herfis.blogspot.

com






BAHAN AJAR
MATERI FLUIDA





Oleh
Herman






Jurusan Fisika FMIPA
Universitas Negeri Makassar
2011

herfis.blogspot.com

A. STATIKA FLUIDA
1. Tekanan Fluida
Fluida adalah zat yang dapat mengalir baik berupa cairan maupun berupa gas.
Sedangkan statika fluida adalah fluida dalam keadaan diam.
Tekanan didefenisikan sebagai gaya persatuan luas
= =
A
F
P (gaya normal/ satuan luas)
A adalah elemen luas pada permukaan tertutup.
Gaya oleh fluida pada elemen luas adalah :
A p F

A = , dimana F searah dengan A

A .
dA
dF
A
F
p
A
F
p
A
=
A
A
=
A
A
=
÷0
lim

p adalah besaran skalar.
2. Tekanan dalam zat cair
Pandang suatu elemen volume di dalam fluida yang
terletak pada jarak y dari permukaan. Gaya
horisontal, resultan gaya oleh tekanan fluida di
sekitar elemen = 0.
Gaya vertikal terdiri dari tekanan fluida dan berat
elemen fluida. Dalam keadaan diam 0 =
¿
F
P dx dz + µg dx dy dz = (p + dp) dx dz.
dp = µg dy
g
dy
dp
µ =
Jika tekanan pada permukaan adalah p
o
dimana
y = 0, maka :
p - p
o
= µgy p = p
o
+ µgy
AA
y
dy
dz
dx
p
a

dy
dz
dx
p + dp
herfis.blogspot.com

3. Tekanan Udara
Anggaplah bahwa kerapatan sebanding dengan tekanan :
0
0
0
0
0
0
0
0 0 0
ln ln
p
gy
p p
y p
g
p p
dy
p
g
p
dp
p
p
p
p
µ µ
µ
µ
µ
÷
= ÷ = ÷
=
= =

dimana, p
o
= tekanan udara pada permukaan
p = Tekanan udara pada ketinggian y
4. Mengukur Tekanan
a. Mengukur dengan Manometer
Manometer adalah alat yang digunakan untuk
mengukur tekanan gas pada ruang tertutup.
Dalam keadaan setimbang, tekanan di titik A =
tekanan di titik B
p = p
o
+ µ gy

b. Barometer
Barometer adalah alat yang digunakan untuk
mengukur tekanan gas pada ruang terbuka.
Dalam keadaan setimbang :
p
o
+ µ gy
1
= µ gy
2

p
o
= µ gy




5. Hukum Pascal dan hukum Archimedes
p
gas
P
o
B
A

y

p
o

p
o

y
y
1

y
2

A B
herfis.blogspot.com

a. Hukum Pascal
Tekanan yang dilakukan pada zat cair yang
tertutup, diteruskan ke setiap bagian zat cair dan
dinding-dinding tempat zat cair sama besar.
p
1
= p
2

2
2
1
1
A
F
A
F
=
b. Hukum Archimedes
Gaya pada bidang atas :
F
1
= (p
o
+ µgy
1
) A
Gaya pada bidang bawah :
F
2
= (p
o
+ µgy
2
) A
Gaya tekan ke atas :
F
A
= F
2
– F
1

= p
o
A + µgy
2
A – p
o
A - µgy
1
A
= gy
2
A - µgy
1
A
= µgA (y
2
– y
1
)
= µgyA
= µ gV
F
A
> W : Benda akan mengapung
F
A
< W : Benda akan tenggelam
F
A
= W : Benda akan melayang
Dalam keadaan terapung F’
A
= W , dimana W = µg V’
F’
A
= µg V’
V’ adalah bagian benda yang masuk dalam zat cair.



6. Tegangan Permukaan
F
2
A
2
F
1
A
1
y
A
F
2

F
1

y
1

y
2

herfis.blogspot.com

a. Pengertian Tegangan Permukaan
Berdasarkan defenisi :
l
F
= ¸
= Gaya tegangan persatuan panjang.
l
F
2
= ¸
y l
y F
2
= ¸
dimana y adalah pergeseran kawat oleh gaya F
Kerja yang dilakukan untuk menambah luas permukaan sebesar satu satuan
luas.
b. Selisih tekanan pada gelembung udara
Gaya oleh selaput permukaan :
F
1
= 2tr
1
¸ + 2tr
2
¸ ;r
1
= r
2
= R
= 4tR¸

Gaya oleh selisih tekanan
F
2
= (pd – pl) tR
2

R
2
adalah luas proyeksi belahan gelembung.
F
1
= F
2
pd – pl =
R
¸ 4

c. Selisih tekanan pada gelembung cairan.
Karena tetes zat cair hanya mempunyai satu selaput permukaan, maka :
pd – pl =
R
¸ 2





7. Kapilaritas
¸ ¸ ¸ ¸ ¸ ¸
l
F
y
p
d
-
p
l
F
2
F
1
herfis.blogspot.com

a. Sudut Kontak
Lengkungan permukaan zat cair dekat dinding.






Sudut u disebut sudut kontak
Jika u < 90
o
, permukaan melengkung ke atas
u > 90
o
, permukaan melengkung ke bawah
u = 90
o
, permukaan rata
b. Kenaikan zat cair dalam pipa kapiler
F cos u = W
F = 2tr¸
W = µgtr
2
h
gr
h
µ
u ¸ cos 2
=



y
pu
y
pu
y
pu
y
cu
y
cu
y
pc
y
pc
y
pc
A

A

A

u

u
u

F cos u
F F
h
u
W

herfis.blogspot.com

B. DINAMIKA FLUIDA
1. Aliran Fluida
a. Aliran Tunak dan Tak Tunak
Suatu aliran dikatakan bersifat tunak jika :
a. Kecepatan tiap-tiap partikel fluida pada
suatu titik tertentu adalah tetap.
b. Partikel-partikel fluida melalui suatu
lintasan (garis arus) tertentu.
Lintasan yang dibentuk oleh partikel fluida yang bergerak disebut garis arus
(streamline), lihat gambar 1.
Kecepatan tiap partikel di titik P adalah
1
V

, dan di titik Q adalah
2
V

, dimana
1
V

tidak sama dengan
2
V

. Jadi pada aliran tunak kecepatan tidak bergantung
pada waktu, tetapi bergantung pada tempat. Jadi ( ) r V

.
Sedangkan pada aliran tak tunak ( ) t r V ,

. Jika ( ) t r V ,

maka aliran itu adalah
aliran turbulen.
b. Aliran Kental dan Tak Kental.
Suatu aliran dikatakan tak kental apabila partikel-
partikel yang berada pada penampang lintang yang
sama, mempunyai kecepatan yang sama.
Jadi :
3 2 1
V V V
  
= =
Jika
3 2 1
V V V
  
= = , maka alirannya disebut aliran
kental atau aliran viskos.
c. Aliran Kompresibel dan Tak Kompresibel.
Jika rapat massa suatu fluida mempunyai harga yang berbeda-beda di
berbagai tempat, maka alirannya disebut aliran kompresibel, dan jika rapat
1
v


2
v


Q P
Streamline

Gambar 1
1
2
3
4
Gambar 2
herfis.blogspot.com

massa suatu fluida yang mengalir tidak berubah-ubah besarnya, alirannya
disebut aliran tak kompresibel.
2. Persamaan Kontinuitas dan Persamaan Bernoulli.
a. Persamaan Kontinuitas
Besar kecepatan pada penampang P adalah V
1

dan pada penampang Q adalah V
2
. Serta luas
penampannya masing-masing adalah A
1
dan A
2
.
lihat gambar 3.
Dalam selang waktu t suatu elemen bergerak
sejauh V(t).
Massa elemen fluida m yang melalui penampang P adalah :
Am
1
= µ
1
A
1
V
1
t
Begitu pula yang melalui penampang Q adalah :
Am
2
= µ
2
A
2
V
2

Fluks massa pada penampang P dan Q adalah :
1 1 1
1
V A
t
m
µ =
A
A
dan
2 2 2
2
V A
t
m
µ =
A
A

Jika t ÷ 0, maka
1 1 1
1
V A
dt
dm
µ = dan
21 2 2
2
V A
dt
dm
µ = untuk aliran tunak dan
jika ada penambahan atau pengurangan fluida sepanjang aliran, maka fluks
massa pada tiap-tiap penampang adalah sama besarnya.
Jadi : 1 A
1
V
1
= 2A
2
V
2
atau VA = konstan (i)
Persamaan (i) disebut persamaan Kontinuitas.
Jika alirannya tidak kompresibel, jadi V
1
= V
2
maka :
µ
1
A
1
V
1
= µ
2
A
2
V
2

atau µAV = konstan (ii)
Hasil kali AV ini disebut fluks volume, dan biasanya diberi simbol Q. jadi ;
Q = AV (iii)
Q ini biasa juga disebut debit.

P
Q
V
1
V
2
A
2
A
1
herfis.blogspot.com

b. Persamaan Bernoulli
Di tempat (1) kecepatan aliran V
1
, tekanannya
P
1
, luas penampang A
1
, dan ketinggiannya h
2
.
Di tempat (2) kecepatan aliran V
2
, tekanannya
P
2
, luas penampang A
2
, dan ketinggiannya h
2
.
(lihat gambar 4). Besaran-besaran ini berubah-
ubah harganya bergantung pada penampang
lintang empat besaran ini berada.
Gambar 4
Jika elemen fluida bergerak dari tempat (1) ke tempat (2), maka kerja total
yang dilakukan pada elemen fluida ini adalah jumlahnya sama dengan jumlah
kerja yang dilakukan oleh gaya di bidang kiri (kerja positif) dan kerja yang
dilakukan oleh gaya di bidang kanan (kerja negatif).
Kalau di tiap penampang lintang luasnya dinyatakan dengan A dan tekanan
dengan P maka gaya di tiap penampang itu adalah PA.
Jadi kerja positif yang dilakukan pada elemen fluida adalah :
} } }
+ =
C
b
b
a
C
a
dS pA dS pA dS pA ,
Sedangkan kerja negatif adalah :
} } }
÷ ÷ = ÷
d
c
c
b
d
b
dS pA dS pA dS pA
dimana dS adalah elemen jarak sepanjang pipa.
Kerja total :
} }
} } } }
÷ =
÷ ÷ + =
d
c
b
a
d
c
c
b
c
b
b
a
dS pA dS pA
dS pA dS pA dS pA dS pA

Jika s
1
dan s
2
diambil cukup kecil sehingga pada jarak tersebut baik tekanan
maupun luas dapat dipandang konstan, maka :
V
2
V
1
p
1
A
1 h
1
a

b

P
2
A
2
H
2
P
2
s
2
S
1
c

d

Arah aliran

herfis.blogspot.com

2 2 2 1 1 1
s A p s A p dS pA dS pA
d
c
b
a
÷ = ÷
} }

Karena A
1
As
1
= A
2
As
2
= V (Volume elemen) maka kerja total adalah :
p
1
A
1
As
1
– p
2
A
2
As
2
= p
1
V – p
2
V
= V (p
1
– p
2
)
Kalau rapat massa = µ dan massa elemen = m, maka kerja total :
V (p
1
– p
2
) = ( )
2 1
p p
m
÷
µ
(iv)
Jika tidak ada gaya gesekan, jadi alirannya tak kental, maka kerja total akan
menjadi tambahan energi mekanik total pada elemen fluida.
Tambahan energi mekanik total ini adalah jumlah perubahan energi kinetik
dan energi potensial yaitu :
|
.
|

\
|
+ ÷
|
.
|

\
|
+
1
2
1 2
2
2
2
1
2
1
mgh mV mgh mV
Dari persamaan (iv) dapat ditulis :
( )
2
2
2 2 1
2
1 1
1
2
1 2
2
2 2 1
1
2
1 2
2
2 2 1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
2
1
gh V p gh V p
atau gh V gh V p p
mgh mV mgh mV p p
m
µ µ µ µ
µ µ µ µ
µ
+ + = + +
+ ÷ + = ÷
|
.
|

\
|
+ ÷
|
.
|

\
|
+ = ÷

= + + gh V p µ µ
2
2
1
konstan (v)
Persamaan ini adalah persamaan Bernoulli.



herfis.blogspot.com

3. Beberapa pemakaian persamaan Bernoulli dan Persamaan Kontinuitas.
a. Teorema Torricelli
Gambar 5 menunjukkan suatu tangki besar
berisi zat cair ideal yang memenuhi persamaan
Bernoulli. Pada dinding tangki terdapat lubang
kecil (bocor). Besarnya kecepatan cairan yang
keluar melalui lubang kecil itu dapat dihitung
dengan persamaan Bernoulli.
p
1
+ ½ µ
1
V
1
2
+ µgh
1
= p
2
+ ½ µ
2
V
2
2
+ µgh
2

p
1
= p
2
= 0
V
1
= 0 (Luas penampang besar sekali)
Jadi : p
o
+ µgh
1
= p
o
+ ½ µV
2
2
+ µgh
2

gh
1
= ½ µV
2
2
+ µgh
2

2 gh
1
– 2 gh
2
= V
2
2
h
1
– h
2
= h
gh V 2
2
= (vi)
b. Alat ukur Venturi
Alat ukur Venturi ( Venturimeter) digunakan untuk mengukur laju aliran
cairan. Alat ini dilengkapi dengan pipa U yang berisi zat cair lain misalnya air
raksa.
Pada tempat (1) dan tempat (2) yaitu pada
pipa dengan luas penampang besar dan kecil,
digunakan persamaan kuntinuitas dan
diperoleh :
A
1
V
1
= A
2
V
2
atau
V
2
= A
1
/A
2
. V
1

Dari persamaan Bernoulli (persamaan v) diperoleh :
p
1
+ ½ µV
1
2
+ µgh
1
= p
2
+ ½ µV
2
2
+ µgh
2

h
1
= h
2
= 0, diukur dari dasar pipa, maka :
1
h
1
h

h
2
2
Gambar 5
y
A
2
A
1
V
1
V
2
y - h
b
a

herfis.blogspot.com

p
1
– p
2
= ½ µV
2
2
– ½ µV
1
2
dengan menggunakan persamaan (vii) akan
diperoleh :
|
|
.
|

\
| ÷
= ÷
2
2
2
2
2
1 2
1 2 1
2
1
A
A A
V p p µ (viii)
Perhatikan tekanan hidrostatika dalam pipa U
( )
( ) µ µ
µ µ µ
÷ = ÷
+ ÷ + = +
=
'
'
2 1
2 1 1
gh p p
gh h y g p gy p
p p
b a

Dari persamaan (viii) dan (ix) diperoleh :
( )
( )
( )
( )
( )
2
2
2
1
2 1
2
2
2
1
2
2 2
1
2
2
2
2
2
1 2
1
' 2
' 2
'
2
1
A A
gh
A V
A A
A gh
V
gh
A
A A
V
÷
÷
=
÷
÷
=
÷ =
|
|
.
|

\
| ÷
µ µ
µ µ
µ µ µ

c. Tabung Pitot
Tabung Pitot digunakan untuk mengukur laju
aliran gas. Jika pada titik 1 dan 2 digunakan
persamaan Bernoulli, maka :
2
2
2 2 1
2
1 1
2
1
2
1
gh V p gh V p µ µ µ µ + + = + +
Karena h
1
= h
2
= 0 (diukur dari poros tabung
dan V
2
= 0), maka :
p
2
= p
1
+ ½ µV
1
2
(xi)
Pada pipa U, p
a
= p
b

p
1
+ µ’gh = p
2
(xii)
Dari persamaan (xi) dan persamaan (xii) diperoleh :
µ
µ gh
V
' 2
2
1
= , karena V
1
diganti dengan V, maka :
µ
µ gh
V
' 2
= (xiii)
1
2
h
a b
Gambar 7
herfis.blogspot.com

d. Daya angkat pesawat terbang
Penampang sayap pesawat mempunyai
bagian belakang yang tajam dan sisi atas
lebih melengkung dari sisi bawah. Bentuk
ini membuat kecepatan aliran melalui
muka bawah. Pada gambar 3 kelihatan
garis-garis arus di sebelah atas lebih rapat
daripada di sebelah bawah.
Ketinggian pada bagian atas dianggap ketinggian di bagian bawah (sayap
tipis). Dengan menggunakan persamaan Bernoulli :
(p + ½ V
2
+ gh)
atas
= (p + ½ V
2
+ gh)
bawah

p
atas
+ ½ V
2
atas
= p
bawah
+ ½ V
2
bawah

karena V
atas
= V
bawah
, maka :
p
bawah
= p
atas
. Dengan demikian pesawat akan terangkat.
4. Aliran Kental
a. Kekentalan
Kekentalan atau viskositas biasanya diasosiasikan dengan gesekan, bagian
gesekan antara lapisan yang satu dengan lapisan yang lain dalam fluida, maupun
antara fluida dengan dinding wadahnya. Alat yang digunakan untuk mengukur
kekentalan suatu zat cair adalah viskosimeter. Prinsip kerjanya dapat dilihat pada
gambar 9.
Dalam ruang silinder konsentris A dan B
dimasukkan cairan yang akan diukur
kekentalannya. Silinder B dililiti tali melalui suatu
katrol dan pada ujung yang lainnya digantungkan
beban m (gambar 9). Jika beban dilepaskan,
silinder B berputar dan beban turun dipercepat.
Akibat adanya gesekan antara silinder dalam
Gambar 8
A
B
cairan
m
-
herfis.blogspot.com

dengan zat cair, akhirnya beban turun dengan
kecepatan tetap yang merupakan ukuran viskositas
cairan.
Bagian kecil dalam rongga antara kedua silinder ditunjukkan pada gambar 10.





Cairan yang berbatasan dengan dinding, kecepatannya sama dengan kecepatan
dindingnya. Yang berbatasan dengan dinding luar V = 0, dan yang berbatasan
dengan dinding dalam, kecepatannya sama dengan kecepatan dinding tersebut
(V).
Jadi kecepatan cairan dari 0 sampai V (ditunjukkan dengan anak panah pada
gambar 10). Aliran semacam ini disebut aliran laminer, yaitu aliran yang
terdiri dari berbagai lapisan-lapisan tipis. Dalam keadaan diam, cairan kental
dinyatakan oleh segiempat abcd. Sesaat setelah dinding dalam digerakkan
cairan abcd berubah menjadi abc’d’. Perubahan bentuk ini berjalan terus
karena bagian cairan yang menempel pada dinding dalam bergerak bersama
dinding tersebut. Jadi cairan mendapat regangan geser.
Untuk mempertahankan gerak ini, pada bagian dinding dalam harus ada gaya
F yang menyeret dinding, dinding menyeret lapisan diluarnya dan seterusnya.
Supaya dinding luar tetap diam maka harus ada pula gaya F dalam arah yang
berlawanan.
Jika A menyatakan luas permukaan cairan padamana gaya bekerja, maka F/A
adalah tegangan geser yang bekerja pada zat cair. Akibat adanya tegangan
geser terjadi regangan geser dd’/y. Hal ini terjadi jika zat itu adalah zat padat.
Dari hasil percobaan ternyata tegangan geser ini tidak bergantung pada
regangan geser, melainkan bergantung laju regangan geser.
y
F
a b
d d’ c c’
Silinder luar (A)
Silinder dal;am
herfis.blogspot.com

Oleh karena laju regangan geser =
y
dd perubahan cepat '
dan cepat perubahan
dd’V tidak lain adalah kecepatan di titik d’ atau kecepatan V dari dinding yang
bergerak itu. Jadi regangan geser = V/y
y
V
A F
atau
y
V
A
F
y
V
A
F
· =
=
q
q ~
(xiv)
disebut koefisien kekentalan, satuannya Ns/m
2
dimana 1 dyne/cm
2
sama
dengan 1 poise.
b. Aliran Laminer dan Aliran Turbulen







Pada aliran tak kental, kecepatan partikel di setiap titik pada penampang
lintang tertentu sama besarnya, sehingga ujung-ujung panah terletak pada satu
bidang datar (gambar 11a). Aliran fluida seperti ini disebut profil kecepatan
datar.
Jika zat cair kental dan alirannya tidak terlalu cepat, aliran akan bersifat
laminer, dan profil kecepatannya ditunjukkan pada gambar 11b. Kecepatan
maksimum berada sumbu pipa, dan makin dekat pada dinding harganya makin
kecil hingga lapisan yang menempel pada dinding berada dalam keadaan
diam.
Jika kecepatan fluida melebihi harga tertentu, maka dalam aliran terjadi
pusaran-pusaran. Aliran seperti ini mendapat hambatan lebih besar dan
a
b
c
Gambar 11
herfis.blogspot.com

