ASKEP ANAK DENGAN MENINGITIS MENINGITIS A.

Pengertian Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur (Smeltzer, 2001). Meningitis merupakan infeksi akut dari meninges, biasanya ditimbulkan oleh salah satu dari mikroorganisme pneumokok, Meningokok, Stafilokok, Streptokok, Hemophilus influenza dan bahan aseptis (virus) (Long, 1996). Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat (Suriadi & Rita, 2001).

Suatu peradangan akut pada selaput otak yang diakibatkan oleh

Bakteri

Virus

Meningitis Bakteri

Meningitis non bakteri ( Aseptc )

90 % kasus terjadi pada anak umur 1 bln - 5 th

B. Etiologi

biasanya dari paru paru. yaitu : 1. sumsum tulang belakang atau vertebra yang kemudian pecah kedalam rongga archnoid. pada anak dan orang dewasa. Virus. Klebsiella pneumoniae. Meningitis tuberculosa terjadi akibat komplikasi penyebab tuberculosis primer. defisiensi imunoglobulin. paralysis sampai deserebrasi. C. Pada meningitis tuberkulosa dapat terjadi pengobatan yang tidak sempurna atau pengobatan yang terlambat. 3. Diplococcus pneumoniae (pneumokok). Faktor maternal : ruptur membran fetal. Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun. 2. 5. 4. Tuberkulosa ini timbul karena penyebaran mycobacterium tuberculosa. Escherichia coli. infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan. Bakteri : Mycobacterium tuberculosa. tetapi biasanya sekunder melalui pembentukan tuberkel pada permukaan otak. reabsorbsi berkurang atau produksi berlebihan dari likour serebrospinal. Penyebab lainnya lues. Penyebab lainnya lues. Kelainan sistem saraf pusat. Streptococus haemolyticuss.1. Haemophilus influenzae. . Toxoplasma gondhii dan Ricketsia. Neisseria meningitis (meningokok). Peudomonas aeruginosa. Dapat terjadi cacat neurologis berupa parase. hydrocephalus akibat sumbatan . 6. Toxoplasma gondhii dan Ricketsia. Klasifikasi Meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak. Staphylococcus aureus. Faktor predisposisi : jenis kelamin laki-laki lebih sering dibandingkan dengan wanita. pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem persarafan. Virus. Meningitis tuberculosa masih sering dijumpai di Indonesia. Meningitis bukan terjadi karena terinpeksi selaput otak langsung penyebaran hematogen. Anak juga bias menjadi tuli atau buta dan kadang kadang menderita retardasi mental. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Meningitis serosa Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak yang jernih.

semuanya ini penghubung yang menyokong perkembangan bakteri. Kuman secara hematogen sampai keselaput otak. mastoiditis. Escherichia coli. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok). Saluran vena yang melalui nasofaring posterior. Neisseria meningitis (meningokok). edema serebral dan peningkatan TIK. otitis media. Radang juga menyebar ke dinding membran ventrikel serebral. D. Faktor predisposisi mencakup infeksi jalan nafas bagian atas. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolisme akibat eksudat meningen. Streptococus haemolyticuss. Klebsiella pneumoniae. Peudomonas aeruginosa. mastoiditis dan lain lain. anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain. Meningitis bakteri dihubungkan dengan perubahan fisiologis intrakranial. Meningitis purulenta Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula spinalis. prosedur bedah saraf baru. Eksudat purulen dapat menyebar sampai dasar otak dan medula spinalis. trauma kepala dan pengaruh imunologis.2. pneumonia. daerah pertahanan otak (barier oak). Patofisiologi Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari orofaring dan diikuti dengan septikemia. vaskulitis dan hipoperfusi. bronchopneumonia. yang menyebar ke meningen otak dan medula spinalis bagian atas. endokarditis dan lain lain. telinga bagian tengah dan saluran mastoid menuju otak dan dekat saluran vena-vena meningen. Dapat pula sebagai perluasan perkontinuitatum dari peradangan organ / jaringan didekat selaput otak. Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah korteks. misalnya abses otak. misalnya pada penyakit penyakit faringotonsilitis. . yang terdiri dari peningkatan permeabilitas pada darah. Staphylococcus aureus. Meningitis purulenta pada umumnya sebagai akibat komplikasi penyakit lain. yang dapat menyebabkan trombus dan penurunan aliran darah serebral. Pada infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi meningitis. Haemophilus influenzae. otitis media.

halusinasi. muntah. kejangkejang  Anak menjadi irritable dan agitasi dan dapat berkembang photopobia. Manifestasi klinis   Tergantung pada luasnya penyebaran dan umur anak Dipengaruhi oleh type dari organisme keefektifan dari terapi CHILDREN AND ADOLESCENT  Sakitnya tiba-tiba. panas dingin. kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnya hemoragi (pada sindromWaterhouse-Friderichssen) sebagai akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang disebabkan oleh meningokokus Infeksi Pembuluh darah CSS Seluruh rongga sub arachnoid Eksudat Tuberkel Penetrasi Luka Kelainan pembuluh darah (Arthritis-phlebitis) Infark Otak Obstruksi sisterna basalis Hidrocephalus Pelunakan Otak E. sakit kepala. adanya demam.Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal. delirium. tingkah laku yang agresif atau mengantuk stupor dan koma  Gejala pada respiratory atau gastrointestinal  Adanya tahanan pada kepala jika difleksikan .

muntah dan penurunan tingkat kesadaran). seperti:      Menolak untuk makan Kemampuan menelan buruk Muntah dan kadang-kadang ada diare Tonus otot lemah. . pernafasan tidak teratur.  Tanda kernig dan brudzinki (+)  Tanda kernik positip: ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadan fleksi kearah abdomen. RR yang tidak teratur/apnoe. Colli INFANT AND CHILDREN  Manifestasi klinisnya biasanya tampak pada anak umur 3 bulan sampai 2 tahun  Adanya demam. mengantuk. iritabel. dan menangis meraung-raung.  Fontanel menonjol  Nuchal Rigidity  tanda-tanda brudzinki dan kernig dapat terjadi namun lambat NEONATUS  Sukar untuk diketahui  manifestasinya tidak jelas dan tidak spesifik  ada kemiripan dengan anak yang lebih tua. kejang-kejang. ( Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan karakteristik tandatanda vital (melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi). mudah lelah dan kejangkejang.  Kulit dingin dan sianosis  Peteki / adanya purpura pada kulit  infeksi meningococcus (meningo cocsemia)  Keluarnya cairan dari telinga  meningitis peneumococal  Congenital dermal sinus  infeksi E. muntah. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi maka gerakan yang sama terlihat peda sisi ektremita yang berlawanan. kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna. iritabel. pergerakan melemah dan kekuatan menangis melemah Hypothermia/demam. joundice. Kekakuan pada leher (Nuchal Rigidity) Upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher. nafsu makan menurun.  Tanda brudzinki : bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut dan pinggul. sakit kepala. sianosis dan kehilangan BB.

Pemeriksaan Diagnostik 1. melihat ukuran/letak ventrikel. kultur biasanya negatif. Meningitis virus : tekanan bervariasi. 7. kelemahan/paralysis dari otot-otot wajah atau otot-otot yang lain pada kepala dan leher  penyebaran infeksi pada daerah syaraf cranial  Komplikasi yang serius biasanya diakibatkan oleh infeksi : meningococcal sepsis atau meningococcemia . 3. Rontgen dada/kepala/ sinus .  Bila infeksi meluas ke ventrikel. 5.  Ketulian. adanya penekanan pada bagian yang sempit  obstruksi cairan cerebrospinal  hydrocephalus  Perubahan yang dekstruktif ada pada kortex serebral dan adanya abses otak  infeksi langsung. kejang-kejang dan apnoe terjadi bila tidak diobati/ditangani F. G. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi. mungkin ada indikasi sumber infeksi intra kranial. kultur positip terhadap beberapa jenis bakteri. 4. glukosa dan protein biasanya normal. kebutaan. cairan keruh/berkabut. MRI/ skan CT : dapat membantu dalam melokalisasi lesi. 8. Glukosa serum : meningkat (meningitis) LDH serum : meningkat (meningitis bakteri) Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil (infeksi bakteri) Elektrolit darah : Abnormal.   Ketegangan . fontanel menonjol mungkin ada atau tidak Leher fleksibel Kolaps kardiovaskuler. Atau melalui penyebaran pembuluh darah. o 2. Komplikasi  Dapat dikurangi dikurangi dengan diagnosis yang awal dan pemberian terapi antimikrobial dengan cepat. hemoragik atau tumor. sel darah putih meningkat. pus yang banyak (kental). cairan CSS biasanya jernih. kultur virus biasanya dengan prosedur khusus. 6. jumlah sel darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat. hematom daerah serebral. o Analisis CSS dari fungsi lumbal : Meningitis bakterial : tekanan meningkat.

pendengaran dan kelemahan nervus yang lain Cerebral palsy. Imunisasi Vaksin meningococcus sangat penting untuk epidemis controlling di negara ketiga dimana selalu terdapat infeksi meningococcus group A. gangguan belajar. Imunitas yang didapat tidak bertahan selamanya. Untuk setiap mikroorganisme penyebab meningitis : Antibiotik Penicilin G Organisme Pneumoccocci Meningoccocci Streptoccocci Klebsiella Pseudomonas Proleus Haemofilus Influenza Terapi TBC • Streptomicyn • INH • PAS Micobacterium Tuber culosis   Gentamicyn Chlorampenikol Pencegahan 1. edema serebral. Hemiparesis dan quadriparesis  arthritis/thrombosis Pengobatan Pengobatan biasanya diberikan antibiotik yang paling sesuai. Polisakarida grup C menghasilkan respon immun yang lebih rendah dibandingkan dengan polisakarida grup A. daerah yang dibatasi oleh    Gangguan yang menetap dan penglihatan. Syndrom water haouse-Friderichsen      Overwhelming septic shock DIC Perdarahan Purpura SIADH (Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone) subdural effusion. gangguan hiperaktivitas dan adanya kejang. dan mempunyai efek immunogenik . Komplikasi post meningitis pada neonatus: Ventriculitis (yang menghasilkan akumulasi cairan dan tekanan pada otak) kista. dengan epidemi setiap beberapa tahun. penurunan perhatian. dan akan berkurang dalam 3-5 tahun setelah vaksinasi. cacat mental. kejang-kejang. herniasi dan hydrocephalus.

PRP-D. Vaksinasi hanya direkomendasikan untuk individu dengan resiko tinggi. HbOC. C. pada infant usia 2-6 bulan diberikan 3 dosis . berisi toksoid diphteria yang berikatan dengan rantai sedang PRP polymer Berdasarkan rekomendasi dari Immunization Practice Advisory Committee (1991) dan Committee on Infectious Disease of the American Academy of Pediatrics (1991). penggunaan vaksin tersebut adalah sabagai berikut: a. pada keadaan ledakan yang disebabkan oleh serogrup yang terdapat dalam vaksin. penyebab infeksi meningococcus adalah dari serogrup B. PRP-OMP. Immunoprofilaksis terhadap infeksi meningococcus menggunakan vaksin polisakarida quadrivalent (seregrup A. conjugate vaksin yang berisi outer membrane proteins dari N. yang berikatan dengan rantai PRP polymer 2002 digitized by USU digital library 7 c. orang-orang dalam barak militer. termasuk pengunjung negara dengan penyakit hiperendemik atau epidemik. b. Seluruh bayi di imunisasi Hib conjugate vaksin (Hb-OC atau PRP-OMP). Untuk meningkatkan immunogenisitas dari polisakaridal serogrup B. hanya komponen vaksin meningococcus grup A yang menghasilkan protektif antibodi. Pemberian dari vaksin dimulai sat 6 minggu. dimulai pada usia 2 bulan. Kapsul polisakarida dari organisme ini mempunyai immunogenisitas yang sangat rendah. dimana protein carrier berasal dari non toksigenik mutant dari toksin diphteria yang berikatan dengan rantai pendek oligosaccharida/OC dari polyribosylribitolphospate/PRP kasul polisakarida haemophilus influenzae tipe B. Y dan W 135). Saat ini terdapat 3 macam conjugate vaksin yaitu: a. Vaksin diberikan secara intramuskular pada tempat yang berbeda dengan menggunakan syringe yang berbeda. Pada negara berkembang. sebab anti-B polisakarida antibodi tidak bersifat bakterisidal di dalam komplemen manusia.yang amat rendah pada anak dibawah usia 2 tahun. b. dan orang-orang dengan resiko tinggi berupa defisiensi komponen terminal komplemen serta individu yn telah mengalami splenectomy. Pemberian imunisasi dapat bersamaan dgnjadwal imunisasi lain seperti DPT. Bila menggunakan Hb-OC. Meningitidis/OMP. Polio dan MMR. telah dikembangkan suatu polisakarida protein conjugate vaksin yang serupa dengan conjugate vaksin haemophilus influenzae type B. Pada infant.

Bila menggunakan PRP-OMP. Pada kelompok usia dewasa diberikan single dose secara subcutan. paling sedikit 2 bulan setelah dosis terakhir.dengan selang paling sedikit 2 bulan. dan booster diberikan saat berusia 12 bulan. sedangkan anak usia 12-14 bulan diberikan single dose. Booster diberikan saat usia 15 bulan paling sedikit 2 bulan setelah dosis terakhir. tetapi tidak cukup potent untuk mengurangi kasus carrier. Infant usia 7-11 bulan diberikan 2 dosis dengan selang paling sedikit 2 bulan sebelum mencapai usia 15 bulan. . Anak usia 7-11 bulan diberikan 2 dosis dengan selang 2 bulan. Vaksinasi ini memberikan perlindungan terhadap penyakit sebesar 90%. pada infant usia 2-6 bulan diberikan 2 dosis degan selang 2 bulan. pada kedua kelompok tersebut booster diberikan saat usia 15 bulan.

Tanda : ataksia. Riwayat kesehatan yang lalu o Apakah pernah menderita penyakit ISPA dan TBC ? Pengkajian penyakit yang pernah dialami pasien yang memungkinkan adanya hubungan atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkah pasien mengalami infeksi jalan napas bagian atas. sulit menelan. o o o o . taikardi. riwayat trauma kepala dan adanya pengaruh immunologis pada masa sebelumnya. Tanda : tekanan darah meningkat. kelumpuhan. Eliminasi Tanda : Inkontinensi dan atau retensi. turgor kulit jelek dan membran mukosa kering. Biodata klien. disritmia. otitis media. muntah. Pengkajian 1. Riwayat sakit TB paru perlu ditanyakan pada pasien terutama apabila ada keluhan batuk produktif dan pernah menjalani pengobatan obat anti TB yang sangat berguna untuk mengidentifikasi meningitis tuberculosa Apakah pernah jatuh atau trauma kepala ? Pernahkah operasi daerah kepala ? o o 3. tindakan bedah saraf. 2.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Meningitis A. Makanan/cairan Gejala : Kehilangan nafsu makan. Higiene Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri. dan tekanan nadi berat. o Riwayat kesehatan sekarang Aktivitas Gejala : Perasaan tidak enak (malaise). Tanda : anoreksia. gerakan involunter. nadi menurun. mastoiditis. Sirkulasi Gejala : Adanya riwayat kardiopatologi : endokarditis dan PJK.

Diagnosa Keperawatan 1. 4. tanda brudzinki positif dan atau kernig positif. vertigo. diplopia. C.anisokor. Tanda : Tanda : gelisah. hiperalgesia. nadi yang tidak teratur demam yang terus menerus o o o o . delusi dan halusinasi. kejang. terasa kaku pada persarafan yang terkena. rigiditas nukal. Pernafasan Gejala : riwayat infeksi sinus atau paru. ancaman kematian. nistagmus. kehilangan sensasi. kejang umum/lokal. kehilangan memori. kelemahan umum.o Neurosensori Gejala : Sakit kepala. fotofobia. parestesia. Tanda : letargi sampai kebingungan berat hingga koma. 5. Risiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/fokal. Nyeri (akut) sehubungan dengan proses inflamasi. Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskular. Intervensi Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari patogen. toksin dalam sirkulasi. Anxietas berhubungan dengan krisis situasi. ketulian dan halusinasi penciuman. afasia. Pantau suhu secara teratur Kaji keluhan nyeri dada. 3. menangis. Nyeri/keamanan Gejala : sakit kepala(berdenyut hebat. 1. hipovolemia. o o B.reflek abdominal menurun dan reflek kremastetik hilang pada laki-laki. babinski positif. Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi sehubungan dengan diseminata hematogen dari patogen. frontal). Mandiri : Beri tindakan isolasi sebagai pencegahan Pertahan kan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat. 2. peningkatan kerja pernafasan. Risiko tinggi terhadap perubahan serebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral. hemiparese. penurunan kekuatan 6.ptosis.

dianjurkan nafas dalam Cacat karakteristik urine (warna.o Auskultasi suara nafas ubah posisi pasien secara teratur. gentamisin. suhu. asetaminofen. Kaji regiditas nukal. masukan dan haluaran. Pantau BGA. diaepam. Bantu berkemih. Berikan cairan iv (larutan hipertonik. klorampenikol. 2. kelemahan umum vertigo. Resiko tinggi terhadap perubahan cerebral dan perfusi jaringan sehubungan dengan edema serebral. Mandiri : Pantau adanya kejang Pertahankan penghalang tempat tidur tetap terpasang dan pasang jalan nafas buatan. erikan obat : steoid. elektrolit). Pantau tanda vital dan frekuensi jantung. 3. toksin dalam sirkulasi. peka rangsang dan kejang. Kolaborasi : o o o o o o o o o Tinggikan kepala tempat tidur 15-45 derajat. Tirah baring selama fase akut kolaborasi berikan obat : venitoin. kejernihan dan bau) Kolaborasi : o o Berikan terapi antibiotik iv: penisilin G. penafasan. membatasi batuk. hipovolemia. ampisilin. Nyeri (akut ) sehubungan dengan proses infeksi. clorpomasin. Mandiri : Tirah baring dengan posisi kepala datar. 4. Resiko tinggi terhadap trauma sehubungan dengan kejang umum/vokal. muntah mengejan. Mandiri : o o o . Pantau status neurologis. venobarbital.

Bantu latihan rentang gerak. o 6. pakaian dingin di atas mata. Berikan penjelasan tentang penyakitnya dan sebelum tindakan prosedur.wicara dan kognitif. Periksa daerah yang mengalami nyeri tekan. dingin. sensorik dan proses pikir. Perubahan persepsi sensori sehubungan dengan defisit neurologis o Pantau perubahan orientasi. Hilangkan suara bising yang berlebihan. o o . Berikan perawatan kulit. Kaji kesadara sensorik : sentuhan. panas. ancaman kematian. asetaminofen. o o o o Kaji derajat imobilisasi pasien. o o Kaji status mental dan tingkat ansietasnya. Ansietas sehubungan dengan krisis situasi. Berikan program latihan dan penggunaan alat mobiluisasi. codein 5. Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan kerusakan neuromuskuler. Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaan. Validasi persepsi pasien dan berikan umpan balik. Beri kessempatan untuk berkomunikasi dan beraktivitas. latihan rentang gerak aktif atau pasif dan masage otot leher. terapi okupasi. o o o o o o 7. Libatkan keluarga/pasien dalam perawatan dan beri dukungan serta petunjuk sumber penyokong.o Letakkan kantung es pada kepala.alam perasaaan. Observasi respons perilaku. Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman(kepala agak tingi) Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif. o o o Kolaborasi : o Berikan anal getik. berikan matras udsra atau air perhatikan kesejajaran tubuh secara fumgsional. Kolaborasi ahli fisioterapi. masase dengan pelembab. kemampuan berbicara. berikan posisi yang nyaman kepala agak tinggi sedikit. Gunakan pelembab hangat pada nyeri leher atau pinggul.

Evaluasi Hasil yang diharapkan : 1. PERHATIAN PERAWAT  Melakukan precautions untuk melindungi anak dan orang laindari kemungkinan infeksi . mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil.  Mencegah aktifitas yang menyebabkan nyeri/ meningkatkan ketidaknyamanan. Melaporkan nyeri hilang/terkontrol dan menunjukkan postur rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat. Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang dan mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi. 5. . 4. Meningkatkan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi persepsi. Mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal dan kekuatan. Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi motorik/sensorik.  Menjaga ruangan agar tidak bising dan menimpalkan stimulus lingkungan. 2. Tidak mengalami kejang/penyerta atau cedera lain. Mencapai masa penyembuhan tepat waktu.  Memberi dukungan pada keluarga Berdiskusi dengan keluarga Memberikan informasi tentang perkembang anak dan semua prosedur yang akan dilakukan. 6. 7.H. tanpa bukti penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain. seperti mengangkat kepala anak. 3.

Smeltzer. Marilyn E. 1994.Ed. Long. And Outcome. Agung Waluyo.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Price.Buku Ajar Neurologi Klinis. Editor edisi bahasa Indonesia. 1996. Monica Ester.(1999). 1998.DAFTAR PUSTAKA Doenges.Editor edisi bahasa Indonesia.3. Monica Ester. Lebih lengkap disini: Askep Meningitis | kumpulan askep askeb | download KTI Skripsi | asuhan keperawatan kebidanan http://terselubung. Jakarta : EGC. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. 5. Ed. Jakarta : EGC.(1996). Bandung : yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan. Sylvia Anderson.cc/ .cz.I.Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Jakarta : EGC.8. N Made Sumarwati. Susan Martin et al.Jakarta : EGC. Harsono. Alih Bahasa Peter Anugrah. diagnosis.Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.Alih bahasa. Barbara C. 4. I Made Kariasa. Alih bahasa Yasmin asih. perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Suzanne C & Bare. Ed.Ed.dkk.(2001). Alih Bahasa. Ed. Yasmin asih. Patient care Standards : Nursing Process. dkk.Brenda G. Tucker.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful