ASKEP TYPHOID ABDOMINALIS

A. Pengertian Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1998 ). Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna, gangguan kesadaran, dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12 ± 13 tahun ( 70% - 80% ), pada usia 30 - 40 tahun ( 10%-20% ) dan diatas usia pada anak 12-13 tahun sebanyak ( 5%-10% ). (Mansjoer, Arif 1999). Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan pencernaan dan gangguan kesadaran (FKUI. 1999). B. Etiologi a) Salmonella thyposa, basil gram negative yang bergerak dengan bulu getar, tidak bersepora mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu: ‡ antigen O (somatic, terdiri darizat komplekliopolisakarida) ‡ antigen H(flagella) ‡ antigen V1 dan protein membrane hialin. b) Salmonella parathypi A c) salmonella parathypi B d) Salmonella parathypi C e) Faces dan Urin dari penderita thypus (Rahmad Juwono, 1996).

C. Patofisiologi Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses. Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu. Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.

D. Gejala Klinis Masa tunas 7-14 (rata-rata 3 ± 30) hari, selama inkubasi ditemukan gejala prodromal (gejala awal tumbuhnya penyakit/gejala yang tidak khas) : ‡ Perasaan tidak enak badan ‡ Lesu ‡ Nyeri kepala ‡ Pusing ‡ Diare ‡ Anoreksia ‡ Batuk ‡ Nyeri otot (Mansjoer, Arif 1999). Menyusul gejala klinis yang lain 1. DEMAM Demam berlangsung 3 minggu ‡ Minggu I : Demam remiten, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore dan malam hari ‡ Minggu II : Demam terus ‡ Minggu III : Demam mulai turun secara berangsur - angsur 2. GANGGUAN PADA SALURAN PENCERNAAN ‡ Lidah kotor yaitu ditutupi selaput kecoklatan kotor, ujung dan tepi kemerahan, jarang disertai tremor ‡ Hati dan limpa membesar yang nyeri pada perabaan ‡ Terdapat konstipasi, diare 3. GANGGUAN KESADARAN ‡ Kesadaran yaitu apatis ± somnolen ‡ Gejala lain ³ROSEOLA´ (bintik-bintik kemerahan karena emboli hasil dalam kapiler kulit) (Rahmad Juwono, 1996). E. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan laboratorium ‡ Pemeriksaan darah tepi : dapat ditemukan leukopenia,limfositosis relatif, aneosinofilia, trombositopenia, anemia ‡ Biakan empedu : basil salmonella typhii ditemukan dalam darah penderita biasanya dalam minggu pertama sakit ‡ Pemeriksaan WIDAL - Bila terjadi aglutinasi - Diperlukan titer anti bodi terhadap antigeno yang bernilaiu1/200 4 atau peningkatanukali antara masa akut dan konvalesene mengarah kepada demam typhoid (Rahmad Juwono, 1996). F. Penatalaksanaan Terdiri dari 3 bagian, yaitu : 1) Perawatan ‡ Tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari. ‡ Posisi tubuh harus diubah setiaps2 jam untuk mencegah dekubitus. ‡ Mobilisasi sesuai kondisi. 2) Diet

‡ Makanan diberikan secara bertahap sesuai dengan keadaan penyakitnya (mula-mula air-lunakmakanan biasa) ‡ Makanan mengandung cukup cairan, TKTP. ‡ Makanan harus menagndung cukup cairan, kalori, dan tinggi protein, tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang maupun menimbulkan banyak gas. 3) Obat ‡ Antimikroba ¾Kloramfenikol ¾Tiamfenikol ¾Co-trimoksazol (Kombinasi Trimetoprim dan Sulkametoksazol) ‡ Obat Symptomatik ¾Antipiretik ¾Kartikosteroid, diberikan pada pasien yang toksik. ¾Supportif : vitamin-vitamin. ¾Penenang : diberikan pada pasien dengan gejala neuroprikiatri (Rahmad Juwono, 1996). G. Komplikasi Komplikasi dapat dibagi dalam : 1. Komplikasi intestinal ¾Perdarahan usus ¾Perforasi usus ¾Ileus paralitik 2. Komplikasi ekstra intestinal. kegagalan sirkulasi perifer (renjatan sepsis) miokarditis, trombosis, dan tromboflebitie.¾Kardiovaskuler : ¾Darah : anemia hemolitik, tromboritopenia, sindrom uremia hemolitik ¾Paru : pneumoni, empiema, pleuritis. ¾Hepar dan kandung empedu : hipertitis dan kolesistitis. ¾Ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis. ¾Tulang : oeteomielitis, periostitis, epondilitis, dan arthritis. ¾ Neuropsikiatrik : delirium, meningiemus, meningitie, polineuritie, perifer, sindrom GuillanBarre, psikosis dan sindrom katatonia. ¾ Pada anak-anak dengan demam paratifoid, komplikasi lebih jarang terjadi. Komplikasi sering terjadi pada keadaan tokremia berat dan kelemahan umum, terutama bila perawatan pasien kurang sempurna (Rahmad Juwono, 1996). H. Pencegahan 1. Usaha terhadap lingkungan hidup : a. Penyediaan air minum yang memenuhi b. Pembuangan kotoran manusia (BAK dan BAB) yang hygiene c. Pemberantasan lalat. d. Pengawasan terhadap rumah-rumah dan penjual makanan. 2. Usaha terhadap manusia. a. Imunisasi

b. Pendidikan kesehatan pada masyarakat : hygiene sanitasi personal hygiene. (Mansjoer, Arif 1999). ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian 1. Identitas Didalam identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, no. Registerasi, status perkawinan, agama, pekerjaan, tinggi badan, berat badan, tanggal MR. 2. Keluhan Utama pada pasien Thypoid biasanya mengeluh perut merasa mual dan kembung, nafsu makan menurun, panas dan demam. 1. Riwayat Penyakit Dahulu Apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit Thypoid, apakah tidak pernah, apakah menderita penyakit lainnya. 2. Riwayat Penyakit Sekarang Pada umumnya penyakit pada pasien Thypoid adalah demam, anorexia, mual, muntah, diare, perasaan tidak enak di perut, pucat (anemi), nyeri kepala pusing, nyeri otot, lidah tifoid (kotor), gangguan kesadaran berupa somnolen sampai koma. 3. Riwayat Kesehatan Keluarga Apakah dalam kesehatan keluarga ada yang pernah menderita Thypoid atau sakit yang lainnya. 4. Riwayat Psikososial Psiko sosial sangat berpengaruh sekali terhadap psikologis pasien, dengan timbul gejala-gejala yang dalami, apakah pasien dapat menerima pada apa yang dideritanya. 5. Pola-Pola Fungsi Kesehatan 1) Pola pesepsi dan tatalaksana kesehatan Perubahan penatalaksanaan kesehatan yang dapat menimbulkan masalah dalam kesehatannya. 2) Pola nutrisi dan metabolisme Adanya mual dan muntah, penurunan nafsu makan selama sakit, lidah kotor, dan rasa pahit waktu makan sehingga dapat mempengaruhi status nutrisi berubah. 3) Pola aktifitas dan latihan Pasien akan terganggu aktifitasnya akibat adanya kelemahan fisik serta pasien akan mengalami keterbatasan gerak akibat penyakitnya. 4) Pola tidur dan aktifitas Kebiasaan tidur pasien akan terganggu dikarenakan suhu badan yang meningkat, sehingga pasien merasa gelisah pada waktu tidur. 5) Pola eliminasi Kebiasaan dalam buang BAK akan terjadi refensi bila dehidrasi karena panas yang meninggi, konsumsi cairan yang tidak sesuai dengan kebutuhan. 6) Pola reproduksi dan sexual Pada pola reproduksi dan sexual pada pasien yang telah atau sudah menikah akan terjadi perubahan. 7) Pola persepsi dan pengetahuan Perubahan kondisi kesehatan dan gaya hidup akan mempengaruhi pengetahuan dan kemampuan dalam merawat diri. 8) Pola persepsi dan konsep diri Didalam perubahan apabila pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah penyakitnya.

9) Pola penanggulangan stress Stres timbul apabila seorang pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah penyakitnya. 10) Pola hubungan interpersonil Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan interpersonal dan peran serta mengalami tambahan dalam menjalankan perannya selama sakit. 11) Pola tata nilai dan kepercayaan Timbulnya distres dalam spiritual pada pasien, maka pasien akan menjadi cemas dan takut akan kematian, serta kebiasaan ibadahnya akan terganggu. 6. Pemeriksaan Fisik 1) Keadaan umum Biasanya pada pasien typhoid mengalami badan lemah, panas, puccat, mual, perut tidak enak, anorexia. 2) Kepala dan leher Kepala tidak ada bernjolan, rambut normal, kelopak mata normal, konjungtiva anemia, mata cowong, muka tidak odema, pucat/bibir kering, lidah kotor, ditepi dan ditengah merah, fungsi pendengran normal leher simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid. 3) Dada dan abdomen Dada normal, bentuk simetris, pola nafas teratur, didaerah abdomen ditemukan nyeri tekan. 4) Sistem respirasi Apa ada pernafasan normal, tidak ada suara tambahan, dan tidak terdapat cuping hidung. 5) Sistem kardiovaskuler Biasanya pada pasien dengan typoid yang ditemukan tekanan darah yang meningkat akan tetapi bisa didapatkan tachiardi saat pasien mengalami peningkatan suhu tubuh. 6) Sistem integumen Kulit bersih, turgor kulit menurun, pucat, berkeringat banyak, akral hangat. 7) Sistem eliminasi Pada pasien typoid kadang-kadang diare atau konstipasi, produk kemih pasien bisa mengalami penurunan (kurang dari normal). N ½ -1 cc/kg BB/jam. 8) Sistem muskuloskolesal Apakah ada gangguan pada extrimitas atas dan bawah atau tidak ada gangguan. 9) Sistem endokrin Apakah di dalam penderita thyphoid ada pembesaran kelenjar toroid dan tonsil. 10) Sistem persyarafan Apakah kesadarn itu penuh atau apatis, somnolen dan koma, dalam penderita penyakit thypoid. B. Diagnosa keperawatan 1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi Salmonella Typhii 2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia 3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bedrest. 4. Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan pengeluaran cairan yang berlebihan (diare/muntah). C. Intervensi dan Implementasi 1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi salmonella typhsi

5 liter / 24 jams•Anjurkan pasien untuk banyak minum. •Observasi TTV tiap 4 jam sekali R/ tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien 2. •Beri makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering. Nutrisi parenteral dibutuhkan terutama jika kebutuhan nutrisi per oral sangat kurang.Pasien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan Intervensi •Jelaskan pada klien dan keluarga tentang manfaat makanan/nutrisi. minum R/ peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak •Memberikan kompres dingin R/ untuk membantu menurunkan suhu tubuh •Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian tx antibiotik dan antipiretik R/ antibiotik untuk mengurangi infeksi dan antipiretik untuk menurangi panas. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bed rest Tujuan : pasien bisa melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) optimal. Turgor kulit membaik Intervensi : •Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang peningkatan suhu tubuh R/ agar klien dan keluarga mengetahui sebab dari peningkatan suhu dan membantu mengurangi kecemasan yang timbul. R/ untuk menghindari mual dan muntah. R/ untuk mengetahui peningkatan dan penurunan berat badan. pakaian tipis akan membantu mengurangi penguapan tubuh. R/ antasida mengurangi rasa mual dan muntah.Tujuan : suhu tubuh normal/terkontrol. tidak merangsang. •Timbang berat badan klien setiap 2 hari. R/ untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk makan meningkat. •Anjurkan klien menggunakan pakaian tipis dan menyerap keringat R/ untuk menjaga agar klien merasa nyaman. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia Tujuan : Pasien mampu mempertahankan kebutuhan nutrisi adekuat Kriteria hasil : . tidak mengandung banyak serat. maupun menimbulkan banyak gas dan dihidangkan saat masih hangat. 3.Nafsu makan meningkat . R/ untuk meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan. •Batasi pengunjung R/ agar klien merasa tenang dan udara di dalam ruangan tidak terasa panas. • Beri nutrisi dengan diet lembek. •Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antasida dan nutrisi parenteral. 2. Kriteria hasil : Pasien melaporkan peningkatan suhu tubuh Mencari pertolongan untuk pencegahan peningkatan suhu tubuh. Kriteria hasil : Kebutuhan personal terpenuhi .

evaluasi yang diharapkan : peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi salmonella typhii•Dx : Evaluasi : suhu tubuh normal (36 o C) atau terkontrol. R/ untuk mempermudah pasien dalam melakukan aktivitas. R/ untuk mempermudah pemberian cairan (minum) pada pasien. •Dekatkan keperluan pasien dalam jangkauannya. • Anjurkan pasien untuk banyak minum s2. R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan yang tidak terpenuhi (secara parenteral). R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan. R/ untuk mengetahui keseimbangan cairan. •Berikan latihan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang. R/ untuk mengetahui sejauh mana kelemahan yang terjadi.Dapat melakukan gerakkan yang bermanfaat bagi tubuh. Dx : gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan pengeluaran cairan yang berlebihan (diare/muntah)• Evaluasi : kebutuhan cairan terpenuhi . •Observasi pemasukan dan pengeluaran cairan. •Observasi kelancaran tetesan infuse. R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan dan mencegah adanya odem. Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan) berhubungan dengan cairan yang berlebihan (diare/muntah) Tujuan : tidak terjadi gangguan keseimbangan cairan Kriteria hasil : Turgor kulit meningkat Wajah tidak nampak pucat Intervensi : •Berikan penjelasan tentang pentingnya kebutuhan cairan pada pasien dan keluarga. •Kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas (makan. minum). memenuhi AKS dengan teknik penghematan energi. Evaluasi Dari hasil intervensi yang telah tertulis. R/ untuk menghindari kekakuan sendi dan mencegah adanya dekubitus. D. miring kiri). •Kolaborasi dengan dokter untuk terapi cairan (oral / parenteral). Evaluasi : Pasien mampu mempertahankan kebutuhan nutrisi adekuat. intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan/bedrest•Dx : Evaluasi : pasien bisa melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) optimal. Intervensi : •Beri motivasi pada pasien dan kelurga untuk melakukan mobilisasi sebatas kemampuan (missal.5 liter / 24 jam. R/ agar pasien dan keluarga mengetahui pentingnya mobilisasi bagi pasien yang bedrest. Miring kanan. 4. gangguan pemenuhan kebu•Dx :tuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia.

1993. sistem imunitas menurun. Prevalensi ISK di masyarakat makin meningkat seiring dengan meningkatnya usia. Prevalensi ISK yang tinggi pada usia lanjut antara lain disebabkan karena sisa urin dalam kandung kemih meningkat akibat pengosonga kandung kemih kurang efektif . Tujuan Penulisan . Arif 1999. B.com/2008/07/typhoid-abdominalis/300609/20. Jakarta. Di Amerika dilaporkan bahwa setidaknya 6 juta pasien datang kedokter setiap tahunnya dengan diagnosis ISK. Jakarta. Disuatu rumah sakit di Yogyakarta ISK merupakan penyakit infeksi yang menempati urutan ke-2 dan masuk dalam 10 besar penyakit (data bulan Juli ± Desember). ternyata wanita lebih sering dari pria dengan angka populasi umum kurang lebih 5-15%.blogspot. FKUI. Untuk menyatakan adanya ISK harus ditemukan adanya bakteri dalam urin. Jakarta. Infeksi saluran kemih terjadi adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. Agen penginfeksi yang paling sering adalah Eschericia coli. Rahmad Juwono. Jakarta. Suwanto. Rencana Asuhan Keperawatan. Diagnosa Keperawatan. Sedangkan yang tanpa gejala disebut bakteriuria asimptomatis. Infeksi saluran kemih dapat mengenal baik laki-laki maupun wanita dari semua umur baik anak-anak. Untuk menegakkan diagnosis ISK harus ditemukan bakteri dalam urin melalui biakan atau kultur (Tessy. Media Aesculapis. Baik seluler maupu humoral. Penggunaan kateter terkait dengan kemungkinan lebih dari satu jenis bakteri penginfeksi. Bakteriuria yang disertai dengan gejala saluran kemih disebut bakteriuria simptomatis. pada usia lanjut nutrisi sering kurang baik. Latar Belakang Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah istilah umum yang dipakai untuk menyatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih.2 %. Sedangkan pada usia sama atau diatas 65 tahun kira-kira mempunyai angka prevalensi ISK sebesar 20%. Pseudomonas sp. Ilmu Penyakit Dalam. Monica Ester. 2000. remaja. Edisi 3. Edisi 3. EGC. 2001) dengan jumlah signifikan (Prodjosudjadi. sedangkan pada pasien simptomatis bisa terdapat jumlah koloni lebih rendah.25 wib. 1998. dewasa maupun lanjut usia. mobilitis menurun. Sjaifoellah Noer. asuhan-keperawatan-patriani.. 1996. Lynda Juall. Penyebab utama ISK (sekitar 85%) adalah Eschericia coli (Coyle & Prince. Serratia.hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat. 2005). Tingkat signifikansi jumlah bakteri dalam urin lebih besar dari 100/ml urin. Akan tetapi dari kedua jenis kelamin..DAFTAR PUSTAKA Dangoes Marilyn E.html Posted by Rheny Raya at 06:36 0 comments Links to this post Makalah Askep ISK (Infeksi Saluran Kemih) BAB I PENDAHULUAN A. Ardaya. Jakarta. adanya hambatan pada aliran urin. Pada usia 40 ± 60 tahun mempunyai angka prevalensi 3. Mansjoer. Proteus sp. EGC. Kapita Selekta Kedokteran. Dikatakan bakteriuria positif pada pasien asimptomatisbila terdapat lebih dari 105 koloni bakteri dalam sampel urin midstream. 2003). Standar Perawatan Pasien. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan penyakit yang perlu mendapat perhatian serius. Klebsiella sp. Edisi 3.

Patofisiologi. Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada klien denan ISK d. Tujuan Umum Diperoleh pengalaman secara nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan ISK 2. perencanaan Keperawatan. C. tujuan. Tujuan Khusus a. Bab II : Tinjauan teori yang terdiri dari Pengertian. Pelaksanaan Keperawatan. kelurga. Diagnosa Keperawatan. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan ISK b. Diagnosa Keperawatan. studi kepustakaandengan mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan asuhan keperawatan pada pasien dengan Infeksi Saluran Kemih. Perencanaan Keperawatan. Mampu mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat antara teori dan kasus B. Perencanaan Keperawatan. Diagnosa Keperawatan.Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Pelaksanaan Keperawatan dan Evaluasi Keperawatan Bab IV: Pembahasan terdiri dari Pengkajian Keperawatan. S dengan infeksi saluran kemih diruangan Cemara II Rumah Sakit Kepolisian Pusat Raden Said Sukanto Jakarta. serta teman sejawat. Observasi dengan melakukan pengamatan kepada pasien. Etiologi. Bab V : Kesimpulan dan saran . Ruang Lingkup Dalam penyusunan makalah ini penulis hanya membatasi masalah mengenai Asuhan Keperawatan pada klien Tn. Mampu menentukan masalah keperawatan pada klien dengan ISK c. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien denan ISK e. Metode Penulisan Dalam penulisan makalah ini. ruang lingkup. E. Pelaksanaan Keperawatan dan Evaluasi Keperawatan. Mampu melaksanakan evaluasi keperawatan pada klien dengan ISK f. penulis menggunakan tehnik pengumpulan data yaiti dengan wawancara langsung terhadap pasien dengan tehnik anamnesa baik pada pasien. Sistematika Penulisan Makalah ini terdiri dari lima bab yang disusun secara sistematika dengan urutan sebagai berikut : Bab I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang. metode Penulisan dan sistematika penulisan. Evalusi Keperawatan Bab III: Tinjauan kasus terdiri dari Pengkajian Keperawatan. Pengkajian Keperawatan.

2001) Infeksi Saluran Kemih adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih. Proteus.Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat C. limfogen. obstruksi saluran perkemihan.Sisa urine dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang kurang efektif . antara lain: .septikemia.Nutrisi yang kurang baik .Enterobacter. kontaminasi fekal.klebsiella: penyebab ISK complicated .Escherichia coli:90% penyebab ISK uncomplicated .BAB II TINJAUAN TEORI A. hematogen.dll.Mobilitas menurun . Mikroorganisme ini masuk melalui: kontak langsung dari tempat infeksi terdekat. antara lain : faktor anatomi dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek dari pada laki. antara lain: . (Enggram.Sistem imunitas menurun. 2. statis perkemihan. faktor tekanan urin saat miksi. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK. (Agus Tessy.laki sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi. Patofisiologi 1. Proses Penyakit Infeksi saluran kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. Staphyloccoccus epidemidis.Pseudemonas. 2001) B.Adanya hambatan pada aliran urin . (Agus Tessy. baik seluler maupun humoral . pemakaian instrumen baru. Ada 2 jalur utama terjadi ISK yaitu asending dan hematogen 1. Barbara. Suwanto. Secara Asending yaitu : Masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih. enterococci. 1998) Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang di sebabkan oleh bakteri terutama escherichia coli: resiko dan beratnya meningkat dengan kondisi seperti refluksvesikouretral. Pemasangan alat kedalam traktus urinarius (pemeriksaan . Ardaya. dkk. Pengertian Infeksi Saluran Kemih atau urinarius Troctus infection adalah sutatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih.1998) Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. Etiologi 1. (Susan Martin Tucker.

batu neoplasma dan hipertropi prostat yang sering ditemukan pada laki-laki diatas 60 tahun. Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya : Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap Mobilitas menurun Nutrisi yang sering kurang baik Sistem imunitas yang menurun Adanya hambatan pada saluran urin Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensi yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri. kontaminasi fekal. Ginjal (pielonefritis) Pielonefritis infeksi traktus urinarius atas merupakan infeksi bakteri piala ginjal. Uretra (uretritis) Uretritis adalah suatu infeksi yang menyebar naik yang di golongkan sebagai gonoreal atau non gonoreal. tubulus dan jaringan intertisial dari dalah satu atau kedua ginjal Infeksi saluran kemih (ISK) pada usia lanjut dibedakan menjadi : 1. ISK ini pada usia lanjut terutama mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih. yaitu adanya bendungan total urin yang yang mengakibatkan distensi kandung kemih. Secara Hematogen. adanya dekubitus yang terinfeksi 2. antara lain adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebt sebagai hidronefroses. kemudian keadaan ini secara hematogen menyebar keseluruh traktus urinarius. Penyebab umum obstruksi adalah jaringan perut ginjal. Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen. Kandung kemih (sistitis) Sistitis (inflamasi kandung kemih) yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya infeksi dari uretra. pemakaian kateter). keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi gunjal sendiri. ISK Complicated .sistoskopik. bendungan intrarenal akibat jaringan. ISK Uncomplicated (simple) ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik. Klasifikasi Klasifiksi infeksi saluran kemih sebagai berikut : 1. Hal ini dapat disebabkan oleh aliran balik irin dari utetra kedalam kandung kemih (refluks urtovesikal). anatomic maupun fungsional normal. yaitu : Sering terjadi pada pasien yang sistem imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara Hematogen. 2. 2. Uretritis non gonoreal adalah uretritis yang tidak berhubungan dengan niesseria gonorhoeae biasanya disebabkan oleh klamidia frakomatik atau urea plasma urelytikum 3. Uretritis gonoreal disebabkan oleh niesseria gonorhoeae dan ditularkan melalui kontak seksual. pemakaian kateter atau sistoskop. Selain itu beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK.

Disuria (nyeri waktu berkemih) 2. Manifestasi klinis Uretritis biasanya memperlihatkan gejala : 1. Ada Ulserasi pada uretra 4. Adanya sel-sel darah putih dalam urin 5. Pielonefritis akut biasanya memperlihatkan gejala : 1. Nyeri pinggang 4. Nyeri pada bagian abdomen Sistitis biasanya memperlihatkan gejala : 1. Nyeri punggung bawah atau suprapubic 6. Good morning sign 6. kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika. Adanya nanah awal miksi 7. Mukosa memerah dan edema 2. Pemeriksaan Penunjang . sepsis. Sumbatan pada vasoepididinal 4).š 2.Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas. Disuria 3). Striktura uretra 4. Menggigil 3. paraplegia.keadaan sebagai berikut : š Kelainan abnormal saluran kencing. Peningkatan frekuensi berkemih 3. Kelainan faal ginjal :GGA maupun GGKš Gangguan daya tahan tubuhš Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen seperti prosteus spp yang memproduksi urease. reflex vesiko uretral obstruksi. Komplikasi 1. sering terjadi bakterimia. Epididimis 3. atoni kandung kemih. Kesulitan untuk memulai miksi 9. Demam yang disertai adanya darah dalam urin pada kasus yang parah. Prostatitis 2. Terdapat cairan eksudat yang purulent 3. Demam 2. Nyeri pada awal miksi 8. kateter kandung kencing menetap dan prostatitis. Adanya rasa gatal yang menggelitik 5. Perasaan ingin berkemih 4. ISK ini terjadi bila terdapat keadaan. dan shock. misalnya batu.

Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerolus ataupun urolitiasis. Tes esterase leukosit positif : maka pasien mengalami piuria.kadang ampicillin atau amoksisilin digunakan. Hematuria : Hematuria positif bila 5i ± 10 eritrosit/ LBP sediment air kemih. Penatalaksanaan Penanganan Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhadap flora fekal dan vagina. msistografi. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/ lapang pandang besar (LBP) sediment air kemih. 2.pyridium. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik 4.bactrim.tes tambahan : Urogrami Intravena (UIV). adanya batu. herpes simplek) . D). Hitung koloni : hitung koloni sekitar 100. Pielografi (IVP). i Tes Penyakit Menular Seksual (PMS) : Uretritia akut akibat organime menular secara seksual (misal.1.penggunaan medikasi yang umum mencakup : sulfisoxazole (gastrisin). Bakteriologis Mikroskopisi Biakan bakterii 3. massa renal atau abses.Coli telah resisten terhadap bakteri ini. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic.tetapi E. Tes pengurangan nitrat. dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius.trimethoprim / sulfamethoxazole ( tpm / smz. hodronerosis atau hiperplasie prostat. Tes . Terapi Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) pada usia lanjut dapat dibedakan atas : ‡ Terapi antibodika dosis tunggal ‡ Terapi antibiotika konvensional : 5-14 hari ‡ Terapi antibiotika jangka lama : 4-6 minggu ‡ Terapi dosis rendah untuk supresi Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan infeksi. 5.untuk wanita harus membilas dari depan kebelakang untuk menghindari kontaminasi lubang uretra oleh .septra). Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit. Metode tes i Tes dipstick multistrip untuk WBC ( tes esterase leukosit ) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). klamidia trakomatis. neisseria gonnorrhoeae. sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten.Dan dianjurkan untuk sering minum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas mikroorganisme yang mungkin naik ke uretra. Urinalisis i Leukosuria atau puria : merupakan salah satu bentuk adanya ISK.suatu analgesic urinarius juga dapat digunakan untuk mengurangi ketidak nyamanan akibat infeksi.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi.

E).Jenis Kelamin.frekuensi. Nilai Kultur Urine Negatif 3. Perubahan pola eliminasi urine (disuria.Kandung Kemih. Penyebarluasan Infeksi berhubungan dengan adanya bakteri pada saluran kemih 2. G).Pendidikan ‡ Persepsi terhadap kondisi penyakit ‡ Mekanisme Koping dan sistem pendukung 5. KH : 1. Data biologis meliputi : ‡ Identitas Klien ‡ Identitas Penanggung 2.5 0C .dan instruksi perawatan dirumah. Diagnosa Keperawatan 1.metode pencegahan. Pengkajian Pengetahuan Klien dan keluarga ‡ Pemahaman tentang penyebab / Perjalanan penyakit ‡ Pemahaman tentang pencegahan. Pengkajian Fisik ‡ Palpasi Kandung Kemih ‡ Inspeksi daerah meatus : a. Kaji suhu tubuh pasien selama 4 jam dan lapor suhu diatas 38.dorongan. Riwayat Psikososial ‡ Usia.berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain 4. Riwayat Kesehatan ‡ Riwayat Infeksi Saluran Kemih ‡ Riwayat pernah menderita Batu Ginjal ‡ Riwayat penyakit DM.Jantung 3. Urine berwarna bening dan tidak berbau Intevensi : 1.dan atau noktuaria). Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan Inflamasi.perawatan dan terapi medis. 1 : Penyebarluasan Infeksi berhubungan dengan adanya bakteri pada saluran kemih Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan Infeksi sembuh dan mencegah komplikasi. jumlah.bakteri feces. Tanda-Tanda Vital dalam batas normal 2. Perencanaan Keperawatan Dx. Pengkajian Keperawatan 1.dan struktur traktus urinarius lain 3. F). kaji pada costovertebralis 4. kaji warna. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit. bau dan kejernihan urine b. Pekerjaan.

Jika dipasang kateter. Anjurkan pasien untuk mengosongkan kandung kemih secara komplit setiap kali kemih Rasional : Untuk mencegah adanya distensi kandung kemih 6. Berikan perawatan perineal Rasional : Untuk mencegah kontaminasi uretra 7. Anjurkan minum banyak 2 . menurunkan tegangan otot. pantau pola berkemih. Berikan obat analgetik sesuai dengan program terapi Rasional : Analgetik memblok lintasan nyeri . Ekspresi wajah tenang Intervensi : 1. menghindari terlalu merasakan nyeri 9. Berikan tindakan nyaman.pertahankan agar tetap bersih dan kering Rasional : Untuk menjaga kebersihan dan menghindari bakteri yang membuat infeksi uretra Dx. dan struktur traktus urinarius lain Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri hilang atau berkurang saat dan sesudah berkemih KH : 1. masukan dan keluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang Rasional : Untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan. Pasien tampak tenang 4. 2 : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra. Berikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat ditoleran Rasional : Klien dapat istirahat dengan tenang dan dapat merilekskan otot 3. dan faktor yang memperberat atau meringankan nyeri Rasional : Rasa sakit yang hebat menandakan adanya infeksi 2. perawatan kateter 2 kali per hari Rasional : Kateter memberikan jalan bakteri untuk memasukikandung kemih dan naik saluran perkemihan 8. Berikan keperawatan perineal. Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan Rasional : Relaksasi.Rasional : Tanda ± tanda vital menandakan adanya perubahan didalam tubuh. 3. seperti pijatan Rasional : Meningkatkan relaksasi. 5. Monitor Pemeriksaan ulang urine kultur dan sensivitas untuk menentukan respon terapi Rasional : Mengetahui seberapa jauh efek pengobatan terhadap keadaan penderita 5. lokasi. Anjurkan pasien untuk minum 2-3 liter jika ada kontra indikasi Rasional : Untuk mencegah statis urine 4. 2. 6.3 liter jika tidak ada kontra indikasi Rasional : Untuk mmbantu klien dalam berkemih 4. kandung kemih. Kandung Kemih tidak tegang 3. Pasien mengatakan / tidak ada keluhan nyeri pada saat berkemih 2. Pantau perubahan warna urine. Kaji Intensitas. Catat karakteristik urine Rasional : Untuk mengetahui /mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.

Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristik urine Rasional : Memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi 5. Tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (urgensi. 4 : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit. Peningkatan masukan sari buah dapat berpengaruh dalam pengobatan infeksi saluran kemih.disuria) 2. Klien tidak kesulitan saat berkemih Intervensi : 1. Bantu klien mendapatkan posisi berkemih yang nyaman Rasional : Supaya klien tidak sukar berkemih 9.oliguri.3 jam Rasional : Untuk mencegah terjadinya penumpukan urine dalam vesika urinaria 3. memekai pispot/urinal Rasional : Untuk memudahkan klien dalam berkemih 8. dan instruksi perawatan dirumah Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pengetahuan klien bertambah KH : 1.kreatinin ‡ Lakukan tindakan untuk memelihara asam urine dan berikan obat-obatan untuk meningkatkan asam urine Rasional : Asam urin menghalangi tumbuhnya kuman. Palpasi kandung kemih setiap 4 jam Rasional : Untuk mengetahui adanya distensi kandung kemih 4. Kien tidak gelisah 2.elektrolit. Observasi perubahan tingkat kesadaran Rasional : Akumulasi sisa uremik dan ketidakseimbangan elektrolitdapat menjadi toksin pada susunan saraf pusat. 3 : Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam klien dapat mempertahankan pola eliminasi secara adekuat KH : 1.meningkatkan pemasukan cairan Rasional : Peningkatan hidrasi membilas bakteri 6. Ukur dan catat urine setiap kali berkemih Rasional : Untuk mengetahui adanya perubahan warna dan untk mengetahui input/ output 2.metode pencegahan dan instruksi perawatan di rumah . Kolaborasi : ‡ Awasi pemeriksaan laboratorium.Dx. Klien dapat berkemih setiap 3 jam 3.bun. 8. metode pencegahan. Klien tenang 3. Bantu klien ke kamar kecil. Anjurkan untuk berkemih setiap 2 . Klien dapat mengatakan tentang proses penyakit. 7. Dorong. Dx. Kaji keluhan pada kandung kemih Rasional : Retensi urine dapat terjadi dan menyebabkan distensi jaringan (kandung kemih/ginjal).

Memberikan kepada pasien untuk menanyakan apa yang tidak diketahui tentang penyakitnya. Berikan dorongan spiritual Rasional : Agar klien kembali menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. minum sebanyak kurang lebih delapan gelas per hari Rasional : Pasien sering menghentikan obat mereka. Beri Support pada klien Rasional : Agar klien mempunyai semangat 4. tindakan untuk mencegah penyebaran. Rasional : Mengetahui sejauh mana ketidaktahuan pasien tentang penyakitnya 7. pemeriksaan diagnostik: tujuan. Kaji ulang proses penyakit dan harapan yang akan datang Rasional : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat menbuat pilihan berdasarkan informasi. 5. Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspesikan perasaan dan masalah tentang rencana pengobatan. Rasional : Untuk mendeteksi isyarat indikatif kemungkinan ketidakpatuhuan dan membantu mengembangkan penerimaan rencana terapeutik H). jelaskan pemberian antibiotik.dkk. (Doengoes E Marilyn. Cairan menolong membilas ginjal.Intervensi : 1. 8. Berikan kesampatan Klien untuk mengungkapkan perasaannya Rasional : Agar klien mempunyai semangat dan mau empati terhadap perawatan dan pengobatan 3. Evaluasi Keperawatan Pada tahap yang perlu dievaluasi pada klien dengan ISK adalah.2000) I). persiapan yang dibutuhkan sebelum pemeriksaan. Pelaksanaan Keperawatan Pada tahap ani untuk melaksanakan Intervensi dan aktivitas-aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien. Anjurkan pasien untuk menggunakan obat yang diberikan. Berikan informasi tentang : sumber infeksi. jika tanda-tanda penyakit mereda.mengacun pada tujuan yang hendak dicapai yakni apakah terdapat : ‡ Nyeri yang menetap atau bertambah .Agar Implementasi / pelaksanaan perencanaan ini dapat tepat waktu dan efektif maka perlu mengidentifikasi prioritas perawatan. gambaran singkat. Rasional : Pengetahuan apa yng diharapkan dapat mengurangi ansietas dan membantu mengembankan kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik.memantau dan mencatat respon pasien terhadap setia Intervensi yang dilaksanakan serta mendokumentasikan pelaksanaan perawatan. Kaji tingkat kecemasan Rasional : Untuk mengetahui berat ringannya kecemasan klien 2. perawatan sesudah pemeriksaan. 9. Berikan penkes Rasional : Agar klien mengerti sepenuhnya tentang penyakit yang dialaminya 6. 10.

saat ini belum menikah. ‡ Riwayat infeksi saluran kemih. Pengkajian Keperawatan 1. Insfeksi meatus . Klien tidak memiliki riwayat infeksi saluran kemih ‡ Riwayat pernah menderita batu ginjal Klien tidak pernah memiliki riwayat batu ginjal ‡ Riwayat penyakit DM dan jantung ‡ Klien tidak pernah memiliki riwayat DM dan jantung. 3. tapi belum ada perbaikan. 2. seperti terkena benda tajam pada lubang kencing. status pasien belum menikah. A. umur 29 th dan tinggal di jepara. saya sudah minum obat antibiotic 3 hari. meliputi : Identitas Klien : Klien bernama Tn. BAB III TINJAUAN KASUS Ilustrasi Kasus Saya seorang pria berusia 29 tahun. Riwayat kesehatan. menetes setelah berkemih. Pengkajian fisik. bila buang air kecil terasa nyeri dan seperti kemrenyes dan panas. juga pada lubang kencing kadang keluar cairan putih kental terutama pagi hari.‡ Perubahan warna urine ‡ Pola berkemih berubah. Data Biologis. Saya punya keluhan. perasaan ingin kencing. D. berkemih sering dan sedikit-sedikit. Saya memang pernah melakukan hubungan intim dengan teman wanita saya.

5. 4.Klien mengatakan pada lubang kencing keluar cairan putih kental.Klien mengatakan bila buang air kecil terasa panas seperti terbakar dan rasanya seperti terkena benda tajam pada lubang kencing. metode pencegahan dan instruksi perawatan di rumah B. Nd : 80x/mnt. observasi tandatanda vital TD 120/90 mmHg. DS : .Klien mengatakan tidak mengerti tentang penyakitnya . Sh : 36.5 0C. Ketika dilakukan pemeriksaan fisik tampak tampak adanya cairan putih kental tampak uretra kemerahan.Klien mengatakan sudah minum obat antibiotic tapi belum ada perbaikan DO : . DS : . yaitu klien merasa cemas terhadap penyakit dan gejala yang di derita. tampak adanya cairan putih kental.Tampak uretra kemerahan Penyebarluasan Infeksi Adanya bakteri pada saluran kemih 2. klien mengeluh ketika buang air kecil terasa nyeri dan seperti kemrenyes dan panas. Penyebarluasan Infeksi berhubungan dengan adanya bakteri pada saluran kemih . 7. . Diagnosa keperawatan 1. Klien juga mengatakan pernah melakukan hubungan intim dengan teman wanitanya dan sudah minum obat antibiotic 3 hari. ‡ Urine berwarna kuning jernih ‡ Tidak terdapat bau. Data Obyektifnya. kesadaran composmentis. . DS : .Klien mengatakan pernah melakukan hubungan intim dengan teman wanitanya DO : . DO : Gangguan rasa nyaman nyeri Infeksi uretra 3. Rr : 18x/mnt. Pengkajian pengetahuan klien dan keluarga. juga pada lubang kencing kadang keluar cairan putih kental terutama pagi hari. tapi belum ada perbaikan.Klien mengatakan bila buang air kecil terasa nyeri seperti kemranyes. Data Fokus Data subyektif tanggal 24 Maret 2009. 6. jenis kelamin laki-laki. seperti terkena benda tajam pada lubang kencing.Klien tampak bertanya tentang penyakitnya Kurang pengetahuan Kurangnya informasi tentang proses penyakit. keadaan umum klien sakit sedang. Persepsi klien terhdap kondisi penyakit.‡ Pada lubang kencing kadang keluar cairan putih kental. Riwayat psikososial Usia klien 29 tahun. Klien tidak mengetahui penyebab dan berjalannya penyakit dan juga tidak mengetahui cara pencegahan dan terapi medis. Analisa Data No Data Masalah Etiologi 1. terutama pagi hari.Tampak adanya cairan putih kental . klien bertanya tentang penyakitnya.

Anjurkan pasien untuk mengosongkan kandung kemih secara komplit setiap kemih 5.lokasi dan factor yang memperberat atau meringankan nyeri 2.Pasien tampak tenang .2.Ekspresi wajah tenang Intervensi: 1.Klien mengatakan pada lubang kencing keluar cairan putih kental. .Tampak uretra kemerahan Tujuan : Seteleh dilakukan tindakan keperawatan di harapkan infeksi sembuh dan dapat mencegah komplikasi KH : .50C 2. Berikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat di toleran 3. Perencanaan Keperawatan Dx. Sith bath dalam air hangat 4. Berikan antibiotik sesuai dengan progam terapi Dx2 : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan infeksi uretra ditandai dengan DS : . terutama pagi hari.Klien mengatakan pernah melakukan hubungan intim dengan teman wanitanya DO : . Berikan obat analgetik sesuai dengan progam terapi Dx. Kaji intensitas.Klien mengatakan bila buang air kecil terasa panas seperti terbakar dan rasanya seperti terkena benda tajam pada lubang kencing DO : Tujuan : . KH : .Tanda-tanda vital dalam batas normal . Catat karakteristik urine 3.1 : Penyebarluasan Infeksi berhubungan dengan adanya bakteri pada saluran kemih ditandai dengan : DS : .Pasien mengatakan/tidak ada keluhan nyeri pada saat berkemih . Berikan perawatan perineal pertahankan agar tetap bersih dan kering 6.Urine berwarna bening dantidak berbau Intervensi: 1.Klien mengatakan bila buang air kecil terasa nyeri seperti kemranyes . .Setelah dilakukan tindakan keperawatan di harapkan nyeri hilang atau berkurang saat dan sesudah berkemih. Lakukan kultur urine 4.metode pencegahan dan instruksi perawatan di rumah C.Nilai kultur urine negatife . Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan infeksi uretra 3.Kandung kemih tidak tegang . Kaji suhu tubuh pasien dan laporkan jika suhu di atas 38. 3 : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang proses penyakit.Tampak adanya cairan putih kental . Kurang pengetahuan behubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit.

Klien tenang . Mencatat karakteristik urine Hasil : Urine berwarna kuning jernih dan tidak terdapat bau 3.Factor yang memperberat pada saat BAK . Beri dorongan spiritual 5.Factor yang meringankan adalah setelah diberikan analgetik 2. 1 : 1.50C 2. dan fraktur yang memperberat atau meringankan nyeri. Hasil : . 3 : 1. Lakukan kultur urine Hasil : Ditemukan bakteri pada urine 4.Lokasi nyeri terdapat pada uretra . Pelaksanaan Keperawatan Dx. Mengkaji intensitas. Berikan penkes D. Memberikan perawatan perineal.Klien mengatakan sudah minum obat antibiotic tapi belum ada perbaikan DO : Klien tampak bertanya tentang penyakitnya Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pengetahuan klien bertambah KH : . pertahankan agar tetap bersih dan kering Hasil : Perineal tetap bersih dan kering 6.metode pencegahan.Intensitas . metode pencegahan dan instruksi perawatan dirumah Intervensi : 1. ditandai dengan : DS : . Hasil : Klien tampak segar dan dapat beraktivitas sesuai kemampuannya 3. Memberikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat ditoleran. Memberikan obat analgetik sesuai program therapy Hasil : Nyeri berkurang Dx.Klien tidak gelisah . Menganjurkan pada pasien untuk mengosongkan kandung kemih secara komplit setiap kali kemih Hasil : Kandung kemih kosong secara komplit setiap kali kemih 5. Mengkaji suhu tubuh pasien Hasil : Suhu tubuh pasien 36. Kaji tingkat kecemasan 2. Menganjurkan minum banyak 2-3 liter Hasil : Klien dapat berkemih 5-6 kali/hari 4.Klien dapat mengatakan mengerti tentang penyakitnya. 2 : 1. lokasi. Berikan antibiotic sesuai dengan program terapi Hasil : Infeksi sembuh Dx. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya 3. Mengkaji tingkat kecemasan Hasil : Klien merasa cemas tentang penyakitnya . Beri support pada klien 4. dan instruksi perawatan dirumah.Klien mengatakan tidak mengerti tentang penyakitnya .

Evaluasi Keperawatan 1. Sedangkan kasus tidak di temukan karena klien hanya mengatakan bila buang air kecil terasa panas seperti terkena benda tajam. . 3. metode pencegahan dan instruksi perawatan di rumah BAB IV PEMBAHASAN Dalam bab ini penulis akan membahas tentang ³ Asuhan Keperawatan Pada Tn. dan penulispun tidak melakukan pemeriksaan fisik.data yang menggri ilustrasi kasus yang di dapat. D dikaitkan dengan asuhan keperawatan secara teori. D dengan Uretritis ³. Klien mengatakan mengerti tentang proses penyakitnya. Pada teori terdapat data adanya rasa gatal dan menggelitik dan adanya nanah dari awal miksi. pemeriksaan fisik. Pemecahan masalahnya adalah penulis tetap menggunakan data yang sudah di peroleh walaupun kurang lengkap. Hasil : Klien dapat mengerti akan penyakitnya.2. Juga pada awal miksi tidak keluar nanah hanya kadang keluar cairan putih kental. 3. wawancara. Hambatan yang penulis temukan dalam membuat pengkajian adalah data yang penulis dapat tidak adanya riwayat kesehatan. Memberi dorongan spiritual. Memberi support kepada klien. Memberikan penkes. klien sudah minum antibiotic selama 3 hari tetapi belum ada perubahan. Adapun lingkup pembahasan mencakup tahap ± tahap dalam proses keperawatan antara lain : A. Hasil : Klien merasa tenang. 4. Memberi kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya. Data yang di dapat yaitu kasus pada lubang kencingkadang keluar cairan putih kental. E. Klien mengatakan sudah tidak ada bakteri. 5. Hasil : Motivasi klien bertambah. Pada pemeriksaan kultur urin sudah di dapat tidak adanya bakteri 2. Hasil : Klien apat menerima keadaannya. Pengkajian Pada tahap pengkajian penulis mengumpulkan data dengan melihat dari ilustrasi kasus. penulis hanya mendapatkan data . Pembahasan akan dimulai dari asuhan keperawatan yang diberikan pada Tn. hal ini di karenakanketerbatasan hal yang di peroleh. Dan setelah di lakukan pemeriksaan kultur urine terdapat bakteri dalam urine tersebut Dan ketika di lakukan urinalisis di dapatkan leukosuria atau piuria yang positif. karena data yang di peroleh henya berdasarkan ilustrasi kasusdan tidak penulis peroleh kasus langsung dari klien. tidak di lakukan karena penulis tidak mengkaji langsung pada klien.

masalah ini harus di tangani dengan harapan nyeri hilang dengan skala nyeri 0. 3. dorongan.diagnosa ini muncul karena nyeri yang terasa pada saat kencing terjadi kareena daerah yang meradang bersentuhan dengan air kencing.diagnosa ini tidak ada pada kasus karena penulis ini tidak melakukan pengkajian secara langsung jaadi tidak mengetahui adanya perubahan pola eliminasi urine atau tidak. 2. . infeksi berhubungan dengan adanya bakteri pada uretra diagnose ini muncul karena pada lubang kencing terjadi infeksi. frekuensi. Dan juga mengerti tentan metode pencegahanya. penjalaran infeksi ke testis dapat berakibat terganggunya produksi sperma.juga karena penulis juga tjdak mengetahui frekuensi BAK pada klien. Perencanaan keperawatan Adapun pembahasan dari rencana tindakan keperawatan pada klien dengan uretritis adalah sebagai berikut : 1. sehingga bentiknya tidak bulat lagi. Adapun diagnose yang ada pada kasus dan yang ada pada teori adalah: 1. juga proses penyakitnya. Diagnose ini di prioritaskan pertama karena infeksi sudah terjadi dan komplikasi dari infeksi harus di cegah karena komplikasi infeksi dapat mennjalar atu prostat menimbulkan infeksi yang sulit dalam penyembuhannya. Tindakan keperawatan yang di lakukan adalah catat karakteristik urin untuk mengetahui atau mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang di harrapkan.hal ini terjadi karena saluran kemih sudah terinfeksi yang dimana pada orang normal cairan putih kental tersebut tidak akan keluar . 2. metode pencegahan dan instruksi perawatan rumah. dan atau hokturia ) berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur urinarius lain. Dengan begitu harapan setelah di lakukan tindakan keperawatan adalah infeksi sembuh dan komplikasi dapat di cegah. Pada teori tindakan prioritaskan kedua karena menurut maslow rasa nyaman merupakan kebutuhan dasar yang kedua. gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan infeksi uretra. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang proses penyakit.dan cairan putih kental ini di dapat tidak lama setelah kliem melakukan hubungan intim dengan teman wanitanya. ssedangkan penyebaran infeksi pada saluran kemih dapat menyebabkan pancaran urine bercabang akibat dinding uretra mengecil sebagian. penyebab. B. Infeksi berhubungan dengn adanya bakteripada saluran kemih.B. Tindakan keperawatan yang di lakukan adalah lakukan sith bath dalam air hangat dan pemberian obat analgetik. Diagnosa Keperawatan Adapun diagnose yang ada pada teori tetapi tidak ada pada kasus adalah : Perubahan pola eliminasi urine ( disuria. Diagnose ini muncul karena klien tidak mengerti tentang uretritis. sehingga mutu sperma tidak baik.

mencatat karakteristik urine. Diagnose ini di prioritaskan ke tiga karena klien bertanya tentang penyakitnya dan juga klien merasa bingung karena alah sudah minum obat antibiotic selama 3 hari tetapi belum ada perbaikan. Pelaksanaan yang dilakukan adalah memberikan pendidikan kesehatan tentang proses penyakit.50C. Evaluasi Keperawatan Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. D. Diagnose kedua pada kasus yaitu gangguan rasa nyaman nyeri. metode pencegahan. lakukan sith bath dalam air hangat. metode pencegahan. metode pencegahan. data objektif yang dapat dievaluasi adalah tanda ± tanda vital dalam batas normal. nilai kultur urine negative. menganjurkan pasien untuk mengosongkan kandung kemih secara komplit setiap kali kemih dan memberikan perawatan perineal. Tindakan keperawatan yang di lakukan adalah berikan pendidikan kesehatan tentang proses penyakit. Data objektifnya adalah tamppak klien dapat menyebutkan kembali materi yang diberikan. Pelaksanaan yang dilakukan adalah mengkaji intensitas. dan instruksi perawatan di rumah. metode pencegahan dan instruksi pencegahan di rumah. dan instruksi perawatan dirumah. metode pencegahan dan instruksi perawatan dirumah. memberikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat ditoleran. metode pencegahan dan instruksi perawatan dirumah. data subjektif yang dapat dievaluasi adalah klien mengatakan paham tentang proses penyakit. Pelaksanaan Keperawatan Dalam tahap ini penulis melakukan tindakan keperawatan berdasarkan rencana tindakan yang telah dibuat sesuai kondisi klien. Pada teori tindakan keperawatan yang dilakukan sama dengan pada kasus. C. . pertahankan agar tetap bersih dan kering. data subjektif yang dapat dievaluasi adalah klien menyatakan nyeri berkurang. Masalah keperawatan teratasi. lokasi dan factor yang memperberat atau meringankan nyeri. sehingga masalah keperawatan teratasi dan cairan putih kental tidak keluar lagi pada lubang kencing. dan memberikan obat analgetik sesuai dengan program terapi. pelaksanaan yang dilakukan adalah mengkaji suhu tubuh klien dan laporkan jika suhu diatas 38. kandung kemih tidak tegang. Pada teori pelaksanaannya adalah sama dengan pada kasus. Masalah keperawatan teratasi karena nyeri hilang. skala nyeri 1. Semua perencanaan pada kasus tidak semuanya penulis lakukan dikarenakan keterbatasan waktu dan perencanaan pada teori tidak penulis laksanakan pada kasus karena disesuaikan pada kondisi klien saat dilakukan asuhan keperawatan. menganjurkan klien untuk minum 2-3 liter. Diagnose ketiga yaitu kurang pengetahuan tentang proses penyakit. pada tahap ini penulis menilai sejauh mana tujuan keperawatan dapat dicapai yaitu : Pada diagnose pertama dikasus yaitu infeksi. tanda ± tanda vital dalam batas normal. setelah dilakukan tindakan keperawatan klien tahu tentang proses penyakit. Diagnose pertama pada kasus yaitu infeksi. Diagnose ketiga pada kasus yaitu kurang pengetahuan. data objektifnya tampak klien tenang.3. Diagnose kedua yaitu gangguan rasa nyaman nyeri. urine berwarna bening dan tidak berbau. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang proses penyakit.

BAB V PENUTUP A. Klebsiella sp. juga ketika dilakukan pemeriksaan kultur urine didapatkan adanya bakteri pada urine. Infeksi saluran kemih terjadi adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. 2001) dengan jumlah signifikan (Prodjosudjadi. sedangkan diagnose yang ada pada teori dan pada kasus adalah infeksi. Tingkat signifikansi jumlah bakteri dalam urin lebih besar dari 100/ml urin.. 2005).. Pseudomonas sp. Dalam evaluasi penulis dapat menyimpulkan bahwa semua diagnose dapat teratasi dan tujuan keperawatan tercapai. Serratia. hal ini dikarenakan penulis hanya mendapatkan data berdasarkan ilustrasi kasus. penulis hanya mendapatkan data dari ilustrasi kasus yang didapat. wawancara. Dalam pelaksanaan keperawatan penulis melakukan tindakan keperawatan berdasarkan rencana tindakan yang telah dibuat. dorongan. Suwanto. Agen penginfeksi yang paling sering adalah Eschericia coli. frekuensi. gangguan rasa nyaman nyeri dan kurang pengetahuan. Dan juga data yang didapatkan adalah klien pernah berhbungan intim dengan teman wanitanya dan setelah itu klien menderita uretritis. Diagnose yang ada pada teori tetapi tidak ada pada kasus adalah perubahan pola eliminasi urine ( disuria. dan atau hokturia ) berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur urinarius lain. Kesimpulan Pada bab ini penulis dapat menyimpulkan antara lain : Pada pengkajian penulis menyimpulkan data melalui ilustrasi kasus. . Data yang didapat pada kasus yaitu pada lubang kencing kadang keluar cairan putih kental. tidak dilakukan karena penulis tidak mengkaji langsung pada klien. Penggunaan kateter terkait dengan kemungkinan lebih dari satu jenis bakteri penginfeksi. 2003). Namun kendalanya kami tidak dapat mendokumentasikan data dengan baik sehingga untuk membuat evaluasi mengalami kesulitan. Proteus sp. pemeriksaan fisik. Ardaya. Untuk menegakkan diagnosis ISK harus ditemukan bakteri dalam urin melalui biakan atau kultur (Tessy. Dalam membuat perencanaan keperawatan penulis menyesuaikan dengan kondisi klien saat dikaji dan membuat prioritas masalah sesuai kebutuhan dasar manusia menurut Maslow dan kebutuhan utama klien. Penyebab utama ISK (sekitar 85%) adalah Eschericia coli (Coyle & Prince.

Lusiyana (07026) 2. Lince Romatua (07071) 3.Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan penyakit yang perlu mendapat perhatian serius. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Di Amerika dilaporkan bahwa setidaknya 6 juta pasien datang kedokter setiap tahunnya dengan diagnosis ISK. selaku koordinator mata ajar keperawatan Anak I.Skep selaku pembimbing makalah Keperawatan Anak dengan Difteri. Posted by Rheny Raya at 06:33 0 comments Links to this post MAKALAH ANAK DENGAN DIFTERI ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN DIFTERI Disusun Oleh : 1. Disuatu rumah sakit di Yogyakarta ISK merupakan penyakit infeksi yang menempati urutan ke-2 dan masuk dalam 10 besar penyakit (data bulan Juli ± Desember). 4. Skep. B. Anung Prapmita (07005) 6. Reni Soraya (07080) 4. Skep. Yunita Hapsari (07046) AKPER RUMKIT POLPUS RS SOEKANTO JAKARTA 2009 . Evi Aristi Pertiwi (07016) 9. . Frisda Norma (07065) 10. Dewi Nopia (07053) 8. Mkep. AKBP Enida Thamrin.2010 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya. walaupun pendokumentasian data tidak dapat dilakukan karena data yang diperoleh hanya berdasarkan ilustrasi kasus tetapi rencana tindakan dapat dilakukan dengan baik. selaku direktur Akper Rumkit Pol Pus Rs Soekanto Jakarta. Skm. 2. Untuk perawat diruangan agar dapat mendokumentasikan semua data pada klien baik verbal maupun obyektif dengan benar sehingga dapat membuat evaluasi dengan baik. Dalam menyelesaikan makalah ini penulis banyak mendapatkan bantuan baik moril maupun materil dari banyak pihak. Semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. Harti Budi L. Saran Untuk teman sejawat dan penulis agar dapat memprioritaskan masalah sesuai kebutuhan dasar manusia dan masalah utama klien tersebut. sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas mata ajar Keperawatan Anak I yang berjudul ³Asuhan Keperawatan Anak dengan Difteri´. KOMBES POL Yuyun Kurniasih. Rina Rizky (07036) 5. Dedi Sudrajat (07052) 7. 3. Untuk menunjang pendokumentasian pihak rumah sakit harus menyediakan lembaran renpra untuk perawat ruangan.

..... Diagnosa Keperawatan ....«««««««««««««««« ( 2 ) C. Ruang Lingkup «««.... ( 5 ) c) Manisfestasi klinis ««««««««. ( 6 ) d) Komplikasi ««««««««......«« ( 5 ) b) Perjalanan Penyakit ....... untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan makalah ini di masa yang akan datang Penulis mengharapkan dengan tersusunnya makalah ini semoga dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan mahasiswa / i Akper Rumkit Polpus Rs Soekanto pada khususnya... Patofisiologi a) Etiologi «««««««««««««««««........... ( 8 ) C.... ( 6 ) 1....««««««««........... Mei 2009 Penulis i DAFTAR ISI Kata pengantar «««««««««««««««««««........A Klasifikasi ««««««««.....................««««««««««««««««............Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Pengkajian Keperawatan «««««««........... Tujuan Penulisan «««......... Saran «««««««««««««««««««« (17) ............ Penatalaksanaan ««««««««..«««««««««««««««« ( 3 ) BAB II Tinjauan Teori A....................«««««««««««««««« ( 2 ) D............. Pengertian «««««««.... ( 9 ) D......................... (12) B...... Perencanaan Keperawatan «««««««««««««««««««« (12) D...... Latar Belakang «««. (ii) BAB I Pendahuluan A..«««««««««««««««« ( 2 ) E.......................... ( i ) Daftar isi ««.......««««««........... Sistematika Penulisan «««.......... Jakarta.. Gambar ««««««««..... Baik susunan maupun isi makalah ini. Kesimpulan «««««««««««««««««««« (16) B.. Pelaksanaan Keperawatan «««««««««««««««««««« (15) BAB IV Penutup A... (10) BAB III Asuhan Keperawatan A....«««««««««««« ( 4 ) B... Metode Penulisan «««.....«««««««««««««««« ( 1 ) B..... (12) C.

Lingkungan buruk merupakan sumber dan penularan penyakit.Daftar Pustaka ii BAB I PENDAHULUAN A. difteri merupakan penyebab umum dari kematian bayi dan anak-anak muda. Vaksi imunisasi difteri diberikan pada anak-anak untuk meningkatkan system kekebalan tubuh agar tidak terserang penyakit tersebut. menjaga kebersihan diri sangatlah penting. Nasofaring (bagian antara hidung dan faring atau tenggorokan) dan laring. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri corynebacterium diphtheria yaitu kuman yang menginfeksi saluran pernafasan. Tujuan Khusus a) Mampu melakukan pengkajian pada anak dengan Difteri b) Mampu menentukan masalah keperawatan pada klien anak dengan Difteri . Oleh karena itu. juga melalui batuk dan bersin penderita. usia dibawah 15 tahun. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah : 1. Pertusis. B. Penularan difteri dapat melalui hubungan dekat. yaitu sampai menimbulkan kematian. penyakit difteri jarang dijumpai. Sejak diperkenalkan vaksin DPT (Dyptheria. Penyakit ini juga dijmpai pada daerah padat penduduk dingkat sanitasi rendah. Penderita difteri umumnya anak-anak. Selama permulaan pertama dari abad ke-20. Latar Belakang Difteri merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (contagious disease). terutama bagian tonsil. Anak-anak yang tidak mendapatkan vaksi difteri akan lebih rentan terhadap penyakit yang menyerang saluran pernafasan ini. Tetanus). Dilaporkan 10 % kasus difteri dapat berakibat fatal. Tujuan Umum a) Untuk memenuhi tugas Mata Ajar Keperawatan Anak dengan Difteri b) Diperoleh pengalaman dalam membuat Asuhan Keperawatan Anak dengan Difteri 2. udara yang tercemar oleh carier atau penderita yang akan sembuh. karena berperan dalam menunjang kesehatan kita.

E. Diagnosa keperawatan. dikatat dan sumber ilmiah lain yang berhubungan dengan judul dan permasalahan dalam karya tulis ini. BAB II : Tinjauan Teoritis yang meliputi pengertian. manifestasi klinis. Pelaksanaan keperawatan. Metode penulisan. dan sitematika penulisan. Tujuan. yaitu dengan mengumpulkan data. dan penatalaksanaan. D.c) Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada anak dengan Difteri d) Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien anak dengan Difteri e) Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada anak dengan Difteri C. Evaluasi keperawatan.Perencanaan keperawatan. Ruang Lingkup Dalam penyusuna makalah ini penulis hanya membatasi masalah mengenai Asuhan Keperawatan pada anak dengan Difteri. Ruang lingkup. BAB III : Asuhan Keperawatan yang terdiri dari Pengkajian keperawatan. yang terdiri dari Latar belakang. Metode Penulisan Dalam penulisan makalah ini. Sistematika Penulisan Makalah ini terjadi dari 4 bab yang disusun secara sistematika dengan urutan sebagai berikut : BAB I : Pendahuluan. BAB IV : Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran BAB II TINJAUAN TEORI . penulis menggunakan metode deskriftif. menganalisis dan menarik suatu kesimpulan. patofisiologi (yang terdiri dari etiolagi. dan studi kepustakaan dengan mempelajari buku-buku. pejalanan penyakit. komplikasi).

41) Diferi adalah penyakit akibat terjangkit bakteri yang bersumber dari corynebacterium diphtheriae (c. (www. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah yang dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. buku pegangan pediatric.1. laring. 337) Difteri adalah suatu infeksi. (Merensien kapian Rosenberg. Penyakit ini menyerang bagian atas murosasaluran pernafasan dan kulit yang terluka. (www. faring. akut yang mudah menular dan yang sering diserang adalah saluran pernafasam bagian atas dengan tanda khas timbulnya ³pseudomembran´. Dengan adanya imunisasi aktif pada masa anak-anak dini. tetapi tahan hidup sampai beberapa minggu dalam es. Tanda-tanda yang dapat dirasakan ialah sakit letak dan demam secara tiba-tiba disertai tumbuhnya membrane kelabu yang menutupi tansil serta bagian saluran pernafasan. diphtheriae). susu dan lender yang telah mengering. Pengertian Difteri adalah suatu penyakit infeksi toksik akut yang menular. Biasanya bakteri berkembang biak pada atau disekitar permukaan selaput lendir mulut atau tenggorokan dan menyebabkan peradangan beberapa jenis bakteri ini menghasilkan teksik yang sangat kuat. (Ngastiyah perawatan anak sakit. Hal. Etiologi Penyebabnya adalah bakteri corynebacterium diphtheriae. hidung. air. yang dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan otak.com) Difteri adalah suatu penyakit bakteri akut terutama menyerang tansil. Hasil difteria akan mati pada pemanasan suhu 60oc selama 10 menit. b. Perjalanan Penyakit .podnova. Difteri adalah suatu infeksi demam akut. Masa inkubasi 1-7 hari (rata-rata 3 hari). disebabkan oleh corynebacteri um diphtheriae dengan ditandai pembentukan pseudomembran pada kulit dan atau mukosa.padnova. biasanya ditenggorok dan paling sering pada bulanbulan dingin pada daerah beriklim sedang. Patofisiologi a. edisi 2 Hal. adakalanya menyerang selaput lendir atau kulit serta kadang-kadang konjungtiva atau vagina.com) 2.

mulainya seperti radang akut tenggorok dengan suhu yang tidak terlalu tinggi dapat ditemukan pseudomembran yang mula-mula hanya berapa bercak putih keabu-abuan yang cepat meluas ke nasofaring atau ke laring. polimorfonukleus. 4. selanjutnya gejala klinis dapat dibagi dalam gejala umum dan gejala akibat eksotoksin pada jaringan yang terkena. Klasifikasi : 1. Manifestasi Klinis Masa tunas 3-7 hari khas adanya pseudo membrane.c. Penyebaran pseudomembran dapat pula mencapai foring dan laring. 3. Difteria hidung Gejalanya paling ringan dan jarang terdapat (hanya 2%). nafas berbau dan timbul pembengkakan kelenjar regional sehingga leher tampak seperti leher sapi (bull neck) Dapat terjadi salah menelan dan suara serak serta stridor inspirasi walaupun belum terjadi sumbatan faring. Slanosis dan tampak retraksi suprastemal serta epigastrium. pucat nyeri kepala dan anoreksia sehingga tampak penderita sangatlemah sekali. banyak secret dan permukaan ditutupi oleh pseudomembran. Gejala umum yang timbul berupa demam tidak terlalu tinggi lesu. tetapi kemudian secret yang keluar tercampur sedikit yang berasal dari pseudomembren. Tan Eng Tie (1965) mendapatlan 30% infeksi kulit yang diperiksanya megandung kuman diphtheria. Pada pemeriksaan laring tampak kemerahan sembab. Hanya berupa radang pada selaput pada selaput lendir dan tidak membentuk pseudomembran. Diftheria Faeraneus Merupakan keadaan yang sangat jarang sekali terdapat. Gejala mungkin ringan. dapat sembuh sendiri dan memberikan imunitas pada penderita. Gejala gangguan jalan nafas berupa suara serak dan stridor inspirasi jelas dan bila lebih berat dapat timbul sesak nafas hebat. 2. Dapat pula timbul di daerah . Pada penyakit yang lebih berat. a. Gejala ini biasanya disertai dengan gejala khas untuk setiap bagian yang terkena seperti pilek atau nyeri menelan atau sesak nafas dengan sesak dan strides. Bila anak terlihat sesak dan payah sekali maka harus segera ditolong dengan tindakan trake ostomi sebagai pertolongan pertama. Pada pemeriksaan darah dapat terjadi penurunan kadar haemoglobin dan leukositosis. sedangkan gejala akibat eksotoksin bergantung kepada jaringan yang terkena seperti iniokorditis paralysis jaringan saraf atau nefritis. Pembesaran kelenjar regional akan menyebabkan bull neck. Difteria faring dan tonsil (difteria fausial) Paling sering dijumpai (I 75%). Diftheria Laring dan trachea Lebih sering sebagai penjalaran difteria faring dan tonsil (3 kali lebih banyak dari pada primer mengenai laring. penurunan jumlah eritrosit dan kadar albumin. Hal ini disebabkan oleh paresisi palatum mole. Mula-mula hanya tampak pilek. sedangkan pada urin mungkin dapat ditemukan albuminuria ringan.

Dapat diberikan prednison 2 mg/kkbb/hari selama 3 minggu yang kemudian dihentikan secara bertahap.000 untuk kgbb/hari sampai 3 hari bebas panas. leher anggota gerak dan yang paling penting dan berbahaya bila mengenai otot pernafasan. 2. 3. isolasi penderita dan pengawasan yang ketat atas kemungkinan timbulnya komplikasi antara lain pemeriksaan EKG tiap minggu. sehingga dapat mengakibatkan strabisinus gangguan akomodasi. Penatalaksanaan 1. kelainan dapat mengenai otot muka. istirahat mutlak ditempat tidur. ditambahkan kloramfenikol 75 mm/kg bb/hari dibagi 4 dosis.000 untuk hari selama 2 hari berturutturut dengan sebelumnya dilakukan uji kulit dan mata bila ternyata penderita peka terhadap serum tersebut. Pada penderita yang dilakukan trakeostomi. Susunan daraf Kira-kira 10% penderita difteria akan mengalami komplikasi yang mengenai system susunan saraf terutama system motorik Paralisis / parese dapat berupa : 1. yang setelah minggu ke tiga. Kardiovaskuler Miokarditir akibat toksin yang dibentuk kuman penyakit ini c. Anti Diphteria Serum (ADS) diberikan sebanyak 20. Paralasis / paresis palatum mole sehingga terjadi rinolalia. 3. Aluran Pernafasan Obstruksi jalan nafas dengan segala bronkopnemonia atelaktasio b.konjungtiva. Paralisis umum yang dapat timbul setelah minggu ke 4. c. . maka harus dilakukan desentitisasi dengan cara besderka b. Penatalaksanaan Medis a. Antibiotika diberikan penisilan 50. vagina dan umbilicus. Kortikosteroid obat ini di maksudkan untuk mencegah timbulnya komplikasi miokarditis yang sangat berbahaya. Urogenital Dapat terjadi Nefritis d. kesukaran menelan sifatnya reversible dan terjadi pada minggu ke satu dan kedua. Penatalaksanaan Mandiri Terdiri dari : Perawatan yang baik. d. dilatasi pupil atau ptosis. 2. Komplikasi a. Paralisis / paresis otot-otot mutu.

Lakukan fisioterapi dada. Kaji tanda-tanda yang terjadi pada Nasa. Riwayat terkena penyakit infeksi. Suction jalan nafas jika terdapat sumbatan 4. Kaji status pernafasan. observasi irama dan bunyi pernafasan 2. Atur posisi kepala dengan posisi ekstensi 3. Pengkajian Keperawatan 1. Persiapkan anak untuk dilakukan trakeostomi . 6. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan proses penyakitnya (metabolisme meningkat. Resiko penyebarluasan infeksi berhubungan dengan organisme virulen 3.4. Lihat dari Manifestasi klinis berdasarkan atur patofisiologi 2. tonsil/faring. 4. Tidak efektif bersihan jalan Nafas berhubungan dengan obstruksi pada jalan nafas 2. Gambar Penyakit Difteri Diftheria Faeraneus Bull¶s neck Pseudomembrane diphtheria BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 1. Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang kurang. status immunisasi 2. Riwayat Keperawatan. Perencanaan Keperawatan 1. Berikan oksigen sebelum dan setelah dilakukan suction 5. intake cairan menurun). 3. dan laring 3. Diagnosa Keperawatan 1. Tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi pada jalan nafas Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan jalan nafas efektif KH : Jalan Nafas Kembali Normal Intervensi : 1.

kulit kurang. Lakukan pemeriksaan Analisa Gas Darah. KH : Anak dapat mempertahankan keseimbangan cairan Dehidrasi tidak terjadi Intervensi : 1. 8. Evaluasi : Keseimbangan cairan dapat dipertahankanZ 4. Gunakan Prosedur terlindungi infeksi jika melakukan kontak dengan Anak. tekanan darah menurun. frekuensi denyut jantung dan pernafasan. Berikan Antibiotik sesuai Intruksi dokter Evaluasi : Penyebarluasan infeksi tidak terjadi. turgor. Evaluasi : Jalan nafas kembali efektifZ 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang kurang. . pertahankan intake cairan dan elektrolit yang tepat. Kolaborasi untuk pemberian cairan parenteral jika pemberian cairan melalui oral tidak memungkinkan. Monitor intake output secara tepat.Berat badan anak bertambah . lingkar lengan. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan volume cairan terpenuhi. Lakukan Intubasi jika ada indikasi. Tempatkan anak pada ruang khusus 2. Resiko Penyebarluasan Infeksi berhubungan dengan organisme Virulen Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan perluasan infeksi tidak terjadi. membran mukosa) yang adekuat. KH : Tidak ditemukan perluasan infeksi Intervensi : 1.Turgor kulit baik Intervensi : 1.Z 3. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi. 3. Monitor indicator terpenuhi kebutuhan nutrisi (berat badan. Resiko tinggi tejadinya kekurangan volume cairan berhubungan dengan penyakit (Metabolisme meningkat. 4. (APD). Kaji adanya tanda-tanda Dehidrasi (membrane mukosa kering. Produksi urin menurun. Pertahankan isolasi yang ketat di RS 3. 2. meningkat.7. KH : . intake cairan menurun). Pasang NGT untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak 3. Kaji ketidakmampuan anak untuk makan 2. fontanel cekung). Kolaborasi untuk pemberian nutrisi parenteral 4.

Tetanus). Jika membran ini dilepaskan secara paksa maka lapsan lender dibawahnya akan berdarah. didekat tonsil dan bagian faring yang lain. Membran inilah penyebab penyempitan saluran udaraaau secara tiba-tiba bias terlepas dan menyumbat saluran udara sehingga anak mengalami kesulitan bernafas. B. Juga menjaga kebersihan badan. Pelaksanaan Keperawatan Pada tahap ini untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas-aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien. bakteri. Dan makanan yang dikonsumsi harus bersih yaitu makan makanan 4 sehat 5 sempurna. pakaian. dan lebih sering menyerang anak-anak. Saran Karena difteri adalah penyebab kematian pada anak-anak. juga melalui batuk dan bersin penderita. Tidak jarang dilakukan pemeriksaan terhadap lendir di faring dan dibuatkan biakan dilaboratorium. Membrane ini tidak mudah robek dan bewarna keabu-abuan. melalui udara yang tercemar oleh carier atau penderita yang akan sembuh. Agar implementasi (pelaksanaan) perencanaan ini dapat tepat waktu dan efektif maka perlu mengidentifikasi prioritas perawatan. Memantau dan mendokumentasikan pelaksanaan perawatan. . dan bahan lainnya. Vaksin imunisasi difteri diberikan pada anak-anak untuk meningkatkan system kekebalan tubuh agar tidak terserang penyakit tersebut. Kesimpulan Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil racun corynebacterium diphtheria. dan lingkungan karena difteri mudah menular dalam lingkungan yang buruk dengan tingkat sanitasi rendah. penyakit difteri jarang dijumpai. dan harus dilakukan pencarian dan kemudian mengobati carier difteri dan dilkaukan uji schick. tonsil. terutama laring.Evaluasi : Tanda-tanda kebutuhan nutrisi terpenuhiZ 4. Bakteri ini biasanya menyerang saluran pernafasan. 2000). Sedangkan untuk melihat kelainan jantung yang terjadi akibat penyakit ini dilakukan pemeriksaan dengan EKG. maka disarankan untuk anak-anak wajib diberikan imunisasi yaitu vaksin DPT yang merupakan wajib pada anak. Berdasarkan gejala dan ditemukanya membran inilah diagnosis ditegakkan. Pertusis. Sehingga orang dewasa sebaiknya menjalani vaksinasi booster (DT) setiap 10 tahun sekali. Penularan difteri dapat melalui kontak langsung seperti berbicara dengan penderita. tetapi kekebalan yang diperoleh hanya selama 10 tahun setelah imunisasi. (Doenges E Marilyn. dan faring. Anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin akan lebih rentan terhadap penyakit yang menyerang saluran pernafasan ini. Pada serangan difteri berat akan ditemukan psudomembran. Selain itu juga kita dapat menyarankan untuk mengurangi minum es karena minum minuman yang terlalu dingin secara berlebihan dapat mengiritasi tenggorokan dan menyebabkan tenggorokan tersa sakit. dkk. BAB IV PENUTUP A. Tetapi tidak jarang racun juga menyerang kulit dan bahkan menyebabkan kerusakaan saraf dan juga jantung. Tetapi sejak diperkenalkan vaksin DPT (Difteri. yaitu lapisan selaput yang terdiri dari sel darah putih yang mati.

1999. kecelakaan. 2002) Hernia Nukleus Pulposus bisa ke korpus vertebra diatas atau bawahnya. Perkembangan pecahan yang menyebar di anulus melemahkan pertahanan pada herniasi nukleus.Jakarta: Sagung seto Staf pengajar Ilmu kesehatan Anak.com www.com www.Asuhan Keperawatan anak. Lynda Juall.Sedangkan untuk perawat.Jakarta: Fkui www.2001. 1990) Patofisiologi Protrusi atau ruptur nukleus pulposus biasanya didahului dengan perubahan degeneratif yang terjadi pada proses penuaan. .Jakarta Doengoes.com Posted by Rheny Raya at 06:29 4 comments Links to this post Askep HNP (HERNIA NUKLEUS PULPOSUS) Pengertian Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah bantalan diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam satu kapsul.Buku Saku :Diagnosa keperawatan edisi: 8 Peneterjemah Monica Ester. HNP merupakan rupturnya nukleus pulposus. Kehilangan protein polisakarida dalam diskus menurunkan kandungan air nukleus pulposus. Daftar Pustaka Carpentino. bisa juga langsung ke kanalis vertebralis. diphtheria 2x berturut-turut. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus.2005.medicastore.dkk.Pediatric. dan stress minor berulang seperti mengangkat) kartilago dapat cedera.podnova.Jakarta Supriadi.Naya. Gunakan prosedur terlindungi infeksi jika melakukan kontak langsung dengan anak (APD). (Brunner & Suddarth.com www. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3 penterjemah Monica Ester. penderita dengan difteri harus diberikan isolasi dan baru dapat dipulangkan setelah pemeriksaan sediaan langsung menunjukkan tidak terdapat lagi C. (Priguna Sidharta.Ilmu Kesehatan Anak.EGC.2004. E Marlynn.EGC. Setela trauma *jatuh.

Pemeriksaan Diagnostik 1. Penatalaksanaan 1. RO Spinal : Memperlihatkan perubahan degeneratif pada tulang belakang 2. Setelah terjadi hernia nukleus pulposus sisa duktus intervertebralis mengalami lisis sehingga dua korpora vertebra bertumpang tindih tanpa ganjalan. kapsulnya mendorong ke arah medula spinalis atau mungkin ruptur dan memungkinkan nukleus pulposus terdorong terhadap sakus dural atau terhadap saraf spinal saat muncul dari kolumna spinal. sedatif. CT Scan dan Mielogram jika gejala klinis dan patologiknya tidak terlihat pada M R I 4. Disektomi : Mengangkat fragmen herniasi atau yang keluar dari diskus intervertebral b. Lagipula. Manifestasi Klinis Nyeri dapat terjadi pada bagian spinal manapun seperti servikal. dan gejala ini disebabkan oleh cedera pada diskus yang tidak terlihat selama beberapa bulan maupun tahun. 3. Hernia nukleus pulposus ke kanalis vertebralis berarti bahwa nukleus pulposus menekan pada radiks yang bersama-sama dengan arteria radikularis berada dalam bungkusan dura.Pada kebanyakan pasien. obat anti inflamasi dan jika perlu kortikosteroid. Immobilisasi Immobilisasi dengan mengeluarkan kolor servikal. 4. memungkinkan ahli bedah untuk menginspeksi kanalis spinalis. 3. Traksi Traksi servikal yang disertai dengan penyanggah kepala yang dikaitkan pada katrol dan beban. Meredakan Nyeri Kompres lembab panas. analgesik. M R I : untuk melokalisasi protrusi diskus kecil sekalipun terutama untuk penyakit spinal lumbal. Anamnesa . relaksan otot. Hal ini terjadi kalau tempat herniasi di sisi lateral. gejala trauma segera bersifat khas dan singkat. 2. traksi. Nyeri punggung bawah yang berat. Manifestasi klinis bergantung pada lokasi. kecepatan perkembangan (akut atau kronik) dan pengaruh pada struktur disekitarnya. torakal (jarang) atau lumbal. Bilamana tempat herniasinya ditengah-tengah tidak ada radiks yang terkena. mengidentifikasi dan mengangkat patologi dan menghilangkan kompresi medula dan radiks c. Laminotomi : Pembagian lamina vertebra. kronik dan berulang (kambuh). Elektromiografi (EMG) : untuk melokalisasi radiks saraf spinal khusus yang terkena. Pengkajian 1. d. Macam : a. maka herniasi di garis tengah tidak akan menimbulkan kompresi pada kolumna anterior.oleh karena pada tingkat L2 dan terus kebawah sudah tidak terdapat medula spinalis lagi. Kemudian pada degenerasi pada diskus. Laminektomi : Mengangkat lamina untuk memajankan elemen neural pada kanalis spinalis. Pembedahan Tujuan : Mengurangi tekanan pada radiks saraf untuk mengurangi nyeri dan mengubah defisit neurologik. Disektomi dengan peleburan. atau brace.

lamanya serangan. parestesia. Berikan / bantu pasien untuk melakukan latihan rentang gerak pasif dan aktif b. pinggang dan lutut dalam keadaan fleksi. Ansietas b. Gangguan mobilitas fisik b. Libatkan keluarga 4. Kurang pengetahuan b. Kaji adanya masalah sekunder yang mungkin merintangi keinginan untuk sembuh dan mungkin menghalangi proses penyembuhannya. lokasi. Gangguan mobilitas fisik b. spasme otot. Ansietas b. Tetapkan skala 0 ± 10 b. Gunakan logroll (papan) selama melakukan perubahan posisi d. spasme otot a.d kurangnya informasi mengenai kondisi. spasme otot. Kaji tingkat ansietas pasien b.Keluhan utama.d Kompresi saraf. Jelaskan kembali proses penyakit dan prognosis dan pembatasan kegiatan b. posisi telentang c.d kompresi saraf. mengangkat dan menggunakan sepatu penyokong . Kolaborasi : analgetik 3. prognosis dan tindakan pengobatan. Intervensi 1. e. Kaji keluhan nyeri. Nyeri b. Kurang pengetahuan b.d tidak efektifnya koping individual a. f. Kolaborasi : analgetik. faktor pencetus / yang memperberat. Demonstrasikan penggunaan alat penolong seperti tongkat. fisioterapi 2. Pertahankan tirah baring. riwayat perawatan sekarang. Periksa keadaan kulit dibawah brace dengan periode waktu tertentu. Riwayat kesehatan keluarga 2. Pengkajian pada daerah spinal servikal meliputi palpasi yang bertujuan untuk mengkaji tonus otot dan kekakuannya. Berikan informasi mengenai mekanika tubuh sendiri untuk berdiri. traksi. keterbatasan gerak dan keterbatasan fungsi leher. Pemeriksaan Penunjang Diagnosa Keperawatan yang Muncul 1. masase titik yang tertekan setelah rehap perubahan posisi. Catat respon emosi / perilaku pada immobilisasi e. Riwayat kesehatan dahulu. terapi restriktif dan kerusakan neuromuskulus 3. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi progresif c. Berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan masalah seperti kemungkinan paralisis. Nyeri b. Ajarkan teknik relaksasi g. d. bahu dan ekstremitas atas. Berikan informasi yang akurat c. Bantu pemasangan brace / korset e.d nyeri. Batasi aktifitas selama fase akut sesuai dengan kebutuhan f. Berikan perawatan kulit dengan baik.d kurangnya informasi mengenai kondisi. terapi restriktif dan kerusakan neuromuskulus a. prognosis a. pengaruh terhadap fungsi seksual. Pemeriksaan Fisik Pengkajian terhadap masalah pasien terdiri dari awitan. lokasi dan penyebaran nyeri.d nyeri. perubahan peran dan tanggung jawab. spasme otot 2.d tidak efektifnya koping individual 4. 3. posisi semi fowler dengan tulang spinal. d.

bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias : hipertensi. 2002 2. d. Perawatan Medikal Bedah. 1998.Susan Martin. ME. IG.html Posted by Rheny Raya at 06:27 0 comments Links to this post ASKEP PREEKLAMSI Preeklamsi Pengertian Pre eklampsia adalah kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil. Oleh karena itu disebut ³penyakit teori´ namun belum ada memberikan jawaban yang memuaskan. setelah perdarahan dan infeksi pre eklampsia masih merupakan sebab utama kematian ibu. Halaman 199). Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme. maka tenanan darah akan naik sebagai usaha untuk mengatasi tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi. DAFTAR PUSTAKA 1. 5. dan edema. 4. Jakarta : EGC. Hindari pemakaian pemanas dalam waktu yang lama f.40 wib. Barbara C. serta penanganannya perlu segera dilaksanakan untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak. . Oleh karena itu diagnosis dini preeklampsia yang merupakan tingkat pendahuluan eklampsia. 1993 /ilmukeperawatan.com/asuhan_keperawatan_hnp/300609/20.c. Diskusikan mengenai pengobatan dan efek sampingnya. Berikan informasi mengenai tanda-tanda yang perlu diperhatikan seperti nyeri tusuk. bantal kecil yang agak datar dibawah leher. Banyak teori ± teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya. Jakarta : EGC. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan pada glomerulus (Sinopsis Obstetri. Etiologi Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. 3. proteinuri. Jakarta : EGC. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth edisi 8 Vol 3. mungkin karena retensi air dan garam. 1996. kehilangan sensasi / kemampuan untuk berjalan. Smeltzer. Long. Yogyakarta : Gajahmada University Press. Pada beberapa kasus. 1996. Suzane C. Edisi 2. Sakit Neuromuskuloskeletal dalam Praktek. 6. lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilakui oleh satu sel darah merah. Insiden Di Indonesia. Doengoes. hindari posisi telungkup. Jilid I. Patofisiologi Pada pre eklampsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air.Standar Perawatan Pasien edisi 5. Anjurkan untuk menggunakan papan / matras yang kuat. Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstitial belum diketahui sebabnya. Chusid. e. Jakarta : Dian Rakyat. Tucker. Neuroanatomi Korelatif dan Neurologi Fungsional. dan sebab kematian perinatal yang tinggi. Priguna Sidharta. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. 2000. tidur miring dengan lutut difleksikan.

Gejala ± gejala ini sering ditemukan pada pre eklampsia yang meningkat dan merupakan petunjuk bahwa eklampsia akan timbul. Etiologi Penyebab dilakukannya seksio sesarea adalah : Plasenta previa . aspartat aminotransferase. pemeriksaan edema. diikuti edema. Halaman 863). pengukuran tinggi fundus uteri. diplopia. Berikan penerangan tentang manfaat istirahat dan tidur. ketenangan. serta pentingnya mengatur diit rendah garam. lemak. Hal 133). dan akhirnya proteinuria. dan sebagainya). Seksio sesarea adalah suatu persalinan buatan. Trauma pada janin seminimal mungkin. Hendaknya janin lahir hidup. penglihatan kabur. Pemeriksaan fungsi hati (bilirubin.Manifestasi klinik Biasanya tanda-tanda pre eklampsia timbul dalam urutan : pertambahan berat badan yang berlebihan. Edisi ketiga. hipertensi. nyeri di daerah epigastrium. Pada pre eklampsia ringan tidak ditemukan gejala ± gejala subyektif. Halaman 133). Penanganan Tujuan utama penanganan adalah : Untuk mencegah terjadinya pre eklampsi dan eklampsi. Penanganan medik Pencegahan Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti mengenai tanda ± tanda sedini mungkin (pre eklampsia ringan). dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram (Ilmu Kebidanan. Pemeriksaan fungsi ginjal (ureum dan kreatinin). lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat. protein serum. edisi ketiga. analisis protein dalam urin. Uji untuk meramalkan hipertensi Roll Over test Pemberian infus angiotensin II. jumlah trombosit. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya pre-eklampsia. Pada pre eklampsia berat didapatkan sakit kepala di daerah prontal. Seksio sesarea Pengertian Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus (Ilmu Kebidanan. juga menjaga kenaikan berat badan yang berlebihan. pemeriksaan funduskopik. Tes Diagnostik Tes diagnostik dasar Pengukuran tekanan darah. mual atau muntah. Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina atau seksio sesarea adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim (Sinopsis Obstetri Jilid 2. Tes laboratorium dasar Evaluasi hematologik (hematokrit. morfologi eritrosit pada sediaan apus darah tepi). serta karbohidrat dan tinggi protein.

sepsis dsb. kanan kiri oleh labia minora. seperti kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak. bersifat berat seperti peritonitis. Kemungkinan peristiwa ini lebih banyak ditemukan sesudah seksio sesarea klasik. angka ini sangat menurun. Kebawah dan kebelakang kedua labia mayora bertemu membentuk kommisura posterior. Komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kencing.Gawat janin Disproporsi sefalo-pelvik (ketidakseimbangan kepala dan panggul). sebesar kacang ijo terdiri dari serabut saraf dan pembuluh darah. Pada masa sekarang oleh karena kemajuan yang pesat dalam tehnik operasi. Jenis ± jenis seksio sesarea Seksio sesarea klasik (korporal) Dengan sayatan memanjang pada korpus uteri kira ± kira sepanjang 10 cm. Seksio sesarea ismika (profunda) Dengan sayatan melintang konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10 cm. Kebelakang membentuk fossa navikulare. Anatomi fisiologi sistem reproduksi Genitalia eksterna Mons veneris/pubis Bagian yang menonjol diatas simfisis dan terdiri dari jaringan lemak. anastesi. penyediaan cairan dan darah. Komplikasi seksio sesarea Infeksi puerperal Komplikasi ini bisa bersifat ringan. Insiden Dulu angka morbiditas dan mortalitas untuk ibu dan janin tinggi. Labia mayora Berbentuk lonjong dan menonjol. Kelainan letak. sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. angka kematian perinatal sekitar 4 ± 7 %. Angka kematian ibu pada rumah ± rumah sakit dengan fasilitas operasi yang baik dan oleh tenaga-tenaga yang cekatan adalah kurang dari 2 per 1000. di belakang oleh . terdiri dari jaringan lemak. Pre eklampsia dan hipertensi Incoordination uteri action (tidak ada kerjasama yang teratur antara fungsi alat kandungan). indikasi dan antibiotika. ialah kurang kuatnya parut pada dinding uterus. atau karena atonia uteri. Kedepan kedua labia minora membentuk preputium klitoris. Menurut data dari negara ± negara dengan pengawasan antenatal yang baik dan fasilitas neonatal yang sempurna. nasib janin yang ditolong secara seksio sesarea sangat tergantung dari keadaan janin sebelum dilakukan operasi. dan sebagainya sangat jarang terjadi. Perdarahan Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang-cabang arteri ikut terbuka. Labia minora Lipatan tipis dari kulit sebelah dalam labia mayora. analog dengan penis laki ± laki. Pernah seksio sesarea. Vulva Bentuk lonjong dibatasi di depan oleh klitoris. embolisme paru-paru. Klitoris Tertutup oleh preputium klitoris.

Tanda vital Pasien dievaluasi sekurang-kurangnya setiap jam sekali paling sedikit 4 jam dan tekanan darah. 2) pars ismika. Terapi cairan dan diet . Fungsi ovarium adalah untuk produksi hormon dan ovulasi. 4) infundibulum. mulai dari kornu uteri kanan dan kiri.Hymen Berupa lapisan tipis dan menutupi sebagian besar introitus vagina. dan pembuluh limfe. Analgesia Untuk wanita dengan ukuran tubuh rata ± rata dapat disuntikkan intramuskuler yaitu mepedivin setiap 3 jam sekali bila diperlukan untuk mengatasi rasa sakit atau dapat disuntikkan dengan cara serupa 10 mg morphin. Terdiri dari bagian luar (korteks) yang mengandung folikel-folikel dan bagian dalam (medulla) yang berisi pembuluh darah. Perawatan post operasi seksio sesarea. 3) pars ampularis. serabut saraf. nadi. 1999).perineum. Tuba fallopi Berjalan ke arah lateral. tidak terdapat kelenjar. Terdiri dari fundus uteri. kecuali jika sebab seksio sesarea tetap ada misalnya kesempitan pada pinggul. Dindingnya berlipat-lipat disebut rugae. Terdapat orificium urethra eksterna.1. yang menjadi segmen bawah rahim pada kehamilan. Terdiri dari 4 bagian : 1) pars interstitialis. Korpus uteri merupakan bagian uterus terbesar dan sebagai tempat janin berkembang. Uterus Berbentuk seperti buah advokat. Patofisiologi Suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding perut dan dinding rahim dalam keadaan utuh mengingat bahwa terjadinya ruptur uteri sesudah seksio sesarea dilakukan segmen bawah uterus tidak begitu besar. mengenai kontraindikasi perlu diingat bahwa seksio sesarea tidak dilakukan kecuali dalam keadaan terpaksa. ovarium berhubungan dengan uterus dengan ligamentum ovari propium. Isthmus adalah bagian uterus antara serviks dan korpus. Bentuknya berbeda-beda dari bulan sabit sampai berlubang ± lubang. Tuba fallopi berfungsi membawa ovum ke kavum uteri. Ovarium Ada 2. misalnya janin sudah meninggal dalam uterus atau janin terlalu kecil untuk hidup diluar kandungan (Menurut Prawirohardjo S. sebesar telur ayam. Jika ibu berukuran kecil dosis mepedivin yang diberikan adalah 50 mg dan jika berukuran besar dosis yang paling tepat adalah 100 mg mepedivine. bagian yang terlebar dan sebagai tempat konsepsi terjadi. bagian ujung tuba dan mempunyai fimbria.1. bagian tengah tuba yang sempit. Pembuluh darah ke ovarium (arteri ovarika) melalui ligamentum suspensorium ovarii (ligamentum infundibulopelvikum). bagian dalam dinding uterus. Genitalia interna Vagina Suatu saluran muskulo membranosa yang menghubung-kan uterus dan vulva terletak antara kandung kencing dan rektum. Ostia kelenjar skene yang analog dengan kelenjar prostat pada laki ± laki. dan kelenjar vestibularis bartolini yang mengeluarkan getah lendir pada waktu coitus.6. jumlah urine serta jumlah darah yang hilang dan fundus uteri serta pengukuran suhu badan harus diperiksa pada saat dini. kiri dan kanan. 2. korpus uteri dan serviks uteri. disini diambil sikap untuk membolehkan wanita hamil untuk bersalin pervagina.

setiap faktor emosional dan fisik dapat memulai persalinan. Etiologi Diduga persalinan mulai apabila uterus telah teregang sampai derajat tertentu. Penderita miring ke kiri dan ke kanan sudah dapat dimulai sejak 6 ± 10 jam setelah penderita sadar. Perawatan luka Luka insisi diinspeksi setiap hari untuk mengetahui penyembuhan luka. Secara normal jahitan kulit diangkat pada hari ke empat post partum.Karena selama 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi maka pemberian cairan infus harus cukup banyak dan mengandung elektrolit yang diperlukan agar tidak terjadi hipertermia dan dehidrasi. Pasien sudah dapat mandi tanpa membahayakan luka insisi. demikian pula pada plexus nervosus di sekitar cervix dan vagina. Halaman 103). Waktu 1 hari sesudah melahirkan sampai 7 hari (1 minggu pertama). 1990) antara lain : Immediate puerperium adalah keadaan yang terjadi segera setelah persalinan sampai 24 jam sesudah persalinan (0 ± 24 jam sesudah melahirkan). Patologi dan Fisiologi Persalinan. Nifas Pengertian Nifas adalah masa pulih kembali. Bertambah tuanya plasenta yang mengakibatkan penurunan kadar estrogen dan progesteron dalam darah diduga menyebabkan dimulainya persalinan (Harry Oxorn. Lama masa nifas ini yaitu 6 ± 8 minggu (Sinopsis Obstetri Fisiologi Jilid I. Halaman 68). mulai dari persalinan selesai sampai alat ± alat kandungan kembali seperti pra hamil. Periode nifas Periode nifas dibagi 3 (Menurut Depkes RI. Mobilisasi Mobilisasi secara tahap demi tahap sangat berguna untuk membantu jalannya penyembuhan. Beberapa orang percaya bahwa ada hormon khusus yang dihasilkan oleh plasenta apabila kehamilan sudah cukup bulan yang bertanggung jawab atas mulainya persalinan. (Kapita Selekta Kedokteran. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal). Nifas adalah dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat ± alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. 1990. Halaman 291). Halaman 115). merangsang permulaan persalinan. Later puerperium adalah waktu 1 minggu sesudah melahirkan sampai 6 minggu. Tekanan bagian terendah janin pada cervix dan segmen bawah rahim. Nifas adalah massa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu (Perawatan Kebidanan Yang Berorientasi Pada Keluarga. Insiden . Jilid II. Early puerperium adalah keadaan yang terjadi pada permulaan puerperium. Jilid I. Siklus menstruasi berulang setiap 4 minggu dan persalinan biasanya mulai pada akhir minggu ke-40 atau 10 siklus menstruasi. Latihan pernafasan dilakukan penderita sambil tidur terlentang. Begitu kehamilan mencapai cukup bulan. sedini mungkin setelah sadar.

Pada hari ke-5 pasca persalinan uterus kurang lebih tinggi 7 cm atas symfisis atau setengah symfisis ± pusat. Mungkin pula bentuk uterus sedemikian rupa. Lochia Lochia adalah sekret dari cavum uteri dn vagina dalam masa nifas. 2003). menjadi kira ± kira 500 gr. serta fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan partus berangsur ± angsur kembali seperti semula. dan mekoneum. Satu minggu pasca persalinan. ini dikenal sebagai teori akomodasi. segera setelah plasenta lahir maka tinggi fundus uteri 2 jari di bawah pusat. Luka jalan lahir seperti bekas episiotomi yang telah dijahit. fundus uteri setinggi pusat. Perubahan-perubahan alat genital secara keseluruhannya disebut involusio. Berat uterus gravidus aterm kira ± kira 1.Hampir 96 % janin berada dalam uterus dengan presentasi kepala dan pada 58 % ubun ± ubun kecil terletak presentasi kepala ini ditemukansdi s 11 % di kanan belakang. Serviks agak terbuka seperti corong pada pasca persalinan dan konsistensinya lunak. di kiri belakang.5 cm dan sering disangka sebagai bagian plasenta yang tertinggal. Sehingga tampak presentase yang tinggi berada dalam uterus dibanding presentase kepala. Endometrium mengalami perubahan yaitu timbulnya trombosis. diafragma pelvis. Hari 1 ± 2 lochia rubra berwarna merah berisi lapisan decidu. degenerasi dan nekrosis di tempat implantasi plasenta. sesudah 12 hari uterus tidak dapat diraba lagi diatas symfisis.000 gr.s23 % di kanan depan. Ada 3 faktor yang memegang peranan pada persalinan ialah : Kekuatan yang ada pada ibu seperti kekuatan his dan kekuatan mengedan. sedangkan kepala berada dibawah. Genetalia interna dan eksterna (Sketsa gambar terlampir). Janinnya sendiri Dan data yang didapatkan di RSU Labuang Baji terdapat 79. Keadaan ini mungkin disebabkan pula karena kepala relatif lebih besar dan lebih berat. di ruangan yang lebih sempit. faktor istirahat dan faktor isapan anak. Ligamen. makanan yang dimakan ibu. alat ± alat genitalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan pengeluaran air susu ibu adalah faktor anatomis. 2 minggu pasca persalinan 300 gr dan setelah 6 minggu pasca persalinan 40 ± 60 gr. luka pada vagina dan serviks yang tidak luas akan sembuh primer. Anatomi / Fisiologi Dalam masa nifas. Keadaan ini disebabkan terisinya ruangan di sebelah kiri belakang oleh kolon sigmoid dan rectum. Keadaan jalan lahir. Laktasi dapat diartikan dengan pembentukan dan pengeluaran air susu ibu.6% ibu nifas yang melahirkan normal dari 3034 ibu nifas dalam tiga tahun terakhir ini (Medical Record RSU Labuang Baji Makassar. di ruangan yang lebih luas. Bagian bekas implantasi plasenta merupakan luka kasar dan menonjol kedalam kavum uteri yang berdiameter 7. Setelah janin dilahirkan. Hari 3 ± 7 sanguilenta . faktor biologis. dan s8 % kiri depan. sehingga volume bokong dan ekstremitas yang lebih besar berada di atas. selaput ketuban. Laktasi Kelenjar mamma telah dipersiapkan semenjak kehamilan umumnya produksi ASI baru terjadi hari kedua atau ketiga pasca persalinan. dimana masing-masing buah dada terdiri 14 ± 24 lobus yang terletak terpisah satu sama lain oleh jaringan lemak.

sedikit darah. Tenaga ibu mulai sehat dan meningkat serta merasa lebih nyaman.berwarna cokelat. dirinya sendiri dan mulai sibuk dengan tanggung jawab sebagai ibu. Berjalan biasanya menyebabkan meningkatnya intensitas kontraksi. marah atau menarik diri. Normal hematokrit pada saat tersebut adalah 42 %. Perawatan payudara Perubahan psikologi pada ibu nifas Menurut Reva Rubin (1960) proses adaptasi psikologis pada ibu nifas melalui 3 fase yaitu : Fase taking in (fase mengambil). Klien/pasangan dapat memiliki pertanyaan atau salah terima peran dalam pengalaman kelahiran. Manifestasi klinik Manifestasi klinik pada ibu menyusui dimasa nifas menurut Persis Mary Hammilton yaitu : Kontraksi pada interval Interval antar kontraksi secara bertahap memendek. Test Diagnostik Test diagnostik yang biasanya diberikan pada ibu nifas yaitu : test laboratorium terutama terhadap hematokrit untuk melihat konsentrasi darah dalam tubuh setelah 3 hari post partum. Perawatannya dengan memberikan kompres dingin untuk menurunkan atau mengurangi bengkak pada hemoroid. mungkin mengekspresikan ketidaknyamanan untuk menghadapi situasi baru. Masih ada kurang percaya diri tetapi fokus perhatian mulai meluas. Fase taking hold Terjadinya pda hari 4 ± 10 post partum Sikap aktif dan positif serta lebih mandiri namun masih memerlukan bantuan orang lain. Durasi dan intensitas kontraksi meningkat Rasa tidak nyaman mulai di belakang dan menjalar ke abdomen. Fase letting go Terjadi setelah 10 hari post partum. Integritas ego Dapat menunjukkan labilitas emosional dari kegembiraan sampai ketakutan. Terjadinya pada hari 1 ± 3 post partum Dalam memenuhi kebutuhan sangat tergantung pada orang lain. Sulit mengambil keputusan. . Dilatasi dan pendataran serviks mengalami kemajuan. Penanganan Medik Penanganan medik yang dilakukan pad ibu nifas adalah : Perawatan perineum Perawatan episiotomi Perawatan hemoroid : hemoroid biasanya menyertai persalinan. Mampu merawat bayinya. Hari setelah 2 minggu lochia alba berwarna kekuningan berisi selaput lendir leucocye dan kuman yang telah mati. Proses Keperawatan Pengkajian dasar data klien Tinjau ulang catatan prenatal dan intra operatif dan adanya indikasi untuk kelahiran sesarea. Mulai menjalankan peranannya dan sudah punya konsep. banyak serum selaput lencir leucocye. Hari 7 ± 10 lochia serosa warna agak kuning cair. Sirkulasi Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600 ± 800 ml.

Perhatikan lingkungan sekitar kelahiran sesaria.Perhatikan pengungkapan/pri-laku yang menunjukkan keke-cewaan atau kurang minat/kedekatan. 3. nyeri penyerta.Sambut keluarga untuk kunju-ngan singkat segera bila ibu/bayi baru lahir memungkin-kan. 8. Nyeri / ketidaknyaman Mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber. dan partisipasi mereka pada pengalaman kelahiran. bantu sesuai kebutuhan. 9. perhatikan peri-laku yang dianggap menanda-kan ikatan dan kedekadan dalam budaya tertentu.Observasi dan catat interaksi keluarga-bayi. kebanggaan diri orang tua dan persepsi tentang pengalaman kelahiran. 6. . Aliran lokhia sedang dan bebas bekuan berlebihan / banyak. bising usus tidak ada. Pernafasan : bunyi paru jelas dan vesikuler Keamanan Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda atau kering dan utuh. distensi kandung kemih / abdomen. bengkak dan nyeri tekan. mulai secara aktif mengikuti tugas perawatan bayi baru lahir dengan tepat. Rencana tindakan Intervensi Rasional Mandiri 1. tergantung pada kondisi klien dan bayi baru lahir. 2. efek-efek anastesia. Hasil yang diharapkan klien akan : Menggendong bayi. 7. Diagnosa Keperawatan Perubahan ikatan proses keluarga berhubungan dengan krisis situasi Kemungkinan dibuktikan oleh keragu-raguan untuk menggendong/ berinteraksi dengan bayi. mendemostrasikan perilaku kedekatan dan ikatan yang tepat.Berikan kesempatan untuk ayah/pasangan untuk menyen-tuh dan menggendong bayi dan bantu dalam perawatan bayi se-suai kemungkinan situasi. mulut mungkin kering. 5. urine jernih pucat. misalnya trauma bedah / insisi.Anjurkan dan bantu dalam me-nyusui pada pilihan klien dan keyakinan/praktis budaya. Perhatikan kenormalan dari variasi respon dari satu waktu ke waktu lainnya dan diantara anak yang berbeda. tidak menghadapi pengalaman traumatik secara konstruktif. Jalur parenteral bila digunakan paten. bila kondisi ibu dan neonatus memungkinkan. reaksi awal mereka terhadap bayi. menyentuh dan me-meriksa bayi.Berikan kesempatan kepada orang tua untuk mengungkap-kan perasaan-perasaan yang negatif tentang diri mereka dan bayi. 4.Anjurkan klien untuk meng-gendong.Diskusikan kebutuhan kemaju-an dan sifat interaksi yang lazim dari ikatan. samar atau jelas. mengungkapkan masalah/kesulitan koping terhadap situasi.Eliminasi : Kateter urinarius mungkin terpasang. Seksualitas Fundus kontraksi dan terletak di umbilikus. Makanan / cairan : abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada awal Neurosensori Kerusakan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anastesi spiral epidural. dan sisi bebas eritema.

yang memulai kedekatan dan proses pengenalan.Banyak pasangan mempunyai konflik tidak teratasi mengenai proses pengenalan awal orang tua-bayi yang memerlukan pemecahan setelah pulang.Membantu pasangan untuk mem-proses dan mengevaluasi informasi yang diperlukan khususnya bila periode pengenalan awal telah lambat.Siapkan untuk dukungan/eva-luasi terus-menerus setelah pu-lang. 13. Memberikan ke-sempatan untuk ibu.Berikan informasi sesuai kebu-tuhan tentang keamanan dan kondisi bayi.Konflik tidak teratasi selama proses pengenalan awal orang tua bayi dapat mempunyai efekefek negatif jangka panjang pada masa depan hubungan orang tua-anak.Kontak mata dengan mata. Kolaborasi : 12. 13. 10.Informasi menghilangkan ansie-tas dapat mengganggu ikatan atau me-ngakibatkan absorbsi diri daripada perhatian terhadap bayi baru lahir. 2. 3. 6. 7.Ketidakadekuatan prilaku ikatan atau interaksi buruk antara klien/pasa-ngan dengan bayi memerlukan duku-ngan dan evaluasi lanjut.10. ansietas dan nyeri dapat mengubah persepsi klien selama dan setelah ope-rasi. pengguna-an posisi wajah. 8. 9. Pada kontak pertama dengan bayi. ibu menunjukkan pola progresif dari perilaku dengan cara mengguna-kan ujung jari pada awalnya untuk menggali ekstremitas bayi dan berlan-jut pada penggunaan telapak tangan sebelum mendekap bayi dengan seluruh tangan dan lengan. mis : pelayanan perawat berkunjung.Orang tua perlu bekerja melalui hal-hal bermakna pada kejadian penuh stress seputar kelahiran anakn dan orientasikan mereka sendiri terhadap realita sebelum mereka dapat memfo-kuskan pada bayi efek-efek anastesia. 11. 1. berbicara pada suara nada tinggi. 5. Nyeri berhubungan dengan pembedahan Kemungkinan dibuktikan oleh : . Bantuan pada interaksi pertama atau sampai jalur intravena dilepas mencegah klien dari merasa kecewa atau tidak adekuat (Catatan : Meskipun klien telah memilih untuk mele-paskan anaknya.Beritahu anggota tim perawatan kesehatan yang tepat (mis : staf ruang perawatan atau perawat pasca partum) tentang observasi sesuai indikasi.Memudahkan ikatan/kedekatan dian-tara ayah dan bayi.Membantu klien/pasangan memahami makna dan pentingnya proses dan memberikan keyakinan bahwa perbe-daan diperkirakan. 11. memvalidasi rea-litas situasi dan bayi baru lahir pada waktu dimana prosedur dan kebutuh-an fisiknya mungkin membatasi kemampuan interaksinya. agensi komunitas dan kelompok dukungan orang tua.Kedatangan anggota keluarga baru. 12. dan menggendong bayi dengan kedekatan pada budaya Ame-rika. bahkan bila diinginkan dan diantisipa-si. Dukung pasangan sesuai kebutuhan. memerlukan penyatuan anak baru ke dalam keluarga yang ada.Kontak awal mempunyai efek positif pada durasi menyusui .Jawab pertanyaan klien menge-nai protokol perawatan selama periode pasca kelahiran awal. berinteraksi dengan bayi baru lahir dapat memfasilitasi proses berduka). menciptakan periode sementara. 4. kontak kulit dengan kulit dan mulainya tugas-tugas ibu meningkatkan ikata.Meningkatkan kesatuan keluarga dan membantu memulai proses adaptasi positif terhadap peran baru dan memasukkan anggota baru ke dalam struktur keluarga.Jam pertama setelah kelahiran memberikan kesempatan unik untuk ikatan keluarga untuk terjadi karena ibu dan bayi secara emosional menerima isyarat satu sama lain.

Ansietas berhubungan dengan krisis situasi.Lakukan latihan nafas dalam dan batuk dengan menggunakan prosedur-prosedur pembebatan dengan tepat. membedakan karakteristik khusus dari nyeri mem-bantu membeda-an nyeri pasca operasi dari terjadinya komplikasi.Relaksasi otot. kram (nyeri penyerta). stimulasi simpatik.Pada banyak klien. kaku dan gera-kan melindungi atau terbatas. 5. mengidentifikasi cara untuk menurunkan atau menghilangkan ansietas. perasaan yang tidak adekuat. wajah menahan nyeri. me-ningkatkan rasa sejahtera.Klien mungkin tidak secara verbal melaporkan nyeri dan ketidaknyama-nan secara langsung.Berikan informasi dan petunjuk antisipasi mengenai penyebab. Mengungkapkan berkurangnyer nyeri. Hasil yang diharapkan : Mengungkapkan kesadaran akan perasaan ansietas. 1. Men-dorong klien untuk mengung- . perhatikan perubahan prilaku.Nafas dalam meningkatkan upaya per-nafasan. Batuk diindikasikan bila sekresi atau ronkhi terganggu. melaporkan bahwa ansietas sudah menurun pada tingkat yangdapat diatasi.Meningkatkan kenyamanan. sakit kepala. tidak dapat tidur. keprihatinan. 2. Perhatikan isyarat verbal dan non verbal serta meringis. nyeri dapat me-nyebabkan gelisah serta TD dan nadi meningkat. abdomen kembung. dan mengalihkan per-hatian dari sensasi nyeri. 5. 6. tampak rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat. 2. Hasil yang diharapkan : Mengidentifikasi dan menggunakan intervensi untuk mengatasi nyeri/ketidaknyamanan dengan tepat.Pemberian analgetik sesuai indi-kasi. Meningkat-kan kenyamanan. 3. Pembebatan menurunkan re-gangan dan ketegangan area insisi dan mengurangi nyeri dan ketidaknyama-nan berkenaan dengan gerakan otot abdomen.Melaporkan nyeri.Tentukan tingkat ansietas klien dan sumber dari masalah. 2. 4.Tentukan karakteristik dan loka-si ketidaknyamanan. membantu mengurangi nyeri berkena-an dengan ansietas dan ketakutan ka-rena ketidaktahuan dan memberikan rasa kontrol 3. 4. kelihatan rileks dan dapat tidur/istirahat. yang memperbaiki status psikologis dan meningkatkan mobilitas.Dorong keberadaan/partisipasi dari pasangan.Evaluasi tekanan darah (TD) dan nadi.Meningkatkan pemecahan masalah. Kemungkinan dibuktikan oleh ketegangan. Analgetik dapat menurun-kan TD.Ubah posisi klien. kurangi rang-sangan yang berbahaya dan berikan gosokan punggung. nyeri tekan payudara . prilaku melindungi/distraks. 30 menit setelah pemberian analgesik. 6. Rencana tindakan : Intervensi Rasional Mandiri 1. ketidaknyamanan dan intervensi yang tepat. Anjurkan penggunaan teknik per-nafasan dan relaksasi dan distraksi. dan menurunkan distraksi tidak menyenangkan. Rencana tindakan : Intervensi Rasional Mandiri 1.

5. Jika bayi dibawa ke neonatal intensive care unit (NICU). mengurangi perasaan ansietas. dapat merasa bahwa ia menolak pasangan-nya dan tidak memenuhi peran yang diantisipasinya sebagai pendukung emosional selama proses kelahiran. 1.Bantu klien/pasangan dalam mengidentifikasi mekanisme koping yang lazim dan perkembangan strategi koping baru jika dibutuhkan.Rujuk klien/pasangan untuk konseling profesional bila reaksi maladaptif. mem buat klien merasa tidak adekuat dan telah gagal sebagai wanita. 2. 5.Tinjau ulang partisipasi klien/ pasangan dan peran dalam me-ngalami kelahiran.Tekankan kemiripan antara ke-lahiran sesaria dan vagina.Membantu memfasilitasi adaptasi yang positif terhadap peranan baru. memfokuskan kembali perhatian klien atau pasangan untuk membantu mere-ka memandang kehamilan dalam tota-litasnya dan melihat bahwa tindakan mereka sudah bermakna terhadap ha-sil yang optimal. Mengungkapkan pemahaman mengenai faktor individu yang dapat mencetuskan situasi saat ini. malu/bersalah).Mengurangi ansietas yang mungkin berhubungan dengan penanganan bayi.Kelahiran sesaria mungkin dipandang sebagai kegagalan dalam hidup oleh klien/pasangan dan hal tersebut dapat memiliki dampak negatif dalam proses ikatan/menjadi orang tua.Memberikan dukungan emosional.Kedua anggota pasanga mungkin me-ngalami reaksi emosi negatif terhadap kelahiran sesaria. khususnya bila tidak dapat hadir pada kelahiran sesaria. Harga diri rendah berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa kehidupan.Khayalan yang disebabkan oleh kurangnya informasi atau kesalahpa-haman dapat meningkatkan tingkat ansietas.Berikan informasi yang akurat tentang keadaan klien/bayi. 2. Sam-paikan sikap positif terhadap kelahiran sesaria dan atur pera-watan pasca partum sedekat mungkin pada perawatan yang diberikan pada klien setelah ke-lahiran vagina.Tentukan respon emosional klien/pasangan terhadap kelahi-ran sesaria 2. 3. Kelahiran sesaria yang tidak direncanakan dapat berefek negatif terhadap harga diri klien. Kolaborasi : 4. takut terhadap sesuatu yang tidak diketahui. 3. 1. 4. Mengekspresikan harapan diri yang positif Rencana tindakan : Intervensi Rasional 1. Dapat membantu menghindari rasa bersalah/mempersa- . Memberi-kan informasi sehubungan dengan normalnya perasaan terse-but. 4. identifikasi perilaku positif selama proses pranatal dan antenatal. Kemungkinan dibuktikan oleh mengungkapkan perasaan negatif diri dalam situasi (misalnya tidak berdaya. dapat mendorong pengungkapan ma-salah.kapkan kebutuhan dan harapan yang tidak terpenuhi. 3. Ayah atau pasangan. dan/atau menganggap hal yang buruk berkenaan dengan keadaan bayi.Mulai kontak antara klien/pasa-ngan dengan bayi sesegera mungkin.Respon berduka dapat berkurang apa-bila ibu dan ayah mampu saling ber-bagi akan pengalaman kelahiran. Hasil yang diharapkan : Mendiskusikan masalah sehubungan dengan peran dan persepsi terhadap pengalaman kelahiran dari klien/pasangan.

distensi uterus berlebihan. 4. Kolaborasi 6. 3. atau mungkin sebagai aki-bat dari vasodilatasi. namun rembesan biasanya tidak terlihat dan dapat me-nunjukkan terjadinya komplikasi. 7.lahkan.Tinjau ulang catatan pranatal dan intranatal terhadap faktor yang mempredisposisi klien pada komplikasi. mencegah statis/penumpukan pada ekstremitas bawah. karena panas dari rendam duduk tersebut. Perawatan se-rupa adalah pilihan yang dapat diterima disamping kelahiran vagina. dimana tanda vasokonstriksi mung-kin terlihat. Tanda dan gejala tidak dapat diterapkan.MEmbantu menurunkan kepekaan serebral pada adanya HKK atau ek-lapmsia.Luka bedah dengan drain dapat membasahi balutan. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif dan atau peningkatan pemajanan lingkungan. stimulasi oksitosin lama. 2. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan fungsi biokimia atau regulasi (misalnya hipotensi ortostatik. 3. Perubahan prilaku. adanya HKK atau eklampsia) Kemungkinan dibuktikan oleh adanya tanda/gejala untuk menegakkan diagnosa aktual. Catat kadar Hb dan kehilangan darah ope-ratif. nadi dan suhu.Meningkatkan aliran balik vena.Bantu klien pada ambulasi awal. Bebas dari komplikasi Rencana tindakan : Intervensi Rasional Mandiri 1.Berikan MgSO4 sesuai indikasi 7. Hasil yang diharapkan : Mendomostrasikan perilaku untuk menurunkan faktor-faktor risiko dan/atau perlindungan diri. 4.Anjurkan latihan kaki/pergela-ngan kaki dan ambulasi dini. Hipotensi dan takikardia dapat menunjukkan dehid-rasi dan hipovolemia tetapi mungkin tidak terjadi sampai volume darah sirkulasi telah menurun 35-50%. 4.Adanya faktor-faktor resiko seperti kelelahan miometrial.Inspeksi balutan terhadap per-darahan berlebihan. basah. meningkat-kan risiko terhadap pembentukan trombus. perlambatan pengisian kapiler atau sianosis. 2.Klien dapat mengubah persepsinya tentang pengalaman kelahiran sesarea sebagaimana persepsinya tentang ke-sehatan atau penyakitnya berdasarkan pada sikap persepsinya tentang kesehatan atau penyakitnya berdasarkan pada sikap profesional. 6. adanya tanda dan/gejala untuk menegakkan diagnosa . nadi lemah. 1. menurunkan resiko plebitis.Berikan kaus kaki penyokong atau balutan elastis untuk kaki bila risiko atau gejala plebitis ada.Tekanan darah yang tinggi dapat me-nandakan terjadinya atau berlanjut-nya hipertensi. 5.Menurunkan statis vena.Klien yang tidak mampu mengatasi rasa berduka atau perasaan negatif memerlukan bantuan profesional lebih lanjut. memerlukan magne-sium sulfat (MgSO4) atau pengobat-an antihipertensif lain. beri supervisi yang ade-kuat dalam hal mandi dan rendam duduk. Catat kulit dingin. 5. 3.Pantau TD. tromboflebitis pranatal memungkin-kan klien lebih rentan terhadap kom-plikasi pasca operasi.Hipotensi ortostatik dapat terjadi pada perubahan dari posisi terlentang ke berdiri.

Mendapatkan kembali pola eliminasi biasanya/optimal dalam 4 hari pasca partum. 3. 3.Anjurkan cairan oral yang ade-kuat (misalnya 6 ± 8 gelas/hari) bila masukan oral sudah mulai kembali.Anjurkan dan gunakan teknik mencuci tangan dengan cermat dan pembuangan pengalas kotoran. Rencana tindakan Intervensi Rasional Mandiri 1. 2.Anjurkan latihan kaki dan pe-ngencangan abdominal. pembalut perineal.Demam setelah pasca operasi hari ketiga. uterus lunak/tidak nyeri tekan. eksu-dat atau gangguan penyatuan. tidak ada bunyi nafas adventisius. Kolaborasi : 5.Palpasi abdomen. 2. peningkatan sampai 380 C pada hari kedua dalam 10 hari pertama pascapartum.Membantu mencegah atau membata-si penyebaran infeksi. tidak demam. nadi dan jumlah sel darah putih.Tanda-tanda ini menandakan infeksi luka.Perlu untuk mematikan mikroorga-nisme. ting-katkan ambulasi dini.aktual. Rencana tindakan : Intervensi Rasional 1. perhatikan ke-merahan.Kaji suhu. 4. Peningkatan suhu sampai 38. 5.Bersihkan luka dan ganti balut-an bila basah. 3. perhatikan distensi atau ketidaknyamanan. Hasil yang diharapkan : Mendemonstrasikan teknik-teknik untuk menurunkan risiko-risiko dan/atau meningkatkan penyembuhan. nyeri. mual. defekasi kurang dari biasanya.Inspeksi insisi terhadap proses penyembuhan. mengejan saat defekasi. stapilokokus atau spesies pseudomonas. dengan aliran dan karakter lokhia normal. Bebas dari infeksi.Lingkungan lembab merupakan me-dia paling baik untuk pertumbuhan bakteri. 2. . leukositosis dan takikardia menunjukkan infeksi. biasanya disebabkan oleh strep-tokokus. Kemungkinan dibuktikan oleh laporan rasa penuh abdomen/rektal atau tekanan.Berikan antibiotik khusus untuk proses infeksi yang ter-identifikasi. 4. atau anastesi).30 C dalam 24 jam pertama sangat mengindikasikan infeksi. 4. edema. Bakteri dapat berpindah me-lalui aliran kapiler melalui balutan basah ke luka. Menunjukkan luka bebas dari drainase purulen dengan tanda awal penyembuhan (misalnya penyatuan tepi-tepi luka). dan urine jernih kuning pucat. Hasil yang diharapkan klien akan : Mendemostrasikan kembalinya motilitas usus dibuktikan oleh bising usus aktif dan keluarnya flatus. 1.Berikan analgesik 30 menit sebelum ambulasi. Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot (diastasis rekti. kelebihan analgetik. penurunan bising usus.

klien membutuhkan waktu untuk bergerak dari fase ³mengam-bil´ sampai fase ³menahan´ yang penerimaan dan kesiapannya diting-katkan dan ia secara emosi dan fisik siap untuk mempelajari informasi baru untuk memudahkan penguasaan peran barunya. dapat menurunkan aktivi-tas usus. Memban-tu tonus-tonus otot.Membantu klien mengenali perubah-an normal dari respons-respons abnormal yang memerlukan tindakan status emosional klien mungkin ka-dang-kadang labil pada waktu ini sering dipengaruhi oleh kesejahtera-an fisik. Rencana tindakan Intervensi Rasional 1.Periode pascapartum dapat menjadi pengalaman positif bila kesempatan penyuluhan diberikan untuk mem-bantu mengembangkan pertumbuhan ibu. 4. ketidaktepatan perilaku (misalnya. 3.Latihan kaki mengencangkan otot-otot abdomen dan memperbaiki mo-tilitas abdomen. khususnya dengan kulit dan bijinya) dan meningkatkan cairan yang merangsang eliminasi dan mencegah konstipasi defekasi. hasil yang diharapkan.Kaji kesiapan dan motivasi klien untuk belajar. menghasilkan gambaran keseimbangan tubuh dan meningkat-kan perasaan kesejahteraan umum. 4.Menandakan pembentukan gas dan akumulasi atau kemungkinan ileus paralitik. Melakukan aktivitas-aktivitas/prosedur yang perlu dengan benar dan penjelasan alasan untuk tindakan. Namun. 3. apatis). kebutuhan-kebutuhan individu. perubahan dalam jumlah/frekuensi berkemih. 2.Perhatikan status psikologis dan respons terhadap kelahiran sesaria serta peran menjadi ibu.Ansietas yang berhubungan dengan kemampuan untuk merawat diri sen-diri dan anaknya. . Hasil yang diharapkan Mengungkapkan pemahaman tentang perubahan fisiologis.Makanan kasar (misalnya buah dan sayuran. Perubahan eliminasi urin berhubungan dengan trauma/diversi mekanis Kemungkinan dibuktikan oleh peningkatan pengisian/distensi kandung kemih.Berikan informasi yang berhubungan dengan perubah-an fisiologis dan psikologis yang normal berkenaan dengan kelahiran sesaria dan kebutuh-an-kebutuhan berkenaan de-ngan post partum.Melunakkan faeces.Program latihan progresif biasanya dapat dimulai bila ketidaknyamanan abdomen telah berkurang (kira-kira 3-4 minggu pasca partum). Kemungkinan dibuktikan oleh mengungkapkan masalah/kesalahan konsep. dan menghilangkan atau mencegah nyeri kare-na gas. 1. meningkatkan sirkulasi. Antisipasi perubahan ini dapat menurunkan stress berkenaan dengan transisi periode ini yang me-merlukan pembelajaran peran baru dan pelaksanaan tanggung jawab baru. 2. kekecewaan pada pengalaman kelahiran atau masalah-masalah berkenaan dengan perpisa-hannya dari anak dapat mempunyai dampak negatif pada kemampuan belajar dan kesiapan klien.Diskusikan program latihan yang tepat sesuai ketentuan.Berikan pelunak faeces. 5. Bantu klien atau pasangan dalam mengidentifikasi kebutuhan-kebutuh-an. Ambulasi progresif setelah 24 jam meningkatkan pristal-tik dan pengeluaran gas. maturasi dan kompetensi. 4. merangsang pe-ristaltik dan membantu mengembali-kan fungsi usus. 3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kesalahan interpretasi. keragu-raguan dalam atau ketidakadekuatan melakukan aktivitas-aktivitas. 1.5.Memudahkan kemampuan untuk ambulasi. 2.

Pengalaman nyeri fisik mungkin di-sertai dengan nyeri mental yang mempengaruhi keinginan klien dan motivasi untuk mendapatkan otonomi. warna dan konsentrasi drainase urin. SUMBER: Depkes. 3. MF. Jilid 1.Kolaborasi dalam pemberian analgesik setiap 3 ± 4 jam sesuai kebutuhan. 3. Sakit kepala berat dihu-bungkan dengan posisi tegak memer-lukan modifikasi aktivitas-aktivitas dan bantuan tambahan untuk meme-nuhi kebutuhan-kebutuhan individu. Edisi 2. 1. sehingga klien mungkin tidak mampu berfokus pada aktivitas perawatan diri sampai kebu-tuhan fisiknya terhadap kenyamanan terpenuhi.Biasanya 3 liter cairan. Doenges. Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan kekuatan dan ketahanan Kemungkinan dibuktikan oleh pengungkapan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam tingkat yang diinginkan. Misal-nya 6 ± 8 gelas perhati. Rencana tindakan Intervensi Rasional 1.Pertahankan infus intravena selama 24 jam setelah pembe-dahan. 1990.Cairan meningkatkan hidrasi dan fungsi ginjal. 2. 4. bila te-pat.Oliguria (keluaran kurang dari 30 ml/jam) mungkin disebabkan kele-bihan cairan. 2. Edisi 3. meliputi larutan RL.Membantu mencegah komplikasi bedah seperti plebitis atau pneumo-nia yang dapat terjadi bila tingkat ketidaknyamanan mempengaruhi pengubahan/aktivitas normal klien.Hasil yang diharapkan : Mendapatkan pola berkemih yang biasa/optimal setelah pengangkatan kateter. yang dapat mempengaruhi kemampuan untuk melaksanakan perawatan diri. (Perawatan III). 1. 2. bau busuk) setelah pengangkatan kateter. ME dan Moorhouse.Menurunkan ketidaknyamanan.Perhatikan tanda dan gejala infeksi saluran kemih (ISK) misal warna keruh.Kaji status psikologis klien 3. Tingkat-kan jumlah cairan infus bila haluaran 30 ml/jam atau kurang. sesuai indikasi. Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Jakarta. atau efekefek antidiu-retik dan infus oksitosin. bantu dalam latihan paru. Perhatikan adanya sakit kepala pasca spinal.dan membantu mence-gah spasis kandung kemih.Berikan cairan per-oral. 3. Mengidentifikasi/menggunakan sumber-sumber yang tersedia. RI.Pastikan berat/durasi ketidak-nyamanan. 2. EGC. adekuat untuk menggan-tikan kehilangan dan mempertahan-kan aliran ginjal/haluaran urine.Ubah posisi klien setiap 1-2 jam. 4. 4.Nyeri berat mempengaruhi respon emosi dan perilaku.Perhatikan dan catat jumlah.Adanya kateter mempredisposisikan klien pada masuknya bakteri dan ISK 4. Jakarta. ambulasi dan latihan kaki. Perawatan Kebidanan Yang Berorientasi Pada Keluarga. Mengosongkan kandung kemih pada setiap berkemih. Hasil yang diharapkan : Mendemonstrasikan teknik-teknik untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan perawatan diri. . Rencana tindakan Intervensi Rasional 1.

1999. EGC. EGC. Yayasan Bina Pustaka. MP. Jilid 1 dan Jilid 2. Sinopsis Obstetri. Obstetri Fisiologi. Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas. Edisi 3. Jilid 1. Media Aeusculapius. Kapita Selekta Kedokteran. Yayasan Bina Pustaka. 1989. Jakarta. Ilmu Kebidanan dan Ilmu Bedah Kebidanan. Bagian Obstetri Gynekology Fakultas Kedokteran UNPAD. 1998. dkk. Hamilton. Sulaiman S. . Prawirohardjo S. 1999. Edisi 3. Mansjor A. 1995. Bandung. Prawirohardjo S.2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Mochtar Rusta. 2000. Jakarta.