hak asasi manusia sudah dapat dikesan kewujudanya semenjak kewujudan manusia itu sendiri.

Di Malaysia, sebahagian daripada hak-hak asasi manusia adalah termaktub dalam Perlembagaan Persekutuan. Antara lain, Perlembagaan ini menjamin kebebasan untuk hidup, kebebasan bergerak, bersuara, berhimpun dan berpersatuan, beragama dan juga hak-hak bersangkutan pendidikan. Kebebasan bersuara dan menyatakan pendapat berkait dengan, tetapi berasingan dengan, konsep kebebasan berfikir atau kebebasan menilai. Dalam realiti, hak kebebasan bersuara tidak bersifat mutlak di mana-mana negara dan hak ini lazimnya dihadkan, misalnya dalam konteks "kebencian". Ini disebabkan menggunakan kebebasan bersuara selalunya dalam konteks amalan yang saling bertentangan.Hak kebebasan bersuara diiktiraf sebagai hak asasi manusia di dalam Perkara 19 Perisytiharan Hak Asasi Manusia Sejagat dan diiktiraf dalam undang-undang hak asasi manusia antarabangsa dalam Perjanjian Antarabangsa mengenai Hak-hak Sivil dan Politikal (ICCPR).

Hak hak asasi ini merangkumi segenap aspek; baikjasmani mahupun rohani. (Tunku Sofeah Jiwa, 1996)

The Republic pula memperincikan tentang kehidupanm a s y a r a k a t A t h e n s d a n t u r u t m e m b i n c a n g k a n t e n t a n g k o n s e p h a k a s a s i a p a b i l a w u j u d kewajaran untuk mewujudkan hak keadilan bagi memastikan kehidupan masyarakatberkembang dan kepentingan bersama terpelihara. Pemikiran falsafah Greek ini kemudiannyamula tersebar kepada orang-orang Rom, England dan seterusnya ke seluruh dunia setelahberlakunya Revolusi Perindustrian dan membolehkan idea tentang hak asasi manusia tersebar dengan cepat

Tesis bertajuk ³Human Rights and Internal Security in Malaysia : Rhetoric and Reality´ (Rahim, Mac 2006 : 67 ± 89) telah membuat penyelidikan tentang penggunaan ISA di Malaysia yang membandingkan di antara keselamatan dalam negeri dan hak asasi manusia. Beliau mengemukakan pandangan terhadap tindakan kerajaan yang perlu mengambil kira tentang hak asasi manusia dalam mengambil tindakan di bawah ISA. Ini adalah kerana kebimbangan yang wujud apabila keselamatan dalam negeri lebih diutamakan daripada hak asasi manusia dalam menentukan sesuatu tindakan. Ini termasuk juga terhadap keadilan dalam perbicaraan ke atas tahanan ataupun suspek yang ditahan di bawah akta ini. Rahim, N.H, (Mac 2006). Human Rights and Internal Security in Malaysia : Rhetoric and Reality, Naval Post Graduate School, pp. 67 ± 89

Buku ini mengetengahkan betapa pentingnya konsep hak asasi manusia ditafsirkan semula. Tumpuan kajian adalah terhadap perdebatan di atara konsep universalisme dengan konsep relativisme. Buku ini mengkaji tiga dokumen International Bill of Rights untuk menganalisis konsep universalisme. Bagi konsep realtivisme pula, Deklarasi

namun masih belum mempu menjadi konsep alternatif kepada konsep universalisme. Manakala. terlalu menitikberatkan hak individu dan tidak universal seperti yang didakwa. Ketika ada pengaruh dari lokalitas nilai di suatu masyarakat tertentu. Masing-masing individu yang mempraktikan pluralisme nilai tersebut juga berbeda secara fisik. dan khususnya agama adalah karena masing-masing tradisi tersebut berasal dari aturan dan norma-norma dari sumber mereka sendiri. Didalam konteks perdebatan individu. interpretasi konsep hak asasi manusia dari budaya lain terus terpinggir. psikologis. Beberapa poin yang bisa diambil dari dua perbedaan pendapat diatas adalah bahwa ada beberapa ketidaksesuaian antara hak asasi manusia internasional yang lebih cenderung menerapkan perspektifnya Nussbaum sedangkan ada banyak negara yang mempraktikan pendapatnya Sen. Padahal didalam praktiknya. Set pemikiran yang melihat konsep hak asasi manusia sebagi sesuatu yang statik juga wajar diubah. Pergantungan manusia pada konsep universalisme tidak boleh dibiarkan. Abdullahi Ahmed An Na¶im juga mengatakan bahwa kesulitan utama untuk mengembangkan standar universal lintas budaya. implementasi dari hak asasi manusia bukanlah berdimensi internasional melainkan menjadi persoalan nasional negara-negara. Itulah yang kemudian melahirkan nilai yang pluralis tentang hak asasi manusia. maka bisa terjadi µkonflik hukum¶ yang bisa . Hal ini dikarenakan hak asasi manusia didalam instrumen internasional mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. atau mempunyai latar belakang ekonomi dan lingkungan yang berbeda. tradisi atau agama mempunyai ciri khas tentang etika dan moralitas yang berbeda-beda. Model rekonseptualisasi ini dijangka dapat menepati kondisi masyarakat majmuk dunia dan mengimbangi dominasi konsep Barat dengan konsep bukan Barat. Ini dikarenakan banyak nilai lokal di negara-negara yang masih bersifat primordial dan sektarian berdasarkan nilai yang berkembang didalam masyarakat terentu. Hasil analisis menunjukkan bahawa konsep universalisme lahir daripada budaya paternalisme Barat. Pendapat Sen tersebut mendukung relativisme budaya karena tujuan yang ingin dicapai didalam hak asasi manusia harus memperhatikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Menurutnya. hasil analisis terhadap konsep relativisme pula menunjukkan bahawa konsep ini memerangkap wacana hak asasi manusia dengan masalah-masalah konflik budaya. Ketika ada pertentangan antara doktrin budaya dengan prinsip universalisme hak asasi manusia sebagai akibat dari persinggungan dua tradisi yang berbeda tersebut. Apabila rasional taakul mengandaikan bahawa konsep universalisme adalah satu konsep saintifik. Nussbaum berpendapat bahwa hak asasi manusia adalah pencapaian-pencapaian fundamental yang tidak dapat dinegosiasikan dengan alasan apapun. Nussbaum menihilkan masyarakat dengan maksud agar ada standar internasional tentang pencapaian hak asasi manusia. namun implementasi hak asasi manusia dan semua jenis persoalannya tetap berdimensi nasional selama pelanggaran tersebut tidak dikategorikan sebagai gross violation. moden dan relevan untuk semua. memahami dan melaksanakan hak asasi manusia secara parsial karena adanya benturan nilai antara konsep HAM dengan moralitas dan etika di negara-negara. Sebab-sebab yang mendasari pendapat Sen adalah bahwa masing-masing budaya. Deklarasi Vienna dan pernyataan Amerikan Anthropological Association telah dianalisis. Buku ini telah mencadangkan satu model rekonseptualisasi yang mengintergrasikan perspektif universalisme dan relativisme. maka ruang lingkup dari hak tersebut bisa dibatasi oleh pemahaman-pemahaman yang diskriminatif. Demi kepentingan masyaraka majmuk buku ini menuntut agar dikotomi konsep universalisme-relativisme dihentikan. hak asasi manusia adalah µseperangkat tujuan¶ yang mana masing-masing masyarakat bisa mengembangkan tujuan tersebut. Artinya. Walaupun konsep relativisme mengetengahkan perspektif multibudaya. Dilain pihak. meskipun komunitas internasional ada karena adanya negara-negara yang diatur oleh sistem internasional yakni hukum internasional. Senada dengan hal tersebut. toleransi dan krisis identiti. Menurut Sen. Minda manusia 'mati' disebabkan aplikasi rasional. Lokalitas HAM inilah yang menyebabkan implementasinya menghadapi persoalan yang beragam karena banyak negara masih mendefinisikan. perbedaan pendapat juga terjadi antara Amartya Sen dan Martha Nussbaum.Bangkok. hak asasi manusia adalah artikulasi dari tuntutan-tuntutan etika yang bersifat terbuka.

Sehingga hak asasi manusia yang diatur didalamnya tidak lagi harus memaksakan µkewajiban hukum¶ bagi setiap manusia untuk menghormatinya melainkan berisi tindakan kolektif dari masyarakat berdasarkan moralitas setempat. bisa disimpulkan ada konflik yang signifikan antara praktik-praktik negara yang masih dipengaruhi oleh unsur budaya dan tradisi lokal dengan prinsip universalisme hak asasi manusia. dan menjamin hak asasi manusia dan kebebasan fundamental. sudah sangat jelas bahwa prinsip-prinsip hak asasi manusia harus dipahami sebagai aturan hukum yang tidak bisa ditawar lagi oleh semua negara karena isu-isu tentang hak asasi manusia sudah menjadi perhatian dunia internasional. maka implementasi hak asasi manusia bisa sangat mudah karena adanya penerimaan dari nilai-nilai lokal di masyarakat. Konflik hukum antara keduanya semakin terlihat ketika nilai dari budaya atau tradisi tersebut bertentangan dengan konsep hak asasi manusia. Meskipun demikian. banyak sekali penolakan dari budaya dan tradisi yang dijadikan sumber hukum nasional suatu negara. maka praktik-praktik negara tersebut bisa sangat mudah melanggar hak kebebasan beragama yang bersifat universal. Malcolm Shaw berpendapat bahwa hak-hak yang ada didalam instrumen-instrumen internasional bisa dengan mudah diimplementasikan ketika aturan hukum yang diatur didalamnya sangat berkaitan dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Didalam praktiknya. aturan didalam hak asasi manusia dipahami secara berbeda-beda tergantung dari konteks sosial budaya setempat suatu negara.¶ Anjuran dari Majelis Umum ini bisa diartikan bahwa instrumen dan lembaga internasional tentang hak asasi manusia tidak mengenal relativisme budaya didalam hak asasi manusia. . Sebagai akibatnya. Majelis Umum PBB juga mengingatkan negara anggota dengan menggunakan frase µbahwa negaranegara anggota mempunyai kewajiban untuk melindungi. Ketika ini terjadi. Ketika suatu negara berpegang teguh pada konsep relativisme budaya yang ada didalam masyarakatnya. Jika melihat dari deskripsi diatas. Disinilah peran negara menjadi sangat penting karena implementasi hak asasi manusia sangat bergantung pada kepatuhan hukum suatu negara terhadap instrumen-instrumen internasional tentang hak asasi manusia. mempromosikan.mengakibatkan penolakan dari salah satu tradisi tersebut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful