BAB II TINJAUAN TEORITIS A.KONSEP DASAR 1.

PENGERTIAN Sectio caesaria adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim. (Arif Mansjoer, 2002) Seksio sesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat syatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina. (Rustam Mokhtar, Edisi 2.1998) Secsio secaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat ,rhim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram. (Sarwono Prawirohartjo,2000) Letak Sungsang adalah janin yang letaknya memanjang (membujur) dalam rahim, kepala berada di fundus dan bokong di bawah. (Rustam Mokhtar,Edisi 2.1998) 2.JENIS JENIS SECTIO CAESARIA 1.Sectio caesaria transperitonealis profunda Sectio caesaria transperitonealis propunda dengan insisi di segmen bawah uterus.keunggulan pembedahan ini adalah: a.Pendarahan luka insisi tidak seberapa banyak. b.Bahaya peritonitis tidak besar. c.Perut uterus umumnya kuat sehingga bahaya ruptur uteri dikemudian hari tidak besar karena pada nifas segmen bawah uterus tidak seberapa banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri sehingga luka dapat sembuh lebih sempurna.

2.Sectio ceacaria klasik atau section ceacaria komporal Pada cectio ceacaria klasik ini di buat kepada korpus uteri,pembedahan ini yang agak mudah dilakukan,hanya di selenggarakan apabila ada halangan untuk melakukan section ceacaria transperitonealis profunda. 3. Sectio ceacaria ekstra peritoneal Section ceacaria eksrta peritoneal dahulu di lakukan untuk mengurangi bahaya injeksi perporal akan tetapi dengan kemajuan pengobatan terhadap injeksi pembedahan ini sekarang tidak banyak lagi di lakukan. 3.INDIKASI-INDIKASI a.Indikasi Ibu dengan s c : Plasenta previa sentralis (Posterior)dan totalis, Panggul sempit, Disproposi cepalo pelvis(ketidak

Partus lama. Gemili menurut easmant. 1.Anastesia Anastesia umum mempunyai pengaruh depresif pada pusat pernapasan.Transfusi Darah Perdarahan pada section caesaria lenih banyak daripada persalinan pervaginam.KOMPLIKASI a. Partus tidak maju.akan tetapi bahaya tebesar ialah apabila di beri anastesi umum sedangkan lambung penderita tidak kosong pada wanita tidak sadar karena anastesi ada kemungkinan isi lambung masuk kedalam.pada tiap-tiap section caesaria perlu diadakan persediaan darah.Distosia jaringan lunak . 4. Uterus duplekus 6. berhubungan dengan itu. Kelainan Uterus : a. 2.namun pada persediaanya dianjurkan.Bila janin pertama letak lintang/presentasi bahu b.Pemberian Antibiotic Walaupun pemberian antibiotic sesudah sectio caesaria efektif dapat dipersoalkan. Letak lintang 2. Presentasi dahi dan muka(letak depleksi)bila reposisi dan cara-cara lain tidak berhasil 5.HAl-HAl YANG PERLU DI PERHATIKAN DALAM SC 1.sesuaian antara kepala dan tanggul). 5. 4. 2.Ibu . Ruptur uteri mengencang.Disfungsi uterus.Sekcio Ceaceria Efektif Sekcio ceacaria ini di rencanakan lebih dahulu di ketahui bahwa kehamilan harus diselesaikan dengan pembedahan keuntungannya ialah bahwa waktu pembedahan dapat ditentukan oleh dokter yang akan menolongnya dan bahwa persiapan dapat dilakukan dengan baik kerugiannya oleh karena persalinan belum mulai.sehingga kadang-kadang timbul pedarahan post partum karena atonia uteri.Gawat janin 6.s c di anjurkan a.Bila terjadi interior c.selain itu ada pengaruh terhadap tonus uterus. Uterus arkuatus b. Terdapat tumor dipelvisminor yang menggangu masuk kepala janin kepintu atas panggul 4. Letak bokong 3.Distosia oleh karena tumor d. 3. Presentasi rangap bila reposisi tidak terhenti 4.sehingga kadang-kadang bayi lahir dalam keadaan apnea yang tidak dapat di atasi dengan mudah. 3. Uterus septus c.Indikasi Janin dengan s c : 1. Pre eklamsia dan hiprtensi. Distosia serviks. b.perdarahan ini dapat disebabkan oleh insisi pada uterus ketika pelepasan plasenta mungkin juga karena terjadinya atonia uteri post partum.segmen bawah uterus belum berbentuk dengan baik sehingga menyulitkan pembedahan dan lebih mudah terjadi abonia uteri dengan pendarahan karena uterus mulai dengan kontraksinya.

Jumlah darah lengkap. Injeksi purporal 2. pemeriksaan tambahan didasarkan pada kebutuhan individual. nyeri penyerta. c.Asuhan Keperawatan 1.1. darah.hemoglobin atau hematokrit. Gangguan rasa Nyaman berhubungan dengan Trauma pembedahan B. 7.efek . Keterbatasan aktifitas berhubungan dengan Kelemahan Fisik karena operasi D. Sirkulasi : Kehilangan darah selama prosedur kira-kira 400 ± 500 cc b.Diagnosa Keperawatan A. Perdarahan 3. efekefek anestese. dan sisi bebas eritema bengkak dan nyeri tekan. distensi kandung kemih atau abdomen. Bila laserasi jalan lahir atau luka bekas episiotomi lakukan perawatan luka dengan sebaik-baiknya.Bayi Kematian perinatal 6. paten. Seksualitas : Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus. Urinalisis. Bila wanita itu sangat mengeluh tentang adanya mulas dapat diberi analgesic atau sedatif supaya dapat beristirahat atau tidur. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan berlebihan atau banyak 2. mulut mungkin kering. Kurangnya pengetahuan tentang KB berhubungan dengan Kurangnya informasi E. kultur urin. f. Rupture uteri b. PERAWATAN Perawatan post partum dimuali sebenarnya sejak kala uri dengan menghindarkan adanya kemungkinan perdarahan post partum infeksa.PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK a. Luka dinding kandung kemih 4. Keamanan :Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda atau kering dan utuh. B. Makanan/Cairan :Abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada awal. cairan serta banyak buah-buahan karena wanita tersebut mengalami hemokonsentrasi miksi atau berkemih harus secepatnya dilakukan sendiri. Defeksi atau BAB harus ada dalam 3 hari post partum. bila digunakan.Neurosensori :Kerusakan gerakan dan sensasi dibawah tingkat anestisi spinal epidurald. vagina dan lokhea.Nyeri/Ketidaknyamanan: Mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber misalnya trauma bedah atau insisi. Diit yang diberikan harus bermutu tinggidengan cukup kalori mengandung cukup protein. e. Embolisme paru 5.Pernafasan :Bunyi paru jelas dan vasikuler. g. Pengkajian a. Resti terjadinya Infeksi berhubungan dengan Insisi pembedahan bekas operasi C.mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan b. Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot (kelebihan analgesic atau anastesi .

kaku. susu murni. dapat tidur atau istirahat dengan benar. Intervensi: a. Anjurkan cuci tangan dengan cermat dan pengalas kotoran. Berikan obat pada klien yang menyusui 48 ± 60 menit sebelum menyusui. kaji terhadapadanya pembesaran atau putting pecah. minuman karbohidrat. Diagnosa 2 :Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan atau kulit rusak. Tinjau ulang HB dan HT prenatal. Tentukan karakteristik dan lokasi ketidak nyamanan. posisi yang tepat dari bayi. d. p. Nyeri di bagian abdomen klien sudah berkurang 2.dan gerakan melindungi atau terbatas. c. Klien kelihatan rileks. Klien dapat melaporkan bahwa ansietas sudah menurun ketingkat yang dapat diatasi. Tampak rileks. l.kacangan. Rencana tindakan A. Diagnosa 1 : Nyeri berhubungan dengan trauma pembedahan Tujuan :nyeri tidak terjadi kriteria hasil : 1. Berikan analgesik setiap 3-4 jam. danberikan gosokan punggung . Intervensi : a. Memudahkan berkemih periodiksetelah pengangkatan kateter. tingkatkan cairan. e. kutrangi rangsangan yang berbahaya. i. g. dan berikan ikatan abnominal jika klien tegak. dan linen terkontaminasi dengan tepat. Perhatikan nyeri tekan uterus dan adanya karakteristik nyeri penyerta. Palpasi kandung kemih perhatikan adanya rasa penuh. h.diarepersalinan .± efek progesterol. kacang.meringis. kurang masukan . Anjurkan tirah baring pada posisi datar berbaring. Evaluasi tekanandarah dan nadi. memberikan kompres panas sebelum menyusui. Perhatikan isyarat verbal dan nonverbal seperti .Menunjukan luka bekas dari drainase purulen dengan tanda awal penyembuhan. b. Anjurkan menghindari makanan atau cairan pembentuk gas seperti. Klien dapat Mengidentifikasi cara untuk menurunkan atau menghilangkan ansietas . pembalut prinial.dehidrasi . Inspeksi jaringan payudara dan putting. perhatikan ada kondisi yang mempredisposisikan klien pada . b. 2. Berikan informasi untuk pasien menyusui tentang peningkatan frekwensi pemberian makan.Mendemonstrasikan teknik-teknik untuk menurunkan resiko-resiko dan meningkatkan penyembuhan. j. perhatikan perubahan prilaku( bedakan antara kegelisahan karena kehilangan darah berlebihan dan karena nyeri. nyeri peritoneal /rectal) 3. m. dan mengeluarkan ASI secara manual . n. o. f. B.mampu tidur atau istirahat dengan tepat. Anjurkan penggunaan teknik pernafasan dan relaksasi dan distraksi . k. bantu sesuai kebutuhan pada perawatan klien dan bayi. uterus lunak atau tidak nyeri tekan. minuman terlalu dingin atau panas. kol. Berikan informasi dan petunjuk antisipasi mengenai penyabab ketidak nyamanan dan intervensi yang tepat . dengan aliran dan karakter lochea normal. berlanjut dari rute IV atau IM sampai ke rute oral. Tujuan : Resiko tinggi infeksi tidak terjsdi Kriteria hasil: 1. Ubah posisi klien.

Mendapatkan kembali pola eliminasi biasanya / optimal pasca partum . nyeri peritoneal / rectal ). Diagnosa 3 :Keterbatasan aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik karena operasi Tujuan :Tidak terjadi kelemahan fisik Kriteria hasil : 1. c. TTV klien dalam batas normal Intervensi : a. . 6 ± 8 gelas air / hari )bila masukan oral sudah mulai kembali. kolaborasi dan membantu dalam pencapaian tujuan yang ditetapkan dan mempasilitas koping. kurang masukan . Anjurkan latihan kaki dan pengencagan abdominal.menganalisa pengetahuan dan ketermpilan yang diperlukan dalam mengetahui komplikasi dari tindakan yang mungkin muncul. Pelaksaaan Pelaksanaan bertujuan untuk mengatasi diagnosa dan masalah keperawatan. c.infeksi pascaoperasi. Infeksi balutan abdominal terhadap eksudat atau rembesan. Intervensi : Pelaksanaan tindakan keperawatan yang bertjuan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional. Kaji status nutrisi klien d. 4. adapun sifat tindakan keperawatan yaitu independen. Kaji TTV klien b. Tingkatkan intake ycairan oral yang adekuat (misal . Tujuan :Pola kebiasaanBAB dapat kembali seperti semula Kriteria hasil : 1.dan dependen. menentukan kelengkapan dan menentukan lingkungan yang kondusif. d. Diagnosa 4 : E. Diagnosa 5 :Konstipasi berhubungan dengan berhubungan dengan tonus otot (kelebihan analgesic atau anastesi . Auskultasi terhadap adanya bising usus pada kempat kuadran setiap empat jam setelah kelahiran b. interindependen. Mengidentifikasi aspek hukum dan kode etik terhadap resiko dari kesalahan tindakan. C. Palpasi abdomen perhatikan distensi atau ketidak nymanan. Intervensi : a. Kembalinya motilitas usus dibuktikan oleh bising usus aktif dan kelurnya flatus . tahapan tindakan keperawatan ada 3 antara lain : 1. efek ± efek progesterol . Kaji tingkat kemampuan klien dalam melakukan aktifitas D. Persiapan : Perawat menyiapkan segala sesuatu yang perlu dalam tindakan keperawatan. 2. yaitu mengulang tindakan keperawatan yang diidentifikasikan pada tahap intervensi. 2. dehidrasi . Anjurkan peningkatan diet makanan kasar dan buah ± buah segar dan sayuran . Anjurkan klien untuk latihan gerak c.diare persalinan . Klien tidak tampak lemah 3. tingkatkan ambulasi dini . Dalam beraktifitas klien tidak dibantu lagi 2.

Volume 4. EGC. Penerbit Buku Kedokteran. baik dengan alat maupun dengan kekuatan ibu sendiri.Evaluasi Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang bertujuan melihat sejauh mana diagnosa keperawatan.(1998). Sinopsis Obstetri. Cristina. intervensi keperawatan dan mengevaluasi kesalahan yang terjadi selama pengkajian. Jakarta. Susan Martin. Jakarta. Sarwono Prawiroharjo. EGC.3. EGC. Rustam. Ilmu Bedah Kebidanan. 5. Bedah Kebidanan Martius. Penerbit Buku Kedokteran EGC.(1995) Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas.(1993) Perawatan Kebidanan. Manuaba. Jakarta. Dalam keadaan patologi kemungkinan dilakukan operasi sectio caesarea. ETIOLOGI/ PENYEBAB Pada persalinan normal bayi akan keluar melalui vagina. analisa. panggul . mengimplementasi keperawatan. Bratara Jakarta. a. 6. 4. _____________. Martius. (1997). 7.Sumatif Evaluasi yang diperlukan pada akhir tindakan keperawatan secara obyektif. Standar Perawatan Pasien. 8. Jakarta. Ida Bagus Gde. b. Muchtar. Hamilton. 1.(1999). 2. Allen. 5. Edisi 2.. Gerhard. (1998). Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Edisi 5. Yayasn Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. (1998) Memahami Proses Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran. 2. Jakarta. 2. Edisi 1 Cet. Sumber: 1. B. Persis Mary. Edisi 6. (1999). intervensi. Jakarta. Edisi 2 Cetakan II Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 3. Ibrahim S. Formatif Evaluasi setelah rencana keperawata dilakukan untuk membantu keefektifan tindakan yang dilakukan secara berkelanjutan hingga tujuan tercapai. Jakarta. Jakarta. Faktor-Faktor Penyebab Sectio Caesarea Menurut Mochtar (1998) faktor dari ibu dilakukannya sectio caesarea adalah plasenta previa . Dokumentasi: Mendokumentasikan suatu proses keperawatan secara lengkap dan akurat. fleksibel dan efisien. (1991). Jakarta. Carol Vestal. EGC. Tucker. Ilmu Kebidanan. (1998). ______________. Jilid 1. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Ilmu Kebidanan. EGC. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

jika kepala janin belum masuk ke dalam pintu atas panggul pada ibu hamil cukup bulan. lewat spina iskiadika. Bentuk panggul yang menunjukkan kelainan atau panggul patologis juga dapat menyebabkan kesulitan dalam proses persalinan alami sehingga harus dilakukan tindakan operasi. Menurut Manuaba (2001) indikasi ibu dilakukan sectio caesarea adalah ruptur uteri iminen. Sedangkan indikasi dari janin adalah fetal distres dan janin besar melebihi 4. Keadaan patologis tersebut menyebabkan bentuk rongga panggul menjadi asimetris dan ukuran-ukuran bidang panggul menjadi abnormal (Kasdu. perdarahan antepartum. Kesempitan pintu bawah panggul Kesempitan pintu bawah panggul biasanya diartikan sebagai keadaan dimana distansia tuberculum 8 cm atau lebih kecil lagi. distosia serviks. dapat menimbulkan distosia pada persalinan. 1998). pre-eklamsi dan eklamsi merupakan penyebab kematian maternal dan perinatal paling penting dalam ilmu kebidanan. Dari beberapa faktor sectio caesarea diatas dapat diuraikan beberapa penyebab sectio caesarea sebagai berikut : 1. 2001). Pintu bawah panggul yang sempit tidak banyak mengakibatkan distosia karena kesempitannya sendiri mengingat keadaan ini sering disertai pula dengan kesempitan panggul tengah. yaitu : a. b. yaitu mampu mengenali dan mengobati agar tidak berlanjut menjadi eklamsi (Mochtar. akan dilakukan operasi sectio caesarea karena resiko terhadap janin semakin besar kalau persalinan semakin maju (Jones. 2003). proses persalinan akan memanjang dan kerap kali tidak pernah terjadi persalinan spontan yang efektif sehingga membawa akibat yang serius bagi ibu maupun janinnya. Dalam kasus CPD.sempit. sebab terjadinya masih belum jelas. Kesempitan pintu atas panggul Pintu atas panggul biasanya dianggap menyempit jika konjugata vera yang merupakan ukuran paling pendek panjangnya kurang dari 10 cm atau jika diameter transversal yang merupakan ukuran paling lebar panjangnya kurang dari 12 cm. Setelah perdarahan dan infeksi. Meskipun definisi kesempitan pintu atas panggul.5 cm) mencapai 13. Karena itu diagnosa dini amatlah penting. Tulang-tulang panggul merupakan susunan beberapa tulang yang membentuk rongga panggul yang merupakan jalan yang harus dilalui oleh janin ketika akan lahir secara alami. Setiap pada diameter panggul yang mengurangi kapasitas panggul.5 cm atau lebih kurang lagi. partus lama. Menurut Wiknjosastro (2002) ada beberapa kesempitan panggul.5 plus 5 cm atau 15. Kesempitan panggul tengah Bidang obstetrik panggul tengah membentang dari margo inferior simfisis pubis. namun panggul tengah mungkin sempit kalau jumlah diameter interspinarum dan diameter sagitalis posterior pelvis (normalnya 10. pre eklamsi dan hipertensi. . Sedangkan faktor dari janin adalah letak lintang dan letak bokong. dan mengenai sakrum di dekat sambungan tulang vertebra keempat dan kelima. CPD ( Chepalo Pelvik Disproportion Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak dapat melahirkan secara alami.000 gram. PEB (Pre-Eklamsi Berat) Pre-eklamsi dan eklamsi merupakan kesatuan penyakit yang langsung disebabkan oleh kehamilan. ketuban pecah dini. proses persalinannya jika kelainan panggul cukup menonjol dan menghalangi masuknya kepala dengan mudah ke dalam pintu atas panggul. 2. c.

sehingga tidak seberapa berarti untuk penentuan diagnosis pre-eklamsi. Pada ibu penderita pre-eklamsi berat. Pada penatalaksanaan pre-eklamsia untuk pencegahan awal ialah pemeriksaan antenatal yag teratur dan bermutu serta teliti. Edema pretibial yang ringan sering ditemukan pada kehamilan biasa. perdarahan pada retina dan trombosit kurang dari 100. Apabila tekanan diastolik naik dengan 15 mmHg atau lebih. atau mencapai 140 mmHg atau lebih. 2002). maka diagnosis hipertensi dapat dibuat. gangguan penglihatan dan nyeri kepala. 1998). atau menjadi 100 mmHg atau lebih.3 gram/liter dalam air 24 jam atau pemeriksaan kualitatif menunjukkan satu atau dua + atau satu gram per liter atau lebih dalam air kencing yang dikeluarkan dengan kateter yang diambil minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam. Tanda-tanda khasnya adalah keluarnya cairan mendadak disertai bau yang khas. Mencegah timbulnya eklamsi jauh lebih penting dari mengobatinya. misalnya pada mola hidatidosa. Kenaikan tekanan diastolik sebenarnya lebih dapat dipercaya. sedangkan di bawah 36 minggu tidak terlalu banyak (Manuaba. mengenali tanda-tanda sedini mungkin. Edema ialah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan dalam jaringan tubuh. 1998) gejala pre-eklamsi berat dapat diketahui dengan pemeriksaan pada tekanan darah mencapai 160/110 mmHg. 3. Menurut (Manuaba. Penatalaksanaan eklamsi bertujuan untuk menghentikan berulangnya serangan konvulsi dan mengakhiri kehamilan secepatnya dengan melakukan sectio caesarea yang aman agar mengurangi trauma pada janin seminimal mungkin (Mochtar. Keduanya memiliki gejala yang sama yaitu keluarnya cairan dan tidak ada keluhan sakit. namun berbeda dengan bau air seni. karena sekali ibu mendapat serangan. lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat. Pada pemeriksaan di dapat kadar enzim hati meningkat disertai ikterus. timbul konvulsi yang dapat diikuti oleh koma. yaitu premature rupture of membran dan preterm rupture of membrane. dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta pembengkakan kaki. 2001). Alirannya tidak terlalu deras keluar serta tidak disertai rasa mules atau sakit perut. . tetapi bila kenaikan satu kilo seminggu beberapa kali. maka prognosa akan jauh lebih buruk. tetapi dapat terjadi sebelumnya. Pada keluhan subjektif pasien mengeluh nyeri epigastrium.000/mm. Penentuan tekanan darah dilakukan minimal 2 kali dengan jarak waktu 6 jam pada kedaan istirahat (Wiknjosastro.Pre-eklamsi ialah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi. Ada dua macam kemungkinan ketuban pecah dini. oliguria urin kurang 400 cc/24 jam. kenaikan tekanan sistolik harus 30 mmHg atau lebih diatas tekanan yang biasanya ditemukan. dan proteinuria yang timbul karena kehamilan. Kenaikan berat badan setengah kilo setiap minggu dalam kehamilan masih dapat dianggap normal. Tujuan utama penanganan adalah untuk mencegah terjadinya pre-eklamsi dan eklamsi. KPD (Ketuban Pecah Dini) Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu dari pada tanda-tanda lain. Biasanya proteinuria timbul lebih lambat dari pada hipertensi dan kenaikan berat badan karena itu harus dianggap sebagai tanda yang cukup serius (Wiknjosastro. dan muka. jari tangan. Sebagian besar ketuban pecah dini adalah hamil aterm di atas 37 minggu. proteinuria lebih dari 3 gr/liter. 2002). 1998). hendaknya janin lahir hidup dan trauma pada janin seminimal mungkin (Mochtar. Penyakit ini umumnya terjadi pada trimester III kehamilan. Untuk menegakkan diagnosis pre-eklamsi.hal ini perlu menimbulkan kewaspadaan terhadap timbulnya pre-eklamsia. edema. Proteinuria berarti konsentrasi protein dalam air kencing yang melebihi 0.

pengukur berat badan janin. pemeriksaan USG untuk mencari Amniotic Fluid Index (AFI). Selain itu untuk membuktikan kebenaran ketuban pecah dengan jalan aspirasi air ketuban untuk dilakukan kultur cairan amnion. Namun. pemeriksaan lakmus yang akan berubah menjadi biru sifat basa.500 gram. perut terbentur sesuatu. 2006). Faktor yang disebutkan memiliki kaitan dengan KPD yaitu riwayat kelahiran prematur. Kelainan pada letak kepala 1). kehamilan kembar. kehamilan post-term. bisa juga dengan cara penyuntikan indigo karmin ke dalam amnion serta melihat dikeluarkannya pervaginam (Manuaba. 4. 5 % bayi memiliki berat badan lebih dari 4. Untuk dapat menegakkan diagnosis dapat diambil pemeriksaan inspekulo untuk pengambilan cairan pada forniks posterior. 2003). Ada beberapa faktor ibu yang menyebabkan bayi besar. anaknya kecil atau mati. maka bedah sesar elektif harus ditawarkan pada wanita penderita diabetes dengan taksiran berat janin lebih dari 4500 gram dan pada wanita nondiabetes dengan taksiran berat janin lebih dari 5000 gram (Glance. yaitu ibu dengan diabetes.000 gram dilahirkan dengan operasi. Kelainan Letak Janin Kelainan-kelainan janin menurut Mochtar (1998) antara lain : a. riwayat KPD sebelumnya.Akan terdeteksi jika si ibu baru merasakan perih dan sakit jika si janin bergerak (Barbara. Dengan adanya hal ini dokter akan mempercepat persalinan karena khawatir akan terjadi infeksi pada ibu dan janinnya (Kasdu. Namun. bisa saja janin dengan ukuran kurang dari 4. Janin Besar (Makrosomia) Makrosomia atau janin besar adalah taksiran berat janin diatas 4. dan perdarahan selama kehamilan. merokok. Pecahnya kantung ketuban pada kehamilan seringkali tidak disadari penyebabnya. Keadaan ini yang disebut bayi besar relatif (Kasdu. Misalnya untuk panggul ibu yang terlalu sempit. 5. Sangat penting untuk menghindari persalinan pervaginam dengan alat bantu dalam keadaan ini (Glance. kepala bentuknya bundar. Di negara berkembang. kelainan kongenital atau deformitas. Beberapa faktor resiko dari KPD yaitu polihidramnion. Pada sebagian besar kasus.000 gram pada saat lahir dan 0. 2007). Kelahiran pervaginam untuk bayi makrosomia harus dilakukan dengan sangat terkontrol yaitu dengan akses segera kepada staf anastesi dan tim resusitasi neonatus. tetapi terjadi pada ibu yang berbeda maka tindakan persalinan yang dilakukan juga berbeda. kerusakan dasar .000 gram.6 kg sudah bisa dianggap besar sehingga perlu dilakukan kelahiran dengan operasi. Letak kepala tengadah Bagian terbawah adalah puncak kepala. detak jantung janin. setelah terjatuh. alfa fetoprotein. berat badan janin 3 kg sudah dianggap besar karena bayi tidak dapat lewat jalan lahir. pemeriksaan interleukin. dan lain-lain. 1998). Untuk mencegah trauma lahir. Robeknya kantung ketuban sebelum waktunya dapat menyebabkan bayi harus segera dilahirkan. Dengan berat janin yang diperkirakan sama. penyebabnya belum ditemukan. aktifitas janin. obesitas pada ibu. Diagnosis ketuban pecah dini didasarkan pada riwayat pengeluaran cairan dalam jumlah besar secara mendadak atau sedikit demi sedikit pervaginam. atau sesudah senggama. Etiologinya kelainan panggul. 2003).5 % memiliki berat badan lebih dari 4. 2006). biasanya hal ini terjadi sesudah trauma. Demikian pula pada posisi sungsang dengan berat janin lebih dari 3. Misalnya. fern tes cairan amnion. trauma dan infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis (Mochtar. kelainan atau kerusakan selaput ketuban. 2009). pada pemeriksaan dalam teraba UUB yang paling rendah.

di depan otot rectus abdominis. 6. Faktor hambatan jalan lahir Adanya gangguan pada jalan lahir. 2). sulkus pubikus dan sulkus inguinalis. bayi kembar pun dapat mengalami sungsang atau salah letak lintang sehingga sulit untuk dilahirkan secara normal. 1998). misalnya jalan lahir yang tidak memungkinkan adanya pembukaan. Bayi kembar Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. tali pusat pendek dan ibu sulit bernafas (Dini Kasdu. Menurut (Sarwono. C. Selain itu. Insertio terletak pada linea alba. Origo pada bagian anterior ramus superior ossis pubis dan simpisis ossis pubis. Letak sungsang Janin yang letaknya memanjang (membujur) dalam rahim. 2) Otot piramidalis Terletak di bagian tengah di atas simpisis ossis pubis. dahi berada pada posisi terendah dan tetap paling depan. Insertio pada ramus inferior ossis pubis. 7.panggul. Pada penempatan dagu. 1) Otot rectus abdominis Terletak pada permukaan abdomen menutupi linea alba. presentasi bokong kaki tidak sempurna dan presentasi kaki. yakni presentasi bokong. Presentasi dahi Posisi kepala antara fleksi dan defleksi. Serabut menuju tuberkulum pubikum dan simpisis ossis pubis. Otot-otot dinding perut tersebut terdiri dari otot-otot dinding perut bagian depan. 2003). Hal ini karena kelahiran kembar memiliki resiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi daripada kelahiran satu bayi. prosesus xyphoideus dan ligamen xyphoideum. b. presentasi bokong kaki. sempurna. mengangkat pelvis.5 %. Hal ini jarang terjadi. 3). kepala berada di fundus dan bokong di bawah (Mochtar. Anatomi dinding perut Dinding perut dibentuk oleh otot-otot perut dimana disebelah atas dibatasi oleh angulus infrasternalis dan di sebelah bawah dibatasi oleh krista iliaka. kira-kira 0. 3) Otot transversus abdominis . PATOFISIOLIGI Anatomi fungsional yang dibahas pada kasus post operasi sectio caesarea terdiri dari anatomi dinding perut dan otot dasar panggul. Presentasi muka Letak kepala tengadah (defleksi). 1992) letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala difundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Dikenal beberapa jenis letak sungsang. Fungsinya untuk meregangkan linea alba. Fungsi dari otot ini untuk flexi trunk.27-0. sehingga bagian kepala yang terletak paling rendah ialah muka. origo pada permukaan anterior kartilago kostalis 5-7. bagian depan tertutup vagina dan bagian belakang terletak di atas kartilago kostalis 6-8. bagian lateral dan bagian belakang. biasanya dengan sendirinya akan berubah menjadi letak muka atau letak belakang kepala. adanya tumor dan kelainan bawaan pada jalan lahir. a.

. 5) Otot obligus internus abdominis Otot ini terletak pada anterior dan lateral abdomen. Fungsi dari otot ini menekan perut. Origo terletak pada permukaan posterior fascia lumbodorsalis. Kecepatan epitelisasi adalah 0. (7) tensile strength mencapai maksimum dalam 6 minggu. dan ischiokoksigeus. iliokoksigeus. (3) pada hari ke-3-4 gumpalan darah mengalami organisasi. (6) Pada hari ke 14-15. 4) Otot obligus eksternus abdominis Letaknya yaitu pada bagian lateral abdomen tepatnya di sebelah inferior thoraks. (5) pada hari ke-7-8. Ruang incisi akan diisi oleh gumpalan darah dalam 24 jam pertama akan mengalami reaksi radang mendadak. exudat akan mengalami resolusif proliferasi (pelipatgandaan) fibroblast mulai terjadi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penyembuhan dari luka operasi antara lain adalah suplay darah. perlukaan baik pada dinding abdomen (kulit dan otot perut) dan pada dinding uterus. otot spincter ani eksternus diperkuat oleh otot mabdor ani untuk menutup anus dan otot pubokavernosus untuk mengecilkan introitus vagina.5 mm per hari. labium internum Krista iliaka. 1996). b. c. 2/3 lateral ligamen inguinale. infeksi dan iritasi. Diagfragma pelvis adalah otot dasar panggul bagian dalam yang terdiri dari otot levator ani. Fungsi dari otot ini adalah rotasi thoraks ke sisi yang berlawanan. Fungsi dari otot-otot tersebut adalah levator ani untuk menahan rectum dan vagina turun ke bawah. Berupa tendon menuju linea alba dan bagian inferior vagina muskuli recti abdominis. sel dermis dan jaringan kulit akan mati. epitelisasi terjadi dan luka akan sembuh. 2/3 ligamen inguinale insertio pada kartilago kostalis 8-10 untuk serabut ke arah supero medial. maka beberapa sel epitel. Otot dasar panggul Otot dasar panggul terdiri dari diagfragma pelvis dan diagfragma urogenital. Perjalanan proses penyembuhan sebagai berikut : (1) sewaktu incisi (kulit diiris). yang dapat mencegah terjadi dehiscence (merekah) luka. berjalan dari tepi luka ke arah tengah atau terjadi dari sisa-sisa epitel dalam dermis. menegangkan dan menarik dinding perut. Dengan adanya supply darah yang baik akan berpengaruh terhadap kecepatan proses penyembuhan. otot pubokoksigeus. Untuk itu pada seseorang dengan riwayat SC dianjurkan untuk tidak hamil pada satu tahun pertama setelah operasi (Hudaya. Origo pada permukaan kartilago kostalis 7-12. Sedangkan diafragma urogenetik dibentuk oleh aponeurosis otot transverses perinea profunda dan mabdor spincter ani eksternus. tensile strength hanya 1/5 maksimum. patologi Pada operasi sectio caesarea transperitonial ini terjadi.Otot ini berupa tendon menuju linea alba dan bagian inferior vagina musculi recti abdominis. (2) dalam 2-3 hari kemudian. dan tertutup oleh otot obligus eksternus abdominis. Fungsi dari otot ini untuk rotasi thoraks ke sisi yang sama. Origonya yaitu pada permukaan luas kosta 5-12 dan insertionya pada vagina musculi recti abdominis. insertio pada fascia lumbo dorsalis. linea intermedia krista iliaka. (4) pada hari ke 5 tensile strength (kekuatan untuk mencegah terbuka kembali luka) mulai timbul.

.Serviks Segera setelah lahir terjadi edema. setelah plasenta dilahirkan. tidak rata kira-kira sebesar telapak tangan. struktur internal kembali dalam . Luka ini akan mengecil hingga sembuh dengan pertumbuhan endometrium baru di bawah permukaan luka. yang disebabkan oleh proses antitoksis dimana zat protein dinding pecah.Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil. Sistem Reproduksi Uterus . . Ukuran uterus mulai dua hari berikutnya. Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. . untuk itu tidak menyusui akan kembali ke siklus normal. Ibu menyusui mulai ovulasi pada bulan ke 3 atau lebih. Tahap a. diabsorbsi dan dibuang melalui air seni. Fisiologi nifas Perubahan yang terjadi selama masa nifas post sectio caesarea antara lain: (1) Uterus. mulai dari pinggir dan dasar luka. Alba (kuning-putih) : 10-14 hari Lochea terus keluar sampai 3 minggu. Invulsi uterus terjadi karena masing-masing sel menjadi kecil. akan mengecil hingga hari kesepuluh tidak teraba dari luar. uterus merupakan alat yang keras karena kontraksi dan reaksi otot-ototnya. MANIFESTASI KLINIK/ TANDA DAN GEJALA 1. Sedangkan pada endomentrium menjadi luka dengan permukaan kasar.d. . dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. 1998). Bau normal seperti menstruasi. darah dan limfe. D. jumlah meningkat saat berdiri.Lochea Komposisi Jaringan endometrial. (2) pembuluh darah uterus yang saat hamil dan membesar akan mengecil kembali karena tidak dipergunakan lagi.Siklus Menstruasi Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu. Ovulasi mungkin tidak terlambat. Perubahan Fisik a. Proses ini dipercepat oleh rangsangan pada puting susu. b. bentuk distensi untuk beberapa hari. Serosa (pink kecoklatan) c.Ovulasi Ada tidaknya tergantung tingkat proluktin. (3) dinding perut melonggar dan elastisitasnya berkurang akibat peregangan dalam waktu lama (Rustam M. Rubra (merah) : 1-3 hari. Fundus uteri ±3 jari di bawah pusat. Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml.

Hormon Plasenta HCG (-) pada minggu ke-3 post partum. Pada payudara yang tidak disusui. . dalam 6 sampai 8 minggu. neutrophil meningkat. Sistem Kardiovaskuler . bentuk ramping lebar. Payudara Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). . puting mudah erektil bila dirangsang. . c. Sistem Gastrointestinal .Perubahan hematologik Ht meningkat.5 kg.Tanda-tanda vital Tekanan darah sama saat bersalin.Kehilangan rata-rata berat badan 5.Jantung Kembali ke posisi normal. struktur eksternal melebar dan tampak bercelah. . . COP meningkat dan normal 2-3 minggu. Sistem Urinaria . tidak ditemukan pada minggu I post partum.Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi.Nafsu makan kembali normal. d. produksi mukus normal dengan ovulasi. sesaria : 600 800 cc. f.Vagina Nampak berugae kembali pada 3 minggu. Sistem Endokrin .2 minggu. . LH. menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH. Laserasi TK I : Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot TK II : Meluas sampai dengan otot perineal TK III : Meluas sampai dengan otot spinkter TK IV : melibatkan dinding anterior rektal b.Volume darah Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu Persalinan normal : 200 500 cc. keseimbangan asam-basa kembali setelah 3 minggu post partum. RR : 16-24 x/menit. . e. leukosit meningkat. g.Hormon pituitari Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama. kembali mendekati ukuran seperti tidak hamil. . Sistem Respirasi Fungsi paru kembali normal. progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus menstruasi. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari.Perineum Episiotomi Penyembuhan dalam 2 minggu. suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi. engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari.

. 1998). Pemberian oksitosin sesuai indikasi. i. Perdarahan bisa terjadi pada waktu pembedahan cabang-cabang atonia uteria ikut terbuka atau karena atonia uteria. NOC &NIC. Sistem Imun Rhesus incompability. . Diastasis rekti 2-4 cm.Edema pada kandung kemih. Pemasangan kateter foley G. h. j. Anestesia. 3). urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma. infeksi ini bisa terjadi karena karena partus lama dan ketuban yang telah pecah terlalu lama. 2006. infeksi yang berat ditandai dengan kenaikan suhu yang lebih tinggi bisa terjadi sepsis. Jakarta:EGC Nurjannah Intansari. regional atau general Perjanjian dari orang terdekat untuk tujuan sectio caesaria. 4). diberikan anti RHO imunoglobin. Infeksi ringan ditandai dengan kenaikan suhu beberapa hari dalam masa nifas. 2). Tanda vital per protokol ruangan pemulihan Persiapan kulit pembedahan abdomen Persetujuan ditandatangani. Sistem Muskuloskeletal Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil. Proses Keperawatan NANDA. diuresis mulai 12 jam. Terjadi komplikasi lain karena luka kandung kencing. Judith. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. embolisme paru dan deep vein trombosis. PENATALAKSANAAN MEDIAS Penatalaksanaan medis Cairan IV sesuai indikasi. Terjadi ruptur uteri pada kehamilan berikutnya (Rustam M. KOMPLIKASI Komplikasi yang bisa timbul pada sectio caesarea adalah sebagai berikut : 1).Pada fungsi ginjal: proteinuria. Edisi 7. . Sistem Integumen Hiperpigmentasi perlahan berkurang. Infeksi puerperal yang terdiri dari infeksi ringan dan infeksi berat. kembali normal 6-8 minggu post partum. REFERENSI Wilkinson M. Yogyakarta : mocaMedia . E. Tes laboratorium/diagnostik sesuai indikasi.Fungsi kembali normal dalam 4 minggu. F. 2010.

SC/sectio-caesarea.SC/LP-Sectio-Caesarea. Prawirohardjo.Mochtar. EGC. Jakarta: EGC. Sinopsis obstetric. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka. Rustam.html http// : www. Synopsis Obstetric dan Ginekologi. Jakarta Mochtar. http//:www. Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Rustam. 1998.htm . S. 2000. 1998.