REFERAT PITYRIASIS LICHENOIDES

Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Untuk Mengikuti Ujian di Stase Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Tidar Magelang

Diajukan Kepada: dr. Endang Tri S.,Sp.KK

Disusun oleh: Annisa Mutiara Insani 20070310166

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN RSUD TIDAR MAGELANG 2011

1

Endang Tri S.HALAMAN PENGESAHAN REFERAT PITYRIASIS LICHENOIDES Disusun Oleh : Annisa Mutiara Insani 20070310166 Telah dipresentasikan pada tanggal Desember 2011 Dan telah disetujui oleh : Dosen Pembimbing (dr.KK) 2 ..Sp.

Pitiriasis lichenoides memiliki jenis akut dan kronik. Biasanya mengenai anak-anak dan remaja. LATAR BELAKANG Pitiriasis lichenoides adalah kelainan papulosquamous yang belum diketahui penyebabnya. 3 . B.BAB I PENDAHULUAN A. Pitiarisi lichenoides mengenai semua RAS dan etnik di semua wilayah. tetapi bisa juga mengenai semua usia. TUJUAN PENULISAN Tujuan penulisan referat ini adalah sebagai syarat mengikuti ujian stase ilmu penyakit kulit dan kelamin di RSUD Tidar Magelang dan agar mahasiswa yang sedang menjalani kepaniteraan lebih memahami tentang Pytiriasis Lichenoides dan dapat menerapkannya di kemudian hari. dan juga tipe kronik lebih sering terjadi. Laki-laki lebih sering terkena kelainan ini.

DEFINISI Pityriasis lichenoides adalah kelainan papulosquamous yang bisa terjadi pada semua umur. Gambar1. tetapi biasanya terjadi pada anak-anak dan remaja.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pityriasis lichenoides et varioliformis acuta (PLEVA) pustule. dan papule nekrotik dengan dasar eritem Gambar2. krusta. Pytiriasis lichenoides chronic (PLC) Gambaran polimorpi antara papul eritem sampai lesi merah-coklat berskuama. Semua bentuk dikarakterisasikan dengan kumpulan papul yang secara spontan dapat pecah dan overlapping. kelainan ringan dan kronik sebagai pityriasis lichenoides cronica (PLC) dan bentuk akut biasa dikenal sebagai pityriasis lichenoides et varioliformis acuta (PLEVA). papul rata dan makula 4 . dan laki-laki lebih dominan terkena kelainan ini. Bentuk kronik lebih sering didapatkan daripada bentuk akut. Terdapat dua jenis dari pityriasis lichenoides.

Karena itu. PATOGENESIS Studi imunohistologik telah menunjukkan suatu reduksi sel antigen-presenting dendritic ( langerhans ) CD1a+dalam pusat epidermis lesi pitiriasis lichenoides. Pytiriasis lichenoides skrng dipertimbangkan sebagai vasikulitis limfositik dan dihapus dari kelainan parapsoriasis. yang menyatakan aktivasi oleh sitokin sel T. Banyak sel T ini yang mengekspresikan protein memori ( CD45RO ) dan protein sitolitik ( TIA-1 dan granzim B ). Dalam agregasi. Paling tidak 1 kasus berkaitan secara berulang dengan terapi estrogen-progesteron dan lainnya dengan obat kemoterapi. Deposisi imunoglubulin M. dan virus HIV. Klonalitas sel T dominan telah didemonstrasikan dalam kira-kira setengah kasus PLEVA dan suatu minoritas dalam kasus PLC. beberapa kasus yg berkaitan dengan toksoplasmosis dengan cepat berespon dengan terapi spesifik. Sel T CD8+ atau CD4+ sel T dominaan dalam PLC. individu pasien mungkin menunjukkan campuran lesi akut dan 5 . walau ini dapat merupakan suatu fenomena sekunder. penemuan ini meningkatkan kemungkinan bahwa pitiriasis lichenoides adalah suatu variabel klonal respon limfoproliferatif sel T-memori sitolitik kepada satu atau lebih antigen asing. Beberapa kasus berkaitan dengan agen infeksi seperti Toxoplasma gondii.B. C3 dan fibrin di dalam dan sekitar pembuluh darah dan sepanjang dermoepidermal junction pada lesi akut dini menyatakan suatu respon imun humoral yang mungkin terjadi. D. Bagaimanapun. Tidak jelas apakah agen ini secara aktif terlibat dalam patogenesis penyakit atau hanya secara kebetulan saja. C. Keratinosit dan sel endothelial adalah HLA-DR+ . ETIOLOGI Etiologi pitiriasis lichenoides tidak diketahui. virus Epstein-Barr. sitomegalovirus. GAMBARAN KLINIS Lesi Kutaneus PLC dan PLEVA terdapat pada kontinum patologi klinik. parvovirus B19.

kronik yang terpisah atau bersamaan. bisanya dalam 2-5 minggu b) c) 6 . Beberapa telah menyatakan bahwa jenis yang berat ini sebenarnya menunjukkan suatu limfoma sel T. tetapi daerah lain kulit dan bahkan membran mukosa dapat terlibat. lesi akut menyebabkan trauma dermal yang lebih dalam dan akibatnya sering beresolusi menjadi skar varioliform ( seperti small-pox/cacar ). kadang-kadang timbul sebagai hipomelanosis gutata idiopatik. Adanya lesi pada berbagai tahap evolusi menunjukkan suatu penampakan polimorfosa yang merupakan karakteristik pitiriasis lichenoides. Lesi pitiriasis lichenoides cenderung berkonsetrasi pada tubuh dan ekstremitas proksimal. Sebagai tambahan. 1. Jenis ulseratif yang lebih berat dikenal sebagai pitiriasis lichenoides dengan ulseronekrosis dan hipertermi (PLUH) atau febrile ulseronekrotik penyakit Mucha-Habermann. Lesi kronik dapat menentukan hipopigmentasi post-inflamasi. Ini tampak sebagai papulonodul purpurik dengan ulkus sentral yang diameternya beberapa sentimeter. Lesi kronik jarang menjadi skar. dapat ditemukan skuama seperti mika Lesi dapat berkembang menjadi vesikel atau pustule dan menjadi nekrosis hemoragik. PLC biasanya timbul sebagai papul skuama eritematosa yang secara spontan beregresi setelah beberapa minggu sampai bulan. pustula atau erosi sebelum beregresi secara spontan dalam beberapa minggu. Semua bentuk pitiriasis lichenoides dapat menyebabkan hipopigmentasi atau hiperpigmentasi post-inflamasi. Sebaliknya. PLEVA : a) Gejala muncul perlahan-lahan tanpa gejala. PLEVA bermanifestasi sebagai papul eritematosa yang rekuren yang berkembang menjadi krusta. terutama pada kasus akut. lesi menunjukkan gambaran klinik yang muncul sebagai papul skuama eritemotosa yang rekuren yang beregresi secara spontan selama beberapa minggu sampai bulan. Lesi sering asimtomatik tapi dapat menjadi pruritik atau terbakar. demam ringan Papul eritem diameter 2-10 mm. vesikel. biasanya hanya gatal ringan.

pustula dan ulkus. Dapat juga terjadi leukositosis dan suatu penurunan rasio CD4/CD8. superinfeksi pada lesi kulit Dapat menyerupai varicella dan insect bite e) f) g) 2. Tes darah Terjadi abnormalitas non spesifik campuran dalam tes darah tapi dengan nilai praktikal yang kecil. papul kecoklatan. Terdapat eksositosis. parakeratosis dan ekstravasasi eritrosit.d) Predileksi dapat juga di muka. Infiltratnya sebagian besar tersusun dari limfosit dengan campuran neutrofil dan histiosit. kepala. Rentang kerusakan epidermal dari edema interseluler dan ekstraseluler pada kasus kurang berat sampai nekrosis keratinosit ekstensif. Varian akut dapat menyebabkan vaskulitis limfositik dengan degenerasi fibrinoid dari dinding pembuluh darah. + 10% kasus Demam tinggi merupakan komplikasi yang jarang terjadi. 7 . hanya perubahan warna kulit b) c) d) e) E. DIAGNOSIS 1. telapak tangan dan kaki. menjadi lebih nyata jika digaruk Skuama lebih kurang nyata disbanding psoriasis Dapat menetap beberapa tahun Gejala sistemik jarang Lesi menyembuh tanpa skar. Gambaran Histologi Semua kasus pitiriasis lichenoides mengandung suatu interface dermatitis yang lebih lembut dan lebih berbentuk baji pada lesi akut. Pemeriksaan laboratorium a. b. Pemeriksaan klinis 2. dihubungkan dengan lesi tipe ulseronekrotik Komplikasi mencakup arthritis. vesikel. skuama melekat seperti mika. PLC : a) Erupsi generalisata.

Pityriasis lichenoides chronic Parakeratosis. maka terapi sistemik semakin diindikasikan. infiltrasi limfosit yang menyeluruh pada daerah perbatasan epidermis-dermis F. dan infiltrasi limfositik perivaskular (superficial dan dalam) Gambar4. Antibiotik topical dan sistemik mungkin 8 . keratinosit nekrotik eosinofil. Pityriasis lichenoides et valiofrmis acuta Papul ulserasi dengan epidermal nekrosis.Gambar3. Semakin akut gambaran kliniknya dan semakin berat lesi individual. Metotreksat sering efektif secara relative dalam dosis rendah. exositosis limfositik. Antibiotik sistemik dalam kelompok tetrasiklin dan eritromisin digunakan secara primer untuk anti-inflamasi dibandingkan sebagai efek antibiotic. Kasus PLEVA berat dan PLUH sering mendapatkan kortikosteroid sistemik atau obat serupa untuk mendapatkan kendali terhadap gejala sistemik. PENATALAKSANAAN Terapi tradisional utama mempunyai kombinasi kortikosteroid topical dan fototerapi. Inhibitor kalsineurin dan retinoid juga dapat bermanfaat. edema.

UVB. tapi penggunaan selanjutnya sebaiknya dituntun dengan hasil pemeriksaan kultur. Eritromisin memberikan remisi 73% kasus.diperlukan untuk menangani infeksi sekunder yang dapat berkomplikasi menjadi lesi kulit yang ulseratif. ditappering setelah beberapa bulan sesuai respon klinik. digunakan secara teratur selama 2 bulan. 2. Dosis eritromisin 30-50 mg/kgBB/hari. Eritromisin Tetracycline Minocycline 500 mg PO 2-4x/hari 500 mg PO 2-4x/hari 100 mg PO 2x/hari Fototerapi (sunbathing. Preparat ter batubara topikal Terapi Pityriasis Lichenoides PLEVA dan PLC Lini pertama Topikal kostikosteroid Antibiotik 1. Antihistamin jika perlu. masingmasing 5 hari 10-25 mg PO /minggu G. Terapi lain : Dapson. narrowband UVB) Lini Kedua Tacrolimus topikal Prednison Methotreksat Fototerapi (UVA. psoralen + UVA) Cyclosporin Retinoid (acitretin) 2.5-4 mg/kg/hari 25-50 mg PO /hari 60/40/20 mg PO tapering. KOMPLIKASI 9 . 3. UVA. Agen-agen ini pada awalnya sering dipilih untuk mengatasi pathogen gram positif. emas. Bisa rekuren jika ditappering terlalu cepat.

10 . Pasien dengan kondisi yang lemah dapat meninggal.Infeksi sekunder merupakan komplikasi pitiriasis lichenoides yang paling umum. malaise. artralgia dan gejala gastrointestinal dan system saraf pusat. Dibandingkan dengan sel T klonal alami mereka yang kadang-kadang dominant. Pasien dengan PLUH dapat mengalami demam tinggi. PLC dan PLEVA secara klinik dianggap sebagai gangguan jinak tanpa hubungan yang signifikan dengan limfoma atau keganasan lain. PLEVA mungkin berkaitan dengan demam derajat rendah. mialgia. sakit kepala dan artralgia. malaise.

BAB III KESIMPULAN Pityriasis lichenoides adalah kelainan papulosquamous. cellmediated immunity dan sel endothelial HLA class II antigen telah dilibatkan dalam pathogenesisnya. Kompleks immune. PLEVA bermanifestasi sebagai papul eritematosa yang rekuren yang berkembang menjadi krusta. 11 . Topikal kortikosteroid dan fototerapi tetap menjadi pengobatan utama. kelainan ringan dan kronik sebagai pityriasis lichenoides cronica (PLC) dan bentuk akut biasa dikenal sebagai pityriasis lichenoides et varioliformis acuta (PLEVA). pustula atau erosi sebelum beregresi secara spontan dalam beberapa minggu. vesikel. Terdapat dua jenis dari pityriasis lichenoides. PLC biasanya timbul sebagai papul skuama eritematosa yang secara spontan beregresi setelah beberapa minggu sampai bulan.

Department of Dermatology and Venereology. Medical College Hospital. Medicina. Kerala. Pemphigoid Gestationis. Trivandarum. 2010. Klaus Wolff. 3. 12 . et al. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 2007. Pityriasis Lichenoides – Clinical and Immunogenetic Studies.DAFTAR PUSTAKA 1.. 2. Norma T foss et al. India. USA : McGraw-Hill Antonette T. Indian J Dermatol Venerol Laprol. Riberiao Preto. Brasil. 2008. A Clinical and Histolopathology study of Pityriasis Lichenoides. 2000. D.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful