Konflik kekerasan di Indonesia berlangsung bersamaan dengan proses transisi politik setelah krisis finansial yang parah tahun

1997. Namun, jauh sebelumnya, berbagai konflik kekerasan/"violent conflict" telah muncul sejak era prakolonial, kolonial, maupun masa Orde Baru dan periode "reformasi". Beberapa studi telah menunjukkan bahwa basis-basis konflik kekerasan sudah "terlanjur" berurat-akar pada berbagai level, terutama pada level komunal. Inti berbagai kajian itu mencakup identifikasi akar konflik, aktor-aktor yang terlibat di dalamnya, serta prospek untuk mewujudkan situasi non-konflik, status quo, maupun usulan rekonsiliasi dan perdamaian jangka panjang. Catatan sejarah itu menunjukkan "keakraban" masyarakat Indonesia dengan kekerasan dalam berbagai bentuknya: struktural, simbolik, dan fisik, sehingga negeri ini sempat mendapat julukan "a violent country/culture". Analisis terhadap akar konflik di Indonesia oleh Colombian dan Lindbland menunjukkan, kekerasan muncul di setiap level masyarakat jajahan, oleh politik kolonial (kasus "urang Rantai" di tambang Ombilin; pemberontakan Haji Hasan di Cimareme terhadap Polisi Kolonial, dan kekerasan di kawasan perkebunan Sumatra Utara). Pada masa itu, kekerasan digunakan oleh negara sebagai suatu instrumen untuk mengalahkan warga masyarakat sendiri, jika pemerintah "absen" dari penggunaan kekuatan paksaan. Kunci untuk memahami kekerasan di Indonesia paska Orde Baru, menurut Lindbland dan Colombijn, adalah dengan memperbandingkannya dengan kasus-kasus kekerasan lain: (1) dengan kasus-kasus lain di Indonesia yang terjadi pada waktu yang bersamaan; (2) dengan kekerasan yang terjadi di negara lain; dan (3) dengan kekerasan yang terjadi di masa lalu. Colombijn dan Lindbland tidak sepakat dengan pendekatan yang hanya membatasi pada Orde Baru sebagai pangkal segala bentuk konflik kekerasan yang terjadi sekarang. Sementara, dari sudut sejarah geopolitik internasional, Mark Mazower memotret kekerasan di negara-negara pada abad keduapuluh sebagai akibat dari sisi perubahan konteks internasional dalam negara-negara di abad keduapuluh. Dalam "Violence and The State in Twentieth Century" Mazower menyebutkan: "[not] long ago, modernization was thought to lead to prosperity, social -welfare, and stability. When historical sociologists in particular sought to explain episodes of political violence along the path (or paths) to the modern era, they tended to see these as temporary. Both Barrington Moore and Charles Tilly, for instance, stressed the role of coercion and social conflict in modernisation, but only as elements in a process of transition. Of late, however, violence has moved center stage, and the twentieth century is increasingly characterized by scholars in terms of its historically levels of bloodshed". Dari sisi lain, Collins justru mempertanyakan keabsahan klaim bahwa kekerasan merupakan "budaya" Indonesia, dan mengajukan argumen bahwa klaim tersebut semata-mata ditujukan untuk melegitimasi kembalinya state-sponsored violence. Dengan melihat beberapa sorotan terhadap konflik kekerasan di Indonesia di atas, maka wajar lah jika akhirnya di kalangan masyarakat muncul keragu-raguan bahkan sikap skeptis terhadap alternatif untuk keluar dari konflik kekerasan, jika menyimak catatan tentang konflik dan kekerasan di Indonesia. "[s]udah biasa, kak, di sini kalau satu orang mati ta'ada artinya, kami mengungsi karna tak tahu harus tinggal di mana lagi, di kampong mana, di sini saja ditolak" . Perdamaian: Utopia atau Realita Di sisi lain, masyarakat masih menginginkan damai. "Damai" merupakan persyaratan mutlak bagi setiap manusia yang menginginkan rasa aman. Tanpa itu, tidak mungkin seseorang atau sekelompok orang, baik dari unit terkecil dalam masyarakat ataupun bahkan dalam negara, dapat memenuhi kebutuhan sosial, politik dan ekonominya dengan baik. Di satu sisi, ada pihak-pihak yang menarik keuntungan dari sebuah "absence of peaceful situation", oleh karena mereka sangat berkepentingan terhadap "ketersediaan" konflik yang berlarut-larut, dan mayoritas berbentuk kepentingan ekonomi dan/atau politik. Di sisi lain, konsep "damai" pun ternyata kontekstual, jika diletakkan dalam situasi tertentu. Yang dimaksudkan dengan situasi damai dalam tulisan ini, oleh karenanya, bukan sekedar dalam makna yang negatif, relatif tanpa gejolak, atau tanpa konflik. Namun lebih dari itu, sebagai salah satu tujuan dari penanganan konflik. Saya

mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut sebagai pengantar diskusi: (1) Mengapa perlu situasi damai?; (2) Apakah perdamaian sebagai prekondisi bagi rasa aman, yang merupakan hak dasar warga negara telah terpenuhi?; (3) Bagaimana mencapai situasi damai yang "sustainable", apakah faktor pendukung dan penghambatnya?; (3) bagaimana tanggungjawab negara, sekaligus stakeholders di dalam negara? Apa yang Mungkin Dilakukan? Ada poin penting ketika membicarakan soal "perdamaian", yaitu menyangkut persepsi dan interpretasi siapakah yang dominan di dalamnya. Jika Hambali merujuk pada problematika konsep "rekonsiliasi" dalam kasus Tragedi Tanjung Priok, maka hal yang sama dapat diajukan pada konsep "damai" untuk mengakhiri kasus konflik kekerasan itu sendiri. Bukankah militer juga memasang spanduk "damai itu indah" di lokasi-lokasi strategis di sudut-sudut kota dan di pelosok-pelosok desa? Sebuah kesepakatan damai, dalam konflik yang terjadi di level apapun, baik intra state (konflik internal) maupun interstate (konflik antar negara), seharusnya memuat elemen-elemen "peace building", termasuk di dalamnya upaya penegakan hukum dan perwujudan sikap saling percaya (confidence building measures) di antara pihak-pihak yang berkonflik. Namun, jika instrumen hukum tidak lagi dipercaya oleh masyarakat, padahal keamanan juga merupakan hak warga, maka bagaimana upaya untuk mencapainya? Negara tidak berfungsi semestinya dalam menyediakan situasi aman. Dimanakah posisi stakeholders? Jika kekerasan akhirnya direproduksi oleh kelompok-kelompok "masyarakat sipil", apakah tidak ada lagi masa depan untuk kata "damai" ? Dalam konteks ini, diperlukan upaya menelusuri kembali langkah-langkah yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak untuk mencapai tujuan perdamaian, terutama dalam konteks pemenuhan hak warga negara akan rasa aman, serta melihat bagaimana upaya untuk mewujudkan mekanisme penanganan konflik, dan signifikansinya untuk mendorong ke arah perdamaian jangka panjang di Indonesia. Apakah kita memiliki alternatif "perdamaian", yang dimaksudkan bukan dalam pengertian "negative peace" yang berbentuk sekedar penghentian kekerasan, melainkan "positive peace" yang disertai partisipasi langsung dari masyarakat untuk mewujudkannya? Pendekatan penanganan konflik manakah yang paling sesuai jika melihat pada kecenderungan bertarutnya konflik,terutama jika melihat akibat yang ditimbulkannya? Pandangan jangka panjang terhadap konflik itu sendiri setidaknya tergantung pada dua variable: keseimbangan kekuatan, serta kesadaran terhadap keberadaan kelompokkelompok kepentingan dan kebutuhan mereka yang terlibat konflik; dan pendekatan terhadap penanganan konflik seperti telah disebutkan di muka. Proses penanganan konflik dan upaya untuk mencapai perdamaian dapat dipahami dalam konteks tersebut. Dalam hal ini, peran peace builder terutama diharapkan muncul dari kalangan civil society, atau individu-individu yang memahami persoalan, dan mampu menganalisis dengan jernih setiap konflik yang terjadi, dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Kita dapat memposisikan diri sebagai pihak yang memberikan analisis/konsultasi, langsung melakukan advokasi, atau melibatkan diri sebagai "third party" dalam skema mediasi dan/atau negosiasi, dengan persyaratan kondisi relasi yang seimbang di antara pihak-pihak yang berkonflik. Sebagai kesimpulan, tujuan utama dan proses pembangunan situasi damai adalah untuk merestrukturisasi hubungan-hubungan sosial yang telah rusak; dan, lebih jauh lagi, menghasilkan sebuah mekanisme penanganan konflik yang adil dan damai, dengan memperhatikan aspek-aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya yang meliputi lokus konflik tersebut. Dari sisi pandang seperti ini, mengedepankan dan membuka potensi konflik laten bukan merupakan "provokasi" atau "menambah" konflik, melainkan merupakan bagian dari proses perdamaian yang lebih luas.

Dikutip Dari : http://www.interseksi.org/publications/essays/articles/mewujudkan_perdamaian.html

tetapi ada pula yang merasa terhibur. senantiasa juga diwarnai oleh berbagai bentuk persaingan dan konflik. dan masalah kekuasaan?”. dan lain-lain yang paling tidak melibatkan dua pihak atau lebih. 1993). Sehubungan dengan interaksi antaranggota itu ditemukan berbagai tipe. masalah perut. Dengan demikian pihak-pihak yang dapat terlibat dalam konflik meliputi banyak macam bentuk dan ukurannya. keluarga. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik. Dengan demikian “konflik” dalam kehidupan sosial berarti benturan kepentingan.t. pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. atau satu pemeluk agama tertentu (Nader. pendapat. dan apa fungsi konflik itu bagi kehidupan sosial manusia?”. ternyata jawabnya “tidak”. 3 (halaman 236-241) diuraikan mengenai pengertian konflik dari aspek antropologi. Selain itu dapat pula dipahami bahwa pengertian konflik secara antropologis tersebut tidak berdiri sendiri. dan dinyatakan oleh Chang bahwa emosi manusia sesaat pun dapat memicu terjadinya konflik sosial.Konflik Sosial Ditinjau Dari Segi Struktur dan Fungsi Oleh: Mulyadi. di mana tiap-tiap pihak dapat berupa perorangan.). satu suku bangsa. di mana saja dan kapan saja. kelompok kekerabatan. M. Lauer. satu komunitas. ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman. keinginan. setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Dalam International Encyclopaedia of The Social Sciences Vol. tidak pernah lepas dari apa yang disebut “konflik” (Chandra. seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Istilah “konflik” secara etimologis berasal dari bahasa Latin “con” yang berarti bersama dan “fligere” yang berarti benturan atau tabrakan. masing-masing orang atau kelompok . Dalam kehidupan sosial segari-hari tampaknya selain diwarnai oleh kerjasama. Manusia memiliki perasaan. Sehubungan dengan itu. masalah pekerjaan. 3/2002 Abstrak: Dalam kehidupan sosial manusia. masalah tempat tinggal. dalam waktu yang bersamaan. Drs. Kehidupan sosial itu. 2001). Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. 1992. tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Artinya.Si. Artikel di Jurnal Humaniora Volume XIV. kecemburuan. melainkan secara bersama-sama dengan pengertian konflik menurut aspek-aspek lain yang semuanya itu turut ambil bagian dalam memunculkan konflik sosial dalam kehidupan kolektif manusia (Chang. sebab dalam menjalani hubungan sosial. Misalnya. kebencian. Bahkan dalam kehidupan sosial tidak pernah ditemukan seluruh warganya sepanjang masa kooperatif. Setiap manusia adalah individu yang unik. Tipetipe interaksi sosial secara umum meliputi: cooperative (kerjasama). satu organisasi politik. Oleh sebab itu. masalah tanah. iri hati. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda. Faktor penyebab konflik Perbedaan individu. yakni ditimbulkan sebagai akibat dari persaingan antara paling tidak dua pihak. competition (persaingan) dan conflict (pertikaian). Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial. yang menjadi pertanyaan dalam tulisan ini adalah “apakah konflik itu erat hubungannya dengan struktur sosial. t. Ada yang merasa terganggu karena berisik. masalah uang. atau mungkin satu lapisan kelas sosial pendukung ideologi tertentu. kalau dicermati komponen utamanya adalah interkasi antara para anggota. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok. No. William Chang (2001) mempertanyakan “benarkah konflik sosial hanya berakar pada ketidakpuasan batin. yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.

pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik. misalnya timbulnya rasa dendam. pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya. konflik dibedakan menjadi 4 macam : konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi). dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik. pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. antar gank). jika terjadi seara cepat atau mendadak. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role)) konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga. misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai. Bagi para pengusaha kayu. perang saudara). Perubahan-perubahan ini. bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada. konflik antar satuan nasional (kampanye. saling curiga dll. keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai. tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Jenis-jenis konflik Menurut Dahrendorf. ekonomi. dan budaya. kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia. Sebagai contoh. benci. sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka. akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat. Para pakar teori telah mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat memghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. perubahan kepribadian pada individu. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Sedangkan bagi pecinta lingkungan. sosial. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama. hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Misalnya. Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut: Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk . Akibat konflik Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut : meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak. Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi.

mencari jalan keluar yang terbaik. Menurut Gibson. • Definisi konflik Ada beberapa pengertian konflik menurut beberapa ahli. keyakinan. jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka konflik tersebut telah menjadi kenyataan. hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik. Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan "kemenangan" konflik bagi pihak tersebut. keberadaan konflik dalam organisasi dalam organisasi ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok. Contoh konflik Konflik Vietnam berubah menjadi perang. 1. dan lain sebagainya. konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan. kepandaian. konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. sebaliknya. konflik di Rwanda. Sebaliknya. konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. 2. ensiklopedia bebas Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sehingga timbul kekerasan. Konflik Dari Wikipedia bahasa Indonesia. 3. pengetahuan. Banyak konflik yang terjadi karena perbedaan ras dan etnis. Hal ini terjadi jika masing – masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri dan tidak bekerja sama satu sama lain. kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan. Konflik Katolik-Protestan di Irlandia Utara memberikan contoh konflik bersejarah lainnya. adat istiadat. Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik. et al (1997: 437). Konflik Timur Tengah merupakan contoh konflik yang tidak terkontrol. . Ini termasuk konflik BosniaKroasia (lihat Kosovo). hal ini dapat dilihat dalam konflik Israel dan Palestina. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik di dalam organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada. Konflik bertentangan dengan integrasi. Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk "memenangkan" konflik. dan konflik di Kazakhstan. Secara sosiologis. hubungan selain dapat menciptakan kerjasama. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977). Menurut Robbin (1996). konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya. Tiada pengertian untuk kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk menghindari konflik.

3. 9. keterbukaan di antara orang – orang. merugikan. kurang kepercayaan.1982:234-237. konflik harus dihilangkan. pasti akan menimbulkan sikap emosi dari tiap orang di kelompok atau . Pandangan tradisional menganggap bahwa konflik dapat dihindari. Pandangan ini dibagi menjadi tiga bagian. yakni tujuan yang ingin dicapai. Pandangan modern. manajer sebagai pihak manajemen bertugas meminimalisasikan konflik. Konflik tidak dapat dihindari. Atau. alokasi sumber – sumber yang dibagikan. Konflik organisasi merupakan interaksi antara dua atau lebih pihak yang satu sama lain berhubungan dan saling tergantung. Bahkan seringkali konflik dikaitkan dengan kemarahan. perbedaan tujuan. konflik dianggap sebagai sesuatu yang buruk yang harus dihindari. Dengan kata lain. Oleh karena itu. manajer sebagai pihak manajemen bertugas mengelola konflik sehingga tercipta kinerja yang optimal untuk mencapai tujuan bersama. konflik perlu dipertahankan pada tingkat minimum secara berkelanjutan sehingga tiap anggota di dalam kelompok tersebut tetap semangat. 2. yaitu: tradisional dan kontemporer (Myers. Konflik dapat dirasakan. konflik merupakan bentuk minteraktif yang terjadi pada tingkatan individual. yaitu pandangan tradisional (Old view) dan pandangan modern (Current View): 1. dan tidak inovatif. tenang. diekspresikan melalui perilaku-perilaku komunikasi (Folger & Poole: 1984). Apabila telah terjadi konflik. antara lain struktur organisasi. konflik dipahami berdasarkan dua sudut pandang. menurut pandangan ini. diketahui. Konflik dalam organisasi sering terjadi tidak simetris terjadi hanya satu pihak yang sadar dan memberikan respon terhadap konflik tersebut. Konflik ini terutama pada tingkatan individual yang sangat dekat hubungannya dengan stres. dan kreatif. Pandangan hubungan manusia (The Human Relation View. 10. Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain. Oleh karena itu. konflik harus dijadikan sebagai motivasi untuk melakukan inovasi atau perubahan di dalam tubuh kelompok atau organisasi. Oleh karena itu. Dikarenakan kesalahan ini. dan sebagainya. 1993:341). Konflik Menurut Myers Selain pandangan menurut Robbin dan Stoner dan Freeman. interpersonal. Menurut Minnery (1985). 1999). kritis – diri. Kreps. 6. dan harus dihindari. dan irrationality. 1993). Interaksi yang disebut komunikasi antara individu yang satu dengan yang lainnya. pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan. Dalam pandangan ini. tetapi di sisi lain kebanyakan kelompok dan organisasi berusaha untuk meminimalisasikan konflik. yaitu pandangan bahwa di sisi konflik dianggap dapat meningkatkan kinerja kelompok. persepsi. kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. satu pihak mempersepsikan adanya pihak lain yang telah atau akan menyerang secara negatif (Robbins. maupun perilaku setiap pihak yang terlibat (Myers. Konflik senantisa berpusat pada beberapa penyebab utama. diingat. namun terpisahkan oleh perbedaan tujuan. tak dapat disangkal akan menimbulkan konflik dalam level yang berbeda – beda (Devito. keputusan yang diambil. Konflik dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari karena di dalam kelompok atau organisasi pasti terjadi perbedaan pandangan atau pendapat antar anggota. Konflik ini merupakan suatu hasil disfungsional akibat komunikasi yang buruk. Pandangan interaksionis (The Interactionist View). Pandangan ini cenderung mendorong suatu kelompok atau organisasi terjadinya konflik. Hal ini disebabkan konflik dapat mengacaukan organisasi dan mencegah pencapaian tujuan yang optimal. Pandangan ini sangat menghindari adanya konflik karena dinilai sebagai faktor penyebab pecahnya suatu kelompok atau organisasi. sesuatu yang negatif. Pandangan tradisional (The Traditional View). 1994:249). Konflik Menurut Stoner dan Freeman Stoner dan Freeman(1989:392) membagi pandangan menjadi dua bagian. untuk mencapai tujuan yang optimal. 1995:381) Konflik Menurut Robbin Robbin (1996: 431) mengatakan konflik dalam organisasi disebut sebagai The Conflict Paradoks. damai. Pandangan ini menyatakan bahwa konflik itu hal yang buruk. destruction. Konflik biasanya disebabkan oleh kesalahan manajer dalam merancang dan memimpin organisasi. Pandangan tradisional. Dipandang sebagai perilaku. 8. nilai – nilai. dan dialami (Pace & Faules. 1993:234) 1. 1986:185. Konflik dapat mengurangi kinerja organisasi dalam berbagai tingkatan. tidak aspiratif. agresivitas. antara lain: 1. Dalam pandangan tradisional. kelompok atau pada tingkatan organisasi (Muchlas. Stewart. Hal ini disebabkan banyak faktor. Jika terjadi konflik. dan serasi cenderung menjadi statis.4. konflik harus dijadikan sebagai suatu hal yang bermanfaat guna mendorong peningkatan kinerja organisasi. dan pertentangan baik secara fisik maupun dengan katakata kasar. apatis. 5. Pandangan ini menyatakan bahwa konflik dianggap sebagai suatu peristiwa yang wajar terjadi di dalam kelompok atau organisasi. Hal ini disebabkan suatu organisasi yang kooperatif. 7. dan kegagalaan manajer untuk tanggap terhadap kebutuhan dan aspirasi karyawan. Konflik disinonimkan dengan istilah violence. 2.

tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Bagi para pengusaha kayu. ekonomi. dan ketiga adalah teori konflik James Scott. Konflik pun tidak hanya diungkapkan secara verbal tapi juga diungkapkan secara nonverbal seperti dalam bentuk raut muka. Pandangan kontemporer mengenai konflik didasarkan pada anggapan bahwa konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dielakkan sebagai konsekuensi logis interaksi manusia. • Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda. pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka. tetapi ada pula yang merasa terhibur. masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. maka dalam proses itu. yang mengekspresikan pertentangan (Stewart & Logan. Setiap manusia adalah individu yang unik. 1993:342). Sebagai contoh.organisasi itu sehingga akan menimbulkan konflik yang lebih besar. Nilai-nilai yang berubah itu seperti . misalnnya bagaimana cara peningkatan kinerja organisasi. Konflik tidak selalu diidentifikasikan sebagai terjadinya saling baku hantam antara dua pihak yang berseteru. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik. hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Namun. Oleh sebab itu. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial. • Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat. setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. konflik haruslah dihindari. Oleh karena itu. • Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok. tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Konflik dianggap sebagai suatu hal yang wajar di dalam organisasi. Misalnya. Artinya. 2. sosial. Konflik tidak selamanya membawa dampak buruk. yaitu tentang Patron Klien. pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. dalam waktu yang bersamaan. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Marx. Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi. yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan. yaitu tentang pertentangan kelas. 2. gerak badan. melainkan harus dijadikan suatu hal konstruktif untuk membangun organisasi tersebut. Hal ini dimaksudkan bahwa konflik dapat menjadi sarana pembelajaran dalam memanajemen suatu kelompok atau organisasi. Semua konflik mengandung komunikasi. tapi tidak semua konflik berakar pada komunikasi yang buruk. misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan. Hal ini dimaksudkan apabila kita ingin mengetahui konflik berarti kita harus mengetahui kemampuan dan perilaku komunikasi. Gerrtz. yaitu tentang primodialisme. sebab dalam menjalani hubungan sosial. Menurut Myers. Ada yang merasa terganggu karena berisik. Konflik bukan dijadikan suatu hal yang destruktif. tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama. pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik. misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Misalnya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu. kedua adalah teori konflik Karl. tetapi juga memberikan pelajaran dan hikmah di balik adanya perseteruan pihak – pihak yang terkait. Para buruh menginginkan upah yang memadai. yang menjadi persoalan adalah bukan bagaimana meredam konflik. dan budaya. Konflik tidak selamanya berkonotasi buruk. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Manusia memiliki perasaan. pasti ada konflik (1982: 234). 1993:341). Jika komunikasi adalah suatu proses transaksi yang berupaya mempertemukan perbedaan individu secara bersama-sama untuk mencari kesamaan makna. ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman. tapi bisa menjadi sumber pengalaman positif (Stewart & Logan. tapi bagaimana menanganinya secara tepat sehingga tidak merusak hubungan antarpribadi bahkan merusak tujuan organisasi. Pertama adalah teori konflik C. tetapi juga diidentifikasikan sebagai ‘perang dingin’ antara dua pihak karena tidak diekspresikan langsung melalui kata – kata yang mengandung amarah. Faktor penyebab konflik • Perbedaan individu. Pelajaran itu dapat berupa bagaimana cara menghindari konflik yang sama supaya tidak terulang kembali di masa yang akan datang dan bagaimana cara mengatasi konflik yang sama apabila sewaktu – waktu terjadi kembali. Konflik terjadi karena adanya interaksi yang disebut komunikasi. Teori-teori konflik Ada tiga teori konflik yang menonjol dalam ilmu sosial. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. menurut pandangan tradisional. Konflik Menurut Peneliti Lainnya 1. seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya.

dan konflik di Kazakhstan. Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa). Akibat konflik Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut : • • • • • meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain. sehingga timbul kekerasan. saling curiga dll. Konflik Katolik-Protestan di Irlandia Utara memberikan contoh konflik bersejarah lainnya. yaitu konflik dan kerjasama. Konflik Vietnam berubah menjadi perang. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat. Perubahan-perubahan ini. misalnya timbulnya rasa dendam. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. jika terjadi seara cepat atau mendadak. Banyak konflik yang terjadi karena perbedaan ras dan etnis. perubahan kepribadian pada individu. bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada. Koonflik antar satuan nasional (kampanye. konflik dibedakan menjadi 4 macam : • • • • • • konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi). Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan "kemenangan" konflik bagi pihak tersebut. Jenis-jenis konflik Menurut Dahrendorf. benci. Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut: • • • • Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk mencari jalan keluar yang terbaik. konflik di Rwanda. antar gank). pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya. Ini termasuk konflik Bosnia-Kroasia (lihat Kosovo). misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role)) Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga. Tiada pengertian untuk kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk menghindari konflik. hal ini dapat dilihat dalam konflik Israel dan Palestina. Konflik Timur Tengah merupakan contoh konflik yang tidak terkontrol. PENGERTIAN KONFLIK SOSIAL Manusia sebagai makhluk sosial selalu berinteraksi dengan sesama manusia.nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. selalu diwarnai dua hal. dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik. . Dengan demikian konflik merupakan bagian dari kehidupan manusia. Ketika berinteraksi dengan sesama manusia. Contoh konflik • • • • A. keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai. perang saudara) Konflik antar atau tidak antar agama Konflik antar politik. Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk "memenangkan" konflik. Para pakar teori telah mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat memghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi. kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia.

Demonstrasi yang dilakukan untuk menentang kebijakan negara adalah salah satu bentuk perbedaan pendapat dan kepentingan antara kelompok masyarakat dengan negara atau dengan kelompok lainnya. agony”. 1988). maka terjadilah konflik kepentingan (conflict of interest) (Deustch dalam Johnson & Johnson. Konflik biasanya diberi pengertian sebagai satu bentuk perbedaan atau pertentangan ide. walaupun tidak mengarah kepada pertentangan fisik.Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Sedangkan White & Bednar (1991) mendefinisikan konflik sebagai suatu interaksi antara orang-orang atau kelompok yang saling bergantung merasakan adanya tujuan yang saling bertentangan dan saling mengganggu satu sama lain dalam mencapai tujuan itu. mental strife. penderitaan batin. perselisihan. 2001). Keadaan mental merupakan hasil impuls-impuls. Pengertian tersebut memberikan penjelasan bahwa konflik adalah suatu pertarungan. pergulatan mental. Konflik juga merupakan perselisihan atau perjuangan di antara dua pihak (two parties)yang ditandai dengan menunjukkan permusuhan secara terbuka dan atau mengganggu dengan sengaja pencapaian tujuan pihak yang menjadi lawannya (Wexley &Yukl. opposition of interest. pendapat. 1996). Cassel Concise dalam Lacey (2003) mengemukakan bahwa konflik sebagai “a fight.1 menjelaskan tentang perilaku manusia yang muncul akibat dari perbedaan pendapat. Fenomena ini termasuk dalam kategori konflik. . namun bekerja dalam saat yang bersamaan. dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2002) diartikan sebagai percekcokan. atau akan segera mempengaruhi secara negatif. Gambar 6. hasrat-hasrat. keinginankeinginan dan sebagainya yang saling bertentangan. 2003). opinion or purposes. Secara sosiologis. sesuatu yang diperhatikan oleh pihak pertama. dalam Saputro. yang bisa berkadar tinggi dalam bentuk kekerasan (violent). yaitu ketika apa yang diharapkan oleh suporter persebaya agar kesebelasan kesayangannya menang tidak terwujud.2 di bawah ini adalah salah satu contoh konflik yang sesuai dengan pendapat di atas. 1991). Konflik adalah suatu pertentangan yang terjadi antara apa yang diharapkan oleh seorang terhadap dirinya. pertentangan kepentingan. Pertentangan ini bisa berbentuk pertentangan fisik dan non-fisik. Konflik juga dimaknai sebagai suatu proses yang mulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif. akibatnya dia melakukan berbagai tindakan penyerangan kepada siapa saja. konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. a collision. a struggle. Konflik. konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya. a contest. Jika tindakan seseorang individu untuk memenuhi dan memaksimal kan kebutuhannya menghalangi atau membuat tindakan orang lain jadi tidak efektif untuk memenuhi dan memaksimalkan kebutuhan orang tersebut. bisa juga berkadar rendah yang tidak menggunakan kekerasan (non-violent). Suatu ketidakcocokan belum bisa dikatakan sebagai suatu konflik bilamana salah satu pihak tidak memahami adanya ketidakcocokan tersebut (Robbins. orang lain. Gambar 6. termasuk kepada aparat keamanan. opini-opini atau tujuan-tujuan. konflik berarti ketidaksepakatan dalam satu pendapat emosi dan tindakan dengan orang lain. suatu pergulatan. suatu benturan. faham dan kepentingan di antara dua pihak atau lebih. dan pertentangan. yang pada umumnya berkembang dari pertentangan non-fisik menjadi benturan fisik. Konflik bisa terjadi karena hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki atau merasa memiliki tujuan-tujuan yang tidak sejalan (Fisher. orang dengan kenyataan apa yang diharapkan (Mangkunegara. Menurut Kartono & Gulo (1987).

tak langsung. 2001). pihak lain akan terganggu maka terjadilah konflik diakibatkan sumberdaya. Konflik juga merupakan suatu interaksi yang antagonis mencakup tingkah laku lahiriah yang tampak jelas mulai dari bentuk perlawanan halus. sikap-sikap emosional yang bermusuhan. Hal ini karena seringkali orang memandang tujuannya sendiri secara lebih penting. karena kepuasan seseorang tergantung perilaku pihak lain. karena itu keberadaan peristiwa pertentangan itu dapat dideteksi dan dimufakati dengan mudah oleh para pengamat yang tidak terlibat dalam pertentangan (Gurr. Pihak-pihak yang berkonflik saling tergantung satu sama lain. 2003). tersembunyi. terkontrol. 1986). tersembunyi. Misalnya. Seseorang dikatakan terlibat konflik dengan pihak lain jika sejumlah ketidaksepakatan muncul antara keduanya. interaksi pertentangan di antara pihak-pihak itu berada dalam keadaan yang tegas. Selama ini konflik sering dihubungkan dengan agresi. Keempat. sedang yang lain tidak. Banyak konflik yang tidak terselesaikan karena masingmasing pihak tidak memahami sifat saling ketergantungan. . yakni ditandai interaksi timbal balik di antara pihakpihak yang bertentangan. Selain itu. sampai pada bentuk perlawanan terbuka (Clinton dalam Soetopo dan Supriyanto. dalam Soetopo. Jika kedua pihak merasa tidak perlu untuk menyelesaikan masalah. kelangkaan sumber daya dan hambatan yang didapat dari pihak lain dalam mencapai tujuannya. 2003). jika dua orang duduk sebangku dalam kelas.Pertentangan dikatakan sebagai konflik manakala pertentangan itu bersifat langsung. 2007) menyatakan bahwa konflik dan agresi merupakan dua hal yang berbeda. Jika hanya satu pihak yang merasakan ketidaksetujuan. maka belum bisa dikatakan konflik antara dua pihak. Marck. sebuah konflik harus melibatkan dua atau lebih pihak di dalamnya. Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa konflik adalah suatu pertentangan dalam bentuk-bentuk perlawanan halus. keyakinan dan ide (Mulyasa. pihak-pihak tersebut saling tarik-menarik dalam aksi-aksi saling memusuhi (mutualy opposing actions). dan masing-masing menyadari adanya ketidaksepakatan itu. Konflik dalam pengertian yang luas dapat dikatakan sebagai segala bentuk hubungan antar manusia yang bersifat berlawanan (antagonistik) (Indrawijaya. Tawuran antar pelajar (Gambar 6. pertentangan itu juga dilakukan atas dasar kesadaran pada masing-masing pihak bahwa mereka saling berbeda atau berlawanan (Syaifuddin. Broadman & Horowitz (dalam Kusnarwatiningsih. Konflik dapat dikatakan sebagai suatu oposisi atau pertentangan pendapat antara orang-orang. sampai pada bentuk perlawanan terbuka antara dua pihak atau lebih yang saling tergantung satu sama lain yang sama-sama merasakan tujuan yang saling tidak cocok. sehingga meskipun konflik yang ada sebenarnya merupakan konflik yang kecil. dalam Soetopo dan Supriyanto. tak langsung. 2003). Dengan kata lain. Pertama. kelompok-kelompok. dan struktur-struktur nilai yang berbeda. Kedua. serta menimbulkan perbedaan pendapat. mereka biasanya cenderung menjalankan perilaku koersif untuk menghadapi dan menghancurkan “sang musuh”. Konflik adalah relasi-relasi psikologis yang antagonis. Konflik tidak selalu menghasilkan kerugian. Synder dan Gurr membuat kriteria yang menandai suatu pertentangan sebagai konflik. Ketiga. scarce rewards. Hocker & Wilmot (1991) memberikan definisi yang cukup luas terhadap konflik sebagai “an expressed struggle betwen at least two interdependent parties who perceive incompatibel goal. sedangkan agresi hanya membawa dampak-dampak yang merugikan bagi individu. maka perpecahan tidak dapat dihindari. seolah-olah tampak sebagai konflik yang besar.3) adalah salah satu contoh konflik yang sering terjadi di kalangan pelajar. Semua konflik seringkali dipandang sebagai pencapaian tujuan satu pihak dan merupakan kegagalan pencapaian tujuan pihak lain. maka bangku itu menjadi sumberdaya. Konflik muncul diakibatkan salah satunya perebutan sumberdaya. berkaitan dengan tujuan-tujuan yang tak bisa dipertemukan. Apabila salah satu pihak bertingkah laku seakanakan mau menguasai kamar. dua pihak harus menyadari adanya masalah sebelum mereka berada di dalam konflik. Dalam hubungannya dengan pertentangan sebagai konflik. and interference from the other parties in achieving their goals”. terkontrol. organisasi-organisasi yang disebabkan oleh adanya berbagai macam perkembangan dan perubahan dalam bidang manajemen. tetapi juga membawa dampak yang konstruktif bagi pihak-pihak yang terlibat.

Konflik yang intensitasnya tinggi adalah konflik yang bisa membangun komitmen sosial yang luas. konflik tidak dapat disingkirkan. Sebuah konflik dikatakan memiliki ketampakan yang tinggi manakala peristiwa konflik itu disadari dan diketahui detail keberadaannya oleh masyarakat secara luas. sehingga cukup untuk membuat kelompok itu hidup. dan serasi cenderung menjadi statis. apatis. Intensitas konflik adalah luassempitnya komitmen sosial yang bisa terbangun akibat sebuah konflik. dan ketidakrasionalan demi memperkuat konotasi negatifnya. Coser (1956) menyatakan: konflik dan konsensus.Konflik pada dasarnya merupakan bagian dari kehidupan sosial. perubahan sosial terdapat di manamana. tenang. dan tidak tanggap terhadap kebutuhan akan perubahan dan inovasi. (3) setiap unsur dalam masyarakat memeberikan kontribusi terhadap desintegrasi dan perubahan. dipandang secara negatif. Coser (1956) mengutip hasil pengamatan Simmel. 1994). Berdasarkan pendekatan interaksionis memandang konflik atas dasar bahwa kelompok yang kooperatif. Karena konflik merupakan bagian kehidupan sosial. . biasa disebut dengan konflik fungsional. Kaum interaksional memandang ada konflik yang mendukung tujuan kelompok dan memperbaiki kinerja kelompok. Sebaliknya. (4) setiap masyarakat dicirikan oleh adanya penguasaan sejumlah kecil orang terhadap sejumlah besar lainnya. (2) intensitas konflik. membuat 4 postulat yang menunjukkan keniscayaan itu. bahwa pendekatan interaksionis tersebut tidak berarti memandangan semua konflik adalah suatu hal yang baik. 1994). Coser menyatakan bahwa masyarakat yang terbuka dan berstruktur longgar membangun benteng untuk membendung tipe konflik yang akan membahayakan konsensus dasar kelompok itu dari serangan terhadap nilai intinya dengan membiarkan konflik itu berkembang di sekitar masalah-masalah yang tidak mendasar (Poloma. dan (3) ketampakan konflik. (2) setiap masyarakat memperlihatkan konflik dan pertentangan. sebuah konflik memiliki ketampakan rendah manakala konflik itu terselimuti oleh berbagai hal sehingga tingkat kesadaran dan pengetahuan masyarakat luas terhadap konflik itu sangat terbatas. oleh karena itu harus dihindari (Robbins. konflik etnis. tidak terelakkan. kritis-diri dan kreatif. Pandangan tradisional tentang konflik mengandaikan konflik itu buruk. konflik yang menyentuh nilai-nilai inti akan dapat mengubah struktur sosial sedangkan konflik yang mempertentangkan nilai-nilai yang berada di daerah pinggiran tidak akan sampai menimbulkan perpecahan yang dapat membahayakan struktur sosial. dan menunjuk pula pada skala konflik yang terjadi (misalnya: konflik lokal. 1996). destruksi. konflik internasional. menunjukkan bahwa konflik mungkin positif sebab dapat meredakan ketegangan yang terjadi dalam suatu kelompok dengan memantapkan keutuhan dan keseimbangan. Adapun ketampakan konflik adalah tingkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat di luar pihak-pihak yang berkonflik tentang peristiwa konflik yang terjadi. maka dapat dikatakan konflik sosial merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditawar. tetap memandang konflik adalah suatu hal yang tidak baik. kaum interaksionis mendorong pemimpin suatu kelompok apapun untuk mempertahankan suatu tingkat minimum berkelanjutan dari konflik. yaitu: (1) setiap masyarakat tunduk pada proses perubahan. konflik agama dan sebagainya). sedangkan ada konflik yang menghalangi kinerja kelompok atau yang disebut dengan konflik disfungsional atau destruktif. Cobb dan Elder (1972) mengungkapkan adanya tiga dimensi penting dalam konflik politik: (1) luas konflik. karena itu tidak ada masyarakat yang steril dari realitas konflik. Dalam interaksi antara manusia. konflik terdapat di mana-mana. Luas konflik. Konflik adalah merugikan. Pandangan pada masa kini melihat konflik merupakan peristiwa yang wajar dalam kehidupan kelompok dan organisasi. konflik nasional. damai. integrasi dan perpecahan adalah proses fundamental yang walau dalam porsi dan campuran yang berbeda merupakan bagian dari setiap sistem sosial yang dapat dimengerti (Poloma. Dahrendorf (1986). sehingga luas konflikpun mengembang. bahkan ada kalanya konflik dapat bermanfaat pada kinerja kelompok. Perlu ditegaskan. Dengan demikian berarti. menunjuk pada jumlah perorangan atau kelompok yang terlibat dalam konflik. dan disinonimkan dengan istilah kekerasan (violence). Oleh karena itu.

Berdasarkan beberapa pendapat tentang sumber konflik sebagaimana dikemukakan oleh beberapa ahli. biasanya perbedaan individu yang menjadi sumber konflik adalah perbedaan pendirian dan perasaan. dan (4) adanya tekanan yang dipaksakan dari luar kepada organisasi. serta gaya individu manajer yang tidak konsisten. 2007) mengemukakan konflik disebabkan antara lain oleh perebutan sumber daya. (4) perbedaan dalam orientasi kerja. 1991). Walton & Dutton dalam Wexley & Yukl. 1. 2003) suatu konflik dapat terjadi karena perbendaan pendapat. Kesimpulannya sumber konflik itu sangat beragam dan kadang sifatnya tidak rasional. (6) perbedaan persepsi. Oleh karena kita tidak bisa menetapkan secara tegas bahwa yang menjadi sumber konflik adalah sesuatu hal tertentu. (3) tugas yang tidak jelas (tidak ada diskripsi jabatan). (7) konsekuensi konflik terhadap pihak yang mengalami konflik dan terhadap pihak lain. dan lain sebagainya. Baron & Byrne (dalam Kusnarwatiningsih. Pada umumnya penyebab munculnya konflik kepentingan sebagai berikut: (1) perbedaan kebutuhan. kepandaian. ada pihak yang dirugikan. antara lain: (1) ciri umum dari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. keyakinan. 1999) mengemukakan bahwa kategori sumber-sumber konflik ada empat. (3) adanya perbedaan peranan. Setiap manusia adalah individu yang unik. Dari luar diri individu misalnya adanya tekanan dari lingkungan. dan perbedaan dalam nilai-nilai atau persepsi. Schmuck (dalam Soetopo dan Supriyanto. dan (3) persaingan. 2. 1. salah paham. (5) rintangan komunikasi (communication barriers). nilai. Struktur: pertarungan kekuasaan antar departemen dengan kepentingan-kepentingan atau sistem penilaian yang bertentangan. persaingan untuk memperebutkan sumber-sumber daya yang terbatas. sehingga sulit itu untuk dideskripsikan secara jelas dan terperinci sumber dari konflik. SUMBER KONFLIK SOSIAL Konflik yang terjadi pada manusia bersumber pada berbagai macam sebab. mungkin tindakan seseorang wajar. pengetahuan. Perasaan sensitif Seseorang yang terlalu perasa sehingga sering menyalah artikan tindakan orang lain. Sedangkan Handoko (1998) menyatakan bahwa sumber-sumber konflik adalah sebagai berikut. bahasa yang sulit dimengerti. Pribadi: ketidaksesuaian tujuan atau nilai-nilai sosial pribadi karyawan dengan perilaku yang diperankan pada jabatan mereka. dan tujuan. pembalasan dendam. dapat ditegaskan bahwa sumber konflik dapat berasal dari dalam dan luar diri individu. 3. 1. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau . atau saling ketergantungan dua atau lebih kelompokkelompok kegiatan kerja untuk mencapai tujuan mereka. yaitu: (1) persaingan terhadap sumber-sumber (competition for resources). Ketika kebutuhan. kebutuhan serta perasaan yang terlalu sensitif. atribusi dan kesalahan dalam berkomunikasi. (6) strategi yang biasa digunakan pihak-pihak yang mengalami konflik. Hal ini dikarenakan sesuatu yang seharusnya bisa menjadi sumber konflik. apalagi hanya didasarkan pada hal-hal yang sifatnya rasional. Misalnya tindakan dari seseorang yang tujuan sebenarnya baik tetapi diterima sebaliknya oleh individu yang lain. ruang. Menurut Anoraga (dalam Saputro. yaitu (1) adanya perbedaan fungsi dalam organisasi. Salah paham Salah paham merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan konflik. kurang senang atau bahkan membenci. konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Faktor Penyebab Konflik a. Dari dalam diri individu misalnya adanya perbedaan tujuan. 4. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. (2) langkanya sumber daya seperti kekuatan. popularitas dan posisi. persaingan. dan (8) tingkat kematangan pihak-pihak yang berkonflik. tetapi pada kelompok manusia tertentu ternyata tidak menjadi sumber konflik. 1988). (4) lingkungan sosial tempat konflik terjadi. Ada enam kategori penting dari kondisi-kondisi pemula (antecedent conditions) yang menjadi penyebab konflik. demikian halnya sebaliknya. (5) kepentingan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. nilai dan tujuan saling bertentangan. ketika sejumlah sumber daya menjadi terbatas. 2. serta langkanya sumber daya yang ada. adat istiadat. (7) sistem kompetensi intensif (reward). dan perasaan sensitif. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik. Sedangkan Soetopo (2001) juga mengemukakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya konflik. konflik kepentingan akan muncul (Johnson & Johnson. (2) hubungan pihak-pihak yang mengalami konflik sebelum terjadi konflik. Kadang sesuatu yang sifatnya sepele bisa menjadi sumber konflik antara manusia. konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya. waktu. ketegangan dan sebagainya. Begitu beragamnya sumber konflik yang terjadi antar manusia. dan ketika persaingan untuk suatu penghargaan serta hak-hak istimewa muncul. nilai. uang. artinya setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. (2) ketergantungan dalam pelaksanaan tugas. Contoh. Komunikasi: salah pengertian yang berkenaan dengan kalimat. (2) ketergantungan pekerjaan (task interdependence). dan (8) strategi permotivasian yang tidak tepat.B. (4) problem status (status problem). (3) sifat masalah yang menimbulkan konflik. dan apabila perbedaan pendapat tersebut amat tajam maka dapat menimbulkan rasa kurang enak. Dengan dibawa sertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial. pengaruh. Perbedaan pendapat Suatu konflik yang terjadi karena pebedaan pendapat dimana masing-masing pihak merasa dirinya benar. (5) perbedaan dalam memahami tujuan organisasi. Perbedaan individu Perbedaan kepribadian antar individu bisa menjadi faktor penyebab terjadinya konflik. atau informasi yang mendua dan tidak lengkap. dan (6) sifat-sifat individu (individual traits) (Robbins. Berbeda pula dengan pendapat Mangkunegara (2001) bahwa penyebab konflik dalam organisasi adalah: (1) koordinasi kerja yang tidak dilakukan. Ada pihak yang dirugikan Tindakan salah satu pihak mungkin dianggap merugikan yang lain atau masing-masing pihak merasa dirugikan pihak lain sehingga seseorang yang dirugikan merasa kurang enak. tetapi oleh pihak lain dianggap merugikan. (2) adanya pertentangan kekuatan antar orang dan subsistem. 3. tidak ada yang mau mengakui kesalahan. (3) kekaburan bidang tugas (jurisdictional ambiguity).

Konflik nilai Konflik nilai dapat muncul karena pada dasarnya nilai yang dimiliki setiap individu dalam organisasi tidak sama. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. sosial. 1996) menyatakan bahwa konflik timbul dalam berbagai situasi sosial. Bagi para pengusaha kayu. 4. kelompok dengan organisasi.kan oleh satu pihak dan kebijakan lainnya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. organisasi maupun antar negara. masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotong royongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. 3. b. Konflik kebijakan Konflik kebijakan dapat terjadi karena ada ketidaksetujuan individu atau kelompok terhadap perbedaan kebijakan yang dikemuka. baik terjadi dalam diri seseorang individu. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi. c.lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial. Konflik tujuan Konflik tujuan terjadi jika ada dua tujuan atau yang kompetitif bahkan yang kontradiktif. antar individu. C. Oleh sebab itu. jika terjadi seara cepat atau mendadak. pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. yaitu: 1. bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada. d. dipandang dari segi materinya menjadi empat. hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Conflict style ini memiliki kaitan dengan kepribadian. dan jenisnya. Misalnya. 2. . pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. yaitu cara orang bersikap ketika menghadapi pertentangan. ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman. Ada banyak kemungkinan menghadapi konflik yang dikenal dengan istilah manajemen konflik. sehingga konflik dapat terjadi antar individu. Maka orang yang berbeda akan menggunakan conflict style yang berbeda pada saat mengalami konflik dengan orang lain. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. akan membuat kegoncangan prosesproses sosial di masyarakat. ekonomi. Sebagai contoh. dalam waktu yang bersamaan. misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama.beda. dan budaya. Para buruh menginginkan upah yang memadai. Misalnya. Soetopo (1999) mengklasifikasikan jenis konflik. Perubahanperubahan ini. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok Manusia memiliki perasaan. Perbedaan latar belakang kebudayaan Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. BENTUK KONFLIK SOSIAL Sasse (1981) mengajukan istilah yang bersinonim maknanya dengan nama conflict style. bentuknya. pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. tetapi ada pula yang merasa terhibur. tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak. Konflik yang terjadi pada manusia ada berbagai macam ragamnya. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Ada yang merasa terganggu karena berisik. individu dengan kelompok. misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik. kelompok. Sedangkan Rubin (dalam Farida. Sedangkan bagi pecinta lingkungan. tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. sebab dalam menjalani hubungan sosial. perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Konflik peranan Konflik peranan timbul karena manusia memiliki lebih dari satu peranan dan tiap peranan tidak selalu memiliki kepentingan yang sama. tentu perasaan setiap warganya akan berbedabeda. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu.

Konflik berakhir dengan terputusnya interaksi antara pihak-pihak yang terlibat. 1996) membedakan konflik dalam dua tipe yang berbeda. pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya. D. (4) konflik intergroup. Konflik diekspresikan dalam bentuk agresi seperti ancaman atau paksaan dan terjadi pembesaran konflik baik pembesaran masalah yang menjadi isu konflik maupun peningkatan jumlah individu yang terlibat. Dalam konflik yang konstruktif. Dipandang dari akibat maupun cara penyelesaiannya. saling curiga dan sebagainya. misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role). (2) konflik interpersonal. Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan "kemenangan" konflik bagi pihak tersebut. dan (4) konflik antar satuan nasional (perang saudara).4 adalah contoh yang menunjukkan ragam dan bentuk konflik yang terjadi di masyarakat. 3. Tiada pengertian untuk kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk menghindari konflik. 2. Para pakar teori konflik mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat memghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi. Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk "memenangkan" konflik. (2) konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga. Konflik dipandang destruktif dan disfungsional bagi individu yang terlibat apabila: 1. (2) . antar gank). (3) perubahan kepribadian pada individu. Sebaliknya. PROSES KONFLIK Menurut Robbins (1996) proses konflik terdiri dari lima tahap. Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut: (1) meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (in-group) yang mengalami konflik dengan kelompok lain. (2) keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai. benci. yaitu: (1) oposisi atau ketidakcocokan potensial. 3. dan (5) dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik. konflik yang konstruktif terjadi dalam frekuensi yang wajar dan masih memungkinkan individu-individunya berinteraksi secara harmonis. dan (6) konflik interorganisasi. Konflik terjadi dalam frekuensi yang tinggi dan menyita sebagian besar kesempatan individu untuk berinteraksi. Menurut Dahrendorf (1986). Furman & McQuaid (dalam Farida. konflik dibedakan menjadi 4 macam: (1) konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi). Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut. kelangsungan hubungan antara pihak-pihak yang terlibat akan tetap terjaga. (4) konflik antara kelompok dalam organisasi. Berbeda dengan pendapat diatas Mulyasa (2003) membagi konflik berdasarkan tingkatannya menjadi enam yaitu: (1) konflik intrapersonal. yaitu konflik destruktif dan konstruktif. misalnya timbul nya rasa dendam. (2) konflik antar individu dalam organisasi yang sama. Sedangkan Handoko (1984) membagi konflik menjadi 5 jenis yaitu: (1) konflik dari dalam individu. (5) konflik intraorganisasi. 4. (3) konflik intragroup. Dalam konflik yang konstruktif isu akan tetap terfokus dan dirundingkan melalui proses pemecahan masalah yang saling menguntungkan. 1. Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk mencari jalan keluar yang terbaik. (4) kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia. (3) konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa). 2. Ini menandakan bahwa problem tidak diselesaikan secara kuat. (3) konflik antar individu dalam kelompok.Gambar 6. (5) konflik antar organisasi.

kecocokan anggotatujuan. Kondisi ini tidak perlu langsung mengarah ke konflik. pertanyaan atau tantangan terang-terangan terhadap pihak lain. Di sisi lain. derajat spesialisasi dalam tugas yang diberikan kepada anggota kelompok. bila pihak-pihak yang berkonflik masing-masing berhasrat untuk memenuhi sepenuhnya kepentingan dari semua pihak. pertanyaan atau tantangan terang-terangan terhadap pihak lain. bilamana salah satu dari pihak-pihak yang berkonflik mempunyai hasrat untuk menarik diri. Struktur dalam hal ini meliputi: ukuran. serta perbedaan individual bisa menjadi titik awal dari konflik. 1990). bagaimana konflik itu bisa dimanajemen sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan disintegrasi sosial. serangan fisik yang agresif. dan variabel pribadi. dapat ditegaskan bahwa pengelolaan konflik merupakan cara yang digunakan individu dalam mengontrol. (4) perilaku. dan (5) hasil. gaya kepemimpinan. Hasil bisa fungsional dalam arti konflik menghasilkan suatu perbaikan kinerja kelompok. dalam hal ini adalah konflik interpersonal. yaitu suatu hasrat untuk memuaskan kepentingan seseorang atau diri sendiri. dan pemecahan/penyelesaian suatu konflik sehingga menjadi sesuatu yang positif bagi perubahan dan pencapaian tujuan. dan reaksi yang dibuat an untuk menghancurkan pihak lain. suaranya. dan derajat ketergantungan antara kelompok-kelompok. serangan fisik yang agresif.oleh pihak-pihak yang berkonflik. yaitu: (1) bersaing. E. maka konflik harus dibangkitkan (Riggio. (3) maksud. (3) mengindar. maka konflik harus diselesaikan. Variabel pribadi juga bisa menjadi titik awal dari konflik. Karakter pribadi yang mencakup sistem nilai individual tiap orang dan karakteristik kepribadian. Berbeda lagi dengan yang dinyatakan oleh Soetopo (1999) bahwa strategi pengelolaan konflik menunjuk pada suatu aktivitas yang dimaksudkan untuk mengelola konflik mulai dari perencanaan. bila satu pihak berusaha untuk memuaskan seorang lawan. Oleh karena itu konflik hendaknya tidak serta merta harus ditiadakan. Pernahkah kita mengalami situasi ketika bertemu dengan orang langsung tidak menyukainya? Apakah itu kumisnya. yaitu pelibatan emosional dalam suatu konflik yang akan menciptakan kecemasan. tetapi salah satu kondisi itu perlu jika konflik itu harus muncul. Kondisi tersebut dikelompokkan dalam kategori: komunikasi. Kognisi dan personalisasi adalah persepsi dari salah satu pihak atau masing-masing pihak terhadap konflik yang sedang dihadapi. dan menyelesaikan konflik. atau disfungsional dalam arti merintangi kinerja kelompok. Bilamana hal ini terjadi dan berlanjut pada tingkan terasakan. serangan verbal yang tegas. (4) mengakomodasi. Kesadaran oleh satu pihak atau lebih akan eksistensi kondisi-kondisi yang menciptakan kesempatan untuk timbulnya konflik. selain itu masalah-masalah dalam proses komunikasi berperan dalam menghalangi kolaborasi dan merangsang kesalahpahaman.kognisi dan personalisasi. dan (5) berkomromi. ketegangan. kooperatif dan pencaharian hasil yang bermanfaat bagi semua pihak. pakaiannya dan sebagainya. Hasil bisa fungsional dalam arti konflik menghasilkan suatu perbaikan kinerja kelompok. Maksud dalam penanganan suatu konflik ada lima. frustasi dan pemusuhan. Hasil adalah jalinan aksi-reaksi antara pihak-pihak yang berkonflik dan menghasilkan konsekuensi. Persoalannya. tegas dan tidak kooperatif. Struktur juga bisa menjadi titik awal dari konflik. Maksud adalah keputusan untuk bertindak dalam suatu cara tertentu dari pihak-pihak yang berkonflik. ancaman dan ultimatun. Hasil adalah jalinan aksi-reaksi antara pihak-pihak yang berkonflik dan menghasilkan konsekuensi. . Jika konflik menjadi terlalu besar dan mengarah pada akibat yang buruk. evaluasi. dan selalu ada dalam kehidupan. mengabaikan dari atau menekan suatu konflik. (2) berkolaborasi. dan ketidaksepakatan atau salahpaham kecil. POLA PENYELESAIAN KONFLIK Konflik dapat berpengaruh positif atau negatif. jika konflik berada pada level yang terlalu rendah. serangan verbal yang tegas. tindakan. atau kesediaan dari salah satu pihak dalam suatu konflik untuk menaruh kepentingan lawannya diatas kepentingannya. Perilaku meliputi: upaya terang-terang an untuk menghancurkan pihak lain. Komunikasi yang buruk merupakan alasan utama dari konflik. dan ketidaksepakatan atau salahpaham kecil. mengarahkan. atau disfungsional dalam arti merintangi kinerja kelompok. Perilaku mencakup pernyataan. Oposisi atau ketidakcocokan potensial adalah adanya kondisi yang mencipta-kan kesempatan untuk munculnya koinflik. struktur. adalah suatu situasi di mana masing-masing pihak dalam suatu konflik bersedia untuk melepaskan atau mengurangi tuntutannya masing-masing. Pengelolaan konflik berarti mengusahakan agar konflik berada pada level yang optimal. walaupun tidak selalu konsisten. kejelasan jurisdiksi. Maksud dari pihak yang berkonflik ini akan tercermin atau terwujud dalam perilaku. ancaman dan ultimatun. tidak peduli dampaknya terhadap pihak lain dalam suatu episode konflik. Berdasarkan beberapa pendapat tentang pengelolaan konflik. sistem imbalan.

3. dan perwasitan (arbitration). Status sosial memegang peranan dalam menentukan aktivitas-aktivitasyang akan dilakukan. yang sedikitnya memenuhi empat hal: (1) harus mampu mengambil keputusan secara otonom. mediasi (mediation). bila kita melihat tidak adanya peluang bagi terpuaskannya kepentingan anda. Integrating interest . Sedangkan strategi yang dipandang paling efektif. untuk memecahkan dan memulihkan hubungan yang mengarah pada perdamaian. Lembaga yang dimaksud diharapkan berfungsi secara efektif. nilai maupun adat kebiasaan. dan untuk menunjukkan kewajaran. Orang sering menggunakan kekuasaan dan kewenangan agar konflik dapat diredam atau dipadamkan. yang akan berperan untuk memberikan keputusan-keputusan. Akan tetapi strategi ini bisa memaksa orang untuk memihak. dengan maksud bahwa pihak-pihak yang berkonflik bersepakat untuk menunjuk pihak ketiga yang akan memberikan nasihat-nasihat. Kedua. Artinya. yang pada gilirannya bisa menambah kadar konflik konflik sebuah ‘perang’.Hodge dan Anthony (1991). sebagai berikut. dimaksudkan bahwa pihak-pihak yang berkonflik bersepakat untuk menerima pihak ketiga. moving againts other (menyerang dan mendominasi). atau ada isu lebih penting yang mendesak. terwujud melalui lembaga-lembaga tertentu yang memungkinkan tumbuhnya pola diskusi dan pengambilan keputusan di antara pihak-pihak yang berkonflik. Peraturan diterapkan secara merata pada seluruh anggota. (3) lembaga harus mampu mengikat kepentingan bagi pihak-pihak yang berkonflik. antara lain: (1) tujuan sekutu besar. sebagai berikut: Pertama. Strategi yang dipandang lebih efektif dalam pengelolaan konflik meliputi: (1) koesistensi damai. Deffering to status power Individu dengan status yang lebih tinggi memiliki kekuasaan untuk membuat dan memaksakan solusi konflik yang ditawarkan. dan (5) gunakan kompromis bila tujuan penting. memberikan gambaran melalui berbagai metode resolusi (penyelesaian) konflik. Pengendalian konflik dengan cara konsiliasi. berkaitan dengan penyelesaian terbaik terhadap konflik yang mereka alami. memberikan peluang kepada masing-masing pihak untuk mengemukakan pendapat dan memberikan keyakinan akan kebenaran pendapatnya sehingga dapat diterima oleh kedua belah pihak. (3) dengan bujukan. masing-masing pihak bisa menunjuk pihak ketiga untuk menjadi perantara yang berperan secara jujur dan adil serta tidak memihak. Ketiga. (2) dengan penundaan. bila tindakan cepat dan tegas itu vital. 1. (2) dengan mediasi (perantaraan). dalam rangka menyelesaikan yang ada. namun bisa menimbulkan reaksi kemarahan atau reaksi negatif lainnya. dalam arti hanya lembaga itulah yang berfungsi demikian. dimana tindakan tidak populer perlu dilaksanakan. (5) dengan tawar-menawar distribusi. untuk lebih berkonsentrasi pada kepentingan yang luas. tetapi tidak layak mendapatkan upaya pendekatan-pendekatan yang lebih tegas disertai kemungkinan gangguan. Peraturan dibakukan untuk menggambarkan hukuman dan penghargaan yang diberikan berdasarkan perilaku yang dilakukan. mengidentifikasi pengendalian konflik melalui tiga cara. (3) gunakan penghindaran bila ada isyu sepele. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. dengan menetapkan peraturan yang mengacu pada perdamaian serta diterapkan secara ketat dan konsekuen. mungkin konflik bisa diselesaikan dengan cepat. (2) tawar-menawar integratif. orang akan kebal dengan bujukan sehingga perselisihan akan semakin tajam. Pengendalian konflik dengan cara perwasitan. Nasikun (1993). yaitu mulai yang cara yang paling tidak efektif. dan moving away from other (menarik diri dari orang lain dan masalah yang menimbulkan konflik) (Horney dalam Hall. yaitu dengan menggiring pihak-pihak yang berkonflik. yaitu dengan melibatkan pihak-pihak yang berkonflik ke arah tujuan yang lebih besar dan kompleks. tanpa campur tangan dari badan-badan lain. dan (4) lembaga tersebut harus bersifat demokratis. Berbeda dengan mediasi. misalnya kepentingan individu. 2. Menurutnya. yang pada saatnya akan meledak kembali dalam bentuk kekerasan. golongan atau suku bangsa tertentu. Individu berhubungan dengan yang lain dalam tiga cara. mengenai isu penting. cara perwasitan mengharuskan pihak-pihak yang berkonflik untuk menerima keputusan yang diambil oleh pihak wasit. Cara ini bisa berakibat penyelesaian konflik sampai berlarut-larut. akan muncul ke bawah permukaan. Strategi ini umumnya tidak disukai oleh kebanyakan orang. yaitu suatu bentuk persekutuan untuk mengendalikan konflik. yang efektif dan yang paling efektif. Belum ada kesepakatan dari para ahli mengenai klasifikasi yang dianggap paling valid. Pihak-pihak yang berkonflik hendaknya saling memahami konflik dengan bahasa kasihsayang. penyelesaian dengan cara demokratis. Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. (2) lembaga harus bersifat monopolistis. dengan metode penghalusan (smoothing). dan Goldberg (dalam Tinsley. (4) gunakan akomodasi bila diketahui kita keliru dan untuk memungkinkan pendirian yang lebih baik didengar. dan tidak hanya berkisar pada kepentingan sempit. untuk belajar. dengan metode penggunaan paksaan. yaitu dengan konsiliasi (conciliation). Misalnya denga cara membangun sebuah kesadaran nasional yang lebih mantap. strategi yang dipandang paling tidak efektif. 1996) penelitian-penelitian mengenai cara-cara penyelesaian konflik menggunakan klasifikasi yang berbeda. Brett. bukan berdasarkan orang yang terlibat. Pola penyelesaian konflik juga bisa dilakukan dengan menggunakan strategi seperti berikut: (1) gunakan persaingan dalam penyelesaian konflik. Strategi ini sering tidak menyelesaikan masalah karena masing-masing pihak saling melepaskan beberapa hal penting yang mejadi haknya. Ury. 1985). konflik yang terjadi di antara beberapa kekuatan sosial. (4) dengan koalisi. Macam-macam Pola Pengelolaan Konflik Menurut penelitian Vliert dan Euwema (dalam Farida. kelompok. integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik. (2) gunakan kolaborasi untuk menemukan pemecahan masalah integratif bila kedua perangkat kepentingan terlalu penting untuk dikompromikan. dan jika terjadi konflik mereka merasa menjadi korban konflik. 1. Jika penyelesaian konflik menemui jalan buntu. Cribbin (1985) mengelaborasi terhadap tiga hal. Sebaliknya. Applying regulations Model ini ditekankan oleh asumsi bahwa interaksi sosial diatur oleh hukum universal. Berpijak dari perbedaan budaya. misalnya ditempuh cara: (1) dengan paksaan. Pengendalian dengan cara mediasi. Dengan paksaan. moving toward others (mendapatkan dukungan). 1998) mengajukan tiga model pengelolaan konflik. Bisa berakibat psikologis. Tanpa keempat hal tersebut. yaitu mengendalikan konflik dengan cara tidak saling mengganggu dan saling merugikan.

Mereka mengorbankan tujuan pribadinya demi mempertahankan kelangsungan hubungan. Hendricks (2001) mengemukaan lima gaya pengelolaan konflik yang diorientasikan dalam organisasi maupun perusahaan. Bentuk kalah-kalah (menghindari konflik) Bentuk pertama ini menjelaskan cara mengatasi konflik dengan menghindari konflik dan mengabaikan masalah yang timbul. solusi pertengahan antara dua posisi yang ekstrim. untuk menemukan penyelesaian yang dapat mempertemukan minat mereka masing-masing. Withdrawing (Menarik Diri). Compromising (kompromi) Perhatian pada diri sendiri maupun orang lain berada dalam tingkat sedang. Bentuk kalah-menang (mengakomodasi) Agak berbeda dengan bentuk kedua. Forcing (Memaksa). Disini masing-masing pihak saling berbagi minat. Tujuannya adalah mengatasi konflik dengan menciptakan penyelesaian melalui konsensus atau kesepakatan bersama yang mengikat semua pihak yang bertikai. kadang mengorbankan sesuatu yang penting untuk dirinya sendiri. Gaya ini meremehkan kepentingan orang lain. Mereka ingin diterima dan dicintai. Lima gaya yang dimaksud adalah: 1. Gaya penyelesaian konflik seperti ini sangat tidak mengenakkan bagi pihak yang merasa terpaksa harus berada dalam posisi kalah. Baik tujuan pribadi maupun hubungan dengan orang lain dikorbankan. 5. 2002). menghancurkan. maka orang lain akan kecewa dan ini menyebabkan rusaknya hubungan. Integrating (menyatukan. serta apakah orang lain itu menerima solusi mereka atau tidak. Gaya ini juga merupakan upaya untuk mengurangi tingkat ketegangan akibat dari konflik tersebut atau menciptakan perdamaian yang diinginkan. biasanya sejak masa kanak-kanak sehingga berfungsi secara otomatis dalam level bawah sadar (preconscious). maka ada empat bentuk pengelolaan konflik. 2. Kewajiban bisa saja diabaikan demi kepentingan pribadi. 4. Smoothing (Melunak). maka seseorangpun dapat mengubah strateginya dengan mempelajari cara baru dan lebih efektif dalam menangani konflik. dan mengintimidasi orang lain.Model ini menekankan pada perhatian pihak yang terlibat. termasuk di dalamnya menghindar dari tanggung jawab atau mengelak dari suatu isu. Mereka berusaha berkompromi. Gaya ini digunakan untuk menghindari kesulitan atau masalah yang lebih besar. Secara sederhana proses ini dapat dijelaskan bahwa masing masing pihak memahami dengan sepenuhnya keinginan atau tuntutan pihak lainnya dan berusaha dengan penuh komitmen untuk mencari titik temu kedua kepentingan tersebut (Prijosaksono dan Sembel. Mereka tidak peduli akan kebutuhan dan minat orang lain. Mereka mencari solusi konflik agar kedua belah pihak sama-sama mendapatkan keuntungan. Cara ini mendorong berpikir kreatif serta mengembangkan alternatif pemecahan masalah. Ini adalah gaya menghindar dari persoalan. Tujuan pribadinya dianggap sangat penting. 2. Individu dengan tipe ini menaruh perhatian sangat tinggi terhadap tujuan pribadi maupun kelangsungan hubungan dengan orang lain. bentuk ketiga yaitu individu kalah-pihak lain menang ini berarti individu berada dalam posisi mengalah atau mengakomodasi kepentingan pihak lain. Biasanya kekuasaan atau pengaruh digunakan untuk memastikan bahwa dalam konflik tersebut individu tersebut yang keluar sebagai pemenangnya. Strategi ini digunakan individu yang menaruh perhatian baik terhadap pribadinya sendiri maupun hubungan dengan orang lain. Mereka mencapai kemenangan dengan jalan menyerang. 5. menggabungkan) Individu yang memilih gaya ini melakukan tukar-menukar informasi. Mereka menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya. 3. Individu berusaha memaksa lawannya menerima solusi konflik yang ditawarkannya. Atau bisa berarti bahwa kedua belah pihak tidak sepakat untuk menyelesaikan konflik atau menemukan kesepakatan untuk mengatasi konflik tersebut. Individu yang menggunakan strategi ini berpendapat bahwa mempertahankan hubungan dengan orang lain jauh lebih penting dibandingkan dengan pencapaian tujuan pribadi. yaitu: 1. Lebih lanjut Johnson & Johnson (1991) mengajukan beberapa gaya atau strategi dasar pengelolaan konflik. 4. Berbeda dengan pendapat diatas. Mereka merasa bahwa konflik harus dihindari demi keharmonisan dan bahwa orang tidak akan dapat membicarakan konflik tanpa mengakibatkan rusaknya hubungan. Mereka menjauh dari isu yang dapat menimbulkan konflik serta dari orangorang yang terlibat konflik dengannya. 3. Mereka memandang konflik sebagai masalah yang harus dipecahkan dan solusi . 2. Dominating (menguasai) Tekanan gaya ini adalah pada diri sendiri. Pola penyelesaian konflik bila dipandang dari sudut menang-kalah pada masing-masing pihak. Mereka takut jika konflik berlanjut. Avoiding (menghindar) Individu yang menggunakan gaya ini tidak menempatkan suatu nilai pada diri sendiri atau orang lain. yaitu: 1. Confronting (Konfrontasi). Perhatian tinggi pada orang lain menyebabkan seorang individu merasa puas dan merasa keinginannya terpenuhi oleh pihak lain. Kekuasaan diberikan pada orang lain. Obliging (saling membantu) Disebut juga dengan kerelaan membantu. Cara ini menempatkan nilai yang tinggi untuk orang lain sementara dirinya sendiri dinilai rendah. mengorbankan tujuannya sendiri dan mempengaruhi pihak lain untuk mengorbankan sebagian tujuannya juga. 4. Disini ada keinginan untuk mengamati perbedaan dan mencari solusi yang dapat diterima semua kelompok. Berbeda dengan yang dikemukakan Johnson & Johnson (1991) bahwa strategi pengelolaan konflik ada karena dipelajari. Biasanya berorientasi pada kekuasaan dan penyelesaiannya cenderung dengan menggunakan kekuasaan. 3. Individu yang menggunakan strategi ini percaya bahwa lebih mudah menarik diri (secara fisik dan psikologis) dari konflik daripada menghadapinya. untuk membuat hasilnya lebih bermanfaat bagi mereka daripada tidak mendapatkan kesepakatan satupun. Mereka menganggap konflik dapat diselesaikan dengan satu pihak yang menang dan pihak yang lain kalah. Mereka cenderung menarik diri untuk menghindari konflik. Tapi karena dipelajari. prioritas. Compromising (Kompromi). Bentuk menang-menang (kolaborasi) Bentuk keempat ini disebut dengan gaya pengelolaan konflik kolaborasi atau bekerja sama. Bentuk menang-kalah (persaingan) Bentuk kedua ini memastikan bahwa satu pihak memenangkan konflik dan pihak lain kalah.

riwayat hubungan. jika diperhatikan tidak benar-benar berbeda. Faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap pengelolaan konflik. Robbins (1996) mengungkapkan ada beberapa teknik yang bisa dijadikan acuan dalam pemecahan konflik dan perangsangan konflik. konflik kecil lebih mudah diselesaikan secara konstruktif daripada konflik besar. Perluasan ini dapat terjadi bila konflik antara dua individu yang berbeda dianggap sebagai konflik rasial. Dengan solusi yang memuaskan kedua belah pihak. 1. Isu Konflik Tipe isu tertentu kurang mendukung resolusi konflik yang konstruktif dibandingkan dengan isu yang lain. sebagai berikut: (1) tercapainya persetujuan yang dapat memuaskan kebutuhan serta tujuannya. Sebaliknya subyek dengan skor intelektual yang tinggi lebih cenderung untuk menggunakan gaya-gaya pengelolaan konflik yang membuat konflik melunak. adalah termasuk tipetipe isu yang cenderung diselesaikan dengan hasil menang-kalah. status. Kepribadian Individu Yang Terlibat Konflik Stenberg dan Soriano (dalam Farida. dan kekalahan. Akan tetapi pada konflik yang destruktif. Mereka menemukan bahwa subyek dengan skor intelektual yang rendah cenderung menggunakan aksi fisik dalam mengatasi konflik. Dalam situasi sosial.terhadap konflik haruslah mencapai tujuan pribadinya sendiri maupun tujuan orang lain. seperti dirangkum sebagai berikut. pemilikan akan sesuatu yang tidak tersedia substitusinya. lingkungan sosial dan pihak ketiga. 1996) karakteristik kepribadian yang terutama berpengaruh terhadap gaya pengelolaan konflik adalah kecenderungan agresifitas. (2) seberapa penting hubungan atau interaksi itu untuk dipertahankan. 3. Isu yang berhubungan dengan kekuasaan. seperti berikut. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Penyelesaian Konflik Johnson & Johnson (1991) menyatakan beberapa hal yang harus diperhatikan bilamana seseorang terlibat dalam suatu konflik. Tiap orang memiliki tujuan pribadi yang ingin dicapai. konflik yang sebenarnya kecil cenderung untuk membesar dan meluas. Dari karakteristik kepribadian dapat diprediksi bahwa subyek dengan skor tinggi pada need for deference (kebutuhan untuk mengikuti dan mendukung seseorang). 4. kemampuan untuk berempati. dan akibatnya menentukan bagaimana seseorang menyelesaikan konflik. orientasi kooperatif dan kompetitif. Situasional Aspek situasi yang penting antara lain adalah perbedaan struktur kekuasaan. Riwayat hubungan menunjuk pada pengalaman sebelumnya dengan pihak lain. 2. individu harus hidup bersama dengan orang lain dalam periode tertentu. 2. Perbedaan yang ada hanya pada istilah yang dipakai namun memiliki pengertian yang hampir sama. Menurut Broadman dan Horowitz (dalam Farida. mereka mencoba mempertahankan kelangsungan hubungan dapat memuaskan baik mereka sendiri maupun orang lain. Konflik bisa terjadi karena tujuan dan kepentingan individu menghalangi tujuan dan kepentingan individu lain. 1996) berpendapat bahwa gaya pengelolaan konflik seorang individu dapat diprediksi dari karakteristik-karakteristik intelektual dan kepribadiannya. . kecenderungan untuk mengontrol dan menguasai. Oleh karena itu diperlukan interaksi yang efektif selama beberapa waktu. Tipe yang lain yang tidak berhubungan dengan hal-hal di atas dapat dipandang sebagai suatu permainan yang memungkinkan setiap pihak yang terlibat untuk menang. need for abasement (kebutuhan untuk menyerah atau tunduk) dan need for order (kebutuhan untuk membuat teratur) cenderung untuk memilih gayagaya pengelolaan konflik yang membuat konflik melunak. yang di dalamnya terdapat keterikatan interaksi. Selain itu bisa juga jika konflik tentang masalah biasa dipandang sebagai konflik yang bersifat substantif atau dipandang menyangkut harga diri dan kekuasaan. Interaksi Digunakannya pendekatan disposisional saja dalam mencari pemahaman akan perilaku sosial dianggap mempunyai manfaat yang terbatas. Termasuk dalam aspek lingkungan sosial adalah norma-norma sosial dalam menghadapi konflik dan iklim sosial yang mendukung melunaknya konflik atau justru mempertajam konflik. Apabila satu pihak memiliki kekuasaan lebih besar terhadap situasi konflik. Tipe isu seperti ini mengarahkan partisipan konflik untuk memandang konflik sebagai permainan kalah-menang. Sebaliknya subyek dengan skor tinggi pada need for autonomy (kebutuhan untuk bebas dan lepas dari tekanan) dan need for change (kebutuhan untuk membuat perubahan) memiliki kecenderungan untuk memilih paling tidak satu gaya pengelolaan konflik yang membuat konflik semakin intensif. Klasifikasi-klasifikasi yang diajukan beberapa ahli di atas. kemenangan. dan kemampuan untuk menemukan pola penyelesaian konflik. Konflik dipandang dapat meningkatkan hubungan dengan menurunkan ketegangan antara dua pihak yang terlibat. Sebaliknya. sikap dan keyakinan terhadap pihak lain tersebut. maka besar kemungkinan konflik akan diselesaikan dengan cara dominasi oleh pihak yang lebih kuat posisinya. Pendekatan yang lebih dominan dalam menerangkan perilaku sosial adalah interaksi dan saling mempengaruhinya determinan situasional dan disposisional. Sedangkan campur tangan pihak ketiga yang memiliki hubungan buruk dengan salah satu pihak yang berselisih dapat menyebabkan membesarnya konflik. Pada umumnya. hubungan baik pihak ketiga dengan pihak-pihak yang berselisih dapat melunakkan konflik karena pihak ketiga dapat berperan sebagai mediator.

.

.

yang pada umumnya berkembang dari pertentangan non-fisik menjadi benturan fisik. karena itu tidak ada masyarakat yang steril dari realitas konflik. integrasi dan perpecahan adalah proses fundamental yang walau dalam porsi dan campuran yang berbeda. (4) setiap masyarakat dicirikan oleh adanya penguasaan sejumlah kecil orang terhadap sejumlah besar lainnya. Konflik pada dasarnya merupakan bagian dari kehidupan sosial. konflik terdapat di mana-mana. pertentangan itu juga dilakukan di atas dasar kesadaran pada masing-masing pihak bahwa mereka saling berbeda atau berlawanan. Empat postulat yang menunjukkan keniscayaan itu. adalah: (1) setiap masyarakat tunduk pada proses perubahan. tetapi pada kelompok manusia tertentu ternyata tidak menjadi sumber konflik. yaitu konflik dan kerjasama. RINGKASAN Manusia sebagai makhluk sosial selalu berinteraksi dengan sesama manusia. (3) setiap unsur dalam masyarakat memeberikan kontribusi terhadap desintegrasi dan perubahan. faham dan kepentingan di antara dua pihak atau lebih. Pertentangan dikatakan sebagai konflik manakala pertentangan itu bersifat langsung. selalu diwarnai dua hal. Konflik dan konsensus. Begitu sumber konflik yang terjadi antar manusia. yang bisa berkadar tinggi dalam bentuk kekerasan (violent). demikian halnya sebaliknya. Dengan demikian konflik merupakan bagian dari kehidupan manusia. Pertentangan ini bisa berbentuk pertentangan fisik dan non-fisik. maka dapat dikatakan konflik sosial merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditawar. Ketika berinteraksi dengan sesama manusia.F. perubahan sosial terdapat di manamana. merupakan bagian dari setiap sistem sosial yang dapat dimengerti. Bilamana terjadi konflik diantara temanmu atau dengan gurumu. Selain itu. (2) setiap masyarakat memperlihatkan konflik dan pertentangan. pendapat. bagaimana cara penyelesaiannya?Apakah cara penyelesaian tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan di atas?Konflik yang terjadi pada manusia bersumber pada berbagaimacam sebab. Kadang sesuatu yang sifatnya sederhana . Konflik biasanya diberi pengertian sebagai satu bentuk perbedaan atau pertentangan ide. Karena konflik merupakan bagian kehidupan sosial. sehingga sulit itu untuk dideskripsikan secara jelas dan terperinci sumber dari konflik. Hal ini dikarenakan sesuatu yang seharusnya bisa menjadi sumber konflik. yakni ditandai interaksi timbal balik di antara pihakpihak yang bertentangan. bisa juga berkadar rendah yang tidak menggunakan kekerasan (non-violent).

. dan lain sebagainya. kelompok. pengetahuan. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. masing-masing pihak bisa menunjuk pihak ketiga untuk menjadi perantara yang berperan secara jujur dan adil serta tidak memihak. konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. adat istiadat. benci. antar individu. (3) perubahan kepribadian pada individu. baik terjadi dalam diri seseorang individu. dan tidak hanya berkisar pada kepentingan sempit.bisa menjadi sumber konflik bagi kelompok manusia. yaitu mengendalikan konflik dengan cara tidak saling mengganggu dan saling merugikan. persaingan. Jika penyelesaian konflik menemui jalan buntu. kelompok. misalnya timbulnya rasa dendam. nilai. Dengan dibawa sertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial. Misalnya dengan cara membangun sebuah kesadaran nasional yang lebih mantap. organisasi maupun antar negara. antara lain: (1) tujuan sekutu besar. keyakinan. Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut: (1) meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (in-group) yang mengalami konflik dengan kelompok lain. dengan menetapkan peraturan yang mengacu pada perdamaian serta diterapkan secara ketat dan konsekuen. Dari dalam diri individu misalnya adanya perbedaan tujuan. mengarahkan. golongan atau suku bangsa tertentu. (2) dengan mediasi (perantaraan). untuk lebih berkonsentrasi pada kepentingan yang luas. kebutuhan serta perasaan yang terlalu sensitif. Dari luar diri individu misalnya adanya tekanan dari lingkungan. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik. Sedangkan strategi yang dipandang paling efektif. (2) tawarmenawar integratif. yaitu dengan melibatkan pihak-pihak yang berkonflik ke arah tujuan yang lebih besar dan kompleks. misalnya kepentingan individu. yaitu dengan menggiring pihak-pihak yang berkonflik. dan (5) dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik. dan menyelesaikan konflik. serta langkanya sumber daya yang ada. sumber konflik sebagaimana dikemukakan oleh beberapa ahli. (2) keretakan hubungan antar kelompokyang bertikai. Konflik timbul dalam berbagai situasi sosial. saling curiga dan lain-lain. kepandaian. dapat ditegaskan bahwa sumber konflik dapat berasal dari dalam dan luar diri individu. Pengelolaan konflik merupakan cara yang digunakan individu dalam mengontrol. (4) kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia. dalam hal ini adalah konflik interpersonal. konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya. Strategi yang dipandang lebih efektif dalam pengelolaan konflik meliputi: (1) koesistensi damai.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful