Anestesi adalah hilangnya semua bentuk sensasi termasuk sakit, sentuhan, persepsi temperature dan tekanan dan dapat

disertai dengan terganggunya fungsi motorik. Bila hanya sebagian dari tubuh yang terpengaruh, dapat digunakan istilah anestesi local atau amalgesia local. Anestesi local menghambat impuls konduksi secara reversible sepanjang akson saraf dan membrane eksitabel lainnya yang menggunakan saluran natrium sebagai alat utama pembangkit potensial aksi. Secara klinik, kerja ini dimanfaatkan untuk menghambat sensasi sakit dari atau impuls vasokonstriktor simpatis ke bagian tubuh tertentu. Hingga saat ini belum ada obat anestesi yang ideal, dan pengembangan obat masih terus diteliti. Namun, walaupun relative mudah untuk mensintesis suatu zat kimia yang mempunyai efek anestesi local tetapi sangat sulit mengurangi efek toksik yang lebih kecil dari obat yang ada saat ini. Alasan utama kesulitan tersebut adalah kenyataan bahwa toksisitas yang sangat serius dari obat anestesi local merupakan perluasan efek terapinya pada otak dan sistem sirkulasi.1,2

2.2 Penggolongan Obat Anestesi local dibagi menjadi dua golongan yaitu ester dan amida. Ester adalah golongan yang mudah terhidrolis sehingga waktu kerjanya cepat hilang, sementara amida merupakan golongan yang tidak mudah terhidrolisis sehingga waktu kerjanya lama. Berikut ini adalah struktur dan sifat beberapa ester dan amida anestesi local.

2.3 Farmakokinetik Anestesi local biasanya diberikan secara suntikan ke dalam daerah serabut saraf yang akan dihambat. Oleh karena itu, penyerapan dan distribusi tidak begitu penting dalam memantau mula kerja efek dalam menentukan mula kerja anestesi sama seperti pada anestesi umum terhadap SSP dan toksisitas jantung. a. Absorpsi Absorpsi sistemik suntikan anestesi local dari tempat suntikan dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain:

1

sehingga mudah dieksresikan karena bentuk ini tidak mudah diserap kembali oleh tubulus ginjal. c.Dosis Tempat suntikan Ikatan obat-jaringan Adanya bahan vasokonstriktor Sifat fisiokimia obat Aplikasi anestesi local pada daerah yang kaya vaskularisasi menyebabkan penyerapan obat yang sangat cepat dan kadar obat dalam darah yang lebih tinggi dibandingkan dengan tempat yang perfusinya jelek. Karena anestesi local yang bentuknya tak bermuatan maka mudah berdifusi melalui lipid. Setelah fase distribusi awal yang perfusinya tinggi seperti otak. obat ini khas sekali mempunyai waktu paruh yang sangat singkat. Bukti menunjukkan bahwa penyimpanan obat mungkin terjadi dalam lemak. Tipe ester anestesi local dihidrolisis sangat cepat di dalam darah oleh butirilkolinestrase (pseudokolinesterase). Metabolisme dan Ekskresi Anastesi local diubah dalam hati dan plasma menjadi metabolit yang mudah larut dalam air dan kemudian diekskresikan ke dalam urin. maka sedikit atau tidak ada sama sekali bentuk netralnya yang diekskresikan. Ikatan amida dari anestesi local amida dihidrolisis oleh enzim mikrosomal hati. hati. ginjal dan jantung diikuti oleh fase distribusi lambat yang perfusinya sedang seperti otot dan usus. Karena waktu paruh plasma yang sangat singkat dari obat tipe ester maka distribusinya tidak diketahui. Distribusi Anestesi local amida disebar meluas dalam tubuh setelah pemberian lobus intravena. kurang dari 1 menit untuk prokain dan kloroprokain. Oleh karena itu. Pengasaman urin akan meningkatkan ionisasi basa tersier menjadi bentuk bermuatan yang mudah larut dalam air. kadar darah maksimum anestesi local menurun sesuai dengan pemberian yaitu: interkostal (tertinggi)→kaudal→epidural→pleksus brakialis→saraf isciadikus (terendah). 2 . b. Untuk anestesi regional yang menghambat saraf yang besar.

Perbedaan ionic transmembran dipertahankan oleh pompa natrium. Anestesi local mengikat reseptor dekat ujung intrasel saluran dan menghambat saluran dalam keadaan bergantung waktu dan voltase. perkiraan urutannya adalah prilokain (tercepat) → editokain→ lidokain→ mepivakain→ bupivakain (terlambat).1 2. Sifat ini mirip dengan yang terjadi pada otot jantung dan anestesi local pun mempunyai efek yang sama pada kedua jaringa tersebut. Mekanisme Kerja Selama eksitasi. Bila peningkatan konsentrasi dalam secara progresif anestesi local digunakan pada satu serabut saraf. konduksi impuls melambat. amplitude potensial aksi mengecil dan akhirnya kemampuan melepas satu potensial aksi hilang. maka saluran natrium menutup (inaktif) dan saluran kalium terbuka. pada setiap saluran. potensial istirahat jelas tidak terganggu. Efek yang bertambah tadi merupakan hasil dari ikatan anestesi local terhadap banyak dan makin banyak saluran natrium. kecepatan muncul potensial aksinya menurun. Jika arus ini dihambat melebihi titik kritis saraf.Kecepatan metabolisme senyawa amida di dalam hati ini bervariasi bagi setiap individu. Sebagai contoh.4 Farmakodinamik Adapun farmakodinamik untuk obat anestesi local adalah: a. Sebagai akibat depolarisasi ini. maka propagasi yang melintas daerah yang dihambat ini tidak mungkin terjadi lagi. saluran natrium terbuka dan arus natrium masuk ke dalam sel dengan cepat mendepolarisasi membran ke arah keseimbangan potensial natrium (+40mV). ikatan menghasilkan hambatan arus natrium. Pada dosis terkecil yang dibutuhkan untuk menghambat propagasi. terjadi lagi repolarisasi saluran natrium menjadi keadaan istirahat.8 jam pada pasien normal menjadi lebih dari 6 jam pada pasien dengan penyakit yang berat. toksisitas dari anestesi local tipe amida ini akan meningkat pada pasien dengan gangguan fungsi hati. waktu paruh lidokain rerata akan memanjang dari 1. 3 . Aliran kalium keluar sel merepolarisasi membran ke arah keseimbangan potensial kalium (sekitar -95mV). nilai ambang eksitasinya meningkat. Akibatnya.

Dengan 4 . makin terpisah jauh nodus tadi yang menerangkan sebagian. Terhadap serabut yang bermielin. tahanan yang lebih besar untuk menghambat serabut besar tadi. maka kerjanya tidak saja terbatas pada hilangnya sensasi sakit dan nyeri yang diinginkan. bila bagian pendek serabut dihambat. serabut nyeri dihambat permulaan. Saraf bermielin cenderung dihambat serabut saraf yang tidak bermielin pada ukuran yang sama. serabut paling kecil B dan C dihambat lebih dulu. Adapun efek serabut saraf antara lain: Efek diameter serabut Anestesi local lebih mudah menghambat serabut ukuran kecil karena jarak di mana propagasi suatu impuls listrik merambat secara pasif pada serabut tadi (berhubungan dengan constant ruang) jadi lebih singkat.Karakteristik Struktur-Aktivitas Anestesi Lokal Makin kecil dan makin banyak molekul lipofilik. dan mepivakain lebih larut dalam air dibandingkan tetrakain. Selama mula kerja anestesi local. Potensi mempunyai hubungan positif pula dengan kelarutan lipid selama obat menahan kelarutan air yang cukup untuk berdifusi ke tempat kerja. Makin tebal serabut saraf. Perbedaan tipe serabut saraf akan membedakan dengan nyata kepekaannya terhadap penghambatan anestesi local atas dasar ukuran dan mielinasi. maka serabut berdiameter kecil yang pertama kali gagal menyalurkan impuls. Aksi Terhadap Saraf Karena anestesi local mampu menghambat semua saraf. kemudian sensasi lainnya menghilang. Oleh karena itu. dan bupivakain. Aplikasi suatu anestesi local terhadap suatu akar serabut saraf. Lidokain. Obat-obat tadi terikat lebih ekstensif pada protein dan akan menggeser atau digeser dari tempat ikatannya oleh obat-obatan lain. Serabut delta tipe A akan dihambat kemudian. setidaknya tiga nodus berturut-turut dihambat oleh anestesi local untuk menghentikan propagasi impuls. makin cepat pula kecepatan interaksi dengan reseptor saluran natrium. Obat yang terakhir lebih kuat dengan masa kerja yang panjang. dan fungsi motor dihambat terakhir. b. prokain. etidokain.

lamanya waktu pemulihan dari sensasi harus sama dengan lamanya waktu yang diperlukan untuk operasi.demikian. serabut ini dihambat lebih dulu dengan anestesi local kadar rendah dari pada serabut A alfa. pada prakteknya. anestesi muncul lebih dulu di bagian proksimal dan kemudian menyebar ke distal sesuai dengan penetrasi obat ke dalam tengah bagian bundle saraf.1 2. efeknya terhadap membran sel otot jantung mempunyai makna klinik yang penting.5 Durasi Obat Secara teoritis. terutama serabut nyeri ternyata berkecukupan letupan tinggi dan lama potensial aksi yang relative lama (mendekati 5 milidetik). Efek frekuensi letupan Alasan penting lain terhadap mudahnya penghambatan serabut sensoris mengikuti langsung dari mekanisme kerja yang bergantung pada keadaan anestesi local. Serabut delta dan C adalah serabut berdiameter kecil yang terlibat pada transmisi nyeri berfrekuensi tinggi. Efek posisi saraf dalam bundle saraf Pada sekumpulan saraf yang besar. Efek Terhadap Membran yang Mudah Terangsang Lainnya Anestesi local mempunyai efek menghambat otot saraf yang lemah dan tidak begitu penting dalam klinik. Penambahan vasokonstriktor pada larutan anestesi local akan mempengaruhi 5 . serabut saraf preganglionik B dapat dihambat sebelum serabut C kecil yang tidak bermielin. Akibatnya bukan tidak mungkin saraf motor terhambat sebelum penghambatan sensoris dalam bundle besar. Namun. Serabut sensoris. Jadi. c.5 milidetik). selama infiltrasi hambatan saraf besar. Serabut motor meletup pada kecepatan yang lebih lambat dengan potensial aksi yang singkat (0. durasi anestesi biasanya lebih lama dari pada durasi yang diperlukan untuk prosedur perawatan gigi. Oleh karena itu. saraf motor biasanya terletak melingkari bundle dan oleh karena itu saraf ini akan terpapar lebih dulu bila anestesi local diberikan secara suntikan ke dalam jaringan sekitar saraf. Namun.

akan timbul pula nistagmus dan menggigil. Walaupun kolaps kardiovaskular dan kematian biasanya timbul setelah pemberian dosis yang sangat tinggi. Anestesi local menghambat saluran natrium jantung sehingga menekan aktivitas pacu jantung. Darah Pemberian prilokain dosis besar selama anestesi regional akan menimbulkan 6 . 0. Jika kadar obat dalam darah menigkat terlalu tinggi. Sistem Kardiovaskular Efek kardiovaskular anestesi local akibat sebagian dari efek langsung terhadap jantung dan membrane otot polos serta dari efek secara tidak langsung melalui saraf otonom. maka perlu ditambahkan premedikasi dengan benzodiapedin. Keadaan ini dapat dicegah dengan hanya memberikan anestesi local dalam dosis kecil sesuai dengan kebutuhan untuk anestesi yang adekuat saja. kepala terasa ringan.durasi anestesi. maka akan timbul efek pada berbagai sistem organ. gangguan visual dan pendengaran. Akhirnya kejang tonik klonik yang terus menerus diikuti oleh depresi SSP dan kematian yang terjadi untuk semua anestesi local termasuk kokain.6 Efek Samping Seharusnya obat anestesi local diserap dari tempat pemberian obat. dan kecemasan.1-0. d.2 mg/kg parenteral untuk mencegah bangkitan kejang.2 2. seperti diazepam. Reaksi toksik yang paling serius dari obat anestesi local adalah timbulnya kejang karena kadar obat dalam darah yang berlebihan. a. Sistem Saraf Perifer (Neurotoksisitas) Bila diberikan dalam dosis yang berlebihan. Sistem Saraf Pusat Efek terhadap SSP antara lain ngantuk. dan konduksi jantung menjadi abnormal. Bila harus diberikan dalam dosis besar. b. kadang-kadang dapat pula terjadi dalam dosis kecil yang diberikan secara infiltrasi. eksitabilitas. Pada kadar yang lebih tinggi. semua anestesi local akan menjadi toksik terhadap jaringan saraf. c.

Bila kadarnya cukup besar maka warna darah menjadi coklat. Adrenalin (epinefrin). Membatasi agen anestesi hanya pada daerah yang terlokalisir sehingga dapat meningkatkan kedalaman dan durasi anestesi. Menimbulkan daerah kerja yang kering (bebas bercak darah) untuk prosedur operasi. Felypressin (Octapressin). e.3 Vasokonstriktor yang biasa digunakan adalah: a. d. g. Absorpsi anestesi local ke sistem kardiovaskular melambat sehingga kadar dalam plasma juga rendah.penumpukan metabolit o-toluidin. Penambahan sejumlah kecil vasokonstriktor pada larutan anestesi local dapat memberi keuntungan sebagai berikut: a.1 2.2. Reaksi alergi Reaksi ini sangat jarang terjadi dan hanya terjadi pada sebagian kecil populasi. Mengurangi efek toksik melalui efek penghambat absorpsi konstituen. c. e. Meminimumkan durasi aksi anestesi local. f. Dapat menurunkan perfusi (aliran darah) dari tempat administrasi karena mengkonstriksi pembuluh darah. b. suatu zat pengoksidasi yang mampu mengubah hemoglobin menjadi methemeglobin.7 Vasokonstriktor Vasokonstriktor adalah obat yang dapat mengkonstrksikan pembuluh darah dan mengontrol perfusi jaringan. Menurunkan perdarahan pada tempat injeksi sehingga berguna pada saat prosedur pembedahan untuk mengantisipasi perdarahan. suatu polipeptid sintetik yang hampir mirip dengan 7 . suatu alkaloid sintetik yang hampir mirip dengan sekresi medulla adrenalin alami. b.

setiap konsentrasi yang ada ditambahkan dengan 9 mL akuades. Pada pasien dengan kardiovaskular dan penyakit kelainan tiroid.1 mg/mL. Perbandingan dan pengenceran Larutan vasokonstriktor biasanya dinyatakan sebagai rasio (misalnya 1 sampai 1000. Konsentrasi 1:1000 diartikan bahwa ada 1 gram (atau 1000 mg) obat yang terdapat pada 1000 mL larutan.3 2. b.0 mg/mL. Kontraindikasi: a. c. Menurunkan perfusi. Suntikan submukosa Istilah ini diterapkan bila larutan didepositkan tepat di balik membrane mukosa.000=0. yang tampaknya dapat diperkuat dengan penambahan prilokain. Anestesi infiltrasi Larutan anestesi didepositkan di dekat serabut terminal dari saraf dan akan terifiltrasi di sepanjang jaringan untuk mencapai serabut saraf dan menimbulkan efek anestesi dari daerah terlokalisir yang disuplai oleh saraf tersebut. Untuk menghasilkan konsentrasi 1:10.2 Indikasi: a. Jika menginginkan pengenceran yang lebih. Larutan vasokontriktor yang digunakan dalam larutan anestesi pada praktek dental biasanya lebih encer. b.8 Anestesi dalam Kedokteran Gigi Dalam kedokteran gigi dikenal dua tekhnik anestesi local yaitu: a. Felypressin mempunyai sifat vasokonstriktor yang lemah. Sehingga. ditulis 1:1000). Pada individu yang sensitive. Digunakan untuk menghindari bleeding. 1 mL dari larutan 1:1000 ditambahkan dengan 9 mL pelarut (misalnya air steril) sehingga menjadi 1:10. Tekhnik infiltrasi dibagi menjadi: 1. 8 .sekresi glandula pituitary posterior manusia. Pada individu yang terjadi reaksi obat-obatan yang tidak terantisipasi yang menyebabkan PVC (Prematur Ventricular Contraction). larutan 1:1000 mengandung 1000 mg dalam 1000 mL atau 1.000.

anestesi pulpa gigi dapat diperoleh dengan penyuntikan di sepanjang apeks gigi. Jarum ditahan dengan jari untuk mencegah pembengkokan dan didorong ke penetrasi maksimal sehingga terletak antara akar-akar gigi dan tulang interkrestal. Suntikan supraperiosteal Dengan cara ini. 3. Suntikan ini merupakan suntikan yang paling sering digunakan dan sering disebut sebagai suntikan infiltrasi. 9 . 6. Suntikan subperiosteal Tekhnik ini. Suntikan intraligamen atau ligament periodontal Jarum diinsersikan pada sulkus gingival dengen bevel mengarah menjauhi gigi. Setelah suntikan supraperiosteal diberikan dengan cara biasa. Tekhnik ini hanya dapat digunakan setelah diperoleh anestesi superficial. Suntikan intraseptal Merupakan modifikasi dari tekhnik intraoseous yang kadang-kadang digunakan bila anestesi yang menyeluruh sulit diperoleh atau bila dipasang gigi geligi tiruan imediat serta bila tekhnik supraperiosteal tidak mungkin digunakan. tekhnik suntikan ini sudah sangat jarang digunakan.Walaupun cenderung tidak menimbulkan anestesi pada pulpa gigi. suntikan ini sering digunakan baik untuk menganestesi saraf bukal panjang sebelum pencabutan molar bawah atau operasi jaringan lunak. Suntikan intraoseous Suntikan ini larutan didepositkan pada tulang medularis. 4. Dewasa ini. 2. Jarum kemudian didorong ke membrane periodontal bersudut 30° terhadap sumbu panjang gigi. dibuat insisi kecil melalui mukoperiosteum pada daerah suntikan yang sudah ditentukan untuk mendapat jalan masuk bur dan reamer kecil pada perawatan endodontic. 5. larutan anestesi didepositkan antara periosteum dan bidang kortikal. Tekhnik ini digunakan apabila tidak ada alternative lain karena akan terasa sangat sakit. Tekhnik ini biasa digunakan pada palatum dan bermanfaat bila suntikan supraperiosteal gagal untuk memberikan efek anestesi walaupun biasanya pada situasi ini lebih sering digunakan suntikan intraligamen.

1 Kesimpulan 1. Anestesi local digunakan untuk menghilangkan rasa sakit baik pada proses operasi maupun ekstraksi gigi. persepsitemperature dan tekanan dan dapat disertai dengan terganggunya fungsi motorik dan hanya terpengaruh pada sebagian tubuh. Dalam penggunaannnya. menimbulkan anestesi pada daerah yang disuplai oleh saraf tersebut. darah dan kadangkadang dapat menimbulkan reaksi alergi. 2. tekhnik tersebut mempunyai manfaat khusus dalam kedokteran gigi yaitu untuk menganestesi mandibula. Penggunaan tekhnik infiltrasi pada mandibula umumnya tidak dapat dipertanggungjawabkan karena densitas bidang kortikal luar dari tulang. Anestesi ini dikenal sebagai ‘anestesi regional’ ‘atau anestesi blok’.b. anestesi tidak boleh berlebihan karena akan meberi efek terhadapsistem saraf pusat. sentuhan. Anestesi regional (Fisher) Larutan anestesi yang didepositkan di dekat batang saraf akan melalui pemblokiran semua impuls. Dengan mendepositkan larutan anestesi di ruang pterigomandibular di dekat foramen mandibula anestesi regional pada seluruh distribusi saraf gigi inferior pada sisi tersebut akan dapat diperoleh. Anestesi local adalah hilangnya semua bentuk sensasi termasuk sakit. Penambahan vasokonstriktor dalam anestesi local sangat bagus karena memberikanbanyakkeuntungan tetapi harus diperhatikan pada pasien dengan penyaki sistemik. 3. DAFTAR PUSTAKA 10 . sistem kardiovaskular. Walaupun tekhnik ini dapat digunakan pada rahang atas. perifer.2 BAB III PENUTUP 3. Dalam kedokteran gigi biasanya digunakan dua tekhnik anestesi yaitu tekhnik infiltrasi dan blok (Fisher).

Geoffrey L dan Whitehead.com. 2. halaman 414-421. 4. Katzung. F. Ivor H. 59-68. Jakarta: Hipokrates. Howe.blogspot. http://yukiicetta. Farmakologi Dasar dan Klinik Ed. 21-22. Anestesi Lokal (alih bahasa drg. Lilian Yuwono). 11 . diakses pada Jumat. 1992. halaman 7. 28-30.15 WIB. 3. 1998. Jakarta: EGC. Bertram G. 4 Februari 2011 jam 20.1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful