Buku Panduan

tentang

Proses Legislasi

Buku Panduan tentang Proses Legislasi
Hak Cipta: Sekretariat Jenderal DPR RI Jl. Jend Gatot Subroto No. 6 Jakarta 10270 www.dpr.go.id dan United Nations Development Programme (UNDP) Menara Thamrin Lantai 8 Jl. MH Thamrin Kav. 3 Jakarta 10250 Tel: +62-21-3141308 Fax: +62-21-39838941 www.undp.or.id Penulis: Dr. Febrian, S.H., MS Sekretariat Jenderal DPR RI Dra. Hj. Nining Indra Shaleh, M.Si. (Sekretaris Jenderal DPR RI) Untung Djumadi, S.H. (National Project Director) Program Dukungan Parlemen UNDP Pheni Chalid, Ph.D. Frank Feulner, Ph.D. Bachtiar Kurniawan Angelin Sumendap

Buku Panduan
tentang

Proses Legislasi
Dr. Febrian, S.H., MS

KATA SAMBUTAN

Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat RI

ewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia masa bakti 2009-2014 merupakan wakil rakyat hasil pemilu ketiga setelah masa reformasi, ujung tombak berkembangnya demokrasi di Indonesia. Dibandingkan dengan pemilu diawal masa setelah reformasi, hasil pemilu tahun 2009 ini dapat dikatakan melewati proses demokratisasi yang lebih matang. Perkembangan demokrasi Indonesia yang makin matang ini pula lah yang mendorong adanya tuntutan rakyat kepada para wakil mereka di DPR RI untuk meningkatkan kinerja dan kualitas dibanding periode lalu. Kenyataannya, tuntutan tersebut juga harus dihadapkan pada kondisi faktual bahwa sebagian besar wakil rakyat periode ini adalah wajah baru, yang memerlukan waktu relatif lebih banyak untuk mendalami dan memahami tugas serta wewenangnya dalam menjalani peran sebagai wakil rakyat. Selain dari kondisi diatas, pemahaman mengenai peran, fungsi, tugas serta wewenang wakil rakyat di DPR saat ini pun penting untuk segera disebarluaskan kepada anggota DPR RI periode ini, mengingat sejak dibentuknya UU No. 27 Tahun 2009 Tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD, pengaturan mengenai sistim dan tata kerja lembaga perwakilan di Indonesia telah mengalami berbagai perubahan.

D

iv

Kata Sambutan

Sekretaris Jenderal DPR - RI

Kami menyadari bahwa sesungguhnya harapan yang besar atas peningkatan kinerja tersebut memang perlu diiringi dengan peningkatan pemahaman dan pengetahuan mengenai tugas pokok dan fungsi wakil rakyat sesuai dengan perkembangan termasuk penyesuaian terhadap peraturan perundang-undangan yang ada. Untuk membantu peningkatan pemahaman dan pengetahuan tersebut, Sekretariat Jenderal DPR RI bekerjasama dengan Parliamentary Support Programe UNDP telah menyusun 8 (delapan) buah buku panduan bagi anggota DPR RI. Agar harapan dan tujuan buku ini terwujud dengan baik, maka buku panduan yang kami susun ini telah dirumuskan berdasarkan (1) pengaturan menurut UU No. 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD, yang menjadi dasar utama dari sistim dan tata laksana lembaga perwakilan di Indonesia saat ini (2) ditujukan memenuhi kebutuhan praktis, (3) dilengkapi dengan berbagai pengalaman terbaik (best practices) baik di Indonesia sendiri ataupun dari pengalaman negara lain. Harapan kami agar buku panduan ini dapat memberikan manfaat luas bagi kemajuan kinerja DPR RI. Sekretaris Jenderal DPR RI, Dra. Hj. Nining Indra Shaleh, M.Si.

Buku Panduan Tentang Proses Legislasi

DPR - RI

v

Anggota dewan diharapkan mampu tidak hanya mendengarkan. serta peran alat kelengkapan DPR dalam proses legislasi. Buku panduan tentang Proses Legislasi ini ditulis untuk menunjang tugas-tugas dan pekerjaan anggota DPR RI. Buku ini mengilustrasikan proses perencanaan. namun juga mewakili dan menindaklanjuti keinginan-keinginan rakyat. terutama mengenai proses pembentukan undang-undang. Keberhasilan parlemen demokratis Indonesia sangat tergantung dari kinerja para anggota vi Kata Pengantar Program Dukungan Parlemen UNDP P . pembahasan sampai pengesahan dan pengundangan. Australian Agency for International Development dan The Asia Foundation yang telah memberikan dukungan penuh dalam penyusunan buku panduan ini. Kami Begitu pula kami kepada para penulis yang telah membagi pengalaman dan keahlian mereka dalam buku panduan ini. maka anggota dewan pun memiliki tanggung jawab yang besar pula. penyusunan dan pengajuan Rancangan UndangUndang (RUU).KATA PeNGANTAR Program Dukungan Parlemen UNDP ada kesempatan ini. semoga sukses selalu menyertai Anda. Tanpa peran serta dari mereka. Kami yang tergabung ke dalam Program Dukungan Parlemen UNDP memberikan dukungan penuh terhadap Sekretariat Jenderal DPR RI. buku ini juga menjabarkan peran dari institusi seperti Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Mahkamah Konstitusi. tidaklah mungkin buku panduan ini dapat terwujud. Kami juga mengucapkan terima kasih khusus kepada Sekretariat Jenderal DPR RI. Selain itu. Menjadi anggota DPR adalah sebuah kehormatan yang besar. dan juga para anggota dewan yang terhormat dalam mewakili konstituennya. Buku ini menjelaskan RUU bersumber pemerintah dan DPR. United Nations Development Programme (UNDP) ingin mengucapkan selamat kepada para anggota Dewan Perwakilan ak Republik Indonesia (DPR RI) terpilih periode 2009-2014.

Salam hangat. Selamat menunaikan tugas-tugas keparlemenan. Oleh karena itu juga maka Program Dukungan Parlemen UNDP berusaha untuk menyediakan dukungan-dukungan dan informasi yang diperlukan. Program Dukungan Parlemen UNDP Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . Kami mohon maaf apabila terdapat hal-hal yang kurang berkenan dalam proses pembuatan buku panduan ini dan kami berharap agar buku pegangan yang ditujukan bagi anggotaanggota DPR yang baru ini akan senantiasa digunakan sebagai sumber informasi dalam menjalani tugas-tugasnya. Untuk mendukung agar kinerja para anggota menjadi semakin efektif.dewan. Buku panduan ini kami kemas sesederhana mungkin sehingga dapat digunakan sebagai buku panduan yang jauh dari tataran teoritikal. maka buku panduan ini menjabarkan praktik-praktik terbaik proses legislasi yang ada di dalam parlemen-parlemen negara demokratis lainnya.RI vii . sehingga kinerja tersebut selalu menjadi sorotan utama dari masyarakat. namun tepat sasaran dalam tataran implementasi ataupun praktiknya.

Daftar Isi Kata Sambutan Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat RI Kata Pengantar Program Dukungan Parlemen UNDP Daftar Isi Daftar Tabel. Pembahasan dan Pengundangan Proses dan Tahapan Persiapan RUU RUU yang Berasal dari DPR RUU yang Berasal dari Presiden RUU yang Berasal dari DPD Proses Pembahasan RUU di DPR Pengesahan RUU dan Pengundangan Bab III Proses Perubahan Undang-Undang. Bagan dan Singkatan Bab I Pengantar Kewenangan DPR Membentuk Undang-Undang Tugas dan Wewenang DPR Membentuk UU Proses Pembentukan Undang-Undang Tahapan Pembentukan Undang-Undang Asal Usul RUU Bab II Persiapan RUU. Tabel dan Bagan . Partisipasi Publik dan Peranan MK dalam Proses Pembentukan Undang-Undang Proses Perubahan Undang-Undang Pengertian Perubahan Beberapa Prinsip yang Harus diperhatikan dalam Perubahan UU Partisipasi Publik Dalam Proses Pembentukan Undang-Undang Pengaturan Penyebarluasan RUU Penyerapan Aspirasi Publik Bentuk Kegiatan Praktik Penyerapan Aspirasi Publik Peranan Mahkamah Konstitusi Pendahuluan Peranan dan Pengaruh Putusan MK Terhadap DPR Bab IV Penutup Catatan Akhir Daftar Pustaka iv vi viii ix 1 2 3 3 3 7 13 19 19 24 27 27 27 29 29 29 29 30 32 35 35 37 39 42 44 viii Daftar Isi.

RI ix .d 29 Oktober 2008 Daftar Bagan Bagan 1 Bagan 2 Bagan 3 Bagan 4 Bagan 5 Bagan 6 Bagan 7 Bagan 8 Bagan 9 Bagan 10 39 : Dasar Hukum Bidang Legislasi : Proses Penyiapan RUU dari DPR : RUU yang Berasal Dari DPR : RUU yang Berasal Dari Presiden : Pembahasan RUU Dari DPR : Pembahasan RUU Dari Presiden : Pembahasan RUU Dari DPR yang Mengikusertakan DPD : Pengesahan : Penyebarluasan RUU : Penyerapan Aspirasi Publik 4 10 12 18 21 22 23 25 31 32 Daftar Singkatan BALeG : Badan Legislasi DPD : Dewan Perwakilan Daerah DPR : Dewan Perwakilan Rakyat DPRD : Dewan Perwakilan Rakyat Daerah LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat MK : Mahkamah Konstitusi MPR : Majelis Permusyawaratan Rakyat PROLeGNAS : Program Legislasi Nasional PPPDI : Pusat Pengkajian Pelayanan Data dan Informasi RUU : Rancangan Undang-Undang UU : Undang-Undang UUD : Undang-Undang Dasar Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . Bagan dan Singkatan Daftar Tabel Tabel Rekapitulasi Perkara Pengujian Undang-Undang Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Tahun 2003 s.Daftar Tabel.

BAB I Pengantar .

yang dibedakan secara tegas dengan kekuasaan eksekutif (regulasi). (2) Setiap RUU dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama (3) Jika RUU itu tidak mendapat persetujuan bersama. Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . selain kekuasaan pengawasan dan anggaran. Ketentuan Pasal 20 ayat (1) UUD 1945 menggariskan: (1) DPR memegang kekuasaan membentuk Undang-undang. RUU itu tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPR masa itu (4) Presiden mengesahkan RUU yang telah disetujui bersama untuk menjadi Undangundang. (5) Dalam hal RUU yang telah disetujui tidak disahkan oleh Presiden dalam waktu 30 (tiga puluh) hari semenjak RUU tersebut disetujui. Wewenang pembentukan undang-undang (la lois) di pegang oleh Parlemen sebagai konsekuensi kekuasaan legislatif. regulation). Apabila terjadi perbedaan antara statuta (la loi.RI 1 . M Di Perancis fungsi legislasi adalah juga merupakan bidang kekuasaan legislatif (legislative role for Parliament's lawmaking powers). Mahkamah Konstitusi dan Dewan Pertimbangan Agung memiliki wewenang untuk menyelesaikan konflik norma tersebut. Wewenang pembentukan UndangUndang ini diwujudkan ke dalam fungsi legislasi DPR yang bersumber kepada UUD 1945. RUU tersebut sah menjadi Undang-undang dan wajib diundangkan. legislation) dan regulasi (réglementaire.Kewenangan DPR-RI Membentuk Undang-Undang embentuk Undang-Undang1 merupakan kekuasaan yang melekat pada DPR.

sekaligus tugas untuk mengesahkan RUU yang telah disetujui bersama untuk menjadi Undang-Undang. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. yang antara lain menyatakan: a. Dengan kata lain Perubahan UUD 1945 telah mendudukkan posisi DPR sebagai lembaga utama pembentuk Undang-Undang. b. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. tugas dan wewenang DPR membentuk Undang-Undang ini diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang No. DPD dan DPRD (MD3). menerima RUU yang diajukan oleh DPD berkaitan dengan otonomi daerah. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. Pada prinsipnya ditetapkannya kekuasaan membentuk Undang-Undang dari DPR merupakan wewenang atribusi yang diberikan oleh UUD 1945 dan Undang-Undang. hubungan pusat dan daerah. membahas RUU yang diajukan oleh DPD bersama Presiden dan DPD sebelum diambil persetujuan bersama antara DPR dan Presiden. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. Akibatnya beban untuk membentuk Undang-Undang yang diwujudkan dalam fungsi legislasi DPR menjadi tanggung jawab sepenuhnya DPR. DPR. d. c. dengan mengikutsertakan DPD sebelum diambil persetujuan bersama antara DPR dan Presiden. membahas RUU yang diajukan oleh Presiden atau DPR yang berkaitan dengan otonomi daerah. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. e. yang sebelumnya dipegang oleh Presiden (vide Pasal 5 ayat (1) UUD 1945 lama). 2 Bab I Pengantar . hubungan pusat dan daerah.Tugas dan Wewenang DPR Membentuk UU Secara rinci. 27 Tahun 2009 tentang MPR. memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap peraturan pemerintah pengganti undang-undang yang diajukan oleh Presiden untuk menjadi undang-undang. membentuk undang-undang yang dibahas dengan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama. sedangkan Presiden tetap memiliki kekuasaan membentuk Undang-Undang dalam bentuk "hak" mengajukan RUU kepada DPR.

(b) membahas RUU dari pemerintah. Proses Pembentukan Undang-Undang Tahapan Pembentukan Undang-Undang Pengaturan proses pembentukan Undang-Undang dapat dilihat dalam UU No.RI 3 . RUU dari Pemerintah maupun RUU yang diajukan oleh DPD. pembahasan. Selanjutnya dilakukan kegiatan mempersiapkan suatu RUU baik oleh DPR. 27 Tahun 2009 tentang MPR. dari 172 RUU. sedangkan sisanya 130 RUU berasal dari pemerintah. hanya 42 RUU yang berasal dari DPR. yang diawali dari terbentuknya suatu ide atau gagasan tentang perlunya pengaturan terhadap suatu permasalahan. 10 Tahun 2004 yang membagi pembentukan Undang-Undang menjadi beberapa tahapan. DPD maupun oleh Pemerintah.3 Dalam kaitan dengan peranan DPR. DPD dan DPRD dan Undang-Undang No. masih banyak Undang-Undang yang mendapat kritikan dari masyarakat terkait dengan substansi maupun dari proses pembuatannya. Dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008. (c) melaksanakan evaluasi terhadap UU yang ada. yaitu: perencanaan. proses pembentukan Undang-Undang merupakan suatu tahapan kegiatan yang dilaksanakan secara berkesinambungan. pengesahan. Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR .4 DPR dapat meningkatkan kualitas UU yang dihasilkan dengan menerapkan proses yang kebih baik dalam menjalankan keempat peranan ini. dan (3) tahapan persetujuan dan pengundangan. baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. paling tidak ada empat peranan yang diemban. yaitu: (a) mengajukan RUU inisiatif. Dengan kata lain. dan (c) melakukan penilaian terhadap kebijakan pemerintah. Kemudian dilakukan pembahasan RUU di DPR untuk mendapatkan persetujuan bersama.2 Dari sisi kualitas. hingga dianggap bertentangan dengan konstitusi dan dimintakan judicial review kepada Mahkamah Konstitusi.Namun demikian. 10 Tahun 2004 tersebut secara teoritis dimulai dari: (1) tata cara mempersiapkan RUU. teknik penyusunan. persiapan. Asal Usul RUU Usulan pembentukan UU berawal baik dari RUU yang diajukan DPR. pengundangan dan penyebarluasan. dilanjutkan dengan persetujuan pengesahan dan diakhiri dengan pengundangan. perumusan. Beberapa tahapan pembentukan Undang-Undang menurut UU No. optimalisasi peranan legislasi DPR belum sebanding dengan peranan pemerintah. (2) pembahasan RUU di DPR. DPR.

dan stakeholder lainnya. SeBAGAI LeMBAGA NeGARA (Pasal 68 Undang-undang Nomor 27 Tahun 2009) 4 Bab I Pengantar . Sistem ini diperlukan terutama mengingat semakin terbukanya akses publik dalam penyusunan RUU. SeBAGAI PeMeGANG KeKUASAAN PeMBeNTUK UU (Pasal 20 Ayat (1) UUD Tahun 1945) DPR BAB VII UUD Tahun 1945 Pasal 1 angka 2 Undangundang Nomor 27 Tahun 2009 1. LSM. RUU Inisiatif harus diarahkan untuk memenuhi kepentingan rakyat. DPR memerlukan sistem dan mekanisme yang dapat menjamin bahwa kehendak rakyat menjadi acuan dalam perumusan RUU.5 Bagan 1 Dasar Hukum Bidang Legislasi 2. organisasi kemasyarakatan. melalui keterlibatan berbagai kelompok masyarakat seperti media massa.Sebagai contoh dalam proses penyusunan RUU Usul Inisiatif DPR. Dengan kata lain.

RI 5 .b. Peraturan perundang-undangan yang dibentuk dengan persetujuan Presiden (Pasal angka 3 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004) 2. Undang-undang dibentuk DPR atau UU yang diajukan oleh Anggota DPR (Pasal 21 UUD Tahun 1945) 3. 27 Tahun 2009] Membentuk UU yang dibahas dengan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . Peraturan yang dibentuk oleh Lembaga Negara atau Pejabat yang berwenang dan mengikat umum (Pasal 1 angka 2 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004) 2.a.Bagaimana kewenangan dan dasar hukum bidang legislasi di dalam peraturan perundang-undangan? Bagan di bawah secara sederhana akan menjelaskan dan menggambarkan relasi antar lembaga dan dasar hukumnya. Mempunyai Fungsi Legislasi (Pasal 20 Ayat (1) UUD 1945) RUU DPR disusun berdasarkan prolegnas [Pasal 17 Ayat (1) Undang-Undang No. 10 Tahun 2004] Setiap RUU yang dibahas oleh DPR dan Presiden untuk emndapat persetujuan bersama [Pasal 20 ayat (2) UUD Tahun 1945] 2 (dua) tingkat pembahasan [Pasal 148 UU No.

Pembahasan RUU.BAB II Persiapan RUU. dan Pengundangan .

juga bekerjasama dengan berbagai universitas di beberapa daerah di Indonesia. S Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . misalnya RUU tentang Kebebasan Memperoleh Informasi dari ICeL (Indonesian Center for enviromental Law). Dalam menjalankan fungsi sebagai penggodok RUU. di samping melakukan sendiri penelitian atas beberapa RUU.Proses dan Tahapan Persiapan RUU RUU yang Berasal dari DPR Proses penyiapan RUU yang berasal dari DPR dilaksanakan berdasarkan UU No. 27 Tahun 2009 dan Peraturan Tata Tertib DPR. Baleg juga banyak mendapatkan draft RUU dari masyarakat sipil. karena terkesan tidak terafiliasi dengan partai apapun. baik Baleg maupun tim ahli dari fraksi memiliki mekanisme sendiri-sendiri. sedangkan pada RUU Tata Cara Pembentukan Peraturan Perundangundangan disiapkan oleh Tim Asistensi Badan Legislasi (Baleg). Badan ini adalah Pusat Pengkajian Pelayanan Data dan Informasi (PPPDI) yang bertugas melakukan penelitian atas substansi RUU dan Tim Perancang Sekretariat Jenderal DPR yang menuangkan hasil penelitian tersebut menjadi sebuah RUU.RI 7 . pintu masuk suatu usulan mungkin lebih terlihat "netral" bila melalui Baleg ketimbang melalui fraksi. ada beberapa badan yang membantu penyiapan suatu RUU. Baleg misalnya. RUU Komisi Anti Korupsi disiapkan oleh Fraksi PPP. Sebagai ilustrasi. Bagi masyarakat sipil.6 Selain itu ada beberapa badan lain yang secara fungsional memiliki kewenangan untuk menyiapkan sebuah RUU yang akan menjadi usul inisiatif DPR. Badan Pembantuan Penyiapan Usul Inisiatif DPR ebelum sampai pada usul inisiatif DPR. Untuk satu RUU biasanya Baleg akan meminta tiga universitas untuk melakukan penelitian dan sosialisasi atas hasil penelitian tersebut. Kemudian fraksi tersebut membentuk tim pakar yang merancang RUU tersebut berdasarkan masukan masyarakat melalui pengurus pusat maupun pengurus daerah partai. dan RUU tentang Kewarganegaraan dari GANDI (Gerakan Anti Diskriminasi). Pada tingkat fraksi penyusunan sebuah RUU dimulai dari adanya amanat muktamar partai.

dan pemantapan konsep Badan yang bertugas melakukan pengharmonisasian. Pembahasan RUU.Usul Inisiatif DPR Tahapan Pertama Penyusunan RUU dapat dilakukan dengan dua cara. dalam Rapat Paripurna setelah Usul Inisiatif RUU tersebut diterima oleh Pimpinan DPR. Tahapan Kedua Tahapan berikutnya. Keputusan dalam Rapat Paripurna dapat berupa: (1) (2) (3) Persetujuan. Penyusunan Prolegnas oleh DPR dikoordinasikan oleh DPR melalui Baleg. DPR menugaskan kepada Komisi. pembulatan. atau Pimpinan Badan Legislatif kepada Pimpinan DPR disertai daftar nama dan tanda tangan pengusul serta nama Fraksinya setelah dilakukan pengharmonisasian. Tahapan awal untuk mengajukan RUU usul inisiatif dapat diajukan oleh Anggota. pembulatan. kemudian dibagikan kepada seluruh Anggota. pembulatan. Usul inisiatif RUU tersebut beserta penjelasan keterangan dan/atau naskah akademis yang disampaikan secara tertulis oleh Anggota atau Pimpinan Komisi. Gabungan Komisi. Rapat Paripurna untuk memutuskan apakah usul RUU tersebut secara prinsip dapat diterima menjadi RUU usul dari DPR atau tidak. dan pemantapan konsepsi RUU yang diajukan Anggota. Pimpinan DPR memberitahukan kepada Aggota tentang masuknya usul inisiatif RUU tersebut. Gabungan Komisi atau Baleg. gabungan komisi. dan pemantapan konsepsi. Dalam hal persetujuan. setelah diberikan kesempatan kepada Fraksi untuk memberikan pendapatnya. Komisi. Persetujuan dengan perubahan. Komisi. atau Penolakan. atau DPD sebelum disampaikan kepada pimpinan DPR adalah Baleg. atau Badan Legislasi. komisi. dan Pengundangan . atau Panitia Khusus 8 Bab II Persiapan RUU. Pimpinan Gabungan Komisi. Pengharmonisasian. Baleg. Dalam Prolegnas ditetapkan skala prioritas sesuai perkembangan kebutuhan masyarakat. yaitu berdasarkan Prolegnas dan kedua inisiatif dari Anggota.

selama usul RUU tersebut belum diputuskan menjadi RUU oleh Rapat Paripurna.untuk menyempurnakan RUU tersebut.RI 9 . harus ditandatangani oleh semua pengusul dan disampaikan secara tertulis kepada Pimpinan DPR. harus diadakan penambahan penandatanganan sehingga jumlahnya menjadi sekurang-kurangnya 13 (tiga belas) orang. Terhadap RUU yang disusun dan disampaikan oleh DPR. Terhadap RUU yang berasal dari DPR terdapat beberapa pengaturan yang harus diperhatikan sebagai syarat keabsahan. Pengusul berhak mengajukan perubahan selama usul RUU belum dibicarakan dalam Badan Musyawarah yang membahas penentuan waktu pembicaraan dalam Rapat Paripurna usul RUU tersebut. Apabila sebelum pengambilan keputusan dalam Rapat Paripurna. disampaikan kepada Presiden oleh Pimpinan DPR dengan permintaan agar Presiden menunjuk Menteri yang akan mewakili Presiden dalam melakukan pembahasan RUU tersebut bersama-sama dengan DPR. namun belum mendapatkan Surat Pengantar Presiden. Pemberitahuan tentang perubahan atau penarikan kembali usul. Perhatikan bagan proses alur penyusunan RUU Usul Inisiatif DPR berikut ini. b. usul tersebut menjadi gugur dan diberitahukan dalam Rapat Paripurna. Terhadap RUU yang berasal dari DPR yang telah dikirim kepada Presiden. yaitu: a. Presiden menunjuk Menteri yang ditugasi mewakili Presiden dalam pembahasan RUU bersama DPR. dan jika tidak terpenuhi. Dalam waktu 60 (enam puluh) hari kerja sejak diterimanya surat tentang penyampaian RUU dari DPR. Pengusul berhak menarik usulnya kembali. c. jumlah penandatangan usul RUU tersebut menjadi kurang dari 13 (tiga belas) orang. dapat ditarik kembali berdasarkan keputusan Rapat Paripurna. Dalam hal RUU yang telah disetujui tanpa perubahan atau yang telah disempurnakan. dan kepada Pimpinan DPD jika RUU yang diajukan mengenai hal-hal tertentu. Pengambilan keputusan ini dilakukan sampai dengan 2 (dua) kali Masa Persidangan jumlah penandatanganan. kemudian dibagikan kepada seluruh Anggota. Presiden menugaskan Menteri Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . Sebaliknya RUU yang sedang dibicarakan pada Pembicaraan Tingkat I hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama DPR dan Presiden.

Gabungan Komisi atau Baleg Disampaikan kepada pimpinan DPR disertai daftar nama dan tanda tangan pengusulan serta nama Fraksi Usul inisiatif RUU dapat diajukan oleh Anggota.Bagan 2 Proses Penyiapan RUU dari DPR Penyiapan oleh Setjen Prakarsa Anggota. Komisi. dan Pengundangan . Komisi. Baleg atau Pansus untuk menyempurnakan RUU tersebut Disetujui Pembicaraan di DPR RI • Pembicaraan Tingkat I • Pembicaraan Tingkat II Rapat Paripurna memutuskan apakah usul RUU tersebut secara prinsip dapat diterima menjadi RUU usul dari DPR atau tidak setelah diberikan kesempatan kepada Fraksi untuk memberikan pendapatnya 10 Bab II Persiapan RUU. Gabungan Komisi atau Baleg Pimpinan DPR menyampaikan RUU kepada Presiden dengan permintaan agar Presiden menunjuk Menteri yang akan mewakili Presiden dalam pembahasan RUU. dan kepada pimpinan DPD jika RUU yang diajukan terkait dengan DPD Disetujui dengan perubahan. Gabungan Komisi atau Baleg Usul inisiatif RUU dapat diajukan oleh Anggota. Komisi. DPR menugaskan kepada Komisi. Pembahasan RUU.

7 Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . plus koordinasi dan harmonisasi yang minim.yang tugas pokoknya membidangi substansi RUU tersebut untuk mengkoordinasikan pembahasannya dengan Menteri dan menteri/lembaga pemerintah non departemen terkait. Penunjukan menteri dan penyampaian pendapat Pemerintah terhadap Pimpinan DPR tersebut disampaikan dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari kerja sejak surat Pimpinan DPR diterima. Menteri dan menteri yang ditugasi melaporkan kepada Presiden untuk memperoleh keputusan atau arahan. yang akan menunjuk menteri yang mewakilinya untuk pembahasan di DPR dan menyampaikan penunjukan tersebut kepada Pimpinan DPR. Lantaran melibatkan sejumlah instansi. dilakukan melibat sejumlah instansi Pemerintah. dan Menko Perekonomian. Badan Intelijen Negara. Dalam hal terdapat perbedaan pendapat dalam penyampaian. Proses pembuatan DIM. Menteri yang ditugasi menyiapkan pandangan dan pendapat Pemerintah serta menyiapkan saran penyempurnaan yang diperlukan dalam bentuk Daftar Inventarisasi Masalah. Sesuai ketentuan dalam Pasal 32 ayat (1) Peraturan Presiden No. Dalam penunjukan tersebut disampaikan juga pendapat Pemerintah terhadap RUU yang diajukan oleh DPR tersebut. Selain Departemen Pertahanan. dengan berkoordinasi dengan Menteri dan menteri/pimpinan lembaga pemerintah non departemen terkait. Sebagai contoh. RUU yang Berasal dari Presiden Dalam praktik DIM versi Pemerintah sering belum terumuskan dengan baik. ada Depkominfo. Pandangan dan pendapat Pemerintah serta Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) akan disampaikan kepada Presiden. 68 Tahun 2005. banyak istilah yang dipakai rancu dan multitafsir.RI 11 . Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengakui kelemahan DIM RUU Rahasia Negara versi Pemerintah.

Simak Bagan RUU yang berasal dari DPR berikut ini. Pembahasan RUU. dan Pengundangan .10 Tahun 2004] RAPAT PARIPURNA DPR (Pemberitahuan) PIMPINAN DPR (Untuk RUU Tertentu) Disampaikan kepada Pimpinan DPD (untuk RUU tertentu) RAPAT BAMUS DPR Menetapkan jangka waktu penyelesaian RUU Menentukan penanganan suatu RUU oleh Alat Kelengkapan DPR PeMBAHASAN Presiden menugaskan Menteri untuk membahas paling lambat 60 hari sejak surat diterima [Pasal 20 ayat (3) UU No. Bagan 3 RUU yang berasal dari DPR ANGGOTA PIMPINAN DPR KOMISI/GABUNGAN KOMISI BALeG RAPAT PARIPURNA (Pemberitahuan dan RUU Dibagikan) RAPAT PARIPURNA (Pengambilan Keputusan Didahului Pendapat Fraksi) PeRSeTUJUAN Persetujuan dengan perubahan DPR Menugaskan Komisi/Baleg/Pansus PIMPINAN DPR PeNOLAKAN PReSIDeN PIMPINAN DPR Penyebarluasan oleh Setjen DPR [Pasal 22 ayat (1) UU No. 10 Tahun 2004] 12 Bab II Persiapan RUU.

Penyusunan RUU yang didasarkan Prolegnas tidak memerlukan persetujuan izin prakarsa dari Presiden. lingkup.8 Kata berhak di dalam norma Pasal 5 ayat (1) tersebut secara tegas memberikan suatu peranan yang boleh dilakukan atau tidak dilakukan oleh Presiden. dan Rancangan Peraturan Presiden. RUU yang berasal dari Presiden. Tata cara mempersiapkan RUU yang berasal dari Pemerintah dilakukan melalui tahapan sebagai berikut: 1) Penyusunan RUU Penyusunan RUU dapat dilakukan dengan dua cara. Dan dalam praktik ketatanegaraan. karena dalam peranan yang diemban lembaga negara yang bersangkutan melekat (atribusi) kewenangan lembaga dalam proses legislasi dan diharapkan akan menciptakan suatu kerjasama yang baik di dalam pembentukan Undang-Undang. baik dalam tahapan persiapan. Urgensi dan tujuan pengaturan. Presiden berperan aktif dalam pembentukan Undang-Undang. Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . pembahasan RUU maupun pada tahapan pengundangan suatu Undang-Undang. dengan disertai penjelasan mengenai konsepsi pengaturan RUU yang akan diajukan. Jangkauan serta arah pengaturan. prakarsa dalam menyusun RUU di luar Prolegnas dapat dilakukan setelah terlebih dahulu mengajukan permohonan izin prakarsa kepada Presiden. Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. dan d.RI 13 . b. yang ditetapkan pada tanggal 14 November 2005.Berdasarkan Perubahan Pertama UUD 1945 Presiden berhak mengajukan RUU kepada DPR. pembahasan ataupun pengundangan. Bagaimana tata cara mempersiapkan RUU yang dilakukan oleh Presiden?. Dalam proses pembentukan Undang-Undang. pengaturannya ditemukan dalam Perpres No. Hal ini memperjelas bagaimana kedudukan dan fungsi hukum yang dijalankan oleh jabatan kenegaraan. Rancangan Peraturan Pemerintah. Tidak berlebihan kiranya jika peranan kelembagaan tersebut seyogianya mendapatkan pemahaman yang utuh di dalam memahami proses legislasi. Di samping UU Nomor 10 Tahun 2004. Pemerintah dan Menteri (terkait). Pertama dilakukan prakarsa berdasarkan Prolegnas. baik pada proses dan tahapan persiapan RUU. Ketentuan ini menempatkan hubungan yang dinamis antar kedua lembaga negara dalam pembentukan Undang-Undang. Penjelasan mengenai konsepsi pengaturan RUU tersebut meliputi: a. Pokok pikiran. Sasaran yang ingin diwujudkan. 68 Tahun 2005 tentang Tata Cara Mempersiapkan RUU. Dan kedua dalam keadaan tertentu. c. atau obyek yang akan diatur. pada tahapan tertentu akan sering dijumpai penggunaan kelembagaan Presiden.

yuridis. yang merumuskan antara lain tentang dasar filosofis. Departemen yang mempunyai tugas dan tanggung jawab dibidang peraturan perundang-undangan dimaksud adalah Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia (Dephukham). Penetapan pembentukan Panitia Antardepartemen dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja 14 Bab II Persiapan RUU. Dalam menyusun suatu RUU. Menteri atau lembaga terkait dalam waktu paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah tanggal diterimanya surat permintaan tersebut akan mengirimkan nama pejabat yang berwenang mengambil keputusan. sosiologis. dan Pengundangan . Penyusunan RUU Berdasarkan Prolegnas Tahapan awal. Menurut ketentuan Pasal 6 Peraturan Presiden No. pokok-pokok materi. dan/atau perancang peraturan perundang-udangan yang secara teknis menguasai permasalahan dalam RUU. Penyusunan Naskah Akademik tersebut dapat dilakukan oleh Prakarsa bersama-sama dengan Departemen yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan dan pelaksanaannya dapat diserahkan kepada perguruan tinggi atau pihak ketiga lainnya yang mempunyai keahlian untuk itu.Keadaan tertentu untuk mengajukan RUU di luar Prolegnas tersebut adalah: a. Melaksanakan putusan Mahkamah Konstitusi. Anggotanya terdiri atas unsur departemen dan lembaga pemerintah non departemen yang terkait dengan substansi. c. ahli hukum. prakarsa dapat dilakukan dengan terlebih dahulu menyusun Naskah Akademik mengenai materi yang akan diatur. Surat permintaan tersebut disertai dengan konsepsi. Prakarsa akan membentuk Panitia Antardepartemen yang dipimpin oleh seorang ketua yang ditunjuk oleh Prakarsa. Prakarsa akan mengajukan surat permintaan keanggotaan Panitia Antardepartemen kepada Menteri atau pimpinan lembaga terkait. Menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang menjadi UndangUndang. a. b. Keadaan tertentu lainnya yang memastikan adanya urgensi nasional atas suatu RUU yang dapat disetujui bersama oleh Badan Legislasi DPR dan Menteri. Meratifikasi konvensi atau perjanjian internasional. 68 Tahun 2005 Panitia Antardepartemen tersebut dibentuk setelah Prolegnas ditetapkan oleh DPR. Pembahasan RUU. Mengatasi keadaan luar biasa. pelaksanaan penyusunan naskah akademik dapat diserahkan kepada perguruan tinggi atau pihak ketiga lainnya yang mempunyai keahlian. atau e. d. keadaan konflik. Dalam rangka pembentukan Panitia Antardepartemen. dan hal-hal lain yang dapat memberikan gambaran mengenai materi yang akan diatur dalam RUU. Selanjutnya. atau bencana alam. pokok dan lingkup materi yang diatur.

Sebelum Prakarsa menyerahkan RUU kepada Menteri dan menteri/pimpinan lembaga terkait. politik. Sementara itu kegiatan perancangan yang meliputi penyiapan. Dalam setiap panitia antar departemen diikutsertakan wakil dari Dephukham untuk melakukan pengharmonisasian RUU dan teknis perancangan perundang-undangan. Ketua Panitia Antardepartemen berkewajiban untuk melaporkan perkembangan penyusunan RUU dan/atau permasalahan yang dihadapi kepada Prakarsa untuk memperoleh keputusan atau arahan. pengolahan dan perumusan RUU dilaksanakan oleh biro hukum atau satuan kerja yang menyelenggarakan fungsi di bidang peraturan perundang-undangan pada lembaga prakarsa. kepala biro hukum atau kepala satuan kerja yang menyelenggarakan fungsi di bidang peraturan perundangundangan pada lembaga Prakarsa. Selama pembahasan RUU oleh Panitia Antardepartemen. disertai penjelasan secukupnya. Dalam Panitia Antardepartemen. Sesuai dengan ketentuan Pasal 9 Peraturan Presiden No. 68 Tahun 2005. dan kemasyarakatan lainnya sesuai dengan kebutuhannya. Ketua Panitia Antardepartemen menyampaikan perumusan terakhir RUU kepada Prakarsa. Prakarsa dapat mengundang ahli dari lingkungan perguruan tinggi atau organisasi di bidang social. ahli hukum. Prakarsa dapat menyebarluaskan RUU yang hasilnya dapat dipakai oleh Panitia Antardepartemen untuk menyempurnakan RUU. keikutsertaan wakil dari departemen yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan bertugas untuk melakukan pengharmonisan RUU dan teknik perancangan peraturan perundang-undangan. Panitia antardepartemen menitikberatkan pembahasan pada permasalahan yang bersifat prinsipil mengenai objek yang akan diatur. jangkauan dan arah pengaturan. secara fungsional bertindak sebagai sekretaris Panitia Antardepartemen. Pejabat. dan/ atau perancang perundang-undangan sebagai anggota Panitia Antardepartemen wajib menyampaikan laporan kepada dan/atau meminta arahan dari menteri/pimpinan lembaga terkait mengenai perkembangan penyusunan RUU.sejak tanggal surat permintaan tersebut diajukan. Hasil perancangan disampaikan kepada Panitia Antardepartemen untuk diteliti kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip yang telah disepakati.RI 15 . Dalam pembahasan RUU di Panitia Antardepartemen. Prakarsa menyampaikan RUU kepada menteri yang mempunyai tugas dan tanggung jawab di bidang peraturan perundang-undangan yang saat ini dilakukan Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . dan/atau permasalahan yang dihadapi. Setelah itu. Apabila pembahasan telah selesai. profesi.

dan pemantapan konsepsi RUU. Apabila upaya penyelesaian tersebut tidak berhasil. profesi. Apabila perlu. kebulatan. dan Pengundangan . b. Menhukham akan mengkoordinasikan pembahasan konsepsi tersebut dengan pejabat yang berwenang mengambil keputusan. Prakarsa mengajukan RUU tersebut kepada Presiden untuk menyampaikannya kepada DPR dengan tembusan kepada Menteri. Penyusunan RUU di Luar Prolegnas Apabila RUU tersebut diajukan di luar Prolegnas. yang sekaligus merupakan persetujuan izin prakarsa penyusunan RUU. Pembahasan RUU. Menhukham dan Prakarsa melaporkannya kepada Presiden disertai penjelasan mengenai perbedaan pendapat dan perbedaan pandangan yang ada untuk memperoleh keputusan dan arahan. Presiden akan menugaskan Menteri dan Prakarsa untuk mengkoordinasikan dan menyempurnakan kembali RUU tersebut. Pertimbangan dan paraf persetujuan diberikan paling lama 14 (empat belas) hari kerja sejak RUU diterima. ahli hukum. koordinasi tersebut dapat juga melibatkan perguruan tinggi dan/atau organisasi di bidang social. Dalam hal koordinasi tersebut tidak menghasilkan keharmonisan.oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menhukham) dan menteri atau pimpinan lembaga terkait untuk memperoleh pertimbangan dan paraf persetujuan. dan/atau perancangan peraturan perundang-undangan dari lembaga Prakarsa dan lembaga terkait lainnya. dan tembusan kepada Menteri. dan kemasyarakatan lainnya sesuai kebutuhan dalam penyusunan RUU. dalam rangka pengharmonisasian. 2) Penyampaian RUU kepada DPR 16 Bab II Persiapan RUU. Dalam hal Prakarsa melihat adanya perbedaan di antara pertimbangan tersebut. Apabila Presiden berpendapat bahwa RUU itu masih mengandung permasalahan. maka Prakarsa bersama Menhukham menyelesaikan perbedaan tersebut dengan menteri/ pimpinan lembaga yang terkait yang bersangkutan. Apabila RUU tersebut sudah tidak memiliki permasalahan lagi baik dari segi teknik perancangan perundang-undangan. Menhukham melaporkan secara tertulis permasalahan tersebut kepada Presiden untuk mendapatkan keputusan. dan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari sejak penugasan Prakarsa menyampaikan kepada Presiden. dan kemantapan konsepsi RUU. maka untuk penyusunan konsepsi RUU tersebut Prakarsa wajib mengkonsultasikannya kepada Menhukhamm. Selanjutnya. pembulatan. politik. Pertimbangan dan paraf persetujuan dari Menhukham diutamakan pada harmonisasi konsepsi dan teknik perancangan perundang-undangan.

dan d. Surat Presiden tersebut ditembuskan kepada Wakil Presiden. Menteri yang ditugasi segera melaporkan RUU yang telah mendapat atau tidak mendapat persetujuan DPR kepada Presiden. Keterangan Pemerintah tersebut disiapkan oleh Prakarsa. Pokok pikiran. dan Menteri. Berikut bagan alur proses RUU yang disiapkan Presiden. Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . setelah terlebih dahulu melaporkannya kepada Presiden. Sifat penyelesaian RUU yang dikehendaki. b. Berikut bagan RUU yang berasal dari Presiden. menteri yang ditugasi oleh Presiden wajib melaporkan perkembang dan permasalahan yang dihadapi kepada Presiden untuk memperoleh keputusan dan arahan. Menteri yang ditugasi untuk mewakili Presiden dalam pembahasan RUU di DPR. Untuk pembahasan RUU tersebut.RI 17 . yang antara lain memuat: a. akan disampaikan kepada DPR untuk dilakukan pembahasan. Dalam hal RUU tidak mendapat persetujuan bersama antara Presiden dan DPR. Prakarsa memperbanyak RUU dalam jumlah yang diperlukan. menteri yang ditugasi mewakili Presiden wajib terlebih dahulu melaporkannya kepada Presiden disertai dengan saran pemecahannya untuk memperoleh keputusan. Selanjutnya Menteri Sekretaris Negara akan menyiapkan Surat Presiden kepada Pimpinan DPR untuk menyampaikan RUU disertai dengan Keterangan Pemerintah mengenai RUU tersebut. RUU tersebut tidak dapat diajukan kembali dalam masa sidang yang sama. menteri yang ditugasi untuk mewakili Presiden/Prakarsa. Dalam pembahasan RUU di DPR. Sasaran yang ingin diwujudkan. 68 Tahun 2005 terhadap suatu RUU yang telah disetujui oleh Presiden. Jangkauan serta arah pengaturan. pada menteri koordinator.Berdasarkan ketentuan Pasal 25 Peraturan Presiden No. dan c. b. Apabila dalam pembahasan terdapat masalah yang bersifat prinsipil dan arah pembahasannya akan mengubah isi serta RUU. c. Pendapat akhir Pemerintah dalam pembahasan RUU di DPR disampaikan oleh Menhukham yang ditugasi mewakili Presiden. yang menggambarkan keseluruhan substansi RUU. Surat Presiden tersebut antara lain memuat tentang: a. lingkup. Cara penanganan atau pembahasannya. atau obyek yang akan diatur. Urgensi dan tujuan penyampaian.

10 Tahun 2004] 18 Bab II Persiapan RUU. DPR.RUU yang Berasal dari DPD Dengan disahkannya UU No. dan Pengundangan .10 Tahun 2004] PReSIDeN PIMPINAN DPR [Pasal 20 ayat (1) dan (2) UU No. 10 Tahun 2004] RAPAT PARIPURNA (Pemberitahuan dan RUU Dibagikan) Penyebarluasan oleh Instansi Pemrakarsa [Pasal 22 ayat (2) UU No.10 Tahun 2004] Disampaikan kepada Pimpinan DPD (untuk RUU tertentu) RAPAT BAMUS DPR Menetapkan jangka waktu penyelesaian RUU Menentukan penanganan suatu RUU oleh alat kelengkapan DPR PeMBAHASAN (paling lambat 60 hari sejak Surat Presiden diterima) [Pasal 20 ayat (3) UU No.10 Tahun 2004] MeNTeRI HUKUM DAN HAM [Pasal 18 ayat (2) UU No. 27 Tahun 2009 tentang MPR. DPD dan DPRD tata cara pengajuan dan pembahasan RUU yang berasal dari DPD juga mengalami beberapa Bagan 4 perubahan. Tata cara mempersiapkan (proses penyusunan) dan pembahasan RUU yang RUU yang berasal dari Presiden MeNTeRI/PIMPINAN LeMBAGA PeMeRINTAH NON DePARTeMeN [Pasal 18 ayat (1) UU No. Pembahasan RUU.

b) Diterima dengan perubahan. DPD menugasi Panitia Perancang UndangUndang untuk membahas dan menyempurnakan usul RUU tersebut. Pembicaraan Tingkat I. Dalam hal Usul RUU diterima dengan perubahan. Setelah melalui proses penyusuna legislasi di DPD.9 Pembahasan setiap RUU. Hanya saja. apakah Usul RUU tersebut dapat diterima menjadi RUU Usul DPD atau tidak. dengan kegiatan: Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . DPR. atau Rapat Panitia Khusus. 2. atau RUU yang telah disempurnakan tersebut selanjutnya akan disampaikan kepada DPR dan Presiden disertai Surat Pengantar Pimpinan DPD. Usul RUU yang telah diterima tanpa perubahan. Pembicaraan Tingkat II. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. Rapat Badan Legislasi. baik yang berasal dari Pemerintah. yang dilakukan dalam Rapat Paripurna. RUU yang berasal dari DPD diajukan oleh DPD kepada DPR adalah RUU yang berkaitan dengan otonomi daerah. bersama-sama Pemerintah. maupun Dewan Perwakilan Daerah dibahas di DPR dilakukan melalui 2 (dua) tingkat pembicaraan. yang dilakukan dalam Rapat Komisi. atau c) Ditolak. Dalam Pembicaraan Tingkat I RUU akan dibahas dalam Rapat Komisi. Rapat Badan Anggaran. dengan kegiatan: a. hubungan pusat dan daerah. Rapat Badan Anggaran. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. Proses Pembahasan RUU di DPR Pembahasan RUU secara resmi sepenuhnya dilakukan dalam forum persidangan DPR. Rapat Gabungan Komisi. yaitu: 1. Rapat Badan Legislasi. Keputusan Sidang Paripurna dapat terdiri atas tiga macam.RI 19 . Keputusan tersebut diambil setelah Panitia Perancang Undang-Undang menyampaikan penjelasan dan prakarsa diberi kesempatan untuk memberikan pendapatnya. DPR tidak dapat memutus tanpa persetujuan Pemerintah. pengantar musyawarah.berasal dari Dewan Perwakilan Daerah di lingkungan Dewan Perwakilan Daerah selanjutnya akan diatur oleh Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Daerah yang mengacu pada perubahan UU terbaru. Pemerintah dan DPD dapat ikut serta dalam pembahasan tetapi yang mengambil keputusan hanya DPR. yaitu: a) Diterima. atau Rapat Panitia Khusus. prinsipnya pada sidang Paripurna DPD akan memutuskan.

Dalam hal DPD tidak memberikan pandangan dan pendapat. penyampaian pendapat mini. DPR memberikan penjelasan serta Presiden dan DPD menyampaikan pandangan apabila RUU yang berkaitan dengan kewenangan DPD berasal dari DPR.1. apabila RUU berasal dari Presiden. atau 4. dengan kegitatan: a. b. Dalam Pembicaraan Tingkat I dapat diundang pimpinan lembaga negara atau lembaga lain apabila materi RUU berkaitan dengan lembaga negara atau lembaga lain. b. DPR memberikan penjelasan dan Presiden menyampaikan pandangan apabila RUU berasal dari DPR. Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pembicaraan Tingkat I ini. Pendapat akhir Presiden yang disampaikan oleh Menteri yang mewakilinya. Fraksi. 2. dan c. pendapat mini fraksi. Pembicaraan Tingkat I tetap dilaksanakan. 3. 2. apabila RUU berkaitan dengan kewenangan DPD. yaitu: 1. pembahasan daftar inventarisasi masalah diajukan oleh: 1. 2. Selanjutnya dilakukan Pembicaraan Tingkat II dilakukan sebagai berikut: (1) Pembicaraan Tingkat II merupakan pengambilan keputusan dalam Rapat Paripurna. Pembahasan RUU. disampaikan pada akhir Pembicaraan Tingkat I oleh: 1. pendapat mini DPD. (2) Dalam hal persetujuan tidak dapat dicapai secara musyawarah untuk mufakat. Penyampaian Laporan yang berisi proses. 3. Presiden memberikan penjelasan serta fraksi dan DPD menyampaikan pandangan apabila RUU yang berkaitan dengan kewenangan DPD berasal dari Presiden. DPD. RUU itu tidak boleh diajukan 20 Bab II Persiapan RUU. c. Presiden memberikan penjelasan dan fraksi memberikan pandangan apabila RUU berasal dari Presiden. pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan suara terbanyak (3) Jika RUU itu tidak mendapat persetujuan bersama. apabila RUU berasal dari DPR. Presiden. dan Pengundangan . Presiden. dan hasil Pembicaraan Tingkat I. 2. DPR. Pernyataan persetujuan atau penolakan dari tiap2 fraksi dan Anggota secara lisan yang diminta oleh pimpinan Rapat Paripurna.

Berikut kita simak bagan pembahasan RUU sesuai dengan masing-masing lembaga pengusul. pengambilan keputusan dengan suara terbanyak Pengesahan dan Pengundangan Pengesahan dan Pengundangan Tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPR masa itu Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . pendapat mini DPD dan Hasil Pembicaraan Tingkat I 2. Pandangan Pimpinan Alat Kelengkapan atas Pandangan dan Pendapat Presiden (atau Presiden dan DPD untuk RUU tertentu) 3. Pendapat akhir Presiden yang disampaikan Menteri Tidak tercapai musyawarah mufakat. Pembahasan RUU oleh DPR dan Presiden berdasarkan DIM Dalam Tingkat I dapat diadakan RDP/RDPU mengundang Pimpinan Lembaga Negara yang terkait dan/atau Rapat Intern RUU belum dapat disampaikan ke Tingkat II apabila secara prinsip diteruskan.lagi dalam persidangan DPR masa itu. 3. RAPAT FRAKSI TINGKAT II (DALAM RAPAT PARIPURNA DPR) 1. pendapat mini fraksi.RI 21 . Pernyataan persetujuan atau penolakan. Tidak dicapai kesepakatan untuk Pandangan dan pendapat Presiden (atau Presiden dan DPD untuk RUU tertentu) 2. Pengesahan RUU dan Pengundangan Berdasarkan UU Nomor 10 Tahun 2004 pada Pasal 37. Setelah pembicaraan dalam Tingkat II selesai. RUU yang telah disetujui Bagan 5 bersama DPR dan Presiden tersebut dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) Pembahasan RUU dari DPR PIMPINAN DPD (untuk RUU tertentu) PIMPINAN DPR PReSIDeN (penugasan Menteri) PIMPINAN DPR Penyebarluasan oleh Setjen DPR RAPAT PARIPURNA (Pemberitahuan dan dibagikan) RAPAT BAMUS DPR RAPAT FRAKSI TINGKAT I (DALAM RAPAT KeLeNGKAPAN DPR) 1. RUU yang telah disetujui bersama oleh DPR dan Presiden tersebut akan dikirimkan kepada Presiden untuk dimintakan pengesahan. Laporan proses.

Pembahasan RUU oleh DPR dan Presiden berdasarkan DIM Dalam Tingkat I dapat diadakan RDP/RDPU. Pembahasan RUU. Pendapat akhir Presiden 4. Tanggapan Presiden atas Pandangan Fraksi-fraksi (atau Fraksi-fraksi dan DPD untuk RUU tertentu) 3. dan Pengundangan . mengundang Pimpinan Lembaga Negara yang terkait dan/atau Rapat Intern. Pengambilan Keputusan Disetujui bersama Pengesahan dan Pengundangan Tidak dsetujui bersama Tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPR masa itu 22 Bab II Persiapan RUU. RUU belum dapat disampaikan ke Tingkat II apabila secara prinsip tidak dicapai kesepakatan untuk diteruskan RAPAT FRAKSI TINGKAT II (dalam RAPAT PARIPURNA DPR) 1. Laporan Hasil Pembicaraan Tingkat I 2. Pandangan dan pendapat Fraksi-fraksi (atau Fraksi-fraksi dan DPD untuk RUU tertentu) 2.Bagan 6 Pembahasan RUU dari Presiden PReSIDeN PIMPINAN DPR RAPAT PARIPURNA (Pemberitahuan dan dibagikan) Penyebarluasan oleh Instansi Pemrakarsa RAPAT BAMUS DPR Penetapan alat kelengkapan Penjadwalan PIMPINAN DPD (untuk RUU tertentu) RAPAT FRAKSI TINGKAT I (dalam RAPAT ALAT KeLeNGKAPAN DPR) 1. Pendapat Akhir Fraksi 3.

Pendapat akhir Presiden 4.Bagan 7 Pembahasan RUU dari DPR yang Mengikutsertakan DPD PIMPINAN DPD PIMPINAN DPR PReSIDeN (penugasan Menteri) PIMPINAN DPR Penyebarluasan oleh Setjen DPR [Pasal 22 ayat (1) UU No. Pandangan dan pendapat Presiden dan DPD 2. Pembahasan RUU oleh DPR dan Presiden berdasarkan DIM Dalam Tingkat I dapat diadakan RDP /DRPU mengundang Pimpinan Lembaga Negara yang prinsip tidak dicapai kesepakatan untuk diteruskan RAPAT FRAKSI TINGKAT II (dalam RAPAT PARIPURNA DPR) 1. Pengambilan Keputusan Disetujui bersama Pengesahan dan Pengundangan Tidak dsetujui bersama Tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPR masa itu Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . 10 Tahun 2004] RAPAT PARIPURNA (Pemberitahuan) RAPAT BAMUS DPR Penetapan jangka waktu penyelesaian Penentuan alat kelengkapan RAPAT FRAKSI TINGKAT I 1. Laporan Hasil Pembicaraan Tingkat I 2.RI 23 . Tanggapan Pimpinan Alat Kelengkapan atas Pandangan dan Pendapat Presiden dan DPD 3. Pendapat Akhir Fraksi 3.

Pembahasan RUU.hari sejak tanggal persetujuan bersama. Proses Perubahan Undang-Undang Pengertian Perubahan 24 Bab II Persiapan RUU. Dalam hal RUU tersebut tidak ditandatangani oleh Presiden dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak RUU tersebut disetujui bersama DPR dan Presiden. agar Undang-Undang itu dapat berlaku dan mempunyai kekuatan hokum mengikat umum. Pengesahan RUU yang telah disetujui bersama tersebut dilakukan dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak RUU tersebut disetujui oleh DPR dan Presiden. maka RUU tersebut sah menjadi Undang-Undang. 2004. Sekretariat Negara akan menuangkannya dalam kertas kepresidenan dan akhirnya dikirimkan kepada Presiden untuk disahkan menjadi UU. maka Undang-Undang itu kemudian diundangkan oleh Menteri (yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang peraturan perundang-undangan). Setelah Undang-Undang tersebut diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. sesuai dengan ketentuan Pasal 38 ayat (2) Undang-Undang No. dan Pengundangan . dan wajib diundangkan. 10 Th. dan Pasal 20 ayat (5) UUD 1945 Perubahan. kecuali ditentukan lain di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. Pemerintah wajib menyebarluaskan Undang-Undang yang telah diundangkan tersebut. Setelah Presiden mengesahkan RUU yang telah disetujui bersama dengan DPR tersebut. Setelah menerima RUU yang telah disetujui DPR dan Presiden tersebut. Pada dasarnya Peraturan Perundang-undangan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan.

RUU tersebut sah menjadi UU Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR .Bagan 8 Pengesahan RUU yang telah mendapat Persetujuan bersama DPR dengan Presiden Disampaikan oleh Pimpinan DPR Disahkan oleh Presiden Menjadi UndangUndang 1) RUU yang telah disetujui disampaikan oleh Pimpinan DPR kepada Presiden paling lambat 7 hari kerja untuk disahkan. 2) Apabila dalam 15 hari kerja RUU tersebut belum disahkan menjadi UU. Pimpinan DPR mengirim surat kepada Presiden untuk minta penjelasan 3) Dalam hal RUU tersebut tidak disahkan oleh Presiden dalam waktu 30 hari sejak RUU disetujui.RI 25 .

dan Peranan Mahkamah Konstitusi dalam Proses Pembentukan Undang-Undang . Partisipasi Publik.BAB III Proses Perubahan Undang-Undang.

bagian. pasal dan/atau bagian UU. Prakarsa dapat mengajukan RUU dengan alasan tertentu seperti melaksanakan putusan MK. Perpu tersebut harus dimintakan persetujuan kepada DPR. bagian. paragraf. Perubahan suatu UU dapat meliputi:10 1. menyempurnakan atau menghapus ketentuan yang sudah ada. ayat maupun perkataan. angka huruf. Misalnya sebagai akibat putusan hukum MK yang membatalkan dan mengharuskan dilakukannya perubahan terhadap ayat. Beberapa Prinsip yang Harus diperhatikan dalam Perubahan UU Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam mengadakan perubahan UU.P erubahan UU dilakukan apabila terdapat ketentuan dalam UU yang tidak sesuai lagi dengan sifat atau kondisi yang berlaku dalam masyarakat. Undang-Undang hanya dapat diubah dengan: a. baik yang berbent bab.RI 27 . Contoh: Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan diubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004. tanda baca dan lain-lainnya. ayat maupun perkataan. yakni Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu). Bagaimana proses perubahan UU dilakukan? Pada prinsipnya perubahan dilakukan pada tahapan awal proses pembentukan UU dengan mengajukan RUU perubahan. pasal. yakni Undang-Undang. Begitupun sebaliknya RUU dapat datang dari DPR atau DPD sesuai dengan tugas dan kewenangan lembaga. peraturan perundang-undangan yang setingkat dengan Undang-Undang. baik yang berbentuk bab. tanda baca dan lainlainnya. Mengganti suatu ketentuan dengan ketentuan lain. paragraph. 2. jika RUU tersebut berasal dari Pemerintah. Menambah atau menyisipkan ketentuan baru. angka huruf. atau b. antara lain: 1. peraturan perundang-undangan yang sejenis. Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . pasal.

4. 3. buku. pasal. Perpu Nomor 3 Tahun 2005 tersebut disetujui DPR dan ditetapkan menjadi Undang-Undang dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2005. b. menyisipkan atau menambah materi baru. 5. dan/atau tanda baca. 6. bagian. Pasal II memuat ketentuan mengenai saat mulai berlakunya Undang-Undang. kalimat. Pasal II juga dapat memuat ketentuan peralihan dari Undang-Undang perubahan. dan/atau b. dan Peranan Mahkamah Konstitusi dalam Proses Pembentukan Undang-Undang .Contoh: Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Pada dasarnya batang tubuh Undang-Undang perubahan terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Romawi (Pasal I dan Pasal II). paragraf. Pasal I memuat judul Undang-Undang yang diubah dan semua perubahan materi. dan/atau lampiran. istilah. namun jika perubahan tersebut mengakibatkan: a. Perubahan Undang-Undang dilakukan dengan: a. yaitu sebagai berikut: a. frasa. angka. Partisipasi Publik Dalam Proses Pembentukan Undang-Undang 28 Bab III Proses Perubahan Undang-Undang. Dalam hal tertentu. materi Undang-Undang berubah lebih dari 50% (lima puluh persen). Dalam konsiderans Undang-Undang perubahan. sistematika Undang-Undang berubah. harus dikemukakan alasan mengapa perlu dilakukan perubahan terhadap Undang-Undang yang lama. kata. bab. 2. Perubahan Undang-Undang dapat dilakukan terhadap: a. menghapus sebagian materi. penjelasan umum. ayat. esensinya berubah. maka Undang-Undang yang diubah tersebut lebih baik dicabut dan disusun kembali dalam Undang-Undang yang baru mengenai masalah tersebut (melalui proses pencabutan dengan penggantian). b. b. atau c. penjelasan pasal demi pasal. dan/atau c. Walaupun dimungkinkan adanya perubahan terhadap suatu Undang-Undang. yang maksudnya berbeda dengan ketentuan peralihan dari Undang-Undang yang diubah. Partisipasi Publik. mengganti atau mengubah sebagian materi dengan materi lain.

sedangkan penyebarluasan RUU yang berasal dari Presiden dilaksanakan oleh Instansi Prakarsa. . Pertemuan dapat dilakukan dalam bentuk: Rapat Dengat Pendapat Umum.paling lambat 7 (tujuh) hari pimpinan meneruskan kepada alat kelengkapan pelaksana RUU. dan internal DPR menggunakan Peraturan Tata Tertib DPR-RI.Pengaturan Partisipasi publik atau masyarakat dalam proses pembentukan peraturan perundangundangan diatur dalam UU Nomor 10 Tahun 2004. Patisipasi publik ini dapat dilakukan. Radio. Penyebarluasan RUU Menurut UU Nomor 10 Tahun 2004. seperti TV.pimpinan alat kelengkapan dewan menentukan waktu pertemuan dan jumlah orang yang diundang. Pertemuan dengan Pimpinan Alat Kelengkapan. Penyerapan Aspirasi Publik Apabila tujuan penyebarluasan tercapai. diharapkan hak publik untuk memberikan masukan terhadap RUU yang dibahas dapat terpenuhi. Masukan publik dapat dilakukan secara lisan atau tertulis dalam rangka pembahasan RUU. Dalam tahapan penyiapan RUU: Tertulis: . dan (2) penyerapan aspirasi publik. internet maupun media cetak seperti surat kabar. atau Pertemuan dengan Pimpinan Alat Kelengkapan yang didampingi dengan beberapa orang Anggota Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . majalah dan edaran. Secara garis besar partisipasi publik dalam proses pembentukan UU dapat dilakukan dalam bentuk: (1) penyebarluasan. baik dalam tahap persiapan RUU maupun dalam tahap pembahasan RUU. Maksud dan tujuan penyebarluasan adalah agar khalayak ramai mengetahui adanya RUU yang sedang dibahas di DPR guna memberikan masukan atas materi RUU. penyebarluasan RUU yang berasal dari DPR dilaksanakan oleh Sekretariat Jenderal DPR. Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2005. Teknis penyampaian aspirasi pada pokoknya dilakukan: 1. Lisan: .ditujukan kepada pimpinan DPR dengan menunjukkan identitas jelas.RI 29 . Penyebarluasan dilakukan baik melalui media elektronik.

Pertemuan dengan Pimpinan Alat Kelengkapan. Praktik Penyerapan Aspirasi Publik Pengaturan partisipasi publik dalam peraturan perundang-undangan merupakan 30 Bab III Proses Perubahan Undang-Undang. baik pada saat proses persiapan. Pertemuan dapat dilakukan dalam bentuk: Rapat Dengat Pendapat Umum. Partisipasi Publik. Dari gambaran bentuk kegiatan partisipasi publik atau pelibatan peranan masyarakat luas dan/atau pemangku kepentingan di dalam proses pembentukan UndangUndang di atas. Hasil pertemuan lalu menjadi masukan RUU.pimpinan alat kelengkapan dewan menentukan waktu pertemuan dan jumlah orang yang diundang. Dalam Tahapan Pembahasan RUU Tertulis: . Simak bagan berikut yang menggambarkan partisipasi publik. proses pembahasan di lembaga pembentuk UU. Lisan: . alat kelengkapan yang menyiapkan atau membahas RUU dapat melakukan kegiatan untuk mendapatkan masukan publik.RUU. kegiatan partisipasi dilakukan sesuai dengan kebutuhannya. Hasil pertemuan lalu menjadi masukan bahan masukan terhadap RUU yang sedang dibahas dengan Presiden. . dan Peranan Mahkamah Konstitusi dalam Proses Pembentukan Undang-Undang .paling lambat 7 (tujuh) hari pimpinan meneruskan kepada alat kelengkapan pelaksana RUU. dan setelah UU diundangkan untuk diberlakukan dan dilaksanakan. atau Pertemuan dengan Pimpinan Alat Kelengkapan yang didamoingi dengan beberapa orang anggota RUU. Bentuk Kegiatan Selain masukan berdasarkan permintaan publik. Bentuk kegiatan yang dilakukan dapat berupa: (a) Rapat Dengar Pendapat Umum. (b) Kunjungan. seperti lokakarya atau FGD (Focuss Group Discussion).ditujukan kepada pimpinan DPR dengan menunjukkan identitas jelas sebelum pembicaraan Tingkat II. 2. (c) Seminar atau (d) kegiatan sejenis lainnya.

RI 31 .Bagan 9 Penyebarluasan RUU PeNYeBARLUASAN UNDANG-UNDANG (Pasal 51 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004) SeTJeN DPR-RI/INSTANSI PeMRAKARSA KHALAYAK RAMAI/ MASYARAKAT MeNGeTAHUI MeNGeRTI MeMAHAMI ISI DAN MAKSUD YANG TeRKANDUNG DALAM UNDANG-UNDANG MeLALUI MeDIA CeTAK DAN eLeKTRONIK Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR .

Problematika yang timbul adalah: 1. Kenyataannya seringkali partisipasi masyarakat tersebut realitasnya dirancang untuk proses mendapatkan legitimasi. 10/2004 langkah positif dan sangat baik dalam kerangka pemberdayaan masyarakat untuk berperan aktif di dalam proses legislasi. isi dan maksud suatu UU. dari bentuk kegiatan penyebarluasan RUU atau UU. Artinya masyarakat luas dianggap tahu dan mengerti dengan sendirinya tentang masalah. Partisipasi Publik.Bagan 10 Penyerapan Aspirasi Publik PeNYeRAPAN ASPIRASI MASYARAKAT (Pasal 53 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004) LISAN MASYARAKAT DPR TeRTULIS MASUKAN PADA PeRSIAPAN ATAU TeRHADAP RUU Sumber : UU No. lebih didasarkan pada pendekatan stelsel pasif. memenuhi persyaratan kaidah proses 32 Bab III Proses Perubahan Undang-Undang. Namun demikian. memberikan makna bahwa Pemerintah atau DPR dalam merumuskan bentuk kegiatan partisipasi masyarakat tersebut. dan masyarakat dianggap mampu dan mengerti menggunakan haknya untuk memberikan masukan. dan Peranan Mahkamah Konstitusi dalam Proses Pembentukan Undang-Undang . dan penyerapan aspirasi publik memberikan masukan tertulis atau lisan melalui dialog dan/atau dengan pendapat (hearing).

Pendekatan ini lebih tepat dlakukan untuk pembahasan dan penyusunan Peraturan Perundang-Undangan tertentu. Dilihat dari media antara yang digunakan. komunikasi dan informasi. Kedua.pembentukan UU. 3. pendekatan penyebarluasan RUU dengan menggunakan sarana dan prasarana teknologi. Partisipasi publik sebenarnya adalah untuk memberdayakan publik (masyarakat). maupun Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR Daerah. dan formalitas untuk memenuhi persyaratan prinsip-prinsip demokrasi dan good governance atau untuk meredam gejolak dan/atau penolakan sebagian masyarakat. apabila harus dialog dan konsultasi publik dengan seluruh masyarakat. tidak akan efektif menyerap aspirasi masyarakat di daerah pada umumnya. sasarannya adalah kelompok masyarakat dan/atau pemangku kepentingan yang relatif memliki kemampuan dan kemudahan memperoleh informasi melalui media elektronik dan cetak. pakar. akademisi. 2. mengerti dan mampu memberikan masukan tertulis beserta argumentasinya kepada Pemerintah/Pemerintah Daerah. seperti LSM. Artinya sasaran utama penjaringan aspirasi adalah stakeholder tertentu. meskipun elitis. Dilihat dari cakupan obyek yang dituju dan jangkauan wilayahnya. tokoh masyarakat. Misalnya: Penyebarluasan RUU Tindak Pidan Korupsi melalui media elektronik. Pendekatan tersebut dianggap mampu menjangkau masyarakat luas. Namun dengan mempertimbangkan tingkat kesulitan yang dihadapi. dan mengetahui dan memahami kewajiban dan tanggungjawabnya sebagai warga negara/warga masyarakat. dan dapat mencerminkan pelaksanaan prinsip demokrasi dalam proses legislative drafting. baik yang terorganisir atau tidak terorganisir yang dianggap langsung memiliki kepentingan atas materi muatan dan arah pengaturan RUU. publik mendapat kesempatan luas dan akses untuk menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi yang menjadi haknya. Hal ini harus dipahami karena masyarakat di daerah belum tentu tahu. selaku Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . Pada sisi lain. yang cakupan pengaturan dan jangkauan pengaturannya relatif tidak mempengaruhi langsung masyarakat luas. organisasi profesional dan fungsional serta organisasi kemasyarakatan lainnya. asosiasi. pendekatan langsung melalui dialog atau hearing hakekatnya bersifat elitis.RI 33 . pendekatan dialog atau dengar pendapat dengan pemangku kepentingan merupakan langkah kegiatan yang dianggap paling memungkinkan untuk melakukan penjaringan aspirasi masyarakat. Pertama. komunikasi dan informasi dianggap efisien dan efektif. karena sasaran sebenarnya adalah kelompok masyarakat atau pemangku kepentingan yang mengatasnamakan kepentingan rakyat banyak.

pada dasarnya dapat terjadi karena: Pertama. kebutuhan masyarakat itu sendiri untuk diatur. pemerintah dalalm kapasitas sebagai regulator. Dalam hal ini. kegiatan advokasi terhadap kebijakan publik. Fungsi pengawasan publik dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan. serta kesejahteraan masyarakat. perencanaan dan pelaksanaan kegiatan penyusunan dan pembentukan Peraturan Perundang-Undangan. mengakomodir aspirasi masyarakat dan memadukan dengan kebijakan hukum dan Peraturan Perundang-Undangan nasional dan/atau daerah. dengan mengatur hal-hal baru yang dapat membentuk nilai-nilai baru dalam masyarakat. juga memberikan masukan-masukan kepada lembaga/pejabat yang berwenang mengenai apa yang dibutuhkan masyarakat untuk diatur. Apa yang menjadi kewajiban dan tanggungjawab pemerintah dan wakil rakyat didalam memberikan pelayanan dan pengayoman terhadap masyarakat. Dewasa ini pembentukan Peraturan Perundang-Undangan lebih banyak diadakan 34 Bab III Proses Perubahan Undang-Undang. Kedua. terutama yang berkaitan dengan kepentingan kepastian dan perlindungan hukum. satu diantaranya adalah. utamanya aparat birokrasi memberikan ruang yang cukup bagi pemberdayaan masyarakat guna mengembangkan dan meningkatkan peranan aktifnya di dalam mendukung pesiapan.pemangku kepentingan memdapat kesempatan untuk meningkatkan kemampuannya di dalam melakukan fungsi pengawasan publik. Selanjutnya. selain melakukan pengawasan dan memberikan kritik. yaitu berkaitan dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat untuk mengatur norma atau nilai-nilai yang telah ada di masyarakat menjadi norma hukum yang mengikat. Misi dan Arah kebijakan hukum untuk tujuan pembaharuan dan tuntutan perubahan kehidupan di masyarakat. dan apa yang harus dilakukan oleh masyarakat untuk memenuhi kewajiban dan tanggungjawabnya. Partisipasi Publik. Dalam hubungan dengan advokasi ini. diperlukan dan arah pengaturan. Undang-Undang Pemerintahan Desa Nomor 5 Tahun 1979 terhadap nilai dan norma masyarakat Marga dan Nagari). serta muatan materi pengaturannya. Dalam hal ini Pemerintah bertindak sebagai fasilitator. menjabarkan Visi. masyarakat diberi kesempatan untuk merumuskan sendiri apa yang dituju. dan Peranan Mahkamah Konstitusi dalam Proses Pembentukan Undang-Undang . dan bertentangan dengan nilai-nilai yang sudah ada di masyarakat yang berdampak pada perubahan nilai-niai dan norma masyarakat (contoh. Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan yang subyek dan obyeknya berkait dengan masyarakat. dan untuk keberhasilan dilaksanakannya suatu Peraturan Perundang-Undangan. Advokasi dilakukan agar lembaga/ pejabat pengambil kebijakan tidak bertindak sewenang-wenang dalam mengunakan kekuasaan dan kewenangannya. menjadi keharusan bagi Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

pembahasan suatu rancangan Peraturan Perundang-Undangan. pendapat dan penalaran atas konsep. masukan berupa masalah dan pokok penyebab masalah yang berkembang di masyarakat. politik atau kepentingan kelompok tertentu. dan selanjutnya dapat diramu dengan masukan yang diperoleh dari hasil penyebarluasan dan dengar pendapat dengan pemangku kepentingan di atas. teori. dan masyarakat kecewa karena merasa tidak didengar aspirasinya. bahkan tindakan anarkhis dan melawan hukum. Hal itu pun berlaku terhadap pengawasan aturan hukum lainya yang telah berbentuk sekalipun. Inilah sebenarnya. banyak Peraturan Perundang-Undangan yang tidak dapat dilaksanakan atau mendapat reaksi keras dari sebagian masyarakat. Dengan demikian. termasuk langkah pemecahannya. pengalaman. serta prinsip pokok benar sendiri dan untuk kepentingan kekuasaan. dan mengaktualisasikan ketidak puasannya dengan penolakan.11 Tradisi ini adalah cerminan dari konsep dasar adanya pembagian kekuasaan dalam suatu pemerintahan negara hukum demokratis. Kondisi demikian. dan legal formal. menjadikan masyarakat bersikap apatis. penyusunan. diperlukan pemahaman terhadap keberagaman nilai dan norma yang hidup dan berlaku di masyarakat. UUD 1945 sebagai hukum tertinggi yang dianut sistem pemerintahan negara Indonesia memberi batasan dan wewenang kepada lembaga legislatif untuk membuat Undang-undang dengan sistem pembagian kekuasaan yang juga melibatkan kekuasaan eksekutif.RI 35 .pada plihan kedua tersebut diatas. kenapa proses partisipasi masyarakat tidak berjalan sebagaimana diharapkan. melalui konsituennya dalam kegiatan reses. dan karena tidak sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Untuk itu. serta aspirasi pemangku kepentingan yang membutuhkan pengaturan dapat dianalisis. Demikian pula akan sangat baik apabila setiap anggota DPR mampu menggali dari masyarakat berkepentingan langsung. demonstrasi. dengan memberdayakan masyarakat untuk berperan aktif di dalam proses perancangan. Sehingga data/informasi. Perlu dipahami bahwa paham konstitusional mensyaratkan batasan terhadap penggunaan akses Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . materi muatan dan konsepsi RUU yang akan disusun seharusnya tidak hanya didasarkan pada hasil: pemikiran. perencanaan. untuk mengetahui dan memahami masalah dan penyebab masalah yang sebenarnya dihadapi masyarakat dan/atau pemangku kepentingan. Peranan Mahkamah Konstitusi Pendahuluan Dalam negara moderen sudah menjadi tradisi adanya pengawasan terhadap pelaksanaan kekuasaan pembentukan terhadap (rancangan) Undang-undang oleh lembaga legislatif.

13 Lembaga ini menilai kenstitusionalitas semua UU organik (Institutional Act). Di Jerman dan Perancis ada instansi tersendiri untuk menilai segi konstitusionalitas suatu UU. Dalam teori lembaga penguji konstitusionalitas UUD umumnya adalah pembuat UU. dan Peranan Mahkamah Konstitusi dalam Proses Pembentukan Undang-Undang . pasal dan/atau bagian UU yang dianggap pemohon bertentangan dengan UUD.15 Di Indonesia.12 Di Perancis. lembaga ini hanya memberi putusan jika diminta.. Lembaga ini dapat memberi putusan sesudah maupun sebelum UU diundangkan. hakim.kekuasaan yang berlebih-lebihan. Pengaturan pembentukan dan materi muatan aturan hukum yang jelas-jelas diatur konstitusi adalah tidak dapat ditafsir lebih jauh lagi. Kewenangan MK itu ditetapkan dalam UUD 1945 melalui Perubahan Ketiga. Dalam kaitan dengan wewenang menguji MK itu menarik dilihat bagaimana peranan MK terhadap proses pembentukan UU di Indonesia.14 Hal ini berbeda dengan Bundesverfassungsgericht. namanya Bundesverfassungsgericht diatur dalam Pasal 93 Grundgezetse jo. Conseil Constitutionnel menguji dan hanya boleh menguji sebelum UU diundangkan.. perdana menteri. . ketua majelis nasional. yaitu: 1. Pengujian UU secara formal. Permintaan ini hanya dapat diajukan oleh orang-orang yang diberi hak oleh UUD untuk itu. yakni menguji sejauhmana UU yang bersangkutan sesuai atau tidak bertentangan dengan UUD. Pasal 94. ” Pengujian UU MK ini adalah pengujian konstitusionalitas suatu UU. Apa yang dimaksud pengujian formal ini? Dalam hal suatu pembentukan UU tidak 36 Bab III Proses Perubahan Undang-Undang. Pengujian UU secara materil. Lingkungan orang yang dapat meminta putusan lembaga ini pun lebih besar. yakni pengujian terhadap suatu UU dilakukan karena proses pembentukan UU tersebut dianggap tidak memenuhi ketentuan berdasarkan UUD. yaitu pengujian terhadap suatu UU dilakukan karena terdapat materi muatan dalam ayat.. tepatnya pada Pasal 24C ayat (1) yang menyatakan: ”Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji Undang-undang terhadap Undang-undang Dasar. kewenangan menguji UU terhadap UUD atau sering dikenal dengan istilah judicial review tersebut diserahkan kepada MK. dan ketua senat. Terhadap UU lainnya. tugas menilai segi konstitusionalitas diserahkan pada Conseil Constitutionnel diatur dalam Pasal 61 Constitution. Namun sebelumnya akan dijelaskan pengertian pengujian. atau suatu organ yang khusus ditunjuk untuk itu. Di Jerman. Ada dua macam bentuk pengujian. Kekuasaan pemerintahan negara haruslah berlandaskan pada sistem kontitusional. Orang-orang itu adalah kepala negara. 2. Partisipasi Publik.

Menurut UU No. b) Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam Undang-undang. pasal dan/atau bagian UU tersebut tidak lagi mempunyai kekuatan hukum mengikat (not legally binding). Pemohon pengujian. Siapa pemohon pengujian? Dalam hukum acara. pasal dan/ atau bagian tertentu UU yang sedang diuji serta latar belakang proses pembahasan RUU yang dimuat dalam risalah rapat pembahasan. yaitu: 1. Peranan dan Pengaruh Putusan MK Terhadap DPR Ada beberapa hal mendasar yang perlu diperhatikan sebagai akibat peranan MK tersebut dalam kaitan dengan proses pembentukan UU. c) Badan hukum publik atau privat. Begitu besarnya pengakuan atas hak konstitusional warga dan kesempatan untuk mengoreksi UU memberikan pengaruh besar terhadap pembentukan UU. tentu langkah-langkah yang bersifat pencegahan seyogianya menjadi beban lebih kepada peranan pembentuk (penyusun) UU. pemohon pengujian disebut dengan pihak yang memiliki kedudukan hukum (legal standing). yaitu: a) Perorangan warga negara Indonesia. Sebaliknya. sosiologis dan yuridis mengenai latar belakang perumusan suatu ayat. 2. Keterangan DPR dapat berupa keterangan lisan dan keterangan tertulis yang memuat aspek filosofis. Akibat hukum putusan MK. hanya materi muatan ayat.memenuhi ketentuan pembentukan UU berdasarkan UUD maka UU tersebut secara keseluruhan dinyatakan MK tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. 24 Tahun 2003 yang dapat mengajukan pemohonan adalah pihak yang menganggap hak dan/atau wewenang konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya Undang-undang. Keterangan yang sedemikian ini penting Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . d) Lembaga negara. Sebaliknya pengujian materil. Dan bagaimana kedudukan DPR sebagai lembaga pemegang kekuasaan membentuk UU dalam hubungan dengan MK? Jawaban atas pertanyaan ini adalah MK dapat meminta kepada DPR mengenai keterangan dan/atau risalah rapat pembahasan RUU terkait dengan UU yang sedang diuji. 3. Kedudukan DPR dalam pengujian UU. Untuk menghilangkan konflik yang akan mengakibatkan pembatalan Undang-undang.RI 37 . hingga dapat dibenarkan mengajukan permohonan pengujian.

selain prakarsa yang berasal Pemerintah dan DPD. Terhadap ayat. roses pembentukan Undang-Undang bertujuan memberikan kemudahan bagi DPR dalam membentuk Undang-Undang. Materi muatan UU tetap berlaku. Partisipasi Publik.disampaikan karena proses pembentukan UU itu sendiri melalui tahapan panjang yang memiliki kekhasan masing-masing norma yang diatur. pasal dan/atau bagian UU dalam proses pembahasan misalnya umumnya dimasukan di dalam daftar inventarisasi masalah (DIM). pasal dan/atau bagian UU. pasal dan/atau bagian UU yang dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 berakibat hukum tidak memiliki kekuatan hukum mengikat. maka DPR sebagai lembaga pembentuk UU berkewajiban mengubah (mengamandemen) ayat atau pasal terkait sesuai atau tidak bertentangan dengan nilai UUD 1945. P 38 Bab III Proses Perubahan Undang-Undang. Dan bagaimana proses mengubah UU tersebut selanjutnya merupakan bagian dari fungsi DPR dalam pembentukan UU. Prakarsa yang datang dari DPR seperti ini disebut Usul Inisiatif DPR. Karena itu ayat. Tabel berikut mendeskripsikan besarnya jumlah perkara pengujian UU kepada MK dari tahun 2003-2008. Bagaimana akibat hukum putusan MK? Dan bagaimana pengaruh putusan MK terhadap proses pembentukan UU? Putusan Mahkamah Konstitusi terhadap “permohonan” yang diajukan kepadanya adalah bersifat final dalam arti tidak dapat diajukan upaya hukum lagi. Sebagai suatu proses. atau 2. Akibat hukum putusan MK dapat berupa: 1. dan Peranan Mahkamah Konstitusi dalam Proses Pembentukan Undang-Undang . Setiap tahapan memberikan kepastian kemudahan bagi pemenuhan hak konstitusional anggota. fungsi Mahkamah Konstitusi adalah mengadili dan memutus pada tingkat pertama dan terakhir. komisi atau gabungan komisi dan Baleg untuk mengajukan usulan pembentukan UU. dan biasanya mencakup mengenai aspek filosofi. pembahasan RUU dan pengundangan. Akibat putusan yang mengakibatkan tidak berlakunya ayat. pembentukan UU dilakukan melalui tahapan yang saling berkait erat antara satu tahapan dengan tahapan lain secara berkesinambungan. sosiologis dan yuridis dari suatu norma tertentu di dalam pembahasan DIM tersebut. baik dari tahapan persiapan RUU. Dengan kata lain.

29 Oktober 2008 39 .Tabel 1 Rekapitulasi Perkara Pengujian Undang-Undang Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Tahun 2003 s.RI Sumber : Mahkamah Konstitusi.d 29 Oktober 2008 NO THN SISA YANG LALU JML (3+4) KABUL TOLAK TARIK KeMBALI TeRIMA PUTUS TIDAK DITeRIMA JUMLAH PUTUSAN (6+7+8+9=10) SISA TAHUN INI (5-10) JUMLAH UU YANG DIUJI KeT Buku Panduan Tentang Proses Legislasi -1 1 -2 2003 -3 - -4 24 -5 24 -6 - -7 - -8 3 -9 1 -10 4 -11 20 -12 16 -13 (8)2 tidak berwenang 35 28 29 27 27 73 12 9 7 10 4 14 12 9 12 10 2 3 4 5 6 JML 2004 2005 2006 2007 2008 156 20 12 9 7 10 - 27 25 27 30 23 41 47 37 36 37 33 51 11 10 8 4 8 43 8 14 8 11 10 15 12 4 11 7 6 150 4 2 5 3 - DPR .

BAB IV Penutup .

Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . pasal dan/atau bagian UU yang dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945.Dalam tahapan pembahasan. Akibat putusan MK yang bersifat mengikat tidak bisa tidak suatu UU yang dikoreksi perlu dilakukan perubahan. baik terhadap ayat.RI 41 . Pada akhirnya dengan diterbitkannya buku panduan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi semua pihak yang berkepentingan dalam upaya meningkatkan kewenangan Dewan dan berpartisipasi aktif dalam pembentukan UU. Kualitas suatu UU juga dipengaruhi oleh peranan MK sebagai lembaga yang berwenang menguji norma UU. dari segi substansi darimanapun asal prakarsa RUU justru perdebatan dalam pembahasan bersama DPR dan Pemerintah menjadi sangat penting. Dalam rapat di DPR selain pembahasan terhadap DIM juga peranan publik secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi kualitas substansi RUU.

com Rabu 9 September 2009 8 Perhatikan ketentuan Pasal 20 ayat (2) UUD 1945 yang menggariskan dan menggambarkan hubungan antara dua lembaga yang menyatakan: ”Setiap RUU dibahas oleh DPR dan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama”. hal. Buku 2. www. Konstitusi Press. 4 Sekretariat Jenderal DPR RI. 2 Badan Legislasi DPR-RI. Ilmu Perundang-undangan. Mahkamah Konstitusi Jerman ini disebut juga Federal Constitutional Court. yaitu: UUD Negara RI Tahun 1945. last amended August 31. 1990). 5 Ibid 6 erni Setyowati dan M. 2007. 288-289. 10 Maria Farida Indrati. 11 Perancis membolehkan UU yang masih berupa "rancangan" untuk diuji (diatur dalam Bab VII dan VIII). Setjen 2009.. 24 Tahun 2003 tidak mengatur uji tentang UU yang masih berupa "rancangan". Peraturan Presiden (Perpres). melainkan terhadap UU semata. hal.hukum online. Jakarta. Jakarta. Nur Sholikin.Catatan Akhir Undang-Undang (UU) adalah peraturan perundang-undangan yang memiliki pengertian peraturan tertulis yang dibuat oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat umum. Penerbit Kanisius. Panduan Penerapan Metode Dampak Regulasi di Lingkungan DPR RI. dalam UU Nomor 10 Tahun 2004 juga dikenal jenis dan sekaligus hirarki peraturan perundang-undangan yang diatur pada Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 10 Tahun 2004. parlemen. 12 Belum lama ini lembaga ini mengeluarkan putusan mengenai kesesuaian penerapan antara peraturan abortus dan UUD Jerman. Op. Peraturan Pemerintah (PP). 9 Jimly Asshiddiqie. Bagaimana Undang-Undang Dibuat. sedangkan UU No.net 7 www. 13 Lembaga ini dikatakan memiliki wewenang semi-yudisial dan tidak termasuk dalam 1 42 Catatan Akhir (end Notes) . Di samping jenis UU.. Perihal Undang-Undang. diatur pada Pasal 93 dan Pasal 94 Grundgesetz German Constitution. 1949. May 23. dan Peraturan Daerah (Perda).cit. 8. UndangUndang (UU). hal. evaluasi Prolegnas 2005-2009 3 Maria Farida Indrati.

this period shall be reduced to eight days. However. Berwenang untuk memutuskan apakah sebuah aturan hukum atau aturan yang masih dalam usulan dan belum ditetapkan atau diundangkan sesuai tidak dengan konstitusi. reference to the Constitutional Council shall suspend the time limit for promulgation. Acts of Parliament may be referred to the Constitutional Council. RUU. Apabila Mahkamah Konstitusi menyatakan tidak konstitusional maka: A provision declared unconstitutional shall be neither promulgated nor implemented. persengketaan mengenai referendum. 15 I. alih bahasa Adi Nugroho dan M. In the cases provided for in the two preceding paragraphs. To the same end. No appeal shall lie from the decisions of the Constitutional Council. at the request of the Government. Buku Panduan Tentang Proses Legislasi DPR . the Constitutional Council must rule within one month. van der Vlies. halaman 157. before their promulgation. Jakarta. 2002. Tjeenk Willink-Zwolle.RI 43 . LeIP. the President of the National Assembly. by the President of the Republic.J. which shall rule on their conformity with the Constitution. They shall be binding on public authorities and on all administrative authorities and all courts (Pasal 62). berbagai macam sengketa mengenai pemilihan Presiden atau parlemen. before their promulgation. before their entry into force. the President of the Senate. W. Lihat Wim Voermans. and the rules of procedure of the parliamentary assemblies. Komisi Yudisial di Beberapa Negara Uni eropa. Selain itu lembaga ini memiliki wewenang untuk memberikan keputusan atas kemungkinan dilakukannya amandemen.e. Zaki Hussein. or sixty deputies or sixty senators.C. Handboek Wetgeving. the Prime Minister. halaman 68 14 Pasal 61 French Constitution berbunyi: Institutional Acts.kelompok peradilan (biasa). if the matter is urgent. must be referred to the Constitutional Council. In these same cases.

parlemen. DPD.net Jimly Asshiddiqie. Penerbit Kanisius. alih bahasa Adi Nugroho dan M.C. 2006 Maria Farida Indrati. Perihal Undang-Undang. Handboek van Wetgeving. dan DPRD UU No. Tjeenk Willink-Zwolle. LNRI Tahun 2004 No. LeIP. Buku 2. 10 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.Daftar Pustaka Buku dan Artikel Badan Legislasi DPR-RI. DPR. UU No. Setjen 2009. I. 53. Perubahan Kedua. Bagaimana Undang-Undang Dibuat. www. 1987 Wim Voermans. Zaki Hussein. 4316 44 Daftar Pustaka . Nur Sholikin. Van der Vlies. 27 Tahun 2009 tentang MPR.. Perundang-undangan UUD Tahun 1945 & Perubahan Pertama. Ilmu Perundang-undangan. LN RI Tahun 2003 No. tentang Mahkamah Konstitusi. Konstitusi Press.J. 98. Jakarta. Komisi Yudisial di Beberapa Negara Uni eropa. TLN RI No. W. 2002. Perubahan Ketiga UUD Negara Tahun 1945 dan Perubahan Keempat UUD Negara Tahun 1945 UU No. Panduan Penerapan Metode Dampak Regulasi di Lingkungan DPR RI. Jakarta. Jakarta. 24 Tahun 2003. TLNRI No. evaluasi Prolegnas 2005-2009 erni Setyowati dan M. 2007 Sekretariat Jenderal DPR RI.e.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful