Tujuan Konstitusi

Hukum pada umumnya bertujuan mengadakan tata tertib untuk keselamatan masyarakat yang penuh dengan konflik antara berbagai kepentingan yang ada di tengah masyarakat. Tujuan hukum tata negara pada dasarnya sama dan karena sumber utama dari hukum tata negara adalah konstitusi atau Undang-Undang Dasar, akan lebih jelas dapat dikemukakan tujuan konstitusi itu sendiri. Tujuan konstitusi adalah juga tata tertib terkait dengan: a). berbagai lembaga-lembaga negara dengan wewenang dan cara bekerjanya, b) hubungan antar lembaga negara, c) hubungan lembaga negara dengan warga negara (rakyat) dan d) adanya jaminan hak-hak asasi manusia serta e) hal-hal lain yang sifatnya mendasar sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Tolok ukur tepat atau tidaknya tujuan konstitusi itu dapat dicapai tidak terletak pada banyak atau sedikitnya jumlah pasal yang ada dalam konstitusi yang bersangkutan. Banyak praktek di banyak negara bahwa di luar konstitusi tertulis timbul berbagai lembaga-lembaga negara yang tidak kurang pentingnya dibanding yang tertera dalam konstitusi dan bahkan hak asasi manusia yang tidak atau kurang diatur dalam konstitusi justru mendapat perlindungan lebih baik dari yang telah termuat dalam konstitusi itu sendiri. Dengan demikian banyak negara yang memiliki konstitusi tertulis terdapat aturan-aturan di luar konstitusi yang sifat dan kekuatannya sama dengan pasalpasal dalam konstitusi. Aturan-aturan di luar konstitusi seperti itu banyak termuat dalam undangundang atau bersumber/berdasar pada adat kebiasaan setempat. Contoh yang tepat adalah Inggris dan Kanada, artinya tidak memiliki sama sekali konstitusi tertulis tetapi tidak dapat dikatakan tidak ada aturan yang sifat dan kekuatannya tidak berbeda dengan pasal-pasal dalam konstitusi. Inggris yang memelopori seluruh dunia dengan suatu dokumen yang terkenal yaitu ³Magna Charta´ yang merupakan dokumen kenegaraan yang memberi jaminan hak-hak asasi manusia. Pada saat itu raja atas desakan para bangsawan (Baron atau Lord yang berkuasa atas daerahdaerah dari kerajaan Inggris) untuk menandatangani Magna Charta tersebut. Sebenarnya dokumen ini dimaksudkan untuk menjamin hak-hak serta wewenang para bangsawan, tetapi kemudian oleh umum dipandang sebagai jaminan terhadap hak-hak asasi manusia dari rakyat yang dalam perkembangan selanjutnya tidak dikenal lagi bangsawan-bangsawan sebagai penguasa melainkan hanya Sang Raja sebagai pemegang puncak kekuasaan pemerintahan. Magna Charta terdiri dari 63 pasal yang menentukan dalam garis besarnya (pasal 1) adanya jaminan kemerdekaan bekerjanya gereja Inggris dan kemerdekaan bergerak semua orang bebas (freeman) dalam kerajaan Inggris. Di samping itu dijamin dan dilindungi, antara lain: 1). Tidak seorangpun penguasa yang akan mengambil hasil pertanian dari siapapun tanpa membayar harganya seketika itu juga kecuali apabila si pemilik memberi izin menangguhkan pembayaran (pasal 28); 2). Tidak seorangpun penguasa yang akan mengambil kuda atau kendaraan dari seorang yang bebas (freeman) untuk keperluan pengangkutan tanpa izin si pemilik (pasal 30); 3). Tidak seorangpun penguasa yang akan mengambil kayu-kayu untuk keperluan raja tanpa persetujuan si pemilik; Terkait dengan kemerdekaan orang-perorangan antara lain ditentukan: 1). Tidak ada seorangpun pegawai kepolisian yang akan mengajukan seorang di muka pengadilan atas tuduhan tanpa kesaksian orang-orang yang dipercaya (pasal 38); 2). Tidak seorang bebaspun (freeman) yang akan dimasukkan ke dalam penjara atau dilarang berdiam di satu daerah tertentu kecuali atas putusan oleh penguasa setempat atau dibenarkan

Ketentuan akhir dari Magna Charta antara lain menyatakan gereja Inggris adalah merdeka dan semua orang dalam kerajaan akan menikmati kemerdekaan. yaitu sifat idealnya sebagai teori dan sifat nyatanya sebagai praktik. Sumber: http://id. tetapi berlaku hanya sekali saat itu. nominal. The House Of Common Act 1944 dan The Parliament Act 1949. The Statute Of Westminster 1931. Sehubungan dengan hal itu.shvoong. The Bill Of Rights 1689. The Representation Of The People Act (1928. dalam setiap konstitusi selalu terdapat dua aspek penting. 1948). 1945.com/social-sciences/political-science/2156068-tujuankonstitusi/#ixzz1k01ViQcH Nilai Konstitusi Nilai konstitusi yang dimaksud di sini adalah nilai (values) sebagai hasil penilaian atas pelaksanaan normanorma dalam suatu konstitusi dalam kenyataan praktik. dan semantik ini. kecuali apabila orang itu benar-benar mengetahui aturan hukum negara. The Act Of Settlement 1700.193 Menurut pandangan Karl Loewenstein. polisi atau jaksa. misalnya ditentukan tidak seorangpun diangkat sebagai hakim. Karl Loewenstein dalam bukunya ³Reflection on the Value of Constitutions´ membedakan 3 (tiga) macam nilai atau the values of the constitution. 3). antara lain: The Habeas Corpus Act 1670. Berbagai bagian dari Magna Charta ini diulangi lagi oleh raja Edward dalam ³The great Charter Of Liberties Of England and Of The Liberties Of Forest´. The parliament Act 1911. Kepada siapapun tidak dapat diingkari atau ditangguhkan pelaksanaan haknya atau peradilan (pasal 40). Yang sangat menarik adalah aturan mengenai pengangkatan/pengisian berbagai jabatan terkait dengan penegakan hukum. Artinya. (ii) nominal value.oleh aturan negara (pasal 39). sebagai hukum tertinggi di dalam kon- . para sarjana hukum kita selalu mengutip pendapat Karl Loewenstein mengenai tiga nilai normatif. Dalam banyak hal ditentukan juga bahwa siapapun boleh meninggalkan kerajaan atau kembali dengan sehat dan aman melalui daratan atau perairan (laut) kecuali ada perang dan karena ditahan sesuai dengan aturan negara. dan (iii) semantical value. Memang di Inggris pernah ada semacam konstitusi tertulis yaitu pada saat Cromwell memegang tampuk kekuasaan pemerintahan (1653-1660) dengan satu dokumen yang disebut ³The Instrument Of Government´. beritikad baik untuk melakukan fungsi jabatan yang diisinya. Ada beberapa aturan (undang-undang) lain di Inggris tertentu. yaitu (i) normative value. hak-hak serta fasilitas sebaikbaiknya dalam suasana damai tenteram sampai turun temurun atas itikad baik raja dan para bangsawan. Jika berbicara mengenai nilai konstitusi.

akan tetapi konstitusi yang dipraktikkan justru sebaliknya yaitu B. sehingga apa yang tertulis secara expressis verbis dalam konstitusi sama sekali hanya bernilai nominal saja. Misalnya. diakui. Manakala dalam kenyataannya keseluruhan bagian atau isi undang-undang dasar itu memang tidak dipakai dalam praktik. dalam kenyataannya tidak dipakai sama sekali sebagai referensi atau rujukan dalam pengambilan keputusan dalam penyelenggaraan kegiatan bernegara. sedangkan sebagian lainnya hanya bernilai nominal sebagai norma-norma hukum di atas kertas ³mati´.stitusi itu selalu terkandung nilai-nilai ideal sebagai das sollen yang tidak selalu identik dengan das sein atau keadaan nyatanya di lapangan. norma dasar yang terdapat dalam konstitusi yang tertulis (schreven constitutie) menentukan A. maka norma-norma konstitusi dimaksud dapat dikatakan berlaku sebagai konstitusi dalam arti normatif. ataupun ³gincu-gincu ketatanegaraan´ yang berfungsi sebagai pemanis dan sekaligus sebagai alat pembenaran belaka. maka keseluruhan undangundang dasar itu dapat disebut bernilai nominal. akan tetapi setidak-tidaknya norma-norma tertentu yang terdapat di dalam konstitusi itu apabila memang sungguh-sungguh ditaati dan berjalan sebagaimana mestinya dalam kenyataan. norma-norma konstitusi itu selalu dikutip dan dijadikan dasar pembenaran suatu kebijakan. sebagian atau seluruh materi muatannya. Sedangkan konstitusi yang bernilai semantik adalah konstitusi yang norma-norma yang terkandung di dalamnya hanya dihargai di atas kertas yang indah dan dijadikan jargon. Dalam setiap pidato. semboyan. maka konstitusi itu dinamakan sebagai konstitusi yang mempunyai nilai normatif. sehingga dapat dikatakan bahwa yang berlaku normatif hanya sebagian. Akan tetapi. tetapi isi ke- . diterima. dan dipatuhi oleh subjek hukum yang terikat padanya. sedangkan sebagian lainnya tidak dilaksanakan dalam praktik. Kalaupun tidak seluruh isi konstitusi itu demikian. apabila suatu undang-undang dasar. maka konstitusi tersebut dapat dikatakan sebagai konstitusi yang bernilai nominal. Dapat pula terjadi bahwa yang dipraktikkan itu hanya sebagian saja dari ketentuan undang-undang dasar. Jika antara norma yang terdapat dalam konsititusi yang bersifat mengikat itu dipahami.

dapat diuraikan sebagai berikut. pengertian-pengertian mengenai sifat konstitusi biasanya dikaitkan dengan pembahasan tentang sifat-sifatnya yang lentur (fleksibel) atau kaku (rigid). Sumber: http://id.com/law-and-politics/constitutional-law/2128991-nilaikonstitusi/#ixzz1k023ypHp . baik bagianbagian tertentu ataupun keseluruhan isi undang-undang dasar itu. Sementara itu.shvoong.bijakan itu sama sekali tidak sungguh-sungguh melaksanakan isi amanat norma yang dikutip itu. Kebiasaan seperti ini lazim terjadi di banyak negara. terutama jika di negara yang bersangkutan tersebut tidak tersedia mekanisme untuk menilai konstitusionalitas kebijakan-kebijakan kenegaraan (state¶s policies) yang mungkin menyimpang dari amanat undang-undang dasar. Mengenai sifat-sifat konstitusi tersebut. Dengan demikian. dalam praktik ketatanegaraan. dapat bernilai semantik saja. dan sifatnya yang formil atau materiil. tertulis atau tidak tertulis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful