PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI ABBASIYAH

Posted: Januari 24, 2010 in Uncategorized

0
PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI ABBASIYAH

(KEMAJUAN DAN KEMUNDURAN)

Pendahuluan

Peradaban Islam mulai di bangun oleh Nabi Muhammad saw, ketika berhasil merumuskan masyarakat Madani dan Piagam Madinah,1 kemudian di lanjutkan oleh Khulafa Rasyidin (Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, Utsman Ibn Afffan, dan Ali Ibn Thalib) sistem yang di kembangkan pada saat itu adalah sistem demokrasi di mana pucuk pimpinan di pilih melalui Musyawarah2 oleh beberapa orang yang di tunjuk oleh kaum muslimin atau khalifah sebelumnya,3 pasca meninggalnya Ali dan naiknya Muawiyah, sistem pemerintahan dalam Islam berubah dratis dari sistem kekhilafahan ke Monarkhi Absolut. Monarkhi Absolut di buktikan dengan di pilihnya Yazid sebagai putra mahkota, kemudian mengangkat dirinya sebagai Kholifah fi Allah, mulailah babak baru dalam pemerintahan Islam dan berlangsung terus menerus sampai kepada Khalifah Turki Usmani sebagai konsep pemerintahan Khalifah (penguasa dan pemimpin tertinggi rakyat)4 terakhir dalam dunia Islam. Peradaban Islam mengalami puncak kejayaan pada masa Dinasti Abbasiyah. Di buktikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Kemajuan ilmu pengetahuan di awali dengan menerjemahkan naskah ± naskah asing terutama yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, pendirian pusat ilmu pengetahuan dan perpustakaan Bait al- Hikmah, dan terbentuknya madzhab- madzhab ilmu pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berfikir yang menjadi ciri khas pada masa Abbasiyah lambat laun mengalami kemunduran sebab ± sebab kemunduran Dinasti ini di latar belakangi oleh faktor internal dan eksternal. Imperium kedua Islam ini muncul setelah terjadi revolusi sosial yang di peroleh oleh para keturunan Abbas dan di dukung oleh kelompok oposisi yang membrontak kepada kekuaasan Bani Umayyah seperti Syiah, Khawarij, Qodariyah,Mawali (non ±Arab) dan suku Arab bagian Selatan.5 Makalah ini akan membahas sedikit proses munculnya Dinasti Bani Abbsiyah, kemajuan yang di capai, dan faktor ± faktor yang menyebabkan terjadinya kemunduran pada masa Dinasti Abbasiyah. Dengan harapan akan terbuka wacana pemikiran terhadap peradaban Islam pada masa itu dan hikmah apa yang dapat kita ambil untuk di jadikan spirit dan pelajaran demi kemajuan Islam sekarang .

Muhammad Ibn Ali al-Abbas mulai melakukan pergerakannya dengan langkah-langkah awal yang sistematis. Di mana harus di mulai dari perencanaan isu politik yang matang. kemudian bergerak secara sistematis dan taktis. Ketiga. dan dalam kesempatan menunaikan Haji di Mekkah. Selain itu secara politik 6kekuatan Syiah hanya terpusat di Kufa.bayang Dinasti Umayyah secara intensif baru di mulahi berkisar antara 5 tahun menjelang revolusi Abbasiyah.Pertama. Kedua. ide tentang persamaan antara orang Arab dan Non Arab. Dari itulah kemudian Abbas mengatur pergerakanya secara rapi dan terencana sama seperti konsep gerakan. menggabungkan para pengikut Abu Muslim al-Khurasan dengan pengikut Abbasiyah. dimana hal tersebut tidak pernah terjadi pada masa Dinasti Bani Umayyah. . yang notabene tidak bisa bergerak secara leluasa. serta menanamkan ide-ide tentang hak khalifah.gerakan pada masa sekarang. membantuk faksi-faksi Hamimah. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa´. dan faksi Khurasan. faksi Kufah. dan mengembangkan ide-ide persamaan antara orang-orang Arab dengan non Arab karena objek propaganda Abu Muslim tersebut adalah wilayah Khurasan yang notabene merupakan basis kelompok Mawali. sehingga lebih berhak menjadi Khalifah dan menyebarkan kebencian dan kemarahan terhadap Dinasti Bani Umayyah.7 Propaganda-propaganda tersebut sukses membakar semangat api kebencian umat Islam kepada Dinasti Bani Umayyah. dan pucuk pimpinnanya adalah Muhammad Ibn Ali.Proses Munculnya Dinasti Abbasiyah Perjuangan Bani Abbas untuk keluar dari bayang. Pelopor utamanya adalah Muhammad Ibn Ali al-Abbas di Hamimah. mereka berdakwah atas nama Abbasiyah sambil berdagang mengunjungi tempat-tempat yang jauh. Kedua. Propaganda Abbasiyah dilaksanakan dengan dua tahap. Para pendakwah Abbasiyah berjumlah 150 orang di bawah para pemimpinnya yang berjumlah 12 orang. Propaganda dengan cara menghasut dan menyombongkan diri (membangga-bangkan kelompoknya sendiri) yang dilakukan oleh Bani Abbas sangat bertentangan dengan politik Islam dalam al-Qur¶an surat al-Qashash ayat 83 dikatakan : Artinya : ³Negeri akhirat itu. yakni Pertama dilaksanakan dengan sangat rahasia tanpa melibatkan pasukan perang. Langkah pertama memperoleh sukses besar melalui propaganda-propaganda yang dilakukan oleh Abu Muslim al-Khurasan dengan cara menyatakan bahwa al-Abbas adalah ahli al-Ba¶it. diantaranya. kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. membuat propaganda agama untuk menghasut rakyat menentang kekuasaan Umayyah. Ia telah banyak belajar dari kegagalan Syiah di karenakan kurang terorganisis perencanaan perlawanan. Namun di balik isu propaganda itu ada isu yang paling penting yaitu tegaknya Syariat Islam. Ketiga faksi ini bersatu dalam satu tujuan menumbangkan Dinasti Umayyah.

Mengatur keamanan wilayah hingga penduduk bisa hidup tenang dan aman. dalam khutbah pelantikan yang disampaikan di masjid Kufah. Selain itu ia menyebut dirinya dengan as-saffa (penumpah darah) yang akhirnya menjadi julukannya. Sukses Kepemimpinan Abdullah Ibn Muhammad alias Abu Abbas diumumkan sebagai khalifah pertama Dinasti Abbasiyah tahun 750 M. di perjalanan maupun di waktu melaksanakan tugas sehari-hari. sebelum dieksekusi. Sedangkan pemimpin propaganda dibebankan kepada Abu Salama. selanjutnya Abdullah Ibn Ali diperintahkan mengejar Khalifah Umayyah terakhir Marwan Ibn Muhammad bersama pasukannya melarikan diri. maka pindahlah mereka diiringi pembesar-pembesar Abbasiyah yang lain seperti Ja¶far. baik di rumah. Memelihara iman dan prinsip-prinsip yang telah disepakati bersama dengan suara bulat oleh Ulama-ulama salafdari umat Islam. dimana kekuatan tergantung kepada pembunuhan yang ia jadikan sebagai alat pembenar bagi kebijakan politiknya. Pimpinan Bani Umayyah di Kufa. Ini tentu bertentangan dengan tugas ideal seorang penguasa adalah : 1. dan menyebrang Sungai Eufrat sampai ke Damaskus. 3. perjuangan dilanjutkan oleh saudaranya Muhammad Ibn Ibrahim sampai tahun 749 M karena diketahui oleh Marwan Ibn Muhammad (Khalifah Bani Umayyah). Ibrahim telah menyerahkan kepemimpinan kepada keponakannya Abdullah Ibn Muhammad dan memerintahkan pusat gerakan di pindahkan dari Hamimah ke Kufah. 4. Isa Ibn Musa.Setelah Muhammad Ibn Ali meninggal tahun 743 M. Hal ini sebenarnya akan menjadi preseden yang buruk bagi suatu kekuasaan. dan Abdullah Ibn Ali. Harran. . Ibrahim ditangkap dan dipenjarakan di Harran. Melindungi hak-hak perorangan dari penduduk serta menegakkan hokum sesuia dengan hokum Islam hingga setiap kejahatan terhadap Allah dapat ditekan hingga titik yang amat terbatas. dan dapat dipukul di dataran rendah Sungai Zab (Tigris). pengejaran dilakukan ke Mausul. Menegakkan hokum terhadap para pelanggar hokum dan memecahkan masalah secara adil terhadap orang-orang yang sedang berselisih. Kemudian Marwan melarikan diri hingga Fustat di Mesir dan akhirnya terbunuh di Busir tahun 132 H/750 M di bawah pimpinan Salib Ibn Ali salah seorang paman Abbas yang lain. Yazid Ibn Umar Ibn Hubairah ditaklukan oleh Abu Salama pada tahun 132 H dan diusir ke Wasit. 2. ia berjanji akan memerintah sebaik-baiknya dan melaksanakan syariat Islam. Pada masa inilah revolusi Abbasiyah berlangsung. Dengan kematian Marwan Ibn Muhammad maka berdirilah Dinasti Abbasiyah sebagai pengganti Dinasti Umayyah.

Khalifah yang memerintah adalah al-Muthi¶ 334-363 H. Khalifah yang memerintah adalah al-Qa¶in 422-467 H. Periode II (232 H/847 M ± 334 H/945 M). Mengawasi tugas-tugas seluruh personal terutama menguji para pelaksana tugas-tugas kemasyarakatan hingga mampu mengarah pemerintahan untuk melindungi bangsa dan agama. ar-Rasyid 529-530 H. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu. al-Amin 193-198 H. 6. al-Muntashir 247-248 H. al-Muqtadir 295-320 H. al-Mustanshir 623-640 H. 4. Periode I (132 H/750 M. ar-Radhi 322-329 H. 8. al-Mustadhi¶ 566-575 H. Khalifah yang memerintah adalah al-Mutawakkil 232-247 H. dari tahun 132 H-656 H. Memungut pajak dan mengumpulkan zakat sesuai dengan aturan syari¶ah. Periode III (334 H/945 M ± 447 H/1055 M). khalifah yang memerintah adalah an-Nashir 575-622 H. 10. Ja¶far al-Mansur 136-158 H.8 Dinasti Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang. al-Mu¶tazz 252-255 H. disebut masa khalifah bebas dari pengaruh Dinasti lain. Dan pembelanjaan lain tanpa boros atau pelit. al-Musta¶shim 640-656 H. al-Mustazhhir 487-512 H. selama Dinasti ini berkuasa.5. al-Watsiq 227-232 H. pemerintahan Abbasiyah di bagi menjadi 5 periode : 1.232 H/847 M). al-Muqtadi 467-487 H. al-Mu¶tamid 256-279 H. al-Mu¶tasim 218-227 H. al-Mu¶tadhid 279 ± 289 H. al-Muttaqi 329333 H. al-Musta¶in 248-252 H.9 . al-Muhtadi 255-256 H. al-Mahdi 158-169 H. disebut periode pengaruh Persia pertama. al-Qadir 381 ± 422 H. al-Mustakfi 333-334 H. sosial dan budaya. Menjaga perbatasan Negara dengan berbagai pelaralatan yang dimiliki untuk menghadapi kemungkinan serangan dari luar. disebut masa kekuasaan Dinasti Saljuk dalam pemerintahan Abbasiyah atau masa pengaruh Turki kedua. mengangkat pegawai secara jujur berdasarkan keahlian seseorang dalam posisinya (tidak kolusi) agar tercapai kelancaran pemerintahan dan kemakmuran. 7. tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar Baghdad sampai jatuhnya Baghdad ke tangan bangsa Tartar di bawah pemimpin Hulaqu Khan tahun 656 H. al-Munstanjid 555-566 H. alMa¶mun 198-218 H. 9. pola pemerintahan yang ditetapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik. Khalifah yang memerintah adalah As-Saffah 132126 H. hingga kebenaran Allah bersinar di seantero wilayah itu. disebut kekuasaan Dinasti Buwaih dalam pemerintahan Khalifah Abbasiyah atau masa pemerintahan Persia kedua. alMustasyid 512-529 H. al-Muktafi 289-295 H. ath-Tha¶I 363 ± 381 H. 5. al-Hadi 169-170 H. Mengatur anggaran belanja untuk gaji karyawan/pejabat. 2. Harun ar-Rasyid 170-193 H. disebut masa pengaruh Turki pertama. Periode V (590 H/1194 M ± 656 H/1258 M). azh-Zahir 622-623 H. al-Muqtafi 530-555 H. Berjuang melawan orang-orang yang melawan Islam. al-Qahir 220-222 H. 3. Periode IV (447 H/1055 M ± 590 H/1194 M).

Padahal sejarah membuktikan bahwa dari tradisi ini muncul kecemburuan sosial yang menyebabkan terjadi ketidakpuasan dan berakhir pada pemberontakan dibeberapa daerah. maka terjadi kestabilan pemerintah dapat terjaga. penduduk Syiria yang masih tunduk kepada pemerintahan Dinasti Umayyah dan orang-orang yang kecewa kepada pemerintahan baru. kecuali penjahat yang dipenjarah menurut Undang-Undang dan memberikan bantuan cara hidup kepada orang-orang yang masih dipenjara dan yang anggota tubuhnya cacat. kemudian mendirikan sebuah Amir di Andalusia. Selain itu karena terlalu benci sampai-sampai mereka juga membongkar semua kuburan Bani Umayyah dan jenazahnya di bakar. Setelah dapat memperkokoh kekuasaan Abbasiyah al-Mansur meninggal karena sakit dalam suatu perjalanan Haji kelima bersama rombongan keluarga dan pembesar Abbasiyah. terutama dari kalangan Syi¶ah dan Khawarij. Hanya ada dua kuburan yang selamat dari kekejaman tersebut yaitu kuburan Muawiyah Ibn Abi Sofyan karena dianggap sebagai sahabat Nabi dan Umar Ibn Abdul Aziz yang selama masa pemerintahannya menerapkan keadilan dengan seadiladilnya. pemberontakan yang dilakukan oleh Abu Muslim al-Khurasan yang tidak mau tunduk kepada pusat. Dan dari revolusi itu pulah hanya satu orang yang berhasil selamat yaitu Abdurrahman ad-Dakhil. setalah meninggal pada 134 H. pemerintahan diambil alih oleh adiknya Ja¶far al-Mansur setalah dapat menyingkirkan pamannya Abdullah Ibn Ali. Masa ini dapat dikatakan sebagai masa perjuangan dan konsolidasi untuk mengamankan eksistensi Dinasti Abbasiyah. Sebenarnya tradisi ini sudah ditanamkan oleh Muawiyah ketika mengangkat anaknya Yazid. Ketika naik tahta langkah yang dilakukan oleh al-Mansur adalah menindak tegas pemberontak yang dilakukan oleh golongan Syi¶ah yang merasa disingkirkan pasca naiknya as-Saffah. Romawi. Karena dianggap korup. Disamping itu Ia juga memberikan sebuah lahan di Hamimah untuk digunakan oleh keluarga Abbas.Kebijakan politik as-Saffah yang pertama pada masa pemerintahannya adalah membasmi keluarga Bani Umayyah yang masih tersisah dengan cara mengerahkan segenap pasukan yang dipimpin oleh pamannya sendiri Abdullah Ibn Ali. yang juga berusaha menjadi khalifah. otoriter dan sekuler. Berkat visi politik dan pendekatan pragmatis yang dilakukan oleh al-Mansur. Dia meninggal dalam usia 65 tahun setelah memerintah selama 21 tahun. Al-Saffah hanya memerintah selama 4 tahun. Al-Mahdi memulai zaman pemerintahannya dengan membebaskan semua tahanan. Kemudian al-Mansur mengangkat putranya al-Mahdi dan Isa Ibn Musa untuk menggantikan posisinya kelak ketika Ia meninggal sebagaimana perjanjian dengan as-Saffah. yang baru berusia 30 tahun. Hal ini dilakukan untuk mereformasi semua sistem Dinasti Umayyah agar sesuai dengan ajaran Islam murni (Syariat Islam). Kemudian memerintahkan untuk membangun beberapa bangunan Haram dan Masjid Nabawi dan memerintahkan untuk membangun beberapa bangunan besar beserta kolam-kolam di sepanjang jalan menuju Mekkah sebagai tempat persinggahan para musafir dan mebangun pos yang menghubungkan . sehingga bisa melancarkan propaganda dengan sebaik-baiknya pasca meninggalnya. Pola seperti ini juga membuktikan bahwa Dinasti Abbasiyah menerapkan kembali sistem Monarkhi Absolut yang dulu dipraktekkan oleh kerajaan Persia.10 Pemerintah Abbasiyah kemudian dipegang oleh putranya al-Mahdi. dekaden.

terutama setelah ibunya Khaizuran meninggal dunia pada 3 tahun kekuasaan khalifah. Dalam masalah pemerintahan. Berkat dirinya. langkah awal yang dilakukan al-Hadi adalah melantik ar-Rabi¶ Ibn Yunus sebagai menteri. dan stabilitas pemerintahan terkendali. wilayah Irak untuk al-Amien dan semenanjung Arab untuk al-Qasim. Selain itu. jika perlu dengan menghalalkan segala cara. tetapi beberapa waktu kemudian ar-Rabi¶ Ibn Yunus digantikan oleh Ibrahim Ibn Zakuan al-Harrani dan bagaimana melenyapkan Harun ar-Rasyid agar mau menanggalkan gelar putra mahkota sehingga anaknya Ja¶far dapat menggantikannya kelak. Harun ar-Rasyid 170-193 H naik tahta menggantikan al-Hadi pada usia 22 tahun. ar-Rasyid merupakan puncak kegemilangan pemerintahan Abbasiyah.11 Kemudian menunpas gerakan al-Muqanna¶ al-Khurasan yaitu sebuah kelompok yang ingin menuntut balas atas kematian Abu Muslim al-Khurasan dan merampas kekuasaan Abbasiyah. ditambah lagi kebijakan pembagian kekuasaan yang adil antara putra mahkotanya yaitu al-Ma¶mun untuk wilayah Khurasan. Yahya bin Bermak dibantu juga oleh kerabat dan keluarganya. Lalu al-Mahdi mewariskan jabatan khalifah kepada anaknya al-Hadi dan Harun arRasyid. ditanggalkanlah gelar tersebut oleh Isa Ibn Musa. kekuasaan Abbasiyah digantikan oleh al-Hadi 169-170 H. orang-orang Bermak dapat menguasai dapat menguasai pemerintahan Abbasiyah hingga beberapa tahun. Berkat jabatan putra mahkota inilah Isa Ibn Musa mengalami dua kali kekejaman yaitu pada masa al-Mansur dan al-Hadi. Oleh karena itu kekuasaan itu harus dipertahankan mati-matian. ar-Rasyid dibantu oleh seorang Wazir yang bernama Yahya bin Barmak. kekayaan melimpah. Namun sebelumnya ar-Rasyid sudah melantik al-Amien sebagai penggantinya di Baghdad dan Yahya Ibn Sulaiman untuk menjalankan urusan pemerintahan. Setelah dipaksa. Dimana ilmu pengetahuan berkembang luas. Salah satu sifat penguasa adalah bagaimana kekuasaan itu langgeng dan hanya berputar disekitar garis keturunannya.12 dari sini dapat kita pahami bahwa cara-cara kekerasan merupakan alternatif utama yang diambil oleh Dinasti Abbasiyah dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi terutama masalah-masalah politik. maka al-Mahdi melantik anaknya al-Hadi sebagai putra mahkota pada 160 H dan dilanjutkan melantik Harun ar-Rasyid tahun 166 H. Setelah al-Mahdi mangkat.13 Ar-Rasyid meninggal ketika menumpas pemberontakan yang terjadi di Khurasan yang dipimpin oleh Rafi¶ Ibn Laith. karena al-Hadi di racun oleh ibunya Khaizuran yang lebih menginginkan Harun ar-Rasyid sebagai penguasa. al-Mahdi juga membuat posko pengaduan dan penganiayaan serta mengembalikan harta yang dirampas ayahnya kepada pemiliknya.Baghdad dengan wilayah Islam lainnya. Padahal hal ini jelas bertentangan dengan agama Islam dan prilaku Nabi Muhammad. Kekuasaan al-Hadi tidak berumur panjang hanya satu tahun. tetapi keinginannya itu terhalang oleh Isa Ibn Musa.14 .

bahkan kekuasaan al-Ma¶mun mengalami kejayaan seperti pada msa Harun ar-Rasyid. Puncaknya pada masa pemerintahan al-Mutawakkil. Memindahkan pusat pemerintahan dari Damaskus ke Baghdad. Bidang Politik dan Pemerintahan Kemajuan politik dan pemerintahan yang dilakukan oleh Dinasti 1. 3. Al-Ma¶mun wafat sewaktu berperang di Tursur pada usia 48 tahun. Adapun kemajuan peradaban Islam yang dibuat oleh Dinasti Abbasiyah adalah : 1. Membentuk Diwanul Kitaabah (Sekretaris Negara) yang tugasnya menjalankan tata usaha Negara. namun Ia kurang memberikan perhatian kepada pemerintahan. karena terlalu banyak bersenda gurau dan berpoya-poya. Namun sebelumnya ia sudah melantik saudaranya al-Mu¶tashim sebagai putra mahkota yang akan menggantikannya. yang . Kemajuan Dinasti Abbasiyah Kemajuan peradaban Abbasiyah sebagai disebabkan oleh stabilitas politik dan kemajuan ekonomi kerajaan yang pusat kekuasaannya terletak di Baghdad. maka pada awal kekuasaannya banyak pihak-pihak yang merongrong terutama pasca kepindahannya dari Khurasan ke Baghdad. Membentuk Wizarat untuk membantu khalifah dalam menjalankan pemerintahan Negara. sosial dan kebudayaan.15 Pasca meninggalnya al-Ma¶mun kekuasaan Abbasiyah mulai mengalami kemunduran ditambah lagi kuatnya dominasi orang-orang Turki dan Persia. 4. Namun semua itu dapat diatasi. dimana Ia mengangkat panglima besar Ashar yang berkebangsaan Turki16 dan mulailah berdiri Dinasti-Dinasti kecil merdeka di sekitar Baghdad. Yaitu Wizaratul Tanfiz sebagai pembantuk khalifah dan bekerja atas nama khalifah dan Wizaratul Rafwidl sebagai orang yang diberi kuasa untuk memimpin pemerintah. dengan gubernurnya yang bergelar Amir atau Hakim. Karena memperoleh kekuasaan dengan cara kekerasan. al-Amien tidak bisa menghalaunya dan kemudian terbunuh. ekonomi. 2. Ketika dating tentara al-Ma¶mun dari Khurasan di bawah pimpinan Tahir Ibn al-Husain dan Hatsamah Ibn A¶yam. Membentuk Nidhamul Idary al-Markazy yaitu sentralisasi wilayah dengan cara wilayah jajahan dibagi dalam beberapa propinsi yang dinamakan Imaarat. Kepala daerah hanya diberikan hak otonomi terbatas. Dijadikan ³kota pintu terbuka´ sehingga segala macam bangsa yang menganut berbagai keyakinan diizinkan bermukin di dalamnya. sedangkan khalifah sendiri hanya sebagai lambing. Dengan demikian jadilah Baghdad sebagai kota international yang sangat sibuk dan ramai. Meninggalnya al-Amien langsung digantikan oleh al-Ma¶mun (198-218). Kemudian menjadikan Baghdad sebagai pusat kegiatan politik. sehingga setiap saat siap merongrong kewibawaan Baghdad. Pada masa ini juga aliran Mu¶tazilah dijadikan sebagai madzhab nasional.Al-Amien melanjutkan estapet kepemimpinan Dinasti Abbasiyah dari tahun 193-198 H.

6. tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan. Di kerajaan ini juga. pembacaan doa bagi khalifah dalam khutbah Jum¶at. Qiwan Qadlil Qudha (Mahkamah Agung). Diwanul Khazaanah untuk mengurusi keuangan Negara. India. Menetapkan tanda kebesaran seperti al-Burdah yaitu pakaian kebesaran yang berasal dari Rasul. Diwanul al-Azra¶u untuk mengurusi kekayaan Negara dan Diwan Khazaainus Sila. 7. juga merupakan kota perdagangan terbesar di dunia. 17 9. Di sektor pertanian. Hal ini jelas untuk mebatasi kewenangan kepala daerah agar tidak menyusun pasukan untuk melawan Baghdad. asSikkah. dan kehormatan. serta Qudlah al-Amsaar(hakim kota yang mengetuai Pengadilan Negeri). pemerintah membangun sistem irigasi dan kanal di sungai Eufrat dan Tigris yang mengalir sampai teluk Persia. Membentuk organisasi kehakiman. 8. devisa Negara penuh melimpah. Membentuk Amirul Umara yaitu panglima besar angkatan perang Islam untuk menggantikan posisi khalifah dalam keadaan darurat. serta hasil-hasil pertanian seperti Gandum dari Mesri dan Kurma dari Irak. Pertama. menulis. Kemudian kota Baghdad di sampaing sebagai kota politik agama. lambing khalifah yang harus dipakai oleh tentara dan pegawai pemerintah untuk khalifah. Lembaga dan Kegiatan Ilmu Pengetahuan Pada masa Dinasti Abbasiyah pengembangan keilmuan dan teknologi diarahkan ke dalam Ma¶had. barang-barang kebutuhan pokok dan mewah dari wilayah Timur diperdagangkan dengan barang-barang hasil dari wilayah bagian Barat. dan nusantara dan wilayah Barat seperti Eropa dan Afrika Utara sebelum ditemukan jalan laut menuju Timur melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Al-Khuthbah. Sungai Tigris dan Eufrat menjadi kota transit perdagangan antar wilayah-wilayah Timur seperti Persia. dan al-Sutrah al-Qadlaiyah (jabatan kejaksaan).mendapat otonomi penuh adalah ³al-Qura´ atau desa dengan kepala desa yang bergelar Syaikh al-Qariyah. anak-anak remaja belajar dasar-dasar ilmu agama serta tempat penngajian dari ulama-ulama yang merupakan . Khalifah al-Mansur adalah tokoh ekonom Abbasiyah yang telah mampu meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam bidang ekonomi dan keuangan Negara (Baitul Maal). Kertas di Samarkand. Sutra di Suriah dan Irak. pencantuman nama khalifah atas mata uang dan Ath-Thiraz. dengan cara membentuk tiga dewan. sudah terdapat berbagai macam industri seperti kain Linen di Mesir. al-Khatim yaitu cincin stempel dan al-Qadlib semacam pedang.18 1. Qudhah al-Aqaalim (hakim propinsi yang mengetuai Pengadilan Tinggi). dan kebudayaan. Selain itu. sedangkan Damaskus merupakan kota kedua. China. yaitu lembaga pendidikan terendah. Bidang Ekonomi Pada masa awal pemerintahan Abbasiyah. untuk mengurus perlengkapan angkatan perang. menghitung. Maktab/Kuttab dan masjid. Lambaga ini dikenal ada dua tingkatan. Memperluas fungsi Baitul Maal. 5. sehingga tidak ada lagi daerah pertanian yang tidak terjangkau irigasi. pertumbuhan ekonomi cukup stabil.

Metode ini lebih dapat memahami isi naskah karena sturktur kalimat dalam bahasa Yunani berbeda dengan sturktur kalimat dalam bahasa Arab. Dia memeperkenalkan metode penerjemahan baru yaitu menerjemahkan kalimat. Kedua. Manuskrip lain yang berbahasa Yunani Klasik.21 1. Ibrahim al-Fazari dan Ali Ibnu Isa untuk menerjemahkan karya-karya berbahasa Persia dalam bidang Astronomi yang sangat berguna bagi kafilah dengan baik dari darat maupun laut. Geometrikarya Euclid.19 Maka pada perkembangan selanjutnya mulai di buka madrasah-madrasah yang di pelopori oleh Nizhamul Muluk.20 Lembaga inilah yang kemudian yang berkembang pada masa Dinasti Abbasyiah. bahasa Neo-Persia dan bahasa Syiria juga di terjemahkan. menengah. Disamping itu. Baitul Hikmah Baitul Hikmah merupakan perpustakaan yang juga berfungsi sebagai pengembangan ilmu pengetahuan. Gerakan Penerjemah Peleopor gerakan penerjemah pada awal pemerintahan Dinasti Abbasyiah adalah khalifah al-Mansur yang juga membangun kota Baghdad. di masjid-masjid ini dilengkapi juga dnegan berbagai macam fasilitas pendidikan penunjang lainnya. Ibn A¶di. Istitusi ini adalah kelanjutan dari Jandishapur Academy yang ada pada masa Sasania Persia. Buku tentang ketatanegaraan dan politik serta moral sepertikalila wa Dimma Sindhind dalam bahasa Persia diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Madrasah ini dapat di temukan di Baghdad. bagi pelajar yang ingin mendalami ilmunya. baik mengenai agama maupun umum maka semakin banyak khalaqah-khalaqah (lingkaran pengajaran). Arithmetic karya Nicomachus dan Gerase. dibantu Ishaq anaknya dan Hubaish keponakannya serta ilmuwan lain seperti Qusta Ibn Luqa. tempat berdiskusi dan Munazarah dalam berbagai ilmu pengetahuan dan juga dilengkapi dengan ruangan perpustakaan dengan buku-buku dari berbagai macam disiplin ilmu. serta meliputi segala bidang ilmu pengetahuan. Pada masa al-Ma¶mun karena keinginan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan demikian pesat. dia membentuk tim penerjemah yang diketuai langsung oleh Hunayn Ibn Isyaq sendiri. Yahya Ibn Bitriq dan lain-lain. Abu Bisr Matta Ibn Yunus seorang Kristen Nestorian. 1. Balkar. yang tidak mungkin tertampung di dalam ruang masjid. bukan kata per kata. 873 H) seorang penganut Nasrani dari Syiria. bisa pergi keluar daerah atau ke masjid-masjid atau bahkan ke rumah-rumah gurunya. Basrah. Selain itu. Musail dan kota lainya mulai dari tingkat rendah.kelompok-kelompok (Khalaqah). Yunani Bizantium dan Bahasa Pahlavi (Persia Pertengahan). Namun. Tim ini bertugas menerjemahkan naskah-naskah Yunani terutama yang berisi ilmu-ilmu yang sangat diperlukan seperti kedokteran. Manuskrip berbahasa Yunani seperti logika karya Aristoteles. Karena semakin berkembangnya ilmu pengetahuan. Jocabite seorang Kristen. Penerjemahan secara langsung dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab dipelopori oleh Hunayn Ibn Isyaq (w. Keberhasilan penerjemahan juga didukung oleh fleksibilitas bahasa Arab dalam menyerab bahasa Asing dan kekayaan kosakata bahasa Arab. Al-Magest karya Ptolemy. Dia mempekerjakan orang-orang Persia yang baru masuk Islam seperti Nuwbhat. berbeda dari istitusi pada masa Sasania yang hanya menyimpan . Isfahan.

Pada masa Harun ar-Rasyid intitusi ini bernama Khizanah al-Hikmah (Khazanah Kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian. Diantara tokoh tasawuf yang terkenal adalah alQusayiri (w 456 H). Dan ilmu Kalam. diantara ahli ilmu Kalam adalah Washil Ibn Atha¶. Imam Bukhari (w 256 H). yaitu Tafsir bil al-Ma¶tsur dan Tafsir bi al-Ra¶yi. dll. Dalam bidang filsafat dan Ilmu kalam. Bait alHikmah dipergunakan secara lebih modern yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang di dapat dari Persia. lahir para filosof Islam terkemuka seperti Ya¶qub Ibn Ishaq al-Kindi. Ibn Tufail. Pada masa ini juga. 632 H). sehingga terlihat Jarrah dan Takdil Rawi yang meriwayatkan Hadits tersebut. Badi. at-Tirmidzi. Kemajuan Ilmu Pengetahuan. Selain itu Bait al-Hikmah berfungsi sebagai kegiatan studi dan riset astronomi untuk meneliti perbintangan dan matematika. Ilmu Tasawuf berkembang pesat terutama pada masa Abbasiyah II dan seterusnya. Imam Muslim (w 261 H). Adh Dhaam. Arudh. Mu¶tazilah pernah menjadi Madzhab utama pada masa Harun arRadyid dan al-Ma¶mun. Abu Nasr Muhammad alFarabi. Dhaif. dll. Ilmu bahasa yang dimaksud adalah Nahwu.22 1. Shahih. seorang hakim agung dan pendiri Madzhab Hanafi. Mu¶az al-Harra (w 187 H). dan lain-lain. Kemudian lahir Fuqaha seperti Imam Hanafi (w 767 ). mulai dikenal ilmu pengklasifikasian Hadits secara sistematis dan kronologis seperti. bahkan Ethiopia dan India. Ahli Hadits terkenal di zaman ini adalah.dan Madhu¶. 502 H). Ali Ibn Hamzah al-Kisai (w 208 H). pada masa Abbasiyah intitusi ini diperluas kegunaannya. Abu Bakar Asam (Mu¶tazilah). al-Ma¶mun mengembangkan lembaga ini dan diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah. Sains dan Teknologi . Ibn Majah (w 273 H). dan Iman Ghazali. Muhammad Ibn Idris as-Syafe¶i (820 M). Abu Muslim Muhammad Ibn Bahr Isfahany (Mu¶tazilah). terutama dua metode penafsiran. dan Insya. mucul kitab Majmu¶ al-Fiqh karya Zaid Ibn Ali (w 740) yang berisi tentang Fiqh Syi¶ah Zaidiyah. Malik Ibn Anas (w 795 M). Byzantium. Imam al-Ghazali (w. dan Imam Ghazali. dll. An-Nasa¶I (303 H). Ibn Athiyah. Syahabuddin (w. Abu Hasan Asy¶ary. Ilmu Lughah juga berkembang dengan pesat karena bahasa Arab semakin dewasa dan memerlukan suatu ilmu bahsa yang menyeluruh. Di institusi ini al-Ma¶mun mempekerjakan Muhammad Ibn Hawarizmi yang ahli bidang al-Jabar dan Astronomi dan orang-orang Persia bahkan Direktur perpusatakaan adalah seorang nasionalis Persia dan ahli Pahlewi Sahl Ibn Harun.puisi-puisi dan cerita-cerita untuk raja. Ibn Barjah. Abu Daud (w 275 H). Bidang Keagamaan Pada masa Abbasiyah. Tokoh tafsir terkenal seperti Ibn Jarir at-Tabary. ilmu dan metode tafsir mulai berkembang. Bayan. Dalam bidang Hadits. Ma¶ani. UlamaLughah yang terkenal adalah Sibawaih (w 183 H). Imam Ahmad Ibn Hambal ( w 855 M). Bahkan juga sudah diketemukan kritik Sanad. Abu Huzail al-Allaf. Dalam bidang Fiqh. dan Matan. Sejak tahun 815 M. 1. Sharaf.

yaitu alat untuk mengukur ketinggian bintang. dan al-Tuqrai yang hidp pada abad ke 12 M.Adapun kemajuan yang dicapai umat Islam pada masa Dinasti Abbasiyah dalam bidang ilmu Pengetahuan. Astronomi. Sejarah dan Geografi. sains dan teknologi adalah a). Akibatnya terjadi penyalahgunaan kekuasaan dengan cara hidup dalam kemewahan dan pesta pora di Istana karena agama tidak lagi menjadi pengawas. Khalifah al-Mutazz (Khalifah ke-13) menggunakan pelana emas dan baju berhiaskan emas. bapak kimia Islam adalah Jabir Ibn Hayyan (w. 777 M). Bahkan khalifah al-Ma¶mun melancarakan gerakan pembasmian kepada orang-orang yang tidak mau tunduk kepada madzhab Mu¶tazilah. sehingga memunculkan sikap fanatisme berlebihan.23 Kemunduran Dinasti Abbasiyah Ada dua faktor yang menyebabkan runtuhnya Dinasti Abbasiyah. walaupun mereka mampu menaklukan rakyat dengan kekuasaan dan kekuatan. tokoh lainnya adalah ak-razi.26 Terakhir. al-Khayyam dan al-Tusi. Kemudian ahli Bumi yang termasyur adalah Ibn Khurdazabah (w. Perebutan antara al-Amien dan al-Ma¶mun yang memicu perang sipil besar yang pada akhirnya melemahkan kekuatan militer Abbasiyah dan control terhadap provinsi-provinsi di bawah kekuasaan Abbasiyah. perebutan kekuasaan antar keluarga merupakan pemicu awal yang akhirnya berimplikasi panjang terhadap kehidupan khalifah selanjutnya. sehingga mudah sekali terjadi penyimpanganpenyimpangan di dalamnya.25Disinilah secara filosofis kelemahan mendasar dari sistem kerajaan. Pertama. yaitu faktor Internal (dari dalam sendiri). Ilmu Kimia. seperti Ali Ibn Isa al-Asturlabi.perpecahan di bidang akidah dan di bidang madzhab. ditambah lagi terjadi pemisahan antrara agama dan politik. ia adalah astronom muslim pertama yang membuat astrolabe. dan Ibn Sina. dan mengeksploitasi mereka demi tujuan politisnya. bukan milik umat. Sehingga keberhasilan raja-raja tidak mendapatkan penghargaan dan kewibawaan moral di hati rakyat. yang masing-masing kelompok saling mengklaim paling benar. Kedua. c). pada masa ini dokter pertama yang terkenal adalah Ali Ibn Rabban al-Tabari pengarang buku Firdaus al-Hikmah tahun 850 M. Faktor internal diantaranya. Kemudian menurut Abu A¶la al-Maududi ketika konsep khalifah digantikan dengan sistem kerajaan maka tiada ada lagi keahlian kepemimpinan yang mencakup segalanya baik dalam politik maupun agama. Abu Ja¶far Muhammad Ja¶far Ibn Jarir al-Tabari. Selain itu secara Sosiologis system Kerajaan akan menciptakan paradigma berfikir peodalistik anti kritik. Seperti al-Mutawakkil memiliki 4000 orang selir semuanya pernah tidur seranjang dengan dia. pada masa ini sejarawan ternama abad ke 3 H adalah Ahmad Ibn al-Yakubi. 913 H). 815 M). al-Farghani.24 Selanjutnya dari perebutan tersebut melahirkan orang-orang yang tidak kompeten. al-Razi. Kedokteran. d). penguasaan Baitul Maal yang berlebihan akibatnya muncul justifikasi bahwa Baitul Maal adalah milik penguasa. b). terutama suksesi setelah Harun ar-Rasyid. al-Farabi. dan faktorEksternal (dari luar). Disamping itu. Hal tersebut kemudian diikuti kembali oleh alMutawakkil yang membasmi terhadap golongan Mu¶tazilah karena tidak mau tunduk kepada Ahlu Hadits. al-Battani. Sehingga tidak seorang . masih ada ilmuwan-ilmuwan Islam lainnya. Muhammad Ibn Ibrahim al-Farazi (w.

Marwaniyah di Diyarbakar. al-Muwahidun di Afrika Utara. semakin banyak kekayaan yang dipunyainya.30 Analisa Dari proposisi di atas dapat kita analisa bahwa suksesnya revolusi Abbasiyah tidak terlepas dari peran serta kelompok-kelompok yang sudah menyempal terlebih dahulu dari Dinasti Umayyah.29dan dilanjutkan muculnya Dinasti-Dinasti merdeka Umayyah di Andalusia. Maka tidak mengherankan jika pada awal-awal pemerintahannya Abu Abbas as-Saffa menciptakan sebuah kebijakan politik ³pembumihangusan´ etnis Umayyah dari muka bumi.27 Namun sangat disayangkan para penguasa Dinasti Abbasiyah semuanya terbuai dan lupa bahkan kepada Allah sendiri. Rasa ketidakpuasan ini secara psikologi menciptakan ³sidrom traumatik´ terutama bagi kelompok Syi¶ah dn Khawarij yang sejak lengsernya Ali Ibn Abi Thalib selalu di buru dan diasingkan. berakibat mereka dapat menciptakan kerajaan sendiri seperti Thahiriyah di Khurasan. Sedangkan kerajaan yang didirikan oleh orang-orang Turki adalah Thuluniyah di Mesir.pun berhak meminta pertanggungjawaban mengenai dari mana uang itu berasal dan lari kemana uang itu kemudian. Syi¶ah. dll. Konsekuensinya meningkat terus ketergantungan pada tentara bayaran dan ini pada gilirannya menguras kas Negara secara financial. memberikan kebaikan berlebihan kepada orang-orang Persia. 28Kedua. Rustamiyah. Ziriyyah. semakin ketat pulalah perhitungannya. Ketiga. Khalifah al-Musta¶sim dan keluarganya di bunuh. Ahlusunnah. karena merasa selalu terdzalimi terhadap pola-pola kepemimpinan yang ditonjolkan oleh khalifah-khalifah Umayyah. Murjiah. Aghlabiyah. hingga keruntuhan mereka. Disamping untuk balas dendam atas kebiadaban Dinasti Umayyah juga rasa terima kasih atas bantuan dari kelompok- . Shatariyah di Fars. Samaniyah di Ttansxania. pemberontakan terus menerus yang dilakukan oleh kelompok Khawarij. Fathimiyah di Afrika Utara. Idrisiyah di Maroko. semakin banyak jumlah pengikut yang dimilikinya. dan Turki. dan memunculkan rasa ketidakpuasan yang berujung kepada pemberontakan. Hal ini memancing reaksi negative dari masyarakat. buku-buku yang terkumpul di Baitul Hikmah di bakar dan dibuang ke sungai Tigris sehingga berubahlah warna air sungai tersebut menjadi hitam kelam karena lunturan tinta dari buku-buku itu. Sajiyyah di Azerbaijan. semakin jauhlah dia dari Tuhan. Kemudian faktor eksternal yang menyebabkan runtuhnya Dinasti Abbasiyah adalah. al-Murabitun. Ikhsyidiyah di Turkistan. Ghaznawiyah di Afghanistan. Buwaihah di Baghdad semuanya dari bangsa Persia. serangan bangsa Mongol yang dipimpin oleh Hulaqu Khan. dan bekas pendukung Dinasti Umayyah yang berpusat di Syiria menyebabkan penguasa Abbasiyah harus selalu membeli perwira pasukan dari Turki dan Persia. Baghdad di bumihanguskan dan diratakan dengan tanah. semakin jahatlah ia. Masalah ini sebenarnya sudah diperingatkan oleh Rasulullah Saw lewat sabdanya : ³Semakin dekat seseorang pada kursi kekuasaan. Pertama. Hammadiyah di Jazirah dan Syiria.

kelompok oposisi tersebut. Dalam pada itu. Disamping itu Dinasti ini menunjukkan sifat keislamannya yang lebih menonjol daripada sifat kearabannya. Persia. lalu dilanjutkan dengan mencontoh secara besar-besaran model-model kekuasaan dan administrasi Negara Persia. ketika kedua putranya berperang berebut kekuasaan. Kebijakan ini jelas mencerminkan sifat haus kekuasaan dan lunturnya nilai-nilai demokrasi akibatnya hilang prinsip persamaan. Tentu berbeda dengan Dinasti Bani Umayyah yang lebih kuat unsur Arabnya sehingga mengkotak-kotakkan masyarakatnya dalam Arab dan non Arab. kebersamaan. China ke dalam dunia Islam.33dan kejayaan seperti ini sulit kita jumpai di Negara-negara yang mengatasnamakan Islam. mereka telah berhasil menorehkan tinta emas dalam peradaban Islam. ini terlihat dari pindahnya Ibu kota dari Damaskus ke Baghdad. Yang satu hendak memperkokoh kedudukan orang-orang Arab.31 Padahal semua itu adalah tugas utama seorang khalifah. Pasca As-Saffa dan naiknya Ja¶far al-Mansur rupanya menjadi awal bangkitnya kembali ³solidaritas keluarga´. pengaruh kerajaan Persia yang monarkhi absolute juga mendukung terciptanya iklim seperti itu. Dan hal yang tidak bisa dilepaskan mudahnya mendapatkan dukungan dari kelompok-kelompok tersebut adalah janji penegakan syariat Islam dan terciptanya kehidupan tanpa ketakutan dan kekerasan yang tidak pernah mereka dapatkan pada masa Dinasti Bani Umayyah. ini terlihat dari penyingkiran kelompok oposisi yang notabene sekutu utama dalam penumbangan Dinasti Umayyah dan pergantian kekuasaan diserahkan kepada Putra Mahkota agar kekuasaan hanya berputar pada keluarga Bani Abbasiyah. Sifat seperti ini bukan merupakan ³barang baru´ dalam dunia Islam. sehingga diharapkan mereka terpuaskan dan akan loyal dalam mendukung kekuasaan Dinasti Abbasiyah di masa mendatang. Sedangkan yang lainnya bertekad hendak memperkokoh kedudukan orangorang keturunan Persia. Perpecahan baru terjadi pasca meninggalnya Harun ar-Rasyid. Oleh karena itu tidaklah aneh kalau kepada-kepala dinasti ini berusaha memelihara keseimbangan yang seadil-adilnya antara unsur Arab dan unsur Persia di dalamnya. terutama keberhasilan mereka dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cara menerjemahkan secara besar-besaran kitab-kitab klasik peninggalan Yunani. Khalifah Utsman Ibn Affan adalah ³The Best Teacher´ yang telah mengajarkan bagaimana kekayaan terkonsentrasi pada segelintir orang.34 . Dua orang di antara khalifah-khalifahnya yang menjadi penunjang utama dalam menggulingkan dinasti Bani Umayyah dan menegakkan dinasti Bani Abbasiyah adalah orang-orang Persia.32 Namun bagaimana pun jeleknya Dinasti Abbasiyah secara politik. India. dan mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi seperti yang pernah dipraktekan oleh Rasulullah. Sehingga wajar banyak ilmuwan berpendapat bahwa masa ini adalah masa kejayaan Islam yang paling gemilang atau dalam bahasa Ashar Ali zaman Islam Mahayana.

Namun dibalik kemajuan itu. jika salah satu sakit maka yang lain juga sakit. Kalam. Uni Emirat Arab yang mempercayakan keamanannya kepada pasukan Amerika dan balasannya Amerika berhak mengeksploitasi minyak dan mendirikan pangkalan militer di Negara-negara tersebut. terutama sejak menerjemahkan kitab-kitab klasik dari bangsa Yunani. Oleh karena itu.com/2010/01/24/peradaban-islam-pada-masa-dinasti-abbasiyah/ . Kesimpulan Dari deksipsi di atas dapat disimpulkan bahwa Dinasti Ababsiyah merupakan masa kejayaan umat Islam. Bahkan justru melahirkan masalah baru. sejarah. kemanusiaan. Kuwait. Rentan waktu yang lama ini telah menghasilkan banyak kemajuan dalam peradaban Islam. maupun Tasawuf. tidak hanya dari aspek politik. jelas akan berakibat pada lunturnya nilai persatuan di antara masyarakat itu sendiri. baik dalam bidang politik pemerintahan. India. dan lain sebagainya. dan ilmu-ilmu Islam lainnya. sosial kemasyrakatan. berkuasa mulai Khalifah Abu Abbas as-Saffa hingga al-Musta¶shim sebagai khalifah terakhir. Fiqh. geografi.Runtuhnya sebuah Dinasti-Dinasti Islam pasti berawal dari pola hidup yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. yang nantinya sangat berperan besar terhadap munculnyarenaissance di dunia Eropa. Disamping itu. terutama pembantaian-pembantai manusia setiap pergantian kekuasaan. mempercayakan keamanan berlebihan kepada suatu kelompok. Wallahu a¶lam bi Shawab. Persia. Padahal ini adalah bagian dari penjajahan sistemik dan pembodohan sturktural yang nantinya akan melemahkan sendi-sendi pemerintahan dan nasionalisme kebangsaan masyarakatnya. Ini menandakan bahwa Dinasti Abbasiyah tidak pernah mau belajar dari sejarah kehancuran Bani Umayyah. Dan hal yang paling penting sekarang dapatkah kita merefleksikan kemajuan dan kemunduran Dinasti Bani Abbasyiah dalam kehidupan kontemporer. Selanjutnya kondisi Baghdad sekarang sungguh sangat memperihatinkan setiap hari kita melihat konflik-konflik berdarah. http://kholistyo. agama di mana lahir para pemikir-pemikir Islam baik dari bidang Filsafat. sehingga menjadi sebuah spirit perubahan radikal. sudah saatnya umat Islam bersatu dalam satu kata muslim yang satu dengan muslim yang lain adalah saudara. Pada masa sekarang kebijakan seperti ini diikuti oleh kerajaan Saudi Arabia. Selain itu lahir pula pakar-pakar ilmu astronomi.wordpress. Perang memang tidak pernah menyelesaikan masalah. ekonomi. Dinasti Abbasiyah menyisahkan noda bagi peradaban Islam itu sendiri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful