You are on page 1of 5

PENTINGKAH PENDIDIKAN PERS di KALANGAN SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS?

OLEH: YUFI MAHENDRA WARDANA (XII IPA 6/34)


SEKOLAH MENEGAH ATAS (SMA) NEGERI 1 SALATIGA November 2011

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara yang memiliki kebebasan demokrasi yang tinggi. Dengan kebebasan demokrasi tersebut tentunya Negara Indonesia memiliki komponen-komponen dalam memajukan demokrasi tersebut, salah satunya adalah pers. Keberadaan Pers di Indonesia tentunya berfungsi untuk memajukan dan membantu tatanan masyarakat. Namun, pers terkadang juga menjadi bumerang tersendiri bagi masyarakat tertentu. Hal yang demikian ini tidak terlepas dari pendidikan sejak dini tentang pers yang minimal. Dan tentunya pendidikan sejak dini tentang pers tersebut berkaitan dengan pendidikan pers masa SMA. Dari latar belakang tersebut penulis akan melakukan penelitian tentang hubungan pers dengan pendidikan pada masa sekolah menengah atas. 1.2 Rumusan Masalah 1. Mengapa pendidikan pers harus dilakukan sejak dini? 2. Apa manfaat pendidikan pers masa SMA untuk masa mendatang? 3. Apa contoh perilaku siswa Sekolah Menengah Atas dalam memajukan pendidikan pers di Indonesia? 4. Bagaimana peranan sekolah dalam membantu pendidikan Pers di Indonesia? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Mengetahui penyebab pendidikan pers harus dilakukan sejak dini. 2 Mengetahui manfaat pendidikan pers masa SMA untuk masa mendatang. 3 Mengetahui peran siswa Sekolah Menengah Atas dalam memajukan pendidikan pers di Indonesia. 4 Mengetahui peranan sekolah dalam membantu pendidikan Pers di Indonesia. 4.1 Manfaat penelitian Mengetahui Peranan pendidikan pers di masa mendatang. Khususnya pendidikan pers masa SMA.

BAB II KAJIAN PUSTAKA


Pengertian Pers Menurut UU pers no 40 tahun 1999, Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan meyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia. 2. Pengertian Pendidikan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 1. METODE PENELITIAN a. Metode Penyebaran Angket Metode ini dilakukan dengan menyebar angket sebanyak 15 lembar. Angket yang berisi pertanyaan yang sesuai dengan penelitian disebarkan ke siswa dan siswi kelas 12 SMA Negeri 1 Salatiga. b. Metode Wawancara Metode ini dilakukan dengan mewawancarai siswa dan siswi yang erat kaitannya dengan hal-hal yang berkaitan dengan pers di kalangan siswa dan siswi SMA Negeri 1 Salatiga. 2. Jadwal Penelitian Tabel 1.1 Jadwal Penelitian NO Nama Hari ke Kegiatan 1 2 3 4 5 6 7 1 Penyebaran Angket 2 Wawancara Narasumber 3 Analisis Data 4 Pengolahan Data 5 Pembahasan 1.

= Penelitian

BAB IV PEMBAHASAN Peran yang harus di lakukan lembaga pers di Indonesia yang sangat penting adalah untuk memajukan dan meberikan dampak positif bagi masyarakat luas. Namun perkembangannya malah seringkali memberikan dampak negatif. Oleh karena itu pendidikan pers di Indonesia sangat penting diwujudkan pada masa pendidikan. Pendidikan karakter pelaku-pelaku pers ini harus sudah diwujudkan di Sekolah Menengah Atas. Karena pada masa pendidikan ini pemikiran dan apresiasi terhadap tatanan hidup masyarakat sudah berkembang dan tentunya bukan kekanak-kanakan lagi. Apresiasi ini harus di tujukan kepada pemikiran positif, karena apabila hal itu tidak ditujukan ke pemikiran positif akan menimbulkan permasalahan yang mungkin saja rancu. Misalnya saja ada seorang anak pandai dalam bersosialisasi dan berapresiasi terhadap politik namun sejak dini dia tidak dididik untuk berperilaku sopan dan luhur kemudian dia lulus dan bekerja di sebuah lembaga jurbastik, karena dia tidak terbiasa berperilaku baik, akhirnya dia dalam mengapresiasikan di pers dia semena-mena sehingga menimbulkan suatu kerancuan yang terbilang hebat di masyarakat dan tentunya merugikan lembaga pers tersebut. Fungsi pendidikan pers di masa SMA adalah untuk mendidik karakter dan jiwa seorang siswa yang mau berpikir kritis terhadap suatu permasalahan mencakup pers sehingga setelah dia lulus dan pada akhirnya bekerja baik di masyarakat maupun di lembaga jurbastik akan memberikan pemikiran yang kritis dan tentunya dia tidak memihak pihak yang salah ataupun meberikan kerancuan di masyarakat ketika dia berapresiasi di dalam pers. Contoh perilaku siswa-siswi SMA mencirikan pendidikan pers adalah berani berpendapat dengan baik dan benar terhadap lingkungannya. Hal ini sangat penting karena dengan dia berpendapat maka akan muncul seribu pemikiran baru tentang lingkungannya. Contoh di atas merupakan sebagian perilaku yang menandakan pendidikan pers sedang berlangsung. Selain itu perilaku apresiasi terhadap pers dapat dimulai dari hal kecil misalnya adalah mengikuti berbagai ekstrakulikuler yang dapat mengembangkan jiwa pers yang baik. Misalnya saja mengikuti OSIS, Kepramukaan, Majalah dinding sekolah, Wartawan Sekolah. Selain itu juga seorang siswa atau siswi mengikuti program pelatihan pers di luar sekolah misalnya saja mengirimkan pendapat atau artikel ke suatu surat kabar. Melalui hal-hal tersebut tentunya jiwa kritis dan apresiatif terhadap suatu pers sudah melekat sejak dini. Peran Pendidik dan Pemerintah sangatlah penting dalam menciptakan perilaku yang sesuai dengan kode etik pers. Di samping tugas pendidik dalam menciptakan tatanan sosial yang baik bagi siswa-siswi, juga menciptakan pemikiran kritis yang mencerminkan warga negara yang baik dan mampu memberikan pendapat-pendapat yang sangat berguna bagi masyarakat Indonesia. Sedangkan peran pemerintah adalah memberikan sarana-sarana pengembang jiwa pers di kalangan siswa-siswi seperti halnya mengadakan lomba yang berhadiah mengenai kegiatan jurbastik.

BAB V PENUTUP Pendidikan pers sangat penting dilakukan pada usia dini karena apabila pendidikan pers tidak dilakukan akan menimbulkan suatu permasalahan atau penyimpangan yang sewena-wena terhadap kode etik pers. Manfaat dari pendidikan pers masa SMA adalah untuk mendidik perilaku seorang siswa setelah mereka lulus dan bekerja di sebuah lembaga pers akan memberikan yang terbaik. Peran siswa yang harus dilakukan untuk pers adalah berani berpendapat dengan baik dan benar terhadap lingkungannya dan contoh perilaku yang dapat mencerminkan hal tersebut adalah seperti halnya mengikuti kegiatan ekstrakulikuler atau seminar tentang Pers. Peran Pendidik dan Pemerintah sangatlah penting dalam menciptakan perilaku yang sesuai dengan kode etik pers. Peran pendidik dan pemerintah adalah memberikan sarana-sarana untuk pengembang jiwa pers yang baik di kalangan siswasiswi yang nantinya akan berkecimung di masyarakat.

SARAN Untuk menumbuhkan jiwa apresiasi terhadap pers yang terpenting adalah bagaiman cara seseorang untuk menimbulkan keterampilan terhadap pers. Tentunya pendidikan tentang pers tidak hanya dilakukan pada saat SMA saja tapi pemerintah juga dapat memberikan pelatihan apresesiasi terhadap pers kepada anak-anak. Seperti pengenalan pers terhadap anak-anak berupa Koran anak.

Daftar Pustaka Wikipedia.2011.Pers Indonesia, diakses tanggal 23 http://id.wikipedia.org/wiki/Pers_Indonesia Wikipedia.2011.Pendidikan, diakses tanggal 23 http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan

November November

2011, 2011,