mempunyai profil kecepatan seperti pada gambar 11c. Alirannya disebut
turbulen.
c. Bilangan Reynolds
Untuk menentukan apakah cairan kental yang mengalir dalam suatu pipa
bersifat laminer atau turbulen digunakan empat faktor (besaran) yang
diperoleh berdasarkan eksperimen. Kombinasi dari ke empat faktor ini disebut
bilangan Reynolds (N
R
) dan didefenisikan sebagai :
q
µvD
N
R
= (xv)
dimana : µ = rapat massa v = kecepatan rata-rata
D = diameter pipa q = viskositas
Bilangan Reynolds ini tak berdimensi dan harganya tak bergantung pada
sistem satuan yang dipakai. Dari percobaan diperoleh bahwa :
Bilangan Reynolds antara 0 – 2000 aliran bersifat laminer
antara 2000 – 3000 aliran bersifat turbulen
Untuk aliran air dalam pipa dengan diameter 1 cm pada suhu 20
0
C N
R
~ 2000
V ~ 20 cm/s
Aliran bersifat laminer, dan di atas 30 m/s aliran menjadi turbulen. Untuk
udara dalam pipa yang sama dengan kecepatan 20 m/s , N
R
= 216 alirannya
laminer. Aliran akan bersifat turbulen jika kecepatannya lebih besar dari 420
cm/s.
5. Hukum Poseuille
Hukum ini menyatakan besarnya debit suatu fluida kental yang mengalir dalam
tabung pipa.
Gambar 13 memperlihatkan suatu tabung (pipa) yang jari-jarinya = R dan
panjangnya = L, di dalamnya mengalir fluida kental yang viskositasnya.


herfis.blogspot.com

Pandang silinder kecil berjari-jari r. Jika
aliran dalam silinder kecepatannya tetap
dan tekanan pada ujung-ujungnya adalah
p
1
dan p
2
, maka gaya penggerak adalah
(p
1
– p
2
)r
2
sama dengan gaya gesekan
pada dindingnya.

Oleh karena gaya gesekan ini besarnya adalah :
F = -2qrL dv/dr, maka :
( )
( )
( )
( ) ( )
L
r p p
L
R p p
v
dr
L
r p p
dr
dr
L
r p p
dv
r p p
dr
dv
rL
R
r
o
v
4 4
2
2
2
2
2 1
2
2 1
2 1
2 1
2
2 1
÷
+
÷
÷ = ÷
÷
÷ =
÷
=
÷ = ÷
} }
q
t q


( )
( )
2 2 2 1
4
r R
L
p p
v ÷
÷
=
q
(xvi)
Untuk memperoleh debit Q perhatikan elemen berupa lapisan tipis pada jarak r
setebal dr. Untuk lapisan ini dQ = V dA dimana dA = 2 r dr.
Dari persamaan (xvi) diperoleh :
( )
( )
( )
( )
( )
|
|
.
|

\
|
÷
÷
=
÷
÷
= =
÷
÷
= =
} }
2 2 2
2
4
. 2
4
4 4
2 1
0
2 2 2 1
0
2 2 2 1
r R
L
p p
Q
dr r r R
L
p p
dQ
dr r r R
L
p p
dA V dQ
R R
q
t
t
q
t
q

( )
2 1
4
8
p p
L
R
Q ÷ =
q
t
(xvii)
P
1
P
2
R

r

a

b

dr

herfis.blogspot.com

Persamaan ini disebut hukum Poiseuille
6. Hukum Stokes
Kalau suatu benda (bola) bergerak dalam fluida kental
yang diam atau aliran fluida kental yang melewati suatu
bola, maka bola itu akan mendapat gaya gesekan.
Besarnya gaya gesekan ini dikemukakan oleh Sir
George Stokes :
F = 6tqrv (xviii)
Persamaan ini disebut hukum Stokes, dimana :
F = gaya gesekan
q = viskositas
v = kecepatan relatif bola terhadap cairan
r = jari-jari bola
Gambar di atas memperlihatkan sebuah bola pejal dengan rapat massa µ dan
jari-jarinya r dilepas di permukaan cairan kental yang diam dengan rapat massa
µ
o
.
Pada bola bekerja 3 macam gaya yaitu : gaya berat (W) dan gaya gesekan F
s
dan
gaya Archimedes F
A
. Persamaan gerak bola adalah :
W – F
A
– F
s
= ma
Kecepatan makin berkurang sehingga mencapai suatu kecepatan tetap
(kecepatan terminal) atau kecepatan akhir. Dalam keadaan ini persamaan gerak
menjadi :
W – F
A
– F
s
= 0

( )
o akhir
g
r
V µ µ ÷ =
2
9
2
(xix)


F
s
F
A
W

herfis.blogspot.com

DAFTAR PUSTAKA
1. Sutrisno, Seri Fisika Dasar, Penerbit ITB, Bandung, 1986.
2. Halliday dan Resnick, Fisika I, Terjemahan oleh Pantur Silaban PhD,
Penerbit Erlangga.
3. Sears dan Zemansky, Fisika Uiversitas I, Penerbit Binacipta.