SEJARAH KULTUR JARINGAN Sejarah kultur jaringan tanaman dimulai dengan teori Schwaun dan Schleiden yang mengajukan

teori bahwa : 1. Tiap sel itu bersifat otonomi dan secara prinsip dapat meregenerasi tanaman yang baru. 2. Tanaman yang baru itu mempunyai sifat yang sama dengan induknya. 3. Teori ini disebut teori Totipotency. Totipotency = total genetic potencial Artinya sel itu mempunyai potensi genetik yang menurunkan tanaman baru yang seperti induknya (dalam kenyatannya ini tidak selalu benar, dengan adanya keragaman somklonal pada sistem kultur jaringan tanaman). Hampir seratus tahun berlalu teori totipotensi ini dibuktikan kebenarannya. Haberland (1902) yang pertama mencoba membuat percobaan untuk membuktikan teori tersebut tetapi gagal. Tetapi antara tahun 1907 dan 1909 Harison, Bunows dan Canel berhasil mengkultur sel binatang dan sel manusia secara in vitro. Pada tahun 1922 Knudson dapat menumbuhkan biji anggrek secara in vitro. Awal keberhasilan kultur jaringan yang pertama sebenarnya pada tahun 1934 yaitu : 1. Gautheret dapat mengkultur jaringan kambium dari beberapa pohon, yang dapat menghasilkan kalus. 2. White dengan media tumbuhnya dapat mengkultur akar tomat yang dapat berkembang menjadi kalus dan tanaman. Sesudah tahun 1934 maka perkembangan kultur jaringan itu sangat pesat, sitokinin (kinetin) oleh S. Miller et all (1955) dan pengaruh nisbah auksin dan sitokinin di dalam regenerasi tanaman (Murashige dan Skoog 1962). PERAN KULTUR JARINGAN TANAMAN Peran kultur jaringan tanaman dalam pembangunan pertanian dan agroindustri hilir adalah dalam menghasilkan bibit unggul dan bermutu. Unggul di dalam sifat-sifat agronomis, ketahanan terhadap gangguan biologis dan kualitas hasil. Bermutu dalam hal bebas penyakit dan kemurnian. Peran terhadap pertanian adalah secara langsung sedangkan untuk agroindustri secara tidak langsung. Peran kultur jaringan tanaman dalam penanggulangan masalah pertanian dan agroindustri hilir dapat dipetakan sebagai berikut : 1. Peningkatan produksi tanaman

Perbaikan tanaman secara in vitro terutama rekayasa genetika 2. Pengembangan tata ruang yang serasi a. Pembebasan penyakit b.Teknik kultur jaringan tanaman yang dapat dipergunakan adalah : a. Penganekaragaman pangan dan mutu gizi a. Produksi metabolit sekunder . Perbanyakan mikro b. Agroindustri-hilir a. Pemuliaan secara in vitro 4. Perbaikan tanaman secara in vitro terutama rekayasa genetika 3. Perbanyakan mikro b. Perbanyakan mikro b. Perbaikan tanaman secara in vitro c. Perbanyakan mikro c.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful