Tentang Ijtihad Kita telah mengetahui bersama bahwa sumber hukum tertinggi dalam Islam adalah Al-Qur’an dan

Hadits. Namun, seiring berjalannya waktu, permasalahanpermasalahan yang ditemui umat islam pun kian berkembang. Ketika permasalahanpermasalahan tersebut tidak dapat lagi diselesaikan hanya melalui nash Al-Qur’an dan Hadist secara eksplisit, timbul istilah ijtihad. Menurut Ensiklopedi Islam, ijtihad adalah mengerahkan segala tenaga dan pikiran untuk menyelediki dan mengeluarkan (mengistinbat-kan) hukum-hukum yang terkandung di dalam Al-Qur’an dengan syarat-syarat tertentu. Di dalam Al-Qur’an, perintah ijtihad terdapat dalam surat an-Nisa ayat 83, asySyu’ara ayat 38, surat al-Hasyar ayat 2, dan surat al-Baqarah ayat 59. Sementara itu, dasar ijtihad terdapat pula pada sebuah hadist yang artinya: “Apabila seorang hakim berijtihad dan benar, maka baginya dua pahala, tetapi bila berijtihad lalu keliru maka baginya satu pahala (HR. Bukhari dan Muslim).” Di dalam kitab ihya Ulumu ad-Din, hukum mengenai berijtihad dikategorikan menjadi fardhu ‘ain, fardu kifayah, dan sunnah. Hukum ijtihad menjadi fardhu ‘ain jika timbul persoalan yang sangat mendesak untuk ditentukan kepastian hukumnya. Hukum ijtihad menjadi fardhu kifayah apabila ada persoalan yang diajukan kepada beberapa ulama sedemikian hingga kewajiban berijtihad bagi ulama atau orang lain menjadi hilang manakala telah ada salah seorang yang telah menjawab persoalan tersebut. Sedangkan ijtihad menjadi sunnah jika masalah yang akan dicari kepastian hukumnya adalah masalah yang tidak mendesak atau masalah yang belum terjadi dalam masyarakat. Orang yang melakukan ijtihad disebut mujtahid. Untuk menjadi seorang mujtahid, terdapat persyaratan-persyaratan tertentu yang harus dimiliki seseorang. Menurut Yusuf Qardawi, terdapat delapan persyaratan yang harus dimiliki seseorang untuk menjadi mujtahid: memahami Al-Qur’an beserta sebab turunya ayat-ayat, memahami hadist, mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang bahasa arab, mengetahui tempat-tempat ijmak, mengetahui usul fikih, mengetahui maksud-maksud syariat, memahami masyarakat dan adat-istiadatnya, serta bersifat adil dan takwa. Di dalam melaksanakan ijtihad, para mujtahid menempuh beberapa cara diantaranya qiyas, istihsan, al-maslahah al mursalah, dan ‘urf. Qiyas adalah menyamakan hukum suatu masalah dengan masalah

ijtihad dapat kita maknai sebagai usaha mengerahkan segala tenaga dan pikiran untuk menyelidiki hukum-hukum di dalam Al-Qur’an. tidak sembarang orang bisa melakukan ijtihad dan kemudian berhak mengeluarkan kepastian hukum mengenai suatu masalah karena terdapat beberapa persyaratan khusus yang harus dimiliki oleh seseorang untuk membolehkannya menjadi mujtahid. Sedangkan yang dimaksud dengan ‘urf adalah kebiasaan umum atau adat-istiadat yang dapat berupa perkataan atau perbuatan.lain yang telah ada kepastian hukumnya di dalam Al-Qur’an dan Hadist karena sebabnya sama. yaitu haram. (http://mmishbah.com/2008/02/tentang-ijtihad.html) . Al-maslahah al mursalah adalah menetapkan hukum suatu masalah yang tidak ada nashnya dalam Al-Qur’an dan sunnah untuk mencapai kebaikan. hukum minum bir sama dengan hukum meminum khamr. Berdasarkan uraian diatas. Contohnya. karena sifat keduanya adalah sama-sama memabukkan.blogspot. Di dalam praktiknya. Istihsan adalah mengecualikan hukum suatu masalah dari hukum masalah-masalah lain yang sejenis lalu menetapkan suatu hukum bagi masalah itu dengan hukum yang berbeda berdasarkan pada alasan bagi pengecualian itu.

” (AnNajm: 39) Hal itu tentu bertentangan dengan banyak ayat yang menyuruh kita mendo’akan orang mati. Ijtihad adalah mengeluarkan segala tenaga dan kemampuan untuk mendapatkan kesimpulan hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. kalau tidak ia akan menarik suatu hukum dari satu ayat yang bertentangan dengan ayat lain. Ada golongangolongan yang menyatakan bahwa berdo’a kepada orang mati. Contohnya. Ketiga. menguasai bahasa Arab. menguasai Hadits Rasulullah SAW baik dari segi riwayat hadits untuk dapat membedakan antara hadits yang shahih dan yang dlaif.)خاص‬yang mutlak (tanpa kecuali) dan yang muqayyad (yang terbatas). Kedua.Fasal tentang Ijtihad 30/10/2007 Arti "ijtihad" menurut bahasa adalah mengeluarkan tenaga atau kemampuan. Syarat-syarat untuk menjadi seorang Mujtahid: pertama. menguasai dan memahami Al-Qur’an seluruhnya. yang nasikh (hukum yang mengganti) dan yang mansyukh (hukum yang diganti). dan asbaabun nuzul (sebab turunnya) ayat untuk membantu dalam memahami ayat tersebut. Tidak mungkin orang akan memahami Al-Qur’an dan Hadits tanpa menguasai bahasa Arab. bersedekah dan membaca Al-Qur’an tidak berguna dengan dalil. Dalam ayat lain tercantum: ِ ْ ِ ْ ِ َ ْ ُ َ َ َ ْ ِ ّ َ ِ َ ْ ِ َ َ َ ْ ِ ْ َ ّ َ َ ْ ُْ ُ َ ْ ِ ِ ْ َ ْ ِ ْ ُ َ َ ْ ِ َّ ‫الذين جاءوا من بعدهم يقولون ربنا اغفرلنا ولخوانناالذين سبقونا بالءيمن‬ “Orang-orang yang datang setelah mereka berkata. do’a terhadap orang mati.” (Al-Hasyr: 10) Juga termasuk mengetahui ayat yang berlaku umum atau ‘aam ( ‫ )عام‬dan yang khusus atau khas (‫ . ‫وان ليس لللنسن ال ما سعى‬ َ َ َ ّ ِ ِ ْ ِ ْ ِ َ ْ َ ْ ََ “Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah ia kerjakan. maka apabila . tentu termasuk nahwu. Mengapa harus menguasai hadits? Karena yang berhak pertama kali untuk menjelaskan Al-Qur’an adalah Rasulullah SAW. yaa Allah ampunilah kami dan saudara kami yang telah mendahului kami dnegan beriman. sharaf dan balaghahnya karena Al-Qur’an dan Hadits berbahasa Arab.

Tentu tidak. Ijtihad pada zaman Nabi SAW tidak diperlukan. Adat kebiasaan bisa dijadikan hukum ( ‫ ) العادة محكمه‬selama tidak bertentangan dengan AlQur’an dan As-Sunnah. ijtihad tetap dibuka dengan . Barangkali. bila ada ijtihad. dikhawatirkan menarik kesimpulan suatu hukum bertentangan dengan hadits yang shahih tentu ijtihad tersebut tidak dapat dibenarkan artinya bathil.tidak menguasai hadits. Supaya kita dalam menentukan hukum tidak bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh sahabat. dan apa yang Rasul larang kepadamu hendaklah kamu hentikan. Walaupun. Mereka hidup bersama Nabi dan mengetahui sebab-sebab turunnya Al-Qur’an dan datangnya hadits. sesungguhnya Allah keras siksa-Nya. diantaranya hasil dari AlMadzahibul–Arba’ah baik dalam ibadah maupun mu’amalah. Contohnya. Dan telah diletakkan pula qaidah-qaidah Ushul Fiqih yang mampu memecahkan segala permasalahan yang timbul. periode saat ini adalah periode pengamalan dalam agama. karena mereka yang lebih mengetahui tentang syareat Islam. Sejak abad ke II dan ke III Hijriyah permasalahan hukum Islam telah mulai perumusan hukum. bayi tabung. jika berijtihad itu hanya akan menghasilkan barang yang sudah berhasil. maka tidak akan keluar dari pendapat madzab empat atau al-madzhibul arba’ah (yang akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya. dan lain-lain. red). Dalam masalah-masalah yang berkembang baru di abad teknologi ini seperti: cangkok mata. bukan periode ijtihad.” (An-Nahl: 44) ِ َِ ْ َُِْ ‫وماء اتكم الرسول فخذوه ومانهكم عنه فانتهوا واتقواال ان ال شديد العقاب‬ ّ ِ َ ْ ُ ّ َ ْ َ َْ َ ُ ْ َ ْ ُ َ َ َ َ ُ ْ ُ ُ َ َ ْ ُ ّ ُ ُ َ َ َ َ “Dan apa yang Rasul berikan kepadamu hendaklah kamu ambil. dan takutlah kepada Allah.” (AlHasyr: 7) Keempat. dalam berwudlu’. Mengetahui adat kebiasaan manusia. Hal ini bukan berarti ijtihad ditutup mutlak. Kelima. mengetahui Ijma’ (kesepakatan hukum) Para Sahabat. Ijtihad diperlukan setelah Nabi wafat karena permasalahan selalu berkembang. sebab apabila sahabat mempunyai persoalan langsung bertanya kepada Nabi dan Nabi langsung menjawab. َ ْ ُ ّ َ َ َ ْ ُ ّ َ َ َ ْ ِ ِ َ ِ َ ِ ُ َ ِ ّ ِ َ ِ َ ُ ِ َ ْ ِ َ ْ َ ِ َ ْ َ ْ ََ ‫وأنزلنا اليك الذكر لتبين للناس مانزل اليهم ولعلهم يتفكرون‬ “Kami turunkan kepada engkau peringatan (Al-Qur’an) supaya engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka mudah-mudahan mereka memikirkan.

htm . Arabic for "imitation".or.com/e/i/ij/ijtihad.berpedoman pada qaidah-qaidah ulama’ yang terdahulu dalam ilmu Ushul Fiqih.id/page. and traditionally had to be a scholar of Islamic law or alim.allexperts.php? lang=id&menu=news_view&news_id=10594) jtihad Ijtihad (Arabic اجتهاد) is a technical term of Islamic law that describes the process of making a legal decision by independent interpretation of the legal sources.nu. KH A Nuril Huda Ketua PP Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) (http://www. the Qur'an and the Sunnah. http://en. A person who applied ijtihad was called a mujtahid. The opposite of ijtihad is taqlid.

Sumber hukum peringkat selanjutnya adalah kejelasan yang tersurat maupun yang tersirat dari kehidupan Rasul Allah. disebut as-Sunnah. ternyata. Tanpa disadari. muslimin sependapat bahwa barang siapa yang menentang dan mengubah ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Apa yang ada di dalam AlQuran adalah sumber awal yang melegitimasi segala hukum sesudahnya. maka dinyatakan sebagai kufur. memang bukan mustahil bahwa dari ungkapan yang sama tetapi muatannya berbeda. yakni adanya perubahan persepsi di kalangan muslim dalam memahami keduanya. dimulai dari Ali bin . Darinya tersurat dan tersirat rangkaian hukum atas sandaran hukum yang lain. Dari dasar sumber yang sama.NASH DAN IJTIHAD Abu Mahdi "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin. menjadikan setiap muslim berjanji untuk mengikuti Al. Karena. nampak jelas ketika Rasulullah SAW wafat. Wafat Nabi Muhammad SAW tidak berarti terhentinya nash Ilahi dalam bentuk Sunnah. Tapi. muslimin memahami dengan berbeda. apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. tetapi juga ada pada tiga belas orang maksum setelah beliau. difahami secara berbeda." (Al-Ahzab:36) Dasar-dasar Hukum Islam Semua muslimin sepakat bahwa sumber hukum pertama yang tertinggi adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya. Sebagian muslimin berpandangan bahwa periode dasar hukum telah terhenti. sesat yang nyata. keterikatan muslimin untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan dengan kekhawatiran akan jatuh dalam kekufuran. Dari sumber yang sama (Al-Quran dan Hadits). Sunnah dalam pemahaman kelompok ini tidak terbatas pada Nabi Muhammad SAW. ada hal yang tidak dapat ditolak. Al-Quran. Sementara landasan selain Al-Quran adalah semua yang sudah mencukupi ruang batas ketentuan yang dibenarkan Al-Quran. Yaitu. Awal perbedaan ini. yang disebut Al-Quran. Kedua dasar dan sumber hukum ini saling kait dan terikat. dalam artian wahyu atau kalam Ilahi dan penjelas dalam praktik kehidupan sehari-hari Nabi SAW itu terhenti. Sebagian muslimin yang lain memiliki pandangan dan keyakinan berbeda. Mereka mencoba mengekspresikan semua yang ada dari keduanya dalam kehidupan keseharian. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat. Dengan landasan ini. sehingga tidak ada ketentuan yang berada di luar ketentuan yang sudah ditetapkan Allah. sehingga beramal pun dengan praktik yang berbeda. Karena. sehingga mereka berpandangan hanya Al-Quran dan Sunnah Nabi saja sebagai sumber hukum yang mutlak.Quran dan Hadits/Sunnah.

Sehingga i'tiqad dasar keislaman pun akan berbeda. dan pandangan yang tercipta dari waktu ke waktu. berasal dari akar kata bahasa Arab al-jahd yang berarti jerih payah. telah membentuk opini keislaman seseorang. ulama tidak lagi terkumpul dan pintu ijtihad menjadi "tertutup". serta informasi yang diterima untuk dipelajari hari ini. Ijtihad juga diartikan menguras tenaga dan jerih-payah untuk memperoleh hukum syar'i yang bersifat dugaan dari AlQuran. semua muslim sepakat bahwa Islam adalah agama Ilahi yang satu dan merupakan hamparan jalan tunggal menuju kepada Allah. harus memilih juga. Ijtihad di Kalangan Muslimin Ijtihad (secara bahasa).Abi Thalib AS sampai dengan Muhammad bin Hasan al-Mahdi AS (termasuk Fatimah az-Zahra AS). muslimin. Sementara itu. Muslimin (secara historis) menggunakan kesempatan berijtihad untuk melepaskan tanggung jawab dalam menjawab permasalahan kehidupan yang belum ditemui dalam hukum yang jelas (dhahir) sampai datangnya masa penaklukan kota Baghdad di masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah oleh Bangsa Tartar (sekitar 665 H. Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah bahwa dengan cara memandang pada fenomena sejarah yang berbeda akan didapatkan nilai keislaman yang berbeda pula. mau tak mau. Permasalahan di atas. menguras tenaga untuk memperoleh dugaan tentang hukum syar'i. juga menjadi faktor yang melahirkan generasi muslim zaman ini. Kedua pandangan inilah yang menjadi pemilah kesatuan muslimin yang telah dibina Rasulullah SAW. Dengan dasar perspektif pandangan masing-masing. Qiyas. Sunnah.) Setelah adanya kejadian tersebut. (al-Ra'ya alSadid fi al-Ijtihad wa al-Taqlid wa al-Ihthiyath. baik dari nilai ideologi maupun tantangan fisik. Ihtihsan dan sebagainya. Hinggalah sekarang. termasuk al-Hajibi mendefinisikan ijtihad sebagai tindakan menguras tenaga untuk mengetahui hukum tentang sesuatu dalam batas menduga. karena unsur sejarah mendominasi pandangan muslim dalam menilai Islam. Islam akan tampak berbeda. meskipun ada juga pembeda . Dari sinilah hak ijtihad hanya menjadi milik mujtahid terdahulu. sehingga seseorang dapat memastikan keberadaan setiap personal di jalan yang lurus dan tunggal tersebut. Karena itu. Seperti. Selanjutnya. Kelompok terdahulu.9). pengaruh dan bara tersebut masih saja menyala. hal. Dengan kenyataan yang terjadi. Generasi kini adalah hasil dari generasi terdahulu. hingga akhir zaman. yang konsekuensinya adalah i'tiqad dasar dari pandangan di atas harus ditimbang kembali untuk mendapatkan nilai yang benar. dan motif pada tindakan pun menjadi berbeda pula. Perbedaan inilah yang mendasari lemahnya kekuatan muslimin dalam menghadapi tantangan zaman. dan secara umum tidak ada perbedaan mendasar tentang ijtihad. perkembangan ijtihad dalam kehidupan muslimin berjalan lamban. Akibat lain yang ditimbulkan dari perbedaan pandangan itu adalah telah terbentuknya ideologi yang menjadi dasar cara pandang muslim dalam melihat Islam.

Pemikiran ideal ini menjadi i'tiqad muslimin. terhentinya atau tidak dibenarkannya ber-ijtihad dapat memastikan bahwa fiqih dan pembahasan pun akan terhenti. serta tidak memiliki kesempatan mengembangkan akal pikiran manusia. Akal dan Ijma'. karena . seorang muslim harus hidup dalam hukum. sebagai tuntutan hidup yang nyata. Meskipun pada dasarnya hukum yang dijadikan sandaran tersebut tidak diketahui keabsahan dan kebenarannya. padahal banyak persoalan kehidupan yang dijalani dan harus dipecahkannya tidak terdapat di buku para mujtahid terdahulu. Mujtahid Sebagai Standar Keilmuan Islam sebagai agama dan ideologi merupakan sarana penghantar perjalanan manusia kepada Allah. yang memojokkan manusia untuk meletakkan dirinya pada hukum.di antara kelompok muslim. memastikan manusia untuk tidak memilih jalan lain atau berjalan di jalan yang salah. dari keempat sumber ini. walaupun terbatas hanya untuk dirinya. Dengannya orientasi hidup hanya kembali ke alam kehidupan dahulu dan tidak akan membentuk opini kehidupan yang mendatang. Atau. dalil-dalil yang ada tidak cukup untuk mendukung kasus yang ada. Karena itu. Sunnah. Maka muslimin mengejar idealisme kesempurnaan Islam dengan berusaha mendapatkan nilai ideal. Dasarnya adalah dengan adanya Maksum maka i'tiqad dan idealnya Islam dapat terjaga bersamanya. konsekuensinya adalah hukum Islam menjadi hukum yang menindas kemanusiaan. Namun demikian. Atau. bukan berarti tidak terbuka kemungkinan untuk tidak ditemukannya ketentuan hukum dari keempatnya. maka pikiran ideal merupakan i'tiqad tanpa kepastian untuk didapatkan dalam praktik kehidupan muslim. maka setiap muslim telah menjadi mujtahid pada posisinya. Tanpa disadari. Tetapi dengan tidak adanya maksum. Seperti. Fenomena ini tidak terhindar karena kenyataan adanya tuntutan Islam dan perjalanan masa/waktu. adanya perbedaan antara mereka yang memasukkan qiyas dalam ijtihad dan sebagian lagi menolak. Karena. Maka masalah yang timbul di masa kini tidak akan teratasi. Kasus Seputar Ijtihad Dasar sumber-sumber ijtihad adalah Al-Quran. Satu hal lain yang mendasar bahwa muslimin akan terhenti dalam ruang lingkup kehidupan yang tradisional (lampau). Maka jadilah muslim yang awam tersebut sebagai mujtahid. Namun. Dengan sarana yang pasti ini. Sehingga manusia dengan sendirinya wajib memastikan dirinya untuk berada di dalam Islam. didapatkan hasil kesimpulan yang tidak kokoh. mereka menyimpulkan hukum dari sumber-sumber hukum yang ada (berijtihad). Kasus yang terjadi sekarang adalah dengan tertutupnya ijtihad. Padahal yang dikenal bahwa muslim yang mengenal Islam itu membela dan membangun kehidupan kemanusiaan.

hanya ada pada Allah dan Maksumin. Mana yang harus didahulukan. Namun demikian. perkembangan pola hidup manusia. maka Nilai Islam yang ada dalam i'tiqad muslimin pun tidak terjamin untuk kesempurnaannya pada kebenaran Ilahi. karena: Pertama. yaitu kelompok Ahl al-Ra'yu dan Ahl al-Hadits. Maka akan ada selisih antara kebenaran yang bersifat absolut Ilahi yang di-i'tiqadi dengan nilai kebenaran yang diamalkan oleh manusia. Islam sebagai sumber hukum dan nilai absolut. dari sini pula kelompok kalam terbagi menjadi Mu'tazilah yang menggunakan akal untuk qiyas dalam menentukan hasan (baik) dan qubuh (buruk). maka muslimin harus bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Islam masih merupakan konsep yang harus digali. Maka usaha maksimal mendapatkan hukum tersebut merupakan kewajiban muslimin. maka perubahan yang terjadi selalu memiliki keterikatan dengan yang lain. Kebenaran yang ada adalah nilai yang didapat dari usaha maksimal sebagai manusia untuk melepaskan diri dari tanggung-jawab di hadapan Allah. Boleh jadi. ijtihad atau hadits nabawi? d. dan kelompok Asy'ariy yang lebih mengutamakan hadits nabawi. Apakah ijtihad hanya terbatas pada kasus-kasus yang tidak ada nashnya? b. yakni ia harus selalu berada dan berjalan di bawah hukum Ilahi. Hadits/Sunnah. Dengan hal di atas pun bukan berarti permasalahan kewajiban tersebut telah terlepas dari persoalan. Selain dari keduanya. merupakan satu hal yang tidak dapat dihindari. Baik pada komunitas muslim atau dengan yang di luar muslim.agama samawi ini tidak memberikan jaminan kepada manusia yang tidak maksum secara takwin. tanpa disadari. seperti: a. Apakah boleh berijtihad (ta'awul) ketika ada nash? c. Ijma' dan Akal) yang kita sebut ijtihad. Ketika muslim merupakan bagian komunitas alam yang saling mengikat. . Kedua. Pada sisi lain. Perubahan pola hidup yang dimaksud adalah perubahan pola berfikir dan bertindak serta adanya tuntutan keperluan hidup. tanpa adanya wahyu dan maksum yang berkuasa dalam kehidupan muslim. Sehingga hukum aktual yang ada dalam Islam merupakan suatu keharusan. usaha yang dilakukan oleh muslimin untuk mendapatkan ilmu Islam dari sumber-sumber dasar hukum (AlQuran. tidak hadirnya Imam Maksum di antara muslimin. Paling tidak dengan memprediksikan bahwa konsep tadi dinyatakan benar oleh pandangan muslimin. Siapa yang berhak untuk berijtihad? Empat kasus di atas telah membelah muslim menjadi dua pecahan. tetapi masih banyak masalah lain dalam ijtihad.

Dengan ini fungsi fuqaha (jamak dari faqih) merupakan fokus perjalanan Islam di tengah kehidupan Islam. gambaran Islam dapat dilihat dari keberadaan fiqih. semuanya berhubungan dengan politik. pelaksanaan negara. Semuanya terikat dalam politik.Apapun yang terjadi. Begitulah. yang kesempurnaannya melebihi agama lain. baik yang berhubungan dengan dunia. Keislaman seseorang terlihat dengan bentukan (pengejawantahan) fiqih pada dirinya. permasalahan ini akan kembali kepada persoalan: adakah kini masih terbuka pintu ijtihad dan siapa yang dibenarkan untuk berijtihad? Dibalik pertanyaan ini sebenarnya tersembunyi suatu hal yang sangat penting. Kaum isti'mar (penindas)-lah yang berusaha hendak memisahkan dan mengesampingkannya. Haji. Shalat bersenyawa dengan politik. supaya mereka dapat menjaga dirinya. Karena. Semua permasalahan. fiqih merupakan gambaran atau penjelas dari simbol dan amal serta kriteria Islam. yaitu fiqih itu sendiri. dengan mengatakan: tafaqqahu idza thalabahu fatakhashshasha bihi. tapi Islam merupakan penilai dan penilaian dari semua sisi. masyarakat. Islam. Bergabungnya Semua Hukum Islam dengan Politik Islam bukan merupakan satu sisi penilai terhadap persoalan. dan juga semua permasalahan yang berhubungan dengan sisi-sisi yang tidak diketahui oleh ahli-dunia. Karena itu. Al-Quran memerintahkan muslimin untuk memperdalam pengetahuan sehingga dapat mengatasi problema kehidupan ini. muslim yang ber-tauhid tentu saja tidak hanya memandang dari satu sisi saja dan melupakan sisi lain." Dari sisi lain dinyatakan: "Ulama adalah pewaris Nabi. Dinyatakan dalam ungkapan: "Fuqaha adalah benteng Islam seperti benteng kota untuk membentengi kota. politik. Karena itu keberadaan ijtihad dan mujtahid memegang peran yang sangat penting atas keberadaan Islam dalam kehidupan manusia. semua hukumnya bergabung dengan politik. Dalam Surat al-Taubah ayat 122 ditegaskan: "Mengapa tidak pergi sebagian di antara setiap golongan kamu untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya bila mereka telah kembali kepadanya. Dan untuk keduanya terdapat hukum di dalamnya." . zakat. ekonomi. Agama Tauhid didatangkan agar manusia mengetahui kedua sisi tersebut dan membahasnya. Dengan kata lain. Fiqih adalah pemahaman mendalam serta pengertian sempurna tentang realitas sesuatu. Al-Raghib al-Isfahani dalam Mufrad AlQuran menyatakan bahwa tafaqquh ialah spesialisasi." Fiqih berasal dari akar kata tafaqquh.

karena hal ini merupakan ittiba’ kepada hujjah. "Demikianlah sesungguhnya perjalanan semua hal dan ahkam ada pada tangan ulama Ilahi. penanggung-jawab halal dan haram-Nya. 2008 oleh adi abdullah DEFINISINYA : Secara bahasa : ‫وضع الشيء في العنق محيطا به كالقلدة‬ ً “Meletakkan sesuatu di leher dengan melilitkan padanya seperti tali kekang." Taqlid.Jadi. pengertian. untuk menjaga Islam. dan mengikuti shahabat jika kita katakan bahwa perkataan shahabat tersebut adalah hujjah. . dan jenisnya Januari 24. Maka ulama akan masuk dalam standar keulamaan dengan predikat faqih-nya. mengikuti ahlul ijma’.” Keluar dari perkataan kami : ( ‫“ ) من ليس قوله حجة‬orang yang perkataannya bukan hujjah” : ittiba’ (mengikuti) Nabi sholallohu alaihi wa sallam. maka mengikuti salah satu dari hal tersebut tidaklah dinamakan taqlid. Akan tetapi terkadang disebut sebagai taqlid dari sisi majaz dan perluasan bahasa.” Secara istilah : ‫اتباع من ليس قوله حجة‬ “Mengikuti perkataan orang yang perkataannya bukan hujjah. dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan ulama adalah faqih (yang menguasai fiqih) yang dapat menjaga Islam.

” [QS. an-Nahl : 43] Dan hendaknya ia mengikuti orang (yakni ‘ulama. Yang kedua : terjadi pada seorang mujtahid suatu kejadian yang ia harus segera memutuskan suatu masalah. an-Nahl : 43] ُ ْ َ َ ْ ‫فاسأ َلوا ْ أ َهل الذّك ْر إن كنت ُم ل َ ت َعل َمون‬ َ ُ ْ ْ ُ ِ ِ Ayat ini adalah dalam konteks penetapan kerosulan yang merupakan ushuluddin. sedangkan ia tidak bisa melakukan penelitian maka ketika itu ia boleh taqlid. pent) kebenaran dengan dalil-dalinya Maka jika ia memiliki udzur dalam mengetahui kebenaran. Sebagian ‘ulama mensyaratkan untuk bolehnya taqlid : hendaknya masalahnya (yang ditaqlidi) bukan dalam ushuluddin (pokok agama/aqidah. pent) yang ia dapati lebih utama dalam ilmu dan waro’(kehati-hatian)nya. berdasarkan firman Alloh subhanahu wa ta’ala: . Berdasarkan firman Alloh ta’ala : ُ ْ َ َ ْ ‫فاسأ َلوا ْ أ َهل الذّك ْر إن كنت ُم ل َ ت َعل َمون‬ َ ُ ْ ْ ُ ِ ِ “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. pent) yang wajib bagi seseorang untuk meyakininya. karena masalah aqidah wajib untuk diyakini dengan pasti. pent) dengan kemampuannya sendiri.” [QS.TEMPAT-TEMPAT TERJADINYA TAQLID Taqlid dapat terjadi dalam dua tempat : Yang pertama : seorang yang taqlid (muqollid) adalah orang awam yang tidak mampu mengetahui hukum (yakni ber-istimbath dan istidlal. tidaklah tersisa (baginya) kecuali taqlid. dan karena orang awam tidak mampu untuk mengetahui (yakni ber-istimbath dan istidlal. Dan yang rojih (kuat) adalah bahwa yang demikian bukanlah syarat. maka wajib baginya taqlid. dan taqlid hanya memberi faidah dzonn (persangkaan). maka hendaknya ia memilih salah seorang diantara keduanya. berdasarkan keumuman firman Alloh subhanahu wa ta’ala : “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. jika hal ini sama pada dua orang (’ulama).

‫فات ّقوا الل ّه ما است َط َعْت ُم‬ ُ َ ْ ْ َ َ “Bertakwalah kepada Alloh semampu kalian. maka ia adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya. lalu ia melaksanakan yang menyelisihi madzhabnya tanpa taqlid kepada ‘ulama lain yang memberinya fatwa dan tanpa istidlal dengan dalil yang menyelisihinya. pent) orang-orang muta-akhirin memiliki udzur (tidak mampu. 1. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata : “Sesungguhnya dalam pendapat yang mewajibkan taat kepada selain Nabi dalam segala perintah dan larangannya adalah menyelisihi ijma’ dan tentang kebolehannya masih dipertanyakan. bahkan wajib dan al-Imam Ahmad telah menegaskan akan hal tersebut. pent) untuk ber-ijtihad. lalu orang itu rujuk dari satu pendapat ke pendapat lain yang seperti ini maka ini boleh. Taqlid yang umum : seseorang berpegang pada suatu madzhab tertentu yang ia mengambil rukhshoh-rukhshohnya1 dan azimah-azimahnya2 dalam semua urusan agamanya. Dan para ‘ulama telah berbeda pendapat dalam masalah ini. pelaku keharoman tanpa ada udzur syar’i. Adapun jika menjadi jelas baginya apa-apa yang mengharuskan adanya tarjih pendapat yang satu atas yang lainnya. Diantara mereka ada yang berpendapat wajibnya hal tersebut dikarenakan (menurut mereka. yang mana ‘ulama tersebut lebih bertaqwa kepada Alloh terhadap apa-apa yang dikatakannya. dan tanpa udzur syar’i yang menunjukkan halalnya perbuatan yang dilakukannya. baik dengan dalil-dalil yang terperinci jika ia tahu dan memahaminya.” Beliau juga berkata : “Barangsiapa memegang suatu madzhab tertentu. at-Taghobun : 16] JENIS-JENIS TAQLID : Taqlid ada dua jenis : umum dan khusus. dan ini adalah mungkar. atau ia melihat salah seorang ‘ulama yang berpendapat adalah lebih ‘aalim (tahu) tentang masalah tersebut daripada ‘ulama yang lain. diantara mereka ada yang berpendapat haramnya hal tersebut karena apa yang ada padanya dari keharusan yang mutlak dalam mengikuti orang selain Nabi sholallohu alaihi wa sallam. .” [QS.

” [QS. karena manusia tidak berbeda pendapat bahwa ilmu adalah pengetahuan yang dihasilkan dari dalil. dan berfatwa tanpa ilmu adalah harom. dan muqollid bukanlah termasuk ahlul ilmi yang diikuti. Adapun jika tanpa dalil. akan tetapi ia hanya mengikuti orang lain. FATWA SEORANG MUQOLLID (ORANG YANG BERTAQLID): Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuanjika kamu tidak mengetahui. Taqlid yang khusus : seseorang mengambil pendapat tertentu dalam kasus tertentu.2. . maka ini adalah taqlid. • Yang kedua : bahwa hal tersebut boleh dalam masalah yang berkaitan dengan dirinya sendiri. pent) dan kebanyakan (jumhur) Syafi’iyyah.” Ibnul Qoyyim berkata: “Yang demikian sebagaimana dikatakan oleh Abu Umar. dan seseorang tidak boleh taqlid dalam masalah yang ia berfatwa dengannya kepada orang lain. maka ini boleh jika ia lemah/tidak mampu untuk mengetahui yang benar melalui ijtihad. baik ia lemah secara hakiki atau ia mampu tapi dengan kesulitan yang sangat. Ini merupakan pendapat kebanyakan al-Ash`haab (yakni ‘ulama Hanabilah. an-Nahl : 43] َ ْ Dan ahludz dzikr ( َ‫أه‬‫ ) للذ ّكر‬mereka adalah ahlul ilmi. Abu Umar Ibnu Abdil Barr dan yang selainnya berkata: “Manusia telah berijma’ bahwa muqollid tidak terhitung sebagai ahli ilmu.” Kemudian setelah itu Ibnul Qoyyim menyebutkan 3 pendapat tentang bolehnya fatwa dengan taqlid: • Yang pertama: tidak boleh berfatwa dengan taqlid karena taqlid bukanlah ilmu. dan bahwa ilmu adalah mengetahui kebenaran dengan dalilnya.

Selesai perkataannya (Ibnul Qoyyim.com/ajaran_islam/kedudukani_ijtihad.htm .htm) http://www.al-shia.• Yang ketiga : bahwa hal tersebut boleh ketika ada hajat (keperluan) dan tidak adanya seorang ‘aalim mujtahid.org/html/id/service/maqalat/New/Nash%20dan %20Ijtihad.pengobatan. pent). (http://www. pendapat ini merupakan pendapat yang paling benar dan pendapat ini dilakukan.

KATA PENGANTAR .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful