PROPOSAL PENELITIAN

PERANAN BANK SYARI’AH MANDIRI CAB. PRAYA TERHADAP PENINGKATAN PENDAPATAN USAHA KECIL MENENGAH DI DESA RENTENG KEC. PRAYA BARAT. A. Konteks Penelitian Sebelumnya dapat digambarkan bagaimana kondisi perekonomian masyarakat pedagang yang ada di desa Renteng kec. Praya barat. Kondisi sosial dan perekonomian rata-rata penduduknya adalah pedagang. Dan Dari hasil perdagangan tersebut mereka dapat mencukupi kebutuhan

keluarganya. Di mana kondisi perekonomiaanya bisa dilihat dan tampak pada kemacetan yang di alami oleh para pedagang selama menjalankan usahanya yang selama ini telah digeluti oleh masyarakat pedagang setempat, kemudian di karenakan oleh sempitnya lapangan pekerjaan. Keterpurukan ekonomi yang lebih luas juga bisa dilihat pada masalah kekurangan modal bagi para pedagang yang ingin mengembangkan usahanya yang kemudian menyebabkan timbulnya kesenjangan sosial ekonomi secara jelas terlihat yang terjadi di masyarakat terutama pada masyarakat di desa Renteng Kec. Praya Barat. Masyarakat Desa Renteng yang awalnya bergantung pada Rentenir, sekarang sudah ada kemudahan dan kelonggaran yang di tawarkan oleh “Bank Syari’ah” mulai dari proses peminjaman modal sampai ke penyimpanan modal yang di tawarkan, dan masyarakat seolah

1

bisa bernapas lega karena sekarang sudah ada tempat untuk menabung dan meminjam uang atau modal. “Bank syariah” diibaratkan sebagai mata air penyejuk bagi masyarakat Desa Renteng yang setiap kali dibutuhkan untuk memberikan kesejukan dan menghapus dahaga masyarakat tersebut akan kegersangan dan kebosanan masyarakat terhadap Rentenir yang setiap saat bisa mencekik leher mereka, terutama mereka yang berekonomi lemah. Kini dengan adanya Bank Syari’ah bisa memberikan kesegaran bagi masyarakat, terutama untuk masyarakat yang kurang mampu. Dengan adanya Bank syari’ah masyarakat pedagang kecil menengah di desa Renteng akan mendapatkan kemudahan dengan adanya bantuan modal usaha untuk mempertahankan kehidupan usahanya. Hal ini dibuktikan karena pihak Bank maupun nasabah sama sama merasa saling menguntungkan tanpa melalui prosedur yang berbelit-belit dan

menawarkan kualitas pinjaman yang sesuai keinginannya.1 Upaya Bank Syari’ah memiliki peranan penting dalam membatu mengembangkan ekonomi para pedagang karena Bank pada umumnya mampu memberikan berbagai kelebihan kepada para Nasabah atau masyarakat yang memanfaatkan keberadaannya. Bank sebagai suatu gerakan pemerintah telah membuktikan diri sebagai badan usaha yang bergerak dalam melawan ketidak adilan para Rentenir. Terutama untuk Bank Syariah yang menawarkan kemudahan Bahkan cukup banyak contoh real sebagai bukti keberhasilan Bank dalam

1

Observasi, Munawar, (pada tanggal 10 september 2011)

2

membangun posisi taraf masyarakat yang lebih baik. dalam tingkatan bisnis mikro menengah kebawah hingga tingkatan yang paling atas. Demikian pula halnya Bank Syari’ah yang ada di Praya. Bank ini menyediakan modal untuk para pedagang pada khususnya dan masyarakat lain pada umumnya. Bank Syari’ah berusaha mencukupi seluruh kebutuhan masyarakat atau nasabahnya. Di samping Bank Syariah Cab. Praya ini juga letaknya sangat strategis, di mana di kota Praya ini hanya ada satu Bank Sayari’ah saja, jadi masyarakat pedagang tidak akan jauhjauh tempat untuk meminjamkan modal usahanya dan masyarakat sekitar cukup jeli juga dalam memanfaatkan keberadaan Bank Syari’ah tersebut. 2 Dari hasil wawancara dengan beberapa karyawan Bank yang

dijadikan sebagai unsur penelitian didapat bahwa rata-rata para Rentenir yang berkembang memakai sistem bunga dan penagihan dilakukan setiap hari dan perbulan sesuai dengan kesepakatan antara pihak pengelola dengan nasabah. Oleh karena itu ada salah satu pihak yang akan di rugikan terutama pada pihak masyarakat pedagang yang menjadi nasabah. Namun sejauh ini belum diketahui sejauh mana Peranan Bank Syari’ah dalam memajukan masyarakat di desa Renteng. Oleh karena itu peneliti tertarik mengangkat persoalan ini yang berjudul “Peranan Bank Syariah Mandiri Cab. Praya terhadap Peningkatan pendapatan Usaha Kecil Menengah di Desa Renteng kec. Praya Barat”.

2

Observasi, Samsudin (pada tanggal 12 Oktober 2011)

3

B.

Fokus Kajian Dari uraian di atas maka penulis merumuskan beberapa masalah sebagai berikut : a. Bagaimana peranan Bank Syari’ah Mandiri Cab. Praya dalam meningkatkan ekonomi masyarakat pedagang di Desa Renteng Kec. Praya Barat. b. Usaha apa saja yang diberikan modal oleh Bank Syariah Mandiri Cab. Praya terhadap peningkatan pendapatan usaha kecil menengah di Desa Renteng kec. Praya Barat.

C.

Tujuan Dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah : a. Untuk mengetahui bagaimana peranan Bank Syariah Cab. Praya dalam meningkatkan pendapatan ekonomi Usaha Kecil Menengah pada masyarakat pedagang di Desa Renteng, Kec. Praya Barat, Kab. Lombok Tengah. b. Untuk mengetahui usaha apa saja yang diberikan modal oleh Bank Syari’ah Mandiri Cab. Praya terhadap peningkatan pendapatan usaha kecil menengah di Desa Renteng, Kec. Praya Barat.

4

2. Kegunaan Penelitian a. Kegunaan Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan nilai yang positif dan berharga untuk peningkatan dan pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya mengenai ilmu Perbankan. b. Kegunaan Praktis Diharapkan dapat menjadi masukan bagi para pedagang khususnya pada masyarakat Desa Renteng, tentang bagaimana peranan Bank Syari’ah Mandiri Cab. Praya dalam usaha peningkatan pendapatan usaha kecil menengah. Hasil penelitian ini sangat dirasakan oleh peneliti sebagai motivasi untuk memperluas taraf berpikir dalam meraih segala sesuatu yang amat berharga dalam bidang keilmuan. D. Ruang Lingkup Penelitian Peneliti dapat menggambarkan bahwa situasi perekonomian masyarakat khususnya usaha kecil menengah sebelum munculnya Bank Syari’ah masih sangat rendah. Beruntung Bank Syari’ah mandiri Cab. Praya dapat memberikan modal usaha kepada masyarakat pedagang yang cukup menjanjikan. Setelah adanya Bank, terutama Bank Syari’ah mandiri Cab. Praya telah banyak berperan dan membantu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat pedagang di Desa Renteng Kec. Praya Barat, Kab. Lombok Tengah.

5

1. Setting Penelitian Penelitian ini saya lakukan dan mengambil lokasi di Desa Renteng Kec. Praya Barat Kab. Lombok Tengah. Dimana tempat dan lokasinya sangat strategis mudah di jangkau oleh peneliti sendiri dan di Bank Syari’ah ini saya berkesempatan dan di izinkan untuk

melakukan penelitian disana, dan kebetulan juga belum pernah ada yang meneliti mengenai peranan Bank Syari’ah Mandiri Cab Praya dalam usaha peningkatan pendapatan usaha kecil menengah di Desa Renteng Kec. Praya Barat. E. Telaah Pustaka Telaah pustaka adalah penelusuran terhadap studi atau karya-karya terdahulu yang terkait untuk menghindar duplikasi, pligiasi, repetesi, serta menjamin keabsahan dan keahlian serta keaslian penelitian yang dilakukan. Dalam telaah pustaka ini peneliti menemukan hasil skripsi yang secara garis besar tentang Perbankan, beberapa hasil penelitian yang itu antara lain : a. Hannah, peranan perbankan syari’ah dalam memobilisasi masyarakat menuju kehidupan non-ribawi (studi pada bank muamalat Indonesia cabang mataram).3 Penelitian diatas Membahas tentang
Hannah, peranan perbankan syari’ah dalam memobilisasi masyarakat menuju kehidupan non-ribawi (studi pada bank muamalat Indonesia cabang mataram).3
3

(skripsi: IAIN Mataram, 2007),

6

- peranan perbankan syari’ah dalam memobilisasi masyarakat menuju kehidupan non-ribawi b. Ani Mei Susilawati, peranan pemberian kredit KSP pewaris abadi terhadap pengembangan usaha kecil menengah (UKM) nasabah desa tanak beak narmada (tinjauan ekonomi islam) 2008 -penelitian ini membahas tentang peranan dari pemberian kredit KSP pewaris abadi terhadap pengembangan usaha kecil menengah (UKM) nasabah didesa tanak beak. c. Masitah, peran Bank Syari’ah mandiri cabang Mataram terhadap pengembangan ekonomi masyarakat kota mataram. IAIN 2011 Dalam skripsi ini membahas tentang  Bank syariah dapat menjadi fasilitator bagi terbentuknya ekonomi kemasyarakatan  upaya yang dilakukan BSM ter hadap pengembangan ekonomi masyarakat di kota mataram dengan cara menawarkan produkproduk kepada calon nasabah untuk membantu dalam hal pembiayaan. Dalam skripsi di atas yang menjadi objeknya adalah para karyawan dari Nasabah Bank Syari’ah Cab. Praya itu sendiri, dan fokus per masalahannya adalah tentang kegiatan apa saja yang dilakukan terhadap pengembangan ekonomi masyarakat di kota mataram. Sedangkan dalam penelitian yang sedang diteliti penulis

7

yang menjadi objek penelitiannya yaitu cara atau usaha yang di lakukan oleh “BSM Cab. Praya” untuk memberikan modal pada masyarakat pedagang di desa Renteng, serta fokus permasalahannya adalah peranan BSM cab. Praya dalam meningkatkan ekonomi masyarakat pedagang di Desa Renteng kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah. F. Kerangka Teori 1. Pengertian dan Dasar Hukum Bank Syariah Bank syariah adalah bank yang tidak mengandalkan prinsip bunga, yang mana bank Islam biasa disebut sebagai bank tanpa bunga, yang merupakan lembaga keuangan atau perbankan yang operasionalnya dan produknya dikembangkan berdasarkan pada Al-qur’an dan Hadis Nabi Saw. Pada umumnya bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa lain dalam bentuk lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang roperasinya disesuaikan dengan prinsip-prinsip syariah.4 Pengertian lain dari bank syariah atau bank Islam adalah bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam, atau bank yang tata cara operasionalnya mengacu pada ketentuan-ketentuan Al-qur’an dan Hadis. Adapun yang dimaksud dengan prinsip-prinsip Islam di sini adalah ketentuan-ketentuan
4

syariat

Islam

yang

menyangkut

tata

cara

Hari Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah (Yogyakarta: Ekonisia, 2003). Hal.62

8

bermuamalah secara Islam, yang terhindar dari praktik-praktik yang mengandung hukum riba. a. Fungsi dan Peran Bank Syariah Fungsi dan peran bank syariah di antaranya tercantum dalam pembukaan standar akuntansi yang dikeluarkan oleh AAOIF

(Accounting and Auditing Organization for Islam Financial Institution), sebagai berikut: 1) Manajer investasi, bank syariah dapat mengelola dana nasabah. 2) Investor, bank syariah dapat menginvestasikan dana yang di milikinya maupun dana nasabah yang dipercayakan kepadanya. 3) Penyediaan jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran, bank syariah dapat melakukan kegiatan jasa-jasa layanan perbankan

sebagaimana lazimnya. 4) Pelaksanaan kegiatan sosial, sebagai ciri yang melekat pada entitas keuangan syariah, bank Islam juga memiliki kewajiban untuk mengeluarkan dan mengelola (menghimpun, mengadministrasikan, mendistribusikan) zakat serta dana-dana sosial lainnya.5

5

Ibid, hal. 39-40

9

b. Tujuan Bank Syariah Bank syariah mempunyai beberapa tujuan di antaranya adalah sebagai berikut: 1) Mengarahkan ekonomi umat untuk bermuamalah secara Islam, khususnya muamalah yang berhubungan dengan perbankan Islam, agar terhindar dari praktik-praktik riba atau sejenis-jenis usaha atau perdagangan lain yang mengandung unsur gharar (tipuan), dimana jenis-jenis usaha tersebut selain dilarang dalam Islam, juga telah menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan ekonomi rakyat. 2) Untuk menciptakan suatu keadilan di bidang ekonomi dengan jalan meratakan pendapatan melalui kegiatan investasi, agar tidak terjadi kesenjangan yang amat besar antara pemilik modal dengan pihak yang membutuhkan dana. 3) Untuk meningkatkan kualitas hidup umat dengan jalan membuka peluang berusaha yang lebih besar terutama kelompok miskin, yang diarahkan kepada kegiatan yang produktif, menuju

terciptanya kemandirian usaha. 4) Untuk menanggulangi masalah kemiskinan, yang pada umumnya merupakan program utama dari negara-negara yang sedang berkembang. 5) Menjaga stabilitas ekonomi dan moneter.6 c. Ciri-ciri Bank Syariah
6

Ibid. hal. 40

10

Bank syariah mempunyai ciri-ciri berbeda dengan bank konvensional, ada pun ciri-cirinya adalah: 1) Beban biaya yang disepakati bersama pada waktu akad perjanjian yang di wajibkan dalam bentuk jumlah nominal, yang besarnya tidak kaku dan dapat dilakukan dengan kebebasan untuk tawar menawar dalam batas yang wajar sesuai dengan kesepakatan dalam kontrak. 2) Penggunaan persentase dalam hal kewajiban untuk melakukan pembayaran selalu dihindari, karena persentase bersifat melekat pada sisi hutang meskipun batas waktu perjanjian telah berakhir. 3) Di dalam kontrak-kontrak pembiayaan proyek, bank syariah tidak menerapkan perhitungan berdasarkan keuntungan yang pasti yang ditetapkan di muka, karena pada hakekatnya yang mengetahui tentang ruginya suatu proyek hanyalah Allah semata. 4) Pengerahan dana masyarakat dalam bentuk deposito tabungan oleh penyimpan dianggap sebagai titipan (al-wadiah) sedangkan bagi bank dianggap sebagai titipan yang diamanatkan sebagai penyertaan dana pada proyek-proyek yang dibiayai bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip syariah sehingga tidak dijanjikan imbalan yang pasti. 5) Dewan Pengawas Syariah (DPS) bertugas untuk mengawasi operasionalisasi bank dari sudut syariahnya. Selain itu manajer dan pimpinan bank Islam harus menguasai dasar-dasar muamalat Islam.

11

6) Fungsi kelembagaan bank syariah selain menjembatani antara pihak pemilik modal dengan pihak yang membutuhkan modal, juga mempunyai fungsi khusus yaitu fungsi amanah, artinya

berkewajiban menjaga dan bertanggung jawab atas keamanan dana yang disimpan dan siap sewaktu-waktu apabila diambil

pemiliknya. d. Dasar Hukum Bank Syariah Gagasan untuk mendirikan bank syariah di Indonesia sebenarnya sudah muncul sejak pertengahan tahun 1970-an. Akhirnya gagasan mengenai bank syariah itu muncul lagi sejak tahun 1988, di saat pemerintah mengeluarkan Paket Kebijakan Oktober (Pakto) yang berisi liberalisasi industri perbankan. Kemudian dibahas lebbih mendalam pada Musyawarah Nasional (Munas) IV majelis ulama Indonesia (MUI) pada tahun 1990, dibentuklah kelompok kerja untuk mendirikan bank syariah di Indonesia.7 Dalam menjalankan perannya, bank syariah berlandaskan pada UU perbankan No. 7 tahun 1992 dan peraturan pemerintah No. 72 tahun 1992 tentang bank berdasarkan prinsip bagi hasil yang kemudian dijabarkan dalam S.E BI no. 25/4/BPPP tanggal 29 februari 1993, yang pada pokoknya menetapkan hak-hak antara lain:

7

Ibid. hal. 30

12

1) Bahwa bank berdasarkan pirnsip bagi hasil adalah bank umum dan bank perkreditan rakyat yang melakukan usaha semata-mata berdasarkan prinsip bagi hasil. 2) Prinsip bagi hasil yang dimaksud adalah prinsip bagi hasil yang berdasarkan syariah. 3) Bank berdasarkan prinsip bagi hasil wajib memiliki Dewan Pengawas Syariah. 4) Bank umum atau bank perkreditan rakyat yang kegiatan usahanya semata-mata berdasarkan prinsip bagi hasil tidak diperkenankan melakukan usaha yang tidak berdasarkan bagi hasil. Sebaliknya bank umum yang tidak melakukan kegiatan usaha dengan prinsip bagi hasil tidak diperkenankan melakukan usahanya dengan prinsip bagi hasil. Pada tahun 1998 muncul UU No. 10 tahun 1998 tentang perubahan UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan. Dikeluarkannya UU ini telah memberikan landasan hukum yang lebih kuat bagi pengembangan bank syariah di Indonesia. Peraturan-peraturan tersebut memberikan kesempatan yang luas untuk mengembangkan jaringan perbankan syariah antara lain melalui ijin pembukaan kantor cabang syariah (KCS) oleh bank konvensional, dengan kata lain bank konvensional dapat menjalankan dua kegiatan usaha, baik secara konvensional maupun secara prinsip syariah.

13

Sedangkan dalam ushul fiqh, ada yang menyatakan bahwa “maa laa yatimm al-wajib illa bihi fa huwa wajib”, yakni sesuatu yang harus ada untuk menyempurnakan yang wajib, maka ia wajib diadakan. Dan karena pada zaman modern ini kegiatan perekonomian tidak akan sempurna tanpa adanya lembaga perbankan, lembaga perbankan ini pun wajib diadakan.8 2. Pengertian BPR Syariah Menurut UU no.7 tahun 1992, bank perkreditan rakyat adalah lembaga keuangan bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan, dan atau dalam bentuk lain yang dipersamakan dengan itu dan menyalurkan dana sebagai usaha BPR. Sedangkan dalam UU perbankan No. 10 tahun 1998, disebutkan bahwa BPR adalah lembaga keuangan bank yang melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional atau berdasarkan prinsip-prinsip syariah.9 a. Tujuan BPR syariah. Adapun tujuan yang dikehendaki dengan adanya BPR syariah adalah: 1) Kesejahteraan ekonomi umat Islam, terutama masyarakat golongan ekonomi lemah yang pada umumnya berada di daerah pedesaan. 2) Menambah lapangan kerja terutama ditingakat kecamatan,

sehingga dapat mengurangi arus urbanisasi.

8 9

Adiwarman A. karim, Bank Islam,edisi ketiga (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada) hal. 14 Heri sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah. Edisi kedua (Yogyakarta: Ekonesia) hal. 83

14

3) Membina semangat Ukhuwah Islamiyah melalui kegiatan ekonomi dalam rangka meningkatkan pendapatan perkapita.10 b. Usaha-usaha BPR Syariah Untuk melangsungkan kegiatan sehari-hari, BPR syariah memiliki beberapa usaha di antaranya adalah sebagai berikut: 1) Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa deposito berjangka, tabungan dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu. 2) Memberikan kredit. 3) Menyediakan pembiayaan dan penempatan dana berdasarkan prinsip syariah sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Dalam bidang pengerahan dana masyarakat, BPR syariah dapat mengerahkan dana dalam berbagai bentuk, antara lain: 1) Simpanan Amanah Disebut simpanan amanah, karena bank penerima titipan amanah dari nasabah dan bentuk perjanjiannya adalah wadiah yaitu titipan yang tidak menanggung resiko. Namun demikian bank akan memberikan bonus dari bagi hasil keuntungan yang diperoleh melalui pembiayaan kepada nasabah. 2) Tabungan Wadiah

10

Ibid, hal. 85

15

Dalam tabungan ini bank menerima tabungan dari nasabah dalam bentuk tabungan bebas. Sedangkan akad yang digunakan adalah dalam bentuk wadiah dan tidak menanggung resiko kerugian, dan bank memberikan bonus kepada nasabah yang diperoleh dari bagi hasil dan kegiatan pemberian kredit kepada nasabah lainnya. 3) Deposito Wadiah/Mudharabah Dalam produk ini bank menerima deposito berjangka dari nasabahnya. Akad yang digunakan dapat berbentuk wadiah dan dapat pula berbentuk mudharabah. Sedangkan bentuk-bentuk penyaluran dana BPR syariah kepada masyarakat antara lain: 1) Pembiayaan Mudharabah Dalam pembiayaan mudharabah, bank menyediakan pembiayaan modal usaha yang dikelola oleh pengusaha dan keuntungan yang diperoleh akan dibagi berdasarkan kesepakatan yang disepakati oleh bank dan pengusahan tersebut. 2) Pembiayaan Musyarakah Dalam akad ini, bank dan pengusaha mengadakan perjanjian kerja sama dalam pembiayaan suatu proyek dan dikelola secara bersamasama pula. Keuntungan yang diperoleh akan dibagi sesuai dengan penyertaan masing-masing pihak.

16

3) Pembiayaan Bai’u Bithaman Ajil Di sini bank menyediakan dana untuk pembelian suatu barang atau asset yang dibutuhkan oleh nasabah guna mendukung usaha atau proyek yang sedang diusahakan. Fasilitas pengerahan dana tersebut, juga dapat digunakan untuk menitipkan sadaqah, infak, zakat, tabungan haji, tabungan kurban, tabungan akhikah, tabungan keperluan pendidikan, tabungan

pemilikan kendaraan, tabungan pemilikan rumah, bahkan bisa digunakan sebagai sarana penitipan dana-dana masjid, dana pesantren, yayasan dan lain sebagainya. 3. Pengertian pembiayaan Kata pembiayaan sama dengan kredit berasal dari bahasa yunani “credere” yang berarti kepercayaan. Maksud kepercayaan di sini adalah seseorang atau badan usaha yang memberikan kredit (kreditur) percaya bahwa penerima kredit (debitur) di masa mendatang akan sanggup memenuhi segala sesuatu yang telah dijanjikan. Menurut UU No. 14 tahun 1967 tentang pokok-pokok perbankan, yang dimaksud dengan kredit adalah penyediaan uang atau tagihan-tagihan yang dapat disamakan dengan itu berdasarkan persetujuan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain dalam hal ini pihak peminjam

17

berkewajiban melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga yang telah ditetapkan11. a. Manfaat Pembiayaan Manfaat kredit (pembiayaan) dalam bank sangat banyak apabila dilihat dari berbagai pihak yang berkepentingan, di antaranya adalah: 1) Bagi debitur Untuk meningkatkan usahanya maka debitur dapat menggunakan dana kredit untuk pengadaan atau peningkatan faktor produksi, baik berupa tambahan modal kerja, mesin, bahan baku, maupun peningkatan sumber daya manusia, metode perluasan pasar, dan sumber daya alam dan teknologi. 2) Bagi bank a) Bank mendapat pendapatan berupa bunga yang diterima dari debitur, di samping itu bank juga memperoleh pendapatan dari provisi/biaya administrasi, denda dan sebagainya. b) Dengan diperolehnya pendapatan bunga kredit, maka diharapkan rentabilitas bank akan membaik yang tercermin dari perolehan laba yang meningkat. c) Dengan memberikan kredit, bank dapat juga memasarkan produk-produk bank dan jasa lainnya. Produk atau jasa-jasa tersebut dijual melalui salah satu persyaratan yang tertuang
11

Thomas Suyatno Dkk, Dasar-dasar Perkreditan, Edisi ke empat (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1995), hal. 13

18

dalam perjanjian kredit di mana debitur harus menyalurkan semua kegiatan usahanya melalui bank yang bersangkutan. d) Bank dapat mendidik dan meningkatkan kemampuan para personalianya untuk lebih mengenal secara rinci kegiatan usaha secara rill di berbagai sektor ekonomi. 3) Bagi pemerintah a) Kredit bank dapat digunakan sebagai alat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi baik secara umum maupun untuk sektor tertentu saja. b) Kredit bank dapat dijadikan alat piranti pengendalian moneter. c) Kredit bank dapat meningkatkan dan menciptakan lapangan usaha dan pekerjaan. d) Kredit bank dapat meningkatkan pemerataan pendapatan masyarakat. e) Secara tidak langsung pemberian kredit bank akan

meningkatkan pendapatan negara yang berasal dari pajak perusahaan yang tumbuh dan berkembang volume usahanya. f) Pemberian kredit bank yang sahamnya dimiliki oleh pemerintah pusat maupun daerah yang berhasil meningkatkan labanya, akan menambah pendapatan pemerintah yang berupa setoran bagian laba/deviden dari bank bersangkutan. yang

19

g) Pemberian kredit bank dapat meningkatkan dan memperluas pasar. 4) Bagi masyarakat a) Dengan adanya kedit bank yang mendorong pertumbuhan dan perluasan ekonomi, maka akan mengurangi tingkat pengangguran masyarakat. b) Untuk kelompok masyarakat yang memiliki keahlian tertentu dapat terlibat dalam proses pemberian kredit. c) Para pemilik dana yang menyimpan di bank, berharap agar kredit bank berjalan lancar, sehingga dana mereka yang digunakan/disalurkan oleh bank dapat diterima kembali secara utuh serta jumlah bunganya sesuai dengan dan meningkatkan tingkat pendapatan

kesepakatan. d) Bagi anggota masyarakat yang bergerak di pasar modal maupun nasabah bank syariah maka suku bunganya merupakan salah satu indikator bagi nilai saham atau deviden atau jumlah bagi hasil yang diperolehnya. e) Adanya jenis kredit-kredit tertentu seperti bank garansi atau L/C, akan memberikan rasa aman dan ketenangan bagi pihak yang terlibat.12

12

Rachmat Firdaus Dkk, Manajemen Perbankan Bank Umum, (Bandung: Alfabeta, 2003), hal.6-9

20

5) Fungsi pembiayaan Ada beberapa fungsi dari pembiayaan yang diberikan oleh bank syariah kepada masyarakat, adalah: a) Meningkatkan daya guna uang Para pemilik uang/modal baik secara langsung atau melalui penyimpanan dana di bank, dapat meminjamkan uangnya kepada perorangan atau perusahaan-perusahaan untuk

meningkatkan usahanya. b) Meningkatkan daya guna dan peredaran uang Dengan adanya kredit, perusahaan yang kesulitan dalam produksi, misalnya, dapat terbantu untuk memperoleh bahan baku menjadi barang jadi. c) Meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang Kredit uang dapat disalurkan melalui rekening giro dapat menciptakan pembayaran dengan menggunakan uang giral seperti cek, bilyet giro, dan lain sejenisnya. d) Sebagai alat stabilitas ekonomi Kredit dapat digunakan sebagai alat pengendalian ekonomi. Dalam keadaan inflasi pemerintah dapat menerapkan kebijakan uang ketat antara lain dengan membatasi pemberian kredit. e) Meningkatkan kegairahan berusaha

21

Pihak-pihak yang usahanya terhambat karena kekurangan modal dapat meningkatkan kegiatan usahanya melalui pemberian kredit yang dilakukan oleh bank. f) Meningkatkan pemerataan pendapatan Dengan adanya kredit, perusahaan-perusahaan dapat

meningkatkan usahanya bahkan dapat mendirikan proyek baru yang akan membutuhkan tenaga kerja dan akan mengurangi pengangguran dan selanjutnya pemerataan pendapatan akan meningkat pula. g) Meningkatkan hubungan internasional Pengusaha di dalam negeri dapat pula memperoleh kredit baik secara langsung maupuun tidak langsung. Bahkan suatu negara yang berkembang dapat memperoleh kredit dari negara yang sudah maju13. Bank sebagai lembaga keuangan tidak hanya bergerak di dalam negeri tetapi diluar negeri.14 b. Jenis-jenis Pembiayaan 1) Pembiayaan Pembiayaan adalah penyediaan dana atau tagihan berdasarkan akad mudharabah atau musyarakah atau pembiayaan lainnya berdasarkan akad bagi hasil.
13

Rimsky K. Judisseno, Sistim Moneter dan Perbankan di Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), hal. 168-169 14 Muhamad, Bank Syariah, Analisis Kekeuatan, Kelemahan, Peluang dan Tantangan ( Yogyakarta: Ekonesia,2002) hal. 127

22

a) Musyarakah Pembiayaan musyarakah adalah kerjasama antara kedua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masingmasing pihak memberikan kontribusi dana dengan

keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. b) Mudlarabah Pembiayaan mudlarabah adalah akad kerjasama usaha antara kedua belah pihak di mana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola.15 2) Piutang Piutang adalah tagihan yang timbul dari transaksi jual beli dan atau berdasarkan akad murabahah, salam, istishna dan ijarah.16 a) Murabahah adalah jual beli barang dengan harga asal ditambahkan keuntungan yang disepakati anatara pihak bank dan nasabah. b) Salam adalah perjanjian jual beli barang dengan cara pemesanan dengan syarat-syarat tertentu dan pembayaran harga terlebih dahulu.
15 16

Heri Sudarsono, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah (Yogyakarta: Ekonesia, 2003), hal.127 Ibid, hal. 58-62

23

c) Isthisna adalah perjanjian jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang dengan kreteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan dan penjual. d) Ijarah adalah perjanjian sewa-menyewa suatu barang dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa. 3) Sertifikat Wadiah Bank Indonesia (SWBI) SWBI adalah sertifikat yang diterbitkan Bank Indonesia sebagai bukti penitipan dana berjangka pendek dengan prinsip wadiah.17 4. Pengertian Qard Al-Hasan Qard adalah akad yang di khususkan pada pinjaman dari harta yang terukur dan dapat ditagih kembali serta merupakan akad saling bantumembantu dan bukan merupakan transaksi bisnis secara komersial. Al- qard adalah pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta kembali atau dengan kata lain meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan.18 Salah satu fungsi Lembaga Keuangan Syariah adalah ikut serta dalam kegiatan sosial, yang diaplikasikan dengan menyalurkan dana dalam bentuk Qard dari dana yang dihimpun dari hasil zakat, infaq, dan sadaqah. Qard al Hasan adalah produk perbankan syariah untuk nasabah yang

17 18

Ibid. hal. 39 Muhamad Syafii Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik. (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hal. 131

24

membutuhkan dana untuk keperluan mendesak dengan kriteria tertentu dan bukan untuk tujuan konsumtif. Pengembalian pinjaman ditentukan dalam jangka waktu tertentu dan dapat dikembalikan sekaligus atau diangsur tanpa tambahan atas dana yang dipinjam. Qardhul Hasan merupakan salah satu ciri pembeda bank syariah dengan bank konvensional yang di dalamnya terkandung misi sosial, di samping misi komersial. Misi sosial kemasyarakatan ini akan

meningkatkan citra bank dan meningkatkan loyalitas masyarakat terhadap bank syariah. Akan tetapi risiko pembiayaan Qardhul Hasan terhitung tinggi karena ia dianggap pembiayaan yang tidak ditutup dengan jaminan.19 a. Landasan hukum tentang qard al-hasan20 Transaksi Qard Al-Hasan diperbolehkan oleh para ulama berdasarkan Hadis riwayat Ibnu Majjah dan Ijma ulama. “Sungguhpun demikian, Allah Swt mengajarkan kepada kita agar meminjamkan sesuatu bagi agama Allah” 1) Al-qur’an Allah Swt berfirman yang artinya “ siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik maka Allah akan

19

----Pinjaman Qard Al-Hasan, www. Sharia Economy.com, di ambil pada tanggal 23 april 2009 pada pukul 08.06 WITA 20 Muhamad Syafii Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik. (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hal. 133

25

melipat gandakan (balasan) pinjaman itu untukmu, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak”. Yang manjadi landasan dalil dalam ayat ini adalah kita diseru untuk meminjamkan kepada Allah, yang maksudnya kita dianjurkan untuk mambelanjakan harta kita di jalan Allah dan kita juga diseru untuk meminjamkan kepada sesama manusia. 2) Al-hadis Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Nabi Saw, bersabda, bukan sorang muslim mereka yang meminjamkan muslim lainnya dua kali kecuali yang satunya adalah senilai sadaqah. 3) Ijma Para ulama telah menyepakati bahwa qard al-hasan boleh dilakukan. Kesepakatan ini didasari tabiat manusia yang tidak bisa hidup tanpa pertolongan saudaranya. Tidak ada seorangpun yang memiliki barang yang ia butuhkan. Oleh karena itu pinjam meminjam sudah menjadi satu bagian dari kehidupan di dunia ini. b. Manfaat Qard Al-Hasan Adapun manfaat yang dapat diperoleh dari pembiayaan qard al-hasan adalah : 1) Memungkinkan nasabah yang dalam kesulitan mendadak untuk mendapat talangan jangka pendek.

26

2) Qard al-hasan juga merupakan salah satu ciri pembeda antara bank syariah dan bank konvensional yang di dalamnya terkandung misi sosial di samping misi komersial. 3) Adanya misi sosial kemasyarakatan ini akan meningkatkan citra baik dan meningkatkan loyalitas masyarakat terhadap bank. 4) Percepatan pembangunan ekonomi umat yang berbasis Islam dapat diwujudkan jadi kenyataan.21 c. Sumber dana qard al-hasan Sifat Qardh tidak memberikan keuntungan finansial bagi pihak yang memberikan pinjaman, karena itu pendanaan qard al-hasan dapat diambil menurut kategori berikut : 1) Al-qard yang diperlukan untuk membantu keuangan nasabah secara cepat dan berjangka pendek . talangan ini dapat diambil dari modal bank. 2) Al-qard yang diperlukan untuk membantu usaha kecil dan keperluan sosial, dapat bersumber dari dana zakat, infaq dan sadaqah. Salah satu sumber dana Qardh Al-Hasan dapat diperoleh dari dana Zakat yang dipisahkan untuk pengembangan usaha produktif bagi fakir-miskin, serta dana infaq dan shadaqah yang dihimpun secara professional. Melalui skim Qardh al Hasan, para penerima dana dilatih untuk bertanggung jawab terhadap dana yang diterimanya dan
21

Abu Faqih Hanan, Qard Al Hasan Untuk Kesejahtraan Umat ,www.Abu Faqih Hanan.com. di amdil pada tanggal 16 april 2009, pada pukul 12.01 WITA

27

harus dapat menjadikan taraf hidupnya meningkat dari saat sebelum yang bersangkutan menerima dana Qardh. Jika ia hanya menerima dana yang bersifat bantuan semata, dana yang mereka terima hanya akan habis untuk hal-hal yang bersifat konsumsi semata, dan hal itu tidak akan menimbulkan motivasi untuk bekerja atau berusaha dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan Islam mengajarkan seseorang untuk mengejar rezekinya bukan menunggu dengan menengadahkan tangan kepada orang lain.22 5. Pengertian Kesejahteraan Masyarakat Kesejahteraan bermula dari kata sejahtera, berawalan kata ke dan berakhiran kata an. Sejahtera berarti aman sentosa, makmur, dan selamat, artinya terlepas dari segala macam gangguan dan kesukaran. Secara umum pengertian kesejahteraan masyarakat menuurut Edi Suharto adalah suatu keadaan terpenuhinya segala bentuk kebutuhan hidup, khususnya yang bersifat mendasar seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, dan perawatan kesehatan. Menurut UU No.6 Thn 1974 yaitu suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial, material maupun spritual yang diliputi rasa keselamatan, kesusilaan, dan ketentraman lahir dan batin, yang memungkinkan setiap warga negara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan jasmaniah, rohaniah dan sosial yang sebaik-baiknya bagi diri, keluarga, serta masyarakat dengan

22

-----www.Ar-Royan.com diambil pada tanggal 23 april 2009, pada pukul 20.17 WITA.

28

menjunjung tinggi hak-hak atau kewajiban manusia sesuai dengan pancasila.23 Adapun yan g menjadi indikator kesejahteraan masyarakat adalah:24 1. Kependudukan Penduduk merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam proses pembangunan, karena dengan kemampuan mereka mengelola sumber daya alam sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup bagi diri dan keluarganya secara berkelanjutan. Jumlah penduduk yang besar dapat menjadi potensi bahkan beban dalam proses pembangunan jika berkualitas rendah. Oleh sebab itu, dalam menangani masalah kependudukan untuk menunjang keberhasilan pembangunan nasional, pemerintah tidak saja mengarahkan pada upaya pengendalian jumlah penduduk, tetapi juga menitikberatkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. 2. Pendidikan Faktor keberhasilan pembangunan disuatu Negara diantaranya adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Pendidikan merupakan salah saktu jalan bagi peningkatagn SDM tersebut. Oleh sebab itu, pemerintah secara terus menerus berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan dimulai dengan pemberian
23

Rudi Amir, Pengertian Kesejahteraan masyarakatl,http://rudiamir.blogspot.com/2009/01/pengertian-generasi-muda.html diambil tanggal 28 Oktober 2010 24 Badan Pusat Statistik, Indikator Kesejahteraan Rakyat. ( Jakarta: CV. Planing & Co. 2008). h. 2

29

kebebasan kepada semua penduduk untuk mengecap pendidikan terutama pada tingkat dasar hingga pada peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pendidikan. 3. Ketenagakerjaan Salah satu aspek untuk menunjukkan kesejahteraan masyarakat adalah dengan mengamati aspek ketenagakerjaan. Banyahknya penduduk yang bekerja menunjukkan pula banyaknya penduduk yang mampu secara ekonomi untuk menghasilkan barang dan jasa, yang secara tidak langsung dapat menunjukkan pula banyaknya penduduk yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. 4. Taraf dan pola konsumsi Berkurangnya jumlah penduduk miskin25 mencerminkan bahwa secara keseluruhan pendapatan penduduk meningkat, sebaliknya meningkatnya jumlah penduduk miskin mengindikasikan menurunnya pendapatan penduduk. Dengan demikian jumlah penduduk miskin merupakan indikator yang cukup baik untuk mengukur tingkat kesejahteraan rakyat. Aspek lain yang perlu dipantau berkenaan dengan peningkatan pendapatan penduduk tersebut adalah bagaiman pendapatan tersebut didistribusikan di antara kelompok penduduk. Indikator distribusi pendapatan, walaupun didekati dengan

pengeluaran, akan memberi petunjuk tercapai atau tidaknya aspek

25

Penduduk miskin adalah penduduk yang pendapatannya (didekati dengan pengeluaran) lebih kecil dari pendapatan yang dibutuhkan untuk hidup secara layak diwilayah temapat tinggalnya.

30

pemerataan. Dari data pengeluaran dapat pula diungkapkan tentang pola konsumsi rumah tangga secara umum dengan menggunkan indikator proporsi pengeluaran untuk makanan dan non-makanan. 5. Perumahan dan lingkungan Setiap manusia membutuhkan tempat tinggal untuk berteduh dari hujan dan cuaca panas. Hal tersebutlah yang menyebabkan tempat tinggal dikategorikan sebagai kebutuhan pokok selain pangan dan sandang. Berbagai fasilitas yang mencerminkan kesejahteraan rumah tangga tersebut diantaranya dapat dilihat dari kualitas material, yang mencakup antara lain jenis atap, dinding dan lantai terluas yang digunakan. Termasuk juga fasilitas penunjang lain yang meliputi luas lantai hunian, sumber air minum, WC, dan sumber penerangan. 6. Sosial lainnya Selain aspek kependudukan, pendidikan, ketenagakerjaan, konsumsi dan perumahan, masih ada indikator sosial lainnya yang tidak termasuk dalam lima aspek tersebut yang juga mencerminkan kesejahteraan. Indikator tersebut diantaranya: persentase penduduk yang melakukan perjalanan wisata, persentase penduduk yang menikmati informasi dan hiburan, meliputi menonton televise, mendengarkan radio dan lain-lain, serta persentase rumah tangga yang membeli beras murah atau miskin. Kegiatan seseorang wisata karena dapat wisata

menunjukkan

tingkat

kesejahteraan

31

merupakan kebutuhan tersier. Umumnya semakin sejahtera seseorang, maka semakin tinggi peluang untuk memenuhi kebutuhan non-primer G. Metode Penelitian Suatu penelitian tidak akan baik hasilnya jika tidak dibarengi dengan langkah pasti, karena dengan langkah tersebut suatu penelitian akan dapat menghasilkan hasil yang cukup maksimal. Oleh karena itu, peneliti menempuh langkah-langkah dengan tujuan agar dalam penelitian ini dapat menghasilkan suatu hasil yang maksimal. a. Pendekatan Penelitian Dalam penelitian ini, metode yang di digunakan ialah pendekatan kualitatif. Dalam hal ini peneliti mendeskripsikan tentang ekonomi masyarakat pedagang di Desa Renteng serta peranan BSM Cab. Praya dalam meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat Pedagang tersebut dan bagaimana usaha-usaha yang diberikan modal oleh BSM Cab. Praya terhadap peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat pedagang terhadap praktek pelaksanaan BSM Cab. Praya Desa Renteng. Adapun alasan peneliti menggunakan pendekatan kualitatif ini adalah : 1. Untuk memberikan latar belakang penelitian 2. Untuk memudahkan perhatian pada masalah-masalah yang diteliti 3. Dengan menggunakan metode kualitatif ini, peneliti lebih kreatif dan aktif dalam menggunakan data dan informasi.

32

b. Kahadiran Penelitian Kehadiran peneliti bukan ditunjukan untuk mempengaruhi subyek penelitian, tetapi untuk mendapatkan data dan informasi yang akurat. Kehadiran peneliti sebagaimana dijelaskan sebelumnya adalah berperan untuk mendapatkan data, oleh karena itu peneliti berusaha secara langsung untuk dapat melibatkan diri dalam kehidupan objek penelitian, tetapi lebih pada usaha untuk mengetahui secara langsung tentang peranan BSM Cab. Praya terhadap peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat di desa Renteng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah. c. Sumber dan Jenis Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain sebagai berikut :  Manusia atau responden yaitu para karyawan BSM Cab. Praya dan masyarakat Pedagang di desa Renteng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah.  Literatur atau acuan yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan kajian yang diteliti.  Dokumen resmi, baik internal maupun eksternal. Adapun jenis data yang digunakan dapat dibagi menjadi dua yaitu antara lain : 1. Data primer, adalah data hasil wawancara dan pengamatan yang diperoleh langsung dari lapangan. Dalam hal ini pihak

33

yang dimintai keterangan adalah karyawan BSM Cab. Praya serta para karyawan yang terkait dalam Bank tersebut. 2. Data sekunder, adalah data yang diperoleh dari bahan bacaan maupun literature yang mempunyai kaitan atau hubungan dengan penelitian ini. d. Tehnik Penggalian Data Ada beberapa metode yang digunakan dalam proses

pengumpulan data yang berkaitan dengan pembahasan dalam penelitian ini : a. Metode Observasi Metode observasi adalah metode pengumpulan data yang dilakukan dengan sengaja, dengan cara mendatangi langsung lokasi penelitian dan mengadakan pengamatan langsung untuk dilakukan pencatatan.26 Observasi sering juga disebut sebagai metode pengamatan atau secara ringkasnya bahwa metode observasi adalah cara pengumpulan data dengan cara melakukan pencatatan secara cermat dan sistematis.27 Dalam kaitannya dengan penelitian ini, peneliti langsung terjun kelapangan (observasi parisipatif) untuk menemukan gejalagejala yang terjadi.

Lexy j. moleong. Metodelogo Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1994), h. 144. 27 Suharsimi arikunto Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta Rineka Cipta, 2006.), h. 89.

26

34

Adapun objek yang diobservasi dalam penilaian ini adalah sejauh mana peranan BSM Cab. Praya terhadap peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat Pedagang di desa Renteng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, dan usaha-usaha apa saja yang di kasih modal oleh BSM Cab. Praya terhadap peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat di desa Renteng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah. b. Metode Wawancara Metode wawancara atau kuisioner lisan adalah proses dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara atau responden. Jadi, metode wawancara adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi secara langsung dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan

kepada responden. Dalam hal ini peneliti akan mewawancara para karyawan dan nasabah BSM Cab. Praya Pedagang di desa Renteng. Dalam penelitian wawancara ini, peneliti menggunakan metode interview bebas atau dengan kata lain tidak terstruktur. Dalam hal ini peneliti bebas menayakan apa saja yang berkaitan dengan penelitian dan berpedoman pada pertanyaan yang telah disusun sebelumnya secara garis besar tentang hal-hal yang berkaitan dengan penelitian, agar data yang didapatkan mendeskripsikan apa yang menjadi fokus penelitian. serta masyarakat

35

Adapun materi yang akan peneliti tanyakan kepada responden adalah seputar peranan BSM Cab. Praya, respon masyarakat terhadap BSM Cab. Praya dan perkembangan masyarakat Pedagang setelah menjadi nasabah BSM Cab. Praya. c. Metode Dokumentasi Metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebagainya. Peneliti menggunakan metode dokumentasi semata-mata untuk

mendapatkan data penelitian dari dokumen yang sudah ada khususnya tentang Perbankan. e. Tehnik Analisa Data Data yang diperoleh dalam penelitian ini melalui metode pengumpulan data merupakan data mentah yang dianalisis secara seksama sehingga data-data tersebut dapat diangkat keadaannya dalam sebuah pembahasan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Setelah data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah proses pemilihan data dan kemudian dianalisis serta diinprestasikan dengan teliti dan ulet sehingga diperoleh kesimpulan yang objektif dari suatu penelitian. Analisa adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam kategori, pola dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan

36

tema dan dapat dirumuskan hipotesa kerja seperti yang disarankan oleh data. Pengolahan data dan analisis data dalam penelitian kualitatif dititik beratnya pada cara berpikir induktif, karena pada umumnya bertolak dari khusus yang diinterpretasikan untuk disusun sebagai suatu generalisasi yang berlaku umum. Beranjak dari definisi diatas, jelas bahwa analisis data secara induktif berarti pengolahan data dari hal-hal yang bersifat khusus untuk ditarik generalisasinya. Penyusunan data dari teori ini tentunya dimulai dari data yang diperoleh dari suatu kasus khusus kemudian ditarik sebuah kesimpulan yang diusahakan bisa berlaku secara umum. f. Keabsahan Data Keabsahan data bertujuan untuk membuktikan bahwa apa yang dicermati oleh peneliti sudah sesuai dengan sesungguhnya ada dalam kenyataan dan apakah penjelasan yang diberikan tentang dunia kenyataan sesuai dengan sebenarnya terjadi. Untuk mengetahui tingkat validitas data dan informasi yang diperoleh, maka peneliti menempuh beberapa langkah sebagai berikut : 1. Tringulasi Tujuan melakukan triangulasi dalam penelitian ini adalah untuk mengecek keabsahan data tertentu dengan membandingkan data yang diperoleh dengan sumber lain. Triangulasi yang digunakan adalah tringulasi data dan tringulasi metode. Tringulasi sumber

37

data dilakukan untuk mendapatkan informasi yang sejenis dari informasi atau sumber lain. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :  Membandingkan data hasil observasi dengan data hasil wawancara  Membandingkan hasil wawancara dengan hasil dokumentasi  Membandingkan pendapat orang yang satu dengan yang lainnya. Triangulasi metode akan ditempuh secara bersamaan dalam suatu kegiatan wawancara dengan para responden dari masyarakat yang ada di masyarakat pedagang desa Renteng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah. 2. Ketekunan pengamatan Pengamatan sangat diperlukan dalam penelitian kualitatif, hal ini dilakukan apabila responden berusaha memberikan keterangan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Sehingga melalui pengamatan mendalam dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya dalam hal penjelasan data yang diberikan oleh responden tidak sesuai dengan data yang sebenarnya yang ada BSM Cab. Praya.

38

3. Perpanjangan keikutsertaan Semakin lama peneliti di lapangan terbukti telah dapat memperoleh data secara selektif dan valid. Kesempatan untuk memilih data sangat mencukupi dan tidak terburu-buru. Sebagai peneliti dalam penelitian kualitatif merupakan instrument atau pengumpul data, semakin lama penelitian yang dilakukan dilapangan semakin banyak pula data yang di dapat. Hal ini dimaksudkan untuk dapat menguji kebenaran penelitian dalam rangka mendapatkan keabsahan data. Misalnya mencari dan mengungkap data-data yang masih belum terkumpul oleh BSM Cab. Praya menjadi tugas peneliti untuk mendapatkan orisinalitas dari data-data yang masih tersimpan. 4. Kecukupan Referensi Tehnik ini peneliti gunakan apabila data yang diperoleh dari bahan dokumentasi, catatan yang ditemukan dilokasi penelitian perlu diperkuat dengan dokumen atau catatan refernsi lain dari hasil penelitian dahulu. Dengan menambah referensi, peneliti mengecek kembali keabsahan data dan informasi yang diperoleh di lokasi penelitian. Seperti halnya mengecek kembali data yang ada di BSM Cab. Praya dan kemudian memperbadingkannya dengan data Perbankan yang didapati dari hasil penelitian dulu.

39

DAFTAR PUSTAKA Adiwarman karim. Bank islam analisis fiqih dan keuangan. Jakarta : Raja grafindo persada. 2004 Dokumen Bank Sdyari’ah Mandiri. 2004 Dahlan Siamat. Manajemen lembaga keuangan. Jakarta: intermedia. 1995 Suharsimi Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta, 2006. Lexy J. Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosda Karya, 1994. Muhamat Syafi’i Antonio. Bank Syariah Dari Teori ke Praktek, Jakarta: Gema Insani Press, 2001). Musa’adah Bengkel Dalam Mengembangkan Perekonomian, Skripsi: STAIN Mataram, 2003. Depag RI, Al-Quran dan Terjemhannya. Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir Al-Qur’an. h. 67 Ibnu Majah, At-Tijarah. Beirut: Dar Al-fikr. h. 280 Depag RI, Al-Quran dan Terjemhannya. Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Penafsir Al-Qur’an. h. 67 Ibnu Majah, At-Tijarah. Beirut: Dar Al-fikr. h. 280 Sayyid Sabiq. Fiqh Sunnah 13, Bandung: Alma’rif, 1993.

40

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful