BAB I

PENDAHULUAN


Down syndrome adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik
dan mental pada anak yang disebabkan adanya abnormalitas perkembangan
kromosom (Cuncha, 1992). Down syndrome dinamai sesuai nama dokter
berkebangsaan Inggris bernama Langdon Down, yang pertama kali menemukan
tanda-tanda klinisnya pada tahun 1866. Pada tahun 1959 seorang ahli genetika
Perancis Jerome Lejeune dan para koleganya, mengidentifikasi basis genetiknya.
Manusia secara normal memiliki 46 kromosom, sejumlah 23 diturunkan oleh ayah
dan 23 lainnya diturunkan oleh ibu. Para individu yang mengalami down syndrome
hampir selalu memiliki 47 kromosom, bukan 46. Ketika terjadi pematangan telur, 2
kromosom pada pasangan kromosom 21, yaitu kromosom terkecil gagal membelah
diri. Jika telur bertemu dengan sperma, akan terdapat kromosom 21—yang istilah
teknisnya adalah trisomi 21. Down syndrome bukanlah suatu penyakit maka tidak
menular, karena sudah terjadi sejak dalam kandungan.
Bayi yang mengalami down syndrome jarang dilahirkan oleh ibu yang berusia
di bawah 30 tahun, tetapi risiko akan bertambah setelah ibu mencapai usia di atas 30
tahun. Pada usia 40 tahun, kemungkinannya sedikit di atas 1 dari 100 bayi, dan pada
usia 50 tahun, hampir 1 dari 10 bayi. Risiko terjadinya down syndrome juga lebih
tinggi pada ibu yang berusia di bawah 18 tahun.
Masalah ini penting, karena seringkali terjadi di berbagai belahan dunia,
sebagaimana menurut catatan Indonesia Center for Biodiversity dan Biotechnology
(ICBB) Bogor, di Indonesia terdapat lebih dari 300 ribu anak pengidap down
syndrome. Sedangkan angka kejadian penderita down syndrome di seluruh dunia
diperkirakan mencapai 8 juta jiwa (Aryanto, 2008). Angka kejadian kelainan down
syndrome mencapai 1 dalam 1000 kelahiran. Di Amerika Serikat, setiap tahun lahir
3000 sampai 5000 anak dengan kelainan ini. Sedangkan di Indonesia prevalensinya



lebih dari 300 ribu jiwa (Sobbrie, 2008). Dalam beberapa kasus, terlihat bahwa umur
wanita terbukti berpengaruh besar terhadap munculnya down syndrome pada bayi
yang dilahirkannya. Kemungkinan wanita berumur 30 tahun melahirkan bayi dengan
down syndrome adalah 1:1000. Sedangkan jika usia kelahiran adalah 35 tahun,
kemungkinannya adalah 1:400. Hal ini menunjukkan angka kemungkinan munculnya
down syndrome makin tinggi sesuai usia ibu saat melahirkan (Elsa, 2003).
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah seminar psikologi
klinis, dan dengan sengaja memfokuskan pada salah satu topik klinis, yaitu down
syndrome.























BAB II
ISI


I. DEFINISI
Down Syndrome adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan
fisik dan mental pada anak yang disebabkan adanya abnormalitas
perkembangan kromosom (Cuncha, 1992).
Menurut JW. Chaplin (1995), down syndrome adalah satu kerusakan
atau cacat fisik bawaan yang disertai keterbelakangan mental, lidahnya tebal,
dan retak-retak atau terbelah, wajahnya datar ceper, dan matanya miring.
Sedangkan menurut Kartini dan Gulo (1987), down syndrome adalah suatu
bentuk keterbelakangan mental, disebabkan oleh satu kromosom tembahan. IQ
anak down syndrome biasanya dibawah 50, sifat-sifat atau ciri-ciri fisiknya
adalah berbeda, ciri-ciri jasmaniahnya sangat mencolok, salah satunya yang
paling sering diamati adalah matanya yang serong ke atas.
Sedangkan, dari segi sitologi, down syndrome dapat dibedakan
menjadi 2 tipe, yaitu:
1. Syndroma Down Triplo-21 atau Trisomi 21, sehingga penderita memiliki 47
kromosom. Penderita laki-laki= 47,xy,+21, sedangkan perempuan=
47,xx,+21. Kira-kira 92,5% dari semua kasus syndrome down tergolong
dalam tipe ini.
2. Syndrome Down Translokasi, yaitu peristiwa terjadinya perubahan struktur
kromosom, disebabkan karena suatu potongan kromosom bersambungan
dengan potongan kromosom lainnya yang bukan homolog-nya (Suryo,
2001).
Kesimpulan yang diperoleh dari berbagai definisi di atas adalah down
syndrome merupakan suatu kondisi keterbelakangan mental dan fisik yang



disebabkan oleh kelainan kromosom. Anak yang mengalami down syndrome,
biasanya memiliki IQ di bawah 50.

