LAPORAN KASUS HERNIATION OF NUCLEOS PULPOSUS

JARINGAN OTOT
Jaringan otot itu mencapai ±40%-50% berat tubuh seseorang. Jaringan otot terdiri atas sel-sel yang telah berdiferensiasi dan mengandung protein kontraktil (sel-sel kontraktil) yang disebut dengan serabut otot. Sel-sel kontraktil tersebut diperlukan untuk membangkitkan tenaga yang diperlukan untuk kontraksi sel, yang menghasilkan gerakan di organ tertentu dan tubuh secara keseluruhan. A. Komponen dari jaringan otot Jaringan ikat mengelilingi dan melindungi jaringan otot. Fascia adalah suatu lembaran atau berkas jaringan ikat fibrous yang mendukung dan mengelilingi otot dan organ tubuh lainnya. Superficial fascia (lapisan subkutan atau hipodermis), yang memisahkan otot dari kulit, tersusun atas jaringan ikat longgar dan jaringa adiposa. Berpreran dalam jalannya saraf, pembuluh darah, dan pembuluh limpa untuk masuk dan keluar pada otot. Deep fascia ,erupakan jaring ikat padat tak teratur yang membatasi dinding tubuh dan anggota badan dan otot-otot yang melekat. Berperan dalam pergerakan bebas, pembawa saraf, pembuluh darah, dan pembuluh limpa, dan mengisi ruang antara otot-otot. Tiga lapisan jaringan ikat dari deep fascia melindungi dan memperkuat otot rangka, yaitu : a. Lapisan paling luar yang mengelilingi seluruh otot, yaitu epimisium. b. Perimisium mengelilingi 10 hingga 100 atau lebih serabut-serabut otot, memisahkan serabut-serabut otot tersebut menjadi bundle. Bundle tersebut disebut dengan fasikel. c. Endomisium adalah jaringan ikat halus yang melapisi setiap serabut otot individual. Jaringan otot memiliki ciri-ciri, antara lain : a. Kontraktilitas; adalah kemampuan jaringan otot untuk berkontraksi dengan kekuatan penuh ketika dirangsang oleh potensial aksi. Ketika otot berkontraksi akan menghasilkan tensi (kekuatan kontraksi). b. Eksitabilitas; adalah kemamouan untuk merespon terhadap berbagai rangsangan dengan memproduksi sinyal elektrik yang disebut potensial aksi. Pada sel-sel otot, terdapat 2 tipe

rangasangan yang memicu potensial aksi, yaitu sinyal elektric autoritmik yang berasal dari jaringan otot itu sendir, dan rangsangan kimia. c. Ekstensibilitas; adalah kemampuan jaringan otot untuk meregang (stretch) tanpa mengalami kerusakan. d. Elastisitas; adalah kemampuan jaringan otot untuk kembali ke ukurannya semula setelah berkontraksi atau meregang.

B. Fungsi dari sistem otot, yaitu : a. Pergerakan tubuh. Pergerakan seluruh tubuh seperti berjalan, berlari. b. Penopang tubuh dan mempertahankan postur tubuh. Otot menopang rangka dan mempertahankan tubuh baik dalam posisi berdiri maupun duduk terhadap gaya gravitasi. c. Penghasil panas (thermogenesis). Sebagian besar panas dihasilkanb oleh otot untuk mempertahankan suhu tubuh normal.

C. Klasifikasi Otot Otot diklasifikasikan berdasarkan struktural (ada dan tidaknya lurik), fungsional (vounter dan involunter) dan lokasi, terbagi menjadi 3 yaitu :
OTOT RANGKA  Serabut otot OTOT POLOS yang  Serabut otot OTOT JANTUNG otot berukuran berukuran  Serabut

berukuran hingga 30cm dan berbentuk silinder  Berinti

antara 20 mikron-0,5mm dan berbentuk gelendong

antara 85-10 mikron dan serabutnya bercabang

banyak  Berinti tunggal, yang terletak  Berinti tunggal, yang terletak di tengah pada bagian sel yang paling lebar  Tidak ada lurik  Kontraksinya lambat lemah pada bagian tengah  Memiliki lurik  Memiliki diskus interkalaris dan  Kontraksi cepat, kuat dan berirama  Bekerja involunter

(multinuklear) yang terletak di perifer bawah sakrolema  Memiliki lurik  Kontraksinya cepat&kuat  Bekerja secara volunter  Melekat pada rangka

 Bekerja involunter

 Terletak pada dinding organ  Hanya ada pada jantung

berongga (ex. Kanding kemih, uterus) Pada dinding tuba (ex.

Saluran pencernaan)

AKTIVITAS LABORATIRIUM Otot Halus

Otot Jantung

Otot Rangka

D. Kontraksi Otot (Sliding Filament) Kontraksi otot terjadi adanya interaksi filamen tipis (aktin) dan filamen tebal (miosin). a. Filamen tipis, terdiri dari aktin, tropomiosin, dan troponin. Aktin dijumpai sebagai polimer berfilamen (aktin-F) panjang yang terdiri atas 2 untai monomer globular (aktin-G) berdiameter 5,6 nm yang saling berpilin dalam bentuk spiral ganda. Karakteristik yang terlihat pada semua molekul aktin-G adalah strukturnya yang asimetris. Bila molekul aktin-G berpolimerasi membentuk aktin-F, molekul tersebut akan terikat dari depan ke belakang dan menghasilkan suatu filamen dengan polaritas yang dapat dikenali. Setiap monomer aktin-G memiliki satu tempat pengikatan bagi miosin.. Protein αaktinin dan desmin (suatu protein filamen intermediate) diyakini menyatuka sarkomer yang bersebelahan sehingga miofibril tetap berada di tempatnya. Tropomiosin, yaitu suatu molekul halus dengan panjang sekitar 40 nm, memiliki 2 rantai polipeptida. Molekul ini tergantung pada kepala sampai ekor, yang membentuk filamen yang berjalan di atas subunit aktin di sepanjang tepian alur yang berada di antara dua untai aktin yang terpilin. Sedangkan troponin merupakan kompleks 3 subunit, yaitu TnI (mengahambat interaksi aktin-miosin), TnT (yang melekat erat pada tropomiosin), dan TnC (terikat pada ion calsium).

b. Filamen tebal yaitu miosin. Miosin merupakan kompleks yang berukuran lebih besar. Miosin dapat diuraikan menjadi 2 rantai berat yang identik dan 2 pasang rantai ringan. Terdiri atas ekor dan 2 kepala miosin, yang berikatan terhadap miosin binding site pada molekul aktin selama kontraksi. Pengaturan pada pemitaan serabut otot rangka a. Pita A “anisotrop” ; mampu mempolarisasi cahaya (merupakan bagian pusat sarkomer). Terdiri dari filamen tebal (miosin) dan juga bagian filamen tipis yang saling bertumpuk. b. Pita I “isotrop” ; nonpolarisasi. Terbentuk dari filamen tipis yang tidak salaing bertumpuk dengan filamen tebal. c. Garis Z. Terbentuk dari protein penunjang yang menahan filamen tipis tetap menyatu di sepanjang miofibril. d. Zona H. Area yang lebih pucat pada pita A. Terdiri atas molekul miosin dengan bagian mirip batang. e. Garis M. Pita H dibelah dua oleh garis M, yang merupakan kerja protein penunjang lain yang menahan miosin tetap bersatu (protein Titin). Protein utama pada garis M yaitu keratin kinase.

Siklus kontraksi Pada kontraksi awal, retikulum sarkoplasma melepasakan ion-ion Ca2+ ke dalam sitosol. Disama, Ca2+ berikatan terhadap troponin. Kemudian troponin memindahkan (menggerakan) tropomiosin dari miosin binding site pada aktin. Ketika binding site nya bebas, siklus kontraksi (urutan-urutan peristiwa yang menyebabkan filamen-filamen bergeser) dimulai. Siklus kontraksi terdiri atas 4 tahap: 1. Hidrolisis ATP Kepala miosin meliputi ATP-binding site dan ATPase, yaitu suatu enzim yang menghidrolisis ATP ADP + Pi. Hidrolisis ATP (ADP+Pi) tetap mengikat terhadap kepala miosin. 2. Pengikatan miosin terhadap aktin untuk membentuk crossbridge

Kepala miosin berikatan terhadap miosin bindung site pada aktin dan melepaskan gugus pospat yang telah dihidrolisis. Ketika kepala miosin berikatan terhadap aktin selama berkontraksi, disebut crossbridges. 3. Powerstroke Setelah membentuk crossbridges, powerstroke terjadi. Selama powerstroke, bagian pada crossbridge dimana ADP tetap terikat. Akibatnya, crossbridge berotasi an melepaskan ADP. Crossbridge menghasilkan kekutan ketika crossbridge berotasi terhadap pusat sarkomer, menggeser filamen tipis melewati filamen tebal terhadap garis M. 4. Melepaskan miosin dari aktin Pada akhir powerstroke, croosbridge kembali terikat denagn kuat terhadap aktin hingga crossbridge mengikat molekul lain dari ATP. Ketika ATP berikatan terhadap ATP binding site pada kepala miosin, kepala miosin terlepas dari aktin.

Peningkatan Ca2+ di dalam sitosol memulai kontraksi otot, dan penurunan Ca 2+ akan memberhentikannya. Ketika serabut otot berelaksasi, konsentrasi Ca2+ di sitosolnya sangat rendah. Akan tetapi, jumlah(kadar) Ca2+ tinggi akan disimpan di dalam retikulum sarkoplasma. Ketika potensial aksi otot menyebar sepanjang sarcolema dan masuk ke dalam T tubule,

menyebabkan channel pelepasan Ca2+ di dalam membran retikulum sarcoplasma terbuka. Ketika terbuka, Ca2+ mengalir ke luar dari retikulum sarcoplasma ke dalam sitosol mengelilingi filamen tipis dan filamen tebal. Pelepasan Ca2+ bergabung dengan troponin, menyebabkan perubahan bentuk. Perubahan konformasional tersebut menggerakan tropomiosin dari miosin binding site pada aktin. Ketika binding site itu bebas, kepala miosin berikatan terhadap aktin untuk membentuk crossbridge, dan siklus kontraksi mulai. Peristiwa-peristiwa yang telah dijelaskan tersebut merupakan excitation-contraction coupling, yaitu tahap-tahap yang menghubungkan eksitasi (penyebaran potensial aksi otot sepanjang sarcolema dan masuk ke T tubule) untuk berkontraksi (menggeser filamen-filamen). Retikulum sarcoplasma juga mengandung pompa transpor aktif ca2+ yang menggunakan ATP untuk memindahkan Ca2+ dari sitosol ke dlam retiukulum sarcoplasma. Ketika potensial aksi otot melanjutkan untuk menyebar mengelilingi T tubule, pintu pelepasan Ca2+ terbuka dan masuk ke retikulum sarcoplasma. Ketika Ca2+ masuk ke retikulum sarkoplasma, konsentrasi Ca2+ di sitosol sangat menurun. NEUROMUSCULAR JUNCTION Saraf-saraf yang menstimulasi serabut-serabut otot rangka untuk berkontraksi disebut somatic motor neurons. Setiap somatic motor neurons memiliki suatu yang menyerupai penjuluran akson dari otak atau spinal cord ke serabut-serabut otot rangka. Potensial aksi otot timbul pada neuromuscular junction, yang merupakan sinaps antara somatic motor neuron dan serabut otot rangka. Sinaps itu sendiri adalah daerah dimana terjadinya komunikasi antara 2 neuron, atau antara neuron dan sel target, antara somatic motor neurons dan serabut otot. Pada sebagian sinaps, terdapat gap kecil, disebut synaptic cleft, yang memisahkan 2 sel. Karena sel-sel tidak bersentuhan, sehingga potensial aksi tidak dapat melompati gap dari satu sel ke yang lain. Sehingga sel yang pertama berkomunikasi dengan sel yang kedua dengan pelasan zat-zat kimia (neurotransmitter). Pada nueromuscular junction, ujung dari motor neuron disebut terminal akson, terbagi menjadi sekelompok synaptic end bulbs. Pemisahan sitosol di dalam synaptic end bulbs dengan membran yang menyerupai kantung-kantung yang disebut vesikel synaptic. Di dalam vesikel synaptic mengandung Ach, neurotransmitter yang dilepas pada neuromuscular junction.

Daerah sarcolema yang berlawanan dengan synaptic end bulbs, disebut motor end plate, yang merupakan bagian serabut otot neuromuscular junction. Di dalam motor end plate mengandung Ach reseptor. Reseptor Ach merupakan gerbang-ligan channel-channel ion. Sehingga neuromuscular junction meliputi seluruh synaptic end bulbs pada salah satu synaptic cleft dan motor end plate pada serabut pada bagian atau sisi yang lain. Impuls saraf mengirim atau mendatankan potensial aksi otot dengan cara berikut : 1) Pelepasan ACh Tibanya impuls saraf pada synaptic end bulbs menyebabkan banyaknya vesikel synaptic melakukan eksositosis. Selaam eksositosis, vesikel synaptic bergabung dengan membran plasma motor neuron, melepaskan ACh ke dalam synaptic cleft. Kemudian ACh berdifusi pada synaptic cleft antara motor neuron dan motor end plate. 2) Aktivasi reseptor ACh Pengikatan 2 molekul ACh pada reseptor di motor end plate membuka ion channel pada reseptor ACh. Saat channel terbuka, kation-kation kecil, seperti Na+ dapat mengalir menyebrangi membran, yang mengakibatkan depolarisasi membran. 3) Produksi potensial aksi otot Pemindahan Na+ yang masuk membuat bagian dalam serabut otot bermuatan lebih positif. Perubahan potensial membran memacu potensial aksi otot. Kemudian potensial aksi otot menyebar ke sepanjang sarcolema ke dalam T tubule. Hal tersebut menyebabkan retikulum sarcoplasma melepaskan simpanan Ca2+nya ke dalam sarcoplasma dan serabut otot yang berkontraksi (karena ion-ion Ca2+ menimbulkan kekuatan menarik antara filamen aktin dan miosin, yang menyebabkan kedua filamen bergeser satu sama lain). 4) Terminasi aktivitas ACh Pengikatan ACh hanya berlangsung sangat singkat karena ACH dipecah dengan cepat oleh enzim AChE (acetylcholineesterase). AChE memecah ACh menjadi acetyl dan choline yang mana tidak dapat mengaktivasi reseptor ACh. Dan bila depolarisasi berhenti, Ca2+ secara aktif ditranspor kembali ke dalam sisterna retikulum sarcoplasma dan otot akan berelaksasi. Mekanisme interaksi antara aktin dan miosin selama kontraksi

1) Pada saat istirahat, ATP terikat pada sisi ATPase pada kepala miosin, namun kecepatan untuk menghidrolisis ATP sangat lambat. Miosin membutuhkan aktin sebagai kofaktor untuk memecahkan ATP dengan cepat dan melepaskan energi. 2) Pada saat otot sedang beristirahat, miosin tidak dapat bergabung dengan aktin karena tempat pengikatan untuk kepala miosin pada molekul aktin ditutupi oleh kompleks troponin-tropomiosin pada filamen aktin-F. Akan tetapi bila ion Ca2+ cukup tersedia, miosin akan terikat pada subunit TnC dari troponin. Konfigurasi spasial dari ketiga subunit troponin berubah dan mendesak molekul tropomiosin lebih ke dalam alur pilinan aktin. Sehingga aktin bebas berinteraksi dengan kepala miosin. 3) Pengikatan ion Ca2+ ke unit TnC sesuai dengan tahap dimana ATP miosin diubah menjadi kompleks yang aktif sebagai akibat penjembatan kepala miosin dengan subunit aktin-G, ATP dipecah menjadi ADP+Pi dan energi dilepaskan. 4) Aktivitas tersebut berakibat deformasi atau pelekukan kepala dan bagian miosin yang mirip batang. Karena aktin berikatan dengan miosin, pergerakan kepala miosin akan menarik aktin melewtai filamen miosin. Hasilnya adalah filamen tipis akan ditarik lebih dalam ke daerah pita A. Selama kntraksi, pita I menyempit sewaktu filamen tipis masuk ke dalam pita A. Pita H menyempit sewaktu filamen tipis melangkahi filamen tebal sepenuhnya. Hasil akhirnya, setiap sarkomer dan seluruh serabut otot memendek.

AKTIVITAS LABORATORIUM

OTOT PADA ANGGOTA BADAN ATAS DAN BAWAH
1. Otot pada Paha Otot pada paha disusun dalam tiga kompartmen yang dipisahkan oleh intermuskular septa.

Gambar : tiga kompartmen otot pada paha yang dipisahkan oleh intermuscular septae.

Gambar : potongan transfersal pada pertengahan paha kiri

1.1.

Kompartmen Anterior Paha

Kompartmen anterior paha berisi Sartorius dan empat otot quadrisep femoris (rectus femoris, vastus lateralis, vastus medialis, dan vastus intermedius). Kesemua otot tersebut disarafi oleh femoral nerve. Untuk tambahan, terminal akhir dari otot psoas major dan iliacus melewati bagian atas dari kompartmen anterior yang keduanya berasal dari dinding posterior abdomen. Kedua otot ini disarafi oleh percabangan langsung dari anterior rami L1 – L3 (psosas major) atau dari femoral nerve (iliacus).
Otot Psoas major Iliacus Vastus medialis Vastus intermedius Vastus lateralis Origin Dinding posterior abdomen Dinding posterior abdomen (iliac fossa) Femur Insersi Lesser trochanter of femur Lesser trochanter of femur Quadrisep femoris tendon dan tepi tengah platela Quadrisep femoris tendon dan tepi tengah platela Quadrisep femoris tendon Innervation Anterior rami [L1, L2, L3] Femoral nerve [L2, L3] Femoral nerve [L2, L3,L4] Femoral nerve [L2, L3,L4] Femoral nerve [L2, L3,L4] Fungsi Fleksi paha pada hip joint. Fleksi paha pada hip joint. Extensi tungkai kaki pada knee joint Extensi tungkai kaki pada knee joint Extensi tungkai kaki pada knee joint

Femur Femur Straight head dari anterior inferior iliac spine, reflected head dari ilium tepat superior terhadap acetabulum Anterior superior iliac spine

Rectus femoris

Quadrisep femoris tendon

Femoral nerve [L2, L3,L4]

Fleksi paha pada hip joint dan extensi tungkai kaki pada knee joint

Sartorius

Permukaan anterior tibia tepat inferomedial terhadap tibial tuberosity

Femoral nerve [L2, L3]

Fleksi paha pada hip joint dan extensi tungkai kaki pada knee joint

1.2.

Kompartmen Medial Paha

Kompartmen medial paha berisi enam otot (gracilis, pectineus, adductor longus, adductor brevis, adductor magnus, dan obturator externus). Semua otot tersebut disarafi oleh obturator nerve, kecuali pectineus yang disarafi oleh femoral nerve, dan bagian dari adductor magnus yang disarafi oleh sciatic nerve.

Otot

Grasilis

Origin Lapisan permukaan external pubis, inferior pubic ramus, ramus dari ischium Pectineal line dan tulang berdekatan dari pelvis

Insersi Permukaan medial dari proksimal tibia Garis oblique dari dasar lesser trochanter ke line aspera pada permukaan posterior proximal femur Linea aspera pada 1/3 tengah dari femur Permukaan posterior dari proximal femur dan 1/3 atas linea aspera Permukaan posterior dari proximal femur, linea aspera, medial supracondylar line Adductor tubercle dan garis supracondilar

Innervasi Obturator nerve [L2,L3]

Fungsi Adduksi paha pada hip joint dan fleksi tungkai kaki pada knee joint

Pectineus

Femoral nerve [L2,L3]

Adduksi dan fleksi paha pada hip joint

Adductor longus

Permukaan external pubis Permukaan external pubis dan inferior pubis ramus Bagian Adductor – ischiopubic ramus Bagian Hamstring – ischial tuberosity

Obturator nerve (divisi anterior) [L2,L3,L4] Obturator nerve [L2,L3] Obturator nerve [L2,L3,L4] Sciatic nerve (divisi tibia) [L2,L3,L4] Obturator nerve (divisi posterior) [L3,L4]

Adduksi dan rotasi medial paha pada hip joint Adduksi paha pada hip joint Adduksi dan rotasi medial paha pada hip joint

Adductor brevis

Adductor magnus

Obturator externus

Permukaan external dari membrane obturator dan tulang berdekatan

Trochanteric fossa

1.3.

Kompartmen Posterior Paha

Kompartmen posterior paha berisi tiga otot besar yang disebut ‘hamstrings’. Ketiga otot tersebut disarafi oleh sciatic nerve.
Otot Origin Long head – bagian inferomedial dari area atas ischial tuberosity; short head – bibir lateral linea aspera Insersi Innervasi Sciatic nerve [L5 – S2] Fungsi Fleksi tungkai kaki pada knee joint; extensi dan rotasi lateral paha pada hip joint dan rotasi lateral tungkai kaki pada knee joint

Biceps femoris

Kepala fibula

Semitendin osus

Bagian inferomedial area atas dari ischial tuberosity

Permukaan medial dari proximal tibia

Sciatic nerve [L5 – S2]

Semimembr anosus

Superolateral impression pada ischial tuberosity

Groove dan tulang pada permukaan medial dan posterior dari medial tibial condyle

Sciatic nerve [L5,S1,S2]

Fleksi tungkai kaki pada knee joint; extensi paha pada hip joint dan rotasi medial paha pada hip joint dan tungkai kaki pada knee joint Fleksi tungkai kaki pada knee joint; extensi paha pada hip joint dan rotasi medial paha pada hip joint dan tungkai kaki pada knee joint

2. Tungkai kaki Tungkai kaki merupakan bagian tubuh bagian bawah antara knee joint dan ankle joint. Terbagi menjadi tiga compartment, yaitu kompartmen posterior (superficial, deep), anterior, dan lateral. Kompartmen posterior dan anterior dipisahkan oleh interosseoud membrane, sedangkan kompatrmen lateral dipisahkan oleh anterior intermuscular septa dengan kompartmen anterior dan posterior intermuscular septa dengan kompartmen posterior.

Gambar : potongan transfersal dari tungkai kaki kiri; 10 cm distal terhadap knee joint

2.1.

Kompartmen Posterior

Otot-otot pada kompartmen posterior (flexor) dari tungkai kaki dibagi kedalam dua kelompok, superficial dan deep, dipisahkan oleh lapisan deep fasia. Pada umumnya, otot berfungsi sebagai plantarflexi dan menelengkupkan kaki dan fleksi jari-jari kaki. Semua dipersarafi oleh tibial nerve. Kelompok Superfisial
Otot Origin Medial head – permukaan posterior dari distal femur; Lateral head – permukaan atas posterolateral dari lateral femoral condyle Bagian inferior dari garis supracondylar lateral dari femur dan ligament oblique popliteal dari lutut Garis soleal dan tepi tengah tibia Insersi Innervasi Fungsi

Gastrocnemius

Via calcaneal tendon sampai permukaan posterior calcaneus

Tibial nerve [S1,S2]

Plantarfleksi kaki dan fleksi lutut

Plantaris

Via calcaneal tendon sampai permukaan posterior calcaneus Via calcaneal tendon sampai permukaan posterior calcaneus

Tibial nerve [S1,S2]

Plantarfleksi kaki dan fleksi lutut

Soleus

Tibial nerve [S1,S2]

Plantarfleksi kaki

Kelompok Deep
Otot Popliteus Origin Permukaan posterior dari proximal tibia Permukaan posterior dari fibula dan membrane interosseous yang berdekatan Sisi tengah permukaan Insersi Lateral femoral condyle Innervasi Tibial nerve [L4 – S1] Fungsi Membuka knee joint (rotasi lateral femur pada tibia)

Flexor hallucis longus

Permukaan plantar phalanx distal dari ibu jari Permukaan plantar dasar

Tibial nerve [S2,S3]

Fleksi ibu jari

Flexor digitorum longus

Tibial nerve [S2,S3]

Fleksi empat jari lateral

posterior dari tibia

phalanges distal dari empat jari lateral Tuberosity navicular dan region berdekatan dari medial cuneiform Inversi dan plantarfleksi kaki; mendukung medial arch kaki selama berjalan

Tibialis posterior

Permukaan posterior membrane intrerosseous dan region berdekatan dari tibia dan fibula

Tibial nerve [L4,L5]

Gambar : Otot tungkai kaki kiri dari aspek medial

2.2.

Kompartmen Lateral

Terdapat 2 otot pada kompartmen lateral tungkai kaki, yaitu fibularis longus dan fibularis brevis. Keduanya berperan dalam eversi kaki dan keduanya dipersarafi oleh superficial fibular nerve, yang merupakan cabang dari fibular nerve.
Otot Origin Permukaan lateral atas fibula, kepala fibula dan lateral tibial condyle 2/3 bawah dari permukaan lateral fibula Insersi Dibawah permukaan sisi lateral ujung distal cuneiform tengah dan dasar metatarsal I Tubercle lateral pada dasar metatarsal V Innervasi Superficial fibular nerve [L5,S1,S2] Superficial fibular nerve [L5,S1,S2] Fungsi Eversi dan plantarfleksi kaki; mendukung arches kaki

Fibularis longus

Fibularis brevis

Eversi kaki

2.3.

Kompartmen Anterior

Terdapat empat otot pada kompatrmen anterior tungkai kaki, yaitu : tibialis anterior, extensor hallucis longus, extensor digitorum longus, dan fibularis tertius. Secara bersama otot-otot tersebut mendorsofleksikan kaki pada ankle joint, extensi ibu jari dan inverse kaki. Semuanya dipersarafi oleh deep fibular nerve, yang merupakan cabang dari fibular nerve.
Otot Origin Permukaan lateral tibia dan membrane interosseous berdekatan ½ tengah permukaan medial fibula dan permukaan berdekatan membrane interosseous ½ proximal permukaan tengah fibula dan permukaan lateral tibial condyle Insersi Permukaan medial dan inferor cuneiform medial dan permukaan berdekatan pada dasar metatarsal I Permukaan dorsal dari dasar distal phalanx dari ibu jari Via dorsal digital meluas ke dalam dasar distal phalanges dan bagian tengahnya dari lateral empat Innervasi Fungsi Dorsofleksi kaki pada ankle joint; inverse kaki; mendukung medial arch pada kaki

Tibialis anterior

Deep fibular nerve [L4,L5]

Extensor hallucis longus

Deep fibular nerve [L5,S1]

Extensi ibu jari dan dorsofleksi kaki

Extensor digitorum longus

Deep fibular nerve [L5,S1]

Extensi empat jari kaki lateral dan dorsofleksi kaki

jari kaki. Bagian distal permukaan tengah fibula Permukaan dorsomedial dari dasar metatarsal I Deep fibular nerve [L5,S1] Dorsofleksi kaki dan eversi kaki

Fibularis tertius

Gambar : Otot pada tungkai kaki kiri dari aspek anterior

3. Otot Lengan

Gambar : potongan transversal lengan kiri 3.1. Kompartmen Anterior
Otot Coracobrachoalis Origin Apex dari coracoids process Insersi Humerus pada sisi medial Innervasi Musculocutaneous nerve [C5,C6,C7] Fungsi Fleksi lengan pada glenohumeral joint Fleksi powerful dari lengan bawah pada elbow joint dan supinator lengan bawah; fleksi accessory lengan pada glenohumeral joint Fleksi powerful lengan bawah pada elbow joint

Biceps brachii

Long Head – supraglenoid tubercle scapula; short head – apex dari coracoids process Aspek anterior humerus (permukaan medial dan lateral) dan intermuscular

Radial tuberosity

Musculocutaneous nerve [C5,C6]

Brachialis

Radial tuberosity

Musculocutaneous nerve [C5,C6]; (kontribusi kecil oleh radial nerve

septae yang berdekatan

[C7] pada bagian otot lateral)

3.2.

Kompartmen Posterior
Otot Origin Long head – infraglenoid tubercle scapula; Medial head – permukaan posterior humerus; Lateral head – permukaan posterior humerus Insersi Innervasi Fungsi Ekstensi lengan bawah pada elbow joint. Long head juga bisa mengekstensikan dan adducksikan lengan pada shoulder joint

Triceps brachii

olekranon

Radial nerve [C6,C7,C8]

4. Otot Lengan Bawah 4.1. Kompartmen Anterior Otot-otot pada kompartmen anterior (flexor) lengan bawah dibagi kedalam 3 bagian, seperfisial, intermediet dan deep. Pada umumnya otot-otot ini berfungsi sebagai : pergerakan pada wrist joint, fleksi jari-jari tangan, dan pronasi. Semua otot ini dipersarafi oleh median nerve, kecuali flexor carpi ulnaris muscle dan ½ medial otot flexor digitorum profundus, yang dipersarafi oleh ulnar nerve. Lapisan Superficial
Otot Origin Humeral head – epicondyle medial dari humerus; Ulnar head – olekranon dan tepi posterior dari ulna Epicondyle medial dari humerus Epicondyle medial dari humerus Humeral head – epicondyle medial Insersi Tulang pisiform, lalu via pisohamate dan pisometacarpal ligaments kedalam hamate dan dasar metacarpal V Palmar aponeurosis dari tangan Dasar metacarpal II dan III Lateral surface radial Innervasi Fungsi

Flexor carpi ulnaris

Ulnar nerve [C7,C8,T1]

Fleksi dan adduksi wrist joint

Palmaris longus Flexor carpi radialis Pronator teres

Median nerve [C7,C8] Median nerve [C6,C7] Median nerve [C6,C7]

Fleksi wrist joint Fleksi dan abduksi pergelangan tangan pronasi

dan supraepincondylar ridge berdekatan; Ulnar head – sisi medial dari coronoid process

Lapisan Intermediate
Otot Origin Insersi Empat tendon, yang menempel pada permukaan palmar dari phalanges tengah dari telinjuk,jari tengah, jari manis, dan kelingking Innervasi Fungsi Fleksi proximal interphalangeal joint dari telinjuk,jari tengah, jari manis, dan kelingking; juga dapat fleksi metacarpophalangeal joint dari jari-jari yang sama dan wrist joint

Fleksor digitorum superficialis

Humero-ulnar head

Median nerve [C8,T1]

Lapisan Deep
Otot Origin Permukaan anterior dan medial ulna dan anterior medial setengah dari membrane interosseous Insersi Empat tendon, yang menempel pada permukaan palmar dari phalanges tengah dari telinjuk,jari tengah, jari manis, dan kelingking Permukaan palmar pada dasar distal phalanx ibu jari Permukaan distal anterior radius Innervasi Fungsi Fleksi DISTAL interphalangeal joint dari telinjuk,jari tengah, jari manis, dan kelingking; juga dapat fleksi metacarpophalangeal joint dari jari-jari yang sama dan wrist joint Fleksi interphalangeal joint ibu jari; bisa juga fleksi metacarpophalangeal joint dari ibu jari Pronasi

Flexor digitorum profundus

Setengah lateral oleh median nerve; setengah medial oleh ulnar nerve [C8,T1]

Flexor pollicis longus

Permukaan anterior radius dan setengah radial memban interosseous Linear ridge distal anterior permukaan ulna

Median nerve [C7,C8]

Pronator quadratus

Median nerve [C7,C8]

Gambar : Permukaan superficial anterior lengan bawah kiri

Gambar : Permukaan deep anterior lengan bawah kiri

4.2.

Kompartmen Posterior

Lapisan Superficial
Otot Origin Bagian proximal dari lateral supraepicondylar ridge humerus dan intermuscular Insersi Permukaan lateral ujung distal dari radius Innervasi Radial nerve [C5,C6] sebelum terbagi menjadi cabang superficial dan deep Fungsi Fleksor aksesori pada elbow joint

Brachioradialis

Extensor carpi radialis longus

septum yang dekat Bagian distal dari lateral supraepicondylar ridge humerus dan intermuscular septum Lateral epicondile humerus dan intermuscular septum

Permukaan dorsal pada dasar metacarpal II

Radial nerve [C6,C7] sebelum terbagi menjadi cabang superficial dan deep Cabang Deep pada radial nerve [C7,C8] sebelum menembus otot supinator

Ekstensi dan abduksi pergelangan tangan Ekstensi dan abduksi pergelangan tangan

Extensor carpi radialis brevis

Permukaan dorsal pada dasar metacarpal II dan III Empat tendon, yang menyisip melalui ‘extensor hoods’ ke dalam aspek dorsal dari dasar middle dan distal phalanges dari telinjuk,jari tengah, jari manis, dan kelingking

Extensor digitorum

Lateral epicondyle humerus dan intermuscular septum dan deep fascia

Posterior interosseous nerve [C7,C8]

Ektensi telunjuk, jari tengah, jari manis, dan kelingking; dapat juga extensi pergelangan tangan

Extensor digiti minimi

Lateral epicondyle humerus dan intermuscular septum bersama dengan extensor digitorum Lateral epicondyle humerus dan tepi posterior ulna Lateral epicondyle humerus

Dorsal hood dari kelingking

Posterior interosseous nerve [C7,C8]

Ekstensi jari kelingking

Extensor carpi ulnaris

Tubercle pada dasar sisi medial metacarpal V Olekranon dan proximal permukaan posterior ulna

Posterior interosseous nerve [C7,C8] Radial nerve [C6 – C8]

Anconeus

Ekstensi dan adduksi pergelangan tangan Abduksi ulna pada pronasi; ekstensor aksesory pada elbow joint

Gambar : permukaan superficial posterior lengan bawah kiri

Lapisan Deep
Otot Origin Bagian superficial – lateral epicondyle humerus, radial collateral dan anular ligament Bagian deep – supinator crest ulna permukaan posterior ulna dan radius; dan intervening membrane interosseous Permukaan posterior radius dan interosseous membran Insersi Innervasi Fungsi

Supinator

Permukaan lateral radius

Posterior interosseous nerve [C6,C7]

Supinasi

Abductor pollicis longus

Sisi lateral pada dasar metacarpal I

Posterior interosseous nerve [C7,C8]

Abduksi carpometacarpal joint ibu jari; extensi aksesory ibu jari Ekstensi metakarpophalageal joint ibu jari; bisa juga ekstensi karpometakarpal joint ibu jari Ekstensi interphalageal joint ibu jari; bisa juga ekstensi karpometakarpal dan metakarpophalageal joint ibu jari Ekstensi jari telunjuk

Ekstensor pollicis brevis

Permukaan dorsal pada dasar proximal phalanx dari ibu jari

Posterior interosseous nerve [C7,C8]

Extensor pollicis longus

Permukaan posterior ulna dan interosseous membran

Permukaan dorsal pada dasar distal phalanx dari ibu jari

Posterior interosseous nerve [C7,C8]

Extensor indicis

Permukaan posterior ulna dan membrane introsseous

Extensor hood pada jari telunjuk

Posterior interosseous nerve [C7,C8]

Gambar : permukaan deep posterior lengan bawah kiri

SENDI (JOINTS)
Joints (Sendi) ialah hubungan antara setiap bagian yang kaku (tulang atau tulang rawan) pada kerangka. Sendi dibedakan menjadi 3 jenis : 1. Sendi Fibrosa, yang tersusun dari jaringan ikat. 2. Sendi Kondral (kartilago), dipersatukan oleh tulang rawan (condrum, kartilago) atau gabungan tulang rawan dan jaringan fibrosa. 3. Sendi Synovia, dipersatukan oleh tulang rawan dan membran synovialis yang melapisi cavitas artikularis. Sendi synovial adalah jenis sendi yang memungkinkan gerak bebas antar tulang-tulang yang berhubungan. Sendi ini merupakan sendi-sendi pada extremitas. Sendi synovial mengandung cairan sinovia yang disebut sinovia, dan dilapisi oleh membran syinovialis. Selaput ini yang berupa jaringan ikat vaskular, yang menghasilkan sinovia. Sendi synovial dibedakan atas dasar tiga sifatnya yaitu : a. Adanya cavitas artikularis b. Ujung tulang yang diliputi oleh kartilago articularis c. Sendi diliputi oleh capsula articularis (simpai fibrotik yang disebelah dalam dilapisi oleh membran synovialis Sendi synovialis umumnya diperkuat oleh ligamentum aksesoris. Sendi synovial digolongkan menurut permukaan yang bersendi atau menurut jenis gerak yang dapat terjadi. Sendi-sendi tersebut antara lain :  Hinge Joints (Sendi Engsel) Memungkinkan hanya gerakan fleksi dan extensi, pergerakannya terjadi pada bidang sagital mengelilingi suatu axis tunggal yang pergerakannya terjadi secara transversal, dengan demikian hinge joints merupakan uniaxial joints (sendi beraxis satu).

Capsula dari joints ini berbentuk tipis atau ramping dan lemah secara anterior dan posterior di tempat terjadinya pergerakan, tetapi tulang-tulangnya dihubungkan dengan kuat,dan collateral ligamennya ditempatkan secara lateral. Contoh : elbow joints  Plane Joints Memungkinkan pergerakan meluncur pada permukaan bidang artikular. Permukaan yang berlawanan pada tulang cendrung datar, dengan pergerakan yang dibatasi oleh capsula sendinya yang padat. Contoh : acromioclavicular joints (yaitu antara akromion dari skapula dan clavikula)  Saddle Joints (Sendi Pelana) Memungkinkan gerakan abduksi dan adduksi juga fleksi dan extensi. Saddle joints merupakan biaxial joints (sendi beraxis dua) yang memberikan pergerakan pada dua bidang yaitu sagital dan frontal. Performance dari gerakan ini memungkinkan susunan sirkular (sirkumduksi). Permukaan artikular yang berlawanan, dibentuk seperti suatu saddle (pelana kuda). Joints pada daerah dasar dari ibu jari merupakan suatu saddle joints.  Condyloid Joints Memungkinkan fleksi-extensi dan abduksi-adduksi, oleh karenanya condyloid joints juga merupakan biaxial. Tetapi, pergerakan pada satu bidang sagital biasanya lebih bebas dibandingkan dengan yang lain. Sirkumduksi pada sendi ini lebih terbatas dibandingkan saddle joints. Contoh : Metacarpophalanges joints (sendi pada ruas jari)  Ball and Socket Joints Memberikan pergerakan pada banyak bagian axis dan bidang seperti fleksi-extensi, abduksi-adduksi, rotasi medial dan lateral, dan sirkumduksi. Dengan demikian ball and socket joints merupakan sendi multi-axial. Pada sendi ini terjadi pergerakan ke segala arah, permukaan spheroidal dari stu tulang bergerak di dalam socket yang lain. Contoh : hip joints (yang mana kepala femur yang bentuknya seperti bola berotasi di dalam socket (rongga) yang dibentuk oleh acetubulum dari hip bone).

 Pivot Joints Memungkinkan rotasi disekeliling pusat axis, oleh karena itu sendi ini merupakan uniaxial. Pada persendian ini prosessus yang berbentuk bulat, berotasi di dalam suatu tabung/cincin. Contoh : centralatlantoaxial joints (yang mana atlas atau vertebra C1 berotasi

mengelilingi suatu prosessus mirip jari, ruang kecil (prosessus odontoid) dari axis vertebra C2 selama berotasi pada kepala.

COLUMNA VERTEBRALIS
Fungsi kolumna vertebralis adalah menopang tubuh manusia dalam posisi tegak, yang secara mekanik sebenarnya melawan pengaruh gaya gravitasi agar tubuh secara seimbang tetap tegak.

Tulang vertebrae terdri dari 33 tulang: 7 buah tulang servikal, 12 buah tulang torakal, 5 buah tulang lumbal, 5 buah tulang sacral. Tulang servikal, torakal dan lumbal masih tetap dibedakan sampai usia berapapun, tetapi tulang sacral dan koksigeus satu sama lain menyatu membentuk dua tulang yaitu tulang sakum dan koksigeus. Diskus intervertebrale merupkan penghubung antara dua korpus vertebrae. Sistem otot ligamentum membentuk jajaran barisan (aligment) tulang belakang dan memungkinkan mobilitas vertebrae. Vertebra servikal, torakal, lumbal bila diperhatikan satu dengan yang lainnya ada perbedaan dalam ukuran dan bentuk, tetapi bila ditinjau lebih lanjut tulang tersebut mempunyai bentuk yang sama. Korpus vertebrae merupakan struktur yang terbesar karena mengingat fungsinya sebagai penyangga berat badan. Prosesus transverses terletak pada ke dua sisi korpus vertebra, merupakan tempat melekatnya otot-otot punggung. Sedikit ke arah atas dan bawah dari prosesus transverses terdapat fasies artikularis vertebrae dengan vertebrae yang lainnya. Arah permukaan facet join mencegah/membatasi gerakan yang berlawanan arah dengan permukaan facet join. Struktur umum Sebuah tulang punggung terdiri atas dua bagian yakni bagian anterior yang terdiri dari badan tulang atau corpus vertebrae, dan bagian posterior yang terdiri dari arcus vertebrae. Arcus vertebrae dibentuk oleh dua "kaki" atau pediculus dan dua lamina, serta didukung oleh penonjolan atau procesus yakni procesus articularis, procesus transversus, dan procesus spinosus. Procesus tersebut membentuk lubang yang disebut foramen vertebrale. Ketika tulang punggung disusun, foramen ini akan membentuk saluran sebagai tempat sumsum tulang

belakang atau medulla spinalis. Di antara dua tulang punggung dapat ditemui celah yang disebut foramen intervertebrale.

Bagian lain dari vertebrae, adalah “lamina” dan “predikel” yang membentuk arkus tulang vertebra, yang berfungsi melindungi foramen spinalis. Prosesus spinosus merupakan bagian posterior dan vertebra yang bila diraba terasa sebagai tonjolan, berfungsi tempat melekatnya otot-otot punggung. Diantara dua buah buah tulang vertebrae terdapat intervertebralis yang berfungsi sebagai bentalan atau “shock absorbers” bila vertebra bergerak

Diskus intervertebralis terdiri dari annulus fibrosus yaitu masa fibroelastik yang membungkus nucleus pulposus, suatu cairan gel kolloid yang mengandung mukopolisakarida. Fungsi mekanik diskus intervertebralis mirip dengan balon yang diisi air yang diletakkan diantara ke dua telapak tangan . Bila suatu tekanan kompresi yang merata bekerja pada vertebrae maka tekanan itu akan disalurkan secara merata ke seluruh diskus intervertebralis. Bila suatu gaya bekerja pada satu sisi yang lain, nucleus polposus akan melawan gaya tersebut secara lebih dominan pada sudut sisi lain yang berlawanan. Keadaan ini terjadi pada berbagai macam gerakan vertebra seperti fleksi, ekstensi, laterofleksi

Diskus intervebralis dikelilingi oleh ligamentum anterior dan ligamnetum posterior. Ligamentum longitudinal anterior berjalan di bagian anterior corpus vertebrae, besar dan kuat, berfungsi sebagai alat pelengkap penguat antara vertebrae yang satu dengan yang lainnya. ligamentum longitudinal posterior berjalan di bagian posterior corpus vertebrae, yang juga turut memebntuk permukaan anterior kanalis spinalis. Ligamentum tersebut melekat sepanjang

kolumna vertebralis, sampai di daerah lumbal yaitu setinggi L 1, secara progresif mengecil, maka ketika mencapai L 5 – sacrum ligamentum tersebut tinggal sebagian lebarnya, yang secara fungsional potensiil mengalami kerusakan. Ligamentum yang mengecil ini secara fisiologis merupakan titik lemah dimana gaya statistik bekerja dan dimana gerakan spinal yang terbesar terjadi, disitulah mudah terjadi cidera kinetik.

LIGAMEN PADA VERTEBRAE
Ligamen adalah jaringan-jaringan lunak yang berserat kuat yang melekatkan dengan kuat tulang-tulang. Ligame yang terdapat pada vertebrae yaitu : 1. Ligamentum Longitudinal anterius Sebuah pita jaringan ikat yang kuat dan menutupi serta menghubungkan bagian ventral corpus dan diskus invertebralis. Ligamentum longitudinal anterior berjalan di bagian anterior corpus vertebrae, besar dan kuat, berfungsi sebagai alat pelengkap penguat antara vertebrae yang satu dengan yang lainnya. 2. Ligamentum Longitudinal posterius Seutas pita yang agak lemah daripada ligamentum longitudinal anterius. ligamentum longitudinal posterior berjalan di bagian posterior corpus vertebrae, yang juga turut membentuk permukaan anterior kanalis spinalis. Ligamentum tersebut melekat sepanjang kolumna vertebralis, sampai di daerah lumbal yaitu setinggi L 1, secara progresif mengecil, maka ketika mencapai L 5 – sacrum ligamentum tersebut tinggal sebagian lebarnya, yang secara fungsional potensiil mengalami kerusakan. Ligamentum yang mengecil ini secara fisiologis merupakan titik lemah dimana gaya statistik bekerja dan dimana gerakan spinal yang terbesar terjadi, disitulah mudah terjadi cidera kinetik. 3. Ligamentum flavum Pita-pita lebar yang lentur yang menghubungkan lamina arcus vertebrae yang berdekatan 4. Ligamentum interspinale Ligamen yang menghubungkan processus spinosus yang berdekatan. Ikatannya lemah. 5. Ligamentum supraspinale Sama dengan ligamentum interspinale (ikatan yang kuat) menyerupai tali. 6. Ligamentum nuchea Melekat pada kranium dan processus spinosus 7. Ligamentum intertransversum Yang menghubungkan processus transversus yang berdekatan Karena proses penuaan pada diskus intervebralis, maka kadar cairan dan elastisitas diskus akan menurun. Keadaan ini mengakibatkan ruang diskus intervebralis makin menyempit, “facet join” makin merapat, kemampuan kerja diskus menjadi makin buruk, annulus menjadi lebih rapuh. Semua ligamen, otot, tulang dan facet join adalah struktur tubuh yang sensitive terhadap rangsangan nyeri, karena struktur persarafan sensoris. Secara singkat punggung bawah merupakan suatu struktur yang kompleks; dimana tulang vertebrae, discus intervertebralis, ligamen dan otot akan akan bekerjasama membuat manusia tegak, memungkinkan terjadinya gerakan dan stabilitas. Vertebrae lumbalis berfungsi menahan

tekanan gaya static dan gaya kinetik (dinamik) yang sangat besar maka dari itu cenderung terkena ruda paksa dan cedera.

JARINGAN SAFRAF

Susunan saraf merupakan bagian tubuh yang paling kompleks, dibentuk oleh lebih dari 100 juta sel saraf (neuron) dan didukung oleh sel glia yang jumlahnya lebih banyak

 

1 neuron memiliki sekurang-kurangnya 1000 hubungan dengan neuron lain Secara anatomi, susunan saraf dibagi menjadi 2, yaitu susunan saraf pusat (otak dan medulla spinalis) dan susunan saraf tepi (12 pasang saraf otak, 31 pasang saraf spinal)

Secara struktural, saraf terdiri dari sel saraf/neuron dan sel glia/neuroglia (memiliki juluran-juluran pendek yang menunjang dan melindungi neuron, dan berperan dalam aktivitas neural, nutrisi, dan proses pertahanan dari sistem saraf pusat)

Sel saraf atau neuron adalah satuan anatomis dan fungsional independent dengan ciri morfologis majemuk. Neuron terdiri atas 3 bagian, yaitu: 1. dendrit, yaitu juluran-juluran panjang untuk stimulus dari lingkungan. Biasanya pendek dan bercabang-cabang seperti pohon. 2. badan sel atau perikarion, yaitu pusat trofik untuk sel saraf dan peka terhadap rangsang. Mengandung inti dan sitoplasma. Memiliki inti bulat, amat besar, eukromatik(pucat) dengan anak inti jelas. Mengandung retikulum endoplasmik kasar, poliribosom,kompleks golgi, mitokondria, neurofilamen, neurofibril. 3. akson, yaitu juluran tunggal untuk menghantarkan impuls saraf ke sel lain, menerima informasidari neuron lain. Bagian distal akson bercabang membentuk cabang-cabang terminal yang nantinya akan membentuk sinaps. Semua akson berasal dari daerah berbentuk piramid yang disebut akson hilok, membran plasma akson dinamakan aksolema dan isisnya aksoplasma.

Berdasarkan ukuran dan bentuk juluran, neuron dapat dimasukan kategori: 1. multipolar, lebih dari 2 juluran, satu akson dan yang lainnya dendrit. 2. bipolar, satu akson dan satu dendrit. 3. pseudounipolar, memiliki satu juluran dekat perikarion yang bercabang.

Berdasarkan peran fungsionalnya: 1. Neuron motoris (eferen) untuk mengendalikan organ efektor seperti serat otot dan kelenjar eksokrin dan endokrin. 2. Neuron sensoris (aferen) terlibat dalam penerimaan stimulus sensoris dari lingkungan dan dalam tubuh. 3. Interneuron, hubungan antar neuron, membentuk sirkuit fungsional kompleks.

Selain neuron, sel-sel glia pun berperan penting dalam menunjang jaringan saraf, yaitu : 1. Oligodendrosit, yang menghasilkan selubung mielin yang membentuk penyekat listrik dari neuron pada susunan saraf pusat. 2. sel schwan, sama seperti oligodendrosit namun terdapat pada sistem saraf tepi. 3. astrosit, bentuknya seperti bintang karena memiliki banyak juluran yang memancar. 4. sel ependim, merupakn sel epitel kolumnar rendah bersilia yang melapisi rongga-rongga pada susunan saraf pusat. 5. mikroglia, sel kecil yang bentuknya memanjang dengan juluran-juluran pendek yang iregular. Merupakan sel fagosit.

Jaringan penyokong pada sistem saraf a. dura mater merupakan lapisan pelindung paling luar dan terdiri atas jaringan ikat padat. Permukaan luar dan dalam dura mater ini ditutupi epitel selapis gepeng yang berasal dari jaringan mesenkim b. arakhnoid lapisan ini mempunyai 2 komponen, yaitu satu lapisan yang melekat pada dura mater dan lapisan lainnya yang membentuk suatu rongga-rongga yang berisi cairan yang berfungsi sebagai bantalan hidrolik yang melindungi sistem saraf pusat dari trauma. Lapisan ini terdiri dari jaringan ikat tipis tanpa pembuluh darah dan ditutupi oleh jaringan epitel selapis gepeng. c. pia mater merupakan jaringan ikat longgar yang banyak mengandung pembuluh darah. Pia mater mengikuti semua lekuk permukaan susunan saraf pusat, dan sedikit menembusnya bersama pembuluh darah. Seel-sel gepeng dari jaringan mesenkim pun ikut menyelubunginya.

Pembagian Nervous System  berdasarkan struktur : a. central nervous system (CNS) terdiri dari otak dan spinal cord, fungsinya adalah untuk memadukan dan mengkoordinasikan sinyal sinyal neuron yang datangdan pergi dan membawa keluar fungsi fungsi mental yang lebih tinggi seperti belajar dan berpikir. Otak dan spinal cord tersusun atas white dan grey matter(grey matter = badan sel saraf, white matter = interconnecting fiber tract system) b. peripheral nervous system (PNS)

PNS terdiri dari serabut saraf dan badan sel yang keluar dari CNS yang menyampaikan impuls ke atau menjauhi PNS. Peripheral nerve terdiri dari sekumpulan nerve fibers, connective tissue dan blood vessel. Tipe – tipe peripheral nerve : 1. cranial nerve 2. spinal nerve foramina : keluar dari cranial cavity melewati foramina cranium : keluar dari kolumna vertebra melewati intervertebra

 berdasar fungsinya : a. somatic : yaitu saraf yang mengontrol gerakan yang bisa kita sadari, atau suatu

gerakan yang kita kontrol pergerakannya. Contohnya adalah otot skeletal b. autonom : yaitu saraf yang mengontrol gerakan yang tidak kita sadari. Contohnya pergerakan otot polos dan otot jantung.

HISTOLOGI JARINGAN SARAF

Nervous Tissue

Neuron Neuroglia

Gambar : struktur neuron

Neuron have three parts :  Badan sel (perikarion) : mengandung nukleus, sitoplasma mengandung lysosom, mitokondria, kompleks golgi, ribosom bebas, badan nissl, sitoskeleton (neurofibril, intermediate, filament memberi bentuk dan support, mkrotubule berperan dalam pergerakan material antara badan sel dan akson)  Dendrit : menerima impuls, pendek, bercabang banyak, lonjong, tree-shaped, sitoplasma menagndung badan nissl, mitokondria, dll  Akson : meneruskan rangsang ke neuron, muscle fiber atau sel kelanjar; panjang, berbentuk silindris, aksoplasma (dikelilingi oleh aksolemma) mengandung mitokondria, microtubul, neurofibril; semua aksin berasal dari daerah berbentuk piramida pendek, yaitu muara akson. Akson memiliki lalu lintas dua arah yang sibuk dari molekul besar dan kecil, aliran anterograd mengangkut organel-organel yang disintesis di badan sel menuju terminal akson, sedangkan aliran retrograd membawa molekul-molekul menuju badan sel. Cabang pada kson disebut terminal akson, dan komunikasi antara 2 neuron disebut sinaps. Klasifikasi neuron berdasarkan ciri morfologinya :  Multipolar : yang memiliki lebih dari dua cabang, yakni satu cabang akson dan cabang lainnya dendrit.  Bipolar : yang hanya memiliki satu dendrit dan satu akson  Pseudounipolar : yang memiliki satu cabang dekat perikarion dan terbagi menjadi dua cabang. Cabang tersebut kemudian membentuk huruf T, dengan satu cabang terjulur ke ujung perifer dan yang lain terjulur ke ssp.

Klasifikasi Neuron berdasarkan fungsi ada 2 :  Affrent (neuron sensorik)  Effernt (neuron motorik)

Neuroglia Sel glia merupakan supporting sel dari neuron. Sel glial dibagi menjadi 2 :  Pada CNS :     Pada PNS : Oligodendrosit Astrocytes Ependimal sel Microglia Schawann Sel : memproduksi myelin : support struktural : lining cavities of CNS : aktifitas makrofag : memproduksi myelin

Gambar : neuroglia pada system saraf pusat

AKTIVITAS LABORATORIUM
Spinal Ganglion

Brachial Plexus

Cervixal Plexus

Lumbar and Sacral Plexus

REFLEKS
Refleks adalah respon otomatis terhadap stimulus tertentu yang menjalar pada rute yang disebut lengkung refleks. Sebagian besar proses tubuh infolunter (mis: denyut jantung, pernapasan, aktivitas pencernaan, dan pengaturan suhu) dan respon otomatis (mis: sentakan akibat stimulus suatu nyeri) merupakan kerja refleks. Lengkung reflek terdiri dari komponen : 1. Respon : sebagai penerima rangsang / stimulus (ujung distal dendrit) 2. Jalur aferen : melalui neuron sensorik sampai ke otak atau medulla spinalis (sumsum tulang belakang) 3. Bagian pusat : sisi sinaps, yang berlangsung dalam substansi abu-abu SSP, impuls dapat di transmisi, diulang rutenya atau dihambat. 4. Jalur eferen : melintasi disepanjang akson neuron motorik sampai ke efektor, yang akan merespon impuls feren sehingga menghasilkan respon yang khas. 5. Efektor : dapat berupa otot rangka, otot jantung, atau otot polos/kelenjar yang merespon. Macam–macam gerak reflek :  Tendon refleks  Flexor refleks  Crossed extensor refleks

Plexus Cervical dan Lumbosakral Plexus adalah jaring-jaring serabut saraf yang terbentuk dari ramus ventral seluruh saraf spinal kecuali T1 dan T11 yang merupakan awal saraf inter kostal. 1. Plexus Cervical Pelxus cervical terbentuk dari ramus ventral keempat saraf servik pertama C1-C4 dan sebagian C5. Saraf ini menginerfasi otot leher, kulit kepala, leher serta dada. Saraf terpenting yang berawal pada plexus ini adalah saraf phrenic yang menginervasi diafragma. 2. Pelxus lumbar Plexus lumbar terbentuk dari ramus saraf lumbar L1-L4 atau anyaman saraf yang dibentuk oleh rami anteriores nervorum lumbaliorum L1-L4. Saraf dari plexus ini menginervasi kulit dan otot dinding abdomen, paha, dan genitalia ekternal. Saraf terbesar adalah saraf femoral yang mensuplai otot fleksor paha dan kulit pada paha anterior, region pinggul, dan tungkai bawah.  Truncus lumbosacralis (L4-L5) Saraf yang melewati ala sacralis dan menurun ke dalam pelvis untuk membentuk plexus sacralis bersama dengan ramus anteriores nervorum sacraliorum 1-4.

Susunan saraf tepi Komponen utama dari saraf tepi adalah saraf ganglion dan ujung saraf. Saraf adalah berkas serabut saraf yang dikelilingi selubung jaringan ikat. Serabut saraf Terdiri atas akson yang dibungkus selubung kgusus yang berasal dari sel ektodermal. Gabungan serabut saraf membentuk traktus - traktus ( jaras ) saraf diotak, medula spinalis, dan saraf tepi.  Satu/ lebih lipatan dari selpenyelubung menutupi sebagian besar akson dijaringan saraf dewasa.  Pada serabut saraf tepi, sel penyelubung adalah sel schwan dan padaserabut saraf pusatadalah oligodendrosit. 1. Serabut saraf tak bermielin Akson berdiameter kecil 2. Serabut saraf bermielin Akson yang lebih tebal yang diselubungi lebih banyak lapisan konsentris sel penyelubung yang akan membentuk selubung mielin.

Ganglion/ ganglia Struktur lonjong yang mengandung badan sel neuron dan sel glia yang di tunjang oleh jaringan ikat.  Ganglion bekerja sebagai statsiun rilay untuk menghantarkan impuls saraf, satu saraf masuk dan satu saraf yang lainya keluar dari setiap ganglion.  Arah impuls saraf menentukan satu ganglion menjadi ganglion sensorik dan autonom. Ganglion sensorik Menerima impuls aferen yang menuju sistem saraf pusat. Ada 2 jenis ganglion sensorik : 1. Ganglion kramalis Ganglion yang berhubungan dengan saraf kranial. 2. Ganglion spinalis Ganglion yang berhubungan dengan radiks dorsal dari saraf spinal. Memiliki badan sel neuron yang besar. Dengan badan nissal halus yang dikelilingi banyak sel glia kecil (sel satelit).

Ganglion autonom Tampak sebagai pelebaran bulat pada saraf autonom ganglion ini tidak memiliki simpai jaringan ikat dan sel-selnya ditopang oleh stroma. Ganglion autonom memiliki neuron multipolar.

Sinaps Sinaps adalah tempat terjadinya kontak fungsional antar neuron atau antar neuron dan sel efektor lainya (mis: sel otot dan sel kelenjar). Sinaps juga bertanggung jawab untuk transmisi satu arah dari impuls safar. Fungsi sinaps adalah untuk mengubah suatu sinyal listrik (impuls) dari sel parasinaptik menjadi sel kimia yang berkerja pada sel pascasinaptik.

IMPULS SARAF

Potensial Istirahat Membran Saraf Potensial merman istirahat pada serabut saraf besar ketika tidak mentransmisikan sinyal saraf adalah sekitar -90 milivolt. Artinya, potensial di dalam serabut saraf adalah 90 milivolt lebih negative dari pada potensial di cairan ekstrasel di luar serabut. Membran sel tubuh mempunyai Na+ - K+ yang sangat kuat dan secara terus menerus memompa ion natrium keluar dari serabut dan ion kalium ke dalam. Selanjutnya, bahwa ini adalah pompa elektrogenik sebab lebih banyak muatan positif yang dipompa keluar dari pada ke dalam (3 ion Na+ ke luar dan 2 ion K+ ke dalam), yang meninggalkan deficit ion positif di dalam; hal ini menyebabkan potensial negative di dalam membrane sel. Potensial Aksi Saraf Sinyal saraf dihantarkan oleh potensial aksi, yang merupakan perubahan cepat pada potensial membrane yang menyebar secara cepat di sepanjang membrane serabut saraf. Setiap potensial aksi dimulai dengan perubahan mendadak dari potensial membrane negative istirahat normal menjadi potensial positif dan kemudian berakhir dengan kecepatan yang hampir sama dan kembali ke potensial negative. Untuk menghantarkan sinyal saraf, potensial aksi bergerak di sepanjang serabut saraf sampai tiba di ujung serabut. Urutan tahap potensial aksi adalah sebagai berikut : Tahap Istirahat. Ini adalah potensial membrane istirahat sebelum terjadinya potensial aksi. Membran dikatakan menjadi “terpolarisasi” selama tahap ini karena adanya potensial membrane negative sebesar -90 milivolt. Tahap Depolarisasi. Pada saat ini, membrane tiba-tiba menjadi sangat permeable terhadap ion natrium, sehingga sejumlah besar ion natrium bermuatan positif berdifusi ke dalam akson. Keadaan “terpolarisasi” normal sebesar – 90 milivolt segera dinetralisasi oleh ion natrium bermuatan positif yang mengalir masuk, dan potensial meningkat dengan cepat kea rah positif. Keadaan ini disebut depolarisasi. Pada serabut saraf besar, sejumlah besar ion natrium bermuatan positif yang bergerak ke dalam menyebabkan potensial membrane secara nyata “melampaui” nilai nol dan menjadi sedikit positif. Pada beberapa serabut yang lebih kecil, dan pada banyak neuron system saraf pusat, potensial hanya mendekati nilai nol dan tidak melampaui sampai keadaan positif. Tahap Repolarisasi. Dalam waktu seperbeberapa puluh ribu detik sesudah membrane menjadi sangat permeable terhadap ion natrium, kanal natrium melai tertutup dank anal kalium terbuka

lebih dari biasanya. Selanjutnya, difusi ion kalium yang berlangsung secara cepat ke bagian luar akan membentuk kembali potensial membrane istirahat negative yang normal. Peristiwa ini disebut repolarisasi membrane.

Penyebaran Potensial Aksi Potensial aksi yang terjadi pada salah satu titik manapun di membrane yang mudah terangsang biasanya akan mengeksitasi bagian membrane yang berada di dekat titik tersebut, sehingga terjadi penyebaran potensial aksi di sepanjang membrane. Serabut saraf yang tereksitasi di bagian tengah, misalnya, sehingga pada bagian tengah terjadi kenaikan mendadak permeabilitas terhadap natrium. “sirkuit” local aliran listrik dari daeran membrane yeng terdepolarisasi merambat ke daerah membrane istirahat di dekatnya. Dengan kata lain, muatan positif dibawa oleh ion natrium yang berdifusi – ke dalam melewati membrane yang terdepolarisasi dan selanjutnya beberapa millimeter pada ke dua arah di sepanjang inti akson. Muatan positif ini meningkatkan voltase di dalam serabut besar bermielin sampai berjarak 1 sampai 3 milimeter hingga di atas nilai ambang voltase untuk memulai potensial aksi. Karena itu, kanal natrium di tempat yang baru ini segera terbuka, dan potensial aksi meletup menjadi tersebar. Daerah depolarisasi yang baru ini menghasilkan sirkuit local aliran listrik lebih lanjut di sepanjang membrane, dan menimbulkan depolarisasi yang progresif. Jadi proses depolarisasi terjadi sepanjang keseluruhan panjang serabut. Transmisi proses depolarisasi sepanjang serabut otot atau saraf disebut impuls saraf atau impuls otot.

PATOMEKANISME

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful