kem raan

partnership

Kinerja Otonomi Khusus Papua
Editor : Agung Djojosoekarto Rudiarto Sumarwono Cucu Suryaman Penulis : Agung Djojosoekarto Drs. JRG. Djopari, MA Prof. Sutriyono, M.Sc. Ph.D Dr. Daniel Lantang, M.Kes Indra Jaya Piliang Drs. Agustinus Fatem, MT Drs. Naffi Sanggenafa, MA Design & Layout : Ashep Ramdhan Katalog Dalam Terbitan Cetakan Pertama, Desember 2008 Kinerja Otonomi Khusus Papua Cet. I - Jakarta: Kemitraan, 2008; 154 hlm. ; 148 x 210mm; ISBN : 978-979-26-9656 Diterbitkan oleh: Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan di Indonesia. Menara Eksekutif , Lt 10 MH. Thamrin Kav. 9 Jakarta 10350 Telp: (+62-21) 3902566 ; 3902626 Fax : (62-21)2302933 ; 2303924 www.kemitraan.or.id

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

1

KINERJA OTONOMI KHUSUS

PAPUA

2

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

DAFTAR ISI
Bagian Kesatu PENDAHULUAN Bagian Kedua KEBIJAKAN UMUM Bagian Ketiga PENDIDIKAN Bagian Keempat KESEHATAN Bagian Kelima MASYARAKAT SIPIL Bagian Keenam INFRASTRUKTUR Bagian Ketujuh EKONOMI KERAKYATAN Bagian Kedelapan SIMPULAN Bagian Kesembilan PEMBELAJARAN 3 28 50 68 89 113 130 135 145

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

3

dan pada saat ini Timor Timur menjadi negara merdeka dengan nama Republik Timor Loro Sae. setelah negara-negara yang anti komunis yang mendukung aneksasi tersebut memaksa Republik Indonesia untuk melepaskan Timor Timur menjadi negara merdeka. Kawasan ini adalah kawasan yang paling akhir2 mendapatkan pengakuan internasional sebagai bagian dari Indonesia setelah Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) menyerahkan Papua ke Republik Indonesia pada tanggal 1 Mei 1963 melalui negosiasi yang berat berhadapan dengan Pemerintah penjajah Belanda. Salah satu indikatornya adalah adanya gejolak disintegrasi di kawasan ini. dan karena kawasan ini telah menjadi negara merdeka. 4 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . yang kemudian merupakan provinsi terakhir di Indonesia tidak dianggap sebagai kawasan yang paling akhir menjadi bagian dari Indonesia karena dua alasan. kawasan yang menjadi bagian dari Indonesia. 2 Timor-Timur. yaitu karena proses integrasinya dilatarbelakangi kepentingan negara-negara besar yang anti-komunis.1. dengan digerakkan oleh berbagai kelompok 1 Yang dimaksud dengan Papua di sini dan seterusnya adalah kawasan Pulau Papua bagian barat. sehingga prosesnya mengandung unsur aneksasi. kemiskinan dan keterbelakangan yang nampak dengan mata telanjang di sisi lain--. Pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dinilai oleh masyarakat Papua sebagai pembangunan yang tidak berhasil.Bagian Pertama PENDAHULUAN 1. Memahami Papua Papua1 adalah salah satu bagian dari Indonesia yang mempunyai ironi paling besar--memiliki kekayaan alam begitu melimpah di satu sisi.

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 5 . Reformasi yang terjadi pada tahun 1998 memberikan ruang baru bagi Papua untuk melakukan exercise model baru pembangunan untuk kawasan ini. termasuk melakukan “pembangkangan politik”4 dalam bentuk gerakan-gerakan yang mendekati arah ke separatisme. Upaya tersebut dijalankan dengan berbagai cara. Papua menjadi kawasan yang paling bergejolak setelah reformasi digulirkan pada tahun 1998. Kekecewaan yang mendalam terhadap perjalanan selama 35 tahun (196331998) menjadi bagian dari Republik Indonesia ditengarai menjadi bagian inti dari gejolak tersebut. Bersama Aceh.separatis. Indikator lain yang memperkuat penilaian tersebut adalah munculnya gerakan besar dari masyarakat Papua untuk menjadikan Papua sebagai kawasan dengan perhatian khusus dari Pemerintah Indonesia. Tidak mengherankan jika Papua menjadi salah satu kawasan yang menjadi perhatian utama dari Pemerintah Jakarta setelah reformasi. 3 PBB secara resmi menyerahkan wilayah Papua kepada Republik Indonesia pada tanggl 1 Mei 1963 4 �pembangkangan� dalam �tanda petik� dirupakan dalam bentuk penentangan-penentangan halus hingga mengarah kepada penciptaan konflik disintegrasi yang berjalan secara terus-menerus sejak reformasi.

Afrika. Pertama. dengan mengakronimkan IRIAN sebagai “Ikut Republik Indonesia Anti Nederland” (Koentjaraningrat. kawasan ini dikenal dengan nama “Papua”. Selain itu terdapat pula kolektifkolektif lain yang mengatur hak ulayatnya melalui keluarga inti atau hak individu. Indonesia: Studi Perbandingan.T. kini menjadi Papua Nieuw Guinea. menggunakan penamaan dari seorang pelaut Spanyol.R. Nama “Irian” diperkenalkan pada Konferensi Malino pada tahun 1946. Presiden Soekarno menjadi penganjur utama penggunaan nama Irian. ekologi rawa. kawasan yang berupa bagian barat dari Pulau Papua –karena sebelah timur adalah Negara Papua New Guinea—bernama Irian Jaya. sebuah nama yang dipilih oleh Pemerintah Indonesia setelah kawasan ini resmi menjadi bagian dari Republik Indonesia pada 1 Mei 1962.Sebelum reformasi. Dinamakan “Nieuw Guinea” karena penduduk yang ditemui berwarna hitam. Ciri-ciri fisiologi Tanah Papua yang beragam menyebabkan diferensiasi sistem mata pencaharian. kata “papua” berasal dari kata dalam bahasa Melayu kuno “pua-pua”. Papua mempunyai kondisi sosial-budaya-politik yang khas. yang berarti “keriting”. 1994: 88). Leiden University. Mansoben5 mencatat bahwa keanekaragaman orang Papua bertalian erat dengan pola adaptasi sosio-ekonomi penduduk pada zona ekologi utama. Nama “Papua” pada awalnya dipergunakan oleh pelaut Portugis Antonio d’Arbrau. Walker dan J. Sebelum diberi nama “Irian Jaya”. yang mendarat di pulau ini pada tahun 1521. Versi lain dari penamaan papua adalah dari Papua bagian Timur. seperti penduduk di Pantai Guinea. 1994 6 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . kata itu berarti “sinar matahari menghalau kabut di laut”. Di antara masyarakat Papua terdapat kolektif-kolektif etnik yang mengatur sistem hak ulatnya melalui klan (merupakan hak komunal). Dalam bahasa Biak. melalui negosiasi yang alot dan sengit di forum Internasional (Bachtiar. Sistem Politik Tradisonal di Irian Jaya. Setidaknya ada empat zona ekologi utama. Sebutan “Nieuw Guinea” digunakan oleh para pelaut Belanda. Diperkirakan. M. Ynigo Ortiz de Retes. 1994: 3-5). yang mengunjungi kawasan utara pulau ini pada tahun 1545. Sifat kemajemukan penduduk Papua juga dapat dilihat dari prinsip hak ulayat tanah. perkembangan struktur sosial masyarakat juga turut dipengaruhi oleh proses-proses adaptasi manusia terhadap lingkungan alam. 5 Dikutip Johsz R Mansoben.hD Thesis. Bukan hanya itu. P. Nama ini kemudian dipakai oleh Antonio Pigafetta yang ikut dalam pelayaran dengan Ferdinand Magellan mengelilingi bumi.

penduduk hidup dalam keluarga-keluarga inti kecil yang amat bersifat individualis. keluarga mempunyai fungsi produktif. dengan aktifitas produksinya meramu sagu. van Baal mencermati bahwa ekologi muara. Tidak mengherankan jika ritual ini menyedot konsumsi besar untuk keperluan pesta adat. masyarakat hidup dalam rumahrumah besar dalam hubungan keluarga yang luas. kaki gunung dan lembah-lembah kecil. Mekanisme hierarki internal suku terbentuk berdasar pola pembagian kerja dan adanya ritual tertentu. kedua. mendorong mereka untuk berdagang. Semakin kompleks inovasi teknologi dan sistem pembagian kerja. maka aspek budaya lain seperti organisasi sosial dan sistem ideologi (ritual agama) juga kian rumit. Tipe ini menghasilkan ikatan horisontal yang kuat. Kompleksitas sistem ritus dan keagaman yang berbeda ini dipengaruhi oleh lingkungan alam yang berbeda6. ketiga. gabungan klan. Di zona ekologi pegunungan tengah. Aktifitas perang lantas menjadi bagian dari persaingan produksi. Lebih jauh. dan muara sungai. dataran pantai. untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. di sisi lain keluarga merupakan identitas untuk sarana reproduksi kekuasaan. misalnya. kepulauan dan pesisir pantai. Kedua tipe ini menghasilkan relasi yang berbeda sehingga berpengaruh terhadap ikatan kolektif yang terbentuk. dan keempat pegunungan tinggi. Karena wilayah pesisir dan kepulauan relatif sulit dijadikan lahan pertanian. Lebih jauh untuk 6 Baal (1954) dikutip dalam Mansoben. Pada zona ekologi muara sungai. Lingkungan ekologi yang berpengaruh terhadap pola-pola adaptasi tercermin dalam sistem mata pencaharian hidup meliputi teknologi dan sistem pembagian kerja. dan federasi yang kompleks. dengan jaringan luas dari sistem klan. Dua hal yang penting untuk dilihat adalah mekanisme penurunan kekuasaan dan sistem politik yang terbentuk. pada umumnya menyelenggarakan upacara keagamaan jauh lebih meriah dibanding dengan penduduk yang menggantungkan dirinya dari bertani umbi-umbian. Kebutuhan pesta adat inilah yang di kemudian hari memberikan porsi bagi munculnya pola patron-klien dimana patron merupakan pihak yang mensponsori pesta. ibid. Contoh penduduk yang menganut pola ini adalah suku Dani. Di sinilah kemudian makna keluarga mendapat tempat dalam struktur hierarki masyarakat. sedangkan perkawinan sebagai sarana reproduksi kekuasaan.daerah pantai. Di satu sisi. Antroplog J. Contoh masyarakat ini adalah penduduk pantai utara. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 7 .

yaitu: pertama. dan sifat murah hati. Di samping itu. 7 Kedua. suku di Semananjung Onin. Masyarakat adat yang menerapkan sistem ini adalah suku Dani. ekonomi dan agama antar-desa. di suku Dani mengenal empat kesatuan wilayah. bertubuh besar dan tegap. kepandaian berdiplomasi dan pidato. Di kerajaan Raja Ampat. keberhasilan dalam mendistribusikan kekayaan. sistem pria berwibawa. dan daerah Kaimana. makin besar peluang untuk menjadi pemimpin di tingkat yang lebih tinggi. hanya wilayahnya lintas okul. dan suku Muyu. Pesta babi adalah ritual penting bagi suku Dani karena merupakan media untuk memperkuat solidaritas kesatuan sosial kelompok. Teluk Berau. keberanian memimpin perang. wilayah bertetangga (ap-logalek). gabungan kompleks (o-ukul. 8 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Masyarakat pendukung sistem ini meliputi kepulauan Raja Ampat. Pemimpin ap-logalek memiliki wewenang yang hampir sama dengan okul. Dewan adat 7 Ibid. Sistem ini sudah mengenal pembagian fungsi dalam melaksanakan kekuasaan dengan berbasis pada teritori. struktur organisasi terdiri dari dua bentuk. Masing-masing kesatuan wilayah dipimpin oleh seorang kain. yakni kompleks (uma).memahami pola dan keteraturan macam apa yang mendasari hierarki kekuasaan dalam suatu suku. terdapat pula dewan adat yang diketuai raja dengan anggota terdiri dari kepala klan kecil. Wewenang dan kekuasaan terpenting dari kain pada tingkat uma adalah mengatur pemanfaatan tanah milik uma. Sistem ini bercirikan bahwa kedudukan pemimpin diperoleh melalui pencapaian individu yang bersumber pada kemampuan individual. Pewarisan bersifat senioritas baik dilihat dari urutan kelahiran maupun klan. kekuasaan dijalankan oleh satu orang serta tidak mengenal organisasi kerja dan pembagian kerja. Mansoben mengidentifikasi empat sistem politik tradisional. setara dengan desa). Walau sistem organisasi kerja tidak ada. Pusat orientasi kekuasaannya adalah perdagangan. Sedangkan wewenang dan kekuasaan kain tingkat o-ukul adalah mengatur masalah-masalah penting yang menyangkut kehidupan politik. Semakin menonjol peran kain di tingkatan itu. suku Meybrat. Ciri utama sistem ini adalah pola kepemimpinan yang bersumber pada pewarisan kedudukan pemimpin. dan konfederasi. Oleh karena itu keputusan yang diambil oleh pemimpin selalu dianggap benar dari segi kepentingan umum. Dalam sistem ini. sistem politik kerajaan. Karena banyak dipengaruhi oleh kerajaan di Maluku. prinsipprinsip organisasi sudah menampilkan struktur mapan dengan wewenang dan kewajiban yang ketat dan tersentralisasi. suku Me. Sementara pemimpin konfederasi hanya berwenang dalam memimpin perang dan mensponsori penyelenggaraan pesta babi. suku Asmat. yaitu struktur organisasi pusat dengan seorang raja yang dibantu 5 orang. Sistem upeti dan pemungutan pajak sudah dikenal dalam masyarakat ini.

di kampung juga dibentuk satu dewan adat (yonow) sebagai tempat membicarakan semua urusan dan persoalan penting yang menyangkut kehidupan kampungnya. suku Yaona. raja mengangkat seorang pembantu yang diberi gelar marinpnu untuk meneruskan perintah raja yang berkaitan dengan penarikan upeti dan pemungutan pajak pada rakyat di wilayahnya. dan mengatur pemanfaatan sumber daya alam bagi warganya.9 8 ibid 9 ibid KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 9 . dan bidang ketertiban. Organisasi di tingkat kampung sudah memiliki empat fungsi yang jelas dengan empat bidang utama. Tingkat di atas klan kecil adalah kampung yang merupakan gabungan sejumlah klan kecil. Wewenang utama hu ondoafi adalah memimpin perang antar konfederasi dan memimpin upacara inisiasi bagi pemuda kampungnya. Pemimpinnya disebut ondoafi. Pusat orientasi kekuasaanya adalah religi. Seperti halnya suku Dani. Sistem kepemimpinan ini mengenal suatu organisasi terdiri dari seorang kepala. Bentuk kedua adalah organisasi di tingkat daerah. Di samping itu. bidang kemakmuran. Tugas Khoselo adalah bertindak sebagai hakim untuk mengurus dan memutuskan perkara-perkara yang menyangkut warganya. mengurus perkawinan. suku Genyem (Nimboran). suku di Teluk Yos Sudarso. Para fungsionaris yang membidangi empat fungsi tersebut biasanya diambil dari khosole. Ciri utama kepemimpinan sistem ini adalah melalui pewarisan kedudukan. bidang keamanan.8 Ketiga. Pada tiap kampung (pnu) di daerah. sistem ini hanya terbatas pada satu golongan atau klan saja. Pendukung sistem ini adalah suku Sentani. suku Tabla. air. Pemimpinnya disebut Hu Ondoafi yang bertempat di kampung asal moyang pertama yang sekaligus berperan sebagai pusat persebaran bagi kampung-kampung lain dalam konfederasi. Berbeda dengan sistem kerajaan yang berdasar pada wilayah teritori. dan sejumlah pembantu dengan pembagian tugas yang jelas. dan suku Arso-Waris. Ondoafi mempunyai hak atas semua sumber-sumber hidup (tanah. yaitu bidang religi. dan hutan) dalam lingkungan kekuasaannya yang disebut phuke khelahe. Tingkat di atas kampung adalah konfederasi atau gabungan kampung dengan syarat mempunyai latar asal-usul moyang yang sama. memimpin upacara adat. suku Yakari-Skao.berfungsi merundingkan dan memutuskan secara musyawarah persoalan yang berkaitan dengan pemilihan pemimpin baru. sistem ini pun mengenal tingkatan organisasi. yakni klan kecil dengan pemimpin yang disebut khoselo dengan dibantu dua pembantu pelaksana ritus (abu-akho) dan bendahara (akhona-fafa). sistem politik ondoafi atau kepala suku.

Dan melalui pencapaian jika terjadi situasi tertentu yang menuntut penampilan pemimpin untuk menjawab tantangan tersebut.1 Tipologi Sistem Politik Masyarakat Adat di Papua No Sistem Politik Tipe Ekologi Corak Produksi • Pertanian konvensional. Waropen. dan Maya). mananwir mnu membuat keputusan berdasarkan keputusan bersama. Yawa. Dengan adanya keempat sistem ini. belum ada pembagian kerja dan birokrasi • mengenal hierarki wilayah 1. di suku Biak dan suku Waropen mengenal pula hierarki model sistem ondoafi dengan hierarki tertinggi berada di kampung. Jadi. Pendukung sistem ini adalah suku-suku di Teluk Cendarwasih (Biak. Situasi bisa berupa peperangan. Di Biak pemimpinnya disebut mananwir. Tabel 1. perangkat-perangkat semacam eksekutif. Wandamen. suku Me. Mekanisme pewarisan dilaksanakan jika situasi dalam keadaan tenang. bisa dikatakan bahwa suku-suku di Papua memiliki persyaratan dari sebuah negara yang sifatnya struktural fungsional dalam artian pemerintahan yang berdasar pada teritori tertentu yang efektif. dll. Walau kental dengan nuansa hubungan darah dan kekerabatan. sebagai unit yang otonom. Berbeda dengan sistem kerajaan dan ondoafi. Pada soal-soal tertentu mananwir akan mengkoordinasikan kepalakepala klan kecil (keret) dengan tokoh masyarakat untuk membuat keputusan yang menyangkut kepentingan kampung lewat lembaga yang disebut kainkain karkara mnu. Ciri sistem campuran adalah kedudukan pemimpin diperoleh melalui pewarisan dan pencapaian. suku Meybrat. dalam sistem campuran ini tidak mengenal birokrasi. legislatif dan yudikatif berlaku efektif dan menjadi kesatuan yang dipatuhi oleh seluruh anggota suku. dan suku Muyu Pegunungan Tinggi 10 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Walau tidak mengenal birokrasi. terutama umbi-umbian dan sayuran • Kegiataan ekstraksi (meramu) dan berburu • Mengenal peternakan sederhana Sistem Pemerintahan • Kepemimpinan diperoleh melalui pencapaian individu pada kemampuan individual • one man show. Pria berwibawa: Suku Dani. suku Asmat. bencana alam.Keempat. sistem kepemimpinan campuran.

dan muara sungai • Berladang dan menangkap ikan • berdagang Selain itu. dan mekanisme mengukuhkan pemimpin (lewat perang. Ketiga. Kedua. macam-macam prioritas dalam dimensi sosioekonomis masyarakat ulayat. tersentral • prinsip-prinsip organisasi menampilkan struktur mapan dengan wewenang dan kewajiban yang ketat dan tersentralisasi • kepemimpinan diperoleh melalui sistem pewarisan • mengenal hierarki wilayah berdasar klan • Pusat orientasi kekuasaanya adalah religi • Sudah ada pelembagaan dengan struktur yang sederhana • Kepemimpinan diperoleh melalui pewarisan dan pencapaian • tidak ada birokrasi • mengenal hierarki wilayah 2. ini akan berlanjut pada hal-hal yang dimonopoli dan atau dipersaingkan. atau KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 11 . konsekuensi hukum adat yang berlaku. terutama pola relasi antara pemimpin dengan masyarakatnya. daerah pantai. suku Yaona.Sistem Kerajaan: Suku di kepulauan Raja Ampat. setidaknya memberikan catatan bagi pengambil kebijakan di Papua untuk memperhatikan. Teluk Berau. suku Tabla. ritus agama. Sistem Ondoafi: suku Sentani. suku Genyem (Nimboran). pengetahuan tentang ekologi dan sistem kepemimpinan dari tipe yang ada. reproduksi kekuasaan melalui perkawinan. Yawa. dan daerah Kaimana • kepemimpinan melalui sistem pewarisan • mengenal hierarki wilayah berdasarkan teritorial. suku Yakari-Skao. suku di Semananjung Onin. Keempat. Wandamen. dan Maya) Lembah dan kaki gunung kecil • Kegiataan ekstraksi (meramu) dan menangkap ikan • Berladang • Mengenal beternak sederhana 4. dan suku ArsoWaris Sistem campuran: suku-suku di Teluk Cendarwasih (Biak. Dataran pantai Berdagang 3. rawa. dimensi sosio-politik pemimpin suku atas persoalan yang berada pada lingkup tanah ulayatnya. Waropen. bukan mengikat individu tapi mencakup keseluruhan komunal atau klan. apabila dilanggar. suku di Teluk Yos Sudarso. terutama: pertama.

6. Papua dan Indonesia Wilayah kekuasaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). atau sekitar 20% dari luas daratan Indonesia. Provinsi ini berbatasan di sebelah timur dengan negara Papua Nieuw Guinea. di sebelah selatan Laut Arafura. 2. maka kebijakan pembangunan di wilayah ini berbeda dengan wilayah lain yang berimplikasi luas dalam aspek pembangunan sosial. Berdasarkan nota kesepakatan antara pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Belanda pada Konferensi Meja Bundar (KMB). 12 Tahun 1969 dan UU No.untuk merebut kembali wilayah Irian Barat (Papua sekarang). 4. 13. 45 Tahun 1999.kecakapan tertentu) yang melibatkan sumber daya dalam hal upacara adat yang memerlukan biaya besar. 3. mempunyai luas wilayah 317. Namun nota kesepakatan itu diingkari oleh pihak Kerajaan Belanda yang memunculkan reaksi dari pemerintah Indonesia pada tahun 1963 dengan melahirkan kebijakan melalui Komando Mobilisasi Umum. 8. 1. Provinsi Papua terdiri dari 19 Kabupaten dan Kota. 10. 5. secara de jure mencakup seluruh wilayah bekas jajahan Kerajaan Hindia Belanda. Provinsi Papua yang didirikan dengan dasar hukum UU No. 9. 14.062 km2.2. Dengan latar seperti itu. 7. Wilayah Irian Barat akhirnya terintegrasi ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia pada bulan Mei 1963. Kabupaten Asmat Kabupaten Biak Numfor Kabupaten Boven Digoel Kabupaten Jayapura Kabupaten Jayawijaya Kabupaten Keerom Kabupaten Mappi Kabupaten Merauke Kabupaten Mimika Kabupaten Nabire Kabupaten Paniai Kabupaten Pegunungan Bintang Kabupaten Puncak Jaya Kabupaten Sarmi 12 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . 12. maka wilayah Irian Barat (Papua sekarang) akan diserahkan kemudian. 11. ketika diproklamirkan kemerdekannya pada tanggal 17 Agustus 1945. -yang terkenal dengan sebutan Tiga Komando Rakyat (Trikora). yaitu 1. ekonomi dan politik.

dan kepulauan. pantai.5 milyar ton bahan tambang emas & tembaga (konsesi Freeport saja). yang ternyata telah menggiring eksistensi masyarakat Papua ke dalam situasi enclave. Itupun masih sangat bersifat sporadis. dan 9 juta ha hutan konversi untuk KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 13 . Berbarengan dengan itu. Praktis. diperburuk oleh pola anutan sentralistik di bawah pengaruh kekuasaan Orde Baru. yakni. dan kaki gunung. dan pelayanan jasa kemasyarakatan. dengan kondisi topografis yang sulit diakses oleh pelayanan pembangunan. pemerintahan. setelah merasa dikecewakan dalam peristiwa Pepera Tahun 1969. belum sempat terencana secara matang seperti yang telah dilakukan di provinsi lainnya dengan format REPELITA-GBHN. 19. proses pembangunan oleh Pemerintah Indonesia di Tanah Papua baru efektif dimulai pada awal tahun 1980an. dan perbatasan negara. pedalaman. 16. 17. Meskipun merupakan kawasan yang secara kategori pembangunan disebut terbelakang. Terlambatnya mengawali proses pembangunan tersebut lebih disebabkan oleh kesibukan Pemerintah dalam hal penyelesaian masalah politik kembalinya Irian Barat ke Pangkuan Ibu Pertiwi. Kabupaten Talikara Kabupaten Waropen Kabupaten Yakuhimo Kabupaten Yapen Waropen Kota Jayapura Provinsi Papua ditandai oleh tiga ekologi wilayah utama. dataran rendah. (2) ekologi wilayah pesisir. Desakan untuk menggunakan kembali nama “Papua” berangkat dari kekecewaan elit politik lokal karena selama 36 tahun (1962-1998) menjadi bagian dari Indonesia di bawah tatanan Orde Lama (1945-1965) dan Orde Baru (1966-1998). 540 juta m3 potensi lestari kayu komersial. Sekitar 70% penduduk asli Papua bertempat tinggal di kampung-kampung yang terpencil. (1) ekologi wilayah rawa-rawa. 18. akselerasi pertumbuhan yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia tidak dapat diimbangi oleh kemajuan pembangunan di Tanah Papua Kondisi ini. namun Papua memiliki kekayaan alam yang melimpah. dan (3) ekologi wilayah pegunungan tinggi. hal ini menjadi motif utama bagi munculnya ketidakpuasan yang menyuburkan intensitas pergerakan kemerdekaan politik bagi sebagian komponen masyarakat.15. pulau-pulau kecil. Pada dasarnya. Ada proven deposit 2. kawasan ini tetap menjadi kawasan terbelakang dan semakin tertinggal dibanding kawasan lain.

pembangunan perkebunan skala besar. Panjang pantai wilayah ini mencapai 2.000 mil, luas perairan 228.000 km2, dengan tidak kurang dari 1,3 juta ton potensi lestari perikanan per tahun. Namun demikian, di balik semua keberlimpahan tersebut, Papua juga dikenal sebagai provinsi dengan jumlah masyarakat miskin terbanyak. Dibanding daerah-daerah lain di Indonesia, kawasan ini tetap menjadi kawasan paling terbelakang dan paling miskin, tidak berbeda dengan posisinya pada saat bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1963. Papua merupakan provinsi yang paling terbelakang di Indonesia. Pada tahun 1997 –sebelum krisis-- tingkat kemiskinan Papua dilaporkan di atas 50%, sementara rerata tingkat kemiskinan nasional telah mendekati 14%. Papua menjadi provinsi dengan populasi miskin terbesar di Indinesia. Pada tahun 1999 dilaporkan persentase penduduk miskin Papua adalah 54,75%, yang menjadikan Papua tetap sebagai provinsi dengan populasi miskin terbesar, disusul Nusa Tenggara Timur 46,73%, dan Maluku 46,14%. Tahun 2000, persentase kemiskinan menurun menjadi 41,80%, tetapi masih yang terbesar di Indonesia, disusul Maluku 46,14%,dan Nusa Tenggara Timur 36,52%. Kemiskinan dan keterbelakangan yang mendalam di Papua, sudah pada tempatnya, diakui sebagai kegagalan pendekatan pembangunan Papua selama masa Orde Baru. Dibanding kawasan Indonesia lainnya, Papua merupakan kawasan dengan kondisi keterbelakangan yang paling tinggi. Kondisi keterbelakangan ini, secara internal, disebabkan lima hal utama, yaitu bahwa pada saat menjadi bagian dari Indonesia: 1. sebagian besar masyarakat Papua hidup dalam kondisi keterbelakangan, atau dalam bahasa akademis disebut keprimitifan; 2. tidak terdapat infrastruktur fisik, dalam arti transportasi dan telekomunikasi, yang memadai, bahkan pada tingkat paling minimal; 3. rendahnya tingkat kesejahteraan dan kesehatan karena rendahnya tingkat pendidikan; 4. rendahnya kemampuan dari sumberdaya manusia di kawasan ini untuk dapat secara langsung masuk ke dalam “mesin” pembangunan yang berjalan dengan “mode” masyarakat dengan kondisi seperti di Jawa dan kawasan lain yang lebih maju dari Papua; 5. rendahnya kemampuan dari sumberdaya manusia di jajaran elit lokal untuk menjadi bagian dari sistem kepemerintahan modern.

14

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

Simpulan yang dapat diambil adalah meskipun keputusan politik penyatuan Papua menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia pada hakikatnya mengandung cita-cita luhur yaitu membangun rakyat di Papua (Barat) menjadi masyarakat modern dan makmur, kenyataan yang terjadi masih jauh dari harapan. Paling tidak, dua hal mendasar yang mendesakkan keinginan untuk memperoleh Otonomi khusus sebagai salah satu varian konsep desentralisasi yang dikenal dengan desentralisasi asimetris (asymmetrical decentralization), sebagai “pilihan antara” atas pilihan biner yang ada. Pertama, pendekatan dalam kebijakan pembangunan Papua (atau Irian Jaya, pada saat itu) selama masa Orde Baru lebih ditentukan oleh Pusat daripada aspirasi setempat. Pendekatan ini biasanya disebut sebagai “pendekatan sentralistik”. Sebuah pendekatan yang dinilai lazim pada awal tahun 1970n hingga 1980an, di mana Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang “membangun”, di dalam arti sedang melakukan “perubahan sosial yang dipercepat”, yang memerlukan pola yang “satu ide, satu komando”, atau perencanaan dan pengendalian pembangunan yang terpusat. Terlepas dari upaya dari Pemerintah Pusat untuk melakukan pemahaman permasalahan pembangunan di tingkat lokal, namun kebijakan pembangunan di Papua lebih banyak ditentukan oleh Pemerintah Pusat, sebagaimana kebijakan pembangunan di daerah-daerah di Indonesia pada umumnya. Selain berasal dari paradigma pembangunan yang ada dan diyakini pada saat itu, pendekatan yang sentralistik juga didukung oleh elit politik di tingkat nasional dan elit politik Papua yang berkepentingan dengan pemusatan kebijakan pembangunan Papua di Jakarta. Pendekatan pembangunan yang dijalankan, yang berpola sentralistik tidak cukup berhasil membuat Papua menjadi kawasan yang maju dan makmur. Kemakmuran cenderung lebih dinikmati perusahaan-perusahaan multinasional dan nasional yang beroperasi di Papua, yang melakukan eksploitasi alam, dan para pendatang dari luar Papua. Kedua, momentum reformasi di Indonesia memberi peluang bagi timbulnya pemikiran dan kesadaran baru untuk menyelesaikan berbagai permasalahan besar bangsa Indonesia dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Sehubungan dengan itu, Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) menetapkan perlunya pemberian status Otonomi Khusus kepada Provinsi Irian Jaya sebagaimana diamanatkan dalam Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara Tahun 1999-2004 Bab IV huruf (g) angka 2. Dalam Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah, yang antara lain menekankan tentang pentingnya segera merealisasikan Otonomi Khusus

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

15

tersebut melalui penetapan suatu undang-undang otonomi khusus bagi Provinsi Irian Jaya dengan memperhatikan aspirasi masyarakat. Hal ini merupakan suatu langkah awal yang positif dalam rangka membangun kepercayaan rakyat kepada Pemerintah, sekaligus merupakan langkah strategis untuk meletakkan kerangka dasar yang kokoh bagi berbagai upaya yang perlu dilakukan demi tuntasnya penyelesaian masalah-masalah di Provinsi Papua. Dapat disimpulkan, pembangunan Irian Jaya dipersepsikan oleh masyarakat lokal belum sesuai dengan keinginan dan aspirasinya, karena dibanding seluruh provinsi di Indonesia, Irian Jaya merupakan kawasan yang paling tertinggal dari berbagai sisi pembangunan. Ironisnya, Irian Jaya merupakan salah satu kawasan Indonesia yang memberikan sumbangan pendapatan nasional yang tinggi, terutama dari hasil eksploitasi pertambangan. 1.3. Papua dan Reformasi Indonesia Krisis ekonomi yang dialami Indonesia pada tahun 1998 mendorong lahirnya gerakan reformasi yang merubah peta politik, sosial, dan ekonomi nasional. Momentum perubahan besar ini dipergunakan oleh masyarakat dan elit di Irian Jaya bagi reformasi hubungan Pusat-Irian Jaya, dengan tujuan meletakkan Irian Jaya sebagai sebuah daerah yang mendapatkan prioritas pembangunan yang sama besar dengan daerah lain di Indonesia. Berbeda dengan gerakan sebelumnya yang bersifat separatis seperti gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM), maka gerakan rakyat dan elit Irian Jaya mengarah kepada dua isu, yaitu (1) penggantian nama Irian Jaya, dan (2) perlakuan khusus dalam kebijakan otonomi daerah yang diberikan Pusat kepada Irian Jaya. Momentum pertama diperoleh pada tahun 2000. Presiden Abdurrahman Wahid memberikan dukungannya untuk merubah nama Irian Jaya menjadi Papua, sebagaimana aspirasi lokal yang disampaikan ke Pusat. Perubahan nama Irian Jaya menjadi Papua ini tertuang dalam Keputusan DPRD Provinsi Irian Jaya Nomor 7/DPRD/2000 tanggal 16 Agustus 2000 tentang Pengembalian Nama Irian Jaya Menjadi Papua. Perubahan nama ini merupakan instrumen penting untuk mendorong perlakuan khusus Papua sebagai daerah otonom. Pada tahun 2000-2001, delegasi Papua memperjuangkan adanya kebijakan “otonomi khusus” bagi Papua. Setelah melalui pengkajian yang komprehensif dan melibatkan berbagai fihak yang terkait, maka Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dan Presiden memberikan persetujuan untuk

16

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

atau disebut sebagai bagian “Kepala Burung”. terjadi perubahan signifikan. yaitu pemekaran provinsi Papua menjadi dua: Provinsi Papua. Presiden Megawati. desakan integrasi semakin menguat dan memuncak pada Kongres Papua II di Jayapura tanggal 29 Mei – 3 Juni 2000. yang merupakan Papua bagian barat. 21 Tahun 2001 tanggal 21 November 2001 tentang otonomi khusus. UU Otsus merupakan hasil tawar-menawar antara rakyat Papua dengan Pemerintah RI tanggal 26 Februari 1999 di Istana Negara ketika 100 delegasi resmi. dan pemberian ijin untuk mempergunakan bendera Bintang Kejora sebagai bendera provinsi. merespon tuntutan merdeka untuk Papua dengan menandatangani UU No. 1 Tahun 2003 yang membagi Provinsi Papua menjadi dua: Papua dan Irian Jaya Barat. win-win solution antara rakyat Papua yang berkeinginan terlepas dari NKRI serta Pemerintah RI yang kokoh-teguh mempertahankan kedaulatan NKRI. yang berada di timur. Desakan ini akhirnya mendapatkan “angin segar” ketika Presiden Abdurrahman Wahid memberikan dukungan untuk menggunakan kembali nama Papua sebagai ganti Irian Jaya. Presiden Megawati menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) No. Papua Barat dan Papua Tengah. dalam bentuk UU No. dan Provinsi Irian Jaya Barat. yang menggantikan Presiden Abdurrahman Wahid pada tahun 2001.menerbitkan kebijakan Otonomi Khusus (Otsus). Undang-Undang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua Nomor 21 tahun 2001 merupakan pengakuan Pemerintah RI untuk melindungi hak ulayat orang Papua akan tanah. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Namun Presiden Habibie tidak memberikan dukungan kepada pemintaan tersebut. air. menemui Presiden BJ Habibie. berkembang wacana untuk membagi Papua menjadi dua provinsi baru. Pada tahun 2003. Pada tahun 2000. yang mewakili elemen di Papua dengan dipimpin Thomas Beanal. Sebuah prasyarat untuk mengangkat orang Papua dari ketertinggalan dibanding saudaranya di kawasan tengah dan timur. Lahirnya undang-undang tentang otonomi khusus ini dapat dilihat sebagai penyelesaian konflik. yang ditandatangani oleh Presiden Megawati pada tanggal 21 November 2001. Pada tahun 2003. melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. dan kekayaan Papua. Sebuah KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 17 . Pada saat ini. 1 Tahun 2003.

yang diberi status Otonomi Khusus. Kota Jayapura. 1. mulai dari dataran rendah yang ber-rawa sampai dengan pegunungan yang puncaknya diselimuti salju. Kabupaten Sorong. masalah Papua hanya terselesaikan melalui kompromi dengan didasarkan pada nilai-nilai dasar yang mencakup perlindungan dan penghargaan terhadap rakyat Papua. yang merupakan bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kabupaten Merauke.4. presiden terpilih pada Pemilu 2004. Kewenangan yang lebih luas berarti pula tanggung jawab yang lebih besar bagi Provinsi dan rakyat Papua untuk menyelenggarakan pemerintahan dan mengatur pemanfaatan kekayaan alam di Provinsi Papua untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat Papua sebagai bagian dari rakyat Indonesia sesuai dengan 18 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . maka yang dimaksud Provinsi Papua adalah Provinsi yang sebelumnya bernama Irian Jaya. Kabupaten Manokwari.eksekusi dari wacana yang berkembang pada tahun 1999. Dengan demikian. Karenanya. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. yaitu: Kabupaten Jayapura. Presiden Yudhoyono mendukung kebijakan Otsus. yang pada saat dirumuskannya beliau menjadi Menteri Koordinator Politik dan Keamanan. Kabupaten Paniai. Provinsi Papua memiliki luas kurang lebih 421. Kabupaten Mimika. mengembangkan pemahaman bahwa membangun Papua harus komprehensif. Kabupaten Jayawijaya. Wilayah Provinsi Papua berbatasan di sebelah utara dengan Samudera Pasifik. Kabupaten Puncak Jaya. Kabupaten Biak Numfor. dan di sebelah timur dengan Negara Papua New Guinea. yang memiliki keragaman suku dan lebih dari 250 bahasa daerah serta dihuni juga oleh suku-suku lain di Indonesia. dan bermartabat. dan menjadi salah satu pemikir utama kebijakan otsus bagi Papua. demokratis. di sebelah barat dengan Provinsi Maluku dan Maluku Utara. Papua dan UU Otsus Sebagaimana dikemukakan pada UU No. Kabupaten Nabire. Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua pada dasarnya adalah pemberian kewenangan yang lebih luas bagi Provinsi dan rakyat Papua untuk mengatur dan mengurus diri sendiri di dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.981 km2 dengan topografi yang bervariasi. Kabupaten Fakfak. Otonomi khusus untuk Papua menjadi fakta bagi sketsa baru dari tata hubungan pusat-deerah pasca reformasi. Kabupaten Yapen Waropen. di sebelah selatan dengan Provinsi Maluku dan Laut Arafura. Wilayah Provinsi Papua pada saat ini terdiri atas 12 Kabupaten dan dua Kota. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. dan Kota Sorong.

adat. tugas. lambang daerah dalam bentuk bendera daerah dan lagu daerah sebagai bentuk aktualisasi jati diri rakyat Papua dan pengakuan terhadap eksistensi hak ulayat.  mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik yang berciri: a) partisipasi rakyat sebesar-besarnya dalam perencanaan. masyarakat adat. menentukan strategi pembangunan dengan tetap menghargai kesetaraan dan keragaman kehidupan masyarakat Papua.peraturan perundang-undangan. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 19 . agama.  pengakuan dan penghormatan hak-hak dasar orang asli Papua serta pemberdayaannya secara strategis dan mendasar. Hal-hal mendasar yang menjadi isi Undang-Undang ini adalah:  pengaturan kewenangan antara Pemerintah dengan Pemerintah Provinsi Papua serta penerapan kewenangan tersebut di Provinsi Papua yang dilakukan dengan kekhususan. Kewenangan ini berarti pula kewenangan untuk memberdayakan potensi sosial-budaya dan perekonomian masyarakat Papua. dan tanggung jawab yang tegas dan jelas antara badan legislatif. berkeadilan dan bermanfaat langsung bagi masyarakat. dan hukum adat. pembangunan berkelanjutan. dan yudikatif. dan kaum perempuan. melestarikan budaya serta lingkungan alam Papua. serta Majelis Rakyat Papua (MRP) sebagai representasi kultural penduduk asli Papua yang diberikan kewenangan tertentu. c) penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan yang transparan dan bertanggungjawab kepada masyarakat. dan kaum perempuan. termasuk memberikan peran yang memadai bagi orang-orang asli Papua melalui para wakil adat. Peran yang dilakukan adalah ikut serta merumuskan kebijakan daerah. agama.  pembagian wewenang. b) pelaksanaan pembangunan yang diarahkan sebesar-besarnya untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk asli Papua pada khususnya dan penduduk Provinsi Papua pada umumnya dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip pelestarian lingkungan. pelaksanaan dan pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan serta pelaksanaan pembangunan melalui keikutsertaan para wakil adat. yang tercermin melalui perubahan nama Irian Jaya menjadi Papua. eksekutif.

yang memiliki keragaman kebudayaan. Dalam agenda ini dipahami bahwa masyarakat Papua memiliki hak untuk menikmati hasil pembangunan secara wajar. Undang-Undang ini menempatkan orang asli Papua dan penduduk Papua pada umumnya sebagai subjek utama pembangunan. percepatan pembangunan ekonomi. yaitu berkenaan dengan cita-cita dan tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tertuang dalam konstitusi UUD 1945. antara lain dengan pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. belum sepenuhnya mendukung terwujudnya penegakan hukum. sejarah. dalam rangka kesetaraan dan keseimbangan dengan kemajuan provinsi lain. Dari sisi politik. Pembentukan komisi ini dimaksudkan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang terjadi di masa lalu dengan tujuan memantapkan persatuan dan kesatuan nasional Indonesia di Provinsi Papua. Keberadaan Pemerintah. Pada UU No. melalui penetapan daerah Otonomi Khusus. maka kebijakan otonomi khusus dapat diberikan. serta perangkat di bawahnya. peningkatan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat Papua. Dengan melihat bahwa penduduk asli di Provinsi Papua adalah salah satu rumpun dari ras Melanesia yang merupakan bagian dari suku-suku bangsa di Indonesia. Undang-Undang ini juga mengandung semangat penyelesaian masalah dan rekonsiliasi. penghormatan terhadap HAM. sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut UndangUndang Dasar 1945 mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dalam undangundang. semua diarahkan untuk memberikan pelayanan terbaik dan pemberdayaan rakyat. Pemerintah Provinsi. dan belum sepenuhnya menampakkan penghormatan 20 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . makmur. dan bahasa sendiri. dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. yaitu membangun masyarakat Indonesia yang adil. belum sepenuhnya memungkinkan tercapainya kesejahteraan rakyat. 21 Tahun 2001 ini juga disebutkan agenda-agenda yang mendasari penerbitannya.Pemberian Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua dimaksudkan untuk mewujudkan keadilan. Pertimbangan tersebut juga didasari oleh pengakuan bahwa penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan di Provinsi Papua selama ini belum sepenuhnya memenuhi rasa keadilan. Pemerintah Kabupaten/Kota. penegakan supremasi hukum. Dari segi yuridis. Pemerintah menilai bahwa integrasi bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus tetap dipertahankan dengan menghargai kesetaraan dan keragaman kehidupan sosial budaya masyarakat Papua. adat istiadat.

Papua dapat mengatasi persoalan ketertinggalan dan kemiskinan Permasalahannya adalah. demokrasi. diperlukan adanya kebijakan khusus dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. serta memberikan kesempatan kepada penduduk asli Papua. Keterbatasan sarana dan prasarana transportasi menghambat program-program pembangunan pemerintah yang akan dilaksanakan bagi kepentingan masyarakat di seluruh Papua. khususnya untuk merespon kemiskinan di Papua. Data KPK-BPS menyebutkan pada tahun 2002 kemiskinan di Papua adalah 41. Pemberian kebijakan Otsus sendiri diberikan dengan melihat sisi penegakan hakhak dasar di Papua. Pada tahun 2002. serta merupakan pengabaian hak-hak dasar penduduk asli Papua. termasuk bahwa pengelolaan dan pemanfaatan hasil kekayaan alam Provinsi Papua belum digunakan secara optimal untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat asli. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 21 . Dengan Otsus. khususnya masyarakat Papua. hak-hak dasar penduduk asli. bagaimana kinerja Papua setelah dilaksanakannya 10 Republika. sehingga telah mengakibatkan terjadinya kesenjangan antara Provinsi Papua dan daerah lain. Di sisi lain. 24 Agustus 2002. hak. Pemberian Otsus didukung oleh masyarakat dan elit Papua.terhadap Hak Asasi Manusia di Provinsi Papua. dan kewajiban sebagai warga negara. menyampaikan bahwa sekitar 75% warga Papua diperkirakan masih hidup di bawah garis kemiskinan akibat keterbatasan sarana dan prasarana transportasi laut. Pada UU ini disebutkan bahwa pemberlakuan kebijakan khusus didasarkan pada nilai-nilai dasar yang mencakup perlindungan dan penghargaan terhadap etika dan moral. dan meningkatkan taraf hidup masyarakat di Provinsi Papua. Hak Asasi Manusia. Gubernur Solosa menyatakan optimis dengan pemberlakuan UU No. berbeda dengan data dari Gubernur Papua. dan udara di daerah10 itu. darat. hal yang utama adalah otonomi khusus diberikan dalam konteks untuk mengurangi kesenjangan antara Provinsi Papua dan Provinsi lain. Gubernur Papua pada saat itu –sebelum pemekaran—JP Solosa.80%. serta persamaan kedudukan. 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus. supremasi hukum. pluralisme. Pemberian otonomi khusus dengan demikian juga diletakkan pada keyakinan bahwa telah lahir kesadaran baru di kalangan masyarakat Papua untuk memperjuangkan secara damai dan konstitusional pengakuan terhadap hak-hak dasar serta adanya tuntutan penyelesaian masalah yang berkaitan dengan pelanggaran dan perlindungan Hak Asasi Manusia penduduk asli Papua.

Daerah yang sebenarnya sangat kaya dengan potensi sumberdaya alam (SDA) ternyata pada tataran riil menghadapi fakta yang bertolak belakang. meskipun status Otonomi Khusus telah diberikan. 22 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Pertanyaan ini mengemuka karena isu tentang keberlimpahan sumber daya alam dan semua potensi yang dimiliki Papua yang tidak sepenuhnya bisa dinikmati oleh penduduknya muncul kembali di era otonomi khusus. Provinsi Papua merupakan provinsi di wilayah timur Indonesia yang menghadapi berbagai persoalan mendasar terkait dengan fakta ketertinggalan wilayah. Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah ternyata justru membawa dampak negatif yang sangat besar.5. Situasi ini yang menyebabkan Papua mengalami kondisi yang biasa disebut sebagai problems of plenty atau masalah dari keberlimpahruahan. Context. Ketertinggalan perekonomian masyarakat. Naval Post Graduate School Menterey. Jawaban dari pertanyaan inilah yang menjadi bagian ini dari tulisan ini. hingga persoalan rendahnya kualitas sumberdaya manusia (SDM) merupakan permasalahan mendasar di wilayah ini. Kontradiksi seperti ini lambat laun menciptakan kesenjangan yang secara langsung sangat dirasakan oleh masyarakat Papua. Evaluasi Kinerja Otsus Laporan ini merupakan sintesa hasil implementasi kebijakan Otonomi Khusus di Provinsi Papua. 1. mulai dari kerusakan lingkungan hingga peminggiran hak-hak masyarakat asli. Thesis. Namun lambannya respon pemerintah menyebabkan aspirasi dan tuntutan tersebut berubah menjadi resistensi masyarakat yang tidak jarang berubah menjadi konflik fisik yang mengarah pada tuntutan kemerdekaan. 2004. Papua Ethno-Political Conflict: Causes. jaringan infrastruktur yang masih memprihatinkan. California.11 Berbagai aspirasi dan tuntutan agar pemerintah lebih memperhatikan ketertinggalan Papua telah lama disuarakan oleh masyarakat.Kebijakan Otonomi Khusus?. Masyarakat asli Papua mulai mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam mencari solusi berbagai persoalan mendasar di Papua. minimnya penyelenggaraan pelayanan publik yang berkualitas. Terlebih lagi. 19-20. hal. Sebuah ironi tentang tetap miskinnya penduduk Papua di tengah keberlimpahan sumber daya alam yang dimilikinya. Dasar pemikirannya adalah bahwa Kebijakan Otonomi Khusus merupakan kebijakan yang bertujuan untuk memperbaiki berbagai ketertinggalan serta ketimpangan yang ada di Provinsi Papua. berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah pusat 11 Arifah Rahmawati. and Policy Implication.

halaman 13 dan halaman 28-32. meskipun secara de jure pemilik kekayaan tanah Papua adalah masyarakat lokal. yang diharapkan dapat menciptakan perbaikan kualitas penyelenggaraan pemerintahan di Papua. 1994. Seiring dengan semakin populernya konsep desentralisasi pemerintahan sejak UU No. 2004. Lahirnya kebijakan Otonomi Khusus merupakan sebuah pilihan kebijakan pemerintah pusat dan rakyat Papua sebagai suatu bentuk langkah kompromistis antara kepentingan nasional dan desakan pemenuhan tuntutan rakyat Papua. Irian Jaya Development and Indigenous Welfare The Impact of Development on The Population and Environment of The Indonesian Province of Irian Jaya (Melanesia West New Guinea or West Papua). tetapi secara secara de facto mereka justru tersingkir dari proses pembangunan.14 Kebijakan ini diterapkan secara resmi melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua (UU No. Naval Post Graduate School Menterey. Thesis.13 Sebagaimana dikemukakan di depan.terkait dengan kekayaan alam Papua terkesan sangat eksploitatif dan justru meminggirkan peran masyarakat lokal yang berdampak pada mandegnya tingkat kesejahteraan mereka. Lihat dalam Arifah Rahmawati. University of Sydney. Thesis. Thesis ini membahas pengaruh program percepatan pembangunan Indonesia Timur pada masa Orde Baru terhadap kondisi di Irian Jaya. salah satunya dapat dilihat dalam tulisan John Robert Wing. Context. 21 Tahun 2001). Departemen Dalam Negeri. 13 Laporan Studi Evaluasi Kebijakan Otonomi Khusus Papua. and Policy Implication. Kebijakan otonomi khusus akhirnya diambil oleh pemerintah pusat guna menyelesaikan berbagai persoalan di Papua. California. penyelenggaraan pemerintahan yang lebih sensitif terhadap konteks lokal mulai menjadi mainstream utama reformasi pemerintahan. pembangunan lebih banyak diwujudkan dalam bentuk eksploitasi alam secara besar-besaran. 14 Salah satu tulisan yang mengelaborasi sejarah atau latar belakang implementasi kebijakan Otonomi Khusus di Papua menyebutkan bahwa kebijakan ini dilatarbelakangi antara lain oleh ketidakpuasan masyarakat lokal terhadap pemerintah pusat.12 Intensitas konflik fisik maupun tuntutan kemerdekaan yang semakin tinggi akhirnya membuat pemerintah mau tidak mau harus secara serius memperhatikan perkembangan aspirasi masyarakat Papua. konflik yang muncul di dalamnya yang akhirnya membuat kebijakan Otonomi Khusus dipilih sebagai solusi. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 23 . Papua Ethno-Political Conflict: Causes. Bidang Kebijakan Umum. Konsep desentralisasi juga mulai diterapkan oleh pemerintah untuk konteks wilayah Papua. Akibatnya. Mekanisme 12 Untuk Elaborasi mendalam terkait dengan ketertinggalan pembangunan dan kualitas kehidupan masyarakat Papua. Penyelenggaraan pemerintahan mulai dijalankan dengan pendekatan yang berbeda. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah disahkan. otonomi khusus merupakan salah satu varian konsep desentralisasi yang dikenal dengan desentralisasi asimetris (asymmetrical decentralization). Bahkan banyak hak-hak masyarakat lokal (misalnya kepemilikan tanah adat) yang justru banyak yang dinafikkan. Pada saat itu.

pemberdayaan. UU ini mengatur berbagai sektor dasar yang menjadi bagian dari pelaksanaan Otonomi Khusus. Departemen Dalam Negeri. kebijakan ini dapat menjadi instumen efektif dalam mengakomodasi hak masyarakat Papua secara lebih proporsional serta menyelesaikan berbagai persoalan mendasar di Papua seperti kemiskinan. Bidang Kebijakan Umum. Pada dasarnya kebijakan otonomi khusus dimaksudkan untuk memberikan ruang dan otoritas yang lebih luas dan adil bagi pemerintah daerah dan masyarakat Papua untuk mengelola wilayahnya sesuai dengan karakter dan keunikan lokal. Jayapura. 21 Tahun 2001 merupakan kerangka kebijakan umum yang menjadi pedoman dalam melaksanakan Otonomi Khusus di Tanah Papua. Sebagai bentuk kebijakan umum di tanah Papua.16 Filosofi ini diharapkan dapat menjadi solusi untuk berbagai persoalan di Papua. 16 Laporan Studi Evaluasi Kebijakan Otonomi Khusus Papua.baru penyelenggaraan pemerintahan ini dimaksudkan sebagai jalan tengah untuk memfasilitasi aspirasi masyarakat daerah dengan kepentingan pemerintah nasional. halaman 8. halaman 14. Sektor-sektor yang diatur dalam undang-undang ini menciptakan karakter spesifik pada arah kebijakan daerah di tanah Papua yang membedakannya dengan daerah lain di NKRI. UU No. mempertahankan integrasi NKRI dan mencari jalan tengah terhadap berbagai kemelut selama ini. 15 Democratic Center Cenderawasih University. Otoritas yang diberikan mencakup jaminan hak agar provinsi ini dapat mengelola kekayaan alam di Papua sehingga dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat asli. 17 Latar belakang munculnya filosofi ini dapat dilihat dalam uraian Jason Mcleod. keterbelakangan. Principal Thoughts Concerning Development Policies in Papua Province.17 Harapannya. masalah sosial yang berkepanjangan. dan pemihakan. kebijakan Otonomi Khusus menciptakan sebuah tata pemerintahan daerah Papua yang unik dan berbeda dengan wilayah lain. Morning Star Rising: Maximising The Effectiveness of The Non Violent Struglles in West Papua. Dengan demikian. Dengan kata lain. June 2003. menjawab kebutuhan peningkatan dan perbaikan kesejahteraan daerah. La Trobe University.15 Undang-Undang No. 2002. halaman 13-16. 24 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . 21 Tahun 2001 ini memiliki filosofi perlindungan. kebijakan Otonomi Khusus pada tataran umum sebenarnya merupakan kebijakan yang dimaksudkan untuk mengakomodasi tiga hal. hingga kesenjangan ekonomi. Thesis. School of Social Sciences.

Tujuan penulisan sintesa ini adalah untuk memetakan pencapaian hasil maupun kelemahan-kelemahan implementasi kebijakan Otonomi Khusus di Papua.Seperti telah disebutkan sebelumnya. kebijakan bidang pendidikan. dan bidang masyarakat sipil. bidang pendidikan. kebijakan bidang kesehatan. kebijakan bidang infrastruktur. 3. kebijakan otonomi khusus mulai diimplementasikan setelah pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 (UU No. kesehatan. Di sisi lain. Sebagai sebuah sintesa. untuk menilai efektivitas implementasi kebijakan ini. bidang perekonomian. diperlukan sebuah instrumen evaluasi yang dapat digunakan sebagai tolokukur keberhasilan maupun kekurangan implementasi kebijakan ini. Artinya. Capaian hasil dapat digunakan sebagai motivasi untuk meningkatkan keberhasilan yang telah diperoleh. maka laporan ini berisi intisari temuan-temuan lapangan yang berguna sebagai dasar evaluasi keberhasilan maupun langkahlangkah perbaikan yang dapat diambil oleh pemerintah terkait dengan kebijakan implementasi otonomi khusus. Dari rentang waktu tersebut. Kebijakan-kebijakan strategis di bidang pelayanan dasar telah diimplementasikan dengan melibatkan mobilisasi sumberdaya dan sumberdana yang jumlahnya sangat signifikan. Penelitian yang dilakukan meliputi evaluasi: 1. kebijakan pengembangan masyarakat sipil. berbagai langkah nyata telah dilakukan oleh pemerintah untuk mencapai tujuan-tujuan implementasi otonomi khusus di atas. pemetaan berbagai kekurangan maupun kelemahan implementasi kebijakan Otonomi Khusus dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyempurnaan kelemahan KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 25 . Terkait dengan hal ini. saat tulisan ini sedang dibuat pada April 2008. Kemitraan bekerjasama dengan Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia (Depdagri) telah melakukan penelitian yang terkait dengan evaluasi implementasi kebijakan Otonomi Khusus di Papua. kebijakan umum. 21 Tahun 2001). Evaluasi tersebut dilakukan untuk melihat efektifitas implementasi kebijakan otonomi khusus dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat asli Papua. 4. kebijakan otonomi khusus telah berjalan kurang lebih tujuh tahun. Kebijakan strategis tersebut meliputi bidang kebijakan umum. bidang infrastruktur. maupun untuk meningkatkan target manfaat implementasi kebijakan otonomi khusus di masa yang akan datang. 5. 2.

akan didapatkan sebuah dasar yang bermanfaat bagi perumusan rekomendasi kebijakan dan tindak lanjut kebijakan yang tepat. Sintesa hasil penulisan ini juga diharapkan bisa memberikan gambaran secara komprehensif tentang peta masalah yang dihadapi pemerintah daerah dan masyarakat Papua dalam implementasi kebijakan Otonomi Khusus. pemerintah provinsi. pemerintah kabupaten/kota. Selain berdasarkan hasil laporan penelitian tersebut. dan alternatif kebijakan strategis yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Melalui pemetaan ini. Penulisan sintesa penelitian ini dengan demikian diharapkan dapat menjadi salah satu referensi dan instrumen evaluasi bagi segenap stakes holders yang terlibat untuk mewujudkan kualitas kehidupan masyarakat dan kondisi umum di Papua yang lebih baik melalui kebijakan Otonomi Khusus. sumber penulisan juga diperkaya dengan berbagai referensi yang berasal dari sumber-sumber dokumen pendukung lain serta interaksi Tim Penulis yang cukup intens dengan masyarakat maupun pengambil kebijakan di Papua. dalam hal ini adalah pemerintah nasional. Dengan dukungan sumber penulisan yang cukup lengkap semacam ini. Rumusan rekomendasi ini akan berguna untuk menentukan langkah tindaklanjut yang dapat dilakukan oleh semua level pemerintahan. Kunjungan lapangan yang dilakukan Tim Penulis ke beberapa kabupaten/ kota di dan lingkungan pemerintah Provinsi Papua ditambah dengan interaksi dengan para pengambil kebijakan di tempat itu menjadi referensi penting dalam penulisan sintesa hasil penelitian ini. Laporan sintesa hasil penelitian evaluasi kebijakan otonomi khusus ini ditulis dengan bersumber pada enam Laporan Penelitian di beberapa kabupaten/kota di Papua yang dilakukan oleh beberapa Perguruang Tinggi dan Lembaga Swasta bekerjasama dengan Kemitraan dan Depdagri. diharapkan laporan sintesa hasil penelitian ini dapat menyajikan informasi yang komperhensif terkait dengan evaluasi kebijakan otonomi khusus di Papua.kebijakan. 26 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Aktifitas ini dilakukan sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk merancang kebijakan yang lebih aspiratif dan efektif dalam mewujudkan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat Papua.

5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan di Daerah.Bagian Kedua KEBIJAKAN UMUM1 2. UU No. Proses Kebijakan Kebijakan umum pemerintahan dan pembangunan di Papua adalah kebijakan otonomi khusus. UU Otsus merupakan respon dari kekecewaan Papua terhadap kebijakan sentralistik yang dilakukan pada masa Orde Baru.2 disebut sebagai “otonomi khusus” karena memberikan perlakuan yang khusus. Jakarta: Kemitraan untuk Tata Kelola yang Baik. 2 Undang-Undang No. 21/2001 tentang Otonomi Khusus bagi Papua. 2008. yang menggantikan kebijakan sebelumnya. Momentum reformasi yang dihela oleh euforia 1 Bagian ini mengambil materi dari Laporan Evaluasi Otonomi Khusus Papua Bidang Kebijakan Umum. Otonomi Khusus adalah kewenangan khusus yang diakui dan diberikan kepada Provinsi Papua untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan hak-hak dasar masyarakat Papua. dalam arti mendapatkan prioritas dukungan yang lebih banyak daripada daerah lain. �Ketentuan Umum� KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 27 . 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Papua atau UU Otsus.1. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. Kebijakan umum tentang Papua dilembagakan dalam bentuk UU No. dan merupakan ekstrapolasi dari kebijakan desentralisasi yaitu UU No.

Dari evaluasi ini ditemukan bahwa RUU versi Tim Asistensi ditentang oleh Pemerintah Pusat. nasional. yaitu Pemerintah Provinsi Irian Jaya mengambil inisiatif dengan membentuk “Tim Asistensi” yang terdiri dari sejumlah akademisi Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura. tetapi perlu diterapkan special treatment 28 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Oleh karena itu. Bagi Pemerintah. baik dalam forum nasional. senantiasa dihadapi dengan diplomasi yang meneguhkan prinsip “tetap satu dalam keIndonesiaan. Padahal MRP sesungguhnya hanya merupakan institusi “pelengkap” dalam tata pemerintahan Papua. Tercatat. dan berkembang dari konteks lokal. Keterlibatan pemerintah pusat dalam proses pembentukan UU Otsus dipandang sangat kuat. tidak dapat ditawar-tawar lagi. di mana Depdagri menyusun draf Rancangan Undang-Undang Otonomi Khusus. Selain itu. Persitiwa Pepera Tahun 1969 adalah sah sebagai bagian dari sejarah bangsa yang sudah permanen. yang harus diperbaiki. karena Timor Timur baru saja merdeka dari Indonesia. perdebatan di seputar eksistensi Majelis Rakyat Papua (MRP) yang dapat dipandang setara dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). dan memasuki diskusi internasional. Papua dalam keIndonesiaan adalah harga mati. Pemerintah Pusat mengambil langkah paralel. kekhawatiran lain berkisar pada penggunaan identitas daerah seperti lambang. Pemerintah menyadari bahwa ada kesalahan penerapan kebijakan pembangunan di Tanah Papua pada masa lalu. Disamping itu. yang memperoleh dukungan penuh dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Irian Jaya. kemerdekaan yang diperjuangan oleh beberapa tokoh dan kelompok masyarakat di Tanah Papua. Materi perdebatan memuncak pada kecurigaan terhadap kemungkinan penyalahgunaan isi pasalpasal yang terkandung di dalam rancangan undang-undang yang diusulkan oleh Tim Asistensi Universitas Cenderawasih keluar dari bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tim ini diberi mandat untuk menyusun naskah akademis otonomi daerah yang “berpihak kepada masyarakat lokal”. terjadi tarik ulur yang cukup kencang dalam pengaturan kewenangan pengelolaan sumber daya alam. Kondisi politik domestik tidak menguntungkan. Atas dasar itu. Sehubungan dengan itu. maupun internasional. domestik. Pemerintah lebih mengutamakan kepentingan nasional demi terwujudnya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meliputi wilayah di Tanah Papua. bendera dan lagu. setiap pergerakan kelompok masyarakat yang bermaksud untuk menggugat keabsahannya.demokrasi dan kebebasan memunculkan suara “merdeka secara berdaulat”. sebagai representasi kultural dari masyarakat Papua. solusinya bukanlah keluar dari NKRI. tidak untuk memisahkan diri dari NKRI. Pada saat yang sama. Pemerintah daerah.

Namun kenyataannya berbagai kebijakan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang sentralistik belum sepenuhnya memenuhi rasa keadilan. Melalui kajian akademis. dan demokratis. yang merupakan “kompromi” antara Pemerintah Pusat dan elit Papua.dengan bersungguh sungguh memperhatikan dimensi-dimensi sosio-budaya masyarakat Papua. Secara eksplisit UU Otsus mengatakan bahwa keputusan politik penyatuan Papua menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia pada hakikatnya mengandung cita-cita luhur. belum sepenuhnya memungkinkan tercapainya kesejahteraan rakyat. Dalam pembahasan tersebut. cukup mencerminkan aspek partisipatif dan demokratis dalam mewujudkan undang-undang ini. Dialog-dialog yang terjadi di forum Dewan. telah melalui mekanisme penyusunan yang dipandang bersifat akademis. partisipatif. belum sepenuhnya mendukung terwujudnya KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 29 . Sumber inspirasi penyusunan materi muatan pasal-pasalnya berasal dari dua pihak dengan pendekatan yang berbeda. Kedua. kemudian dipersandingkan untuk menemukan persamaan dan perbedaannya. Dari berbagai momentum penjaringan aspirasi masyarakat Papua hingga konsultasi publik diberbagai forum lokal. yang dinyatakan dalam muatan perundangan Otsus. karena kebijakan ini memuat “pernyataan maaf” dari Pemerintah nasional kepada Papua. Meskipun merupakan “kompromi”. Sebagai suatu produk kebijakan nasonal. Pertama. ditetapkan kebijakan otonomi khusus dalam bentuk UU No. yang kemudian melahirkan satu format draf usulan yang diajukan oleh Pemerintah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk dibahas menjadi undang-undang. berbagai langkah partisisipatif yang demokratis telah ditempuh sejak lahirnya draft awal hingga diwujudkannya draft akhir. masyarakat Papua menerima kebijakan ini dengan baik. melalui penyusunan draft rancangan berdasarkan hasil kajian komprehensif pada skala nasional yang mencoba mengakomodasi kepentingan semua pihak. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua. Kedua draf rancangan tersebut. pendekatan dari bawah sebagaimana dilakukan oleh Tim Asistensi Univeristas Cenderawasih. baik dari Pemerintah maupun dari pemerintah Provinsi Papua dan Tim Asistensi Universitas Cenderawasih. telah dilakukan klarifikasi kepada semua pihak yang berkepentingan. pendekatan dari atas sebagaimana dilakukan oleh Pemerintah – dalam hal ini Depdagri. 21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Pada akhirnya. UU No.

khususnya masyarakat Papua. sekaligus merupakan langkah strategis untuk meletakkan kerangka dasar yang kokoh bagi berbagai upaya yang perlu dilakukan demi tuntasnya penyelesaian masalah-masalah di Provinsi Papua. Kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya kesenjangan pada hampir semua sektor kehidupan. Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia menetapkan perlunya pemberian status Otonomi Khusus kepada Provinsi Irian Jaya sebagaimana diamanatkan dalam Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara Tahun 1999-2004 Bab IV huruf (g) angka 2. Sehubungan dengan itu. Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua pada dasarnya adalah pemberian kewenangan yang lebih luas bagi Provinsi dan rakyat Papua untuk mengatur dan mengurus diri sendiri di dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia . kesehatan. Kewenangan yang lebih luas berarti pula tanggung jawab yang lebih besar bagi Provinsi dan rakyat Papua untuk menyelenggarakan pemerintahan dan mengatur pemanfaatan kekayaan alam di Provinsi Papua untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat Papua sebagai 3 UU Otsus. Pelanggaran HAM. Dalam Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. 30 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . ekonomi.penegakan hukum. terutama dalam bidang pendidikan. yang antara lain menekankan tentang pentingnya segera merealisasikan Otonomi Khusus tersebut melalui penetapan suatu undang-undang otonomi khusus bagi Provinsi Irian Jaya dengan memperhatikan aspirasi masyarakat . Pernyatan-pernyataan ini secara tegas menggaris-bawahi kebijakan di masa lalu yang mengorbankan Papua. Upaya penyelesaian masalah tersebut selama ini dinilai kurang menyentuh akar masalah dan aspirasi masyarakat Papua. pengabaian hakhak dasar penduduk asli dan adanya perbedaan pendapat mengenai sejarah penyatuan Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah masalahmasalah yang perlu diselesaikan. Kebijakan Otsus merupakan kebijakan “kompromi” antara kepentingan nasional dan desakan pemenuhan tuntutan rakyat Papua. Penjelasan. sehingga memicu berbagai bentuk kekecewaan dan ketidakpuasan3. kebudayaan dan sosial politik. dan belum sepenuhnya menampakkan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM) di Provinsi Papua. Pernyataan tersebut diperkuat dengan pernyataan yang memberikan keabsahan bagi kekhususan otonomi Papua dengan menyebut adanya momentum reformasi sebagai ruang bagi timbulnya pemikiran dan kesadaran baru untuk menyelesaikan berbagai permasalahan besar bangsa Indonesia dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Hal ini merupakan suatu langkah awal yang positif dalam rangka membangun kepercayaan rakyat kepada Pemerintah.

4 2. pembangunan berkelanjutan. serta Majelis Rakyat Papua sebagai representasi kultural penduduk asli Papua yang diberikan kewenangan tertentu. lambang daerah dalam bentuk bendera daerah dan lagu daerah sebagai bentuk aktualisasi jati diri rakyat Papua dan pengakuan terhadap eksistensi hak ulayat. 4 Ibid. Muatan Kebijakan Sebagaimana dikemukakan pada bagian “penjelasan” UU Otsus. dan ketiga.bagian dari rakyat Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. melestarikan budaya serta lingkungan alam Papua. dan yudikatif. dan kaum perempuan. berkeadilan dan bermanfaat langsung bagi masyarakat. dan hukum adat. agama. masyarakat adat. hal-hal mendasar yang menjadi isi Undang-Undang ini adalah. penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan yang transparan dan bertanggungjawab kepada masyarakat. pengakuan dan penghormatan hak-hak dasar orang asli Papua serta pemberdayaannya secara strategis dan mendasar. dan 3. kedua. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 31 . agama. partisipasi rakyat sebesar-besarnya dalam perencanaan. 2. pengaturan kewenangan antara Pemerintah dengan Pemerintah Provinsi Papua serta penerapan kewenangan tersebut di Provinsi Papua yang dilakukan dengan kekhususan. tugas. dan tanggung jawab yang tegas dan jelas antara badan legislatif. pelaksanaan dan pengawasan dalam penyelenggaraan pemerintahan serta pelaksanaan pembangunan melalui keikutsertaan para wakil adat. dan kaum perempuan. Kewenangan ini berarti pula kewenangan untuk memberdayakan potensi sosialbudaya dan perekonomian masyarakat Papua. Peran yang dilakukan adalah ikut serta merumuskan kebijakan daerah. pelaksanaan pembangunan yang diarahkan sebesar-besarnya untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk asli Papua pada khususnya dan penduduk Provinsi Papua pada umumnya dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip pelestarian lingkungan. pembagian wewenang. termasuk memberikan peran yang memadai bagi orang-orang asli Papua melalui para wakil adat. mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang baik yang berciri: 1. eksekutif. menentukan strategi pembangunan dengan tetap menghargai kesetaraan dan keragaman kehidupan masyarakat Papua. pertama. Keempat.2. adat. yang tercermin melalui perubahan nama Irian Jaya menjadi Papua.

Pasal yang dengan eksplisit menunjukkannya adalah pasal 4 UU No. meliputi: (a) Kebijakan makro tentang perencanaan dan pengendalian pembangunan nasional. kewenangan umum bagi Pemerintah Kabupaten/Kota dilaksanakan berdasarkan UU No. 22 Tahun 1999 yang telah diganti dengan UU No. pertahanan dan keamanan. percepatan pembangunan ekonomi. Rincian kewenangan tertentu di bidang lain. 32 Tahun 2004. yaitu : perencanaan dan pengendalian pembangunan. moneter dan fiskal. dan kewenangan tertentu di bidang lain yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (e) Pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis. 3 Tahun 2005 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 38 Tahun 2007 tentang pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah. dalam rangka kesetaraan dan keseimbangan dengan kemajuan provinsi lain. perencanaan. 8 Tahun 2005 tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) No. (c) Sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara. 32 Tahun 2004 Pasal 14 adalah : (a) Urusan Wajib meliputi 16 urusan. penghormatan terhadap HAM. rincian kewe-nangan tertentu tersebut tidak diatur lagi di dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. Padahal. dan pengawasan tata ruang. pemanfaatan. pemerintah daerah provinsi. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. (b) Kewenangan khusus yang diberikan kepada Pemerintah Provinsi Papua maupun Pemerintah Kabupaten/Kota. kecuali urusan politik luar negeri. 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah. peningkatan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat Papua. penyelenggaraan 32 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . penegakan supremasi hukum. Adapun rincian kewenangan pemerintah kabupaten/kota sebagaimana disebutkan di dalam UU No. dan pemerintah kabupaten/kota sebagai penjabaran lebih lanjut dari UU No.Simpulan yang dibuat oleh Otsus adalah bahwa kebijakan pemberian Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua dimaksudkan untuk mewujudkan keadilan. 21 Tahun 2001 yang memilah kewenangan antara Pemerintah Pusat (nasional) dan Pemerintah Daerah. dan (f ) Konservasi dan stándarisasi nasional. (b) Dana perimbangan keuangan. Muatan kebijakan otsus sebangun dengan kebijakan penyelenggaraan desentralisasi dari Pemerintahan Indonesia. yang tidak diserahkan oleh Pemerintah Pusat ke Provinsi Papua. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang kemudian direvisi dan berubah menjadi No. yaitu UU No. Sementara itu. dengan menyebutkan pemilahan kewenangan sebagai berikut: (a) Kewenangan Umum yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada Pemerintah Provinsi Papua. (d) Pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia. agama. peradilan.

32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan di Daerah. terdapat tiga hal dalam muatan kebijakan yang memang menjadikan otonomi di Papua bersifat khusus. terjadi perbedaan penting antara kebijakan di tingkat nasional dengan kebijakan di Papua. pelayanan bidang ketenagakerjaan. Namun demikian. pelayanan pertanahan. meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai kondisi. Namun demikian. mengikat dan dipertahankan. 21 Tahun 2001 tentang Otsus meletakkan otonomi daerah pada tingkat provinsi. dan urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundangan. Dengan demikian. khususnya yang berkenaan dengan hak atas tanah ulayat. pelayanan administrasi umum dan pemerintahan. yang difahami sebagai lembaga representasi kultural orang asli Papua. kekhasan. pelayanan administrasi penanaman modal. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah yang meletakkan otonomi daerah di tingkat kabupaten/kota. pengendalian lingkungan hidup. yang meliputi hak untuk KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 33 . yang selanjutnya disebut MRP. fasilitasi pengembangan koperasi. meskipun tidak menghilangkan keotonomian di tingkat kabupaten/kota.ketertiban umum dan ketertiban masyarakat. pemberdayaan perempuan. karena kebijakan ini meletakkan kekuatan otonomi di tingkat provinsi. mengatur. penanggulangan masalah social. pelayanan kependudukan dan catatan sipil. secara muatan kebijakan. Pertama. Representasi kultural ini menjadikan hukum-hukum adat yaitu aturan atau norma tidak tertulis yang hidup dalam masyarakat hukum adat. penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya. di Papua dibentuk institusi representasi kultural. Dalam komparasi kebijakan. usaha kecil dan menengah. Jika dibandingkan dengan UU No. dan pemantapan kerukunan hidup beragama sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini. dan potensi unggulan daerah. penanganan bidang kesehatan. yang memiliki wewenang tertentu dalam rangka perlindungan hak-hak orang asli Papua dengan berlandaskan pada penghormatan terhadap adat dan budaya. serta mempunyai sanksi. penyelenggaraan pendidikan. maka UU No. jika dibandingkan dengan UU No. yaitu hak persekutuan yang dipunyai oleh masyarakat hukum adat tertentu atas suatu wilayah tertentu yang merupakan lingkungan hidup para warganya. ditemukan hal-hal dasar berkenaan dengan karakter kekhususan dari kebijakan Otsus Papua tidak berbeda dengan otonomi bagi daerah-daerah lain di Indonesia. penyediaan sarana dan prasarana umum. Di provinsi Papua terdapat lembaga Majelis Rakyat Papua. (b) Urusan yang bersifat pilihan. terjadi kesebangunan.

Kekhususan Papua adalah pada besaran dana bagi hasil untuk sumberdaya alam di sektor pertambangan minyak bumi sebesar 70% dan pertambangan gas alam sebesar 70%. Ketiga. maka antara Daerah Otonomi Khusus Papua dan daerah lain di Indonesia tidak berbeda dalam hal sumber penerimaan daerah. pinjaman Daerah. Diatur di dalam UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.memanfaatkan tanah. mulai tahun ke-26. 21 Tahun 2001 bahwa penerimaan dalam rangka Otonomi Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b angka 4) dan angka 5) berlaku selama 25 tahun. kebijakan di tingkat daerah diberi penamaan yang berbeda. Persentase ini lebih besar dari persentase yang diatur untuk daerah lain. lain-lain penerimaan yang sah. yang terutama ditujukan untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur. DPRP adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Papua yang berfungsi sebagai badan legislatif Daerah Provinsi Papua. Selanjutnya. yaitu dalam bentuk pendapatan asli daerah. dana perimbangan. kekhususan dalam pendapatan daerah untuk Papua. hutan. Pertama. Hal yang membedakan Papua dengan daerah lain adalah adanya “Penerimaan Khusus” dalam rangka pelaksanaan Otonomi Khusus yang besarnya setara dengan 2% dari plafon Dana Alokasi Umum Nasional.5% dan untuk gas alam 30. meskipun tidak mempunyai perbedaan signifikan dalam makna. penggunaan peristilahan yang secara semantik berbeda. di mana tidak dikenal Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Papua. dan dana tambahan dalam rangka pelaksanaan Otonomi Khusus yang besarnya ditetapkan antara Pemerintah dengan DPR berdasarkan usulan Provinsi pada setiap tahun anggaran. yaitu Peraturan Daerah Khusus (Perdasus) dan Peraturan Daerah Provinsi (Perdasi). yang terutama ditujukan untuk pembiayaan pendidikan dan kesehatan. Kedua. di mana bagi hasil pertambangan minyak bumi untuk daerah adalah 15. dan air serta isinya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Perdasus adalah Peraturan Daerah Provinsi Papua dalam rangka pelaksanaan pasal-pasal tertentu dalam Undang-undang 34 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . diakui keabsahannya sebagai hukum formal. berkenaan dengan eksistensi kultural. Sebagaimana diatur pada UU No.05%. namun Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP). penerimaan dalam rangka Otonomi Khusus berlaku selama 20 tahun. Ketiga. Disebutkan bahwa “Lambang Daerah” adalah panji kebesaran dan simbol kultural bagi kemegahan jati diri orang Papua dalam bentuk bendera Daerah dan lagu Daerah yang tidak diposisikan sebagai simbol kedaulatan. Kedua. Sementara itu. penerimaan dalam rangka Otonomi Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (4) menjadi 50% untuk pertambangan minyak bumi dan sebesar 50% untuk pertambangan gas alam. penamaan lembaga legislatif daerah.

3. Implementasi Pasal-Pasal Pada prinsipnya. 13 Perdasus. 2 Keppres.3. terutama dikaitkan dengan eksistensi dan treatment Orang Asli Papua. ditampilkan pasal-pasal otsus yang belum ditindak lanjuti. Berikut ini. dan 21 Perdasi. dalam perjalanan implementasinya hingga Tahun 2006.dan Perdasi adalah Peraturan Daerah Provinsi Papua dalam rangka pelaksanaan kewenangan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua merupakan salah satu acuan dan wadah utama bagi pelaksanaan pembangunan di Tanah Papua. Implementasi Kebijakan 2. Tetapi. 2. Lanjut - KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 35 .1 Pasal Otsus yang Belum Ditindaklanjuti PasalPasal Pasal 2 Isu Utama Lambang Daerah • Pemekaran Kabupaten Pasal 3 • Pemekaran Distrik/Kampung • Kawasan Khusus • Kewenangan Pemeritahan pada Level Provinsi • Kewenangan Khusus Provinsi • Kewenangan Pemerintahan Kab/Kota Pasal 4 • Kewenangan kab/kota lainnya • Perjanjian Internasional • Tata cara Perjanjian • Kerjasama Luar Negeri • Tata ruang Pertahanan • Tatacara pertimbangan Aturan Tindak Lanjut Perdasus Peraturan Perundangan Perda Kab/Kota Peraturan Perundangan Peraturan Perundangan Perdasi/Perdasus Peraturan Perundangan Perdasi/Perdasus Peraturan Perundangan Perdasus Peraturan Perundangan Perdasus Status T.1. masih belum dapat dioptimalkan sebagai sumber acuan legalistik. terdiri dari sekurang-kurangnya 2 PP. UU No. Hal ini. Tabel 2. Acuan dimaksud.

Tugas Wakil Gubernur Masa Jabatan Wagub Tatacara Pertanggung-jawaban Gub. Keanggotaan MRP Kedudukan Keuangan MRP Tugas dan Wewenang MRP Pelaksanaan Hak MRP Pelaksanaan Hak Anggota MRP Keppres Belum PP No.Pasal 5 Pasal 6 Pembagian Pemerintahan Keanggotaan DPRP Kedudukan Keuangan DPRD Tugas dan Wewenang DPRP Peraturan Perundangan Tatip DPRP - Pasal 7 Pelaksanaan tugas & wewenang DPRD Pelaks. Hak-hak DPRP Hak-hak Anggota DPRP Pelaksanaan kewajiban DPRP Tatacara pemilihan Gub/Wagub Syarat-syarat Orang Asli Papua Pengangkatan/pelantikan Gub/ Wagub Kewajiban Gubernur Pelaksanaan tugas dan wewenang Gub. 54 Tahun 2004 Peraturan Perundangan Perdasus Peraturan Perundangan Pasal 8 Pasal 9 Pasal 10 Pasal 11 Pasal 12 Pasal 13 Pasal 14 Pasal 15 Pasal 16 Pasal 17 Pasal 18 Pasal 19 PP Pasal 20 Pasal 21 Pasal 22 Perdasus Perdasus Tatip MRP berpedoman pada PP 36 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .

54 Tahun 2004 Perdasi No.dasar PP Pasal 25 Tatacara pengesahan dan pelantikan anggota MRP Perangkat Pemerintah Provinsi Kebijakan Kepegawaian Parpol : rekrut prioritas Penduduk Papua PP Pasal 26 Pasal 27 Pasal 28 Perdasi Perdasi - Pasal 29 Tatacara pembuatan Perda Peraturan Perundangan Pasal 30 Pasal 31 Pelaksanaan Perdasus/Perdasi Keputusan Gubernur tentang Perdasus/Perdasi Efektivitas pembentukan & pelaksanaan hukum (Pembentukan Komisi Ad Hoc) Pembiayaan tugas DPRP/MRP Pembiayaan tugas pemprov Dana Alokasi Umum Pembagian Dana Otsus Ketentuan pelaksanaan BLN Keputusan Gubernur Lembaran Daerah Provinsi Perdasi Perdasi Perdasi Peraturan Perundangan Perdasus Perdasi Pasal 32 - Pasal 33 Pasal 34 Pasal 35 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 37 . 54 Tahun 2004 PP No.Pasal 23 Pelaksanaan Kewajiban MRP PP PP No. 4 Tahun 2004 PP No. 54 Tahun 2004 - Pasal 24 Tatacara Pemilihan Anggota MRP Perdasi .

Pasal 36 Perubahan dan Perhitungan APBD Tatacara penyusunan & pelaksanaa APBD Penyampaian Data dan informasi penerimaan pajak dan PNBP oleh Pemerintah kepada Pemprov dan DPRP tiap tahun Usaha-usaha perekonomian. ketenteraman dan biaya Pengangkatan Kapolda Perdasi Perdasi - Pasal 37 - - Pasal 38 Perdasus - Pasal 39 Pasal 40 Pasal 41 Pasal 42 Pasal 43 Pasal 44 Pasal 45 Pasal 46 Pasal 47 Perdasi Peraturan Perundangan Peraturan Perundangan Peraturan Perundangan Keppres . pembangunan berkelanjutan Pengelolaan SDA Perizinan dan Perjanjian Kerjasama Tatacara penyertaan modal Ekonomi Kerakyatan Pelaksanaan hak ulayat oleh penguasa adat Hak kekayaan intelektual HAM Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Penegakan HAM Perempuan Tugas ketertiban. jaminan hukum.usul Gubernur Perdasi Persetujuan Gubernur Koordinasi Gubernur Peraturan Perundangan - Pasal 48 Pasal 49 Pasal 50 Penempatan. pelestarian lingkungan. relokasi satuan polisi Kekuasaan Kehakiman 38 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . penghormatan hak-hak adat.

politik. sosial Pengawasan fungsional Perdasi Pasal 58 Pasal 59 Pasal 60 Perdasi Perdasi Perdasi Perdasi Perdasi Perdasi Perdasus Perdasus Peraturan Perundangan - Pasal 62 Pasal 63 Pasal 64 Pasal 65 Pasal 66 Pasal 67 Pasal 68 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 39 . dan pengembangan budaya asli Papua Pelestarian bahasa & sastra daerah Pelayanan kesehatan Perbaikan gizi Penempatan penduduk Kesempatan kerja orang asli papua Pembangunan berkelanjutan Pengelolaan lingkungan hidup Penyandang masalah sosial Penanganan suku terasing Pengawasan hukum.Pasal 51 Pasal 52 Pasal 53 Peradilan Adat Pengangkatan Jaksa Tinggi Hak dan kebebasan untuk memeluk agama Kewajiban pemerintah dalam pengembangan keagamaan Dukungan Pemerintah dalam pengembangan keagamaan Persetujuan Gubernur - - Pasal 54 Pasal 55 - Perdasi No. 5 Tahun 2006 - Pasal 56 Penyelenggaraan Pendidikan Perdasi Pasal 57 Perlindungan.pembinaan.

sosial. personil. 54 Tahun 2004 - Pasal 72 - Pasal 73 Peraturan Perundangan Pasal 74 Pasal 75 Pasal 76 Pasal 77 Pasal 78 Pasal 79 Peraturan Perundangan Persetujuan MRP dan DPRP Diusulkan oleh rakyat melalui MRP dan DPP - - Sumber : Hasil Kajian. Kedua lembaga ini bekerja sebagai representasi politik dan representasi kultural dari masyarakat Papua. 21 Tahun 2001 tentang Otsus. Implementasi Kelembagaan Implementasi kebijakan Otsus secara kelembagaan adalah dalam rupa pembentukan DPR Papua dan Majelis Rakyat Papua. 2006.Pasal 69 Kerjasama ekonomi.2. Kelembagaan Otsus mengalami perubahan penting ketika Pemerintah 40 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 2. budaya dgn provinsi lain Perselisihan antar kab/kota Pilihan hukum yang disepakati Fasilitasi provinsi Fasilitasi pemerintah - Pasal 70 Perselisihan kab/kota dan provinsi Pengaturan Pimpinan Daerah sebelum Otsus Tatacara pemilihan anggota MRP untuk pertamakalinya Kewenangan atas pengelolaan sumberdaya (biaya.3. peralatan dan dokumen Hal yang tidak diatur Peraturan pelaksanaan UU otsus Pemekaran provinsi Perubahan UU Otsus Evaluasi Tahunan UU otsus Dan 3 tahunan Pengundangan - Pasal 71 - PP No.

Peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan. Kebijakan ini dipandang sebagai respon Pemerintah untuk perlunya program khusus untuk mempromosikan pembangunan Papua. Manuel Kaisiepo. 5 Tahun 2007. Menko Perekonomian ditunjuk untuk menjadi Ketua Tim Asistensi Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat. 2. Meneg PPN/Ka-Bappenas dibantu oleh “nara-sumber”. 3. Untuk melaksanakan tugasnya.Ekon/07/2007 tentang Pelaksana Harian Tim Asistensi Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. 4. yang menunjuk Meneg PPN/Ka-Bappenas sebagai Pelaksana Harian Tim Asistensi Inpres No. Peningkatan infrastruktur dasar guna meningkatkan aksesibilitas di wilayah terpencil. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti. dan Perlakuan khusus (affirmative action) bagi pengembangan kualitas sumberdaya manusia putra-putri asli Papua. yakni: 1. yang berada di timur. Pemantapan ketahanan pangan dan pengurangan kemiskinan. 5. Inpres ini mengamanatkan kepada 11 Menteri untuk memberikan dukungan secara khusus kepada pembangunan Papua. dan Drs. atau disebut sebagai bagian “Kepala Burung”. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 41 . pedalaman dan perbatasan negara. yang terdiri dari Rektor Universitas Cenderawasih. Inpres ini banyak disebut sebagai “pendekatan kebijakan baru” atau “the new deal policy for Papua” yang memuat lima aspek strategis. Untuk melaksanakan Inpres ini. Dr. Rektor Universitas Papua. sebagai penajaman dan perkuatan dari kebijakan otonomi khusus. dan Provinsi Irian Jaya Barat. melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. yang merupakan Papua bagian barat. pada tahun 2007 Presiden Yudhoyono menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) No. secara kelembagaan. 1 Tahun 2003. mantan Menteri Kawasan Tertinggal. Prof. dari Universitas Indonesia. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. 5 Tahun 2007 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Menko Perekonomian menerbitkan Surat Keputusan Menko Perekonomian Nomor Kep-38/M. Untuk mempercepat kinerja Otsus.Pusat mengakomodasi usulan lokal untuk pemekaran wilayah Papua menjadi dua: Provinsi Papua.

sebagai ketua. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan. Hukum dan Keamanan. Departemen Dalam Negeri. Direktur Jenderal Bina Administrasi Keuangan Daerah. Departemen Dalam Negeri. Staf Ahli Bidang Otonomi 42 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah. Kementerian Koordinator Bidang Politik. Badan Perencanaan.1 Kerangka Kerja Tim Asistensi dengan Gubernur Untuk melaksanakan tugas keseharian dari tim pelaksana harian. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Departemen Keuangan. yang terdiri dari Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Hukum.EKON/07/2007 tentang Sekretariat dan Tim Teknis pada Tim Asistensi Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.Gambar 2. maka Menko Perekonomian menerbitkan lagi Surat Keputusan Menko Perekonomian Nomor KEP-39/M. dan delapan anggota. Deputi Bidang Koordinasi Politik Dalam Negeri. Departemen Keuangan. Direktur Jenderal Anggaran. yang menunjuk Kepala adalah Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah. dengan Wakil Ketua Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah.

5/2007 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Surat Keputusan Menko Perekonomian Nomor Kep38/M.EKON/07/2007 tentang Sekretariat dan Tim Teknis pada Tim Asistensi Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat “Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat” Keberadaan tim khusus dari Pemerintah Pusat untuk melakukan percepatan pembangunan Papua merupakan strategi utama dari dukungan khusus Pemerintah Pusat secara kelembagaan. dan Dr. kebijakan otonomi khusus diarahkan kepada kewenangan dari masyarakat Papua untuk mengembangkan kebijakan pembangunan yang menjadi aspirasinya. dukungan yang paling utama diharapkan adalah dukungan keuangan. sebagaimana digambarkan berikut ini: Undang-Undang No. Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Mohamad Ikhsan. dapat dilihat bahwa kebijakan percepatan pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat ditata pada kebijakan yang sangat berjenjang. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 43 . Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Namun demikian. Dengan demikian.Ekon/07/2007 tentang Pelaksana Harian Tim Asistensi Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat Surat Keputusan Menko Perekonomian Nomor KEP39/M. Sebagaimana dikemukakan di depan.Daerah. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua Instruksi Presiden No.

Untuk Papua. ditambah dengan dana penyesuaian. yang terdiri dari dana bagi hasil. Gambar 2. presentasi. diatur dana perimbangan dalam konteks otonomi khusus sebagai berikut. 5 Departemen Keuangan Republik Indonesia. dan dana alokasi khusus. 44 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . sebagaimana daerah lain di Indonesia. Implementasi Pendanaan/Pembiayaan Kebijakan otonomi khusus didukung oleh dana perimbangan.3. Mekanisme alur dana Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah Papua sebagai berikut. dana alokasi umum. Peta Alur Dana Pemerintah Pusat ke Provinsi Papua dan Irian Jaya Barat Tahun 2006-2007.2.2 Alur Dana dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah Papua5 Sesuai dengan pasal 34 UU No. telah ditambahkan dana otonomi khusus. 21 Tahun 2001 tentang Otsus.3. 2007.

943. Suatu jumlah yang sangat besar dibandingan dengan jumlah manusia yang dikelola.77 trilyun pada tahun 2005.38 trilyun. sesuai tahun.218. Rp 1. Jumlah tersebut terus meningkat menjadi Rp 1.230. Rp 1.000 Sumber : Departemen Keuangan.3 Dana Otsus dari Tahun ke Tahun Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Dana Otsus (Rupiah) 1.000.000 1.913.53 trilyun pada tahun 2003. kemudian menjadi 50% ** selama 20 tahun Dengan keberadaannya sebagai daerah yang ditata dengan otonomi khusus.000. Rp 2.Tabel 2.000 2.000.274. Rp 3.642. Total dana otonomi khusus selama 2002-2008 mencapai Rp 16.81 trilyun.2 Aturan Dana Perimbangan dalam Otonomi Khusus Bagi hasil pajak • • • 90% dari pajak bumi dan bangunan (PBB) 80% dari bea BB (BBB) 20% dari pajak penghasilan perseorangan Bagi hasil sumberdaya alam • 80% dari kehutanan.000.539.000 3. maka Pemerintah Pusat memberikan alokasi dana khusus otonomi atau Dana Otsus. Dana ini diberikan sejak tahun 2002 sebesar Rp 1.91 trilyun pada tahun 2006.038.617.000.560. perikanan.000 1. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 45 .24 trilyun.20 trilyun pada tahun 2007. dan pertambangan umum • 70% dari minyak bumi* dan gas bumi* Bagi hasil dana alokasi umum • DAK sesuai perundang-undangan • 20% dari DAU khusus untuk pendidikan dan kesehatan** • DAK untuk infrastruktur (berdasarkan usulan provinsi dan ditetapkan Pemerintah dan DPR) * selama 25 tahun.8 juta jiwa.312.775.64 trilyun pada tahun 2004.000.000 1. sekitar 1. Tabel 2. dan pada tahun 2008 dirancang senilai Rp 3.

Terjadi pemangkasan atau pengalihan peruntukan pembiayaan di bidang lain. mencakup bidang : Pendidikan. (b) Rencana Definitif Penggunaan Dana Otsus Provinsi Papua Tahun Anggaran 2006 yang dikeluarkan pada Bulan April 2006. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat.3. Pemerintah Provinsi Papua dan Kabupaten/Kota diharuskan memfasilitasi dalam bentuk bantuan/subsidi yang diatur lebih lanjut di dalam Perdasi tentang pendidikan. Lembaga Swadaya Masyarakat dan Dunia Usaha) yang memenuhi syarat diberi kesempatan yang luas untuk berperan dalam mengembangkan program-program. Kesehatan. Pemerintah kabupaten/kota di lokasi sasaran evaluasi. terutama untuk suksesnya Wajar 9 tahun dengan memanfaatkan secara optimal prasarana dan sarana fisik/nonfisik dan meningkatkan jumlah dan mutu pengajar. dan (c) Pedoman Teknis Kebijakan alokasi penggunaan dana otonomi khusus untuk pembangunan Provinsi Papua. terutama bidang infrastruktur.4. dan Penunjang Lainnya. Implementasi Pembangunan Implementasi kebijakan dalam bentuk program pembangunan. tidak sesuai kebutuhan dan masih kurang transparan terhadap besaran alokasi dana. Kabupaten Jayawijaya.2. Dalam hal ini. 46 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Infrastruktur. mengatur tentang hak setiap penduduk memperoleh pendidikan bermutu pada semua jenjang. Kabupaten Merauke. tidak ditemukan langkah-langkah kebijakan kabupaten/kota untuk menerjemahkannya lebih lanjut. jalur dan jenis pendidikan dengan meminimalkan beban masyarakat yang sekecil mungkin. Terkait dengan regulasi di atas. Kabupaten Jayapura. Dalam implementasinya. a. dana otsus yang disediakan Pemerintah Daerah untuk dikelola oleh Dinas terkait. Pendidikan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 Pasal 56 : 1-6. dan Kabupaten Teluk Bintuni) diarahkan pada peningkatan pemerataan dan mutu pelayanan pendidikan.. misalnya dalam bentuk Peraturan Daerah atau keputusan Bupati/Walikota. Sehubungan dengan itu. hanya berpedoman pada petunjuk teknis yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Papua setiap tahun anggaran. Pihak swasta (Lembaga Agama. Tahun Anggaran 2006. Diakui bahwa kebijakan pendidikan kabupaten/kota (misalnya di Kota Jayapura. Sebagai contoh. maka bidang pendidikan menjadi bagian penting dalam kerangka kebijakan dan strategi pembangunan di kabupaten/kota. pada tahun 2006 adalah : (a) Nota Kesepahaman antar Gubernur Provinsi Papua dengan Bupati/Walikota se Provinsi Papua Tanggal 10 Pebruari 2006 tentang Pembagian Dana Otonomi Khusus Tahun Anggaran 2006.

Masih ada kesangsian dari masyarakat, apakah ada kesungguhan pemerintah untuk menerapkan kebijakan pembangunan pendidikan yang telah diagendakan itu. Kesangsian tersebut cukup beralasan jika mencermati berapa argumen indikatif yang diajukan : Pertama, Selama 6 tahun implementasi otonomi khusus, pendidikan bermutu pada semua jenjang, jalur dan jenis pendidikan umumnya hanya dapat dinikmati oleh masyarakat asli Papua yang tinggal di perkotaan dan sekitarnya. Sedangkan mereka yang berada di kampung-kampung yang sulit diakses dari ibukota kabupaten/kota belum memperoleh layanan pendidikan yang memadai; Kedua, alokasi bantuan beasiswa menjadi sangat terbatas dan tidak lancar. Padahal undang-undang Otonomi khusus Pasal 56 ayat (3) dan penjelasannya telah mengamanatkan perlunya alokasi pembiayaan seluruh atau sebagian biaya pendidikan bagi putra putri asli Papua pada semua jenjang pendidikan. Masyarakat sangat berharap agar dengan penuh kejujuran, Pemerintah dapat membebaskan biaya anak sekolah hingga ke jenjang Perguruan Tinggi. Lahirnya Perdasi Provinsi Papua Nomor : 5 Tahun 2006 tentang pembangunan pendidikan di Provinsi Papua, diharapkan menjadi landasan utama bagi suksesnya implementasi otonomi khusus di bidang pendidikan. Sehingga alokasi dana untuk pendidikan minimal 30% yang selama ini belum berjalan sebagaimana mestinya, segera dapat diwujudkan. Hingga tahun 2006, alokasi dana untuk pendidikan di kabupaten/kota sasaran evaluasi, baru berkisar antara 12-21% saja. b. Kesehatan Amanat Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001, agar Pemerintah provinsi wajib menetapkan standar mutu dan memberikan pelayanan kesehatan dan gizi (Pasal 59 ayat (1)), di mana setiap penduduk asli Papua berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu dengan beban masyarakat serendah-rendahnya (Pasal 59 ayat (3)), tampaknya belum dapat diwujudkan dengan baik. Sementara itu, pihak swasta dan lembaga sosial keagamaan yang diberi peran untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan, masih memiliki keterbatasan sehingga seringkali harus menerapkan pelayanan berbiaya mahal. Rendahnya mutu pelayanan kesehatan umumnya disebabkan sulitnya akses penduduk ke pusatpusat pelayanan kesehatan karena kendala geografis dan transportasi. Penyebab lainnya adalah adanya keterbatasan tenaga, sarana dan fasilitas pelayanan kesehatan. Alokasi dana otonomi khusus untuk pembangunan kesehatan sekitar 15% tidak cukup signifikan untuk menolong perbaikan layanan kesehatan masyarakat Papua. Sasaran penggunaan dana belum terfokus pada upaya nyata

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

47

peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara langsung. Pelayanan kesehatan bagi penduduk dengan beban masyarakat yang serendahrendahnya masih jauh dari harapan. Hal ini terutama dirasakan oleh penduduk yang jauh dari perkotaan. Pelayanan kesehatan di rumah sakit masih dirasakan mahal terutama pembelian obat-obatan. Keikutsertaan lembaga non pemerintah, terutama lembaga agama dalam pelayanan kesehatan telah terlaksana selama ini, terutama terhadap penduduk di wilayah pedalaman dan terpencil. Ada juga lembaga swadaya masyarakat yang terlibat dalam pelayanan kesehatan, namun jumlahnya masih minim. Sedangkan dunia usaha sangat minim keterlibatannya dalam upaya pelayanan kesehatan. Kebijakan pemerintah kabupaten/kota sasaran evaluasi, dalam rangka implementasi Otonomi khusus di bidang kesehatan diarahkan pada peningkatan jangkauan/pemerataan dan mutu pelayanan kesehatan. c. Ekonomi Kerakyatan Pembangunan ekonomi kerakyatan di kabupaten/kota sasaran evaluasi pada umumnya terumuskan dalam rangkuman arahan kebijakan sebagai berikut: Peningkatan kemampuan komoditi ekonomi tradisional masyarakat; Pembentukan dan peningkatan sentra ekonomi rakyat dan produksi masyarakat; Penciptaan sirkulasi ekonomi rakyat terpadu; Pelatihan dan magang peningkatan ekonomi rakyat; Peningkatan perilaku yang berorientasi pada usaha produktif; Peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat. Pemberdayaan ekonomi rakyat bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berbagai aktivitas pembangunan khususnya di bidang ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu mengolah sumber daya alam secara efisien dan berkelanjutan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya. Mendorong masyarakat, pengusaha kecil dan menengah untuk berkembang serta mampu mendorong berkembangnya ekonomi daerah dan menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha. Untuk merealisasikan hal tersebut, maka sejalan dengan semangat dan filosofi undang-undang otonomi khusus, pemerintah kabupaten/kota telah berupaya menerjemahkannya dalam berbagai bentuk program disemua sektor ekonomi di perkotaan dan di kanpung-kampung. Namun dalam bidang ekonomi kerakyatan masih memerlukan pelatihan dan sosialisasi yang intensif terhadap masyarakat.

48

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

Bagian Ketiga

PENDIDIKAN1

3.1. Muatan Kebijakan Undang-Undang Otsus mengatur hal-hal yang berkenaan dengan pendidikan, terutama pada pasal 56. Pada pasal ini disebutkan bahwa Pemerintah Provinsi bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan pendidikan pada semua jenjang, jalur, dan jenis pendidikan di Provinsi Papua. Pemerintah Pusat menetapkan kebijakan umum tentang otonomi perguruan tinggi, kurikulum inti, dan standar mutu pada semua jenjang, jalur, dan jenis pendidikan sebagai pedoman pelaksanaan bagi pimpinan perguruan tinggi dan Pemerintah Provinsi. Mengingat tujuan Otsus adalah membangun sumberdaya manusia Papua yang unggul, maka pada pasal ini ditetapkan bahwa setiap penduduk Provinsi Papua berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sampai dengan tingkat sekolah menengah dengan beban masyarakat serendah-rendahnya. Pada pasal ini juga diatur bahwa dalam mengembangkan dan menyelenggarakan pendidikan, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, dan dunia usaha yang memenuhi syarat sesuai dengan peraturan perundangundangan untuk mengembangkan dan menyelenggarakan pendidikan yang bermutu di Provinsi Papua. Untuk itu, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota
1 Bagian ini mengambil materi dari Laporan Evaluasi Otonomi Khusus Papua Bidang Pendidikan, 2008, Jakarta: Kemitraan untuk Tata Kelola yang Baik.

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

49

dapat memberikan bantuan dan/atau subsidi kepada penyelenggara pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat. Pengaturan diatas didukung oleh Pasal 57 dan Pasal 58. Pada Pasal 57 diatur bahwa Pemerintah Provinsi wajib melindungi, membina, dan mengembangkan kebudayaan asli Papua. Dalam melaksanakan kewajiban tersebut, Pemerintah Provinsi memberikan peran sebesar-besarnya kepada masyarakat, termasuk lembaga swadaya masyarakat yang memenuhi persyaratan, termasuk di dalamnya memberikan pembiayaan. Pada Pasal 58 disebutkan bahwa Pemerintah Provinsi berkewajiban membina, mengembangkan, dan melestarikan keragaman bahasa dan sastra daerah guna mempertahankan dan memantapkan jati diri orang Papua. Selain bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa Inggris ditetapkan sebagai bahasa kedua di semua jenjang pendidikan. Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar di jenjang pendidikan dasar sesuai kebutuhan. Untuk melaksanakannya, pada 27 April tahun 2006 diterbitkan Perdasi No. 5 tahun 2006 Dalam Perda tersebut telah diatur berbagai kebijakan di bidang pendidikan yang mencerminkan pengelolaan pendidikan di Papua. Diantara kebijakan tersebut adalah menyangkut:
Tabel 3.1 Pasal Pasal Perdasi No. 5 Tahun 2006 Terkait Pengelolaan Pendidikan 1 Pasal 9 Hak atas pendidikan dengan pola khusus bagi setiap orang asli Papua yang bermukim di daerah terisolasi, terpencil, dan terabaikan. Hak setiap keluarga Papua untuk menyelenggarakan pendidikan berdasarkan nilai dan norma agama dan adat yang dianut, serta memperoleh bimbingan kependidikan untuk penyelenggaraan pendidikan dalam keluarga. Kewajiban setiap orang tua di Papua untuk (a) melindungi anggota keluarga dari pengaruh merugikan, serta memberi arah bagi keluarga untuk berperilaku baik sesuai dengan norma agama, adat, sosial dan hukum, (b) menyekolahkan anaknya serendah-rendahnya pada jenjang pendidikan dasar. Hak pengelola pendidikan swasta atas bantuan teknis, subsidi dana, serta sumber daya lainnya secara adil dan proporsional dari Pemerintah dan Pemda

2

Pasal 11

3

Pasal 12 ayat (2)

50

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

Akreditasi sekolah-sekolah khusus Penetapan bahasa Inggris sebagai bahasa wajib kedua di lembagalembaga pendidikan formal Jenis-jenis pendidikan khusus di Papua mencakup: Kolese Pendidikan Guru. Pengetahuan kearifan lokal dipelajari sebagai materi muatan lokal yang diintegrasikan kedalam mata pelajaran terkait. ayat (1) & (2) Hak peserta didik yang berasal dari keluarga ekonomi lemah dan tidak mampu membiayai pendidikannya serta memiliki kemampuan akademik untuk mendapat biaya pendidikan dari Pemerintah dan Pemda Hak pendidik dan tenaga pendidik: Gaji. Peran pemerintah kampung dan lembaga adat dalam membina dan mengembangkan pendidikan kearifan lokal yang dilaksanakan setiap keluarga. Penyelenggaraan PAUD dengan model Sekolah Minggu. Sumber-sumber pendanaan pendidikan 5 Pasal 15 ayat (1) huruf f 6 Pasal 19 ayat (2) 7 Pasal 20 ayat (1) & (2) Pasal 23 ayat (2) Pasal 24 ayat (3) 8 9 10 Pasal 29 11 Pasal 30 12 13 Pasal 34 Pasal 36 14 Pasal 44 15 Pasal 45 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 51 . Peluang untuk menyelenggaran pendidikan berasrama atau semi asrama. dan sosial budaya Papua Muatan kurikulum lokal yang antara lain mencakup etnosains. bahasa. tunjangan fungsional. kelas ganjil-genap. termasuk peran laki-laki dalam mengelola keluarga. kelas khusus dll. bahasa daerah. sejarah lokal. Pemaduan bahan ajar kurikulum nasional dengan keanekaragaman fisik. teknologi lokal dll. yang disesuaikan dengan kebutuhan. lingkungan dan usia peserta didik. sekolah ketrampilan lapangan bagi masyarakat. dll.4 Pasal 14. serta mengakui dan menghormati tradisi dan kebudayaan masyarakat setempat. Penerapan pola pendidikan khusus sperti sekolah khusus. sekolah ketrampilan kerumahtanggaan. pembinaan keagamaan peserta didik. plasma induk. tunjangan daerah terpencil. pensiun. Memperoleh pelayanan transportasi pulang pergi bagi yang bekerja di daerah terpencil. serta tunjangan lain sesuai dengan undang-undang.

3. melalui dana Otonomi Khusus. Termasuk dalam pengelolaan sekolah. kewenangan mengatur dirinya sendiri sesuai dengan manajemen berbasis sekolah. belum merasakan seperti yang diharapkan. Beberapa responden menyatakan 52 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Implementasi Kebijakan Kebijakan Otonomi Khusus Bidang Pendidikan di Papua dipahami sebagai perhatian pemerintah Pusat terhadap Provinsi Papua terutama masalah pendidikan. Sedangkan masyarakat di dua kabupaten lain (Merauke dan Manokwari). Beberapa perubahan yang dirasakan antara lain dalam hal pembebasan biaya pendaftaran masuk.16 17 Pasal 48 Pasal 54 Pemerintah daerah memberikan subsidi dalam bentuk hibah untuk keperluan penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan oleh lembaga pendidikan swasta. Dengan Otonomi Khusus juga memungkinkan pendidikan di Papua disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sesuai dengan budaya dan keadaan geografis. Perubahan sebelum dan sesudah Otonomi Khusus di Jayapura menjadi lebih signifikan jika dibanding dengan di Merauke dan Manokwari. penyediaan seragam bagi murid baru. Sebagian dari responden hanya mendengar bahwa sebelum Otonomi Khusus pendanaan berasal dari pusat sedangkan sesudah Otonomi Khusus pendanaan berasal dari Kabupaten/Kota atau Provinsi. di mana pendanaan ini masih dirasa juga belum cukup menunjang pengembangan profesi guru. penyediaan akses pendidikan yang lebih luas dan merata. khususnya di Jayapura. yang memungkinkan terjadinya peningkatan pembangunan di bidang pendidikan. Semasa Otonomi Khusus masyarakat sudah merasakan ada perbedaan yang berarti dalam hal pendidikan.2. serta penyediaan rumah dinas bagi guru. Kualifikasi pendidik untuk PAUD dan SD minimal DII Keguruan. Perbedaan tersebut tampak dari dibangunnya sekolah berstandar nasional dan internasional. tunjangan kelebihan mengajar bagi guru. alat tulis. yaitu seperti di Jayapura. penyusunan kurikulum. rehabilitasi gedung sekolah. Otonomi Khusus bidang pendidikan ini juga dipahami sebagai pengalokasian dana yang cukup besar dari pemerintah pusat untuk pembangunan pendidikan bagi masyarakat asli Papua melalui Pemerintah Kabupaten dan Provinsi. penyediaan buku paket. penyediaan kendaraan bermotor bagi Kepala Sekolah.

serta perwakilan orang tua murid. Khusus untuk buku pelajaran. Pendidikan yang sekarang dijalankan masih mengacu pada standar nasional. kabupaten (pra-modern). 3.2. Untuk membuat desain ini. jika dibandingkan sebelum masa Otonomi Khusus. Jangankan kebijakan tentang kurikulum. Masyarakat menghimbau agar pembuatan peraturan tersebut melibatkan unsur-unsur masyarakat yang terkait. misalnya dengan berkurangnya frekuensi pelatihan dan penataran untuk guru. Walau begitu secara umum telah diusahakan adanya kebijakan Kurikulum.1 Kurikulum Kebijakan Otonomi Khusus Bidang Pendidikan untuk pengembangan kurikulum di Papua belum mendapat respon yang optimal kecuali di Sekolah Unggulan/ rintisan SBI. yang meliputi antara lain materi pengajaran. mentalitas pengajar. dan sarana pendukung pendidikan lainnya. dalam masa Otonomi Khusus juga belum dibuat suatu formula atau desain untuk mendidik anak Papua sesuai kondisi sosial dan budaya (misalnya berdasarkan pemetaan wilayah kota (modern). misalnya untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jurusan Pertanian dan Pengolahan Hasil Pertanian kurikulumnya harus disesuaikan dengan potensi KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 53 . praktisi pendidikan. tanpa adanya penyesuaian yang signifikan dengan lokalitas daerah. Bagi siswa dan orang tua. yaitu birokrat. pengamat pendidikan. pihak sekolah atau guru perlu dilibatkan sehingga buku yang dibeli dapat bermanfaat langsung bagi siswa. Dirasa oleh sebagian masyarakat.bahwa dukungan bagi guru untuk meningkatkan karirnya cenderung berkurang. distrik/ kampung (tradisional). perguruan tinggi. diperoleh data bahwa banyak masyarakat yang belum mengetahui dengan jelas. sampai saat evaluasi dilakukan. Hal ini penting karena melalui pelatihan dapat saling tukar informasi. alat tulis dan buku pelajaran. penggunaan buku tersebut belum optimal. beasiswa bagi guru untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Dalam proses pembuatan peraturan-peraturan bidang pendidikan di aras provinsi dan kabupaten. Padahal menurut mereka itulah salah satu cara untuk komunikasi dengan guru dari lain daerah. dengan dihapuskannya uang sekolah. uang pendaftaran masuk sekolah. Maka dari itu. diperoleh informasi masih adanya kabupaten yang belum memiliki sekolah. Yaitu model pendidikan yang berorientasi pada budaya lokal (daerah) Papua. penggunaan buku. responden menyarankan adanya kajian khusus tentang hal tersebut. sudah dirasakan adanya perubahan. beberapa responden minta agar dalam hal pengadaan buku. pemberian seragam. yayasan-yayasan dan LSM pendidikan.

Sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Merauke memasukkan budaya lokal dalam mata pelajaran seperti seni suara maupun seni tari lokal. Penyelenggaraan Ujian Akhir National (UAN) juga dianggap sebagai kendala tersendiri bagi pengembangan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Namun sampai saat evaluasi. Namun demikian. Ketrampilan membuat anak panah dan panah ini diberikan karena sementara ini panah masih banyak digunakan sebagai alat untuk berburu binatang sebagai mata pencaharian sebagian penduduk di Papua. kebudayaan asli Papua.2. 3. Hiruk pikuk pembaharuan kurikulum di tingkat Nasional baik dalam bentuk Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) maupun KTSP cukup dirasakan mengganggu dinamika implementasi di dua kabupaten. siswa diberi peluang untuk mengembangkan diri dan berkreasi dalam rangka peningkatan kemampuan dan pengembangan ilmu pengetahuan. 54 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . misalnya di Merauke dan Manokwari. pengembangan Kurikulum perlu mengikuti Model Pendidikan Dasar yang Berorientasi Budaya Lokal/Daerah Papua. bahasa daerah. Muatan lokal berupa mata pelajaran pengetahuan masyarakat setempat. sedangkan untuk sekolah umum kurikulum ekstra kurikulernya-pun perlu menyesuaikan juga. sejarah lokal. Sedang di Manokwari ada sekolah SMP yang memberikan muatan lokal berupa pelajaran ketrampilan membuat panah dan anak panah. Dengan pengembangan kurikulum yang demikian. belum ada muatan lokal khas Papua dalam kurikulum sekolah baik intra maupun ekstra kurikuler. proses penyiapan guru dan aparat pendidikan harus dilakukan terlebih dahulu agar pembaharuan pendidkan itu benar-benar dapat dilaksanakan. kebijakan pendidikan memasukkan muatan lokal. muatan lokal yang mengatur tentang sikap dan perilaku yang luhur masih sangat jarang diberikan di sekolah. Juga dimasukkan nilai kehidupan lokal seperti masamu melalui pelajaran PKn. Stakeholders berharap agar pengembangan kurikulum tidak dilakukan berdasarkan hasil kajian di sekolah-sekolah di Jawa melainkan lebih merupakan kajian kebutuhan nyata masyarakat Papua. dan bahasa Indonesia. Lebih dari itu sekiranya akan diimplementasikan kurikulum baru.wilayah/daerah Papua. Muatan Lokal Pada implementasinya.2. Merauke dan Manokwari. diberikan dengan tujuan untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu beradaptasi dengan perubahan global dengan tetap berakar pada nilai-nilai budaya Papua. Selain itu. Memang ada sekolah yang memberikan muatan lokal.

dan berkemampuan yang bermutu/sangat baik. Dengan kebijakan sekolah unggulan ini diharapkan terjadi persaingan positif di antara siswa. walaupun begitu jika bercermin dari satu sekolah aras Provinsi dan satu sekolah di Kota Jayapura. Hal ini bisa dilihat dari sangat tingginya kesadaran siswa akan arti pentingnya sekolah. Mutu Pendidikan Kebijakan Otonomi Khusus Bidang Pendidikan dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar. sehingga hasil UAN maupun prestasi dalam mengikuti lomba-lomba pada tingkat nasional terus meningkat (terlebih Khusus SMK). Menengah dan Tinggi. terciptanya siswa yang mandiri. (3) Jumlah mahasiswa asli Papua pada perguruan tinggi negeri (di Papua maupun di luar KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 55 . Keberhasilan kebijakan ini bisa diidentifikasi misalnya: murid mulai sejak tingkat SD sudah dapat mengikuti Olimpiade Matematika dan IPA tingkat Nasional. dan atau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. menunjukkan bahwa pemerintah mempunyai kepedulian yang tinggi tentang mutu pendidikan yaitu dengan kebijakan menjadikan Sekolah-Sekolah Ber-Standar Nasional (SSN) dan menuju Sekolah Ber-Standar Internasional (SSI) mulai dari rintisan sekolah pada aras Provinsi dengan Model SMA sebagai Sekolah Unggul dengan Berasrama dan di Kota Jaya Pura dengan Model Sekolah Satu Atap SD. 3. sangat kreatif. hasilnya cukup menggembirakan.Hasilnya adalah: (1) Anak-anak bisa mengikuti pelajaran lebih baik.Implementasi Kebijakan Otonomi Khusus Bidang Pendidikan di Papua juga diwujudkan dalam bentuk kebijakan mutu pendidikan melalui Sekolah Unggulan. Murid-murid sejak SD mendapat pelajaran komputer (teori dan praktek) di sekolahnya masing-masing.2. Kebijakan mutu pendidikan dalam Kebijakan Otonomi Khusus Bidang Pendidikan di daerah perkotaan seperti Jayapura. sudah dapat dikatakan telah berhasil membuat mutu pendidikan hampir sama dengan mutu pendidikan di daerah lain di luar Papua.3. Kebijakan ini disadari cukup banyak menyedot dana. Sayangnya kebijakan ini belum bisa bergulir ke daerah/kabupaten lain diluar Jayapura. (2) Sebagian besar tamatan terserap di lapangan kerja. terbukti dengan diperolehnya prestasi dalam berbagai kejuaraan olimpiade. dapat meningkatkan cara belajarnya yang lebih baik. dan juga yang lebih utama adalah mendorong adanya kompetisi antar sekolah-sekolah di daerah yang mengarah ke sekolah bermutu/favorit dan menuju sekolah bertaraf internasional. termasuk melalui belajar berkelompok. sebagai perhatian lebih khusus tentang kebijakan dan kewenangan yang diberikan untuk kemajuan mutu pendidikan. SMP dan SMA. siswa-siswa berhasil dalam lomba olimpiade Sience Nasional dan Internasional.

Papua) semakin meningkat. Bahkan sekalipun penduduk asli Papua yang berasal dari pedalaman-pun dapat memperoleh pendidikan dokter di Perguruan Tinggi ternama. dan belum sampai daerah kabupaten yang lain. 56 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Sayangnya hal ini masih terpusat di kota Jayapura saja.

Demikian juga mahasiswa berprestasi memperoleh bea siswa. Murid SD. Sementara sekolah yang bermutu di kota lebih didominasi putra-putri pendatang. baik dari dalam maupun luar negeri. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 57 . 3. utamanya di sekolah bermutu seperti di SSN atau SNBI.2. Lebih lanjut. mengarah ke pertanda semakin luasnya kesempatan penduduk asli Papua untuk memperoleh pendidikan. Penghargaan terhadap guru di daerah pedalaman juga menurun atau merosot. Rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan membuat mereka merasa bebas untuk bersekolah. namun dengan semakin tingginya animo masyarakat akan pentingnya pendidikan dapat dipakai sebagai tolok ukur keberhasilan dalam kebijakan ini. Berbeda dengan di Merauke maupun di Manokwari. S2 dan S3 semakin meningkat jumlahnya baik dari lulusan Papua maupun luar Papua. dalam artian bebas masuk dan bebas keluar.Kebijakan Otonomi Khusus Bidang Pendidikan Di kalangan Perguruan Tinggi di Papua juga telah berhasil karena telah terjadi peningkatan jenjang pendidikan dosen dari S1 menjadi S2 dan S3 yang sebagian dibiayai dari dana Otonomi Khusus. juga diakui ada banyak siswasiswa (terutama asli Papua) dengan tingkat kemampuan rendah yang semakin tersisih dari pendidikan. Selain itu juga semakin tinggi jumlah penduduk asli Papua dari pedalaman yang melanjutkan pendidikan ke jenjang Pendidikan Tinggi.4. Walaupun begitu. Kondisi geografis yang membatasi jangkauan layanan pendidikan yang bermutu dan kekayaan alam juga menjadi kendala rendahnya partisipasi masyarakat. dan atau bantuan tugas akhir dari Dinas Pendidikan dan Pengajaran (P dan P). SMP memperoleh dana Otonomi Khusus dan juga Biaya Operasional Sekolah (BOS). Sumber Daya Manusia yang berkualifikasi S1. siswa SMTA mendapatkan subsidi. Kesempatan Pendidikan Kebijakan yang menyangkut perluasan kesempatan masyarakat memperoleh pendidikan secara khusus dan tersurat dalam era Otonomi Khusus ini belum dipahami benar oleh para birokrat peserta Focus Group Discussion (FGD). Selain itu para dosen juga dapat mengadakan penelitian dengan menggunakan peralatan laboratorium dan dana yang sebagian bersumber dari Otonomi Khusus. komitmen pemerintah untuk membuka seluas mungkin akses pendidikan bagi masyarakat Papua khususnya yang ada di pedalaman kurang bersambut baik dengan sistem reward bagi para pendidik yang bertugas di pedalaman maupun kesadaran warga masyarakat untuk menyekolahkan putra putri mereka. yang disebabkan juga karena kualitas guru itu sendiri. sedangkan putra-putri Papua sendiri tergeser ke sekolah yang kurang bermutu.

Mengingat semakin banyaknya siswa-siswa (terutama asli Papua) yang tingkat kemampuannya rendah tersisih dari sekolah yang bermutu. Partisipasi masyarakat dalam pendidikan cukup besar baik dalam bentuk pendirian sekolah formal maupun non formal. tetapi cara kerjanya masih sama dengan cara kerja BP3 pada waktu sebelumnya. perpustakaan) juga alat dan bahan baik yang bersumber dari dana Orang Tua Murid ataupun dari Otonomi Khusus/Pemerintah. jumlah dan kualitas guru yang terbatas. Peran masyarakat dalam pendidikan melalui sekolah swasta makin menurun. penyelenggaraan MBS di sekolah. baik dalam penyelenggaraan pendidikan.2. Bagaimanapun beberapa sekolah yang didirikan oleh masyarakat ini masih banyak kendala terkait dengan kualitas guru. Partisipasi Masyarakat Otonomi Khusus di bidang pendidikan di Papua memberi kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat guna berpartisipasi dalam pendidikan. kemampuan sekolah untuk membayar guru. Kehadiran sekolah ini dipandang oleh pemerintah sangat penting karena keterbatasan pemerintah untuk menyediakan fasilitas sekolah bagi semua putra-putri Papua. dibandingkan dengan sekolah negeri. Meskipun sejak Otonomi Khusus sudah terbentuk komite sekolah pada sekolah-sekolah swasta ini. Sekolah yang didirikan oleh masyarakat ini sangat berperan terutama sebelum adanya sekolah Inpres.5. penggunaan dana dari masyarakat. sarana prasarana. BOP dan lain-lain. Partisipasi tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk pengadaan dan pemeliharaan sarana/prasarana (laboratorium. dan penyediaan rumah guru. Pemerintah daerah sudah membantu sekolah swasta ini dengan berbagai bantuan yang berupa guru sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) diperbantukan. sarana dan prasarana. mekanisme pengucuran dana. kualitas PBM. Selain itu juga dalam bentuk pengawasan terhadap kebijakan pendidikan. kurangnya masyarakat dalam membayar uang sekolah. maka partisipasi masyarakat semakin terbuka. dan lain-lainnya. 58 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . khususnya yang berada di daerah pedalaman. Oleh karena itu. atau memberi dukungan kepada sekolah yang sudah ada. tidaklah mengherankan jika kualitas sekolah yang diselenggarakan oleh masyarakat ini sangat beragam.3. Awalnya sekolah didirikan oleh lembaga-lembaga keagamaan.

dan pengendalian mutu pendidikan. yaitu biaya penyelenggaraan pendidikan publik. Namun. diberi insentif untuk kelebihan jam mengajar.2.6. dan disediakan sepeda motor bagi Kepala Sekolah. Bagi guru. animo masyarakat akan pentingnya pendidikan semakin tinggi. pengadaan dan atau renovasi sarana prasarana pendidikan dan secara khusus penyelenggaraan Sekolah Unggulan baik aras Provinsi maupun Kota di Jayapura. serta pembangunan rumah guru di sekolah. subsidi penyelenggaraan pendidikan keagamaan. pemerintah kabupaten memberikan bantuan pembebasan uang pendaftaran untuk masuk ke sekolah. antara lain meliputi: pembebasan dana pendidikan bagi penduduk asli Papua mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan menengah atas.3. Sementara di kabupaten Manokwari dan Merauke. Sesuai dengan Perda No. Hal ini tidak terlepas dari adanya perhatian serius pemerintah provinsi Papua. Hanya saja realisasi bantuan seragam sering mengalami keterlambatan karena luasnya rentang kendali. peraturan tersebut belum disosialisasikan. dan pakaian seragam bagi siswa kelas satu. Apalagi ditambah dengan adanya dukungan dana Otonomi Khusus yang dinilai cukup memadai untuk provinsi saja. pengadaan alat Laboratorium dan program ketrampilan. sampai saat penelitian ini dilakukan. siswa yang tidak mampu juga diberi bantuan sepeda sebagai alat transportasi. dan alat transportasi untuk putra daerah. biaya pelaksanaan akreditasi. serta bantuan uang ujian Evaluasi Belajar Tahap Akhir (Ebta). Menurut informasi. Pengaturan yang lebih efisien perlu dilakukan supaya paling lama satu bulan setelah masuk. Kebijakan-kebijakan tersebut perlu segera disosialisasikan dengan lebih efektif lagi. Khusus untuk kabupaten Merauke. 5 Tahun 2006. Pembiayaan Selama dekade terakhir ini di Jayapura. alokasi dana Otonomi Khusus diperuntukkan bagi enam pos. sebagai ibukota provinsi Papua. pengawasan. Kebijakan sehubungan dana pendidikan tersebut nampak dengan adanya alokasi dana yang cukup besar untuk dunia pendidikan khususnya bagi daerah-daerah (kabupaten dan distrik). di samping perdasi tersebut. Oleh karena itu sistem pengaturannya perlu ada modifikasi. siswa sudah dapat menggunakan seragam yang dibagikan tersebut. Beasiswa juga disediakan bagi siswa berprestasi dan siswa tidak mampu secara ekonomi. subsidi/hibah bagi lembaga KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 59 . juga sudah ditetapkan perda tentang mekanisme pengaturan dan pertanggungjawaban keuangan Otonomi Khusus.

tetapi ada koordinasi dan pengawasan dari yayasan. Selain penghapusan SPP dari tingkat SD sampai SMP bagi penduduk asli Papua. bahkan peralatan laboratorium di beberapa sekolah juga meningkat jumlah maupun jenisnya. dana Otonomi Khusus dimasukkan sebagai pos penerimaan dana kabupaten atau kota. Perbedaan antara tahun takwin dengan tahun ajaran juga menjadi kesulitan bagi pengelolaan keuangan pendidikan di kabupaten/kota karena biasanya sekolah sudah berjalan enam bulan. Indikatornya: masih banyak gedung sekolah yang rusak dan tidak diperbaiki. terlebih bagi mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Di sekolah tertentu yang ada di Jayapura tersedia sarana dan prasarana pendidikan yang relatif memadai. berlokasi di Abepura. biaya penyelenggaraan pendidikan tinggi dan swasta. Di Jayapura juga dikembangkan hal yang sama untuk jurusan IPA dan Matematika. bantuan kepada lembaga pendidikan swasta nasional. Otonomi Khusus juga dipahami sebagai bantuan sarana/fasilitas sekolah setiap anak. Dana Alokasi Khusus (DAK). Sebagai ilustrasi. pengadaan perpustakaan beserta koleksinya. terdapat sekolah yang kondisi sarana prasarananya sangat bervariasi. 3. Oleh karena itu. Sama halnya dengan kondisi di Manokwari dan Merauke. Untuk Merauke dan Manokwari. sementara mengharapkan partisipasi masyarakat sangatlah sedikit.7. belum berjalan seperti yang mereka harapkan. sebagian disalurkan ke kabupaten atau kota yang oleh Pemerintah Kota/ Kabupaten dimasukkan sebagai pos penerimaan daerah. Memang diakui bahwa partisipasi masyarakat sangat menonjol di daerah perkotaan. sebagian untuk pengembangan sekolah bertaraf internasional. Pengalokasian dana di level provinsi. Dalam realisasinya tidak lagi dibedakan berdasarkan dana Otonomi Khusus atau bukan.pendidikan swasta. Penyaluran dana ke sekolah swasta disarankan tidak langsung ke sekolah. Pada aras provinsi juga digunakan untuk pengadaan sekolah menengah yang bertaraf internasional. Yang mereka pahami adalah adanya penyaluran dana ke berbagai lembaga penyelenggara pendidikan umum. Walau begitu dalam implementasinya. Sarana dan Prasarana Kebijakan Otonomi Khusus Bidang Pendidikan untuk pengembangan sarana dan prasarana pendidikan di Papua dipahami sebagai usaha Pemerintah membantu pengadaan sarana dan prasarana sekolah. dan juga alat dan bahan pembelajaran dari dana Otonomi Khusus/Pemerintah. tapi di daerah pedalaman belum menggembirakan.2. 60 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . atau dana Otonomi Khusus. alat Laboratorium dan pemeliharaannya. dana baru turun. wajar jika sebagian besar responden tidak tahu pasti porsi 30% dana Otonomi Khusus apakah benar-benar dipakai untuk pendidikan. tetapi sumbernya tidak jelas apakah dari Dana Alokasi Umum (DAU).

sedangkan pendidikan anak usia Taman Kanak-kanak yang tidak tertampung pada pendidikan formal ditangani oleh Sub Dinas PLS. serta sebagian besar belum pernah mengikuti pelatihan yang dipersyaratkan. Terselenggara pendidikan dan pengajaran yang kontekstual. kurangnya kesadaran orang tua memasukkan anaknya pada lembaga TK. Pada tahun pelajaran 1999/2000 Penduduk usia 4 – 6 tahun sebanyak 206. terdiri dari 26 orang guru negeri dan 260 orang guru swasta.1. sangat terbatas prasarana pendidikan yang tersedia.3. Sampai dengan tahun 2001 kondisi pendidikan secara umum adalah: belum semua kecamatan/distrik memiliki TK. di jurusan perkayuan peralatan laboratoriumnya begitu lengkap. politik yang kokoh bagi terwujudnya masyarakat Papua menjadi Tuan di negeri sendiri”. tetapi di jurusan elektro sangatlah minim. sehingga mampu meletakkan landasan ekonomi. sebagaimana dipaparkan berikut ini. pada lembaga taman kanak-kanak dan 192. 3. dengan jumlah murid sebanyak 16. Sebgian besar guru negeri/swasta tersebut tidak memiliki kualifikasi sebagai tenaga guru TK.943 anak tertampung di TK. merata dan bermutu bagi masyarakat Papua guna memiliki ketrampilan hidup yang berorientasi pada kebutuhan pembangunan daerah Provinsi Papua. Pada tahun 2006 jumlah lembaga Taman Kanak-kanak di Provinsi Papua sebanyak 157 buah terdiri dari 6 TK negeri dan 151 TK swasta. Kinerja Kebijakan Visi Pendidikan Provinsi Papua pada tahun 2001/2002 adalah: “Pada Tahun 2005. 3. budaya. serta kemampuan ekonomi orang tua yang masih terbatas.692 anak. Visi ini diimplementasikan dalam bentuk kebijakan pendidikan untuk anak usia dini hingga perguruan tinggi. Pendidikan Anak Usia Dini Program Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan melalui pendidikan formal pada jenjang Taman Kanak-kanak ditangani oleh Sub Dinas Dikdasmen. Dari 267 TK Negeri dan TK swasta tersebut terdapat tenaga guru sebanyak 886 orang. Masih terdapat 8 kabupaten/kota yang belum memiliki TK Negeri.3. terdapat TK swasta sebanyak 261 lembaga. Selain TK negeri. Berbagai kendala tersebut berpengaruh pada rendahnya jumlah anak usia 4-6 tahun yang masuk pada lembaga TK. dengan tenaga pengajar sebanyak 703 orang guru tetap KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 61 . sosial.249 anak belum tertampung pada pendidikan TK. terbagi dalam: 13.653 anak .keadaan laboratorium SMKN 1 Manokwari. Sampai dengan tahun 2000 jumlah lembaga pendidikan TK sebanyak 6 TK Negeri yang terdapat di 6 kabupaten.

68%. Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun Pada tahun 2001.341 orang dan usia 13-15 tahun.642 anak dan tenaga pendidik sebanyak 610 orang. penitipan anak dan satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sejenis. Penitipan Anak dan Satuan Paud Sejenis sebanyak 125 kelompok dengan jumlah 6. baik melalui jalur pendidikan TK dan yang sederajat. 62 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . sebanyak 349.845 orang belum tertampung di SD dan SMP. Demikian halnya dengan lembaga PAUD yang diselenggarakan oleh pemerintah. yayasan maupun masyarakat juga belum mampu menjangkau seluruh kabupaten yang ada.102 orang.25%.703 yang terdiri dari 1. Untuk lembaga TK bahkan terdapat beberapa kabupaten yang belum tersedia TK negeri maupun swasta. yang terdiri dari kelompok bermain. Jumlah penduduk usia 0-6 tahun mencapai 277. Ini dapat dilihat dari data yang menunjukkan bahwa jumlah usia sekolah yang tertampung di SD baru mencapai 83.791 anak dan baru terlayani sekitar 22. Pada tahun 2005/2006 Provinsi Papua dengan jumlah penduduk usia 7 – 12 tahun sebanyak 365.pemerintah maupun yayasan serta dibantu dengan 529 guru tidak tetap dan lembaga PAUD yang terdiri dari kelompok Bermain. tersedia SD dan MI sebanyak 2. kesenjangan yang terjadi masih jauh dibandingkan dengan target program penuntasan wajib belajar Pendidikan Dasar.2. Lembaga PAUD yang tersebar di Provinsi Papua sebanyak 150 kelompok dengan jumlah peserta didik sebanyak 7.600 SD Negeri dan 1.259 anak (9.07% dan untuk SMP baru mencapai 38.152 anak.850 orang maka Angka Partisipasi Kasar mencapai 106.49%. sebanyak 181. Hal ini karena sangat terbatasnya TK yang disediakan oleh pemerintah serta lembaga PAUD yang tersedia di kabupaten/kota. Kebutuhan pendidikan untuk kelompok umur 0-4 tahun maupun 5-6 tahun. 3.437 anak dan bila dibandingkan dengan penduduk usia 7 – 12 tahun sebanyak 270. dengan demikian Angka Partisipasi Murni (APM) baru mencapai 87. maupun jalur pendidikan luar sekolah belum dapat terlayani secara layak dan memadai. Dari jumlah penduduk usia 7 – 12 tahun yang tertampung di SD sebanyak 237. baik melalui lembaga PAUD maupun TK. keadaan Pendidikan Dasar di Provinsi Papua yang meliputi SD dan SMP bila dikaitkan dengan peserta didik dan penduduk berumur 7-12 tahun untuk usia SD dan 13-15 tahun untuk usia SMP saat itu. Pada tahun pelajaran 2004/2005 jumlah murid SD/MI sebanyak 288. Dari jumlah anak usia 7-12 tahun.54%. Angka putus sekolah jenjang SD mencapai 7. atau 22.3.838 orang.606 siswa dan tenaga pendidik 495 orang.103 SD Swasta yang tersebar di 29 kabupaten/kota.01%).

terdiri dari 5. Angka putus sekolah pada SMP mencapai 8. 186 guru tetap yayasan dan dibantu 1.225 tenaga guru tetap yang diangkat oleh pemerintah.055 siswa.407 siswa.68%. untuk menampung lulusan SD disekitarnya.24%.021 ruang dengan kondisi baik dan rusak ringan. Pendidik pada 308 SMP/MTs negeri dan swasta berjumlah 3.718 ruang. dengan jumlah murid usia 1315 tahun di SMP/MTs sebanyak 58. sedangkan angka partisipasi murni 47. 3.07% atau 6.157 orang guru tetap yang diangkat oleh pemerintah maupun swasta serta dibantu oleh 1. Pada tahun 2001 terdapat 348 sekolah SMP.Tenaga pendidik SD/MI pada tahun 2005/2006 sebanyak 11. Lima tahun ke depan.3.803 ruang belajar SD Swasta. dengan perincian 236 SMP/MTS Negeri dan 112 SMP/MTS Swasta. serta 248 ruang dalam keadaan rusak. Pada tahun 2004/2005 jumlah penduduk usia 13 -15 sebanyak 123.407 orang. dengan jumlah ruangan kelas sebanyak 803 ruangan dalam kondisi baik dan rusak ringan.796 guru negeri dan dibantu guru tidak tetap sebanyak 1. yang pada akhirnya dapat meningkatkan angka partisipasi. diharapkan setiap distrik memiliki SMP.638 orang.027 orang.25%. untuk Provinsi Papua memiliki ruang kelas 860 lokal dan jumlah 35. Tenaga pengajar pada di 236 sekolah SMP Negeri dan 112 SMP Swasta terdapat 3. bahkan untuk sekolah yang berlokasi di daerah pedalaman kondisinya sudah tidak layak lagi untuk dihuni. dengan jumlah murid SMP/MTs yang tertampung pada 308 sekolah sebanyak 75.586 orang guru negeri dan 92 orang guru tetap yayasan serta dibantu 946 guru tidak tetap. Jumlah sekolah menengah kejuruan sebanyak KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 63 . Pendidikan Menengah Untuk penduduk usia 16-18 tahun yang telah tamat pada jenjang pendidikan tingkat SMP sampai tahun 1999/2000 telah tersedia 44 SMA Negeri dan 68 SMA Swasta. secara bertahap. terdapat beberapa distrik yang belum memiliki SMP. dan ini masih dirasakan kurang terutama pada daerah pedalaman.400 siswa. Dengan jumlah ruang 860 lokal mempunyai kapasitas maksimal 24.574 guru tidak tetap.3. Dengan demkian angka partisipasi kasar mencapai 60. Ruang belajar yang tersedia sebanyak 9. Dari ruang belajar yang tersedia kurang lebih 45% sudah mengalami kerusakan baik rusak ringan dan rusak berat. serta 57 ruangan lainnya dalam keadaan rusak. memiliki ruang belajar 2. Sejak terjadinya pemekaran kabupaten/ kota yang diikuti dengan pengembangan distrik. didukung oleh tenaga guru sebanyak 1.592 orang.915 ruang belajar SD Negeri dan 3. dengan jumlah murid 8.083 tenaga guru honorer. Angka partisipasi siswa pada tingkat SMP baru 38.708 orang.

64 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .985 orang yang mengikuti pendidikan pada SMA berjumlah 34. yang sekaligus juga untuk mengatasi kekurangan guru yang dikhususkan bagi guru SD di daerah pedalaman/terpencil. Pendidikan Tinggi Sampai tahun 2001/2002. Ketersediaan buku/alat bantu pendidikan masih kurang.374 orang. dan capaian tersebut sangat menopang dalam pelaksanaan program wajib belajar 9 tahun.32 SMK Negeri dan 18 SMK Negeri dan 14 SMK Swasta dengan jumlah ruang belajar 259 ruang dengan pengajar sebanyak 695 guru negeri dan 133 guru tetap yayasan.958 orang.721 orang.695 orang. dengan APK sebesar 45.43%. Timika dan Sorong). Sampai tahun 2005/2006.5.570 orang.4.675 orang.49% yang dicapai oleh Sekolah Dasar. Sampai dengan tahun 2006. 3.297 orang MA 314 orang dan SMK 15. Provinsi Papua telah memiliki dua Perguruan Tinggi Negeri dan 24 Perguruan Tinggi Swasta yang tersebar di berbagai kabupaten/ kota.3.07% dari jumlah penduduk usia 6-18 tahun yang berjumlah 115. Angka putus sekolah SMA sebesar 12. Berbagai fasilitas KPG telah dilengkapi. 7 MA dan 46 SMK. Merauke.289 orang. 3.368 orang. serta 346 guru tidak tetap. berbagai program yang telah dilaksanakan antara lain: Pembangunan KPG di empat lokasi (Nabire. jumlah penduduk penyandang buta aksara di 29 kabupaten/kota sebanyak 367.34% dan pada Sekolah Menengah Kejuruan sebesar 18. secara bertahap akan terus dibenahi. menjadi 126. KPG ini bertujuan untuk mencetak guru-guru SD yang siap terjun ke lapangan. dengan jumlah peserta didik sebanyak 49.436 orang dan IJB 71. Penyelenggaraan paket C telah menampung peserta kejar sebanyak 6. Pada tahun 2004/2005 jumlah sekolah sebanyak 169 sekolah yang terdiri dari 116 SMA. kondisi ini dapat mengangkat angka partisipasi kasar pada program wajib belajar 6 tahun dari 106. Pada umumnya ke 24 PTS ini masih menggunakan sarana gedung sekolah SD/SMP yang ada di kabupaten/kota.41% dengan jumlah peserta didik pada paket A dan SD/MI sebanyak 342. Peserta kejar paket B berjumlah 14. Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Pada tahun 2005/2006 siswa Paket A dan Paket B berjumlah 53. sementara yang berada di Provinsi Papua berjumlah 296.3.

dan peralatan sekolah. kebijakan pembiayaan pendidikan tersebut tidak luput dari dampak negatif. dan masih ditambah biaya transport.3. 5. dengan dibentuknya sekolah unggulan bertaraf internasional. transport. Terjadinya peningkatan mutu pendidikan. tetapi menjadi pedoman bagi penyelenggaraan pendidikan di semua jenjang. Jumlah mahasiswa asli Papua di perguruan tinggi negeri Papua maupun di luar Papua semakin meningkat. Sebagian besar keluarga Papua yang miskin mengeluhkan beratnya beban biaya pendidikan yang masih harus ditanggung. uang saku. Ini disebabkan karena orang tua masih harus menanggung biaya lain. dan peralatan sekolah yang lain. Biaya yang harus ditanggung orang tua murid sekitar lima ratus ribu rupiah setiap bulan. walaupun sudah ada BOS dan dana Otonomi Khusus. yang kelak diharapkan menjadi SDM yang berperan penting bagi kemajuan Papua. sehingga peran Papua diakui di dunia Internasional maupun nasional.4. Biaya yang ditanggung masyarakat serendah-rendahnya. Pihak sekolah dan masyarakat merasa semakin diperhatikan. Simpulan Undang-undang Otonomi Khusus yang telah ditindaklanjuti dengan Perda dan SK walaupun belum efektif. disalahartikan sebagai sekolah gratis. Konsekuensinya menciptakan ketidakadilan antara orang tua yang kaya dan yang miskin. antara lain: 1. 2. Konsep sekolah gratis juga membawa kesulitan bagi sekolah jika akan menarik dana dari orang tua. Bertambahnya sekolah-sekolah baru khususnya di daerah pedalaman atau terpencil serta dibangunnya rumah guru untuk Sekolah Dasar seperti di Kab. Walaupun begitu. dan mendorong adanya kompetisi antar sekolah sebagai sekolah bermutu dan favorit. Pada gilirannya akan memunculkan juara-juara olimpiade. SPP sebesar empat puluh sampai delapan puluh ribu rupiah. telah terjadi persaingan positif di antara siswa. dinilai cukup memberatkan. 4. Manokwari dan Merauke. seperti uang masuk. Kebutuhan guru terutama di kota Jaya Pura semakin terpenuhi. 3. Kebijakan pembiayaan dengan adanya pengalokasian dana yang besar untuk kemajuan pendidikan ini menghasilkan serangkaian dampak positif seperti: 1. tetapi untuk daerah-daerah pedalaman masih banyak mengalami kesulitan. uang saku. 2. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 65 . Sebagai contoh untuk masuk SMP yang bagus di Kota Jayapura dikenai uang masuk sekitar lima ratus sampai satu juta rupiah.

6. 7. dan selanjutnya menghilang. termasuk dana Otonomi Khusus. dan biaya operasional. ditangkap oleh masyarakat bahwa segala-galanya gratis. Dana Otonomi Khusus belum mampu menggaji pengangkatan guru lebih banyak lagi sesuai kebutuhan di daerah pedalaman. sebagai partisipasi masyarakat dalam pendidikan. Kurangnya kesadaran orangtua akan sistem pendidikan yang seharusnya berjalan. tetapi ada juga sekolah yang berani menolak permintaan orang tua tersebut. orang tua merasa tidak perlu lagi ikut berpartisipasi terhadap kebutuhan sekolah. Dampaknya. tanggung jawabnya dalam hal pendidikan anak menurun. Pada umumnya orang tua di daerah perkotaan telah banyak yang mempunyai kesadaran akan sistem pendidikan yang berlaku. Mereka datang lagi pada saat akan ujian atau ulangan dan dipastikan hasilnya akan tidak menggembirakan. Banyak sekolah terpaksa meloloskan permintaan orang tua. 66 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . dengan tunjangan khususnya yang memadai. juga mengalami kekurangan guru mata pelajaran dan praktek. Dengan konsep sekolah gratis tersebut. sementara dana dari pemerintah. tanpa harus membayar. Pemaknaan beban biaya yang serendah-rendahnya dari masyarakat yang sama dengan sekolah gratis justru menyulitkan pihak sekolah untuk menggalang dana dari masyarakat. Adanya kekurangan guru untuk mata guru pelajaran eksakta dan bahasa Inggris. Khusus di SMK. Peruntukan dana Otonomi Khusus belum dapat mengatasi keseluruhan gedung yang rusak.3. Sekolah ini biasanya adalah sekolah yang cukup favorit dan berada di perkotaan. yang dapat menurunkan kualitas pendidikan. Konsep sekolah gratis. Sementara masih banyak kebutuhan sekolah yang belum bercukupi dari dana-dana yang datang dari pemerintah. 4. Banyak anak Papua yang masuk pada awal-awal sekolah. pada akhir tahun orangtua tetap memaksa anaknya naik kelas atau lulus dalam ujian. perlengkapan/peralatan laboratorium. Namun demikian. belum mencukupi. berakibat pada turunnya keperdulian masyarakat terhadap pengembangan pendidikan di sekolah. 5.

Bagian Keempat

KESEHATAN1

4.1. Muatan Kebijakan
Salah satu prioritas dalam otonomi khusus adalah pembangunan kesehatan. Pada pasal 34 ayat (2) disebutkan bahwa dalam rangka pelaksanaan Otonomi Khusus yang besarnya setara dengan 2% dari plafon Dana Alokasi Umum Nasional, yang terutama ditujukan untuk pembiayaan pendidikan dan kesehatan. Pada pasal 36 ayat (2) dikatakan bahwa sekurang-kurangnya 30% penerimaan sebagaimana yang dimaksud dialokasikan untuk biaya pendidikan, dan sekurang-kurangnya 15% untuk kesehatan dan perbaikan gizi. Bab XVII UU Otsus secara spesifik mengatur masalah pembangunan kesehatan di Papua, yang diatur pada pasal 59 dan 60. Pada pasal 59 disebutkan bahwa Pemerintah Provinsi berkewajiban menetapkan standar mutu dan memberikan pelayanan kesehatan bagi penduduk. Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota berkewajiban mencegah dan menanggulangi penyakit-penyakit endemis dan/atau penyakit-penyakit yang membahayakan kelangsungan hidup penduduk. Selanjutnya ditetapkan bahwa setiap penduduk Papua berhak memperoleh pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud,
1 Bagian ini mengambil materi dari Laporan Evaluasi Otonomi Khusus Papua Bidang Kesehatan, 2008, Jakarta: Kemitraan untuk Tata Kelola yang Baik.

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

67

dengan beban masyarakat yang serendah-rendahnya. Dalam melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud, Pemerintah Provinsi memberikan peranan sebesar-besarnya kepada lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, dan dunia usaha yang memenuhi persyaratan. Ketentuan mengenai kewajiban menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan beban masyarakat serendahrendahnya sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dan keikutsertaan lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, serta dunia usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Perdasi. Pada pasal 60 ditetapkan bahwa Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/ Kota berkewajiban merencanakan dan melaksanakan program-program perbaikan dan peningkatan gizi penduduk, dan pelaksanaannya dapat melibatkan lembaga keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, dan dunia usaha yang memenuhi persyaratan, di mana pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan Perdasi. Kebijakan pembangunan kesehatan di bawah kebijakan Otsus diarahkan untuk meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan kesehatan melalui; (1) Program Pemberantasan Penyakit, (2) Pencegahan dan Penangulangan HIV/AIDS, (3) Peningkatan SDM di bidang kesehatan baik medis dan para medis, (4) Pelayanan Puskesmas, (5) Pelayanan Rumah Sakit, (6) Penyediaan Obat-obatan, (7) perbaikan gizi dan penyehatan lingkungan. Kebijakan ini diarahkan kepada enam isu, yaitu (1) terbangunnya kerjasama Pemerintah dan Swasta dalam penyediaan sarana dan prasarana kesehatan; (2) Peningkatan derajat kesehatan masyarakat; (3) Meningkatnya angka harapan hidup menjadi 70 tahun; (4) Melakukan rekruitmen dan pembinaan tenaga medis dan paramedis kearah profesional; (5) Meningkatkan peran serta masyarakat di dalam penanggulangan HIV/AIDS dan rehabilitasi orang yang terinfeksi HIV/AIDS; dan (6) Peningkatan jangkauan dan manajemen pelayanan kesehatan. Kebijakan ini diambil sebagai responsi dan antisipasi dari permasalahan kesehatan yang muncul dan diperkirakan akan berkembang di Papua, yang dapat dikelompokkan menjadi enam isu, yaitu (1) Tenaga medis dan paramedis masih sangat terbatas; (2) Pelayanan kesehatan bagi masyarakat ditingkat puskemas dan pustu serta posyandu masih perlu dioptimalkan; (3) Ketersediaan obat-obatan di tingkat Puskesmas dan Pustu masih perlu ditingkatkan; (4) Sarana dan prasarana kesehatan yang belum lengkap; (5) Masih rendahnya pemahaman masyarakat tentang pola hidup sehat; (6) Belum optimalnya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.

68

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

Dalam pelaksanaannya, kebijakan tersebut ditata dalam delapan program prioritas, yaitu (1) Program-program Pembangunan Bidang Kesehatan; (2) Peningkatan SDM tenaga medis; (3) Peningkatan jangkauan pelayanan kesehatan ke masyarakat; (4) Peningkatan pengelolaan manajemen puskesmas dan pustu yang lebih profesional; (5) Peningkatan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan; (6) Peningkatan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular; Peningkatan kesehatan keluarga; (7) Peningkatan kesadaran masyarakat tentang sanitasi lingkungan; dan (8) Pemahaman tentang tentang perlunya tanaman obat keluarga (obat alternatif ). Kebijakan di bidang kesehatan difokuskan pada delapan sasaran, yaitu (1) Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai; (2) Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular, khususnya 10 besar angka kesakitan; (3) Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata di seluruh puskesmas; (4) Menurunkan angka kematian ibu dan anak; (5) Menurunkan angka kesakitan masyarakat; (6) Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat; (7) Peningkatan sarana puskesmas keliling; (8) Terbinanya manajemen puskesmas dan puskemas tunggu serta puskemas keliling. Kedelapan sasaran ini merupakan key success indicator dari pembangunan kesehatan Papua di bawah kebijakan Otsus. 4.2 Implementasi Kebijakan Kesehatan 4.2.1. Impelementasi di Tingkat Provinsi Implementasi kebijakan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Papua dalam mengimplementasikan Otsus, masih berpegang pada UU No. 21. Tahun 2001, sebagaimana yang diamanatkan pada BAB XVII, Pasal 59 ayat (1), (2), (3), (4), dan (5) serta pasal 60, ayat (1) dan (2). Dana Otsus yang dikelola Oleh Provinsi lebih banyak digunakan untuk pelayanan dasar yaitu belanja Obat, Pelatihan, Pembiayaan Mikro Nutrien dan gisi, sedangkan untuk infrastruktur dan peralatan medis serta Pusling dananya diambil dari dana DAK. Kendala yang dihadapi di dalam memaksimalkan program agar dapat mencapai sasaran secara maksimal adalah dana Otsus selalu turun terlambat yang berakibat program tidak dapat terealisasi 100%. Untuk tahun 2007, saat ini sudah bulan November namun dana triwulan 3 dan 4 belum turun, padahal bulan Desember sudah harus dilaporkan penggunaan dana tersebut. Terbatasnya tenaga

KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA

69

Adanya kegiatan Kabupaten Pemekaran masuk dalam DASK Provinsi.913. Komitmen pemerintah kabupaten Sorong dalam memberikan pelayanan kepada masayarakat sebaik mungkin di era Otonomi Khusus terus dilakukan melalui peningkatan sarana 70 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Kebijakan ini dilakukan oleh pemerintah untuk meminimalisasi rujukan pasien ke luar Papua yang memerlukan biaya yang sangat mahal.kesehatan di tempat-tempat pelayanan kesehatan dan di dinas Kesehatan. baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.539. masing-masing satu. dengan mempunyai luas wilayah 1.300 87.7% Keterangan : dalam juta rupiah Sumber : Pemprov Papua 2002-2007 Bidang kesehatan yang paling banyak menyerap dana Otsus sejak tahun 20052006 yaitu 70. provinsi kesulitan mendata program dari kabupaten/kota. 9% 2003 1. Dengan adanya Otonomisasi.724 28. Sorong. Tabel 4.6% 2005 1.10945 km2 dan jumlah penduduk 78. misalnya dalam hal pertanggungjawaban.898 14. 4.806 jiwa.617 111.218 862. yang diharapkan selesai pada anggaran tahun 2008. sangat sulit diperoleh setelah dana tersebut di transfer.560 85.2.191 18. Waktu pelaksanaan sangat singkat dan turunnya dana selalu terlambat.1 Dana Otsus dan Dana Kesehatan Provinsi Papua Tahun 2002 Dana Otsus Kesehatan % 1.382.642.67% adalah bidang pembangunan rumah-rumah sakit berstandar nasional.383 33.3% 2006 2. namun dalam proses administrasi.775.69% dan 46.2.239 15. Program kesehatan bersumber dana Otsus pada dasarnya telah diarahkan dari Provinsi. namun ada beberapa Kabupaten yang menggunakan untuk sektor lain sehingga target/sasaran tidak tercapai.7% 2004 1.312 62. Rumah sakit ini diprioritaskan berdasarkan kebijakan Gubernur Papua yaitu rumah sakit rujukan di Jayapura. Implementasi di Tingkat Kabupaten/Kota Kabupaten Sorong Kabupaten Sorong termasuk daerah kepala burung Papua. dan Biak.

Operasional Puskesmas. 7.397. 6. c) Pelayanan KIA.59 km2. 12. 5. Peningkatan Pelayanan Kesehatan Dasar. Proyek Pelayanan Kesehatan Dasar di kabupaten Sorong. Pembangunan Rumah Sakit Rujukan. dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pembangunan kesehatan sebagai berikut: 1. Kebijakan pembangunan kesehatan di kabupaten Sorong di bawah Otsus pada tahun 2002 sampai tahun 2006 menyerap anggaran sebesar Rp 51. Penanggulangan gizi buruk dan Pengembangan Posyandu di kabupaten Sorong. 9.96 milyar. hal ini tertuang dalam berbagai program yang bersumber dana Otsus tahun 20022006. jumlah penduduk 11174 jiwa.02 milyar. 4. 3. Pendidikan Tenaga Keseahatan di kabupaten Sorong. Implementasi dana Otonomi Khusus bidang kesehatan di kabupaten Nabire Otsus pada tahun 2002 sampai tahun 2006 dengan besaran dana sebesar Rp 8. 11. dengan luas wilayah 13. Pencegahan penanggulangan penyakit menular dan HIV/AIDS di kabupaten Sorong. Pembangunan Puskesmas dan Rumah Jabatan Kepala Puskesmas di ibuklota Distrik. a) Pelayanan Kesehatan Dasar.dan prasarana dan peningkatan sumber daya manusia dibidang kesehatan. Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (Rumah Sakit Rujukan Kabupaten Sorong) di Aimas. Kabupaten Nabire secara ekologis masuk ke dalam wilayah ekologis Teluk Cenderawasih. Operasional dan Pemeliharaan RSUD Sorong. Peningkatan Pelayanan Kesehatan Dasar di kabupaten Sorong. 2. b) Operasional Puskesmas. Operasional dan Pemeliharaan RSUD Sorong. Pembangunan Puskesmas dan Rumah Jabatan Kepala Puskesmas di ibukota distrik. 10. 8. 13. Kabupaten Nabire. dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pembangunan kesehatan sebagai berikut: KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 71 .

Penduduk tersebut tersebar di 10 distrik dengan kondisi geografis yang sangat sulit.683 km2 dengan jumlah penduduk 88. melainkan kebutuhan Puskesmas.04 milyar dilaksanakan dalam bentuk kegiatan pembangunan kesehatan sebagai berikut: 1. b. Penyenggalaraan Pendidikan Akademi Keperawatan. c. yang mencakup kegiatan: a. 3. Pembangunan Barak Pegawai Puskesmas di Oksibil. f. Penanggulangan TB paru.1. 4. Pembangunan Rumah Dokter di Kwirok. Pengadaan Obat dan BHP Puskesmas. e. 6. Kabupaten Pegunungan Bintang Kabupaten Pegunungan Bintang adalah salah satu kabupaten yang masuk zona ekologis pegunungan tengah dengan luas wilayah 15. Rehabilitasi Rumah Dokter. survey filariasis di 12 distrik. 72 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Pengadaan BHP. Pusling dokter terbang. d. yang mencakup: a. Penyelesaian Pembangunan Kantor Dinas Kesehatan. b. d. Besaran dana tersebut tidak semuanya diserahkan ke dinas Kesehatan. Rujukan rawat nginap dan gadar. Kebijakan pembangunan kesehatan di Kabupaten Pegunungan Bintang di bawah Otsus pada tahun 2002 sampai tahun 2006 menyerap anggaran sebesar Rp 6. Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan. 5. 2. Pembangunan Puskesmas Pembantu MOT di Batom. Peningkatan pelayanan RSUD: a. 2.529 jiwa. Administrasi Kesehatan Imunisasi. Pembangunan Balai Pengobatan di distrik Pepera. e. c. Operasional Penyelenggaraan Puskesmas. Pengadaan Obat-Obatan. kebutuhan rumah sakit diserahkan langsung ke Puskesmas dan rumah sakit. Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman. Pelatihan PWS dan Juru Imunisasi. b. Program Upaya Kesehatan.

3. Bintek Subdin P2MPL ke 10. yang tinggal di 11 distrik dan 160 kampung dan 8 kelurahan. dengan pertanggungjawaban pada akhir tahun. Pengadaan alat Kesehatan Medis dan Non Medis di 12 distrik. dengan luas wilayah 45. pengadaan obat-obatan. Implementasi kebijakan kesehatan di Kabupaten Kerom tidak berjalan sebagaimana yang direncanakan. dan Dana Otsus. h. yaitu menjelang akhir tahun.071 km2 dengan jumlah penduduk 180. Sumberdana DAK untuk membangun infrastruktur dan pengadaan peralatan medis. Kabupaten Merauke Merauke merupakan salah satu dari beberapa Kabupaten yang masuk wilayah ekologis Pantai Selatan Papua. 8. paramedis. 9. Monev Program. Program pencegahan penyakit menular. Distribusi Obat-obatan dan alat kesehatan. Kabupaten Kerom. Penanggulangan gizi buruk di 12 distrik. j. terutama untuk Puskesmas dan Pustu. 2. Program KIA di 12 distrik. Dana Alokasi Khusus (DAK).781 jiwa. Sumber dana DAU dengan peruntukan membayar gaji pegawai dan administrasi. 10. Insentif tenaga dokter tetap. 4. tetapi dipaparkan bahwa kebijakan pembangunan kesehatan di era otsus dilaksanakan dalam bentuk: 1. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 73 . Bintek Subdin Yankes ke 10. di mana dana otonomi khusus selalu mengalami keterlambatan sampai. 7. Sumber dana dana untuk pembangunan kesehatan Kabupaten Kerom berasal dari tiga pos: Dana Alokasi Umum (DAU). Implementasi program dilaporkan berjalan hanya pada kuartal ke empat setiap tahun. Pengadaan Obat-obatan di 12 distrik.g. dokter PTT. Peneliti evaluasi bidang kesehatan dari Kemitraan tidak memberikan informasi jumlah dana otsus untuk bidang kesehatan di Kabupaten Kerom tahun 20022006. i. Program peningkatan mutu gizi masyarakat.

2) Melaksanakan pembinaan teknis akreditasi tenaga kesehatan. Pembangunan sarana dan prasarana kesehatan 1) Peningkatan puskesmas pembantu menjadi puskesmas. 74 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . 2) Bimbingan teknis upaya kesehatan. tetapi dipaparkan bahwa kebijakan pembangunan kesehatan di era otsus dilaksanakan dalam bentuk: 1. Kegiatan program pengembangan tenaga kesehatan. peningkatan peran dan tanggung jawab masyarakat dan koordinasi dengan program dan sektor terkait. terdiri dari: 1) Membuat penilaian/akreditasi tenaga kesehatan melalui penetapan angka kredit (PAK). 3. dengan tujuan : mencegah berjangkitnya 2. Kegiatan program pengembangan tenaga kesehatan meliputi : a. b. Kegiatan program pembinaan tenaga kesehatan dan sarana kesehatan. 2) Pembangunan PUSTU dan POLINDES. 3) Melaksanakan seleksi dan pengusulan pendidikan tenaga kesehatan. penyelenggaraan Program D-3 Keperawatan Merauke. Pelayanan kesehatan dasar 1) Pelayanan kesehatan di daerah terpencil. 4) Melaksanakan pembinaan teknis akreditasi sarana Kesehatan. 2) Merencanakan pengembangan tenaga kesehatan. 4) Melaksanakan koordinasi untuk penyelenggaraan pelatihan pengembangan tenaga kesehatan. terdiri dari: 1) Melaksanakan analisis kebutuhan tenaga kesehatan. Program peningkatan mutu pelayanan dilaksanakan melalui upaya peningkatan pelayanan kesehatan dasar. b. Program Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit dilaksanakan melalui upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit secara terpadu. 3) Membuat penilaian/akreditasi sarana kesehatan.Peneliti evaluasi bidang kesehatan dari Kemitraan tidak memberikan informasi jumlah dana otsus untuk bidang kesehatan di Kabupaten Kerom tahun 20022006. sarana dan prasarana tenaga pelayanan kesehatan. meliputi : a. Program pengembangan tenaga kesehatan dilaksanakan untuk melakukan analisis kebutuhan tenaga kesehatan dan pengembangannya serta pembinaan teknis akreditasi tenaga kesehatan dan sarana kesehatan.

kesadaran. 3) Pemberantasan penyakit filariasis. 2) Pemberantasan penyakit demam berdarah dengue (DBD). 7) Pemberantasan penyakit kecacingan. Program pelayanan dan pengendalian perizinan di bidang kesehatan dilaksanakan untuk mengemban kewenangan perizinan yang diberikan Menteri Kesehatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten sejalan dengan Program Desentralisasi. serta pengawasan dan pengendalian terhadap izin . KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 75 . Pengamatan penyakit menular dan imunisasi. Kegiatan program kesehatan masyarakat meliputi: a.penyakit. termasuk dari dunia usaha. 2) Pengamatan penyakit khusus (AFP = Acute Flaccid Paralysis). dan sarana distribusi obat (Apotek dan Toko Obat). 1) Pemberantasan penyakit diare. Kegiatan program pelayanan dan pengendalian perizinan di bidang kesehatan meliputi : Pemeriksaan setempat pada sarana kesehatan dan memeriksa kelengkapan berkas sarana dan tenaga kesehatan. b. 3) Imunisasi rutin. 1) Pengamatan penyakit potensial wabah (W1 dan W2). yakni. Pemberantasan penyakit bersumber binatang (P2B2). Pemberantasan penyakit menular langsung (P2ML). 1) Pemberantasan penyakit malaria. 6) Pemberantasan penyakit frambusia. menerbitkan izin kerja/praktek kepada sarana dan tenaga kesehatan. 4) Bulan imunisasi anak sekolah (BIAS). Kegiatan Program Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit meliputi: a. Program Penyuluhan Kesehatan Masyarakat terselenggara melalui upaya penyuluhan kesehatan langsung maupun secara massal dalam rangka meningkatkan pengetahuan. 3) Pemberantasan penyakit kelamin/PMS. dan kemampuan masyarakat untuk hidup bersih dan sehat serta peran aktif masyarakat. 4. kemauan. yakni. 4) Pemberantasan penyakit TB Paru. yakni. Pemberdayaan Masyarakat 5. 2) Pemberantasan penyakit ISPA (Pneumonia). c. 5) Pemberantasan penyakit kusta. 5) TT WUS. menurunkan angka kematian dan kesakitan serta mengurangi akibat buruk penyakit.

b. bumil dan bufas. yaitu pada pasal 36 ayat (2) UU Otsus yang menyebutkan bahwa sekurang-kurangnya 15% untuk kesehatan dan perbaikan gizi. Pemantauan status gizi bayi. 3) Pelatihan/Orientasi (capacity building). balita dan bumil. Penangggulangan anemia WUS. 1) Penyebarluasan informasi melalui media masa. Kinerja Kebijakan 4. e.3. d. maka implementasi kebijakan kesehatan dalam kerangka Otsus telah 76 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Pemantapan sistim kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG). meningkatkan kemandirian keluarga dalam upaya perbaikan status gizi guna mencapai hidup sehat. meningkatkan intelektualitas dan produktifitas sumber daya manusia melalui dukungan gizi dan meningkatkan penganekaragaman konsumsi pangan bermutu untuk memantapkan ketahanan pangan tingkat rumah tangga. Revitalisasi Posyandu. Advokasi kesehatan 1) Pengembangan kebijakan pelayanan kesehatan melalui pertemuan dengan para pengambil keputusan. g.3. Pemberian vitamin A pada bayi. b. Penangggulangan gizi buruk pada bayi. 2) Penyuluhan langsung. 4. f. 2) Pengembangan penyelenggaraan penyuluhan. c. Lomba Balita Sejahtera Indonesia (LBSI).1. Program Perbaikan Gizi Masyarakat dilaksanakan melalui upaya pembinaan gizi masyarakat dan penanggulangan gizi buruk dengan tujuan: meningkatkan pelayanan dan pencegahan masalah gizi untuk mencapai keadaan gizi yang baik dengan menurunkan prevalensi gizi kurang. Kinerja di Tingkat Provinsi Dari segi alokasi anggaran. Pembinaan suasana 1) Pengembangan potensi swadaya masyarakat. c. 6. h. anak dan bufas. Kegiatan Program Perbaikan Gizi Masyarakat meliputi : a. bawah lima tahun (balita) dan ibu hamil (bumil). Targetnya adalah penurunan prevalensi ketidakseimbangan antara kebutuhan dan cakupan energi dan protein sehingga tercapai peningkatan status gizi masyarakat. Penyuluhan gizi masyarakat.

Turunnya angka kematian ibu dan anak. Kabupaten Sorong mempunyai dua rumah sakit yaitu rumah sakit Pertamina dan rumah sakit umum. Dengan selesainya rumah sakit rujukan diharapkan masyarakat memperoleh pelayanan lebih baik. Peningkatan sarana puskesmas keliling.24% per tahun. 4. tahun 2005 sebesar 28. yang sekaligus merupakan indikator kinerja pembangunan kesehatan.7%. atau sebesar 22. khususnya 10 besar angka kesakitan. bahkan untuk Kabupaten Kerom terlambat hingga pada kuartal akhir setiap tahun. 8. tahun 2004 sebesar 14.9% dari dana otsus.7%. Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. Turunnya angka kesakitan masyarakat. karena masih terdapat kendala keterlambatan penyaluran dana. tahun 2003 sebesar 18. 5.mencapai kinerja yang baik. 6. yaitu: 1. yang masih perlu untuk ditingkatkan. 3. sedangkan Puskesmas rawat ginap dari tahun 2001 hingga tahun 2006 terjadi KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 77 . Kinerja di Tingkat Kabupaten/Kota Kabupaten Sorong Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. 2. kinerja pembangunan kesehatan masih perlu diperbaiki.6%. Dari segi penyaluran. Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata di seluruh puskesmas. 4. Sejak tahun 2005 pemerintah telah membangun rumah sakit rujukan yang saat ini masih dalam tahap penyelesaian. Terbinanya manajemen puskesmas dan puskemas tunggu serta puskemas keliling.5%. Tantangan bagi provinsi adalah koordinasi pembangunan kesehatan antar kabupaten/kota. Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular. dan tahun 33.2. Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. di mana pada tahun 2002 dana yang dialokasikan untuk pembangunan kesehatan mencapai 15.3. 7. akan dievaluasi di tingkat kabupatren/kota dengan ukuran sasaran pembangunan kesehatan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi. Jumlah Puskesmas di Kabupaten Sorong sebelum dan diera otsus tidak bertambah. Untuk tingkat ketercapaian.

antara tahun 2001-2005 Pemerintah telah melakukan 41. Jika mempergunakan data 2003-2004. Hasil dari kebijakan ini adalah meningkatnya kesehatan publik secara relatif. polio. Pustu cenderung menurun secara drastis demikian halnya dengan polindes dan posyandu sedangkan pusling bertambah 2 unit.486 pada tahun 2004. perawat. Dari target tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. Untuk mencegah adanya penyakit infeksi dan menular untuk anak-anak. Pada tahun 2006. dan Angka Kesakitan. DPT. dokter umum 35. dan BUMIL. scabies. Kabupaten Sorong mempunyai dokter spesialis sebanyak 15. Jika dibandingkan dengan ratio penduduk dan dokter. campak. Data tahun 2005 dan 2006 tidak didapatkan. dan merupakan penyakit endemik di Papua. penyakit kulit. non perawat 110 serta apoteker 5. Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata. bidan 135. Pada tahun 2003 total penderita jenis penyakit menular sebesar 24. Kesadaran kesehatan. kecacingan. perawat 392. karena masih ditemukan laporan yang menyebutkan adanya oknum petugas medis dan pengurus Askeskin yang memungut biaya secara tidak sah dari masyarakat. Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular dan Menurunnya angka kesakitan masyarakat. Kabupaten Sorong telah berhasil mencapai taget dalam jumlah. dan menurunnya angka kesakitan masyarakat. serta penyakit telinga dan frambosia. bidan di Kabupaten Sorong termasuk baik.dokter gigi 5. 78 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Namun kebijakan ini masih perlu untuk ditingkatkan di tingkat pelaksanaannya. Kebijakan pemerintah Kabupaten Sorong adalah memberikan keringanan biaya serendah-rendahnya kepada masyarakat.052 imunisasi yang terdiri dari imunisasi BCG. termasuk di antaranya kesehatan ibu dan anak. TT. telah terjadi pencapaian sebagaimana dihrapkan. Kabupaten Sorong telah berhasil mencapai kemajuan yang penting. dan dapat diturunkan menjadi 24.peningkatan. maka cenderung meningkat setiap tahun. Penyakit malaria merupakan penyakit dominan di Kabupaten Sorong. namun masih perlu peningkatan dalam kemerataan tenaga medis. dari target upaya penurunan persebaran penyakit infeksi dan menular. maka untuk tenaga dokter. Jika dilihat dari perkembangan tenaga kesehatan.916 jiwa. Kesehatan Ibu dan Anak. kemudian ISPA. Dari target terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata. menyebabkan animo masyarakat berobat secara medis cenderung meningkat.

spesialis kebidanan. penyakit kulit/kelamin. kecacingan. selain itu terdapat 36 unit Balai Pengobatan.093 (2003). Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular dan Menurunnya angka kesakitan masyarakat.666 (2005). didukung oleh 1 pearahu. terdapat 1 rumah sakit umum dengan kapasitas 79 tempat tidur. Sarana pelayanan kesehatan dasar di Kabupaten Nabire menunjukkan adanya peningkatan secara bertahap. penyakit kulit. menurun menjadi 53. Penyakit terbesar yang diderita adalah malaria. dan semua distrik telah mempunyai Puskesmas bahkan terdapat distrik yang mempunyai 3 sampai 6 Puskesmas. hal ini disebabkan ada yang telah dimutasi ke daerah lain sehingga saat ini rumah sakit di kabupaten Nabire baru mempunyai 5 dokter spesialis. 4 diantaranya telah dikembangkan menjadi Puskesmas Perawatan atau Puskesmas Rawat nginap. Kabupaten Nabire. Pada tahun 2001-2006 terjadi peningkatan penanganan penduduk yang terkena penyakit infeksi dan menular. 21 roda 4 dan 51 roda dua. Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. maupun darat. dan HIV. meningkat menjadi 55. spesialis patologi klinik.202 (2006). Dari data penyakit terbesar diderita adalah ISPA. diare/kolera. menurun menjadi 36. Dokter umum yang bertugas baik di rumah sakit maupun di Puskesmas sampai tahun 2006 berjumlah 18 dokter. Rumah sakit yang terdapat di Kabupaten Nabire sampai tahun 2006 atau selama 5 tahun Otonomi Khusus berjalan. meningkat kembali menjadi 109. Dokter spesialis sebelum Otonomi Khusus yang bertugas di rumah sakit 5 orang meliputi spesialis Bedah. Dalam meningkatkan pelayanan di kampung-kampung baik antara pulau.Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. dan 1 rumah sakit ABRI . spesialis penyakit dalam.166 jiwa.448 jiwa (2002). Puskesmas keliling untuk menunjang efektifitas pelayanan di daerah yang tingkat kesulitannya tinggi yaitu dengan menggunakan kendaraan roda empat dan perahu motor. scabies. juga terjadi penurunan tenaga dokter KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 79 . setelah era Otonomi Khusus dokter spesialis cenderung tetap. Total penderita yang dilayani pada tahun 2001 tercatat 5. Puskesmas hingga tahun 2006 berjumlah 25 unit.645 (2004). serta penyakit telinga dan frambosia dapat dilihat bahwa tingkat kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat masih belum tinggi. Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata di seluruh puskesmas dan Peningkatan sarana puskesmas keliling. meningkat menjadi 75. dan spesialis radiology.

RSUD Jayapura. sedangkan yang lainnya cenderung meningkat. terdapat program pemberian makanan makanan tambahan. diare/kolera. Sedangkan tenaga perawat dan bidan serta Apoteker dari tahun 2001 sampai tahun 2005 hampir tidak mengalami perubahan. Yang menjadi kendala adalah tenaga kesehatan tidak terdistribusi secara merata. Cakupan Imunisasi dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 belum maksimal bahkan ada yang mengalami penurunan. DPT-1. Akibatnya. Untuk kesehatan anak-anak. Hingga tahun 2007 Kabupaten Kerom belum mempunyai Rumah Sakit. beberapa yang mengalami penurunan antara lain BCG. pasien yang mendapat rujukan umumnya dirujuk ke rumah sakit Kota Jayapura yaitu Abepura. Dian harapan. namun program ini dibiayai oleh bantuan provinsi. dua diantaranya terdapat di Distrik Arso sedangkan distrik yang lain masing-masing 80 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. karena terkait dengan akan dipindahkannya pusat pemerintahan dari Arso Kota ke Waris. serta Rumah sakit ABRI. Sebelum Otsus juga terdapat dana untuk Posyandu. namun tidak ada lagi setelah Otsus. dan campak. Hingga saat ini pemerintah Kerom belum menentukan lokasi pembangunan rumah sakit. yang disebabkan karena masih masih banyak ibu hamil yang ditangani oleh dukun. Menurunkan angka kematian ibu dan anak. Kesehatan ibu hamil masih tertinggal. umumnya di dinas kesehatan dan Pusat pelayanan kesehatan di kota dan daerah pinggiran kota. dan HIV dapat dilihat bahwa tingkat kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat masih belum tinggi. dan Terbinanya manajemen puskesmas dan puskemas tunggu serta puskemas keliling. Adanya penurunan tenaga dokter umum dan gigi disebabkan oleh adanya bencana alam yang melanda Nabire dengan berbagai issue sehingga sebagian dari pegawai banyak yang berpindah tugas ke tempat lain. sebagai konsekwensi tidak adanya bidan yang bertugas di tingkat kampung. Dari data penyakit terbesar diderita adalah malaria. penyakit kulit/kelamin. dan tidak disebutkan dari dana Otsus. Sarana pelayanan kesehatan dasar di kabupaten Kerom hingga tahun 2006 adalah terdapat 6 puskesmas.umum dan gigi jika dibandingkan dengan tenaga dokter yang bertugas pada tahun 2001 dan 2002. Peningkatan sarana puskesmas keliling. Kabupaten Kerom Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. banyak posyandu yang tidak berfungsi lagi. namun ada juga yang mengalami kenaikan.

dilayani oleh satu Puskesmas. campak dan TB. untuk memeriksakan kesehatannya ke Puskesmas. Pasien yang perlu mendapat pelayanan rawat nginap. TT anak. Pada tahun 2004-2006 terjadi peningkatan penanganan penduduk yang terkena penyakit infeksi dan menular. Tahun 2006 terdapat 15 dokter umum. meningkat menjadi 70170 jiwa (2005). polio. Menurunkan angka kematian ibu dan anak. Situasi tenaga kesehatan di Kabupaten Kerom dari tahun 2004 sampai tahun 2006. Pada tahun 2004 dilakukan 7. Meskipun jumlah dokter dan perawat setiap tahun cenderung meningkat. sedangkan daerah yang sulit cakupan imunisasinya dilaporkan masih rendah. serta daerah pinggiran kota yang mudah terjangkau. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 81 . Tahun 2005 terdapat 8 dokter umum dan 2 dokter gigi.015 imunisasi untuk jenis yang sama. dan TT BUMIL. Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata di seluruh puskesmas. dan 3 dokter spesialis/ahli. Berdasarkan laporan Puskesmas di kabupaten Kerom sepuluh besar penyakit adalah. Paru sebagai penyebab utama kesakitan. Selain itu kemampuan laboratorium di Puskesmas semakin baik dan memberikan kepuasan pelayanan kepada masyarakat. Masyarakat yang umumnya terinfeksi penyakit tersebut di atas adalah masyarakat lokal atau orang asli Papua.085. meningkat menjadi 70910 (2006). akan tetapi belum dapat memenuhi jumlah tenaga yang ada di setiap Puskesmas atau pendistribusian tenaga belum merata secara baik. DT. Pusling 6 M. khususnya kaum Ibu-ibu. serta kesadaran masyarakat. Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular dan Menurunnya angka kesakitan masyarakat. 14 SPM. Puskesmas pembantu 30 unit. penyakit kulit. Diare. posyandu 65. ISPA. hal ini terutama disebabkan kondisi geografis yang sulit untuk melakukan pelayanan secara maksimal. Total penderita yang dilayani pada tahun 2004 tercatat 68250 jiwa. Adanya kecenderungan ini menunjukkan bahwa di erah Otonomi Khusus terjadi peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. malaria. untuk tenaga dokter cenderung meningkat. campak. perawatannya di lakukan di Puskesmas Arso Kota dan Arso 5. Berdasarkan trend perkembangan derajat kesehatan menunjukkan kelahiran hidup. Pada tahun 2006 jumlah imunisasi dilaporkan hanya 4. DPT. AKB. dan AKI cenderung mengalami penurunan. AKABA.224 imunisasi untuk jenis BCG. 3 dokter gigi. rumah bersalin 1. polindes 9. Cakupan imunisasi umumnya masih terpusat di ibu kota kabupaten. Pada tahun 2005 dilakukan 10. Pada tahun 2004 terdapat 7 dokter umum dan 2 dokter gigi. Apotik 1 dan toko obat swasta 1.

dapat dikatakan bahwa tingkat kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat masih belum tinggi. Dari data penyakit terbesar diderita tersebut. Peningkatan sarana puskesmas keliling dan Terbinanya manajemen puskesmas dan puskemas tunggu serta puskemas keliling. Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular dan Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. Tenaga kesehatan yang bertugas di Kabupaten Pegunungan Bintang meliputi tenaga dokter sebanyak 7 orang. Kabupaten Pegunungan Bintang Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. serta Rumah sakit ABRI. Penyakit Kulit. 3 diantaranya dokter tetap dan semuanya bertugas di Oksibil. dan Diare/Kolera. Kabupaten Merauke Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. Tenaga perawat sebanyak 124 orang.627 kasus penyakit menular. sedangkan dokter PTT2 orang ditempatkan di Kwirok dan Iwur. ISPA. Rumah sakit yang terdapat di Kabupaten Merauke sampai tahun 2006 atau selama 5 tahun Otonomi Khusus berjalan.Paru. Paru sebagai penyebab utama kesakitan dapat dilihat bahwa tingkat kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat masih belum tinggi. yang didominasi oleh penyakit Malaria. untuk Puskesmas lainnya belum mempunyai dokter. Dian harapan. Dari data penyakit terbesar diderita adalah malaria. sedangkan sarana kesehatan yang lainnya belum tersedia. namun belum tersedia Puskesmas rawat inap. penyakit kulit. ISPA.Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. terdapat 1 rumah sakit umum dengan kapasitas 142 82 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Minimnya sarana dan Prasarana kesehatan di Kabupaten Pegunungan Bintang disebabkan oleh rentang geografis yang sangat sulit serta kurang sumberdaya manusia dalam merencanakan pembangunan kesehatan. sebagian besar bertugas di Oksibil. RSUD Jayapura. Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis. Pada tahun 2006 dilaporkan terdapat 47. pasien yang mendapat rujukan umumnya dirujuk ke rumah sakit Kota Jayapura yaitu Abepura. Kabupaten Pegunungan Bintang telah mempunyai Puskesmas di setiap distrik dan Puskesmas pembantu. campak dan TB. Diare. Hingga tahun 2007 Kabupaten Pegunungan Bintang belum mempunyai Rumah Sakit. Penyakit lain adalah cacingan dan TB.

2 RS swasta. kemudian diikuti oleh penyakit lainnya. Penyebab utama kesakitan masih didominasi penyakit malaria. Pada tahun 2005 RSUD Merauke dengan klasifikasi tipe C telah memiliki 5 dokter spesialis dasar (2 dokter spesialis bedah) dan 1 spesialis THT. dengan demikian terdapat penambahan tempat tidur sebanyak 32 di era Otonomi khusus. Sarana kesehatan tahun 2005 terdiri atas : 1 Rumah Sakit Daerah.212 penderita. dan 6 apoteker. Rumah sakit tersebut telah dibangun sejak Otonomi khusus dengan kapasitas 110 tempat tidur. Pada tahun 2003 dilakukan 388421imunisasi untuk jenis yang sama. 198 bidan. Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular. Cakupan imunisasi di kabupaten Merauke sejak tahun 2002 sampai tahun 2005 cenderung mengalami peningkatan. polio.tempat tidur. Pada tahun 2002 terdapat 35 dokter umum. Hampir seluruh persediaan obat (90%) untuk pelayanan kesehatan dasar maupun mendukung pelayanan kesehatan rujukan merupakan obat generik berlogo (OGB). dan frambosia. campak. Menurunkan angka kematian ibu dan anak. 11 Puskesmas (9 puskesmas rawat inap). 6 dokter ahli/spesialis. 92 Pustu dan 12 Polindes. bedah. Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis. 34 dokter ahli/spesialis.314 penderita. dan 95 perawat. penyakit kulit.472 dan 360.558 penderita. Pada tahun 2003 tercatat 200.935 penderita. 6 dokter gigi. RSUD Merauke merupakan rumah sakit satu-satunya di Kabupaten Merauke.605 imunisasi untuk jenis BCG. TB Paru. Pada tahun 2003 tercatat 265.8% (pada tahun 2004) menjadi 100% (pada tahun 2005). terdapat 27 dokter umum. Ibu bersalin yang mendapatkan pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan pada tahun 2005 sebesar 60. 6 Balai Pengobatan (4 milik TNI/POLRI). 190 perawat. Persalinan oleh tenaga kesehatan adalah persalinan yang ditolong oleh dokter spesialis kebidanan atau dokter umum atau pembantu bidan atau perawat bidan. Pada tahun 2004 dan 2005 dilakukan 386. DT. penyakit dalam serta anak.1%. Pelayanan Kesehatan Spesialis Dasar di RS adalah pelayanan kandungan dan kebidanan. Pada tahun 2003 tercatat 356. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa kesadaran kesehatan lingkungan masyarakat sudah cukup tinggi dibanding kabupaten lain. Pada tahun 2006. dan TT BUMIL. Pada tahun 2002 dilakukan 376. Sarana kesehatan dengan kemampuan laboratorium meningkatan dari 77. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 83 . dan Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. DPT. 4 dokter gigi.806 imunisasi. Menurunkan angka kesakitan masyarakat. Pada tahun 2002 tercatat 241.

demikian pustu cenderung bertambah dengan bertambahnya jumlah Pustu. yaitu 43. preventif. Penduduk yang memanfaatkan puskesmas adalah penduduk yang datang berkunjung ke puskesmas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang diberikan di puskesmas (promotif.3%). maka diharapkan semua masyarakat dapat terlayani dengan baik. Hal ini berarti masih banyak bumil yang menjalani persalinan di luar tenaga kesehatan seperti dukun atau keluarga sendiri dengan resiko persalinan yang besar. Persentase penduduk yang memanfaatkan Rumah Sakit pada tahun 2005 hanya sedikit mengalami peningkatan. baik milik pemerintah maupun swasta. Jika dibandingkan dengan target yang diharapkan > 80%. Persentase desa Universal Child Imunization (UCI): 60 % Desa mencapai UCI adalah desa/kelurahan dengan cakupan imunisasi dasar lengkap (BCG 1 kali. 84 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Penduduk yang memanfaatkan rumah sakit adalah penduduk yang datang berkunjung ke rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang diberikan rumah sakit (promotif. preventif.6% dari 43. lain halnya dengan Polindes yang cenderung menurun atau berkurang. Polio 4 kali dan campak 1 kali) pada bayi > 80%.43% (tahun 2004) menjadi 98% (tahun 2005). Demikian juga kemampuan bidan desa untuk melaksanakan pelayanan ke daerah terpencil masih sangat terbatas. DPT 3 kali. hal ini berarti masih ada desa/kelurahan yang belum mencapai UCI. dan dapat berarti tenaga kesehatan di puskesmas telah melaksanakan pelayanan yang baik kepada masyarakat. HB 3 kali.22%. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah mengetahui tempat yang ditujukan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. kuratif dan rehabilitatif ). terdapat kesenjangan > 20%. Kabupaten Merauke hingga tahun 2007 telah memiliki 10 Puskesmas dan semuanya telah dikembangkan menjadi Puskesmas rawat inap.sedikit menurun dibanding tahun 2004 (67.7%). Persentase penduduk yang memanfaatkan puskesmas mengalami peningkatan dari 94. Peningkatan sarana puskesmas keliling dan Terbinanya manajemen puskesmas dan puskemas tunggu serta puskemas keliling. walaupun jika dibandingkan dengan target yang ditentukan (90%) masih agak jauh kesenjangannya (22. kuratif dan rehabilitatif ). Kecilnya peningkatan pemanfaatan RS disebabkan sistem pencatatan dan pelaporan RS yang belum optimal. Hal ini dapat terjadi karena beberapa daerah yang sebelumnya masuk wilayah pemerintahan Kabupaten Merauke telah dimekarkan sehingga masuk ke kabupaten lain atau kabupaten pemekaran.

khususnya 10 besar angka kesakitan. Implementasi kebijakan pembangunan kesehatan di bawah Otsus dilaksanakan dengan fokus kepada target kinerja tersebut di bawah bimbingan provinsi. ditengarai terdapat kasus-kasus korupsi dalam pelayanan kesehatan. Kelima. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 85 . terutama dalam pengadaan obat-obatan. dan Terbinanya manajemen puskesmas dan puskemas tunggu serta puskemas keliling. Kabupaten Merauke merupakan kabupaten yang paling maju pembangunan kesehatannya. dan sistem administrasi kesehatan yang memadai. Kendala-kendala implementasi tersebut menyebabkan kinerja pembangunan kesehatan di era otsus masih perlu ditingkatkan. Kendala ke empat adalah secara kesadaran kesehatan dan lingkungan masyarakat Papua masih rendah.4. Kendala utama implementasi adalah kondisi geografis yang sangat berat membuat pemberian pelayanan kesehatan menjadi amat mahal. Simpulan Kebijakan Otsus telah mempunyai turunan dalam bentuk kebijakan pembangunan kesehatan dengan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan dengan baik. Tantangannya adalah mengembangkan transparansi implementasi kebijakan otsus kesehatan. Terbinanya kesadaran kesehatan lingkungan oleh masyarakat. sehingga mengganggu kelancaran pembangunan kesehatan yang telah diprogramkan. Sementara itu. Menurunnya persebaran penyakit infeksi dan menular. Kendala kedua adalah penyaluran dana otsus yang terlambat. Menurunnya angka kesakitan masyarakat. yang terdiri dari 8 indikator yaitu: Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. Dilaporkan bahwa pengelolaan dana otsus masih lebih besar di provinsi daripada kabupaten/kota dengan komposisi 40% Provinsi dan 60% Kabupaten/Kota. Peningkatan sarana puskesmas keliling. Terpenuhinya tenaga medis dan paramedis yang tersebar secara merata di seluruh puskesmas. dari kabupaten yang diteliti. tenaga medis. Kendala ketiga yang terpengaruh atas dua kendala tersebut adalah ketersediaan sarana kesehatan.4. Menurunnya angka kematian ibu dan anak.

86 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .

2008. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. Pemahaman paling populer tentang masyarakat sipil adalah pemahaman yang dikembangkan pemikir Marxis Antonio Gramsci yang menyebutkan bahwa masyarakat sipil sebagai bagian dari negara yang terlepas dari pemaksaan atau aturan formal. Muatan Kebijakan Istilah “masyarakat sipil” diperkirakan berasal dari istilah Romawi kuno societas civilis atau istilah Yunani koinonia politike yang pada dasarnya bermakna “arena bagi warganegara yang aktif secara politik”.1. 2000.113-115. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 87 . meskipun tetap mengandung unsur rekayasa sebagaimana halnya institusi politik3. dalam Adam Kuper dan Jessica Kuper.Bagian Kelima MASYARAKAT SIPIL1 5. hh. 2 Khrisnan Kumar. Konsep masyarakat sipil menjadi populer sejak terjadi proses kejatuhan negara-negara komunis. konsep “masyarakat sipil” 1 Bagian ini mengambil materi dari Laporan Evaluasi Otonomi Khusus Papua Bidang Masyarakat Sipil. Jakarta: Kemitraan untuk Tata Kelola yang Baik. di mana pemahaman “masyarakat sipil” sebagai sebuah proses di mana masyarakat membangun partisipasi yang lepas dari kekangan politik otoritarian. 3 Ibid. Civil Society. dan menuju masyarakat demokrasi yang bersifat pluralistik.2 Hegel mendefinisikan masyarakat sipil sebagai agen penyangga sekaligus jembatan penghubung antara rakyat dengan negara. Jakarta: Rajawali Press. Secara sederhana.

baik lembaga maupun individu yang mewakili (1) Komunitas Adat. yaitu semacam kelembagaan di tingkat rakyat yang bersifat bukan negara yang mempunyai peran untuk membangun demokrasi yang pluralis di Papua. Pada pasal 5 ayat (2) disebutkan dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Khusus di Provinsi Papua dibentuk Majelis Rakyat Papua yang merupakan representasi kultural orang asli Papua yang memiliki kewenangan tertentu dalam rangka perlindungan hak-hak orang asli Papua. Karena itu definisi masyarakat sipil yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kelompok masyarakat. dan (3) Komunitas Perempuan. Meskipun demikian terdapat beberapa pasal yang dapat dikaitkan dengan upaya membangun masyarakat sipil. masyarakat sipil didefinisikan sebagai sebuah entitas yang sadar politik dan memiliki peran tertentu dalam mendorong proses perubahan di Papua. Pada evaluasi. dan pengadilan. Komunitas ini berada di luar Negara . dan pemantapan kerukunan hidup beragama. polisi. Di tingkat legislatif. pemberdayaan perempuan. sebagaimana pemahaman Gramsci. Di antaranya adalah lembaga keagamaan.Birokrasi politik. secara langsung atau tidak langsung. UU Otsus tidak secara spesifik menyebutkan hal tentang “masyarakat sipil”. Dalam konteks UU Otsus Papua. meningkatkan kesejahteraan rakyat di daerah berdasarkan demokrasi ekonomi.hadir sebagai sebuah alternatif untuk melawan kekuasaan yang otoriter. menerima keluhan dan 88 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Dalam bentuk yang umum. dengan berlandaskan pada penghormatan terhadap adat dan budaya. pada pasal 10 disebutkan bahwa DPRP mempunyai kewajiban membina demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. sekolah. Pemahaman “masyarakat sipil” di Papua berkaitan dengan dengan pemahaman umum di atas. lembaga swadaya masyarakat. serikat pekerja. ketiga komunitas ini merupakan komunitas kultural yang terwakili dalam Majelis Rakyat Papua (MRP). Pada pasal 5 ayat (7) disebutkan bahwa di Kampung dibentuk Badan Musyawarah Kampung dan Pemerintah Kampung atau dapat disebut dengan nama lain. bentuk kelembagaan masyarakat sipil adalah organisasi-organisasi bukan negara yang bergerak di ranah politik atau berkenaan dengan politik. dan sejenisnya. yaitu “Majelis Rakyat Papua” sebagai representasi kultural masyarakat Papua. (2) Komunitas Agama. dan memperhatikan dan menyalurkan aspirasi. Pasal 5 tentang bentuk dan susunan pemerintahan menyebutkan pengakuan terhadap lembaga masyarakat nonnegara dalam proses politik. angkatan bersenjata.

Implementasi Kebijakan Berkenaan dengan implementasi kebijakan berkenaan dengan pengembangan masyarakat sipil di bawah Otsus. melindungi. tidak disebutkan secara spesifik tugas Gubernur dan Bupati/ Walikota berkenaan dengan pengembangan masyarakat sipil. perusahaan dan lain sebagainya. saran dan masukan terhadap pelaksanaan Otsus Moderat Moderat tetapi tidak pernah merasa dilibatkan pemerintah dalam kegiatan pemberdayaan perempuan 2 Ekonomi kerakyatan 3 Lembaga perempuan KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 89 . Salah satu pasal yang relatif berkaitan adalah pasal 43 yang menyebutkan bahwa Pemerintah Provinsi Papua wajib mengakui. 5. Di tingkat eksekutif. sehingga dapat dicapai kesepakatan yang memuaskan para pihak yang bersangkutan. menghormati.2. yaitu (1) Mengevaluasi dari segi konsep dan Implementasi UU No. bisnis. dan bahwa Pemerintah Provinsi. serta memfasilitasi tindak lanjut penyelesaiannya. 21 Tahun 2001 khususnya.pengaduan masyarakat. (3) Menilai perkembangan dan aktivitas jaringan kerja antara masyarakat sipil dengan negara. Implementasi kebijakan Otsus di Papua berkenaan dengan peta sikap dari lembaga-lembaga masyarakat sipil terhadap Otsus.1 Peta Sikap Lembaga Masyarakat Sipil Terhadap Otsus No 1 Nama Lembaga Forum Kerjasama LSM (Foker LSM) Yayasan Pengembangan Masyarakat Desa (YPMD) Solidaritas Perempuan Papua (SPP) Bidang Kegiatan Kajian Kebijakan Sikap Terhadap Otsus Berpartisipasi aktif dalam memberikan kritik. yang berkaitan dengan masyarakat sipil (2) Menilai kapasitas masyarakat sipil dalam menindaklanjuti kebijakan otonomi khusus dalam arena mereka masing-masing. Kabupaten/ Kota memberikan mediasi aktif dalam usaha penyelesaian sengketa tanah ulayat dan bekas hak perorangan secara adil dan bijaksana. memberdayakan dan mengembangkan hak-hak masyarakat adat dengan berpedoman pada ketentuan peraturan hukum yang berlaku. sebagaimana tabel sebagai berikut: Tabel 5. terdapat tiga tujuan.

4 5 6 7 8 Aliansi Demokrasi untuk Papua (AlDP) Presidium Dewan Papua (PDP) Dewan Adat Papua (DAP) FP3 PPMA Kajian Kebijakan dan Advokasi Organ Politik Lembaga Adat Kajian Kebijakan Pemberdayaan masyarakat Adat Kajian Kebijakan Pers Pers Pasif tetapi tidak menarik diri secara menyeluruh terhadap isu Otsus Pasif dan skeptis terhadap pelaksanaan Otsus Menganggap Otsus sebenarnya telah dikembalikan oleh rakyat Papua. Pasif karena organisasi tersebut tidak lagi aktif 9 10 11 ICS Jujur Bicara (Jubi) Aliansi Jurnalis Independen Papua (AJI) LP3AP Moderat dengan masukan untuk perbaikan terutama dalam hal aturan tatalaksana Pers Pers Sedikit skeptis karena merasa tidak pernah terlibat dalam tataran pelaksanaan kebijakan Pelaksanaan Otsus telah banyak melenceng dari idealismenya Menarik diri dari isu Otsus tetapi tetap berusaha melakukan pemberdayaan masyarakat Otsus perlu dilanjutkan tetapi perlu koreksi terhadap pelaksaan Otsus serta revisi UU Otsus Pasif 12 Lembaga Perempuan 13 Keuskupan Jayapura Lembaga agama 14 Klasis Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jayapura Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Jayapura Persatuan Mahasiwa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Jayapura Lembaga agama Organisasi Kemahasiswaan Organisasi Kemahasiswaan 15 16 Pasif 90 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .

1 Peta Lembaga Masyarakat Sipil Beberapa bentuk jaringan kerjasama yang muncul di tengah kelompok masyarakat sipil Papua di Jayapura antara lain : KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 91 . Gambar 5. dapat dibuat pemetaan lembaga masyarakat sipil sebagai berikut. dengan mengeluarkan lembaga yang tidak mempunyai posisi yang tegas terhadap Otsus.17 Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jayapura Organisasi Kemahasiswaan Pasif Dengan mempergunakan data di atas.

Forum Kerjasama LSM Foker adalah bentuk kerjasama kelompok masyarakat sipil yang terlembagakan sejak tahun 1991. Akan tetapi dampak jangka panjangnya muncul dari rekomendasi politik dari hasil kongres. 4. Dengan melihat peran lembaga dan jaringan antara masyarakat sipil. kegiatan pemberdayaan seperti ini stagnan. Sidang Dewan Adat Papua Hampir sama dengan Kongres Rakyat Papua. 2. Kongres Rakyat Papua Ajang Kongres Rakyat Papua II pada tahun 200 terbukti telah menjadi forum besar berbagai elemen masyarakat sipil Papua. ajang kongres hanya bersifat tentatif. Kegiatan seperti ini berjalan dengan baik selama era sebelum Otsus tetapi pada saat Otsus datang dan masyarakat memusatkan perhatiannya pada dana Otsus. Berbeda dengan Foker yang bersifat strategis dan jangka panjang. 92 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .1. Salah satu hasil konkret dari keberadaan Foker LSM adalah draft Otoritas Khusus yang menjadi inisiatif awal dari UU Otsus Papua. Kerjasama Dalam Kegiatan Dalam kegiatan pendampingan masyarakat banyak lembaga non pemerintah yang melakukan sinergi untuk mengisi bidang kegiatan pendampingan. Tetapi realitasnya ajang ini juga mempertemukan seluruh komponen jaringan masyarakat sipil Papua terutama simpul-simpul adat dan jaringan organisasi yang bergerak di bidang politik dan kebijakan. 3. saran dan masukan kepada setiap pemangku kebijakan di Papua. bekerjasama dengan Aliansi Demokrasi untuk Papua (AlDP) untuk advokasi dan juga bekerjasama dengan Yayasan Pengembangan Masyarakat Desa (YPMD) untuk pengembangan ekonomi masyarakat pedalaman. seharusnya ke depan bisa dirancang sebuah sinergi positif setiap elemen masyarakat sipil di Papua khususnya kota dan kabupaten Jayapura untuk mengoptimalisasi peran mereka di tengah masyarakat. Forum ini menampung sekitar 64 LSM di seluruh Papua yang bergerak dalam berbagi bidang. Pertemuan ini juga menghasilkan rekomendasi kebijakan politik. kongres DAP juga berdimensi luas. Keuskupan misalnya yang melakukan program pendampingan masyarakat pedalaman. Dengan kerjasama strategis seperti ini. Pendekatan yang komprehensif ini kelak menghasilkan kritisi. Normatifnya acara ini hanya ajang untuk pergantian kepemimpinan dan perumusan kebijakan baru DAP. maka dimungkinkan kajian komperehensif menyangkut banyak isu yang terjadi di Papua.

Atau bagaimana akses masyarakat dalam mengetahui otsus. Itu sebabnya kata-kata Otsus tidak terlalu aneh di telinga masyarakat sipil di kota dan kabupaten Jayapura walaupun itu tidak serta merta menjamin pemahaman mendalam mereka mengenai Otsus. area penelitian yang mencakup wilayah kota dan kabupaten Jayapura yang merupakan wilayah yang berada di dalam dan dekat dengan ibukota provinsi Papua yang menjadi gerbang informasi untuk seluruh provinsi. dan (3) penilaian publik tentang Otsus. Hal pertama yang harus diketahui sebelum mengetahui dampak otonomi khusus Papua terhadap masyarakat sipil di kota dan kabupaten Jayapura adalah sejauh mana informasi Otsus menjangkau masyarakat. Pengenalan Otsus. Besarnya persentase masyarakat yang mengetahui tentang Otonomi khusus terjadi karena beberapa hal. yaitu (1) Tingkat pengenalan Otsus. Kinerja Kebijakan Kinerja di Tingkat Masyarakat. Pertama. kesehatan. Kedua. Tetapi di sisi lain. disebarkan 600 kuesioner pada 13 distrik dan 39 kampung/kelurahan di kota dan kabupaten Jayapura. Otonomi khusus sendiri telah berlangsung hampir enam tahun sejak digulirkan pada akhir tahun 2001. Untuk menilai kinerja kemajuan civil society di tingkat masyarakat dilakukan evaluasi berkenaan dengan persepsi publik pada tiga isu pokok.3.1.3. Untuk itu. Otonomi khusus bertujuan untuk seluas-luasnya meningkatkan derajat hidup masyarakat Papua terutama dalam bidang pendidikan. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 93 . Sehingga kemudian dapat dilihat sejauh mana interaksi antara masyarakat sipil dengan lembaga-lembaga non pemerintah selama otonomi khusus berlangsung. selama berlangsungnya Otonomi khusus ternyata masyarakat yang berinteraksi langsung dengan lembaga non pemerintah sangat sedikit. (2) interaksi dengan lembaga masyarakat sipil.5. 5. ekonomi kerakyatan dan infrastruktur. Secara umum sebagian besar masyarakat di kota dan kabupaten Jayapura mengetahui tentang Otonomi khusus Papua.

Ini sekaligus menguatkan data tentang tingginya intensitas masyarakat dalam menikmati sajian televisi. Gambar 5. disusul koran dan radio menempati urutan dua dan tiga.3 Sumber Informasi Otsus 94 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Koran dan radio jauh lebih baik dibanding Lembaga Swadaya Masyarakat dan Gereja yang langsung bersentuhan dengan masyarakat yang berada pada urutan paling belakang.Gambar 5.2 Pengetahuan Masyarakat tentang Otsus Papua Televisi muncul sebagai sumber utama informasi Otsus.

62% responden yang menyatakan pernah berinteraksi dengan lembaga non pemerintah selama pelaksanaan Otsus Papua. Minimnya sumber informasi Otsus yang didapatkan masyarakat dari lembaga non pemerintah berbanding lurus dengan rendahnya interaksi mereka dengan lembaga non pemerintah.4 Interaksi Masyarakat dengan Lembaga Non Pemerintah Lembaga gereja. lembaga perlindungan anak. Interaksi dengan lembaga non pemerintah artinya sejauh mana keterlibatan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan yang diadakan lembaga non pemerintah selama pelaksanaan Otsus Papua dalam bidang pendidikan. Hanya 12. Isu pertama yang diangkat adalah interaksi masyarakat dengan lembaga non pemerintah. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 95 . Gambar 5. seperti lembaga internasional. lembaga Muhammadiyah muncul belakangan. khususnya di kota dan kabupaten Jayapura. Ini membuktikan perbandingan lurus antara sumber informasi dengan interaksi. Ini dapat dipahami karena lembaga-lembaga ini yang lebih mengakar di tengah-tengah masyarakat Papua. kesehatan. ekonomi kerakyatan dan infrastruktur.Interaksi dengan Lembaga Masyarakat Sipil. secara lebih banyak menjadi wahana partisipasi masyarakat selama Otsus. Sedangkan lembaga lain. dan kemudian lembaga adat. disusul lembaga perempuan.

Ditemukan bahwa 52% responden merasakan ada perubahan kondisi ekonomi rumah tangga ke arah kondisi lebih baik sejak diberlakukannya Otsus. pemberian bibit dan supervisi. Pertanyaan ini bertujuan untuk menggali lebih jauh.5 Bentuk Layanan yang Diberikan Lembaga Non Pemerintah 96 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . metode mana yang lebih efektif dalam pendampingan yang dilakukan lembaga non pemerintah terhadap rakyat di bidang ekonomi kerakyatan. Peningkatan kapasitas diri dalam bentuk pelatihan ternyata lebih dirasakan manfaatnya ketimbang misalnya penyuluhan. Ukuran awal dari ada atau tidaknya program tersebut adalah dengan melihat perubahan kondisi masyarakat sebelum dan sesudah Otsus. sementara 41% responden merasakan tidak ada perubahan kondisi ekonomi rumah tangga ke arah kondisi lebih baik.Isu ke dua berkenaan dengan Pelayanan Lembaga Non Pemerintah di Bidang Ekonomi Kerakyatan. Perbedaan antara masyarakat yang merasakan perubahan dengan yang tidak tidak terlalu besar. Isu ke tiga adalah Bentuk layanan yang diberikan lembaga non pemerintah. Gambar 5. dan 7% responden mengatakan tidak tahu. Lebih dari 40 % responden memberikan jawaban pelatihan. Keterlibatan lembaga non pemerintah dalam pengembangan ekonomi kerakyatan selama Otsus dapat dilihat dari programprogram pendampingan dan pemberian modal atau kredit pada masyarakat.

berkenaan dengan tugas fasilitator.6 Tingkat Kepuasan Masyarakat terhadap Pelayanan Lembaga Non Pemerintah Isu kelima adalah berkenaan dengan Evaluasi Umum Terhadap Lembaga Non Pemerintah dalam (1) tugasnya sebagai fasilitator.Isu ke empat adalah Tingkat Kepuasan terhadap pelayanan yang diberikan oleh lembaga non pemerintah. dipahami bahwa kehadiran lembaga non pemerintah di tengah masyarakat di samping untuk memberdayakan masyarakat secara swadaya juga menjadi fasilitator kepentingan dan kebutuhan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Gambar 5. terutama setelah KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 97 . dan (2) penilaian umum terhadap eksistensi lembaga non pemerintah. Tetapi yang perlu juga dilihat adalah tingkat ketidakpuasan dan kekurangpuasan yang juga cukup tinggi. Artinya pelayanan bidang perekonomian yang diberikan oleh lembaga non pemerintah selama pelaksanaan Otsus perlu lebih memperhatikan azas manfaat untuk rakyat banyak dan tidak sekedar melaksanakan program yang telah ditetapkan lembaga bersangkutan. Ukuran tingkat kepuasan tidak mencakup keseluruhan persepsi terhadap penataan bidang ekonomi kerakyatan dalam Otsus tetapi hanya menyangkut pelayanan lembaga non pemerintah di bidang pengembangan ekonomi kerakyatan saja. Di Papua khususnya kota dan kabupaten Jayapura. Hampir setengah responden menjawab cukup puas dengan layanan yang diberikan oleh lembaga non pemerintah. Pertama.

Gambar 5. tetapi tidak sedikit pula yang bubar atau menghilang begitu saja. tentu saja masyarakat umum terutama mereka yang pernah berinteraksi bisa memberikan penilaian yang sifanya menyeluruh. Kedua. begitu banyak bermunculan lembaga-lembaga non pemerintah yang bergerak dalam berbagai bidang dan isu.kehadiran Otsus. yaitu mereka yang pernah berinteraksi dengan lembaga non pemerintah.7 Penilaian Umum Masyrakat terhadap Eksistensi Lembaga Non Pemerintah 98 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Muaranya adalah mengenai eksistensi dari lembaga non pemerintah itu sendiri di kota dan kabupaten Jayapura. penilaian umum terhadap eksistensi lembaga non pemerintah dengan melihat penilaian atas peran lembaga non pemerintah di Papua yang pasang surut dalam berbagai isu. Tetapi yang perlu diperhatikan dari hasil ini adalah bahwa angka itu didapatkan hanya dari sekitar 12% dari total 600 responden. Untuk itu perlu dilihat sejauh mana ekpektasi masyarakat terhadap kehadiran lembaga non pemerintah di kota dan kabupaten Jayapura. sebagian lain bergantung pada durasi proyek. Sebagian besar responden yaitu 85% masih percaya bahwa lembaga non pemerintah bisa menjadi fasilitator kearah kehidupan yang lebih baik. Banyak lembaga yang bertahan dan eksis di tengah masyarakat.

Persepsi dari responden terhadap Otsus diambil dari pertanyaan yang bersifat umum.Meskipun 96% responden menjawab kehadiran . yaitu “Secara umum. apakah Bapak/Ibu merasakan ada perubahan suasana kehidupan ke arah yang lebih baik?” 54% responden menjawab tidak ada perubahan. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 99 . Gambar 5. setelah pelaksanaan Otsus Papua semenjak tahun 2002. 81.8 Perubahan Kehidupan Berkenaan dengan pelaksanaan Otsus. Persepsi publik terhadap Otsus Papua. sementara 2% menjawab puas.63% responden menjawab tidak puas dan kurang puas. karena hanya ditanyakan kepada responden yang berhubungan dengan lembaga non pemerintah saja.lembaga non pemerintah masih dibutuhkan. dan 17% menilai tambah buruk. namun jawaban ini masih mengandung bias. 29% menilai ada perubahan lebih baik. dan 16.3% cukup puas.

3. 1. Masalah distribusi ekonomi yang tidak menyentuh penduduk asli Papua hanyalah salah satu pilar yang menumbuhkan aspirasi merdeka. Untuk itu. Tokoh-tokoh organisasi massa masih mempermasalahkan masalah proses Penentuan Pendapat Rakyat tahun 1969 yang dinilai tidak partisipatif dan representatif. Artinya.9 Penilaian terhadap Otsus. Ini berdampak kemudian pada kebijakan represif orde baru dalam menghadapi apa yang disebut dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Untuk menilai perkembangan masyarakat sipil dalam konteks otonomi khusus. 5. Beberapa tokoh malah memberikan pendapat lebih keras dengan 100 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . ada empat isu utama yang diangkat yaitu (1) Mengapa Harus Ada Otonomi Khusus Papua (2) Pelaksanaan Otsus (3) Peran Lembaga dan Hubungan Dengan Lembaga Lain dan Pemerintah.2 Kinerja di Tingkat Lembaga Masyarakat Sipil. mereka masih memandang bahwa penuntasan masalah Papua lebih kental unsur politis yang diikuti dengan pendekatan keamanan oleh TNI-Polri. dalam hal ini tuntutan merdeka yang dikumandangkan sebagian kalangan masyarakat sipil di Papua. dilakukan wawancara mendalam terhadap tokoh-tokoh yang bergerak dalam berbagai isu dengan beragam latar belakang dengan menggunakan pedoman wawancara terstruktur. Sebagian besar dari aktor masyarakat sipil yang kami wawancarai berpendapat bahwa Otonomi Khusus Papua muncul sebagai reaksi terhadap aksi politik. Mengapa Harus Ada Otonomi Khusus Papua. dan (4) Revisi Mengenai UU Otsus Papua.Gambar 5. Tuntutan itu sendiri muncul sebagai akumulasi dari berbagai ketidakpuasan yang terdiferensiasi dalam berbagai konteks historis.

Pada tahun 1999. Dalam perkembangannya kemudian. intelektual dan tokoh masyarakat Papua. Otsus tidak lebih dari gula-gula dari Jakarta untuk melenakan penduduk Papua dari perut yang lapar. munculnya inisiatif ini berasal dari kalangan akademisi. Munculnya unsur agama. Setelah UU No. Aktor-Aktor Yang Memainkan Peranan Penting. menurut sebagian tokoh yang kami wawancara. Akibatnya seringkali pelaksanaan kebijakan masih menunggu hasil “konsultasi” pemerintah daerah ke Jakarta. bahwa disamping kental unsur politisnya. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 101 . Gagasan Otsus pada mulanya berawal dari kalangan akademisi Universitas Cendrawasih dan tokoh-tokoh masyarakat sipil dari berbagai latar belakang. intelektual dan tokoh masyarakat Papua kepada para penyusun Undang-Undang dan pengambil keputusan tingkat pusat di Jakarta. kewenangan yang luas ini tidak diikuti oleh reformasi struktural aparat pemerintahan daerah yang menjadi aktor dalam pelaksanaan Otsus. Mereka menangkap kesan tidak serius pemerintah pusat dalam menciptakan rasa aman dan kesejahteraan di Papua dengan kebijakan Otsus ini. ternyata penggodokan Rancangan Undang-Undang oleh DPR tidak seluruhnya menampung aspirasi sebagaimana terdapat dalam dokumen yang diusulkan oleh tokoh-tokoh yang terlibat dalam penyusunan draft awal otonomi khusus. bertemu dengan Presiden BJ Habibie di Jakarta. Otsus Papua sebenarnya memberi peluang besar bagi masyarakat Papua untuk menata dirinya sendiri dengan kewenangan yang lebih luas. 21 Tahun 2001 ditetapkan dan kemudian terimplementasikan dalam bentuk Otonomi khusus Papua maka pemerintah provinsi Papua muncul sebagai aktor utama disamping pemerintah pusat. Jadi pada awalnya. Pergeseran lebih jauh adalah semakin minimnya peran lembaga non pemerintah dalam era Otsus.menyatakan. Hanya saja mereka melihat. mereka yang kelak disebut dengan tim 100. Yang kentara terlihat malah keinginan Jakarta untuk memastikan bahwa Papua masih berada dalam lingkup NKRI. Tetapi ada juga tokoh yang coba berpikir positif. Inilah awal pergeseran aktor kunci Otsus dari kalangan akademisi. Pada awalnya mereka berencana membawa aspirasi merdeka ke Jakarta tetapi kemudian diambil jalan tengah dengan inisiatif tawaran Otonomi Khusus untuk Papua. adat dan perempuan sebagai penekanan sasaran objektif Otsus tidak serta merta memberi ruang kepada tokoh-tokoh ini dalam implementasi Otsus.

pendidikan. 102 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .Narasumber yang kami wawancara melihat. hingga saat ini. Perdasus yang menjadi elemen penting implementasi Otsus sangat lambat penyusunannya. Proses Politik dan Ekonomi Yang Mengikuti Otsus. Hanya saja. Menurut sebagian tokoh. Kewenangannya dinilai terlalu sempit. tidak adanya perbaikan mendasar dalam kehidupan masyarakat Papua dimana semua itu bermuara pada lambannya penyusunan Perdasus yang seharusnya mengiringi implementasi UU No. Ini menimbulkan dilema politik. Dalam perkembangannya. kesehatan dan infrastruktur. Hingga lima tahun pelaksanaan Otsus. kewenangan besar itu ternyata tidak diikuti oleh inisiatif-inistiatif yang mampu mendorong pelaksanaan Otsus agar sebesar-sebesarnya memberikan manfaat kepada masyarakat Papua. Itu sebabnya yang lebih kentara dari Otsus ini adalah proses politik untuk menekan aspirasi merdeka. Perluasan kewenangan yang diberikan oleh pusat pada awalnya dimaksudkan untuk menciptakan inisiatif lokal demi memajukan kehidupan masyarakat Papua lewat proses politik yang akan berdampak pada sektor lainnya seperti ekonomi kerakyatan. Tetapi dalam kenyataannya. MRP dilihat tidak berdaya dalam proses politik di Papua. Narasumber bersepakat bahwa Otsus Papua yang diberikan oleh pemerintah pusat lebih sebagai solusi politik ketimbang solusi kesejahteraan. Aktor lain seperti Majelis Rakyat Papua (MRP) dinilai sebagai ornamen saja. 32 Tahun 2004?. pemekaran provinsi dan kabupaten. bukan menjadi representasi tetapi hanya ornamen kultural masyarakat Papua. 21 Tahun 2001. 21 Tahun 2001 atau sama seperti provinsi lain di Indonesia diatur lewat UU No. dari 19 Perdasus yang seharusnya ditetapkan hanya Perdasus tentang Majelis Rakyat Papua (MRP) yang baru ditetapkan dan berjalan. proses politik yang diharapkan itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. pemerintah provinsi Papua memegang peranan penting dalam era Otsus. apakah provinsi tersebut tercakup dalam UU No. pengelolaan dana Otsus yang dinilai tidak transparan. Proses politik lainnya seperti pemekaran kabupaten ternyata tidak dibarengi dengan kesiapan infrastruktur dan aparat pelaksana. Yang tergambar dari proses politik selama pelaksanaan Otsus hanyalah “bagibagi kursi” antara elit lokal. Yang terjadi malah. hal ini diperparah lagi dengan pemekaran Provinsi Irian Jaya Barat. Lembaga yang dianggap sebagai representasi kultural masyarakat Papua itu dinilai tidak bisa berbuat banyak.

adalah bahwa mereka tidak sepenuhnya terlibat aktif selama pelaksanaan Otsus. Manfaat Otsus Untuk Masyarakat Papua. Ini menimbulkan kecurigaan di kalangan beberapa tokoh bahwa Jakarta sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh memberikan Otsus kepada masyarakat Papua. Tidak ada capaian penting selama pelaksanaan Otsus selain dana Otsus yang cukup besar tetapi tidak pernah dirasakan masyarakat. Walaupun pada masa gubernur Barnabas Suebu dana Otsus mulai dikucurkan langsung ke kampung-kampung. Narasumber satu suara dalam hal ini. 21 Tahun 2001 masih saja menghiasi media massa lewat pengibaran bendera Bintang Kejora ketimbang masalah kesejahteraan dan alokasi dana Otsus. ada tokoh yang ingin mempertahankan independesinya. Ini bisa dipahami dalam berbagai kerangka berpikir. mereka memberikan jawaban yang hampir seragam dalam menanggapi pelaksanaan Otsus Papua. Memang ada beberapa tokoh yang masih terlibat dalam penyusunan kebijakan selama pelaksanaan Otsus tetapi lebih banyak yang mengambil jarak dan pesimis terhadap pelaksanaan Otsus.Mandegnya proses politik ini berimplikasi pada bidang lain terutama perekonomian. Tetapi pada dasarnya. Sebab yang sering muncul justru kembali isu-isu kemerdekaan dan integrasi. Masyarakat memiliki ekpektasi yang sangat besar bahwa Otsus akan meningkatkan derajat kehidupan mereka. Tetapi dalam kenyataannya. Hal ini ditambah lagi dengan keberadaaan dana Otsus yang jumlahnya cukup besar. Pelaksanaan Otsus Kesan yang kami dapatkan dari sebagian besar tokoh. para narasumber KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 103 . Sebagian tokoh membenarkan adanya pembangunan infrastruktur selama Otsus tetapi itu tidak cukup mengatrol kemampuan ekonomi penduduk asli Papua hingga level bawah. tetapi itu belum diikuti dengan penataan manajemen dan manajerial yang cukup akuntabel dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan. dengan menyatakan bahwa kemandegan proses politik dan juga ekonomi ini bersumber pada lambannya penyusunan Perdasus. Pada awalnya Otsus dianggap sebagai berkah besar untuk masyarakat Papua. 2. ada pula kalangan akademisi yang memang berkutat di kampus dan ada pula yang memang tidak pernah dilibatkan atau diajak bicara oleh pemerintah provinsi yang menjadi aktor utama pelaksanaan Otsus. Distribusi dana Otsus lebih banyak terpakai untuk birokrasi ketimbang turun kepada masyarakat. Polemik seputar simbol kultural yang sebenarnya telah diatur UU No. Apalagi dalam UU Otsus banyak sekali penekanan tentang hak-hak mendasar orang Papua yang harus dipenuhi.

Pada beberapa hal. Penting untuk mengetahui pendapat para narasumber tentang pihak yang diuntungkan dengan adanya Otsus Papua. Sebagian besar narasumber menunjuk elit birokrat Papua sebagai pihak yang diuntungkan dengan adanya Otsus ini. dana Otsus dan janjijanji perbaikan kesejahteraan tetapi mereka tidak pernah merasakan manfaatnya. Lebih luas lagi termasuk mereka yang terlibat dalam kebijakan ini seperti DPRP. memang ada pembangunan di Papua.nyaris satu suara dalam hal ini. Otsus tidak banyak membawa perubahan derajat kehidupan untuk masyarakat Papua. menurut beberapa tokoh. Poin-poin penting dalam UU Otsus seperti pemenuhan hak-hak mendasar orang Papua tidak dibarengi dengan penafsiran yang jelas dan detail sehingga mandeg dalam impelementasi. Inefesiensi itu selama ini memang tidak terlihat karena lagi-lagi bisa tertutup dengan dana Otsus yang besar. Penggelontoran dana langsung. Karena mengharapkan dana tunai tersebut masyarakat mematikan potensi inovasi dan kewirausahaan mereka. Masyarakat mendengar tentang Otsus. karena miskin output yang benar-benar berasal dari Papua. Sementara dana yang benar-benar terarah untuk pengembangan perekonomian kerakyatan belum tampak hingga saat ini. Itu sebabnya. berkaitan dengan rencana strategis provinsi yang tidak terkomunikasikan dengan baik dan terbuka pada seluruh masyarakat. Terlepas dari sinyalemen negatif dalam kaitannya dengan Otsus dan perbaikan kehidupan masyarakat Papua. Ditambah lagi dengan banyaknya alokasi dana Otsus yang dinilai kurang jelas dan untuk proyek-proyek yang tidak pernah dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Yang Diuntungkan Oleh Otsus. 104 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . pemerintah kabupaten hingga aparat tingkat bawah. Dana tersebut (dalam bentuk tunai) habis untuk konsumsi dan bukan untuk mengembangkan perekonomian mereka. selain masalah Perdasus. narasumber mengakui. termasuk elemen lembaga masyarakat sipil. Besarnya alokasi dana Otsus untuk birokrasi pada tahun-tahun awal pelaksanaan Otsus adalah salah satu alasan kenapa mereka menunjuk elit birokrat lokal. justru kontraproduktif terhadap masyarakat. tentu saja tetap ada pihak yang diuntungkan dengan adanya Otsus ini. kenyataan yang diterima oleh masyarakat tidak sebesar ekpektasi mereka Permasalahan mendasar Otsus. Tetapi proyek-proyek pembangunan tersebut hanya memperbesar cash outflow bukan cash inflow.

Realitas ini terasa kontraproduktif tetapi kenyatan itulah yang terjadi. kantor pemberdayaan perempuan jarang sekali men-share program-program mereka dengan lembaga non pemerintah yang bergerak dalam isu yang sama. setelah memberikan Otsus. pemerintah pusat seolah bisa lepas tangan dan menganggap permasalahan Papua telah selesai. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 105 .Selain elit birokrat lokal. Struktur pelaksana Otsus juga mendapatkan sorotan karena tidak banyak mengalami perubahan setelah Otsus. Pemberian Otsus memperkuat posisi politik Jakarta terhadap Papua. Kesiapan Pemerintah Dalam Era Otsus. Sementara tidak adanya sistem pengawasan yang jelas telah menimbulkan kecurigaan-kecurigaan terhadap akuntabilitas pengelolaan dana Otsus. Beberapa narasumber juga mengeluhkan tentang kurangnya peranan yang diberikan pemerintah pada mereka yang justru lebih mengakar. (1) tidak tepat sasaran karena kurangnya panduan regulasi. pemerintah pusat juga diuntungkan dengan Otsus ini. Beberapa pihak swasta dengan mudah mendapatkan tanah ulayat untuk kepentingan usaha setelah melakukan pendekatan dengan kepala suku yang justru tidak mendapatkan proteksi dari pemerintah. Beberapa tokoh juga menunjuk pihak swasta juga meraup untung dari Otsus ini. Regulasi. Kewenangan yang luas tidak dibarengi dengan otonomi struktur pemerintahan Papua yang seharusnya juga lebih luas. Selain dari proyek-proyek yang diberikan oleh pemerintah mereka juga mendapatkan peluang dari kewenangan kultural yang didapatkan kembali oleh kepala suku (Ondoafi) terhadap tanah ulayat. Ketidaksiapan regulasi tergambarkan dalam mandegnya penyusunan perdasus yang berimplikasi pada masalah implementasi Otsus. Ketidaksiapan ini berimplikasi besar pada pelaksanaan Otsus yang. Menurut mereka. struktur dan sistem pengawasan adalah hal-hal yang disoroti oleh narasumber wawancara dalam menyoal kesiapan pemerintah terutama pemerintah provinsi Papua dalam melaksanakan Otsus. (2) kurang terarah karena tidak adanya reformasi struktural serta (3) kurang terpercaya karena belum adanya sistem pengawasan yang jelas. Pemerintah pusat sekarang punya alasan logis untuk menindak setiap gerakan yang dianggap berpotensi menumbuhkan disintegrasi di Papua sebab Otsus telah diberikan. Dalam isu perempuan misalnya.

Banyak di antara kegiatan dan program yang dilakukan oleh lembaga-lembaga non pemerintah yang bersinggungan langsung dengan program-program pemerintah. Hubungan Lembaga dengan Pemerintah. Dengan melihat jaringan kerja antar lembaga maka kita dapat menilai efektifitas dari kerjasama tersebut dalam memberikan pelayanan alternatif kepada masyarakat. Jawaban dari pertanyaan ini akan memberikan analisa tentang perlu atau tidaknya kerjasama antara kedua belah pihak serta hasil-hasil yang mungkin bisa dicapai dari kerjasama tersebut. Bidang dan Peran Lembaga.3. kerjasama itu terjalin lebih strategis seperti lembaga-lembaga non pemerintah yang berkoordinasi dalam Forum Kerjasama LSM (Foker LSM). Peran Lembaga dan Hubungan Dengan Lembaga Lain dan Pemerintah Pertanyaan ini bertujuan untuk menggali lebih dalam jaringan antar lembaga non pemerintah di kota dan kabupaten Jayapura serta interaksi dan hubungan mereka dengan pemerintah setempat dalam era Otsus. Pertanyaan ini bertujuan untuk melihat ada/tidaknya interaksi antara lembaga non pemerintah di kota dan kabupaten Jayapura dengan pemerintah setempat terkait programprogram yang mereka lakukan. 106 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Berbagai lembaga non pemerintah bergerak dalam beragam isu dan melakukan kegiatan dengan berbagai pendekatan pada masyarakat baik yang bersifat langsung maupun tidak langsung. keuskupan bekerjasama dengan YPMD dalam pengembangan ekonomi jemaat yang dilayaninya pada sebuah daerah. Pertanyaan seputar peran lembaga bertujuan untuk mendapatkan gambaran aktifitas lembaga bersangkutan yang kemudian dikaitkan dengan hubungan dan tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh lembaga bersangkutan. Daya dukung tiap lembaga dalam melaksanakan program dapat memberikan gambaran tentang program-program swadaya bersama yang mungkin bisa dilakukan pada masa yang akan datang. Dalam bentuk lainnya. Misalnya. Dalam menjalankan program-program swadaya masyarakatnya seringkali lembaga non pemerintah melakukan kerjasama dengan lembaga sejenis. Hubungan Lembaga Dengan Lembaga Non Pemerintah Lainnya.

itu pun hanya bersifat kebijakan dan advokasi. tidak perlu dilakukan revisi sebab Otsus telah gagal. Ketiga. Yang perlu dilakukan hanyalah dialog terbuka antara Jakarta dan Papua sebagaima dialog Jakarta dan Aceh. Narasumber menilai bahwa peran lembaga masyarakat sipil bisa ditingkatkan selama mereka masih diberikan ruang dan keleluasaan untuk kegiatan-kegiatan swadaya masyarakat di Papua. Sebagian tokoh malah berpendapat ekstrem dengan mengatakan bahwa Otsus Papua bisa memicu disintegrasi sosial di Papua. Perspektif yang muncul tentu saja berangkat dari pengalaman mereka di tengah-tengah masyarakat. 4. Tetapi ada juga kerjasama yang terjalin baik antar lembaga dalam kegiatan-kegiatan pendampingan masyarakat. pendapat dari narasumber terhadap pertanyaan mendalam ini terbelah. Pertama. revisi perlu dilakukan tetapi dengan syarat dilakukannya terlebih dahulu dialog terbuka antara Jakarta dengan Papua sebagaimana dialog yang dilakukan antara Jakarta dan Aceh. Di samping itu UU Otsus perlu direvisi terkait dengan dinamika kewilayahan dengan pemekaran provinsi Irian Jaya Barat. Ini akan membantu dalam menilai kapasitas masyarakat sipil dalam menindaklanjuti kebijakan Otsus Papua. Kedua. Kerjasama seringkali muncul bersifat insidentil ketika ada “musuh bersama”. Ada pula yang mengatakan bahwa Otsus dan dananya telah membangkitkan kembali sentimen kesukuan dan daerah di Papua.Pandangan Terhadap Masyarakat Sipil dan Lembaganya. ada tokoh yang menilai bahwa sulit sekali menjalin kerjasama strategis antar lembaga dalam menindaklanjuti sebuah program kerja. Tentang peran lembaga masyarakat sipil. Dalam nada yang lebih ekstrem mereka menyatakan bahwa pada prinsipnya masyarakat Papua sebenarnya telah mengembalikan Otsus Papua ke Jakarta. Sebagian besar narasumber menilai kehidupan masyarakat sipil Papua tidak terlalu mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dengan adanya Otsus Papua. ada yang memandang perlu diadakan revisi karena ada beberapa pasal yang tidak kontekstual serta tidak menjawab kebutuhan masyarakat Papua. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 107 . Revisi Mengenai UU Otsus Papua Terkait dengan pertanyaan terakhir. Ini tentu saja perspektif baru yang harus jadi perhatian serius dalam menindaklanjuti kebijakan Otsus Papua. Tokoh-tokoh masyarakat memiliki pandangan tersendiri terhadap masyarakat yang selama ini mereka dampingi.

Simpulan Penelitian yang dilakukan mempergunakan definisi masyarakat sipil sebagai sebuah entitas yang sadar politik dan memiliki peran tertentu dalam mendorong proses perubahan di Papua. Dalam implementasinya. Sebagaimana telah kami paparkan pada bagian sebelumnya. Dalam konteks UU Otsus Papua. Akibatnya. Pemerintah menolak pengibaran bendera tersebut. Penelitian menunjukkan tingginya tingkat ketidakpuasan masyarakat terhadap pelaksanaan Otsus Papua. Pada beberapa kasus. baik lembaga maupun individu yang mewakili (1) Komunitas Adat. selama pelaksanaan Otsus yang lebih muncul adalah percikan api dari gesekan politik. (2) Komunitas Agama.4.Perbedaaan pandangan para tokoh ini bisa dimengerti dengan melihat latar belakang organisasi. Apapun pandangan yang muncul dari tokoh masyarakat sipil Papua terkait revisi UU Otsus ini. 5. yakni: a. b. Kasus pengibaran Bendera Bintang Kejora adalah contoh yang sering terjadi. Lambang dan bendera daerah misalnya. lima tahun pelaksanaan Otsus tidak banyak perubahan yang dirasakan masyarakat. dimensi politik dalam penyelesaian masalah Papua jauh lebih kuat dibanding pembangunan kesejahteraaan. Itu sebabnya. semuanya patut diperhatikan sebab semuanya berangkat dari realitas yang mereka lihat dalam sudut pandang yang berbeda. 108 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . kronologis pelaksanaan Otsus lebih banyak diisi oleh peristiwa politik seperti pemekaran. Kami melihat ada beberapa alasan kenapa hal itu terjadi. Suatu hal yang diakui dalam pasal 2 ayat (2) UU No. 21 Tahun 2001 tetapi tidak mendapatkan rumusan lebih lanjut tentang lambang dan bendera seperti apa. Karena itu definisi masyarakat sipil yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kelompok masyarakat. kegiatan dan interaksi yang mereka lakukan. UU Otsus menimbulkan polemik yang tidak terselesaikan antara masyarakat Papua dengan pemerintah. tetapi pada sisi lain juga tidak ada definisi dan lambang bendera daerah sebagaimana dimaksud di atas. dan (3) Komunitas Perempuan. demonstrasi. Otsus meningkatkan ketidakpercayaan masyarakat pada pemerintah. Sangat sedikit ruang yang tersedia untuk program-program konkret meningkatkan taraf hidup masyarakat asli Papua. ketiga komunitas ini merupakan komunitas kultural yang terwakili dalam Majelis Rakyat Papua (MRP). pengembalian Otsus hingga Pilkada.

Kebijakan yang tidak dijalankan secara partisipatif telah menjadikan masyarakat hanya sekedar menjadi objek pasif. Konsep Otsus tidak bisa dinilai gagal memberikan solusi. Yang berkembang di tengah masyarakat adalah bahwa dana Otsus banyak diselewengkan oleh birokrasi pemerintahan. peran lembaga masyarakat sipil sendiri tidak menunjukkan perannya yang penting. mengingat tingkat interaksi masyarakat lembaga masyarakat sipil masih rendah. dana Otsus dalam jumlah yang sangat besar terus mengucur. sehingga masyarakat cenderung mengambil jarak karena memang mereka tidak merasakan perubahan dari pelaksanaan Otsus ini. Hal yang menarik. Akibatnya tidak ada satu kerangka aturan yang bisa menjamin dana Otsus mengalir untuk pembangunan yang berorientasi meningkatkan taraf hidup masyarakat. tetapi itulah kenyataan di lapangan yang kami dapatkan. Padahal sejak tahun 2002. PP tentang MRP baru selesai setelah 3 tahun Otsus. Secara konsep. e. Perumusan aturan tatalaksana Otsus tidak berjalan secepat pengucuran dana Otsus. Perdasus pertama baru muncul enam tahun setelah Otsus. mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya adalah kurang memadainya pemahaman masyarakat tentang otonomi khusus. Ini mungkin rancu. sementara implementasi dan kesiapaan tata aturan pelaksananya di lapangan tidak pernah terealisasikan. Evaluasi terhadap Otsus yang seharusnya dilakukan setiap tahun setelah evaluasi pertama pada tahun ketiga sebagaimana diamanatkan UU Otsus tidak dilakukan secara mendalam dan komperehensif. Masyarakat mengetahui tentang Otsus tetapi tidak memahaminya secara menyeluruh. Otsus tidak bisa dikatakan gagal tetapi dalam implementasinya Otsus juga tidak bisa dikatakan berhasil. d. Dengan realitas seperti itu. Meskipun kelahiran Otsus berawal dari inisiatif kalangan lembaga masyarakat sipil yang tergabung dalam Foker LSM. Otsus berjalan menjadi kebijakan yang tidak partisipatif. Kebijakan yang dijalankan dengan satu perspektif tunggal dari pemerintah.c. banyak lembaga masyarakat sipil yang memberikan peran-peran pembangunan masyarakat. sementara KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 109 . Akibatnya masyarakat tidak pernah mendapatkan potret pelaksanaan Otsus dalam hal pemenuhan hak-hak mendasar mereka secara utuh. khususnya di bidang kesehatan. Otsus memang ter-informasikan kepada masyarakat luas (dalam hal ini di kota dan kabupaten Jayapura) tetapi tidak well-informed. Sementara itu.

110 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Dapat dikatakan. terjadi penurunan peran “pembangunan” dari masyarakat sipilnya. Dari segi kemajuan dalam arti politik terjadi kemajuan. karena terbangun demokrasi yang pluralistik di Papua. terdapat “pergeseran” isu dari masyarakat sipil Papua dari isuisu “pembangunan” ke isu-isu “politik”. Kondisi ini berpengaruh terhadap persepsi masyarakat terhadap komunitas sipil yang rendah.peran lembaga masyarakat sipil yang memasuki peran politik sebagai kelompok kepentingan dan kelompok penekan semakin meningkat. Di sisi lain.

peningkatan kesejahteraan dan kemajuan masyarakat Papua. SMP. percepatan pembangunan ekonomi. Telematika. kebijakan dan strategi pembangunan dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini diarahkan pada sasaran strategis di bidang infrastruktur. Transportasi Laut.1. Listrik. 1 Bagian ini mengambil materi dari Laporan Evaluasi Otonomi Khusus Papua Bidang Infrastruktur. Puskesmas. bandar udara. sarana transportasi pendukung. dan telekomunikasi. dalam rangka kesetaraan dan keseimbangan dengan kemajuan provinsi lain. penegakan supremasi hukum. Karena itu. Persampahan. yang meliputi Transportasi Darat. jembatan. Jakarta: Kemitraan untuk Tata Kelola yang Baik. Rumah Sakit. Pasar. Air Bersih. penghormatan terhadap HAM. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 111 . pemberian Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua dimaksudkan untuk mewujudkan keadilan. Transportasi Udara. Pada dasarnya. PT). Perumahan Rakyat. SMU/SMK. 2008.Bagian Keenam INFRASTRUKTUR1 6. Pos. energi. pelabuhan. gedung sekolah (SD. dan fasilitas umum. Muatan Kebijakan Tantangan terbesar pembangunan Papua adalah lemahnya dukungan infrasruktur fisik. sebagaimana dikemukakan pada Penjelasan UU Otsus. khususnya dalam bentuk jalan raya.

Gambar 6.00 Rp250. Implementasi Kebijakan Implementasi kebijakan percepatan pembangunan infrastruktur di bawah kebijakan Otsus dilaksanakan dalam bentuk kebijakan Alokasi dana yang digunakan pada sub Dinas di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua dari Alokasi dana Otsus.22 milyar.000.000.00 Rp300. Total dana Otsus untuk pembangunan infrastruktur 2002-2006 mencapai Rp 1. Pada tahun 2006 meningkat kembali menjadi Rp 311. 112 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Pada tahun 2004 turun menjadi Rp 311.83 milyar.00 Rp150. di mana dana Otsus untuk DPU pada tahun 2002 menjadi Rp 279. dana untuk DPU meningkat menjadi Rp 320.53 milyar.000. Pada tahun 2005 turun kembali menjadi Rp 200.45 milyar.000.00 Rp50. pada tahun 2001 dana untuk Sub Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Rp 41.000.62 milyar.26 trilyun.1 Alokasi Dana Otsus untuk Dinas Pekerjaan Umum Alokasi Otsus Rp350. sedangkan pada tahun 2004-2005 mengalami penurunan. Tahun 2003. kemudian mengalami peningkatan pada tahun 2006.29 milyar.000. Perkembagan alokasi penggunan dana Otsus untuk Departemen Pekerjaan Umum sejak Tahun 2002 sampai dengan tahun 2006 menunjukkan trend meningkat sejak tahun 2002 – 2004.00 Rp200.6.000.2.00 Rp100. Jumlah ini melonjak sejak implementasi kebijakan Otsus.00 Rp2002 2003 2004 2005 2006 Alokasi Otsus Secara rinci.

2004. 2005. Prasarana dan Sarana Transportasi Darat Jalan. 2003. 2006 dan Olah Data Gambar 6.000 km) sedangkan setelah otsus pertumbuhan sebesar 12% (27.6. 2004. 2001. Rata-rata pertumbuhan panjang jalan sebelum otsus sebesar 8% (15. 2005. Kinerja Kebijakan 6.3. 2002. Gambar 6.2 Perkembangan Panjang Jalan Menurut Jenis Jalan Sebelum Otonomi Khusus 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 1997 1998 1999 2000 2001 Jalan Negara Jalan Provinsi Jalan Kabupaten Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2002.terjadi akselerasi pertumbuhan panjang jalan sebesar 5% peningkatan pertumbuhan panjang jalan. 2006 dan Olah Data KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 113 .3 Perkembangan Panjang Jalan Menurut Jenis Jalan Setelah Otonomi Khusus 25000 20000 15000 10000 5000 0 Jalan Negara Jalan Provinsi Jalan Kabupaten 2002 2004 2005 Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2001. 2003.000 km).1.3.

5 Perkembangan Jalan menurut Jenis Konstruksi Jalan Setelah Otonomi Khusus 50000 40000 30000 20000 10000 0 2002-2003 2004-2005 Aspal Diperkeras tanah Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2006 dan Olah Data Gambar 6. 2003. 2005.4 Perkembangan Jalan menurut Jenis konstruksi jalan Sebelum Otonomi Khusus 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 1997 1998 1999 2000 2001 Aspal Diperkeras Tanah Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2004. 2001.Gambar 6. 2004. 2005. 114 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . 2003. Hal tersebut menunjukkan infrastruktur jalan merupakan prioritas perkerjaan pembangunan di tanah Papua pada masa pelaksanaan Otsus untuk membuka keterisolasian suatu desa atau kota. 2001. 2002. 2006 dan Olah Data Peningkatan pertumbuhan jenis konstruksi jalan mengalami perkembangan dan peningkatan yang cepat. 2002.

60 Km. pertumbuhan panjang jembatan tingkat Provinsi Papua 7. 2004.57% atau 15808.7% pada tahun 2002 dan 2005. Jembatan. 2005.9% . 2006 dan Olah Data KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 115 .Trend perkembangan infrastruktur sebelum otonomi khusus untuk pertumbuhan jumlah panjang jalan mengalami peningkatan tiap tahun untuk ketiga jenis jalan tersebut (jalan negara.144. jalan pripinsi dan jalan kabupaten) dengan pertumbuhan panjang jalan selama 5 tahun sebesar 8. Pertumbuhan tersebut menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan panjang jalan 4.9% atau 27007. Gambar 6. Rata-rata pertumbuhan panjang jembatan sebelum Otsus sebesar 10. sedangkan sebelum pertumbuhan panjang jalan 8.36 Km). Peningkatan panjang jalan rata. 2002.36% (11199.27% (34.24 Km.022.pada perlima tahun masa sesudah Otsus pertumbuhan panjang jalan 12. yang berarti terjadi akselerasi pertumbuhan panjang jalan.6 Perkembangan Jumlah Panjang Jembatan Sebelum Otsus 25000 20000 15000 Beton Baja 10000 Kayu 5000 0 1997 1998 2000 2001 Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2001.24 Km.35 km) dan mengalami penurunan 8.54% atau 15808. Secara jumlah panjang jembatan terjadi peningkatan pertumbuhan panjang jembatan 40. 2003.45 km sesudah Otsus.

Gambar 6.45 km dalam pelaksanaan Otsus pada tahun kelima. Pertumbuhan rata-rata jumlah kendaraan mengalami penurunan 0.27% atau 34.144. 2006 dan Olah Data Penurunan jumlah panjang jembatan tingkat Provinsi Papua pada tahun 2005 disebabkan pengaruh Kabupaten Sorong sudah tidak memasukkan data perkembangan kabupaten/kota untuk Provinsi Papua. 2004. Kendaraan.9% .008 kendaraan ) sebelum Otsus dan sesudah Otsus pertumbuhan jumlah kendaraan rata–rata 3.27% (34.452 kendaraan) .144. 2005.35 km) dan mengalami peningkatan pertumbuhan panjang jembatan 40. 2001. 2002. Hal ini yang menyebabkan penurunan jumlah panjang jembatan tingkat Provinsi Papua. seluruh kabupaten dan kota mengalami peningkatan pertumbuhan panjang jalan untuk Provinsi Papua dan Papua Barat. Kalau dilihat secara keseluruhan.6% (34.7 Perkembangan Jumlah Panjang Jembatan Setelah Otsus Sumber : Papua Dalam Angka 1999.934 kendaraan) 116 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Dari hasil tersebut maka pertumbuhan panjang jembatan tingkat Provinsi Papua meningkat rata-rata sekitar 5878 km perlima tahun atau sama dengan 7. Dapat disimpulkan.5% (58. Trend Pertumbuhan panjang jambatan menurut jenis dan tingkat kabupaten’kota sebelum pelaksanaan Otsus pada tahun 1997 dan tahun 2001 mengalami trend peningkatan pertumbuhan panjang jembatan sebesar 10.35 m.Hal tersebut menunjukkan adanya pertumbuhan jumlah kendaran 31. 2003.022.8% (110. sebelum pelaksanaan Otsus pertumbuhan panjang jembatan sebesar 10.

9 Pertumbuhan Jumlah Kendaraan Sebelum dan Setelah Otsus 100000 90000 80000 70000 60000 50000 40000 30000 20000 10000 0 Mobil Penumpang Mobil Barang Mobil Bis Sepeda Motor 2002 2003 2004 2005 Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2005. 2003. 2006 dan Olah Data KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 117 . 2002. 2006 dan Olah Data Gambar 6. 2002. 2004. 2001.Gambar 6. 2005. 2003. 2001.8 Pertumbuhan Jumlah Kendaraan Sebelum Otsus 80000 70000 60000 50000 40000 30000 20000 10000 0 1997 1998 1999 2000 2001 Mobil Penumpang Mobil Barang Mobil Bis Sepeda Motor Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2004.

2. Pada Trend pertumbuhan jumlah kendaraan tiap tahun dapat dilihat pada grafik garis pertumbuhan jumlah kendaraan Provinsi Papua sebelum pelaksanaan Otsus. Sedangkan pada tahun 2005 mengalami penurunan. grafik juga menunjukkan trend menurun mulai tahun 1998 sampai dengan tahun 2001. Sedangkan Trend pertumbuhan jumlah unit pembangkit listrik tiap tahun dapat dilihat pada grafik garis pertumbuhan sebelum pelaksanaan Otsus. Trend pertumbuhannya tidak terlalu melonjak tajam selama lima tahun sebelum Otsus yaitu mengalami pertumbuhan jumlah unit PLN 8. 2003. Dapat disimpulkan sebelum Otsus pertumbuhan rata-rata Jumlah kendaraan tiap tahun berjumlah 75. mengalami peningkatan tiap tahun. kapasitas terpasang.8% (334. dan 2004. 118 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . menunjukkan adanya peningkatan yang tidak begitu besar pada unit pembangkit PLN sebesar 4. Trend pertumbuhannya tidak terlalu melonjak tajam selama lima tahun sebelum Otsus yaitu menglami pertumbuhan rata-rata 2. Hal tersebut menunjukkan adanya pertumbuhan jumlah kendaran sebanyak 34.452 kendaraan). 6.6%. Pertumbuhan jumlah unit tenaga listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN). Listrik.1. grafik menunjukkan trend meningkat untuk periode tahun 1997 sampai dengan tahun 2001.5% selama 5 tahun. Hal tersebut disebabkan terjadinya pemekaran Provinsi Papua.Sedangkan pertumbuhan jumlah kendaraan menurut jenis kendaraan bermotor dan tingkat kabupaten/kota sesudah pelaksanaan Otsus di provinsi Papua.518 kendaraan dan setelah pelaksanaan Otsus pertumbuhan jumlah kendaraan selama lima tahun 3.2 unit tahun dan sesudah Otsus selama lima tahun 348. dilihat pada empat tahun terakhir sesudah pelaksanaan Otsus Papua mengalami peningkatan untuk periode tahun 2002.1% (14. Dapat dikatakan pertumbuhan jumlah kendaraan trendnya meningkat setelah Otsus.518 kendaraan. Trend pertumbuhan jumlah kendaraan mengalami penurunan 0. Dapat diambil simpulan sebelum Otsus pertumbuhan rata-rata 334. sedangkan Jumlah pertumbuhan rata-rata tiap tahun 75.8 unit. naik sekitar 31.8 unit).8% (110. Trend pertumbuhan jumlah pembangkit PLN tiap tahun sesudah pelaksanaan Otsus grafik menunjukkan trend meningkat pada periode tahun 2000 sampai dengan tahun 2004.934 kendaraan setelah Otsus.8 unit. menurut tingkat kabupaten/kota sesudah pelaksanaan Otsus di provinsi Papua dilihat pada 5 tahun terakhir.7% atau 348.2 unit). kemampuan mesin dan beban puncak periode tahun 2000 sampai dengan tahun 2004.

Kemampuan Mesin dan Beban Puncak Sebelum Otsus 140000 120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 1997 1998 1999 2000 2001 Banyak Unit Kapasitas Terpasangan Kemampuan Mesin Beban Puncak Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2005. Kemampuan Terpasang. 2006 dan Olah Data KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 119 . 2004. 2002. 2001.Gambar 6.11 Pertumbuhan Jumlah Unit PLN. 2005. 2002. 2006 dan Olah Data Gambar 6. Kemampuan Mesin dan Beban Puncak Setelah Otsus 180000 160000 140000 120000 100000 80000 60000 40000 20000 0 2000 2001 2002 2003 2004 Banyak Unit Kapasitas Terpasangan Kemampuan Mesin Beban Puncak Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2004. 2003.10 Pertumbuhan Jumlah Unit PLN. 2003. Kemampuan Terpasang. 2001.

dilihat dari sebelum Otsus 203.3. Pertumbuhan kantor pos dan giro sesudah pelasanaan Otsus ke lima tahun dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2005 menurut tingkat kabupaten/ kota mengalami perkembangan kenaikan sampai tahun 2004. Dapat diambil simpulan pertumbuhan infrastruktur pos dan giro mengalami penurunan setelah pelaksanaan Otsus. 2005. 2003. Pos dan Telekomunikasi Pos. Pada tahun 2005 mengalami penurunan jumlah pos dan giro.25 unit.1. 2002. 2001.6. 2006 dan Olah Data 120 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . menunjukkan adanya penurunan 31%. 2004.80 unit dan sesudah Otsus 155.12 Banyaknya Kantor Pos dan Giro Sebelum Otosus 140 120 100 80 60 40 20 0 1997 1998 1999 2000 2001 Ktr Pos & Giro Ktr Pos & Giro Pmbt Ktr Pos & Giro Tmbh Rumah Pos 42 42 43 116 53 Kantor Pos Sumber : Papua Dalam Angka 1999. Gambar 6.

2004.14 Banyaknya Telepon Umum Sebelum Otsus 1200 1000 800 600 400 200 0 1995 1996 1997 1998 1999 2001 Telepon Coin Telepon Kartu Warung Telp Kamar Bicara KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 121 .13 Banyaknya Kantor Pos dan Giro Setelah Otsus 1200 1000 800 600 400 200 0 1995 1996 1997 1998 1999 2001 Telepon Coin Telepon Kartu Warung Telp Kamar Bicara Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2006 dan Olah Data Telekomunikasi. Penurunan sekitar 5. 2001. 2005. 2003.Gambar 6. Infrastruktur telekomunikasi dilihat dari data sebelum Otsus dan Sesudah pelaksanaan Otsus tahun kelima menunjukkan adanya penurunan. Gambar 6. 2002. dari 1571 unit menjadi 1492 unit.2% ini salah saru faktor penyebabnya adalah adanya pertumbuhan penggunaan handphone (HP) yang begitu pesat di tanah Papua dan pemekaran Provinsi Papua.

menurut tingkat kabupaten/kota sebelum pelaksanaan Otsus di Provinsi Papua dilihat pada lima tahun terakhir. Tempat Peribadatan Pertumbuhan banyaknya tempat peribadahan dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2001. 2001. Terjadi penumbuhan sebesar 18%. 2004. 2005. 2006 dan Olah Data Gambar 6.4. 2005. 2002. sebelum Otsus 6722 tempat ibadah dan sesudah Otsus tahun kelima menunjukkan peningkatan 8199 tempat ibadah. 2003. 122 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . mengalami pertumbuhan dengan adanya peningkatan tiap tahunnya. 2002. 2001. 2004. 2006 dan Olah Data 6. 2003.1.15 Banyaknya Telepon Umum Sesudah Otsus 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 2003 2004 2005 Telp Coin Telp Kartu Warung Telp Kamar Wicara Sumber : Papua Dalam Angka 1999.Sumber : Papua Dalam Angka 1999.

17 Banyaknya Tempat Peribadatan Sesudah Otonomi Khusus 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 2001 2002 2003 Gereja Gereja Katolik Mesjid Pura Wihara Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2005. 2003. 2006 dan Olah Data Gambar 6. 2005.16 Banyaknya Tempat Peribadatan Sebelum Otonomi Khusus 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 1997 1998 1999 2000 2001 Gereja Gereja Katolik Mesjid Pura Wihara Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2004. 2004. 2006 dan Olah Data KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 123 . 2002. 2001.Gambar 6. 2001. 2002. 2003.

kapasitas produksi. 2006 dan Olah Data 124 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .18 Banyaknya Perusahaan Air Minum. sumber air baku dan tenaga kerja dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2005. Gambar 6.6.1. mengalami peningkatan. Sedangkan pada tahun 2004 dan 2005 mengalami penurunan. mengalami peningkatan pada tahun 2001 sampai dengan 2003. grafik tidak mengalami peningkatan atau 0% (tetap). menurut tingkat kabupaten/ kota sesudah pelaksanaan Otsus di Provinsi Papua dilihat pada lima tahun terakhir. 2003. 2002. Kabupaten dan kota yang berada pada wilayah administrasi Papua Barat sudah tidak memberikan data terbaru ke Provinsi Papua. kapasitas produksi. sumber air baku dan tenaga kerja dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2001. Menunjukkan adanya akselerasi peningkatan. Pertumbuhan banyaknya perusahaan air minum. Kapasitas Produksi dan Sumber Air Baku Sebelum Otonomi Khusus 1800 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 1997 1998 1999 2000 2001 Jml Perusahaan Kapasitas Potensial Kapasitas Efektif Tenaga Kerja Sumber : Papua Dalam Angka 1999. Penurunan tersebut dipengaruhi salah satunya oleh faktor pemekaran provinsi Papua. 2005. 2001. Pertumbuhan fasilitas air bersih sebelum Otsus.8% atau 11 unit perusahaan baru/ pengelola air bersih. 2004. Air Bersih Pertumbuhan banyaknya perusahaan air minum. Pertumbuhan perusahaan air minum setelah Otsus sebesar 1.5. menurut tingkat kabupaten/kota sebelum pelaksanaan Otsus di provinsi Papua dilihat pada lima tahun terakhir.

2004. Prasarana Pendidikan Pertumbuhan banyaknya sekolah dirinci menurut jenisnya per kabupaten/kota di Provinsi Papua dari tahun ajaran 2000/2001 sampai dengan tahun ajaran tahun 2004. mengalami pertumbuhan atau adanya peningkatan jumlah sekolah menurut jenisnya. Kapasitas Produksi dan Sumber Air Baku Sesudah Otonomi Khusus 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 2001 2002 2003 2004 2005 Jml Perusahaan Kapasitas Potensial Kapasitas Efektif Tenaga Kerja Sumber : Papua Dalam Angka 1999. Penurunan dipengaruhi pemekaran Provinsi Papua menjadi dua provinsi yakni Papua dan Papua Barat. 2003.9% atau 2747 tempat pendidikan. 2006 dan Olah Data 6. Penurunan fasilitas pendidikan sebesar 2. sedangkan pada tahun ajaran 2005 menunjukkan adanya penurunan fasilitas pendidikan. menurut tingkat kabupaten/kota sesudah pelaksanaan Otsus di Provinsi Papua pada lima tahun terakhir. yang memunculkan Provinsi Papua Barat.6%. 2001. Pada tahun ajaran 2000/1001 sampai dengan tahun ajaran 2004 mengalami trend peningkatan.19 Banyaknya Perusahaan Air Minum. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 125 . 2002.Gambar 6.1. Pada tahun ajaran 1997/1998 ke tahun ajaran 1998/1999 mengalami trend penurunan. 2005. Sedangkan pada tahun 2005 mengalami penurunan yang dipengaruhi faktor pemekaran Provinsi Papua. sedangkan pada tahun ajaran 1998/1999 sampai dengan tahun ajaran 2000/2001 menunjukkan adanya pertumbuhan 0.6.

8% (1198 unit sarana kesehatan) sesudah Otsus mengalami 126 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . 2005. 2006 dan Olah Data 6.1. 2004.Gambar 6. 2001.7.20 Pertumbuhan Banyaknya Sekolah Sebelum Otonomi Khusus 2500 2000 1500 1000 500 0 Sekolah Dasar SLTP SLTA 1997/1998 1998/1999 1999/2000 2000/2001 Sumber : Papua Dalam Angka 1999. Prasarana Kesehatan Trend pertumbuhan jumlah puskesmas. 2004.21 Pertumbuhan Banyaknya Sesudah Otonomi Khusus 2500 2000 1500 1000 500 0 Sekolah Dasar SLTP SLTA Umum SLTA Kejuruan 2000/ 2001 2001 2002 / 2002/ 2003 2003/ 2004 2004 2005 Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2006 dan Olah Data Gambar 6. dan balai pengobatan gigi Pertumbuhannya selama lima tahun sebesar 0. 2001. 2005. 2002. 2002. 2003. balai pengobatan swasta. 2003.6% (1144 unit sarana kesehatan ) dan Setelah Otsus Pertumbuhan fasilitas kesehatan 3. puskesmas pembantu.

peningkatan sekitar 4. 2005.5%. 2006 dan Olah Data KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 127 . mengalami penurunan untuk jumlah rumah sakit umum pemerintah. Gambar 6. sebelum pelaksanaan Otsus di Provinsi Papua pada lima tahun terakhir. Sedangkan Pertumbuhan banyaknya rumah sakit umum pemerintah. Menunjukkan adanya akselerasi peningkatan.22 Pertumbuhan Banyaknya Puskesmas. Puskesmas Pembantu.7%. swasta dan TNI menurut per kabupaten kota di Provinsi Papua dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2001.4%. 2003. Pertumbuhan jumlah rumah sakit pemerintah. 2002. 2004. 2001. setelah Otsus pertumbuhannya 0. Balai Pengobatan Swasta dan Gigi Sebelum Otonomi Khusus 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 1997 1998 1999 2000 2001 Puskesmas Pembantu Balai Pengobatan Swasta Balai Pengobatan Gigi Puskesmas Sumber : Papua Dalam Angka 1999. Sedangkan rumah sakit swasta meningkat dan TNI tetap. swasta dan TNI sebesar 23.

Balai Pengobatan Swasta dan Gigi Sesudah Otonomi Khusus 1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Balai Pengobatan Swasta Balai Pengobatan Gigi Puskesmas Puskesmas Pembantu Sumber : Papua Dalam Angka 1999. TNI Sumber : Papua Dalam Angka 1999. 2001. 2002.23 Pertumbuhan Banyaknya Puskesmas. Pemerintah RS. 2003. 2005.Gambar 6. Swasta RS. 2004. 2002. 2003. Puskesmas Pembantu. 2005.24 Pertumbuhan Banyaknya Rumah Sakit Sebelum Otonomi Khusus 14 12 10 8 6 4 2 0 1997 1998 1999 2000 2001 RS. 2006 dan Olah Data 128 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . 2006 dan Olah Data Gambar 6. 2004. 2001.

25 trilyun. total dana Otsus untuk pembangunan infrastruktur mencapai Rp 1.4. Tempat Peribadatan. Swasta RS. TNI Sumber : Papua Dalam Angka 1999. Listrik. 2005.Gambar 6. 2003. Pos dan Telekomunikasi. Air Bersih. 2002. yaitu pada Prasarana dan Sarana Transportasi Darat. 2001. 2004.62% dari total dana Otsus tahun 20022006 yang mencapai Rp 9. karena pada tahun 2001-2006. Pemerintah RS. Simpulan Secara umum terdapat kemajuan yang penting dalam bidang Infrastruktur di Papua pasca Otsus. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 129 . Prasarana Pendidikan. 2006 dan Olah Data 6. atau sekitar 13.25 Pertumbuhan Banyaknya Rumah Sakit Sesudah Otonomi Khusus 12 10 8 6 4 2 0 2000 2001 2002 2003 2004 2005 RS.26 trilyun. dan Prasarana Kesehatan. Kemajuan ini masih dapat ditingkatkan lagi.

130 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .

pemahaman umum. kecil. hingga mikro. Kebijakan pengembangan ekonomi kerakyatan tidak dicantumkan secara khusus pada UU Otsus. pelaku lokal. dan mempunyai bentuk usaha formal maupun informal. kelautan. yang juga dianut oleh Pemerintah. dan makanan. Pada pasal 42 ayat (1) UU Otsus disebutkan bahwa “Pembangunan perekonomian berbasis 1 Bagian ini mengambil materi dari Laporan Evaluasi Otonomi Khusus Papua Bidang Ekonomi Kerakyatan. Jenis usaha ekonomi kerakyatan biasanya terikat dengan kondisi lokal. Meskipun demikian. misalnya usaha pertanian. industri kecil atau juga disebut sebagai industri kerajinan.Bagian Ketujuh EKONOMI KERAKYATAN1 1. 2008. Jakarta: Kemitraan untuk Tata Kelola yang Baik. Pemahaman ini yang juga diambil dalam evaluasi pengembangan ekonomi kerakyatan di Papua di era Otsus. mempunyai skala usaha menengah. peternakan. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 131 . terdapat sejumlah pasal yang dapat dikaitkan dengan usaha untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan. perikanan. Salah satu bentuk usaha yang dimasukkan pada pemahaman “ekonomi kerakyatan” adalah koperasi. Namun demikian. perkebunan. adalah perekonomian yang berbasis setempat. Muatan Kebijakan Salah satu pemahaman yang masih ambigu adalah pemahaman berkenaan dengan istilah “ekonomi kerakyatan”. dan perdagangan berskala menengah hingga mikro.

Implementasi dan Kinerja Kebijakan 7. Produksi jagung pada tahun 2001 adalah 3. dengan pertumbuhan paling tinggi pada produksi buah-buahan.75 ton. ubi kayu. di mana produksi pada tahun 2001 adalah 4 ton. Kota Sorong Pertanian. meningkat menjadi 66 ton pada tahun 2005. meningkat menjadi 304 ton/tahun pada tahun 2005. Produksi ubi kayu pada tahun 2001 adalah 339 ton. Pada tahun 2001 (sebelum Otsus) produksi buah-buahan hanya 56 ton/tahun. Kabupaten/ Kota. Pada masa Otsus dilaporkan terdapat kemajuan dalam produksi pertanian di Kota Sorong. Perkembangan produksi pertanian meningkat untuk semua komoditi. Produksi ubi jalar pada tahun 2001 adalah 92 ton. Tiga komoditi terakhir merupakan kelompok makanan pokok lokal. meningkat menjadi 262 ton pada tahun 2005. Tidak terdapat laporan luas lahan pertahun dan perkembangannya sebelum dan setelah Otsus. Pada bagian terakhir pada pasal 42 disebutkan bahwa “Pemberian kesempatan berusaha sebagaimana dimaksud (pasal 42 ayat (1)) dilakukan dalam kerangka pemberdayaan masyarakat adat agar dapat berperan dalam perekonomian seluas-luasnya”. dan penanam modal harus melibatkan masyarakat adat setempat”. 7. Komoditi jambu mete. dan jagung. Perkembangan produksi perkebunan mengalami peningkatan penting hanya untuk komoditi kelapa. Selanjutnya disebutkan juga bahwa “Penanam modal yang melakukan investasi di wilayah Provinsi Papua harus mengakui dan menghormati hak-hak masyarakat adat setempat” dan bahwa “Perundingan yang dilakukan antara Pemerintah Provinsi. belum didapatkan kebijakan yang merupakan penerjemahaman secara operasional dari kebijakan UU Otsus ini. hingga tahun 2004 tidak ada produksi.2. meningkat menjadi 156 ton pada tahun 2005. Perkebunan. ubi jalar. baik dalam bentuk Perda Khusus (Perdasus) maupun Perda Provinsi (Perdasi). yaitu coklat merosot dari 34 ton pada tahun 2001 menjadi 3 ton pada tahun 2005.kerakyatan dilaksanakan dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat adat dan/atau masyarakat setempat”. namun pada tahun 2005 dilaporkan memproduksi 125 ton. 132 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .1. meningkat menjadi 550 ton pada tahun 2005. Komoditi penting. Di tingkat daerah.2. Pada masa Otsus dilaporkan terdapat kemajuan yang terbatas dalam produksi perkebunan di Kota Sorong.

91 ton.2.766 pada tahun 2005. Industri kecil di Manokwari didominasi oleh industri kimia dan bahan bangunan.612 ekor. dari 463 unit usaha pada tahun 2001 menjadi 447 pada tahun 2005. meningkat kembali menjadi 4. tuna. Pertanian.010 pekerja. Pada tahun 2001 produksi padi mencapai 9.3.175 pada tahun 2001 menjadi 360. Produksi jagung menurun dari 3.48 ton. Pada tahun 2002 meningkat menjadi 341. Secara keekonomian. dan tahun 2004 meningkat kembali menjadi 439 ton. Pada tahun 2000 total produksi untuk seluruh komoditi mencapai 1. Industri. pada tahun 2005 merosot menjadi 2. Peternakan. Pada tahun 2001 populasi ternak potong mencapai 2. kambing—mengalami fluktuasi sepanjang implementasi Otsus.83 ton di tahun 2001.87 juta menjadi Rp 16.2. Pada kelompok ke tiga terdapat industri sandang dan kulit. yang mengurangi areal lahan pertanian di Kabupaten Jayapura. meningkat menjadi 1. Pada kelompok ke dua terdapat usaha makanan-minuman dan tembakau. babi. Pada tahun 2005 dilaporkan meningkat kembali menjadi 4. Kabupaten Jayapura.228 ton pada tahun 2001 menjadi KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 133 .212 pada tahun 2003.193. meningkat menjadi 3. Nilai investasi meningkat dari Rp 16. Populasi ternak potong –sapi.62 ton.62 milyar pada tahun 2005. Nilai produksi meningkat dari Rp 9. 7.447 pada tahun 2002.2.51 juta. tepung ikan.187. tetapi masih di bawah potensi yang dapat dicapai maupun terhadap rerata laju pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi selama 5 tahun berjalan. Komoditas perikanan di Kota Sorong adalah udang beku.39 milyar menjadi Rp 21.854 pekerja. ikan kaleng. pada tahun 2004 menurun menjadi 1. cakalang. 7. Pada tahun 2004 berjumlah 284 unit dengan tenaga kerja 2. Industri kecil mengalami peningkatan setelah Otsus.917 ton. Pada tahun 2005 jumlah tersebut meningkat menjadi 362 unit usaha. tetapi pekerja yang diserap menurun menjadi 1. dapat dikatakan terdapat pertumbuhan.251 ton. Untuk populasi ternak unggas mengalami kemajuan penting.Kabupaten Manokwari.960 ekor. Industri. disusul usaha kerajinan dan umum. dari populasi 36. dan ikan kayu. menurun drastis pada tahun 2002 menjadi 331. Produksi pertanian di Kabupaten Jayapura mengalami penurunan semenjak Otsus. Alasan yang dikemukakan adalah adanya pemekaran wilayah Kabupaten.634.Perikanan.

Perkebunan.070 ton pada tahun 2005. dari 4. meningkat menjadi 846 ekor pada tahun 2005. Luas lahan untuk perkebunan kelapa menurun dari 5.882 ton pada tahun 2005. terjadi perubahan komposisi kredit. Produksi sapi potong pada tahun 2001 adalah 750 ekor. Luas lahan untuk perkebunan kakao menurun dari 6.8% untuk investasi. mengalami penurunan setelah Otsus.3% untuk investasi. Simpulan Perkembangan ekonomi rakyat pasca Otsus seharusnya meningkat pesat. terutama karena adanya injeksi finansial dan berkembangnya ruang untuk 134 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Produksi kedelai menurun dari 3.443 ton. Produksi kelapa menurun dari 3. Produksi tiga komoditi utama perkebunan di Kabupaten Jayapura. Pada tahun 2005 komposisinya adalah 58. Setelah Otsus ditemukan penurunan kredit yang disalurkan kepada KUK.803 ekor pada tahun 2005. meningkat menjadi 1. dan buah pinang.885 pada tahun 2005. meningkat menjadi 1. Namun demikian.035 ton pada tahun 2005. Ubi jalar menurun dari 7. dan 8.638 ton pada tahun 2001 menjadi 2. Produksi yang mengalami sedikit penurunan adalah ubi kayu. Produksi kambing potong pada tahun 2001 adalah 370 ekor. dan 29.5% untuk modal kerja. Produksi babi potong pada tahun 2001 adalah 674 ekor. Kredit Usaha Kecil (KUK). 24. dari 29 ton pada tahun 2001 meningkat menjadi 76 ton pada tahun 2005. Pada tahun 2001 produksi kakao mencapai 3. menurun menjadi 1.238 hektar pada tahun 2005.24 milyar.969 hektar pada tahun 2001 menjadi 4. Luas lahan untuk perkebunan pinang menurun dari 297 hektar pada tahun 2001 menjadi 121 hektar pada tahun 2005. 15. 7. yaitu kakao.447 hektar pada tahun 2001 menjadi 1.3. Pada tahun 2001. Luas lahan untuk perkebunan kopi menurun dari 195 hektar pada tahun 2001 menjadi 133 hektar pada tahun 2005.830 ton pada tahun 2001 menjadi 3.487 ton pada tahun 2005.261 ekor pada tahun 2005. Peternakan.325 ton pada tahun 2001 menjadi 1. Pada tahun 2001 tahun jumlah kredit yang disalurkan kepada KUK senilai Rp 216.882 hektar pada tahun 2005.03 milyar. sebesar 67.3% untuk modal kerja. pada tahun 2005 jumlah tersebut menurun menjadi Rp 139.2% kredit disalurkan untuk kredit konsumsi.9% untuk kredit konsumsi.512 ton pada tahun 2001 menjadi 795 ton pada tahun 2005. Kenaikan hanya terjadi pada komoditi kopi. Penyebab utama adalah terjadi penurunan jumlah lahan untuk perkebunan tersebut. kelapa (kopra).

serta mengalami perkembangan di bawah harapan untuk usaha kecil menengah dan peternakan. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 135 . terutama di sektor pertanian. perkebunan. sebagian besar sektor ekonomi kerakyatan menurun.pengembangan ekonomi secara otonom dan “dari dalam” (indigenous). dan perikanan. Namun. di dalam perkembangannya.

136 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .

Data berikut ini menggambarkan besaran “wajah otsus” tersebut.943.382.000 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 137 .539.000 1.300.000. Wajah Otsus Penelitian evaluatif tentang kinerja Otsus selama lima tahun pelaksanaan (20022007) yang dilaksanakan. bagaimana kinerja kebijakan Otsus selama ini.560. khususnya berkenaan dengan transfer dana Otsus dalam jumlah yang cukup memadai untuk percepatan pembangunan di Papua. memberikan gambaran penting untuk pertanyaan dasarnya adalah.642.1.1 Dana Otsus Dari Tahun ke Tahun Tahun 2002 2003 2004 Dana Otsus 1.617. Tabel 8. Arti penting evaluasi ini karena hingga hari ini “wajah Otsus” lebih berupa besaran Rupiah yang ditransfer Pusat ke otoritas lokal di Papua.000 1.000.Bagian Kedelapan SIMPULAN 8.

062.000.300.2005 2006 2007 1.000 2005** 28.000 39.000 27.000 33.000 41.000 2003* 46.972.852.051.100.958.191.948.845.000.745.178.000 47.061.506.000.301.455.711.000 61.000 61.060.530.000 5.250.242.050.768.000.000.000 33.610.163.000 42.312. Pemprov Papua.600.000 Tabel 8.430.330.274.995.244.000 61.000 37.779.000.000 29.400 38.000.000.000 30.000 55.000 55.604.018.000 3.411.000 27.980.000 35.000 30.400 5.000 5.200 35.000 5.000.223.000.000 30.300.936.829.000.000 29.915.300.000 32.471.000 59.100.972.798.000.2 Alokasi Dana Otsus Kabupaten/Kota Tahun 2002-20061 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Kabupaten/ Kota Jayapura Yapen Waropen Biak Numfor Merauke Jayawijaya Paniai Puncak Jaya Mimika Nabire Kota Jayapura Waropen Asmat Boven Digoel Mappi Sarmi Keerom Tolikara 2002* 44.000 31.190.000.530.130.964.896.000.000 36.926.232.000.000 33.927.000 32.465.000 31.000 55.000.562.998.360.589.000.505.407.000.000 2004** 35.972.230.000 33.549.500.500. 2007 138 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .000.330.008.628.652.000 25.500.100.000.676.000 35.000 2006** 54.000 30.300.656.100.000 37.000 31.584.730.000.000 61.000.760.136.000 52.667.000 30.000 40.000 59.200 33.460.913.200 33.648.000.000 28.768.000.931.774.500.407.453.000 53.000.200 56.760.600.715.000.000.000 38.150.569.775.000.000 37.600 37.000 33.000 28.000 59.218.000.109.019.723.000 1 Laporan Pengelolaan Dana Penerimaan Khusus dalam Rangka Pelaksanaan Otsus Papua 2002-2006.000.000 40.200 39.260.000.790.000.196.000 28.788.092.000.991.000 56.000 30.000 32.000 34.280.000 57.110.330.000 5.000.000 2.000.000 57.669.000.000 36.330.690.400 32.000.000 5.937.000 30.000.211.801.000 54.570.190.300.100.981.314.000.983.798.082.000 5.191.000 30.

000 29.802.000 5.622.500. kebijakan umum 2.000 32.539.200.050.000 54.331. implementasi.000.000 48.000. Dimensi evaluasi kebijakan adalah rumusan. dan lingkungan.000 53.056. kinerja.000 34.140.000.000 61.000. 2008.760.000 5.000 1.000. Dimensi evaluasi kebijakan adalah rumusan.000 30.865.000 56.000.000.000.750.170.000.200 37.768.000.711.000 55.927.000 32. yaitu: 1.000 31.000 54.668.937.500.500.000 32.000 32.000 35.000 5.520.804.300. lihat Riant Nugroho.000 30.000.18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 Pegunungan Bintang Yahukimo Supiori Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Sorong Selatan Raja Ampat Fak-Fak Manokwari Sorong Kota Sorong Total 30.000 5.191.760.315. implementasi.000 5.000.000.806.000.000 959. kebijakan bidang kesehatan 3.512. dan lingkungan.000. Pada evaluasi ini.000 20.246.000 31.000.000 Ket: (*) perimbangan alokasi dana Otsus kab/kota 40%.768.530.073.000.600.407.754.260.481.798.360.000.712.956. 8.000.000 30.294.000 27.549.000 32.386. Kebijakan pengembangan ekonomi kerakyatan Evaluasi dilakukan pada dimensi muatan atau rumusan kebijakan.798.000 55.000 57. 2 Untuk pendekatan ini.400 34. kebijakan pengembangan masyarakat sipil 6.000 52. bidang pendidikan 4.930.000.465.438.600 605.448.000.000.002.000 5.000.000.481.000.000.777.000 29.000. Public Policy.471.000.219.000 30. Model Penilaian Evaluasi Pada laporan di atas ditunjukkan bahwa kebijakan otonomi khusus memberikan kontribusi yang penting dalam enam sektor kebijakan.656.937. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 139 .800. implementasi kebijakan.000 38. dan kinerja kebijakan2.731.000.770.000.191. materi yang tidak tersedia adalah lingkungan.030.040.705.000.232. kebijakan bidang infrastruktur 5.000 552.000 855.2.000.804. Provinsi 40%.000 5.000 55.000 43.292. provinsi 60%.647.000 30.447. Jakarta: Elex/Gramedia.980.500.000 61.000. sehingga tidak dilakukan evaluasi.692. kinerja.000.563.000 29.000 28.000 29.530.000 50.000 19.062.000.100.000 33. (**) Kab/kota 60%.229.000 28.000 33.710.557.000 46.

Dengan penjelasan: Untuk “muatan kebijakan” bermakna “tidak ada kebijakan yang mendukung”. Untuk kinerja bermakna “tidak ada kinerja kebijakan”.1 Rangkaian kebijakan Pada evaluasi ini. Penilaian dalam bentuk skala nilai pilah tiga: (1) Tidak ada. Untuk implementasi bermakna “ada implementasi kebijakan tetapi tidak memadai untuk mencapai kinerja yang diharapkan”. Untuk implementasi bermakna “ada implementasi kebijakan dan memadai untuk mencapai kinerja yang diharapkan”. (3) Ada dan memadai. Dengan penjelasan: Untuk “muatan kebijakan” bermakna “ada kebijakan yang mendukung tetapi tidak memadai”. Untuk kinerja bermakna “ada kinerja kebijakan dan memadai atau mendekati yang diharapkan”. Untuk kinerja bermakna “ada kinerja kebijakan tetapi tidak memadai”. Dengan penjelasan: Untuk “muatan kebijakan” bermakna “ada kebijakan yang mendukung dan sudah memadai”. materi yang tidak tersedia adalah lingkungan kebijakan. 140 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Untuk implementasi bermakna “tidak ada implementasi kebijakan”.Gambar 8. (2) Ada tidak memadai. sehingga tidak dilakukan evaluasi.

Salah satu pendekatannya adalah dengan memahami tipologi atau karakter dan keragaman masyarakat yang hendak dibangun. 4 Untuk Tipologi Sistem Politik Masyarakat Adat di Papua. UNDP-Bappenas. tetapi tidak memadai”.1.3. lihat tabel 1.3 Penilaian atas Hasil Evaluasi Otsus3 Kebijakan kebijakan umum Kesehatan Pendidikan infrastruktur masyarakat sipil ekonomi kerakyatan Muatan 2 ke 3 2 ke 3 2 ke 3 2 1 1 ke 2 implementasi 2 2 1 ke 2 1 ke 2 1 ke 2 1 ke 2 Kinerja 2 2 1 ke 2 2 1 ke 2 1 ke 2 Dari gambaran tersebut dapat dikatakan bahwa rata-rata kinerja Otsus untuk keenam sektor kurang dari 2 atau “ada kinerja. kecuali untuk kebijakan masyarakat sipil dan ekonomi kerakyatan. Dapat dikatakan. Thematic Assessments on Strengthening Local Governance Central Sulawesi and North Maluku. Kondisi ini disebabkan karena kebijakan yang ada belum mengandung muatan atau rumusan yang mendukung implementasi. 2004.8. kinerja Otsus dapat dipetakan melalui tabel hasil evaluasi berikut ini: Tabel 8. Rahmi Yunita. agar rancangan pembangunan sesuai dengan mereka yang akan dibangun –tailored-made model of development srategy. Dwidjowijoto and Muhamad Abas. Metode penilaian dengan model grounded ini digunakan antara lain dalam Nina Shatifan. Riant Nugroho. kebijakan ini masih memerlukan kejelasan pemahaman untuk dapat dilaksanakan.4 3 Skoring pada penilaian ini didasarkan kepada model penelitian grounded. masih diperlukan rumusan kebijakan yang bersifat operasional dan dapat dilaksanakan sesuai dengan kondisi daerah. kondisi muatan kebijakan berada pada rerata penilaian 2 ke 3. Penilaian Evaluasi Dengan mempergunakan pendekatan di atas. Secara politis. Namun. Rumusan kebijakan yang baik adalah rumusan yang membuat pelaksananya dapat melaksanakan dengan mudah sesuai dengan kemampuannya dan akhirnya mudah pula dalam mencapai kinerja yang sudah dirancang. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 141 . pada Bab I. baik kebijakan di tingkat pusat (UU Otsus) maupun di tingkat daerah (Provinsi).

namun masih perlu ditingkatkan dimensi manajerialnya (atau managerial quality of the policy). Lemahnya implementasi disumbangkan oleh lemahnya muatan kebijakan dan lemahnya kelembagaan di tingkat pelaksana (Provinsi dan Kabupaten/Kota). agar dapat diimplementasikan secara efektif. rumusan kebijakan yang ada telah memadai.menentukan rendahnya kinerja kebijakan. 142 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . divisualisasikan secara sederhana sebagai berikut: Gambar 8. implementasi.Faktor lemahnya implementasi –dengan rerata 1 ke 2-. dan kinerja kebijakan terhadap enam sektor. penilaian evaluasi dari muatan.2 Rangkaian Evaluasi Jadi dapat disimpulkan dari sisi muatan. khususnya rumusan kebijakan di tingkat daerah/lokal. Secara keseluruhan.

Februari 2007. atau suatu kawasan perdesaan. 70% penduduk asli Papua berdomisili di 2. Impak dari kegagalan implementasi. dan rumusan kebijakan yang masih kurang tinggi kualitas implementabiltasnya (atau disebut sebagai managerial quality sebagaimana disebut di atas). 5 Secara penggunaan kata. kampung adalah sebuah kawasan setara dengan desa namun letaknya di perkotaan. mengakibatkan kualitas implementasi tidak memadai. Kelemahan kinerja tersebut ditunjukkan dari pernyatan resmi yang disampaikan oleh pejabat Pemerintah Daerah pada berbagai kesempatan.4. baik disebabkan oleh faktor implementasi maupun faktor rumusan/muatan kebijakannya sendiri.578 atau sama dengan 81. maupun capaian yang bersifat intangible berupa tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelaksanaan kebijakan otonomi khusus.72% penduduk asli Papua yang tingkat kehidupannya dikategorikan miskin. Namun demikian. yaitu kinerja-kinerja yang dapat diukur dengan indikator kuantitatif. 8. menjadikan kinerja otonomi khusus belum dapat mencapai sebagaimana yang dikehendaki. khususnya dalam ukuran ke-modern-an.593 Kampung5 yang tersebar di 254 distrik (kecamatan). Pada pertemuan tersebut Gubernur menyampaikan --berdasarkan laporan data statistik-.Dari sisi implementasi. Special-Autonomy dari Papua masih banyak difahami sebagai Special-Automoney. Angka ini kurang lebih setara dengan 72. keseluruhan kampung tersebut dalam kondisi di bawah sejahtera. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 143 . Otsus dirancang untuk fokus kepada pengembangan masyarakat yang hidup di kampung ini. baik dari sisi capaian yang tangible.Rumah Tangga (RT) miskin di Papua tercatat sebanyak 480. bahkan miskin absolut. belum tingginya kapasitas kelembagaan dan sumberdaya manusia untuk menyelenggarakan Otsus di satu sisi. disimpulkan bahwa kinerja Otsus selama lima tahun implementasi masih belum mencapai kinerja yang diharapkan.52% dari total rumah tangga yang ada. Kata kampung di Papua lebih berkonotasi kawasan bukan perkotaan. Simpulan Umum Secara umum. khususnya dalam konteks tingkat keterbelakangan. Dapat dikatakan. kondisi desa dimaksud di Papua berbeda dengan kondisi di Jawa. Salah satu pernyataan resmi yang dinilai signifikan sebagai indikator rendahnya kinerja Otsus adalah pernyataan Gubernur Barnabas Suebu pada Sidang Paripurna perdana pembahasan RAPBD Papua Tahun Anggaran 2007.

tanpa kecuali.83%). di seluruh pelosok Papua.Laporan Pemerintah Provinsi Papua menyebutkan pada tahun 2007 terdapat 480.2 ribu (40.7 970.78%). Raperdasi Tata Cara Persetujuan MRP.8 ribu (39. yang harus memperoleh perhatian utama dalam seluruh kebijakan dan program pembangunan di tanah Papua6.4 ribu (40.028.4 Penduduk Miskin Papua 1999-2006 Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Sumber : BPS 2007 Jumlah (dalam ribuan jiwa) 1.8 984. sedangkan di Papua Barat pada periode yang sama sebesar 266.9 900. Laporan BPS Maret 2007 menyebutkan. Total penduduk miskin di kedua provinsi tersebut pada bulan Maret 2007 berjumlah 1. atau sama dengan 81.2 793. Dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan Juli 2005 yang berjumlah 1.028. Tabel 8. Maret 2007 144 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA .2 ribu. adalah orang-orang miskin-papa. Angka ini kurang lebih setara dengan 72.060.72% penduduk Papua yang dikategorikan miskin.578 rumah tangga miskin di Provinsi Papua. atau bahkan miskin absolut. jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Papua pada bulan Maret 2007 sebesar 793.8 1. dan Raperdasi Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRP. berarti jumlah penduduk miskin naik sebesar 32 ribu atau 3. Kamis 1 Februari 2008 7 Laporan BPS.1% pada periode 2005-20077.148.060. penduduk di semua kampung.7 917.4 6 Gubernur Barnabas Suebu pada Pembukaan Rapat Paripurna DPRP dalam rangka Pengesahan Raperdasus Pembagian Dana Otsus. Dengan perkataan lain.0 956.2 1.52% dari total rumah tangga yang ada.31%).

Selama periode Juli 2005-Maret 2007. Pada periode Juli 2005-Maret 2007. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 145 . peranan komoditi makanan di perkotaan sebesar 63.76%. mayoritas (95. sandang. dan kesehatan). Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menunjukkan kecenderungan menaik meskipun besarannya kecil. Pada bulan Maret 2007.46% pada Maret 2007. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah. Sementara penduduk miskin di pedesaan mengalami kenaikan9. persentase penduduk miskin di perkotaan turun sebesar 0.15% pada Juli 2005 dan 4.82% sementara di pedesaan sebanyak 84. Peranan komoditi makanan terhadap Garis Kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan.03% merupakan sumbangan dari komoditi makanan10. sumbangan Garis Kemiskinan Makanan terhadap Garis Kemiskinan sebesar 77. 8 9 10 11 Laporan BPS. Ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung makin menjauh dari garis kemiskinan dan ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin melebar. Maret 2007 Laporan BPS. Maret 2007 Laporan BPS. Dilihat antar daerah. sementara di daerah perkotaan penduduk miskinnya berkurang sebanyak 6 ribu orang8.54%) penduduk miskin berada di daerah perdesaan. pendidikan. terjadi penambahan penduduk miskin di daerah perdesaan sebesar 38 ribu orang. Pada bulan Maret 2007. Maret 2007 Publikasi awal Millenium Development Goals di Provinsi Papua dan Papua Barat. Pada gambar berikut kita dapat melihat kondisi kedalaman dan keparahan kemiskinan pada Provinsi Papua11.7% menjadi 5. Dibanding periode Juli 2005.

20%. juga dibandingkan dengan tingkat kemiskinan nasional yang pada tahun 2008 sudah menurun menjadi 16. Kondisi Kedalaman (P1) dan Keparahan (P2) Kemiskinan di Papua Simpulan sementara adalah kemiskinan di Papua tetap memprihatinkan.96%12. Data sementara pada tahun 2007 menunjukkan pertumbuhan PDRB -17.60%. jauh di atas rata-rata pertumbuhan PDRB yaitu 5. Laporan Pekembangan Mutakhir Beberapa Indikator Terpilih 33 Provinsi di Seluruh Indonesia 146 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Namun demikian. atau mengalami penurunan 53. Kondisi ini diperkuat dengan perkembangan PDRB Papua yang mengalami penurunan persentase pertumbuhan antara tahun 2005-2007.Gambar 8.38%. Pada tahun 2005 pertumbuhan PDRB mencapai 36.4%.58%. Otsus telah memperkuat kelembagaan pemerintahan dan masyarakat di tingkat 12 Bappenas.3. baik dilihat dari segi rerata kemiskinan di dalam Papua. angka sementara pada tahun 2006 menunjukkan bahwa pertumbuhan PDRB menurun menjadi -17.

penguatan kelembagaan di tingkat lokal.642.5 Perbandingan Dana Otsus Dengan Tingkat Kemiskinan Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Dana Otsus (trilyun rupiah) 1.913. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 147 .000 2.539.943.000.382.300.617.000.lokal. Tabel berikut memberikan perbandingan antara perkembangan jumlah dana otonomi khusus dengan tingkat kemiskinan. di luar ketiga dana perimbangan.80 39.83 40.775.274.000. dalam perkembangannya. sehingga menyerap anggaran yang besar. Namun demikian.000 3.78 Gambaran tersebut memberikan simpulan bahwa kebijakan Otsus yang telah mendapatkan dukungan besar di tingkat nasional.560.230.000 1.312.218. Otsus juga mendapatkan dukungan dana khusus yang jumlahnya semakin meningkat sejak 2002-2007.000.40 40.000 1. belum menunjukkan keterkaitan dengan upaya penanggulangan kemiskinan di Papua.000 1. Tabel 8. injeksi dana Otsus.000.03 38. secara umum belum menghasilkan kinerja kebijakan sebagaimana yang diharapkan.69 40.000 Sumber : BPS 2007 Jumlah penduduk miskin (%) 41.

Pendekatan Pembelajaran Kebijakan Penyebab rendahnya kinerja suatu kebijakan tidak pernah tunggal. lingkungan. dan kinerja kebijakan itu sendiri.Bagian Kesembilan PEMBELAJARAN 9. implementasi. maka setiap kebijakan senantiasa merupakan suatu rangkaian rumusan. Gambar 9.1 Rangkaian Kebijakan 148 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Sebagaimana dikemukakan di atas.1.

dan penahapan yang tepat. berhubungan dengan pemekaran Provinsi Papua menjadi Provinsi Papua dan Papua Barat (sebelumnya Irian Jaya Barat). Rumusan Kebijakan Dari segi rumusan atau muatan kebijakan. dalam bentuk kebijakan publik di tingkat Daerah (Perdasi. sudah memadai. namun berpotensi untuk membelokkan upaya untuk menemukan faktor kunci yang selama ini menjadi kendala untuk mencapai kinerja Otsus itu sendiri. kebutuhan pertama adalah membangun kebijakan pelaksana di tingkat daerah. yaitu 1. Agenda untuk merubah. 21 Tahun 2001 yang menyebutkan bahwa Otsus diberikan untuk Provinsi Papua adalah Provinsi Irian Jaya yang kemudian menjadi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua. Fokus dari kebijakan yang hendak dikembangkan dapat mengacu kepada ke enam sektor yang dievaluasi di depan. kebijakan umum kebijakan bidang kesehatan bidang pendidikan kebijakan bidang infrastruktur kebijakan pengembangan masyarakat sipil Kebijakan pengembangan ekonomi kerakyatan Dengan demikian. Dari pemetaan di atas. 4. Perdasus) yang bermuatan strategi manajemen untuk melaksanakan kebijakan Otsus. pada tanggal 16 April 2008.2. 3. menyempurnakan. utamanya dalam bentuk prioritas yang sesuai dengan kapasitas lokal. Perdakab. rekomendasi pertama adalah merumuskan regional strategic management yang sesuai dengan kebijakan Otsus dan kemampuan dari lembaga pemerintahan dan masyarakat di tingkat daerah untuk melaksanakannya. 2. disarankan agar rumusannya bersifat dapat dilaksanakan (manage-able) dalam kondisi lokal. Kebijakan UU No. yang diturunkan dari Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara Tahun 1999-2004 Bab IV huruf (g) angka 2 dan Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. telah diterbitkan Perpu No. 6.9. Terlebih. 1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas UU No. KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 149 . 5. Untuk itu. Perdakot. atau melengkapi dapat diajukan.

hal. Kecenderungan pemekaran daerah turut andil dalam memperkuat dominasi dari formasi suku dominan untuk menguasai struktur pemerintah.1 Ciri-ciri dominasi birokrasi patrimonial menurut Weber ini adalah: pertama. setiap tindakan diarahkan oleh hubungan pribadi dan politik. terlebih budaya birokrasi-responsif. Profil Budaya Politik Indonesia. pejabat-pejabat disaring atas dasar kriteria pribadi dan politik. 22.2 Dalam masyarakat yang mengenal sistem monopoli atas penguasaan sumber daya seperti sistem politik pewarisan. Jakarta. Akulturasi budaya birokrasi menjadi suatu yang mendesak dibutuhkan. Persoalannya. Tantangan terbesar adalah membangun birokrasi pemerintahan lokal. 2 S. Pustaka Utama Grafiti. Gejala membelah diri yang cepat di beberapa daerah banyak menguntungkan suku-suku yang secara teritori memiliki cakupan luas dengan jumlah klan yang besar. Beverly Hills. Implementasi Kebijakan Rekomendasi kedua adalah melakukan upaya membangun kapasitas kelembagaan dan manusia di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. hal. Ketiga. Hanya warga Papua dan Papua Barat yang dapat melakukan implementasi kebijakan secara lebih efektif. karena tidak ada pemisahan antara sarana-sarana produksi dan administrasi. 150 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . dalam Priyo Budi Santoso. sebagai pelaku utama implementasi Otsus. instalasi budaya butuh waktu lama sedangkan 1 Syukur Abdullah. maka cenderung terbentuk bibit pola patron-klien di masyarakat. Dan keempat. cit. hal. Eisenstadt. Traditional Patrimonialism and Modern Neo-patrimonialism. Secara akademis dapat dikatakan bahwa birokrasi yang diterapkan di Papua lebih mendekati pengertian Weber tentang “dominasi patrimonial”. “Budaya Birokrasi di Indonesia” dalam Alfian dan Nazaruddin Sjamsuddin (eds).3. 23. pejabat-pejabat mengontrol. Sage Publication. dalam arti elit-elit suku mampu membeli loyalitas itu dengan cumacuma lewat legitimasi kekerabatan dan hukum adat sehingga peluang elit suku untuk berkuasa melalui struktur pemerintah jauh lebih menjanjikan. 1991. Tantangan terbesar bagi implementasi Otsus adalah bagaimana melaksanakannya tanpa tergantung kepada lembaga dan sumberdaya manusia yang tidak terdapat di Papua dan Papua Barat. Mobilisasi suku jauh lebih efektif manakala sistem patron-klien yang berkembang di internal suku kuat.. Jabatan dipandang sebagai sumber kekayaan atau keuntungan. jabatan dan perilaku dalam keseluruhan hirarki lebih didasarkan pada hubungan pribadi dan hubungan patron-klien. 1973. California. 5. op.9. Akibatnya kecenderungan korupsi menguat manakala unit-unit keluarga suku masuk dan menguasai struktur pemerintahan. baik fungsi politik maupun administratif.N. Kedua.

Institusi ekonomi seperti pelaku produksi. 3 Cornelis Lay dan Purwo Santoso (editor). responsif dan bermoral. kualifikasi administratif (seperti golongan kepegawaian sebagai prasyarat untuk menduduki jabatan tertentu). d. Tantangan membangun kelembagaan berhadapan dengan isu pelik: pemekaran wilayah. Bidang Ekonomi a. Pasca otsus digulirkan tahun 2002. permasalahan ini terutama mencakup beberapa hal:3 1. bahkan belum adanya kebijakan yang akan diteruskan atau dikembangkan. Kuantitas dan kualitas aparat yang juga sangat terbatas. c. dan pasar. b. b. seperti rumah sakit. Bidang Pelayanan Publik a. Insfrastruktur pendukung pembangunan ekonomi yang sangat terbatas. distribusi dan keuangan (lembaga keuangan bank maupun non-bank) yang sangat terbatas. karena mengandalkan transfer dari daerah induk. komunikasi dan relasi dengan pelaku ekonomi dari luar. Barangkali ini yang menjadi dilema manajemen sumber daya manusia (SDM) di Papua manakala dihadapkan pada tantangan menyiapkan SDM yang terampil. sehingga harus dibuat kebijakan baru. Keterbatasan sumberdaya aparatur. seperti gedung dan peralatan perkantoran. 2. Terlebih jika sumber daya aparatur di daerah induk juga tidak memadai. 2006 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 151 . Infrastruktur fisik pelayanan yang terbatas. �Perjuangan Menuju Puncak�. serta kualifikasi teknis dan substantif. yang terjadi adalah disposisi ini membuat birokrasi pemerintah di daerah induk juga tertatih-tatih. mulai dari transportasi. Bidang Pemerintahan a. 3. Pengalaman lembaga dalam menjalankan fungsi pemerintahan yang sangat terbatas. Keterbatasan sumberdaya fiskal. sekolah. baik dari sisi jumlah. Namun. Di daerah hasil pemekaran. S2PLOD UGM. hasil studi dari beberapa daerah pemekaran di luar ke 15 kabupaten baru di Papua. hingga tahun 2007 sudah terbentuk 15 kabupaten pemekaran baru yang hampir seluruhnya belum diketahui evaluasi menyeluruh atas kinerja pemerintahan pasca pemekaran. Kajian Akademik Pemekaran Kabupaten Puncak dari Kabupaten Puncak Jaya. Infrastruktur fisik pendukung proses pemerintahan.pemerintahan butuh pemahaman yang cepat agar roda pelayanan publik segera berjalan. b. masalah muncul manakala pemisahan diri dari daerah induk tidak diikuti oleh persiapan manajemen transisi di daerah pemekaran.

makin menegaskan pengertian otonomi adalah soal pengelolaan daerah yang menjadi hak masyarakat asli daerah. dalam bentuk upaya membangun kapasitas kelembagaan dan sumberdaya manusia di dalam organisasi publik di tingkat lokal (provinsi dan kabupaten/kota).4. kekuasaan berada di tangan putra asli daerah. Pemekaran juga berdampak pada konsentrasi penggunaan dana terutama dalam mempersiapkan infrastruktur pemerintah. 5 Tantangan implementasi selanjutnya adalah ketergantungan yang tinggi kepada implementor dalam bentuk lembaga dan SDM berketrampilan tinggi yang diperlukan untuk melaksanakan rancangan implementasi. Perebutan posisi-posisi politik dan birokratik dalam pemerintahan antar kelompok yang ada dalam masyarakat. termasuk yang ditawarkan oleh donor. apalagi otonomi khusus.43% dan 11. harus didisain sesuai dengan kapasitas lokal dalam melaksanakannya. dan prioritas pembangunan pada sektor pendidikan dan kesehatan. Tantangannya adalah bagaimana memastikan setiap program yang didisain dalam konteks Otsus. tapi lebih pada semangat menempatkan putra asli daerah pada jabatan strategis pemerintahan. Sederhananya. 4 Evaluasi Otsus Provivinsi Papua. 1 November 2007. tetapi bukan lembaga dan SDM lokal –sementara lembaga dan SDM lokal belum mampu. anggaran infrastruktur menghabiskan 55% dana otsus di tahun 2004 dan 45% di tahun 2005.4 Tersedotnya dana Otsus untuk pembangunan fisik pemerintahan menyebabkan penurunan prioritas alokasi dana Otsus untuk pelaksanaan program berbasis masyarakat di bidang pendidikan.89%. yang dimekarkan tahun 2003.65% dan 8. dan bidang ekonomi 17. hal 4 5 Kasus alokasi dana Otsus di Kabupaten Sarmi pasca pemekaran tahun 2003.75%.2%. Pegawai yang cakap dan mempunyai cukup kemampuan justru tersisih atas nama identitas kultural.86% dan 7. b. Perebutan sumberdaya antara daerah baru hasil pemekaran dengan daerah induk maupun daerah tetangga. berturut-turut dalam dua tahun anggaran 2004 dan 2005 pendidikan mendapat 15. Studi Wilayah Pantura. ekonomi kerakyatan dan kebijakan publik lain. Di Sarmi misalnya. Kehadiran desentralisasi kekuasaan dalam bentuk otonomi daerah. kesehatan. ibid 152 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Pada konteks ini. dimungkinkan untuk mengarahkan prioritas pembangunan kepada upaya membangun kapasitas lokal. namun belum ada pelembagaan dan preseden sebelumnya. bidang kesehatan 11. Bidang Sosial dan Politik a. Persaingan untuk menduduki posisi strategis di pemerintahan tidak lagi didasarkan pada kompetensi personal.

berpotensi untuk menurunkan peluang mencapai kinerja Otsus secara maksimal. berkenaan dengan lingkungan kebijakan. Sebagai sebuah asymetric decentralization Otsus merupakan keunikan. dan model tersebut menyatu satu sama lain antar program pembangunan. Otsus dinilai memberikan kemanfaatan kepada elit politik lokal daripada masyarakat secara luas. sikap. sekaligus keanehan. perlu dirancang program untuk menciptakan kesebangunan (kongruensi) pola pikir. Kebijakan desntralistik yang telah diambil Indonesia sejak reformasi dalam bentuk UU No. perlu disusun model penilaian kinerja yang melekat kepada setiap program pembangunan. Lingkungan Kebijakan Rekomendasi ke empat.9.5.6. bahwa pluralitas yang ekstrem. Konsep “khusus” lebih berkenan dengan besaran hak finansial bagi daerah daripada sebuah desakan untuk membuat sebuah bentuk khusus dari suatu otonomi. Dengan demikian. ini merupakan revitalisasi dari oligarki kesukuan dalam bentuk kelembagaan modern. Model ini dapat dinamakan penilaian-mandiri-kinerja-pembangunan-Otsus (Otsus-selfassesment-performance). dan tindak dari elit politik dan masyarakat Papua dan Papua Barat berkenaan dengan Pembangunan di bawah Otsus. Kedua. Pertama. Analisis terhadap lembaga masyarakat sipil memperlihatkan dua hal kritikal. Kinerja pembangunan di bawah Otsus atau di bawah metode apa pun tidak akan tercapai dengan efektif jika konteks pembangunannya sendiri berada pada kondisi konflik.4. 22 Tahun 1999 yang kemudian digantikan oleh UU No. Otsus sebenarnya adalah sebuah “kompromi politik” daripada sebuah pilihan kebijakan. Beyond Policy Pada tingkat tertentu. kebijakan Otsus perlu difahami sebagai sebagai sebuah fenomena “beyond policy”. terutama yang terjadi pada lembagalembaga yang secara tradisional mempunyai pengaruh kuat kepada masyarakat lokal. yaitu dalam konteks kinerja kebijakan. Kedua. Kinerja Kebijakan Rekomendasi ketiga. 9. Pertama. model pemantauan dan penilaian pembangunan dapat ditingkatkan efisiensinya. tidak pernah terdapat kepastian yang jernih KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 153 . 32 Tahun 2004 telah membangun tata kelola Indonesia yang baru dalam pola “desentralistik” daripada “sentralistik”. Dalam pemahaman politik. dengan tiga pertimbangan. 9.

Reinert dalam How Rich Countries Got Rich. 2007). Lemahnya birokrasi identik dengan birokrasi yang tidak efisien. menjadikan upaya membangun Papua memerlukan “lebih dari sekedar kebijakan”. dan identik dengan itu adalah birokrasi yang korup. karena begitu khasnya dari sisi manusia hingga alam yang penuh dengan tantangan. Hal ini dicerminkan dari inkongruensi dari pemikiran Otsus dengan bentuk kebijakan lokal serta arah implementasi. kondisi pembangunan di Papua memerlukan sebuah strategi pembangunan yang tidak mungkin mengadopsi dari Jawa atau daerah lain di Indonesia. 2006) mengemukakan bahwa dalam banyak negara berkembang. kegagalan pembangunan bukan disebabkan kesalahan dalam konsep atau kebijakan. 6 David Bodanis dalam The Undercover Economics (London: Little Bron. Kebijakan Otsus berpotensi “dibajak” oleh oligarkhi lokal. dan teramat minimnya infrastruktur modern. Ketiga. Bodanis mengambil contoh negara-negara Afrika dan Amerika Latin. namun pada kondisi birokrasi yang korup. Premis yang sama diungkap oleh oleh Erik S.. Karena itu.yang begitu jauh di depan.apa kehendak dari elit politik Papua.and Why Poor Countries Stays Poor (New York” Carol Graff. membangun tata kelola yang baik (good governance) di tingkat lokal menjadi kebutuhan yang penting untuk berjajar dengan prioritas lain6. berhadapan secara diametral dengan kemajuan daerah lain di Indonesia –dan dunia-. 154 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . apakah hendak membangun kesejahteraan rakyat Papua ataukah memperkuat posisi atau kekuatan politik di tingkat lokal dan terhadap Pusat. Dengan sebagian masyarakatnya yang berada pada peradaban awal.

Jakarta: KPK-BPS RI KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA 155 . London: Hutchinson Book Jun. Jung & Wright (eds.DAFTAR PUSTAKA Drucker. Jakarta: Djambatan KPK. Naskah Akademik dan RUU Keistimewaan Yogyakarta Koentjaraningrat (ed) 1993. “Globalization and Decentralization: An Overview”. 1996. 1985 (1906).1987 (1967) Management and Machiavelli.). Responsibilities. Globalization and Decentralization. Wright. Management: Task. London: Butterworth and Heinemman Hurgronje. Practices. & Deil S. Aceh di mata Kolonialis. Kumpulan Karangan Snouck Hurgronje. Jakarta: Yayasan Soko Guru Hurgronje. Anthony. “Aceh” Jay. 2008. Jakarta: INIS. 1988 (1974). Peter F. Washington: Georgetown Univesity Press Kemitraan-POLOKDA. Irian Jaya: Membangun Masyarakat Majemuk.. Laporan Partnership-Ilmu Pemerintahan UGM. Snouck. 1996. Jong S. Snouck. Data dan Informasi Komite Penanggulangan Kemiskinan 2003.. 1995 (1923).

2008. London: MacMillan Rahmawati. Joachim.Muhammad. dan Titok Hariyanto. Johnson Birchall. Herbert. 2003.). Context. Nusantara: Sejarah Indonesia. Christopher. 2 June 2000. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. 2008. Poesponegoro. Yogyakarta: Pilar Sumardjan. Jakarta: KPG/Gramedia Wehner. Ricklefs. 2004. Marwati Djoened. Administrative Behavior. Development Souhthern Africa. Perubahan Sosial di Yogyakarta. no. Thesis. Reinventing Local Governance. Abdur. MC. California. 2008. 1971. Papua Ethno-Political Conflict: Causes. Arifah. 1998.. dan Nugroho Notosusanto. 2000. BHM. dalam Cheema & Rondinelli (eds. 1983. “Asymetrical Devolution”. “Implementing Decentralization Policies: An Introduction”. Selo. Naval Post Graduate School Menterey. London: Sage Simon. 1983. Jakarta: Serambi Rozaki. Jakarta: Elex/Gramedia. and Keith Putman. Yogyakarta: UGM Press Vlekke. Decentralising Public Serive Management. 2001. and Policy Implication. 1981. 1993 Pollit. Mengisi Rumah Kosong: Polemik Seputar RUU DIY. 156 KINERJA OTONOMI KHUSUS PAPUA . Yogyakarta: IRE Press Rondinelli. Subardi. Dennis A. Fadel. New York: Free Press. & Shabbir Cheema. Membongkar Mitos Keistimewaan Yogyakarta. Decentralization and Development: Policy Implementations in Developing Countries. vol 17.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful