Alokasikan Rp 750 M, Pemerintah Bedah 250.

000 Rumah
Selasa, 24 Januari 2012 | 13:21

Djan Faridz (sumber: Antara)

Program bedah rumah ini didukung presiden lantaran dinilai pro-poor, propertumbuhan, dan pro-industri. Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) berencana melakukan bedah rumah sebanyak 250.000 unit sepanjang tahun ini dengan anggaran Rp 750 miliar. Program tersebut untuk menyejahterakan masyarakat berpenghasilan rendah khususnya di daerah. Menteri Perumahan Rakyat Djan Faridz mengungkapkan, program bedah rumah pada tahun ini awalnya hanya 50.000 unit. "Akan ditingkatkan menjadi 105.000 unit melalui program modifikasi yang dirancang pemerintah," ungkap dia kepada wartawan di Jakarta, baru-baru ini. Kemenpera, terangnya, tengah mengajukan tambahan rumah yang akan dibedah sebanyak 150.000 unit. Namun, keputusannya menunggu Kementerian Keuangan terkait besaran anggaran yang dapat dicairkan. "Kami masih tunggu persetujuan dari sana," ujar dia. Djan menambahkan, Kemenpera belum memutuskan daerah mana yang diprioritaskan menjalankan program bedah rumah ini. Karena itu, dia meminta pemerintah daerah ikut aktif. "Nama pemerintah kabupaten belum ditentukan. Tetapi yang diprioritaskan adalah wilayah dengan indeks kemiskinan yang tinggi," tutur dia. Kendati demikian, tambah dia, program bedah rumah ini didukung presiden lantaran dinilai pro-poor, pro-pertumbuhan, dan pro-industri. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah meminta peran aktif walikota dan bupati dalam menyediakan rumah bagi masyarakat. Selain itu, perbaikan perumahan juga harus terus dilakukan. "Saya minta walikota dan bupati berinisiatif melakukan perbaikan rumah masyarakat, baik itu bedah rumah atau apa namanya macam-macam. Supaya rumah yang tidak layak menjadi layak," kata Presiden.
Penulis: ID/Eko Adityo Nugroho/WBP Sumber : http://www.beritasatu.com/bisnis/27593-alokasikan-rp-750-m-pemerintah-bedah-250000rumah.html#Scene_1

1.600 Rumah Warga Tak Mampu Dibangun
Tuesday, 24 January 2012 BANTAENG Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantaeng akan kembali membangun sekitar 1.600 unit rumah swadaya bagi masyarakat tak mampu tahun ini. Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah mengatakan,pembangunan rumah swadaya tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) karena menilai Bantaeng telah berhasil membangun rumah swadaya di tahun sebelumnya. Kalau mengenai anggaran pastinya saya tidak tahu, karena itu langsung ke masyarakat dan masyarakat sendiri yang akan mengelolanya nanti, ujar Nurdin saat di hubungi SINDOvia ponselnya,kemarin. Alumnus Universitas Kyusu Jepang ini menjelaskan, program tersebut mulai digagas sejak tahun 2011 dan ternyata disambut baik oleh masyarakat dan Kemenpera. Kami berharap, kelak tak ada lagi rumah kumuh di Bantaeng. Apa lagi Kementerian Sosial RI juga akan mengeluarkan bantuan sejenis untuk membantu masyarakat, tandas orang nomor satu di daerah berjuluk Butta Toa ini Sementara itu, pengelola pelaksana Lembaga Keuangan Mikro (LKM) pantai Lamalaka, Abdul Salam Sijaya mengatakan, pada tahun sebelumnya ditargetkan 500 unit rumah tersentuh renovasi. Namun baru 150 unit yang sudah rampung 100%. Sementara pembangunan maupun renovasi rumah masyarakat tak layak huni pada tahun 2012, pihaknya memprogramkan 600 unit yang tersebar merata di seluruh Kabupaten Bantaeng. Selain membangun dan merenovasi rumah tidak layak huni, LKM Pantai Lamalaka juga membangun fasilitas umum seperti Mandi, Cuci dan Kakus (MCK) serta pembangunan jalan setapak. Hingga akhir tahun 2011, jumlah MCK yang barhasil dibangun sebanyak empat unit di Kelurahan Mallililingi, Lamalaka, Desa Pajukukang dan Desa Baruga. Sedangkan pembangunan jalan setapak mencapai seribu meter di berbagai lokasi. Semua kecamatan akan tersentuh program renovasi ini, tandasnya. Dia menambahkan, salah satu alasan pemerintah melanjutkan program rumah swadaya ini karena dapat meningkatkan semangat gotong royong di tengah masyarakat.Selain itu,program ini juga melibatkan kelompok swadaya masyarakat, terutama para pemilik rumah. Meski dilakukan secara swadaya, namun kelompok swadaya tersebut tetap mendapatkan upah dari pemerintah. rahmi djafar Sumber :

PENURUNAN BUNGA KPR

Kemenpera Lobi Perbankan
Selasa, 24 Januari 2012

JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) akan terus melakukan negosiasi dengan perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) dengan skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP). Untuk itu, Menpera Djan Faridz optimistis suku bunga kredit dapat diturunkan. "Saat ini, saya sedang melakukan negosiasi dengan beberapa bank, termasuk BTN, untuk menurunkan suku bunga FLPP. Saya optimis bisa diturunkan," kata Djan Faridz pada acara rapat kerja Kemenpera di Jakarta, pekan lalu. Menurut dia, penurunan suku bunga KPR dengan skema FLPP ini diharapkan dapat membantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki rumah, karena dengan suku bunga kredit yang rendah dan angsuran yang terjangkau. Bantuan FLPP juga sangat bermanfaat bagi masyarakat yang ingin membeli rumah melalui KPR. Selain itu, pegawai negeri sipil (PNS) juga bisa menggunakan fasilitas bantuan pembiayaan dari Kemenpera ini. Meski demikian, Djan Faridz mengatakan, saat ini Kemenpera terus melakukan usaha untuk menurunkan suku bunga FLPP. Walaupun belum terjadi kesepahaman dari beberapa pihak. Hal ini bisa dilihat dari beberapa pernyataan dari sejumlah nara sumber serta pengamat yang dikutip media massa yang selalu merespons negatif kebijakan dari Kemenpera. "Kami terus diserang oleh pernyataan dari para narasumber yang dikutip media massa. Padahal niat kami untuk menurunkan suku bunga FLPP ini hanya untuk membantu meringankan beban masyarakat yang belum memiliki rumah," ujarnya. Saat ini, lanjut Djan Faridz, bunga KPR komersial yang ditawarkan oleh bank sudah turun menjadi sebesar 9 persen. Padahal, Kemenpera memberikan bantuan likuiditas sebesar 60 persen. Tentunya suku bunga ini bisa lebih diturunkan mengingat dana yang diberikan pemerintah cukup besar. "Maka itu, kami akan terus melakukan negosiasi dengan pihak bank, sehingga mereka bersedia memberikan bunga sekitar 7 persen atau bahkan 5-6 persen saja," ujarnya. Suku bunga yang ditawarkan tersebut sudah termasuk asuransi jiwa dan asuransi jika terjadi kebakaran. "Semuanya bisa dinegosiasikan asalkan semua pemangku kepentingan di bidang perumahan ini memiliki kepedulian untuk membantu masyarakat," katanya. (Novi)

Sumber : http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=295785

CEGAH KISRUH PERUMAHAN

Perlu Dibentuk Sistem Penyediaan Rumah Publik
Oleh Eko Adityo Nugroho | Selasa, 24 Januari 2012 | 12:39

Sejumlah pengunjung memperoleh informasi pada pameran properti perumahan yang bekerja sama dengan sejumlah bank di Jakarta, belum lama ini. Deputi Pembiayaan Kemenpera Sri Hartoyo menegaskan, program subsidi rumah yakni fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) akan tetap berjalan pada akhir Januari 2012, walaupun sampai saat ini antara pemerintah dengan bank penyalur belum ada kata sepakat mengenai suku bunga. Foto:.Investor Daily/EKO S HILMAN

JAKARTA Pemerintah diminta membentuk sistem baru penyediaan rumah publik (public housing delivery system) guna mencegah kekisruhan dari sisi permintaan (demand) dan pasokan (supply) perumahan di kemudian hari. Sistem ini akan dijalankan oleh lembaga yang khusus mengurus perumahan publik. Pengamat perumahan dan permukiman dari Institut Teknologi Bandung (ITB) M Jehansyah Siregar mengungkapkan, selama ini system penyediaan perumahan rakyat belum terintegrasi satu sama lain. Penyediaan rumah publik masih dilakukan secara terpecah antara pendanaan, penyiapan pembangunan, proses pembangunan, penyerahterimaan, hingga pengelolaan. Akibatnya, kekacauan penyediaan perumahan public akan terus terjadi. Kasus yang tengah muncul saat ini berupa penghentian penyaluran dana fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) dan adanya batasan luas lantai rumah yang mesti dibangun pengembang merupakan akibat dari sistem penyediaan rumah publik yang tidak terintegrasi tersebut. Perlu terobosan untuk mengatasi masalah itu dengan membentuk sistem penyediaan rumah publik yang terintegrasi seperti Housing Development Board (HDB) yang ada di Singapura. Jangan menggunakan mindset lama yang terpecah-pecah, tegas dia saat dihubungi Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Sumber : http://www.investor.co.id/home/perlu-dibentuk-sistem-penyediaan-rumahpublik/28572#Scene_1

Property Tuesday, 24 01 2012

Pemerintah Tunggu Pengajuan Proposal FLPP Baru dari Perbankan
BY MUHAMMAD RINALDI

Pemerintah menilai bunga kredit FLPP seharusnya turun karena BI Rate juga sudah turun di kisaran 6%. (IFT/STANLIE)

JAKARTA (IFT) - Kementerian Perumahan Rakyat menargetkan pelaksanaan perjanjian kerjasama operasional (PKO) dengan perbankan dalam penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) akan tuntas pada Februari 2012. Penegasan itu diungkapkan Djan Faridz, Menteri Perumahan Rakyat. Saat ini pemerintah masih menunggu pengajuan proposal baru dari perbankan terutama menyangkut penurunan suku bunga FLPP. ³PKO yang baru akan selesai dalam waktu dekat dan cepat, paling lambat Februari sudah tuntas dan program FLPP dapat kembali digulirkan,´ ungkapnya di Jakarta, Kamis malam. Ditambahkan pihaknya saat ini menunggu pengajuan proposal besaran suku bunga (lending rate) yang akan diberlakukan bank-bank pelaksana secara tertulis, berikut kesanggupan jumlah unit KPR yang mampu disalurkan sepanjang 2012, yang dirinci per tiga bulanan.

Ditegaskan permintaan penurunan suku bunga FLPP dilakukan untuk menyesuaikan dengan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia yang sudah turun menjadi 6%. Saat penandatanganan PKO yang terdahulu besaran suku bunga acuan BI masih sekitar 8%. ³Logisnya kalau bunga acuan BI sudah turun, bunga FLPP juga bisa turun,´ tegasnya. Ke depan, sambung Djan, Kemenpera hanya akan menempatkan dana FLPP sebesar 50% di bank pelaksana, sedangkan sisana diharapkan merupakan dana dari pihak bank. Untuk itu, negosiasi dengan pihak bank akan terus dilakukan. Pemerintah beralasan upaya penurunan suku bunga FLPP untuk membantu masyarakat agar dapat memiliki rumah dengan suku bunga yang lebih terjangkat. Menpera meminta bunga FLPP bisa turun menjadi 5%-6%, dari saat ini sekitar 8,15%8,5%. Apalagi bunga KPR komersil yang ditawarkan bank sudah turun menjadi sebesar 9%. Bahkan ada bank yang menawarkan bunga KPR sebesar 7,5%. ³Tentunya suku bunga tersebut bisa lebih diturunkan mengingat dana yang diberikan pemerintah selama ini cukup besar yakni 60%. Nanti selain bunga rendah, penerima FLPP juga akan mendapatkan fasilitas asuransi jiwa dan asuransi kebakaran,´ katanya. Beri Perhatian Djan Faridz juga mengajak pemerintah daerah serta orang-orang berpunya di daerah untuk memberikan perhatian khusus bagi orang miskin di sekitarnya. Salah satu bentuk perhatian yang dapat dilakukan adalah melalui program bedah rumah sehingga orang miskin dapat memiliki serta tinggal di rumah yang layak huni. ³Pemerintah daerah dan konglomerat baik yang ada di ibukota maupun di daerah harus memiliki perhatian khusus kepada orang miskin. Salah satunya bisa melalui program bedah rumah sehingga mereka dapat tinggal di rumah yang layak huni,´ ujarnya. Menurut dia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sangat mendukung program bedah rumah ini karena sangat bermanfaat bagi masyarakat. Kementerian Perumahan Rakyat sudah menjalankan program bedah rumah. Kemenpera nantinya akan memberikan bantuan sekitar Rp 6 juta untuk memperbaiki atap, lantai dan dinding rumah masyarakat yang rusak melalui penyaluran Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Pada 2012 ditargetkan bisa dilakukan bedah rumah bagi sekitar 250.000 unit rumah. Jika ditambah partisipasi dari pemerintah daerah dan konglomerat, kata Djan, akan membuat realisasi rumah yang diperbaiki makin bertambah. Presiden usai Rapat Kerja di Kemayoran, Jakarta meminta peran aktif Walikota dan Bupati dalam menyediakan rumah bagi masyarakat. Selain itu, perbaikan perumahan juga harus terus dilakukan.

Kepala negara juga meminta para pemimpin daerah untuk tidak perlu takut dalam hal anggaran. Pasalnya, pemerintah pusat sudah menyisihkan dana dalam anggaran Kemenpera. Tak hanya perbaikan rumah, pemerintah juga akan menyediakan sarana pendukung lainnya. (*) Annisa Margrit Muhammad Rinaldi

Sumber : http://www.indonesiafinancetoday.com/read/21185/Pemerintah-Tunggu-PengajuanProposal-FLPP-Baru-dari-Perbankan

Pemerintah Bangun 15 Ribu Rumah Nelayan
Kepemilikan rumah rakyat ini menggunakan sistim pembayaran Kredit Perumahan Rakyat.
SELASA, 24 JANUARI 2012, 12:18 WIB

Nur Farida Ahniar, Harwanto Bimo Pratomo

VIVAnews - Pemerintah menyediakan anggaran sebesar Rp1,6 triliun untuk program perumahan rakyat bagi para nelayan tahun ini. Dana tersebut untuk pembiayaan sebanyak 15 ribu rumah. Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo, mengatakan perumahan rakyat itu diperuntukkan bagi nelayan dengan tingkat perekonomian miskin, hampir miskin, dan di bawah kemiskinan. "Program itu mulai jalan pada 2012," ujarnya di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Selasa 24 Januari 2012. Kepemilikan rumah rakyat ini menggunakan sistim pembayaran Kredit Perumahan Rakyat (KPR). Hal ini terkait dengan program kluster 4 pemerintah mengenai pengentasan kemiskinan. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat puluhan juta penduduk Indonesia masih tergolong miskin. Jumlahnya mencapai 29,89 juta jiwa per September 2011 atau setara 12,36 persen dari total penduduk Indonesia. Rinciannya, jumlah penduduk sangat miskin pada periode itu sebanyak 10,09 juta jiwa atau 4,17 persen. Sedangkan penduduk miskin 19,79 juta jiwa, atau 8,19 persen dari total jumlah penduduk. Data BPS juga menyebutkan jumlah penduduk hampir miskin mencapai 27,82 juta jiwa atau 11,5 persen. Meski relatif turun dibanding Maret 2011 sekitar 30,02 juta jiwa, pemerintah sepertinya tak cukup puas dalam upaya mengentaskan kemiskinan. Dana sekitar Rp99 triliun untuk program itupun pun digelontorkan selama 2012. Dana itu berasal dari gabungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta swasta.‡ VIVAnews http://bisnis.vivanews.com/news/read/282395-pemerintah-bangun-15-ribu-rumah-nelayan

24 Januari 2012 | 13:25 wib

Pemerintah Bangun Perumahan Rakyat Khusus Nelayan
JAKARTA, suaramerdeka.com - Pemerintah akan membiayai pembangunan perumahan rakyat yang diperuntukan bagi nelayan dengan tingkat perekonomian miskin, hampir miskin, dan di bawah kemiskinan. "Program itu mulai jalan pada 2012," ujar Menteri Kelautan dan Perikanan, Sharif Cicip Sutardjo di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Selasa (24/1). Pemerintah telah menyediakan anggaran sebesar Rp 1,6 triliun untuk program perumahan rakyat bagi para nelayan tahun ini. Dana tersebut untuk pembiayaan sebanyak 15 ribu rumah. Kepemilikan rumah rakyat ini menggunakan sistim pembayaran Kredit Perumahan Rakyat (KPR). Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya telah mencatat, puluhan juta penduduk Indonesia masih tergolong miskin. Jumlahnya mencapai 29,89 juta jiwa per September 2011 atau setara 12,36 persen dari total penduduk Indonesia. ( vvn / CN32 )
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/01/24/107577/Pemerintah-BangunPerumahan-Rakyat-Khusus-Nelayan