Fair Value

Akuntansi merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengubah input (data-data transaksi) menjadi output (laporan

keuangan) yang menjadi dasar dalam pengambilan keputusan ekonomik. Suatu entitas akan menggunakan akuntansi untuk menunjukkan bahwa kondisi keuangannya layak untuk mendapatkan tambahan kredit, atau untuk menunjukkan bahwa entitas tersebut aman untuk dijadikan tempat berinvestasi. Suatu entitas juga akan menggunakan akuntansi untuk meninjau apakah pemasoknya masih layak, apakah entitas sudah mengalahkan pesaing, atau apakah strategi bisnis yang dicanangkannya sudah berhasil. Dalam konsep perekonomian saat ini, setiap entitas bebas untuk melakukan aktivitas ekonomi. Setiap entitas juga bebas untuk mengoptimalkan input dan proses untuk mendapatkan output. Prinsip ekonomi ini jika ditambah dengan sifat dasar manusia yaitu keserakahan (greed) akan menjadikan akuntansi sebagai alat untuk melakukan fraud. Sejak akuntansi pertama kali ditemukan, pelaporan keuangan telah diatur sedemikian rupa sehingga laporan keuangan dapat menyajikan informasi yang benar-benar dapat diandalkan untuk pengambilan keputusan. Namun seiring dengan berjalannya waktu, akuntan menemukan banyak celah dalam pendekatan-pendekatan pelaporan keuangan yang telah ada, untuk melakukan fraud. Hal ini merupakan salah satu sebab munculnya pengaturan akuntansi baru yang berbasis prinsip yaitu IFRS. Dalam IFRS dikembangkanlah pendekatan-pendekatan baru dalam pelaporan keuangan untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan keterbandingan laporan keuangan. Misalnya, ditingkatkannya pengungkapan informasi kualitatif transaksi, pengaturan untuk pelaporan keuangan menggunakan pendekatan prinsip bukan lagi aturan, dihapusnya pos-pos luar biasa, penyajian laporan keuangan diubah untuk mencerminkan sifat laporan keuangan, dan penggunaan pendekatan pengukuran nilai wajar (fair value). Sebelum digunakannya International Financial Reporting Standards (IFRS), akuntansi menggunakan dasar kos historis (historical cost) untuk pengukuran transaksinya. Dalam konsep ini, pos-pos laporan keuangan diukur sebesar kos pada waktu terjadinya transaksi. Kos ini kemudian akan menjadi dasar pelaporan besarnya suatu pos untuk periode selanjutnya, selama pos tersebut masih dilaporkan. Keuntungan dari digunakannya pendekatan kos historis ini adalah, besarnya pos laporan keuangan dapat dibuktikan dengan mudah karena berdasarkan transaksi yang telah terjadi. Namun, ketika terjadi penurunan atau peningkatan nilai suatu pos di pasar (bisa jadi karena inflasi atau deflasi, atau karena kelangkaan produk, dan lain sebagainya), pos yang dilaporkan tidak akan mencerminkan nilai yang berubah ini. Misalnya, menggunakan kos historis suatu gedung dicatat sebesar Rp100.000.000 pada tahun pertama. Pada tahun kelima, nilainya menjadi Rp50.000.000 (asumsi digunakan depresiasi garis lurus untuk umur ekonomik 10 tahun). Karena peningkatan nilai strategis lingkungan, nilai gedung-gedung di lingkungan sekitar untuk perolehan di tahun yang sama, meningkat 5 kali lipat (berarti untuk gedung yang dimiliki menjadi sekitar 250 juta). Dalam hal ini, kos historis tidak mencerminkan nilai dari aset tetap pada saat pelaporan. Konsep ini bisa saja disanggah oleh para penganut kos historis (termasuk Amerika yang agak ‘sulit’ untuk mau melakukan konvergensi dengan IFRS), karena peningkatan aset sebesar 250 juta tadi sebetulnya akan diakui jika gedung dijual pada saat itu. Namun pada kenyataanya gedung belum dijual (sesuai dengan konsep kos melekat), sehingga

dan metode penilaian lain yang konsisten dengan pendekatan pasar. Tetapi. Pengukuran nilai wajar dalam pendekatan ini menggunakan dasar nilai . Setelah pengukuran awal (biasa disebut sebagai pengukuran setelah pengukuran awal). Satu aset Sekelompok aset Satu liabilitas Sekelompok liabilitas Konsiderasi bersih dari satu atau lebih aset dikurangi satu atau lebih liabilitas terkait Satu segmen atau divisi dari sebuah entitas Satu lokasi atau wilayah dari suatu entitas Satu keseluruhan entitas Yang dimaksud dengan pengukuran di atas bukan merupakan pengukuran awal. pertama harga pasar aset (liabilitas) pada saat pelaporan. 6.” Nilai wajar ini digunakan untuk mengukur: 1. dan untuk mengukur apa? Nilai wajar didefinisikan dalam IFRS sebagai. jika tidak terdapat harga pasar aset (liabilitas) maka menggunakan harga pasar aset (liabilitas) sejenis. Pendekatan ini menggunakan teknik penilaian untuk mengubah nilai masa depan (contohnya aliran kas atau laba) ke nilai kininya terdiskonto (discounted). Seberapa bernilai ini artinya. Cara mengukur ‘ketika aset (liabilitas) dapat ditukar’ adalah menggunakan: 1. jika tidak terdapat harga pasar aset (liabilitas) sejenis maka menggunakan model yang konsisten dengan pendekatan pasar (contohnya model matrix pricing. selama aset masih dikuasai). 7. Urutan yang digunakan jika nilai wajar menggunakan pendekatan pasar adalah. dapat disimpulkan bahwa nilai wajar diukur menggunakan dasar ketika aset (atau liabilitas) dapat ditukar. bukan ketika aset (liabilitas) benar-benar ditukar. Pendekatan Pasar.peningkatan nilai gedung karena nilai wajar(pasar)nya meningkat tidak bisa diakui. bukan nilai masa lalunya pada saat pelaporan. Dari definisinya. entitas menampilkan nilai sesungguhnya dari entitas pada saat pelaporan. nilai wajar diukur berdasarkan harga pasar atau informasi relevan lain yang dihasilkan dari transaksi di pasar. yaitu saat pelaporan keuangan (dan untuk pelaporan seterusnya. dll) 2. Dalam pendekatan ini. Pendekatan Penghasilan. 3. “the amount for which an asset could be exchanged between knowledgeable. Suatu aset dan liabilitas yang dimiliki. entitas tetap menggunakan dasar kos pada saat terjadinya transaksi. 2. inilah keuntungan dan tujuan dari penggunaan nilai wajar. willing parties in an arm’s length transaction. 5. Hal ini termasuk harga aset (liabilitas) sejenis yang ada di pasar. entitas boleh memilih model kos (berdasar kos historis) atau model revaluasi (berdasar nilai wajar) untuk mengukur pos-pos laporan keuangannya. Untuk pengukuran awal (saat aset diakuisisi atau liabilitas muncul). kecuali transaksi sudah terjadi. Apa sebetulnya nilai wajar itu. dinilai berdasar seberapa bernilainya (worth) pos-pos dari elemen tersebut pada saat pelaporan. 4. 8.

maka akan ada celah dalam melakukan perhitungan nilai harapan pasar masa kini atas nilai masa depannya. penggunaan nilai wajar merupakan suatu tantangan baru bagi profesi jasa penilai dan auditor. merupakan suatu celah untuk dilakukannya fraud. Hal ini merupakan suatu celah untuk dilakukannya fraud. Pendekatan kos disebut juga pendekatan kos pengganti kini (current replacement cost). penilai harus menentukan harga pasar yang mana yang akan diambil untuk disajikan. jika pengukuran nilai wajar menggunakan pendekatan penghasilan.yang dilihat dari harapan pasar kini atas nilai aset (liabilitas) masa depan. Entitas biasanya cenderung untuk meningkatkan nilai aset dan pendapatannya atau menurunkan nilai liabilitas dan biayanya. option pricing). Estimasi merupakan suatu hal yang sangat sulit ditentukan kebenarannya. Oleh karena itu. jika nilai wajar didasarkan pada harga pasar. Pendekatan ini termasuk menggunakan nilai kini (present value. 3. mobil kijang tahun 1998 pada saat pelaporan di tahun 2002 harganya belum tentu sama antara satu penjual dengan penjual lain. Misalnya. Kemungkinan fraud ketiga adalah. Oleh karena itu. . Dalam hal ini. Pendekatan nilai wajar seperti yang ditunjukkan di atas memiliki banyak celah untuk dilakukannya fraud. Entitas maupun penilai dapat melakukan justifikasi atas dasar estimasi yang dilakukan. maka akan ada kemungkinan bahwa harga pasar suatu aset ada dalam kisaran tertentu. Kemungkinan keempat adalah. fraud untuk meningkatkan nilai aset dapat terjadi. penentuan estimasi kos pengganti. Kemungkinan fraud kedua adalah. Mobil kijang ini pasti akan ada dalam kisaran harga. Pertama. namun didasarkan pada seberapa bernilainya aset (liabilitas) pada saat pelaporan. Tidak adanya bukti historis ini (kecuali untuk pendekatan pasar yang observable). Kos pengganti ini adalah jumlah yang diperlukan untuk menggantikan suatu aset. Pendekatan Kos. Namun kembali lagi bahwa kisaran harga yang akan diambil seharusnya cukup ‘wajar’. Berbagai kemungkinan lain dapat terjadi dalam pengukuran nilai wajar. Hal ini dikarenakan nilai wajar tidak berdasarkan pada bukti historis. jika tidak tersedia pasar. maka penilai akan menggunakan model yang konsisten dengan pendekatan pasar. Penggunaan model untuk menentukan nilai wajar ini merupakan celah untuk dilakukannya fraud.

Disamping itu. akhirnya konsep historical cost dianggap tidak cocok lagi. mengatakan. “Masih ada yang seperti itu. Indonesia juga akan mengadopsinya. Menurut Kepala Bidang Akuntansi Keuangan dan Pemeriksaan Bapepam-LK Etty Retno Wulandari. tentang Nilai Pasar wajar dari efek dalam portofolio reksadana. sistem akuntansi di Indonesia menggunakan konsep historical cost. Sebagai gantinya digunakan konsep Fair Value. Hamid menilai . Namun.E. detail.2.Menuju IFRS: Rencana Penerapan Fair Value di Indonesia hepiprayudi ♦ 14 Desember 2009 ♦ 11 Komentar Apa sesungguhnya fair value? selama ini. untuk penerapan fair value di lingkungan pasar modal. Hampir seluruh Pronouncement the International Accounting Standard Board sudah menerapkan dasar fair value.I tentang penggabungan usaha atau peleburan usaha perusahaan publik/emiten.E.2. Indonesia begitu mengetahui pasar sedang bergejolak dan kondisi di dalam negeri juga belum siap benar. Bapepam-LK akan selalu mengikuti dan meng-enforce semua standar yang dikeluarkan DSAK. Mereka belum siap untuk terbuka dan transparan bagi pihak lain atau investor yang ingin melihat isi perusahaan mereka. Indonesia akhirnya baru menerapkan fair value secara penuh pada 2012. termasuka didalamnya konsep fair value. DSAK juga menerbitkan buletin teknis sebagai panduan untuk melakukan perhitungan fair value pada standar-standar tersebut. diantaranya IX. banyak yang belum siap dengan fair value. ada beberapa pihak atau bidang yang sudah siap. Berbeda halnya dengan Amerika Serikat yang bersikap secara perlahan menerapkan Fair Value measurement yang telah diatur dengan sangat kompleks. Namun demikian. rinci oleh GAAP. DSAK sudah menyusun beberapa standar yang semua mengacu pada IFRS/IAS. tentang Tata cara Pelaksanaan Kuasi Reorganisasi dan IV. untuk berbagai kepentingan. IX.G. masalah ketidaksiapan Indonesia juga diakui Jusuf Wibisana. karena tidak mencerminkan nilai pasar.” katanya. PSAK no 16 tentang aset tetap dan PSAK 50 dan PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan. dan berkembang sangat cepat. Menurut mantan Ketua DSAK tersebut.C. Dengan kondisi pasar yang semakin dinamis. pelaku dunia usaha sendiri.L. IX. DSAK (Dewan Standar Akuntansi Keuangan) memang belum pernah melakukan penelitian tentang kesiapan Indonesia dalam menerapkan fair value. laporan nilai buku itulah yang selama ini lazim dijadikan acuan untuk menilai sebuah perusahaan. menurut Hamid.I tentang Transaksi afiliasi dan Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu. PSAK no 13 tentang Properti Investasi. Diantaranya adalah PSAK no 30 tentang sewa beserta PSAK no 8. Konsep ini menggunakan pendekatan biaya perolehan menghasilkan nilai buku. tapi banyak juga yang belum siap. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK) dalam beberapa peraturannya juga telah mengadopsi atau memasukkan konsep fair value.I. IX. Indonesia lebih memilih menunda penerapan Fair Value. diakui Jusuf. tentang Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha Utama.

baik regulator. Meskipun secara penuh baru akan menerapkan IFRS di tahun 2012. “Ini memberikan tambahan waktu bagi bank untuk melakukan penyesuaian di bidang sistem teknologi. namun banyak kalangan mengingatkan untung rugi atau risiko-risiko yang ditimbulkannya. dan persiapan SDM” kata Narni. untuk penyusunan laproan keuangan bagi perusahaan publik atau emiten. Bank Indonesia (BI) memberlakukan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI). penerapannya harus konsisten. “Jadi belum bisa dikomentari hasilnya seperti apa’” katanya. Semua PSAK yang diterbitkan DSAK tersebut nantinya harus dijadikan pedoman dalam menyusun laporan keuangan berbasis fair value. maupun pihak-pihak terkait harus bersama-sama melakukan upaya-upaya serius agar penerapan fair value sesuai harapan. Setelah 2012. harus menyiapkan berbagai langkah penerapan fair value tersebut. Kalau pakai mark to market. Bagi Ricky. menurut Kepala Biro Penelitian dan Pengaturan Bank – BI.” katanya. Hanya. infrastruktur. Ricky Ichsan. semua pihak terkait. proses bisnis. Sebab tak semua instrumen keuangan atau aset bank diperdagangkan di pasar modal. karena itulah. pelaku usaha. boleh juga mark to market atau fair value. menurut Etty Retno Wulandari. juga harus seterusnys begitu.pemerintah atau regulator juga belum benar-benar siap paket-paket regulasi yang menjamin adanya keterbukaan informasi pasar. “Karena itu. dalam beberapa kasus atau entitas konsep fair value ini di Indonesia sudah diterapkan. PSAK 50 dan PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan yang sedianya diberlakukan tahun ini diundur hingga 2010. menguntungkan perbankan Indonesia. salah satu sektor yang juga dinilai belum siap menerapkan fair value adalah perbankan. Opini itu akan menurunkan tingkat kepercayaan publik. penerapan fair value di mata Ricky tergolong paling rumit dan kompleks. Tidak boleh ganti-ganti.” katanya. dengan sendirinya penilaian sudah menggunakan fair value. fair value juga sudah diterapkan. Meskipun telah disepakati bahwa Indonesia akan menerapkan konsep fair value. fair value akan menguntungkan pelaku pasar atau investor karena memang mencerminkan nilai pasar . Dibanding sektor lain. perusahaan atau entitas yang menggunakan laporan keuangannnya masih tidak menggunakan fair value. oleh auditor akan diberi opini tidak bersih. konsep fair value baru diterapkan tahun 2009. Hanya menurut Wakil Ketua Bidang Investasi Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Joni Rolindrawan. Di lingkungan Dana Pensiun. Sekali pakai hold to maturity seterusnya harus begitu. Menurut Manajer Senior PT Batavia Properindo Sekuritas. sebab laporan keuangan emiten berbasis fair value baru diterima BapepamLK bulan April 2009 ini. menurut Jusuf Wibisana. Saham yang diperdagangkan di pasar modal. Pengelola dana pensiun boleh menggunakan hold to maturity. sembari menunggu deadline 2012. DSAK masih memberikan opsi. misalnya menurut Ricky Ichsan. “Hanya. Namun penundaan PSAK 50 dan PSAK 55 itu. Narni Purwati. Hasilnya seperti apa memang belum bisa diketahui. Sebagai gantinya. perbankan merupakan sektor yang paling belum siap menerapkan fair value.

IFRS . “Sebab informasi pasarnya terkini. Tapi nilai buku kebun lama kecil. dan informasi lebih dekat dengan apa yang diinginkan oleh pemakai laporan keuangan. menurut Hamid Yusuf. tanpa fair value. “Ini tidak menggambarkan nilai yang sebenarnya.yang sebenarnya. untuk hal yang sama dibutuhkan biaya sampai Rp 30 juta. Padahal. atau distressed sales mungkin tidak mencerminkan nilai wajar yang sebenarnya. penghasilannya sama dengan kebunkebun lama yang lebih murah biayanya. Dengan demikian. dan tidak aktif untuk instrumen lainnya. kita akan kesulitan untuk menilai pasar yang tidak aktif. Sebagai gambaran. Sebab. orang baru membuka perusahaan perkebunan. sebagai contoh. pasar mungkin aktif untuk instrumen tertentu. kebun sawit seluas satu hektare. Sehingga. Jusuf Wibisana juga masih memberikan catatan bagi penerapan fair value ini. GAAP. ketika harga dolar AS sudah naik tiga kali. misalnya cukup dibangun dengan uang Rp 12 juta atau hanya Rp 6 juta sebelum tahun 1990-an. Dibanding historical cost. selama ini dinilai terlalu rendah. Ikatan Akuntan Indonesia) ADVERTISEMENT Share this: • • • Facebook1 Email Like this: Suka Be the first to like this post. Hal senada. dan ini juga tergolong hal yang sulit. Fair Value.April 2009. meningkatkan keterbandingan laporan keuangan.” katanya.” katanya. “Dan. Secara umum. sebelum 1997. harga yang terbentuk dalam forced transaction. memang. Catatan lain lagi adalah. jauh lebih rendah dari nilai sewajarnya. aset-aset perekonomian nasional. Dan untuk itu diperlukan penilaian model. DSAK. (sumber: Akuntan Indonesia. Namun. majalah edisi no 16. Ia mencontohkan set-aset perusahaan perkebunan yang hingga saat ini masih menggunakan nilai buku. yaitu laporan keuangan menjadi lebih relevan untuk dasar pengambilan keputusan. Setelah terjadi krisis moneter 1998/1998. Hanya. potensi laba/rugi sebuah perusahaan jauh jauh hari sudah bisa diprediksikan. • • Posted in: IFRS Ditandai:ADPI. Selain itu.”katanya. nilai bukunya sudah diatas Rp 25 juta semua. fair value memiliki tiga keunggulan. baik yang dimiliki swasta maupun pemerintah. diungkapkan Jusuf Wibisana. penerapan fair value akan menguntungkan perekonomian Indonesia. keberadaan willing sellers dan willing buyers kadang tidak cukup untuk menjustifikasi apakah suatu pasar terbilang aktif. forced liquidation. untuk penentuan apakah suatu pasar itu aktif atau tidak aktif adalah persoalan krusial dan tidak mudah.

. pujohari 7 Mei 2010 – 2:51 PM Pak.what’s that?? PSAK 45: Organisasi Nir-Laba → 11 Komentar 1. Balas 3..Post navigation ← IFRS….. tapi model promonya terserah saya yah!!!! Balas o hepiprayudi 8 Mei 2010 – 5:01 PM silahkan kl memang berguna bagi teman-teman……. penulis 21 Desember 2009 – 6:12 AM tolong dikomentari………… Balas 2.. untuk sekalian promosi blognya. saya share di kaskus yah.

Thanks . Yg ingin saya tanyakan.com” biar byk visitorsnya — Balas 4. dimana tenant yg menyewa dikenakan securty deposit. santosa 26 September 2010 – 6:15 PM klo blh saya kasih saran pak… tolong dimuat contohnya jg laporan keuangan perusahaan yg sudah menerapkan ifrs ini jd kita lebih paham penerapaanya tq Balas 5. buat blog ini jd ‘dofollow’ biar byk yg kasih komen atau submit ke direktori2 lokal seperti “lintasberita. dimana SD tsb akan dikembalikan pada akhir periode masa sewa.. buku yg bapak rekomendasikan mengenai Fair Value. bagaimana perlakuan SD tsb. perusahaan kami bergerak dlm bidang persewaan. sehubungan dgn penerapan peraturan Fair Value. Mohon tanya jg. Peggy 3 Oktober 2010 – 4:21 PM Pak.RodYz 12 Mei 2010 – 4:15 PM ohh ini toh yg dibicarain di kaskus saran saya sih pak.

Desi Mulyani 15 Januari 2011 – 3:41 PM contoh penerapannya pada fixed asset saya belum paham pak? Balas 7. saya kurang tau krn pd saat penerapan IFRS.kalau ttg Fair Value. Fair Value yang menilai adl Aktuaris bukan Akuntan. Akuntan tdk memiliki kemampuan utk menaksir. karena barang jaminan tsb bukan milik perusahaan. buku yg banyak ttg IFRS.Balas o Hepi Prayudi 18 Oktober 2010 – 8:38 AM SD tersebut menurut saya sebaiknya dicatat di neraca sebagai barang jaminan jurnal barang jaminan pada hutang jaminan. itu adalah bagian dari aktuaris Balas 6. willya randika 14 April 2011 – 6:59 PM saya belum begitu paham pak mengenai ifrs. apakah banyak pembenahan / yang perlu diubah dari sistem yang lama ? trims Balas o hepiprayudi .

"Ada 18 PSAK yang dikonvergensi dan efektif pada 2012. setelah dikonvergensi menjadi principle based. PSAK 13 tentang Properti Investasi. namun setelah dikonvergensi menggunakan fair value. Bapepam-LK tinggal menyisakan dua IFRS untuk diadopsi. Dengan demikian dapat mengurangi dampak psikologis dari investor asing dalam pengambilan keputusan investasi.IFRS lebih menekankan valuasi pada Fair Value sedang PSAK sekarang penekanan pada Fair Value masih sedikit JAKARTA . PSAK 56 tentang Laba per Saham serta PSAK 53 tentang Pembayaran Berbasis Saham. Tapi ada juga dua PSAK yang dikonvergensi ke IFRS memperbolehkan emiten atau perusahaan memilih menerapkan historical cost atau fair value." jelas dia. Dengan demikian proses konvergensi PSAK ke IFRS telah sampai 95 persen. Dua IFRS yang belum diadopsi adalah IFRS I. PSAK 34 tentang Kontrak Kontruksi. kepada wartawan. tujuan dari program konvergensi PSAK ke IFRS dalam rangka meminimalisasi perbedaan antara prinsip akuntansi yang berlaku di Indonesia dengan IFRS. beberapa PSAK yang siap dikonvergensi pada 2012 antara lain.13 September 2011 – 2:39 PM IFRS adalah standar pelaporan keuangan standar internasional. Bapepam LK telah mengadopsi 35 IFRS. Kepala Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan Etty Retno Wulandari menjelaskan. "Kedua IFRS nampaknya tidak cocok diberlakukan di Indonesia." tutur dia.inti IFRS adalah principle based. . Kamis (1/12/2011). Selanjutnya. yaitu first time adoption of IFRS dan IAS 41 tentang Agriculture.kita harus menerapkan pada th 2012.sedang PSAK sekarang adalah ruled based. Di mana sebelum revisi utamanya menerapkan historical cost. Hal tersebut diatur pada PSAK 16 tentang Asset Tetap. Dia menjelaskan. Dengan demikian. Jika sebelumnya merupakan rule based. Badan Pengawas dan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) mengklaim siap mengefektifkan konvergensi 18 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) ke International Financial Reporting Standart (IFRS). Dari 37 IFRS yang diterbitkan oleh international accounting standards board (IASB). Kendala yang dihadapi dalam penerapan PSAK berbasis IFRS adalah terjadinya perubahan konsep.Pada 2012 mendatang. terdapat perubahan konsep penilaian.

Tergantung kebijakan emiten atau perusahaan saja. "Di situlah salah satu peran strategis para akuntan profesional dalam membuat lapoan keuangan yang transparan dan akuntabel. mengatakan. memudahkan investor luar negeri untuk membaca laporan keuangan emiten local . Diantaranya. Dia mengatakan Indonesia termasuk telat dalam menerapkan standar akutansi keuangan internasional (IFRS). Tapi yang jelas Bapepam LK harus mendapatkan informasi akan mempergunakan konsep penilaian mana serta harus selalu dipergunakan dalam membuat laporan keuangan. praktik good corporate governance bagi perusahaan publik mewajibkan pelaporan keuangan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan dalam mendorong kepercayaan pemangku kepentingan. Termasuk penanam modal. Sebelumnya. Ferdinand Sadeli. emiten akan mendapatkan banyak keuntungan. Dengan menerapkan IFRS. Bandingkan dengan Malaysia dan Singapura yang telah menerapkan IFRS pada 2006 sedangkan Australia pada 2005." kata dia. Presiden CPA Australia-Indonesia Office.

fair value dapat diukur dengan menggunakan current market value. Namun untuk itemitem yang harga pasarnya tidak tersedia. tidak ada perbedaan yang siginifikan dari sisi decision usefulness baik yang menggunakan historical cost maupun menggunakan market based fair value. dan dengan menggunakan estimasi (Hitz 2007). dan untuk aset tidak lancar serta aset-aset yang digunakan untuk kegiatan operasional. Meskipun fair value dapat diukur dengan menggunakan current market value.Benarkah Fair Value itu Fair? Bagaimana Hubungannya dengan Fraud dan Standar Akuntansi? OPINI | 11 June 2010 | 19:49 655 10 2 dari 2 Kompasianer menilai Bermanfaat Berdasarkan FASB Concept Statement No. Pengukuranfair value seperti ini disebut juga dengan mark to model. Terdapat tiga hirarki dalam mengestimasi fair value. namun tidak berarti fair value itu sepenuhnya adalah current market value. yaitu dengan menggunakan nilai pasar. Fair value yang didasarkan atas harga pasar (mark to market) lebih bernilai dan memiliki decision usefulness lebih tinggi dibandingkan dengan fair value yang didasarkan atas penilaian (mark to model). (Gassen & Schwedler 2009) menemukan bahwa terdapat pemahaman yang berbeda-beda mengenai fair value. Dengan demikian penggunaan fair value sesungguhnya dapat menimbulkan implikasi yang bersifat subyektif terutama yang berkaitan dengan penilaian (Blommaert dalam Verhog 2003). Pengukuran fair value seperti ini disebut juga dengan mark to market. Untuk item-item tertentu di dalam laporan keuangan yang berasal dari transaksi yang lazim terjadi (arm’s length transaction) dan harga-harganya juga dapat dengan mudah diukur dengan harga pasar. (Gassen & Schwedler 2009) juga menemukan bahwa fair value yang berdasarkan pada harga pasar memiliki decision usefulness yang tinggi untuk aset-aset lancar dan non operasional. Pendekatan dalam perhitungan fair value dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu pendekatan pasar. fair value diukur dengan menggunakan model penilaian yang didasarkan atas perhitungan-perhitungan dan estimasi tertentu. pendekatan pendapatan dan pendekatan biaya (SFAS 157) Masing-masing pendekatan ini jika ditelusuri lebih lanjut memiliki resiko untuk menimbulkan terjadinya fraud dalam laporan keuangan. komparasi dengan harga pasar dari item yang dapat diperbandingkan dengan item yang dinilai. dan ini akan menjadi suatu diskusi yang sangat menarik mengenai penerapan fair value dan hubungannya dengan tindakan fraud dan resiko global. . 7 dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa fair value adalah harga yang akan diterima dalam penjualan aset atau pembayaran untuk mentransfer kewajiban dalam transaksi yang tertata antara partisipan di pasar dan tanggal pengukuran (FASB 2000).

Joachim & Kristina Schwedler. New Global Risk & Detection Techniques (Gerard M Zack. terutama dalam menciptakan konvergensi antara dua rerangka konseptual dan standar akuntansi yang saat ini banyak menjadi acuan yaitu yang dikeluarkan oleh FASB dan IASB. Hal ini diperlukan untuk mengatasi kendala-kendala penerapan fair value agar menjadi lebih andal (reliable). Pernyataan yang jelas dalam rerangka konseptual juga diperlukan terutama rekomendasi penggunaan fair value untuk item-item tertentu. yang harus dilakukan adalah menyediakan instrumen agar konsep fair value dapat lebih diperkuat dan dapat diukur secara lebih reliabel. 2009) The Decision Usefulness of Financial Accounting Measurement Concepts: Evidence from an Online Survey of Professional Investors and Their Advisors (Gassen.Pengukuran dengan menggunakan atribut fair value memerlukan perhatian yang serius dari penyusun standar akuntansi. khususnya untuk item-item yang diukur dengan fair value namun current market value-nya tidak tersedia. 2007) Is Fair Value Fair? (Willem Verhoog. seperti aset-aset atau kewajiban yang digunakan untuk meraih keuntungan jangka pendek (short-term trading profit). 2009) The Decision Usefulness of Fair Value Accounting – A Theoretical Perspective (Hitz JoergMarkus. dan dapat diverifikasi (verifiable). 2003) Share • • • Laporkan Tanggapi Beri Nilai o o o o KOMENTAR BERDASARKAN : • Wyndra 12 June 2010 21:20:57 0 . Penerapan fair value tidak dapat dihindari dalam perkembangan akuntansi saat ini. Pengungkapan (disclosure) mengenai penggunaan fair value juga perlu diatur secara lebih ketat untuk menghindari bias dan penyalahgunaan manajemen dalam melakukan estimasi. Reference: Fair Value Accounting. dapat diaudit (auditable).

“Pengukuran dengan menggunakan atribut fair value memerlukan perhatian yang serius dari penyusun standar akuntansi.angat ilmiah. appraisal. alternatif penilaian yang dapat dilakukanuntuk menghindari fraud adalah dengan menggunakan professional judgement dari manajemen. . Dalam hal ini diperlukan profesionalitas dan etika yang baik dari pihak-pihak yang diberikan kepercayaan untuk melakukan penilaian. Salam hangat.” guidance & pengawasan IAI sndr bgmn. Terima kasih telah berbagi dan menyegarkan topik yang akan semakin hangat dan penting ke depan. Terjadi ketika curent market value-nya tidak tersedia atau berada dalam kondisi pasar yang tidak aktif. Suka Balas | • Priyanto B. Sementara itu untuk fair value yang didasarkan pada current market juga tak luput dari masalah. terutama jika pasar sangat aktif. IAI melalui DSAK sendiri DSAK sudah mengeluarkan buletin teknis untuk hal tersebut. Nugroho 13 June 2010 00:24:48 0 Menarik Pak.? Suka Balas | • Arif Perdana 13 June 2010 21:23:23 0 Penggunaan fair value yang menjadi perhatian sebenarnya yang berkaitan dengan mark to model. dan auditor pada saat mengaudit... hal ini menyebabkan earnings yang dihasilkan memiliki volatilitas yang tinggi. terutama dalam menciptakan konvergensi antara dua rerangka konseptual dan standar akuntansi.

Selain harus paham standar akuntansi. Laga semu juga semakin dapat ditekan. Tapi paling tidak.. salam kenal buat Pak Pri. akuntan publik harus jadi manusia super nih Pak. harus paham juga ilmu matematika.. statistik. Suka Balas | • David Marsetio 13 June 2010 20:45:17 0 Ini tantangan besar bagi dunia akuntan Pak. Kemudian akuntan publik juga harus ikut bertanggung jawab dengan hasil estimasi yang masuk di laporan keuangan auditee.. Kalau begini.Suka Balas | • Arif Perdana 13 June 2010 20:47:15 0 Terimakasih Pak. laporan keuangan akan lebih relevan dengan konsep fair value ini. dll… Salam kenal Pak Arif… Suka Balas | . dimana terkadang penilai harus juga bisa menjadi “dukun / paranormal” untuk mendapatkan esitmasi-estimasi tertentu. Walaupun kemudian muncul masalah baru dalam teknik perhitungan fair value yang level 3 (dengan teknik perhitungan).

Tapi bukankah ilmu-ilmu matematika. bukankah berarti sang akuntan tersebut harus dapat memahami teknis perhitungannya Pak? Kalau ilmu matematika dan statistik-statistik dasar itu menurut saya pasti mutlak untuk auditor. peniaian aset dengan menggunakan fair value dapat menggunakan jasa dari lembaga profesi penilai aset..• Arif Perdana 13 June 2010 21:28:11 0 Akuntan tidak harus menjadi paranormal dalam melakukan estimasi-estimasi. Tentang pemahaman akuntan terhadap matematika dan statistik itu mutlak diperlukan. Agar fair value itu dapat menjadi auditable. karena dalam proses audit pun diperlukan metode2 statistik untuk pengambilan sampling audit. statistik untuk mengitung fair value jauh lebih kompleks? Suka Balas | • Arif Perdana . MAPPI sendiri sebagai wadah profesi penilai aset sudah menyesuaikan standar penilaiannya berdasarkan PSAK yang dikeluarkan. Suka Balas | • David Marsetio 13 June 2010 21:40:18 0 Maksud saya penilai itu adalah independen appraiser yang diwadahi oleh MAPPI.

keahlian dalam menilai. Benar Mas.. Suka Balas | • Arif Perdana 13 June 2010 23:11:46 0 Salam kenal juga buat Mas David.. untuk perhitungan fair value yang menggunakan mark to model perhitungannya memerlukan matematika keuangan yang juga kompleks.13 June 2010 22:04:45 0 Idealnya memang demikian Mas. supaya ada mekanisme cek dan ricek disitu. Beberapa akuntan sy ketahui juga sudah memiliki sertifikasi sebagai appraisal dari MAPPI. Selain statistik. matematika. Tapi itulah sebenarnya tantangan bagi akuntan untuk memiliki multi talenta. . Salam kenal Pak Arif. Suka Balas | • David Marsetio 13 June 2010 23:07:34 0 Sangat setuju Pak. akuntan juga harus memiliki pemahaman yang baik terhadap sistem teknologi informasi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful