http://gado-gadosangjurnalis.blogspot.com/2011/09/kekuasaan-media.

html

kekuasaan MEDIA

Dalam teori konflik, Ralf Dahrendorf (1958) yang non-Marxian menjelaskan bahwa konflik sosial erat dengan peran kewenangan seoseorang dalam jabatan dan kepentingan (beda dengan pemikiran Marx tentang konflik kelas), sehingga membentuk polarisasi antara kelas penguasa dan kelas yang ditundukkan. Perbedaan nyata antara pemikiran Marx dan Dahrendorf dalam melihat situasi media Teori konflik Marx atau Dahrendorf didasarkan pada pemahaman Max Weber dalam melihat realitas sosial sebagai perilaku sosial yang memilki makna subjektif. Karena itu, perilaku memiliki tujuan dan motivasi. Perilaku sosial itu menjadi ”sosial”, kalau yang dimaksud subjektif atas perilaku sosial itu membuat individu mengarahkan dan memperhitungkan kelakuan orang lain dan mengarahkan kepada subjektif itu. Perilaku itu memiliki kepastian kalau menunjukkan keseragaman dengan perilaku pada umumnya dalam masyarakat. Menurut Karl Marx, kehidupan sosial-budaya ditentukan dari pertentangan antara dua kelas yang terlibat dalam proses produksi, yaitu kaum industriawan yang mengontrol alat-alat produksi dan kaum proletariat yang diandaikan hanya berhak melahirkan keturunan. Sedangkan pandangan Ralf Dahrendorf terhadap pendekatan fungsionalisme bahwa setiap masyarakat merupakan struktur yang terdiri dari unsur-unsur yang relatif kuat dan mantap. Tiap-tiap unsur itu berintegrasi satu sama lain dengan baik. Yasraf Amir Piliang memandang teori konflik Karl Marx itu sebagai konsep kekuasaan dalam kerangka hubungan yang mutlak antara kelas-kelas yang mendominasi dan yang didominasi dalam masyarakat— antara yang menekan (oppressor) dan yang tertekan (oppressed), antara yang menyisihkan (alienating) dan yang tersisihkan (alienated). Kekuasaan, menurut versi Marxisme adalah kekuasaan yang dibutuhkan oleh kelas sosial (kelas penguasa) untuk mereproduksi model produksinya yang dominan— kekuasaan untuk mengeksploitir kelas yang dikuasai. Batasan di atas memilah hubungan dua kelas di tengah masyarakat, yakni kelas penguasa yang menguasai kelas yang dikuasai dalam mereproduksi model produksi yang dominan. Dalam teks lain, kekuasaan itu disebut juga sebagai ideologi: Karl Marx (1818-1883) dan dan Fredrich Engels ((18201895) melihat ideologi sebagai fabrikasi atau pemalsuan yang digunakan oleh sekelompok orang tertentu untuk membenarkan diri mereka sendiri. Karena itu, konsep ideologi tersebut jelas sangat subjektif dan keberadaannya hanya untuk melegitimasi kelas penguasa di tengah masyarakat. Teori kekuasaan ala Karl Marx itu identik dengan ideologi yang melegitimasi kelas penguasa di tengah

masyarakat. Dalam batasan-batasan lain, hubungan itu dibingkai dalam konteks sistem ekonomi dan dibaca sebagai kapitalisme. Selain itu, politik berada di balik kekuasaan ekonomi itu, seperti diuraikan Stephen Littlejohn dan Karen A. Foss di bawah ini: Marx meyakini bahwa masyarakat adalah sarana produksi yang menentukan struktur dari masyarakat itu. Disebut hubungan superstruktur dasar (basesuperstructure), gagasan ini adalah ide bahwa ekonomi adalah dasar dari semua struktur sosial. Marx paling prihatin dengan akibat kapitalisme sebagai sebuah sistem ekonomi, memercayai bahwa keuntungan berasal dari produksi… Ekonomi berasal dari politik, yang oleh Marxisme klasik sering disebut kritik ekonomi politik (the critique of political economy). Dengan demikian teori konflik Karl Marx yang identik dengan kekuasaan atau ideologi memuat poinpoin: (1) kelas penguasa yang menguasai kelas yang dikuasai dalam mereproduksi model produksi yang dominan. (2) ideologi yang melegitimasi kelas penguasa di tengah masyarakat. (3) hubungan itu dibingkai dalam konteks sistem ekonomi dan dibaca sebagai kapitalisme. (4) politik berada di balik kekuasaan ekonomi itu. Sebaliknya dengan teori konflik Ralf Dahrendorf yang melihat masyarakat merupakan struktur yang terdiri dari unsur-unsur yang relatif kuat dan mantap. Tiap-tiap unsur itu berintegrasi satu sama lain dengan baik. Kata kunci atas gagasan Dahrendorf adalah liberalisme atau pertarungan sebebasbebasnya seluruh komponen masyarakat tanpa ada campur tangan pemerintah. Kekuasaan diserahkan kepada masyarakat sebagai subjek sekaligus objek. Teori dioperasionalisasikan, menurut Penulis, bisa dilihat pada dimensi kedua model peristiwa komunikatif, yakni discourse practice yang meleburkan ”pertarungan” produksi teks dan konsumsi teks. Pemerintah sebagai regulator bertindak sebagai wasit yang baik, tanpa ikut campur tangan dalam wilayah operasional. Contoh kasus ini adalah ”kekuasaan” Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang menjadi representasi masyarakat untuk menangani dan mengawasi penyelengaraan dunia penyiaran di Tanah Air. Dsan tugas penanganan dan pengawasan itu bukan lagi wewenang Kementerian Komunikasi dan Informasi—bandingkan dengan kekuasaan dan kewenangan yang dimiliki Depertemen Penerangan pada era orde baru dulu. Lebih jauh tentang jabaran gagasan Dahrendorf bini dipaparkan pada poin di bawah ini. Teori konflik Dahrendorf menjelaskan pemanfaatan media oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan politik dan bisnis Sejak bergulirnya era reformasi, tidak bisa dipungkiri lagi, media menikmai euphoria yang teramat sangat. Lebih dari 30 tahun dikerangkeng dalam penjara Pers Pancasila (baca: otoritarian ala Orde Baru) membuat media hiruk-pikuk merayakan alam bebas berpolitik, berpendapat, dan berdemokrasi, juga berekonomi. Pemberlakukan Undang-undang Pers membuat media merasa memiliki alasan untuk menikmati kebebasan itu dalam alam liberalism. Khalayak juga dihadapkan banyak pilihan terhadap hegemoni-hegemoni baru di era reformasi. Para pemilik modal di belakang media merupakan kelompok dominan yang berkepentingan menyebarkan wacana atau ideologi, hingga membangun kultur dan ideologi dominan, sekaligus intrumen perjuangan kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan. Euforia itu juga ditandai perayaan-perayaan memainkan objek wacana. Wacana-wacana yang didesain dengan makna khusus (baca: memburu jumlah tiras di media cetak (rating dan share di media

dan sejumlah nama atau kelompok lain. berkesempatan mengumbar kekuasaan-kekuasaan kelas minoritasnya yang diyakini bakal mengusai kelas mayoritas yang disinggung Jean Boudrillard sebagai mayoritas yang diam—massa yang tidak membutuhkan kekuasaan untuk mendominasi. Singkatnya. Simbol-simbol itu sudah cukup menjelaskan premis program bahwa fashion. Media. etika pergaulan. Hudson. tamu-tamu dialog dari kalangan selebritas yang juga tak kalah modis dan glamor. Teks budaya yang dihidangkan media merupakan teks yang jauh dari pemenuhan nilai estetis. kedekatan dengan teknologi. Dan kalau melirik program hiburan. program Bukan Empat Mata di Trans7 yang menempatkan pelawak jebolan Srimulat Tukul Arwana sebagai host dari kalangan modern: dengan wardrobe yang berganti-ganti dan bermerk. akan tetapi kekuasaan untuk mengekspresikan diferensi (perbedaan seks. gaya bertutur yang mencoba cerdas dengan sesekali menyelipkan kosa kata bahasa Inggris. Kedua program itu juga menjadi pembuktian keberhasilan penerapan komodifikasi yang oleh Vincent Mosco dilukiskan sebagai cara kapitalisme melancarkan tujuannya dengan mentransformasi nilai guna menjadi nilai tukar. gaya bertutur. produk. dan tepuk-tangan penonton yang diminta mengamini pencitraan modernnya. juga riuh penonton sebagai penyaksi langsung penobatan ikon-ikon budaya popular baru itu. keakraban dengan teknologi komputer. dengan “framing” standar: fashion. makin disemarakkan perayaan hedonism dan upaya memuaskan mayoritas yang diam tadi. Belakangan hegemoni itu. Program berita menjadi tidak percaya diri dan ikut berlomba laksana program infotainment demi memburu rating dan share. gaya bertutur. Bahwa jauh sebelum teks budaya popular itu disuntikkan kepada khalayak. kesenangan. dalam bingkai ekonomi politik media. Atau. tanpa menimbang latar belakang atau “tampilan” sejatinya. Tiba-tiba. kedekatan dengan teknologi. Misalnya saja. busana dan kostum para peserta yang tidak main-main. Pemunculan kasus video porno mirip artis di seluruh program berita di televisi menjadi pembuktian matinya nilai estetis dan objektivitas yang selama beratus-ratus menjadi nilai sakral para jurnalis. gaya. teman-teman se”kaum”. memperjuangan ideologi leluhur. awal orde reformasi merupakan perayaan hegemoni media paling akbar yang pernah terjadi di Tanah Air. Di bawah gemerlap lampu berkekuatan ribuan Watt. menguasai territorial. Khalayak tidak pernah mempertanyakan latar belakang atau kondisi nyata mereka. akan mencitrakan kaum modernitas. Brandon. iringan grup musik yang luar biasa. nikmati juga perayaan penciptaan efek mitologisasi itu dalam panggung megah Indonesia Mencari Bakat (IMB) di layar TransTV. mesti .elektronik) seakan menjadi pembuktian kebenaran model komunikasi televisual ilmuwan dari Mazhab Birmingham Stuart Hall melalui publikasi dalam Encoding and Decoding the Televisual Discourse. Rumingkang. dan sebagainya). teman-teman se”kaum”. maka teks budaya popular itu makin memperlihatkan keberadaan hegemoni yang berkiblat pada ekonomi politik media. properti yang disulap mengikuti tema-tema tertentu. Bahkan. jurijuri yang merupakan ikon-ikon budaya populer dengan pencitraan modernnya. Sehingga program televisi. Dan “wacana bermakna” itu adalah pencapaian tiras serta rating dan share. Putri Ayu. etika pergaulan. Dalam tempo delapan bulan. panggung megah itu menyulapnya menjadi “selebritas” atau mitos-mitos baru panggung hiburan. dan gempita perhatian orang lain. tata rias dan model rambut peserta yang mengubahnya menjadi “orang lain”. terutama media televisi. etika pergaulan seperti kalangan modern lengkap dengan “cipikacipiki”nya. dan gempita perhatian orang lain. nama-nama Klantink. ber”metamorfosis” tanpa bisa diduga dan dibendung. apa pun jenisnya. meski sesekali stasiun itu memutar video tape (VT) kondisi nyata mereka. sesungguhnya media telah “menyiapkan” wacana yang “bermakna”.

kesemuan. diawasi oleh publik. Harapan terbaik teori konflik dari Dahrendorf apabila melihat situasi media kita sekarang Gagasan utama atas teori konflik Dahrendorf dalam kondisi media di Tanah Air saat ini sejalan dengan gagasan Yasraf Amir Piliang: kepentingan ekonomi (economic interest) dan kepentingan kekuasaan (power interest) yang membentuk isi media (media content). polisatisasi media. menurut Piliang: menciptakan kondisi dehiper-realitas (de-hyper-reality). Sebagai langkah permulaan. khalayak pun dijadikan komoditas yang bukan sebatas dipaksa menimati pencitraan produk-produk yang diiklankan dalam dalam commercial break. yaitu warga yang mempunyai daya kritis. yang tidak mempunyai kekuasaan dalam membangun dan menentukan informasi di ranah publik (public sphere) milik mereka sendiri. fatalitas informasi (pembiakan informasi ke titik ektrem ke arah bencana). dan makna yang dtawarkannya.dikomodifikasi sebagai komoditas yang benar-benar disukai khalayak (content comodification). Media cetak sudah lebih berpengalaman bermain-main dengan kekuasaan politik atau ekonomi. kesetaraan. keadilan. dan menciptakan countermedia. Analisis wacana atau analisis wacana kritis—dengan varian apa pun—akan membongkar rupa-rupa hegemoni di balik teks budaya popular yang diproduksi media di Tanah Air. yang menjadikan mereka sebagai mayoritas yang diam. banalitas informasi (informasi tak bermanfaat). dalam konteks Indonesia. yang tumbuh dari publik. dan pemainan bahasa (language game). kepentingan-kepentingan itu menjelmakan hiper-realitas media—istilah yang digagas Jean Baudrillard. dan daya resistensi yang kuat terhadap informasi. yang di dalamnya objektivitas. daya tangkal. berada di antara dua kepentingan utama media. Pemerintah dan anggota dewan harus mencabut peraturan-peraturan pemerintah yang mengkerdilkan ”kekuasaan” Undang-undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran yang mengkerdilan peran KPI. Media yang seharusnya menjadi ruang publik (public sphere) berubah menjadi ranah pribadi. yang di dalamnya informasi yang dapat diinterpretasikan dan dicerna oleh masyarakat secara logis dan bermakna. Namun. sampai pada sebuah batas. meski hal itu sesungguhnya bukan kebutuhan khalayak. dan kebebasan). kesejahteraan. yaitu pengendalian ekstremitas komunikasi dan informasi melalui regulasi. Publik dan masyarakat pada umumnya. kebenaran. Dampak atas ketiga penjelamaan itu adalah disinformasi (informasi tak layak dipercaya). radio publik. Penulis masih sangat menaruh harapan kepada pemerintah dan para anggota legislatif untuk lebih memahami dampakdampak hiperrealitas. Menurut Penulis. dan hiper-moralitas (lenyapnya batas-batas moral). dan makna sebagai kepentingan publik dikalahkan oleh subjektivitas. bukan massa sebagai mayoritas yang diam (the silet majorities). skizoprenia (keterputusan antar pertandaan). Penulis pesimistis atas pelaksanaan ketiga gagasan secara bersamaan. Untuk mencehah berkembangnya hiper-realitas. informasi yang disajikan. depolitisasi (pembentukan mayoritas diam). politisasi media. itulah gambaran kekuasaan hegemoni di dunia pertelevisian saat ini. koran publik). Menarik mencermati ketiga gagasan itu. tapi juga dipancing untuk mengirimkan short message service (SMS) dengan ongkos yang tak murah. dan kekerasan simbolik. dan kekerasan simbolik. Gagasan dehiperrealitas itu harus diawali dari niat baik pemerintah dan anggota legislatif untuk menghidupkan kembali gagasan reformasi dalam cetak biru penyelengaraan kegiatan media dan penyiaran dalam bentuk regulasi. Bahkan. yaitu media-media publik (televisi publik. Pada akhirnya. Dengan KPI yang lebih bernyali diharapkan niat mengembalikan ranah pribadi yang selama ini . dan kekerasan simbolik. dan mampu memperjuangkan kepentingan-kepentingan publik yang sangat beraneka ragam keadilan. politisasi media. memperkuat jaringan civic education untuk menciptakan masyarakat warga sebagai mayoritas yang kritis (the critical majorities).

TVRI yang harusnya mulai membuka diri sebagai televisi publik (yang benar-benar untuk kepentingan publik dan bukan sekadar corong pemerintah). Hal ini bisa disebabkan kepemilikan media. tanpa ada lembaga kontrol publik penyiaran atau para pekerja.com/2011/09/homogenitas-programtelevisi. untuk mengembangkan teori kritis masyarakat berdimensi praksis perubahan sosial. Sedangkan gagasan ketiga masih berbenturan dengan ketersediaan modal dan sumber daya manusia. infotainment.blogspot. Penulis merupakan penonton kritis yang mencoba membongkar seluruh kekusutan itu beranjak dari teks . Penulis akan mengurainya dengan pendekatan cultural studies. seperti sinetron. Tapi. Di saat bersamaan.[] gado-gado SANG J http://gado-gadosangjurnalis. kalangan khalayak kritis sudah harus memulai “mengampanyekan” gagasan mayoritas yang kritis untuk menstimuli mayoritas yang diam. Dengan begitu. Gagasan tentang countermedia memang masih impian. para pengelola media bisa lebih berhati-hati dan mulai mempertimbangkan wacana-wacana yang lebih bermakna (tanpa tanda kutip) khalayak. rating. Ruang publik yang disediakan media untuk khalayak harus dimanfaatkan seluas-luasnya untuk memulai langkah pengkritikan dan pengawasan atas media. Poin ini sejalan dengan gagasan Jurgen Habermas. Proses ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Inilah langkah awal dehiperrealitas itu. dengan cara kritis kalangan khalayak kritis ini akan menjadi penjaga public sphere yang bisa diandalkan di tengah kondisi sosial budaya yang tak menentu. Untuk menjawab permasalahan di atas. Bagaimana menguraikan benang kusut itu? Strategi dan taktik apa yang harus dilakukan sebagai solusi? Buat juga uraian keterlibatan seluruh stakeholders.html homogenitas PROGRAM TELEVISI Konten media televisi Indonesia masih berkutat pada tayang-tayang homogen yang memiliki kualitas buruk. bahkan hegemoni budaya. pelanjut proyek Max Horkheimer.digenggam pemilik modal (atas nama pasar) bisa diberikan kembali kepada masyarakat selaku pemilik ranah publik. Bahkan. gagasan inilah yang akan menjadi pemicu “kebaikan dan kelengahan” pemerintah dan anggota dewan dalam pembuatan dan penerbitan regulasi. dan lain sebagainya. agenda setting pihak tertentu. Bahkan.

tambah Sudibyo. “Watak kolusif genre—produser dan khalayak punya kepentingan yang saling menguntungkan dalam menjaga formula bersama-sama— menyeret perhatian kita pada fakta bahwa konservatisme ideologis dalam berita adalah sesuatu yang dipersekongkolan khalayak untuk dipelihara. sama banyaknya dengan sesuatu yang sekadar ditimpakan kepada pemirsa. Belakangan. Agus Sudibyo menggambarkan secara kritis fenomena state-based power dalam penyelenggaraan kegiatan penyiaran pada masa Orde Baru. Dalam bahasa lain. hingga memodifikasi berita-berita agar lebih entertaining. ketika semangat mengembalikan kepemilikan ranah publik ke publik melalui Undang-undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 membara. ketika pemerintah memegang kendali penuh atas izin frekuensi. ringan. di bawah kendali pengusaha media.televisi sebagai artefak budaya popular. Bahkan. dan independen? Janganjangan kondisi ekonomi dan politik media membentuk format berita menjadi makin tidak objektif? Bahkan. izin usaha. perlahan-lahan public-based power bermetamorfosis menjadi bauran state-based power dan marketbased powers. dan pengawasan. Dengan rating dan share sebagai acuan dalam penyusunan agenda. Memasuki era reformasi. yang dimulai dari teks televisi (mikro). Artinya. tidak malu-malu memuat kekerasan simbolis. program berita yang mestinya mengedepankan aspek idealisme ikut menuhankan rating dan share. tetap objektif. Ketika teks televisi diuraikan secara rinci menurut medan wacana (field of discourse). Media memiliki aspek-aspek dan kepentingan untuk menjalankan roda usahanya. Ketika rating dan share mendapatkan kesempatan menjadi “dewa”. Dalam kondisi itu. dan pengusaha. netral. Khalayak juga sangat berkepentingan untuk mengawal “aspek-aspek dan kepentingan” itu agar tetap mendapatkan informasi tentang lingkungannya —bahkan meski dalam keadaan bias.” kata Graeme Burton. masalah objektivitas dalam penyajian berita di televisi pun mulai dipertanyakan. dan sarana wacana (mode of discourse)—analisis wacana kritis yang dikembangkan Halliday dan Hassan. Dalam artian. Bahwa pada akhirnya teks itu lebih berisikan selera rendah. yakni kekerasan yang berlangsung dengan persetujuan dari korbannya sejauh mereka tidak sadar melakukan atau menderitanya—seperti . Situasi ini menandakan media baru saja beranjak dari fase pengelolaan media yang secara ketat di bawah kekuasaan Negara (state-based power). Hubungan sinergis itulah yang menjadikan pesan media dibingkai dalam suasana market-based powers atau kekuasaan pasar. dan mengutamakan unsur hiburan. sempat mencercahkan sedikit cahaya public-based power. penguasaan kegiatan penyiaran yang dikendalikan Negara dan keinginan pasar (baca: pengusaha media). pelibat wacana (tenor of discourse). hingga media televisi sebagai situs budaya popular (makro) yang berada di lingkungan ekonomi politik media. stasiun-stasiun televisi yang milik segelintir pengusaha. Uraian ini mengacu pada analisis wacana kritis ala Norman Fairclough. pemerintah. atas dasar kompromi-kompromi para politisi. Persisnya. akan menjelaskan penanda-penanda yang ada di dalam pesan. maka hal itu terkait positioning yang didesain media itu yang mencoba meraup segmen pemirsa sebanyak-banyaknya. dari sana akan terjawab juga persoalan bentuk dan rupa artefak yang dihadirkan dan hegemoni di dalamnya. produksi teks televisi (meso) yang menghadirkan agenda setting dalam mengonstruksi wacana bermakna berupa teks televisi dengan pendekatan komodifikasi. mungkinkah media masih memperlihatkan rona idealismenya? Dalam pengertian.

Kalangan pengusaha media harus bersiap-siap menyambut pemberlakukan UU No. sekaligus mengerdilkan KPI dan mengherokan kembali peran pemerintah. khalayak harus mendesak anggota dewan dan pemerintah untuk menganulir peraturan pemerintah yang mengerdilkan UU No. DPR harus mendesak pemerintah untuk tidak lagi terlibat dalam praktik perizinan dan melepaskan kenangan nostalgianya kepada publik. d. sangat disokong pemerintah. pemerintah yang ingin bernostalgia dengan masa keemasannya sebagai penguasa tunggal seluruh bisnis penyiaran. Termasuk juga pemunculan stasiun televisi swasta nasional lainnya. Persaingan peraihan pemirsa yang bertumpu pada rating dan share pun tak terhindarkan. bulan madu public-sphere itu pun berakhir dengan tampilnya kolaborasi paling dasyat state-based power (pemerintah) dan market-based powers (pengusaha). serta tidak lagi memberi peluang bagi pengusaha dan pemerintah untuk melanjutkan “bulan madu”nya. Datangnya era reformasi menjadi momen berharga bagi kalangan reformis untuk mengembalikan private-sphere yang dikuasai sekelompok pengusaha kepada public sphere. Sehingga ketentuan hokum itu bisa segera diberlakukan dan karut-marut pertelevisian ini menjadi lebih panjang. bagaimana mengurai benang kusut itu? Berikut ini paparan sederhananya: a.blogspot. 32/2002. bahkan meraih keuntungan selekas-lekasnya.[] gado-gado SANG JURNALIS Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda http://gado-gadosangjurnalis. bukan justru menjadikan khalayak sebagai audience commodification. Bahkan. Parahnya. 32/2002 yang di antaranya menyelenggarakan siaran berjaringan. seluruh stasiun televisi ikut bersama-sama merayakan kekonyolan-kekonyolan itu.com/2011/09/freedomn-of-press. Maka. peluang itu ramairamai dinikmati stasiun televisi swasta lain. Sejarah industri penyiaran Indonesia dilahirkan tidak dengan cetak biru sistem penyiaran yang jelas. Lantas. b. Konspirasi itu pun sepakat melahirkan sejumlah Peraturan Pemerintah (49. f. 50. 32/2002. Untuk mengembalikan kepemilikan sah angkasa kepada khalayak (public-based power). dan 52) yang “semangat”nya mengebiri UU No. sekaligus mematisurikan TVRI. Maka. bukan milik Negara apalagi pengusaha. dan kalangan legislatif yang tak kuat iman. c. Dan saatnya memberikan kesempatan kepada khalayak untuk mendapatkan apa-apa yang sesungguhnya dibutuhkan. dengan membiarkan RCTI melepaskan decodernya. e. g. Karena sesungguhnya angkasa milik publik. Paris: Raison d’Agir. Undang-undang Nomor 32/2002 tentang Penyiaran pun dilahirkan. 51. Munculnya RCTI sebagai stasiun televisi swasta nasional pertama lebih menunjukkan keharmonisan hubungan Negara (state-based power) dan pengusaha dari Cendana (market-based powers). Dengan begitu peran perizinan frekuensi dan pengawasan mutlak berada di tangan masyarakat (diwakili KPI).dikemukakan Pierre Bourdie dalam Sur la Television. Modal besar dan upaya mengembalikan modal. dengan Komisi Penyiaran Indonesia sebagai representasi publik dan menghilangkan peran Kementrian Komunikasi dan Informasi. Penuhanan terhadap rating dan share segera dihentikan. Bulan madu public-sphere seperti digagas Jurgen Habermas ternyata perlahan-lahan menguap seiring dengan kegigihan pengusaha yang ingin usahanya langgeng.html .

dijamin tidak akan diberlakukan lagi. dari peliputan dan penerbitan atau penyiaran. Kemerdekaan pers benar-benar diberikan kepada seluruh insan pers sebagai hak asasi warga negara. Dan ayat 4 makin memperjelas keberadaan ”tameng” pers dari ancaman pihak-pihak yang terganggu atas isi pemberitaan melalui pemberian hak tolak. serta bertentangan dengan rasa kesusilaan masyarakat. Artinya. dan tabloid Detik usai memberitakan kasus pembelian kapal bekas dari Jerman pada tahun 1992-an. juga pembredelan atau pencabutan SIUPP. Pemerintah telah mampu bersikap konstruktif dan proporsional terhadap pers. pemerintah memberikan kebebasan seluas-luasnya bagi kalangan wartawan dan media untuk melakukan kegiatan jurnalistik tanpa dihantui ancaman telepon. pers nasional mempunyai hak mencari. pembatasan terhadap fungsi-fungsi media sebagai institusi sosial harus dihapuskan. termasuk praktik penyensoran dan pembredelan seperti yang pernah dialami majalah mingguan berita Tempo. serta transparan. Artinya. cerdas. pembredelan atau pelanggaran penyiaran (3) Untuk menjamin kemerdekaan pers. Termasuk penghalangan kegiatan penyiaran. Bahkan. kini saatnya media menikmati alam kebebasan seperti diterapkan dalam kehidupan pers di lingkungan sistem tanggung jawab sosial. Membaca keempat ayat itu sepintas akan memunculkan kebanggaan bahwa pemerintah telah berubah dalam menyikapi kehidupan pers dibandingkan masa Orde Baru. Meski demikian. dan berbagai tekanan dari pemerintah atau lembaga-lembaga tertentu seperti dialami kalangan pers pada zaman Orde Baru. agar tercipta sistem media yang bertanggung jawab dalam kerangka freedom of the press dan demokratisasi. yang seakan tidak ada lagi tembok penghalang atau firewall yang bakal menghalangi tugas jurnalistik. . Artinya. penyensoran yang biasa menjadi momok serius pada orde itu. Jaminan kemerdekaan itu benar-benar mesti dirayakan bila mencermati isi ayat 3. memeroleh dan menyampaikan gagasan dan informasi (4) Dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum.freedomn OF THE PRESS Media massa perlu dikontrol dan dikendalikan oleh sistem regulasi yang jelas. 40 Tahun 1999 tentang Pers Pasal 4 UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers: (1) Kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara (2) Terhadap pers nasional tidak dikenankan penyensoran. Perusahaan pers dilarang memuat iklan: yang berakibat merendahkan martabat suatu agama dan atau meggangu kerukunan hidup antar umat beragama. wartawan atau media bisa lolos dari kewajiban membocorkan identitas narasumber saat dihadirkan di pengadilan. wartawan mempunyai hak tolak. Editor. Esensi kebebasan pers seperti yang terkandung dalam Pasal 4 UU No. cobalah perhatikan Pasal 13 UU itu yang mencantumkan pelarangan. surat teguran. Kontrol sosial dari UU tersebut mampu mengakomodir tekanan politik terhadap isi media Semangat reformasi yang menjadi inspirasi dalam penerbitan ketentuan hukum itu merupakan angin segar bagi kalangan pers yang selama 30 tahun diikat dalam sistem pers Pancasila yang cenderung otoritarian. Pemerintah telah sadar bahwa untuk melindungi hak-hak publik atas informasi.

sekaligus bertendensi menyubordinasikan kebebasan pers kepada kepentingan establishment kekuasaan. ormas.  Masyarakat juga perlu mencermati keberadaan seperangkat UU lain yang bertendensi mengancam institusionalisasi kebebasan pers sebagai bahan kontrol sosial bila di masa mendatang pemerintah terbukti menggunakan tangan besinya dalam penyingkiran hakekat kebebasan pers. Artinya. pasal itu dilengkapi kata ”berita” dan dicantumkan sebagai ayat 5 Pasal 4 atau melengkapi empat pasal kebebasan pers di atasnya. Penulis berpendapat:  Masyarakat perlu mencermati ”cacat” UU No. Dan tidak ada kejelasan soal bagaimana memutuskan masalah tersebut. Termasuk. sebelumnya. UU Kebahasaan. pemerintah bakal berkesempatan menggunakan tangan besinya kepada media. 40 Tahun 1999 itu justru masih mencerminkan adanya tekanan politis pemerintah terhadap media. misalnya dengan melakukan class action atau tekanan-tekanan langsung yang melibatkan massa. dan satgas adalah ancaman paling serius terhadap kebebasan pers pasca-1998. . 40 Tahun 1999 juga mengatur aspek ekonomi. Dan sejak UU ini masih berupa RUU. Politik kebijakan pemerintah di bidang pers tidak benarbenar didasarkan pada suatu imperatif untuk menciptakan ruang publik media yang demokratisdelibratif. maka berhak berbisnis media dan menjadi bagian dari kehidupan jurnalisme. asal memiliki cukup modal dan badan hukum yang sah. antiketerbukaan. tetapi lebih didasarkan pada rasionalitas strategis untuk mengarahkan praktik bermedia yang kondusif bagi kepentingan dan legitimasi politik pemerintah. seperti tercantum pada Bab IV. Dengan penjabaran tersebut.Artinya. antidemokratis. Pemerintah sesungguhnya belum mengikhlaskan reformasi di bidang pers. ranah ini tidak lagi murni berisikan kalangan jurnalis yang ingin menorehkan ”idealisme”nya melalui bisnis media. Dengan demikian masyarakat ikut berperan dalam kontrol sosial terhadap ancaman kebebasan pers yang didasarkan UU tersebut. 40/1999 mengakomodir pengaruh ekonomi (bisnis) terhadap isi media UU No. sensor atau pembredelan? Bisa jadi. Siapa pun Anda. Ingat kasus penyerangan ”pasukan” Tommy Winata ke kantor majalah Tempo terkait pemberitaan Pasar Tanah Abang. pasal tersebut memang menjadi sorotan kalangan pers. misalnya dengan melakukan class action atau tekanan-tekanan langsung yang melibatkan massa. dan siapa yang berwenang untuk mengklaim pelanggaran itu? Kontradiktif pasal-pasal itu bisa menjadi pembuktian soal kecenderungan politik pemerintah terhadap pelembagaan kebebasan pers di Indonesia. Selain itu perlu juga diwaspadai politik legislasi pemerintah yang bertendensi mengancam institusionalisasi kebebasan pers melalui keberadaan UU KUHP. juga UU ITE. Penjelasan di atas juga bisa pembalikan atas kekhawatiran pada awal era reformasi bahwa kelompok massa. UU No.  Masyarakat perlu mencermati ”cacat” UU No. apa pertimbangannya. 40/1999 itu untuk dijadikan bahan usulan jucial review ke Mahkamah Konstitusi agar ”cacad” itu dihilangkan. Karena. UU Intelejen. UU Rahasia Negara. UU Pornografi. Pasal 9: (1) Setiap warga negara Indonesia dan negara berhak mendirikan perusahaan pers (2) Setiap perusahaan pers harus berbentuk badan hukum Indonesia Pasal 9 memberikan peluang seluas-luasnya bagi siapa pun (baca: pengusaha dan negara) untuk beramai-ramai melakoni bisnis media. 40/1999 itu sebagai bahan kontrol sosial bila di masa mendatang pemerintah terbukti menggunakan tangan besinya dalam penyingkiran hakekat kebebasan pers. Bahkan. ketentuan hukum yang disodorkan pemerintah dan disetujui DPR dengan label UU No. atas nama iklan bermasalah.

Melalui ketentuan hukum itu.termasuk merasakan kesakralan freedom of the press—bahkan kebebasan pers yang diartikan sebagai peraihan keuntungan.com/2011/09/ranah-publik. Pada puncaknya. Artinya. Karena. Gol akhir dari regulasi ekonomi itu adalah kekuasaan yang tertumpu pada persaingan secara terbuka dan sebebasbebasnya (market-based powers). untuk ikut merayakan suka cita reformasi di bidang media di negara ini. seperti dipaparkan Vincent Molco. 40/1999 itu sangat mengakomodir pengaruh ekonomi (bisnis) terhadap isi media. Pasal ini membuka peluang bagi pengusaha-pengusaha asing. Persoalan tuntutan Front Pembela Islam atas majalah Playboy Indonesia adalah masalah lain. Ketika modal besar bicara. Sanat masuk di akal. perancang UU itu benar-benar sangat mempersiapkan lahan kapitalisme di bidang media di negeri ini dengan begitu luasnya. menurut Penulis. yang dirintis untuk menyuntikkan informasi dan pendidikan seperti di atur secara rinci dalam UU Pers. negara telah menyediakan peluang dan menjamin kelangsungannya.blogspot. maka media pun harus bersiap-siap merayakan suka cita komodifikasi ala ekonomi politik media. media cetak hanyalah berisi sampah-sampah senilai dua ribu atau tiga ribu perak dan media televisi berisikan dosa-dosa yang bisa dinikmati dengan kesediaan mencumbui iklan-iklan. Jurgen Hambermas (1962-1989) menyebutkan bahwa ruang publik adalah perantara yang mempertemukan kepentingan negara (state) dan masyarakat (civil society) dalam menciptakan proses komunikasi yang adil. tanpa ada kekhawatiran ”diganggu” persoalan nilai atau moral. Menurut Penulis keberadaan dua pasal dalam UU No. ketentuan hukumnya menyediakan ruang itu. bijak.[] gado-gado SANG JURNALIS Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda http://gado-gadosangjurnalis. bila media ”sekelas” majalah Playboy Indonesia atau surat kabar Lampu Hijau bisa leluasa menyeruak di antara media lain. ketika idealisme sekadar bingkai artefak yang bakal difosilkan. Kenyataan ini membuat media-media yang tergolong yellow journalism pun berdiri dan bergerak bebas. Yang penting. “Opini Publik” dalam Kerangka Habermas . ketika untung-rugi diperhitungkan. kalangan pers atau bukan.html ranah PUBLIK Dalam The Structural Transformation of the Public Sphere. dan dalam menciptakan pertukaran wacana yang membangun. era modernisasi (kapitalisme) semakin menganga dan mendapat kesempatan besar untuk menekan kehidupan media di negeri melalui sisi ekonomi. Media terkuat dan terkaya akan memainkan hegemoninya kepada khalayak seraya melindas media-media kecil yang lemah dan bermodal alakadarnya. Pasal 11: Penambahan modal asing pada perusahaan pers dilakukan melalui pasar modal.

Partisipasi dalam debat harus melibatkan sebanyak mungkin peserta yang mempunyai kepentingan langsung. Konsep Ruang Publik dalam Teori Hegemoni Gramsci . walau tidak dapat disangkal bahwa yang terjadi juga bisa sebaliknya bahwa pengetahuan adalah produk kepentingan. seperti sekolah. gereja. bahasa menjadi medium pertukaran dalam solidaritas simbolik. Bahasa adalah interaksi. intersubjektivitas simbolik yang sifatnya universal. Aparatus negara menjadi penjaga masyarakat yang disiplin memberangus pemunculan gagasan-gagasan tentang kebebasan dan demokrasi. untuk memperebutkan penerimaan publik atas gagasangagasan ideologis yang diperjuangkan. kebutuhan. sesungguhnya Habermas melanjutkan proyek Max Horkheimer untuk mengembangkan teori kritis masyarakat berdimensi praksis perubahan sosial. Bagi Habermas. media adalah institusi sosial yang memfasilitasi masyarakat menjalankan diskursus sosial. tapa khawatir atau dihantui ancaman kekuatan negara yang dikondisikan senantiasa mengancam dan menekan masyarakat—ingat konsep penjagaan stabilitas nasional di era orde baru atau negara-negara komunis. Dan syarat utama interaksi komunikatif ialah ruang publik harus dihormati. historis heurmeneutik. tetapi juga hubungan antara paemilik dan penyewa kekayaan publik. alat hegemoni itu dapat digunakan untuk menyosialisasikan dan mempertahankan ide-ide atau ideologi hegemoni. Di sisi lain. Pada hakekatnya keberadaan “opini publik” adalah tempat mediasi pertukaran ide di antara masyarakat melalui institusi-institusi yang berperan dalam mengembangkan dan menyebarluaskan hegemoni ideologi. Dua sisi ini melahirkan konsekuensi bahwa hubungan antara publik dan media penyiaran tidak sekadar hubungan konsumen dan produsen informasi. atau yang bersifat emansipatoris). Media adalah perjumpaan antara rasionalitas komunikasi dan rasionalitas strategis. praktis. masjid. Media membentuk sebuah tempat berlangsungnya perang bahasa dan perang symbol (symbolic battle field). media massa. Maka debat tidak boleh dibatasi oleh urgensi untuk segera mengambil keputusan atau bertindak. terdapat hubungan strategis antara pengetahuan manusia (baik empiris-analitik. bahkan arsitektur atau nama jalan. media juga institusi ekonomi yang beroperasi berdasarkan rasionalitas bisnis. Pada satu sisi. “Publisitas” dalam Kerangka Habermas Media merupakan ruang yang menyediakan pertukaran ide-ide itu melalui bahasa dan simbol-simbol yang diproduksi dan disebarluaskan. dan nilai masyarakat. maupun kritis) dengan kepentingan (teknis.Menurut Habermas—seperti juga pemikiran Jaques Derrida. Media penyiaran mempunyai beban lebih besar dalam mewujudkan praktik. bermedia yang benar-benar mencerminkan keberagaman minat. Antonio Gramsci menyebut institusi dan strukturnya sebagai alat hegemoni (hegemonic apparatuses). Dan di dalamnya sebuah ide hegemonik mendapatkan tandingan oleh pelbagai hegemoni tandingan lainnya (counter hegemony). Sebagai pemburu teori kritis Mazhab Franbkrut. Gagasan Habermas tentang “opini publik” ini menunjukkan kebebasan berpendapat dan bertukar gagasan apa pun di ruang-ruang yang disebutkan Gramsci tadi. Sesuai dengan namanya. Gagasan ini menunjukkan media sebagai ruang publisitas pertukaran ide-ide hegemoni tadi—sebagai public sphere.

juga media yang berperan dalam penyebaran wacana dominan itu. Sebaliknya. Alex Sobur melihat berbagai pihak di belakang media sebagai kelompok dominan yang berkepentingan menyebarkan wacana atau ideologi. “Salah satu kekuatan hegemoni adalah bagaimana ia menciptakan cara berpikir atau wacana tertentu yang dominan. Antonio Gramci melihat media sebagai ruang di mana berbagai ideologi dipresentasikan. Di tingkat makro. penerus Marxisme atau Neo-Marxisme. yakni menciptakan cara berpikir yang berasal dari wacana dominan. logis. Lebih jauh lagi. media juga bisa menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan. sehingga apa yang terjadi dan diberitakan oleh media tampak sebagai suatu kebenaran. serta semua orang menganggap itu sebagai suatu yang tidak perlu dipertanyakan. Hegemoni dapat terjadi dalam berbagai cara dan berbagai keadaan. Media bisa menjadi alat untuk membangun kultur dan ideologi dominan bagi kepentingan kelas dominan. hingga membangun kultur dan ideologi dominan.” jelas Eriyanto. di mana sebuah ide menumbangkan atau membawahi ide lainnya—sebuah proses di mana satu kelompok dalam masyarakat menggunakan kepemimpinan untuk menguasai yang lainnya. pertarungan wacana itu melahirkan kegagahan bagi media sebagai pencetus berbagai kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan. dibangun berdasarkan teori kekuasaan yang dikembangkan Karl Marx (1818-1883). masyarakat. begitu adanya. Foss. di satu sisi media bisa menjadi sarana penyebaran ideologi penguasa. “Media secara tidak sengaja menjadi alat untuk menyebarkan nilai-nilai atau wacana dominan yang dianggap benar hingga meresap dalam benak khalayak dan dianggap kebenaran.Seperti juga teori-teori kritis pada era poststructuralism. proses itu terjadi melalui cara yang halus. Hal ini dapat menjadi proses cerdik dalam memaksakan untuk memilih minat dari sebuah kelompok bawah menjadi kelompok yang mendukung semua ideologi dominan. juga peran media sebagai channel yang menghubungkan wacana dominan itu kepada khalayak atau kelompok minoritas. Inti batasan yang dikemukan Littlejohn dan Foss adalah dominasi kelompok dominan (baca: minoritas) atas kelompok lain (baca: mayoritas atau khalayak) agar mengikuti ideologi kelompok dominan tersebut. Pendapat di atas makin memperjelas keberadaan wacana dominan sebagai kata kunci dari ideologi kelompok dominan berupa kebudayaan.” jelas Eriyanto. dan bernalar (common sense). yang dianggap benar. media merupakan arena pergulatan antarideologi yang saling berkompetisi (the battle ground for competing ideologies). Ini berarti. Gramsci memetakan pertarungan ideologi-ideologi yang bertemu dan saling berkompetisi. intinya. Batasan itu menguraikan keberadaan dua kelompok di tengah masyarakat. sekaligus juga bisa menjadi instrumen perjuangan bagi kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan. sekaligus intrumen perjuangan kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan. Bagi Gramci. alat legitimasi dan kontrol atas wacana publik. “Dalam produksi berita. Littlejohn dan Karen A. . sedangkan kelompok mayoritas atau khalayak menjadi pengikut atau sasaran penerimaan ideologi itu. Namun di sisi lain. “Hegemoni adalah proses dominasi. teori hegemoni yang digagas Gramsci. wacana lain diangap salah.” jelas Stephen W. sedangkan wacana lain dianggap salah. dan politik. dengan kelompok minoritas yang berperan “menyuntikkan” ideologinya. sekaligus memperlihatkan rupa penggagasnya.” Dua kutipan di atas menegaskan tujuan kekuatan hegemoni. hal ini terjadi ketika peristiwa atau teks diartikan dengan sebuah cara yang mengangkat ketertarikan dari satu kelompok terhadap yang lainnya. Pada akhirnya.

yakni berupa pendekatan fungsionalisme bahwa setiap masyarakat merupakan struktur yang terdiri dari unsur-unsur yang relatif kuat dan mantap. produksi teks televisi (meso) yang menghadirkan agenda setting dalam mengonstruksi wacana bermakna berupa teks televisi dengan pendekatan komodifikasi. dan mengutamakan unsur hiburan. Khalayak juga sangat berkepentingan untuk mengawal “aspek-aspek dan kepentingan” itu agar tetap mendapatkan informasi tentang lingkungannya —bahkan meski dalam keadaan bias. . Dengan rating dan share sebagai acuan dalam penyusunan agenda. Paparan ini berkaitan erat dengan teori konflik Ralf Dahrendorf. akan menjelaskan penanda-penanda yang ada di dalam pesan. Situasi ini menandakan media baru saja beranjak dari fase pengelolaan media yang secara ketat di bawah kekuasaan negara (state-based power).” kata Graeme Burton. dan sarana wacana (mode of discourse)—analisis wacana kritis yang dikembangkan Halliday dan Hassan. Bahwa pada akhirnya teks itu lebih berisikan selera rendah.html teori HEGEMONI Perry Anderson melakukan kritik pedas tentang teori hegemoni kultural dan intelektual Gramsci. Ketika teks televisi diuraikan secara rinci menurut medan wacana (field of discourse). Dalam bahasa lain. pelibat wacana (tenor of discourse). dari sana akan terjawab juga persoalan bentuk dan rupa artefak yang dihadirkan dan hegemoni di dalamnya. Hubungan sinergis itulah yang menjadikan pesan media dibingkai dalam suasana market-based powers atau kekuasaan pasar. “Watak kolusif genre—produser dan khalayak punya kepentingan yang saling menguntungkan dalam menjaga formula bersama-sama— menyeret perhatian kita pada fakta bahwa konservatisme ideologis dalam berita adalah sesuatu yang dipersekongkolan khalayak untuk dipelihara. program berita yang mestinya mengedepankan aspek idealisme ikut menuhankan rating dan share.[] gado-gado SANG JURNALIS http://gado-gadosangjurnalis. hingga memodifikasi berita-berita agar lebih entertaining. sama banyaknya dengan sesuatu yang sekadar ditimpakan kepada pemirsa. yang dimulai dari teks televisi (mikro). di bawah kendali pengusaha media. dengan mengatakan bahwa Gramsci terlalu mempermudah pemahaman tentang ruang kebebasan publik (pers) dan kekuatan politik koersif dari negara dan pemerintah terhadap pers. maka hal itu terkait positioning yang didesain media itu yang mencoba meraup segmen pemirsa sebanyak-banyaknya.com/2011/09/teori-hegemoni. Artinya. ringan. Kata kunci atas konsep ruang publik tersebut dalam teori hegemoni dari Gramsci di media massa saat ini adalah perampasan ruang publik atas nama kekuatan pasar atau regulasi yang berpihak kepada pemilik modal. Bahkan. hingga media televisi sebagai situs budaya popular (makro) yang berada di lingkungan ekonomi politik media. Media memiliki aspek-aspek dan kepentingan untuk menjalankan roda usahanya. Penulis akan mengurainya dengan analisis wacana kritis ala Norman Fairclough.Untuk menjawab permasalahan di atas.blogspot.

Hegemoni menekankan pada bentuk ekspresi. khususnya terkait pembongkaran teks dan produksi teks media menu menurut metodologi semiotika sosial atau analisis wacana kritis. . Karl Marx menyebutnya sebagai kesadaran palsu atau representasi palsu. Konsep hegemoni dipopulerkan ahli filsafat politik terkemuka Italia. Antonio Gramsci. Jika yang pertama menggunakan daya paksa untuk membuat orang banyak mengikuti dan mematuhi syarat-syarat suatu cara produksi atau nilai-nilai tertentu. serta berperan dalam menafsirkan pengalaman tentang kenyataan. Sebaliknya dengan dimensi material dari segi ekonomi dan relasi produksi. Teori ini dirintis dan dipopulerkan ahli filsafat politik terkemuka Italia. intinya. Batasan itu menguraikan keberadaan dua kelompok di tengah masyarakat. Foss.Apa gambaran luas tentang teori hegemoni Antonio Gramsci? Seperti juga teori-teori kritis pada era poststructuralism. “Hegemoni adalah proses dominasi. hal ini terjadi ketika peristiwa atau teks diartikan dengan sebuah cara yang mengangkat ketertarikan dari satu kelompok terhadap yang lainnya. sehingga upaya itu berhasil mempengaruhi dan membentuk alam pikiran mereka. Selain itu. tetapi juga kekuatan (force) dan hegemoni. Hal ini dapat menjadi proses cerdik dalam memaksakan untuk memilih minat dari sebuah kelompok bawah menjadi kelompok yang mendukung semua ideologi dominan.” jelas Stephen W. moral. teori hegemoni pun dibangun berdasarkan teori kekuasaan yang dikembangkan Karl Marx (1818-1883). sedangkan kelompok mayoritas atau khalayak menjadi pengikut atau sasaran penerimaan ideologi itu. Cara penguasaan atau dominasi itu digambarkan Eriyanto melalui pengaruh budaya yang disebarkan secara sadar hingga ditafsirkan sebagai kenyataan. yang menggunakan daya paksa untuk membuat orang banyak mengikutinya. di mana sebuah ide menumbangkan atau membawahi ide lainnya— sebuah proses di mana satu kelompok dalam masyarakat menggunakan kepemimpinan untuk menguasai yang lainnya. yang disebut-sebut sebagai penerus Marxisme atau Neo-Marxisme. yang berpendapat bahwa kekuatan dan dominasi kapitalis tidak hanya melalui dimensi material dari sarana ekonomi dan relasi produksi. cara penerapan. maka yang terakhir meliputi perluasan dan pelestarian “kepatuhan aktif” (secara suka rela) dari kelompok-kelompok yang didominasi oleh kelas penguasa lewat penggunaan kepemimpinan intelektual. dengan kelompok minoritas yang berperan “menyuntikkan” ideologinya. dan politik. memengaruhi dan membentuk alam pikiran khalayak atau kelompok yang dipengaruhi. Teori ini sangat berperan dalam pembacaan teks budaya popular secara kualitatif. Inti batasan yang dikemukan Littlejohn dan Foss adalah dominasi kelompok dominan (baca: minoritas) atas kelompok lain (baca: mayoritas atau khalayak) agar mengikuti ideologi kelompok dominan tersebut. Ideologi? Pemaparan Eriyanto soal hegemoni di bawah ini bisa memperjelas batasan yang telah disampaikan di atas. dan mengembangkan diri melalui kepatuhan para korbannya. mekanisme yang dijalankan untuk mempertahankan. uraian itu juga menjabarkan sekilas perbedaan dimensi ekonomi dan produksi (yang dikemukakan Karl Marx) dibandingkan hegemoni ala Gramsci. Antonio Gramsci. Hegemoni dapat terjadi dalam berbagai cara dan berbagai keadaan. Proses itu terjadi dan berlangsung melalui pengaruh budaya yang disebarkan secara sadar dan dapat meresap. dan politik. Tujuannya. moral. Bahwa hegemoni menekankan pada perluasan dan pelestarian “kepatuhan aktif” melalui kepemimpinan intelektual. Littlejohn dan Karen A.

yang dianggap benar. yang menampilkan kebudayaan.Hingga di sini. Lebih jauh lagi. Gramsci memetakan pertarungan ideologi-ideologi yang bertemu dan saling berkompetisi. Sebaliknya. serta harapan-harapan yang ingin dicapai. dan politik. yang menjadi medan perluasan dan pelestarian “kepatuhan aktif” bagi kelompok minoritas itu. 2) melalui pengaruh budaya yang disebarkan secara sadar hingga ditafsirkan sebagai kenyataan. proses itu terjadi melalui cara yang halus. . sekaligus intrumen perjuangan kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan. Di tingkat makro. “Media secara tidak sengaja menjadi alat untuk menyebarkan nilai-nilai atau wacana dominan yang dianggap benar hingga meresap dalam benak khalayak dan dianggap kebenaran. masyarakat. Pada akhirnya. Pendapat di atas makin memperjelas keberadaan wacana dominan sebagai kata kunci dari ideologi kelompok dominan berupa kebudayaan. logis. Alex Sobur melihat berbagai pihak di belakang media sebagai kelompok dominan yang berkepentingan menyebarkan wacana atau ideologi. Kesimpulannya.” jelas Eriyanto. Namun. Dua batasan itu masih berputar di wilayah hubungan kelompok berkuasa dan tidak berkuasa. media juga bisa menjadi alat resistensi terhadap kekuasaan. wacana lain diangap salah. hal itu belum menjelaskan tujuan spesifik dan alat atau sarana untuk mendapatkan kepatuhan aktif dan secara suka rela itu. Menurut Douglas Kellner. dan politik. masyarakat. pertarungan wacana itu melahirkan kegagahan bagi media sebagai pencetus berbagai kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan. dan politik sebagai medan-medan perebutan di antara berbagai kelompok dan blok kelas. Ini berarti. di satu sisi media bisa menjadi sarana penyebaran ideologi penguasa. serta semua orang menganggap itu sebagai suatu yang tidak perlu dipertanyakan. alat legitimasi dan kontrol atas wacana publik. masyarakat. begitu adanya. dan politik. masyarakat. sekaligus juga bisa menjadi instrumen perjuangan bagi kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan. dan politik.” Dua kutipan di atas menegaskan tujuan kekuatan hegemoni. media merupakan arena pergulatan antarideologi yang saling berkompetisi (the battle ground for competing ideologies). Bagi Gramci. sedangkan wacana lain dianggap salah.” jelas Eriyanto. yang menjadi medan perluasan dan pelestarian “kepatuhan aktif” bagi kelompok minoritas ideologi kelompok dominan berupa kebudayaan. Namun di sisi lain. sehingga apa yang terjadi dan diberitakan oleh media tampak sebagai suatu kebenaran. “Dalam produksi berita. juga peran media sebagai channel yang menghubungkan wacana dominan itu kepada khalayak atau kelompok minoritas. yakni menciptakan cara berpikir yang berasal dari wacana dominan. Antonio Gramci melihat media sebagai ruang di mana berbagai ideologi dipresentasikan. dan bernalar (common sense). poin-poin teori hegemoni meliputi: 1) dominasi kelompok dominan (minoritas) atas kelompok lain (mayoritas) agar mengikuti ideologi kelompok dominan tersebut. “Salah satu kekuatan hegemoni adalah bagaimana ia menciptakan cara berpikir atau wacana tertentu yang dominan. Media bisa menjadi alat untuk membangun kultur dan ideologi dominan bagi kepentingan kelas dominan. masyarakat. “… teori Antonio Gramsci mengenai hegemoni. sekaligus memperlihatkan rupa penggagasnya. 3) kebudayaan. juga media yang berperan dalam penyebaran wacana dominan itu. batasan-batasan itu belum menjelaskan rupa hegemoni.” Kini semakin jelas bahwa kebudayaan. hingga membangun kultur dan ideologi dominan.

4) peran media sebagai channel yang menghubungkan wacana dominan itu kepada khalayak atau kelompok minoritas. Euforia media cetak yang ditandai kemudahan mendapatkan SIUPP itu juga dihadang masalah baru soal makin berpesta-poranya juga media televisi dalam memainkan medan wacana. persis seperti disinggung salah satu poin di atas: berbagai pihak di belakang media sebagai kelompok dominan yang berkepentingan menyebarkan wacana atau ideologi. dan berdemokrasi. Penulis akan menguraikan sekilas kondisi media di Tanah Air. hingga membangun kultur dan ideologi dominan. pembacaan hegemoni dalam teks media bisa dimulai dengan menganalisis artefak-artefak yang diperlihatkan situs-situs budaya popular (baca: media). Sejak bergulirnya era reformasi tidak bisa dipungkiri lagi topik-topik politik menjadi primadona atau pilihan medan wacana media. awal orde reformasi merupakan perayaan hegemoni media paling akbar yang pernah terjadi di Tanah Air. 6) pertarungan wacana itu melahirkan kegagahan bagi media sebagai pencetus berbagai kebenaran yang tidak perlu dipertanyakan. apa pun jenisnya. khususnya terkait pembongkaran teks dan produksi teks media menu menurut metodologi semiotika sosial atau analisis wacana kritis. sesungguhnya media telah “menyiapkan” wacana yang “bermakna”. Dan “wacana bermakna” itu adalah pencapaian tiras serta rating dan share. Bahwa jauh sebelum teks budaya popular itu disuntikkan kepada khalayak. aroma modernitas dan hedonism yang dimunculkan media esek-esek atau bernuansa pornografi juga tak tertahan. sekaligus intrumen perjuangan kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan. Wacana-wacana yang didesain dengan makna khusus (baca: memburu jumlah tiras di media cetak atau rating dan share di media elektronik) seakan menjadi pembuktian kebenaran model komunikasi televisual ilmuwan dari Mazhab Birmingham Stuart Hall melalui publikasi dalam Encoding and Decoding the Televisual Discourse. . berpendapat. berkesempatan mengumbar kekuasaan-kekuasaan kelas minoritasnya yang diyakini bakal mengusai kelas mayoritas yang disinggung Jean Boudrillard sebagai mayoritas yang diam—massa yang tidak membutuhkan kekuasaan untuk mendominasi. Intinya. khalayak makin dihadapkan banyak pilihan terhadap hegemoni-hegemoni baru di era reformasi. pelibat wacana (tenor of discourse). dan sarana wacana (mode of discourse). Lebih dari 30 tahun dikerangkeng dalam penjara Pers Pancasila (baca: otoritarian ala Orde Baru) membuat media hiruk-pikuk merayakan alam bebas berpolitik. Singkatnya. sekaligus intrumen perjuangan kaum tertindas untuk membangun kultur dan ideologi tandingan. melalui pembacaan medan wacana (field of discourse). rupa hegemoni itu akan makin jelas dengan pengamatan langsung pada produksi teks budaya. Bagaimana teori hegemoni tersebut dapat menjelaskan kondisi media kita akhir-akhir ini yang mengusung kebebasan pers? Seperti telah disinggung di atas bahwa teori hegemoni sangat berperan dalam pembacaan teks budaya popular secara kualitatif. 5) berbagai pihak di belakang media sebagai kelompok dominan yang berkepentingan menyebarkan wacana atau ideologi. Seiring dengan itu. Media. Pemberlakukan Undang-undang Pers membuat media merasa memiliki alasan untuk menikmati kebabasan itu seakan berada di alam liberalism. Berdasarkan pendekatan analisis wacana kritis (terutama yang dikembangkan Halliday dan Hassan). Setelah itu. Artinya. hingga membangun kultur dan ideologi dominan.

mesti dikomodifikasi sebagai komoditas yang benar-benar disukai khalayak (content comodification). Belakangan hegemoni itu. Sehingga program televisi. Atau. Dalam tempo delapan bulan. produk. dengan “framing” standar: fashion. Bahkan. menguasai territorial. etika pergaulan. Hudson. analisis wacana kritis. Di bawah gemerlap lampu berkekuatan ribuan Watt. iringan grup musik yang luar biasa. tapi juga dipancing untuk mengirimkan short message service (SMS) dengan ongkos yang tak murah. akan membongkar rupa-rupa hegemoni di balik teks-teks media yang diproduksi media di Tanah Air. program Bukan Empat Mata di Trans7 yang menempatkan pelawak jebolan Srimulat Tukul Arwana sebagai host dari kalangan modern: dengan wardrobe yang berganti-ganti dan bermerk. Brandon. etika pergaulan. keakraban dengan teknologi komputer. Tiba-tiba. nama-nama Klantink. Misalnya saja. ber”metamorfosis” tanpa bisa diduga dan dibendung. gaya bertutur. jurijuri yang merupakan ikon-ikon budaya populer dengan pencitraan modernnya. Khalayak tidak pernah mempertanyakan latar belakang atau kondisi nyata mereka. Sedangkan media cetak masih terus berjuang dengan framing politik atau berupaya juga bermain di wilayah ekonomi. Program berita menjadi tidak percaya diri dan ikut berlomba bak program infotainment demi memburu rating dan share. Bahkan. akan tetapi kekuasaan untuk mengekspresikan diferensi (perbedaan seks. dan gempita perhatian orang lain. meski sesekali stasiun itu memutar video tape (VT) kondisi nyata mereka. tata rias dan model rambut peserta yang mengubahnya menjadi “orang lain”. akan mencitrakan kaum modernitas. teman-teman se”kaum”. kesenangan. dan tepuk-tangan penonton yang diminta mengamini pencitraan modernnya. analisis semiotika. nikmati juga perayaan penciptaan efek mitologisasi itu dalam panggung megah Indonesia Mencari Bakat (IMB) di layar TransTV. Dan kalau melirik program hiburan. busana dan kostum para peserta yang tidak main-main. . gaya bertutur yang mencoba cerdas dengan sesekali menyelipkan kosa kata bahasa Inggris. tamu-tamu dialog dari kalangan selebritas yang juga tak kalah modis dan glamor. panggung megah itu menyulapnya menjadi “selebritas” atau mitos-mitos baru panggung hiburan. makin disemarakkan perayaan hedonisme dan upaya memuaskan mayoritas yang diam tadi. gaya. kedekatan dengan teknologi. Menurut Penulis. dan gempita perhatian orang lain. properti yang disulap mengikuti tema-tema tertentu. khalayak pun dijadikan komoditas yang bukan sebatas dipaksa menimati pencitraan produk-produk yang diiklankan dalam dalam commercial break. kedekatan dengan teknologi. gaya bertutur. Kedua program itu juga menjadi pembuktian keberhasilan penerapan komodifikasi yang oleh Vincent Mosco dilukiskan sebagai cara kapitalisme melancarkan tujuannya dengan mentransformasi nilai guna menjadi nilai tukar. tanpa menimbang latar belakang atau “tampilan” sejatinya. dan sebagainya). Putri Ayu. Analisis framing. dalam bingkai ekonomi politik media. teman-teman se”kaum”. Rumingkang. Teks budaya yang dihidangkan media merupakan artefak-artefak yang jauh pemenuhan nilai estetis. juga riuh penonton sebagai penyaksi langsung penobatan ikon-ikon budaya popular baru itu. etika pergaulan seperti kalangan modern lengkap dengan “cipikacipiki”nya. terutama media televisi. meski hal itu sesungguhnya bukan kebutuhan khalayak. atau pendekatan cultural studies. maka teks budaya itu makin memperlihatkan keberadaan hegemoni yang berkiblat pada ekonomi politik media. itulah gambaran kekuasaan hegemoni di dunia pertelevisian saat ini. dan sejumlah nama atau kelompok lain. Pemunculan kasus video porno mirip artis di seluruh program berita di televisi menjadi pembuktian matinya nilai estetis dan objektivitas yang selama beratus-ratus menjadi nilai sakral para jurnalis.memperjuangan ideologi leluhur. Simbol-simbol itu sudah cukup menjelaskan premis program bahwa fashion.

seperti diuraikan Stephen Littlejohn dan Karen A. memercayai bahwa keuntungan berasal dari produksi… … Ekonomi berasal dari politik. Selain itu. yakni kelas penguasa yang menguasai kelas yang dikuasai dalam mereproduksi model produksi yang dominan. BABAK LANJUTAN KONGLOMERASI MEDIA? Tiga perusahaan yang mengelola stasiun televisi. kekuasaan itu disebut juga sebagai ideologi: Karl Marx (1818-1883) dan dan Fredrich Engels ((18201895) melihat ideologi sebagai fabrikasi atau pemalsuan yang digunakan oleh sekelompok orang tertentu untuk membenarkan diri mereka sendiri. Kekuasaan. yaitu PT Elang Mahkota . Marx paling prihatin dengan akibat kapitalisme sebagai sebuah sistem ekonomi. Karl Marx melihat konsep kekuasaan dalam kerangka hubungan yang mutlak antara kelas-kelas yang mendominasi dan yang didominasi dalam masyarakat— antara yang menekan (oppressor) dan yang tertekan (oppressed). Batasan di atas memilah hubungan dua kelas di tengah masyarakat.com/2011/09/akuisisi-emtk-terhadap-indosiar-babak. yang oleh Marxisme klasik sering disebut kritik ekonomi politik (the critique of political economy). 2) ideologi yang melegitimasi kelas penguasa di tengah masyarakat. 3) hubungan itu dibingkai dalam konteks sistem ekonomi dan dibaca sebagai kapitalisme. Karena itu. Dalam batasan-batasan lain. hubungan itu dibingkai dalam konteks sistem ekonomi dan dibaca sebagai kapitalisme.Sebutkan kesamaan dan perbedaan antara teori hegemoni Gramsci dan teori kekuasaan Karl Marx? Teori hegemoni Gransci telah diuraikan secara panjang lebar di poin a. Berikut ini penjelasan teori kekuasaan Karl Marx. gagasan ini adalah ide bahwa ekonomi adalah dasar dari semua struktur sosial.html akuisisi EMTK terhadap indosiar. Disebut hubungan superstruktur dasar (basesuperstructure). 4) politik berada di balik kekuasaan ekonomi itu. politik berada di balik kekuasaan ekonomi itu. Dengan demikian teori kekuasaan Karl Marx memuat poin-poin: 1) kelas penguasa yang menguasai kelas yang dikuasai dalam mereproduksi model produksi yang dominan. Foss di bawah ini: Marx meyakini bahwa masyarakat adalah sarana produksi yang menentukan struktur dari masyarakat itu. gado-gado SANG JURNALIS http://gado-gadosangjurnalis. Dalam teks lain. konsep ideologi tersebut jelas sangat subjektif dan keberadaannya hanya untuk melegitimasi kelas penguasa di tengah masyarakat.blogspot. Menurut Yasraf Amir Piliang. Teori kekuasaan ala Karl Marx itu identik dengan ideologi yang melegitimasi kelas penguasa di tengah masyarakat. menurut versi Marxisme adalah kekuasaan yang dibutuhkan oleh kelas sosial (kelas penguasa) untuk mereproduksi model produksinya yang dominan— kekuasaan untuk mengeksploitir kelas yang dikuasai. antara yang menyisihkan (alienating) dan yang tersisihkan (alienated). PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM) berniat melakukan penggabungan usaha atau merger dengan dua perusahaan sejenis.

Elang Mahkota mencatat pendapatan terbesar yaitu Rp 2. Menurut Kepala Divisi Perdagangan Saham BEI Andre PJ Toelle. aset Indosiar adalah yang terkecil. otoritas bursa akan memanggil ketiga emiten terkait rencana merger tersebut. Sementara itu.87 triliun.31 persen) menjadi Rp 1. dan Elang Mahkota Rp 4.190.010 dari harga pembukaan Rp 950. Indosiar juga paling kecil." katanya. Namun. Kewajiban terbesar dibukukan Elang Mahkota senilai Rp 1. Koalisi Independen untuk Demokratisasi Penyiaran (KIDP).340 dari posisi pembukaan Rp 1. 99 persen saham Global TV dan 75 persen saham MNC. dan Indosiar. yakni Rp 1. serta Trans Corporation yang memiliki TransTV dan Trans7. dan Indosiar Rp 2. yaitu Rp 333. Surya Citra merupakan yang terbesar dengan pencapaian Rp 7. total aset ketiga perusahaan bila digabungkan akan mencapai Rp 7. . SCMA.03 triliun dan Indosiar Rp 680. Lembaga swadaya masyarakat (LSM) lain. Pasalnya. Dari total nilai aset itu. sedangkan Surya Citra Rp 1.57 persen) ke level Rp 3. Surya Citra mencatatkan laba terbesar. 22 Februari 2011. Sementara itu. meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). Saham Indosiar menguat Rp 60 (6. EMTK merupakan induk usaha dari Surya Citra Media—pengelola stasiun televisi Surya Citra Televisi (SCTV)—sekaligus pemilik stasiun televisi lokal O Channel. Komite Advokasi untuk Independen Penyiaran (KAIP) mempertanyakan rencana merger dua stasiun televisi nasional antara SCTV dan Indosiar dan kepemilikan Media Nusantara Citra (MNC) yang mengendalikan 99 persen saham RCTI.84 miliar. Berdasarkan data laporan keuangan tiga emiten itu per September 2010. akuisisi itu melanggar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. "Kami juga melihat adanya pergerakan harga yang tidak wajar. Indosiar juga membukukan laba bersih terkecil atau sebesar Rp 26. yakni hanya mencapai Rp 606.41 triliun. Elang Mahkota Rp 6. suspensi atas ketiga saham tersebut terkait rencana penggabungan usaha (merger) ketiga perusahaan.Teknologi Tbk (EMTK) dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA).008 triliun.2 triliun.3 triliun.54 miliar dan Elang Mahkota Rp 276. dan EMTK.41 miliar.71 miliar.48 triliun dan Surya Citra Rp 1.12 triliun.64 triliun. total kewajiban akan membengkak menjadi Rp 3. sedangkan Indosiar Karya Media mengelola stasiun televisi Indosiar. KAIP menilai. kepemilikan lembaga penyiaran swasta seperti televisi dikhawatirkan memunculkan pemusatan usaha. Manajemen EMTK menyiapkan dua opsi terkait aksi korporasi yang melibatkan SCMA dengan IDKM. Saham Elang Mahkota juga naik Rp 160 atau 13. Selain itu penyebaran informasi yang akan dilakukan dua stasiun televisi yang dipegang satu orang saja ditakutkan terjadi semena-mena. Sementara itu. disusul Surya Citra Rp 2. Selasa. "Pengembangan usaha itu dapat berbentuk akuisisi atau merger yang melibatkan Surya Citra dan Indosiar. Berita seputar penggabungan usaha itu ditanggapi pihak Bursa Efek Indonesia (BEI). SCMA. Untuk total nilai kapitalisasi pasar." kata Direktur Utama Elang Mahkota Teknologi Susanto Suwarto dalam penjelasan tertulis perseroan yang dipublikasikan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Untuk pendapatan bersih.04 triliun.44 triliun. dengan menghentikan sementara perdagangan saham atau suspensi atas saham IDKM.800 dari posisi pembukaan. dan Bapepam. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Ito Warsito mengatakan.42 triliun. 22 Februari 2011. KPI. Demikian juga dengan Viva Media yang memegang kendali ANTV dan TVOne.55 persen menjadi Rp 1.73 miliar. saham Surya Citra dengan kode perdagangan SCMA terangkat Rp 300 (8. diminta tidak memberikan izin bagi EMTK untuk mengambil alih IDKM atau penggabungan Emtek. Suspensi atas tiga saham itu dilakukan mulai sesi pertama perdagangan pada Selasa.

Sedangkan akuisisi adalah pembelian suatu perusahaan oleh perusahaan lain atau oleh kelompok investor. SCMA. penggabungan itu termasuk dalam akusisi. Kementerian Kominfo." tambahnya. tidak boleh diatur pengambil alihan atau tidak boleh ada pemusatan kepemilikan di dalam komposisi saham. memungkinkan terjadi pelanggaran peraturan perundang-undangan bidang penyiaran yaitu Pasal 32 ayat 1 tahun 2002 huruf a Peraturan Pemerintah No. KPI menilai rencana pengambilalihan saham IDKM oleh EMTK berpotensi menciptakan monopoli dan pelanggaran Undang-Undang Penyiaran. ”Adanya modal asing lebih dari 20 persen yang tidak dengan peraturan perundang-undangan. Salah satu LSM yang mengkritisi masalah itu juga tak kalah “bingungnya”. Pasal 34 menyatakan. dan Bapepam. Bahkan. Kecuali KIDP yang menyebutnya sebagai akuisisi. Sesuai PP. Kewenangan Bapepam-LK ialah memberikan penilaian terhadap posisi bisnis dan investasi. dan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) ini yang bisa membaca arah bisnis penyiaran itu sendiri. Padahal esensi dari “penggabungan” itu sesungguhnya EMTK membeli saham IDKM. "Peraturan ini mengatur tentang pembatasan pemusatan kepemilikan dan penugasan LPS (Lembaga Penjamin Sosial) oleh satu orang atau satu badan hukum. pertama. dengan menyebutnya sebagai merger. Kedua.” Merger atau Akuisisi? Sejak berita “penggabungan” dihantarkan ke khalayak. "Potensi pelanggaran itu kalau penjual beli saham atau aksi korporasi mencapai di atas 50 persen. akusisi itu berpotensi . berarti memonopoli. juga Indosiar. Belakangan KPI juga bereaksi lantang dengan menyebut masalah itu sebagai akuisisi. menurut KPI. KPI meminta Menteri Kominfo merespons dan melaksanakan kewenangannya berdasarkan UU dan PP tersebut. hingga EMTK memiliki tiga stasiun televisi SCTV dan O Channel." kata Koordinator Koalisi Independen untuk Demokratisasi Penyiaran Eko Item Maryadi. KPI. Komposisinya dapat dilihat pada laporan konsolidasi PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. "Kewenangan Kementerian Kominfo ialah memberikan persetujuan terhadap rencana tersebut. Direktur Utama EMTK Susanto Suwarto dalam penjelasan tertulis perseroan yang dipublikasikan PT BEI di Jakarta pada 22 Februari 2011 menyumirkan masalah itu sebagai merger atau akuisisi. Apabila terjadi aksi akuisisi. dia harus mengambil alih kepemilikan. pelarangan pemindahtanganan izin penyelenggaraan penyiaran. 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta (PP-LPS) dan Pasal 34 ayat 4 UU Penyiaran. ada dua istilah yang mengemuka: merger dan akuisisi."Merger itu tidak sesuai dengan peraturan undang-undang. Aksi korporasi itu." ujar Riyanto." ujar Komisioner KPI Pusat Mochamad Riyanto. Kesimpulannya. agar tidak memberikan izin bagi EMTK untuk mengambil alih IDKM atau penggabungan EMTK. Potensi pelanggaran yang dimaksud. akuisisi itu melanggar Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. sekaligus meminta Kemenkominfo. ialah aksi pembelian saham tersebut berarti termasuk dalam memonopoli. Merger adalah proses difusi dua perseroan dengan salah satu di antaranya tetap berdiri dengan nama perseroannya sementara yang lain lenyap dengan segala nama dan kekayaannya dimasukan dalam perseroan yang tetap berdiri tersebut. Bapepam-LK. Pasalnya." katanya. dan IDKM. Artinya. Riyanto melanjutkan. pihak Bursa Efek Indonesia menyebutnya sebagai merger.

Keberadaan lembaga itu yang dipayungi semangat UU Penyiaran tidak otomatis menjadi perkasa untuk memperlihatkan tajinya. tiga pemain kuat di ranah penyiaran—Hary Tanoesoedibdjo dengan bendera Bhakti Investama-nya. akses gelombang udara yang sangat tebatas. karena pemerintah dan DPR telah membangun “konspirasi” untuk menumpulkan taji itu. juga khalayak yang kritis. betapa KPI bukanlah lembaga kuat dan tangguh untuk memperlihatkan giginya. yang sesungguhnya menjadi impian saat reformasi digulirkan. Dan jauh ke depan. EMTK bukanlah perusahaan pertama yang melakukan pelanggaran dan membuktikan ketidakberdayaan KPI sebagai komisi pengawas dunia penyiaran di Tanah Air. juga Indosiar. ketidakberdayaan KPI adalah ancaman yang bukan main-main terkait hubungan khalayak dan ketersediaan informasi. Meski keputusan akuisisi berada di tangan Kemenkominfo. Rekomendasi KPI yang meminta Kemenkominfo merespons dan melaksanakan kewenangannya berdasarkan UU dan PP tersebut menjadi pembuktiaan nyata. dan sempitnya perspektif politik yang ditampilkan. sesungguhnya didahului dengan “keterkejutannya” atas keperkasaan Media Nusantara Citra (MNC) yang mengendalikan 99 persen saham RCTI. serta Trans Corporation yang memiliki TransTV dan Trans7. juga ikut dipertanyakan. Dengan kata lain. Kellner dalam Television and the Crisis of Democracy (1990) mengingatkan kita soal keterpautan sistem pemerintah. yang sedang mencerabut khalayak televisi dari komunikasi demokratis yang sesungguhnya. Ini disebabkan kurangnya tanggung jawab korporat. namun kali ini KPI telah berbuat sesuatu untuk melindungi khalayak dari ancaman homogenitas program. sebelum SCTV-O Channel-Indosiar bersatu. komisi komunikasi dan jaringan televisi. serta kelangsungan komunikasi demokratis. Satu sisi positif yang layak dipuji adalah itikad KPI dengan rekomendasi yang memberikan kesan sebagai upaya meminimalisir kesalahan terdahulu—dengan perayaan para pemodal besar menjalankan praktik konglomerasi media. Ketiga. peran pemerintah. Aburizal Bakrie dengan Bakrie Group-nya. dan keberlimpahan informasi yang sesungguhnya tak lebih merupakan ekstasi komunikasi (meminjam istilah yang dikemukakan filsuf Prancis Jean Baudrillard). KPI meminta Kemenkominfo merespons dan melaksanakan kewenangannya berdasarkan UU dan PP tersebut. Jadi. Dan berdasarkan ketiga kesimpulan memunculkan pertanyaan menggoda. apakah realitas itu menjadi pembuktian adanya babak lanjutan atas korporasi di dunia penyiaran kita? Post-Akuisisi Media Bahwa kritik Komite Advokasi untuk Independen Penyiaran (KAIP) yang mempertanyakan rencana akusisi EMTK bakal menguasai SCTV dan O Channel. 99 persen saham Global TV dan 75 persen saham MNC. Bersamaan dengan KPI. komodifikasi program. 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta (PP-LPS) dan Pasal 34 ayat 4 UU Penyiaran. 50 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Swasta (PP-LPS) dan Pasal 34 ayat 4 UU Penyiaran. ketika babak-babak korporasi media merayakan keberhasilannya menguasai ranah .menjadi monopoli sekaligus melanggar Pasal 32 ayat 1 tahun 2002 huruf a Peraturan Pemerintah No. Di balik pengerdilan KPI. hedonitas program. DPR. LSM itu juga menyitir kepemilikan Viva Media atas ANTV dan TVOne. Keberadaan sejumlah peraturan pemerintah (PP) yang menelikung UU Penyiaran menjadi alasan paling jitu untuk menunjuk kegagalan KPI sebagai penjaga ranah publik. dan Chairul Tanjung dengan Para Group-nya—telah bermain dan suka cita merayakan pelanggarannya terhadap Pasal 32 ayat 1 tahun 2002 huruf a Peraturan Pemerintah No. Artinya.

siapa yang harus bertanggung jawab pada era post-akuisisi media itu?[] Sekadar Baudrillard. kali ini Negara bukan sebagai aktor.publik. atau bahkan elit media itu sendiri. Pers diarahkan sebagai mesin pencetak uang. sumber-sumber media. pemasok iklan. Ketiadaan kompetitor membuat media yang memonopoli akan berbuat sesuka hati sehingga sering kali merugikan publik (2010). Menurutnya. Sebagai entitas bisnis. Edward S. Bias yang tersembunyi dan disengaja (hidden and intended bias) akhirnya sulit dihindarkan karena media juga membawa “agenda tersembunyi” kelompok-kelompok kepentingan tertentu yang beroperasi di balik media. . Jean. Yogyakarta: Kreasi Referensi Wacana. Ekstasi Komunikasi. Dalam logika budaya seperti ini jelas sulit kita menempatkan kepentingan publik di atas atau setara dengan kepentingan modal dan kuasa (Ibrahim. Actor or Scapegoats (1992). para ilmuwan kritis telah mengingatkan akan “bahaya” yang mengintai di setiap sudut kamar khalayak melalui kotak tanpa jiwa bernama televisi itu. “Filter” media itulah yang akhirnya menyelubungi bias media. fenomena komersialisasi membuat kehidupan pers telah menjadikan pers sebagai industri atau “pers industri” yang dikendalikan para “pedagang”. Logika komersialisme pers dan komodifikasi berita telah menjadi primadona dalam cara berpikir pengelola pers dan jurnalistik. tapi kelompok minoritas dengan modal besar sebagai pengendali hegemoni. Dalam hal ini adalah “hidden agenda” dari para elite politik. Bandung: Jalasutra. Idi Subandi: 2011). khalayak bakal dihantam keterbatasan informasi layaknya media di Negara yang menganut sistem politik otoritarian atau komunis. Kalau “politisi” biasanya mengendalikan pers dengan merekayasa hukum dan intimidasi. Pada akhirnya. Maka. Robert W. “pedagang” mengendalikan pers dengan memanfaatkan kepemilikan modal atau saham untuk mengontrol isi media atau mengancam wartawan yang “nakal”. McChesney dalam Rich Media. ketika media memonopoli pasar. 2006. dimulai dari ukuran media dan orientasi profit serta kepemilikan media. Perbedaan dibandingkan kedua situasi itu. media cenderung akan makin menekankan pada bisnis semata. Burton. Dalam kondisi itu. budaya media pun berpusat akan pada media itu sendiri. Graeme. Poor Democracy: Communication Politics in Dubious Times (1990) berargumen bahwa konsentrasi kekuasaan di tengah oligopoli korporat yang terintegrasi secara vertikal telah mengancam arus bebas informasi dan opini yang berbeda yang justru amat vital bagi daya hidup masyarakat demokratis. menurut Usman Ks. Bahkan. dan kelompok penekan serta ideologi “anti-komunisme” dan “fundamentalisme Islam”. seperti dikemukan Bernard Dagenais dalam eseinya Media in Crises: Observers. 2007. suatu masyarakat dalam krisis juga menciptakan krisis media. Klimaks dari kekalutan itu. dan berlanjut hingga campur tangan para pengiklan. Membincangkan Televisi: Sebuah Pengantar Kepada Studi Televisi. Lebih jauh. Ketiadaan kompetitor membuat media tidak berkembang dengan baik. seperangkat “filter” telah mengontrol isi informasi media. Herman dan Noam Chomsky dalam Manufacturing Concent: The Political Economy of the Mass Media (1988) memamaparkan. elit bisnis. Pertanyaan paling absurd: sudikah babak-babak korporasi media itu dihadirkan para pemodal di ranah publik ini? Lantas. dia tidak punya kompetitor. Idi Subandi Ibrahim (2011) juga mengingatkan soal ancaman kelangsungan idealisme yang digawangi para jurnalis di stasiun televisi. dan pemburu rating.

Yogyakarta: Jalasutra. Hamad. Ekonomi Media. Jakarta: Gramata Publishing. 2011. 2010. 2009. Media dan Gaya Hidup dalam Proses Demokratisasi di Indonesia. Politik Rabu. Jakarta: Gramata Publishing. Kompas. Hipersemiotika:Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna. Analisis Framing: Konstruksi. VIVAnews. Post-Realitas: Realitas Kebudayaan dalam Era Post-Metafisika. Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. Douglas. Haryatmoko. Piliang. Yasraf Amir. 2010.com. Yogyakarta: LKiS. 2010. Wikipedia. 2004. Idi Subandi. 2008. dan Politik: Antara Modern dan Postmodern. Senin. Dominasi Penuh Muslihat: Akar Kekerasan dan Diskriminasi. Komunikasi sebagai Wacana. Agus. Syaiful. Media Discourse. Henry Faizal. Yogyakarta: Jalasutra. Jakarta: La Tofi Enterprise. gado-gado SANG JURNALIS . 2011.com. Norman. Maret Maret Februari Yogyakarta: Yogyakarta: LKiS. Sudibyo. Ekonomi Media: Pengantar Konsep dan Aplikasi. 2007. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia. Kellner. Yogyakarta: Edward LKiS. 2010. 2010. London: Arnold. __________. Tayangan Video Mirip Artis: Pertaruhan Objektivitas dan Kearifan Media. 2011. Wacana. Kritik Budaya Komunikasi. 2011. Tribunnews. Noor. Gado-gado Sang Jurnalis: Rundown Wartawan Ecek-ecek. Selasa. Yogyakarta: Jalasutra. 2009. Ks. Ibrahim.Eriyanto. Budaya. Yogyakarta: Jalasutra. dan Politik Media. Budaya Media: Cultural Studies. __________. 2010. 1995. Ibnu. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 2009. __________. Usman. ___________. Ekonomi Media Politik dan Media Pertarungan 23 28 22 Penyiaran. Identitas.com. Fairclough. Ideologi. LKiS. 2010. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Halim.

shoutmix.com/?syaifulhalim">View shoutbox</a> .Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda <a href="http://www4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful