknya dipilih yang terbesar yang memungkinkan digunakan agar ekonomis. Bilia kuat tekan beton diiginkan tinggi .hasil terbaik dapat diperoleh dengan mengurangiukuran maksimum agregat karena hal ini dapat menghasilkan kekuatanyang lebih tinggi dari pada suatunilai FAS yang sama. dan atau ¾ jarak bersih antara baja tulangan. dan atau 1/5 jarak terkecil bidang bekesting. 3.3. 22 . Penentuan air campuran dankandungan udara Jumlah air per satuan volume beton yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu nilai slump tertentu tergantung pada :  ukuran meksimum nominal agregat  bentuk partikel  gradasi agregat  temperature beton  jumlah dari udara yang dimasukkan  penggunaan bahan tambahan kimia Nilai slump tidak terlalu besar pengaruhnya pada penentuan jamlah semen 4. Ukuran agregar maksimum yang dapat digunakan sebesar 1/3 tebal plat.4(a).

5 50 70 150 Beton Tanpa Bahan Pemasuk Udara 25 sampai 50 75 sampai 100 150 sampai 175 207 228 243 199 216 228 190 179 166 205 193 181 216 202 190 154 130 113 169 145 124 178 160 - Perkiraan Jumlah Udara yang Terperangkap di dalam beton (%) Beton dengan Bahan Pemasuk Udara 25 sampai 50 75 sampai 100 150 sampai 175 181 202 216 175 193 205 168 160 150 184 175 165 197 184 174 142 122 107 157 133 119 166 154 3 2.3.5 3.5.5 4 5.5 1 3 4 Sumber : ACI 211.5 6 2.1-91 (Reapproved 2002) 23 .2 Kandungan udara total rata-rata yang disarankan.5 0.5 5.5 2 4 5 1.3 Perkiraan Air Pencampur dan Kandungan Udara yang dibutuhkan untuk Slump dan Ukuran Maksimum Nominal Agregat yang Berbeda Air (kg/m3 beton) untuk Ukuran Maksimum Agregat (mm) Slump (mm) 9.3 0.5 6 7.Tabel A1.5 4.5 4.5 12.5 19 25 37.5 7 3.5 2 1.5 1 0. (%) kondisi diekspose sedikit diekspose sedang sangat diekspose 4.5 5 6 3 4.

54 25 0. = konstanta yang tergantung dari jumlah benda uji dan tingkat kegagalan.52 0. ’c z = kuat tekan rencana. S Dimana: ’cr = kuat tekan rata-rata beton sehingga kuat tekan hasil pengujian sampel nantinya tidak akan lebih kecil dari kuat tekan rencana.69 15 0.4(a) Hubungan antara Faktor Air Semen dan Kuat Tekan Beton Kuat Tekan Beton pada Umur 28 hari Faktor Air Semen 40 Beton tanpa Bahan 0.42 35 0.1-91 (Reapproved 2002) Adapun kuat tekan yang digunakan adalah kuat tekan rencana yang telah diperbesar dengan suatu nilai margin tertentu. contoh bila dari 20 benda uji diperbolehkan gagal 1 benda uji(5% tingkat kegagalan) maka z = 1.5.47 (Mpa) 30 0.65 S = simpangan baku (deviasi standar).61 20 0.Tabel A1.45 0. 24 .79 Pemasuk Udara Beton dengan Bahan Pemasuk Udara - 0.6 0. sehingga: ’cr = ’c+ z .39 0.3.7 Sumber : ACI 211. Nilai simpangan baku dapat ditentukan dari mutu pelaksanaan yang diinginkan seperti yang disajikan pada tabel berikut ini.

3. 6. Perkiraan kandungan agregat kasar Untuk workability yang sama.00 0.1.4 4.40 0.8 Sangat Baik 2.75 2.6.4 1.6 Volume Agregat Kasar per Satuan Volume Beton Ukuran Maksimum Aggregate(mm) 9.60 0.57 0. Perhitungan kandungan semen Jumlah semen yang dibutuhkan ditentukan dari perhitungan pembagian antara jumlah air yang telah diperoleh dengan nilai faktor air semen yang telah dipilih.2.50 0.4 Bai k 3.48 0.7 2.71 0.66 0.Tabel 3.4 Sumber: ACI 214R-02 5.1 Sedang Kurang Baik > 4.65 0.46 0.3. Bila ada ketentuan lain mengenai jumlah semen yang harus digunakan maka digunakan jumlah semen terbanyak dari berbagai pilihan yang ada tersebut.5 19 25 37.5 Mpa) Variasai secara keseluruhan Simpangan baku dari standar kontrol yang berbeda Mutu Pekerjaan Luar Biasa < 2.8 .59 0.4 -1.67 0.8 <1.7 2.73 2.71 3.5.44 0.5. Volume agregat kasar dapat ditentukan berdasarkan Tabel A1.62 0. volume agregat kasar dalam satu satuan volume beton tergantung hanya pada ukuran maksimum nominal dan derajat kehalusan agregat halus.1.69 0.53 0.69 25 .8 Pengujian Konstruksi Umum Percobaan di Laboratorium 4.3.5 Volume dari Aggregate Kasar Kering Oven per Satuan Volume Beton untul Derajat Kehalusan Pasir yang Berbeda 2.1 1.2 Standar untuk kontrol beton (f”c ≤ 34.64 0.4 > 2.80 0.4.5 12. Tabel A1.55 0.60 0.

3.82 0.81 Sumber: ACI 211.7.6 dapat dikalikan dengan berat volume kering oven dari agregat kasar yang bersangkutan. Direncanakan menggunakan butir 26 .50 70 150 0.76 0.5.78 0.5 12.1-91 (Reapproved 2002) 8. CONTOH PERHITUNGAN METODE ACI 211.1-91 Direncanakan sebuah balok struktur untuk pekerjaan beton dengan mutu 25 Mpa.80 0.5.5 50 70 150 Beton tanpa Bahan Pemasuk Udara 2280 2310 2345 2380 2410 2445 2490 2530 Beton dengan Bahan Pemasuk Udara 2200 2230 2275 2290 2350 2345 2405 2435 Sumber: ACI 211.85 0. Tabel A 1.7. semen dan agregat kasar.83 0.5.78 0.72 0.3. Adapun berat beton perkiraan awal dapat ditentukan dari tabel A1. Pengawasan pelaksanaan baik.76 0.74 0. Koreksi perhitungan Perhitungan dikoreksi berdasarkan absorpsi yang terjadi pada agregat. 7.3.1 Perkiraan Awal Berat Beton Segar Perkiraan Awal Beton (kg/m³) Ukuran Maksimum Aggregate (mm) 9. Perkiraan kandungan agregat halus Agregat halus dapat diperoleh dengan menghitung selisih dari berat beton perkiraan awal terhadap berat total dari air.1.5 19 25 37.1-91 (Reapproved 2002) Untuk mendapatkan berat agregat kasar yang digunakan volume agregat yang diperoleh dari Tabel A1.87 0.

792 9.maksimum agregat sebesar 40 mm.15 Sisa Jumlah Derajat Kehalusan (Fineness Modulus = FM) Penyelesaian: 1. Jadi f’cr = f’c + z. Diameter maksimum agregat 40 mm.3.4 sebesar 0.4 4 0 Persentase yang tertinggal di atas Saringan 0 4 12. 2.S = 25 + 1.3 adalah 178.004%.2 42 18.3.6 kg/m3. Daya serap (absorpsi) air untuk agregat kasar sebesar 3. Faktor air semen ditentukan setelah diperhitungkan mutu beton ratarata yang diharapkan (f’cr).6 96 100 2.52 4. 4. 3.4 1.64(4) f’cr = 31.8 26.149% dan agregat halus sebesar 2.8 14 31.76 2.8 58 81. Slump dipilih 75-100 mm.5.2 73.6 14.518. Jumlah air berdasarkan Tabel A1.1 0.56 MPa dapat diperoleh nilai faktor air semen dari tabel A1.5. Data analisis saringan agregat halus tercantum dalam tabel berikut: Tabel Hasil Analisa Saringan Aggregate Halus Kumulatif Ukuran Saringan (mm) Berat Tertinggal di atas Saringan (gram) 0 100 220 350 780 590 360 100 2500 Persentase Tertinggal di atas Saringan 0 4 8.56 Mpa Dari nilai kuat tekan sebesar 31.4 4 100 Persentase yang Lolos dari Saringan 100 96 87. 27 .2 23.3 0. Hasil pemeriksaan berat volume agregat kasar adalah 1600 kg/m3.6 0.

6) = 683.756 m3.6 + 0.004%). 6.03419 x 1209.96 kg/m3 dibulatkan menjadi 1251 kg/m3. Kesimpulan: untuk membuat 1 m3 beton dibutuhkan  Air  Semen  Agregat kasar  Agregat halus  Jumlah = 123 kg = 345 kg = 1251 kg = 698 kg = 2417 kg 28 .419%).50 kg/m3 dibulatkan menjadi 698kg/m3. 8.5.79 kg/m3 dibulatkan 345kg/m3.02004 x 683. Telah diketahui berat volume kerikil kering oven adalah 1600 kg/m3 sehingga berat aggregate kasar menjadi = 0.756 x 1600 kg/m3 = 1209.8) = 123.5. Koreksi proporsi campuran beton Agregat kasar (daya serap airnya 3. semen dengan agregat kasar.02004 = 697. Berat semen = 178. Sehingga berat agregat halus = 2417 – (178.6 + 345 + 1209.6 kg/m³.6 – (0.518 = 344.8 kg/m3.3. Agregat halus diperoleh dari selisih berat beton dengan total berat air.7.1 diperoleh berat beton 2417 kg/m3.8 dan diameter maksimum agregat 40 mm dari tabel A1.54 kg/m3 dibulatkan menjadi 123 kg/m3. Air dikoreksi menjadi 178.5. beratnya dikoreksi menjadi 683.8 x 1. Agregat halus (daya serap airnya 2.3.6 x 1. beratnya dikoreksi menjadi 1209.03419 = 1250.6 / 0. 7. Dengan fineness modulus agregat halus (FMFA) 2. Dari tabel A1.792 dibulatkan menjadi 2.6 akan diperoleh volume kerikil 0.

100 mm.98 ...4 (a) adalah 0.93). Dari tabel A 1. dan absorbtion . Bahan-bahan yang digunakan ialah portland cement Andalas Type 1 dengan specific gravity 3. % serta fineness modulus . Langkah 2 : Diameter maksimum aggregate yang digunakan adalah 31.6104. Coarse sand dengan specific gravity OD 2.. jumlah air yang dibutuhkan untuk mendapatkan slump 75 .76 kg/m3 (didapat secara interpolasi).3..100 mm..BAB 4 PERENCANAAN CAMPURAN BETON (MIX DESIGN) K-225 Kokoh beton yang diinginkan ialah: 225 kg/cm2 (kubus) atau xxx kg/cm2 (silinder) dengan tinggi slump 75 .5 mm diperkirakan jumlah air yang diperlukan adalah 186.76   305 ..643 % serta fineness modulus 6. Langkah 5 : Dari hasil langkah (3) dan langkah (4) jumlah semen yang dibutuhkan dapat dihitung :  Jumlah Air yang Diperlukan 186 .5.408 dengan absortion 4....96 kg/m3 Faktor Air Semen 0.3..261 % serta fineness modulus 2.303 % serta fineness modulus 3...5 mm. Langkah 4 : Faktor air semen (water cement ratio) untuk Non Air-Entrained Concrete dengan tegangan xxx kg/cm2 dari tabel A 1.643 kg/cm3.-.Entrained Concrete (konstruksi tidak dipengaruhi oleh perbedaan temperatur akibat membeku dan mencair es. Coarse aggregate dengan specific gravity OD 2.671 dengan absorbtion 1. Coarse Aggregate mempunyai diameter maksimum 31. untuk Non Air-Entrained Concrete dengan diameter maksimum agregate 31.. freezing and thawing).5..458 dengan absorption 4. (Fine sand dengan specific grafity OD 2.6104 29 . .-.. Langkah 1 : Tinggi slump yang diinginkan ialah 75 -100 mm....3. Langkah 3 : Jenis beton adalah Non Air.-. Fine aggregate dengan specific gravity OD .74.1.5 mm dengan dry rodded weight 1.

Kebutuhan jumlah fine aggregate yang dibutuhkan dapat ditentukan atas salah satu cara yaitu : cara berat dan volume absolut.42 kg.14 kg = 805.50 kg Berat coarse sand = 30 .3. Langkah 7 : Dengan diketahui jumlah air.1 Dasar berat Dari tabel A 1.46 kg 0. jumlah coarse aggregate yang dibutuhkan adalah 0. penyesuaian kembali dari perbedaan-perbedaan slump.Langkah 6 : Jumlah coarse aggregate yang dibutuhkan diperkirakan dengan menggunakan tabel A 1. semen.7. Berat masing-masing bahan yang telah dihitung adalah : Air (netto) Semen Coarse aggregate Jumlah : : : : 186.5.42 kg + 1590.46 kg Berat fine sand = 0.96 kg 1097. semen dan coarse aggregate 1 m3 beton maka sisanya adalah bagian dari fine aggregate dan udara.3. berat 1 m3 Non Air – Entrained Concrete dibuat dengan agregate berdiameter max 31.6708 m3 (on dry rodded basis) dalam setiap m3 beton.14 kg Berat fine aggregat = 2395.6 kg – 1590.6708 m3 x 1636 kg/ m3 = 1097. 7.1.76 kg 305.46 kg = 641. specific gravity dari agregate adalah tidak menentukan).5.95 kg = 163.797 x 805.5 mm.203 x 805.00 dan aggregate dengan diameter maksimum 31.6 kg (untuk percobaan adukan.5 mm diperkirakan adalah 2395. Kebutuhan coarse aggregate (kering) adalah = 0.6 Fine aggregate dengan FM (fineness modulus) : 3.

95 5.144 kg 2.1993 20.95 = 2. Jika perbedaan adukan didasarkan atas dasar perbandingan berat yang dipakai penyesuaian-penyesuaian berat agregate menjadi : Coarse agreagate (wet) Fine sand (wet) Coarse sand (wet) = 1. dan 2.42 Dasar Perkiraan Volume Absolut Material (kg) 5. fine sand.9389 9.76 305.7295 34.95 %.96 1097.58 = 10.823) + 2.50 641.82 % Perkiraan kebutuhan air untuk ditambahkan menjadi : = 1.96 = 4. Kadar air permukaan yang menjadi bagian dari air yang diperlukan adalah : Coarse agregatee = 1.Perbandingan berat dari material untuk 1 m3 beton yang dihitung atas dua dasar perhitungan diperbandingkan di bawah ini : MATERIAL Air Semen Coarse Aggregate (dry) Fine aggregate (dry) : *Coarse sand (dry) *Fine sand (dry) 163. dan coarse sand masing-masing 1.247 kg = 3.8979 Langkah 8 : Dari hasil percobaan diperoleh kadar air permukaan dari coarse agregate.191 + 494.82 %. 3.4 % (4.4140 Dasar Perkiraan Berat (kg) 186.95 % (10.4 % Fine sand Coarse sand = 3.4 %.95 % = 2.379) = 42.4 x x x 2.422 kg 31 .191 kg 2.82 % (7.247 + 140.753) + 3.82 Air serapan tidak dapat diperhitungkan sebagai bagian dari air yang diperlukan untuk proses pengikatan hydraulis oleh sebab itu harus dikeluarkan dari air yang harus ditambahkan.144 + 1303.57 = 7.

922 kg Semen Coarse agregatee Coarse sand Fine sand Jumlah = ... kg = ..... kg Langkah 10: Penyesuaian-penyesuaian dari perbandingan-perbandingan campuran dasar volume absolut mengikuti prosedur yang sama seperti yang telah dilakukan di atas........ jumlah yang sesungguhnya yang diperlukan untuk mencapai tinggi slump yang diinginkan : 75 – 100 mm. Oleh karena itu perbandingan campuran untuk adukan adalah : Air (tambahan) 1.... kg + = ....Perkiraan perbandingan campuran untuk 1 m3 beton menjadi : Air (tambahan) 42.......379 = 494....................884 =1303..02 m3 dari beton...021 kg kg kg kg kg + Langkah 9 : Dalam percobaan adukan laboatorium jumlah percobaan adukan yang memadai kira-kira 0.823 = 2438... kg = ............182 kg = 269..... Data fineness modulus yang ditulis diatas didapat dari hasil sieve analisis seperti yang disajikan dalam tabel berikut ini: 32 ...... kg = ...753 = 140..... Meskipun berdasarkan perhitungan air yang perlu ditambahkan adalah 42... kg = .182 kg......422 kg....422 Semen Coarse agregatee Coarse sand Fine sand Jumlah = 229.... jumlah air adalah 229...

633 31.664 10.38 1.031 21.334 Commulative Passing of Retained on (%) (%) 100 0 100 0 100 0 100 0 82.2 20.667 32.430 97.Tabel 3.5 19.38 1.76 2.18 0.52 4.2 Fineness Modulus Coarse Sand Sieve size (mm) 31.367 46.573 2.149 Sisa Individual/ Retained on (%) ---19.667 17.767 19.003 89.57 0 Total FMCS 100 356.1 9.333 15 22 29.1 Fineness Modulus Fine Sand Sieve size (mm) 31.666 3.333 13 3.297 0.333 45.567 34.233 65.53 3.52 4.60 0.333 7.433 51.149 Sisa Individual/ Retained on (%) ----17.43 284.60 0.297 0.334 96.84 Commulative Passing of Retained on (%) (%) 100 0 100 0 100 0 80.333 67.334 83.233 15.331 2.565 33 .667 54.333 16.336 68.2 14.997 2.5 19.666 0 Total FMFS Tabel 3.76 2.18 0.1 9.

417 39.Tabel 3.1 9.083 96.433 12.15 10.634 1.18 0.422 269.379 494.297 0.884 1303.5 mm diperkirakan adalah 2395.4 Komposisi Campuran Material Air + Air Tambahan Semen Coarse Aggregate (dry) Coarse sand (dry) Fine sand (dry) Jumlah Komposisi Campuran (kg) 186.823 2438.467 6.583 23. spesific gravity dari agregate adalah tidak menentukan).6 kg (untuk percobaan adukan.683 0 Retained on (%) (4) 0 37.5 19.517 6.865 Tabel 3.683 3.717 4.149 Sisa Individual/ Retained on (%) (2) 37.38 1.317 Total FMCA 100 686.917 3.753 140.3 Fineness Modulus Coarse Aggregate Sieve size (mm) (1) 31.76 + 42.283 1. penyesuaian kembali dari perbedaan-perbedaan slump.683 Commulative Passing of (%) (3) 100 62. semen.60 0.417 76.85 89. 34 .717 98.75 1.317 99.52 4.021 Berat 1 m³ non air entrained concrete dibuat dengan agregate dengan diameter maksimum 31.76 2.283 95.683 0.6 1 0.8 1.533 93.

397 kg Perbandingan antara fine sand dengan coarse sand adalah : FMfs(x) + FMcs (1-x) 2.565 (1-x) 2.884 kg/m³ Perkiraan komposisi 1 m³ beton diperoleh dari : Air Semen Coarse Aggregate = 186.823 = 140.00 = -0.84 x + 3.779 (pasir) = 0.565 (1-x) (2.9 % (fine sand) = 22.753 kg kg kg _________________+ Jumlah = 1760.76 = 269.00 –3.6 – 1760.84 – 3.725 x x 1-x = FMfa = 3.76 / 0. x + FM(ca) (1-x) 2.00 = 3. = 3.00 = 3.565 = 0.692 = 269.884 =1303.203 : 0.221 x 635.565 – 3. (x) + FM(ca) (1-x) FM(fs) .203 = 494.84x + 3.379 kg kg kg 35 .565 = 77.565 x -0.1 % (coarse sand) Berat fine aggregate menjadi : 2395.397 Berat fine sand Berat coarse sand : 0.221 (kerikil) Proporsi antara pasir halus dengan pasir kasar : FM(fs) .565 ) x ` x 1-x = FM(fa) = FM Aggregate camp.84 x + 3.203 = 635.779 x 635.Jumlah semen yang dibutuhkan adalah = jumlah air yang dibutuhkan / FAS = 186.

Benda uji silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm sebanyak 5 buah.75 cm³ 36 .03 m³ Perbandingan berat dari material untuk 1 m3 dan 0.823 2438.141 = 26493.021 Dasar Berat dari beton 0.097 39.753 140.875 8.14 x (7.0264 m³ = 0.003 m³ beton yang dihitung atas dasar perhitungan berat: Tabel 3. Volume silinder (5 buah) = 5 x 3.182 269.0264 x 10 % = 0.5)² x 30 = 0.845 73.884 1303. Campuran Beton Dasar Perkiraan Berat No.211 14.03 m³ (kg) 6. 1 2 3 4 5 Material Air Semen Coarse Aggregate Coarse Sand (dry) Fine Sand (dry) Jumlah 1 m³ Beton (kg) 229.113 4.0264 x 10 % Volume campuran = 0.379 494.

Setelah pengisian. coarse sand. Penumbukan ini bertujuan agar beton menjadi benar-benar padat dan tidak ada rongga kosong di dalamnya. Alat yang digunakan untuk pengujian slump dinamakan Kerucut Abrams. dan suhu ruangan 29o C. Pengisian fresh concrete sama seperti pengisian slump. Selanjutnya fresh concrete dimasukkan ke dalam cetakan silinder (mould) yang sudah dilumasi oli. Masukkan fresh concrete ke dalam tabung uji kandungan udara atau biasa disebut dengan Apparatus. Badan tabung Apparatus dipukul-pukul dengan palu karet sebanyak 25 kali agar fresh concrete didalamnya menjadi padat. Setelah fresh concrete diratakan. kandungan udara 2. Dalam percobaan ini diperoleh nilai slump sebesar 100 mm. Terbuat dari logam. Kemudian dilakukan pengujian slump terhadap fresh concrete. tabung ditutup. semua bahanbahan yang telah direncanakan dicampur dengan memasukkan bahan-bahan secara berurutan ke dalam mollen (mesin pengaduk) yaitu coarse agregate. Sebelum dilakukan pengujian slump. Tahap pengisian pada pengujian Apparatus sama seperti tahap pada pengujian slump. Ambil sebagian fresh concrete untuk diuji kandungan udaranya.5 menit. suhu fresh concrete 28° C. licin dan tidak menyerap. pastikan permukaan slump bersih dan ditempatkan di atas bidang datar. Pelumasan ini bertujuan agar cetakan mudah dibuka.0 %. Kemudian mesin pengaduk diputar selama 1. semen dan air. Isi 1/3 bagian slump test dengan fresh concrete dan ditumbuk sebanyak 25 kali dengan menggunakan baja yang panjangnya lebih kurang 60 cm. Kemudian dipompa. cetakan dipukul-pukul dengan 37 . sehingga campuran beton teraduk merata dan homogen. fine sand. Sisakan sedikit bagian atas cetakan untuk capping.BAB V PEMBUATAN BENDA UJI Setelah perencanaan bahan atau mix design dilakukan.

Perendaman ini dilakukan dengan seluruh bagian silinder dicelupkan dalam air. 38 . beton dibiarkan selama 24 jam agar mengeras. Kemudian cetakan dibuka dan benda uji tersebut direndam dalam bak perendaman (curing). dan 28 hari. agar beton tidak kekurangan air selama proses pengerasan. Selanjutnya tutup pasta semen dengan kertas plastik tebal. Capping bertujuan agar beban yang diterima beton pada saat pengujian kuat tekan dapat diteruskan. tekan dan ratakan dengan kaca ukuran 20x20. beton diberi lapisan pasta semen (capping). tergantung pada beton yang akan diuji kuat tekan pada hari-hari yang telah ditentukan. Tujuan perendaman ini. 14. Perendaman dilakukan selama 7. sehingga tidak ada rongga udara. 21. Perendaman ini dilakukan di dalam bak besar yang terletak disamping Laboratorium Konstruksi dan Bahan Bangunan Fakultas Teknik. Setelah pengecoran selesai. 4 jam setelah pengecoran.palu karet sebanyak 25 kali agar udara yang ada dalam cetakan keluar.

Kuat tekan beton atau benda uji dapat dihitung dengan menggunakan rumus:  dimana:  ‘b P A ‘b = P A .951 No Benda Uji Umur (Hari) 1 14 39 . dan 28 hari.BAB VI PENGUJIAN TEKAN DAN HASIL Pengujian pembebanan beton biasanya dilakukan pada waktu beton berumur 7. Hasil Kuat Tekan Benda Uji Berat Silinder (kg) 12. 21.9 Kuat Beban Tekan (ton) Tekan σbi (kg/cm2) 28 158.14)(15)2 4 = 176.625 cm² Tabel 4.528 Kuat tekan 28 hari (kg/cm2) 216. Tes kuat beton ini menggunakan mesin DAIICHI KEIKI. 14. Sebelum diuji beton ditimbang beratnya dan diukur dimensinya. A = 1 4  d2 = Kuat tekan beton (kg/cm²) (kg) = Beban Hancur = Luas penampang (cm²) Dari hasil pengujian kuat tekan benda uji pada masing-masing benda uji yang berumur 28 hari diperoleh data sebagai berikut: Luas penampang beton = = 1 π d2 4 1 (3.

325 147.234 88.78 2151. 4.64 90.951 193.325 kg/cm2 Untuk memudahkan perhitungan Deviasi Standar maka digunakan tabel sebagai berikut: Tabel 5.88 Hari ke-21 = 0.197 3443.718  ‘b = Kuat tekan masing-masing beton (kg/cm2)  ‘bm = Kuat tekan beton rata-rata (kg/cm2) 40 .95 Hari ke-28 = 1.706 3 4 h = 30 cm 28 28 13 13.706 88.325 (σbi-σ’bm)2 4847.325 147.929 3285.00 Untuk mengkonversi kuat tekan beton dari umur pengujian ke umur 28 hari :   ' bi k Kuat tekan beton rata-rata (σ’bm) : σ’bm = 589. 3.543 193.325 147.003 Jumlah σ’bm( kg / cm2 ) 147. 1.003 589.3 4 σ’bm = 147.64 90.65 Hari ke-14 = 0.2 Silinder d = 15 cm 14 13 25 141.911 113.3 Catatan : Konstanta konversi dari umur pengujian ke umur 28 hari (k) :     Hari ke-7 = 0. σbi ( kg / cm2 ) 216. 2. Perhitungan Deviasi Standar No.812 13728.2 Jumlah 18 20 101.

325 – 64.272 x 100 % 166 = 50. kuat tekan beton karakteristik pada praktikum ini adalah:  ’bk  ’bk  ’bk  ’bk =  ’bm – k . S = 147.Maka Deviasi Standar: S =  ( ' b   ' bm) n 1 13728 .272 kg/cm2 Dari kuat tekan karakteristik didapat persentase kuat tekan berdasarkan FAS 0.718 4 1 2 S = S = 39. maka persentase kekuatan beton terhadap mutu beton yang direncanakan adalah : % kuat tekan = =  ' bk 166 x 100 % 83.64 x 39.692 sehingga compressive strength 166 kg/cm2.057 kg/cm2 Sehingga.053 = 83.325 – (1.164 % 41 .057) = 147.

42 .

60 106 21 103 21 123 24 22 0.000 100.149 73 14 71 14 56 11.5 19.000 Catatan : 500.76 2.UNIVERSITAS SYIAH KUALA FAKULTAS TEKNIK LABORATORIUM KONSTRUKSI DAN BAHAN BANGUNAN SIEVE ANALYSIS Mod.1 9.38 88 17 86 17 90 18 18 1.000 100.52 4.000 Tanda tangan pelaksana : 43 . : : Pelaksana : Kelompok IV-B : FINE SAND Dft No. Tgl. Mulai Tgl.8 3 TOTAL 500.18 77 15 68 14 79 15 15 0.2 13 Sisa 18 4 21 4 14 2.297 147 29 150 30 145 29 29 0.000 100. Selesai : : : RETAINED ON SIEVE AVERAGE SIEVE A B C PERCENTAG SIZE WEIG PERCENT PERCEN PERCEN E RETAINED WEIGHT WEIGHT (mm) HT T T ON (gr) (gr) (%) (gr) (%) (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 31.000 100.000 500. Dft. Jenis : A001-1 : Perintah No. Source Sample No.

1 2.3 20.9 2. Selesai : : : A SIEVE WEIGH PERCENT T SIZE (%) (gr) (mm) 1 2 3 31.76 2.3 2.5 7.5 15. Source Sample No.5 15.5 199 150 136 202 215 73 27 19. Tgl.7 19 15 14 20 21 8 3 TOTAL 1000.2 21.000 100. Jenis : A001-2 : Perintah No.1 9.18 0.5 6.000 100.1 14.4 19.6 20.7 15 13.000 1000.: : Pelaksana : Kelompok IV-B : COARSE SAND RETAINED ON SIEVE Dft No.000 100.5 19. Dft.000 Catatan : Tanda tangan pelaksana : 44 .149 Sisa 158 151 149 203 230 91 27 15.000 1000.000 100.297 0. Mulai Tgl.52 4.7 18.60 0.7 AVERAGE B C PERCENTAG PERCEN PERCEN WEIGHT WEIGHT E RETAINED T T (gr) (gr) ON (%) (%) 4 5 6 7 8 227 158 147 186 195 69 25 22.38 1.3 23 9.UNIVERSITAS SYIAH KUALA FAKULTAS TEKNIK LABORATORIUM KONSTRUKSI DAN BAHAN BANGUNAN SIEVE ANALYSIS Mod.5 14.

8 37.25 1.65 931 46.15 25 1.55 3.8 0.9 47 2.65 11.6 203 10. Tgl.52 4.15 325 16.38 1.75 42 2.5 39.7 38 1.8 37 1.5 19.: : Pelaksana : Kelompok IV-B : COARSE AGGREGATE RETAINED ON SIEVE Dft No.60 0.4 793 39.7 40 2 1.25 1.6 0. Selesai : : : NOMOR A WEIGHT PERCENT (gr) (%) 2 963 633 233 60 25 21 22 16 11 2000 3 48.05 1. Dft.1 9.6 23 1.6 74 3.7 10 0.76 2.7 91 4.25 12.55 100 SIEVE 1 31.6 2000 100 2000 100 100 Catatan : Tanda tangan pelaksana : 45 . Jenis : A001-3 : Perintah No.6 36 1.1 1.3 496 24.1 0. Mulai Tgl.18 0.149 Sisa TOTAL AVERAGE B C PERCENTAG PERCEN PERCEN WEIGHT WEIGHT E RETAINED T T (gr) (gr) ON (%) (%) 4 5 6 7 8 786 39.1 14 0. Source Sample No.65 3 1.25 1.UNIVERSITAS SYIAH KUALA FAKULTAS TEKNIK LABORATORIUM KONSTRUKSI DAN BAHAN BANGUNAN SIEVE ANALYSIS Mod.15 32.297 0.

OD= Wd/Wv 100(Ws – Wd)/Wd SAMPLE A (gr) 4 1427 2230 803 3390 2901 314 2. Jenis : A006-1 : : : FINE SAND Perintah No.56 2. OD 12 Water Absorption (%) Average Water Absorption (%) Catatan : Tanda tangan pelaksana : 46 .01 Specific gravity.56 0 768 768 2.45 4.48 4.64 0 549 549 2. SSD + Ws/Wv W’csw Wd=W’csw – W’c SG. Selesai : : : No 1 1 2 3 4 5 6 7 WEIGHT 2 Container Container + Aggregate SSD Aggregate Saturated Surface Dry Container + Aggregate + Water Container + Water Volume of Aggregate SSD NOTATION 3 Wc Wcs Ws = Wcs – Wc Wcsw’ Wcw” Wv=Ws – Wcsw’ + Wcw” SG. Mulai Tgl. SSD Average Specific Gravity. Tgl.25 C (gr) 6 855 1426 571 2329 1974 216 2.58 0 644 644 2. OD Average Specific Gravity.: Pelaksana : Kelompok IV-B Dft No.19 4.UNIVERSITAS SYIAH KUALA FAKULTAS TEKNIK LABORATORIUM KONSTRUKSI DAN BAHAN BANGUNAN SPECIFIC GRAVITY Mod.54 4.56 B (gr) 5 1571 2242 671 3456 3047 262 2.46 2. SSD 8 Container 9 Container + Aggregate OD 10 Aggregate Oven Dry 11 Specific gravity. Source Sample No. Dft.

Tgl. Source Sample No. Dft.29 B (gr) 5 1571 2296 725 3491 3047 281 2.48 2.: : Pelaksana : Kelompok IV-B : COARSE SAND WEIGHT 2 Container Container + Aggregate. SSD = Ws/Wv W’csw Wd=W’csw – W’c SG.57 0 475 475 2.57 0 697 697 2. SSD Aggregate Saturated Surface Dry Container + Aggregate + Water Container + Water Volume of Aggregate SSD Specific gravity.45 C (gr) 6 855 1354 499 2279 1974 194 2. OD Average Specific Gravity.47 4.58 2.01 4. Jenis No 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 : A006-2 : Perintah No. OD= Wd/Wv 100(Ws – Wd)/Wd Dft No. Mulai Tgl.45 5. Selesai : : : SAMPLE A (gr) 4 1427 2228 801 3392 2901 310 2.UNIVERSITAS SYIAH KUALA FAKULTAS TEKNIK LABORATORIUM KONSTRUKSI DAN BAHAN BANGUNAN SPECIFIC GRAVITY Mod. OD Water Absorbtion Average Water Absorption NOTATION 3 Wc Wcs Ws = Wcs – Wc Wcsw’ Wcw” Wv=Ws – Wcsw’ + Wcw” SG. SSD Average Specific Gravity.58 0 768 768 2.47 4. SSD Container Container + Aggregate OD Aggregate Oven Dry Specific gravity.08 Catatan : Tanda tangan pelaksana : 47 .

608 2.45 Tanda tangan pelaksana : 48 .67 2.5 2695 2235.5 3.SSD Basket + Aggregate under water Aggregate Saturated surface dry Aggregate under water Volume of Aggregate. Source Sample No. Dft.5 408 2545. SSD Basket Basket + Aggregate.5 2. SSD = Ws/Wv Wc’ Wcd Wd=Wcd – Wc’ SG.89 2.22 B (gr) 5 459.5 2086 1307.5 2000 1540.96 459.5 2.68 459.5 1715. OD Water Absorbtion (%) Average Absorbtion (%) Catatan : NOTATION 3 Wc Wcw Wcs Wcsw Ws = Wcs – Wc Ww = Wcsw – Wcw Wv = Ws – Ww SG.5 408 2481 1678 2021.5 2490 2030.5 778.5 1270 751.5 4.049 31.59 459.UNIVERSITAS SYIAH KUALA FAKULTAS TEKNIK LABORATORIUM KONSTRUKSI DAN BAHAN BANGUNAN SPECIFIC GRAVITY Mod. OD Average Specific Gravity.5 408 2260 1852 2000. Tgl.5 1444 556. SSD Average Specific Gravity. Selesai : : : SAMPLE A (gr) 4 459.5 2.5 2. OD=Wd/Wv 100 (Ws – Wd)/Wd Dft No.: : Pelaksana : Kelompok IV-B : COARSE AGGREGATE WEIGHT 2 Basket Basket under water Basket + Aggregate.73 4. Mulai Tgl.SSD Specific gravity.017 -19. Jenis No 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 : A007 : Perintah No.OD Aggregate oven dry Specific gravity.84 C (gr) 6 459.

675 1.1 11.450 CONTAINER AGGREGATE (Kg) 4 11.2 11. Mulai Tgl. Dft. : A005 Source : Sample No.552 BULK DENSIT Y (Kg/l) 7 1.552 1.450 8.7 2. Tgl.9 1.450 CONTAINER AGGREGATE (Kg) 4 11.4 11.: Pelaksana : Kelompok IV-B WEIGHT Dft No.5 11. COARSE AGGREGATE Perintah No. 2 A B C AVERAGE CONTAIN ER (Kg) 3 8.05 3.95 3.63 VOLUME OF CONTAIN ER (l) 6 1.552 1.675 1.450 8.1 11.02 1 1 2 3 VOLUME OF CONTAIN ER (l) 6 1.450 8.UNIVERSITAS SYIAH KUALA FAKULTAS TEKNIK LABORATORIUM KONSTRUKSI DAN BAHAN BANGUNAN BULK DENSITY Mod.943 II. Selesai : : : No SAMPLING No.47 AGGREGATE (Kg) 5 2.696 49 .6 2.450 8.13 AGGREGATE (Kg) 1 1 2 3 5 2.739 1.965 1.552 1.5 11.552 1.552 BULK DENSIT Y (Kg/l) 7 1. COARSE SAND WEIGHT No SAMPLING No.05 3. : I.965 1.6 2. 2 A B C AVERAGE CONTAIN ER (Kg) 3 8.

450 CONTAINER AGGREGATE (Kg) 4 11 11 11 11 AGGREGATE (Kg) 1 1 2 3 5 2.552 1. 2 A B C AVERAGE CONTAIN ER (Kg) 3 8.643 Catatan : Tanda tangan pelaksana : 50 . FINE SAND WEIGHT No SAMPLING No.643 1.643 1.55 2.III.55 VOLUME OF CONTAIN ER (l) 6 1.643 1.55 2.552 BULK DENSIT Y (Kg/l) 7 1.450 8.55 2.450 8.552 1.

30 0.666 3. Source Sample No.15 Sisa Individual/ Retained on (%) ----17.667 17.331 2.334 83. Tgl. Dft.667 54.19 0.84 51 .1 9. Mulai Tgl.666 0 Total FMFS Catatan : Tanda tangan pelaksana : 284.667 32.38 1.60 0.333 13 3. Jenis : A009-1 : : : FINE SAND Perintah No.76 2.334 Commulative Passing of Retained on (%) (%) 100 0 100 0 100 0 100 0 82.333 15 22 29.333 67.25 4.334 96.333 16. Selesai : : : Sieve size (mm) 31.5 19.UNIVERSITAS SYIAH KUALA FAKULTAS TEKNIK LABORATORIUM KONSTRUKSI DAN BAHAN BANGUNAN FINENESS MODULUS Mod.: Pelaksana : Kelompok IV-B Dft No.333 45.

19 0.633 31.333 7. Source Sample No.: : Pelaksana : Kelompok IV-B : COARSE SAND Individual/ Retained on (%) ---19. Mulai Tgl.997 2.767 19.430 97.367 46.565 Tanda tangan pelaksana : 52 .5 19.UNIVERSITAS SYIAH KUALA FAKULTAS TEKNIK LABORATORIUM KONSTRUKSI DAN BAHAN BANGUNAN FINENESS MODULUS Mod.2 20.2 14.664 10.003 89.76 2.567 34.25 4.53 3.031 21.43 Dft No.60 0.1 9.30 0. Tgl. Jenis Sieve size (mm) 31.233 65.57 0 Total FMCS Catatan : 100 356.15 Sisa : A009-2 : Perintah No.573 2.233 15. Selesai : : : Commulative Passing of Retained on (%) (%) 100 0 100 0 100 0 80.38 1.336 68. Dft.433 51.

417 76.083 96.283 1.15 Sisa : A009-3 : Perintah No.15 10.533 93.75 1.: : Pelaksana : Kelompok IV-B : COARSE AGGREGATE Individual/ Retained on (%) (2) 37.865 Tanda tangan pelaksana : 53 .38 1.717 4. Jenis Sieve size (mm) (1) 31.30 0. Dft.1 9.517 6.917 3.8 1. Mulai Tgl.417 39.5 19.UNIVERSITAS SYIAH KUALA FAKULTAS TEKNIK LABORATORIUM KONSTRUKSI DAN BAHAN BANGUNAN FINENESS MODULUS Mod.25 4.683 0.76 2.317 Total FMCA Catatan : 100 686.717 98.19 0.433 12.683 Dft No. Selesai : : : Commulative Passing of (%) (3) 100 62. Tgl.634 1.6 1 0. Source Sample No.85 89.283 95.583 23.683 0 Retained on (%) (4) 0 37.683 3.317 99.60 0.467 6.

06 8.514 8.433 12.067 4.333 7.333 1.683 3.60 0.228 33.6723 9 (8) -- Coarse aggregat e (2) -- Coarse sand Fine sand (2) (3) (4) Colum n (6) x 3x 0.778 4.54 1.544 0.334 100 (5) -- (6) -- 12.515 Resultan t percenta ge retained on (8+9+10 ) (11) -25.16 26.733 6.M 37.672 0.238 (10) ----4.430 100 (4) ----17.233 15.529 2.028 1.10 1.333 13 3. : Sumber Mulai : Sample No. Tgl.823 5.158 26.417 39.333 0.392 1.144 4.15 Sisa Total F.472 13.524 0.2 20.25 4. Individual percentages retained on Sieve size Devided by 3 columns Colum n (5) x 3x 0.450 1.677 7.75 1. Selesai : : A003 : : Perintah No.92 8.333 --6.2552 (1) 31.614 7.38 1.411 5.486 3.533 0. No.075 0.228 1.6 0.0723 9 (9) ---1.573 2.210 1.317 0.111 33.25 0.548 0.851 25.460 67.031 21.16 10.634 1.545 0. : Pelaksana : Kelompok IV-B Dft Tgl.8 1.111 2.UNIVERSITAS SYIAH KUALA FAKULTAS TEKNIK LABORATORIUM KONSTRUKSI DAN BAHAN BANGUNAN COMBINATION OF FINE SAND.30 0.424 3.05 6.19 0.099 1.778 5 7.238 Colum n (7) x 3x 0.51 9.2 14.683 100 (3) ---19.76 2.33 3 25.176 7.521 1.1 9.49 100 Catatan : Tanda tangan pelaksana : 54 .333 9. COARSE SAND AND COARSEAGGREGATE TO GIVE DESIRED GRADING Mod.5 19.33 4 (7) ----5.81 33.333 15 22 29. Dft.11 4.6 1 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful