You are on page 1of 10

MOUTH ULCERS

Mouth ulcers adalah menghilangnya atau adanya erosi pada bagian membrane mukosa rongga mulut (pipi atau bibir sebelah dalam, lidah dan bawah lidah, gusi, langit-langit). Gambaran sariawan itu sendiri berupa suatu luka yang terdapat pada selaput lendir atau mukosa rongga mulut (pipi atau bibir sebelah dalam, lidah dan bawah lidah, gusi, langit-langit) yang terkadang dapat dilapisi dengan suatu lapisan putih. Terdapat 2 type dari mouth ulcers yaitu : aphthous ulcers (canker sores) and cold sores (yang disebabkan oleh herpes simplex virus). Terdapat 3 jenis mouth ulcer: minor, mayor, dan herpetiform. Tipe minor itu adalah apthoues yang sering kita jumpa sehari-hari, bisa satu atau multiple berukuran kurang dari 1cm dan luka tidak terlalu dalam. Tipe mayor luka lebih besar dan lebih dalam (biasanya pada keganasan, kasus gizi buruk). Bentuk herpetiform berupa gelembunggelembung bergerombol seperti buah anggur (biasanya pada infeksi herpes simplek virus).

Minor ulcer

Major ulcer

Herpetiform ulcer

ETIOLOGI Penyebab dari mouth ulcers sendiri sebetulnya belum diketahui secara pasti. Namun diduga ada beberapa proses yang menyebabkan terjadinya mouth ulcers. Pada beberapa kasus, mouth ulcers dapat timbul pada saat seseorang mengalami stress.Perubahan hormonal yang terjadi pada saat menstruasi diduga merupakan penyebab terjadinya mouth ulcers. Berikut beberapa factor yang dapat memicu terjadinya mouth ulcers: 1. Trauma - Minor physical injuries Trauma yang terjadi pada mulut merupakan penyebab yang umum terjadinya mouth ulcers. Cedera - seperti bergesekan dengan gigi palsu atau kawat gigi, tergores dari sikat gigi yang keras,begesekan dengan gigi yang tajam, dll - Chemical injuries Bahan-bahan kimia seperti aspirin dan alkohol dapat menyebabkan oral mucosa menjadi nekrosis yang akan menyebabkan terjadinya ulcers. Selain . Sodium lauryl sulfate (SLS), adalah bahan utama yang terdapat pada kebanyakan pasta gigi, juga meningkatkan insisden terjadinya mouth ulcers. 2. Infeksi Viral Yang paling umum adalah Herpes simplex virus yang menyebabkan herpetiform ulcerations yang berulang

Bakteri

Bakteri yang dapat menyebabkan terjadinya mouth ulcers antara lain adalah Mycobacterium tuberculosis (TBC) dan Treponema pallidum (sifilis) Jamur Coccidioides immitis (demam lembah), Cryptococcus neoformans (kriptokokosis), Blastomyces dermatitidis ( "Amerika Utara Blastomycosis") diduga menyebabkan terjadinya mouth ulcers Protozoa Entamoeba histolytica, suatu parasit protozoa ini terkadang menyebabkan mouth ulcers. 3. Imun system Peneliti menenukan bahwa mouth ulcers merupakan produk akhir dari suatu penyakit yang diperantarai oleh imun system. Imunodeficiency Adanya mouth ulcers yang terjadi secara berulang merupakan indikasi adanya immunodeficiency. Kemoterapi, HIV, dan mononukleosis adalah semua penyebab immunodeficiency pada mouth ulcers yang menjadi manifestasi umum. Autoimun Autoimmunity juga merupakan penyebab mouth ulcers. Pemphigoid Membran mukosa, reaksi autoimmune epitel membran basal, menyebabkan desquamation / ulserasi dari mukosa oral. Alergi 4. Dietry Defisiensi dari vitamin B12, zat besi dan asam folat diduga merupakan penyebab terjadinya mouth ulcers. 5. Kanker pada mulut

MANIFESTASI KLINIS Mouth ulcers biasanya didahului oleh adanya sensasi terbakar. Kemudian setelah beberapa hari membentuk sebuah titik merah atau benjolan, diikuti oleh luka terbuka. Mouth ulcers muncul dengan lingkaran atau oval yang berwarna putih atau kuning dengan tepi merah meradang. Ulkus yang terbentuk sering sekali sangat perih terutama pada saat berkumur atau menyikat gigi, atau juga ketika ulkus teriritasi dengan salty, spicy atau sour foods. Selain itu juga bisa ditemukan adanya pembesaran dari kelenjar getah bening pada submandibula. Berkurangnya nafsu makan biasa ditemukan pada mouth ulcers. Patogenesis Diagnosis Penting untuk menetapkan penyebab ulkus mulut. Beberapa penyelidikan meliputi:

Pemeriksaan fisik - tergantung pada berat ringannya penyakit tersebut. Sebagai contoh, jika luka besar dan kuning, itu kemungkinan besar disebabkan oleh trauma. Cold sores di dalam mulut cenderung sangat banyak dan tersebar di sekitar gusi, lidah, tenggorokan dan bagian dalam pipi. Demam menandakan lika dapat disebabkan oleh infeksi herpes simpleks.

Darah rutin - untuk memeriksa tanda-tanda infeksi. Biopsi kulit - jaringan dari ulkus diambil dan diperiksa di laboratorium.

PENGOBATAN

Pada kebanyakn kasus, mouth ulcers dapat sembuh dengan sendirinya pada beberapa hari. Namun ada beberapa cara yang sederhana untuk mengurangi rasa sakit dan kesulitan makan:

Hindari makanan pedas, asam, keras, atau terlalu panas Hindari minuman soda atau air jeruk Pakai sedotan waktu minum Berkumur dengan air garam Ada yang menganggap bahwa madu dapat mengurangi rasa sakit Mengganti pasta gigi dengan pasta gigi yang tidak mengandung natrium lauryl sulfat (SLS).

Obat kumur chlorhexidine dapat mengurangi rasa sakit. Mungkin juga membantu luka untuk sembuh lebih cepat. Hal ini juga membantu untuk mencegah luka menjadi terinfeksi. Obat kumur chlorhexidine biasanya digunakan dua kali sehari Krim kortikosteroid adalah jenis obat yang umumnya dipakai untuk mengobati afte yang berat. Obat topikal ini dapat mengurangi kegiatan sistem kekebalan tubuh, yang dianggap sebagai penyebab tukaknya, pada tempat tukak bertumbuh. Kortikosteroid setempat yang paling efektif adalah betametason, fluokinonid, fluokinolon, klobetasol, hidrokortison, dan triamkinol. Penggunaan obat tersebut untuk waktu terlalu lama juga dapat meningkatkan kemungkinan timbulnya beberapa infeksi dalam mulut, seperti kandidiasis. Afte yang besar, atau tukak yang tidak menjadi pulih setelah memakai kortikosteroid setempat, sering diobati dengan kortikosteroid yang dipakai dalam bentuk pil, misalnya prednison. Kadang penambahan

antihistamin (obat antialergi) dan/atau obat bius (mis. lidokain) dapat membantu mengobati rasa nyeri terkait dengan afte yang besar. Talidomid sudah dibuktikan sebagai obat yang sangat efektif untuk tukak. Obat ini tidak boleh dipakai oleh perempuan hamil atau yang mungkin akan menjadi hamil. Talidomid dapat menyebabkan cacat lahir yang sangat parah. Namun mengingat sariawan akan sembuh sendiri, ada baiknya penggunaan obat-obatan tersebut tidak terburu-buru. Seperti yang disebutkan bahwa sariawan itu merupakan gejala dari suatu penyakit (bisa autoimun, kelainan darah atau kanker, bisa juga penyakit infeksi khusus misalkan infeksi menular seksual atau ada gingivitis/peradangan gusi oleh bakteri), oleh karena itu sariawan perlu dicari penyakit dasarnya, dan diterapi sesuai dengan penyakit yang menyertai Penting kita menjaga gizi yang baik selama pemulihan afte. Makan makanan yang halus dan lunak. Mouth ulcers perlu penanganan lebih serius : 1. bila berlangsung lebih dari 2 minggu 2. membuat tidak bisa makan atau minum sama sekali 3. disertai demam 4. terdapat pembesaran kelenjar getah bening 5. gangguan saluran cerna 6. nyeri sendi (atritis) 7. gangguan membrane mukosa seperti ada peradangan di uvea (mata)

PENCEGAHAN Cara untuk mengurangi kemungkinan mouth ulcer meliputi:


Menyikat gigi setidaknya dua kali setiap hari. Floss secara teratur. Mengunjungi dokter gigi secara teratur. Sikat gigi dengan lembut Makan makanan yang bergizi yang sehat dan seimbang Pastikan bahwa kondisi-kondisi yang mendasari, seperti diabetes melitus dan penyakit inflamasi usus, dikelola dengan tepat.

KOMPLIKASI Jika mouth ulcers tidak diobati atau dibiarkan maka akan dapat menyebabkan beberapa komplikasi yaitu : Bacterial Infection Inflamasi pada mulut Tooth absess

DAFTAR PUSTAKA
1. Scully C, Gorsky M, Lozada-Nur F. The diagnosis and management of recurrent aphthous stomatitis: a consensus approach. J Am Dent Assoc 2003;134:200-207. [Free Full Text] 1. Akintoye SO, Greenberg MS. Recurrent aphthous stomatitis. Dent Clin North Am 2005;49:31-47. [CrossRef][Medline] 1. Field EA, Brookes V, Tyldesley WR. Recurrent aphthous ulceration in children -- a review. Int J Paediatr Dent 1992;2:1-10. [Medline] 1. Rivera-Hidalgo F, Shulman JD, Beach MM. The association of tobacco and other factors with recurrent aphthous stomatitis in an US adult population. Oral Dis 2004;10:335-345. [CrossRef] [Web of Science][Medline] 1. Shulman JD. An exploration of point, annual, and lifetime prevalence in characterizing recurrent aphthous stomatitis in USA children and youths. J Oral Pathol Med 2004;33:558566. [CrossRef][Web of Science][Medline] 1. Crivelli MR, Aguas S, Adler I, Quarracino C, Bazerque P. Influence of socioeconomic status on oral mucosa lesion prevalence in schoolchildren. Community Dent Oral Epidemiol 1988;16:5860. [CrossRef][Web of Science][Medline] 1. Miller MF, Garfunkel AA, Ram C, Ship II. Inheritance patterns in recurrent aphthous ulcers: twin and pedigree data. Oral Surg Oral Med Oral Pathol 1977;43:886-891. [CrossRef][Web of Science][Medline] 17801. Porter SR, Kingsmill V, Scully C. Audit of diagnosis and investigations in patients with recurrent aphthous stomatitis. Oral Surg Oral Med Oral Pathol 1993;76:449-452. [CrossRef][Web of Science][Medline]

1. Field EA, Rotter E, Speechley JA, Tyldesley WR. Clinical and haematological assessment of children with recurrent aphthous ulceration. Br Dent J 1987;163:19-22. [CrossRef][Web of Science] [Medline] 1. Haisraeli-Shalish M, Livneh A, Katz J, Doolman R, Sela BA. Recurrent aphthous stomatitis and thiamine deficiency. Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol Endod 1996;82:634636. [CrossRef][Web of Science][Medline]