II. PENYEBAB
Penyebab Biologis
Down syndrome terjadi karena kelainan susunan kromosom ke-21,
dari 23 kromosom manusia. Pada manusia normal, 23 kromosom tersebut
berpasang-pasangan hingga jumlahnya menjadi 46. Pada penderita down
syndrome, kromosom nomor 21 tersebut berjumlah tiga (trisomi), sehingga
totalnya menjadi 47 kromosom. Jumlah yang berlebihan tersebut
mengakibatkan kegoncangan pada sistem metabolisme sel, yang akhirnya
memunculkan down syndrome.
Hingga saat ini, diketahui adanya hubungan antara usia sang ibu ketika
mengandung dengan kondisi bayi. Yaitu semakin tua usia ibu, maka semakin
tinggi pula risiko melahirkan anak dengan down syndrome (Monks, Knoers,
Haditono, 50-1).
Down syndrome juga disebabkan oleh kurangnya zat-zat tertentu yang
menunjang perkembangan sel syaraf pada saat bayi masih di dalam kandungan,
seperti kurangnya zat iodium. Menurut data badan UNICEF, Indonesia
diperkirakan kehilangan 140 juta poin Intelligence Quotient (IQ) setiap tahun
akibat kekurangan iodium. Faktor yang sama juga telah mengakibatkan 10
hingga 20 kasus keterbelakangan mental setiap tahunnya (Aryanto, dalam
Koran Tempo Online).

III. PENDEKATAN PERSPEKTIF PSIKOLOGI
A. Perspektif Humanistik
Aliran ini memandang bahwa semua manusia pada dasarnya baik, dan
memiliki potensi untuk menjadi sehat dan kreatif. Dalam perspektif ini,
gangguan mental dapat berkembang akibat tekanan sosial. Adanya



pemberian cinta dan penerimaan dari orang tua atau orang terdekat lainnya
dapat mengoptimalkan perkembangan kepribadian anak. Rogers
menciptakan teori yang terpusat pada individu (person-centered theory),
yang prinsip-prinsipnya antara lain:
1. Untuk memahami seseorang, kita harus melihat dari cara mereka
mengalami peristiwa tersebut daripada terhadap peristiwanya itu sendiri.
2. Setiap individu itu unik, perbedaan persepsi dan perasaan pada tiap
individu menentukan perilaku mereka.
3. Motif utama yang selalu menggerakkan individu untuk maju adalah self
actualization, merupakan perwujudan dari seluruh potensi yang dimiliki
individu.
4. Mereka mempunyai tujuan yang sudah ditentukan. Adanya pengaruh
dari luar dirinya (orang tua, teman sebaya, sosial, atau tekanan
lingkungan) mengakibatkan individu kehilangan arah yang sudah
ditentukan (Santrock, 2002).
Oleh sebab itu, dalam memahami anak yang mengalami down
syndrome, kita harus dapat memahami keunikan yang terdapat pada diri
anak down syndrome, memberikan rasa cinta dan penerimaan tanpa syarat
kepada mereka, karena pada dasarnya mereka juga memiliki potensi positif
untuk dapat mengaktualisasikan dirinya.

IV. CIRI-CIRI
Ciri-ciri yang pada anak yang mengalami down syndrome dapat
bervariasi, mulai dari yang tidak nampak sama sekali, tampak minimal, hingga
muncul tanda yang khas. Tanda yang paling khas pada anak yang mengalami
down syndrome adalah adanya keterbelakangan perkembangan mental dan fisik
(Olds, London, & Ladewing, 1996).
Penderita syndrome down biasanya mempunyai tubuh pendek dan
puntung, lengan atau kaki kadang-kadang bengkok, kepala lebar, wajah



membulat, mulut selalu terbuka, ujung lidah besar, hidung lebar dan datar,
kedua lubang hidung terpisah lebar, jarak lebar antar kedua mata, kelopak mata
mempunyai lipatan epikantus, sehingga mirip dengan orang oriental, iris mata
kadang-kadang berbintik, yang disebut bintik “Brushfield”.
Berdasarkan tanda-tanda yang mencolok itu, biasanya dengan mudah
kita dapat mengenalnya pada pandangan pertama. Tangan dan kaki kelihatan
lebar dan tumpul, telapak tangan kerap kali memiliki garis tangan yang khas
abnormal, yaitu hanya mempunyai sebuah garis mendatar saja. Ibu jari kaki dan
jari kedua adakalanya tidak rapat.
Mata, hidung, dan mulut biasanya tampak kotor serta gigi rusak. Hal
ini disebabkan karena ia tidak sadar untuk menjaga kebersihan dirinya sendiri
(Suryo, 2001).

V. ONSET
Onset terjadinya down syndrome adalah sejak bayi masih berada
dalam kandungan ibu, yang disebabkan adanya kelainan susunan kromosom ke-
21.

VI. PREVALENSI
Menurut catatan Indonesia Center for Biodiversity dan Biotechnology
(ICBB), Bogor, di Indonesia terdapat lebih dari 300 ribu anak pengidap down
syndrome. Sedangkan angka kejadian penderita down syndrome di seluruh
dunia diperkirakan mencapai 8 juta jiwa (Aryanto, 2008).
Angka kejadian kelainan down syndrome mencapai 1 dalam 1000
kelahiran. Di Amerika Serikat, setiap tahun lahir 3000 sampai 5000 anak
dengan kelainan ini. Sedangkan di Indonesia prevalensinya lebih dari 300 ribu
jiwa (Sobbrie, 2008). Dalam beberapa kasus, terlihat bahwa umur wanita
terbukti berpengaruh besar terhadap munculnya down syndrome pada bayi yang
dilahirkannya. Kemungkinan wanita berumur 30 tahun melahirkan bayi dengan



down syndrome adalah 1:1000. Sedangkan jika usia kelahiran adalah 35 tahun,
kemungkinannya adalah 1:400. Hal ini menunjukkan angka kemungkinan
munculnya down syndrome makin tinggi sesuai usia ibu saat melahirkan (Elsa,
2003).

VII. TERAPI
Terapi fisik yang digunakan untuk menangani anak-anak yang
mengatasi kelainan down syndrome adalah dengan terapi treadmill, yaitu
dengan cara melatih ibu atau pengasuh dan anak yang mengalami down
syndrome. Ibu atau pengasuh anak down syndrome dilatih bagaimana cara yang
tepat untuk melatih anak down syndrome agar dapat berjalan dan dapat melatih
keterampilan motoriknya, misalnya bagaimana cara memegang bayi, melatih
anak untuk duduk dan berjalan sendiri. Hal ini dilakukan karena anak-anak
down syndrome seringkali mengalami keterbelakangan kemampuan motorik,
seperti terlambat berdiri dan berlari. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Palisano, dkk membuktikan bahwa 73% dari anak-anak down syndrome
baru mampu berdiri pada usia 24 bulan, dan 40% bisa berjalan pada usia 24
bulan. Sehingga, terapi treadmill ini dilakukan agar dapat membantu anak-anak
down syndrome dalam melatih keterampilan motoriknya (Ulrich, 2008).
Selain terapi fisik tersebut, dapat pula dilakukan beberapa intervensi
sebagai penunjang dalam membantu perkembangan fisik dan psikologis anak-
anak down syndrome, seperti intervensi berupa special education, menerapkan
pendidikan khusus bagi anak-anak down syndrome, modifikasi perilaku, dan
parenting skill bagi orang tua anak-anak down syndrome. Sehingga dengan
adanya terapi fisik dan intervensi tersebut, diharapkan dapat membantu anak-
anak down syndrome agar mereka dapat tetap berkembang dengan optimal, dan
dapat beraktivitas, meskipun tidak seperti anak-anak „normal‟ lainnya
(Didapatkan dari materi perkuliahan psikopatologi perkembangan).




VIII. PREVENSI
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan
kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-
bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak
dengan down syndrome, atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus
dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki
risiko melahirkan anak dengan down syndrome lebih tinggi. Down syndrome
tidak bisa dicegah, karena down syndrome merupakan kelainan yang
disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. Pemeriksaan diagnostik untuk
mendeteksi adanya kelainan pada kromosom, ada beberapa pemeriksaan yang
dapat membantu menegakkan diagnosa ini, antara lain:
a. Pemeriksaan fisik penderita
b. Pemeriksaan kromosom
c. Ultrasonography
d. Electrocardiography (ECG)
e. Pemeriksaan darah (Percutaneus Umbilical Blood Sampling)
Pada tahap perkembangannya, penderita down syndrome dapat
mengalami kemunduran dari sistem penglihatan, pendengaran, maupun
kemampuan fisiknya, mengingat otot-ototnya yang lemah. Dengan demikian,
penderita harus mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya maupun
memberi informasi yang cukup, serta kemudahan dalam menggunakan sarana
yang sesuai, berkaitan dengan kemunduran perkembangan baik fisik maupun
mentalnya.

IX. KUALITAS HIDUP
Penderita down syndrome pada umumnya mengalami keterbelakangan
perkembangan fisik dan mental, seperti gangguan dalam koordinasi sensori-
motorik, gangguan dalam kognitif, dan sebagainya yang seringkali
menyebabkan mereka kurang diterima secara sosial, karena perilakunya yang



tidak terkoordinasi dengan baik. Usia rata-rata pada saat kematian adalah 49
tahun, namun banyak yang mencapai 50 hingga 60 tahun. Tanpa adanya cacat
jantung, sekitar 90% dari anak-anak dengan down syndrome hidup menjadi
remaja pada anak seumuran mereka. Penderita down syndrome mengalami
perubahan fisik lebih cepat, terutama dalam mengalami penuaan. Gejala seperti
demensia, alzheimer, kehilangan daya ingat, penurunan lebih lanjut dalam hal
intelek, dan perubahan kepribadian, dapat berkembang pada usia dini. Penyakit
jantung dan leukemia sering menjadi penyebab kematian anak dengan down
syndrome. Namun, hal ini dapat diminimalisir dengan menggunakan terapi-
terapi bagi penderita down syndrome, sehingga mereka juga dapat berkembang
dan menjalani hidup secara lebih optimal. Pada umumnya, penderita down
syndrome selalu tampak gembira, mereka tidak sadar akan cacat yang
dideritanya.
Harapan hidup untuk orang dengan down syndrome hanya sekitar 9
tahun. Dengan perawatan medis yang lebih baik, banyak orang dengan down
syndrome sekarang hidup dengan baik dalam usia 50 tahunan atau lebih (Suryo,
2001).

X. PROGNOSIS
Prognosis penderita down syndrome sangat bervariasi, tergantung pada
jenis komplikasi (cacat jantung, kerentanan terhadap infeksi, pengembangan
leukemia) dari masing-masing bayi. Keparahan dari keterbelakangan secara
signifikan juga dapat bervariasi. Tetapi, kebanyakan anak-anak dengan down
syndrome bertahan hidup hingga dewasa. Namun, prognosis untuk bayi yang
baru lahir dengan down syndrome lebih baik daripada sebelumnya. Karena
pengobatan medis yang semakin modern, dengan menggunakan antibiotik
untuk mengobati infeksi dan pembedahan untuk mengobati cacat jantung dan
duodenum atresia, harapan hidup mereka telah meningkat pesat. Masyarakat
dan dukungan keluarga memungkinkan penderita down syndrome memiliki



hubungan yang berarti, serta dengan adanya program-program pendidikan,
dapat membantu penderita down syndrome untuk lebih survive, sehingga
mereka pun dapat bekerja.

XI. KESIMPULAN
Down syndrome merupakan bentuk keterbelakangan mental yang
disebabkan karena adanya abnormalitas kromosom, sehingga berdampak pada
kualitas hidup individu. Walaupun tidak bisa disembuhkan, tetapi penderita ini
bisa dilatih dan dididik secara khusus, dengan cara memberikan keterampilan
musik, mengajaknya berinteraksi satu sama lain, perawatan medis di tempat
yang ditentukan, lingkungan keluarga yang kondusif, dan pelatihan kejuruan
dapat meningkatkan perkembangan keseluruhan anak-anak dengan down
syndrom. Meskipun beberapa keterbatasan genetik fisik down syndrom tidak
dapat diatasi, pendidikan dan perawatan yang tepat akan meningkatkan kualitas
hidup mereka. Dan hal yang paling penting, adalah sikap memahami dan
penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regards) dari orangtua dan
keluarga terdekat penderita down syndrome, agar mereka juga dapat
mengaktualisasikan dirinya dengan segala keterbatasan dan potensi yang
mereka miliki.

XII. DALIL TERKAIT
A. QS. Al-Mu’minun: 13-14
·ª¬¦ +OE4·UE¬E_ LOE¼;C+^ O)×
¯O-4O·~ ¡×-´¯E` ^¯@÷ O¦¬¦
4L^³ÞUE= ·OE¼;COL¯- LO·³ÞU4×
4L^³ÞUEC·· ·O·³ÞUE¬^¯-
LO4¯;_N` 4L^³ÞUEC··
·O4¯;_÷©^¯- V©·¬gN
4^¯O=O·¯·· =¦·¬g¬^¯- V©^4O¯
O¦¬¦ +O4^·4=eÒ¡ ³·UE=



4OE=-47 _ E´4O4l4·· +.-
÷}=O;OÒ¡ 4×-´³)U·C^¯- ^¯j÷

Artinya:
“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam
tempat yang kokoh (rahim).
13
Kemudian air mani itu Kami jadikan
segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging,
dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia
makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang
paling baik.”
14

B. QS. Al-Hasyr: 24-25
4O¬- +.- Og~-.- ¨º 4O·¯)³
·º)³ 4O¬- ¬l)UE©^¯-
+EÒO³¬³^¯- NªÞUOO¯-
÷}g`u·÷©^¯- ·;g©^OE_÷©^¯-
+OCjOE¬^¯- +O*:E×^¯-
+O´)¯E:4-÷©^¯- _ =}E·¯:÷c
*.- O©4N ¬]O¬±)O;¯+C ^g@÷
4O¬- +.- ÷-)UEC^¯-
7ejO4l^¯- +O÷´O=÷©^¯- W
N¡·. +7.E©¯c·-
_/E_¯O÷·^¯- _ ÷E)Ol=O+C
+O·¯ 4` O)× gª4OE©OO¯-
^·¯O·-4Ò W 4O¬-4Ò
+OCjGE¬^¯- O¦1´¯O4^¯- ^gj÷
Artinya:
“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yang Maha suci, yang
Maha sejahtera, yang mengaruniakan keamanan, yang Maha memelihara,
yang Maha perkasa, yang Maha kuasa, yang memiliki segala keagungan,
Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
10
Dialah Allah yang
menciptakan, yang mengadakan, yang membentuk rupa, yang mempunyai



asmaaul husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan
dialah yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana.”
11





C. QS. Al-Hujurat: 10-11
E©^^)³ 4pONLg`u·÷©^¯-
¬E4Ou=)³ W-O÷·)U;Ò·· 4×u-4
¯7¯uC4OE=Ò¡ _ W-O¬³E>-4Ò
-.- u7¯+UE¬·¯ 4pO+·EO¯O¬>
^¯´÷ Og¬³Ò^4C 4ׯg~-.-
W-ONL4`-47 ºº ¯OEC¯OEC ¬¯¯O·~
}g)` `¬¯O·~ -/=O4N pÒ¡
W-O+^O7¯4C -LO¯OE= ¯ª×gu+g)`
ºº4Ò E7.=O)e }g)` ·7.=O)Oe
-/=O4N pÒ¡ O}7¯4C -LO¯OE=
O}×gu+g)` W ºº4Ò W-¼Ò+Og©·U·>
¯7¯=O¬¼^Ò¡ ºº4Ò W-Ò+O44L·>
´U·³^¯·) W "·^-)
N®;-]º- 7-OOO¬¼^¯- E³u¬4
^}E©Ce"- _ }4`4Ò ¯ª-¯ ¯U+-4C
Elj·^·¯Òq·· Nª¬-
4pO+·j·-¬¯- ^¯¯÷
Artinya:
“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu
damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan
takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
10
Hai orang-
orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan
kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari
mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan
lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka
mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang



mengandung ejekan, seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang
buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka
itulah orang-orang yang zalim.”
11









DAFTAR PUSTAKA



Ammerman, Robert, T, Ph. D., & Hersen, Michel, Ph. D. (1997). Handbook of
Prevention and Treatment with Children and Adolescents. ( 495-513). New
York: United States of Amerika
Anonim. (2010). Down Syndrome. www.en.wikipedia.org/wiki/Down_syndrome.
Diakses pada 7 Maret 2010
Aryanto. (2008). Gangguan Pemahaman Bahasa pada Anak Down Syndrome.
www.tx-wicara.blogspot.com. Diakses pada 20 Februari 2010
Chaplin, JW. (1995). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Cuncha. (1992). Gangguan Pemahaman Bahasa pada Anak Down Syndrome.
www.tx-wicara.blogspot.com. Diakses pada 20 Februari 2010
Davison, Gerald, C, dkk. (2006). Psikologi Abnormal (terjemahan). (706-717).
Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
Depag RI. (1971). Al- Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta
Elsa. (2003). Gangguan Pemahaman Bahasa pada Anak Down Syndrome.
www.tx-wicara.blogspot.com. Diakses pada 20 Februari 2010



Monks, dkk. (2008). Penyebab Down Syndrome. www.digilib.petra.ac.id. Diakses
pada 7 Maret 2010
Nusdwinuringtyas, Nury. (2008). Yazid dan Diagnosa Sindroma Down.
www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=6047. Diakses pada 20
Februari 2010.
Olds, dkk. (1996). Apa sih Down Syndrome?. www.tulisan-bebas.com. Diakses pada
20 Februari 2010
Santrock, John W. (2002). Life-Span Development. Jakarta: Erlangga
Sobbrie. (2008). Gangguan Pemahaman Bahasa pada Anak Down Syndrome.
www.tx-wicara.blogspot.com. Diakses pada 20 Februari 2010
Supratiknya, A, Dr. (1995). Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Kanisius
Suryo, Ir. (2001). Genetika Manusia. (259-272). Jogjakarta: Gadjah Mada University
Press
Ulrich. (2008). Effects of Intensity of Treadmill Training on Developmental
Outcomes and Stepping in Infants With Down Syndrome: A Randomized
Trial. Vol. 8,114-122


2008). Hal ini menunjukkan angka kemungkinan munculnya down syndrome makin tinggi sesuai usia ibu saat melahirkan (Elsa. dan dengan sengaja memfokuskan pada salah satu topik klinis. yaitu down syndrome. 2003). Kemungkinan wanita berumur 30 tahun melahirkan bayi dengan down syndrome adalah 1:1000. Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah seminar psikologi klinis.lebih dari 300 ribu jiwa (Sobbrie. terlihat bahwa umur wanita terbukti berpengaruh besar terhadap munculnya down syndrome pada bayi yang dilahirkannya. Sedangkan jika usia kelahiran adalah 35 tahun. Dalam beberapa kasus. kemungkinannya adalah 1:400. .

Penderita laki-laki= 47. Syndrome Down Translokasi. down syndrome dapat dibedakan menjadi 2 tipe.5% dari semua kasus syndrome down tergolong dalam tipe ini. yaitu: 1.BAB II ISI I. lidahnya tebal. disebabkan oleh satu kromosom tembahan. 2. down syndrome adalah satu kerusakan atau cacat fisik bawaan yang disertai keterbelakangan mental. yaitu peristiwa terjadinya perubahan struktur kromosom. 2001). dan retak-retak atau terbelah.+21. ciri-ciri jasmaniahnya sangat mencolok.+21. Sedangkan. down syndrome adalah suatu bentuk keterbelakangan mental. Chaplin (1995).xy. wajahnya datar ceper. Kira-kira 92. Kesimpulan yang diperoleh dari berbagai definisi di atas adalah down syndrome merupakan suatu kondisi keterbelakangan mental dan fisik yang . dari segi sitologi. disebabkan karena suatu potongan kromosom bersambungan dengan potongan kromosom lainnya yang bukan homolog-nya (Suryo. 1992). IQ anak down syndrome biasanya dibawah 50. sehingga penderita memiliki 47 kromosom. DEFINISI Down Syndrome adalah suatu kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental pada anak yang disebabkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom (Cuncha.xx. sifat-sifat atau ciri-ciri fisiknya adalah berbeda. salah satunya yang paling sering diamati adalah matanya yang serong ke atas. sedangkan perempuan= 47. Menurut JW. dan matanya miring. Sedangkan menurut Kartini dan Gulo (1987). Syndroma Down Triplo-21 atau Trisomi 21.

Pada penderita down syndrome. Jumlah yang berlebihan tersebut mengakibatkan kegoncangan pada sistem metabolisme sel. Dalam perspektif ini. Knoers. PENYEBAB Penyebab Biologis Down syndrome terjadi karena kelainan susunan kromosom ke-21. Down syndrome juga disebabkan oleh kurangnya zat-zat tertentu yang menunjang perkembangan sel syaraf pada saat bayi masih di dalam kandungan. III. diketahui adanya hubungan antara usia sang ibu ketika mengandung dengan kondisi bayi. maka semakin tinggi pula risiko melahirkan anak dengan down syndrome (Monks. biasanya memiliki IQ di bawah 50. Hingga saat ini. sehingga totalnya menjadi 47 kromosom. 23 kromosom tersebut berpasang-pasangan hingga jumlahnya menjadi 46.disebabkan oleh kelainan kromosom. Perspektif Humanistik Aliran ini memandang bahwa semua manusia pada dasarnya baik. yang akhirnya memunculkan down syndrome. dan memiliki potensi untuk menjadi sehat dan kreatif. Menurut data badan UNICEF. PENDEKATAN PERSPEKTIF PSIKOLOGI A. dari 23 kromosom manusia. Adanya . dalam Koran Tempo Online). 50-1). Haditono. Pada manusia normal. Indonesia diperkirakan kehilangan 140 juta poin Intelligence Quotient (IQ) setiap tahun akibat kekurangan iodium. gangguan mental dapat berkembang akibat tekanan sosial. II. kromosom nomor 21 tersebut berjumlah tiga (trisomi). seperti kurangnya zat iodium. Faktor yang sama juga telah mengakibatkan 10 hingga 20 kasus keterbelakangan mental setiap tahunnya (Aryanto. Anak yang mengalami down syndrome. Yaitu semakin tua usia ibu.

perbedaan persepsi dan perasaan pada tiap individu menentukan perilaku mereka. dalam memahami anak yang mengalami down syndrome. kepala lebar. Untuk memahami seseorang. Tanda yang paling khas pada anak yang mengalami down syndrome adalah adanya keterbelakangan perkembangan mental dan fisik (Olds. IV. kita harus melihat dari cara mereka mengalami peristiwa tersebut daripada terhadap peristiwanya itu sendiri. Penderita syndrome down biasanya mempunyai tubuh pendek dan puntung. Oleh sebab itu. teman sebaya. London. Rogers menciptakan teori yang terpusat pada individu (person-centered theory). CIRI-CIRI Ciri-ciri yang pada anak yang mengalami down syndrome dapat bervariasi. merupakan perwujudan dari seluruh potensi yang dimiliki individu. Setiap individu itu unik. 1996). 4. wajah . lengan atau kaki kadang-kadang bengkok. 3. tampak minimal. yang prinsip-prinsipnya antara lain: 1.pemberian cinta dan penerimaan dari orang tua atau orang terdekat lainnya dapat mengoptimalkan perkembangan kepribadian anak. Adanya pengaruh dari luar dirinya (orang tua. hingga muncul tanda yang khas. atau tekanan lingkungan) mengakibatkan individu kehilangan arah yang sudah ditentukan (Santrock. 2. mulai dari yang tidak nampak sama sekali. kita harus dapat memahami keunikan yang terdapat pada diri anak down syndrome. karena pada dasarnya mereka juga memiliki potensi positif untuk dapat mengaktualisasikan dirinya. 2002). memberikan rasa cinta dan penerimaan tanpa syarat kepada mereka. Motif utama yang selalu menggerakkan individu untuk maju adalah self actualization. Mereka mempunyai tujuan yang sudah ditentukan. & Ladewing. sosial.

mulut selalu terbuka. Berdasarkan tanda-tanda yang mencolok itu. Di Amerika Serikat. Hal ini disebabkan karena ia tidak sadar untuk menjaga kebersihan dirinya sendiri (Suryo. V. terlihat bahwa umur wanita terbukti berpengaruh besar terhadap munculnya down syndrome pada bayi yang dilahirkannya. Sedangkan di Indonesia prevalensinya lebih dari 300 ribu jiwa (Sobbrie. setiap tahun lahir 3000 sampai 5000 anak dengan kelainan ini. jarak lebar antar kedua mata. Angka kejadian kelainan down syndrome mencapai 1 dalam 1000 kelahiran. hidung lebar dan datar. dan mulut biasanya tampak kotor serta gigi rusak. Dalam beberapa kasus. kedua lubang hidung terpisah lebar. Kemungkinan wanita berumur 30 tahun melahirkan bayi dengan . 2001). yaitu hanya mempunyai sebuah garis mendatar saja. yang disebabkan adanya kelainan susunan kromosom ke21. VI. Mata. 2008). sehingga mirip dengan orang oriental. PREVALENSI Menurut catatan Indonesia Center for Biodiversity dan Biotechnology (ICBB). Sedangkan angka kejadian penderita down syndrome di seluruh dunia diperkirakan mencapai 8 juta jiwa (Aryanto. yang disebut bintik “Brushfield”. Bogor. iris mata kadang-kadang berbintik. ONSET Onset terjadinya down syndrome adalah sejak bayi masih berada dalam kandungan ibu. biasanya dengan mudah kita dapat mengenalnya pada pandangan pertama. kelopak mata mempunyai lipatan epikantus. hidung. 2008).membulat. ujung lidah besar. Ibu jari kaki dan jari kedua adakalanya tidak rapat. telapak tangan kerap kali memiliki garis tangan yang khas abnormal. di Indonesia terdapat lebih dari 300 ribu anak pengidap down syndrome. Tangan dan kaki kelihatan lebar dan tumpul.

yaitu dengan cara melatih ibu atau pengasuh dan anak yang mengalami down syndrome. dkk membuktikan bahwa 73% dari anak-anak down syndrome baru mampu berdiri pada usia 24 bulan. Ibu atau pengasuh anak down syndrome dilatih bagaimana cara yang tepat untuk melatih anak down syndrome agar dapat berjalan dan dapat melatih keterampilan motoriknya. . VII. meskipun tidak seperti anak-anak „normal‟ lainnya (Didapatkan dari materi perkuliahan psikopatologi perkembangan). modifikasi perilaku. 2008). dapat pula dilakukan beberapa intervensi sebagai penunjang dalam membantu perkembangan fisik dan psikologis anakanak down syndrome. melatih anak untuk duduk dan berjalan sendiri.down syndrome adalah 1:1000. Hal ini menunjukkan angka kemungkinan munculnya down syndrome makin tinggi sesuai usia ibu saat melahirkan (Elsa. Sehingga. Sedangkan jika usia kelahiran adalah 35 tahun. menerapkan pendidikan khusus bagi anak-anak down syndrome. terapi treadmill ini dilakukan agar dapat membantu anak-anak down syndrome dalam melatih keterampilan motoriknya (Ulrich. Selain terapi fisik tersebut. kemungkinannya adalah 1:400. dan 40% bisa berjalan pada usia 24 bulan. dan dapat beraktivitas. Sehingga dengan adanya terapi fisik dan intervensi tersebut. Hal ini dilakukan karena anak-anak down syndrome seringkali mengalami keterbelakangan kemampuan motorik. 2003). seperti terlambat berdiri dan berlari. diharapkan dapat membantu anakanak down syndrome agar mereka dapat tetap berkembang dengan optimal. misalnya bagaimana cara memegang bayi. TERAPI Terapi fisik yang digunakan untuk menangani anak-anak yang mengatasi kelainan down syndrome adalah dengan terapi treadmill. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Palisano. seperti intervensi berupa special education. dan parenting skill bagi orang tua anak-anak down syndrome.

pendengaran. KUALITAS HIDUP Penderita down syndrome pada umumnya mengalami keterbelakangan perkembangan fisik dan mental. dan sebagainya yang seringkali menyebabkan mereka kurang diterima secara sosial. penderita harus mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya maupun memberi informasi yang cukup. Ultrasonography d. maupun kemampuan fisiknya. penderita down syndrome dapat mengalami kemunduran dari sistem penglihatan. Pemeriksaan diagnostik untuk mendeteksi adanya kelainan pada kromosom. Down syndrome tidak bisa dicegah. Pemeriksaan kromosom c. karena down syndrome merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. mengingat otot-ototnya yang lemah. Electrocardiography (ECG) e. Pemeriksaan darah (Percutaneus Umbilical Blood Sampling) Pada tahap perkembangannya. karena perilakunya yang . ada beberapa pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosa ini. serta kemudahan dalam menggunakan sarana yang sesuai. IX. seperti gangguan dalam koordinasi sensorimotorik. berkaitan dengan kemunduran perkembangan baik fisik maupun mentalnya. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan down syndrome. atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan down syndrome lebih tinggi. gangguan dalam kognitif. PREVENSI Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulanbulan awal kehamilan. Pemeriksaan fisik penderita b.VIII. antara lain: a. Dengan demikian.

2001). mereka tidak sadar akan cacat yang dideritanya. Karena pengobatan medis yang semakin modern. dengan menggunakan antibiotik untuk mengobati infeksi dan pembedahan untuk mengobati cacat jantung dan duodenum atresia. alzheimer. Namun. kehilangan daya ingat. PROGNOSIS Prognosis penderita down syndrome sangat bervariasi. Penyakit jantung dan leukemia sering menjadi penyebab kematian anak dengan down syndrome. Penderita down syndrome mengalami perubahan fisik lebih cepat. Keparahan dari keterbelakangan secara signifikan juga dapat bervariasi. pengembangan leukemia) dari masing-masing bayi. hal ini dapat diminimalisir dengan menggunakan terapiterapi bagi penderita down syndrome. kerentanan terhadap infeksi. Dengan perawatan medis yang lebih baik. Tanpa adanya cacat jantung. penurunan lebih lanjut dalam hal intelek. namun banyak yang mencapai 50 hingga 60 tahun. Harapan hidup untuk orang dengan down syndrome hanya sekitar 9 tahun. terutama dalam mengalami penuaan. sehingga mereka juga dapat berkembang dan menjalani hidup secara lebih optimal. sekitar 90% dari anak-anak dengan down syndrome hidup menjadi remaja pada anak seumuran mereka. banyak orang dengan down syndrome sekarang hidup dengan baik dalam usia 50 tahunan atau lebih (Suryo. dapat berkembang pada usia dini.tidak terkoordinasi dengan baik. harapan hidup mereka telah meningkat pesat. prognosis untuk bayi yang baru lahir dengan down syndrome lebih baik daripada sebelumnya. kebanyakan anak-anak dengan down syndrome bertahan hidup hingga dewasa. penderita down syndrome selalu tampak gembira. Namun. Pada umumnya. Masyarakat dan dukungan keluarga memungkinkan penderita down syndrome memiliki . Gejala seperti demensia. Tetapi. dan perubahan kepribadian. X. tergantung pada jenis komplikasi (cacat jantung. Usia rata-rata pada saat kematian adalah 49 tahun.

XII. dengan cara memberikan keterampilan musik. Dan hal yang paling penting. Walaupun tidak bisa disembuhkan. agar mereka juga dapat mengaktualisasikan dirinya dengan segala keterbatasan dan potensi yang mereka miliki. sehingga mereka pun dapat bekerja. adalah sikap memahami dan penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regards) dari orangtua dan keluarga terdekat penderita down syndrome. XI. dan pelatihan kejuruan dapat meningkatkan perkembangan keseluruhan anak-anak dengan down syndrom. lingkungan keluarga yang kondusif. perawatan medis di tempat yang ditentukan. mengajaknya berinteraksi satu sama lain. KESIMPULAN Down syndrome merupakan bentuk keterbelakangan mental yang disebabkan karena adanya abnormalitas kromosom. QS. DALIL TERKAIT A. dapat membantu penderita down syndrome untuk lebih survive. Meskipun beberapa keterbatasan genetik fisik down syndrom tidak dapat diatasi.hubungan yang berarti. serta dengan adanya program-program pendidikan. pendidikan dan perawatan yang tepat akan meningkatkan kualitas hidup mereka. tetapi penderita ini bisa dilatih dan dididik secara khusus. Al-Mu’minun: 13-14                        . sehingga berdampak pada kualitas hidup individu.

lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. yang mengaruniakan keamanan. Pencipta yang paling baik.       Artinya: “Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang. yang Maha kuasa. lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging. yang mengadakan.10 Dialah Allah yang menciptakan. yang Maha suci. QS. raja. yang memiliki segala keagungan. yang Maha sejahtera. yang mempunyai . yang Maha memelihara.” 14 B. yang Maha perkasa. Maka Maha sucilah Allah. yang membentuk rupa.13 Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah. Al-Hasyr: 24-25                                           Artinya: “Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia.

boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. supaya kamu mendapat rahmat.”11 C. boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. Al-Hujurat: 10-11                                                        Artinya: “Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara.asmaaul husna. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang . janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain.10 Hai orangorang yang beriman. QS. dan dialah yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya.

blogspot. D. www. Down Syndrome. C. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat.com. (1995). JW.. & Hersen. Diakses pada 20 Februari 2010 Davison. Diakses pada 20 Februari 2010 . (2010). Gangguan Pemahaman Bahasa pada Anak Down Syndrome. T. New York: United States of Amerika Anonim. maka mereka itulah orang-orang yang zalim. Gangguan Pemahaman Bahasa pada Anak Down Syndrome. (1992).com. ( 495-513).blogspot. Robert.org/wiki/Down_syndrome. (2003).”11 DAFTAR PUSTAKA Ammerman. Michel.wikipedia.tx-wicara. (2006). Gerald. (1971).en. www.tx-wicara.mengandung ejekan. Gangguan Pemahaman Bahasa pada Anak Down Syndrome. (1997). Jakarta: PT Rajagrafindo Persada Depag RI. dkk. (2008). www.com. Ph. Jakarta Elsa. www. Diakses pada 7 Maret 2010 Aryanto. Psikologi Abnormal (terjemahan).blogspot. D. (706-717).Qur’an dan Terjemahnya. Diakses pada 20 Februari 2010 Chaplin. Kamus Lengkap Psikologi. Al. Ph. Jakarta: Raja Grafindo Persada Cuncha.tx-wicara. Handbook of Prevention and Treatment with Children and Adolescents.

8.com/News/DisplayNews. Ir. Vol.aspx?id=6047.digilib. Effects of Intensity of Treadmill Training on Developmental Outcomes and Stepping in Infants With Down Syndrome: A Randomized Trial. John W. (2008). (2002). (259-272).Monks. Jakarta: Erlangga Sobbrie.com. (2008). Diakses pada 7 Maret 2010 Nusdwinuringtyas. A. Apa sih Down Syndrome?.114-122 .petra. dkk. (1996). Diakses pada 20 Februari 2010 Santrock. Dr.tulisan-bebas.com. Februari 2010.wikimu. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press Ulrich. 20 www. pada Olds. Diakses pada 20 Februari 2010 Supratiknya.blogspot. Yogyakarta: Kanisius Suryo. Life-Span Development. www. (2008). Penyebab Down Syndrome. Gangguan Pemahaman Bahasa pada Anak Down Syndrome.id.tx-wicara. (2001). www.ac. www. (1995). Genetika Manusia. Mengenal Perilaku Abnormal. dkk. (2008). Yazid dan Diagnosa Sindroma Diakses Down. Nury.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful