FUNGSI BAHASA, SILABUS FUNGSIONAL, ANALISIS WACANA, PRAGMATIK, KOMUNIKASI NON-VERBAL OLEH: IRINE PRABASIWI (107835049) HENDRIK

WAHYU DITYA (1078350) Fungsi Bahasa Menurut Felicia (2001 : 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat yang paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis. Begitu dekatnya kita kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak dirasa perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh. Akibatnya, sebagai pemakai bahasa, orang Indonesia tidak terampil menggunakan bahasa. Suatu kelemahan yang tidak disadari. Komunikasi lisan atau nonstandar yang sangat praktis menyebabkan kita tidak teliti berbahasa. Akibatnya, kita mengalami kesulitan pada saat akan menggunakan bahasa tulis atau bahasa yang lebih standar dan teratur. Pada saat dituntut untuk berbahasa’ bagi kepentingan yang lebih terarah dengan maksud tertentu, kita cenderung kaku. Kita akan berbahasa secara terbata-bata atau mencampurkan bahasa standar dengan bahasa nonstandar atau bahkan, mencampurkan bahasa atau istilah asing ke dalam uraian kita. Padahal, bahasa bersifat sangat luwes, sangat manipulatif. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Lihat saja, bagaimana pandainya orangorang berpolitik melalui bahasa. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa untuk kepentingan dan tujuan tertentu. Agar dapat memanipulasi bahasa, kita harus mengetahui fungsi-fungsi bahasa. Pada dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).

Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam era globalisasi itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi. Konsep-konsep dan istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Dengan demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan berkembang pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu, sekaligus berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan iptek itu (Sunaryo, 1993, 1995). Menurut Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda, yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar, menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran). Hasil pendayagunaan daya nalar itu sangat bergantung pada ragam bahasa yang digunakan. Pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar akan menghasilkan buah pemikiran yang baik dan benar pula. Kenyataan bahwa bahasa Indonesia sebagai wujud identitas bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi di dalam masyarakat modern. Bahasa Indonesia bersikap luwes sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana komunikasi masyarakat modern. 1 Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri Pada awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya.

Kita memilih cara berbahasa yang berbeda kepada orang yang kita hormati dibandingkan dengan cara berbahasa kita kepada teman kita. Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri. Sebenarnya. Pada saat kita menulis. sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. sebuah karya ilmiah pun adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk menunjukkan kemampuannya dalam sebuah bidang ilmu tertentu. pada saat kita menulis surat kepada orang lain. kita tidak memikirkan siapa pembaca kita. kita mulai berpikir kepada siapakah surat itu akan ditujukan. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan . merupakan hasil ekspresi diri kita. yakni bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri. Jadi. Setelah kita dewasa. tulisan kita dalam sebuah buku. Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya. melainkan juga untuk berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. Akan tetapi. 1997 :4). Kita hanya menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain atau tidak. seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya. keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi Pada taraf permulaan. 2 Bahasa sebagai Alat Komunikasi Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain : agar menarik perhatian orang lain terhadap kita. bahasa pada anak-anak sebagian berkembang sebagai alat untuk menyatakan dirinya sendiri (Gorys Keraf. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingannya pribadi. si pemakai bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya. pembacanya.Dalam perkembangannya. bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita. kita dapat menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu. atau khalayak sasarannya. kita menggunakan bahasa. Sebagai contoh lainnya. Seorang penulis mengekspresikan dirinya melalui tulisannya.

kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. 1997 : 4). melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Bahasa menjadi cermin diri kita. Dengan kata lain. kita dapat menunjukkan sudut pandang kita. seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. pemahaman kita atas suatu hal. Kita ingin dipahami oleh orang lain. asal usul bangsa dan negara kita. Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri.mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita. 3 Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan. Oleh karena itu. memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka. baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita. rumah. dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. kata-kata griya atau makro akan memberi nuansa lain pada bahasa kita. lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumah atau wisma. dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih umum. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. atau nuansa tradisional. Sebaliknya. Sebagai alat komunikasi. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita. Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. mempelajari dan . namun kata besar atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Jadi. nuansa intelektualitas. bahkan sifat kita. merencanakan dan mengarahkan masa depan kita (Gorys Keraf. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan. Melalui bahasa. misalnya. kita sudah memiliki tujuan tertentu. Lebih jauh lagi. Kata griya. Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. kata makro hanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Misalnya. serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita. nuansa keilmuan. pendidikan kita. wisma. kata besar. luas. misalnya.

Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati. Berbagai penerangan. serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa tersebut. Pada saat kita mempelajari bahasa asing. 1997 : 5). kata manakah yang sopan dan tidak sopan. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut. Jangan sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Bahasa sebagai alat komunikasi. Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. pada situasi apakah kita akan menggunakan kata tertentu. pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang Indonesia. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa. Bilamanakah kita dalam berbahasa Indonesia boleh menegur orang dengan kata Kamu atau Saudara atau Bapak atau Anda? Bagi orang asing. berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial.mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu. serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. informasi. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu. . Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Anggota-anggota masyarakat hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Misalnya. kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya. bahasa sangat efektif. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. 4 Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial Sebagai alat kontrol sosial. Jangan sampai ia menggunakan kata kamu untuk menyapa seorang pejabat. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya (Gorys Keraf.

sikap baru. yaitu (1) bidang yang mengkaji makna pembicara. Biasanya. wacana tidak hanya dipahami sebagai studi bahasa. Analisis wacana lahir dari kesadaran bahwa persoalan yang terdapat dalam komunikasi bukan terbatas pada penggunaan kalimat atau bagian kalimat. termasuk didalamnya praktik kekuasaan. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. orasi ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial. menyebutkan empat definisi pragmatik. tetapi juga menghubungkannya dengan konteks. 2001:48). pada akhirnya. tetapi juga mencakup struktur pesan yang lebih kompleks dan inheren yang disebut wacana (Littlejohn. (2) bidang yang mengkaji makna menurut . Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang. Pragmatik Para pakar pragmatik mendefinisikan istilah ini secara berbeda-beda. kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal. Bahasa dianalisis tidak hanya dari aspek kebahasaan saja. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru. 1996:84). Di samping itu. misalnya. fungsi ucapan. Yule (1996: 3). Konteks disini berarti bahasa dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu. Lebih jauh lagi. perilaku dan tindakan yang baik. Analisis Wacana Analisis wacana merupakan studi tentang struktur pesan dalam komunikasi atau telaah melalui aneka fungsi bahasa (Sobur.Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Dalam Analisis Wacana Kritis (Critical Dicourse Analysis / CDA). Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio.

dan linguistik) dan makna potensial yang mungkin dari sebuah ujaran ujaran. melebihi kajian tentang makna yang diujarkan. (2) kecenderungan sosial-kritis. sosial. pertama. Thomas (1995: 2) menyebut dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian. mengkaji makna yang dikomunikasikan atau terkomunikasikan oleh pembicara. (3) bidang yang. mengungkapkan bahwa pragmatik tumbuh dan berkembang dari empat kecenderungan atau tradisi. seperti dikutip oleh Gunarwan (2004: 5). Kecenderungan yang pertama. yaitu melihat pragmatik sebagai bagian dari semantik. dan komplementarisme. dan (4) bidang yang mengkaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu. menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning). yaitu bahwa dalam . dan kedua. dengan menggunakan sudut pandang sosial.konteksnya. Leech (1983: 6 (dalam Gunarwan 2004: 2)) melihat pragmatik sebagai bidang kajian dalam linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik. yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik. Perkembangan Pragmatik Mey (1998). Selanjutnya Thomas (1995: 22). (3) tradisi filsafat. dengan mengandaikan bahwa pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dan pendengar serta antara konteks ujaran (fisik. Keterkaitan ini ia sebut semantisisme. dan (4) tradisi etnometodologi. pragmatisisme. menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran (utterance interpretation). mendefinisikan pragmatik sebagai bidang yang mengkaji makna dalam interaksi (meaning in interaction). yaitu: (1) kecenderungan antisintaksisme. yang dimotori oleh George Lakoff dan Haji John Robert Ross. dengan menggunakan sudut pandang kognitif. menolak pandangan sintaksisme Chomsky. atau melihat semantik dan pragmatik sebagai dua bidang yang saling melengkapi.

termasuk penggunaannya. dan bahwa fonologi. seperti sering kita jumpai. bukan tata bahasa (Gunarwan 2004: 6). Tradisi yang keempat adalah tradisi tradisi etnometodologi. Kecenderungan kedua. dalam pragmatik lebih besar daripada pengaruh Lakoff dan Ross. bukan yang sibuk dengan deskripsi bahasa semata-mata secara mandiri. Leech (1983: 2). Jerman. adalah tradisi filsafat. tepatnya di Britania. keapikan sintaksis (wellformedness) bukanlah segalanya. Searle. dan Skandinavia (Mey 1998: 717 (dalam Gunarwan 2004: 6)). dan semantik bersifat periferal. Beberapa Topik Pembahasan dalam Pragmatik . bahkan semantik (Gunarwan 2004: 6). Menurut Lakoff dan Ross. dalam kaitannya dengan logika. Dalam etnometodologi. 4. dan Grice. seperti dikutip Gunarwan (2004: 7). Searle. yang tumbuh di Eropa. bahasa dikaji bukan berdasarkan aspek kegramatikalannya. Tradisi yang ketiga. komunikasi tetap dapat berjalan dengan penggunaan bentuk yang tidak apik secara sintaksis (ill-formed). kajian bahasa dalam etnometodologi lebih ditekankan pada komunikasi. Dengan kata lain.kajian bahasa yang sentral adalah sintaksis. mengemukakan bahwa pengaruh para filsuf bahasa. Austin dan John R. muncul dari keperluan terhadap ilmu bahasa yang secara sosial relevan. dan terutama John L. sebab. morfologi. yaitu cabang sosiologi yang mengkaji cara para anggota masyarakat tutur (speech community) mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. yang dipelopori oleh Bertrand Russell. melainkan berdasarkan cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. Ludwig Wittgenstein. Para pakar tersebut mengkaji bahasa. misalnya Austin.

dapat dipahami bahwa para filosof yang dikritik Austin ini mengevaluasi pernyataan berdasarkan benar atau salah (truth condition). pragmatik neo-Gricean (Cole). (1) Ada enam kata dalam kalimat ini (2) Presiden RI adalah Soesilo Bambang Yoedoyono Dari contoh di atas. seperti dikutip oleh Thomas (1995: 29-30). pragmatik kognitif (Sperber dan Wilson). Searle. kalimat (1) benar secara analitis dan kalimat (2) benar . seperti diungkap oleh Marmaridou (2000: 1 (dalam Gunarwan 2004: 8)). sejak itu bidang kajian ini telah berkembang jauh. dan Grice). yaitu. sesuai contoh di atas. Contoh. yang berpendapat bahwa bahasa yang digunakan sehari-hari penuh kontradiksi dan ketaksaan.4. yaitu pragmatik filosofis (Austin. How to Do Things with Words. Austin.1 Teori Tindak-Tutur Melalui bukunya. Austin dapat dianggap sebagai pemicu minat yang paling utama dalam kajian pragmatik. dan pragmatik interaktif (Thomas). bermaksud menyanggah pendapat filosof positivisme logis. seperti Russel dan Moore. dan bahwa pernyataan hanya benar jika bersifat analitis atau jika dapat diverifikasi secara empiris. sehingga kita dapat melihat sejumlah kecenderungan dalam pragmatik. Sebab.

Austin berpendapat bahwa dengan berbahasa kita tidak hanya mengatakan sesuatu (to make statements). sebagai bagian dari performatif (Austin 1962: 52 dan Thomas 1995: 49). Persyaratan kebenaran ini kemudian diadopsi oleh linguistik sebagai truth conditional semantics (Thomas 1995: 30). Melalui hipotesis performatifnya. dan . melainkan melalui bagaimana bahasa dipakai sehari-hari. struktur dalam ujaran tersebut dapat saja berbunyi Saya katakan bahwa rumah Joni terbakar. Dalam contoh (4). memasukkan ujaran konstatif. seperti juga ditekankan lebih lanjut oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). saya nikahkan kalian (performatif) (4) Rumah Joni terbakar (konstatif) Selanjutnya Austin. Contoh. Austin (dalam Thomas 1995: 31) berpendapat bahwa salah satu cara untuk membuat pembedaan yang baik bukanlah menurut kadar benar atau salahnya.karena sesuai dengan kenyataan. melainkan juga melakukan sesuatu (perform actions). Yang pertama tunduk pada persyaratan kebenaran (truth condition) dan yang kedua tunduk pada persyaratan kesahihan (felicity condition) (Gunarwan 2004: 8). (3) Dengan ini. Tindakan yang dihasilkan dengan ujaran ini mengandung tiga tindakan lain yang berhubungan. ilokusi (illocutionary act). Ujaran yang bertujuan mendeskripsikan sesuatu disebut konstatif dan ujaran yang bertujuan melakukan sesuatu disebut performatif. yaitu lokusi (locutionary act). karena memiliki struktur dalam yang mengandungi makna performatif. yang menjadi landasan teori tindak-tutur (speech-act).

komisif (comissive). dan deklarasi (declaration) (Littlejohn 2002: 80. dan deklarasi merupakan tindak-tutur yang mengubah status sesuatu.2 Prinsip Kerja Sama (Cooperative Principle) Grice mengemukakan bahwa percakapan yang terjadi di dalam anggota masyarakat dilandasi oleh sebuah prinsip dasar. yaitu asertif (assertive). seperti dikembangkan lebih jauh oleh Searle (dalam Gunarwan 2004: 9). Selain itu. Kerja sama . ekspresif merupakan tindak-tutur yang menyatakan perasaan pembicaranya. Dalam direct speeh-act terdapat hubungan langsung antara struktur kalimat dengan fungsinya. dapat berupa tindak-tutur langsung (direct speech-act) dan tindak-tutur tidak langsung (indirect speech-act). ekspresif (expressive). Searle juga menyebut lima jenis fungsi tindak-tutur. sedangkan dalam indirect speech-act hubungannya tidak langsung atau menggunakan (bentuk) tindak-tutur lain (Gunarwan 2004: 9. Asertif atau representatif merupakan tindak-tutur yang menyatakan tentang sesuatu yang dipercayai pembicaranya benar. Tindak lokusioner berkaitan dengan produksi ujaran yang bermakna. yaitu prinsip kerja sama (cooperative principle) (Yule 1996: 36-37 dan Thomas 1995: 61). direktif (directive). Tindak-tutur. direktif merupakan tindak-tutur yang menghendaki pendengarnya melakukan sesuatu.perlokusi (perlocutionary act) (Yule 1996: 48). tindak ilokusioner terutama berkaitan dengan intensi atau maksud pembicara. dan Yule 1996: 53-54). komisif merupakan tindak-tutur yang digunakan pembicaranya untuk menyatakan sesuatu yang akan dilakukannya. dan tindak perlokusioner berkaitan dengan efek pemahaman pendengar terhadap maksud pembicara yang terwujud dalam tindakan (Thomas 1995: 49). dan Yule 1996: 5455). 4.

menyebut dua macam implikatur. yaitu implikatur konvensional dan implikatur konversasional. mengungkapkan secara beraturan (Gunarwan 2004: 11 dan Thomas 1995: 63-64). misalnya untuk memberikan informasi secara tersirat (implicature) dan menjaga muka lawan bicara (politeness). dalam komunikasi kadang kita tidak mematuhi prinsip tersebut. yaitu (1) bidal kuantitas (quantity maxim). Implikatur konvensional merupakan implikatur yang dihasilkan dari penalaran logika. 4. (5) Bahkan Bapak Menteri Agama menghadiri sunatan anak saya . memberi informasi sesuai yang diminta. dan (4) bidal cara (manner maxim). ujaran yang mengandung implikatur jenis ini. menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti kebenarannya. didasarkan atas beberapa alasan. Berkaitan dengan prinsip kerja sama Grice di atas. seperti diungkap oleh Thomas (1995: 57). pada kenyataannya.yang terjalin dalam komunikasi ini terwujud dalam empat bidal (maxim). memberi sumbangan informasi yang relevan. mengungkapkan secara singkat. Implikatur konversasional merupakan implikatur yang dihasilkan karena tuntutan konteks tertentu (Thomas 1995: 58). menghindari ketaksaan. Hal ini. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 12-14). seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 14).3 Implikatur (Implicature) Grice. menghindari ketidakjelasan pengungkapan. (3) bidal relasi (relation maxim). Contoh. dapat dicontohkan dengan penggunaan kata bahkan. (2) bidal kualitas (quality maxim).

bidal yang terpenting dalam teori Grice adalah bidal relevansi. dengan menggunakan prinsip kerja sama Grice. sedangkan yang kedua tidak.4 Teori Relevansi Teori relevansi yang dikembangkan oleh Sperber dan Wilson merupakan kritik terhadap empat maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama Grice. Dalam teori relevansi dipelajari bagaimana sebuah muatan pesan dapat dipahami oleh penerimanya. misalnya contoh (5) di atas. . menyebutkan bahwa bahasa dalam penggunaannya (language in use) selalu dapat diidentifikasi melalui hal yang disebutnya indeterminacy atau underspecification. Contoh. Menurut mereka. 4. menurut Gazdar. Melalui hal tersebut. Yang pertama ada karena konteks ujaran. penerima pesan (addressee) hanya memilih sesuatu yang dianggapnya relevan dengan apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan (addresser) dalam konteks komunikasi tertentu.(6) Saya kebetulan ke Inggris untuk studi selama dua tahun dan berangkat besok Contoh (5) di atas merupakan implikatur konvensional yang berarti Bapak Menteri Agama biasanya tidak menghadiri acara sunatan. sedangkan contoh (6) merupakan implikatur konversasional yang bermakna ‘tidak’ dan merupakan jawaban atas pertanyaan maukah Anda menghadiri selamatan sunatan anak saya? Berbeda dengan Grice. Sperber dan Wilson (1995). misalnya contoh (6) di atas. dan percakapan dapat terus berjalan meski hanya melalui bidal ini. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). implikatur dapat dibedakan menjadi implikatur khusus dan implikatur umum.

Misalnya pada contoh (7) di atas. yaitu: pertama. Dengan kata lain. misalnya tindakan untuk membuat sesuatu menjadi jelas dan dapat dimengerti oleh penerima pesan. when do you want to go? . Sperber dan Wilson (1995). pesan ini berada dalam spesifikasi tertentu yang disepakati oleh addresser dan addressee dalam konteks komunikasi. explicature atau degree of relevance. namun mencakup perluasan wilayah kognitif (cognitive environment) kedua belah pihak. tahapan yang harus dilewati untuk memahami implikatur dalam percakapan. Contoh yang ditulis Renkema (2004: 23) di bawah ini memberikan gambaran yang cukup jelas. there is a shuttle service sixty euros one-way. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 22). untuk menjelaskan cara sebuah pesan dipahami penerimanya. Setiap pembaca dapat memahami bahwa pesan ini hanya berlaku jika ia akan meninggalkan ruangan tersebut untuk terakhir kalinya. kedua. menetapkan tiga macam hubungan antara cue dan implicature. komunikasi tidak hanya memasukkan apa yang ada dalam pikiran pengirim pesan ke dalam pikiran penerima pesan. yaitu tidak perlu mengunci pintu jika keluar dalam batasan waktu dan situasi yang diperkirakan cukup aman. dan ketiga. ujaran merupakan sebentuk tindakan dari komunikasi ostensif. misalnya untuk ke kamar mandi.(7) Pastikan semua pintu terkunci jika meninggalkan ruangan ini. (8) A: Well. bukan untuk setiap kali meninggalkan ruangan. pengirim pesan dapat memperkirakan reaksi penerima pesan terhadap pesan yang disampaikannya. Selanjutnya.

4. Dalam percakapan tersebut. If you buy ticket when you turn up. pemahaman penerima pesan terhadap apa yang hendak disampaikan oleh pengirim pesan terjadi melalui beberapa tahapan. it costs 50 euros. How does it works? You just turn up for the shuttle service? A: That might be cheaper. ujaran at the weekend. Then that's fifty. A: What weekend? B: Next weekend. ia mengandaikan B dapat mengerti bahwa that migh be cheaper dapat berarti If you purchase a ticket now. Dalam percakapan di atas. dalam pengertian degree of relevance. merupakan ujaran yang relevansinya rendah dan membutuhkan processing effort yang lebih besar. karena semakin tinggi contextual effect maka semakin rendah ia membutuhkan processing effort. Begitu juga A. you have booked seat which costs 60 euros. sedangkan that might be cheaper merupakan ujaran yang relevansinya lebih baik.5 Kesantunan (Politeness) .B: At the weekend. Dalam hal ini. padahal A harus memastikan dengan jelas setiap pemesanan pembelian tiket. B mengira A mengerti bahwa at the weekend berarti next weekend.

berkenaan dengan bobot mutlak (absolute weight) tindakan tertentu dalam kebudayaan tertentu. yang dikutip oleh Jaszczolt (2002: 318). misalnya permintaan "May I borrow your car?" mempunyai bobot yang berbeda dengan permintaan "May I borrow your pen?". Maaf. seperti dikutip oleh Renkema (2004: 25). jarak sosial atau social distance (D) antara pembicara dengan lawan bicaranya. Kebutuhan yang pertama disebut positive face. kekuasaan atau power (P) yang dimiliki lawan bicara (Renkema 2004: 26). Numpang tanya. yaitu: pertama. Mas? . misalnya bobot kedua permintaan di atas tidak terlalu besar jika kedua ungkapan tersebut ditujukan kepada saudara sendiri. Menurut Goffman (1967: 5). harga diri (self-esteem). tingkat gangguan atau rate of imposition (R). dan ketiga. Dengan kata lain. boleh tanya? b.Konsep strategi kesantunan yang dikembangkan oleh Brown dan Levinson diadaptasi dari konsep face yang diperkenalkan oleh seorang sosiolog bernama Erving Goffman (1956) (Renkema 2004: 24-25). (9) a. Pak. Intensitas FTA diekspresikan dengan bobot atau weight (W) yang mencakup tiga parameter sosial. setiap partisipan memiliki dua kebutuhan dalam setiap proses sosial: yaitu kebutuhan untuk diapresiasi dan kebutuhan untuk bebas (tidak terganggu). kedua. sedangkan yang kedua disebut negative face. Brown dan Levinson (1978) membangun teori tentang hubungan intensitas FTA dengan kesantunan yang terrealisasi dalam bahasa (Renkema 2004: 25). Contoh. Menurut Goffman (1956). Berdasarkan konsep face yang dikemukakan oleh Goffman ini. dan citra diri di depan umum (public selfimage). face dapat diartikan kehormatan. "face merupakan gambaran citra diri dalam atribut sosial yang telah disepakati".

lend me a hundred dollars. Kelima strategi tersebut diurut berdasarkan tingkat resiko "kehilangan muka". could you lend me a hundred bucks? (positive polite) . Politeness. face work technique. semakin tinggi resiko kehilangan muka. dapat dilakukan. semakin besar intensitas FTA mengancam stabilitas komunikasi. maka politeness strategy semakin dibutuhkan. Brown dan Levinson (1978). Politeness (kesantunan) dalam hal ini dapat dipahami sebagai upaya pencegahan dan atau perbaikan dari kerusakan yang ditimbulkan oleh FTA. Hey. friend. misalnya mahasiswa kepada dosen atau yang muda kepada yang tua. dalam penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat banyak cara untuk menghindari FTA yang dapat direduksi menjadi lima macam cara. Dalam hal ini.Dalam contoh di atas terlihat jelas. (5) a. misalnya dengan pujian. Renkema (2004: 27) memberi contoh strategi tersebut. sedangkan politeness yang dilakukan untuk tujuan sebaliknya disebut respect politeness. misalnya dengan melakukan tindakan yang tidak kooperatif dalam komunikasi (Renkema 2004: 25). yang bertujuan untuk mendapatkan positive face disebut solidarity politeness. sedangkan ujaran (9b) mungkin diucapkan kepada orang yang secara sosial jaraknya lebih dekat (9a). (baldly) b. Berkaitan dengan politeness strategy ini. seperti diungkapkan oleh Renkema (2004: 26). maka semakin kecil kemungkinan pembicara melakukan FTA. ujaran (9a) mungkin diucapkan pembicara yang secara sosial lebih rendah dari lawan bicaranya. dapat dilakukan. Hey.

bidal pujian (approbation maxim). dan bagaimana rangkaian tersebut dapat dinyatakan well-formed secara gramatikal. Secara umum. bidal kedermawanan (generosity maxim). seperti dikemukakan oleh Yule (1996: 4). Dalam hal ini. . dan. yaitu bidal kebijaksanaan (tact maxim). tetap dapat dinyatakan apik secara sintaksis. bidal kesetujuan (aggreement maxim). bagaimana bentuk-bentuk tersebut dirangkai dalam kalimat. dipelajari bagaimana hubungan antarbentuk linguistis. meskipun tidak dapat diverifikasi secara empiris. I'm sorry I have to ask. Dalam sintaksis. bidal kerendahhatian (modesty maxim). Pakar ini membahas teori kesantunan dalam kerangka retorika interpersonal (Eelen 2001: 6). bidal simpati (sympathy maxim). salah satu kecenderungan yang melatarbelakangi berkembangnya pragmatik adalah antisintaksisme Lakoff dan Ross. sehingga bentuk seperti kucing menyapu halaman. Oh no. seperti diungkap oleh Gunarwan (2004: 19). 5. ditambah bidal pertimbangan (consideration maxim). (off record) Teori kesantunan lain dibahas oleh Leech (1983). Leech (dalam Eelen 2001: 8) menyebutkan enam bidal kesantunan. but could you lend me a hundred dollars? (negative polite) e. Pragmatik dalam Linguistik Seperti telah saya uraikan sedikit dalam sub 3 di atas. I'm out of cash! I forgot to go to the bank today. sintaksis tidak mempersoalkan baik makna yang ditunjuknya maupun pengguna bahasanya.c.

bentuk kucing menyapu halaman adalah bentuk yang tidak berterima secara semantis. untuk menjelaskan fenomena pemakaian bahasa sehari-hari. makna apa yang dituturkan. makna juga merupakan hal yang tidak dapat diabaikan dalam analisis bahasa. meskipun bentuk seperti ini dapat saja kita jumpai. dapat dipahami bahwa perbedaan utama antara sintaksis dan pragmatik. karena masih mengabaikan unsur pengguna bahasa. Atas dasar ini. sebuah pernyataan harus dapat diverifikasi secara empiris atau harus bersifat analitis. melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. selain tata bahasa. Pembahasan tentang makna membawa kita pada pentingnya semantik. tidak dapat dinyatakan benar karena yang pertama menyalahi logika dan yang kedua tidak dapat diverifikasi langsung. di samping sintaksis dan semantik. Berdasarkan truth conditional semantics. dapat dipahami. Kegunaan pragmatik. terletak pada makna ujaran dan pada pengguna bahasa. karena tidak dapat diverifikasi secara empiris dan bukan termasuk pernyataan logika. dan maksud dari tuturan. untuk dapat dinyatakan benar. yaitu tataran linguistik yang mengkaji hubungan antara bentuk-bentuk linguistik (linguistic forms) dan entitas yang terdapat di luar bahasa. Dengan kata lain. dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometodologi. penggunaan bahasa tidak semata-mata didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis.Dalam kehidupan sehari-hari. dalam analisis bahasa. sekaligus menyatakan pentingnya studi pragmatik dalam linguistik. Namun demikian. bahwa komunikasi tetap dapat berjalan meskipun menggunakan bahasa yang tidak apik secara sintaksis. Lebih tepatnya. Dengan demikian. bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan. dan kedua. dibutuhkan juga pragmatik yang dalam hal ini saya pahami sebagai bidang yang mengkaji hubungan antara struktur yang digunakan penutur. dan memang sering kita temukan. sehingga bentuk seperti seandainya saya dapat berdiri tentu saya tidak akan dapat berdiri dan saya akan datang besok pagi. pertama. demi kebutuhan para anggota masyarakat tutur untuk mangorganisasi dan memahami kegiatan mereka. Dengan demikian. yang tidak . pembahasan makna dalam semantik belum memadai.

Tentang perbedaan yang pertama. dan kedua. pengetahuan ini penting untuk membimbing pemelajar agar dapat menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan situasinya. dalam arti praktis. untuk melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik. dan bagaimana kondisi felisitas yang memungkinkan bagi sebuah tindak-tutur. Selanjutnya. misalnya. kaidah berbeda dengan prinsip berdasarkan sifatnya. Menurut Leech (dalam Eelen 2001: 6) perbedaan antara semantik dan pragmatik pada. semantik mengkaji makna ujaran yang dituturkan. yaitu bahwa pengetahuan pragmatik. karena selain benar. misalnya. bagaimana memahami implikatur percakapan. bagaimana strategi kesantunan mempengaruhi penggunaan bahasa. pengetahuan tentang prinsip-prinsip pragmatik dalam bahasa yang dimaksud . keduanya tidak dapat benar-benar dipisahkan. semantik mengkaji makna (sense) kalimat yang bersifat abstrak dan logis. terdapat keterkaitan. patut diketahui oleh pengajar untuk membekali pemelajar dengan pengetahuan tentang penggunaan bahasa menurut situasi tertentu. dan memiliki batasan yang bersinggungan dengan prinsip lain. dapat bertentangan dengan prinsip lain. saya akan mengemukakan pendapat Leech (1980). sedangkan prinsip bersifat normatif atau dapat diaplikasikan secara relatif.terdapat dalam sintaksis dan semantik. absolut atau bersifat mutlak. pertama. sedangkan pragmatik mengkaji makna ujaran yang terkomunikasikan atau dikomunikasikan. sebab daya mencakup juga makna. meskipun makna dan daya adalah dua hal yang berbeda. seperti diungkapkan Gunarwan (2004: 22). sedangkan pragmatik mengkaji hubungan antara makna ujaran dan daya (force) pragmatiknya. Dalam pengajaran bahasa Indonesia. sedangkan pragmatik terikat pada prinsip (principle-governed). Kaidah bersifat deskriptif. bahasa yang digunakan harus baik. dalam pengajaran bahasa. dalam hal ini dapat ditunjukkan dengan. semantik terikat pada kaidah (rule-governed). Dalam pengajaran bahasa asing. dan memiliki batasan yang jelas dengan kaidah lainnya. Dengan kata lain. Selanjutnya. Lebih jauh lagi.

berkaitan dengan pengajaran bahasa. tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bahwa pragmatik penting dipelajari dalam program studi linguistik.penting demi kemampuan komunikasi yang baik dalam bahasa tersebut. pertama. Selain itu. dapat disimpulkan bahwa kaitan antara pragmatik dan pengajaran bahasa adalah dalam hal kompetensi komunikatif yang mencakup tiga macam kompetensi lain selain kompetensi gramatikal (grammatical competence). pragmatik merupakan satu-satunya tataran dalam linguistik yang mengkaji bahasa dengan memperhitungkan juga penggunanya. Berdasarkan penjelasan di atas. kedua. Daftar Acuan . saya melihat pentingnya pragmatik dalam linguistik setidaknya dalam dua hal. dan kompetensi strategik (strategic competence) yang berkaitan dengan kemampuan pengungkapan gagasan melalui beragam gaya yang berlaku khusus dalam setiap bahasa. pragmatik berperan dalam pengembangan kompetensi komunikatif. saya melihat kedudukan semantik dan pragmatik sebagai dua hal yang saling melengkapi. yaitu kompetensi sosiolinguistik (sociolinguistic competence) yang berkaitan dengan pengetahuan sosial budaya bahasa tertentu. 6. berkaitan dengan ketidakmampuan sintaksis dan semantik dalam menjelaskan fenomena penggunaan bahasa sehari-hari. kompetensi wacana (discourse competence) yang berkaitan dengan kemampuan untuk menuangkan gagasan secara baik. Secara umum. Penutup Seperti telah disebutkan di muka.

Jerome Publishing Gunarwan. How to Do Things with Word (edisi kedua). Manchester. K. Politeness: Some Universal in Language Usage. UK: St. Yule. 1995. Oxford: Oxfod University Press. Brown. Jenny. Semantics and Pragmatics: Meaning in Language and Discourse. Meaning in Interaction: an Introduction to Pragmatics. George. Edinburgh: Pearson Education. 2002. Gino. John L. dan Stephen C. 2004. London/New York: Longman. A Critique of Politeness Theories. Amsterdam: John Benjamins Publishing Company. Asim. Eelen. Jaszczolt. Introduction to Discourse Studies.. 1978. 2001. Jan. IKIP Singaraja. 1962. Dari Pragmatik ke Pengajaran Bahasa (Makalah Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah). Renkema. Penelope. Thomas. Oxford University Press. 1996. 2004. Levinson.Austin. Oxford. Pragmatics. . Cambridge: Cambridge University Press.M.

Agus M. penggunaan objek seperti pakaian.google. M. Sedangkan menurut Atep Adya Barata mengemukakan bahwa: “Komunikasi non verbal yaitu komunikasi yang diungkapkan melalui pakaian dan setiap kategori benda lainnya (the object language). Ed. dan penggunaan simbol-simbol. menyatakan bahwa: “Komunikasi non verbal yaitu komunikasi yang pesannya dikemas dalam bentuk non verbal. komunikasi dengan gerak (gesture) sebagai .. potongan rambut. Hardjana.id/books? id=cpDAPMAmimcC&pg=PA3&lpg=PA3&dq=analisis+wacana&source=bl&ots =CbrnpF7pUi&sig=ENrqTRQYcF1V98jVoAJt3H8kTQA&hl=id&sa=X&ei=0TvTuujDsXTrQebm-T3CA&ved=0CEAQ6AEwBA#v=onepage&q=analisis %20wacana&f=false http://riswantohidayat. dimana penyampaiannya bukan dengan kata-kata ataupun suara tetapi melalui gerakan-gerakan anggota tubuh yang sering dikenal dengan istilah bahasa isyarat atau body language. Menurut Drs.com/komunikasi/komunikasi-non-verbal/ Komunikasi Non Verbal Pengertian Bahasa non verbal merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sering digunakan dalam presentasi.http://books. Selain itu juga.wordpress.co.Sc. penggunaan bahasa non verbal dapat melalui kontak mata. tanpa kata-kata”.

Menggelengkan kepala yang berarti tidak setuju. Melambaikan tangan kepada orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari penggunaan bahasa non verbal sering digunakan oleh seseorang. Bentuk Komunikasi Non Verbal Bentuk-bentuk komunikasi non verbal terdiri dari tujuh macam yaitu: a. berarti seseorang boleh masuk sesuai dengan jenisnya. dan komunikasi dengan tindakan atau gerakan tubuh (action language). seperti: Menganggukan kepala yang berarti setuju. berarti ia sedang marah.sinyal (sign language). yang berarti seseorang tersebut sedang memanggilnya untuk datang kemari. Gambar pria dan wanita di sebuah toilet. Komunikasi visual . Menunjukkan jari kepada orang lain diikuti dengan warna muka merah.

serta bentuk yang unik akan membantu mendapat perhatian pendengar. sentuhan di punggung dan lain sebagainya merupakan salah satu bentuk komunikasi yang menyampaikan suatu maksud/tujuan tertentu dari orang yang menyentuhnya. Komunikasi gerakan tubuh Kinesik atau gerakan tubuh merupakan bentuk komunikasi non verbal. c. atau simbol-simbol. seperti. . seseorang dapat mengetahui informasi yang disampaikan tanpa harus mengucapkan suatu kata. Sebagai contoh: bersalaman. Seperti menganggukan kepala berarti setuju. b. pukulan. mengelus-ngelus. Dengan menggunakan gambar-gambar yang relevan. ekspresi wajah. isyarat dan sikap tubuh. Gerakan tubuh digunakan untuk menggantikan suatu kata yang diucapkan. Komunikasi sentuhan Ilmu yang mempelajari tentang sentuhan dalam komunikasi non verbal sering disebut Haptik. lambanglambang. grafik-grafik.Komunikasi visual merupakan salah satu bentuk komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan berupa gambar-gambar. penggunaan komunikasi visual ini akan lebih cepat dalam pemrosesan informasi kepada para pendengar. Dibanding dengan hanya mengucapkan kata-kata saja. melakukan kontak mata. Dengan gerakan tubuh. dan penggunaan warna yang tepat.

kotor dan lain-lain). Komunikasi penampilan Seseorang yang memakai pakaian yang rapi atau dapat dikatakan penampilan yang menarik. ruang. e. Komunikasi citrasa . Hal ini merupakan bentuk komunikasi yang menyampaikan pesan kepada orang yang melihatnya. ”ruangan ini kotor”. Komunikasi penciuman Komunikasi penciuman merupakan salah satu bentuk komunikasi dimana penyampaian suatu pesan/informasi melalui aroma yang dapat dihirup oleh indera penciuman. Misalnya aroma parfum bulgari. seseorang tidak akan memahami bahwa parfum tersebut termasuk parfum bulgari apabila ia hanya menciumnya sekali. temperatur dan warna. sehingga mencerminkan kepribadiannya. berarti seseorang tersebut menyatakan demikian karena atas dasar penglihatan dan perasaan kepada lingkungan tersebut. Tetapi orang akan menerima pesan berupa tanggapan yang negatif apabila penampilannya buruk (pakaian tidak rapih. Contoh: jarak. ”lingkungannya panas” dan lain-lain.d. Ketika seseorang menyebutkan bahwa ”jaraknya sangat jauh”. Komunikasi lingkungan Lingkungan dapat memiliki pesan tertentu bagi orang yang melihat atau merasakannya. g. f.

lezat dan lain-lain. meminta maaf. dimana penyampaian suatu pesan/informasi melalui citrasa dari suatu makanan atau minuman. berterima kasih. Seseorang tidak akan mengatakan bahwa suatu makanan/minuman memiliki rasa enak. Penetapan fungsi-fungsi itu berpengaruh terhadap pemilihan dan pengurutan materi pelajaran yang berupa gramatika dan bentukbentuk bahasa yang digunakan untuk mengungkapkan fungsi-fungsi tersebut. 5.Komunikasi citrasa merupakan salah satu bentuk komunikasi. manis. dan meminta pertolongan . menyatakan pendapat. memberikan petunjuk. Dengan kata lain. meminta informasi. Silabus Fungsional (Functional Syllabus) Model silabus bahasa lain yang sangat erat kaitannya dengan model silabus nosional adalah silabus fungsional ( functional syllabus ). Silabus ini menitik-beratkan perhatiannya pada fungsi-fungsi komunikatif bahasa yang dijadikan sebagai landasan dalam pemilihan dan pengurutan materi pelajaran. pemilihan dan pentahapan fungsi-fungsi komunikatif dilakukan setelah tujuan . Tujuan pembelajaran bahasa dideskripsikan dalam bentuk fungsi-fungsi komunikatif yang dibutuhkan oleh siswa. Sehingga dapat dikatakan bahwa citrasa dari makanan/minuman tadi menyampaiakan suatu maksud atau makna. seperti mengundang ke pesta ulang tahun. apabila makanan tersebut telah memakan/meminumnya.

direktif (directive). Fungsi-fungsi ini secara umum dikelompokkan menjadi lima kelompok besar. interpersonal (interpersonal). dan imaginatif (imaginative). 16 . tetapi penyajiannya harus dilakukan secara terpadu mengikuti fungsi-fungsi komunikatif bahasa yang sedang dibahas. barulah diikuti oleh penetapan bentuk-bentuk bahasa yang sesuai dan tepat. 23 Karena sifatnya yang berada di luar aspek kebahasaan. referensial (referential). yaitu fungsi personal (personal ). fungsi-fungsi komunikatif bahasa yang merupakan meteri inti dari keseluruhan materi pelajaran tidak dapat ditentukan dan diurutkan berdasarkan tingkat kesulitannya tetapi harus ditentukan berdasarkan kebutuhan siswa dalam berkomunikasi. Ini menunjukkan bahwa model silabus fungsional tidak menolak keberadaan dan keberartian materi gramatikal dalam pembelajaran bahasa.pembelajaran ditetapkan.

com/2008/12/judul-analisis-wacana-kritistentang.http://bagusboedhi.blogspot.html .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful