AYAT MUTASYABIHAT oleh AQIDAH AHLUSSUNNAH: ALLAH ADA TANPA TEMPAT pada pada 25hb Oktober 2010 pukul

11.54 ptg Untuk memahami tema ini sebagaimana mestinya, harus diketahui terlebih dahulu bahwa di dalam al Qur'an terdapat ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat. Allah ta'ala berfirman :

َ َ ُ ُ َ َ ِ َ ] ‫هو ال ّذي أ َن ْزل عل َي ْك ال ْك ِتاب من ْه ءايات محك َمات هن أ ُم ال ْك ِتاب وأ ُخر مت َشاب ِهات‬ َ َ َ ٌ َ ّ ّ ُ ٌ َ ْ ُ ٌ َ َ ُ ِ َ َ ْ ِ َ ُ ْ ‫فـأ َما ال ّذين في قل ُوبهم زيغ فيت ّبعون ما ت َشابه من ْه ابتـغاءَ ال ْفـت ْن َة وابتـغاءَ ت َأ‬ ‫وي ْل ِه‬ َ ِ ْ َ ِ َ ِ ْ ُ ِ َ َ َ ِ ِ َ ْ ِ ِ ِ َ َ ْ ُ ِ َ َ ٌ ْ َ ْ ِ ِ ْ ُ ّ َ ‫وما ي َعل َم ت َأ ْويـل َه إ ِل ّ الله والراسخون في ال ْعل ْم ِ ي َقول ُون ءامنا ب ِه ك ُل من عن ْد رب ّنا‬ َ َ ِ ِ ْ ِ ّ ّ َ َ َ ْ ْ ُ ِ ِ َ ْ ُ ِ ّ َ ُ ِ ُ ْ ِ ُ ْ َ َ ْ ‫)وما ي َذّك ّر إ ِل ّ أ ُول ُوا ا ْل َل‬ 7 : ‫باب ] )ءال عمران‬ َ َ ِ َ ْ ْ ُ

Maknanya : "Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada Muhammad. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat muhkamat, itulah Umm Al Qur'an (yang dikembalikan dan disesuaikan pemaknaan ayat-ayat al Qur'an dengannya) dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya sesuai dengan hawa nafsunya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya (seperti saat tibanya kiamat) melainkan Allah serta orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan : "kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu berasal dari Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya kecuali orang-orang yang berakal" (Q.S. Al Imran : 7)

I. Definisi Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat

Al Muhkam: ‫ ; المتضح المعنى‬yang jelas maknanya. al Mutasyabih: ‫ ;ما ليس بمتضح المعنى‬yang tidak jelas maknanya.[1]

Jadi Ayat-ayat Muhkamat : ayat yang dari sisi kebahasaan memiliki satu makna saja dan tidak memungkinkan untuk ditakwil ke makna lain. Atau ayat yang diketahui dengan jelas makna dan maksudnya. Seperti firman Allah :

َ ِ ِ ﴿ ۱۱ :‫)ل َي ْس ك َمث ْل ِه شىءٌ ﴾ )سورة الشورى‬ َ

Maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya)”. (Q.S. asy-Syura: 11)

﴿ 4: ‫)ول َم ي َك ُن ل َه ك ُفوا أ َحدٌ ﴾ )سورة الخلص‬ َ ُ ْ ْ َ ً ُ

Maknanya: “Dia (Allah) tidak ada satupun yang menyekutui-Nya”. (Q.S. al Ikhlash : 4)

﴿ 65: ‫)هل ت َعل َم ل َه سميا ﴾ )سورة مريم‬ ّ ِ َ ُ ُ ْ ْ َ

Maknanya: “Allah tidak ada serupa bagi-Nya”. (Q.S. Maryam : 65)

Ayat-ayat Mutasyabihat : ayat yang belum jelas maknanya. Atau yang memiliki banyak kemungkinan makna dan pemahaman sehingga perlu direnungkan agar diperoleh pemaknaan yang tepat yang sesuai dengan ayat-ayat muhkamat. Seperti firman Allah :

﴿ 5: ‫)سورة طه‬

َ َ ُ ﴾ ‫الرح ٰمن على العرش است َوى‬ ْ ّ ) َ ْ ِ ْ َ

Penafsiran terhadap ayat-ayat mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat. Ini jika memang berkait dengan ayat-ayat mutasyabihat yang mungkin diketahui oleh para ulama. Sedangkan mutasyabih (hal yang tidak diketahui oleh kita) yang dimaksud dalam ayat

﴿ 7 : ‫)وما ي َعل َم ت َأ ْويـل َه إ ِل ّ الله ﴾ )سورة ءال عمران‬ ُ ُ ْ ِ ُ ْ َ َ

] والراسخون في ال ْعل ْم‬seakan Allah menyatakan "orang yang mendalam ilmunya juga ُ ِ ّ َ ِ َ ْ ِ ِ mengetahui takwilnya serta beriman kepadanya" karena beriman kepada sesuatu itu hanya dapat terwujud setelah mengetahui sesuatu itu. Mereka mengembalikan makna ayat-ayat mutasyabihat tersebut kepada ayat-ayat muhkamat seperti firman Allah : . sedang sesuatu yang tidak diketahui tidak akan mungkin seseorang beriman kepadanya. dan bukan mutasyabih yang seperti ayat tentang istiwa') Q. Artinya jangan mengingkari adanya ayat-ayat mutasyabihat ini melainkan percayai adanya dan kembalikan maknanya kepada ayat-ayat yang muhkamat. Yakni kebanyakan dari mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara global (takwil ijmali). Ibnu Abbas mengatakan : "Saya termasuk orang-orang yang mendalam ilmunya". Mereka adalah orng-orang yang hidup pada tiga abad hijriyah pertama. Az-Zabidi mengatakan menukil dari al Qusyairi : "Bukankah ada pendapat yang mengatakan bahwa bacaan ayat (tentang takwil) tersebut adalah [ ‫وما ي َعل َم ت َأ ْويـل َه إ ِل ّ الله‬ ُ ُ ْ ِ ُ ْ َ َ ‫ . Thaha : 5).Menurut bacaan waqaf pada lafazh al Jalalah ‫ الله‬adalah seperti saat kiamat tiba. Hadits ini dla'if dengan kedla'ifan yang ringan. Karenanya.S. tetapi memiliki makna yang layak bagi keagungan dan kemahasucian Allah tanpa menentukan apa makna tersebut. waktu pasti munculnya Dajjal. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda : َ ُ " ‫)اعمل ُوا ب ِمحك َمه وءامن ُوا ب ِمت َشاب ِهه" )حديث ضعيف ضعفا خفيفا‬ ِ ِ ْ ِ َ َ ِ ِ ْ ُ ْ َ ْ Maknanya: “Amalkanlah ayat-ayat muhkamat yang ada dalam Al Qur'an dan berimanlah terhadap yang mutasyabihat dalam Al Qur'an". II. yaitu dengan mengimaninya serta meyakini bahwa maknanya bukanlah sifat-sifat jism (sesuatu yang memiliki ukuran dan dimensi). Metode Memaknai Ayat Mutasyabihat Ada dua metode untuk memaknai ayat-ayat mutasyabihat yang keduanya sama-sama benar : Pertama : Metode Salaf.

Dalam Shahih al Bukhari juga masih terdapat takwil semacam ini di bagian yang . Kekuasaan Allah adalah sifat Allah yang azali (tidak memiliki permulaan) . kitab tafsir al Qur'an tertulis : ٌ " " ‫سورةُ ال ْقصص ، ك ُل شىء هال ِك إ ِل ّ وجهه ، إ ِل ّ مل ْك َه وي ُقال ما ي ُت َقرب ب ِه إ ِل َي ْه‬ َ ٍ ْ َ ّ ِ ِ ُ ّ َ َ َ َ َ ُ ُ ُ َ ْ َ َ ْ ُ ِ َ َ ‫. Selanjutnya.: َ َ ِ َ َ " ‫ ءامن ْت ب ِما جاءَ عن الله على مراد الله وب ِما جاءَ عن رسول الله‬r ‫على مراد‬ ِ ِ َ ُ َ َ َ ِ َ َ ُ َ َ ِ َ ُ ِ ْ ُ َ ْ َ ِ َ ‫" رسول الله‬ ِ ِ ْ ُ َ "Aku beriman dengan segala yang berasal dari Allah sesuai apa yang dimaksudkan Allah dan beriman dengan segala yang berasal dari Rasulullah r sesuai dengan maksud Rasulullah". Terbukti bahwa dalam Shahih al Bukhari. (Q. tidak seperti kekuasaan yang Ia berikan kepada makhluk-Nya. dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya)”.S.َ ِ ِ ﴿ ۱۱ :‫)ل َي ْس ك َمث ْل ِه شىءٌ ﴾ )سورة الشورى‬ َ Maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi. ‫( ك ُل شىء هال ِك إ ِل ّ وجهه‬Q.S. al Qashash : 88) yakni kecuali َ ٍ ْ َ ّ ُ َ ْ َ kekuasaan dan pengaturan-Nya terhadap makhluk-Nya atau amal yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada-Nya". asy-Syura: 11) Takwil ijmali ini adalah seperti yang dikatakan oleh imam asy-Syafi'i –semoga Allah meridlainya. yakni bukan sesuai dengan yang terbayangkan oleh prasangka dan benak manusia yang merupakan sifat-sifat benda (makhluk) yang tentunya mustahil bagi Allah. penafian bahwa ulama salaf mentakwil secara terperinci (takwil tafshili) seperti yang diduga oleh sebagian orang tidaklah benar.اهـ‬ ٌ "Surat al Qashash.

Sanad perkataan imam Ahmad ini disahihkan oleh al Hafizh al Bayhaqi. Metode ini bisa diambil dan diikuti. Sebagai contoh. Seperti halnya ulama Salaf. Disebut demikian karena beliau banyak mengetahui nash-nash (teks-teks induk) dalam madzhab Hanbali dan keadaan imam Ahmad.lain seperti dlahik yang terdapat dalam hadits ditakwilkan dengan rahmat-Nya yang khusus (arRahmah al Khashshah). Al Hafizh Abu Sa'id al 'Ala-i sendiri menurut al Hafizh Ibnu Hajar : "Dia adalah guru dari para guru kami". Abu Nashr al Qusyairi juga telah menjelaskan konsekwensi-konsekwensi buruk yang secara logis akan didapat oleh orang yang menolak takwil. Ini seperti dikutip oleh al Hafizh Ibnu 'Asakir dalam kitabnya Tabyin Kadzib al Muftari. Abu Nashr al Qusyairi adalah seorang ulama yang digelari oleh al Hafizh 'Abdurrazzaq ath-Thabsi sebagai imam dari para imam. terutama ketika dikhawatirkan terjadi goncangan terhadap keyakinan orang awam demi untuk menjaga dan membentengi mereka dari tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). firman Allah yang memaki Iblis : َ َ َ َ ﴿ 75 : ‫)ما من َعك أ َن ت َسجدَ ل ِما خل َقت ب ِي َدَي ﴾ )سورة ص‬ ْ ُ ْ ُ ْ َ َ ّ . belum ada ahli hadits yang menyamai kapasitas keduanya atau mendekati kapasitas keduanya ". beliau hidup pada abad VII Hijriyah. ia mengatakan : yakni َ َ datang kekuasan-Nya (tanda-tanda kekuasaan-Nya) ". seorang ahli hadits yang menurut al Hafizh Shalahuddin al 'Ala-i : "Setelah al Bayhaqi dan ad-Daraquthni. Mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara terperinci dengan menentukan makna-maknanya sesuai dengan penggunaan kata tersebut dalam bahasa Arab. Kedua : Metode Khalaf. Banyak di antara para ulama yang menyebutkan dalam karya-karya mereka bahwa imam Ahmad mentakwil secara terperinci (tafshili). Komentar al Bayhaqi terhadap sanad tersebut ada dalam kitabnya Manaqib Ahmad. mereka tidak memahami ayat-ayat tersebut sesuai dengan zhahirnya. Sedang komentar al Hafizh Abu Sa'id al 'Ala-i mengenai al Bayhaqi dan ad-Daraquthni terdapat dalam bukunya al Wasyyu al Mu'lam. Terbukti dengan sahih pula bahwa imam Ahmad yang juga termasuk ulama salaf َ َ mentakwil firman Allah : [ َ‫ رب ّك ﴿ وجاء‬secara tafshili (terperinci). di antaranya al Hafizh Abdurrahman ibn al Jawzi yang merupakan salah seorang tokoh besar madzhab Hanbali.

Ahmad. al Baqarah: 255). maka mereka inilah yang disebutkan oleh dalam Al Imran : 7.R. Berbeda dengan prinsip yang dipegangi mayoritas ummat bahwa induk al Qur'an adalah ayatayat Muhkamat –seperti dijelaskan dalam al Qur'an: " ‫ . al Bukhari. III. h. golongan Musyabbihah (golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) mengambil makna zhahir ayat-ayat Mutasyabihat. golongan Musyabbihah selalu mendahulukan ayat-ayat Mutasyabihat untuk diajarkan dan seakan mereka menganggap itulah inti dari ajaran Islam. sehingga disadari atau tidak inilah ciri orang yang menyimpang seperti dijelaskan oleh al Qur'an. Buku-buku aqidah mereka selalu mengedepankan mengajarkan ayat-ayat Mutasyabihat dan menanmkan paham tasybih pada pengikut mereka. pada catatan kaki No. at-Turmudzi dan Ibnu Majah) Paham tasybih ini sering terungkap ketika golongan ini menafsirkan ayat-ayat al Qur'an atau menerjemahkannya ke bahasa-bahasa lain. Muslim. Pemahaman Golongan Musyabbihah terhadap Ayat-ayat Mutasyabihat Berbeda dengan para ulama salaf dan khalaf yang memakai metode takwil ijmali atau tafshili dalam memaknai ayat Mutasyabihat." هن أ ُم ال ْك ِتاب‬sehingga ayat-ayat ّ ّ ُ ِ َ Muhkamat yang mesti didahulukan untuk diajarkan kepada ummat sebelum ayat Mutasyabihat dan ayat-ayat Mutasyabihat harus dikembalikan pemahamannya kepada induknya.161.Ayat ini boleh ditafsirkan bahwa yang dimaksud dengan al Yadayn adalah al 'Inayah (perhatian khusus) dan al Hifzh (memelihara dan menjaga). yaitu ayatayat Muhkamat. Abu Dawud.S. waspadai dan jauhi mereka". Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda : " ‫إذا رأيتم الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم " )رواه‬ ‫)أحمد والبخاري ومسلم وأبو داود والترمذي وابن ماجه‬ Maknanya: “Jika kalian menyaksikan orang-orang yang mengikuti ayat-ayat Mutasyabihat al Qur'an. 63 dikatakan: "… pendapat yang sahih terhadap makna kursi ialah tempat letak telapak kaki-Nya". (H. . Berikut contoh-contoh dari pemahaman tasybih mereka: • Ayat Kursi (Q. seperti al Qur'an dan Terjemahannya cetakan Saudi Arabia yang dipenuhi dengan paham tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya).

anggota badan yang besar (seperti wajah. baik yang kecil maupun yang besar dan lain sebagainya."تعالـى )يعني الله( عن الحدود والغايات والركان والعضاء والدوات‬ "Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar. batas akhir. telinga dan lainnya). jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali). 900 mereka mengartikan "‫استوى على‬ ‫:"العرش‬ dengan bersemayam. hidung. • Pada halaman 230. Orang-orang Wahhabi ini meyakini bahwa Allah memiliki anggota badan yaitu kaki dan telapak kaki. Jadi terjemahan tersebut jelas mengusung paham tasybih dan kekufuran. sisi-sisi. naik. membaringkan. 567. tersimpan. tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut. anak lidah. Padahal al Imam ath-Thahawi telah menukil ijma' para ulama salaf yang menegaskan: "‫. . duduk. Tidak boleh diyakini bahwa Allah bersemayam tidak seperti bersemayamnya kita. berkediaman atau tinggal."ومن وصف الله بمعنى من معانـي البشر فقد كفر‬ "Barangsiapa menyifati Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir". Dan semua makna ini mustahil berlaku bagi Allah karena semuanya adalah sifat makhluk. 476. 368. bersemayam. diam. karena begitu dikatakan Allah bersemayam berarti telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Al Imam ath-Thahawi juga mengatakan: " ‫.Perkataan ini jelas paham tasybih. turun. 660. memiliki anggota badan. terpatri (di hati). lidah. Di antara sifat-sifat manusia adalah bergerak. padahal bersemayam maknanya adalah duduk.

Paham tasybih ini juga nampak ketika para pengikut paham ini mengatakan tentang sifat Allah tertentu: ‫ بذاته‬dan kata hakiki." عقيدة أهل السنة والجماعة‬Dalam edisi bahasa Indonesia juga bisa dibaca akidah yang sesat ini dalam terjemahan M. h. M. 29.(‫ )باب ما جاء في إثبات العين صفة ل من حيث الحدقة‬Bab tentang penetapan 'Ayn bagi Allah sebagai sifat bukan dari sisi sebagai kelopak mata. Pernyataan Utsaimin ini terdapat dalam buku yang ia namakan: " ‫ . Disebutkan dalam edisi terjemahan ini. Pada h. Orang yang jeli dan memahami dengan baik aqidah Ahlussunnah akan dengan mudah menemukan paham tasybih tersebut. . 34.Yusuf Harun. Itu berarti bahwa ia mamahami 'Ayn tak ubahnya adalah dua mata yang hakiki.(‫ ) باب ما جاء في إثبات الوجه صفة ل من حيث الصورة‬Bab tentang penetapan Wajh bagi Allah sebagai sifat bukan sebagai bentuk dan gambar. Padahal Ahlussunnah mengimani 'Ayn sebagai sifat Allah. 34: "(Allah) mempunyai dua mata yang sebenarnya". . Al Imam al Bayhaqi dalam kitab al Asmaa' wa ashShifaat[3] menyebutkan bab-bab berikut: . Padahal sifat 'Ayn tidak pernah disebutkan dalam al Qur'an dengan lafazh tatsniyah atau dengan tambahan kata hakiki. 28. di halaman-halaman berikut: 27. yang pasti bukan kelopak mata dan seluruh bagian-bagiannya."ونؤمن بأن لله عينين اثنتين حقيقيتين‬ "Dan kami beriman bahwa Allah memiliki dua 'ayn yang hakiki". . Dan jelas 'Ayn yang hakiki adalah kelopak mata dengan seluruh bagiannya.(‫ )باب ما جاء في إثبات اليدين صفتين ل من حيث الجارحة‬Bab tentang penetapan Yadayn bagi Allah sebagai sifat bukan sebagai anggota badan. 35 dikatakan: "Bahwa mata Allah adalah dua…".Dan masih banyak penyimpangan-penyimpangan serupa di berbagai tempat dalam al Qur'an dan Terjemahannya cetakan Saudi Arabia tersebut.A.[2] Misalnya Muhammad Shalih ibnu Utsaimin ketika menyebutkan sifat al 'Ayn bagi Allah ia mengatakan: "‫.

Ahlussunnah memahaminya sebagai sifat Allah yang tidak menyerupai sifat makhluk-Nya. yaitu bersemayam. 'Ayn bukan mata. kelopak mata dan semacamnya. Memang mungkin saja diterjemahkan tetapi diterjemahkan maknanya dengan mentakwil Wajh sebagai al Mulk (kekuasaan). Jauh berbeda antara Tanzih dan Tasybih. Yadayn bagi Allah. dan Yadayn bukan kedua tangan yang merupakan anggota badan. 'Ayn."صاحب بدعة أخرجوه‬ . bersemayam dan berada di atas 'arsy. Jadi ketika memaknai ayat Istiwa' ulama salaf memahami bahwa al Kayf seperti duduk. 'Ayn sebagai al Hifzh (pemeliharaan). dengan diterjemahkan kepada salah satu maknanya akan terjadi distorsi dan ketika itu nampak dipahami sebagai apa. jelas berbeda antara Itsbatul kayf Lillah dengan tanzihullah 'anil Kayf. Yadayn secara hakiki yaitu tangan. menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dengan menyifati Allah dengan sifat makhluk. Hanya ada dua riwayat yang sahih dari para ulama salaf. bersemayam. Seorang sunni meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat tersebut yang bukan bermakna muka. tetapi tanzihullah 'anil Kayf (mensucikan Allah dari al kayf). Jika diterjemahkan sebagai wajah atau muka. Syubhah dan Jawabannya Golongan Musyabbihah mengklaim bahwa madzhab yang mereka ikuti adalah metode para ulama salaf ash-Shalih. mata atau tangan. Sedangkan orang-orang wahhabi memahami Wajh secara hakiki. tanpa mengetahui bagaimana bersemayam-nya Allah. Jawaban: Jelas berbeda antara pendapat mereka dan madzhab mayoritas salaf. Karena kata Wajh. 'Ayn dan Yadayn dalam bahasa Arab memiliki beberapa makna. yaitu mata. berada di atas 'arsy dengan jarak dan semacamnya dinafikan dari Allah. mata dan tangan berarti telah meyakini keyakinan tasybih. Pertama: riwayat yang berbunyi: " ‫الرحمن على العرش استوى كما وصف نفسه ول يقال كيف وكيف عنه مرفوع وما أراك إل‬ ‫. Tetapi golongan Musyabbihah memahami istawa dengan istaqarra. bahwa Allah memiliki anggota badan. IV. Al Imam Malik dan lainnya tidak pernah mengatakan al Kayf Majhul. Yad sebagai al 'Inayah (perhatian khusus). 'Ayn secara hakiki.Jadi meski sama-sama menetapkan Wajh. Menurut Ahlussunnah sifat-sifat tersebut ketika diyakini sebagai sifat Allah maka tidak bisa diterjemahkan ke bahasa lain. atau al Qudrah (kekuasaan) atau al 'Ahd (janji) dan semacamnya. Wajh bukan muka atau bagian tubuh. Madzhab salaf bukan Itsbatul kayf Lillah (menetapkan al kayf bagi Allah) dengan al Jahl bi dzalikal kayf (tanpa mengetahui kayf tersebut). Ahlussunnah dan golongan Musyabbihah seperti orang-orang Wahhabi berbeda dalam memahaminya. Karena sangat berbeda antara al Akhdzu bizh-Zhahir (mengambil zhahir ayat atau hadits sifat) dan Nafyu al kayf 'anillah (menafikan sifat-sifat makhluk dari Allah). Ini jelas merupakan tasybih.

Kedua: riwayat dari Ummu Salamah dan Rabi'ah yang berbunyi: " ‫. [1] Syekh Zakariyya al Anshari. h. mereka mengatakan: "‫. Sufyan dan al-Layts ibn Sa'd bahwa ketika ditanya tentang hadits-hadits mutasyabihat. karena redaksi tersebut menetapkan al Kayf bagi Allah.الستواء غير مجهول والكيف غير معقول‬ "Istiwa sudah diketahui bahwa Allah disifati dengannya dan al Kayf mustahil bagi-Nya". . [5] Wallahu a'lam wa ahkam."Allah memiliki sifat istiwa' seperti yang Ia sifatkan sendiri untuk Dzat-Nya. 27. al Hudud al Aniiqah Wa at-Ta'riifat ad-Daqiiqah (Beirut: Dar al Masyari'. Ini bertentangan dengan madzhab para ulama salaf yang jelas-jelas menafikan Kayf dari Allah dengan mengatakan: ‫ . Al Bayhaqi dalam kitab al I'tiqad meriwayatkan dengan sanadnya dari al Awza'i. Malik. tidak boleh dikatakan Bagaimana dan Kayf mustahil bagi-Nya".. بل كيف‬tanpa berlaku kayf bagi Allah.". hanya saja kita tidak mengetahuinya. 1425-2004).[4] Demikian juga maknanya tidak sesuai."أمروها كما جاءت بل كيفية‬ "Baca saja hadits-hadits tersebut seperti riwayat yang ada dengan tanpa meyakininya sebagai sifat-sifat makhluk".. Ini diriwayatkan oleh al Hafizh al Bayhaqi dari al Imam Malik dengan sanad yang Jayyid (kuat). (Riwayat ini dituturkan oleh al-Laalka-i) Riwayat Wal Kayf Majhul tidak sahih dari sisi periwayatannya dari Imam Malik dan lainnya.

Definisi Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat . al Asma' Wa ash-Shifaat (Kairo: Darul Hadits. harus diketahui terlebih dahulu bahwa di dalam al Qur'an terdapat ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat. padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya (seperti saat tibanya kiamat) melainkan Allah serta orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan : "kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat. 36 [5] Ibid. 1397 H). itulah Umm Al Qur'an (yang dikembalikan dan disesuaikan pemaknaan ayat-ayat al Qur'an dengannya) dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat.S. maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya sesuai dengan hawa nafsunya. ad-Dalil al Qawiim 'ala ash-Shirath al Mustaqim (Beirut: tp. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan.. Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya kecuali orang-orang yang berakal" (Q. h. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat muhkamat. 1410 H-1990). I-dlah ad-Dalil fi Qath'i Hujaj Ahl at-Ta'thil (Kairo: Darussalam.[2] Badruddin Ibnu Jama'ah. 56 Untuk memahami tema ini sebagaimana mestinya. [4] Syekh Abdullah al Harari. h. h. semuanya itu berasal dari Tuhan kami". Allah ta'ala berfirman : َ َ ُ ُ َ َ ِ َ ] ‫هو ال ّذي أ َن ْزل عل َي ْك ال ْك ِتاب من ْه ءايات محك َمات هن أ ُم ال ْك ِتاب وأ ُخر مت َشاب ِهات‬ َ َ َ ٌ َ ّ ّ ُ ٌ َ ْ ُ ٌ َ َ ُ ِ َ َ ْ ِ َ ُ ْ ‫فـأ َما ال ّذين في قل ُوبهم زيغ فيت ّبعون ما ت َشابه من ْه ابتـغاءَ ال ْفـت ْن َة وابتـغاءَ ت َأ‬ َ ٌ ْ َ ْ ِ ِ ْ ُ َ ‫وي ْل ِه‬ َ ِ ْ َ ِ َ ِ ْ ُ ِ َ َ ِ ِ َ ْ ِ ِ ِ َ َ ْ ُ ِ َ ّ َ ُ ‫وما ي َعل َم ت َأ ْويـل َه إ ِل ّ الله والراسخون في ال ْعل ْم ِ ي َقول‬ ‫ُ ْ ون ءامنا ب ِه ك ُل من عن ْد رب ّنا‬ َ َ ِ ِ ْ ِ ّ ّ َ َ َ ْ ِ ِ َ ْ ُ ِ ّ َ ُ ِ ُ ْ ِ ُ ْ َ َ ْ ‫)وما ي َذّك ّر إ ِل ّ أ ُول ُوا ا ْل َل‬ 7 : ‫باب ] )ءال عمران‬ َ َ ِ َ ْ ْ ُ Maknanya : "Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada Muhammad. Al Imran : 7) I. 107 [3] Al Hafizh al Bayhaqi.319-340. 1423 H-2002 ) h.

المتضح المعنى‬yang jelas maknanya.ما ليس بمتضح المعنى‬yang tidak jelas maknanya. (Q. Seperti firman Allah : َ ِ ِ ﴿ ۱۱ :‫)ل َي ْس ك َمث ْل ِه شىءٌ ﴾ )سورة الشورى‬ َ Maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi. al Ikhlash : 4) ﴿ 65: ‫)هل ت َعل َم ل َه سميا ﴾ )سورة مريم‬ ّ ِ َ ُ ُ ْ ْ َ Maknanya: “Allah tidak ada serupa bagi-Nya”. Atau ayat yang diketahui dengan jelas makna dan maksudnya. Sedangkan mutasyabih (hal yang tidak diketahui oleh kita) yang dimaksud dalam ayat ﴿ 7 : ‫)وما ي َعل َم ت َأ ْويـل َه إ ِل ّ الله ﴾ )سورة ءال عمران‬ ُ ُ ْ ِ ُ ْ َ َ . Maryam : 65) Ayat-ayat Mutasyabihat : ayat yang belum jelas maknanya. (Q. dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya)”.S. asy-Syura: 11) ﴿ 4: ‫)ول َم ي َك ُن ل َه ك ُفوا أ َحدٌ ﴾ )سورة الخلص‬ َ ُ ْ ْ َ ً ُ Maknanya: “Dia (Allah) tidak ada satupun yang menyekutui-Nya”. (Q. Seperti firman Allah : ﴿ 5: ‫)سورة طه‬ َ َ ُ ﴾ ‫الرح ٰمن على العرش است َوى‬ ْ ّ ) َ ْ ِ ْ َ Penafsiran terhadap ayat-ayat mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat.S. al Mutasyabih: ‫ . Atau yang memiliki banyak kemungkinan makna dan pemahaman sehingga perlu direnungkan agar diperoleh pemaknaan yang tepat yang sesuai dengan ayat-ayat muhkamat.[1] Jadi Ayat-ayat Muhkamat : ayat yang dari sisi kebahasaan memiliki satu makna saja dan tidak memungkinkan untuk ditakwil ke makna lain.S.Al Muhkam: ‫ . Ini jika memang berkait dengan ayat-ayat mutasyabihat yang mungkin diketahui oleh para ulama.

Metode Memaknai Ayat Mutasyabihat Ada dua metode untuk memaknai ayat-ayat mutasyabihat yang keduanya sama-sama benar : Pertama : Metode Salaf. Mereka mengembalikan makna ayat-ayat mutasyabihat tersebut kepada ayat-ayat muhkamat seperti firman Allah : َ ِ ِ ﴿ ۱۱ :‫)ل َي ْس ك َمث ْل ِه شىءٌ ﴾ )سورة الشورى‬ َ .Menurut bacaan waqaf pada lafazh al Jalalah ‫ الله‬adalah seperti saat kiamat tiba. yaitu dengan mengimaninya serta meyakini bahwa maknanya bukanlah sifat-sifat jism (sesuatu yang memiliki ukuran dan dimensi). sedang sesuatu yang tidak diketahui tidak akan mungkin seseorang beriman kepadanya. Karenanya. Hadits ini dla'if dengan kedla'ifan yang ringan. Artinya jangan mengingkari adanya ayat-ayat mutasyabihat ini melainkan percayai adanya dan kembalikan maknanya kepada ayat-ayat yang muhkamat. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda : َ ُ " ‫)اعمل ُوا ب ِمحك َمه وءامن ُوا ب ِمت َشاب ِهه" )حديث ضعيف ضعفا خفيفا‬ ِ ِ ْ ِ َ َ ِ ِ ْ ُ ْ َ ْ Maknanya: “Amalkanlah ayat-ayat muhkamat yang ada dalam Al Qur'an dan berimanlah terhadap yang mutasyabihat dalam Al Qur'an". Mereka adalah orng-orang yang hidup pada tiga abad hijriyah pertama. II. tetapi memiliki makna yang layak bagi keagungan dan kemahasucian Allah tanpa menentukan apa makna tersebut. Thaha : 5).] والراسخون في ال ْعل‬seakan Allah menyatakan "orang yang mendalam ilmunya juga ِ َ ْ ُ ِ ّ َ ِ‫ِ م‬ mengetahui takwilnya serta beriman kepadanya" karena beriman kepada sesuatu itu hanya dapat terwujud setelah mengetahui sesuatu itu. waktu pasti munculnya Dajjal. Ibnu Abbas mengatakan : "Saya termasuk orang-orang yang mendalam ilmunya". Yakni kebanyakan dari mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara global (takwil ijmali). dan bukan mutasyabih yang seperti ayat tentang istiwa') Q.S. Az-Zabidi mengatakan menukil dari al Qusyairi : "Bukankah ada pendapat yang mengatakan bahwa bacaan ayat (tentang takwil) tersebut adalah [ ‫وما ي َعل َم ت َأ ْويـل َه إ ِل ّ الله‬ ُ ُ ْ ِ ُ ْ َ َ ْ ‫ .

‫( ك ُل شىء هال ِك إ ِل ّ وجهه‬Q. al Qashash : 88) yakni kecuali َ ٍ ْ َ ّ ُ َ ْ َ kekuasaan dan pengaturan-Nya terhadap makhluk-Nya atau amal yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada-Nya". asy-Syura: 11) Takwil ijmali ini adalah seperti yang dikatakan oleh imam asy-Syafi'i –semoga Allah meridlainya.اهـ‬ ٌ "Surat al Qashash. ia mengatakan : yakni َ َ datang kekuasan-Nya (tanda-tanda kekuasaan-Nya) ".: َ َ ِ َ َ " ‫ ءامن ْت ب ِما جاءَ عن الله على مراد الله وب ِما جاءَ عن رسول الله‬r ‫على مراد‬ ِ ِ َ ُ َ َ َ ِ َ َ ُ َ َ ِ َ ُ ِ ْ ُ َ ْ َ ِ َ ‫" رسول الله‬ ِ ِ ْ ُ َ "Aku beriman dengan segala yang berasal dari Allah sesuai apa yang dimaksudkan Allah dan beriman dengan segala yang berasal dari Rasulullah r sesuai dengan maksud Rasulullah".S.S. Terbukti bahwa dalam Shahih al Bukhari. Sanad perkataan imam Ahmad ini . (Q. tidak seperti kekuasaan yang Ia berikan kepada makhluk-Nya. Selanjutnya. Terbukti dengan sahih pula bahwa imam Ahmad yang juga termasuk ulama salaf َ َ mentakwil firman Allah : [ َ‫ رب ّك ﴿ وجاء‬secara tafshili (terperinci). kitab tafsir al Qur'an tertulis : ٌ " " ‫سورةُ ال ْقصص ، ك ُل شىء هال ِك إ ِل ّ وجهه ، إ ِل ّ مل ْك َه وي ُقال ما ي ُت َقرب ب ِه إ ِل َي ْه‬ َ ٍ ْ َ ّ ِ ِ ُ ّ َ َ َ َ َ ُ ُ ُ َ ْ َ َ ْ ُ ِ َ َ ‫.Maknanya: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi. dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya)”. yakni bukan sesuai dengan yang terbayangkan oleh prasangka dan benak manusia yang merupakan sifat-sifat benda (makhluk) yang tentunya mustahil bagi Allah. penafian bahwa ulama salaf mentakwil secara terperinci (takwil tafshili) seperti yang diduga oleh sebagian orang tidaklah benar. Kekuasaan Allah adalah sifat Allah yang azali (tidak memiliki permulaan) . Dalam Shahih al Bukhari juga masih terdapat takwil semacam ini di bagian yang lain seperti dlahik yang terdapat dalam hadits ditakwilkan dengan rahmat-Nya yang khusus (arRahmah al Khashshah).

Seperti halnya ulama Salaf. beliau hidup pada abad VII Hijriyah. mereka tidak memahami ayat-ayat tersebut sesuai dengan zhahirnya. Abu Nashr al Qusyairi juga telah menjelaskan konsekwensi-konsekwensi buruk yang secara logis akan didapat oleh orang yang menolak takwil. Ini seperti dikutip oleh al Hafizh Ibnu 'Asakir dalam kitabnya Tabyin Kadzib al Muftari. di antaranya al Hafizh Abdurrahman ibn al Jawzi yang merupakan salah seorang tokoh besar madzhab Hanbali. Metode ini bisa diambil dan diikuti. Disebut demikian karena beliau banyak mengetahui nash-nash (teks-teks induk) dalam madzhab Hanbali dan keadaan imam Ahmad. terutama ketika dikhawatirkan terjadi goncangan terhadap keyakinan orang awam demi untuk menjaga dan membentengi mereka dari tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya).disahihkan oleh al Hafizh al Bayhaqi. Pemahaman Golongan Musyabbihah terhadap Ayat-ayat Mutasyabihat . Sedang komentar al Hafizh Abu Sa'id al 'Ala-i mengenai al Bayhaqi dan ad-Daraquthni terdapat dalam bukunya al Wasyyu al Mu'lam. firman Allah yang memaki Iblis : َ َ َ َ ﴿ 75 : ‫)ما من َعك أ َن ت َسجدَ ل ِما خل َقت ب ِي َدَي ﴾ )سورة ص‬ ْ ُ ْ ُ ْ َ َ ّ Ayat ini boleh ditafsirkan bahwa yang dimaksud dengan al Yadayn adalah al 'Inayah (perhatian khusus) dan al Hifzh (memelihara dan menjaga). III. Mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara terperinci dengan menentukan makna-maknanya sesuai dengan penggunaan kata tersebut dalam bahasa Arab. seorang ahli hadits yang menurut al Hafizh Shalahuddin al 'Ala-i : "Setelah al Bayhaqi dan ad-Daraquthni. Kedua : Metode Khalaf. Abu Nashr al Qusyairi adalah seorang ulama yang digelari oleh al Hafizh 'Abdurrazzaq ath-Thabsi sebagai imam dari para imam. Komentar al Bayhaqi terhadap sanad tersebut ada dalam kitabnya Manaqib Ahmad. Al Hafizh Abu Sa'id al 'Ala-i sendiri menurut al Hafizh Ibnu Hajar : "Dia adalah guru dari para guru kami". Banyak di antara para ulama yang menyebutkan dalam karya-karya mereka bahwa imam Ahmad mentakwil secara terperinci (tafshili). belum ada ahli hadits yang menyamai kapasitas keduanya atau mendekati kapasitas keduanya ". Sebagai contoh.

yaitu ayatayat Muhkamat. pada catatan kaki No. Abu Dawud."تعالـى )يعني الله( عن الحدود والغايات والركان والعضاء والدوات‬ "Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar. telinga dan lainnya). (H. Orang-orang Wahhabi ini meyakini bahwa Allah memiliki anggota badan yaitu kaki dan telapak kaki. Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda : " ‫إذا رأيتم الذين يتبعون ما تشابه منه فأولئك الذين سمى الله فاحذروهم " )رواه‬ ‫)أحمد والبخاري ومسلم وأبو داود والترمذي وابن ماجه‬ Maknanya: “Jika kalian menyaksikan orang-orang yang mengikuti ayat-ayat Mutasyabihat al Qur'an. Berikut contoh-contoh dari pemahaman tasybih mereka: • Ayat Kursi (Q.S. Ahmad. Buku-buku aqidah mereka selalu mengedepankan mengajarkan ayat-ayat Mutasyabihat dan menanmkan paham tasybih pada pengikut mereka. jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali). waspadai dan jauhi mereka". al Bukhari.R. h. at-Turmudzi dan Ibnu Majah) Paham tasybih ini sering terungkap ketika golongan ini menafsirkan ayat-ayat al Qur'an atau menerjemahkannya ke bahasa-bahasa lain. anak lidah. anggota badan yang besar (seperti wajah. Perkataan ini jelas paham tasybih. golongan Musyabbihah selalu mendahulukan ayat-ayat Mutasyabihat untuk diajarkan dan seakan mereka menganggap itulah inti dari ajaran Islam.161. al Baqarah: 255). lidah.Berbeda dengan para ulama salaf dan khalaf yang memakai metode takwil ijmali atau tafshili dalam memaknai ayat Mutasyabihat. sehingga disadari atau tidak inilah ciri orang yang menyimpang seperti dijelaskan oleh al Qur'an. tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut. Padahal al Imam ath-Thahawi telah menukil ijma' para ulama salaf yang menegaskan: "‫. maka mereka inilah yang disebutkan oleh dalam Al Imran : 7. batas akhir. hidung. Muslim. seperti al Qur'an dan Terjemahannya cetakan Saudi Arabia yang dipenuhi dengan paham tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). . 63 dikatakan: "… pendapat yang sahih terhadap makna kursi ialah tempat letak telapak kaki-Nya". golongan Musyabbihah (golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) mengambil makna zhahir ayat-ayat Mutasyabihat. Berbeda dengan prinsip yang dipegangi mayoritas ummat bahwa induk al Qur'an adalah ayatayat Muhkamat –seperti dijelaskan dalam al Qur'an: " ‫ ." هن أ ُم ال ْك ِتاب‬sehingga ayat-ayat ّ ّ ُ ِ َ Muhkamat yang mesti didahulukan untuk diajarkan kepada ummat sebelum ayat Mutasyabihat dan ayat-ayat Mutasyabihat harus dikembalikan pemahamannya kepada induknya. sisi-sisi.

berkediaman atau tinggal. Dan semua makna ini mustahil berlaku bagi Allah karena semuanya adalah sifat makhluk. Paham tasybih ini juga nampak ketika para pengikut paham ini mengatakan tentang sifat Allah tertentu: ‫ بذاته‬dan kata hakiki. membaringkan. duduk. • Pada halaman 230. Dan masih banyak penyimpangan-penyimpangan serupa di berbagai tempat dalam al Qur'an dan Terjemahannya cetakan Saudi Arabia tersebut. 660. naik. 900 mereka mengartikan "‫استوى على‬ ‫:"العرش‬ dengan bersemayam. tersimpan. Jadi terjemahan tersebut jelas mengusung paham tasybih dan kekufuran. baik yang kecil maupun yang besar dan lain sebagainya.Al Imam ath-Thahawi juga mengatakan: " ‫. padahal bersemayam maknanya adalah duduk. Orang yang jeli dan memahami dengan baik aqidah Ahlussunnah akan dengan mudah menemukan paham tasybih tersebut. 368. . 476."ومن وصف الله بمعنى من معانـي البشر فقد كفر‬ "Barangsiapa menyifati Allah dengan salah satu sifat manusia maka ia telah kafir". karena begitu dikatakan Allah bersemayam berarti telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. diam. 567. Di antara sifat-sifat manusia adalah bergerak. Tidak boleh diyakini bahwa Allah bersemayam tidak seperti bersemayamnya kita.[2] Misalnya Muhammad Shalih ibnu Utsaimin ketika menyebutkan sifat al 'Ayn bagi Allah ia mengatakan: "‫. memiliki anggota badan. turun."ونؤمن بأن لله عينين اثنتين حقيقيتين‬ "Dan kami beriman bahwa Allah memiliki dua 'ayn yang hakiki". terpatri (di hati). bersemayam.

dengan diterjemahkan kepada salah satu maknanya akan terjadi distorsi dan ketika itu nampak dipahami sebagai apa. Sedangkan orang-orang wahhabi memahami Wajh secara hakiki. mata atau tangan.(‫ )باب ما جاء في إثبات اليدين صفتين ل من حيث الجارحة‬Bab tentang penetapan Yadayn bagi Allah sebagai sifat bukan sebagai anggota badan. . Jadi meski sama-sama menetapkan Wajh. Itu berarti bahwa ia mamahami 'Ayn tak ubahnya adalah dua mata yang hakiki. 'Ayn sebagai al Hifzh (pemeliharaan). Karena kata Wajh. 34: "(Allah) mempunyai dua mata yang sebenarnya". 'Ayn bukan mata. Memang mungkin saja diterjemahkan tetapi diterjemahkan maknanya dengan mentakwil Wajh sebagai al Mulk (kekuasaan). h. Pernyataan Utsaimin ini terdapat dalam buku yang ia namakan: " ‫ . Seorang sunni meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat tersebut yang bukan bermakna muka. Menurut Ahlussunnah sifat-sifat tersebut ketika diyakini sebagai sifat Allah maka tidak bisa diterjemahkan ke bahasa lain. bahwa Allah memiliki anggota badan. mata dan tangan berarti telah meyakini keyakinan tasybih. kelopak mata dan semacamnya. Disebutkan dalam edisi terjemahan ini. Yad sebagai al 'Inayah (perhatian khusus). 28. Yadayn secara hakiki yaitu tangan. . di halaman-halaman berikut: 27. 'Ayn dan Yadayn dalam bahasa Arab memiliki beberapa makna. Padahal Ahlussunnah mengimani 'Ayn sebagai sifat Allah. atau al Qudrah (kekuasaan) atau al 'Ahd (janji) dan semacamnya. Yadayn bagi Allah. Jika diterjemahkan sebagai wajah atau muka. Ahlussunnah dan golongan Musyabbihah seperti orang-orang Wahhabi berbeda dalam memahaminya.A. Dan jelas 'Ayn yang hakiki adalah kelopak mata dengan seluruh bagiannya. . 29. 35 dikatakan: "Bahwa mata Allah adalah dua…". Pada h. 'Ayn. 34. Wajh bukan muka atau bagian tubuh.Padahal sifat 'Ayn tidak pernah disebutkan dalam al Qur'an dengan lafazh tatsniyah atau dengan tambahan kata hakiki. 'Ayn secara hakiki.(‫ ) باب ما جاء في إثبات الوجه صفة ل من حيث الصورة‬Bab tentang penetapan Wajh bagi Allah sebagai sifat bukan sebagai bentuk dan gambar." عقيدة أهل السنة والجماعة‬Dalam edisi bahasa Indonesia juga bisa dibaca akidah yang sesat ini dalam terjemahan M. Al Imam al Bayhaqi dalam kitab al Asmaa' wa ashShifaat[3] menyebutkan bab-bab berikut: .Yusuf Harun. M. yaitu mata. yang pasti bukan kelopak mata dan seluruh bagian-bagiannya. dan Yadayn bukan kedua tangan yang merupakan anggota badan.(‫ )باب ما جاء في إثبات العين صفة ل من حيث الحدقة‬Bab tentang penetapan 'Ayn bagi Allah sebagai sifat bukan dari sisi sebagai kelopak mata. Ahlussunnah memahaminya sebagai sifat Allah yang tidak menyerupai sifat makhluk-Nya.

berada di atas 'arsy dengan jarak dan semacamnya dinafikan dari Allah. tanpa mengetahui bagaimana bersemayam-nya Allah. Ini diriwayatkan oleh al Hafizh al Bayhaqi dari al Imam Malik dengan sanad yang Jayyid (kuat). Jauh berbeda antara Tanzih dan Tasybih. bersemayam dan berada di atas 'arsy. tetapi tanzihullah 'anil Kayf (mensucikan Allah dari al kayf). Hanya ada dua riwayat yang sahih dari para ulama salaf. menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dengan menyifati Allah dengan sifat makhluk. Al Imam Malik dan lainnya tidak pernah mengatakan al Kayf Majhul. Karena sangat berbeda antara al Akhdzu bizh-Zhahir (mengambil zhahir ayat atau hadits sifat) dan Nafyu al kayf 'anillah (menafikan sifat-sifat makhluk dari Allah)."صاحب بدعة أخرجوه‬ "Allah memiliki sifat istiwa' seperti yang Ia sifatkan sendiri untuk Dzat-Nya. tidak boleh dikatakan Bagaimana dan Kayf mustahil bagi-Nya". Jadi ketika memaknai ayat Istiwa' ulama salaf memahami bahwa al Kayf seperti duduk. yaitu bersemayam.. Tetapi golongan Musyabbihah memahami istawa dengan istaqarra.". bersemayam. Jawaban: Jelas berbeda antara pendapat mereka dan madzhab mayoritas salaf.IV. Ini jelas merupakan tasybih. Syubhah dan Jawabannya Golongan Musyabbihah mengklaim bahwa madzhab yang mereka ikuti adalah metode para ulama salaf ash-Shalih. jelas berbeda antara Itsbatul kayf Lillah dengan tanzihullah 'anil Kayf. (Riwayat ini dituturkan oleh al-Laalka-i) . Kedua: riwayat dari Ummu Salamah dan Rabi'ah yang berbunyi: " ‫. Pertama: riwayat yang berbunyi: " ‫الرحمن على العرش استوى كما وصف نفسه ول يقال كيف وكيف عنه مرفوع وما أراك إل‬ ‫. Madzhab salaf bukan Itsbatul kayf Lillah (menetapkan al kayf bagi Allah) dengan al Jahl bi dzalikal kayf (tanpa mengetahui kayf tersebut)..الستواء غير مجهول والكيف غير معقول‬ "Istiwa sudah diketahui bahwa Allah disifati dengannya dan al Kayf mustahil bagi-Nya".

I-dlah ad-Dalil fi Qath'i Hujaj Ahl at-Ta'thil (Kairo: Darussalam. 1397 H). h. al Asma' Wa ash-Shifaat (Kairo: Darul Hadits. 27. h."أمروها كما جاءت بل كيفية‬ "Baca saja hadits-hadits tersebut seperti riwayat yang ada dengan tanpa meyakininya sebagai sifat-sifat makhluk". Ini bertentangan dengan madzhab para ulama salaf yang jelas-jelas menafikan Kayf dari Allah dengan mengatakan: ‫ . [1] Syekh Zakariyya al Anshari.Riwayat Wal Kayf Majhul tidak sahih dari sisi periwayatannya dari Imam Malik dan lainnya. Sufyan dan al-Layts ibn Sa'd bahwa ketika ditanya tentang hadits-hadits mutasyabihat. 1425-2004).[4] Demikian juga maknanya tidak sesuai. 1423 H-2002 ) h. بل كيف‬tanpa berlaku kayf bagi Allah. karena redaksi tersebut menetapkan al Kayf bagi Allah. 56 . 36 [5] Ibid. Al Bayhaqi dalam kitab al I'tiqad meriwayatkan dengan sanadnya dari al Awza'i. 107 [3] Al Hafizh al Bayhaqi. [2] Badruddin Ibnu Jama'ah. h. [4] Syekh Abdullah al Harari. Malik. ad-Dalil al Qawiim 'ala ash-Shirath al Mustaqim (Beirut: tp. h. al Hudud al Aniiqah Wa at-Ta'riifat ad-Daqiiqah (Beirut: Dar al Masyari'. mereka mengatakan: "‫.. [5] Wallahu a'lam wa ahkam. 1410 H-1990). hanya saja kita tidak mengetahuinya.319-340.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful