PERJANJIAN KERJA SEBAGAI BENTUK PERSYARATAN KERJA BERSAMA

Oleh WAHYUDI B10009102

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS JAMBI

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ««««««««««««««««««««««««««««««..iii

BAB I

: PENDAHULUAN««««««««««««««««««««««

A. Latar belakang «««««««««««««««««««««««««««. B. Rumusan masalah «««««««««««««««««««««««««« C. Tujuan ««««««««««««««««««««««««««««««.. D. Manfaat «««««««««««««««««««««««««««««« E. Metode penelitian ««««««««««««««««««««««««««.

BAB II

: PEMBAHASAN ««««««««««««««««««««««...

A. Perjanjian kerja dan dasar hukumnya««««««««««««««««««. B. Bentuk perjanjian kerja sebagai persyaratan kerja«««««««««««««.. BAB III : PENUTUP««««««««««««««««««««««««««

A. Kesimpulan ««««««««««««««««««««««««««««« B. Saran «««««««««««««««««««««««««««««««. DAFTAR PUSTAKA

pemeliharaan. dan gotongroyong sebagaimana terkandung dalam jiwa dan semangat Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.BAB I PENDAHULUAN A. diarahkan pada peningkatan harkat. dengan berasaskan usaha bersama. Sisi lain. martabat dan kemampuan manusia. dan peningkatan kesejahteraan dimaksud diselenggarakan dalam bentuk program jaminan sosial tenaga kerja yang bersifat dasar. seahli apapun tenaga kerja tanpa adanya perusahaan hanya akan melahirkan produk pengangguran. sedangkan tenaga kerja hanya bermodalkan keahlian. pengusaha sebagai pemilik perusahaan berada pada posisi yang kuat sebab didukung modal yang besar. serta kepercayaan pada diri sendiri dalam rangka mewujudkan masyarakat sejahtera. Tenaga kerja dan perusahaan merupakan dua faktor yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu. Latar belakang Pembangunan sektor ketenagakerjaan sebagai bagian dari upaya pembangunan sumberdaya manusia merupakan salah satu bagian yang tak terpisahkan dengan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila. Begitu pula sebaliknya. intelektual. Bentuk perlindungan. menjadikan tenaga kerja berada pada posisi yang . dan makmur baik materiil maupun spiritual. adil. pemeliharaan dan peningkatan kesejahteraan. sehingga pada gilirannya akan dapat meningkatkan produktivitas nasional. Peran serta tenaga kerja dalam pembangunan nasional semakin meningkat dengan disertai berbagai tantangan dan risiko yang dihadapinya. Dengan terjadinya sinergi kedua factor itu baru perusahaan akan berjalan dengan baik. kekeluargaan. dan pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945. kepada tenaga kerja perlu diberikan perlindungan.

Hubungan kerja saat ini juga dikenal dengan hubungan industrial dikenal dengan Perjanjian Kerja Perorangan baik untuk pekerjaan tertentu maupun waktu tertentu dan Perjanjian Kerja untuk waktu tidak tertentu serta Perjanjian Kerja kolektif yang dibuat antara perwakilan pekerja Serikat Pekerja/Serikat Buruh (SP/SB) dengan pengusaha atau gabungan pengusaha. Hal ini sering digunakan oleh pengusaha yang nakal berbuat semena-mena terhadap karyawannya dalam mendapatkan hak-haknya seperti hak upah yang layak. Jaminan kecelakaan kerja. dan hak cuti serta hak mendapatkan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) berupa : 1. Untuk pengaturan syaratsyarat kerja tersebut agar dapat dipedomani sehari-hari dalam hubungan kerja. Hubungan buruh yang dalam penulisan ini disebut ³tenaga kerja´ dengan perusahaan sebagai majikan tunduk dibawah aturan ketenagakerjaan apabila diantara mereka telah ada hubungan kerja.lemah. hak dan kewajiban masing-masing pihak. 2. Hubungan kerja antara tenaga kerja dan majikan terjadi apabila diantara mereka telah ada perjanjian kerja. hak istirahat. maka perlu diatur melalui Perjanjian . Hubungan kerja sebagai bentuk hubungan hukum lahir atau tercipta setelah adanya perjanjian kerja antara pekerja dengan pengusaha. hak mendapatkan pesangon. Perjanjian kerja yang dalam bahasa Belanda disebut "Arbeidsoverenkoms". Jaminan pemeliharaan kesehatan. khususnya dalam peningkatan kesejahteraan pekerja dan keluarganya. Jaminan hari tua dan 4. Perjanjian kerja pada masa sekarang ini masih sangat diperlukan sebagai pendamping dari peraturan perundang-undangan yang berlaku karena secara umum peraturan perundangundangan ketenagakerjaan kita belum mengatur secara terperinci tentang syaratsyarat kerja. 3. mempunyai beberapa pengertian. Jaminan kematian.

13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Asas kebebasan berkontrak ini juga mendorong para pihak untuk saling mengadakan perjanjian yang bebas bentuknya. Peraturan Perusahaan dan Perjanjian Kerja Bersama. mengikatkan dirinya untuk di bawah perintah pihak yang lain. maksudnya setiap orang bebas untuk mengadakan atau tidak mengadakan perjanjian serta bebas untuk menentukan bentuk dan isi dari perjanjian tersebut menurut yang dikehendaki dalam batas-batas tidak bertentangan dengan undang-undang. maupun karena undang-undang´. majikan untuk suatu waktu tertentu melakukan pekerjaan dengan menerima upah". kesusilaan dan ketertiban umum. Pasal 1 angka 14 Undang-Undang No.Kerja. 13 Tahun 2003 menyebutkan bahwa : Perjanjian Kerja dibuat atas . Pasal 1233 KUH Perdata menentukan bahwa ³Tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena perjanjian. Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata menentukan "semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya". Ketentuan Pasal 1338 ayat (1) jo Pasal 1320 mengandung asas kebebasan berkontrak. hak dan kewajiban para pihak. Untuk sahnya suatu perjanjian kerja Pasal 52 ayat (1) Undang-Undang No. Dari ketentuan tersebut diketahui bahwa perikatan yang lahir dari perjanjian memang dikehendaki para pihak sedangkan perikatan yang timbul karena undang-undang menurut Pasal 1352 KUH Perdata diperinci menjadi 2 (dua). Pasal 1601 a KUH Perdata memberikan pengertian perjanjian kerja adalah ³suatu perjanjian di mana pihak kesatu (si buruh). perjanjian kerja adalah perjanjian antara pekerja/buruh dengan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja. termasuk dalam perjanjian kerja. Perjanjian kerja sebagai suatu bentuk perikatan antara tenaga kerja dan majikan juga tunduk pada ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata). Perjanjian kerja merupakan titik tolak lahirnya hubungan kerja antara seorang tenaga kerja dengan pengusaha/majikan. yaitu perikatan yang timbul sematamata karena undang-undang dan perikatan yang timbul dari undang-undang akibat dari perbuatan orang.

dasar (1) Kesepakatan kedua belah pihak. Ridwan Halim mengemukakan bahwa : Perjanjian Kerja adalah suatu perjanjian yang diadakan antara majikan tertentu dan karyawan atau karyawan tertentu yang umumnya berkenaan dengan segala persyaratan yang secara timbal balik harus dipenuhi oleh kedua belah pihak selaras dengan hak dan kewajiban mereka masing-masing. Mengetahui apa itu perjanjian kerja dan dasar hukumnya 2. Rumusan masalah Dari latar belakang di atas dapat ditarik beberapa rumusan masalah yaitu: 1. Berkaitan dengan Perjanjian Kerja ini Subekti menegaskan : Perjanjian Kerja adalah perjanjian antara seseorang buruh dengan seorang majikan. dan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Mengetahui perjanjian kerja sebagai bentuk persyartan kerja . (3) Adanya pekerjaan yang diperjanjikan dan (4) Pekerjaan yang diperjanjikan tidak boleh bertentangan dengan ketertiban umum. terhadap satu sama lainnya". Tujuan 1. (2) Kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum. Wiwoho Soedjono mengemukakan bahwa "Pengertian Perjanjian Kerja merupakan hubungan antara seseorang yang bertindak sebagai pekerja atau buruh dengan seseorang yang bertindak sebagai majikan". perjanjian dimana ditandai oleh ciri-ciri adanya suatu upah atau gaji tertentu yang diperjanjikan dan adanya suatu hubungan diperbatas (direst verhadning) yaitu suatu hubungan yang berdasarkan mana pihak yang satu (majikan) berhak memberikan perintah yang harus ditaati pihak yang lain. Pakar hukum perburuhan lain memberikan pengertian dengan penekanan pada posisi keduabelah pihak. kesusilaan. Apa yang dimaksud dengan perjanjian kerja bersama dan apa dasar hukumnya? 2.4 Berkenaan dengan hal ini. Mengapa perjanjian kerja bersama sebagai bentuk persyaratan kerja? C. B.

Oleh sebab itu. Metode penelitian dibedakan menjadi dua bagian. yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka. karena penelitian bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis metodologis. hasil karya dari kalangan hukum dan seterusnya. Agar pembaca mengetahui apa yang dimaksud dengan perjanjian kerja dan dasar hukumnya 2. hasil-hasil penelitian. yakni metode penelitian lapangan atau empiris dan metode penelitian normatif atau kepustakaan. Manfaat 1. dan konsisten melalui analisa konstruksi terhadap data yang telah dikumpulkan atau kemudian diolah. 2. yang dalam menguraikan permasalahannya dilakukan secara deskriptif analisis terhadap data sekunder. seperti buku-buku dan literatur terkait.D. yurisprudensi dan traktat. Bahan hukum sekunder. Metode penelitian Penelitian merupakan suatu sarana pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam penulisan ini bahan hukum sekunder penulis dapatkan . Agar pembaca mengetahui kaitan perjanjian kerja sebagai bentuk persyaratan kerja E. Data sekunder tersebut dari sudut kekuatan mengikatnya terdiri dari: 1. Bahan hukum primer yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat seperti peraturan perundang-undangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini lebih difokuskan pada metode penelitian normatif atau kepustakaan. agar penelitian yang dilakukan dapat terlaksana dengan baik maka diperlukan adanya suatu metode yang dipakai guna memudahkan penelitian agar dapat memperoleh data-data yang dibutuhkan.

yaitu bahan hukum yang mem berikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder seperti kamus. ensiklopedia. hasil seminar dan hasil lokakarya. 3. . surat kabar dan internet. artikel-artikel yang relevan yang bersumber dari majalah. Bahan hukum tersier.dari makalah-makalah.

Perjanjian kerja barsama dan dasar hukumnya Istilah Perjanjian Kerja Bersama (PKB) timbul setelah diundangkannya Undang-undang No. Adapun Kesepakatan Kerja Bersama. yaitu : . c.menawar. Dibuat melalui perundingan yang bersifat tawar-menawar (bargaining) masing-masing pihak akan berusaha memperkuat kekuatan tawar. bahkan dengan menggunakan senjata mogok dan penutupan perusahaan. Istilah Perjanjian Kerja Bersama (PKB) digunakan untuk menggantikan istilah sebelumnya yaitu Kesepakatan Kerja Bersama (KKB). Bebas untuk melakukan perundingan dan juga membuat perjanjian tanpa adanya campur tangan dari pihak lain. d.21 Tahun 2000. dikarenakan pembuat undangundang berpendapat bahwa pengertian dari Perjanjian Kerja Bersama (PKB) sama dengan Kesepakatan Kerja Bersama (KKB) Tetapi Sentanoe Kertonegoro berpendapat lain mengenai persamaan pengertian Perjanjian Kerja Bersama (PKB) dengan Kesepakatan Kerja Bersama (KKB). Merupakan dasar dari individualisme dan liberalisme yang berpandangan bahwa diantara pekerja/buruh dengan pengusaha adalah dua pihak yang memiliki kepentingan berbeda dalam perusahaan. beliau mengatakan bahwa : Perjanjian Kerja Bersama (PKB) ialah : a.BAB II PEMBAHASAN A. b. Hasilnya adalah perjanjian yang merupakan keseimbangan dari kekuatan tawar-menawar.

c. Hasilnya adalah suatu kesepakatan yang merupakan titik optimal yang bisa dicapai menurut kondisi yang ada. b. karena terdapat inkonsistensi aturan hukum atau terdapat konflik norma di dalam norma pembentukan PKB. tetapi juga harus memperhatikan juga kepentingan bangsa dan negara. bangsa. Sebagai contoh pemerintah telah menetapkan upah minimun provinsi/kota. Sangat diharapkan akan terbentuk PKB yang berkualitas dengan mengkomodasikan tiga kepentingan yaitu buruh.a. Pasal 103 Undang-Undang No. Perjanjian kerja bersama adalah hak pengusaha atau organisasi pengusaha disatu pihak dan dipihak lain serikat pekerja atau . yaitu masyarakat. kejujuran. pengusaha dan negara. Mereka bebas melakukan perundingan dan memuat perjanjian asal saja. mempromosikan dan mewujudkan dengan itikad yang baik. tampak ada peluang yang dapat digunakan oleh majikan dalam memanfaatkan suatu keadaan dari pengertian KKB untuk menekan buruh dalam memperjuangkan haknya. Perjanjian kerja bersama adalah hak yang mendasar yang telah disyahkan oleh anggota-anggota ILO dimana mereka mempunyai kewajiban untuk menghormati. dan pemahaman terhadap kepentingan semua pihak. dan negara. 13 Tahun 2003 menyebut Perjanjian Kerja Bersama (PKB) merupakan salah satu sarana dilaksanakannya hubungan industrial. d. tidak melalui kekuatan tawar-menawar. Kehadiran serikat pekerja dalam rangka meningkatkan kerja sama dan tanggung jawab. Apabila dicermati pendapat Sentanoe mengenai perbedaan antara PKB dengan KKB. Pada pengertian KKB. lebih ditekankan bahwa semua pihak tidak hanya mengutamakan kepentingannya. tetapi memperhatikan kepentingan yang lebih luas. dengan memperhatikan kepentingan semua pihak. Dibuat melalui musyawarah untuk mufakat. Dasar adalah hubungan industrial Pancasila berpandangan bahwa antara pekerja dan pengusaha terdapat hubungan yang bersifat kekeluargaan dan gotong-royong. Sayangnya sulit terwujud. tetapi yang diperlukan sifat yang keterbukaan.

Banyak para ahli yang mengemukakan pendapat mengenai pengertian Perjanjian Kerja Bersama. hal-hal yg bersifat normatif (mengenai peraturan perundang-undangan). Hak ini ditetapkan untuk mencapai ³kondisi-kondisi pekerja yang manusiawi dan penghargaan akan martabat manusia (humane conditions of labour and respect for human dignity)³. dan kaedah yg bersifat diagonal (ketentuan yang berasal dari pihak yg tidak langsung terlibat dalam hubungan kerja). atau beberapa pengusaha atau perkumpulan pengusaha yang memuat syarat syarat kerja. disebutkan bahwa Perjanjian Kerja adalah perjanjian antara seorang buruh dengan seorang majikan. hak dan kewajiban kedua belah pihak. dalam suatu perjanjian kerja bersama dimungkinkan untuk memuat kaedah yang bersifat horizontal (pengaturan dari pihak-pihaknya sendiri). Bertolak dari pengertian tersebut. seperti yang tercantum dalam Konstitusi ILO. Untuk menjaga agar . kaedah yang bersifat vertikal (pengaturan yg berasal dari pihak yg lebih tinggi tingkatannya). 13 Tahun 2003 jo Kepmenakertrans No.SH beliau mengatakan dalam bukunya Aneka Perjanjian. tersirat bahwa di dalam perjanjian kerja bersama terkandung hal-hal yang sifatnya obligator (memuat hak-hak dan kewajiban-kewajiban pihak-pihak yg mengadakan perjanjian). adalah perjanjian yang merupakan hasil perundingan antara serikat pekerja/serikat buruh atau beberapa serikat pekerja/serikat buruh yang tercatat pada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan dengan pengusaha. Pengertian Perjanjian Kerja Bersama (PKB) berdasarkan Pasal 1 angka 21 UU No.organisasi yang mewakili pekerja. perjanjian mana ditandai oleh ciri ciri adanya suatu upah atau gaji tertentu yang diperjanjikan dan adanya suatu hubungan di peratas yaitu suatu hubungan berdasarkan mana pihak yang satu (majikan) berhak memberikan perintah ± perintah yang harus ditaati oleh pihak yang lain.Subekti. KEP. diantaranya pendapat dari Prof. Dengan demikian.48/MEN/2004 tentang Tata cara pembuatan dan pengesahan peraturan perusahaan serta pembuatan dan pendaftaran Perjanjian Kerja Bersama.

Perjanjian Kerja Bersama merupakan hasil perundingan para pihak terkait yaitu serikat pekerja/serikat buruh atau beberapa serikat pekerja/serikat buruh dengan pengusaha atau beberapa pengusaha yang mengatur syarat-syarat kerja. dan pekerja/buruh itu sendiri. terlepas dari apakah pekerja/buruh tersebut menerima atau menolak isi perjanjian kerja bersama atau apakah pekerja/buruh tersebut menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh yang berunding atau tidak. Perjanjian kerja tersebut umumnya memuat kesepakatan antara pekerja dengan perusahaan. atau beberapa pengusaha. 2. tetapi juga mengikat pihak ketiga yang tidak ikut di dalam perundingan yaitu pekerja/buruh. Ada orang diperintah orang lain. Penggunaan istilah bersama dalam perjanjian kerja bersama ini menunjuk pada kekuatan berlakunya perjanjian yaitu mengikat pengusaha.isi perjanjian kerja bersama sesuai dengan harapan pekerja maka isi perjanjian kerja bersama haruslah memuat hal-hal yang lebih dari sekedar aturan yang berlaku (normatif). salah satu perjanjian yang mungkin ada adalah perjanjian kerja. Penunaian kerja. serikat pekerja/serikat buruh.Hum menyebutkan bahwa agar dapat disebut perjanjian kerja harus dipenuhi 3 unsur yaitu: 1. FX Djumialdy. M. 3. Penggunaan istilah bersama itu bukan menunjuk bersama dalam arti seluruh pekerja/buruh ikut berunding dalam pembuatan perjanjian kerja bersama karena dalam proses pembuatan perjanjian kerja bersama pekerja/buruh bukan merupakan pihak dalam berunding. Perjanjian Kerja Bersama tidak hanya mengikat para pihak yang membuatnya yaitu serikat pekerja/serikat buruh dan pengusaha saja. Adanya upah Perjanjian kerja yang dibuat antara pekerja dengan perusahaan ini kemudian menjadikan adanya hubungan kerja antara keduanya. guna untuk selalu dapat disesuaikan dengan kondisi riel dalam kehidupan bermasyarakat. yang dalam hal ini sering diwakili oleh manajemen atau direksi perusahaan. Di dalam Undang-Undang . SH. Dalam hubungan dengan hubungan ketenagakerjaan. dengan membatasi masa berlakunya suatu perjanjian kerja bersama. serta hak dan kewajiban masing-masing pihak.

jabatan atau jenis pekerjaan. syarat -syarat kerja yang memuat hak dan kewajiban pengusaha dan pekerja/buruh. perjanjian kerja bersama. jenis kelamin. Undang-undang No. maka dalam hukum ketenagakerjaan secara khusus . dan i. meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarga. hak. maka harus memuat sebagai berikut: a.No. 13 tahun 2003 didefiniskan bahwa Perjanjian kerja adalah ³Perjanjian antara pekerja dengan pengusaha/pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja. mulai dan jangka waktu berlakunya perjanjian kerja. dan alamat pekerja/buruh. tanda tangan para pihak dalam perjanjian kerja. Sebagai suatu Undang-undang yang tujuannya antara lain untuk memberikan perlindungan kepada pekerja dalam mewujudkan kesejahteraan dan. h. nama. Ketentuan dalam perjanjian kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dan f. e. besarnya upah dan cara pembayarannya. alamat perusahaan. dan kewajiban para pihak´. Apabila dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata diatur bahwa suatu perjanjian dinyatakan sah apabila memenuhi 4 syarat. 13 tahun 2003 memberikan panduan mengenai perjanjian kerja. tempat dan tanggal perjanjian kerja dibuat. tidak boleh bertentangan dengan peraturan perusahaan. c. dan jenis usaha b. f. umur. dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apabila perjanjian kerja dibuat secara tertulis. d. Menurut Undang-undang ini perjanjian kerja dapat dibuat secara tertulis maupun lisan. g. tempat pekerjaan. nama.

Pengertian perjanjian kerja waktu tertentu dan perjanjian kerja waktu tidak tertentu tersebut dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. sedangkan yang tidak memenuhi syarat huruf 3 dan 4 batal demi hukum. Namun demikian. Seperti juga pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Kedua jenis perjanjian kerja yang diperbolehkan oleh Undang-undang tersebut adalah perjanjian kerja untuk waktu tertentu (PKWT). Suatu perjanjian kerja tentu saja dapat meliputi berbagai jenis pekerjaan. perjanjian kerja yang dikaitkan dengan jangka waktunya dibagi menjadi 2 jenis perjanjian kerja. 13 tahun 2003 bahwa kesahan suatu perjanjian kerja harus memenuhi adanya 4 persyaratan sebagai berikut: 1. dan perjanjian kerja untuk waktu tidak tertentu (PKWTT). pemberi kerja dapat saja membuat perjanjian kerja untuk suatu jangka waktu yang ditetapkan lebih awal atau tidak. dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.diatur dalam Undang-undang No. 2. pekerjaan yang diperjanjikan tidak bertentangan dengan ketertiban umum. adanya pekerjaan yang diperjanjikan. kesusilaan. dalam rangka memberi kepastian hukum kepada pekerja dan pemberi kerja. 3. kemampuan atau kecakapan melakukan perbuatan hukum. kesepakatan kedua belah pihak. Sedangkan ditinjau dari jangka waktu perjanjian kerja. 4. suatu Perjanjian kerja yang tidak memenuhi syarat pada nomor 1 dan 2 diatas dapat dibatalkan. 100/MEN/IV/2004 tentang Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu disebutkan sebagai berikut: ³Perjanjian Kerja Waktu Tertentu yang selanjutnya disebut PKWT adalah perjanjian kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha untuk mengadakan hubungan kerja dalam . sepanjang pekerjaan tersebut memang diperlukan oleh pemberi kerja.

4. Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu yang selanjutnya disebut PKWTT adalah perjanjian kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha untuk mengadakan hubungan kerja yang bersifat tetap. atau pekerjaan yang berhubungan dengan produk baru. Dalam Undang-undang No. hal ini karena PKWT tersebut tidak bersifat berkelanjutan. 2. 3. dibatasi oleh suatu dasar khusus. kegiatan baru. 100/MEN/IV/2004 diatur lebih lanjut mengenai persyaratan PKWT atas 4 jenis pekerjaan. Salah satu upaya agar PKWT tidak diterapkan kepada setiap jenis pekerjaan. pekerjaan yang diperkirakan penyelesaiannya dalam waktu yang tidak terlalu lama dan paling lama 3 (tiga) tahun. Adapun batasan situasi tersebut. sehingga jangka waktu perlindungan kepada pekerja terbatas pada waktu tertentu tersebut. dinyatakan dalam Undang-undang No. perjanjian kerja untuk waktu tertentu tidak dapat diadakan untuk pekerjaan yang bersifat tetap. Undang-undang memberikan perlindungan dengan pembatasan agar PKWT diterapkan pada situasi-situasi khusus. . pekerjaan yang sekali selesai atau yang sementara sifatnya.´ PKWT memiliki dasar batasan bahwa jangka waktu perjanjian kerja sudah ditetapkan dari awal. di dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. Disamping itu. Hal ini berarti bahwa diluar situasi-situasi tersebut. PKWT tidak diperbolehkan. pekerjaan yang bersifat musiman. Jika dibandingkan dengan PKWTT. 13 tahun 2003 sebagai berikut: 1. 13 tahun 2003 disebutkan bahwa PKWT didasarkan atas jangka waktu atau selesainya suatu pekerjaan tertentu.waktu tertentu atau untuk pekerja tertentu. maka PKWT memiliki keterbatasan. atau produk tambahan yang masih dalam percobaan atau penjajakan.

Undang-undang ini memberikan kesempatan kepada perusahaan/pemberi kerja untuk memberlakukan masa percobaan paling lama 3 bulan.Misalnya mengenai PKWT untuk pekerjaan yang sekali selesai atau sementara sifatnya yang penyelesaiannya paling lama 3 (tiga) tahun diatur dalam Pasal 3 Keputusan Menteri tersebut sebagai berikut: 1. Pembaharuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) dilakukan setelah melebihi masa tenggang 30 (tiga puluh) hari setelah berakhirnya perjanjian kerja. 5. 7. pengaturannya dalam Undang-undang No. 2. Hal ini salah satunya dilatarbelakangi oleh karena sifat perjanjian yang bersifat berkelanjutan dan jangka panjang. maka perusahaan memerlukan waktu untuk evaluasi pekerja tersebut sebelum menjadi pekerja . PKWT untuk pekerjaan yang sekali selesai atau sementara sifatnya adalah PKWT yang didasarkan atas selesainya pekerjaan tertentu. Dalam PKWT yang didasarkan atas selesainya pekerjaan tertentu harus dicantumkan batasan suatu pekerjaan dinyatakan selesai. Selama tenggang waktu 30 (tiga puluh) hari sebagaimana dimaksud dalam ayat 6 tidak ada hubungan kerja antara pekerja/buruh dan pengusaha. Adapun mengenai perjanjian waktu tidak tertentu. 3. Dalam hal pekerjaan tertentu yang diperjanjikan dalam PKWT sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diselesaikan lebih cepat dari yang diperjanjikan maka PKWT tersebut putus demi hukum pada saat selesainya pekerjaan. 6. 4. PKWT sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibuat untuk paling lama 3 (tiga) tahun. 13 tahun 2003. Dalam hal PKWT dibuat berdasarkan selesainya pekerjaan tertentu namun karena kondisi tertentu pekerjaan tersebut belum dapat diselesaikan. dapat dilakukan pembaharuan PKWT.

Untuk memberikan perlindungan kepada pekerja magang. perusahaan tidak diperkenankan membayar di bawah upah minimum. Maka artinya secara makro baik modal dan tenaga kerja sebagai faktor utama merupakan besaran memiliki pengaruh yang signifikan dalam perekonomian suatu negara. Selain perjanjian kerja yang didasari dengan jangka waktu tersebut di atas. hubungan hukum antara pekerja dengan perusahaan dapat juga terjadi melalui pemagangan.tetapnya. Perjanjian pemagangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 3. sekurang-kurangnya memuat ketentuan hak dan kewajiban peserta dan pengusaha serta jangka waktu pemagangan. selain itu baik besaran tingkat . Pemagangan sebagai salah satu dari bentuk pelatihan kerja dipandang sebagai salah satu upaya yang efektif untuk meningkatkan kompetensi pekerja. Namun demikian menurut Pasal 61 tersebut. Dalam proses pemagangan ini. Pemagangan dilaksanakan atas dasar perjanjian pemagangan antara peserta dengan pengusaha yang dibuat secara tertulis. 2. walaupun diberlakukan masa percobaan selama 3 bulan. Dalam teori ekonomi modal dan tenaga kerja sama±sama merupakan alat ekonomi dimana keduanya saling bekerja saja dalam kegiatan ekonomis dalam menghasilkan baik barang maupun jasa. 13 tahun 2003 mengatur sebagai berikut: 1. Undangundang No. dianggap tidak sah dan status peserta berubah menjadi pekerja/buruh perusahaan yang bersangkutan. Pemagangan yang diselenggarakan tidak melalui perjanjian pemagangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Besaran investasi kerap dijadikan ukuran economical performance suatu negara demikian pula halnya dengan tingkat penyerapan tenaga kerja pada sektor formal. pekerja mengikuti kegiatan perusahaan yang biasanya berupa pelatihan kerja yang dilaksanakan secara langsung di tempat kerja. serta memenuhi kebutuhan tenaga kerja bagi perusahaan.

Perjanjian Kerja Waktu Tak Tertentu (PKWTT). Dalam kedua produk perundang-undangan tersebut diatur mengenai hal-hal yang harus tertuang dalam perjanjian kerja. 13 Tahun 2003 yang kemudian . Meskipun Undang-undang tersebut telah satu tahun terlambat untuk diimplementasikan disebabkan faktor teknis. dan Borongan Pekerjaan (Outsourcing). Dalam Undang-undang No.investasi maupun penyerakan tenaga kerja sama-sama memiliki sapek public yang apabila terjadi ketidakseimbangan dampaknya akan merembet hingga ke ranah publik dan akhirnya menjadi permasalahan sosial. Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (selanjutnya disebut PKWT) dan Perjanjian kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) diatur dalam Pasal 56 UU NO. secara khusus Undang-undang No. persyaratan dan konsekwensinya serta prosedur penyelesaian apabila terjadi sengketa dalam hubungan kerja antar buruh dengan pengusaha. Pemerintah. 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial yang memiliki dampak sangat besar dalam penanganan masalah-masalah perselisihan perburuhan di Indonesia. 13 Tahun 2003 membagi bentuk sistem hubungan kerja antara buruh dan majikan. yang sekaligus menghapuskan fungsi P4D maupun P4P yang selama ini berfungsi sebagai lembaga penyelesaian perselisihan perburuhan tingkat daerah dan pusat. Adapun berkenaan dengan penulisan ini. 13 Tahun 2003 dibahas mengenai Ketenagakerjaan yang disebutkan bahwa hubungan kerja terjadi karena adanya perjanjian kerja antara pengusaha dan pekerja / buruh. Kemudian diperkuat lagi dengan terbitnya Undang-undang No. Januari 2006 lalu sudah melakukan tekadnya dalam menerapkan UU tersebut. keduanya harus diregulasi negara sehingga sinergi keduanya dapat terkelola dengan baik. yaitu : Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) . Oleh karena kedua hal tersebut merupakan bagian penting dalam perekonomian suatu negara.

Pengertian outsourcing (Alih Daya) secara khusus didefinisikan oleh Maurice F Greaver II.kep. µPerusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa pekerja/buruh yang dibuat secara tertulis¶. to draw together. sementara mengenai kontrak itu sendiri diartikan sebagai berikut: ³Contract to enter into or make a contract. Adapun pengertian PKWT dalam Pasal 1 angka 1 kepmenakertrans No.100/Men/VI/2004 Tentang Ketentuan pelaksanaan perjanjian kerja waktu tertentu. 12 Tahun 2003. the past participle of contrahere. Outsourcing dipandang sebagai tindakan mengalihkan beberapa aktivitas perusahaan dan hak pengambilan keputusannya kepada pihak lain (outside provider). Dalam pengertian umum. pada bukunya Strategic Outsourcing. A Structured Approach to Outsourcing: Decisions and Initiatives. dijabarkan sebagai berikut : ³Strategic use of outside parties to perform activities. mengenai pengertian outsourcing rumusan Pasal 64 menerangkan yaitu . istilah outsourcing (Alih Daya) diartikan sebagai contract (work) out seperti yang tercantum dalam Concise Oxford Dictionary.´ (Webster¶s English Dictionary).dijabarkan dalam Kepmennakertrans No.100/Men/VI/2004 adalah perjanjian kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha untuk mengadakan hubungan kerja dalam waktu tertentu atau untuk pekerja tertentu. dimana tindakan ini terikat dalam suatu kontrak kerjasama.´ Menurut definisi di atas. sedangkan PKWTT adalah perjanjian kerja antara pekerja/buruh dengan pengusaha untuk mengadakan hubungan kerja yang bersifat tetap. From the latin contractus.kep. Sedangkan bentuk sistem hubungan kerja outsourcing diatur dalam Pasal 64 sampai dengan Pasal 66 Undang-undang No. bring about or enter into an agreement. traditionally handled by internal staff and respurces. .

2. Jadi yang ada harga borongan. Ketentuan lain mengenai outsourcing diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata buku ketiga bab 7A bagian keenam tentang Perjanjian Pemborongan Pekerjaan. Perjanjian pemborongan pekerjaan adalah suatu perjanjian dimana pihak kesatu pemborong mengikatkan diri untuk membuat suatu karya tertentu bagi pihak yang lain yang memborongkan dengan menerima bayaran tertentu dan dimana pihak yang lain yang memborongkan mengikatkan diri untuk memborongkan pekerjaan kepada pihak pemborong dengan bayaran tertentu. antara lain menyebutkan bahwa outsourcing adalah pendelegasian operasi dan manajemen harian dari suatu proses bisnis kepada pihak luar (perusahaan jasa outsourcing). . Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang mendefinisikan pengertian outsourcing sebagai memborongkan satu bagian atau beberapa bagian kegiatan perusahaan yang tadinya dikelola sendiri kepada perusahaan lain yang kemudian disebut sebagai penerima pekerjaan. Dalam perjanjian pekerjaan tidak ada hubungan kerja antara perusahaan pemborong dengan perusahaan yang memborongkan sebab dalam perjanjian tersebut tidak ada unsur ³upah´ sebagai salah satu syarat adanya hubungan kerja. Hubungan antara pemborong dengan yang memborongkan adalah hubungan perdata murni sehingga jika terjadi perselisihan maka penyelesaiannya dilaksanakan melalui Pengadilan Negeri. Serupa dengan yang dikemukakan oleh Muzni Tambusai. Perjanjian/perikatan yang dibuat secara sah oleh pemborong dengan yang memborongkan pekerjaan tunduk pada KUH Perdata Pasal 1338 jo Pasal 1320 yaitu semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.Para pakar serta praktisi outsourcing Indonesia juga memberikan definisi mengenai outsourcing. yaitu: 1. terdapat persamaan dalam memandang outsourcing (Alih Daya) yaitu terdapat penyerahan sebagian kegiatan perusahaan pada pihak lain. Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas. 4. 3.

Berdasarkan pengertian di atas jelas yang dimaksud dengan hubungan kerja outsourcing adalah bentuk hubungan kerja borongan dari perusahaan kepada perusahaan lain atas dasar perjanjian. sehingga dengan demikian pekerja/buruh dalam skema outsourcing bukan merupakan bagian daripada . Berdasarkan bentuk yang diberikan undang-undang antara PKWT atau yang lazim disebut kerja tetap dan PKWTT yang lazim disebut sebagai kerja kontrak. Dari sudut pandang buruh hubungan kerja outsourcing menempatkan buruh pada posisi perlindungan yang ambigu disatu sisi buruh terikat dengan perusahaan penyedia tenaga di sisi lain kerja riil buruh untuk dan bertempat di perusahaan lain. yang memiliki pengertian sebagai bentuk kerja "pemborangan suatu pekerjaan penunjang yang terpisah dari kegiatan utama suatu perusahaan berdasarkan perjanjian tertulis kepada perusahaan lain". berbeda dengan outsourcing. karyawan outsourcing tidak mempunyai hubungan hukum dengan perusahaan pengguna karyawan outsourcing. Berdasarkan pemahaman tersebutlah maka kita dapat memahami bahwasanya Outsourcing berbeda dengan pengertian Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT). Dengan kata lain. Dengan arti kata diantara perbedaannya yang mencolok ialah. dengan demikian dalam hubungan kerja outsourcing pihak yang terlibat dalam kesepakantan kerja bukan antara buruh dan pengusaha akan tetapi antar sesame pengusaha sedangkan buruh diposisikan sebagai perangkat kerja pelaksana isi perjanjian. pekerja/buruh yang dipekerjakan berdasarkan PKWT dan PKWTT langsung merupakan pihak dalam kesepakatan kerja dengan demikian pekerja/buruh menjadi bahagian dari perusahaan sedangkan pekerja yang diperkerjakan melalui skema outsourcing ia bukan merupakan pihak yang langsung membuat kesepakan kerja dengan pengusaha melainkan pihak yang menjadi pekerja/buruh perusahaan penyedia jasa yang kemudian diperintahkan untuk bekerja pada perusahaan lain.

101/Men/VI/2004 Tahun 2004 tentang Tata Cara Perijinan Perusahaan Penyedia Jasa Pekerja/Buruh (Kepmen 101/2004). tunjangan hari raya. 65 dan 66) dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Republik Indonesia No. Hal mana dari ringkasan pokok isi konsideran tersebut dalam praktek kesehariannya dunia usaha menemukan momentumnya yang tepat. serta apabila dikemudian hari terjadi sengketa .perusahaan tempat mereka bekerja. jaminan pensiun hari tua dan lain sebagainya. Dari bentuk sistem hubungan kerja yang diberikan undang-undang tersebut hubungan kerja outsourcing menjadi suatu hal yang baru diperkenalkan yang timbul dari latar belakang pembentukan Undang-undang Ketenagakerjaan nitu sendiri yang jelas tampak pada konsideran menimbang poin d yang pada pokoknya menyatakan kepentingan perlindungan dan mewujudkan kesejahteraan buruh tetap memperhatikan perkembangan kemajuan dunia usaha. sebab jika dilihat dari sudut pandang pengusaha bentuk hubungan kerja outsourcing menjadi pilihan dikarenakan biayanya rendah dan kepada pengusaha tidak dibebankan kewajiban-kewajiban ketenagakerjaan seperti.Kep. Pengaturan tentang outsourcing (Alih Daya) ini sendiri masih dianggap pemerintah kurang lengkap. sedangkan kewajiban tersebut berada pada perusahaan penyedia jasa outsourcing penyedia jasa empat pekerja/buruh tergabung. Jadi dapat disimpulkan berdasarkan Secara konseptual Outsourcing (Alih Daya) dalam hukum ketenagakerjaan di Indonesia diartikan sebagai pemborongan pekerjaan dan penyediaan jasa tenaga kerja pengaturan hukum outsourcing (Alih Daya) di Indonesia diatur dalam UndangUndang Ketenagakerjaan Nomor 13 tahun 2003 (pasal 64. maka dengan sendirinya perusahaan pengguna tenaga buruh outsourcing tidak bertanggungjawab atas kesejahteraan dan perlindungan pekerja/buruh. tunjangan kesehatan. jaminan sosial tenaga kerja. uang lembur. hak-hak PHK.

Bentuk keseriusan pemerintah tersebut dengan menugaskan menteri tenaga kerja untuk membuat draft revisi terhadap Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Menurut pasal 66 ayat (2) huruf c UU No.pekerja/buruh tidak dapat mengajukan tuntutannya secara langsung kepada pengusaha penguna jasa. sehingga praktek hubungan kerja outsourcing dengan konsekwensi buruh murah diharapkan dapat menjadi stimulus bagi iklim investasi. namun hendaknya outsourcing harus dipandang secara jangka panjang.13 Tahun 2003. sebab jika tidak lama-kelamaan bentuk hubungan kerja outsourcing ini akan sangat merugikan kepentingan pekerja/buruh yang sebagaimana dengan pengusaha sama-sama memiliki kepentingan untuk menjadi sejahtera dan hidup layak. Berdasarkan Inpres tersebut di atas nampak jelas kepentingan investasi menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah kebijakan perburuhan di Indonesia. Jadi walaupun yang dilanggar oleh karyawan outsource adalah . penyelesaian perselisihan yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan penyedia jasa pekerja. Selain itu dalam pelaksanaan outsourcing tidak menutup kemungkinan perselisihan mungkin timbul. misalnya berupa pelanggaran peraturan perusahaan oleh karyawan maupun adanya perselisihan antara karyawan outsource dengan karyawan lainnya. Arah kebijakan pemerintah tersebut jika ditilik dari kepentingan investasi dalam periode singkat memungkinkan adanya harapan perbaikan iklim investasi. efisiensi dalam bidang tenaga kerja. mulai dari pengembangan karir karyawan. organisasi. benefit dan lainnya. 3 Tahun 2006 tentang paket Kebijakan Iklim Investasi disebutkan bahwa outsourcing (Alih Daya) sebagai salah satu faktor yang harus diperhatikan dengan serius dalam menarik iklim investasi ke Indonesia. Dalam Inpres No.

Jadi. Hubungan kerja senantiasa terjadi di masyarakat. Perjanjian kerja Bersama ini dibuat atas persetujuan pemberi kerja dan Karyawan yang bersifat individual. B. PKB memang penting bagi perusahaan manapun. hak dan kewajiban para pihak yang merupakan hasil perundingan antara Pengusaha. persyaratan kerja diatur dalam bentuk perjanjian kerja yang sifatnya perorangan. Untuk mencegah timbulnya akibat yang lebih buruk. daripada perusahaan outsource itu sendiri. mengingat perusahaan pengguna jasa pekerja sebenarnya adalah pihak yang lebih mengetahui keseharian performa karyawan. maka perlu adanya pengaturan di dalam hubungan kerja ini dalam bentuk PKB. Di dalam hubungan kerja memiliki potensi timbulnya perbedaan pendapat atau bahkan konflik. yang berwenang menyelesaikan perselisihan tersebut adalah perusahaan penyedia jasa pekerja.Perjanjian Kerja Bersama atau PKB sebelumnya dikenal juga dengan istilah KKB (Kesepakatan Kerja Bersama) / CLA (Collective Labour Agreement) adalah merupakan perjanjian yang berisikan sekumpulan syaratsyarat kerja. dengan arti kata undang-undang tidak menyediakan wadah khusus bagi sengketa perburuhan outsourcing. maupun perusahaan pengguna jasa pekerja. Maka dalam hal ini yang diharapkan adalah perusahaan outsource harus bisa menempatkan diri dan bersikap bijaksana agar bisa mengakomodir kepentingan karyawan. Pengaturan persyaratan kerja yang bersifat kolektif dapat dalam bentuk Peraturan Perusahaan (PP) atau Perjanjian Kerja Bersama (PKB).peraturan perusahaan pemberi pekerjaan. . dan semakin intensif didalam masyarakat modern. Perjanjian kerja bersama sebagai bentuk persyaratan kerja Perjanjian Kerja Bersama atau disingkat PKB merupakan pijakan karyawan dalam menorehkan prestasi yang pada gilirannya akan berujung kepada kinerja korporat dan kesejahteraan karyawan. baik secara formal maupun informal. Dalam prakteknya.

13 tahun 2003 Point 21. peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan. Perundingan pembuatan PKB berikutnya dapat dimulai paling cepat 3 (tiga) bulan sebelum berakhirnya PKB yang sedang berlaku. peraturan perusahaan. Dalam hal perundingan tidak mencapai kesepakatan. Lebih dari itu. Hal ini juga tertuang dalam Pasal 1 UU No. maka PKB yang sedang berlaku tetap berlaku untuk paling lama 1 (satu) tahun. lembaga kerjasama tripartit. Kesemua itu untuk menjamin adanya kepastian dan perlindungan di dalam hubungan kerja. organisasi pengusaha. PKB juga merupakan suatu instrumen yang digunakan untuk untuk menjalankan hubungan industrial. dengan partisipasi ini juga merupakan cara untuk bersama-sama memperkirakan dan menetapkan nasib perusahaan untuk masa depan. lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial. . lembaga kerjasama bipartit.Masa berlakunya PKB paling lama 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang masa berlakunya paling lama 1 (satu) tahun.PKB dibuat dengan melalui perundingan antara managemen dan serikat karyawan. dimana sarana yang lain adalah serikat karyawan.dalam hal ini diwakili oleh Managemen Perusahaan dan Karyawan yang dalam hal ini diwakili oleh Serikat Karyawan. Sehingga dengan demikian proses pembuatan PKB tidak memakan waktu lama dan berlarut-larut sampai terjadi kebuntuan (dead lock) yang mengakibatkan tidak adanya kepastian hukum. Menurut ketentuan. sehingga dapat tercipta ketenangan kerja dan berusaha. serta tercatat pada instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan.

Saran Pelaksanaan peran dan fungsi Sekar dalam Perjanjian Kerja Bersama harusnya tetap diperhatikan dalam menentukan kebijakan atau keputusan yang menyangkut keberadaan karyawan. B. Karena dengan keterlibatan Sekar sejak awal dalam menentukan kebijakan yang menyangkut karyawan melalui peran dan fungsi sekar dapat mencegah bagi adanya perselisihan hubungan industrial. Kesimpulan Kendala-Kendala yang menjadi masalah tersebut yaitu tidak adanya koordinasi yang dilakukan oleh manajemen perusahaan dengan Sekar dalam menentukan kebijakan yang berdampak kepada kesejahteraan karyawan dan juga penjatuhan sanksi disiplin kepada karyawan dikarenakan adanya pelanggaran disiplin oleh karyawan.BAB III PENUTUP A. Terhadap masalah-masalah yang muncul selama ini cukup diselesaikan melalui forum bipartit. . Dimana dalam forum bipartit ini Sekar dalam menjalankan peran dan fungsinya untuk membela kepentingan karyawan juga dipengaruhi oleh kondisi diluar perusahaan seperti kondisi ekonomi dan juga krisis yang mengakibatkan menerima kebijakan yang dikeluarkan oleh manajemen perusahaan.

Seksi Pembinaan dan Pengawasan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri Disnakertrans Kabupaten Grobogan. 39 Tahun 2004 Tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri. Pendayagunaan Sosiologi Hukum untuk Memahami Proses-proses dalam Konteks Pembangunan dan Globalisasi.ID . 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa ³ketenagakerjaan adalah segala hal ihwal menyangkut tenaga kerja baik sebelum.DAFTAR PUSTAKA Satjipto Rahardjo. Aris Ananta. 245. Jurnal Hukum. Lihat Pasal 31. 55. 1999. hal. No.GOOGLE. 7 Vol. 4 Tahun 1997.CO. 70. Liberalisasi ekspor dan impor Tenaga Kerja suatu pemikiran awal. 14 Sugeng Mulyanto. 2. hal. WWW. Sistem Penempatan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri. dan 76 Undang-undang No. Pusat Penelitian Kependudukan UGM. Wawancara tanggal 22 Mei 2006. pada saat dan sesudah melakuka pekerjaan´. Majalah Tenaga Kerja. hal. 1996. Vol 37. Pasal 1 butir 1 Undang-undang No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful